Anda di halaman 1dari 13

PERMASALAHAN KESEHATAN WANITA

DALAM DIMENSI SOSIAL DAN UPAYA


MENGATASINYA

O
L
E
H

KELOMPOK 6

1. Muharni (Nim 2007019)


2. Yuni Purnama Sari (Nim 2007039)
3. Yelmi Seprita Irma (Nim 2007040)
4. Nola Delvia (Nim 2007021)
5. Mei Sri Ompusunggu (Nim 2007017)
PERMASALAHAN KESEHATAN WANITA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN
UPAYA MENGATASINYA

A. Kekerasan
1. Pengertian kekerasan
a. Pasal 89 KUHP: Melakukan kekerasan adalah mempergunakan tenaga
atau kekuatan jasmani tidak kecil secara yang tidak sah misalnya
memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata,
menepak,menendang dsb.
b. KDRT menurut UU No 23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan
terhadap seorang perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan
atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau
penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara
melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
2. Bentuk- bentuk kekerasan
a. Kekerasan psikis. Misalnya: mencemooh, mencerca, menghina,
memaki, mengancam, melarang berhubungan dengan keluarga atau
kawan dekat/masyarakat, intimidasi, isolasi,melarang istri bekerja.
b. Kekerasan fisik. Misalnya: memukul, membakar, menendang,
melempar sesuatu, menarik rambut, mencekik, dll
c. Kekerasan ekonomi. Misalnya: tidak memberi nafkah, memaksa
pasangan untuk prostitusi, memaksa anak untuk mengemis,
mengetatkan istri dalam keuangan rumah tangga, dll.
d. Kekerasan seksual. Misalnya: perkosaan, pencabulan, pemaksaan
kehendak atau melakukan penyerangan seksual, berhubungan
seksual dengan istri tetapi istri tidak menginginkannya.
3. Penyebab terjadinya kekerasan adalah:
a. Perselisihan tentang ekonomi
b. Cemburu pada pasangan
c. Pasangan mempunyai selingkuhan
d. Adanya problema seksual ( misalnya:inpotensi,fregid, hiper seks)
e. Pengaruh kebiasaan minum alkohol, drugs abused
f. Permasalahan dengan anak
g.Kehilangan pekerjaan atau PHK atau menganggur atau belum
mempunyai pekerjaan
h. Istri ingin melanjutkan studi atau ingin bekerja
i. Kehamilan tidak di inginkan atau infertilitas.
4. Alasan tindakan kekerasan oleh pria
Pria kadang kehilangan kontrol terhadap arah hidup, maka pria
mungkin menggunakan sikap kekerasan untuk mengendalikan hidup orang
lain, walaupun sikap ini salah. Adapun beberapa alasan yang dilakukan pria
dalam menganiaya wanita meskipun alasan itu salah antara lain:
a. Tindakan kekerasan dapat mencapai suatu tujuan.
1. Bila terjadi konflik, tanpa harus musyawarah kekerasan merupakan
cara cepat penyelesaikan masalah.
2. Dengan melakukan perbuatan kekerasan, pria merasa hidup lebih
berarti karena dengan berkelahi maka pria merasa menjadi lebih
dikdaya.
3. Pada saat melakukan kekerasan pria merasa memperoleh
kemenangan dan mendapatkan apa yang dia harapkan, maka korban
akan menghindari pada konflik berikutnya karena untuk
menghindari rasa sakit.
b. Pria merasa berkuasa atas wanita. Bila pria merasa mempunyai istri
kuat maka dia berusaha untuk melemahkan wanita agar merasa
tergantung padanya atau membutuhkannya.
c. Ketidak tahuan pria. Bila latar belakang pria dari keluarga yang selalu
mengandalkan kekerasan sebagai satu – satunya jalan menyelesaikan
masalah dan tidak mengerti cara lain maka kekerasan merupakan jalan
pertama dan utama baginya sebagai cara yang jitu setiap ada kesulitan
atau tertekan karena memang dia tidak pernah belajar cara lain untuk
bersikap.
5. Akibat tindakan kekerasan
a. Kurang bersemangat atau kurang percaya diri.
b. Gangguan psikologis sampai timbul gangguan sistem dalam tubuh (
psikosomatik), seperti: cemas,tertekan, stress, anoreksia ( kurang nafsu
makan), insomnia ( susah tidur, sering mimpi buruk, jantung terasa
berdebar-debar, keringat dingin, mual, gastritis,nyeri perut,pusing, nyeri
kepala).
c. Cidera ringan sampai berat, seperti: lecet, memar, luka terkena benda
tajam, patah tulang, luka bakar.
d. Masalah seksual, ketakutan hubungan seksual, nyeri saat hubungan
seksual, tidak ada hasrat seksual,frigid.
e. Bila perempuan korban kekerasan sedang hamil dapat terjadi
abortus/keguguran.

