Anda di halaman 1dari 25

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

MAKALAH
PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI

Disusun Oleh:

Nama : Amsor Chairuddin


NPM : 93218003
Jurusan : Teknik Sipil – Manajemen Rekayasa Infrastruktur
Dosen : Dr. Heri Suprapto

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah


Pemeliharaan Infrastruktur (VClass Pertemuan – 2)

JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun sebagai bentuk tanggung
jawab mahasiswa dalam memenuhi tugas mata kuliah Pemeliharaan
Infrastruktur – Pasca Sarjana jurusan Manajemen Rekayasa Infrastruktur.
Penyusunan makalah ini kami mendapatkan banyak bantuan dari berbagai
pihak. Maka, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma.
2. Dr. Heri Suprapto, selaku Dosen Pengajar
3. Orang Tua Penulis dan Semua pihak yang telah membantu penulis menyusun
makalah ini.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan tugas
akhir ini, namun penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan koreksi, kritik, dan saran dari pembaca sebagai masukkan
untuk penyusunan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan penulis serta dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi para
pembaca yang hendak menyusun makalah berikutnya.

Jakarta, April 2020


Penulis

(Amsor Chairuddin)

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................... 1
1.2 TUJUAN ........................................................................................ 3
1.3 METODE PENELITIAN ............................................................... 3

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI ......................................... 4
2.2 PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR JALAN ......................... 14

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 KESIMPULAN ............................................................................ 20
3.2 SARAN ........................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 21

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.504
pulau dengan total wilayah daratan 1.913.578,68 km2 dan menempati peringkat
keempat dari 10 negara berpopulasi terbesar di dunia (sekitar 220 juta jiwa).
Dengan kondisi geografis tersebut, maka akan sulit untuk menghubungkan seluruh
daerah tanpa sarana transportasi yang memadai. Di zaman modern seperti saat ini,
kebutuhan transportasi merupakan salah satu kebutuhan penting sebagai akibat dari
kegiatan ekonomi, sosial, dan sebagainya yang menuntut peningkatan mobilitas
penduduk maupun sumber daya lainnya dengan cepat.
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan pembangunan di pedesaan, perkotaan maupun di negara-negara yang
sedang berkembang seperti Indonesia. Transportasi adalah kegiatan pemindahan
barang (muatan) dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan
adanya transportasi diharapkan dapat menghilangkan isolasi dan memberi stimulan
ke arah perkembangan di semua bidang kehidupan, baik perdagangan, industri
maupun sektor lainnya dapat merata disemua daerah.
Jalan sebagai bagian salah satu sistem prasarana transportasi yang
merupakan urat nadi kehidupan masyarakat dalam mejalankan aktifitas dan
penggerak roda perekonomian, yang mempunyai peranan penting dalam usaha
pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam mendukung
bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan yang dikembangkan melalui
pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan
pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkokoh kesatuan nasional untuk
memantapkan pertahanan dan keamanan nasional, serta membentuk struktur ruang
dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan nasional.

