Anda di halaman 1dari 11

CERITA RAMAYANA

Anggada (Sanskerta: अंगद; Angada) atau Hanggada adalah seorang tokoh dalam wiracarita
Ramayana. Ia adalah wanara muda yang sangat tangkas dan gesit. Kekuatannya sangat dahsyat,
sama seperti ayahnya, yakni Subali. Dalam kitab Ramayana disebutkan bahwa ia dapat
melompat sejauh sembilan ratus mil. Anggada dilindungi oleh Rama dan akhirnya membantu
Rama, berperang melawan Rahwana merebut kembali Dewi Sita, istri Rama.
Anggada juga merupakan nama salah satu putera Laksmana dalam wiracarita Ramayana.

Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Keluarga
• 2 Petualangan mencari Sita
• 3 Perang di Alengka
• 4 Anggada dalam Pewayangan Jawa
• 5 Lihat pula

[sunting] Keluarga
Ayah Anggada adalah Raja Wanara bernama Subali, ibunya adalah Tara. Anggada memiliki
paman bernama Sugriwa, yaitu adik Subali. Subali dan Sugriwa memiliki adik perempuan
bernama Anjani. Hanoman adalah putera Anjani, maka Anggada bersaudara sepupu dengan
Hanoman. Saat masih muda, Subali tewas karena panah Rama. Setelah itu, Anggada dirawat
oleh Sugriwa.
[sunting] Petualangan mencari Sita
Saat Sugriwa mengerahkan ksatria wanara pilihan untuk mencari Dewi Sita, Anggada turut serta
bersama para ksatria wanara lainnya seperti Hanoman, Jembawan, Nila, Dwiwida,
Gandamadana, dan lain-lain. Mereka menjelajahi wilayah India Selatan, sampai tiba di sebuah
gua, kediaman arsitek Mayasura. Setelah menjelajahi gua, Anggada dan para wanara bertemu
dengan Swayampraba. Atas bantuannya, Anggada dan para wanara tiba di sebuah pantai. Di
pantai tersebut, para wanara bertemu dengan Sempati. Kemudian Anggada menuturkan maksud
perjalanannya dan ia meminta bantuan Sempati. Atas petunjuk Sempati, para wanara tahu bahwa
Sita masih hidup dan sedang ditawan di Alengka oleh Raja Rahwana.
[sunting] Perang di Alengka
Sebelum peperangan di Alengka meletus, Rama mengutus Anggada agar memberi kepada
Rahwana untuk segera menyerahkan Dewi Sita. Setelah mendengar pesan Rama yang panjang
lebar, Anggada mohon pamit lalu pergi ke tempat Rahwana. Di hadapan Rahwana, Anggada
memperingati agar Sita segera dikembalikan jika tidak ingin peperangan meletus. Rahwana yang
keras kepala, tidak menghiraukan peringatan Anggada namun mencoba mengerahkan
pasukannya untuk menangkap wanara tersebut. dengan sigap, Anggada melompat ke udara
sehingga ia lolos. Setelah itu, ia merobohkan menara istana. Dengan sekali lompatan, ia terbang
kembali ke tempat Rama.
Saat pertempuran pertama berlangsung, Anggada bertemu dengan Indrajit, putera Rahwana. Dua
prajurit tersebut bertempur dengan jurus-jurus yang mengagumkan. Para wanara bersorak-sorak
kegirangan karena kagum dengan ketangguhan Anggada, sebab panah-panah yang dilepaskan
Indrajit tidak membuat Anggada gentar. Namun kemudian Indrajit mengalihkan serangannya
kepada Rama. Pertempuran pada hari itu pun diakhiri sebab Rama tak berkutik. Setelah Rama
pulih kembali, para wanara melanjutkan penyerangannya. Pada pertempuran kedua, Anggada
bertemu dengan Bajradamstra. Setelah pertarungan sengit terjadi dalam waktu yang lama,
Bajradamstra gugur di tangan Anggada.
Ketika peperangan di Alengka usai, Anggada dan para wanara lainnya diundang ke Ayodhya
untuk menerima penghargaan atas jasa-jasa mereka karena telah menolong Rama
menyelamatkan Sita.
[sunting] Anggada dalam Pewayangan Jawa
Dalam cerita pewayangan Jawa, Anggada yang terkenal sakti diberi gelar Jaya yang berarti
unggul oleh Rama, sehingga disebut Jaya Anggada. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus
Rama pergi ke Alengka untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan
Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian
mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan
dan menginsyafkan serta menyadarkannya. Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan
berhasil membawa mahkota Rahwana dan dipersembahkan kepada Rama. Dalam pewayangan
sering digambarkan sebagai kera berbulu merah.

