Anda di halaman 1dari 16

Kepada Yth.

KEMENTRIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA .


Cq.
Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan
Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusi
Jl. Rasuna sait Kv. Jakarta Selatan
Di Jakarta .

Perihal : Permohonan harmonisasi Tentang Peraturan Perundang-Undangan


Namunklatur Keperawatan Persatuan Perawat Nasioanal Indononesi
(PPNI ) Yang digunakan Penata Anestesi oleh organisasi Ikatan
Penata Anestesi Indonesia ( IPAI )

Dengan Hormat

Yang bertanda tangan dibawah ini ;

1, Nama : HARIF FADHILAH, S.Kp.,SH, M.Kep,.MH


Jabatan : Ketua Umum DPP PPNI .
Alamat Kantor : Jalan Raya Lenteng Agung RT 06/RW 05 Jagakarsa, Kota
Jakarta Selatan

2. Nama : DR. MUSTIKASARI, M.Kep. Sp.KJ


Jabatan : Sekretaris Umum DPP PPNI .
Alamat Kantor : Jalan Raya Lenteng Agung RT 06/RW 05 Jagakarsa, Kota
Jakarta Selatan

3. Nama : WARYONO,SIP. M.Kep


Jabatan : Ketua Perhimpunan Perawat Anestesi ( HIPANI )
Alamat Kantor : Jalan Raya Lenteng Agung RT 06/RW 05 Jagakarsa, Kota
Jakarta Selatan.

4. Nama : CHOLIFAH , S.Kp.


Jabatan : Sekretaris Perhimpunan Perawat Anestesi ( HIPANI )
Alamat Kantor : Jalan Raya Lenteng Agung RT 06/RW 05 Jagakarsa, Kota
Jakarta Selatan

1
Dalam hal ini menunjuk Badan Bantuan Hukum yang merupakan Badan
Kelengkapan Organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia ( BBH PPNI )
yang diwakili Muhammad Siban, SH.,MH, Ahmad Efendi Kasim,
S.Kep.,Ns.,SH.,MH.,CLA, Jasmen Ojak Haholongan, S.Kep.,SH, yang berkantor di
Graha PPNI, beralamat Jalan Raya Lenteng Agung RT 06/RW 05 Jagakarsa, Kota
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12630, berdasarkan surat kuasa tertanggal 1
desember 2019 Selanjutnya disebut sebagai--------------------------------Para Pemohon

A. ADAPUN DASAR PARA PEMOHON MENGAJUKAN PERMOHONAN


HARMONISASI ADALAH SEBAGAI BERIKUT ;

1. Bahwa diberlakukannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2016


Tentang Penyelenggaraan Praktik Penata Anestesi menggunakan
Nomenklatur Keparawatan dimaknai Penata Anestesi . yang merupakan
turunan untuk pelaksanaan pasal 11 ayat (11) UU No 36 Th 2014; Tentang
Tenaga Kesehatan . yang .menjelaskan Penata Anestesi termasuk dalam
kelompok tenaga keteknesian medis bukan kelompok keperawatan .

2. Bahwa Pemohon Keberatan Terhadap Penggunaan nomenklatur


Keperawatan dimaknai Penata Antestesi , yang diberlakukan pada
Perkemenkes Nomor ; 18 Th 2016, pada tataran di praktek lapangan, telah
menimbulkan konflek kepentingan antara PPNI ( Persatuan Perawat
Nasional Indonesia ) adalah satu satunya organisasi Perawat denga IPAI
( Ikatan Penata anstesi indonesia ) .

