Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk
menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi
secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yakni gerak
refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor,
ke saraf sensoris, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak,
kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor
sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor (Richard, 2011).
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis
terhadap rangsangan,tanpa memerlukan control dari otak.Jadi dapat dikatakan
gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih
dahulu (Richard, 2011).
Pada gerak refleks,impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas,yaitu
dimulai dari reseptor penerima rangsang,kemudian diteruskan oleh saraf
sensori ke pusat saraf, diterima oleh sel saraf penghubung(asosiasi) tanpa
diolah dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk
disampaikan ke efektor,yaitu otot dan kelenjar.Jalan pintas ini disebut
lengkung refleks.Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf
penghubung(asosiasi) berada di dalam otak (Richard, 2011).

1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk memahami anatomi celah sinaps.
1.2.2 Untuk memahami anatomi lengkung reflex.
1.2.3 Untuk memahami anatomi unit motor neuron.
1.2.4 Untuk memahami fisiologi Lower Motor Neuron dan Upper Motor
Neuron
1.2.5 Untuk memahami neurofisiologi saraf sensorik.

LBM 2 1
1.2.6 Untuk memahami neurofisiologi saraf motorik.
1.2.7 Untuk memahami neurofisiologi saraf otonom.
1.3 Manfaat
Agar dapat menjadi bahan pembelajaran dan refrensi untuk blok ini pada
tahun ajaran selanjutnya.

LBM 2 2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial


2.1.1 Hari/tanggal sesi 1 : Senin, 25 Februari 2019
2.1.2 Hari/tanggal sesi 2 : Rabu, 27 Februari 2019
2.1.3 Tutor : dr. Ida Ayu Made Mahayani, S.Ked
2.1.4 Moderator : Dimas Agung Okoputra
2.1.5 Sekretaris : Shantie Dwi Ratih

2.2 Skenario LBM

ADUH…PANAS!!!
Arif adalah salah satu anggota TBM di Fakultas Kedokteran UNIZAR,
sebagai salah satu program yag ada di TBM tersebut Arif beserta teman-
teman akan melakukan bakti social kedaerah desa binaan FK UNIZAR
selama dua hari. Sesampainya di sana Arif beserta teman-temannya membuat
tenda dan api unggun. Saat akan menyalakan api unggun tangan Arif tanpa
sengaja tersengat oleh api yang berasal dari korek api yang di pegangnya,
dengan cepatnya tangan Arif refleks menjauhi sumber api tersebut, kemudian
Arif mengatakan aduh panasss…!!! Kemudian menggosok-gosok yang
terkena api. Saat hendak tidur Ia sempat melamun memikirkan “Mengapa
tangan ini refleks tanpa sadar saat terkena api?” dan “Mengapa kemudian
beberapa saat baru tersadar itu terasa panas?” Bagaimana mekanisme yang
terjadi pada Arif.

LBM 2 3
2.2 PEMBAHASAN LBM
I. KLASIFIKASI ISTILAH
1. Refleks merupakan suatu bentuk respon segera, baik motorik
maupun sekretorik terhadap impuls dari saraf sensorik aferen.
Refleks merupakan suatu jalur saraf sederhana, dimana stimulus
akan disampaikan ke medulla spinalis (Lillah, 2012).

II. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Mengapa tangan arif refleks tanpa sadar saat terkena api? Dan
kenapa arif menggosok-gosok tangannya ketika terkena api?
2. Refleks apa saja yang berperan pada mekanisme gerak refleks tangan
arif?

III. BRAINSTORMING
1. Mengapa tangan arif refleks tanpa sadar saat terkena api? Dan
kenapa arif menggosok-gosok tangannya ketika terkena api?
Ketika seseorang menyentuh kompor panas (atau menerima
rangsangan nyeri Iainnya), refleks lucut terpicu untuk menarik
tangan dari rangsang yang menimbulkan nyeri (Gambar 1). Kulit
memiliki berbagai reseptor untuk rasa hangat, dingin, sentuhan
ringan, tekanan, dan nyeri. Meskipun semua informasi dikirim ke
SSP melalui potensial aksi, SSP dapat membedakan antara berbagai
rangsangan karena reseptor dan, dengan demikian, jalur aferen yang
diaktifkan oleh rangsangan yang berbeda juga berbeda. Jika suatu
reseptor dirangsang cukup kuat sehingga reseptor tersebut mencapai
ambang, terbentuk potensial aksi di neuron aferen. Semakin kuat
rangsangan, semakin'tinggi frekuensi potensial aksi yang dihasilkan
dan dikirim ke SSP. Setelah masuk ke korda spinalis, neuron aferen
berdivergensi untuk bersinaps dengan berbagai antarneuron berikut
(angka sesuai dengan yang terdapat di tahap 3 Gambar 1)

