Anda di halaman 1dari 48

UJIAN AKHIR SEMESTER PRAKTIKUM FARMASI KLINIS

PRODI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS


UNIVERSITAS PGRI MADIUN
TAHUN 2020

Nama Mahasiswa MELANI PUTRI MELATI Mata Kuliah / Kode Praktikum Farmasi Klinis /
FAR-
NIM 1704101001 SKS 2 SKS
Sistem Close Book Online Program Studi Farmasi
Semester Enam / VI Hari / Tanggal Sabtu /
Dosen Penguji Umi Fatmawati, S. Farm, M. Tanda tangan mahasiswa
Farm, Klin, Apt
Waktu 100 menit Jam 10.50-11.40

Untuk no urut absen 1

1
Tugasnya adalah
1. Masalah terkait obat?
2. Bagaimana penyiapan atau penyaluran obatnya? UDD, WFS, IP, Emergency kit
3. Cara penyiapannya bagaimana? pemberian etiket pengaturan jam minum dan jam injeksi
4. Pelabelannya gimana? Apakah ada yang di label LASA, High Alert, Sitostatika, Kocok dahulu dll
5. Apakah ada sediaan yang di berikan sharing use?
6. Apakah ada sediaan yang perlu di repacking?
7. Apakah ada obat yang disimpan? Tidak sekali pakai buang? Bagaimana labelnya bila sudah di buka?
8. Bagaimana cara pencampuran obat nya dan cara injeksinya?
9. Bagaimana konseling atau bed side konseling (Video)?
10. Buat Form serah Terima versi sendiri?
11. Komentari terkait 10 lingkar kegiatan farmasi terkait kasus berikut ini?
12. Obat KRS diberikan untuk 3 hari penyiapannya bagaimana?
13. Apakah terjadi ESO aktual? Bagaiman pelaporan di form MESO dan beri penilaian Naranjo Scale dan WHO

2
RUANG PERAWATAN UNIPMA DOKUMEN FARMASI PENDERITA KASUS NO ABSEN 1
LEMBAR PENGOBATAN

No. RM : Diagnosis : CH + Ascites + Child Plug 3 + Hepatitis B Kronik + HE + Hipoalbumin + HM Tgl.MRS/KRS:


11.32.xxxx.-- Alasan MRS: perut membesar sebulan yang lalu, tidur dengan 3 bantal, sesak nafas, tidak bisa tidur, 01/12/2019 – 8/12/2019
Ruangan Asal : IRD ngelantur bicaranya, mata kuning, muntah, bengkak di kedua kaki Ket. KRS :-
Nama/Umur: Tn. Riwayat penyakit: Merokok sejak usia 17 tahun sehari 1 – 2 pak, alkohol (+), jamu (+) Nama Dokter : dr, xxxx
Sxxxx / 49 Tahun Nama Farmasis : Umi
(L) Fatmawati, S.Farm, M.
Alamat : Sidoarjo Farm, Klin, Apt,
BB/TB/LPT: 55 Kg /
160 cm
Riwayat Alergi : -
Status pasien : BPJS
Tanggal Pemberian Obat
No.
8/12
Nama Obat dan
01/12 02/12 03/12 04/12 05/12 06/12 07/12 KR
Dosis Regimen
S

3
x
1
Furosemide t
1.       
3x20 mg iv a
b
p
o

Spironolakton
2. 100 mg s1dd1        √
po
Lamivudin
3.       
3x100 mg po
4. Laktulosa 3xCII        √
3
po
Ondancetron 3x8
5.       
mg iv
Curcuma 3x1
6.     -    √
tab po
Asam
7. Traneksamat       
500 mg inj 3x1
Vit K 500 mg
8.       
inj 3x1
Inj. Omeprazole
9.       
40 mg 3x1
Bisoprolol 3x5
10.       
mg po
Moxyfloxacin
11. 2x400 mg iv       
drip
Octreotid 25
12.       
mikrogram / jam
Alprazolam 0,25
13.       
mg s1dd1 po
14 KSR 3x1 tab    

KASUS NO ABSEN 1 :

Nama Pasien : Tn.Sxxxx No.RM :11.32.xxxx IRNA/Ruangan : Hepar KASUS NO ABSEN 1 :

NO DATA KLINIK Tanggal


01/12 02/12 03/12 04/12 05/12 06/12 07/12 08/12

4
1. Suhu (36-37,5)0C 36,5 37,5 36,0 38,0 37,0 37,5 37,5
2. Nadi (80- 90 90 84 88
80 88
100x/menit) 86
3. RR (18-20x/menit) 20 22 22 18 22 22 24
4. Tekanan Darah 100/8
100/80 110/85 120/90 80/60 90/60 90/85
(120/80mmHg) 5
5. KU Lemah Lemah Lemah Lemah Lemah Lemah Lemah
6. GCS 456 456 456 456 456 456 456
7. Mual/Muntah -/+ -/+ -/+ -/+ -/- -/- -/-
8. Sesak nafas + + + + + + +
9. Bengkak kaki
+ + + + + + +
kanan dan kiri
10 Mata kuning + + + + + + +
11 Tidak bisa tidur + + + + + + +
12 Perut membesar +++ +++ ++ ++ ++ + +
13 Ngelantur bicara + + - - - - -

KASUS NO ABSEN 1

No Data Lab. Normal 07/12


01/12 02/12 03/12 04/12 05/12 06/12
.
1. Hb 13.2 – 17.3 g/dL 9,78 10,51
2. Leukosit 3.37-10 x 103 11750 9875
5
g/µL
3. Trombosit 150-400x 103 112 148
4. K 3.5-5.0 mmol/L 1,8 2,1
5. Na 136-146mmol/L 125 132
6. Chloride 98-107mmol/L 91 99
7. Mg 1.8-2.4mg/dL
8 BUN 7-22 mg/dL 19 18
9. Scr 0,6-1,3mg/dL 0,1 1,1
10. Kolestrol total 150-200 mg/dL 191
11. LDL < 100 mg/dL 98
12. Uric acid 2,6-7,2 mg/dL
13. Eritrosit 3,69-5,46 g/µL 2,11 3,41
14. SGOT <41 398 324
15. SGPT <38 258 211
16. GDA 40-121mg/dl 221 198
17 PTT 9-12 detik
18 aPTT 23-33 detik
19 Bil Direk 0-0,2 mg / dl 3,4 2,8
20 Bil Total 0,1 – 1 mg / dl 3,2 2,9
21 Albumin 3,4 – 4,8 g / dl 1,2 2,3
22 Hbe Ag NR R
23 HBV DNA 105 1,2 x 108