3. Bahwa Pemohon dirugikan akibat penggunaan nomenklatur Keperawatan


dimaknai Penata yang dimaksud, menimbulkan adanya potensi
pertentangan antara Undang Undang No 38 Th 2014; Tentang Keperawatan
dengan Undang Undang No. 36 Th 2014 Tentang Tenaga Kesehatan dan
menimbulkan penafsiran dilapangan yang sudah terjadi sebagai berikut ;

a) Pendirian Program studi D,4 Keperawatan Anestesiologi menggunakan


sumber daya Prodi Keperawatan bukan sumber daya Penata Anestesi
yang sudah berdiri diberbagai daerah .

b) Surat dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal


Pendidikan Tinggi Nomor : 183/82/TU/2020 . Tertanggal 20 Februari 2020
.Tentang Peninjauan ulang Penggunaan Nomenklatur Keperawatan
Anestisiologi pada Prodi D.IV dan disetujui menjadi nama Progran Studi
Sarjana Teraapan Kepenataan Anestesi. .

4. Bahwa Pemohon mengajukan Permohonan kepada KEMENTRIAN HUKUM


DAN HAM dikarenakan memiliki kewenangan melakukan disharmonisasi
penggunaan nomenklatur keperawatan dimaknai panata yang menjadi
keberatan Pemohon pada dektum Perkemenkes No 18 Tahun 2916, Maka
sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri

2
Hukum Dan Hak Asasi Manusia Tentang Penyelesaian Disharmoni Peraturan
Perundang-Undangan Melalui Mediasi Ayat (2) berbunyi “Disharmoni
Peraturan Perundang-undangan yang selanjutnya disebut Disharmoni adalah
konflik/pertentangan antar norma hukum atau konflik kewenangan yang
timbul karena berlakunya Peraturan Perundang-undangan”

Bunyi Ayat (3) “Mediasi adalah upaya penyelesaian yang dilakukan di luar
pengadilan terhadap disharmoni peraturan perundang-undangan yang
dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia”

5. Bahwa LEGAL STANDING Pemohon adalah Persatuan Perawat Nasional


Indonesia (DPP-PPNI) adalah Organisasi Profesi Perawat yang merupakan
wadah yang menghimpun Perawat secara nasional dan berbadan hukum.
Sebagaimana yang dimaksud Pemohon dalam pasal 3 huruf c dalam
Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Tentang Penyelesaian
Disharmoni Peraturan Perundang-Undangan Melalui Mediasi adalah badan
hukum publik/privat. Dalam hal ini Persatuan Perawat Nasional Indonesia
(PPNI) masuk dalam badan hukum publik.

B. Bahwa Pemohon mengajukan Permohonan Haronisasi karena adanya


Disharmonisasi Norma/Kewenangan yang bertentangan secara vertikal
akibat berlakunya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2016

Adanya Konflik Norma Secara Vertikal

NO Peraturan Menteri Undang-Undang


Kesehatan
1. PMK 18 Tahun 2016 Undang-Undang Nomor Undang-Undang
Tentang Izin Dan 38 Tentang Nomor 36 Tahun 2014
Penyelenggaraan Praktik Keperawatan Tentang Tenaga
Penata Anestesi Kesehatan

Pasal 1 Pasal 1 Pasal 1


“Penata Anestesi adalah Angka 1 “Tenaga Kesehatan
setiap orang yang telah “Keperawatan adalah adalah setiap orang
lulus pendidikan bidang kegiatan pemberian yang mengabdikan diri
keperawatan anestesi asuhan kepada individu,dalam bidang
atau Penata Anestesi keluarga, kelompok, kesehatan serta
sesuai dengan ketentuan atau masyarakat, baik memiliki pengetahuan
peraturan dalam keadaan sakit dan/atau keterampilan
perundangundangan” maupun sehat” melalui pendidikan di
bidang kesehatan
Angka 2 Ayang untuk jenis
“Perawat adalah tertentu memerlukan
seseorang yang telah kewenangan untuk
lulus pendidikan melakukan upaya
tinggi Keperawatan, kesehatan”
baik di dalam maupun

3
di luar negeri yang
diakui oleh Pemerintah
sesuai dengan
ketentuan Peraturan
Perundangundangan”

