Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan

hidayah-Nya, penulis dapat mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini dengan tepat

waktu. Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada

Prof. DR. Jenny M.T. Hardjatno, M.A selaku dosen pembimbing pada mata kuliah

Psikolinguistik yang telah memberikan pengarahannya. Serta pihak-pihak yang sudah

menyediakan berbagai referensi untuk mempermudah penyelesaian makalah ini.

Makalah yang berjudul “Landasan Neurologis pada Bahasa” ini untuk

memenuhi tugas mata kuliah Psikolinguistik. Makalah ini penulis buat dengan metode

pengkajian dan kunjungan pustaka.

Penulis menyadari pada makalah ini masih banyak kekurangan oleh karena itu

penulis tidak menutup diri atas kritik dan saran dari para pembaca. Semoga makalah ini

bisa bermanfaat bagi para pembaca khususnya, dan masyarakat umumnya.

Jakarta, 17 Maret 2013

Penulis

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 1


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................
i

DAFTAR ISI................................................................................................................................
ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.................................................................................................................
1 ...............................................................................................................................................

B. Rumusan Masalah............................................................................................................
2

C. Tujuan..............................................................................................................................
2

BAB II PENALARAN DAN SALAH NALAR DALAM WACANA

A. Penalaran ........................................................................................................................
4

1. Konsep dan Pengertian Penalaran...............................................................................


4

2. Proposisi dan Term.....................................................................................................


6

3. Ciri-Ciri Penalaran.....................................................................................................
7

4. Metode Penalaran ...................................................................................................


8

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 2


a. Penalaran Induktif ..................................................................................................
8

b. Penalaran Deduktif..................................................................................................
10

B. Salah Nalar .....................................................................................................................


11

1. Definisi Salah Nalar....................................................................................................


11

a. Macam-Macam Salah Nalar....................................................................................


11

C. Otak Manusia...................................................................................................................
12

1. Bagian Otak Manusia....................................................................................................


13

2. Fungsi Otak Manusia....................................................................................................


13

3. Cara Kerja Otak Manusia............................................................................................


14

4. Perbedaan Antara Otak Manusia dengan Otak Binatang ...........................................


16

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.....................................................................................................................
17

B. Saran................................................................................................................................
18

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................


19

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 3


BIODATA PENULIS..................................................................................................................
20

LANDASAN NEUROLOGIS PADA BAHASA


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikolinguistik

Prof. Dr. N. Jenny M.T. Hardjatno, M. A

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 4


Kameliyanti

1509057009

2A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2016

LANDASAN NEUROLOGIS PADA BAHASA


Oleh : Kameliyanti

A. PENDAHULUAN
Perkembangan bahasa manusia terkait erat dengan
perkembangan biologinya. Mulai dari mempersepsi ujaran, produksi
ujaran ada juga faktor yang mempengaruhi bahasa. Faktor-faktor tersebut
membedakan antara bahasa manusia dan binatang.  Pertumbuhan
bahasa pada manusia mengikuti jadwal perkembangan genetiknya

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 5


sehingga munculnya suatu unsur bahasa tidak dapat dipaksakan. Selain
faktor biologis, faktor yang juga sangat penting dalam penguasaan bahasa
adalah faktor neurologis yang membahas tentang kaitan antara otak
manusia dengan bahasa.
Neurologi mempunyai kaitan erat dengan bahasa karena
kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan hanya karena lingkungan
tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Betapa besar
peranan otak kita di dalam pemerolehan, pemahaman dan pemakaian
bahasa. Semua proses dikendalikan oleh otak yang merupakan alat
pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas manusia. Tanpa otak
dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki sekarang ini, mustahillah manusia
dapat berbahasa.
Pada bahasan ini, pemakalah menyajikan Landasan Neurologis
pada Bahasa khususnya struktur dan organisasi otak manusia sekaligus
perbedaan dengan otak binatang untuk memberikan jawaban terhadap
masalah pemerolehan, pemahaman, dan pemakaian bahasa, serta akibat-
akibat yang akan timbul bila ada gangguan pada otak. Penting bagi kita
semua untuk mengetahui perbedaan tersebut, setelah mengetahui
perbedaan antara otak manusia dengan otak binatang yang diharapkan
adalah manusia lebih dapat bersyukur dan manusiawi.
B. LANDASAN NEUROLOGIS PADA BAHASA
1. EVOLUSI OTAK MANUSIA
Manusia tumbuh secara gradual dari suatu bentuk ke bentuk
lain selama berjuta-juta tahun. Salah satu pertumbuhan yang telah
diselidiki oleh para ahli Palaeneurologi menunjukkan bahwa evolusi
otak dari primat Austrolopithecus sampai dengan manusia pada masa
kini telah berlangsung sekitar 3 juta tahun. Hal ini tampak paling tidak
pada ukuran otak yang membesar dari 400 miligram menjadi1400
miligram pada kurun waktu 3-4 juta tahun yang lalu. Dari munculnya

