Anda di halaman 1dari 10

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Kajian Data
Pelaksanaan Cara Penanganan Konflik
Di rumah sakit tanggal 06 - 07 Agustus 2020

Observasi
No Variabel Yang Dinilai Ket
Ya Tidak
1. Perawat bersaing dalam penanganan konflik 
2. Perawat berkolaborasi dalam penanganan konflik 
3. Perawat menghindar dalam penanganan konflik 
4. Perawat mengakomodasi dalam penanganan konflik 
5. Perawat berkompromi dalam penanganan konflik 
Jumlah 4
Skor 4
Persentase 80%
Sumber: Data primer Hasil observasi tanggal 06 - 07 Agustus 2020

Penerapan Manajemen Konflik MPKP


Di rumah sakit tanggal 06 - 07 Agustus 2020

Observasi
No Variabel Yang Dinilai Ket
Ya Tidak
1. KARU mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi 
dengan melakukan klarifikasi pada pihak yang berkonflik

2. KARU mengidentifikasi penyebab timbulnya konflik 

3. Mengidentifikasi alternatif-alternatif penyelesaian yang 


mungkin diterapkan
4. Memilih alternatif penyelesaian terbaik untuk diterapkan 

5. Menerapkan solusi pilihan 


6. Mengevaluasi perbedan konflik

Jumlah 5
Skor 5
Persentase 83%
Sumber: Data primer Hasil observasi tanggal 06 - 07 Agustus 2020

B. Analisa Pelaksanaan Cara Penanganan Konflik dan Penerapan


Manajemen Konflik MPKP

1. Analisa Data Pelaksanaan Cara Penanganan Konflik


Berdasarkan hasil observasi cara penanganan konflik pada tabel di
atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penanganan konflik tergolong
dalam kategori baik (80%). Cara penanganan konflik telah dilakukan
dengan benar sesuai prosedur yang ada. Para perawat telah melakukan
penanganan konflik secara bersaing dalam melakukan penanganan konflik,
telah berkolaborasi dengan sesama teman sejawat tentang penanganan
konflik, menghindar hanya digunakan pada persoalan konflik yang sangat
kecil yang hanya melibatkan dua orang dan tidak memberikan dampak
besar jika perawat manajer tidak ikut dalam penyelesaian masalah,
mengakomodasi semua pelaksaan penanganan konflik, dan berkompromi
dengan sesama teman sejawat bila ada konflik.

2. Analisa Data Penerapan Manajemen Konflik MPKP


Berdasarkan hasil observasi cara penanganan konflik pada tabel di
atas dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen konflik tergolong
dalam kategori baik (83%). Kepala Ruang mengatakan bahwa penerapan
manajemen konflik selalu diupayakan agar konflik yang terjadi dapat
diselesaikan dengan baik dan diselesaikan sesuai dengan prosedur yang
ada.
C. Identifikasi Masalah

DATA MASALAH
- Hasil observasi bahwa dalam Belum optimalnya pelaksanaan penanganan
pelaksanaan penanganan konflik oleh konflik sesuai dengan prosedur
perawat cara menghindar dalam
penanganan konflik tidak dilakukan
dalam pemecahan masalah
- Kepala ruangan tidak melakukan Belum optimalnya pelaksanaan penerapan
evaluasi perbedaan konflik manajemen konflik

D. Prioritas Masalah
Berdasarkan hasil pengkajian data maka ditemukan 2 masalah, sehingga
dilakukan penyusunan prioritas masalah dilanjutkan dengan planning of action
dan dapat dilihat pada tabel.

NO SUB MASALAH C A R L NILAI RANGKING MASALAH


1 Belum optimalnya 4 3 4 3 144 1 MPKP
pelaksanaan penanganan
konflik sesuai dengan
prosedur
2 Belum optimalnya 3 3 4 3 108 2 MPKP
pelaksanaan penerapan
manajemen konflik

Keterangan :

C : Capability (ketersediaan sumber daya)

A : Accesbility (kemudahan masalah yang diatasi atau tidak diatasi)

R : Readmess (kesiapan dari tenaga kesehatan maupun kesiapan


sasaran seperti keahlian/kemampuan dan motivasi)
L : Leverange (seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan
yang lain dalam pemecahan yang dibahas)

Rentang nilai yang digunakan :

