Anda di halaman 1dari 9

BAB III

RUANG LINGKUP STUDI

3.1 DESKRIPSI PROYEK

Deskripsi pembangunan bendungan waduk jatiluhur secara garis besar adalah sebagai
berikut:

• Tipe/Jenis bendungan : Urugan berlapis (Rockfill DAMS Zona DAMS)

• Pendiri : Ir. H. Juanda

• Pengembang : Indonesia, Perancis dan Belanda

• Tinggi bendungan : 114,5 meter.

• Jangka pembangunan : Dimulai tahun 1957 hingga 1967

• Elevasi Puncak : 1.200 meter

• Pengelola : PT.PLN dan Perum Jasa Trita II

• Luas Bendungan : 8.400 Ha

• Produksi Listrik : 1.000 juta kwh

• Debit Air : 12,9 milyar m3/kubik

• Jumlah Turbin : 6 Buah

• Pintu & Pipa Atur : 17 Buah Pompa Hidrolik dan 8 pintu buka-tutup.

Lokasi Waduk Bendungan Jatiluhur:

Bendungan Jatiluhur terletak dibagian Barat Pulau Jawa pada 70 Lintang Selatan,
130 Km disebelah Tenggara Jakarta. Merupakan proyek pengembangan tahap pertama
daerah pengairan sungai Citarum, meliputi pembangunan Bendungan Utama/Waduk,
Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang dilanjutkan dengan penyediaan sarana sistem
irigasi sepanjang dataran Pantai Utara Jawa Barat, terbentang dari sungai Cikeas dan
batas Timur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sampai sungai Cilalanang di Indramayu.

Tujuan Waduk Bendungan Jatiluhur:

Tujuannya terutama adalah untuk mengairi daerah persawahan yang luas sekali di
dataran Pantai Utara, juga memberikan tambahan tenaga listrik yang besar pada daerah
itu yang sedang berkembang dengan cepat

Sejarah Pembangunan Waduk Bendungan Jatiluhur.

Bendungan Jatiluhur dibangun pada tahun 1957-1967merupakan bendungan tipe


urugan berlapis (Rockfill DAMS Zona DAMS) yaitu bendungan yang dibangun dari
hasil penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan pembentuk bendungan asli yang
terdiri atas beberapa lapisan yaitu lapisan kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock
zone shell), lapisan batu teratur (nin-rap) dan lapisan pengering (filter zones) (soedibyo,
1993) dikutip dari geodesy ITB.

Penjelasan Waduk Jatiluhur:

Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan yang terbesar di Indonesia, yang


dibangun pada sungai Citarum terletak di kabupaten Purwakarta, kira-kira 9 kilometer
dari pusat kota Purwakarta, dibangun sejak tahun 1957 dan bendungan ini mulai
dioperasikan pada tahun 1967, pemanfaatan utama mula-mula untuk pembangkit tenaga
listrik, namun kemudian pemanfaatannya untuk segala kebutuhan yang berhubungan
dengan air. Bendungan utama Ir. H. Djuanda, yang dikenal juga dengan nama bendungan
Jatiluhur dengan panjang 1.200 meter dan tinggi tower 114,5 meter.

Penenggalam Desa & Kecamatan Untuk Pembangunan:

26 Desa didalam 3 kecamatan yaitu Kecamatan Jatiluhur, kecamatan Sukasari dan


kecamatan Tegalawan, propinsi Jawabarat, Indonesia.
Bendungan Jatiluhur yang dibangun pada saat memasuki era kemerdekaan,
merupakan proyek pengairan yang terbesar yang dikerjakan dan ditangani oleh teknisi-
teknisi dari bangsa Indonesia, dengan konsultan dari Perancis yang telah berpengalaman
dalam membangun bendungan besar. Bendungan ini dibuat menyerupai gaya bendungan
yang terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir.

Pemberian nama Luhur, karena di sini terdapat bangunan-bangunan yang


disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-1945, di mana pompa
hidrolik untuk saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah, pilar pemegang pintu pengatur
untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya berjumlah 8 buah, dan
angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk saluran Tarum
Timur, agar lebih efisien dan efektif dibuat miring 45 derajat.

Selain merupakan waduk yang terbesar, waduk Jatiluhur juga merupakan waduk
serbaguna yang pertama di Indonesia, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha,
dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3/ tahun dan memiliki fungsi
penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah untuk dua kali tanam dalam setahun,
selain itu waduk Jatiluhur juga berfungsi sebagai air baku air minum, budidaya perikanan
dan pengendali banjir yang dikelola oleh Perum Jasa Trita II.

Di dalam waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187
MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun dikelola oleh
PT PLN (Persero).