Pasal 1 Angka 7 Pasal 1 Angka 15 Pasal 1 Angka 16

“Organisasi Profesi “Organisasi Profesi “Organisasi Profesi


adalah Ikatan Penata Perawat adalah wadah adalah wadah untuk
Anestesi Indonesia” yang menghimpun berhimpun tenaga
Perawat secara kesehatan yang
nasional dan berbadan seprofesi”
hukum sesuai dengan
ketentuan Peraturan BAB VII
Perundang-undangan” ORGANISASI
PROFESI

Pasal 41 ayat (1) Pasal 50 ayat (1)

“Organisasi Profesi “Tenaga Kesehatan


Perawat dibentuk harus membentuk
sebagai satu wadah Organisasi Profesi
yang menghimpun sebagai wadah untuk
Perawat secara meningkatkan dan/atau
nasional dan berbadan mengembangkan
hukum.” pengetahuan dan
keterampilan,
Penjelasan martabat, dan etika
Pasal 41 Ayat (1) Yang profesi
dimaksud dengan Tenaga Kesehatan”
Organisasi Profesi
Perawat adalah Ayat (2)
Persatuan Perawat
Nasional Indonesia “Setiap jenis Tenaga
(PPNI). Kesehatan hanya
dapat membentuk 1
(satu) Organisasi
Profesi”

Pasal 1 Angka 3 Pasal 1 Angka 7 Pasal 1 Angkat 7


“Surat Tanda Registrasi
Penata Anestesi yang “Sertifikat Kompetensi Sertifikat Kompetensi
selanjutnya disingkat adalah surat tanda adalah surat tanda
STRPA adalah bukti pengakuan terhadap pengakuan terhadap
tertulis yang diberikan kompetensi Perawat Kompetensi Tenaga
oleh Pemerintah kepada yang telah lulus Uji Kesehatan untuk dapat
Penata Anestesi yang Kompetensi untuk menjalankan praktik di
telah memiliki sertifikat melakukan Praktik seluruh Indonesia
kompetensi sesuai Keperawatan” setelah lulus uji

4
ketentuan peraturan Kompetensi.
perundang-undangan”
BAB II PERIZINAN
Bagian Kesatu STRPA Pasal 1 ayat 8 Pasal 1 Angka 8

Pasal 2 ayat (2) Sertifikat Profesi adalah Sertifikat Profesi adalah


surat tanda pengakuan surat tanda pengakuan
“Untuk dapat memperoleh untuk melakukan praktik untuk melakukan
STRPA sebagaimana Keperawatan yang praktik profesi yang
dimaksud pada ayat (1), diperoleh lulusan diperoleh lulusan
Penata Anestesi harus pendidikan profesi pendidikan profesi.
memiliki sertifikat
kompetensi sesuai Pasal 1 Angka 9 Pasal 1 Angka 9
dengan ketentuan
peraturan perundang- “Registrasi adalah “Registrasi adalah
undangan” pencatatan resmi pencatatan resmi
terhadap Perawat yang terhadap Tenaga
telah memiliki Sertifikat Kesehatan yang telah
Kompetensi atau memiliki Sertifikat
Sertifikat Profesi dan Kompetensi atau
telah mempunyai Sertifikat Profesi dan
kualifikasi tertentu telah mempunyai
lainnya serta telah kualifikasi tertentu
diakui secara hukum lain serta mempunyai
untuk menjalankan pengakuan secara
Praktik Keperawatan” hukum untuk
menjalankan praktik.”
Pasal 1
Angka 10
“Surat Tanda Registrasi
yang selanjutnya
disingkat STR adalah
bukti tertulis yang
diberikan oleh Konsil
Keperawatan kepada
Perawat yang telah
diregistrasi”

BAB III
PENDIDIKAN TINGGI
KEPERAWATAN
Pasal 16
Ayat (5)
“Mahasiswa pendidikan
vokasi Keperawatan
yang lulus Uji
Kompetensi diberi
Sertifikat Kompetensi
yang diterbitkan oleh
perguruan tinggi”

5
Ayat (6)
“Mahasiswa pendidikan
profesi Keperawatan
yang lulus Uji
Kompetensi diberi
Sertifikat Profesi yang
diterbitkan oleh
perguruan tinggi”

Pasal 17 Ayat (1) Pasal 17 Ayat (2)

Penata Anestesi dalam Pengadaan Tenaga


melaksanakan praktik Kesehatan dilakukan
keprofesiannya wajib melalui pendidikan
mengikuti pendidikan tinggi bidang
dan pelatihan kesehatan.
berkelanjutan.

