Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imunisasi
2.1.1 Definisi
Imunisasi berasal dari kata “imun” yang berarti kebal atau resisten.
Imunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit
dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap
penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.5
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu
saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami
sakit ringan.6
Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa
mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih
utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah
menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat
lainnya, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan
spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.6

2.1.2 Tujuan Imunisasi


Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu
pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok
masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti yang
kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola.7
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan kepada
bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang
disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit. Program imunisasi
mempunyai tujuan umum yaitu menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan
kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Tujuan khusus program ini adalah sebagai berikut:
1. Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI) yaitu cakupan imunisasi
lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di seluruh desa/kelurahan pada tahun
2014.
2. Tervalidasinya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per
1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2013.
3. Global eradikasi polio pada tahun 2018.
4. Tercapainya eliminasi campak pada tahun 2015 dan pengendalian penyakit rubella
2020.
5. Terselenggaranya pemberian imunisasi yang aman serta pengelolaan limbah medis
(safety injection practise and waste disposal management)

2.1.3 Manfaat Imunisasi


Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan
menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi, tetapi juga dirasakan oleh :
a. Untuk anak mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian.
b. Untuk keluarga menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila
anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin akan
menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Hal ini mendorong penyiapan
keluarga yang terencana, agar sehat dan berkualitas.
c. Untuk negara memperbaiki tingkat kesehatan menciptakan bangsa yang kuat
dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

2.1.4 Dampak Imunisasi


Nilai (value) vaksin dibagi dalam tiga kategori yaitu secara individu,
sosial dan keuntungan dalam menunjang sistem kesehatan nasional. Secara
individu, apabila anak telah mendapat vaksinasi maka 80%-95% akan
terhindar dari penyakit infeksi yang ganas. Makin banyak bayi/anak yang
mendapat vaksinasi (dinilai dari cakupan imunisasi), makin terlihat penurunan
angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).7
Kekebalan individu ini akan mengakibatkan pemutusan rantai
penularan penyakit dari anak ke anak lain atau kepada orang dewasa yang
hidup bersamanya, inilah yang disebut keuntungan sosial, karena dalam hal ini
5%-20% anak yang tidak diimunisasi akan juga terlindung, disebut Herd
Immunit. Menurunnya angka morbiditas akan menurunkan biaya pengobatan
dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan yang akan
menjadi beban masyarakat seumur hidupnya.
Upaya pencegahan penyakit infeksi pada anak, berarti akan
meningkatkan kualitas hidup anak dan meningkatkan daya produktivitas
karena 30% dari anak-anak masa kini adalah generasi yang akan memegang
kendali pemerintahan dimasa yang akan datang. Dalam hal menunjang sistem
kesehatan nasional, program imunisasi sangat efektif dan efisien apabila
diberikan dalam cakupan yang luas secara nasional. Peningkatan pertumbuhan
ekonomi suatu negara tentunya akan lebih baik bila masyarakatnya lebih sehat
sehingga anggaran untuk kuratif/pengobatan dapat dialihkan pada program
lain yang membutuhkan. Investasi dalam kesehatan untuk kesejahteraan dan
peningkatan kualitas anak di masa depan.7
2.1.5 Jadwal Imunisasi
Berikut daftar imunisasi yang perlu didapatkan anak sesuai dengan
usia, dikutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) :