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 6


Homo Erectus sampai dengan adanya Homo Sapiens sekitar 1,7 juta
tahun lalu ukuran otak manusia telah berkembang hampir dua kali
lipat, dari 800 miligram ke 1.500 miligram.
Perkembangan otak ini dapat dibagi menjadi empat tahap
(Holloway dikutip Dardjowidjojo, 2005: 202). Tahap pertama adalah
tahap perkembangan ukuran seperti yang dikatakan di atas. Tahap ini
tampak pada Homo Erectus yang ditemukan di Jawa dan di Cina.
Tahap kedua adalah adanya perubahan reorganisasi pada otak.
Lembah-lembah pada otak ada yang bergeser sehingga memperluas
daerah lain seperti daerah yang dinamakan kaerah pariental.
Perubahan ini terjadi pada praaustrolopithecus ke Austrolopithecus
Afarensis. Tahap ketiga adalah munculnya sistem fiber yang berbeda-
beda pada daerah-daerah tertentu melalui corpus callosum.
Fiber-fiber ini diibaratkan sebagai kabel listrik yang memberikan
aliran-aliran elektrik untuk menggerakkan atau melakukan sesuatu.
Tahap terakhir adalah munculnya dua hemisfir yang asimitris. Dua
perkembangan terakhir ini (ketiga dan keempat) terjadi pada saat
perubahan dari Homo Erectus ke Homo Sapiens. Otak manusia
merupakan pusat dari sistem saraf manusia dan merupakan organ
yang sangat kompleks.
Terlampir di tempurung kepala, ia memiliki struktur umum yang
sama dengan otak mamalia lain, tetapi tiga kali lebih besar sebagai
otak mamalia khas dengan ukuran tubuh setara. Sebagian besar
ekspansi berasal dari korteks serebral, berbelit-belit lapisan jaringan
saraf yang menutupi permukaan otak bagian depan. Terutama
diperluas adalah lobus frontalis, yang terlibat dalam fungsi eksekutif
seperti pengendalian diri, perencanaan, penalaran, dan berpikir
abstrak.
Satu diantara teori terdapat perbedaan kualitatif antara otak
manusia seperti saat ini dan otak manusia dalam bentuk pra-manusia.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 7


Spink dan Cole (2006) menyebut apa yang diistilahkan sebagai
transformasi neurologi dengan lompatan besar pada otak manusia,
yang bisa menghasilkan transformasi dramatis pada bentuk kognitif
manusia serta memperkuat kerja memori. Peristiwa ini terjadi mulai
dari 40.000 sampai 75.000 tahun lampau. Perbedaan antara otak
manusia saat ini dan otak manusia prasejarah serta nenek moyang
primata dapat dijelaskan dengan ukuran otak itu sendiri yang semakin
meningkat.
Terdapat peningkatan relatif sebanyak tujuh kali lipat pada
ukuran otak dibanding massa tubuh mulai dari jaman kera sampai
manusia hari ini (Jerison:1973). Keadaan ini sering disebut dengan
“bentuk terkuat dari hipotesa ensefalization” atau hipotesa unitari.
Menurut hipotesa ini, hanya terdapat satuan adaptasi evolusi pada
evolusi manusia, yaitu ukuran otak, dengan ukurannya semakin lama
semakin meningkat. Dalam evolusi manusia dari primata ke Homo.
Otak manusia berubah karena Homo sapiens mengembangkan
kemampuan sosio-kognitif dan bekerja sama sehingga sukses
bersaing.

Otak manusia terus meningkat ukuran dan fungsinya; faktanya,


peningkatan ukuran dan fungsi ini sangatlah cepat. Berkembangnya
otak manusia ini disebabkan karena kebutuhan manusia untuk bekerja
sama dalam kelompok demi mempertahankan persaingan melawan
kelompok Homo sapiens lainnya. Hipotesa “kerja sama untuk
bersaing” berarti hanya dikalangan manusia dan diantara diri mereka
sendirilah yang dapat mengembangkan tantangan cukup besar
sehingga menimbulkan proses adaptasi manusia.
Otak seorang bayi ketika baru dilahirkan beratnya hanyalah
kira-kira 40% dari berat otak orang dewasa; sedangkan makhluk
primata lain, seperti kera adalah 70% dari otak dewasanya (Menyuk,

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 8


1971: 31). Dari perbandingan tersebut tampak bahwa manusia kiranya
telah dikodratkan secara biologis untuk mengembangkan otak dan
kemampuannya. Dalam waktu tidak terlalu lama otak itu telah
berkembang menuju kesempurnaannya. Sewaktu dewasa manusia
mempunyai otak seberat 1350 gram, sedangkan simpanse dewasa
hanya 450 gram (Slobin, 1971:118). Memang ada manusia kerdil yang
berat otaknya 450 gram waktu dewasa, tetapi masih dapat berbicara.

2. OTAK MANUSIA VS OTAK BINATANG


Bentuk tubuh dan ciri-ciri fisikal lain, yang membedakan
manusia dari binatang adalah terutama otaknya. Beberapa binatang
lain seperti monyet dan anjing, volume otak manusia memang lebih
besar. Akan tetapi yang memisahkan manusia  dari kelompok
binatang, khususnya dalam hal penggunaan bahasa, bukanlah ukuran
dan bobot  otaknya. sebaliknya, manusiananocephalic (manusia take),
yang otaknya hanya sekitar 400 gram dan kira-kira sama dengan
berat otak seekor  simpanse umur tiga tahun, dapat berbicara secara
normal sedangkan simpanse tadak. Manusia berbeda dari
binatang  karena struktur dan oranisasi otaknya berbeda.
2.1 Otak Manusia
Dari segi ukurannya berat otak manusia adalah antara 1
sampai 1.5 kilogram akan  tetapi, ukuran yang sekecil ini
menyedot 15 % dari seluruh peredaran darah dari jantung dan
memerlukan 20% sumberdaya metabolic manusia. Dari data ini
saja tampak bahwa otak “memerlukan” perhatian khusus dari
badan kita dan tentunya ada alas an mengapa demikian. Sistim
saraf kita terdiri dari dua bagian utama: (a) tulang punggung
yang terdiri dari sederetan tulan punggung yang bersambung-
sambungan (spinal cord) dan (b) otak. Otak itu sendiri terdiri dari