5 : sangat mampu/ paling tidak menjadi masalah

4 : mampu/ tidak menjadi masalah

3 : cukup/ cukup menjadi masalah

2 : kurang mampu/ menjadi masalah

1 : tidak mampu/ paling menjadi msalah

Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L, urutan rangking atau


prioritas adalah nilai tertinggi sampai dengan nilai terendah

E. PLANNING OF ACTION
Data Masalah Tujuan Kegiatan Sasaran Waktu Metode PJ
 Hasil Belum Perawat dan a. Koordinasi Karu dan 8 Diskusi Mah
observasi optimalnya Karu dapat dengan Karu semua Agustus dan awis
bahwa pelaksanaan melaksanaka agar dapat perawat 2020 simulasi wa
dalam penanganan n penanganan melakukan diruangan
pelaksanaan konflik konflik sesuai penanganan
penanganan sesuai dengan konflik
konflik oleh dengan prosedur dengan
perawat cara prosedur yang ada sesuai
menghindar prosedur
dalam b. Berasama
penanganan perawat
konflik tidak lainnya
dilakukan mendemonstr
dalam aikan
pemecahan kegiatan
masalah penanganan
konflik
c. Simulasi
kegiatan
penanganan
konflik
antara KARU
dengan
Perawat
pelaksana

 Kepala Belum Karu dapat a. Menjelaskan Karu dan 8 Diskusi Mah


ruangan optimalnya menerapkan cara semua Agustus dan asiw
tidak pelaksanaan manajemen penerapan perawat 2020 simulasi sa
melakukan penerapan konflik manajemen diruangan
evaluasi manajemen secara efesien konflik
perbedaan konflik dan efektif sesuai
konflik prosedur
yang ada
b. Simulasi
kegiatan
manajemen
konflik

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Data Dari Hasil Observasi


Setelah dilakukan observasi selama 2 hari dari tanggal 06-07 Agustus 2020
didapatkan hasil bahwa pelaksanaan cara penanganan konflik tergolong dalam
kategori baik (80%), dan penerapan manajemen konflik dalam kategori baik (83%).
Hal ini berarti bahwa pelaksaan manajemen pelayanan dirumah sakit sudah cukup
baik terutama dalam hal pelayanan kesehatan. Namun dalam beberapa aspek terutama
dalam manajemen keperawatan ditemukan kurang optimalnya dalam cara penanganan
konflik dan penerapan manajemen konflik keperawatan.
Seperti dalam panganan konflik masih ditemukan bahwa cara menghindar dalam
penanganan konflik tidak dilakukan dalam pemecahan masalah dan kepala ruangan
tidak melakukan evaluasi perbedaan konflik dalam pemecahan suatu masalah.. Hal ini
menjadi hal yang perlu mendapat perhatian dari manajemen rumah sakit maupun tiap
kepala ruangan. Dimana peran kepala ruangan adalah menjalan kan proses
manajemen keperawatan agar memperoleh hasil yang optimal.

Fokus pada pendapat perawat karena mereka melaporkan pendapat mereka


tentang perawat manajer masing- masing. Hasil dari penelitian melaporkan bahwa
strategi pemecahan konflik yang paling banyak digunakan dari sudut pandang
perawat adalah strategi mengindar diikuti dengan berkolaborasi, kompromi,
akomodasi dan bersaing. Menurut Haryati (2014) bahwa strategi menghindar hanya
digunakan pada masalah yang tidak gawat. Biasanya seorang penengah akan
memberikan waktu antara kedua belah pihak untuk memikirkan masalah
dipertemuan selanjutnya.
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Purba (2016). Dari hasil
penelitian diadapatkan bahwa manajemen konflik yg digunakan kepala ruangan
melalui sudut pandang perawat adalah kompromi (44%). Namun untuk strategi
pemecahan konflik dengan bersaing hasil penelitian sesuai dengan penelitian ini.
Hasil penelitian Lombogia ( 2013) juga menunjukkan bahwa dari 60 responden
perspsi perawat pelaksana tentang manajemen konflik kepala ruanan di RS sebagian
besar responden berpendapat bahwa manajemen konflik yang digunakan oleh kepala
ruangan adalah kolaborasi (48,3%).
Dari beberapa hasil penelitian diatas saya menyimpulakan bahwa strategi
penyelesaian konflik dengan menghindar hanya digunakan pada persoalan konflik
yang sangat kecil yang hanya melibatkan dua orang dan tidak memberikan dampak
yang besar jika perawat manajer ( kepala ruangan) tidak ikut dalam penyelesaian
masalah tersebut. Seorang manajer harus segera mengambil inisiatif untuk
memfasilitasi penyelesaian konflik yang positif. Beberapa strategi yang dapat
dilakukan untuk menyelesaikan konflik, seperti penggunaan disiplin, pertimbangan
tahap kehidupan, komunikasi, lingkaran kualitas (Kuntoro, 2017).
Gaya manajemen konflik sesuai dengan kode etik dapat dapat memfasilitasi
perawat manajer dengan anggotanya. Dengan demikian perawat manajer yang
mampu menyelesaikan konflik dengan efektif dapat memberikan aspek kerja yang
positif, yakni melaksanakan standar pelayanan keperawatan, dan meningkatkan
kepuasan kerja perawat dan menurunkan intensitas perpindahan perawat
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Konflik adalah perselisihan internal yang dihasilkan dari perbedaan ide,