1
Perencanaan konstruksi jalan didasarkan atas prakiraan beban lalulintas
yang melewatinya dengan mengkonversikannya menjadi satuan mobil penumpang
(SMP), beban per roda kendaraan, dan jumlah roda kendaraan. Beban kumulatif
lalulintas tersebut menjadi masukan untuk memperhitungkan kekuatan lapis-lapis
konstruksi jalan. Sesuai dengan fungsi jalan, beban maksimum ditetapkan antara 8
ton dan 12 ton, sehingga secara teoritis masa layan jalan dapat diperhitungkan.
Menurut metode Pangkat Empat (fourth factor method), penambahan beban per
roda kendaraan mengakibatkan tingkat kerusakan sebesar pangkat empat rasio
antara beban nyata yang bekerja dan beban standar. Artinya, penambahan beban
tersebut akan sangat mempengaruhi umur layan jalan yang menjadi jauh lebih
pendek karena faktor pangkat empat tersebut. Kerusakan dini dengan segera dapat
terjadi, apabila beban lalulintas melebihi beban standar rencana.
Masyarakat sebagai pengguna fasilitas pemerintah harus ikut serta
berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas umum terutama jalan karena
pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan akan sangat di tentukan oleh
kualitas hubungan antara pemerintah dan masyarakat, seperti yang tertulis dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Pasal 118 masyarakat dapat ikut
berperan dalam pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan.
Pemerintah sebagai lembaga superior harus dengan tulus membuka ruang dan
kesepampatan bagi warga untuk ikut dalam penentuan kebijakan sehingga akan
terjadi keharmonisasian antara pemerintah dan masyarakat.
Pemeliharaan infrastruktur transportasi diperlukan untuk mendapat
kekuatan dan daya layan sesuai standar hingga memenuhi umur rencana dari
infrastruktur transportasi tersebut. Perilaku pengemudi atau pengusaha angkutan
truk tersebut lebih mengutamakan efisiensi dari satu sudut pandang biaya
transportasi yang lebih rendah. Kerugian yang diderita akibat kerusakan jalan
menjadi pertimbangan terakhir. Meski pada saatnya apabila jalan tersebut rusak dan
mengakibatkan turunnya kecepatan, biaya transportasi justru akan menjadi semakin
tinggi. Biaya yang harus ditanggung bukan saja biaya transportasi tetapi juga
mencakup biaya kerusakan kendaraan yang sangat mungkin terjadi karena
guncangan dan ketidakstabilan gerakan kendaraan.

2
1.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah Pemeliharaan Infrastruktur Transportasi
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui konsep pemeliharaan infrastuktur transportasi
2. Mengidentifikasi permasalahan pemeliharaan infrastruktur transportasi
3. Mengetahui metode pemeliharaan infrastruktur transportasi

1.3 METODE PENELITIAN


Bagan alur/flowchart penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

Gambar 1.1 Bagan Alur Penyusunan Makalah

3
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI


Salah satu infrastruktur yang memiliki peran penting dalam mendukung
manusia untuk dapat melakukan aktivitasnya adalah infrastruktur transportasi.
Infrastruktur transportasi merupakan suatu bentuk pelayanan penyediaan fasilitas
transportasi, baik sarana (moda) maupun prasarana yang akan memudahkan
manusia untuk melakukan pergerakan dalam melakukan aktivitasnya. Infrastruktur
Transportasi baik transportasi darat, laut maupun udara merupakan sarana yang
sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
wilayah sehingga sering disebut sebagai urat nadi perekonomian disamping
fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa. Dalam kaitannya dengan sektor-sektor
perekonomian, infrastruktur transportasi berperan sebagai perangsang tumbuhnya
sektor-sektor perekonomian baru dan berkembangnya sektor-sektor perekonomian
yang sudah ada.
Sebagai perangsang, infrastruktur transportasi dapat difungsikan secara
aktif untuk menggerakkan perekonomian daerah yang didahului dengan
pembangunan infrastruktur transportasi. Dengan adanya infrastruktur transportasi,
kegiatan-kegiatan sektor ekonomi lainnya akan tumbuh dan berkembang (trade
follows the ship). Pembangunan infrastruktur transportasi dengan tujuan seperti ini,
dilakukan dalam rangka pembangunan wilayah atau daerah-daerah terpencil,
dimana kegiatan ekonomi dan perdagangan belum berjalan dengan baik. Dalam
konteks pembangunan infrastruktur jalan, kebijakan diarahkan pada pembangunan
jalan baru atau pembuatan jalan interkoneksi.
Infrastruktur transportasi dalam fungsinya sebagai fasilitas publik
memberikan pelayanan publik bagi masyarakat yaitu:
1. Mendorong pemerataan pembangunan;
2. Melayani kebutuhan pergerakan masyarakat dengan harga yang terjangkau;

4
3. Memperlancar mobilitas distribusi barang dan jasa;
4. Mendorong pertumbuhan sektor ekonomi lainnya.
Dalam kaitannya dengan sektor antara, infrastruktur transportasi
menghubungkan berbagai macam aktivitas ekonomi, merupakan prasarana
penghubung antar daerah dan memudahkan mobilitas penduduk serta
memperlancar lalu lintas barang antar daerah maupun pengiriman barang ke luar
negeri.