14. Bagaimana kriteria wadah atau kemasan untuk TPN ?


15. Komentari cara pengambilan TPN berikut ini dan sebaiknya pemberian perifer, vena central atau umbilical ? pasien neonatus BB 1900; No RM
12343212; Umur; 1,5 bulan, ibu Ny Amelia, TPN dibuat tanggal 29 Mei 2020.
a. D 12,5% 30 ml yang ada D5% dan D40%

6
b. Aminosteril 10 % 10 ml
c. Smoflipid 20% 4 ml
d. NaCl 15 % 6 ml
e. KCl 7,4% 2 ml
f. Ca Gluconas 10% 8 ml
g. MgSO4 20 % 2 ml
16. Bagaimana label dari TPN yang sudah jadi no 15 ? buat versi anda sendiri?
17. Kenapa TPN tidak disterilkan ?
18. Cari standard penyiapan compounding steril preparation ashp (csp) ?
19. Kenapa pada TPN > 900 mosmol di berikan secara vena central?
20. Cari USP standar pencampuran obat suntik chapter 797?

PENYELESAIAN :
1. Masalah Terkait Obat?

Nama : Tn. Sxxxx No. RM : 11.32 .xxxx Dokter :dr, xxxx

7
Umur : 49 tahunBB: 55 kg TB :160 cmLPT : m2 Ruangan : IRD – Hepar Apoteker : Umi Fatmawati,
S.Farm, M. Farm, Klin, Apt,
Hari / Kode
No Uraian Masalah Rekomendasi / Saran Tindak Lanjut
Tanggal Masalah
1. 1/5/2020 S : perut membesar sebulan yang lalu, tidur P : Dikonsultasikan kepada dokter terkait unuk I : Dilakukan konfirmasi kepada
dengan 3 bantal, sesak nafas, tidak bisa tidur, pemberhentian obat dan melakukan monitoring dokter
ngelantur bicaranya, mata kuning, muntah, data klinis
bengkak di kedua kaki

O : a) SGOT, SGPT (tinggi)


b) adanya penanda virus
c) GDA (tinggi)
e) jumlah trombosit rendah

A : Berdasarkan data klinis tersebut penggunaan


antibiotik harus diawasi karena dapat
memperburuk keadaan hati dan kadar sgot dan
sgpt tinggi di beri golongan beta bloker dan
spironolacton untuk mengatasi komplikasi
ascites
2. 2/5/2020 S :mual muntah, sesak nafas, bengkak seluruh P : perlu dikonsultasikan kepada dokter terkait I : a) Dilakuakn konfirmasi kepada
tubuh, gelisah perut membesar, berak dan dengan penambahan dosis dan terapi dokter
mutah darah

O :Keadaan data klinis masih sama seperti tanggal


1 karena tidak dilakukan pemeriksaan

A : Pengobatan tetap dilajutkan sesuai dengan


terapi karena belum menunjukan perubahan
dan Pemberian asam tranexamat Mencegah
plasminogen menjadi plasma

3. 3/5/2020 S : mual muntah, sesak nafas, bengkak seluruh P : Perlu dilakukan monitoring data laboratorium I : Dikonfirmasi kepada dokter terkait
tubuh, gelisah perut membesar terkait
a) Bleding berkurang atau tidak
O :Tidah dilakukan pemeriksaan b) Hb, HCT, PPT, APTT, HbeAg
c) SGOT, SGPT, Bilirubin total, Bilirubin
A : Pemeriksaan data laboratorium hanya direct (kolelitiasis)

8
dilakukan pada tanggal 1/5/2020.
Pasien telah mendapatkan terapi:
Antibiotik, mengatasi gastrointestina, ascites
mengatasi bakteri dan enselopati Hati

4. 4/5/2020 S: mual muntah, sesak nafas, bengkak seluruh P: Perlu dikonsultasikan kepada dokter penambahan I: Dikonfirmasi kepada dokter
tubuh, gelisah perut membesar dosis dan obat

O: a) suhu normal
b) SGOT, SGPT (sudah menurun namun masih
tinggi
b) adanya penanda virus
c) GDA (tinggi) albumin meningkat

A: Penambahan KSR adalah untuk mengatasi


kekurangan kalium dalam darah dan
nmencegah peningkatan komplikasi pada hati
hati.
5. 6/5/2020 S: mual muntah, bengkak seluruh tubuh, gelisah P: Monitoring data laboratorium pasien I: Konfirmasi kepada dokter
perut membesar Perlu dilakukan evaluasi keadaan pasien

O: suhu normal, Nadi normal keadaan gejala


menjadi menurun

A: Pasien mendapatkan terapi Sandostatin dan


octeotid yang sama mekanismen kerjanyan
untuk mengatasi varises gastroesofagus dan
keadaan pasien semakin membaik
6. 7/5/2020 S: bengkak seluruh tubuh, gelisah perut membesar P: Monitoring data laboratorium pasien I: Konfirmasi kepada dokter
Perlu dilakukan evaluasi keadaan pasien
O: Suhu Normal, TD rendah
Tidak didapatkan data objektif

A: Pasien mendapatkan terapi metoclopramid


untuk mengatasi mual muntahnya, perlu
dilakukan evaluasi pemberian deuretik dapat
menyebabkan hipotensi

9
7. 8/5/2020 S: bengkak seluruh tubuh, gelisah perut membesar P: Monitoring data laboratorium pasien I: Konfirmasi kepada dokter
Perlu dilakukan evaluasi keadaan pasien
O: suhu normal, Td rendah
Tidak didapatkan data objektif

A: Pasien mendapatkan terapi obat yang sama pada


tanggal 7/5/2020 namun keadaan pasien sudah
berangsur membaik, perlu ditambah penambah
darah untuk mengatasi hipotensi dan penambahan
vitamin.
8. 9/5/2020 S: keadaan psien membaik tidak timbul gejala P: Monitoring data laboratorium pasien I: Konfirmasi kepada dokter