Manfaat Bendungan Waduk Jatiluhur:

Fungsi utama bendungan Jatiluhur adalah sebagai sarana irigasi, pusat listrik
tenaga air dan berfungsi pula sebagai tujuan wisata pendidikan dan wisata alam. Di
kawasan wisata Grama Tirta terdapat fasilitas rekreasi seperti hotel, restaurant, lapangan
tenis, kolam renang, taman bermain dan fasilitas lainnya, berhubung saya ingin
melanjutkan perjalanan ke kota Bandung dan hujan rintik-rintik yang mulai turun ketika
saya hendak meninggalkan lokasi bendungan Jatiluhur, saya tidak sempat foto-foto untuk
areal wisata tersebut.

3.2 RENCANA KEGIATAN YANG DITELAAH


3.2.1. Gambaran Umum Proyek

• Pembebasan tanah seluas 8.400 Ha

• Pekerjaan persiapan, meliputi:

1. Pekerjaan pembersihan dilakukan pada lokasi bendungan, jaringan irigasi


termasuk jalan inspeksi) base camp dan borrow area.

2. Pekerjaan pembangunan fasilitas, meliputi kantor direksi, gedung dan


sebagainya di kompleks base camp.

3. Pekerjaan prasarana

• Pembuatan/pelebaran jalan masuk sepanjang 4,5 Km

• Pembuatan jalan kerja/inspeksi dengan menggunakan alat berat


sepanjang 12,80 Km

• Pekerjaan penerangan/listrik di wilayah sekitar bendungan waduk


jatiluhur.

4. Pekerjaan mobilisasi personil dan alat berat seperti bldozer, back-hoe, dump
truck dll

5. Pekerjaan bangunan pengelak (cofferdam). Sebelum penggalian pondasi


dikerjakan terlebih dahulu dibuat cofferdam dan penggalian sumur pengelak.

6. Pekerjaan konstruksi bendungan. Meliputi pondasi, meja bendungan, lantai


down stream, lantai upstream dan pilar. Konstruksi meja bendungan dan pilar
direncanakan dari pasangan batu, sedangkan lantai baik upstream maupun di
down stream dari blok beton berisi batu dan bronjong batu kali. Meja bendungan
dan lantai up stream direncanakan pada elevasi +4, sedangkan lantai down stream
pada elevasi +3

7. Pekerjaan bangunan pelengkap meliputi pintu pengambilan, tanggul banjir dan


rumah kontrol. Rumah kontrol adalah bangunan tempat mengontrol
pengoperasian bendungan . Dalam bangunan ini ditempatkan semua alat-alat
yang digunakan dalam pengoperasian bendungan antara lain kompresor untuk
memompa bendungan waduk jatiluhur.

8. Pekerjaan lainnya adalah berupa pembuatan saluran irigasi dan bangunan air.

3.2.2 Komponen Kegiatan yang Dapat Menimbulkan Dampak Penting.

Kegiatan pembangunan yang meliputi kegiatan-kegiatan pada tahap pra-


konstruksi, konstruksi , konstruksi dan pasca konstruksi yang diperkirakan
menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan serta ditelaah dan dikaji
dalam studi AMDAL adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra Konstruksi

a. Penentuan lokasi kegiatan dan trase jalan masuk.

b. Pembebasan lahan seluas 8.400 Ha.

2. Tahap Konstruksi

a. Mobilisasi tenaga kerja.

b. Mobilisasi peralatan berat

c. Pengoperasian base camp

d. Pembersihan dan penyiapan lahan

e. Pembuatan saluran pengelak diversion tunnel dan coverdam

f. Pengambilan/penggalian material pada lokasi quarry dan borrow area

g. Pengangkutan bahan material dan tanah galian serta timbunan

h. Pelaksanaan konstruksi bendungan jatiluhur dan bangunan pelengkap.

3. Tahap Pasca Konstruksi

a. Kegiatan pengoperasian bendungan jatiluhur


b. Kegiatan pemeliharaan bendungan jatiluhur seperti perbaikan kebocoran,
pemeliharaan bangunan dan sebagainya.

3.3 KOMPONEN LINGKUNGAN YANG HARUS DITELAAH

3.3.1. Komponen Fisika dan Kimia

a. Iklim, mencakup tipe iklim, suhu(maksimum, minimum, rata-rata),


kelembapan udara, curah hujan dan jumlah hari hujan, keadaan angin (arah
dan kecepatan), kualitas udara dan tingkat sebisingan.

b. Fisiografi, mencakup topografi, morfologi, geologi dan tanah yang


menguraikan hasil dari pemetaan geologi di daerah penyelidikan (regional
dan site bendungan jatiluhur) dan juga penampang geologi meliputi: jenis
batuan, permeabilitas, struktur geologi, kestabilan lereng dan tingkat erosi.

c. Hidrologi, mencakup pola pemakaian air yang meliputi jenis pemanfaatan,


karakteristik fisik sungai, kuantitas air sungai meliputi debit air minimum.

d. Ruang Lahan dan Tanah, mencakup tata guna lahan (status lahan dan
kepemilikannya) rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang, rencana
tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya.