2.2.1 Definisi Transportasi


Terdapat beberapa definisi dari transportasi yang berkembang saat ini,
Morlok (1978) mendefinisikan transportasi sebagai pemindahan atau pengangkutan
sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Bowersox (1981) mendefinisikan sebagai
perpindahan barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dimana produk
yang digerakkan atau dipindahkan tersebut dibutuhkan atau diinginkan oleh lokasi
yang lain tersebut. Sedangkan Papacostas (1987) mendefinisikan transportasi
sebagai suatu sistem yang terdiri dari fasilitas tetap (fixed facilities)/prasarana,
besaran arus (flow entities)/sarana dan sistem pengendalian (control sistem) yang
memungkinkan orang atau barang dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain
secara efisien setiap waktu untuk mendukung aktivitas manusia. Sehingga secara
umum dapat disimpulkan bahwa transportasi merupakan suatu kegiatan untuk
memindahkan orang ataupun barang dari suatu tempat ke tempat lain yang terpisah
secara spasial, baik dengan atau tanpa sarana, dimana perpindahan yang dilakukan
melalui suatu jalur yaitu prasarana.

2.2.2 Sistem Transportasi


Menurut Morlok (1991), terdapat beberapa yang merupakan komponen
utama dari transportasi, yaitu:
1. Manusia dan barang (yang diangkut)
2. Kendaraan dan peti kemas (alat angkut)
3. Jalan (tempat alat angkut bergerak)

5
4. Terminal (tempat memasukkan dan mengeluarkan yang diangkut ke dalam
dan dari alat angkut)
5. Sistem pengoperasian (yang mengatur 4 komponen menusia/barang,
kendaraan/peti kemas, jalan dan terminal).
Sedangkan menurut Manheim (1979) komponen utama dari transportasi
hanya meliputi:
1. Jalan dan terminal
2. Kendaraan, dan
3. Sistem pengelolaan
Berdasatkan komponen-komponen diatas dapat diartikan sistem
transportasi adalah gabungan elemen jalan dan terminal, kendaraan dan sistem
pengoperasian yang saling berkait dan bekerja sama dalam mengantisipasi
permintaan dari manusia dan barang. Transportasi sebagai sistem mencakup sistem
prasarana yaitu jalur dan simpul terjadinya pergerakan, sistem sarana yaitu moda
atau alat untuk melakukan pergerakan, dan sistem pengendalian atau pengaturan
yang memungkinkan pergerakan tersebut dapat berjalan dengan efisien, lancar,
aman dan teratur. Bagan yang menggambarkan sistem transportasi dapat dilihat
pada Gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1 Bagan Alur Sistem Transportasi


Sumber: Miro, 1997

6
2.2.3 Prasarana Transportasi
Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting di
kota, karena berkaitan dengan kebutuhan setiap orang yang ada di kota bagi setiap
lapisan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan dan kelancara transportasi
sebagai berikut:
1. Teknik Perlalulintasan
a. Karakteristik volume lalu lintas
Lalu Lintas Harian/ LHR yang diukur pada jam tertentu dimana
pergerakan lalulintas cenderung ramai.
Pagi Jam 6.00 – 9.00
Sore Jam 17.00 – 19.00
b. Kapasitas Jalan
Faktor yang mempengaruhi kapasitas persimpangan jalan:
• Adanya kendaraan truk dalam arus lalu lintas.
• Jumlah kendaraan yang berbelok ke kiri dan ke kanan.
• Diperbolehkan berhenti.
• Diperbolehkan parkir.