O: tidak didaptkan data objectif

A : Pasien diberi obat UDCA (Maelindungi hepar


dari kerusakan asam empedu)
Furosemid diberikan untuk Dikombinasi dengan
spironolakton, merupakan diuretik kuat
untuk mengatasi ascites
Pemberian spironolacton di harapkan dapat
memperbaiki asites
Pemberian propranolol dapat mengurangi angka
kejadian komplikasi terkait hipertensi portal,
seperti ensefalopati, peritonitis bakterial
spontan, dan asites
Diberikan Hepamax berfungsi sebagai seplemen
untun menjaga kesehatan fungsi hati

2. Bagaimana penyiapan atau penyaluran obatnya? UDD, WFS, IP, Emergency kit
- UDD
10
RUMAH SAKIT DISTRIBUSI RAWAT INAP DENGAN
UNIPMA UNIT DOSE DISPENDING
No. Dokumen : No. Revisi Halaman : ½
STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan :
PROSEDUR Direktur RS UNIPMA
OPERASIONAL
dr. xxx
PENGERTIAN Proses ini digunakan untuk mengatur proses distribusi obat rawat inap
diruang perawatan dengan system unit dose dispending
TUJUAN Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan UDD
PROSEDUR 1. Petugas mengecek obat pasien
2. Retur obat bila pasien meninggal atau pulang
3. Resep diantar oleh perawat ke ruang farmasi
4. Petugas farmasi melakukan skrining resep
5. Obat disiapkan untuk keperluan 1 hari dengan masing-masing etiket
6. Entri pemakaian obat pada computer
7. Obat disimpan pada masing-masing loker obat pasien, lakukan
serah terima dengan perawat ruangan
8. Semua data obat dicatat direkam medik
UNIT TERKAIT Instalasi Farmasi, Rawat inap

- WFS
RUMAH SAKIT DISTRIBUSI RAWAT INAP DENGAN
UNIPMA WFS
No. Dokumen : No. Revisi Halaman : ½
STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan :
PROSEDUR Direktur RS UNIPMA
OPERASIONAL
dr. xxx
PENGERTIAN Proses ini digunakan untuk mengatur proses distribusi obat rawat inap
diruang perawatan dengan system Ward Floor Stock

11
TUJUAN Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan WFS
PROSEDUR 1. Petugas mengecek obat pasien
2. Retur obat bila pasien meninggal atau pulang
3. Resep diantar oleh perawat ke ruang farmasi
4. Petugas farmasi melakukan skrining resep
5. Obat disiapkan untuk keperluan 1 hari dengan masing-masing etiket
6. Entri pemakaian obat pada computer
7. Obat disimpan pada masing-masing loker obat pasien, lakukan
serah terima dengan perawat ruangan
8. Semua data obat dicatat direkam medik
UNIT TERKAIT Instalasi Farmasi, Rawat inap

WFS merupakan sistem distribusi dimana semua obat atau alat kesehatan kecuali obat yang jarang dipakai atau yang harganya mahal
disimpan dalam ruangan atau tempat yang dapat dipakai sewaktu-waktu apabila terjadi keadaan yang membutuhkan live saving drugs oleh
perawat atau dokter dengan macam dan jumlah obat yang disesuaikan dengan kebutuhan ruangan, jenis penyakit dan banyaknya penderita di
suatu ruangan.
- IP Sistem resep individual (pesanan obat secara individual)
Sistem ini memberikan pelayanan kepada pasien secara individual dan cara ini memudahkan penarikan pembayaran atas obat yang diberikan
kepada pasien.
RUMAH SAKIT DISTRIBUSI RAWAT INAP DENGAN
UNIPMA IP
No. Dokumen : No. Revisi Halaman : ½
STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan :
PROSEDUR Direktur RS UNIPMA
OPERASIONAL
dr. xxx
PENGERTIAN Proses ini digunakan untuk mengatur proses distribusi obat rawat inap
diruang perawatan dengan system IP
TUJUAN Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan IP
PROSEDUR 1. Petugas mengecek obat pasien
2. Retur obat bila pasien meninggal atau pulang

12
3. Resep diantar oleh perawat ke ruang farmasi
4. Petugas farmasi melakukan skrining resep
5. Obat disiapkan untuk keperluan 1 hari dengan masing-masing etiket
6. Entri pemakaian obat pada computer
7. Obat disimpan pada masing-masing loker obat pasien, lakukan
serah terima dengan perawat ruangan
8. Semua data obat dicatat direkam medik
UNIT TERKAIT Instalasi Farmasi, Rawat inap

- Emergency kit : mengatasi gawat darurat


RUMAH SAKIT DISTRIBUSI RAWAT INAP DENGAN
UNIPMA WFS
No. Dokumen : No. Revisi Halaman : ½
STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan :
PROSEDUR Direktur RS UNIPMA
OPERASIONAL
dr. xxx
PENGERTIAN Proses ini digunakan untuk mengatur proses distribusi obat rawat inap
diruang perawatan dengan system Emergency kit
TUJUAN Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan Emergency kit
PROSEDUR 1. Petugas mengecek obat pasien
2. Retur obat bila pasien meninggal atau pulang
3. Resep diantar oleh perawat ke ruang farmasi
4. Petugas farmasi melakukan skrining resep
5. Obat disiapkan untuk keperluan 1 hari dengan masing-masing etiket
6. Entri pemakaian obat pada computer
7. Obat disimpan pada masing-masing loker obat pasien, lakukan
serah terima dengan perawat ruangan
8. Semua data obat dicatat direkam medik
UNIT TERKAIT Instalasi Farmasi, Rawat inap

13
3. Cara penyiapannya bagaimana? pemberian etiket pengaturan jam minum dan jam injeksi ?
PENYERAHAN OBAT
Nama Pasien : Ny.rxxxxx Alamat : Gresik
Usia : 49 tahun Patient ID :-
Room No. :- No. Bed :-
Tanggal Identitas Obat Pemberian Aturan Waktu Penyerahan Paraf
1/5/2020 Pakai 05.00/ 09.00 13.00/ 17.00 21.00/ 24.00 Perawat
06.00 14.00 22.00
Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

2/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1


Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
14
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

3/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1


Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

15
4/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
6/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
Octreotid 25 mikrogram / jam 25
16
mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
7/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
8/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
17
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
9/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1

4. Pelabelannya gimana? Apakah ada yang di label LASA, High Alert, Sitostatika, Kocok dahulu dll
a. LASA
Asam Asam MEFENamat
TRANEXamat LASA
18
PROPANolol LABETolol
OMEprazole LANSOprazole

b. Hight alert
 Propanolol HIGH ALERT
Please Double
 UDCA
Check !!!

c. Pelabelan untuk Antibiotik


 Lamivudin
DIHABISKAN

d. Obat Sitostatika
Obat sitostatika adalah obat-obatan yang digunakan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel–sel kanker. Kemoterapi
bermanfaat untuk menurunkan ukuran kanker sebelum Page 14 2 operasi, merusak sel –sel kanker yang tertinggal setelah operasi dan
mengobati berbagai macam kanker (Kelvin dan Tyson, 2011).

