Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KELOMPOK

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

Mata Kuliah:

Perundang-undangan Kesehatan

Disusun Oleh:
Syela Puspitaningtyas 16.0572
Dwi Ery Ardiani 16.0578
Noor Aully Yuniawati C.S 16.0593
Like Fajarnian 16.0607

POLITEKNIK KATOLIK MAGUNWIJAYA

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEMARANG

2019
TUGAS KELOMPOK

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

Mata Kuliah:

Perundang-undangan Kesehatan

Disusun Oleh:
Syela Puspitaningtyas 16.0572
Dwi Ery Ardiani 16.0578
Noor Aully Yuniawati C.S 16.0593
Like Fajarnian 16.0607

POLITEKNIK KATOLIK MAGUNWIJAYA

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEMARANG

2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i

DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah............................................................................ 1


B. Rumusan Masalah..................................................................................... 2
C. Manfaat Penulisan..................................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 3

A. Definisi...................................................................................................... 3
B. Tujuan Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit....... 3
C. Klasifikasi Rumah Sakit............................................................................ 3
D. Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit...................................... 6

BAB III. PEMBAHASAN.................................................................................... 13

BAB IV. PENUTUP.............................................................................................. 15

A. Kesimpulan................................................................................................ 15
B. Saran.......................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan
diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan
pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh,
terpadu dan berkesinambungan. Mutu pelayanan di rumah sakit sangat
dipengaruhi oleh kualitas dan jumlah tenaga kesehatan yang dimiliki rumah sakit
tersebut.
Pelayanan kefarmasian sebagai salah satu unsur dari pelayanan utama di
rumah sakit. Menurut peraturan pemerintah No. 51 Tahun 2009, pelayanan
kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi untuk mencapai hasil yang pasti
sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian
meliputi pengelolaan sumber daya (sumber daya manusia, sarana-prasarana,
sediaan farmasi, dan perbekalan kesehatan serta administrasi) dan pelayanan
farmasi klinik (penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat, informasi
obat, dan pencatatan atau penyimpanan resep) dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit
yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelaskan
dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi
rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan
rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang

1
2

bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang tejangkau bagi semua lapisan
masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1. Bagaimana standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit?
2. Apakah tujuan dari pelayanan kefarmasian di rumah sakit menurut
keputusan menteri kesehatan?

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui dan memahami standar pelayanan kefarmasian di
rumah sakit.
2. Untuk mengetahui tujuan pelayanan kefarmasian di rumah sakit menurut
keputusan menteri kesehatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit No 72 Tahun 2016 pasal 1 Rumah Sakit adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.
Standar Pelayanan Kefarmasian merupakan tolak ukur yang dipergunakan
sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien (Permenkes RI, 2016).

B. Tujuan Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit


Menurut Permenkes RI No 72 tahun 2016 tujuan pengaturan Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit adalah:
1. Meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian
2. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian
3. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak
rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).

C. Klasifikasi Rumah Sakit


Klasifikasi Rumah Sakit menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 56 Tahun
2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit:
a. Rumah Sakit Umum terbagi menjadi:
1. Rumah Sakit Umum kelas A
Sumber daya manusia tenaga kefarmasian:
a) 1 apoteker sebagai kelapa instalasi farmasi rumah sakit

3
4

b) 5 apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling


sedikit 10 tenaga teknis kefarmasian
c) 5 apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10 tenaga
teknis kefarmasian
d) 1 apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2
tenaga teknis kefarmasian
e) 1 apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 tenaga
teknis kefarmasian
f) 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau
rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang
jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
rumah sakit
g) 1 apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan
dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan
dengan beban kerja pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
2. Rumah Sakit Umum kelas B
Sumber daya manusia tenaga kefarmasian:
a) 1 apoteker sebagai kelapa instalasi farmasi
b) 4 apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling
sedikit 8 tenaga teknis kefarmasian
c) 4 apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 8 tenaga
teknis kefarmasian
d) 1 apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2
tenaga teknis kefarmasian
e) 1 apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 tenaga
teknis kefarmasian
f) 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau
rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang
5

jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian


rumah sakit
g) 1 apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan
dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan
dengan beban kerja pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
3. Rumah Sakit Umum kelas C
Sumber daya manusia tenaga kefarmasian:
a) 1 apoteker sebagai kelapa instalasi farmasi rumah sakit
b) 2 apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling
sedikit 4 tenaga teknis kefarmasian
c) 4 apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 4 tenaga
teknis kefarmasian
d) 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi, dan produksi
yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat
inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang
jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
rumah sakit.
4. Rumah Sakit Umum kelas D
a) Rumah Sakit Umum kelas D
Sumber daya manusia tenaga kefarmasian:
a) 1 apoteker sebagai kelapa instalasi farmasi rumah sakit
b) 1 apoteker yang bertugas di rawat jalan dan rawat inap yang
dibantu oleh paling sedikit 2 tenaga teknis kefarmasian
c) 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi, dan
produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi
klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja
pelayanan kefarmasian rumah sakit.
b) Rumah Sakit Umum kelas D pratama
6

