Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu  fungsi  yang  paling penting dari sebuah rumah sakit
adalah menyediakan  perawatan  berkualitas tinggi terhadap pasien.
Pimpinan rumah sakit  bertanggung jawab secara hukum maupun moral atas
kualitas pelayanan yang di berikan kepada pasien ataupun mereka yang
datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pesatnya perkembangan ilmu
kedokteran dan teknologi serta membaiknya keadaan sosial ekonomi dan
pendidikan, mengakibatkan perubahan sistem penilaian masyarakat  yang
menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Salah satu parameter untuk
menentukan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah data atau 
informasi dari rekam medis yang baik dan lengkap. Indikator mutu rekam
medik yang baik adalah kelengkapan isi, akurat, tepat waktu dan
pemenuhan aspek persyaratan hukum.
Rekam medis merupakan berkas yang berisikan informasi tentang
identitas pasien, anamnese, penentuan fisik laboratorium, diagnosa segala
pelayanan dan tindakan medik yang diberikan kepada pasien dan
pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan
pelayanan gawat darurat (Depkes, 2006). Keterangan dan catatan tentang
pasien harus lengkap diantaranya yaitu identitas pribadi, identitas sosial dan
semua keterangan yang menjelaskan tentang pasien tersebut. Rekam medis
juga digunakan sebagai acuan pasien selanjutnya, terutama pada saat pasien
itu berobat kembali, rekam medis pasien harus siap apabila pasien berobat
kembali.
Rekam medis digunakan sebagai acuan pasien selanjutnya, terutama
pada saat pasien itu berobat kembali, rekam medis pasien harus siap apabila

1
pasien berobat kembali. Tenaga kesehatan akan sulit dalam melakukan
tindakan atau terapi sebelum mengetahui sejarah penyakit, tindakan atau
terapi yang pernah diberikan kepada pasien yang terdapat di dalam berkas
rekam medis. Hal penting dalam berkas rekam medis adalah
ketersediaannya saat dibutuhkan dan kelengkapan pengisiannya.
Kelengkapan pengisian berkas rekam medis oleh tenaga kesehatan akan
memudahkan 2 tenaga kesehatan lain dalam memberikan tindakan atau
terapi kepada pasien. Selain itu juga sebagai sumber data pada bagian rekam
medis dalam pengolahan data yang kemudian akan menjadi informasi yang
berguna bagi pihak manajemen dalam menentukan langkah-langkah
strategis untuk pengembangan pelayanan kesehatan (Hatta, 2010)
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 269 tahun 2008
tentang rekam medis menyebutkan bahwa syarat dari rekam medis untuk
pasien rawat inap sekurang-kurangnya memuat tentang identitas pasien,
pemeriksaan, diagnosis/masalah, persetujuan tindakan medis (bila ada),
tindakan/ pengobatan, dan pelayanan yang telah diberikan kepada pasien.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
1. Apa yang dimaksud dengan rekam medis?
2. Apa tujuan dan fungsi rekam medis?
3. Bagaimana kegiatan rekam medis?
C. Tujuan
1. Untuk memahami definisi rekam medis
2. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi rekam medis
3. Untuk mengetahui kegiatan rekam medis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Rekam Medis
Dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang
dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan
dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Menurut Permenkes Nomor 269/MenKes/Per/III/2008, tentang
Rekam Medis menyatakan rekam Medis adalah berkas berisi catatan
dan dokumen tentang pasien yang berisi identitas, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan medis lain pada sarana pelayanan kesehatan
untuk rawat jalan, rawat inap baik dikelola pemerintah maupun swasta.
Rekam medis adalah keterangan tertulis dan terekam tentang
identitas pasien umum dan sosial pasien, anamnesa, riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainya, laboratorium,
diagnosis, segala perawatan dan tindakan medis yang diberikan kepada
pasien serta dokumen hasil pelayanan (resume) baik pasien rawat inap,
rawat jalan dan pelayanan di unit gawaat darurat (Brotowasisto, 2003).
B. Tujuan dan Fungsi Rekam Medis
1. Tujuan Rekam Medis
Tujuan rekam medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib
administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di
rumah sakit (Depkes RI,1997;7).
Tujuan rekam Medis berdasarkan Hatta (1985) terdiri dari
beberapa aspek diantaranya aspek diantaranya:
a. Aspek administrasi. Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai
administrasi karena isinya meyangkut tindakan berdasarkan
wewenang dan tanggung jawab sebagai tenag medis dan paramedis
dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.

