Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Konsep Pengetahuan

a. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan adalah

merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang

mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terhadap objek terjadi melalui panca indra

manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

b. Tingkat pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

sikap dan perilaku seseorang seseorang. Pengetahuan yang

cukup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu :

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang

sudah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam tahap ini

adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dan

8
9

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima.

2) Memahami (Comprehention)

Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan

dimana dapat menginterpretasikan secara benar. Orang

yang telah paham terhadap objek atau materi dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang

dipelajari.

3) Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi

ataupun kondisi real.

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan

materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen

tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih

ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu

kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan

bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru.


10

Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi

atau objek.

c. Cara memperoleh pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012), cara memperoleh

pengetahuan ada dua yaitu :

1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

a) Cara coba salah (Trial and error)

Cara coba salah ini dilakukan dengan

menggunakan kemungkinan dalam memecahkan

masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil

maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah

tersebut dapat dipecahkan.

b) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini berupa pemimpin-

pemimpin masyarakat baik formal atau informal, ahli

agama, pemegang pemerintahan, dan berbagai prinsip

orang lain yang dikemukakan oleh orang yang

mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau

membuktikan kebenarannya.
11

c) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai

upaya memperoleh pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh

dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi di

masa lalu.

2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih

populer disebut metodologi penelitian.

d. Proses perilaku “TAHU”

Sebelum menghadapi perilaku baru di dalam diri orang

tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

1) Awarness (Kesadaran) dimana orang tersebut menyadari

dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.

2) Interest (Merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh

perhatian dan tertarik pada stimulus.

3) Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan

mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap

stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap

responden sudah lebih baik lagi.

4) Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru.

5) Adaption, dan sikapnya terhadap stimulus.


12

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Notoatmodjo (2007) Menjelaskan faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan, pengalaman,

pekerjaan, umur, lingkungan, sosial budaya dan intelegansi.

1) Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam

maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup

(Notoatmodjo, 2007). Pedidikan mempengaruhi proses

belajar, menurut Notoatmodjo (2007) semakin tinggi

pendidikan seseorang semakin mudah orang tersebut

menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka

sesorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi

baik dari orang lain maupun dari media massa, semakin

banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.

Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan

pendidikan dimana diharapkan adanya seseorang dengan

pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas

pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan bukan

berarti sesorang berpendidikan rendah, mutlak

berpengatahuan rendah pula, karena peningkatan

pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal,

akan tetapi di pendidikan non formal juga dapat diperoleh.


13

Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek

mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negative

(Notoatmodjo, 2007).

Kedua aspek inilah yang pada akhirnya akan

menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu.

Semakin banyak aspek positif dan obyek yang diketahui

maka membutuhkan sikap makin positif terhadap obyek

tersebut (Notoatmodjo, 2007).

2) Pengalaman

Pengalaman belajar dalam bekerja yang

dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan

profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan

dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan

yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar

secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah yang

nyata dalam bidang keperawatan (Notoatmodjo, 2007).

3) Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2007),

pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama

untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan

keluarganya.

4) Umur

Menurut Elizabeth yang dikutip Nursalam (2007), usia

adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan


14

sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang

dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya

daripada orang yang belum tinggi kedewasaannya.

5) Lingkungan

Menurut Mariner yang dikutip dari Nursalam (2007)

lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar

manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi

perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

6) Sosial budaya

Sosial budaya mempunyai pengaruh pada

pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu

kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena

hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar

dan memperoleh suatu pengetahuan (Nursalam, 2007).

7) Intelegensi

Merupakan suatu kemampuan untuk belajar dan

berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental

dalam situasi baru. Intelegensi bagi seseorang merupakan

salah satu modal untuk berfikir dan mengolah berbagai

informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai

lingkungan (Nursalam, 2007).