LBM 2 4
a. Neuron aferen yang tereksitasi merangsang antarneuron
eksitatorik yang nantinya merangsang neuron motorik eferen
yang menyarafi biseps (3a), otot di lengan yang memfleksikan
(menekuk) sendi siku sehingga tangan tertarik menjauhi kompor
panas.
b. Neuron aferen juga merangsang antarneuron inhibitorik yang
menghambat neuron eferen yang menyarafi triseps (3b) untuk
mencegahnya berkontraksi. Triseps adalah otot di lengan yang
mengekstensikan (meluruskan) sendi siku. Ketikabiseps
berkontraksi untuk menekuk siku, akan kontraproduktif bagi
triseps untuk berkontraksi. Karena itu, inhibisi otot-otot yang
antagonis (melawan) respons yang diinginkan sudah tercakup
dalam refleks lucut. Jenis koneksi ini yang melibatkan stimulasi
saraf ke satu otot dan inhibisi secara bersaman saraf ke otot
antagonisnya dikenal sebagai persarafan timbal balik.
c. Neuron aferen juga merangsang antarneuron lain yang
membawa sinyal naik melalui korda spinalis ke otak melalui
jalur asendens (3c). Hanya ketika impuls mencapai daerah
sensorik korteks barulah yang bersangkutan merasakan nyeri,
lokasi, dan jenis rangsangannya. Juga, ketika impuls mencapai
otak, informasi dapat disimpan sebagai ingatan, dan yang
bersangkutan dapat mulai memikirkan situasi yang dihadapinya
—bagaimana hal tersebut terjadi, apa yang harus dilakukan hal
tersebut, dan sebagainya. Semua aktivitas di mengenai tingkat
sadar ini terletak di luar refleks dasar.
Seperti pada semua refleks spinal, otak dapat memodifikasi
refleks lucut. Impuls dapat dikirim turun melalui jalur-jalur
desendens ke neuron motorik eferen yang menyarafi otot-otot yang
terlibat untuk mengalahkan masukan dari reseptor, mencegah
biseps berkontraksi meskipun terdapat rangsangan nyeri.

LBM 2 5
Contohnya ketika jari tangan kita sedang ditusuk untuk
memperoleh contoh darah reseptor nyeri dirangsang untuk
memulai refleks lucut. Karena kita harus berani dan tidak menarik
tangan kita menjauh, kita dapat secara sadar mengalahkan reflek
lucut ini dengan dengan mengirim IPSP (Inhibitory Postsynaptic
Potential) melalui jalur-jalur desenden ke neuron motoric yang
mensyarafi bisep dan EPSP (Excitatory Postsynaptic Potential) ke
yang mensyarafi trisep.

Gambar 1. Reflek lucut


Arif menggosok-gosok tangannya yang terkena api adalah
sebagai respon otak untuk mengubah energy panas menjadi energy
kinetic yang diterima rangsangannya oleh neuron-neuron di tangan
arif, sehingga arif tidak lagi merasakan rangsangan panas tersebut.

2. Refleks apa saja yang berperan pada mekanisme gerak refleks


tangan arif?
Menurut Sherwood 2014, jika terkena api secara tidak sadar
tubuh merespon dengan gerakan Reflek Lucut.

LBM 2 6
IV. RANGKUMAN PERMASALAHAN

LMN &UMN

Anatomi Fisiologi

Celah Lengkung LMN & Neurofisiologi


Sinaps Refleks UMN

Saraf Saraf Saraf LMN &


Sensor Motor Otonom UMN

V. LEARNING ISSUE
1. Anatomi celah sinaps.
2. Anatomi lengkung reflex.
3. Anatomi dan fisiologi Lower Motor Neuron dan Upper Motor
Neuron.
4. Neurofisiologi saraf sensorik.
5. Neurofisiologi saraf motorik.
6. Neurofisiologi saraf otonom.

VI. REFERENSI
1. Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia : dari sel ke system. Edisi 8.
Jakarta: EGC. 2014

LBM 2 7
VII.PEMBAHASAN LEARNING ISSUE
1. Anatomi celah sinaps.
Informasi yang dijalarkan dalam sistem saraf berbentuk impuls
saraf ynag melewati serangkaian neuron-neuron, dari satu neuron ke
neuron berikutnya melalui penghubung antar neuron (interneuronal
junctions) yang disebut sebagai sinaps.
Fungsi sinaps ini menghubungkan tombol terminal pada ujung
axon sebuah neuron dengan membran neuron yang lain. Membran pada
tombol terminal dikenal sebagai membran presinaps, sedangkan
membran pada neorron penerima dikenal sebagai membran postsinaps.
Kedua membran tersebut dipisahkan oleh suatu celah sinaps (synaptic
cleft) yang lebarnya ± 200-300 angstrom. Ujung presinapsmempunyai 2
struktur dalam yang berguna untuk penerus rangsang atau penghambat
sinaps, yaitu kantong sinaps (synaptic vesicle) dan mitokondria. Sebagian
besar ujung presinaps bersifat mudah dirangsang (excitatory) dan akan
mensekresi suatu bahan yang merangsang neuron postsinaps, sedangkan
yang lainnya bersifat mudah dihambat (inhibitory) dan akan mensekresi
suatu bahan yang dapat menghambat neuron.
Kantong sinaps mengandung bahan transmitter (neurotransmiter)
yang bila dilepaskan ke dalam celah sinaps dapat merangsang atau
menghambat neuron tergantung reseptor pada membran neuron.
Mitokondria akan menyediakan ATP yang dibutuhkan untuk mensintesa
bahan-bahan transmitter baru.

LBM 2 8
( Gambar 2 : Anatomi Celah Sinaps )

Neurotransmtter merupakan zat kimia yang disintesis dalam


neuron dan disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. Zat
kimia ini dilepaskan dari ujung akson terminal dan juga direabsorbsi untuk
daur ulang. Neurotransmiter merupakan cara komuni kasi amntar neuron.
Setiap neuron melepaskan satu transmitter. Zat – zat kimia ini
menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga neuron
menjadi lebih kurang dapat menyalurkan impuls. Diketahui atau diduga
terdapat sekitar tigapuluh macam neurotransmitter, diantaranya adalah
Norephinephrin, Acetylcholin, Dopamin, Serotonin, Asam Gama-
Aminobu tirat (GABA) dan Glisin.
Apabila impuls sampai pada tombol sinapsis, segera
neuron mengirimkan neurotransmiter. Selanjutnya,
neurotransmiter dibawa oleh vesikula sinapsis menuju membran
prasinapsis. Kedatangan impuls tersebut membuat permeabilitas
membran prasinapsis terhadap ion Ca2+ meningkat (terjadi
depolarisasi). Sehingga, ion Ca2+ masuk dan merangsang vesikula
sinapsis untuk menyatu dengan membran prasinapsis. Bersama kejadian
tersebut, neurotransmiter dilepaskan ke dalam celah sinapsis
melalui eksositosis. Dari celah sinapsis, neurotransmiter ini berdifusi
menuju membran pascasinapsis.