B. Perkosaan
1. Pengertian pemerkosaan
Pemerkosaan adalah penetrasi alat kelamin wanita oleh penis dengan
paksa, baik oleh satu maupun oleh beberapa orang pria atau dengan
ancaman. Perkosaan adalah bentuk hubungan seksual yang dilangsungkan
bukan berdasarkan kehendak bersama.
Karna bukan berdasarkan kehendak bersama, hubungan seksual
didahului oleh ancaman dan kekerasan fisik atau dilakukan terhadap korban
yang tidak berdaya, dibawah umur, atau yang mengalami keterbelakangan
mental.
2. Macam-macam pemerkosaan
a. Pemerkosaan oleh orang yang dikenal:
1. Pemerkosaan oleh suami atau bekas suami
2. Perkosaan oleh pacarnya
3. Perkosaan oleh teman kerja/atasan
4. Pelecehan seksual pada anak-anak
a. Anak perempuan diperkosa ayahnya
b. Anak perempuan diperkosa paman
c. Anak perempuan diperkosa kakek
b. Pemerkosaan oleh orang yang tidak dikenal Perkosaan oleh
sekelompok pelaku (diperkosa lebih dari 1 orang) Perkosaan dipenjara
(diperkosa oleh polisi atau sipir/ penjaga penjara) Pemerkosaan saat
perang (tentara atau gerilyawan sering menggunakan perkosaan untuk
menakut-nakuti wanita.
3. Penyebab terjadinya pemerkosaan
Siapapun dapat menjadi korban perkosaan, mulai dari anak-anak
dibawah umur, gadis remaja, perempuan yang telah menikah, perempuan
yang hidup di desa, yang hidup dikota, bahkan nenek-nenekpun yang menjadi
korban. Salah satu motif dibalik kekerasan seksual adalah perwujudan atau
manifestasi dari ungkapan “power over” atau menguasai dari seorang lelaki
terhadap seorang perempuan yang dijadikan targetnya.

4. Dampak perkosaan
a. Dampak perkosaan bagi korban perkosaan biasanya pada wanita dan
keluarganya, dimana peristiwa diperkosa merupakan tragedi yang
sangat menyakitkan dan sulit dilupakan sepanjang hidup mereka.
Bahkan, sering kali menyebabkan trauma yang berkepanjangan.
Peristiwa ini melahirkan rasa malu dan aib selama hidup yang akhirnya
menimbulkan rasa rendah diri, terutama pada saat harus menjalani
kehidupan sosial mereka selanjutnya.
b. Biasanya perkosaan pada perempuan juga melibatkan kekerasan fisik,
sehingga mungkin saja terjadi luka dan rasa sakit di beberapa bagian
tubuh, seperti di daerah genital.
c. Perkosaan mengalami gangguan emosi dan psikologis. Beberapa juga
dapat mengalami trauma, meskipun diawal mereka mencoba untuk
mengelak bahwa meraka telah diperkosa dan mencoba melanjutkan
hidup seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah perkosaan
umumnya yang timbul adalah kemarahan, ketakutan, perasaan tidak
aman, depresi, insomnia (sulit tidur), sering mimpi buruk, menghindari
kontak seksual dan sebagainya.
5. Yang harus dilakukan jika terjadi perkosaan
a. Segera memeriksakan diri secara medis apakah terjadi luka secara fisik.
Hal ini sangat penting dilakukan agar dokter dapat mengumpulkan
bukti-bukti fisik perkosaan yang sangat diperlukan jika korban tadi
akan melakukan tuntutan.
b. Selain menangani keadaan fisik korban perkosaan, hal-hal yang
berkaitan dengan keadaan psikologis korban juga sangat penting untuk
diperhatikan. Hal yang paling mereka butuhkan tentunya adalah
dukungan dari orang-orang terdekatnya dalam menjalani segala
pemeriksaan yang telah disebutkan diatas.