Tabel 2.1 Kapasitas Jalan


Kecepatan 2 Lajur, Kedua lajur 4 Lajur, tiap lajur
(Km/ Jam) (SMP per jam) (SMP per jam)
80 - 90 600 50
70 - 80 900 1.000
60 - 70 1.500 1.500
Kapasitas yang mungkin 2.000 2.000
Sumber: Ir. Budi D Sinulingga, 1999

Tabel 2.2 Kapasitas Jalan


Lebar Lajur (m) 3,50 3,20 3,00 2,75
Kapasitas (%) 100 88 81 76
Sumber: Ir. Budi D Sinulingga, 1999

7
c. Asal dan Tujuan Lalu Lintas (Origin and Destination)
• Pembukaan ruas jalan baru.
• Pelebaran jalan.
• Peningkatan kualitas jalan.
• Penyediaan angkutan publik.
d. Pembangkit Lalu Lintas (Traffic Generator)
• Industri
• Bisnis/Perdagangan
• Perumahan/Pemukiman
e. Satuan Mobil Penumpang (SHP)

Tabel 2.3 Satuam Mobil Penumpang (SHP)

Jenis Kendaraan Jalan Luar Kota Jalan Dalam Kota


Mobil Pribadi, Taksi 1,0 1,0
Truk Besar 3,0 2,0
Bus Besar 3,0 3,0
Sumber: Ir. Budi D Sinulingga, 1999

2. Jaringan Jalan

Gambar 2.2 Jaringan Jalan

8
a. Bagian-bagian Jalan
PP No. 26 Tahun 1985
• Daerah Manfaat Jalan
• Daerah Milik Jalan
• Daerah Pengawasan Jalan
Bagian-bagian jalan digambarkan pada Gambar 2.3 berikut:

Gambar 2.3 Bagian-bagian Jalan

b. Jalan Bebas Hambatan


• Jalan bebas hambatan (express way) berfungsi untuk menampung
pergerakan lalu lintas yang sangat besar dari suatu wilayah ke
wilayah lain dan melewati kota untuk mengurangi kemacetan lalu
lintas (Woods, 1960 hal. 4-31).
• Ciri utama dari jalan bebas hambatan adalah tidak dapat dipotong
langsung oleh jalan lain
c. Jalan Arteri
• Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan
agak jauh, kecepatan rata-rata agak tinggi dan jumlah jalan masuk
dibatasi secara efesien (UU No. 13/1980 Pasal 4)
• Berfungsi menguhubungkan pusat-pusat pembangkit lalu lintas di
kota.
• Terbagi kedalam fungsi primer dan fungsi sekunder (PP No. 26
Tahun 1985)

9
Tabel 2.4 Jenis Jalan Arteri

Sumber: Ir. Budi D Sinulingga, 1999

Gambar 2.4 Kondisi Penampang Jalan Arteri Ideal

Gambar 2.5 Kondisi Penampang Jalan Arteri Minimal

10
d. Sistem Jaringan Jalan Kolektor
• Jalan yang melayani angkutan pengumpulan/pembagian dengan ciri-
ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah
jalan masuk dibatasi. (UU No. 13 Tahun 1980)
• Menghubungkan kota orde ke dua dengan kota orde kedua

Tabel 2.5 Jenis Jalan Kolektor

Sumber: Ir. Budi D Sinulingga, 1999

Gambar 2.6 Kondisi Penampang Jalan Arteri Ideal

11
Gambar 2.7 Kondisi Penampang Jalan Arteri Minimal

e. Sistem Jaringan Jalan Lokal


• Lokal primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat kota
dari orde 1, orde 2, dengan pensil-pensil pada kawasan yang
berfungsi regional.
• Kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam
• Lebar badan jalan minimal 6m
• Lokal sekunder adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat kota
dengan perumahan
• Kecepatan rencana paling rendah 10 km/jam
• Lebar badan jalan minimal 5m
f. Pembinaan Jalan
Tanggung jawab pembinaan jalan dikaitkan dengan system
pemerintahan Republik Indonesia yang juga menyangkut keberadaan
pemerintah daerah tingkai I dan daerah tingkat II diuraikan dalam PP
No. 26 Tahun 1995 tentang jalan sebagai berikut:
• Jalan Nasional, merupakan tanggung jawab pemerintah pusat,
meliputi: jalan arteri primer, jalan kolektor primer yang
menghubungkan antara ibukota provinsi, jalan strategis nasional.