LBM 2 9
Setelah impuls dikirim, membran pascasinapsis
akan mengeluarkan enzim untuk menghidrolisis neurotransmiter.
Enzim tersebut misalnya senzim asetilkolineterase yang
menghidrolisis asetilkolin menjadi kolin dan asam etanoat. Oleh vesikula
sinapsis, hasil hidrolisis (kolin dan asam etanoat) akan disimpan
sehingga sewaktu-waktu bisa digunakan kembali.

2. Anatomi lengkung refleks.


Refleks adalah suatu respons involunter terhadap sebuah stimulus.
Secara sederhana lengkung refleks terdiri dari organ reseptor, neuron
aferen, neuron efektor dan organ efektor. Sebagai contoh ialah refleks
patella. Pada otot terdapat serabut intrafusal sebagai organ reseptor yang
dapat menerima sensor berupa regangan otot, lalu neuron aferen akan
berjalan menuju medula spinalis melalui ganglion posterior medulla
spinalis. Akson neuron aferen tersebut akan langsung bersinaps dengan
lower motor neuron untuk meneruskan impuls dan mengkontraksikan
otot melalui serabut ekstrafusal agar tidak terjadi overstretching oto.
Namun begitu lengkung refleks tidak hanya menerima respon
peregangan saja, sebagai contoh respon sensorik kulit.
Alur sistem refleks dimulai dari rangsangan yang diterima suatu
reseptor sampai terjadinya respon yang dilakukan oleh efektor. Suatu
sistem alur tersebut dinamakan dengan lengkungrefleks atau reflex arc,
yangdilukiskan.Lengkung refleks ini terdiri dari alat indra, serat saraf
aferen, satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di
ganglion simpatis, serat saraf eferen, dan efektor.
Adapun kegiatandalam lengkung refleks inidimulai pada reseptor
sensorik, sebagai potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan
kuat rangsang. Potensial reseptor ini akan membangkitkan potensial aksi
yang bersifatgagal atau tuntas

LBM 2 10
Padasaraf aferen. Frekuensi potensial aksi yang terbentuk akan
sebanding dengan besarnya potensial generator. Padasistem saraf pusat
(SSP), terjadi lagi responyang besarnya sebanding dengan kuat
rangsangyang berupa potensial eksitasipascasinaps (Excitatory
Postsynaptic Potential=EPSP) dan potensial inhibisi postsinaps
(Inhibitory Postsynaptic Potential=IPSP) dihubungan-hubungan saraf
(sinaps).
Respon yang timbul di serat eferen juga beruparepon yang bersifat
gagal atau tuntas. Bilapotensial aksi ini sampai ke efektor, maka akan
terjadi lagi responyang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Bila
efektornya berupa otot polos, maka akan terjadi sumasi responsehingga
dapat mencetuskan potensial aksidi otot polos. Akan tetapi, diefektor
yang berupa otot rangka, respon bertahap tersebut selalu cukup besar
untuk mencetuskan potensial aksi yang mampu menghasilkan kontraksi
otot. Perlu ditekankan bahwa hubungan antara neuron aferen dan eferen
biasanya terdapat di sistem saraf pusat,dan kegiatan didalam lengkung
refleks ini dapat dimodifikasi oleh berbagai masukan dari neuron lain
yang juga bersinap pada neuron eferen tersebut.
Refleks dapat terjadi secara monosinaps, disinaps, maupun
polisinaps. Apabila saraf sensorik (SN) langsung berhubungan dengan
saraf motorik (MN), maka dikatakan refleks monosinaps. Monosinaps
berarti ”satu sinapsis”; dengan demikian hanya terdapat satu hubungan
dalam spinal cord, yakni antara SN dengan MN, pada refleks
monosinaps. Contohnya adalah pada knee-jerkreflex, dimana SN pada
muscle spindle m. quadriceps femoristerhubung langsung dengan MN
pada serabut otot m. quadriceps femoris, mengakibatkan kontraksiotot
tersebut. Sedangkan disinaps menandakan adanya penghubung
interneuron (I) antara SN dan MN di dalamspinal cord, sehingga ada dua
sinapsis yang terjadi dalam busur refleks disinaps. Disinaps dapat terjadi
sebagai pelengkap dari monosinaps. Suatu pergerakan selalu berkaitan

LBM 2 11
dengan kontraksi dan relaksasi dua otot yang bekerja berlawanan. Knee-
jerk refleks melibatkankontraksi m. quadriceps femoris dan relaksasi otot
Hamstring (Ganong, 2006).
Relaksasi otot Hamstringmelibatkan interneuron sebagai
penghubung SN dan MN, sehingga dapat dikatakan ”setengah” dari
knee-jerk reflexterjadi secara disinaps. Refleks polisinaps terjadi apabila
SN dan MN terhubung oleh lebih dari satu interneuron (Tamarkin, 2006).
Sehingga ada dua lintasan di dalam medulla spinalis ketika refleks, yakni
langsung ke anterior motorneuron melalui lintasan monosinaptik, atau
melalui satu atau lebih interneuron sebelum berjalan ke
motorneuron(Guyton, 2006). Refleks somatik (refleks yang
mempengaruhi otot) pada =umumnya terjadi secara polisinaps, seperti
halnya flexor reflex, refleks jalan, refleks lari, loncat, memegang,
menggaruk, serta banyak lagi gerakan anggota tubuh yang terjadi secara
reflektoris. Tipe refleks terbagi menjadi tiga,yakni refleks tendon (deep
or tendon reflexes), refleks kulit (superficial or skin reflexes), dan refleks
viseral (organic or visceral reflexes). Tiga jenis refleks ini harus ada pada
orang sehat, dan pada kasus refleks viseral harus terjadi dikedua sisi
bagiantubuh.