Ayat (2) Ayat (3)

Pendidikan dan pelatihan Pendidikan tinggi


berkelanjutan bidang kesehatan
sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan pada ayat (2) diarahkan
oleh organisasi profesi untuk menghasilkan
atau lembaga lain yang Tenaga Kesehatan
diakreditasi oleh yang bermutu sesuai
organisasi profesi dengan Standar Profesi
dalam rangka dan Standar Pelayanan
penyerapan Profesi.
perkembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi.

C. Bahwa Pemohon mengajukan Permohonan Harmonisasi karena adanya


disharmonisasi Norma/Kewenangan yang bertentangan secara Horizontal
akibat berlakunya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2016

Timbul Konflik Norma Secara Horizontal

NO PMK519/Menkes/Per/III/20 PMK 18 Tahun 2016 PMK 26 Tahun 2019


11 Tentang Pedoman Tentang Izin Dan Tentang Peraturan
Penyelenggaraan Penyelenggaraan Pelaksanaan Undang-
Pelayanan Anestesiologi Praktik Penata Anestesi Undang Nomor 38
Dan Terapi Intensif Di Tahun 2014 Tentang
Rumah Sakit Keperawatan

6
1. BAB II BAB I BAB I
PENGERTIAN KETENTUAN UMUM KETENTUAN UMUM
PELAYANAN Pasal 1 Pasal 1 ayat (1)
ANESTESIOLOGI DAN
TERAPI INTENSIF “Penata Anestesi “Perawat adalah
adalah setiap orang seseorang yang telah
Pengertian Angka 2 yang telah lulus lulus pendidikan tinggi
pendidikan bidang Keperawatan, baik di
“Tim pengelola pelayanan keperawatan anestesi dalam maupun di luar
anestesiologi dan terapi atau Penata Anestesi negeri yang diakui oleh
intensif adalah tim yang sesuai dengan Pemerintah sesuai
dipimpin oleh dokter ketentuan peraturan dengan ketentuan
spesialis anestesiologi perundangundangan” peraturan perundang-
dengan anggota dokter undangan”
peserta program
pendidikan dokter spesialis
anestesiologi dan/atau
dokter lain dan perawat
anestesia dan/atau
perawat”

2. Angka 7 Pasal 1 Ayat (2)


“Perawat anestesi adalah
tenaga keperawatan yang Perawat Vokasi adalah
telah menyelesaikan Perawat lulusan
pendidikan dan ilmu pendidikan vokasi
keperawatan anestesi” Keperawatan paling
rendah program
Diploma Tiga
Keperawatan.
Angka 8 Pasal 1 Ayat (3)
“Perawat adalah perawat
yang telah mendapat Perawat Profesi adalah
pelatihan anestesi” Perawat lulusan
pendidikan profesi
Keperawatan yang
merupakan program
profesi Keperawatan
dan program spesialis
Keperawatan.

Pasal 1 Ayat (4)

Keperawatan adalah
kegiatan pemberian
asuhan kepada individu,
keluarga, kelompok,

7
atau masyarakat, baik
dalam keadaan sakit
maupun sehat.

