Anda di halaman 1dari 10

1.

Definisi
Resiko bunuh diri adalah resiko mencederai diri sendiri,cedera
mengancam hidupnya (NANDA, 2005-2006: 218).
Bunuh diri (suicide) adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri,
dan dapat mengakhiri kehidupan. Keadaan ini didahului oleh respon
maladaptif. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat AB, 1991: 1)
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, 2007).

2. Etiologi
Banyak penyebab tentang alasan seseorang melakukan bunuh diri meliputi :
a) Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
b) Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan
c) interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti.
d) Perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri.
e) Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

Secara universal karena ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan


masalah maka penyebab bunuh diri terbagi menjadi:
a) Faktor Genetik
Faktor genetik (berdasarkan penelitian):
 1,5 – 3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada
individu yang menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang
mengalami gangguan mood/depresi/ yang pernah melakukan
upaya bunuh diri.
 Lebih sering terjadi pada kembar monozigot dari pada kembar
dizigot.
b) Faktor biologis lain
Biasanya karena penyakit kronis/kondisi medis tertentu, misalnya:
 Stroke
 Gangguuan kerusakan kognitif (demensia)
 DiabetesPenyakit arteri koronaria

Page 1
 Kanker
 HIV / AIDS
c) Faktor Psikososial & Lingkungan
Faktor Psikososial & Lingkungan meliputi :
 Teori Psikoanalitik / Psikodinamika: Teori Freud, yaitu bahwa
kehilangan objek berkaitan dengan agresi & kemarahan,
perasaan negatif thd diri, dan terakhir depresi.
 Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck, yaitu Pola kognitif negatif
yang berkembang, memandang rendah diri sendiri
 Stressor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga, penipuan,
kurangnya sistem pendukung social.

3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala bunuh diri meliputi :
a) Mempunyai ide untuk bunuhh diri
b) Mengungkapkan keinginan untuk mati
c) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d) Impulsif
e) Menunjukan perilaku yang mencurigakan (menjadi sangat patuh)
f) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
g) Menanyakan tentang obat dosis mematikan
h) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningka, marah,
panik dan mengasingkan diri)
i) Kesehatan mental (secara klinis klien terlihat sangat depresi, psikosis,
dan menyalahgunakan alkohol)
j) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis dan
terminal)
k) Kehiilangan pekerjaan atau kegagalan dalam karir
l) Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
m) Konflik interpersonal
n) Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

Page 2
4. Klasifikasi
Berdasarkan hubungan tersebut, Durkheim (dalam Corr, Nabe, &
Corr, 2003) membagi bunuh diri menjadi 4 tipe yaitu:
a) Egoistic Suicide
Inidividu yang bunuh diri di sini adalah individu yang terisolasi
dengan masyarakatnya, dimana individu mengalami underinvolvement
dan underintegration. Individu menemukan bahwa sumber daya yang
dimilikinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, dia lebih beresiko
melakukan perilaku bunuh diri.
b) Altruistic Suicide
Individu di sini mengalami overinvolvement dan overintegration.
Pada situasi demikian, hubungan yang menciptakan kesatuan antara
individu dengan masyarakatnya begitu kuat sehingga mengakibatkan
bunuh diri yang dilakukan demi kelompok. Identitas personal didapatkan
dari identifikasi dengan kesejahteraan kelompok, dan individu
menemukan makna hidupnya dari luar dirinya. Pada masyarakat yang
sangat terintegrasi, bunuh diri demi kelompok dapat dipandang sebagai
suatu tugas.
c) Anomic Suicide
Bunuh diri ini didasarkan pada bagaimana masyarakat mengatur
anggotanya. Masyarakat membantu individu mengatur hasratnya
(misalnya hasrat terhadap materi, aktivitas seksual, dll.). Ketika
masyarakat gagal membantu mengatur individu karena perubahan yang
radikal, kondisi anomie (tanpa hukum atau norma) akan terbentuk.
Individu yang tiba-tiba masuk dalam situasi ini dan mempersepsikannya
sebagai kekacauan dan tidak dapat ditolerir cenderung akan melakukan
bunuh diri. Misalnya remaja yang tidak mengharapkan akan ditolak oleh
kelompok teman sebayanya.
d) Fatalistic Suicide
Tipe bunuh diri ini merupakan kebalikan dari anomic suicide,
dimana individu mendapat pengaturan yang berlebihan dari masayarakat.
Misalnya ketika seseorang dipenjara atau menjadi budak.

