Anda di halaman 1dari 4

c

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI BI-4104

ENTOMOLOGI FORENSIKc

Disusun oleh :

Demia S. P. 10607022

Silviani 10607024

Yuliana Z. B.L 10607023

SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

BANDUNG

2010
c

c
c

 cc

 c


c c   c

c Entomologi adalah salah satu ilmu yang selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya dan
selalu berkembang. Contohnya saja entomologi dalam bidang kedokteran, dimana belakangan ini
ditembukan dan dikembangkan serangga untuk pengobatan manusia. Contoh lainnya adalah
entomologi dalam bidang kesehatan, dimana serangga digunakan dalam hal penyelidikan
kematian manusia. Entomologi forensik menggunakan beberapa teknik dalam mengetahui
aktivitas serangga pada saat kematian seseorang sehingga dapat memperkirakan saat kematian
dan lokasi kematian. Entomologi juga bekerja sama dengan ilmu lain seperti kimia dan genetika.
Pemeriksaan DNA untuk mengidentifikasi DNA jaringan tubuh yang kontak atau dimakan oleh
serangga digunakan dalam entomologi forensik saat ini.

c  c

Menentukan karakter umur daging sapi berdasarkan komposisi serangga.

c  c

Pada hari pertama dan kedua umumnya hanya akan ditemukan telur lalat saja. Pada hari
ketiga (setelah 23 jam) kemungkinan akan ditemukan larva instar I dan hari keempat (setelah 27
jam) akan ditemukan larva instar II. Pada hari kelima (setelah 22 jam) akan ditemukan larva
instar III. Setelah 130 jam (pada hari kesepuluh) akan ditemukan pupa dan setelah 143 jam (pada
hari keenam belas) baru akan ditemukan lalat dewasa.

  c  c

Serangga digunakan dalam menganalisis kematian mayat karena serangga melakukan aktivitas
ditubuh mayat tersebut. Aktifitas serangga pada mayat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
nekrofagus (serangga yang memakan jaringan tubuh mayat), predator - parasit (serangga yang
memakan serangga nekrofagus) dan omnivora (serangga yang memakan jaringan tubuh mayat
dan memakan serangga lain). Kelompok nekrofagus merupakan kelompok serangga yang paling
penting dalam membantu perkiraan waktu kematian. Segera setelah kematian, serangga tertentu
akan mendatangi, memakan dan berkembang biak pada mayat. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kecepatan kerusakan tubuh mayat dan tipe serta jumlah serangga yang
mendatangi mayat adalah derajat pembusukan, penguburan, adanya air (mayat terendam dalam
air), proses mumifikasi, dan kondisi geografi.

Serangga yang paling banyak ditemukan saat terjadinya pembusukan adalah lalat. Lalat
seringkali menempatkan telurnya pada luka terbuka sehingga menyebabkan perubahan bentuk
luka. Segera setelah kematian pada siang hari umumnya akan terdapat telur lalat pada mayat.
Waktu kematian pada mayat berkisar 1-2 hari apabila hanya telur yang ditemukan pada mayat.
Waktu telur menetas bervariasi bergantung pada suhu, kelembaban dan spesies lalat. Setelah
menetas menjadi larva sampai akhirnya menjadi pupa memakan waktu 6-10 hari pada kondisi
tropis biasa. Lalat dewasa keluar dari pupa setelah 12-18 hari. Spesies serangga yang ada pada
mayat bervariasi, ada yang mengalami metamorphosis lengkap dan ada yang mengalami
metamorphosis tidak lengkap sehingga untuk menentukan waktu kematian harus terlebih dahulu
mengetahui siklus hidup serangga tersebut.

 c  c

 c
cc c  c  c c! c!c c  c


    
[    
              
1 hari tertutup - - - - - -
terbuka - - - - - 4
2 hari tertutup - - - - - -
terbuka - - 5 - - 1 (Sp. lain)
3 hari tertutup - 57 - - - -
terbuka - 5 32 - - -
5 hari tertutup - 2 10 - - -
terbuka - 2 42 - - -
7 hari tertutup 1 12 1 10 - 1 (Sp. lain)
terbuka 4 6 2 14 - 1 (Sp. lain)

c
 "  c

Berdasarkan hasil pengamatan pada daging yang terbuka, pada hari pertama tidak ditemukan
adanya telur, larva maupun pupa dan hanya ditemukan lalat dewasa. Hal ini sesuai dengan
literatur bahwa lalat dewasa membutuhkan waktu 1-2 hari untuk bertelur. Pada hari kedua
ditemukan adanya instar II padahal tidak ditemukan adanya telur maupun larva instar I.
Kemungkinan telur ada di dalam daging dari hari pertama hanya saja tidak terlihat karena
mungkin telur yang ada terlalu kecil. Pada hari ketiga ditemukan larva instar I dan instar II
dalam jumlah lebih banyak daripada hari sebelumnya. Kemungkinan larva instar I pada hari
sebelumnya sudah berkembang menjadi larva instar II dan telur ± telur yang sudah ada pada hari
sebelumnya telah berkembang menjadi larva instar I.

Pada hari kelima ditemukan larva instar I dan II. Menurut hipotesis kami, seharusnya pada hari
kelima sudah dapat ditemukan serangga jenis lain dan serangga yang sama pada hari sebelumnya
namun berada pada fase hidup yang lebih lanjut. Namun ternyata tidak ditemukan serangga lain
dan tidak ditemukan fase hidup lain. Hal ini dapat terjadi mungkin dikarenakan kondisi
lingkungan yang kurang optimal. Daging perlakuan digantung diatas atap dan terkena cahaya
matahari yang menyebabkan kondisi suhu lingkungan sangat tinggi. Pada hari ketujuh,
ditemukan serangga pada semua fase hidup kecuali pupa. Pupa umumnya baru muncul pada hari
kedelapan atau sembilan.

Larva serangga tersebut tidak dapat diidentifikasi dikarenakan fotonya hilang dan larvanya
dibuang. Menurut perkiraan kami, serangga tersebut adalah salah satu anggota ordo diptera, dan
kemungkinan besar merupakan salah satu dari anggota genus Drosophilla. Pada wadah yang
tertutup kain kasa, jika mengacu pada teori abiogenesis, seharusnya tidak ada makhluk hidup
yang muncul pada kondisi tertutup, namun dari hasil pengamatan didapatkan makhluk hidup. Hal
ini mungkin dikarenakan kondisi tertutup yang tidak benar-benar tertutup (masih ada celah
serangga untuk masuk). Karena kondisi yang tidak benar-benar tertutup tersebutlah, dapat
ditemukan serangga dengan bermacam variasi fase hidup.