Pasal 1 Ayat (5)

Praktik Keperawatan
adalah pelayanan yang
diselenggarakan oleh
Perawat dalam bentuk
Asuhan Keperawatan.
3. BAB III BAB III BAB I
PENGORGANISASIAN PENYELENGGARAAN Ketentuan Umum
PRAKTIK Pasal 1 Ayat (6)
Tugas Angka 3 KEPROFESIAN
PENATA ANESTESI Asuhan Keperawatan
“Melakukan asuhan adalah rangkaian
keperawatan pra- Wewenang interaksi Perawat
anestesia...” dengan Klien dan
“Penata Anestesi dalam lingkungannya untuk
Tanggung Jawab menjalankan praktik mencapai tujuan
keprofesiannya pemenuhan kebutuhan
1) Perawat anestesi dan berwenang untuk dan kemandirian Klien
perawat bertanggung melakukan pelayanan dalam merawat dirinya.
jawab langsung kepada asuhan kepenataan
dokter penanggung jawab anestesi...” Pasal 1 Ayat (7)
pelayanan anestesia;
2) Menjamin terlaksananya Pelayanan
pelayanan/asuhan Keperawatan adalah
keperawatan anestesia di suatu bentuk pelayanan
rumah sakit; profesional yang
3) Pelaksanaan asuhan merupakan bagian
keperawatan anestesia integral dari pelayanan
sesuai standar kesehatan yang
didasarkan pada ilmu
dan kiat Keperawatan
ditujukan kepada
individu, keluarga,
kelompok, atau
masyarakat, baik sehat
maupun sakit.
4. BAB V
KETENTUAN
PENUTUP

Pasal 24 huruf a
Pada saat Undang-
Undang ini mulai
berlaku:
“Semua nomenklatur

8
Perawat Anestesi dalam
Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor
519/Menkes/Per/III/201
1 tentang Pedoman
Penyelenggaraan
PelayananAnestesiologi
dan Terapi Intensif di
Rumah Sakit (Berita
Negara Republik
Indonesia Tahun 2011
Nomor 224) harus
dibaca dan dimaknai
sebagai Penata
Anestesi”

D. Bahwa Pemohon mengajukan ketentuan tentang peraturan perundang


undangan yang berkaitan kopentensi Perawat dalam wadah Organisasi PPNI
dan Kopentensi Penata Anestesi dalam wadah Organisasi IPAI

No. Pendidikan dan Kompetensi Pendidikan dan kompetensi Keterangan


Perawat Anestesi Penata Anestesi
1. PERAWAT ANESTESI adalah PENATA ANESTESI tidak 1. PERAWAT
Perawat yang bertugas di tepat melaksanakan ANESTESI adalah
bagian anestesi dan telah profesinya wewenang dari Perawat yang
menyelesaikan pendidikan dan dokter, seperti yang termaktub bertugas di bagian
pelatihan tentang keperawatan didalam Permenkes No 18 / anestesi dan telah
anestesi ( PMK 519/11 BAB II 2016 : menyelesaikan
A Pengertian, point 7,8) a. Pasal 10, Asuhan pendidikan dan
1. Tugas Perawat Anestesi : Kepenataan tidak ada pelatihan tentang
Melaksanakan Asuhan referensinya, belum keperawatan
Keperawatan Pra anestesi, diketahui ilmunya apa anestesi (Pmk
Kolaborasi saat Intra yang dimaksud dengan 519/11 BAB II A
anestesi dan Asuhan asuhan kepenataan … ? Pengertian, point
Keperawatan Pasca b. Pasal 10, 11 keseluruhan 7,8).
anestesia (Pmk 519/11 adalah Tindakan Asuhan
BAB III B3) Keperawatan yang selama 2. ASUHAN
2. Pelaksanaan asuhan ini dilaksanakan oleh KEPERAWATAN
keperawatan di bagian perawat anestesi dan adalah Kompetensi
anestesi merupakan merupakan ilmu Keperawatan,
praktik keperawatan, keperawatan seperti yang sumber dari ilmu
sehingga landasannya diajarkan di Pendidikan D3 keperawatan yang
didalam UU No 38/2014 Keperawatan Anestesi diajarkan di Diklat
tentang Keperawatan (Akpernes), D4 Keperawatan