15

f. Pengukuran pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengukuran pengetahuan

dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menanyakan tentang isi materi yang akan di ukur dari subjek

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin

kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan

tingkatan-tingkatan.

g. Kategori pengetahuan

Kategori pengetahuan menurut Arikunto (2006) dalam

Wawan dan Dewi (2010) pengetahuan seseorang dapat

diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat

kualitatif, yaitu :

1) Baik : Hasil presentase 76 % - 100%.

2) Cukup : Hasil presentase 56 % - 75 %.

3) Kurang : Hasil presentase  56 %.

2. Konsep Sikap

a. Pengertian Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang

masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek.

Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya

dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.

Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak

dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. (Notoatmodjo,

2007).
16

Sikap merupakan konsep paling penting dalam psikologi

sosial yang membahas unsur sikap baik sebagai individu

maupun kelompok. Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat

manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek, atau issue

(Wawan dan Dewi, 2010).

b. Komponen Sikap

Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling

menunjang yaitu (Wawan dan Dewi, 2010) :

1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang

dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif

berisi kepercayaan stereotype yang dimiliki individu

mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini)

terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem

yang kontroversial. Ketika kepercayaan sudah terbentuk,

maka akan menjadi dasar pengetahuan seseorang

mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu.

2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut

aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya

berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan

merupakan aspek yang paling bertahan terhadap

pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap

seseorang. Komponen afektif disamakan dengan perasaan

yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.


17

3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan

berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh

seseorang dan berisi tendensi atau kencenderungan untuk

bertindak/bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara

tertentu. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa

kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi

perilaku. Maksudnya, bagaimana seseorang berperilaku

dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan

banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan

perasaan ini.

c. Tingkatan sikap

Menurut Notoatmodjo (2007), seperti halnya

pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat

berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau

menerima stimulus yang diberikan (objek).

2) Menanggapi (responding)

Menanggapi di sini diartikan memberikan jawaban

atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang

dihadapi.

3) Menghargai (valueting)

Menghargai diartikan subjek atau seseorang

memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus,


18

dalam arti membahasnya dengan orang lain, bahkan

mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang

lain memberikan respon.

4) Bertanggung Jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah

bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya.

Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu

berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil

risiko bila ada orang lain yang mencemoohnya atau

adanya risiko lain.

d. Sifat sikap

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula

bersifat negatif (Wawan dan Dewi, 2010):

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,

menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.

2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,

menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.

e. Ciri – ciri sikap

Ciri – ciri sikap adalah (Wawan dan Dewi, 2010):

1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau

dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan

dengan obyeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat

motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan

istirahat.
19

2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari

dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat

keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang

mempermudah sikap pada orang lain.

3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai

hubungan tertentu terhadap suatu objek, dengan kata lain,

sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa

berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat

dirumuskan dengan jelas. Objek sikap itu merupakan suatu

xhal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari

hal-hal tersebut.

4) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi

perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan

kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan

yang dimiliki orang.

f. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap antara lain

(Wawan dan Dewi, 2010):

1) Pengalaman Pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap

pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang

kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila

pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang

melibatkan faktor emosional.


20

2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki

sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang lain

yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain

dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan

untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap

penting tersebut.

3) Pengaruh Kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan

garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah.

Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota

masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi

corak pengalaman individu-individu masyarakat

asuhannya.

4) Media Massa

Dalam pemberian surat kabar maupun radio atau

media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual

disampaikan secara obyektif cenderung dipengaruhi oleh

sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap

konsumennya.

5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan

dan lembaga agama sangat menentukan system


21

kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada

gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.

