Anda di halaman 1dari 15

Contoh Karya Tulis Ilmiah tentang Pendidikan

Karakter Bangsa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam di masyarakat, baik
melalui media cetak, wawancara, dialog dan lain sebagainya. Persoalan yang
mengemuka di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan
yang terjadi di mana-mana, serta dunia politik yang menuai pro dan kontra menjadi
salah satu topik hangat di masyarakat.

Berbagai alternatif penyelesaian masalah telah dilakukan seperti peraturan, undang-


undang, penerapan hukum yang lebih kuat. Kepedulian masyarakat terhadap
pendidikan budaya dan karakter bangsa juga telah menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah telah mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui
Departemen Pendidikan Nasional. Karena itulah kami menjadi tertarik untuk menjadikan
topik ini sebagai bahasan karya ilmiah yang akan kami tulis.

B. Rumusan Masalah

1. Peristiwa apa sajakah yang kini marak terjadi sebagai bentuk penyimpangan dari
karakter bangsa?
2. Apa sebab-sebab terjadinya penyimpangan karakter tersebut?
3. Bagaimana upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan
karakter tersebut?

C. Tujuan

Mengembangkan kebiasaan dan perilaku anak bangsa yang terpuji dan sejalan dengan
karakter bangsa Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Peristiwa yang marak terjadi sebagai bentuk penyimpangan dari karakter


bangsa

Ada banyak peristiwa yang tergolong penyimpangan karakter di Indonesia. Contoh kecil
saja, di zaman modern ini banyak orang lupa beretika, lupa menjaga sopan santun, tak
mau saling tolong menolong, tak bertanggung jawab, tidak tahu batas-batas pergaulan
dan masih banyak lainnya. Hal sekecil itu saja sudah tidak terkendali, apalagi hal yang
besar.

Realita saat ini, banyak makelar kasus, penggelapan pajak, korupsi, kejahatan yang
dilakukan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab dan yang amat memprihatinkan
adalah perilaku remaja Indonesia yang masih berada di usia sekolah.

Menurut survey yang dilakukan di 33 provinsi di Indonesia, pada tahun 2008 sekitar
18.000 penduduk Indonesia terjangkit penyakit HIV & AIDS, 63% remaja melakukan
hubungan seksual di luar nikah, 21% diantaranya melakukan aborsi dan sekitar 3,2 juta
penduduk Indonesia adalah pemakai narkoba dan 1,1 juta diantaranya adalah pelajar
tingkat SMP - Mahasiswa. Keadaan inilah yang membuat keadaan negri ini semakin
memburuk.

B. Sebab-sebab terjadinya penyimpangan karakter

Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak sekaligus orang pertama
kali yang memberikan kasih sayang.  Namun kenyataannya ada saja orang tua yang
belum mengerti bagaimana cara mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih
sayang.

Buktinya, ada orang tua yang menitipkan anaknya pada baby sitter atau pembantu
rumah tangga. Sehingga, anak tersebut mendapatkan pendampingan tumbuh dan
berkembang bukan dari orang tuanya. Ada saja alasan mengapa orang tua menitipkan
anaknya kepada orang lain. Salah satu alasannya karena harus mencari nafkah untuk
membiayai anak tersebut, padat jam kerjanya dan sebagainya.

Peran kedua sebagai seseorang yang mengembangkan karakter anak adalah guru.
Sebagai guru, hendaknya memiliki kemampuan dalam mendidik siswanya terutama
sering-sering mengecek siswanya. Tidak hanya sekedar menghabiskan bab-bab buku
pelajaran, sekedar menyampaikan informasi atau mengejar target kurikulum.

Peran ketiga adalah masyarakat atau tempat anak itu tinggal atau bermain dan bergaul.
Anak bisa terkontaminasi kebiasaan buruk akibat pengaruh luar. Sehingga, sedini
mungkin orang tua harus bisa menjaga anak-anaknya dari pengaruh luar yang negatif.

C. Upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan karakter 

 Bagi para orang tua, sebaiknya mulai dari sekarang belajar bagaimana
mengasuh anak dengan baik dan benar dengan cara mengikuti parenting education.
 Kedua, lebih memperhatikan anak dan mendampingi anak dalam situasi apapun.
 Mengutamakan waktu bersama dengan keluarga walaupun jam kerja padat.
 Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses pembelajaran aktif dan
menyenangkan serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata
pelajaran.
 Guru menjadi contoh dan panutan di sekolah juga harus dapat memberi contoh
yang baik kepada murid-muridnya, seperti berkata sopan, berpakaian rapi, disiplin,
perhatian terhadap murid dan menjaga kebersihan.
 Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah seperti upacara bendera, berdoa
sebelum dan sesudah mata pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru atau
teman.
 Mengkoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan, misalnya menegur
siswa ketika berteriak-teriak saat proses belajar mengajar.
 Memuji perbuatan terpuji, misalnya apabila siswa itu mendapat nilai tinggi atau
juga memperoleh prestasi.
 Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan budaya dan karakter bangsa
dalam perwujudan misalnya toilet sekolah bersih, bak sampah terletak di berbagai
tempat dan kondisi sekolah bersih.
 Kita sendiri sebagai seorang pelajar, hendaknya menyaring hal-hal buruk bagi
kita dan hal-hal baik menurut kita.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Di Indonesia sudah terjadi penurunan moral yang cukup memprihatinkan,


sehingga seluruh lapisan masyarakat harus bertindak lebih lanjut atas hal ini.
2. Pendidikan budaya dan karakter bangsa sangat berpengaruh pada prestasi
siswa dan akhlak setiap individu.
3. Orang tua dan guru merupakan orang pertama yang memberi bekal kepada
anak-anak bangsa tentang pendidikan karakter sebelum anak tersebut terjun di
masyarakat.
4. Perilaku anak tergantung pemberian contoh dari orang tua dan gurunya.
5. Keadaan lingkungan sekitar juga mempengaruhi tumbuh kembang seorang
anak.

Contoh Karya Tulis Ilmiah tentang Pendidikan Anak


Usia Dini (SD)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya.


Banyak orang bijak mengatakan bahwa faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang
harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib,
aman dan sejahtera.

Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah berat, yaitu terjadinya krisis
multidimensi yang berkepanjangan. Masalah ini sebetulnya mengakar pada
menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN,
konflik (antar etnis, agama, politisi, remaja, dsb), meningkatnya kriminalitas,
menurunnya etos kerja, dan masih banyak lainnya. Budaya-budaya tersebut penyebab
utama sulitnya negara kita untuk bangkit dari krisis.

Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini
merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar
mengatakan kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan membentuk pribadi
yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Oleh karena itu penanaman moral melalui
pendidikan karakter sedini mungkin diberikan kepada anak-anak adalah kunci utama
untuk membangun suatu bangsa.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pentingnya pendidikan karakter di sekolah dasar? 


2. Bagaimana peran guru dalam pendidikan karakter di sekolah dasar?

C. Tujuan

Menjelaskan tentang pentingya pendidikan karakter di sekolah dasar dan bagaimana


peran guru dalam pendidikan karakter di sekolah dasar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pentingnya Pendidikan Karakter di Usia Sekolah Dasar

Pendidikan karakter pada anak usia sekolah dasar (SD), saat ini sangat diperlukan
karena bangsa Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa.
Karakter disini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk
dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai
landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak.
Pendidikan karakter dinilai sangat penting untuk dimulai pada usia dini dalam hal ini
pada usia sekolah dasar. Karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang
ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku yang memancarkan akhlak
mulia atau budi pekerti luhur.

Sejatinya pendidikan karakter ini memang sangat penting dimulai sejak dini. Sebab
falsafah menanam sekarang menuai hari esok adalah sebuah proses yang harus
dilakukan dalam rangka membentuk karakter anak bangsa. Pada usia anak-anak
terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa
sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada
usia 8 tahun (SD), dan 20% pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua (SMP).

B. Peran Guru dalam Pengembangan Karakter di Sekolah Dasar

Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi para
guru untuk memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan
pendidikan karakter peserta didik di sekolah, sebagai berikut:

 Guru tak seharusnya menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat dan didengar
oleh siswa, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara yang mengarahkan,
membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat
melakukan dan menemukan  sendiri hasil belajarnya.
 Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran.
 Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan
budi pekerti dan akhlak mulia.
 Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan
berkembangnya karakter siswa.
 Menjalin kerjasama dengan orang tua siswa dan masyarakat dalam
pengembangan pendidikan karakter. 
 Menjadi figur teladan bagi peserta didik.