Page 3
5. Pathway
1) Patofisiologi
-Perasaan ketidakberdayaan, kesepian atau keputusasaan
sekunder akibat:
a) Ketidakmampuan
b) Penyakit terminal
c) Penyakit kronis
d) Nyeri kronis
e) Ketergantungan kimia
f) Penyalahgunaan zat
g) Kerusakan mental
h) AIDS tahap lanjut
i) Gangguan bipolar
j) Kelainan psikiatrik
-Ketidakpuasan hasil dari tindakan (medis, pembedahan,
psikologis)
-Lamanya ketergantungan pada dialysis, suntikan insulin,
kemoterapi

2) Situasional (Personal, lingkungan)


Harga diri
a) Depresi
b) Konflik orang tua/perkawinan Rendah
c) Penyalahgunaan zat
d) Penyiksaan anak
e) Ketidakefektifan ketrampilan individu Isolasi
f) Kehilangan nyata atau yang dirasakan sekunder
akibat keuangan, pekerjaan, ancaman, Sosial
perpisahan/kematian/perceraian
g) Kehilangan ganda terkait AIDS
h) Keinginan balas dendam pada cedera yang nyata
atau yang dirasakan
3) Maturasional Resiko
Remaja bunuh
a) Perasaan diabaikan
b) Pengharapan yang tidak realistic dari anak oleh diri
orang tua
c) Mendapatkan tekanan atau penolakan teman
sebaya
d) Depresi
e) Relokasi
f) Kehilangan orang terdekat
4) Lansia
Kehilangan multiple sekunder akibat pension, isolasi
sosial, kehilangan orang terdekat

Page 4
o RENTANG RESPON
Rentang Respon

Peningkatan Pengambilan Perilaku Pencederaan Bunuh


diri resiko yang destruktif diri diri
meningkatka
n
pertumbuhan

6. Patofisiologi
Semua perilaku bunuh diri adalah serius, apapun tujuannya. Dalam
pengkajian perilaku bunuh diri, lebih ditekankan pada metoda lebalitas yang
dilakukan atau digunakan. Walaupun semua ancaman dan percobaan bunuh
diri harus ditanggapi secara serius, perhatian lebih waspada dan seksama
menjadi indikasi jika seseorang mencoba bunuh diri dengan cara yang paling
mematikan seperti dengan pistol, menggantungkan diri atau loncat.
Orang yang siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan
kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan
mempunyai niat untuk melakukannya. Perilaku bunuh diri biasanya dibagi
menjadi 3 kategori:
 Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan
ambevalensi seseorang tentang kematian kurangnya respon positif dapat
ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan
bunuh diri.
 Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu
yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah.
 Bunuh diri
Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan.
Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung
ingin mati mungkin pada mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui
tepat pada waktunya. Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu

Page 5
tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu masalah yang
menjatuhkan harga dirinya ( Stuart & Sundeen, 2006).

7. Pemeriksaan Penunjang
Koreksi penunjang dari kejadian suicide akan menetukan terapi
resisitasi dan terapi lanjutan yang akan dilakukan pada klien dengan tentamen
suicide.
Pemeriksaan darah lengkap dengan elektrolit akan menunjukan seberapa
berat syok yang dialami klien, pemeriksaan EKG dan CT scan bila perlu
dilakukan jika dicurigai adanya perubahan jantung dan perdarahan serebral

8. Penatalaksanaan
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat atau dikamar
pertolongan darurat di RS, dubagian penyakit dalam atau bagian bedah.
Dilakukan pengobatan terhadap luka-luka atau keadaan keracunan,
kesadaran pennderita tidak selalu menentukan urgensi suatu tindakan medis.
Penetuan perawatan tidak tergantung pada faktor sosial tetapi berhubungan
erat dengan kriteria yang mencerminkan besarnya kemungkinan bunuh diri.
bila keadaan keracunan atau terluka sudah dapat diatasi maka dapat
dilakukan evaluasi psikiatri. Tidak adanya hubungan beratnya gangguan
badaniah dengan gangguan psikologik. Penting sekali dalam pengobatannya
untuk menangani juga gangguan menntalnya. Untuk pasien dengan depresi
dapat diberikan terapi elektro konvulsi, obat-obat gterutama anti depresan dan
psikoterapi.
a. Penatalaksanaan medis
Pada semua kasus keinginan bunuh diri harus diperiksa. Apakah orang
mengisolasi dirinya sendiri waktu kejadiann sehingga tidak ditemukan
atau melakukan tindakan agar tidak ditemukan . pada kasus bunuh diri
ini membutuhkan obat penenang saat mereka bertindak kekerasan
pada diri mereka atau orang lain, dan pasien juga lebih membutuhkan
terapi kejiwaan melalui komunikasi terapeutik
b. Penatalaksanaan keperawatan
 Tindakan keperawatan untuk pasien :
 Membina hubungan saling percaya kepada klien
 Melindungi pasien dari perilaku bunuh diri