6) Faktor Emosional

Kadang kala suatu bentuk sikap merupakan

pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai

semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.

g. Pengukuran sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung

maupun tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan

bagaimana pendapat/pernyataan responden terhadap suatu

objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan

pernyataanpernyataan hipotesis kemudian ditanyakan

pendapat responden melalui kuesioner (Wawan dan Dewi,

2010).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil

pengukuran sikap (Wawan dan Dewi, 2010), yaitu :

1. Keadaan objek yang diukur

2. Situasi pengukuran

3. Alat ukur yang digunakan

4. Penyelenggaraan pengukuran

h. Cara pengukuran sikap

Salah satu problem metodologi dasar dalam psikologi

sosial adalah bagaimana mengukur sikap seseorang. Ada


22

beberap teknik pengukuran sikap, salah satunya dengan

menggunakan Method Of Summateds Ratings/Skala Likert

(Likert, 1932). Likert mengajukan metodenya sebagai alternatif

yang lebih sederhana. Pengukuran sikap dapat dilakukan

dengan menilai pernyataan sikap seseorang. Pernyataan

sikap mungkin berisi atau menyatakan hal-hal yang positif

mengenai objek sikap, atau kalimatnya bersifat memihak atau

mendukung pada objek sikap. Pernyataan ini disebut dengan

pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap

mungkin pula berisi hal-hal negatif yang bersifat tidak

mendukung pernyataan ini disebut pernyataan yang

unfavourable (Wawan dan Dewi, 2011).

Untuk pernyataan yang favorable (positif) yaitu: sangat

setuju = 4, setuju = 3, tidak setuju=2, sangat tidak setuju = 1

dan untuk pernyataan yang unfavorable (negatif) yaitu: sangat

setuju = 1, setuju = 2, tidak setuju 3 dan sangat tidak setuju =

4. Hasil yang ditabulasi dengan mengunakan metode statistik

sederhana (distribusi frekuensi), untuk menganalis sikap

menjadi unfavorable atau favorable. Untuk menentukan skor

akhir responden digunakan rumus :

T= 50 + 10 ( xSD−x́ )
n
23

Keterangan :

T = Nilai skor akhir responden

x n = Nilai skor responden

x́ = Nilai rata-rata kelompok

SD = Standar deviasi (simpangan baku/ kelompok)

Dimana nilai SD dapat dicari dengan menggunakan rumus :

∑ (x n−x́)2
SD=
√n−1

Keterangan :

= jumlah pengamatan

n = jumlah sampel

Setelah nilai T ditentukan kemudian dikategorikan sebagai

berikut:

Sikap Positif : jika T ≥ mean T

Sikap Negatif : jika T < mean T

Selanjutnya untuk menentukan sikap responden dalam

favorable (positif) atau unfavorable (negatif) dengan

menentukan nilai mean T. Sikap positif bila nilai T  mean T.

Sikap negatif bila nilai T < mean T (Azwar, 2007).

3. Konsep Tindakan

a. Pengertian Tindakan

Menurut Notoatmodjo (2007), praktik (practice)

kesehatan dapat juga dikatakan perilaku kesehatan (overt

behaviour). Setelah seseorang mengerai stimulus atau objek


24

kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat

terhadap apa yang diketahui. Proses selanjutnya diarahkan

dan akan melaksanakan atau mempraktikan apa yang

diketahui atau disikapinya (nilai baik).

Suatu sikap optimis terwujud dalam suatu tindakan

(overt behaviour) untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan

nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

menguntungkan antara lain adalah fasilitas. Di samping faktor

dukungan (support) dari pihak lain misalnya dari suami atau

istri, orang tua atau mertua.

b. Tingkatan Praktik

Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan, meliputi:

1) Persepsi (persepsion)

Mengenal dan memilih sebagai objek sehubungan

dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan

praktik tingkat pertama.

2) Respon terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu dalam urutan yang benar

dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator

praktik tingkat dua.

3) Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu

dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah


25

merupakan kebiasaan, maka responden sudah mencapai

praktik tingkat tiga.

4) Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang

sudah berkembang dengan baik artinya tindakan itu sudah

dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran dari tindakan

tersebut.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku (Behaviour)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya

perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antara lain teori

Lawrence Green (1980) dan Snehandu B. Kar (1983) dalam

Notoatmodjo (2007):

1) Teori Lawrence Green

1) Faktor-faktor predisposisi (predisposition factors), yang

terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,

keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.

2) Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang

terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak

tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana

kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat

kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.

3) Faktor-faktor pendorong (renforcing factors) yang

terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan


26

atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok

referensi dari perilaku masyarakat.

2) Teori Snehandu B. Kar

Kar mencoba analisis perilaku kesehatan dengan

bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari:

B = f (BI, SS, AL, PA, AS)

Keterangan:

B : Behaviour

f : Fungsi

BI : Behaviour Intention

SS : Social Support / dukungan sosial

AL : Accessebility of Information / adanya informasi

PA : Personal Autonomy /otonomi pribadi

AS : Action Situation

d. Cara Pengukuran Tindakan

Pengukuran tindakan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang tindakan

yang akan di ukur dari subjek penelitian atau responden.

Kemudian setelah diperoleh hasil, dimasukkan ke dalam

kategori kemampuan yaitu :

1) Kemampuan baik bila responden menjawab dengan benar

pertanyaan/pernyataan yang ada sebanyak 76% - 100%.


27

2) Kemampuan cukup bila responden menjawab benar

pertanyaan/pernyataan yang ada sebanyak 56% - 75%.

3) Kemampuan kurang bila responden menjawab benar

pertanyaan/pernyataan yang ada sebanyak <56% (Wawan

dan Dewi, 2010).

4. Konsep Pengkajian Airway, Breathing, Circulation (ABC)

a. Pengertian Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses

keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis

dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data, untuk

mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan. Tipe data

pengkajian yaitu data subjektif dan data objektif. Metode dalam

pengumpulan data (pengkajian) adalah observasi, wawancara,

konsultasi dan pemeriksaan (Nursalam 2007).

Pengkajian merupakan dasar utama atau langkah awal

dari proses keperawatan secara keseluruhan (Gaffar, 1999)

1) Tujuan Pengkajian

Tujuan tahap pengkajian adalah untuk mengumpulkan

informasi dan membuat data dasar klien. Klien dikaji ketika

memasuki system pelaksanaan asuhan keperawatan

(Nursalam, 2007).

2) Komponen Tahap Pengkajian

Pengkajian merupakan Pengumpulan data atau informasi

yang sistemik tentang klien meliputi kekuatan dan


28

kelemahan klien (Allen, 2008). Metode di dalam

pengumpulan data adalah observasi, wawancara,

konsultasi dan pemeriksaan. Tipe data pasa penkajian

adalah data subjektif dan data objektif (Nursalam 2011).

b. Pengkajian Airway, Breathing, Circulation (ABC)

Pengkajian ABC adalah pengkajian cepat untk

mengidentifikasi dengan segera masalah-masalah aktual atau

resiko tinggi dari kondisi life threatening (berdampak terhadap

kemampuan pasien untuk mempertahankan hidup). Pengkajian

tetap berpedoman terhadap inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi jika hal tersebut memungkinkan (Suhartati dkk,

2011).

Penilaian awal pasien trauma terdiri dari survey primer

dan survey skunder. Pendekatan ini ditunjukkan untuk

mempersiapkan dan menyediakan metode perawatan individu

yang mengalami multiple trauma secara konsisten dan tim agar

teap terfokus pada prioritas perawatan. Masalah-masalah yang

mengancam nyawa terkait jalan napas, pernapasan, sirkulasi,

dan status kesadaran pasien diidentifikasi, dievaluasi, serta

dilakukan tindakan dalam hitungan menit sejak datang di unit

gawat darurat. Kemungkinan kondisi yang mengancam nyawa

seperti pneumutoraks, hemotoraks, flail cest, dan pendarahan

dapat dideteksi melalui suvei primer. Ketika kondisi yang

mengancam nyawatelah diketahui, maka dapat segera


29

dilakukan intervensi yang sesuai dengan masalah/ kondisi

pasien (Kartikawati 2013).