3. Anatomi dan fisiologi Lower Motor Neuron dan Upper Motor


Neuron.
Segala aktivitas susunan saraf pusat yang dapat dilihat,
didengar, direkam, dan diperiksa berwujud gerak otot. Otot – otot
skeletal dan neuron – neuron menyusun susunan neuromuskular
voluntar, yaitu sistem yang mengurus dan sekaligus melaksanakan
gerakan yang dikendalikan oleh kemauan. (Columbia university,
2016)

Kerja volunter dari otot, berkaitan dengan serat otot panjang


yang berasal dari neuron kortikal dan berjalan ke bawah ke sel kornu

LBM 2 12
anterior medulla spinalis. Serat – serat ini membentuk traktus
kortikospinalis atau piramidalis. Serat – serat ini adalah akson dari
neuron yang terletak dalam regio motorik yaitu girus presentralis,
lebih spesifik lagi adalah pada area sitoarsitektonik Brodmann 4. Area
ini adalah lapangan yang agak sempit yang memanjang sepanjang
fissura sentralis, dari lateral atau fissura sylvii ke arah dorsomedial ke
tepi dorsal hemisfer dan dari sini ke bagian anterior lobulus
parasentralis pada sisi medial hemisfer. Berjalan tepat di depan
korteks sensorik girus postsentralis (Duus, 2014)

Susunan somatomotorik ialah susunan yang mengurus hal ihwal


gerakan otot-otot skeletal. Susunan itu terdiri dari 2 unsur yaitu unsur
sarafi dan unsur muskuli. Unsur sarafi terdiri dari upper motoneurone
dan lower motoneurone. Dalam genesis gerakan, bagian upper
motoneurone mengirim pesan kepada lower motoneurone untuk
mengadakan suatu corak gerakan. Unsur muskuli meruopakan
pelaksana corak gerakan yang dipesankan upper motoneurone, yang
terdiri dari motor end plate dan otot. Berdasarkan perbedaan anatomi
dan fisiologi, upper motoneurone harus dibagi lagi dalam susunan
piramidal dan ekstrapiramidal. (Ganong, 2009)

LBM 2 13
Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik ke LMN
tergolong dalam kelompok UMN. Berdasarkan perbedaan anatomik
dan fisiologik kelompok UMN dibagi dalam susunan piramidal dan
susunan extrapiramidal. (Columbia university, 2016)

A. Susunan Piramidal

Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik secara


langsung ke LMN atau melalui interneuronnya tergolong dalam
kelompok UMN. Neuron – neuron tersebut merupakan penghuni
gyrus presentralis. Oleh karena itu, girus tersebut dinamakan
korteks motorik. Mereka berada pada lapisan kelima dan masing –
masing memiliki hubungan dengan gerak otot tertentu. Gerak otot
seluruh belahan tubuh dapat dipetakan pada seluruh kawasan
korteks motorik sisi kontralateral. (Ganong, 2009)

Melalui aksonnya neuron korteks motorik menghubungi


motorneuron yang membentuk inti motorik saraf kranial dan
motorneuron di kornu anterior medulla spinalis. Akson – akson
tersebut menyusun jaras kortikobulbar – kortikospinal. Sebagai
berkas saraf yang kompak mereka turun dari korteks motorik dan
di tingkat talamus dan ganglia basalis mereka terdapat diantara
kedua bangunan tersebut, yang disebut dengan capsula interna.
(Columbia university, 2016)

1. Traktus Kortikonuklearis (Traktus Kortikobulbaris)


Serat-serat yang membentuk traktus kortikonuklearis
meninggalkan traktus piramidalis rostral pada tingkat otak tengah
dan melakukan perjalanan ke dorsal. Pada perjalanannya ke nuclei
saraf kranialis motorik beberapa serat ini menyilang dan beberapa
tetap tidak menyilang. Nuklei yang terlibat adalah nuclei saraf
kranialis yang mengontrol persarafan volunteer otot-otot wajah san

LBM 2 14
mulut saraf trigeminus ( N.V ), fasialis ( N.VII ), glosofaringeus
( N.IX ), vagus ( N.X ), asesoris (N.XI) dan hipoglosus ( N.XII).