19
20
5. Apakah ada sediaan yang di berikan sharing use?
-
6. Apakah ada sediaan yang perlu di repacking?
Repacking adalah Suatu sediaan obat harus mempunyai kemasan untuk mempertahankan shelf life. Pengemasan obat adalah suatu bentuk
perlindungan terhadap sediaan obat agar aman dikonsumsi.Perlindungan dengan kemasan bertujuan untuk menghindari bahaya terhadap
kelembaban, kontaminasi mikroba, dan cahaya matahari serta bahaya fisik seperti penyimpanan dan pengangkutan bahkan selama penggunaan
obat tersebut.
Pengemasan sediaan obat ke wadah disebut pengemasan kembali (repacking).Pengemasan kembali dilakukan jika kemasan ruah berkapasitas
besar sehingga perlu dilakukan pengemasan kembali sesuai dosis unit.
7. Apakah ada obat yang disimpan? Tidak sekali pakai buang? Bagaimana labelnya bila sudah di buka?
8. Bagaimana cara pencampuran obat nya dan cara injeksinya?
Jawaban :
a. Pencampuran Obat
Proses pencampuran obat suntik secara aseptis, mengikuti langkah – langkah sebagai berikut:
a) Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
b) Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi sesuai prosedur tetap
c) Menghidupkan Laminar Air Flow (LAF) sesuai prosedur tetap
d) Menyiapkan meja kerja LAF dengan memberi alas penyerap cairan dalam LAF.
e) Menyiapkan kantong buangan sampah dalam LAF untuk bekas obat.
f) Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan alkohol 70 %.
g) Mengambil alat kesehatan dan obat-obatan dari pass box.

21
h) Melakukan pencampuran secara aseptis

Tehnik memindahkan obat dari ampul


1. Membuka ampul larutan obat: (gambar 1)
 Pindahkan semua larutan obat dari leher ampul dengan mengetuk-ngetuk bagian atas ampul atau dengan melakukan gerakan J-
motion.
 Seka bagian leher ampul dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
 Lilitkan kassa sekitar ampul.
 Pegang ampul dengan posisi 45º, patahkan bagian atas ampul dengan arah menjauhi petugas. Pegang ampul dengan posisi ini
sekitar 5 detik.
 Berdirikan ampul.
 Bungkus patahan ampul dengan kassa dan buang ke dalam kantong buangan.
2. Pegang ampul dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam ampul, tarik seluruh larutan dari ampul, tutup needle.
3. Pegang ampul dengan posisi 45º, sesuaikan volume larutan dalam syringe sesuai yang diinginkan dengan menyuntikkan kembali larutan
obat yang berlebih kembali ke ampul.
4. Tutup kembali needle.
5. Untuk permintaan infus Intra Vena , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding agar
tidak berbuih dan tercampur sempurna.
6. Untuk permintaan Intra Vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai untuk penyuntikan.
7. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam kantong buangan tertutup.
Tehnik memindahkan sediaan obat dari vial:

22
1. Membuka vial larutan obat
 Buka penutup vial.
 Seka bagian karet vial dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
 Berdirikan vial
 Bungkus penutup vial dengan kassa dan buang ke dalam kantong buangan tertutup
2. Pegang vial dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam vial.
3. Masukan pelarut yang sesuai ke dalam vial, gerakan perlahan-lahan memutar untuk melarutkan obat.
4. Ganti needle dengan needle yang baru.
5. Beri tekanan negatif dengan cara menarik udara ke dalam spuit kosong sesuai volume yang diinginkan.
6. Pegang vial dengan posisi 45º, tarik larutan ke dalam spuit tersebut.
7. Untuk permintaan infus intra vena (iv) , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding
agar tidak berbuih dan tercampur sempurna.
8. Untuk permintaan intra vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai untuk penyuntikan.
9. Bila spuit dikirim tanpa needle, pegang spuit dengan posisi jarum ke atas angkat jarum dan buang ke kantong buangan tertutup.
10. Pegang spuit dengan bagian terbuka ke atas, tutup dengan ”luer lock cap”.
11. Seka cap dan syringe dengan alkohol.
12. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam kantong buangan tertutup.
i) Memberi label yang sesuai untuk setiap spuit dan infus yang sudah berisi obat hasil pencampuran.
j) Membungkus dengan kantong hitam atau alumunium foil untuk obat-obat yang harus terlindung dari cahaya.
k) Memasukkan spuit atau infus ke dalam wadah untuk pengiriman.
l) Mengeluarkan wadah yang telah berisi spuit atau infus melalui pass box.

23
m) Membuang semua bekas pencampuran obat ke dalam wadah pembuangan khusus
b. Obat dan Cara Injeksinya
a) Furosemide 3x20 mg iv
b) Ondancetron 3x8 mg iv
c) Asam tranexamat 500 mg 3 x 1
dosis : Sehari 250-500 mg disuntikkan secara intravena atau intramuskular, dibagi dalam 1-2 dosis. Pada waktu atau setelah operasi
d) Vit K 500 mg inj 3x1
e) Moxyfloxacin 2x400 mg iv drip
Cara :
1. IV atau intravena adalah metode pemberian obat melalui injeksi atau infus melalui intravena. Sebenarnya, intravena sendiri memiliki arti ‘di
dalam vena’. Jadi obat akan dimasukkan langsung ke pembuluh vena menggunakan jarum atau tabung yang disebut kateter IV. Prosedur injeksi
intravena ini harus dilakukan oleh ahli medis professional
Prosedur pemberian :
 Cuci tangan
 Pakai sarung tangan
 Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol, dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter sekitar 5
cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
 Pegang kapas alkohol, dengan jari-jari tengah pada tangan non dominan.
 Buka tutup jarum. Tarik kulit kebawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penusukan dengan tangan non dominan. Membuat kulit menjadi
lebih kencang dan vena tidak bergeser, memudahkan penusukan. Sejajar vena yang akan ditusuk perlahan dan pasti. Pegang jarum pada
posisi 30.