Menurut Ana (1995) hal-hal yang harus mendapat

perhatian perawat berhubungan dengan pengkajian airway,

breathing, circulatioan (ABC) adalah:

1) Pendekatan pengkajian yang terorganisir

Mengikuti pendekatan pengkajian yang terorganisir

merupakan hal yang sangat penting, tetapi yang paling

penting adalah gagasan bahwa setiap perawat harus

membuat dan menggunakannya secara konsisten.

2) Prioritas pengkajian pada saat kedatangan

Pemeriksaan utama pada ABC harus

didokumentasikan pada saat kedatangan sebagai dasar

dan harus mencerminkan konsistensi si semua pengkajian

medis dan keperawatan

3) Pemantauan

Obsevasi atau pemantauan harus dilakukan guna

lebih mengakuratkan proses pengkajian karena keadaan

pasien gawat darurat dapat berubah dengan cepat.

c. Manfaat Pengkajian Airway, Breathing dan Circulation

Primary survey meliputi pemeriksaan Airway, Breathing,

Circulation, menyediakan evaluasi yang sistematis,

pendeteksian dan manajemen segera terhadap komplikasi

akibat trauma parah yang mengancam kehidupan. Manfaat dari


30

Primary survey adalah untuk mengidentifikasi dan memperbaiki

dengan segera masalah yang mengancam kehidupan. Prioritas

yang dilakukan pada primary survey antara lain (Fulde, 2009).

 Airway maintenance dengan cervical spine protection

 Breathing dan oxygenation

 Circulation dan kontrol perdarahan eksternal

 Disability-pemeriksaan neurologis singkat

 Exposure dengan kontrol lingkungan

Sangat penting untuk ditekankan pada waktu melakukan

primary survey bahwa setiap langkah harus dilakukan dalam

urutan yang benar dan langkah berikutnya hanya dilakukan jika

langkah sebelumnya telah sepenuhnya dinilai dan berhasil.

Setiap anggota tim dapat melaksanakan tugas sesuai urutan

sebagai sebuah tim dan anggota yang tela h dialokasikan

peran tertentu seperti airway, circulation, dll, sehingga akan

sepenuhnya menyadari mengenai pembagian waktu dalam

keterlibatan mereka (American College of Surgeons, 1997).

d. Pelaksanaan Pengkajian Airway, Breathing dan Circulation

Tindakan yang dilaksanakan di kelompokkan menjadi

Pemeriksaan Airway, Breathing, Circulation. Total seluruh

tindakan berjumlah 16 item mencangkup setiap tindakan

beserta sub tindakan. Berikut tindakan yang dilaksanakan

perawat pada pemeriksaan ABC menurut Gilbert., D’Souza,. &

Pletz (2009):
31

1) Pemeriksaan Airway

a) Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat

berbicara atau bernafas dengan bebas?

b) Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada

pasien antara lain:

 Adanya snoring atau gurgling

 Stridor atau suara napas tidak normal

 Agitasi (hipoksia)

 Penggunaan otot bantu pernafasan/ paradoxical

chest movements

 Sianosis

c) Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran

napas bagian atas dan potensial penyebab obstruksi :

 Muntahan

 Perdarahan

 Gigi lepas atau hilang

 Gigi palsu

 Trauma wajah

d) Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan

nafas pasien terbuka.

e) Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan

nafas pasien sesuai indikasi :

 Chin lift/jaw thrust


32

 Lakukan suction (jika tersedia)

 Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway,

Laryngeal Mask Airway

 Lakukan intubasi

2) Pengkajian Breathing

a) Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi

dan oksigenasi pasien.

(1) Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting.

Apakah ada tanda-tanda sebagai berikut :

cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking

chest wounds, dan penggunaan otot bantu

pernafasan

(2) Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur

ruling iga, subcutaneous emphysema, perkusi

berguna untuk diagnosis haemothorax dan

pneumotoraks.