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 9


dua bagian: (i) batang otak (brain stem) dan (ii) korteks
serebral (cerebral cortex).
Pada waktu  manusia dilahirkan, belum ada pembagian
tugas antara kedua hemisfir ini. Akan tetapi, menjelang anak
mencapai umur sekitar 12 tahun terjadilah pembagian fungsi
yang dinamakan lateralisasi. Pada mulanya dinyatakan bahwa
hemisfir  kiri “ditugasi”  teritama untuk mengelola ihwal bahasa
dan hemisfir  kanan untuk hal-hal yang lain. Perkembangan
terakhir menunjukkan bahwa hemisfir kanan pun ikut bertangung
jawab pula akan penggunaan bahasa.
Lobe frontal bertugas mengurusi ihwal yang berkaitan
dengan kognisi; lobe temporal mengurusi hal-hal yang berkaitan
dengan pendengaran;lobe osipital menangani ihwal penglihatan;
dan lobe parietal mengurusi rasa sistematik, yakni, rasa yang
ada pada tangan, kaki,  dan muka. Pada semua lobe apa yang
dinamakan  girus (gyrus) dan sulkus (sulcus). Girus
adalah  semacam gunduk atau bukit dengan lereng-lerengnya
sedangkan sulkus adalah seperti lembah, bagian yang masuk
kedalam. Salah satu girus tersebut  adalah girus angular
(angular gyrus).
Girus ini mempunyai fungsi untuk menghubungkan apa
yang kita lihat dengan apa yang kita fahami di daerah
Wernicke.untuk menghubungkan apa yang kita dengar atau lihat
dengan apa yang kita ujarkan ada kelompok fiber yang
dinamakan fasikulus arkut (arcuate fasciculus). Tugas fiber-fiber
ini adalah untuk mengkoordinir pendengaran, penglihatan, dan
pemahaman yang diproses didaerah Wernicke dengan proses
pengujaran yang dilakukan di daerah Broca.

2.2 Bagian-Bagian Otak

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 10


Otak nampak seperti sebuah ‘’kembang kol’’ yang beratnya
rata-rata 1,2 kg pada laki-laki dan 1 kg pada perempuan. Otak
dapat dibagi ke dalam tiga bagian umum, yaitu otak depan, otak
tengah, dan otak belakang. Anehnya nama bagian-bagian
tersebut tidak berdasarkan letaknya pada otak (contohnya otak
depan tidak berada di bagian depan). Tapi, nama bagian-bagian
tersebut didasarkan pada posisi saat manusia masih berbentuk
embrio. Kemudian posisi bagian-bagian otak tersebut berubah
selama perkembangan janin dalam kandungan.

 OTAK DEPAN

Otak besar (bahasa Inggris: telencephalon, cerebrum)


adalah bagian depan yang paling menonjol dari otak depan. Otak
besar terdiri dari dua belahan, yaitu belahan kiri dan kanan.
Setiap belahan mengatur dan melayani tubuh yang berlawanan,
belahan kiri mengatur tubuh bagian kanan dan sebaliknya. Jika
otak belahan kiri mengalami gangguan maka tubuh bagian
kanan akan mengalami gangguan, bahkan kelumpuhan. Tiap
belahan otak depan terbagi menjadi empat lobus yaitu frontal,
pariental, okspital, dan temporal.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 11


Korteks otak besar
Korteks otak besar (bahasa Inggris: cerebral cortex, grey
matter) merupakan lapisan tipis berwarna abu-abu yang terdiri
dari 15 - 33 miliar neuron yang masing-masing tersambung ke
sekitar 10.000 sinapsis, satu milimeter kubik terdapat kurang
lebih satu miliar sinapsis. Komunikasi yang terjadi antar neuron
dalam bentuk deret panjang pulsa sinyal yang disebut potensial
aksi dimungkinkan melalui fiber protoplamik yang disebut akson
yang dapat dikirimkan hingga ke bagian jauh dari otak atau tubuh
untuk menemukan reseptor sel tertentu.
Terdapat enam lapisan korteks, neokorteks/isokorteks,
arcikorteks, paleokorteks, allokorteks yang berlipat-lipat sehingga
permukaannya menjadi lebih luas dengan ketebalan 2 hingga 4
mm. Lapisan korteks terdapat berbagai macam pusat saraf yang
mengendalikan ingatan, perhatian, persepsi, pertimbangan,
bahasa dan kesadaran.

 OTAK TENGAH

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 12


Otak Tengah merupakan pusat saraf dalam lingkup kecil.
Otak tengah adalah lanjutan dari formasi reticular dan merespon
pendengaran dan pengelihatan (seperti gerak mata). Otak
tengah tampaknya lebih ‘’penting’’ fungsinya pada hewan
mamalia daripada manusia, karena pada manusia yang lebih
dominan digunakan adalah otak depan. Otak tengah adalah
bagian terbesar pada otak. Bagiannya yang paling utama adalah
korteks yang mengandung kurang lebih 10 miliar saraf dan
terletak pada lapisan luar otak. Otak tengah juga merupakan
‘’puncak’’ fungsional otak yang respon terhadap fungsi yang
‘’lebih rumit’’, tindakan sengaja, dan kesadaran.Adapun bagian-
bagian penting otak depan adalah thalamus, hypothalamus, dan
system limbic.