Gambar 2.1 Jadwal Imunisasi Anak 0-18 Tahun


Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2017

2.1.6 Jenis-jenis Imunisasi


a. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif merupakan imunisasi yang dilakukan dengan cara
menyuntikan antigen ke dalam tubuh sehingga tubuh anak sendiri yang akan
membuat zat antibodi yang akan bertahan bertahun-tahun lamanya.
Imunisasi aktif ini akan lebih bertahan lama daripada imunisasi pasif.
Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh
memproduksi antibodi sendiri. Contohnya imunisasi polio atau campak.
Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen
secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk
memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat
bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi.kekebalan
yang diperoleh dengan vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan
pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan
aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif
dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara
pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan oleh produsen vaksin melalui
bukti uji klinis yang telah dilakukan.
b. Imunisasi Pasif
Pada imunisasi pasif tubuh tidak membuat sendiri zat anti akan tetapi
tubuh mendapatkannya dari luar dengan cara penyuntikan bahan atau serum
yang telah mengandung zat anti. Atau anak tersebut mendapatkannya dari
ibu pada saat dalam kandungan.Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah
antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah
penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka
kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi baru lahir dimana
bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui plasenta
selama masa kehamilan, misalnya antibodi terhadap campak.
Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut
imunisasi pasif dengan memberikan antibodi atau faktor kekebalan pada
seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin
spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk
penderita penyakit tetanus. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena
akan dimetabolisme oleh tubuh, seperti misalnya pada kekebalan pasif
alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu akan perlahan menurun dan
habis.
2.1.7 Imunisasi Dasar pada Bayi
Upaya untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian
bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin
maupun program tambahan/ suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus,
Polio, Hepatitis B, dan Campak. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar
lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT-HB 3 kali, Polio 4 kali, HB Uniject
1 kali dan campak 1 kali.
a. Imunisasi BCG
Bacile Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.
Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberkulin. Masih
banyak perbedaan pendapat mengenai sensitivitas terhadap tuberkulin
yang terjadi berkaitan dengan imunitas yang terjadi.
Vaksin BCG diberikan pada umur <2 bulan, sebaiknya anak dengan uji
Mantoux (tuberkulin) negatif. Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah
penyuntikan. Efek proteksi bervariasi antara 0-80%, berhubungan dengan
beberapa faktor yaitu mutu vaksin yang dipakai, lingkungan dengan
Mycrobacterium atipik atau faktor pejamu (umur, keadaan gizi, dan lain-
lain). Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk anak, dan
0,05 ml untuk bayi baru lahir.
Efek samping pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada
daerah suntikan, limfadenitis regionalis, dan reaksi panas. Kontraindikasi
BCG antara lain hasil reaksi uji tuberkulin >5 mm, menderita infeksi HIV
atau dengan resiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat
pengobatan kortikosteroid, obat imuno-supresif, penyakit keganasan yang
mengenai sumsum tulang atau sistem limfe, menderita gizi buruk,
menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang luas, penah sakit
tuerkulosis, dan kehamilan.

b. Imunisasi Hepatitis B
Vaksin hepatitis B diberikan untuk melindungi bayi dengan memberi
kekebalan terhadap penyakit hepatitis B, yaitu penyakit infeksi liver yang
dapat menyebabkan sirosis hati, kanker, dan kematian.
Imunisasi hepatitis B minimal diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasai
pertama diberikan segera setelah lahir. Jadwal imunisasi yang dianjurkan
adalah 0, 1, 6 bulan karena respon antibodi paling optimal. Interval antara
dosis pertama dan dosis kedua minimal 1 bulan.
c. Imunisasi Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasai yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan pada anak. Vaksin polio oral diberikan kepada semua bayi
baru lahir sebagai dosis awal, satu dosis sebanyak 2 tetes (0,1 ml).
Kemudian dilanjutkan dengan imunisasi dasar OPV atau IPV mulai umur
2-3 bulan yang diberikan 3 dosis berturut-turut dengan interval waktu 6-8
minggu.
d. Imunisasi DPT (Dipteri, Pertusis, Tetanus)
Imunisasi DPT merupakan imunisasi untuk mencegah terjadinya
penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Pemberian DPT dapat berefek
samping ringan ataupun berat. Efek ringan misalnya terjadi
pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam.
Imunisasi dasar DPT (primary immunization) diberikan 3 kali sejak
umur 2 bulan (DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan
interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DPT-1
diberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan, dan DPT-3 pada
umur 6 bulan. Ulangan booster DPT selanjutnya (DPT-4) diberikan satu
tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT-5 pada saat
masuk sekolah umur 5 tahun.
e. Imunisasi Campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini
sangat menular. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Imunisasi
ini memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan
dan panas.
Dosis vaksin campak sebanyak 0,5 ml. Pemberian diberikan pada umur
9 bulan, secara subkutan walaupun demikian dapat diberikan secara
intramuskular. Gejala KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang berupa
demam yang lebih dari 39,5’C yang terjadi pada 5%-15% kasus, demam
mulai dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi dan berlangsung
selama 5 hari. Ruam dapat dijumpai pada 5% resipien timbul pada hari ke
7-10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari.