C. Pelecehan Seksual
1. Pengertian Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku maupun perkataan
bermakna seksual yang berefek merendahkan martabat orang yang menjadi
sasaran. Pendapat lain menyebutkan pelecehan seksual adalah setiap bentuk
perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau
sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang
menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti rasa malu
tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri dan kehilangan kesucian.

2. Faktor-faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual antara lain


a. Penayangan tulisan atau tontonan pada media massa yang kerap
merujuk pada segenap bentuk materi yang terkait dengan seks.

b. Rusaknya moral dan sistem nilai yang ada di masyarakat.


c. Kurang berperannya agama dalam mencegah terjadinya pelecehan
seksual.
d. Hukuman yang diberikan kepada pelaku pelecehan seksual yang belum
setimpal atau hal-hal lainnya yang mempengaruhi terjadinya pelecehan
terhadap wanita.
e. Sikap toleran terhadap hal-hal kecil. Seorang remaja putri yang
bersenang-senang saja ketika tangannya dipegangi oleh lelaki yang jadi
idolanya, adalah awal dari kemungkinan seksual. Jika seperti ini perlu
diwaspadai. Tanpa disadari, sikap penerimaan yang tidak sabar itu bisa
saja ditafsirkan sebagai kode pembolehan oleh si pria untuk melakukan
aksi yang lebih jauh.

3. Dampak pelecehan seksual


a. Gangguan psikologis : marah, mengumpat, tersinggung, dipermalukan,
terhina, trauma sehingga takut keluar rumah.
b. Kehilangan gairah kerja/belajar, malas.

4. Upaya penanggulangan masalah


Untuk mencegah pelecehan seksual dan menghindarkan diri dan
keluarga kita dari tindakan pelecehan seksual, maka yang bisa dilakukan
yaitu:
a. Sadarkan keluarga kita terutama anak-anak untuk mengenali situasi
potensial yang dapat menyeret ke jurang pelecehan.
b. Hindari tempat-tempat yang rawan, gelap dan sunyi serta jauh dari
keramaian, kalaupun terpaksa harus melewati jalur itu, lakukan secara
berombongan. Kalau anak-anak pulang malam, usahakan dijemput.
c. Hindari penggunaan busana minimalis. Penampilan yang seronok dapat
membuat penafsiran menyimpang bagi orang lain. Selalu berpenampilan
sopan dan tertutup. Selain itu perkataan dan tutur kata juga harus
selalu sopan.
d. Hindari berduaan dengan seseorang yang pernah melakukan pelecehan
seksual pada anda.
e. Hindari peluang berduaan dengan orang yang berkategori “playboy”,
“suka daun muda” atau orang yang berperilaku “aneh-aneh”.

