Anda di halaman 1dari 13

1.

Definisi
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh
faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan,
kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya.
(Keliat,1998).

2. Etilogi
Etiologi dari wahan terbagi menjadi faktor predisposisi dan faktor
prepitasi
1. faktor presdisposisi
 Faktor perkembangan:
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan
interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan
ansietas yang berakir dengan gangguan presepsi, klien
menekankan perasaan nya sehingga pematangan fungsi
intelektual dan emosi tidak efektif.
 Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat
menyebabkan timbul nya waham
 Faktor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat
menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran
terhadap kenyataan
 Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena ada nya atrofi otak, pembesaran
ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik
 Faktor genetik
2. Faktor presipitasi
 Faktor sosial budaya
Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang
yang berarti atau di asingkan dari kelompok.

Page 1
 Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat
menjadi penyebab waham pada seseorang
 Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan
untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping
untuk menghindari kenyataan yang menyenagkan.

Rentang respon neurobiologi:

3. Tanda dan Gejala


 Kognitif :
- Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
- Individu sangat percaya pada keyakinannya
- Sulit berfikir realita
- Tidak mampu mengambil keputusan
 Afektif
- Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
- Afek tumpul
 Prilaku dan Hubungan Sosial
- Hipersensitif
- Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
- Depresi
- Ragu-ragu
- Mengancam secara verbal

Page 2
- Aktifitas tidak tepat
- Streotif
- Impulsive
- Curiga

 Fisik
- Higiene kurang
- Muka pucat
- Sering menguap
- BB menurun

4. Klasifikasi
1. Waham Agama yaitu keyakinan klien terhadap suatu agama
secara berlebihan.
2. Waham Kebesaran yaitu keyakinan klien yang berlebihan tentang
kebesaran dirinya atau kekuasaan.
3. Waham Somatik yaitu klien yakin bahwa bagian tubuhnya
tergannggu, terserang penyakit atau didalam tubuhnya terdapat
binatang.
4. Waham Curiga yitu klien yakin bahwa ada orang atau kelompok
orang yang sedang mengancam dirinya.
5. Waham Nihilistik yaitu klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada
lagi di dunia atau sudah meninggal dunia.
6. Waham Sisip pikir yaitu klien yakin bahwa ada pikiran orang lain
yang disisipkan./dimasukan kedalam pikiranya.
7. Waham Siar pikir yaitu klien yakin bahwa orang lain megetahui isi
pikiranya, padahal dia tidak pernah menyatakan pikiranya kepada
orang tersebut.
8. Waham Kontrol pikir yaitu klien yakin bahwa pikiranya dikontrol
oleh kekuatan dari luar.

5. Pathofisislogi
 Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien
baik secara fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham

Page 3
dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi
sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya
untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara
Reality dengan selft ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang
sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang dianggap
sangat cerdas, sangat berpengalaman dn diperhitungkan dalam
kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya
pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga
oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang ( life span
history ).
 Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya
kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan
dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi
sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya,
menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan
tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap
memasang self ideal  yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal
self reality-nya sangat jauh. Dari aspek pendidikan klien, materi,
pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat rendah.
 Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau
apa-apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi
kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi
menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat
berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk
dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam
hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil
secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan
koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi
hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi
dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi

Page 4
pendengar pasif tetapi  tidak mau konfrontatif berkepanjangan
dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
 Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam
lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama
kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut
sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari
sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada
lagi perasaan dosa saat berbohong.
 Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya
serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan
mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai
halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya.
Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar
interaksi sosial ( Isolasi sosial ).
 Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap
waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema
waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu
atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi ( rantai yang
hilang ). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi
waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting
sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara
konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-
apa yang dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada
konsekuensi sosial.
Penyebab
 Berbagai kehilangan dapat terjadi pada pasca bencana, baik
kehilangan harta benda, keluarga maupun orang yang bermakna.
Kehilangan ini menyebabkan stress bagi mereka yang
mengalaminya. Jika stress ini berkepanjangan dapat memicu
masalah gangguan jiwa dan waham. (Budi Anna Keliat, 2006:
147)

Page 5
Akibat
 Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi
verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas,
kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan
kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya
adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

6. Penatalaksanaan
 Psikofarmakologi
 Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial
 penarikan diri high potensial
 ECT tipe katatonik
 Psikoterapi
 Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