Gambar 3 : traktus kortikobulbar

Impuls-impuls yang menghasilkan gerakan konjugat dari


mata adalah traktus kortikomesensefalik yang merupakan bagian
dari traktus kortikonuklearis. Setelah serat dari berkas ini
meninggalkan area 8 kemudian bergabung dengan serat traktus
piramidalis dalam korona radiate. Kemudian akan berjalan lebih
ventral dalam ekstremitas posterior kapsula interna, sampai
akhirnya berbelok ke kaudal dalam perjalanannya ke nuclei saraf
motorik dari mata : saraf okulomotoris (N.III), Troklearis ( N.IV ),
dan abdusens ( N.VI ). Impuls dari area 8 tidak dapat mempersarafi
otot mata secara individual. Saraf ini bekerja secara sinergik dalam
menghasilkan gerakan konjugat ke sisi yang berlawanan. Tidak
jelas dimana serat traktus kortikomesensefalik berakhir. Hanya
diketahui bahwa serat ini tidak bersinaps secara langsung dengan

LBM 2 15
neuron-neuron dalam nuclei okulomotor.(Columbia university,
2016)
Di tingkat medulla oblongata serabut – serabut piramidal
berkumpul kembali secara kompak didalam daerah yang
dinamakan piramis medullae oblongata. Sepanjang batang otak
serabut piramidal meninggalkan tempat induk mereka untuk
menyilang garis tengah batang otak dan berakhir di interneurone
yang berada di sekitar inti motorik saraf kontralateral. Sebagian
dari serabut itu berakhir di inti motorik saraf otak ipsilateral.
(Ganong, 2009)
Serabut piramidal yang tidak berakhir di tingkat medulla
oblongata melanjutkan perjalanannya ke medulla spinalis dan
mereka adalah serabuit kortikospinal. Pada peralihan antara
medulla oblongata dan medulla spinalis, kira – kira 85% dari
serabut kortikospinal membelok ke arah dorsolateral dan
menyilang garis tengah untuk kemudian menduduki tempat di
funikulus posterolateralis sisi kontralateral. Kelompok serabut ini
disebut traktus kortikospinalis lateralis atau traktus piramkidalis
lateralis, Serabut kortikospinal yang tidak menyilang, meneruskan
perjalanannya di bagian medial funikulus ventralis dan dinamakan
traktus kortikospinalis (piramidalis) ventralis (anterior). (Ganong,
2009)
2. Traktus Piramidalis ( Traktus Kortikospinalis )

Setelah meninggalkan korteks motorik serat traktus


kortikospinalis akan bergabung melewati korona radiata substansia
alba serebrum ke arah ekstremitas posterior kapsula interna dalam
urutan somatotropik dan memasuki bagian tengah pedunkulus otak
tengah kemudian merupakan serat-serat padat yang berjalan turun
melewati pusat setiap separuh basal pons yang dikelilingi oleh
sejumlah sel saraf nuclei pontis dan oleh berbagai serat-serat

LBM 2 16
sistem. Pada sambungan pontomedulat, traktus tersebut terlihat
dari luar dan membentuk juluran piramida yang terbaik pada setiap
sisi garis tengah frontal dari medulla, maka disebut Traktus
Piramidalis.(Duus, 2014)

Gambar 4 : traktus kortikospinal


Pada ujung akhir medulla oblongata 80%-85% serat dari
setiap traktus piramidalis menyilang ke sisi yang berlawanan dalam
decusatio piramidalis dan menjadi traktus kortikospinalis lateral,
sisanya akan terus berjalan ke bawah dan tidak menyilang, masuk
dalam funikulus anterior sebagai traktus kortikospinalis anterior,
serat-serat ini menyilang pada tingkat segmental melalui komisura
inferior medulläre : Pada segmen cervical dan thoraks medulla
spinalis, beberapa serat mungkin berhubungan dengan sel komu
anterior dari sisi yang sama, sehingga otot-otot leher dari tubuh
menerima persarafan kortikal dari kedua sisi.(Columbia university,
2016)
Serat yang menyilang pada lokasi dekusatio piramidalis,
berjalan turun sebagai traktus kortikospinalis lateral melalui
funikulus lateral, menjadi lebih kecil dan makin kecil ke bagian

LBM 2 17
lumbal, karena serat-serat tersebut terus bercabang-cabang. Sekitar
80% serat-serat tersebut bersinaps dengan neuron internunsial,
yang akan berhubungan dengan sel yang besar di kornu anterior
seperti sel gama motor neuron.(Ganong, 2009)
B. Susunan Ekstrapiramidal
Komponen extrapiramidal terdiri atas : korpus striatum,
globus pallidus, inti – inti talamik, nukleus subtalamikus,
substansia nigra, formasio retikularis batang otak, serebellum, dan
korteks motorik tambahan yaitu area 4, area 6, area 8. Komponen
tersebut dihubungkan satu dengan lain oleh akson masing – masing
komponnen itu. Dengan demikian, terdapat lintasan yang
melingkar yang dikenal sebagai sirkuit. Oleh karena korpus
striatum merupakan penerima tunggal dari serabut – serabut
segenap nokorteks, maka lintasan sirkuit dinamakan sirkuit striatal.
(Columbia university, 2016)
Tibanya impul itu di korteks piramidalis dan
ekstrapiramidalis mengakibatkam dicetuskannya impuls
piramidalis untuk membangkitkan suatu gerakan voluntar dan
timbulnya impuls ektrapiramidalis yang akan membangkitkan
gerakan sekutu, yang memperlengkapkan gerakan voluntar.
(Ganong, 2009.
Secara sederhana dan bersifat hipotetik telah ditemukan 3
macam lintasan melingkar atau sirkuit :
1. Lintasan sirkuit pertama

Lingkaran yang disusun oleh jaras-jaras penghubung


berbagai inti melewati korteks piramidalis (area 4), area 6,
oliva inferior, inti inti pontis, korteks serebelli, nukleus
dentatus, nukleus rubber, nukleus ventrolateralis talami,
korteks piramidalis dan ekstrapiramidalis. Peranan sirkuit ini
memberikan feedback kepada korteks piramidalis dan

LBM 2 18
ekstrapiramidalis yang berasal dari korteks serebellum.
Gangguan feedback lintasan ini timbul ataxia, dismetria, tremor
sewaktu gerakan voluntar berlangsung.(Ganong, 2009)