24
 Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena
 Lakukan aspirasi dengan tangan non dominan menahan barel dari spuit dan tangan dominan menarik plunger.
 Observasi adanya darah pada spuit
 Jika ada darah, lepaskan terniquet dan masukkan obat perlahan-lahan.
 Keluarkan jarum dengan sudut yang sama seperti saat dimasukkan, sambil melakukan penekanan dengan menggunakan kapas alkohol pada
area penusukan
 Tutup area penusukan dengan menggunakan kassa
2. Intramuskular
Pemberian obat secara intramuscular adalah pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam otot (muskulus).
Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk saraf. Misalnya
pada bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas.
Jaringan intramuscular : terbentuk dari otot bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi (setiap 20 mm3 terdiri dari 200 otot dan 700
kapiler darah). Aliran darah tergantung dari posisi otot di tempat penyuntikan
Prosedur pemberian :
a Mencuci tangan
b Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
c Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan dalam bak injeksi.
d Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan)
e Desinfekasi dengan kapas alkohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
f Lakukan penyuntikan:
a) Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fleksi.

25
b) Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat
yang diinjeksi fleksi. Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf
besar.
c) Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut diputar kearah dalam atau miring dengan lutut
bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah.
d) Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.
g Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
h Setelah jarum masuk lakukan inspirasi spuit,bila tidak ada darah yang tertarik dalam spuit maka tekanlah spuit hingga obat masuk secara
berlahan-lahanhingga habis.
i Setelsh selesai tarik spuit dan tekan sambil dimasase penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam
bengkok.
j Catat reaksi pemberian jumlah dosis dan waktu pemberian
k Cuci tangan

3. Intravena Bolus
injeksi intravena (bolus) adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena atau melalui karet selang
infuse dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung. Injeksi
intravena bertujuan untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorpsi dari pada dengan injeksi perenteral lain, menghindari terjadinya
kerusakan jaringan serta memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar.
Prosedur Pembaerian :
a. Memberikan salam dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan procedure serta tujuannya.
b. Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
c. Memasang sampiran.
26
d. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
e. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
f. Memakai sarung tangan.
g. Oplos obat menggunakan water steril for injection hingga tercampur. Selanjutnya tarik menggunakan spuit.
h. Memastikan tidak ada gelembung udara pada spuit dengan cara mencoba spuit terlebih dahulu, lalu simpan pada bak instrumen.
i. Mencari tempat penyuntikan obat pada karet selang atau pada tutup area injeksi pada vasofix.
j. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik.
k. Melalukan swab atau mendesinfeksi karet selang infus (bolus) dengan kapas alkohol, secara sirkular dengan diameter + 5 cm.
l. Mengklem cairan infuse.
m. Menusukkan jarum ke dalam karet selang infus (bolus) dengan tangan yang dominan.
n. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk selang infus.
o. Memasukkan obat perlahan-lahan ke dalam vena dengan kecepatan maksimal 5 cc/menit. Untuk obat-obatan yang pekat sebaiknya dioplos
terlebih dahulu menggunakan water steril.
p. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, selanjutnya swab lagi menggunakan kapas alkohol.
q. Periksa kecepatan tetesan cairan infuse.
r. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar.
s. Buang sampah pada tempat sampah medis.
t. Buka sarung tangan dan buang pada tempat sampah medis.
u. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk atau tissue hingga kering dan bersih.
v. Melakukan evalusi dan respon pasien setelah tindakan dilakukan.
w. Dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.
9. Bagaimana konseling atau bed side konseling (Video) ?
a. Furosemide 3x20 mg iv
27
- Furosemide adalah obat golongan diuretik yang bermanfaat untuk mengeluarkan kelebihan cairan dari dalam tubuh melalui urine. Obat
ini sering digunakan untuk mengatasi edema (penumpukan cairan di dalam tubuh) atau hipertensi (tekanan darah tinggi).
- Furosemide bekerja dengan cara menghalangi penyerapan natrium di dalam sel-sel tubulus ginjal dan meningkatkan jumlah urine yang
dihasilkan oleh tubuh. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan suntik.

- Dosis furosemide berbeda-beda pada tiap pasien. Dokter akan memberikan dosis dan menentukan lama pengobatan sesuai dengan
kondisi yang dialami pasien.

- Furosemide bisa diberikan dalam bentuk obat minum atau suntikan. Suntikan furosemide bisa diberikan secara IM (intramuskular/ke
otot) atau IV (intravena/ke pembuluh darah). Berikut ini adalah pembagian dosis furosemide berdasarkan kondisi yang ingin diobati:
Kondisi: Edema paru akut
 Dewasa: 40 mg suntikan IV. Dosis bisa ditingkatkan menjadi 80 mg suntikan IV.
Kondisi: Edema akibat gagal jantung
 Dewasa: 20–50 mg suntikan IM/IV atau tablet 40 mg per hari.
Dosis maksimal 1.500 mg suntikan IM/IV per hari atau tablet 80 mg per hari.
 Anak: 0,5–1,5 mg/kgBB suntikan IM/IV per hari.
Dosis maksimal 20 mg suntikan IM/IV per hari.
Kondisi: Tekanan darah tinggi (hipertensi)
 Dewasa: Tablet 40–80 mg per hari. Bisa dikombinasikan dengan obat antihipertensi.
 Lansia: Dosis furosemide tablet untuk lansia selalu diawali dengan dosis terendah, lalu ditingkatkan secara bertahap sesuai kondisi pasien.
Cara Menggunakan Furosemide dengan Benar
Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan obat sebelum menggunakan furosemide. Jangan menambahkan atau
mengurangi dosis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.
Furosemide tablet dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Minumlah furosemide tablet dengan segelas air putih.
Bila Anda lupa mengonsumsi furosemide tablet, segera konsumsi obat ini begitu teringat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum
terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.
Furosemide suntik hanya boleh diberikan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Dokter akan menyuntik furosemide
sesuai kondisi pasien.
Dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk tetap melanjutkan penggunaan obat meskipun kondisi kesehatan sudah membaik. Hal ini
bertujuan untuk menghindari kambuhnya kondisi, khususnya penderita hipertensi.
Simpan obat ini dalam suhu ruangan. Hindarkan dari paparan sinar matahari langsung dan jauhkan dari jangkauan anak-anak.
28
Interaksi Furosemide dengan Obat Lain
Ada beberapa efek interaksi obat yang dapat terjadi jika furosemide digunakan bersama obat-obatan lain, di antaranya:
 Peningkatan risiko terjadinya kerusakan ginjal, jika digunakan bersama antibiotik golongan sefalosporin dan obat antiinflamasi nonsteroid
(OAINS)
 Peningkatan risiko terjadinya kerusakan telinga, jika digunakan bersama antibiotik golongan aminoglikosida