12
• Jalan Provinsi, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah
tingkat 1, meliputi: jalan kolektor primer yang menghubungkan
antara ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kotamadya, jalan
kolektor primer yang menghubungkan antara ibukota
kabupaten/kotamadya
• Jalan Kabupaten/Kotamadya, merupakan tanggung jawab
pemerintah daerah tingkat II, meliputi: jalan kolektor primer, jalan
lokal primer, jalan sekunder yang berfungsi sebagai arteri, kolektor
dan lokal
g. Pembangunan Jaringan Jalan
• RPJMD dan RPJPD
• Evaluasi pelaksanaan rencana tata ruang kota
• Perhitungan lalu lintas (traffic count)
• Survai asal tujua untuk mengetahui garis keinginan (desire line)
lalu lintas untuk menyusun program pelebaran dan pembukaan
jaringan jalan baru

3. Jaringan Kereta Api


4. Perparkiran
5. Sarana Transportasi Umum
6. Terminal

13
2.2 PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR JALAN
Peraturan Pemerintan Nomor 6 tahun 2006 menjelaskan bahwa
Pemeliharaan aset yaitu kegiatan menjaga kualitas dari kondisi suatu asset yang
digunakan dan dimanfaatkan. Pemeliharaan Aset dalam hal ini yang dimaksud
adalah aset jalan. Pemeliharaan Jalan, secara fisik bisa berarti seluruh kesatuan
kegiatan langsung untuk menjaga suatu struktur agar tetap dalam kondisi mampu
melayani. Pekerjaan pemeliharaan konstruksi jalan merupakan pekerjaan yang
penting untuk dilaksanakan karena konstruksi jalan merupakan investasi modal
yang besar sehingga apabila pelaksanaaannya diabaikan akan membutuhkan biaya
rekonstruksi yang sangat mahal untuk bisa mempertahankan performance standard
(perbaikan ke standar kondisi yang layak).

2.2.1 Tujuan Pemeliharaan Infrastruktur Jalan


1. Mempertahankan kondisi jalan
Mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi dalam melayani lalu
lintas sehingga keselamatan lalu lintas terjamin dan pelayanan jalan meningkat.
Artinya kecelakaan yang diakibatkan oleh konsidi jalan yang buruk dapat ditekan
seminimal mungkin dan karena kondisi jalan yang baik para pengguna jalan akan
menikmati kenyamanan selama perjalanannya
2. Memperkecil biaya operasi kendaraan
Besarnya biaya operasi kendaraan tergantung pada jenis kendaraan,
geometric dan kondisi jalan. Apabila jalan dalam kondisi baik maka Biaya Operasi
Kendaraan (BOK) tidak meningkat, sedangkan yang sangat berkepentingan dengan
BOK adalah para pengguna jalan.
3. Mengurangi laju kerusakan
Memperlambat atau mengurangi laju kerusakan (rate of deterioration)
sehingga diharapkan dapat memperpanjang umur jalan.

2.2.2 Klasifikasi Frekuensi Pemeliharaan


Klasifikasi Program Pemeliharaan yang dipakai dalam Sistem Manajemen
Pemeliharaan Jalan terbagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut:

14
a. Pemeliharaan Rutin
Merupakan pekerjaan yang skalanya cukup kecil dan dikerjakan tersebar
diseluruh jaringan jalan secara rutin. Dengan Pemeliharaan rutin, tingkat penurunan
nilai kondisi structural pengkerasan diharapkan akan sesuai dengan kurva
kecenderungan kondisi perkerasan yang diperkirakan pada tahap desain.
b. Pemeliharaan Periodik
Pemeliharaan periodic dilakukan dalam selang waktu beberapa tahun dan
diakan menyeluruh untuk satu atau beberapa seksi jalan dan sifatnya hanya
fungsional dan tidak meningkatkan nilai struktural perkerasan. Pemeliharaan
periodic dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi jalan sesuai dengan yang
direncanakan selama masa layanannya.
c. Rehabilitasi atau Peningkatan
Peningkatan jalan secara umum diperlukan untuk memperbaiki integritas
struktur perkerasannya yaitu meningkatkan nilai strukturalnya dengan pemberian
lapis tambahan. Peningkatan jalan dilakukan apakah karena masa pelayanannya
habis, atau karena kerusakan awal yang disebabkan oleh faktor-faktor luar seperti
cuaca, atau karena salah pada factor perencanaannya.
d. Rekonstruksi
Dalam hal perkerasan lama sudah dalam kondisi yang sangat jelek, maka
lapisan tambahan tidak akan efektif dan kegiatan rekontruksi biasanya diperlukan.
Kegiatan rekontruksi ini juga dimaksudkan untuk penanganan jalan yang berakibat
meningkatkan kelasnya.