2. Lintasan sirkuit kedua

Lingkaran ini menghubungkan korteks area 4 dan area 6


dengan korteks motorik piramidalis dan ekstrapiramidalis
melalui substansia nigra, globus pallidus, nukleus
ventrolateralis talami. Tujuan pengelolaan impuls piramidalis
dan ekstrapiramidalis untuk mengadakan inhibisi terhadap
korteks piramidalis dan ekstrapiramidalis, agar gerakan
voluntar yang bangkit memiliki ketangkasan yang sesuai.
Gangguan pada substansia nigra menimbulkan tremor sewaktu
istirahat, gejala motorik lain, dan seringditemukan pada
sindroma parkinson. (Ganong, 2009)

3. Lintasan sirkuit ketiga

Merupakan lintasan bagi impuls yang dicetuskan di area


8 dan area 4S untuk diolah secara berturut-turut oleh nukleus
kaudatus, globus pallidus, nukleus ventrolateralis talami. Hasil
pengolahan ini dengan dicetuskan impuls oleh nucleus
ventrolateralis talami yang dipancarkannya ke korteks
piramidalis dan extrapiramidalis (area 6). Impuls terakhir ini
melakukan tugas inhibisi, sebagian impuls ini disampaikan oleh
globus pallidus kepada nukleus luysii. Bila area 4S dan 6 tidak
dikelola oleh impuls tersebut maka timbul gerakan involunter
(gerakan spontan yang tidak dapat dikendalikan), khorea, dan
atetosis.(Ganong, 2009)

LBM 2 19
Tugas motoneuron hanya menggalakkan sel sel serabut
otot sehingga timbul gerak otot. Tugas untuk menghambat
gerak otot tidak dipercayakan kepada motoneuron melainkan
kepada interneuron. Sel tersebut menjadi sel penghubung
antara motoneuron dengan pusat eksitasi atau pusat inhibisi
yang berlokasi di formasio retikularis batang otak.
Penghambatan yang dilakukan oleh interneuron dapat juga
terjadi atas tibanya impuls dari motoneuron yang disampaikan
kembali kepada motoneuron. Interneuron itu dikenal sebagai
sel Renshaw(Columbia university, 2016)

I. Motor end plate

Ujung – ujung akson motoneuron mengembung dan melipatkan


dirinya dalam lipatan membran motor end plate. Gelembung -
gelembung ujung akson mengandung banyak mitokondria dan
partikel yang berbrntuk globular, partikel yang globular tersebut
merupakan penimbunan asetilkolin. Jika impuls motorik tiba pada
gelembung ujung akson, partikel – partikel tersebut terpecah dan
asetilkolin bebeas dikeluarkan dalam ruang bebas synaptic gap.
Asetilkolin ini merendahkan potensial membran moto end plate
sehingga terjadi depolarisasi yang menghasilkan gaya untuk
merangsang sel – sel otot yang terletak dalam sarkoplasma motor
end plate.(Ganong, 2009)

II. Otot skeletal

Otot merupakan jaringan yang dapat digalakkan. Kegiatan otot


skeletal berupa kontraksi yaitu memendekkan dirinya. Dengan
demikian karya otot dipergunakan untuk memindahkan bagian
bagian skelet, yang berarti suatu gerakan terjadi. (Ganong, 2009)

LBM 2 20
Sistem motorik berhubungan dengan sistem neuromuskular.
sistem neuromuskular terdiri atas Upper motor neurons (UMN)
dan lower motor neuron (LMN). Upper motor neurons (UMN)
merupakan kumpulan saraf-saraf motorik yang menyalurkan
impuls dan area motorik di korteks motorik sampai inti-inti
motorik di saraf kranial di batang otak atau kornu anterior medula
spinalis. Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok
UMN dibagi dalam susunan piramidal dan susunan
ekstrapiramidal. Susunan piramidal terdiri dari traktus
kortikospinal dan traktus kortikobulbar.Traktus kortikobulbar
fungsinya untuk geraakan-gerakan otot kepala dan leher,
sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-gerakan
otot tubuh dan anggota gerak.(Columbia university, 2016)
Melalui lower motor neuron (LMN), yang merupakan
kumpulan saraf-saraf motorik yang berasal dari batang otak, pesan
tersebut dari otak dilanjutkan  ke berbagai otot dalam tubuh
seseorang. Kedua saraf motorik tersebut mempunyai peranan
penting di dalam sistem neuromuscular tubuh. Sistem ini yang
memungkinkan tubuh kita untuk bergerak secara terencana dan
terukur.(Columbia university, 2016)

LBM 2 21
Gambar 5: synaps

4. Neurofisiologi saraf sensorik.


Somatosensorik adalah sensasi-sensasi dari badan dan
pergerakannya.Stimulus yang direspon oleh sistem somatosensorik adalah
sentuhan pembeda (yang mengenali bentuk sebuah objek), tekanan kuat, dingin,
hangat, nyeri, gatal, geli,  posisi serta pergerakan sendi.Sistem somatosensorik
bergantung pada beragam reseptor yang sensitive terhadap stimulasi yang
berbeda pada kulit dan jaringan internal. Otak mempertahankan beberapa
perwakilan somatosensorik tubuh yang parallel. Stimulus berupa luka
mengeksitasi reseptor nyeri yang merupakan ujung saraf yang tidak bercabang.
Beberapa reseptor nyeri juga memberikan respon terhadap panas, asam, panas
dan kapsaisin (senyawa kimia yang menyebabkan cabai terasa pedas)