Rumah sakit umum kelas D pratama didirikan dan diselenggarakan


untuk menjamin ketersediaan dan mengingkatkan aksesibilitas
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tingkat kedua. Rumah sakit
ini dapat didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal,
perbatasan, atau kepulauan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

b. Rumah Sakit Khusus


Jenis Rumah Sakit khusus antara lain Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak,
Jantung, Kanker, Orthopedi, Jiwa, Kusta, Mata, Stroke, Penyakit lnfeksi,
Bersalin, Gigi dan Mulut, Rehabilitasi Medik, Telinga Hidung Tenggorokan,
Bedah, Ginjal, Kulit dan Kelamin.
Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah Sakit Khusus
dikiasifikasikan menjadi:
1. Rumah Sakit Khusus Kelas A
2. Rumah Sakit Khusus Kelas B
3. Rumah Sakit Khusus Kelas C.

D. Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit dikategorikan mejadi dua yaitu:
a. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
meliputi:
1. Pemilihan
Pemilihan merupakan kegiatan untuk menetapkan jenis sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang didasarkan pada:
a. Formularium dan standar pengobatan/ pedoman diagnosa dan terapi
b. Standar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Hanis
Pakai
c. Pola penyakit
d. Efektifitas dan keamanan
7

e. Pengobatan berbasis bukti


f. Mutu
g. Harga
h. Ketersediaan di pasaran
2. Perencanaan kebutuhan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah
dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai sesuai hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin
terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien.
3. Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk merealisasikan
perencanaan kebutuhan yang telah ditetapkan atau direncanakan dan
disetujui. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh obat dan perbekalan
kesehatan yang berkualitas dengan cara yang ekonomis dengan waktu
yang tepat, pengiriman barang terjamin dan tepat waktu, proses berjalan
dengan lancar.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain:
a. Bahan baku obat harus disertai sertifikat analisa;
b. Bahan berbahaya harus menyertakan material safety data sheet
(MSDS);
c. Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai harus mempunyai nomor izin edar;
d. Expired date minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai tertentu (vaksin,
reagensia, dan lain-lain).
4. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi,
jumlah, mutu waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak
atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
5. Penyimpanan
8

Penyimpanan dilakukan untuk menjamin kualaitas dan keamanan


Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai
dengan persyaratan kefarmasian.Persyaratan kefarmasian yang dimaksud
meliputi persyaratan stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya,
kelembaban, ventilasi, dan penggolongan jenis Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
harus disimpan terpisah yaitu bahan yang mudah terbakar (disimpan
dalam ruang tahan api dan diberi tanda khusus bahan berbahaya) dan gas
medis (disimpan dengan posisi berdiri, terikat, dan diberi penandaaan
untuk menghindari kesalahan pengambilan jenis gas medis, penyimpanan
tabung gas medis kosong terpisah dari tabung gas medis yang ada isinya,
penyimpanan tabung gas medis di ruangan harus menggunakan tutup
demi keselamatan).
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi,
bentuk sediaan, dan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan
prinsip First Expired First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO)
disertai sistem informasi manajemen. Penyimpanan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang penampilan dan
penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) tidak ditempatkan
berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk mencegah
terjadinya kesalahan pengambilan Obat. Rumah Sakit harus dapat
menyediakan lokasi penyimpanan Obat emergensi untuk kondisi
kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan
terhindar dari penyalahgunaan dan pencurian.
6. Pendistribusian
Distribusi merupakan rangkaian kegiatan untuk menyalurkan atau
menyerahkan Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan
9