2.2 Pandemi Corona Virus Disease – 2019


2.2.1 Pandemi
Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan
kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi
Hubei, China. Pada tanggal 7 Januari 2020, China mengidentifikasi pneumonia
yang tidak diketahui etiologinya terse- but sebagai jenis baru coronavirus (novel
coronavirus). Pada awal tahun 2020 NCP mulai menjadi pendemi global dan
menjadi masalah kesehatan di beberapa negara di luar RRC. Berdasarkan World
Health Organization (WHO) kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang
tidak jelas di Kota Wuhan telah menjadi permasalahan kesehatan di seluruh
dunia. Penyebaran epidemi ini terus berkembang hingga akhirnya diketahui
bahwa penyebab kluster pneumonia ini adalah Novel Coronavirus. Pandemi ini
terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan kasus-kasus baru di luar
China. Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai
Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/ Kedaruratan
Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia (KKMMD)1. Pada tanggal 12
Februari 2020, WHO resmi me- netapkan penyakit novel coronavirus pada
manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (COVID-19). COVID-19
disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus
yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis
virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%)
lebih tinggi dibanding COVID-19 (saat ini kurang dari 5%), walaupun jumlah
kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibanding SARS. COVID-19 juga memiliki
penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS.
Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan
sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan dan negara lain. Sampai
dengan 16 Februari 2020, secara global dilaporkan 51.857 kasus konfimasi di
25 negara dengan 1.669 kematian (CFR 3,2%). Rincian negara dan jumlah
kasus sebagai berikut: China 51.174 kasus konfirmasi dengan 1.666 kematian,
Jepang (53 kasus, 1 Kematian dan 355 kasus di cruise ship Pelabuhan Jepang),
Thailand (34 kasus), Korea Selatan (29 kasus), Vietnam (16 kasus), Singapura
(72 kasus), Amerika Serikat (15 kasus), Kamboja (1kasus), Nepal (1 kasus),
Perancis (12 kasus), Australia (15 kasus), Malaysia (22 ka- sus), Filipina (3
kasus, 1 kematian), Sri Lanka (1 kasus), Kanada (7 kasus), Jerman (16 kasus),
Perancis (12 kasus), Italia (3 kasus), Rusia (2 kasus), United Kingdom (9
kasus), Belgia (1 kasus), Finlandia (1 kasus), Spanyol (2 kasus), Swedia (1
kasus), UEA (8 kasus), dan Mesir (1 Kasus).12

2.2.2 Karakteristik Patogenik


Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan
penyakit pada ma- nusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan
penyakit infeksi saluran per- napasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang
serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom
Pernapasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Penyakit ini terutama menyebar di antara orang- orang melalui te- tesan
pernapasan dari batuk dan bersin3. Virus ini dapat tetap bertahan hingga tiga
hari dengan plastik dan stainless steel SARS CoV-2 dapat bertahan hingga tiga
hari,atau dalam aerosol selama tiga jam4. Virus ini juga telah ditemukan di
feses, tetapi hingga Maret 2020 tidak diketahui apakah penularan melalui feses
mungkin, dan risikonya diperkirakan rendah.12

2.2.3 Karakteristik Epidemilogi


a) Orang dalam pemantauan
Seseorang yang mengalami gejala demam (≥38°C) atau memiliki riwayat
demam atau ISPA tanpa pneumonia. Selain itu seseorang yang memiliki
riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum
timbul geja- Pasien dalam pengawasan
a) Seseorang yang mengalami memiliki riwayat perjalanan ke negara
yang terjangkit9 pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala-gejala
COVID-19 dan seseorang yang mengalami gejala- gejala, antara
lain: demam (>38°C); batuk, pilek, dan radang tenggorokan,
pneumonia ringan hingga berat ber- dasarkan gejala klinis dan/atau
gambaran radiologis; serta pasien dengan gangguan sistem
kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda
menjadi tidak jelas.
b) Seseorang dengan demam>38°C atau ada riwayat demam ATAU
ISPA ringan sampai berat DAN pada 14 hari terakhir sebelum
timbul gejala, memiliki salah satu dari paparan berikut: Riwayat
kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19, bekerja atau
mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien
konfirmasi COVID-19, memiliki sejarah kontak dengan orang yang
memiliki riwayat perjalanan pada 14 hari terakhir ke Provinsi
Hubei.
c) Mekanisme penularan
COVID-19 paling utama ditransmisikan oleh tetesan aerosol penderita
dan melalui kontak langsung. Aerosol kemungkinan ditransmisikan ketika
orang memiliki kontak langsung dengan penderita dalam jangka waktu yang
terlalu lama. Konsentrasi aerosol di ruang yang relatif tertutup akan semakin
tinggi sehingga penularan akan semakin mudah.
d) Karakteristik klinis
Berdasarkan penyelidikan epidemiologi saat ini, masa inkubasi COVID-
19 berk- isar antara 1 hingga 14 hari, dan umumnya akan terjadi dalam 3
hingga 7 hari. Demam, kelelahan dan batuk kering dianggap sebagai
manifestasi klinis utama. Gejala seperti hidung tersumbat, pilek,
pharyngalgia, mialgia dan diare relatif jarang terjadi pada kasus yang parah,
dispnea dan / atau hipoksemia biasanya terjadi setelah satu minggu setelah
onset penyakit, dan yang lebih buruk dapat dengan cepat berkembang
menjadi sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik
sulit untuk dikoreksi dan disfungsi perdarahan dan batuk serta kegagalan
banyak organ, dll. Pasien dengan penyakit parah atau kritis mungkin
mengalami demam sedang hingga rendah, atau tidak ada demam sama sekali.
Kasus ringan hanya hadir dengan sedikit demam, kelelahan ringan dan
sebagainya tanpa manifestasi pneumonia.12