Nila (Ramayana)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Anila)

Langsung ke: navigasi, cari

Nila
Lukisan Nila versi pewayangan Bali

Tokoh dalam mitologi Hindu

Nama: Nila
Nama lain: Anila
Aksara
Dewanagari: ितल

Ejaan Sanskerta: Nīla

Golongan: Wanara
Asal: Kerajaan
Kiskenda
Nila (Sanskerta: ितल; Nīla) alias Anila (Sanskerta: अितल; Anīla) adalah seorang tokoh dalam
wiracarita Ramayana. Namanya secara harafiah berarti "nila" atau "biru tua". Nila adalah seekor
kera berwarna gelap yang berada di kubu Sri Rama dalam perang melawan Rahwana.
Selama masa petualangan mencari Sita, Nila berperan penting, terutama dalam pembangunan
jembatan Situbanda karena struktur jembatan tersebut dirancang oleh Nila. Dalam pertempuran
besar di Alengka, Nila bersama para wanara yang lain bertarung mengalahkan para rakshasa.
Saat Nila berhadapan dengan Prahasta yang menggunakan senjata gada besi, pertarungan
berlangsung dengan sengit karena keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Nila mengangkat sebuah
batu yang besar sekali. Batu tersebut kemudian dijatuhkan di atas kepala Prahasta sehingga
rakshasa tersebut tewas seketika.
[sunting] Nila dalam pewayangan Jawa

Tokoh Nila dalam versi pewayangan Jawa.

Saat Hanoman menghadap Batara Guru untuk diakui sebagai putranya, Batara Narada tertawa
sambil menyindir Batara Guru. Batara Guru yang merasa disindir kemudian mengambil daun
nila (sawo kecik) dan dilempar ke punggung Batara Narada. Daun nila tersebut menjadi seekor
kera berbadan pendek dan berbulu biru tua yang menempel di punggung Batara Narada. Saat itu
Batara Narada yang sangat benci terhadap kera meminta ampun kepada Batara Guru agar kera
tersebut lepas dari punggungnya. Kemudian Batara Guru memberi tahu cara melepaskan kera itu
dari punggung Batara Narada, yaitu dengan mengakui kera tersebut menjadi anaknya. Akhirnya
Batara Narada mau mengakui kera tersebut sebagai putranya.
Semua dewa yang hadir di dalam pertemuan tertawa melihat kejadian tersebut. Batara Narada
menuntut kepada Batara Guru untuk memerintahkan semua dewa yang lainnya untuk memuja
keranya masing-masing saperti yang telah dilakukan Batara Narada. Setelah tujuh hari kemudian
akhirnya lahirlah kera-kera pujaan para dewa itu. Adapun kera-kera tersebut antara lain Kapi
Sempati pujaan Batara Indra, Kapi Anggeni pujaan Batara Brahma, Kapi Menda, Kapi
Baliwisata, dan Kapi Anala pujaan Batara Yamadipati dan sebagainya yang mencapai ratusan
ekor. Kera-kera tersebut lalu dikirim ke raja kera di Gua Kiskenda di bawah pimpinan Anila. Di
Kerajaan Gua Kiskenda, Anila diangkat menjadi patih sekaligus ahli seni bersama Kapi Nala dan
Kapi Anala.
Kapi Anila menjadi pahlawan setelah berhasil membunuh Patih Prahasta (patihnya Dasamuka)
dari Alengka dengan cara mengadu kepalanya dengan tugu batu yang ada di perbatasan negeri
Alengka (tugu tersebut adalah pujaan Dewi Indrardi yang terkutuk pada peristiwa Cupu Manik).
Selain itu, Anila membebaskan Dewi Indrardi dari kutukanny

Dasarata
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Dasarata (Sansekerta: दशरथ, IAST: Daśaratha) adalah tokoh dari wiracarita Ramayana, seorang
raja putera Aja, keturunan Ikswaku dan berada dalam golongan Raghuwangsa atau Dinasti
Surya. Ia adalah ayah Sri Rama dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat
pemerintahannya di Ayodhya. Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja besar lagi
pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam
pertempuran.

Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Masa muda
• 2 Istri dan keturunan
• 3 Kehidupan selanjutnya dan
kematian
• 4 Dasarata dalam Kakawin
Ramayana
• 5 Lihat pula

[sunting] Masa muda


Pada saat Dasarata masih muda dan belum menikah, ia suka berburu dan memiliki kemampuan
untuk memanah sesuatu dengan tepat hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Di suatu
malam, Dasarata berburu ke tengah hutan. Di tepi sungai Sarayu, ia mendengar suara gajah yang
sedang minum. Tanpa melihat sasaran ia segera melepaskan anak panahnya. Namun ia terkejut
karena tiba-tiba makhluk tersebut mengaduh dengan suara manusia. Saat ia mendekati
sasarannya, ia melihat seorang pertapa muda tergeletak tak berdaya. Pemuda tersebut bernama
Srawana. Ia mencaci maki Dasarata yang telah tega membunuhnya, dan berkata bahwa kedua
orang tuanya yang buta sedang menunggu dirinya membawakan air. Sebelum meninggal,
Srawana menyuruh agar Dasarata membawakan air ke hadapan kedua orang tua si pemuda yang
buta dan tua renta. Dasarata menjalankan permohonan terakhir tersebut dan menjelaskan
kejadian yang terjadi kepada kedua orangtua si pemuda. Dasarata juga meminta ma'af di hadapan
mereka.
Setelah mendengar penjelasan Dasarata, kedua orang tua tersebut menyuruh Dasarata agar ia
mengantar mereka ke tepi sungai untuk meraba jasad puteranya yang tercinta untuk terakhir
kalinya. Kemudian, mereka mengadakan upacara pembakaran yang layak bagi puteranya.
Karena rasa cintanya, mereka hendak meleburkan diri bersama-sama ke dalam api pembakaran.
Sebelum melompat, ayah si pemuda menoleh kepada Dasarata dan berkata bahwa kelak pada
suatu saat, Dasarata akan mati dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh puteranya yang paling
dicintai dan paling diharapkan.
[sunting] Istri dan keturunan
Dasarata memiliki tiga permaisuri, yaitu Kosalya, Sumitra, dan Kekayi. Lama setelah
pernikahannya, Dasarata belum juga dikaruniai anak. Akhirnya ia mengadakan yadnya (ritual
suci) yang dipimpin Resi Srengga. Dari upacara tersebut, Dasarata memperoleh payasam berisi
air suci untuk diminum oleh para permaisurinya. Kosalya dan Kekayi minum seteguk, sedangkan
Sumitra meminum dua kali sampai habis. Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi
menyemarakkan istana. Yang pertama melahirkan putera adalah Kosalya, dan puteranya diberi
nama Rama. Yang kedua adalah Kekayi, melahirkan putera mungil yang diberi nama Bharata.
Yang ketiga adalah Sumitra, melahirkan putera kembar dan diberi nama Laksmana dan Satrugna.
[sunting] Kehidupan selanjutnya dan kematian
Dasarata yang sudah tua hendak menobatkan Rama sebagai raja, sebab Rama adalah putera
sulung sekaligus yang paling diharapkan Dasarata. Namun tindakannya tersebut ditentang oleh
permaisurinya yang paling muda, yaitu Kekayi. Atas tuntutan Kekayi, Dasarata membuang
Rama ke dalam hutan. Setelah membuang Rama ke tangah hutan, Dasarata membenci Kekayi
dan ia tidak sudi lagi jika wanita tersebut mendekatinya. Tak beberapa lama kemudian, Dasarata
jatuh sakit. Dalam masa-masa kritisnya, ia bersedih sambil mengenang kembali dosa-dosanya. Ia
juga mengungkit kisah masa lalunya yang kelam di waktu muda kepada Kosalya, yaitu
membunuh pertapa muda yang kedua orangtuanya buta. Dalam kesedihannya, Dasarata
meninggal dunia karena sakit hati.
[sunting] Dasarata dalam Kakawin Ramayana
Kutipan Terjemahan

Ada seorang Raja besar, dengarkanlah.


