Anda di halaman 1dari 3

Revolusi Mental dalam Pendidikan

Kameliyanti
kameliyanti@gmail.com

Gagasan revolusi mental yang diluncurkan presiden terpilih Joko Widodo mendapat
respons positif dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat, maupun para pendidik. Ide
revolusi mental bermula dari keresahan yang dirasakan masyarakat di berbagai ruang
kehidupan. Kejahatan yang sudah semakin merajalela hingga tak kenal batas usia. Antara
lain, di jalan-jalan kota besar dan kecil serta di ruang publik yang lain, termasuk media
masa dan media sosial. Sudah jarang sekali nilai-nilai toleransi di terapkan dalam
kehidupan.
Pendidikan di Indonesia sekarang sedang ditantang untuk menjawab berbagai
perubahan global yang terjadi begitu cepat, seperti perdagangan bebas (free trade), tenaga
kerja bebas (free labour), perkembangan masyarakat informasi, serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam waktu dekat, akhir tahun 2015, kita harus
mempersiapkan masyarakat dan bangsa untuk memasuki Asean Economic, Community
(AIC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam hal tersebut, rendahnya peringkat
daya saing, sebagai indikator bahwa pendidikan nasional belum mampu menghasilkan
sumber daya manusia yang berkualitas.
Kondisi demikian telah mendorong masyarakat bukan hanya pada kekuasaan tetapi
pada profesionalitas, yang pembangunannya harus didasarkan pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Revolusi mental juga diperlukan, karena tangtangan abad ke 21
dan menyiapkan generasi emas 2045, membangun manusia produktif, kreatif, inovatif,
berkarakter dan berkeahlian sesuai minat dan kemampuan individu. Revolusi mental di
sekolah harus dijadikan landasan pembangunan pendidikan, yang memerlukan kesadaran
bersama agar dapat menghasilkan dan melaksanakan kebijakkan berkesinambungan.
Kesadaran ini penting, terutama berkaitan dengan visi dan misi pendidikan nasional
seperti yang tertuang dalam Pasal 3 dan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional. Pengertian revolusi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008 :
1172) yaitu perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan
dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata), perubahan yang cukup mendasar
disuatu bidang. Artinya bahwa revolusi merupakan perubahan baik yang dilakukan oleh
pemerintah atau keadaan sosial di masyarakat yang menuju pada penilaian positif dan
dilakukan karena menginginkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik dan
mengupayakan nilai-nilai dan karakter yang unggul dan berkemajuan.
Revolusi yang dilakukan oleh presiden Jokowi adalah revolusi mental. Pengertian
mental dijabarkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008 : 901) tim redaksi,
mengatakan bahwa bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat
badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan, melainkan juga
pembangunan karakter. Lebih jelas diutarakan oleh Sumardi (2006 : 52) mental plus adalah
sifat-sifat unggul seseorang, seperti sifat ulet, tangguh, atau tabah dalam menghadapi
tantangan atau kesulitan dan cepat bangkit apabila mengalami kegagalan, memiliki etos
belajar dan etos kerja yang tinggi, berpikir positif terhadap orang lain, bersikap seimbang
dan memiliki komitmen dan tanggung jawab.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa revolusi mental adalah sebuah perubahan
kearah yang lebih baik, kuat dan siap berdaya saing dan dapat mengambil tindakan moral
dalam bentuk sikap dan perilaku atau karakter positif individu. Memajukan sifat-sifat
unggul, seperti sifat ulet, tangguh, siap menghadapi tantangan dan cepat bangkit apabila
mengalami kegagalan, memiliki etos belajar dan etos kerja yang tinggi, berpikir positif
terhadap orang lain, bersikap seimbang dan memiliki komitmen dan tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa. 2015. REVOLUSI MENTAL DALAM PENDIDIKAN. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

https://revolusimental.go.id/pers/pendidikan-karakter-sebagai-basis-revolusi-mental, diunduh pada


08 Agustus 2019 pukul 08.00 WIB.