3.3.2. Komponen Biologi

Komponen biologi meliputi komponen biologi terestrial dan komponen


biologi akustik. Biologi terestrial terdiri atas flora darat dan fauna darat,
sedangkan biologi akustik terdiri atas plankton, bentos dan air lainnya.

1. Komponen Biologi Terestrial


a. Flora darat, uraian berbagai komunitas tumbuhan/vegetasi yang ada
dan yang dilindungi undang-undang atau yang spesifik terdapat di
lokasi rencana kegiatan.

b. Fauna darat, mencakup jenis satwa dan habitatnya terutama yang


dilindungi undang-undang atau yang spesifik karena memiliki nilai
ekonomis, ekologis dan estetika.

2. Komponen Biologi Akuatik

a. Benthos dan plankton, mencakup keanekaragaman jenis


benthos/plankton dan habitatnya.

b. Flora perairan, meliputi jenis vegetasi dan ekosistem, terutama yang


dilindungi undang-undang atau yang spesifik di lokasi kegiatan.

c. Fauna perairan, mencakup jenis biota air dan habitatnya (ikan,


amphibia), terutama yang dilindungi undang-undang atau yang
spesifik di lokasi kegiatan serta populasinya.

3.3.3. Komponen Sosial

1. Demografi, mencakup struktur kependudukan, mata pencaharian,


pendidikan dan agama, tingkat kepadatan dan persebaran penduduk,
angkatan kerja, tingkat, kelahiran dan kematian serta pola perkembangan
penduduk di sekitar bendungan waduk jatiluhur.

2. Ekonomi, mencakup pola pemilikan lahan yang dibebaskan, luas lahan,


bangunan, tanaman serta nilai lahan, kondisi sosial ekonomi masyarakat
pemili lahan yang dibebaskan meliputi jumlah jiwa, kesempatan kerja dan
berusaha, tingkat pendapatan rata-rata dan jumlah angkatan kerja dan
lokasi pembangunan bendungan waduk jatiluhur.

3. Budaya, meliputi kondisi sosial budaya masayarakat di sekitar lokasi


kegiatan, yang meliputi pola hidup, pranata sosial, adat istiadat dan
kebudayaan serta sikap dan persepsi masayarakat yang meliputi pendapat,
keinginan, dan harapan masyarakat terhadap proyek.
4. Kesahatan masayarakat , mencakup pemanfaatan air yang berhubungan
dengan kesehatan, potensi penyakit di wilayah studi dan fasilitas
kesehatan.

5. Prasarana dan sarana umum, meliputi utilitas dan fasilitas umum


peribadatan, pendidikan dan lain-lain.

3.4 BATAS WILAYAH STUDI

Batas wilayah studi ANDAL merupakan rangkuman dari batas proyek, sosial,
ekologis dan batas administratif (lampiran peta) dengan rincian sebagai berikut:

3.4.1. Batas Kegiatan Proyek

Batas kegiatan proyek adalah lokasi kegiatan proyek atau sekitar


proyek yang dapat memberi dampak terhadap lingkungan seperti bendungan
jatiluhur dengan bangunan pelengkap serta areal borrow area.

3.4.2. Batas Ekologis

Batas ekologis ditetapkan berdasarkan kemungkinan wilayah


persebaran dampak penting yang diperkirakan timbul akibat adanya kegiatan
proyek bendungan waduk jailuhur.

3.4.3. Batas Sosial

Batas sosial ditetapkan berdasarkan atas sifat dan kemungkinan


sebaran dampak penting yang diperkirakan timbul terhadap komponen sosial
ekonomi dan budaya masayarakat sekitarnya.

3.4.4. Batas Administrasi

Batas administratif meliputi batas administrasi pemerintahan yang terkena


dampak proyek yang meliputi:

a. Lokasi bendungan meliputi 26 Desa didalam 3 kecamatan yaitu


Kecamatan Jatiluhur, kecamatan Sukasari dan kecamatan Tegalawan,
propinsi Jawabarat, Indonesia.
b. Lokasi pelayanan air baku meliputi industri

c. Lokasi pelayanan air domestik dan air minum yang meliputi kecamatan:

Ruang lingkup studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut


diatas yang dibatasi oleh ketersediaan sumber daya yang tersedia antara
lain waktu, tenaga ahli dan dana.

3.5 KETERKAITAN DENGAN KEGIATAN PROYEK LAIN

Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain yaitu kemungkinan adanya


kegiatan lain yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi kegiatan
pembangunan bendungan waduk jatiluhur terutamaberkaitan dengan
konservasi daerah aliran sungai, pemakaian air irigasi waduk jatiluhur (8.400
Ha) dan budi daya pertanian pada sawah di areal bagian hilir.