2.2.3 Kategori Kerusakan


1. Kerusakan Struktural (Structural Failure)
Kerusakan Struktural adalah kerusakan pada struktur jalan yang
menyebabkan perkerasan tidak mampu lagi menahan beban yang bekerja diatasnya.
2. Kerusakan Fungsional (Functional Failure)
Kerusakan fungsional adalah kerusakan pada permukaan jalan yang
menyebabkan terganggunya fungsi jalan dalam melayani lalu lintas pengguna jalan.

15
Kerusakan Struktural Kerusakan Fungsional

Gambar 2.8 Kategori Kerusakan Jalan

Jenis Kerusakan pada prasarana jalan dibagi menjadi 3 jenis kerusakan,


yaitu:
1. Deformasi
• Alur (Rutting)
• Keriting (Corrugation)
• Sungkur (Shoving)
• Amblas (Deppression)
2. Retak (Crack)
• Retak Blok (Block Cracks)
• Retak Kulit Buaya (Crocodile Cracks)
• Retak Garis (Line Cracks)
3. Rusak Permukaan (Surface Defect)
• Lubang (Potholes)
• Delaminasi (Delamination)
• Pengausan Batu
• Tambalan (Patching)

2.2.4 Metode Perbaikan Kerusakan


1. Alur (Rutting)
a. Indikasi : Permukaan jalan yang terdesak akibat beban
b. Akibat : Berbahaya untuk kendaraan yang melaju cepat, kemudi
tidak dapat dikontrol

16
c. Metode : Segera dilapis ulang dengan adonan hotmix yang tahan
deformasi alur (PI positip, titik lembek diatas temperatur permukaan,
gradasi superpave)
2. Retak Kulit Buaya (Crocodile Cracks)
a. Indikasi : Retak sarang laba-laba, tanah dasar melunak akibat
pengaruh air, binder aspal yang sudah kehilangan daya
lengket/pengaruh oksidasi/panas permukaan tinggi
b. Akibat : Kerusakan setempat dapat bersambung memanjang, air
menerobos masuk, lubang terbuka, depresi setempat makin melebar,
gangguan terhadap kelancaran lalu lintas
c. Metode : Mei in tritani referrentur, ei partem Sedini mungkin di
tambal dengan material yang rapat air, tahan beban, tidak menyusut,
segera dievaluasi apakah perlu peningkatan/lapis ulang
3. Kegemukan Aspal (Bleeding)
a. Indikasi : Aspal terlihat berlebihan dan mengumpul disatu tempat
setempat biasanya pada jejak ban, membuat permukaan menjadi lunak,
mengkilat, sangat mungkin basah, kadang menempel di ban mobil
menjadi luka terbuka.
b. Akibat : Dapat berkembang menjadi jembul (bulging) yang
mengganggu kecepatan kendaraan, menempel di ban mobil membuat
rusak terbuka, permukaan licin dapat menyebabkan selip.
c. Metode : Permukaan jalan yang bleeding dipanaskan dengan alat
pemanas khusus ditabur material halus atau pasir atau dihanguskan
sekalian kemudian di garuk dengan cold-mill.
4. Jembul (Bulging) dan Menggeleser (Shoving)
a. Indikasi : Diakibatkan oleh pemakaian aspal dari jenis lunak/titik
lembek rendah (PI negatip), panas permukaan tinggi, beban berat padat
dan kecepatan rendah, sering terjadi di perempatan jalan dengan lampu
lalulintas, menyebabkan beban statis saat kendaraan tertahan untuk
berhenti