 Thalamus terdiri dari sejumlah pusat saraf dan berfungsi


sebagai ‘’tempat penerimaan’’ untuk sensor data dan sinyal-

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 13


sinyal motorik. Contohnya untuk mengirim data dari mata
dan telinga menuju bagian yang tepat dalam korteks.
 Hypothalamus berfungsi untuk mengontrol nafsu makan
dan syahwat dan mengatur kepentingan biologis lainnya.
Hypothalamus, thalamus, otak tengah, dan otak belakang
(tidak termasuk cerebellum) bersama-sama membentuk apa
yang disebut ‘’tangkai/batang’’ otak (the brain stem). Batang
otak berfungsi untuk mengatur seluruh proses kehidupan
yang mendasar. Jika batang otak tersebut kekurangan
aktivitas (kurang dirangsang), maka menurut psikiater akan
menyebabkan brain death atau kelumpuhan otak.
 Di antara pusat otak dan korteks terletak system limbic
(limbic berasal dari bahasa Latin yang berarti batas). System
limbic memungkinkan kita mengontrol insting/naluri kita.
Misalnya, kita tidak serta merta memukul seseorang yang
tidak sengaja menginjak kaki kita. System limbic terdiri dari
tiga bagian utama, yaitu amygdala dan septum yang
berfungsi mengontrol kemarahan, agresi, dan ketakutan,
hippocampus yang penting dalam merekam memori baru.
 Korteks (korteks cerebral) Korteks menyusun 70 persen
bagian otak. Saraf dalam korteks memproses data. Warna
korteks kelabu (inilah alasan mengapa korteks diistilahkan
dengan ‘’benda/zat kelabu’’ –the grey mater). Korteks pun
secara luas berhubungan satu sama lain. Jaringan panjang
yang menghubungkan bagian-bagian terpisah (secara luas)
pada otak tersusun dari saraf yang tertutup penyekat
berlemak yang disebut myelin. Myelin membuat jaringan
tersebut berwarna putih (disebut juga ‘’benda/zat putih’’).
Beberapa ahli berpendapat bahwa kedua belahan otak
dihubungkan oleh sebuah ‘’bundel serat tebal’’ yang disebut

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 14


corpus callosum. Corpus callosum membantu menyatukan
aktivitas otak (memberitahu otak kiri tentang apa yang dilakukan
otak kanan, juga sebaliknya). Pembagian penting lainnya dalam
korteks adalah empat buah lobus atau cuping, yaitu temporal,
frontal, occipital, dan parietal.
Bagian-bagian tersebut dinamai berdasarkan letaknya
setelah tulang tengkorak. Sejak lama muncul berbagai pendapat
tentang fungsi tersebut dalam otak. Lobus frontal berhubungan
dengan konsentrasi, lobus temporal berhubungan dengan
bahasa dan ingatan, lobus parietal berhubungan dengan sensor
data dan lobus occipital berhubungan dengan pengelihatan dan
persepsi. Jadi, proses kesadaran pikiran bergantung pada
interaksi kompleks di bagian-bagian otak.

 OTAK BELAKANG

Otak Belakang terletak di dasar kepala, terdiri dari empat


bagian fungsional, yaitu medulla oblongata, pons, bentuk
reticular (reticular formation), dan cerebellum.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 15


 Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang
dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu
juga sebaliknya. Medulla mengontrol funsi otomatis otak,
seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan
pencernaan.
 Pons merupakan ‘’stasiun pemancar’’ yang mengirimkan
data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular.
Ponslah yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur.
 Formasi Reticular memiliki peranan penting dalam
pengaturan gerakan dan perhatian Anda. Formasi reticular
seolah-olah berfungsi untuk ‘’mengaktifkan’’ bagian lain
dalam otak.
 Selain bagian-bagian yang telah disebutkan tadi, ada juga
bagian yang dinamakan cerebellum dengan banyak
lilitannya. Cerebellum disebut juga otak kecil yang berkerut
sehingga hampir seperti otak besar (otak secara
keseluruhan). Cerebellum mengontrol banyak fungsi
otomatis otak. Tapi, sebenarnya fungsi tersebut perlu
‘’dipelajari’’ dan dilatih, seperti keseimbangan dan koordinasi.
Misalnya saat berjalan, apabila jalan yang kita lalui sudah
biasa dilewati, maka tanpa berpikirpun, kita sudah bisa
sampai ditujuan. Itulah salah satu kegunaan cerebellum,
yang berfungsi sebagai kendali/ control atas gerakan kita.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 16


 OTAK KECIL

Otak kecil (bahasa Inggris: cerebellum) merupakan bagian


terbesar otak belakang. Otak kecil ini terletak di bawa lobus
oksipital serebrum. Otak kecil terdiri atas dua belahan dan
permukaanya berlekuk-lekuk. Fungsi otak kecil adalah untuk
mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi
gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada
otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan
koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi,
misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke
dalam mulutnya.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 17