Dalam uraian di atas menggambarkan peranan guru dalam pengembangan pendidikan


karakter di sekolah dasar yang berkedudukan sebagai katalisator atau teladan,
inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk


komponen-komponen itu sendiri, yaitu kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian,
kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan sekolah, pelaksana aktivitas atau
kegiatan ekstrakulikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja
seluruh warga dan lingkungan sekolah.

B. Saran

Diharapkan dengan diterapkannya pendidikan karakter di SD dapat membentuk pribadi


peserta didik yang unggul dalam berperilaku dan memiliki kepribadian yang sesuai
dengan moral-moral Pancasila dan agama. Untuk itu penerapan pendidikan karakter di
SD sangat diperlukan, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berpancasila dan
bermoral.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita Indonesia sebenarnya tidak
lepas dari persoalan "karakter". Pendidikan karakter seharusnya didapatkan sejak usia
dini, malah membuat anak tersebut menyimpang dari apa yang diharapkan.

Hal ini seiring dengan kecendrungan bahwa seorang remaja yang sedang mencari
identitas diri, selalu mencari hal baru, ditambah lagi dengan pengaruh kebudayaan
asing yang kuat mempengaruhi generasi muda, hal ini dapat membuat mereka
terjerumus lebih dalam kepada hal-hal negatif.

Realitas ini pada akhirnya mengunggah penulis melalui karya tulis ilmiah ini untuk
kembali menghidupkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dirasa saat ini mulai tergerus
oleh laju arus globalisasi dan modernisasi yang tak terbendung lagi.

B. Rumusan Masalah

1. Apa makna dari pendidikan karakter? 


2. Apa penyebab dari rusaknya karakter? 
3. Bagaimana cara mengatasi berbagai permasalahan yang menyangkut rusaknya
karakter di kalangan remaja?

C. Tujuan
Menjelaskan tentang pentingya pendidikan karakter dan penyebab rusaknya karakter
serta bagaimana cara mengatasinya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
ataupun proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Sedangkan karakter bisa disebut juga karakteristik. Untuk menunjukkan eksistensi


dirinya manusia pasti mempunyai ciri khas karakter sendiri-sendiri.

Pengertian pendidikan karakter menurut Lickona. Pendidikan karakter dapat


didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter
siswa.

Sedangkan menurut Suyanto. Mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan


berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik
dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa atau negara.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, pendidikan karakter adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik mengerti, menerapkan, dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki ciri
khas yang dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, ataupun
negara.

B. Penyebab Rusaknya Pendidikan Karakter

Ada 3 penyebab utama rusaknya karakter bangsa Indonesia, yaitu:

1. Pengaruh budaya luar. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri lagi. Banyak sekali
budaya luar yang masuk ke Indonesia dan mungkin sudah menjadi budaya di
kalangan remaja, akan tetapi hal tersebut belum tentu sesuai dengan karakter bangsa
Indoensia yang mayoritasnya beragama Islam.
2. Minimnya pengetahuan agama. Ini adalah hal penting yang harus ditanamkan
pada diri masing-masing. Karena agama merupakan tuntunan dasar supaya tidak
salah dalam melakukan setiap tindakan. Jika pondasi agama kuat, yakinlah kejahatan
di Indonesia dapat diminimalisir.
3. Salahnya sistem pendidikan kita. Terjadinya kerusakan moral di kalangan pelajar
dan generasi muda sebagaimana disebutkan di atas, karena tidak efektifnya keluarga,
sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut
satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi
pembinaan moral.
C. Cara Mengatasi Kerusakan Karakter pada diri Remaja

Kerusakan karakter bangsa harus ada upaya untuk mengatasinya. Berikut menurut
penulis hal-hal yang harus dilakukan untuk mengatasi hal tersebut:

 Memperkokoh keimanan atau akidah dengan jalan memberikan pengetahuan


agama, baik di rumah, sekolah dan masyarakat.
 Menanamkan perasaan dekat kepada Tuhan YME.
 Mewujudkan lingkungan yang religius, baik melalui bahan bacaan, tontonan
maupun lingkungan pergaulan.
 Menumbuhkan tanggung jawab pengembangan amanah dakwah dengan terus
berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam bersikap dan berperilaku dalam
kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan karakter di Indonesia belum berada pada tahap maju. Sehingga perlu
diadakan perbaikan sistem pendidikan oleh pemerintah dalam memajukan pendidikan
karakter anak bangsa di Indonesia. Keluarga, sekolah dan masyarakat juga memiliki
tanggung jawab dalam memajukan karakter anak bangsa.