3
b. Aspek Medis. Suatu berkas rekam Medis mempunyai nilai Medis,
karena catatan tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk
merencanakan pengobatan /perawatan yang harus diberikan
seorang pasien.

c. Aspek Hukum. Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum


karena isinya menyangkut masalah adanya jaminan kepastian
hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha menegakkan
hukum serta penyediaan bahan bukti untuk menegakkan keadilan.

d. Aspek keuangan. Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai uang


karena isinya menyangkut data dan informasi yang dapat
digunakan dalam menghitung biaya pengobatan/tindakan dan
perawatan.

e. Aspek penelitian. Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai


penelitian, karena isinya menyangkut data/informasi yang dapat
dipergunakan dalam penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang kesehatan.

f. Aspek pendidikan. Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai


pendidikan, karena isinya menyangkut data/informasi tentang
perkembangan/ kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang
diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan
sebagai bahan/referensi pengajaran di bidang profesi kesehatan.

g. Aspek dokumentasi. Suatu berkas reka medis mempunyai nilai


dokumentasi, karena isinya menyangkut sumber ingatan yang
harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggung
jawaban dan laporan sarana pelayanan kesehatan.

2. Fungsi Rekam Medis


a. Dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien
b. Bahan pembuktian dalam perkara humum
c. Bahan untuk keperluan penelitian dan pendidikan

4
d. Dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan

e. Bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan

C. Tata Cara Penyelenggaraan Rekam Medis


Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran menegaskan bahwa
dokter dan dokter gigi wajib membuat rekam medis dalam
menjalankan praktik kedokteran. Setelah memberikan pelayanan
praktik kedokteran kepada pasien, dokter dan dokter gigi segera
melengkapi rekam medis dengan mengisi atau menulis semua
pelayanan praktik kedokteran yang telah dilakukannya.
Dasar hokum penyelenggaraan rekam medis :
a. Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan.
b. Undang-undang Nomor 7 tahun 1971; tentang ketentuan-
ketentuan pokok kearsipan.
c. Peraturan pemerintah nomor 10 tahun 1966; tentang Wajib
Simpan Rahasia Kedokteran / Lembaran Negara, tahun 1966 nomor
21; tambahan lembaran negara 2803.
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1673 /
MENKESPER/XII/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUP Dr.
Hasan Sadikin Bandung.

D. Sistem Pengumpulan Data Rekam Medis


1. Sistem pengumpulan data pada rumah sakit
Rekam medis disini diartikan sebagai keterangan baik yang tertulis
maupun terekam tentang identitas, anmese, penentuan fisik
laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan tindakan medik yang
diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat
jalan maupun yang mendapatkanpelayanan darurat. Kalau diartikan
secara sederhana rekam medis seakan hanya merupakan catatan dan
dokumen tentang keadaan pasien, namun kalau dikaji lebih luas tidak

5
hanya sebagai catatan biasa, akan tetapi sudah merupakan segala
informasi yang menyangkut seseorang pasien yang akan dijadikan
dalam menentukan tindakan lebih lanjut dalam upaya pelayanan
maupun tindakan medis lainnya yang diberikan kepada seorang pasien
yang datang kerumah sakit.
Pada pelaksanaan sistem rekam medis data dikumpulkan dengan
aancara yang diawali pada saat :
a. Penerimaan Pasien
 Rawat jalan 
- Pasien baru
- Pasien lama
- Pasien Gawat Darurat
 Rawat Inap
Pasien yang memerlukan perawatan dibagi menjadi 3 kelompok :
- Pasien yang tidak urgen, penundaan perawatan pasien tidak akan
menambah gawat penyakitnya
- Pasien yang urgen, tetapi tidak gawat darurat dapat dimasukan
kedalam daftar tunggu
- Pasien gawat darurat, lansung di rawat
 Gawat Darurat
Pasien yang sudah diseleksi pemeriksaan kegawatannya dapat
dirawat pada ruangan khusus. Sistem penyelenggaraan rekam
medis dimulai dari pengumpulan data yang dilakukan pada saat
penerimaan pasien selanjutnya data didistribusikan menurut jenis
pelayanan yang dibutuhkan pasien ( unit pelaksana pelayanan ),
kemudian setiap unuit pelaksana pelayanan akan
mendokumentasikan semua hasil pemeriksaan dan pengobatan
pasien dengan menggunakan alat perekam medis tertentu baik
secara manual atau menggunakan Komputer.

