Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KELOMPOK

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

Mata Kuliah:

Perundang-undangan Kesehatan

Disusun oleh :

Tita Setya Utami 16.0553


Metty Sarah Krismala 16.0571
Ida Sari Dewi 16.0576
Ninik Puji Astuti 16.0608

POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA


PROGRAM STUDI D3 FARMASI
SEMARANG
2019

i
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1

A. Latar Belakang............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah........................................................................................ 2

C. Manfaat Penelitian....................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 3

A. Definisi Apotek............................................................................................ 3

B. Peraturan Per Undang-undangan yang Terkait dengan Apotek................... 3

C. Pengelolaan Perbekalan Farmasi................................................................. 5

D. Pelayanan Farmasi Klinik............................................................................ 9

BAB III PEMBAHASAN.................................................................................. 12

BAB IV PENUTUP............................................................................................ 14

A. Kesimpulan.................................................................................................. 14

B. Saran............................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Kesehatan saat ini dipandang sebagai suatu hal yang sangat penting,
bahkan menjadi kebutuhan primer sehingga banyak masyarakat yang
menginginkan untuk mendapatkan pelayanan dan informasi tentang kesehatan
dengan baik dan mudah terjangkau. Berhubungan dengan hal tersebut, maka
fasilitas pelayanan kesehatan termasuk fasilitas pekerjaan kefarmasian juga harus
terus ditingkatkan kualitasnya. Fasilitas pelayanan yang dimaksud adalah Apotek,
Instalasi farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, dan Toko obat (Depkes RI,
2009).
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker (Kemenkes RI, 2017). Menurut Permenkes no 73
tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, pelayanan
kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil
yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian di
Apotek telah mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada
pengelolaan obat (drug oriented) berkembang menjadi pelayanan koprehensif
(product oriented ke patient oriented) yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Sebagai konsekuensi perubahan tersebut diperlukan sarana
dan prasarana Apotek. Apotek wajib menyediakan obat-obatan dan perbekalan
farmasi serta seorang Apoteker yang dapat memberikan informasi, konsultasi, dan
evaluasi mengenai obat yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga tujuan
pembangunan kesehatan dapat terwujud.
Pelayanan kefarmasian di Apotek secara langsung dikelola oleh Apoteker
yang disebut sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek. Apoteker dalam

1
menjalankan tugas pelayanan dibantu oleh seorang tenaga teknis kefarmasian atau
biasa yang disebut dengan TTK. Apoteker dituntut untuk meningkatkan interaksi
langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah
melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai indikasi,
dosis, aturan pakai, efek samping, cara penyimpanan obat, dan monitoring
penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan, serta hal-hal
lain untuk mendukung penggunaan obat yang benar dan rasional sehingga
kejadian kesalahan pengobatan (medication error) dapat dihindari. Selain fungsi
pelayanan, apoteker juga dituntut selalu meningkatkan keahlian dalam
pengelolaan Apotek meliputi aspek bisnis, aspek pengelolaan sumber daya, dan
evaluasi (Permenkes RI, 2016).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penulisan ini yaitu :
Bagaimanakah standar pelayanan kefarmasian di apotek menurut Permenkes no
73 tahun 2016 ?

C. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini yaitu :
1. Sebagai pedoman praktik apoteker dalam menjalankan profesi.
2. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan kefarmasian di apotek yang
tidak profesional.
3. Melindungi profesi dalam menjalankan praktik kefarmasian

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004 bahwa apotek adalah suatu tempat tertentu dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan
lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan
obat, obat tradisional dan kosmetik. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan
dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
tentang pekerjaan kefarmasian, pengertian apotek adalah sarana pelayanan
kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Praktik
kefarmasian yang dimaksud meliputi pembuatan, pegendalian mutu sediaan
farmasi pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau
penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atau resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan (Republik Indonesia, 2009).

B. Peraturan Per Undang-Undangan yang Terkait dengan Apotek


Peraturan dan perundang-undangan yang mendasari pendirian dan
pengelolaan Apotek meliputi :
a. Undang-undang (UU)
1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan.
2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.
3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang
Psikotropika.

3
4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang
Narkotika.
5) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.
b. Peraturan Pemerintah (PP)
1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1962 tentang
Lafal Sumpah/Janji Apoteker.
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian.
3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1998
tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
4) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2010 tentang
Prekursor.
c. Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES)
1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2017 tentang Apotek.
2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 tahun 2016 tentang perubahan
atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
889/MenKes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja
Tenaga Kefarmasian.
3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
4) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 919/Menkes/PER/X/1993 tentang
Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
5) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 924/Menkes/PER/X/1993 tentang
Daftar Obat Wajib Apotik No. 2
6) Permenkes No. 925/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Perubahan
Golongan Obat No. I yaitu perubahan Golongan obat keras/ Obat Wajib
Apotek menjadi Obat Bebas Terbatas)
7) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015
tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotik,
Psikotropika dan Prekursor Farmasi.