 Peningkatan risiko terjadinya hiperkalemia, jika digunakan bersama dengan obat diuretik hemat kalium
 Peningkatan risiko terjadinya kerusakan jantung, jika digunakan bersama dengan obat glikosida jantung, seperti digoxin atau antihistamin

 Peningkatan risiko terjadinya hiponatremia, jika digunakan bersama carbamazepine

 Penurunan kadar furosemide di dalam darah, jika digunakan bersama obat aliskiren
 Penurunan risiko efek samping furosemide, jika digunakan bersama indometacin
Efek Samping dan Bahaya Furosemide
Penggunaan furosemide berpotensi menyebabkan sejumlah efek samping, antara lain:
 Pusing
 Vertigo
 Mual dan muntah
 Diare
 Penglihatan buram
 Sembelit
Lakukan pemeriksaan ke dokter jika keluhan di atas tidak kunjung membaik. Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat, seperti
muncul ruam yang gatal, bengkak di mulut dan bibir, atau mengalami efek samping yang serius, seperti:
 Kram perut
 Merasa lelah
 Mulut terasa kering
 Aritmia
 Telinga berdenging
 Kulit menguning
 Mudah mengantuk
 Pingsan
b. Spironolakton 100 mg s1dd1 po

29
c. Lamivudin 3x100 mg po
d. Laktulosa 3xCII po
e. Ondancetron 3x8 mg iv
f. Curcuma 3x1 tab po
g. Asam Traneksamat 500 mg inj 3x1
h. Vit K 500 mg inj 3x1
i. Inj. Omeprazole 40 mg 3x1
j. Bisoprolol 3x5 mg po
k. Moxyfloxacin 2x400 mg iv drip
l. Octreotid 25 mikrogram / jam
m. Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po
n. KSR 3x1 tab
10. Buat Form serah Terima versi sendiri ?
FORM SERAH TERIMA OBAT
Nama Pasien : Tn.Sxxxxx Alamat : Sidoarjo
Usia : 49 tahun Patient ID :-
Room No. :- No. Bed :-
Tanggal Identitas Obat Pemberian Aturan Ket. Paraf
1/5/2020 Pakai
Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv

30
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj Inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

2/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1


Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

3/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1

31
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1

4/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1


Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam
mikrogram /
32
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
6/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
7/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
33
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
8/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3x1
9/5/2020 Furosemide 3x20 mg iv i.v S3dd1
Spironolakton 100 mg s1dd1 p.o S1dd1
po
Lamivudin 3x100 mg po p.o S3dd1
Laktulosa 3xCII po p.o S3ddCII
Ondancetron 3x8 mg iv i.v 3x8 mg iv
Curcuma 3x1 tab po p.o S3dd1

34
Asam Traneksamat 500 mg inj inj 3x1
3x1
Vit K 500 mg inj 3x1 Inj 3x1
Inj. Omeprazole 40 mg 3x1 Inj 3x1
Bisoprolol 3x5 mg po p.o 3x1 tab
Moxyfloxacin 2x400 mg iv i.v 2x400 mg iv
drip drip
25
Octreotid 25 mikrogram / jam mikrogram /
jam
Alprazolam 0,25 mg s1dd1 po p.o S1dd1
KSR 3x1 tab p.o 3

11. Komentari terkait 10 lingkar kegiatan farmasi terkait kasus berikut ini?
A. Pemilihan jenis obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan
Suatu kegiatan memilih obat yang akan digunakan di dalam suatu unit pelayanan kesehatan atas dasar kesepakatan bersama (dokter,
apoteker). Formularium RS, Formularium Nasional, Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT) /Panduan Praktek Klinik (PPK), Pedoman Penggunaan
Antibiotik (PPAB), Daftar Obat Inhealth (DOI) dan pedoman yang lain. Mempertimbangkan faktor efektif, aman, mutu, mudah didapat, murah
(terjangkau).
Pada kasus di atas pemilihan jenis obat sesuai dengan indikasi pasien dengan memperhatikan keamanan penggunaan obat dengan di
konsultasikan kepada dokter dengan memperhatikan laboratorium data klinis
B. Perencanaan untuk mengadakan obat dan alat kesehatan tersebut dalam jenis, jumlah, waktu dan tempat yang tepat
Suatu kegiatan membuat perencanaan obat untuk pengadaan berdasarkan kebutuhan (jumlah dan jenis), sisa stok ketersediaan
di pasaran, mekanisme pengadaan, buffer stock , waktu tunggu, lama simpan.
C. Pengadaan berdasarkan pertimbangan dana yang tersedia dan skala prioritas untuk pengadaan yang tepat
Dilaksanakan sesuai peraturan yang ada
35
 Harus ada registrasi resmi
 Melalui PBF
 MSDS, Certificate analysa,
 Expired Date
D. Penyimpanan yang tepat sesuai dengan sifat masing-masing obat dan alat kesehatan
Kriteria penyimpanan :
 Aman (utuh, terhindar dari pencurian)
 Sesuai persyaratan farmasetis.

