Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN

PADA PASIEN Ny.’’U’’ DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


GANGGUAN MOBILITAS FISIK
DI DESA JAGARAGA DUSUN KARANG LAMPER

OLEH:

I MD DWI WIDIANA JUWITA


019 02 0928
REGULER 2

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas
dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sehat menuju kemandirian dan
mobilisasi yang mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak
dengan bebas (Potter & Perry, 2006). Imobilisasi adalah suatu kondisi yang
relatif, dimana individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara
total, tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya
(Mubarak, 2008). Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat
napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong
untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya
dalam waktu 12 jam. Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna
untuk membantu jalannya penyembuhan pasien. Secara psikologis mobilisasi
akan memberikan kepercayaan pada pasien bahwa dia mulai merasa sembuh.
Perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan pada pasien atau keluarga
yang menunggui. Pasien dan keluarga akan dapat mengetahui manfaat
mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi dalam pelaksanaan mobilisasi
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan dari laporan pendahuluan dan resume keperawatan ini untuk
mengetahui masalah kebutuhan dasar manusia khususnya masalah
kebutuhan mobilisasi fisik pada Ny.”R”.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Ny.”R” mengenai kebutuhan
mobilisasi fisik.
b. Mampu merumuskan diagnosa dan rencana keperawatan pada
Ny.”R” mengenai kebutuhan mobilisasi fisik.
c. Mampu melakukan implementasi dan evaluasi keperawatan pada
Ny.”R” mengenai kebutuhan mobilisasi fisik sesuai dengan
intervensi yang telah disusun sebelumnya.
BAB II
KONSEP DASAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MOBILITAS FISIK

A. Definisi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah
dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi
diperlukan untuk meningkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya
penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan
sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal
normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin,
biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak, 2008).
Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja
kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan
aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008). Gangguan mobilitas fisik
(immobilisasi) didefinisikan oleh North American Nursing  Diagnosis Association
(NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu yang mengalami atau beresiko
mengalami keterbatasan gerakan fisik. Individu yang mengalami atau beresiko
mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia, individu dengan penyakit
yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu yang
kehilangan fungsi anatomi akibat perubahan fisiologi (kehilangan fungsi motorik,
klien dengan stroke, klien penggunaa kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti
gips atau traksi), dan pembatasan gerakan volunteer (Potter, 2005).
B. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi yaitu :
1. Gaya hidup, mobilitas seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai-
nilai yang dianut, serta lingkungan tempat ia tinggal (masyarakat).
2. Ketidakmampuan, kelemahan fisik dan mental akan menghalangi seseorang
untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
3. Tingkat energi, energi dibutuhkan untuk banyak hal, salah satunya mobilisasi.
Dalam hal ini cadangan energi yang dimiliki masing-masing individu bervariasi.
4. Usia, usia berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan
mobilisasi. Pada individu lansia, kemampuan untuk melakukan aktifitas dan
mobilisasi menurun sejalan dengan penuaan (Mubarak, 2008)
C. Manisfestasi Klinik
1. Tidak mampu bergerak atau beraktifitas sesuai kebutuhan.
2. Keterbatasan menggerakan sendi.
3. Adanya kerusakan aktivitas.
4. Penurunan ADL dibantu orang lain.
5. Malas untuk bergerak atau mobilitas
D. Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem
otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur
gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang
bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot yaitu isotonik dan
isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot
memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja
otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya
menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi
dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak
menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus
mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi
irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra
indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik).
Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan
tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan
pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang
berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu
keadaan tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang
bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh
dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan
aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh
dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak
beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital,
membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah.
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan
hubungan tulang.
2. CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang
yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera
ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya
patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
F. Pengkajian Fokus
1. Pemeriksaan Fisik
Mengkaji skelet tubuh Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan
tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi
dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal
pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan
adanya patah tulang.
2. Mengkaji tulang belakang
a. Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang).
b. Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada).
c. Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang
berlebihan).
3. Mengkaji sistem persendian, luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif,
deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.
4. Mengkaji sistem otot, kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan
koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk
mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
5. Mengkaji cara berjalan Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak
normal. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai
kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal
(mis.cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-
selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit
Parkinson).
6. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya
suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema.
Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan
waktu pengisian kapiler.
7. Mengkaji  fungsional klien.
G. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan mobilitas fisik
H. Intervensi
NO DIAGNOS NOC NIC
A
1 Gangguan 1. Latihan 1. ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan
mobilitas Kekuatan program latihan secara rutin
fisik 2. Latihan untuk 2. Ajarkan teknik Ambulasi dan perpindahan yang aman
ambulasi kepada klien dan keluarga.
3. Latihan 3. Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda,
Keseimbangan dan walker.
4. Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam
batasan yang aman.
5. Ajarkan pada klien dan keluarga untuk dapat mengatur
posisi secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama
latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari.
6. Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar.
7. Ajarkan pada klien atau keluarga untuk mem perhatikan
postur tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan, keram
& cedera.
8. Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba


Medika.

Perry & Potter. 2006. Buku Ajar Fundal Mental Keperawatan Konsep, Proses dan
Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Tarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan Dasar Manusia & Proses Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi


NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.

Kushariyadi. 2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.


Jakarta: Prima Medika.