4
C. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Pengelolaan Perbekalan Farmasi menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI No 73 Tahun 2016 meliputi perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pemusnahan dan penarikan, pengendalian,
pencatatan dan pelaporan.
1. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan :
1. pola penyakit
2. pola konsumsi
3. budaya masyarakat
4. kemampuan masyarakat (Permenkes RI, 2016).
2. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan
Sediaan Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan (Permenkes RI, 2016). Sesuai ketetapan yang
diatur dalam Permenkes No. 9 Tahun 2017 tetang Apotek yaitu :
1. Pengadaan obat dan/atau bahan obat di Apotek menggunakan surat
pesanan yang mencantumkan SIA (Surat Ijin Apotek).
2. Surat pesanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus
ditandatangani oleh Apoteker pemegang SIA dengan
mencantumkan nomor SIPA (Surat Ijin Praktik Apoteker).
3. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, muru, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam surat pesanan degan kondisi fisik yang diterima (Permenkes RI,
2016).
4. Penyimpanan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 tahun 2016
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, penyimpanan obat-
obatan dapat dilakukan dengan :

5
1. Obat/bahan Obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada
wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus
ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-
kurangnya memuat nama Obat, nomor batch dan tanggal
kadaluwarsa.
2. Semua Obat/bahan Obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
3. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan
barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi.
4. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk
sediaan dan kelas terapi Obat serta disusun secara alfabetis.
5. Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out)
dan FIFO (First In First Out).
Penyimpanan Obat Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi
diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2015 tentang
Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan Narkotika,
Psikotropika, dan Prekursor Farmasi yaitu :
a. Pasal 25
1. Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor
Farmasi dapat berupa gudang, ruangan, atau lemari khusus.
2. Tempat penyimpanan Narkotika dilarang digunakan untuk
menyimpan barang lain selain Narkotika.
3. Tempat penyimpanan Psikotropika dilarang digunakan untuk
menyimpan barang lain selain Psikotropika.
4. Tempat penyimpanan Prekursor Farmasi dilarang digunakan
untuk menyimpan barang lain selain Prekursor Farmasi dalam
bentuk bahan baku.
b. Pasal 26
1. Gudang khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

6
a. Dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai pintu
yang dilengkapi dengan pintu jeruji besi dengan 2 (dua) buah
kunci yang berbeda;
b. Langit-langit dapat terbuat dari tembok beton atau jeruji besi;
c. Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan
jeruji besi;
d. Gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin
Apoteker penanggung jawab; dan
e. Kunci gudang dikuasai oleh Apoteker penanggunng jawab
dan pegawai lain yang dikuasakan.
2. Ruang khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)
harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang kuat;
b. Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan
jeruji besi;
c. Mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yang
berbeda;
d. Kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung
jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang
dikuasakan; dan
e. Tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin Apoteker
penanggung jawab yang ditunjuk.
3. Lemari khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)
harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Terbuat dari bahan yang kuat;
b. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah
kunci yang berbeda;
c. Harus diletakkan dalm ruang khusus di sudut gudang, untuk
Instalasi Farmasi Pemerintah;

7
d. Diletakan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum,
untuk Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas,
dan
e. Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung
jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang
dikuasakan.
5. Pemusnahan
Berdasarkan Permenkes 73 tahun2016 tentang Standar Pelayanan di
Apotek pemusnahan perbekalan farmasi dilakukan jika:
1. Obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika atau
psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan Obat selain narkotika dan
psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga
kefarmasian lain yang memiliki surat izin praktik atau surat izin
kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara pemusnahan
menggunakan Formulir 1 sebagaimana terlampir.
2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun
dapat dimusnahkan.
3. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standard/ketentuan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar
berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau
berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary
recall) dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
4. Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan
terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.
6. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan,
kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian

8
persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual
atau elektronik.
7. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi
pengadaan (surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok),
penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya
disesuaikan dengan kebutuhan.
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan
internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi
kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan,
meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

D. Pelayanan Farmasi Klinik


Pelayanan farmasi klinik di Apotek merupakan bagian dari
Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien berkaitan dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pelayanan farmasi klinik meliputi:
1. pengkajian dan pelayanan Resep;
2. dispensing;
3. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
4. konseling;
5. Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care);
6. Pemantauan Terapi Obat (PTO); dan
7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO).

9
1. Pengkajian dan Pelayanan Resep
Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi,
kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. Jika ditemukan
adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus
menghubungi dokter penulis Resep.
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan Obat, pemeriksaan,
penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap alur
pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan
pemberian Obat (medication error).
2. Dispensing
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian
informasi Obat. Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus
dilakukan pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien
pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah Obat (kesesuaian
antara penulisan etiket dengan Resep. Apoteker di Apotek juga dapat
melayani Obat non Resep atau pelayanan swamedikasi. Apoteker
harus memberikan edukasi kepada pasien yang memerlukan Obat
non Resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan Obat bebas
atau bebas terbatas yang sesuai.
3. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan
oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat yang tidak
memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam
segala aspek penggunaan Obat kepada profesi kesehatan lain, pasien
atau masyarakat. Informasi mengenai Obat termasuk Obat Resep,
Obat bebas dan herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan,
formulasi khusus, rute dan metoda pemberian, farmakokinetik,
farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi, keamanan penggunaan

10
pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi, stabilitas,
ketersediaan, harga, dll.
4. Konseling
Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam
penggunaan Obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien.
Untuk mengawali konseling, Apoteker menggunakan three prime
questions. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau
keluarga pasien sudah memahami Obat yang digunakan. Apoteker
mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan pasien
sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan
dalam konseling.
5. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home care)
Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat
melakukan Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah,
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan
penyakit kronis lainnya.
6. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang
pasienmendapatkan terapi Obat yang efektif dan terjangkau
denganmemaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.
7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap Obat yang
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis
dan terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis.