D. Single parent
1. Pengertian Single parent adalah seseorang yang tidak menikah atau
berpisah yang telah memutuskan sebagai orang tua tunggal dalam rumah
tangga.
2. Faktor penyebab Penyebab terjadinya single parent antara lain:
a. Kehilangan pasangan akibat meninggal. Hal ini terjadi bila seorang
suami meninggal maka wanita akan menjadi single parent dalam
mengurus semua masalah dalam rumah tangga.
b. Perceraian Perkawinan yang buruk terjadi bila suami dan istri sudah
tidak mampu lagi memuaskan kedua belah pihak selain itu persoalan
ekonomi dan prinsip hidup yang berbeda di mana akan menimbulkan
suasana keruh dan meruntuhkan rumah tangga.
c. Di terlantarkan atau di tinggalkan suami tanpa di cerai dapat terjadi bila
pasangan tidak ada sifat tanggung jawab kadang terjadi bila tidak ada
keputusan baik di bidang materi maupun psikologi sehingga untuk
memenuhinya lebih memilih pergi dari pasangannya tanpa ada
kepastian bagaimana hubngan mereka nanti.
d. Pasangan yang tidak sah (kumpul kebo) Pada zaman mjodern sekarang
pola hidup cinta bebas (free love) dan seks bebas ( free seks) mulai
banyak di anut oleh kalangan orang muda. Pola seks bebas tersebut
mempunyai dampak terhadap kehamilan yang tidak di inginkan,
sehingga wanita tersebut akan membesarkan anaknya tanpa
pasangannya.

e. Tanpa menikah tetapi punya anak yang di adopsi Saat sekarang banyak
wanita yang mengambil keputusan dengan berkarir hingga hari tuanya,
wanita tersebut biasanya mengambil anak angkat, hal ini di maksud
agar semua harapannya bisa di penuhi melalui anak angkatnya.

3. Masalah dan dampak yang dihadapi Masalah kesehatan yang di hadapi


pada single parent :
a. Ancaman kesehatan Akibat peran ganda yang harus di jalani, wanita
akan mengalami gangguan kesehatan seperti kelelahan, kecapekan,
kurang gizi, sehingga mengakibatkan angka kesakitan meningkat. Hal
ini di akibatkan karena kondisi fisik yang sering di pengaruhi untuk
melakukan suatu aktivitas secara berkelanjutan.
b. Emosi labil Wanita merasa tidak senang atau tidak puas dengan
keadaan diri sendiri dan lingkungannya. Rasa tidak puas ini
mengakibatkan emosi wanita tersebut menjadi labil dimana wanita akan
mengalami perasaan cemas, tidak berdaya, depresi dan mudah
tersinggung.
c. Peran ganda Dimana wanita tersebut harus berperan baik sebagai ibu
dan pendidik bagi anak anaknya, sebagai kepala keluarga, sebagai
pengatur atau pengelola rumah tangga dan sebagai pencari nafkah
dalam mengatasi masalah keluarga. Dampak yang di hadapi :
 Bagi orang tua
1. Pada wanita tanpa anak : Kesulitan ketika dalam keadaan sakit
dan kesepian menjalani hari tuanya
2. Pada wanita dengan anak : Tidak merasa kesepian dimana
anaknya di jadikan sebagai sahabat atau temannya, kesulitan
dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan tuntutan
waktu yang banyak untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan anakny.
 Bagi anak : Pertumbuhan dan perkembangan anak akan menjadi
terganggu karena:
1. Anak tidak menerima keadaan dalam keluarga
2. Rasa kehilangan sosok ayah sebagai sumber penuntun
3. Adanya rasa takut mengenal bapak tiri yang jahat apa bila orang
tua menikah lagi
4. Dimana masyarakat ia dikuatkan atau dicemooh
5. Kurang kasih sayang karena orang tua sibuk karena pekerjaannya
untuk mencukupi kebutuhan keluarga