 Tertib administrasi

E. Penyaluran kepada unit-unit pelayanan dan penunjang yang membutuhkan obat dan alat kesehatan tersebut di Instalasi Gawat Darurat, Instalasi
Bedah Pusat, Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap
- Sistem penyaluran
 Total Floor Stock

36
 Ward Floor Stock (WFS)dan Emergency Kit
 Individual Prescription
 Unit Dose Dispensing (UDD)

 ODD
- Prosedur
 Administrasi
Administrasi yang teratur sangat dibutuhkan untuk menjamin terselenggaranya sistem pembukuan yang baik. Oleh karena itu tugas
administrasi di instalasi farmasi dikoordinir oleh koordinator yang bertanggung jawab langsung kepada kepala instalasi farmasi rumah sakit.
F. Penulisan resep oleh dokter (Prescribing Process)
37
 Penulisan resep 3 C (Correct, Clear, Complete)+ 1 R (Recent)
correct : Benar
clear : Bersih
complete : Lengkap
Recent : Baru
 Permenkes RI No. 068 /2010 :
Kewajiban Menulis dan Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah

G. Peracikan oleh farmasis (Dispensing Process)


 Peracikan : Tepat, cepat dan benar.

 Aseptik dan non-aseptik

H. Pemberian oleh perawat kepada penderita (Administration Process)


38
 Pemberian obat rawat inap oleh dokter dan perawat.
 Pemberian obat rawat jalan oleh apoteker dan asisten apoteker
I. Penggunaan oleh penderita (Consuming Process)
- Hal-hal yang Perlu diperhatikan:
 Rute pemberian , kecepatan pemberiaan, saat pemberian dan lama pemberian obat
 Petugas harus mengontrol kebenaran obat [High Alert, Look Alike Sound Alike (LASA), Etiket]
 Setiap pemberian obat oral kepada pasien disertai dengan informasi (sesuai yang tertulis di etiket)
 Sebelum pemberian sediaan parenteral perlu diperhatikan:
 Stabilitas sediaan
 Cara pencampuran:
1. Rekonstitusi
2. IV admixture
3. Handling Cytotoxic
 Setiap pemberian dan penghentian obat dicatat di Rekam Medik (RM7) dan Rekam Pemberian Obat (RPO)
 Penggunaan oleh pasien secara tepat dan benar.
 Pemberian informasi dan konseling yang bertujuan agar pasien compliance dan adherece
J. Pemantauan khasiat dan keamanan obat oleh dokter, perawat, farmasis dan penderita.
- Pemantauan efektivitas dan keamanan
o Pemantauan respons klinis (efektivitas dan ESO
o Feedback
- Pemantauan rasionalitas

39
 Drug Use Study (DUS) / Pengkajian Pengelolaan dan Penggunaan Obat (PPPO).
 Kepatuhan terhadap pedoman: Formularium RS, PDT, PPAB, Daftar Obat Askes (DOA) atau Pedoman lain.
 Kepatuhan penulisan/penggunaan Generik
 Rasionalitas penggunaan obat

LINGKAR SEPULUH KEGIATAN PPO


1. PEMILIHAN
10. PEMANTAUAN 2. PERENCANAAN
MANFAAT
PENGADAAN
& KEAMANAN

9. CONSUMING 3. PENGADAAN
& INFORMASI

8.ADMINISTRATION & 4. PENYIMPANAN


INFORMASI

7. DISPENSING 5. PENYALURAN
& INFORMASI
6. PRESCRIBING
& INFORMASI
Peran Dokter Peran Farmasis
Peran Perawat
Peran Penderita

PPOSR = Pengelolaan dan Penggunaan Obat Secara Rasional


1. Pemilihan
2. Perencanaan
3. Pengadaan
4. Penyimpanan
5. Penyaluran

40
6. Penulisan resep oleh Dokter
7. Peracikan obat oleh Farmasis
8. Pemberian obat oleh Perawat
9. Penggunaan obat oleh Penderita
10. Pemantauan khasiat dan keamanan
12. Obat KSR diberikan untuk 3 hari penyiapannya bagaimana?
- Ksr adalah obat yang digunakan untuk pengobatan kadar kalium yang terdapat didalam darah rendah. Obat ini merupakan obat keras yang
membutuhkan resep dokter. Ksr mengandung zat aktif potassium chloride.
- KSR bermanfaat untuk Pencegahan dan pengobatan ketika kondisi ketika tubuh kekurangan kalium (hipokalemia).
- Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter. 1-2 tablet sebanyak 2-3 kali/hari.

- Aturan pakai obat Sebaiknya dikonsumsi bersama makanan


- Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan) Inhibitor ACE. Siklosporin, Spironolakton, Triamterene, Amilorida.
13. Apakah terjadi ESO aktual? Bagaiman pelaporan di form MESO dan beri penilaian Naranjo Scale dan WHO

LEMBAR MONITORING EFEK SAMPING OBAT

Nama : Tn. Sxxxx Dokter : dr, xxxx


No. RM : -
Umur : 49 tahun BB : 55 kg TB : 155 cm . Apoteker : Umi Fatmawati,
Ruangan : -
S.Farm, M. Farm, Klin, Apt,
Evaluasi
No. Hari/Tanggal Manifestasi ESO Nama Obat Regimen Dosis Cara Mengatasi ESO
Tgl. Uraian

41
Nama : Tn. Sxxxx Dokter : dr, xxxx
No. RM : -
Umur : 49 tahun BB : 55 kg TB : 155 cm . Apoteker : Umi Fatmawati,
Ruangan : -
S.Farm, M. Farm, Klin, Apt,
1 Jumat-Sabtu/ ESO Aktual: Tidak ada efek Asam 500 mg tiap 8 jam Monitoring terjadinya Jumat- Tidak terjadi
1-9 Mei 2020 samping obat aktual Traneksamat intravena mual, muntah Sabtu/ diare, mual,
Apabila terjadi Mual 1-9 Mei muntah
ESO Potensial >10%: mual, muntah evaluasi 2020
muntah pemberian
metroclopramid
2 Jumat-Sabtu/ ESO Aktual: Tidak ada efek Furosemid 4 mg tiap 8 jam Monitoring pemberian Jumat- Tidak terjadi
1-9 Mei 2020 samping obat aktual per oral deuretik dapat Sabtu/ hipotensi
menyebabkan adanya 1-9 Mei
ESO Potensial hipotensi 2020
>10%: Hipotensi

LEMBAR PELAPORAN MESO

42
14. Bagaimana kriteria wadah atau kemasan untuk TPN ?
- Dari bahan Ethyl Vinyl Acetate (EVA)
TPN bag yang terbuat dari ethyl vinyl acetat (EVA) biasanya digunakan untuk TPN yang mengandung emulsi lemak.