(3) Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada

dada.

b) Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding

dada pasien jika perlu

c) Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji

lebih lanjut mengenai karakter dan kualitas pernafasan

pasien.
33

d) Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat

dan / atau oksigenasi:

(1) Pemberian terapi oksigen

(2) Bag-Valve Masker

(3) Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi

penempatan yang benar), jika diindikasikan

e) Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced

airway procedures

3) Pengkajian Sirkulasi

a) Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.

b) Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan

dengan pemberian penekanan secara langsung.

c) Palpasi nadi radial jika:

 Menentukan ada atau tidaknya

 Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)

 Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)

 Regularity

d) Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi

atau hipoksia (capillary refill).

e. Pengukuran Pelaksanaan Pengkajian Airway, Breating,

Circulation

Alat ukur yang digunakan adalah ceklis yang disusun

berdasarkan teori Gilbert D’Souza dan Plerz (2009). Ceklist

akan di nilai dengan skala likert. Tiap pernyataan pada ceklis


34

yang dilaksanakan iberi nilai “1” dan jika tidak dilaksanakan di

beri nilai “0”. Item pada ceklist berjumlah 16 Item.Pelaksanaan

pengkajian airway, breating, circulation akan di ukur

mengunakan studi dokumentasi asuhan keperawatan rumah

sakit yang dikeluarkan Direktorat Jendral Pelayanan Medik

departemen Kesahatan.

Hasil dari observasi akan di beri bobot 1-4 dengan

ketentuan : apabila pernyataan itu dilaksanakan 0 sampai 4

item diberi bobot 1, bila pernyataan dilaksanakan 5 sampai 8

item diberi bobot 2, bila pernyataan dilaksanakan 9 sampai 12

item diberi bobot 3, bila pernyataan dilaksanakan 13 sampai 16

item diberi bobot 4. Untuk keperluan analisis inferensial maka

nilai yang dipakai adalah nilai skor total antara 1 – 4,

sedangkan untuk interpretasi keadaan kategori asuhan

keperawatan maka dilakukan pengelompokan yaitu baik,

sedang dan kurang. Baik jika > x́ + 1 SD, cukup Jika = x́ ± 1

SD, kurang jika < x́ - 1SD.

5. Cidera Kepala

a. Definisi Cedera Kepala

Cedera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan

otak dari lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter,

pembuluh darah serta otaknya mengalami cedera baik yang

cedera tertutup maupun trauma tembus. Komutio cerebri

adalah syndrome yang melibatkan bentuk ringan dari cedera


35

otak yang menyebar. Terjadi disfungsi neurologis sementara

dan bersifat dapat pulih dengan atau tanpa kehilangan

kesadaran. Jika ada penurunan kesadaran mungkin pasien

mengalami disorientasi dan bingung hanya dalam waktu

singkat (Hudak dan Gallo, 2010). Menurut Mansjoer (2000)

cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan skala

glasgow coma scale 15 (sadar penuh) tidak ada kehilangan

kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala dapat terjadi

abrasi, lacerasi dan hematoma kepala.

b. Penyebab Cedera Kepala

Menurut Hudak dan Gallo (2010) mendeskripsikan

bahwa penyebab cedera kepala adalah karena adanya trauma

yang dibedakan menjadi 2 faktor yaitu; 1. Trauma primer,

terjadi karena benturan alngsung atau tidak langsung

(akselerasi dan deselerasi); 2. Trauma skunder, terjadi akibat

dari trauma saraf (melalui aksin) yang meluas, hipertensi intra

cranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sistemik.

c. Manifestasi Klinis Cedera Kepala Akut

Menurut Wong dkk (2009) orang yang mengalami

cedera kepala akut memiliki beberapa tanda dan gejala.

Dengan mengetahui manifestasi klinis dari cedera kepala,

dapat di bedakan antara cedera kepala ringan dan berat.