6
b. Pencatatan
Pencatatan adalah pendokumentasian semua informasi medis di
unit rekam medis. Pencatatan yang dilakukan dapat bersifat :
 Kolektif

Catatan ini merupakan kumpulan catatan pasien yang datang ke unit


pelayanan, yang disebut buku register. Meliputi : Buku register rawat
jalan, rawat inap, persalinan, pembedahan dan laboratorium.

 Individual 

Catatan pendokumentasian segala tindakan medik yang diberikan


kepada seorang pasien dalam bentuk fformulir. Pelayanan medis
kepada pasien secara tersendiri.

c. Pengolahan Data Medis


Kegiatan dalam pengolaan data ini adalah :
 Coding 
Membuat kode atas setiap diagnosis penyakit berdasarkan klasifikasi
penyakit yang ada berdasarkan pengelompokan penyakit yang
dituangkan dalam bentuk kode.
 Indexing
Pembuatan index, diantaranya indeks rawat jalan, inap, bedah.
Penyakit semua ini dipersiapkan untuk membuat laporan statistik
Rumah Sakit.

d. Penyimpanan Rekam Medis


Terdapat 2 cara penyimpanan :
 Sentralisasi

Penyimpanan rekam medis seorang pasien dalam satu kesatuan


catatan medik

 Desentralisasi

Penyimpanan dengan cara pemisahan antara rekam medis poliklinik


dengan pasien dirawat. Biasanya dokumen medik disimpan dibagian
tersendiri dari bagian madical record mengikuti sistem yang ada di

7
masing-masing Rumah Sakit. Tersusun rapi menurut sistem yang
dinaut, abjad atau nomor atau tanggal masuk. Untuk lama
penyimpanan tidak ada perturan yang psti secara universal, tetapi ini
menyangkut keamanan penyimpanan dan ruangan serta biaya
pemeliharaan.

E. Sistem Dokumentasi Pelayanan


Rekam medis harus disimpan dan dijaga kerahasiaan oleh dokter,
dokter gigi dan pimpinan sarana kesehatan. Batas waktu lama
penyimpanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan paling lama 5
tahun dan resume rekam medis paling sedikit 25 tahun.
F. Isi Rekam Medis
Rekam medis sebagai bagian dari sistem pengumpulan data memiliki
aturan yang berlaku dalam penulisan disamping aturan tentang isi yang
ada dalma rekam medis. Secara umum isi rekam medis ada dua.
Pertama beisi catatan yang merupakan uraian tentang identitas pasien,
pemeriksaan pasien, diagnosis, pengobatan, serta tindakan dan
pelayanan yang dilakukan dokter maupun tenaga kesehatan lainnya.
Kedua, berisikan dokumen yang merupakan kelengkapan dari catatan
tersebut seperti foto rontgen, hasil laboratobium, dan keterangan lain.
Berdasarkan perkembangnannya rekam medis mempunyai memiliki
dua jenis, yaitu konvensional dan elektronik. Jenis konvensioval
merupakan jenis yang masih banyak dipergunakan disetipa rumah
sakit, seperti pencatatan secara langsung oleh tenaga kesehatan. Jenis
elektronik merupakan sistem pencatatan informasi dengan
menggunakan peralatan yang modern seperti komputer atau alat
elektronik lainnya.
1. Isi rekam medis pasien rawat jalan
Isi rekam medis sekurang-kurangnya memuat catatan/dokumen
tentang : Identitas pasien, Pemeriksaan fisik, diagnosis,
tindakan/pengobatan, pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien.