11
BAB III
PEMBAHASAN

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cahyono dkk. (2015), menganalisis


tentang pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian pada apotik di kabupaten
Semarang, diketahui bahwa sebanyak enam apotek nilainya tergolong kurang,
empat apotek nilainya tergolong cukup dan tidak ada apotek yang nilainya baik
dalam pelayanan kefarmasian di apotek di kabupaten Semarang. Hal ini
disebabkan karena pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek masih
menitikberatkan pada administrasi dan pengelolaan obat, dan belum pada
pelayanan kefarmasian secara menyeluruh. Cahyono lebih lanjut menerangkan
bahwa perilaku seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan sangat dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu faktor individu (kemampuan dan pengetahuan), dan faktor
lingkungan {misalnya lingkungan kerja: struktur organisasi (SOP/Protap), dan
lingkungan non kerja: pemerintah, organisasi profesi (sosialisasi dan
pembinaan)}.
Pengetahuan sebagian besar petugas tentang pelayanan farmasi sesuai
standar pelayanan kefarmasian di apotek belum memadai karena hanya dapat
menyebutkan sebagian atau justru menyebutkan yang boleh/tidak boleh dilakukan
oleh apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian. Titik berat penguasaan ada pada
administrasi dan pengelolaan obat.
Agar pelayanan dapat dikatakan memiliki mutu yang tinggi dan konsisten,
maka apotek sebaiknya menjabarkan tujuan dan sasaran ke dalam prosedur
operasional, yang dapat berupa prosedur operasional standar (standard operating
procedure/SOP). Namun selama ini SOP/Protap yang ada justru lebih banyak
membahas tentang pengelolaan obat, sehingga pelaksanaan pelayanan farmasi di
apotek lebih mengutamakan pada pengelolaan obat daripada pelayanan farmasi.
Sebagian besar petugas juga belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang
pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek. Sosialisasi merupakan
proses mengalihkan pesan dari satu sumber kepada satu/banyak penerima dengan

12
maksud untuk mengubah tingkah laku. Hal ini disebabkan karena adanya
gangguan tertentu. Pendengar belum tentu memahami isi pesan karena tidak
paham atau pemberi pesan menyampaikan dengan tidak jelas.
Pembinaan juga diperlukan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan
bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu, dalam hal ini yang dimaksud
adalah untuk meningkatkan pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
Selama ini upaya pembinaan lebih tertuju pada administrasi dan pengelolaan obat
saja, bukan pada pemenuhan pelayanan farmasi secara keseluruhan, sehingga
menyebabkan pelayanan kefarmasian di apotek secara umum tergolong belum
optimal.
Hal ini terjadi karena aspek pengetahuan, aspek SOP/Protap, aspek
sosialisasi dan aspek pembinaan belum memadai untuk mendukung terlaksananya
standar pelayanan kefarmasian di apotek. Selain itu, apotek biasanya lebih
mengutamakan fungsi apotek sebagai lahan bisnis (rugi/laba), dan kurang
mempertimbangkan fungsi sosial.

13
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
standar pelayanan kefarmasian di apotek pada umumnya masih belum optimal,
karena pengetahuan yang belum memadai, tidak ada kepastian SOP/Protap, dan
belum ada sosialisasi dan pembinaan dari Dinas Kesehatan setempat.

B. SARAN
Berdasarkan uraian di atas, maka beberapa saran yang diberikan adalah:
1. Perlu adanya pengetahuan tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek
dan petunjuk teknis pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Perlu adanya SOP/Protap sesuai standar pelayanan kefarmasian di apotek.
3. Perlu adanya sosialisasi tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek dan
petunjuk teknis pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
4. Perlu adanya pembinaan tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek
oleh Dinas Kesehatan setempat.
5. Perlu adanya pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.

14
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Sudiro & Suparwati, A., 2015, Pelaksanaan Standar Pelayanan


Kefarmasian pada Apotik di Kabupaten Semarang, Jurnal Manajemen
Kesehatan Indonesia, Universitas Diponegoro, Semarang.

Depkes RI, 2009, Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan
Kefarmasian, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Permenkes RI, 2016, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kemenkes RI, 2017, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 Tahun 2017
Tentang Apotek, Jakarta.
Permenkes RI, 2015, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 3
Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan
Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi, Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang no.36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, Seketariat Republik Indonesia, Jakarta.

15