nilainilai, keyakinan, dan perasaan antara dua orang atau lebih. Seorang pemimpin
memiliki peran yang besar dalam mengelola konflik yang konstruktif dalam
pengembangan, peningkatan, dan produktivitas suatu organisasi. Gaya kepemimpinan
seseorang sangat mempengaruhi pemilihan strategi penanganan konflik (integrating,
obliging, dominating, avoiding, dan compromising).

Salah satu model penyelesaian konflik yang digunakan adalah Model Rahim
(2002), yang terdiri atas proses diagnosis, intervensi, dan evaluasi. Untuk
menegakkan diagnosis, diperlukan langkah-langkah identifikasi, antara lain
identifikasi batasan konflik, sumber konflik, potensi sumber daya manusia, dan
identifikasi strategi yang akan dilakukan. Proses selanjutnya adalah intervensi.
Terdapat bermacam-macam strategi intervensi konflik, antara lain negosiasi, fasilitasi,
konsiliasi, mediasi, arbitrasi, litigasi, dan force yang dapat dipilih berdasarkan gaya
kepemimpinan seseorang.

Intervensi yang dipilih bersifat sealami mungkin dan mampu memperbaiki


keadaan dalam suatu organisasi dan meningkatkan proses belajar dan pemahaman
individu atau organisasi dalam menyelesaikan konflik saat ini ataupun yang akan
datang. intervensi juga diharapkan dapat memperbaiki struktur organisasi, seperti
dalam hal mekanisme integrasi dan diferensiasi, hirarki, prosedur, reward system, dan
lain sebagainya. Proses terakhir adalah evaluasi sebagai mekanisme umpan balik
terhadap proses diagnosis dan intervensi yang telah dilakukan.

Gaya manajemen konflik yang yang paling banyak digunakan oleh perawat
manajer dari persepsi perawat adalah menghindar, kemudian diikuti dengan
kolaborasi dan terakhir dengan gaya bersaing. Oleh karena itu disarankan kepada
pihak rumah sakit agar memberikan pelatihan kepada manajer perawat (kepala
ruangan) terkait strategi pemecahan konflik sehingga dapat dapat menciptakan
lingkungan yang kondusif, saling menghargai, dan membangun organisasi menjadi
lebih kuat untuk mencapai tujuan.

B. Saran

1. Bagi RumahSakit
a) Diharapkan perlu adanya kegiatan pelatihan dasar kepemimpinan yang
berkelanjutan bagi profesi keperawatan, khususnya sebagai perawat pengelola
(manajer) untuk dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang baik dalam
menentukan strategi penyelesaian konflik.
b) Diharapkan dapat melakukan pelaksanaan cara penanganan konflik dan
menerapkan manajemen konflik sesuai dengan Standar Operasional Prosedur

2. Bagi Institusi Pendidikan


a) Hasil studi kasus diharapkan dapat dimanfaatkan oleh institusi sebagai
tambahan referensi kepustakaan dan dapat di demontrasikan dalam
pelaksanaan dan praktek klinik lapangan stase manajemen keperawatan dalam
konsep konflik dan manajemen konflik khususnya pelaksanaan cara
penanganan konflik dan menerapkan manajemen konflik sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur

3. Bagi Peneliti
a) Diharapkan setelah melakukan analisis ini dapat meningkatkan pengetahuan
dan wawasan peneliti bertambah mengenai pentingnya manajemen konflik
khususnya pelaksanaan cara penanganan konflik dan menerapkan manajemen
konflik sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
DAFTAR PUSTAKA

Asmuji. (2014). Manajemen Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Yogjakarta: Ar-


Ruzz Media

Julianto, Mito. (2016). Peran dan Fungsi Manajemen Keperawatan dalam Manajemen
Konflik. Jurnal RS Fatmawati.

Daniyati, Marya dan Hajjul Kamil. (2016). Manajemen konflik dengan kepuasan
kerja perawat pelaksana

Simamora, R.H. (2014). Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Nikolaus N. Kewuan. (2017). Manajemen Kinerja Keperawatan. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC.

Kuntoro, Aji. (2017). Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Suarli, S dan Yanyan Bahtiar. ( 2009). Manajemen Keperawatan Dengan Pendektan


Praktis. Jakarta: Erlangga.