2.3 Otak Binatang
Evolusi otak pada manusia dan pada mahkluk lain berbeda.
Pada makhluk seperti ikan, tikus, dan burung,
misalnya,korteks  serebral boleh dikatakan tidak tampak,
padahal korteks inilah yang sangat berkembang pada manusia.
Pada makhluk lain seperti simpanse dan gorilla juga tidak
terdapat daerah-daerah yang dipakai untuk memproses
bahasa.sementara orang memakai  sebagian besar otaknya
untuk proses mental, termasuk proses mental, termasuk proses
kebahasaan, binatang seperti simpanse lebih banyak memakai
otaknya untuk kebutuhan-kebutuhan fisik.dari perbandingan
antara otak manusia dengan otak binatang yang paling moderen
sekali pun tampak bahwa baik struktur maupun organisasinya
sangat berbeda. Perbedaan neurologis seperti inilah
yang  membuat manusia dapat berbahasa sedangkan binatang
tidak.

3. KAITAN OTAK DENGAN BAHASA


Orang sudah lama berbicara tentang otak dan bahasa.
Aristoteles pada tahun 384-322 Sebelum Masehi telah berbicara soal
hati yang melakukan hal-hal yang kini kita ketahui dilakukan oleh otak.
Begitu pulah pelukis tarkenal Leonadro da Vinci pada tahun 1500-an
(Dingwall 1998:53). Namun titik tolak yang umum dipakai adalah
setelah penemuan-penemuan yang dilakukan  oleh Broca dan
Wernicke pada tahun 1860-an. Apabila input yang masuk adalah
dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di lobe temporal,
khususnya oleh korteks primer pendengaran. Disini input tadi diolah
secara rinci sekali, misalnya, apakah bunyi sebelum bunyi /o/ yang di
dengar itu memiliki VOT +60 milidetik, +20 milidetik, atau di antara
kedua angka ini. Setelah diterima, dicerna dan diolah seperti ini maka

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 18


bunyi-bunyi bahsa tadi “dikirim” kedaera Wernicke untuk
diinterpretasikan. Di daerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi
suku kata, kata frasa, klausa, dan akhirnya kalimat. Setelah di beri
makna dan difahami isinya, maka ada dua jalur kemungkinan. Bila
masukan tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu di tanggapi,
maka masukan tadi cukup di simpan saja dalam memori.
Di daerah Broca proses proses penanggapan dimulai. Setelah
diputuskan tanggapan verbal itu bunyinya seperti apa maka daerah
Broca “memerintahkan” motor korteks untuk melaksanakanya. Motor
koteks juga harus mempertimbangkan tidak hanya urutan kata dan
urutan bunyi, tetapa juga urutan dari fitur-fitur pada tiap bunyi yang
harus di ujarkan.masukan tidak ditanggapi oleh korteks  primer
pendengaran, tetapi oleh korteks visual di lobe osipital. Masukan ini
tidak langsung dikirim ke daerah Wernicke, tetapi harus melewti girus
anguler yang mengkordinasikan daerah pemahaman dengan daerah
osipital. Setelah tahap ini, prosesnya sama, yakni, input tadi difahami
oleh daerah Wernicke, kemudian di kirim kedaerah Broca bilah perlu
tanggapan verbal, maka informasi itu dikirim kedaerah partikel untk
diproses visualisasinya.

4. PERAN HEMISFIR KIRI DAN HEMISFIR KANAN


Pandangan lama mamang mengatakan bahwa ihwal kebahasan
itu ditangani oleh hemisfir kiri, dan sampai sekarang pandangan itu
masi juga banyak dianut orang dan banyak pula benarnya. Penelitian
Wada (1949) yang memasukan cairan ke kedua hemisfir menunjukan
bahwa bila hemisfir kiri yang “ditidurkan” maka terjadilah ganguan
wiraca. Tes yang dinamakan dichotic listening test yang dilakukan oleh
Kimura (1961) juga menunjukan hasil yang sama. Kimura
memberikan input, katakanlah kata da pada telinga kiri, dan ba pada
telinga kanan secara simultan.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 19


Hasil eksperimen ini menunjukan bahwa input yang masuk lewat
telinga kanan jauh lebih akurat daripada yang lewat telinga kiri. Dari
hasil operasi yang dinamakan hemispherectiomy-operasi di mana satu
hemisfir diambil dalam rangka mencegah epilepsy-terbukti juga bahwa
bila hemisfir kiri yang diambil maka kemampuan berbahasa orang itu
menurun dengan drastis. Sebaliknya, bila yang diambil hemisfir kanan,
orang tersabut masi dapat berbahasa, mekipun tidak sempurna.
Seperti dikatakan sebelumnya, pada saat manusia dilahirkan,
pada kedua hemisfir itu belum ada lateralisasi, yakni, belum ada
pembagian tugas. Hal ini terbukti dengan adanya kasus-kasus dimana
sebelum umur belasan bawah (11, 12, 13 tahun), anak yang cedera
hemisfir kirinya dapat memperoleh bahasa seprti anak yang normal.
Hal ini menunjukan bahwa hemisfir kanan pun mampu untuk
melakukan fungsi kebahasan.
Kalau orang mendengar atu membaca sebuah  cerita tentang
seorang pria yang serin menilpun, menemui, dan mengajak pergi
seorang wanita, maka dia akan kesukaran menarik kesimpulan bahwa
pria tersebut menyukai wanita itu. Orang yang terganggu hemisfir
kanannya juga tidak dapat mendeteksi kalimat ambigu; dia juga
kesukaran memahami metafora maupun sarkasme. Intonasi kalimat
interogatif juga tidak di bedakan dari intonasi kalimat deklaratif
sehingga kalimat Dia belum datang? Dikiranya sebagai kalimat
deklaratif Dai belum datang.