9
Keperawatan Anestesi Anestesi.
dan Reaminasi serta
Pelatihan Keperawatan
3. Melaksanakan ketentuan Anestesi.
yang termaktub didalam 3. PENATA
UU Keperawatan : STR c. Pelaksanaan Asuhan ANESTESI yang
Perawat, SIP Perawat, SIK Keperawatan tersebut masuk jenis tenaga
Perawat dan Permenpan diatas merupakan keteknisian medik,
tentang Jabatan ketentuan dari UU dengan Profesi
Fungsional Perawat dan Keperawatan. Namun di Perawat Anestesi
Angka Kreditnya. Pmk No 18 / 16 dirubah yang landasannya
menjadi ASUHAN Ilmu keperawatan
KEPENATAAN, landasan anestesi adalah
keilmuannya apa ? perofesi yang
d. Pelaksanaan Ps 10 dan berbeda
11 bukan merupakan 4. ASUHAN
tindakan / kompetensi KEPENATAAN
Keteknisian Medik seperti “ TIDAK ADA
yang disebutkan di Ps 11 REFERENSINYA “
ayat 11 UU Tenaga tidak ada ilmunya,
Kesehatan dimana Penata apa yang dimaksud
Anestesi masuk dalam dengan Asuhan
jenis Tenaga Keteknisian Kepenataan…?
Medik.

Berarti Permenkes No 18
th 2016, bertolak belakang
(Tidak seiring seirama)
dengan UU Tenaga
Kesehatan Ps 11 ayat 11.
e. Profesi Penata Anestesi
yang masuk jenis tenaga
keteknisian medik, dengan
Profesi Perawat Anestesi
yang landasannya Ilmu
keperawatan anestesi
adalah perofesi yang
berbeda.
f. Asuhan Kepenataan
TIDAK ADA
REFERENSINYA, tidak
ada ilmunya, apa yang
dimaksud dengan Asuhan

10
Kepenataan…?

g. Asuhan Keperawatan
adalah Kompetensi
Keperawatan, sumber dari
ilmu keperawatan yang
diajarkan di Diklat
Keperawatan Anestesi.
Tugas Kolaborasi /
Pelimpahan wewenang
adalah bagian dari
Kompetensi Asuhan
Keperawatan. Merupakan
ketentuan dari UU
Keperawatan.
h. Pelaksanaan Ps 12, 13,
14 dan 15 di Pmk No 18 /
16 merupakan
pelanggaran UU
Kedokteran, mengingat
Kompetensi Anestesi
adalah Kompetensi
Kedokteran yang diatur di
UU No 29 / 2004 tentang
Praktik Kedokteran. Bukan
UU Tenaga Kesehatan.
Dan yang disebut di Ps 73
ayat 3 (Penjelasan) di UU
Kedokteran, hanya untuk
Bidan dan Perawat …
Bukan untuk Penata
Anestesi.

Keseluruhan Materi Dengan demikian, maka ilmu Dasarnya apa


Permenpan No 10 dan 11 dan kompetensi keperawatan Menpan RB dalam
tahun 2017 adalah merupakan TIDAK LAYAK masuk pertimbangan dan
materinya Ilmu dan kedalam Permenpan tentang membuat kebijkaan
Kompetensi Keperawatan Jabatan Fungsional Penata akan Fungsional jika
yang disebut Asuhan Anestesi. Profesi Belum ada
Keperawatan. Kompetensi ini Kejelasan ….????
sudah dijalankan oleh Perawat

11
Anestesi sejak berdirinya
Institusi Pendidikan
Keperawatan Anestesi pada
tahun 1985, juga termasuk
Pelatihan tentang
Keperawatan Anestesi.

No Kewenangan Klinik Penata Kewenangan Klinik Evaluasi


. Anestesi Penata Anestesi
1. Penata Anestesi adalah setiap Pasal 24 bahwa semua Jika Penata artinya bukan
orang yang telah lulus nomenklatur Perawat Perawat sehingga Jika
pendidikan bidang Anestesi dalam Perawat adalah HIPANI
keperawatan anestesi atau Peraturan Menteri ( Himpunan Perawat
Penata Anestesi sesuai Kesehatan Nomor Anestesi ) badan
dengan ketentuan peraturan 519/Menkes/Per/III/2011 kelengkapan PPNI.
perundang-undangan tentang Pedoman
Penyelenggaraan Apakah
Pelayanan Anestesiologi
dan Terapi Intensif Di
Rumah Sakit (Berita
Negara Republik
Indonesia Tahun 2011
Nomor 224) harus
dibaca dan dimaknai
sebagai Penata
Anestesi.