Reseptor somatosensorik dan fungsinya 

Reseptor Lokasi Merespon

Ujung saraf bebas (akson Pangkal rambut dan Nyeri, hangat dan dingin
yang tidak bermielin atau beberapa lokasi lain
LBM 2 22
tipis) didalam kulit 

Reseptor folikel rambut  Kulit yang ditumbuhi Pergerakan rambut 


rambut 

Korpuskula pacini  Kulit yang ditumbuhi Perubahan posisi kulit


rambut dan yang tidak secara mendadak atau
berambut  getaran berfrekuensi tinggi 

Korkuskula meissner  Kulit tak berambut  Perubahan posisi kulit


secara mendadak atau
getaran berfrekuensi
rendah( geletar)

Lempeng merkel  Kulit yang ditumbuhi Sentuhan berarah pada kulit 


rambut dan yang tidak
berambut 

Ujung saraf ruffini  Kulit yang ditumbuhi Peregangan kulit 


rambut dan yang tidak
berambut 

Bonggol Krause  Sebagian besar atau Belum diketahui dengan


seluruhnya terletak pada pasti
kulit yang tidak berambut,
mungkin termasuk kulit
kelamin

  

5. Neurofisiologi saraf motorik.


Organisasi sistem somatosensorik dilakukan berdasarkan tingkat pengontrolan
oleh neuron motorik tingkat tinggi (Upper motor neuron (UMN): neuron corteks
cerebri; ganglia basalis dan cerebellum) dan neuron motorik tingkat rendah (lower
motor neuron (LMN): kornu ventralis medulla spinalis dan neuron motorik di batang
otak) yang akan dipengaruhi oleh adanya komando dari neuron yang lebih tinggi yang
menerima umpan balik dari sistem sensorik. Pada medulla spinalis terdapat interneuron
yang akan menjadi penghubung terjadinya refleks yang merupakan hasil dari koordinasi

LBM 2 23
gerak dari satu atau kedua ekstremitas tubuh.Sistem motorik pada medulla spinalis juga
akan mengontrol otot dalam kontrol posisi tubuh, berjalan dan bernafas. Korteks
motorik terorganisir secara somatotopik yang berarti bahwa setiap bagian dari efektor
memiliki pusat kontrol yang berbeda pada korteks cerebri. Ganglia basalis dan
cerebellum merupakan daerah yang penting pada proses pengontrolan gerakan.
Pengontrolan gerakan dilakukan tidak dengan mengontrol LMN dan sirkuit lokal namun
dengan cara mengirimkan impuls ke UMN lain. Sistem somatomotorik menerima
informasi dari system sensorik tentang keadaan lingkungan, posisi dan orientasi tubuh
dan ekstremitas serta tingkat kontraksi otot sehingga dapat menyesuaikan dalam
melakukan gerakan selanjutnya.
 LMN akan mengirimkan akson yang membentuk sinapsis dengan otot skelet.
Pada ujung akson terjadi pengeluaran neurotransmiter yang akan diterima oleh reseptor
pada otot skelet. Efek dari ikatan neurotransmitter dan reseptornya tersebut adalah
terjadinya kontraksi otot skelet. Pada medulla spinalis badan sel LMN terletak pada
cornu ventralis dan terorganisir secara somatotopik. Bagian medial mengandung motor
neuron yang menginervasi otot aksial atau proximal sedangkan bangian lateral akan
menginervasi otot yang lebih distal pada ekstremitas. Pada tingkat ini juga terdapat
sirkuit lokal yang akan menghubungkan system sensorik degan neuron motorik pada
tingkat yang sama.Walaupun sirkuit lokal pada medulla spinalis dan batang otak dapat
mengontrol gerakan secara kasar, namun pengontrolan oleh UMN tetaplah penting
dalam memproduksi gerakan yang terkoordinasi secara halus terutama pada otot-otot
bagian distal ekstremitas, otot lidah dan otot wajah yang penting dalam berperilaku
sehari-hari. Akson pada dua rangkaian jalur UMN akan mempengaruhi sirkuit lokal
pada pada medulla spinalis dan batang otak untuk memproduksi gerakan.
Jalur pertama berasal dari neuron di batang otak terutama pada nuklus
vestibularis dan formasi reticularis yang berpengaruh pada regulasi posisi tubuh.
Formasi reticularis terutama berperan penting pada kontrol feedforward posisi tubuh
seperti ketika ada gerakan yang akan mengantisipasi adanya perubahan pada stabilitas
tubuh. Neuron pada nukleus vestibularis yang akan diproyeksikan ke medulla spinalis
berperan dalam feedback mekanisme regulasi posisi tubuh seperti memproduksi
gerakan yang ditimbulkan sebagai respon terhadap sinyal sensorik yang
mengindikasikan adanya perubahan posisi. Jalur kedua pada UMN adalah yang berasal
dari lobus frontalis dan melibatkan proyeksi dari korteks motorik dan area premotor.
Korteks premotorik berperan dalam perencanaan dan pemilihan gerakan
sedangkan korteks motorik berperan dalam eksekusi rencana tersebut. Selain langsung
memberikan sinyal ke sirkuit lokal di medulla spinalis dan batang otak, korteks motorik

LBM 2 24
juga mempengaruhi gerakan dengan memberikan sinyal secara tidak langsung melalui
sinyal ke UMN di batang otak (red nucleus dan formasi reticularis) yang kemudian akan
memberi pengaruh ke LMN. (Guyton, 2008)

6. Neurofisiologi saraf otonom.


Sistem saraf motorik secara garis besar dibagi atas sistem
otonom dan somatik. Sistem saraf otonom sesuai dengan namanya
bersifat otonom (independen) dimana aktifitasnya tidak dibawah
kontrol kesadaran secara langsung. Sistem saraf otonom (SSO)
terutama berfungsi dalam pengaturan fungsi organ dalam seperti curah
jatung, aliran darah ke berbagai organ, sekresi dan motilitas
gastrointestinal, kelenjar keringat dan temperatur tubuh. Aktifasi SSO
secara prinsip terjadi dipusat di hipothalamus, batang otak dan
spinalis. Impuls akan diteruskan melalui sistem simpatis dan
parasimpatis (Indra, 2012).