5. GANGGUAN WIRACA
Meskipun ukuran otak hanya maksimal 2% dari seluruh ukuran
badan manusia, ia menyedot banyak sekali engri-15% dari seluruh
aliran darah dan 20% dari sumber daya metabilik tubuh. Apa bilah
aliran darah pada otak tidak cukup, atau ada penyempitan pembuluh
darah atau gangguan lain yang menyebabkan jumlah oksigen

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 20


yangdiperlukan berkurang, maka akan terjadi kerusakan pada otak.
Penyakit yang disebabkan oleh pecahnya pembulu
darah,tersumbatnya pembuluh dara,atau kurangnya oksigen pada
otak dinamakan srtoke. Akibat penyakit stroke juga ditentukan oleh
letak kesukaran pada hemisfir yang bersangkutan. Pada umumnya,
kesukaran pada hemisfir kiri mengakibatkan munculnya gangguan
wiraca. Gangguan macam apa yang ditimbul ditentukan ole persisnya
dimana kesukaran itu terjadi.ganguan wiraca yang disebabkan
oleh strokedinamakan afasia (aphasia).

5.1 Macam-macam Afasia


Ada berbagai macam afasia, tergantung pada daerah mana di
hemisfir kita yang kena stroke. Berikut adalah beberapa macam
yang umum ditemukan (Kaplan 1994:1035).
a. Afasia Broca
Kerusakan (yang umumnya disebut lesion) terjadi pada
daerah Broca. Karena daera ini berdekatan dengan jalur
koteks motor maka yang sering terjadi adalah bahwa alat-
alat ujaran, termasuk bentuk mulut, menjadi terganggu;
kadang-kadang mulut mencong.Afasia Broca menyebabkan
ganguan pada perencanaan dan pengungkapan
ujaran.kalimat-kalimat yang diproduksi terpatah-patah karena
alat penyuara terganggu maka sering kali lafalnya tidak jelas.
b. Afasia Wernicke
Letak kerusakan adalah pada daerah Wanicke, yakni bagian
kebelakang dari lobe temporal. Penderita afasia ini lancar
dalam berbicara. Hanya saja kalimat-kalimatnya kurang
dimengerti karena banyak kata-kata yang tidak cocok
maknanya dengan kata-kata lain sebelum dan sesudahnya.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 21


c. Afasia Anomik
Kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobe parietal
atau pada batas antra lobe parietal dengan lobe temporal.
Ganguan wiracanya tampak pada ketidak-mampuan
penderita untuk mengatkan konsep dan bunyi atau kata yang
mewakilinya. Jadi, kalau kepada pasien diminta untuk
mengambil banda yang bernama gunting,dia akan bisa
melakukannya. Akan tetapi,kalau kepadanya ditunjukkan
gunting, dia tidak akan dapat mengatakan nama benda itu.
d. Afasia Global
Pada afasia ini kerusakan terjadi tidak pada satu atau dua
daerah saja tetapi dibeberapa daerah yang lain; kerusakan
bisa menyebar dari daerah Broca, melewati korteks motor,
menuju ke lobe parietal, dan sampai ke daerah Wernicke.
Luka yang sangat luas ini tentunya mengakibatka gangguan
fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik,
penderita bisa lumpuh disebelah kanan, mulut bisa
mencong, dan lidah bisa menjadi tidak cukup fleksibel dari
segi verbal dan ujarannya tidak mudah dimengerti orang.
e. Afasia konduksi (conduction aphasia)
Bagian otak yang rusak pada afasia macam ini adalah fiber-
fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan
lobe frontal dengan lobe temporal. Karena hubungan daerah
Broca di lobe frontal yang menangani produksi dengan
daerah Wernicke di lobe temporal yang menangani
komprehensi terputus maka pasien afasia konduksi tidak
dapat mengulang kata baru saja di berikan kepadanya. Dia
dapat memahami memahami apa yang dikatakan orang.
Misalnya,dia akan dapat mengambil pena yang terletak di
meja, kalu disuruh demikian.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 22


5.2 Akibat Lain dari Stroke
Pengaruh steroke tidak terbatas hanya pada gangguan
wicara saja. Ada gangguan lain yang tidak langsung berkaitan
dengan bahasa. Orang yang terganggu stroke juga dapat
kehilangan ingatannya. Penderitah anterograde amnesia
mengalami kerusakan pada bagian otak yang dinamakan
hippocampus. Kerusakan ini menyebabkan dia tidak mampu
mengingat untuk jangka waktu beberapa menit saja; sesudah
itu,  dia tidak ingat lagi. Kerusakan pada hippocampus juga
menyebabkan retrograde amnesia, yakni, penyakit yang
membuat  dia tidak ingat masa lalu: dia tidak ingat di mana dia
tinggal, dia tidak ingat di mana barang yang dia simpan
beberapa menit yang lalu, dsb. Stroke juga dapat menyebabakan
penyakit prosopagnosia, yakni ketidakmampuan untuk mengenal
wajah.