B. Saran

Pendidikan karakter bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia agar


siswa dapat memahami dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan karakter tak hanya menjadi tugas guru, bukan hanya di lingkup sekolah,
pendidikan karakter harus dipikul pula oleh masyarakat secara luas. Keluarga sebagai
unit terkecil dalam masyarakat pun memanggul tugas memberikan karakter terhadap
anak pada fase paling awal.

Itulah tadi 3 contoh karya tulis ilmiah tentang pendidikan karakter anak bangsa.
Selanjutnya kalian bisa mengetahui juga contoh karya tulis ilmiah tentang kesehatan di
bawah ini.
A. Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah adalah tulisan yang berisi fenomena atau peristiwa yang ditulis
berdasarkan kenyataan (bukan fiksi). Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan,
karya ilmiah adalah karya tulis yang dibuat dengan prinsip-prinsip ilmiah, berdasarkan
data dan fakta (observasi, eksperimen, kajian pustaka). Tulisan karya ilmiah bisa
menyangkut banyak tema, misalnya, tentang ilmu pengetahuan, alam sekitar, teknologi,
dan seni yang diperoleh melalui studi kepustakaan, penelitian, atau pengalaman di
lapangan, dan pengetahuan orang lain sebelumnya.
Baca Juga

 Pengertian, Unsur-Unsur, dan Kaidah Kebahasaan Debat


 Pengertian, Struktur, dan Ciri-Ciri Kebahasaan Teks Biografi
 Pengertian, Struktur, Macam-Macam, dan Unsur Kebahasaan Drama

B. Bentuk Karya Ilmiah

Karya ilmiah dapat ditulis dalam berbagai bentuk penyajian. Setiap bentuk itu berbeda
dalam hal kelengkapan strukturnya. Secara umum, bentuk penyajian karya terbagi ke
dalam tiga jenis, yaitu bentuk populer, bentuk semiformal, dan bentuk formal.

1. Bentuk populer

Karya ilmiah bentuk ini sering disebut karya ilmiah populer. Bentuknya manasuka.
Karya ilmiah bentuk ini bisa diungkapkan dalam bentuk karya ringkas. Ragam
bahasanya bersifat santai (populer). Karya ilmiah populer umumnya dijumpai dalam
media massa, seperti koran atau majalah. Istilah populer digunakan untuk menyatakan
topik yang akrab, menyenangkan bagi populus (rakyat) atau disukai oleh sebagian
besar orang karena gayanya yang menarik dan bahasanya mudah dipahami. Kalimat-
kalimatnya sederhana, lancar, namun tidak berupa senda gurau dan tidak pula bersifat
fantasi (rekaan).

2. Bentuk Semiformal

Secara garis besar, karya ilmiah bentuk ini terdiri atas:


a. halaman judul,
b. kata pengantar,
c. daftar isi,
d. pendahuluan,
e. pembahasan,
f. simpulan, dan
g. daftar pustaka.
Bentuk karya ilmiah semacam itu, umumnya digunakan dalam berbagai jensi laporan
biasa dan makalah.

3. Bentuk Formal

Karya ilmiah bentuk formal disusun dengan memenuhi unsur-unsur kelengkapan


akademis secara lengkap, seperti skripsi, tesis, atau disertasi. Unsur-unsur karya ilmiah
bentuk formal, meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Judul
b. Tim pembimbing
c. Kata pengantar
d. Abstrak
e. Daftar isi
f. Bab Pendahuluan
g. Bab Telaah kepustakaan/kerangka teoritis
h. Bab Metode penelitian
i. Bab Pembahasan hasil penelitian
j. Bab Simpulan dan rekomendasi
k. Daftar pustaka
l. Lampiran-lampiran
m. Riwayat hidup

C. Penjelasan tentang Struktur Karya Ilmiah

Beberapa bagian penting dari struktur karya ilmiah diuraikan sebagai berikut.