Hana sira Ratu dibya rēngőn,
Terkenal di dunia, musuh baginda semua
praçāsta ring rāt, musuhnira
tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat
praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang
agama, Prabhu Dasarata gelar Sri Baginda,
Daçaratha, nāma tā moli
tiada bandingannya

Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah


Sira ta Triwikrama pita, pinaka
Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan
bapa, Bhaṭāra Wiṣḥnu mangjanma
menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian
inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira
tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi
nimittaning janma.
manusia.

Cukup berprestasi Sang Dasarata. Ia mahir


Guṇa mānta Sang Daçaratha, wruh sira
mempelajari Veda dan berbakti kepada para
ring Wéda, bhakti ring Déwa, tar malupeng
Dewa, tak lupa kepada para leluhur. Ia sayang
pitra pūja, māsih ta sirêng swagotra kabèh.
kepada seluruh sanak keluarga.

Kadi megha manghudanakēn, Bagai mendung mengeluarkan hujan, begitulah


padhanira yār wehakēnikang dāna, Sri Baginda ketika bersedekah, orang-orang
dināṇdha kṛpaṇa ya winêh, nguni-nguni hina, cacat, dan miskin, semua diberi cinta
kasih. Terlebih lagi kepada para pendeta dan
dhanghyang dhangārcārya.
guru.

Mwang satya ta sira mojar, Dan juga Sri Baginda tepat akan ucapan, meski
ringanakkēbi towi tar mṛṣā wāda, terhadap wanita, beliau tidak pernah
nguni-nguni yan ri parajana, priyahita berbohong, apalagi terhadap orang lain. Titah
sojarnirā tiçaya. Sri Baginda benar-benar terpercaya.

Cukup berhasil Sri Baginda sebagai pimpinan,


Saphala sira rāksakeng rāt, tuwi
karena Sri Baginda sahabat Sang Hyang Indra
sira mitra Hyang Indra bhakti
yang amat berbakti, juga terhadap Sang Hyang
têmên, Māhèçwara ta sira lana,
Maheswara, kepada Sang Hyang Çiwa pula
Çiwa bhakti ginőng lanā ginawè
diperkuat

Para prajurit ksatria yang bersenjata panah,


Ikanang dhanurdhara kabèh, kapwa
semua berbakti terhadap Sri Baginda dan
ya bhakti ri sira praṇata matwang, kadi
tunduk pasrah, seperti menambah jasa Sri
mawmata yaça lanā, rupanya nagőng ta
Baginda selamanya, memang kenyataannya
kīrttinira
besar jasa Sri Baginda

Pikiran Sri Baginda bersih laksana bulan, amat


Jnānanira çuddha mawulan,
tekun Sri Baginda menciptakan kesenangan di
parārtha gumawe sukānikang
dunia, beliau bagaikan Bhatara Indra di mata
bhuwana, sāksātindra sira katon,
rakyat, yang berbeda hanya karena beliau
tuhun haneng bhumi bhedanira
berada di dunia fana

Ikang pratāpa dumilah, sukanikang Amal bakti beliau menyala-nyala, ia cuma


rāt yateka ginawèya, kadi bahni berbuat demi kemakmuran negara, bagai api
ring pahoman, dumilah mangde pada perapian, berkobar-kobar menyebabkan
sukanikang rāt dunia senang