36

Tabel 1. Manifestasi Cedera Kepala

Cedera ringan Dapat menimbulkan hilang kesadaran,


Periode konfusi (kebingungan) transien,
Somnolen, Gelisah, Iritabilitas, Pucat,
Muntah (satu kali atau lebih)
Tanda-tanda Perubahan status mental (misalnya anak
progestivitas sulit dibangunkan), Agitasi memuncak,
Timbul tanda-tanda neurologik lateral fokal
dan perubahan tanda-tanda vital yang
tampak jelas.
Cedera berat Tanda-tanda peningkatan TIK, Perdarahan
retina Paralisis ekstraokular (terutama
saraf kranial VI), Hemiparesis,
Kuadriplegia Peningkatan suhu tubuh,
Cara berjalan yang goyah, Papiledema
(anak yang lebih besar) dan perdarahan
retina.
Tanda-tanda Cedera kulit (daerah cedera pada kepala),
yang menyertai Cedera lainnya (misalnya pada
ekstremitas).

d. Komplikasi Cedera Kepala

Komplikasi utama trauma kepala adalah perdarahan,

infeksi, edema dan herniasi melalui tontronium. Infeksi selalu

menjadi ancaman yang berbahaya untuk cedera terbukja dan

edema dihubungkan dengan trauma jaringan. Uptur vaskular

dapat terjadi sekalipun pada cedera ringan; keadaan ini

menyebabkan perdarahan diantara tulang tengkorak dan

permukaan serebral. Kompesi otak dibawahnya akan

menghasilkan efek yang dapat menimbulkan kematian dengan


37

cepat atau keadaan semakin memburuk (Wong, Hockenberry,

Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).

6. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Tindakan

Pengkajian Airway, Breathing, Circulation (ABC)

Perawat IGD dituntut untuk memiliki pengetahuan dan sikap

yang nantinya dapat dikembangkan untuk peningkatan kinerja dan

pelayanan kegawar daruratan. Faktor-faktor internal lain yang

mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan motivasi.

Kemampuan adalah kapasitas individu untuk melaksanakan

berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu. Kemampuan

keseluruhan seseorang pada hakekatnya tersusun dari faktor yaitu

kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Sedangkan motivasi

adalah kemauan atau keinginan di dalam diri seseorang yang

mendorongnya untuk bertindak (Wijono, 2000).

Perawat gawat darurat harus melakukan pengkajian yang

akurat dan continue terhadap masalah fisik dan psikososial pasien

di IGD. Perawat unit gawat darurat harus selalu dalam keadaan

siap siaga untuk menghadapi pasien dari berbagai dengan

masalah pada satu atau semua system tubuh.perawat gawat

darurat harus siap mengenali adanya abnormalitas pada system

dan berpartisipasi dalam penatalaksanaan medis yang tepat.

Menurut Thoha (1995) terdapat faktor internal dan eksternal

yang mempengaruhi kinerja, terutama penatalaksanaan asuhan

keperawatan. Faktor internal meliputi karakteristik individu,


38

kepribadian, karakteristik sikap, kemampuan, persepsi dan

motivasi. Faktor eksternal antara lain karakteristik organisasi,

karakteristik kelompok, karakteristik pekerjaan dan karakteristik

lingkungan.
39

B. Krangka Konseptual

Pengetahuan Pelaksanaan
Sikap Pengkajian Airway, Breathing Circulation (A

Pendidikan Pengalaman pribadi


Pengalaman Pengaruh orang yang dianggap penting
Pekerjaan Pengaruh budaya Karakteristik organisasi
Umur Media masa Kerakteristik kelompok
Lingkungan Lembaga pendidikan /lembaga agama
Karakteristik pekerjaan
Sosial budaya Emosional Karakteristik lingkungan
Intelegensi

________ : Area yang diteliti

______ : Area yang tidak di teliti

Gambar 1 Kerangka Konseptual Hubungan Pengetahuan dan Sikap


Terhadap Pelaksanaan Pengkajian Airway, Breathing,
Circulation (Modifikasi dari teori Thoha, 1995).