6. HIPOTESE UMUR KRITIS


Gejalah ini menyatakan dalam hipotese yang bernama Hipotese
Umur Kritis yang diajukan oleh Lenneberg (1967). Pada esensinya
hipotese ini mengatakan bahwa antara umur 2 sampai 12 tahun
seorang anak dapat memperoleh bahasa mana pun dengan
kemampuan seorang penutur asli. Jadi, seandainya ada keluarga
Amerika yang tinggal di Jakatra dan kemudian mereka melahirkan
anak, dan anak itu bergaul dengan orang-orang Indonesia sampai
dengan, katakanlah, umur 5-7 tahun, dia pasti akan dapat berbahasa
Indonesia Jakarta seperti anak Jakarta yang lain. Begitu juga
sebaliknya.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 23


Hipotese Umur Kritis banyak diperbincangkan orang dan dianut
banyak orang. Namun demikian, ada pula yang menyanggahkan.
Krashen (1972), misalnya, beranggapan bahwa literalisasi itu sidah
terjadih jauh lebih awal, yakni, sekitar umur 4-5 tahun. Mengenai
peran hemisfer dalam pemerolehan bahasa pertama maupun bahasa
kedua terdapat perbedaan pendapat. Dari penelitian ada yang
menemukan bahwa hemisfer kiri lebih banyak terlibat pada orang
yang bilingual sejak kecil daripada yangilingual setelah dewasa
(Genese dkk 1978 dalam Steinberg dkk 2001: 329). Penelitian Vaid
(1987 dalam Steinberg 2001: 328) menunjukkan hal yang sebaliknya.
Dia dapati bahwa bilingual Perancis-Inggris yang mulai sejak umur 10-
14 tahun malah banyak memakai hemisfer kiri debandingkan dengan
bilingual yang mulai sebelum umur 4 tahun.

7. KEKIDALAN DAN KEKINANAN


Manusia ada yang kidal (left-handed)  dan ada yang (istilah
barunya) kinan (right-handed).Apakah ada korelasi antara kekidalan
dan kekinanan dalam pemakaian bahasa atau pun kemampuan
intelektual lainnya? Jawaban untuk pertanyaan ini masih controversial:
ada yang mengatakan bahawa kadar dominasi hemisfer kiri pada
orang kidal ada yang tidak sekuat seperti pada orang kinan membuat
orang kidal mempunyai masalah dalam hal baca atau tulis (Lamn dan
Epstein 1999). Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa orang kidal
cenderung mati mudah (Halpern dan Coren 1991) sementara peneliti
lain berpandangan lain pula (Salive dkk 1993). Dilihat dari karier para
orang kidal, ada yang sangat menonjol. Presiden Amerika Truman,
Reagen, Bush Sr., dan Clinton semuanya adalah orang kidal. Orang
yang ambidektrus juga ada yang menonjol seperti Benjamin Franklin,
Michael-angelo, dan Leonardo da Vinci.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 24


Pada masyarakat tertentu seperti masyaraka Indonesia
kekidalan dianggap oleh sebagaian besar orang sebagai sesuatu
yang negative. Hal ini mungkin sekali berkaitan dengan budaya kita
yang  menganggap bahwa apa pun yang kiri itu kurang baik. Kita
dianggap kita sopan, misalnya, kalau memberikan sesuatu dengan
tangan kiri. Di kelas kalau murid mau bertanya kepada gurunya juga
tidak dianggap baik kalau tangan yang diangkat adalah tangan kiri.
Dalam bahasa tertentu seperti bahsa Jawa bahkan ada
ungkapan-ungkapan maknanya negatif  yang dinyatakan dengan kata
kiwo’kiri’ . Orang yang selingkuh, misalnya, dikatakan ngiwo; dan
tempat buang air dinamakan pekiwan dari (pe-kiwo-an). Dalam
masyrakat yang berbudaya seperti ini orang umumnya menghalangi
anak untuk menjadi  kidal padahal masalah kekidalan dan
kekinanan  adalah sebenarnya maslah genetik . Dampak apa yang
terjadi dengan pemaksaan memakai tangan kanan belum dapat di
pastikan.

8. OTAK PRIA DAN OTAK WANITA


Kalau kita perhatikan kelas yang jurusanya adalah bahasa
maka  akan kita dapati bahwa mayoritas (maha) siswanya adalah
wanita. Dalam beberapa kelas jumlah ini bahkan bisa mencapai lebih
dari 80%. Bila kelas itu di tingkat SLTP atau LSTA, gurunya bisa 50-
50% pria-wanita; begitu juga ditingkat sarjana. Akan tetapi, kalau kita
lihat di tingkat magister atau doktor, banyak dosen yang pria daripada
yang wanita. Pertanyaan yang menarik adalah apakah ada kaitan
antara otak disatu pihak dengan jenis kelamin dipihak lain.
Ada yang berpendapat bahwa ada perbedaan dengan otak pria
dengan otak wanita dalam hal bentuknya, yakni, hemisfer kiri pada
wanita lebih tebal daripada hemisfer kanan (steinbreg dkk 2001:319).
Keadan yang seperti inilah yang menyebabkan kelas bahasa

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 25


umumnya didominasi oleh wanita. Akan tetapi, temuan dari dari (Philip
dkk dalam Seinberg 2001:319) menunjukkan bahwa meskipun ada
perubahan dalam pemrosesan bahasa antara pria dan wanita,
perbedaan ini hanya mengarah pada pengaruh budaya daripada
pengaruh geneti.       