Dewi Shinta
Dewi Shinta merupakan tititsan bidadari yang bernama Dewi Sri. Tokoh
ini menjadi fokus utama dalam kisah Ramayana. Dewi Shinta merupakan Putra Prabu Riskala di
Negara Darawati.
Raja Darawati semula hatinya sangat bersedih karena belum juga memiliki putra, ia kemudian
berendam di dalam air. Ketika berendam itu, dia melihat dari kejauhan tampaklah ada sinar
kemerah-merahan dari sebuah gendaga yang terapung. Prabu Riskala terkejut setelah mengetahui
kalau di dalam gendaga itu ada bayi yang sangat jantik jelita, dinamailah dirinya Dewi Shinta.
Menurut versi lain Shinta merupakan putra Prabu Janaka di Negara Mantilireja. Shinta
merupakan isteri Ramabadra/Ramawijaya dari Negara Ayodya, dari perkawinan itu
menghasilkan dua putra yang bernama Lawa (Rawabatlawa) dan Kusa (Ramakusa).
Dewi Shinta dilukiskan sebagai sosok wanita yang bertabita halus, dengan posisi muka luruh,
bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) dan bermulut salitan. Ada penggambaran sinom
yang terurai di dahinya dengan mahkota gundulan berhias jamang sadasaler, sumping mangara
dengan cunduk bintulu (gelapan alit). Rambut ngore gendong, badan putren dengan sampir
bermotif kembangan. Ia mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, binggel
sebagai gelang kaki. Putren ini ditampilkan dengan muka dan badan gemblaeng. Wanda :
Rangkung, sedet dan Padasih.
Seperti janji Batara Wisnu dengan Dewi Sri, jika telah menitis ke bumi akan selalu
berdampingan. Oleh karena itu berdasarkan bisikan dewa bahwa putranya adalah titisan Dewi
Sri, maka Prabu Janaka mengadakan sayembara mementang busur. Sayembara itu dimenangkan
Ramawijaya/Ramabadra. Kemudian Dewi Shinta diboyong ke Ayodya.
Di Ayodya terjadi intrik-intrik yang dilakukan selir, Dewi Kekayi. Dia ingin anaknya menjadi
Raja, sehingga dengan daya upaya mengusir Rama.
Ketika Ramawijaya, Dewi Sinta, dan Raden Lesmana berada di atas Dandaka, mereka telah
dimata-matai oleh Sarpakenaka dan Dasamuka. Keduanya mempunyai akal bulus untuk
memisahkan Shinta dari Lesmana dan Rama. Dasamuka memerintahkan Marica untuk menjadi
kijangemas. Girang bukan kepalang melihat kijangmas itu menarik Shinta untuk memegangnya,
sehingga Ramawijaya mengejarnya. Oleh karena Shinta khawatir dengan keadaan Ramawijaya,
maka dia mengutus Lesmana untuk mencarinya.
Pada saat Rama dan Lesmana pergi, Dasamuka menyamar jadi pengemis tua, hanya dengan cara
inilah dia bisa menembus lingkaran sakti Lesmana. Shinta berhasil diculik Dasamuka dibawa ke
Alengka.
Di Alengka Dasamuka berdaya upaya agar Dewi Shinta bersedia melayani nafsunya, tetapi
berulangkali Dewi Shinta berhasil menolaknya. Sampai pada akhirnya Anoman datang, yang
memberi pertolongan.
Setelah perang antara Ramawijaya cs melawan Dasamuka cs, Ramawijaya meragukan kesucian
Dewi Shinta. Oleh karenanya Dewi Shinta masuk ke lautan api. Atas karunia Batara Endra, maka
Dewi Shinta tidak hangus dan dinyatakan suci.
Dewi Srikandhi