No Peraturan Perundangan Butuh Kepastian Butuh Kepastian


Perawat Anestesi Penata Anestesi
7. 1. Dalam Undang-Undang Republik UU Kedokteran Ps 73 Bagaimana
Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 ayat 3, yang dimaksud ketentuan yang
Tentang Praktik Kedokteran dg tenaga kesehatan berlaku untuk
a. UU Kedokteran Ps 73 ayat 3, tersebut adalah Bidan Pelayanan Anestesi
yang dimaksud dg tenaga dan Perawat. di Rumah Sakit yang
kesehatan tersebut adalah seharusnya, apakah
Bidan dan Perawat UU PK atau UU 36
HIPANI adalah tahun 2014, bisa
b. Anestesiologi merupakan
PERAWAT dilimpahkan kepada
pelayanan yang bersifat Cure
adalah Berdasar Ilmu Ketehnisian medis ..?

12
Kedokterandan UU Kedokteran.
Care adalah Berdasar Ilmu
Keperawatan dan UU
Keperawatan.
c. UU Kedokteran Ps 73 ayat 3
menyatakan hanya ( Perawat
& Bidan ).

2. Permenkes 519 tahun 2013,


Tindakan Anestesi, Tugas
Dokter/Perawat Anestesi Dan
Pelimpahan Tugas/ Wewenang .
a. Tindakan anestesi adalah
tindakan medis yang dilakukan
oleh Dokter Spesialis Anestesi
dan atau Perawat Anestesi di
kamar operasi pada pasien
yang akan menjalani
pembedahan :
b. Memberikan kenyamanan dan
keamanan pada pasien yang
sedang menjalani
pembedahan
c. Memberikan kenyamanan
kepada dokter bedah dalam
melakukan tindakan
pembedahan
d. Mengembalikan fungsi
fisiologis pasien setelah
menjalani pembedahan seperti
saat sebelum menjalani
pembedahan
e. Dokter spesialis anestesi
bertugas :
1) Melakukan pemeriksaan
pada pasien sebelum
menjalani program
pembedahan melalui
kunjungan pre-operasi
atau konsultasi yang
dilakukan oleh dokter
spesialis anestesi

13
2) Melakukan tindakan
perbaikan atau konsultasi
ke bagian lain jika
ditemukan hal yang
dianggap belum layak
pada pasien untuk
menjalani pembedahan

3) Menentukan tehnik
anestesi yang terpilih pada
pasien yang akan
menjalani pembedahan
dengan mengutamakan
keamanan dan
kenyamanan pada pasien
4) Melakukan tindakan
anestesi sesuai dengan
prosedur tetap
5) Memberikan pengawasan
dan bimbingan kepada
perawat anestesi dalam
mitra secara
berkesinambungan.
6) Senantiasa menambah
dan mengembangkan
keilmuan anestesi melalui
pertemuan ilmiah secara
berkala dan
berkesinambungan.

No Peraturan Perundangan Butuh Kepastian Butuh Kepastian


Perawat Anestesi Penata Anestesi
5. Peraturan Menteri Kesehatan 1. Dalam memberikan Bagaimana terkait
Republik Indonesia Nomor 49 Tahun Pelayanan kepada Rincian Kewenangan
2013 Tentang Komite Keperawatan masyarakat dengan Klinis Penata
Rumah Sakit berbasic Patient Anestesi Anestesi
BAB I KETENTUAN UMUM Safety apakah sesuai kewenangan
Pasal 1