Bagian mototrik perifer sistem saraf otonom terdiri atas neuron


praganglion dan pasacganglion. Badan sel neuron pragangllion
terletak di kolumna grisea intermediolateral eferen visceral (IML)
medulla spinalis atau di nukelus motorik homolog saraf otak.
Aksonnya sebagian besar merupakan serabut B penghantar yang
relatif lambat dan bermielin. Akson-akson tersebuut bersinaps di
badan sel neuron pascaganglion yang terletak diluar sistem saraf
pusat. Setiap akson praganglion terbagi menjadi sekitar delapan atau
sembilan neuron pascaganglion, persarafan otonom bersifat difus.
Akson neuron pascaganglion, yang sebagian besar merupakan serabut
C tak bermielin, berakhir di efektor viseera. Secara anatomis,
persarafan otonom dibagi menjadi dua komponen: divisi simpatik dan
divisi parasimpatik system saraf otonom (Ganong, 2013).

A. Divisi Simpatik

LBM 2 25
Akson neuron praganglion simpatik meninggalkan medulla
spinalis bersama radiks ventralis saraf T1 sampai saraf spinal L3
atau L4. Akson-akson ini berjalan melalui rami communicantes
albi ke rantai ganglion simpatik paravertebral, dan sebagian besar
berakhir di badan sel neuron pascaganglion berjalan ke visera
dalam berbagai saraf simpatik. Sebagian lain masuk kembali ke
dalam saraf spinal melalui rami communicantes grisei dari rantai
ganglion dan disebarkan ke efektor otonom di daerah yang
dipersarafi oleh saraf spinal tersebut. Saraf simpatik pascaganglion
untuk kepala berasal dari ganglia superior, media, dan stelata di
perluasan kranial rantai ganglion simpatik dan berjalan ke efektor
bersama pembuluh darah. Sebagian neuron praganglion berjalan
melalui rantai ganglion paravertebra dan berakhir di neuron
pascaganglion yang terletak pada ganglion kolateral dekat visera
tersebut. Sebagian uterus, organ seks dan genitalia pria dipersarafi
oleh suatu sistem khusus, neuron noradrenergik pendek dengan
badan sel di ganglion yang terletak pada atau dekat organ tersebut,
sedangkan serabut praganglion untuk neuron pascaganglion
berjalan sampai ke organnya. Reaksi simpatis adalah lebih bersifat
reaksi masal yaitu “to fight or to flight”. Serabut simpatis
pascaganglion melepaskan noradrenalin (serabut neuron
adrenergik) (Ganong, 2013).

B. Divisi Parasimpatik

Akson preganglioner keluar bersama saraf otak dan saraf


tepi sakralis. Badan sel neuron pascaganglion terletak di perifer
disuatu ganglion kecil yang terletak lebih dekat pada visera
daripada susunan saraf pusat, bahkan dapat terletak dalam dinding
visera. Kranial divisi parasimpatik mempersarafi struktur visera di
kepala melalui nervus okulomotorius, fasialis dan glosofaringeus,

LBM 2 26
serta struktur dalam toraks dan abdomen bagian atas melalui saraf
vagus. Keluaran sakral mempersarafi organ panggul melalui
cabang pelvis saraf spinal S2-S4. Reaksi parasimpatis bersifat
lokal anabolic, sekretorik dan reproduktif. Serabut parasimpatis
pascaganglioner melepaskan asetilkolin (serabut neuron
kolinergik) (Ganong, 2013).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil diskusi dari kelompok kami gerak refleks yang
terjadi pada tangan arif adalah respons dari rangsangan yang terjadi ketika
terkana api. Gerak refleks ini terjadi melaui jalur pendek yang dinamakan
lengkung refleks atau refleks arc.

LBM 2 27
LBM 2 28
DAFTAR PUSTAKA
Duus, Peter. 2014. Diagnosis Topik Neurologi. Sistem Motorik. EGC. Jakarta. pp
31-73
Feriyawati, Lita. 2005.Anatomi Sistem Saraf Dan Peranannya Dalam Regulasi
Kontraksi Otot Rangka. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Ganong, W. F. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta:
EGC.
Ganong, W. F. 2013. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Hal 235-236.
Heryati, eusti dan Nur Fafizah. 208. Psikilogi
Faal.http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND. Diakses pada tanggal
28 februari 2019.
Indra, I. 2012. Aktivitas Otonom. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 12(3): 180-186.
Indriana, Luzi Jazmi. 2017. Lengkung
Reflek.https://kupdf.net/download/lengkung-
refleks_58cb82efdc0d60d411c34625_pdf. Diakses tanggal 28 Februari
2019.
Lillah, P. N. 2012. Rancang Bangun Electrical Stimulator Berbasis “Nervous
System”. Columbia Encyclopedia. Columbia University Press.
https://www.columbia.edu/nervoussytem/2016
Mikrokontroler Sebagai Pengganti Palu Refleks (Hammer Reflex). Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.
Richard S. Snell. 2011. “Neuroanatomi Klinik”. Jakarta : EGC
Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia : dari sel ke system. Edisi 8. Jakarta: EGC.
2014
.

LBM 2 29