waktu.Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara


sistem persediaan lengkap di ruangan (floor stock), sistem resep
perorangan, sistem unit dose, dan sistem kombinasi. Sistem distribusi
Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat inap
karena dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian obat dapat
diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan system floor stock
atau resep individu yang mencapai 18%. Sistem distribusi dirancang atas
dasar kemudahan dijangkau oleh pasien dan mempertimbangkan efisiensi
dan efektifitas sumber daya yang ada serta metode sentralisasi atau
desentralisasi.
7. Pemusnahan dan penarikan
Pemusnahandan penarikan Sediaan Farmas, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilakukan
dengan cara yang sesuai dengan peraturan perundnag-undnagan yang
berlaku. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi
standar/ketentuan peraturan perundang-undnagan dilakukan oleh pemilik
izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall)
atau berdasarkan pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap
memberikan laporan kepada Kepala BPOM. Penaraikan alat kesehatan
dan bahan medis habis pakai dilakukan terhadap produk yang izin
edarnya dicabut oleh Menteri. Pemusnahan dilakukan bila produk tidak
memnuhi persyaratan mutu, telah kadaluwarsa, tidak memenuhi syarat
untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu
pengetahuan, dan/atau dicabut izin edarnya.
8. Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan
penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai. Pengendalian dapat dilakukan oleh Instalasi Farmasi harus
bersama dengan Komite Tim Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit.Tujuan
dilakukan pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai adalah untuk:
10

a. Pengguaan obat sesuai dengan formularium rumah sakit


b. Pengguaan obat sesuai dengan diagnosis dan terapi
c. Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi
kelebihan dan kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, dan
kehilangan serta pengembalian pesanan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
9. Administrasi
Administrasi dilakukan untuk memudahkan penelusuran kegiatan yang
sudah berlaku.Kegiatan admisnistrasi yang dilakukan meliputi pencatatan
dan pelaporan, administrasi keuangan, dan administrasi penghapusan.
b. Pelayanan farmasi klinik, meliputi:
1. Pengkajian dan pelayanan resep
Pengkajian resep dilakukan untuk menganalisa adanya masalah terkait
obat, apabila ditemukan masalah terkait obat harus dikonsultasikan
kepada dokter penulis resep. Apoteker harus melakukan pengajikan resep
sesuai persyaratan administrasi, farmasetik, dan klinis baik untuk pasien
rawat inap maupun rawat jalan. Pelayanan resep dimulai dari
penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat,
pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pelayanan resep
padaa setiap tahap alurnya dilakukan upaya pencegahan terjadinya
kesalahan pemberian obat (medication error).
2. Penelusuran riwayat penggunaan obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh obat/sediaan farmasi lain yang
pernah dan sedang digunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari
wawancara atau data rekam medik/pencatatan penggunaan obat pasien.
3. Rekonsiliasi obat
Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi
pengobatan dengan obat yang telah didapatkan pasien. Rekonsiliasi obat
dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan obat (medication error)
11

seperti obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi


obat.
4. Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan peyediaan dan pemberian
informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias, terkini
dan komprehensif yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian kepada
pasien, dokter, perawat, rekan sejawat, profesi kesehatan lain atau pihak
lain di luar rumah sakit.
5. Konseling
Konseling obat merupakan kegiatan pemberian nasihat atau saran terkait
obat dari apoteker (konselor) kepada pasien atau keluarganya. Konseling
pasien rawat jalan maupun rawat inap di semua fasilitas kesehatan
dilakukan atas dasar inisiatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien
atau keluarganya.
6. Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap atau kepada
pasien yang sudah keluar rumah sakit yang dilakukan oleh apoteker
secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk mengamati
kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah terkait obat,
memantau terapi obat dan reaksi obat yang tidak dikehendaki,
meningkatkan terapi obat yang rasional, dan menyajikan informasi obat
kepada dokter, pasien serta professional kesehatan lain.
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan terapi obat merupakan kegiatan untuk memastikan terapi
obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Tujuan dari
pemantauan terapi obat adalah meningkatkan efektivitas terapi dan
meminimalkan risiko reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD).
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Monitoring efek samping obat merupakan kegiatan pemantauan respon
terhadap obat yang tidak dikehendaki yang terjadi pada dosis lazim yang
digunakan pada pasien untuk tujuan profilaksis, diagnosadan terapi. Efek
12

samping obat merupakan reaksi obat yang tidak diinginkan yang terkait
dengan kerja farmakologi.
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Tujuan dilakukan EPO adalah untuk mendapatkan gambaran keadaan
saat ini atas pola penggunaan obat, membandingkan pola penggunaan
obat pada periode waktu tertentu, memberikan masukan untuk perbaikan
penggunaan obat dan menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan
obat.
10. Dispensing sediaan steril
Dispensing sediaan steril dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan
melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta menghindari
terjadinya kesalahan pemberian obat. Kegiatan dispensing sediaan steril
meliputi pencampuran obat suntik, penyiapan nutrisi parenteral, dan
penanganan sediaan sitostatika.
11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)
Pemantauan kadar obat dalam darah merupakan penafsiran hasil
pemeriksaan kadar obat tertentu atas perminttaan dari dokter yang
merawat karena indeks terapi yang sempit atau atas usulan apoteker
kepada dokter. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kadar obat
dalam darah dan memberikan rekomendasi kepada dokter yang merawat.
BAB III