Dewi Wara Srikandi adalah putra Prabu Drupada raja Pancalareja dengan
permaisurinya Dewi Gandawati. Ia merupakan istri Arjuna yang mendapat tugas sebagai penjaga
keselamatan dan ketentraman kasatriyan Madukara. Dalam perkawinan itu dia tidak
mendapatkan putra. Dewi Wara Srikandi memiliki saudara kandung bernama Dewi Drupadi
yang menjadi isteri Prabu Puntadewa. Tokoh Putren ini menyukai keprajuritan terutama dalam
memainkan senjata panah. Oleh karenanya dia suka diidolakan.
Dewi Wara Srikandi dalam penampakannya wayang kulit dilukiskan sebagai tokoh dengan
penampilan branyak (lanyap) dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung lancip
(walimiring) dan bermulut salitan. Ia bermahkota gundulan dengan sinom yang menghiasi
dahinya mengenakan jamang sadasaler dengan sumping prabangyungyung. sarira weweg (padat
berisi) rambut ngore gendrong, mengenakan busana putren dengan smekan gadung mlati,
pinjong dengan dodot bermotif semen jrengut seling gurda dan samparan kain panjang bermotif
kawung. Tokoh ini banyak memakai atribut seperti kelatbahu dan gelang, tetapi ditampilkan
polos. Dewi Wara Srikandi bermuka dan berbadan gembleng, wanda golek, nenes, patrem. Ada
kalanya tampil dengan busana prajurit saat menjadi Senapati Agung dalam Perang Baratayudha.
Keinginan kuatnya untuk menguasai keahlian keprajuritan telah membuatnya belajar tidak
mengenal waktu. Sebagai akibatnya itu hubungan Raden Arjuna dan Dewi Wara Sembadra
menjadi renggang. Arjuna jatuh cinta padanya. Sebelum dinikahi Arjuna, Srikandi minta syarat
agar dicarikan perempuan yang lebih pandai darinya yang bisa mengunggulinya. Dengan saksi
Prabu Kresna Dewi Larasati berhasil mengalahkannya. Oleh karenanya Dewi Srikandhi
dijadikan isteri kedua. (Ini mungkin sisi kejelekan dari Srikandi).
Dalam Perang Baratayudha, dia diangkat menjadi Senopati Agung yang melawan Resi Bisma.
Dewi Wara Sembadra
Dewi Wara Sembadra adalah putri Prabu Basudewa Raja Mandura dengan Permaisuri Dewi
Badraini. Ia memiliki dua saudara laki-laki, yakni Raden Kakrasana atau Prabu Baladewa, dan
Raden Narayana atau Prabu Kresna di Dwarawati. Ia menikah dengan Arjuna dan berputra
Raden Abimanyu. Dia merupakan titisan Dewi Sri. Wataknya setia, suka menolong, hambeg
para marta dan sebagainya. Lahirnya bersamaan dengan Arjuna, kemudian dipertunangkan.
Dewi Wara Sembadra memiliki nama lain Dewi Mrenges, Rara Ireng, dan Bratajaya. Ketika
ditinggalkan Dewi Sri, dia menjadi sakit-sakitan, tetapi begitu Dewi Sri kembali padanya, Wara
Sembadra sembuh. Raden Arjuna sendiri memiliki beberapa isteri, antara lain Dewi Wara
Sembadra, Dewi Larasati, Dewi Ulupi, Dewi Srikandi, Dewi Dresanala, Dewi Jiwambang, Dewi
Wilutama, Endang Manuhara.
Dewi Drupadi

Dewi Drupadi putri Prabu Drupada Raja Cepala, Ia diperisteri Prabu


Puntadewa, Raja Astina, kemudian berputra Raden Pancawala.
Dewi Drupadi dilukiskan sebaya wayang kulit dengan karakter luruh, posisi muka tumungkul,
dengan mata liyepan, hidung lancip, mulut salitan.
Ketika ada di dalam perjamuan makan antara Pandhawa dan Kurawa, hampir saja dia hendak
dipermalukan oleh keluarga Kurawa. Hampir saja busananya ditarik sehingga kelihatan
tubuhnya, tetapi dengan bantuan Prabu Kresna, busananya menjadi kian tebal, karena ternyata
kain yang membungkus badan Dewi Drupadi menjadi panjang, kian panjang, seolah-olah tidak
akan ada ujung pangkalnya. Padahal Dewi Drupadi sudah khawatir dengan posisinya saat itu.
Akan tetapi rambutnya berhasil diuraikan, sehingga dia bersumpah tidak akan menyanggul
rambutnya sebelum bersampokan darah Dursasa