1. Judul

Judul dalam karya ilmiah dirumuskan dalam satu frasa yang jelas dan lengkap. Judul
mencerminkan hubungan antarvariabel. Istilah hubungan di sini tidak selalu mempunyai
makna korelasional, kausalitas, ataupun determinatif. Judul juga mencerminkan dan
konsisten dengan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian, dan
metode penelitian.

Contoh: AKTIVITAS PERGAULAN DAN PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi Deskriptif


tentang Kecerdasan Emosi dan Intelektual) Siswa SMA Labschool UPI Bandung

Dari judul di atas, dapat diketahui bahwa:


a. Masalah yang diteliti: aktivitas pergaulan dan prestasi belajar siswa
b. Ruang lingkup penelitian: kecerdasan emosi dan intelektual siswa
c. Tujuan penelitian: mengetahui ada tidaknya hubungan antara aktivitas pergaulan
dengan prestasi belajar siswa
d. Subjek penelitian: siswa SMA Labschool UPI Bandung
e. Metode penelitian: deskriptif-komparatif

Penulisan judul dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menggunakan
huruf kapital semua kecuali pada anak judulnya. Kedua, dengan menggunakan huruf
kecil kecuali huruf pertamanya. Apabila cara yang kedua yang akan digunakan, maka
kata-kata penggabung, seperti dengan dantentang serta kata-kata depan seperti, di, ke,
dari, dan ke huruf pertamanya tidak boleh menggunakan huruf kapital. Di akhir judul
tidak boleh menggunakan tanda baca apa pun, termasuk titik ataupun koma.

2. Pendahuluan

Pada karya ilmiah formal, bagian pendahuluan mencakup latar belakang masalah,
identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan
manfaat atau kegunaan penelitian. Selain itu, dapat pula dilengkapi dengan definisi
operasional dan sistematika penulisan.

a. Latar Belakang Masalah

Uraian pada latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan timbulnya
masalah dan pentingnya untuk dibahas, baik itu dari segi pengembangan ilmu,
kemasyarakatan, maupun dalam kaitan dengan kehidupan pada umumnya.

b. Perumusan Masalah

Masalah adalah segala sesuatu yang dianggap perlu pemecahan oleh penulis, yang
pada umumnya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan mengapa atau bagaimana.
Berangkat dari pertanyaan itulah, penulis menganggap perlu untuk melakukan langkah-
langkah pemecahan, misalnya melalui penelitian. Masalah itu pula yang nantinya
menjadi fokus pembahsan di dalam karya ilmiah tersebut.

c. Tujuan (Penulisan Karya Ilmiah)

Tujuan merupakan pernyataan mengenai fokus pembahasan di dalam penulisan karya


ilmiah tersebut; berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Dengan demikian, tujuan
harus sesuai dengan masalah pada karya imiah itu.

d. Manfaat

Perlu diyakinkan pula kepada pembaca tentang manfaat atau kegunaan dari penulisan
karya ilmiah. Misalnya untuk pengembangan suatu bidang ilmu ataupun untuk pihak
atau lembaga-lembaga tertentu.
3. Kerangkan Teoritis

Kerangka teoritis disebut juga kajian pustaka atau teori landasan. Tercakup pula di
dalam bagian ini adalah kerangka pemikiran dan hipotesis. Kerangka teoretis dimulai
dengan mengidentifikasi dan mengkaji berbagai teori yang relevan serta diakhiri dengan
pengajuan hipoteisi.

Di samping itu, dalam kerangka teoritis perlu dilakukan pengkajian terhadap penelitian-
penelitian yang telah dilakukan para penulis terdahulu. Langkah ini penting dilakukan
guna menambah dan memperoleh wawasan ataupun pengetahuan baru, yang telah
ada sebelumnya. Di samping akan menghindari adanya duplikasi yang sia-sia, langkah
ini juga memberikan perspektif yang lebih jelas mengenai hakikat dan kegunaan
penelitian itu dalam perkembangan ilmu secara keseluruhan.