PEMBAHASAN

Standar pelayanan minimal rumah sakit terdiri dari beberapa jenis pelayanan,
dengan indikator dan standar pencapaian kinerja pelayanan rumah sakit. Salah
satu jenis pelayananrumah sakit yang wajib disediakan adalah pelayanan
farmasi.Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58 tahun 2014 dan
perubahannya dalam Permenkes Nomor 34 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit bahwa untuk meningkatkan mutu
pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang berorientasi kepada keselamatan
pasien, diperlukan suatu standar yang dapat digunakan sebagai acuan dalam
pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian adalah tolok ukur yang
dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit terdiri dari
dua kegiatan yaitu pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinik.

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan
penarikan, pengendalian, dan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan
Pelayanan Kefarmasian. Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang
Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyatakan bahwa Pengelolaan Alat
Kesehatan, Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus
dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu. Alat Kesehatan yang dikelola
oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu berupa alat medis habis
pakai/peralatan non elektromedik, antara lain alat kontrasepsi (IUD), alat pacu
jantung, implan, dan stent.Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian
termasuk pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi Rumah Sakit.

13
14

Pelayanan farmasi klinikberdasarkan PMK No 58 Tahun 2014 merupakan


pelayanan yang diberikan kepada pasien untuk meningkatkan efek terapi dan
meminimalkan terjadinya efek samping terhadap obat sehingga kualitas hidup
pasien meningkat. Pelayanan farmasi klinik bertujuan untuk mengidentifikasi,
mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Pelayanan farmasi klinik
harus dilakukan sesuai filosofi pelayanan kefarmasian terkait pelayanan
kefarmasian di Rumah Sakit yang mengharuskan adanya perluasan dari paradigma
lama yang berorientasi pada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang
berorientasi pada pasien (patient oriented). Pelayanan farmasi klinik terbukti
efektif dalam mengurangi terapi pada pasien. Selain itu, pelayanan farmasi klinik
juga efektif untuk mengurangi biaya pelayanan kesehatan dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan terutama diperoleh dengan melakukan pemantauan
resep dan pelaporan efek samping obat. Pelayanan ini terbukti dapat menurunkan
angka kematian di rumah sakit secara signifikan.

Berdasarkan Laporan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien (Konggres


PERSI Sep 2007), kesalahan dalam pemberian obat menduduki peringkat pertama
(24,8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan. Jika disimak lebih lanjut, dalam
proses penggunaan obat yang meliputi peresepan (prescibing), membaca resep
(transcribing), penyiapan (dispensing) dan administrasi (administration),
penyiapan (dispensing) menduduki peringkat pertama (Depkes, 2008). Penyebab
terjadinya kesalahan obat (medication error) di antaranya karena informasi
mengenai pasien yang tidak jelas, misalnya tidak ada riwayat alergi yang
diinformasikan. Lalu, tidak mendapat penjelasan mengenai obat seperti cara
pakai, frekuensi pemakaian, dan lain sebagainya. Kemudian komunikasi yang
buruk dalam peresepan sepertidalam membaca resep, menulis resep, dan resep
tidak terbaca. Setelah itu salah menuliskan etiket/label pada obat serta suasana
lingkungan kerja yang tidak nyaman dan kondusif (Badriah, 2015).
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan tolak ukur
yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yaitu pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai serta pelayanan
farmasi klinik.
2. Tujuan dari Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit adalah untuk
meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum
bagi tenaga kefarmasian dan melindungi pasien serta masyarakat dari
penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien.

15
DAFTAR PUSTAKA

Badriah, Fase, 2015. Pengungkapan Kesalahan Medis : Disclosing Medical Error


for Patient Safety Culture. UIN PRESS: Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap


Keselamatan Pasien. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2009. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009


tentang Pekerjaan Kefarmasian. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44


Tahun 2009tentang Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 1999. KeputusanMenteri Kesehatan Republik Indonesia


No 1333/MenKes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 58Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 34Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Kesehatan No 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Menteri Kesehatan RI, 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 72Tahun 2016 tentangStandar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

16