17
b. Akibat : Tidak nyaman dilalui, kecepatan terhambat, marka jalan
tidak lurus tidak nyaman untuk dilihat.
c. Metode : Daerah yang terpengaruh jembul dan shoving digaruk
diganti dengan material hotmix yang lebih tahan terhadap panas dan
beban lalulintas (dapat diatasi dengan memberi penulangan pada
campuran aspal) atau jika perlu diganti dengan perkerasan kaku.
5. Ambless (Depression)
a. Indikasi : Permukaan jalan melendut setempat, bisa dikuti dengan
retak buaya atau tidak, bisa disebabkan oleh kelemahan daya dukung
perkerasan atau infiltrasi air dilokasi itu yang menyebabkan melendut
waktu dibebani
b. Akibat : Berbahaya untuk lalulintas cepat, kemudi tidak terkendali,
berlanjut menjadi lubang akibat infiltrasi air, menjadi genangan air
diwaktu hujan yang menyebabkan cipratan (splash)
c. Metode : Bila ada retak harus digali dan ditambal, dapat langsung
ditambal dengan materal tambal yang sesuai, bila meliputi daerah yang
lebar perlu dievaluasi untuk dilakukan penggantian atau perkuatan
6. Retak Sambungan
a. Indikasi : Retak yang terjadi disambungan, bisa melintang atau
memanjang, biasanya diawali dari butiran batu yang terburai akibat
gerakan disambungan, bisa juga akibat kurang padat waktu pelaksanaan
membuat sambungan, kurang tack coat, bisa juga akibat refleksi retak
dari bawah (pada kasus beton semen dilapis dengan beton aspal)
b. Akibat : Infilitrasi air semakin besar, kerusakan terbuka cepat
terjadi. apabila air mencapai tanah dasar maka akan terjadi patahan dan
kerusakan lebih luas
c. Metode : Usahakan cara yang tepat untuk menghentikan gerakan
sambungan misalnya antara lain dengan grouting atau penggunaan
material joint yang kuat, mengingat ini mengakibatkan pekerjaan sulit
dan mahal, diperingatkan pelaksanaan overlay agar lebih teliti
melaksanakan pekerjaan sambungan

18
7. Tambalan (Patching)
a. Indikasi : Tambalan akan menyebabkan ketidakrataaan setempat,
menggangu Gerakan lalulintas, kecendrungan bocor air dan tidak
nyaman untuk dilihat
b. Akibat : Keretakan permukaan kurang baik (roughness), kecepatan
kendaraan menurun, kecendrungan bocor air pada perkerasan semakin
tinggi
c. Metode : Pilih material tambal yang sesuai, non-shrinkage,
kepadatan mudah dicapai, waterproof, tidak rentan terhadap
temperature.
8. Licin (Polishing Aggregate)
a. Indikasi : Permukaan licin akibat batuan yang tergerus roda lalulintas
menjadi licin.
b. Akibat : Membahayakan bagi lalulintas berkecepatan tinggi pada
waktu hujan
c. Metode : Perlu diberi lapis tipis non konstruksi diatasnya agar tahan
gerusan (sma, open graded mix)
9. Lepas Butir/Terburai (Reveling)
a. Indikasi : Akibat berkurang atau hilangnya daya lengket binder aspal
maka butir-butir batuan terlepas, permukaan jalan kasar, berlubang dan
bocor air
b. Akibat : Terburai semakin luas, infiltrasi air semakin keras
c. Metode : Bila tidak diikuti depresi bisa langsung diditutup dengan
lapis ulang yang kaya aspal, bila ada depresi maka perlu evaluasi untuk
peningkatan kekuatan perkerasan
10. Blow Up (Buckling)
a. Indikasi : Pergerakan pelat beton keatas/kebawah pada seluruh
lebarnya karena hilangnya dukungan tanah dasar atau kurangnya ruang
cadangan untuk muai susut pada sambungan antar pelat beton semen
b. Akibat : Berbahaya bagi lalu lintas, air semakin menjalar kemana-
mana