9. BAHASA SINYAL
Orang yang tidak dapat berkomunokasi secara lisan
dapatmenggunakan peranti lain, yakni, bahasa sinyal (sign language).
Bahasa ini mempergunakan tangan dan jari-jari untuk membentuk
kata dan kalimat. Orang yang tuna rungu dapat mempergunakan
bahasa sinyal untuk berkomunikasi. Bahasa sinyal itu ada beberapa
macam, yang terkenal diantaranya adalah bahasa Sinyal Amerika dan
bahasa sinyal inggris.
Mereka yang afasia Broca kesukaran dalam mensinyalkan apa
yang ingin dinyatakan. Mereka mungkin bisa mensinyalkan kata,
tetapi infleksi  untuk kata itu, atau fungsi gramatikalnya kacau. Dari
gejala-gejala ini dapat ditarik kesimpulan bahwa masalahnya bukan
terletak pada disfungsi motoris tetapi pada ketidak- mampuan mereka
untuk mengakses tata bahasa dengan benar. Begitu juga dengan
orang tuna rungu yang daerah Wernickenya terserang. Mereka dapat
memberikan sinyal dengan lancar tetapi maknanya tidak aruan.
Konfigurasi, lokasi, dan gerakan tangan atau jarinya menghasilkan
kata-kata yang tidak cocok maknanya sehingga kalimat tadi menjadi
tidak berarti.
Bukti lain bahwa pengguna bahasa sinyal memakai terutama
hemisfir kiri untuk bersinyal adalah  bahwa kalau ada rusak adalah
hemisfer kanan, pada umumnya tidak terjadi ganguan dalam
bersinyal. Tata  bahasanya masih utuh dan tidak terbata-bata.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 26


10. METODE PENELITIAN OTAK.
Broca dan Wernicke melakukan penelitian mengenai otak
manusia tentunya belum ada alat-alat yangcanggi separti sekarang.
Mereka, dan para peneliti sesudanya, melakukan operasi setelah
pasiennya meninggal. Ada pula yang melakukan operasi-operasi lain,
seperti pemisahan hemisfir kiri dan kanan untuk mengobati penyakit
epilepsy, pada sat pasiennya masih hidup. Bahkan Penfield di tahun
50-an mengoperasi seorang pasien hanya dengan anstesi local
sehingga pasien itu masih sadar (Penfield dan Roberts 1959: 106-
118).
Kemajuan teknologi telah membuat penelitian mengenai otak
lebih maju. Kini telah terdapat CT atau CAT.CT dan CAT
memanfaatkan sumber sinar -X  (X-ray) untuk merekam berbagai imaji
iga dimensi dari seluruh atau sebagian otak. Menarik untuk dicatat
bahwa alat ini telah di pakai untuk meneliti otak Mr. Tan (pasien
Broca) – yang otaknya disimpan di museum kedokteran di Pasir
selama lebih dari 100 tahun – dan terbukti bahwa Broca benar.
Berbedah dengan CAT, Positron Emission Tomography, (PET),
dapat mempertunjukkan kegiatan otak secara langsung. Pada PET
bahan yang berisi radioaktif ringan disuntikkan ke pembuluh darah
dan kemudian pola aliran darah pada otak ditelusuri degnan alat
detektor khusus yang diletakkan pada kepala si pasien. Detektor ini
memberikan imaji yang berwarna-warna. Pada waktu pasien
melakukan kegiatan verbal sesuai dengan instruksi dari peneliti,
bagian-bagian otak yang melakukan kegiatan ini akan mendapat
aliran darah yang lebih banyak dan menyebabkan daerah itu
“menyalah”.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 27


C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas dapat simpulkan bahwa
neurologis dan perkembangan bahasa sejak dini memiliki keterkaitan
yang sangat erat. Seorang anak yang mengalami masa-masa
menangis, mendekut dan mengoceh sesungguhnya mengalami juga
perkembangan otak yang sangat signifikan. Kemajuan berbahasa
ditentukan bagaimana pola pendidikan anak sejak dini. Para ahli
menganjurkan bahwa komunikasi yang diberikan kepada seorang
anak sejak dalam kandungan, akan terus berkembang sampai dia
lahir kedunia. Perkembangan yang baik akan menciptakan individu
yang sempurna kelak. Oleh karenanya diharapkan kepada orang tua
untuk memacu perkembangan otak anak secara kontinu
(berkelanjutan) sehingga anak kaya akan bahasa atau kosa kata
baik bahasa ibu atau bahasa Indonesia.

2. Saran
Sebagai makhluk Tuhan yang telah diciptakan dengan begitu
sempurna, salah satunya adalah kelengkapan struktur dan fungsi
otak. Maka sebagai hambanya kita wajib untuk menjaga pemberian
Tuhan. Bersyukur adalah salah satu pengungkapan betapa
beruntungnya kita telah diberikan otak yang sempurna (strukturnya)
sehingga dapat berpikir dan menikmati nilmu pengetahuan di dunia
ini.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 28


Daftar Pustaka

Arifuddin. 2013. Neuropsikolinguistik. Jakarta: Rajawali Press.

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. ECHA Kisah Pemerolehan Bahasa Anak


Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2014. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Pustaka


Obor Indonesia.

Landasan Neurologis Pada Bahasa | 29