4. Metodologi Penelitian

Dalam karya tulis yang merupakan hasil penelitian, perlu dicantumkan pula bagian yang
disebut dengan metode penelitian. Metodologi penelitian diartikan sebagai prosedur
atau tahap-tahap penelitian, mulai persiapan, penentuan sumber data, pengolahan,
sampai dengan pelaporannya.

Setiap penelitian mempunya metode penelitian masing-masing, yang umumnya


bergantung pada tujuan penelitian itu sendiri. Metode-metode penelitian yang
dimaksud, misalnya, sebagai berikut.

a. Metode deskriptif, yakni metode penelitian yang bertujuan hanya menggambarkan


fakta-fakta secara apa adanya, tanpa adanya perlakuan apa pun. Data yang dimaksud
dapat berupa fakta yang bersifat kuantitatif (statistika) ataupun fakta kualitatif.

b. Metode eksperimen, yakni metode penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran


atas suatu gejala setelah mendapatkan perlakuan.

c. Metode penelitian kelas, yakni metode penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki
persoalan-persoalan yang terjadi pada kelas tertentu, misalnya tentang motivasi belajar
dan prestasi belajar siswa dalam kompetensi dasar tertentu.

5. Pembahasan

Bagian ini berisi paparan tentang isi pokok karya ilmiah, terkait dengan rumusan
masalah/tujuan penulisan yang dikemukakan pada bab pendahuluan. Data yang
diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara, dan sebagainya itu dibahas dengan
berbagai sudut pandang; diperkuat oleh teori-teori yang telah dikemukakan
sebelumnya.

Sekiranya diperlukan, pembahasan dapat dilengkapi dengan berbagai sarana


pembantu seperti tabel dan grafik. Sarana-sarana pembantu tersebut diperlukan untuk
menjelaskan pernyataan ataupun data. Tabel dan grafik merupakan cara efektif dalam
menyajikan data dan informasi. Sajian data dan informasi lebih mudah dibaca dan
disimpulkan. Penyajian informasi dengan tabel dan grafik memang lebih sistematis dan
lebih enak dibaca, mudah dipahami, serta lebih menarik daripada penyajian secara
verbal.

Penulis perlu menggunakan argumen-argumen yang telah dikemukakan dalam


kerangka teoritis. Pembahasan data dapat diibaratkan dengan sebuah pisau daging.
Apabila pisau itu tajam, baik pulalah keratan-keratan daging yang dihasilkannya.
Namun, apabila tumpul, keratan daging itu akan acak-acakan, penuh cacat. Demikian
pula halnya dengan pembahasan data. Apabila argumen-argumen yang dikemukakan
penulis lemah dan data yang digunakannya tidak lengkap, pemecahan masalahnya pun
akan jauh dari yang diharapkan.

6. Simpulan dan Saran

Simpulan merupakan pemaknaan kembali atau sebagai sintesis dari keseluruhan unsur
penulisan karya ilmiah. Simpulan merupakan bagian dari simpul masalah
(pendahuluan), kerangka teoretis yang tercakup di dalamnya, hipotesis, metodologi
penelitian, dan temuan penelitian. Simpulan merupakan kajian terpadu dengan
meletakkan berbagai unsur penelitian secara menyeluruh. Oleh karena itu, perlu
diuraikan kembali secara ringkas pernyataan-pernyataan pokok dari unsur-unsur di atas
dengan meletakkannya dalam kerangka pikira yang mengarah kepada simpulan.

Berdasarkan pengertian di atas, seorang peneliti harus pula melihat berbagai implikasi
yang dirimbulkan oleh simpulan penelitian. Implikasi tersebut umpamanya berupa
pengembangan ilmu pengetahuan, kegunaan yang bersifat praktis dalam penyusunan
kebijakan. Hal-hal tersebut kemudian dituangkan ke dalam bagian yang disebut
rekomendasi atau saran-saran.

7. Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat semua kepustakaan yang digunakan sebagai landasan dalam
karya ilmiah yang diambil dari sumber tertulis, baik itu yang berupa buku, artikel jurnal,
dokumen resmi, maupun sumber-sumber lain dari internet. Semua sumber tertulis atau
tercetak yang tercantum di dalam karya ilmiah harus dicantumkan di dalam daftar
pustaka. Sebaliknya, sumber-sumber yang pernah dibaca oleh penulis tetapi tidak
digunakan dalam penulisan karya ilmiah itu, tidak boleh dicantumkan di dalam daftar
pustaka.

Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis, tanpa menggunakan nomor
urut. Sumber tulisan/tercetak yang memerlukan banyak tempat lebih dari satu baris
ditulis dengan jarak satu spasi, sedangkan jarak antara sumber yang satu dengan yang
lainnya adalah dua spasi.
Susunan penulisan daftar pustaka: nama pengarang yang disusun dibalik; tahun terbit;
judul pustaka; kita terbit; dan nama penerbit.

Baca Juga: Contoh dan Cara Menulis Daftar Pustaka yang Baik dan Benar

D. Unsur Kebahahasaan Karya Ilmiah

Telah kita pelajari pada materi terdahulu bahwa salah satu ciri karya ilmiah adalah
bersifat objektif. Objektivitas suatu karya ilmiah, antara lain, dintandai oleh pilihan kata
yang bersifat impersonal. Hal itu berbeda dengan teks lain yang bersifat nonilmiah,
semacam novel ataupun cerpen yang pengarangnya bisa ber-aku, kamu, dan dia. Kata
ganti yang digunakan dalam karya ilmiah harus bersifat umum,
misalnya penulis atau peneliti.

Dalam hal ini, penulis tidak boleh menyatakan proses pengumpulan data dengan
kalimat pasif, misalnya, “Di dalam penelitian ini, digunakan kuesioner”. Di dalam kalimat
tersebut, subjek penelitian dinyatakan secara tersurat. Dalam komunikasi ilmiah,
memang penulis diharapkan sering mempergunakan kalimat pasif seperti contoh di
atas.

Karya ilmiah memerlukan kelugasan dalam pembahasannya. Karya ilmiah menghindari


penggunaan kata dan kalimat yang bermakna ganda. Karya ilmiah mensyaratkan
ragam yang memberikan keajegan dan kepastian makna. Dengan kata lain, bahasa
yang digunakannya itu harus reproduktif. Artinya, apabila penulis menyampaikan
informasi, misalnya, yang bermakna X, pembacanya pun harus memahami informasi itu
dengan makna X pula. Informasi X yang dibaca harus merupakan reproduksi yang
benar-benar sama dari informasi X yang ditulis.

Ragam bahasa yang digunakan karya ilmiah harus lugas dan bermakna denotatif.
Makna yang terkandung dalam kata-katanya harus diungkapkan secara eksplisit untuk
mencegah timbulnya pemberian makna yang lain. Untuk itu, dalam karya ilmiah kita
sering mendapatkan definisi atau batasan dari kata atau istilah-istilah yang digunakan.
Misalnya, jika dalam karya itu digunakan frasa atau klausa, penulis itu harus terlebih
dahulu menjelaskan arti kedua kata itu sebelum ia melakukan pembahasan yang lebih
jauh. Hal tersebut penting dilakukan untuk menyamakan persepsi antara penulis
dengan pembaca atau untuk menghindari timbulnya pemaknaan lain oleh pembaca
terhadap maksud kedua kata itu.

Makna denotasi adalah makna kata yang tidak mengalami perubahan, sesuai dengan
konsep asalnya. Makna denotasi disebut juga makna lugas. Kata itu tidak mengalami
penambahan-penambahan makna. Adapun makna konotasi adalah makna yang telah
mengalami penambahan. Tambahan-tambahan itu berdasarkan perasaan atau pikiran
seseorang terhadap suatu hal. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
 - Malam ini udara terasa sangat panas (denotasi) (panas di sini berkaitan dengan
suhu)
- Hatiku panas begitu melihat Ahmad dimarahi Pak Lurah (konotasi) (panas di sini
bermakna emosi, marah)

- Adikku senang mengenakan pakaian hitam bila keluar rumah (denotasi) (warna


gelap)
- Ia sudah insaf, tidak ingin lagi tenggelam ke dalam dunia hitam (konotasi)
(kemaksiatan, kehinaan)
Penjelasan panjang tentang makna denotatif dan konotatif bisa dibaca di artikel
"Pengertian dan Contoh Makna Denotatif dan
Konotatif".http://jaddung.blogspot.com/2018/01/pengertian-bentuk-struktur-dan-unsur-kebahasaan-
karya-ilmiah.html