19
c. Metode : Seluruh pelat diganti, tanah dasar diganti dan di tambah
material untuk mengembalikan kekuatan semula
11. Retak Sudut (Corner Crack)
a. Indikasi : Bagian sudut dari pelat beton yang paling lemah adalah
sudut dan tepi pelat, retak ini akan menyebar ke arah lebih parah.
b. Akibat : Air masuk pumping, retak menyebar, permukaan tidak
layak untuk kecepatan tinggi
c. Metode : Kalau masih sedikit dapat diisi dengan sealant atau material
joint, kalau terlalu besar dibongkar dan diganti dengan yang baru
12. Patahan (Faulting)
a. Indikasi : Pelat beton tidak sama fungsi dengan kedudukan pelat
beton sebelahnya biasanya terjadi pada sambungan tanpa dowel,
biasanya pelat berikutnya lebih tinggi dari pelat depannya
b. Akibat : Ketidak rataan yang mengganggu kelancaran lalulintas
c. Metode : Bila beda tinggi lebih dari 4 mm perlu digerus dengan
grinda, agar tidak terasa menghentak kalau dilewati
13. Kerusakan Bahu Jalan
a. Indikasi : Erosi, ambles atau ditumbuhi rumput, atau permukaan lebih
tinggi dari permukaan perkerasan. Penyebabnya sistem drainase yang
tidak baik sehingga menghambat aliran air dari perkerasan ke saluran
tepi.
b. Akibat : Air yang menggenang dapat menerobos ke pondasi jalan
dan merusak perkerasan
c. Metode : memperbaiki kemiringan bahu dengan penimbunan atau
penggalian serta pemadatan kembali.

20
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah Pemeliharaan Infrastruktur Transportasi adalah
sebagai berikut:
1. Infrastruktur transportasi baik transportasi darat, laut maupun udara
merupakan sarana yang sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan wilayah sehingga sering disebut sebagai urat
nadi perekonomian disamping fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa.
2. Pemeliharaan infrastruktur transportasi diperlukan untuk mendapat
kekuatan dan daya layan sesuai standar hingga memenuhi umur rencana dari
infrastruktur transportasi tersebut.
3. Pemeliharaan infrastruktur jalan bertujuan untuk mempertahankan kondisi
jalan, memperkecil biaya operasi kendaraan, dan mengurangi laju
kerusakan. Pemeliharaan jalan diklasifikasikan menjadi empat, meliputi:
pemeliharaan rutin, pemeliharaan periodic, rehabilitasi atau peningkatan,
dan rekonstruksi. Kategori kerusakan jalan dibagi menjadi dua kategori
kerusakan, yaitu kerusakan struktural dan kerusakan fungsional.
4. Metode perbaikan menyesuaikan dengan jenis kerusakan jalan dengan
memperhatikan indikasi kerusakan dan akibat lebih lanjut.

3.2 SARAN
1. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dapat menyediakan layanan
contact center untuk pelaporan masyarakat terkait dengan kerusakan
prasarana jalan.
2. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dapat memperketat aturan batas
beban maksimal kendaraan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2019. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.


Pemerintah Republik Indonesia.

Bappeda Provinsi Jawa Barat. 2008. Rencana Pembangunan Jangka Panjang


Daerah (RPJPD) Tahun 2005-2025. Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Balai Penerapan Teknologi Konstruksi. 2018. Materi Suplemen Pengetahuan


Pembekalan Keprofesian “Ahli Teknik Jalan”. Kementrian PUPR,
Pemerintah Republik Indonesia.

Direktorat Pengembangan Kawasan Ditjen Penataan Ruang Departemen


Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2002. Pendekatan dan Program
Pengembangan Wilayah. Bulletin Kawasan. Jakarta.

Sinulungga, Budi D, 1999. Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal.


Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Sjafruddin, A. 2000, Sistem Transportasi Berkelanjutan dan Masalah Dampak


Lingkungan Transportasi Perkotaan. Medan

21