7. Asuhan keperawatan yang mungkin muncul


a. Pengkajian
Menurut tim Depkes RI (1994), pengkajian adalah langkah
awal dan dasar proses keperawatan secara menyeluruh. Pada tahap
ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk menentukan masalah
Beberapa faktor yang perlu dikaji:
 Faktor predisposisi
- Genetik : diturunkan
- Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal
dan konteks limbic
- Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamin ,serotonin
,dan glutamat.
- Virus : paparan virus influinsa pada trimester III
- Psikologi : ibu pencemas ,terlalu melindungi ,ayah tidak
peduli.
 Faktor presipitasi
- Proses pengolahan informasi yang berlebihan
- Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
- Adanya gejala pemicu

Page 6
Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal
dirawat. Isi pengkajiannya meliputi:
a. Identifikasi klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak
dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat,
tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
b. Keluhan utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
d. Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan
dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:
 Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis dari klien.
 Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan
dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-
anak.
 Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan,
kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang
menumpuk.
 Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu,
pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji
fungsi organ kalau ada keluhan.
 Aspek psikososial

Page 7
Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang
dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang
terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.

 Konsep diri
- Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian
yang disukai dan tidak disukai.
- Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan
klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai
laki-laki / perempuan.
- Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan
masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas
tersebut.
- Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan
dan penyakitnya.
- Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi
pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga
diri rendah.
- Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,
kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
- Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
 Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien,
aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir),
afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir,
isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan
berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri
 Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.
 Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap
bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.
 Aspek medic

Page 8
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi
psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual,
terapi okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu
refungsionalisasi dan perkembangan klien supaya dapat
melaksanakan sosialisasi secara wajar dalam kehidupan
bermasyarakat.

b. Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan
dari hasil pengkajian adalah:
 Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan waham.
 Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri
rendah.
c. Rencana asuhan keperawatan
No Dx. Keperawatan Rencana tindakan
.
1 Tujuan Intervensi
Gangguan proses TUM :
pikir: waham
Klien dapat berpikir
sesuai dengan realitas

TUK 1:  Bina hubungan saling


percaya dengan
Klien dapat membina
menggunakan prinsip
hubungan saling percaya.
komunikasi terapeutik :
- Sapa klien dengan
nama baik verbal
maupun non verbal.
- Perkenalkan diri
dengan sopan.
- Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan
yang disukai klien.

Page 9
- Jelaskan tujuan
pertemuan
- Jujur dan menepati
janji
- Tunjukkan sikap
empati dan
menerima klien apa
adanya.
- Berikan perhatian
kepada klien dan
perhatikan
kebutuhan dasar.

TUK 2
 Bantu klien untuk
mengungkapkan
Klien dapat
perasaan dan
mengidentifikasi perasaan
pikirannya.
yang muncul secara
 Diskusikan dengan
berulang dalam pikiran
klien pengalaman
klien,
yang dialami
selama ini.
 Dengarkan
pernyataan klien
dengan empati
tanpa
mendukung/menent
ang pernyataan
wahamnya

TUK 3  Bantu klien


mengidentifikasi
Klien dapat
kebutuhan yang
mengidentifikasi
tidak terpenuhi
stressor/pencetus

Page 10
wahamnya serta kejadian yang
menjadi faktor
pencetus
wahamnya.
 Diskusikan dengan
klien tentang
kejadian-kejadian
traumatik yang
menimbulkan rasa
takut, cemas
maupun perasaan
tidak dihargai.
 Diskusikan
kebutuhan/harapan
yang belum
terpenuhi.
 Diskusikan dengan
klien cara-cara
mengatasi
kebutuhan yang
tidak terpenuhi dan
kejadian traumatik.
 Diskusikan dengan
klien antara
kejadian traumatik
dengan wahamnya.

TUK 4:
 Bantu klien
Klien dapat mengidentifikasi
mengidentifikasi keyakinan yang salah

Page 11
wahamnya tentang situasi yang
nyata (bila klien sudah
siap) :
- Diskusikan dengan
klien pengalaman
wahamnya tanpa
beragumentasi.
- Katakan kepada
klien akan
keraguan perawat
terhadap
pernyataan klien.
- Diskusikan dengan
klien respon
perasaan terhadap
wahamnya.

Page 12
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Keliat A. Budi, Akemat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.


Jakarta: EGC.
NANDA, 2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta: Prima Medika.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7. EGC:
Jakarta

Page 13