Page 6
 Membantu pasien untuk mengekpresikan perasaannya
 Membantuhh pasien untuk meningkatkan harga dirinya
 Membantu pasien untuk mengemukakan koping individu

9. Asuhan keperawatan yang mungkin muncul


a. Pengkajian
a. Pengkajian
Pengkajian Faktor Resiko Perilaku bunuh Diri meliputi :
 Jenis kelamin: resiko meningkat pada pria
 Usia: lebih tua, masalah semakin banyak
 Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko, hidup
sendiri merupakan masalah.
 Riwayat keluarga: meningkat apabila ada keluarga dengan
percobaan bunuh diri / penyalahgunaan zat.
 Pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi): Kehilangan orang
yang dicintai, pengangguran, mendapat malu di lingkungan social.
 Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian
introvert/menutup diri.
 Lain – lain: Penelitian membuktikan bahwa ras kulit putih lebih
beresiko mengalami perilaku bunuh diri.

b. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


 Resiko bunuh diri
 Isolasi sosial
 Koping tidak efektif
 Harga diri rendah
 Perilaku kekerasan
c. Rencana asuhan keperawatan

No. Dx. Rencana tindakan


Tujuan Intervensi
Keperawatan
1 Risiko Bunuh Tujuan umum:  Bina hubungan saling percaya
 Klien tidak melakukan dengan menggunakan prinsip
Diri
percobaan bunuh diri komunikasi terapeutik :
- Sapa klien dengan ramah
SP 1 : Klien dapat baik verbal maupun

Page 7
membina hubungan nonverbal
- Perkenalkan nama, nama
saling percaya
panggilan dan tujuan
perawat berkenalan
- Tanyakan nama lengkap
dan nama penggilan yang
disukai klien
- Buat kontrak yang jelas
- Tunjukan sikap jujur dan
menepati janji setiap kali
berinteraksi
- Tunjukan sikap empati
dan menerima apa
adanya
- Beri perhatian kepada
klien dan masalah yang
dihadapi klien
- Dengarkan dengan penuh
perhatian ekspresi
perasaan klien

SP 2 :  bantu klien mengungkapkan


- Klien dapat tanda-tanda perilaku bunuh diri
yang dialaminya :
mengidentifikasi - Motivasi klien
tanda-tanda perilaku menceritakan kondisi
emosionalnya
bunuh diri - Motivasi klien
menceritakan kondisi
sosialnya

diskusikan dengan klien percobaan


bunuh diri yang dilakukannya
SP 3: selama ini
- klien dapat Motivasi klien menceritakan tindakan
apa saja yang sudah pernah
mengidentifikasi dilakukan untuk mengakhiri hidup
perilaku
percobaan bunuh
diri yang pernah - Motivasi klien
menceritakan perasaan
dilakukan setelah tindakan tersebut
- Diskusikan apakah
dengan tindakan tersebut
masalah yang dialami

Page 8
SP 4 : klien teratasi
- Klien dapat
mengidentifikasi
akibat tindakan
yang sudah
Diskusikan dengan klien :
dilakukan untuk
Apakah klien mau mempelajari
bunuh diri cara baru untuk menghilangkan
keinginannya tanpa melakukan
tindakan destruktif terhadap
dirinya
Jelaskan berbagai alternatif yang
SP 5 :
dapat dilakukan jika keinginan bunuh
- Klien dapat diri muncul
Jelaskan cara-cara sehat untuk
mengidentifikasi
menghilangkan keinginan untuk
cara konstruktif bunuh diri : melakukan hobi klien,
berdoa, minta bantuan orang lain
untuk
jika muncul keinginan bunuh diri,
menghilangkan dan TAK
keinginannya
untuk bunuh diri

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi I. Jakarta:
EGC.
NANDA, 2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta: Prima Medika.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7. EGC:
Jakarta

Page 9
Page 10