43
- Wadah plastik yang digunakan untuk sediaan TPN (TPN bags), sebaiknya jangan terbuat dari polyvinyl chloride (PVC), karena jika emulsi lemak
dimasukkan ke dalam plastik PVC maka phthallate salts akan dilepas dari plastik dan masuk ke dalam larutan TPN tsb.

15. Komentari cara pengambilan TPN berikut ini dan sebaiknya pemberian perifer, vena central atau umbilical ? pasien neonatus BB 1900; No RM
12343212; Umur; 1,5 bulan, ibu Ny Amelia, TPN dibuat tanggal 29 Mei 2020.
h. D 12,5% 30 ml yang ada D5% dan D40%
i. Aminosteril 10 % 10 ml
44
j. Smoflipid 20% 4 ml
k. NaCl 15 % 6 ml
l. KCl 7,4% 2 ml
m. Ca Gluconas 10% 8 ml
n. MgSO4 20 % 2 ml
16. Bagaimana label dari TPN yang sudah jadi no 15 ? buat versi anda sendiri?
17. Kenapa TPN tidak disterilkan ?
Beberapa alasan yang menyebabkan sediaan TPN tidak disterilisasi akhir:
• Teknik pencampuran TPN dengan cara aseptis, dimana teknik aseptis dikerjakan pada ruangan dan peralatan yang telah disterilkan.
• Wadah penyimpanan TPN tidak tahan panas sehingga tidak dapat disterilisasi akhir dengan suhu tinggi.
• TPN terdiri dari berbagai kandungan yang beberapa diantaranya tidak tahan terdadap pemanasan seperti vitamin, dll.
18. Cari standard penyiapan compounding steril preparation ashp (csp) ?
Sesuai dengan USP Chapter 797 tentang Compounding Sterile Preparation, standar dalam pencampuran atau penyiapan sediaan steril adalah
sebagai berikut:
1. Dilakukan di dalam area atau ruangan khusus yaitu cleanroom dengan persyaratan tertentu
2. Dilakukan dengan teknik aseptis
3. Jaminan kualitas produk
4. Petugas yang melakukan penyiapan mempunyai pengetahuan tentang sifat fisika kimia obat
19. Kenapa pada TPN > 900 mosmol di berikan secara vena central?
- American Society of Parenteral dan Enteral Nutrition (ASPEN) merekomendasikan osmolaritas larutan nutrisi parenteral perifer dibatasi hingga
900mOsm / L untuk menurunkan risiko flebitis (inflamasi vena) karena infiltrasi (BMC Pediatrics, 2017)

45
- Pemberian rute central digunakan untuk jangka waktu lama (> 2 minggu), sedangkan rute perifer < 2 minggu (Perenteral Nutrition, 2011).
20. Cari USP standar pencampuran obat suntik chapter 797?
1. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
2. Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi sesuai prosedur tetap
3. Menghidupkan Laminar Air Flow (LAF) sesuai prosedur tetap
4. Menyiapkan meja kerja LAF dengan memberi alas penyerap cairan dalam LAF.
5. Menyiapkan kantong buangan sampah dalam LAF untuk bekas obat.
6. Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan alkohol 70 %. 5
7. Mengambil alat kesehatan dan obat-obatan dari pass box.
8. Melakukan pencampuran secara aseptis
 Tehnik memindahkan obat dari ampul
1. Membuka ampul larutan obat
 Pindahkan semua larutan obat dari leher ampul dengan mengetuk-ngetuk bagian atas ampul atau dengan melakukan gerakan
J-motion.
 Seka bagian leher ampul dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
 Lilitkan kassa sekitar ampul.
 Pegang ampul dengan posisi 45º, patahkan bagian atas ampul dengan arah menjauhi petugas. Pegang ampul dengan posisi ini
sekitar 5 detik.
 Berdirikan ampul.
 Bungkus patahan ampul dengan kassa dan buang ke dalam kantong buangan.
2. Pegang ampul dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam ampul, tarik seluruh larutan dari ampul, tutup needle.

46
3. Pegang ampul dengan posisi 45º, sesuaikan volume larutan dalam syringe sesuai yang diinginkan dengan menyuntikkan kembali
larutan obat yang berlebih kembali ke ampul.
4. Tutup kembali needle.
5.Untuk permintaan infus Intra Vena , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding
agar tidak berbuih dan tercampur sempurna.
6. Untuk permintaan Intra Vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai untuk penyuntikan.
7. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam kantong buangan tertutup.
 Tehnik memindahkan sediaan obat dari vial:
1. Membuka vial larutan obat
 Buka penutup vial.
 Seka bagian karet vial dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
 Berdirikan vial
 Bungkus penutup vial dengan kassa dan buang ke dalam kantong buangan tertutup
2. Pegang vial dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam vial.
3. Masukan pelarut yang sesuai ke dalam vial, gerakan perlahan-lahan memutar untuk melarutkan obat.
4. Ganti needle dengan needle yang baru.
5. Beri tekanan negatif dengan cara menarik udara ke dalam spuit kosong sesuai volume yang diinginkan.
6. Pegang vial dengan posisi 45º, tarik larutan ke dalam spuit tersebut.
7. Untuk permintaan infus intra vena (iv) , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui
dinding agar tidak berbuih dan tercampur sempurna.
8. Untuk permintaan intra vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai untuk penyuntikan.

47
9. Bila spuit dikirim tanpa needle, pegang spuit dengan posisi jarum ke atas angkat jarum dan buang ke kantong buangan
tertutup.
10. Pegang spuit dengan bagian terbuka ke atas, tutup dengan ”luer lock cap”.
11. Seka cap dan syringe dengan alkohol.
12. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam kantong buangan tertutup.
8. Memberi label yang sesuai untuk setiap spuit dan infus yang sudah berisi obat hasil pencampuran.
9.Membungkus dengan kantong hitam atau alumunium foil untuk obat-obat yang harus terlindung dari cahaya.
10.Memasukkan spuit atau infus ke dalam wadah untuk pengiriman.
11.Mengeluarkan wadah yang telah berisi spuit atau infus melalui pass box.
12. Membuang semua bekas pencampuran obat ke dalam wadah pembuangan khusus

48