8
2. Isi rekam medis pasien rawat inap
Rekam medis untuk pasien rawat inap sekurang-kurangnya
memuat : Identitas pasien, pemeriksaan, diagnosis/masalah,
persetujuan tindakan medis (bila ada), tindakan/pengobatan ,
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
G. Kerahasian Rekam Medis
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
wajib menyimpan kerahasiaan yang menyangkut riwayat penyakit
pasien yang tertuang dalam rekam medis. Rahasia kedokteran tersebut
dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien untuk memenuhi
permintaan aparat penegak hukum (hakim majelis), permintaan pasien
sendiri atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
H. Syarat Rekam Medis
Agar rekam medis dapat digunakan dengan baik sesuai tujuan yang
ingin dicapai dengan adanya rekam medis, maka rekam medis yang
baik harus memenihi syarat-syarat seperti yang diungkapkan Sujudi,
(2000) “pendokumentasian informasi medis seorang patien termasuk
pasien kerusuhan/ bencana kedalam rekam medis haruslah tepat waktu,
up to date, cermat, lengkap, dipercaya dan objektif.

9
BAB III
PEMBAHASAN
1. Rekam Medis
Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang dimaksud dengan
rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain
yang telah diberikan kepada pasien. Permenkes Nomor
269/MenKes/Per/III/2008, tentang rekam medis menyatakan rekam Medis
adalah berkas berisi catatan dan dokumen tentang pasien yang berisi
identitas, pemeriksaan, pengobatan, tindakan medis lain pada sarana
pelayanan kesehatan untuk rawat jalan, rawat inap baik dikelola
pemerintah maupun swasta. Kedua pengertian rekam medis diatas
menunjukkan perbedaan yaitu Permenkes hanya menekankan pada sarana
pelayanan kesehatan, sedangkan dalam UU Praktik Kedokteran tidak. Ini
menunjukan pengaturan rekam medis pada UU Praktik Kedokteran lebih
luas, berlaku baik untuk sarana kesehatan maupun di luar sarana
kesehatan. Dalam Pasal 79 UU Praktik Kedokteran secara tegas mengatur
bahwa setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak membuat
rekam medis dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Selain tanggung jawab pidana, dokter dan dokter gigi yang tidak membuat
rekam medis juga dapat dikenakan sanksi secara perdata, karena dokter
dan dokter gigi tidak melakukan yang seharusnya dilakukan (ingkar
janji/wanprestasi) dalam hubungan dokter dengan pasien.
2. Tujuan Dan Fungsi
Rekam medis berfungsi sebagai dasar dan petunjuk untuk
merencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan,
perawatan dan tindakan medis yang harus diberikan kepada pasien.
Membuat Rekam Medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan
jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi
tenaga medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.

10
Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis
penyakit, pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat
untuk bahan informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di
bidang profesi kedokteran dan kedokteran gigi.
3. Tata Cara Penyelenggaraan Rekam Medis
Setiap catatan dalam rekam medis harus dibubuhi nama, waktu,
dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.
Apabila dalam pencatatan rekam medis menggunakan teknlogi informasi
elektronik, kewajiban membubuhi tanda tangan dapat diganti dengan
menggunakan nomor identitas pribadi/personal identification number
(PIN). Dalam hal terjadi kesalahan saat melakukan pencatatan pada rekam
medis, catatan dan berkas tidak boleh dihilangkan atau dihapus dengan
cara apapun. Perubahan catatan atas kesalahan dalam rekam medis hanya
dapat dilakukan dengan pencoretan dan kemudian dibubuhi paraf petugas
yang bersangkutan.
4. Kegiatan Rekam Medis
       Secara garis besar, kegiatan rakam medis terdiri dari 3 kegiatan yaitu:
1) Pencataan
Pencatatan identitas pasien (berupa data khas diantaranya: nama,
tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, status perkawinan). Data
sosial seperti: (agama,pendidikan, pekerjaan,identitas orangtua, identitas
penanggungjawab pembayaran) dilakukan di tempat pendaftaran atau
tempat penerimaan pasien, baik yang dirawat jalan, UGD, maupun yang
dirawat inap dan dikerjakan oleh petugas perekam medis. Pencataan juga
meliputi: Anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosis, pemeriksaan
penunjang, terapi dan tindakan medis yang dilakukan di tempat pelayanan
kesehatan.
2) Pangelolaan berkas / dokumen atau penyimpanan
Upaya pengelolaan rekam medis agar isinya lengkap, mudah
dimengerti, mudah disimpan, dan mudah diambil kembali jika diperlukan.
Pengelolaan ini erat kaitannya dengan tempat penyimpanan rekam medis,