2.3 Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi Covid-19


Pada masa pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, hendaknya pelayanan
imunisasi sebagai salah satu pelayanan pelayanan kesehatan esensial tetap menjadi
prioritas untuk dilaksanakan. Perlu dilakukan langkah-langkah penting untuk
memastikan setiap sasaran imunisasi, yaitu anak yang merupakan kelompok rentan
menderita PD3I, terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya dengan imunisasi.8
Adapun, prinsip – prinsip yang menjadi acuan dalam melaksanakan program
imunisasi pada masa pandemi COVID-19 yaitu: 1) imunisasi dasar dan lanjutan tetap
diupayakan lengkap dan dilaksanakan sesuai jadwal untuk melindungi anak dari
PD3I; 2) secara operasional, pelayanan imunisasi baik di posyandu, puskesmas,
puskesmas keliling maupun fasilitas kesehatan lainnya yang memberikan layanan
imunisasi mengikuti kebijakan pemerintah daerah setempat; 3) kegiatan surveilans
PD3I harus dioptimalkan termasuk pelaporannya; serta 4) menerapkan prinsip PPI
dan menjaga jarak aman 1 – 2 meter.8

2.3.1 Pelayanan Imunisasi Di Puskesmas Atau Fasilitas Kesehatan Lainnya Yang


Memberikan Layanan Imunisasi Pada Masa Pandemi Covid-198
a. Ketentuan Ruang/Tempat Pelayanan Imunisasi: Diselenggarakan sesuai
prinsip PPI dan menjaga jarak aman 1 – 2 meter:
1) Menggunakan ruang/tempat pelayanan yang cukup besar dengan
sirkulasi udara yang baik (dapat juga mendirikan tenda di lapangan terbuka
halaman puskesmas atau di dalam kendaraan puskesmas keliling di
halaman puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang memberikan
layanan imunisasi);
2) Apabila ruang/tempat pelayanan menggunakan kipas angin, letakkan
kipas angin di belakang petugas kesehatan agar arah aliran udara kipas
angin mengalir dari tenaga kesehatan ke sasaran imunisasi;
3) Ruang/tempat pelayanan imunisasi tidak berdekatan atau terpisah dari
poli pelayanan anak atau dewasa sakit;
4) Memastikan ruang/tempat pelayanan bersih dengan membersihkan
sebelum dan sesudah pelayanan dengan cairan disinfektan;
5) Tersedia fasilitas mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau hand
sanitizer;
6) Atur meja pelayanan antar petugas dan orang tua agar jarak aman 1 – 2
meter;
7) Ruang/tempat pelayanan imunisasi hanya untuk melayani bayi dan anak
sehat;
8) Sebaiknya sediakan jalan masuk dan keluar yang terpisah bagi sasaran
imunisasi dan pengantar dengan pengunjung puskesmas yang sakit. Atur
agar sasaran imunisasi dan pengantar keluar dan masuk bergantian;
9) Sediakan tempat duduk bagi sasaran imunisasi dan orang tua dan
pengantar untuk menunggu sebelum dan 30 menit sesudah imunisasi
dengan jarak aman antar tempat duduk 1 – 2 meter. Atur agar tempat/ruang
tunggu sasaran yang sebelum dan sesudah imunisasi terpisah. Jika
memungkinkan tempat untuk menunggu 30 menit sesudah imunisasi di
tempat terbuka.
b. Ketentuan Waktu Pelayanan Imunisasi:8
1) Tentukan jadwal hari atau jam pelayanan khusus imunisasi di puskesmas
yang terpisah dari layanan MTBS atau dewasa sakit. Atur agar pelayanan
imunisasi dilaksanakan di ruang terpisah dari pelayanan MTBS;
2) Jam layanan tidak perlu lama dan batasi jumlah sasaran yang dilayani
dalam satu kali sesi pelayanan. Jika jumlah sasaran banyak bagi menjadi
beberapa kali hari atau sesi pelayanan imunisasi agar tidak terjadi
penumpukan atau kerumunan orang;
3) Koordinasi dengan lintas program lainnya untuk memberikan pelayanan
kesehatan lain bersamaan dengan imunisasi jika memungkinkan;
4) Informasikan nomor telepon petugas kesehatan atau kader yang dapat
dihubungi oleh orang tua atau pengantar untuk membuat jadwal janji temu
imunisasi yang akan datang.

2.3.2 Tugas dan Peran dalam Layanan Imunisasi di Puskesmas atau Fasilitas
Kesehatan Lainnya yang Memberikan Layanan Imunisasi di Puskesmas
1) Petugas Kesehatan Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Lainnya yang
Memberikan Layanan Imunisasi
Tabel 2.1 Tugas dan Peran Petugas kesehatan di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Lainnya
yang Memberikan Layanan Imunisasi
2. Orang Tua atau Pengantar

Tabel 2.2 Tugas dan Peran Orang Tua atau Pengantar di


Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Lainnya yang Memberikan Layanan
Imunisasi