14
Ayat 3. Kewenangan Klinis tenaga kewenangan Klinis Klinisnya siapa yang
keperawatan adalah uraian intervensi Perawat Anestesi melakukan pejaminan
keperawatan dan kebidanan yang perawat anestesi mutu dan
dilakukan oleh tenaga keperawatan dapat di bakukan penugasannya…?
berdasarkan area praktiknya. dengan Keputusan
Ayat 4. Penugasan Klinis adalah mentri kesehatan ?
penugasan kepala/direktur Rumah
2. Usulan Permenkes
Sakit kepada tenaga keperawatan
Pedoman Praktek
untuk melakukan asuhan
Perawat Anestesi
keperawatan atau asuhan kebidanan
di Rumah Sakit tersebut berdasarkan Indonesia..?
daftar Kewenangan Klinis. Rencana Kewenangan
Ayat 5. Kredensial adalah proses Klinis Perawat Anestesi
evaluasi terhadap tenaga ( HIPANI) sesuai
keperawatan untuk menentukan kewenangan Klinis
kelayakan pemberian Kewenangan yang tercantum sebagai
Klinis. perawat Klinis ( PK I,II,
III, IV, V ).
BAB VI KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 19 Pada saat Peraturan
Menteri ini mulai berlaku, Rumah
Sakit yang telah memiliki Komite
Keperawatan harus menyesuaikan
dengan Peraturan Menteri ini dalam
jangka waktu paling lama 1 (satu)
tahun.

Kami lampirkan bukti informandum sebagai berikut ;

1. UU No 36 Tahun 2014 . Tentang Tenaga Kesehatan .


2. UU No 38 Tahun 2014. Tentang Keperawatan .
3. Permenkes No.18 Tahun 2016. Tentang Penata Anestesi.
4. Permenkes No 26 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang
Undang Keperawatan .
5. Permenkes No ,519 Tahun 2011. Tentang Pedoman Pelayanan
Anestesiologi terapi intensif Rumah Sakit .
6. Permenkes No 13 Tahun 2013 . Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan
Perawat Anestesi .
7. --------------------------------------
8. ---------------------------------------
9. --------------------------------------

15
Berdasarkan yang diuraian Pemohon diatas Memohon pada Kementrian Hukum
dan HAM Cq. Direktorat Jenderal Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan
yang memeriksa permohonan disharmonisasi dengan memeberikan putusan
sebagai berikut ;

1. Menerima Permohonan Harnonisasi Para Pemohon.

2. Menyatakan norma hukum pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun


2016 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Penata Anestesi tentang
nomenklatur “..Lulusan Bidang Keperawatan..” bertentangan secara vertikal
maupun secara horizontal yang menimbulkan disharmoni norma hukum yang
menyebabkan ketidakadilan terhadap profesi perawat khususnya yang perawat
yang bekerja di area anestesiologi.

3. Memerintahkan kepada Biro Hukum Kementrian Kesehatan untuk mencabut


nomenklatur keperawatan yang dimaknai penata anestesi pada permenkes No
18 Th 2016 pada ketentuan Pasal 24 huruf a yang berbunyi “ bahwa semua
nomenklatur Perawat Anestesi dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
519/Menkes/Per/III/2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan
Anestesiologi dan Terapi Intensif Di Rumah Sakit (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 224) harus dibaca dan dimaknai sebagai
Penata Anestesi. Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:”

4. Menyatakan untuk menguatkan pencabutan nomenklatur nama keperawatan


anestesiologi tidak dapat digunakan pada program studi sarjana kepenataan
anestesi melalui Ikatan Penata Anestesi

5. Menyatakan seluruh lulusan jenjang keperawatan ansestesi bukan Penata


Anestesi .

Demikian permohonan penyelesaian disharmoni peraturan perundang-undangan


kami ajukan. Atas perhatiannya diucapakan terimakasih.

Hormat Kami
BADAN BANTUAN HUKUM
PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA

Muhammad Siban,SH,.MH. Candra Septimaulidar, SH

Maulina,SH.MH.Kes Jasmen Ojak Haholongan Nandeak, SH

Ahmad Efendi Kasim, S.Kep.,Ns.,SH.,MH.,C.L.A

16