11
sistem penomoran, alat-alat yang digunakan, assembling, analisis
kuantitatif dan kualitatif.
3) Pengelolaan data
Kegiatan mengumpulkan data, menghitung dan menganalisis data-data
dari kegiatan maupun data-data medis dan non medis yang ada direkam
medis sehingga dapat menjadi suatu laporan atau informasi yang
dibutuhkan. Pengelolaan data meliputi pengumpulan data dari buku
register dipindah ke sensus harian dari tiap tempat penerimaan pasien dan
tempat pelayanan, kemudian berkas yang sudah lengkap dapat dilakukan
pengolahan data atau koding( pemberian kode penyakit dari giagnosa)
kemudian dapat dilakukan index (pengelompokan) berdasarkan identitas
pasien, alamat, penyakit,dokter yang merawat kemudian direkapitulasi
(perhitungan) dan analis di rekam medis untuk menjadi laporan intern
maupun ekstern.
5. Proses Pengolahan Data
a. Assembling
Kegiatan assembling termasuk mengecek kelengkapan pengisian
berkas rekam medis dan formulir yang harus ada pada berkas rekam medis
(Budi, 2011). Selain itu analisis kuantitatif rawat jalan juga dilakukan
sesudah menyelesaikan kunjungan ke rawat jalan (Hatta, 2010).
b. Coding
Tenaga medis sebagai seorang pemberi kode bertanggung jawab
atas kekuatan kode dari suatu diagnosis yang sudah ditetapkan oleh tenaga
medis. Oleh karenanya untuk hal yang kuranhg jelas dan tidak lengkap,
sebelum ditetapkam, komunikasi terlebih dahulu dengan dokter yang
membuat diagnosis. Kegiatan dan tindakan, serta diagnosis yang ada
dalam rekam medis harus diberi kode untuk menunjang fungsi
perencanaan, manajemen , dan riset kesehatan (Depkes RI, 2006).

12
6. Kepemilikan Rekam Medis
Sesuai UU Praktik Kedokteran, berkas rekam medis menjadi milik
dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam
medis dan lampiran dokumen menjadi milik pasien. Penyimpanan rekam
medis harus disimpan dan dijaga kerahasiaan oleh dokter, dokter gigi dan
pimpinan sarana kesehatan. Batas waktu lama penyimpanan menurut
Peraturan Menteri Kesehatan paling lama 5 tahun dan resume rekam medis
paling sedikit 25 tahun. Untuk Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan
tahap Rekam Medis dilakukan oleh pemerintah pusat, Konsil Kedokteran
Indonesia, pemerintah daerah, dan organisasi profesi.

13
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
2. Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk
merencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakan
pengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus diberikan
kepada pasien. Rekam medis yang dibuat dengan jelas dan lengkap
akan meningkatkan kualitas untuk melindungi tenaga medis dan
untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Kegiatan rekam medis yaitu pencatatan identitas pasien (berupa data
khas diantaranya: nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin,
alamat, status perkawinan), pengelolaan rekam medis agar isinya
lengkap, mudah dimengerti, mudah disimpan, mengumpulkan data,
menghitung dan menganalisis data-data dari kegiatan maupun data-
data medis dan non medis.

B. Saran

Untuk melakukan akses memperoleh rekam medis, memerlukan


manajemen yang baik agar mampu melaluinya dengan baik. Adanya
peraturan perundang-undang rekam medis, supaya meningkatkan lagi
segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien,
dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan, maupun yang
mendapatkan pelayanan gawat darurat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Brotowasisto, 2003. Peranan Rekam Medis dalam Mendukung Kebijaksanaan


Pemerintah dalam Kaitan Rumah Sakit Sebagai Unit Swadana, Kumpulan
Makalah Seminar Nasional dalam Kongres dan Rakernas I-III PORMIKI,
Jakarta

Budi, Savitri C. 2011. Manajemen Unit Kerja Rekam Medis. Yogyakarta:


Quantum Sinergis Media

Depkes RI. 2006. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis


Rumah Sakit di Indonesia. Jakarta: Depkes RI

Depkes, RI. 1997. Pedoman Pengelolaan Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Hatta, Gemala, R., Peranan Rekam Medik Dalam Hukum Kedokteran, Majalah
Informasi Kesehatan, Edisi 18, Jakarta : Juli 1985, hlm 17

Hatta, G. 2010. Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan


Kesehatan. Jakarta: UI-Press

Menkes RI. 2008. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor


269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.

15