3. Upaya penanggulangan masalah


Upaya yang dapat dilakukan bidan untuk menanggulangi masalah yang
terjadi pada single parent adalah dengan memberikan konseling.
a. Manajemen waktu Penentuan prioritas kegiatan dan pengaturan
jadwal kegiatan dalam tanggung jawab pemenuhan kebutuhan
keluarga.
b. Berpikir lebih positif dalam menanggapi masalah yang dihadapi
dalam kebutuhan sehari hari.
c. Mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa denga mengikuti
kegiatan keagamaan yang diselenggarakan
d. Dukungan ego (ego support) Wanita yang mengalami kelabilan emosi,
akan mengalami stress, down (tidak bersemangat) ketika mengalami
masalah, oleh karena itu dukungan dan perhatian dari semua teman,
sahabat ataupun keluarga terdekat akan mampu memberikan
kekuatan moral dan semangat hidup untuk dapat mengatasi
masalahnya dengan sebaik baiknya.
e. Bina hubungan yang baik dengan mantan suami, keluarga mantan
suami. Dalam masa perkembangan, seorang anak tetap
membutuhkan figur orang tua yang lengkap. Agar perkembangan
anak dapat berjalan dengan baik, komunikasi antara anak dengan
ayah tetap dilakukan.

E. Perkawinan Usia Muda dan Tua


Perkawinan adalah ikatan batin antara pria dan wanita sebagai
pasangan suami istri dengan tujuan membentuk keluarga / rumah tangga
yang bahagia dan kekal berdasar ketuhanan YME (UU Perkawinan No 1 Tahun
1974).
a. Perkawinan Usia Muda Menurut UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal
7 bahwa perkawinan diijinkan bila laki – laki berumur 19 tahun dan wanita
berumur 16 tahun. Namun pemerintah mempunyai kebijakan tentang
perilaku reproduksi manusia yang ditegaskan dalam UU No Tahun 1992
yang menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan upaya
penyelenggaraan Keluarga Berencana. Banyaknya resiko kehamilan kurang
dari perkawinan diijinkan bila laki –laki berumur 21 tahun dan perempuan
berumur 19 tahun. Sehingga perkawinan usia muda adalah perkawinan
yang dilakukan bila pria kurang dari 21 tahun dan perempuan kurang dari
19 tahun.
 Kelebihan perkawinan usia muda antara lain:
1. Terhindar dari perilaku seks bebas,karena kebutuhan seksual terpenuhi.
2. Menginjak usia tua tidak lagi mempunyai anak yang masih kecil.
 Kekurangan pernikahan usia muda antara lain:
1. Meningkatkan angka kelahiran sehingga pertumbuhan pendudukan
semakin meningkat.
2. Ditinjau dari segi kesehatan,perkawinan usia muda meningkatkan
angka kematian bayi dan ibu,risiko komplikasi kehamilan,persalinan
dan nifas.Selain itu bagi perempuan meningkatkan risiko cerviks karena
hubungan seksual dilakukan pada saat secara anatomi sel – sel cerviks
belum matur.Bagi bayi risiko terjadinya kesakitan dan kematian
meningkat.
3. Kematangan psikologis belum tercapai sehingga keluarga mengalami
kesulitan mewujudkan keluarga yang berkualitas tinggi.
4. Ditinjau dari segi sosial,dengan perkawinan mengurangi kebebasan
pengembangan diri,mengurangi kesempatan melanjutkan pendidikan
jenjang tinggi.
5. Adanya konflik dalam keluarga membuka peluang untuk mencari
pelarian pergaulan di luar rumah sehingga meningkatkan risiko
penggunaan minuman alkohol,narkoba,dan seks bebas.
6. Tingkat peceraian tinggi.Kegagalan kelurga dalam melewati berbagai
macam permasalahan meningkatkan risiko perceraian.
 Penanganan perkawinan usia muda dapat dilakukan dengan
1. Pendewasaan usia kehamilan dengan penggunaan kontrasepsi sehingga
2. Kehamilan pada waktu usia reproduksi.
3. Bimbingan psikologis. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pasangan
dalam menghadapi persoalan - persoalan agar mempunyai cara pandang
dengan pertimbangan kedewasaan, tidak mengedepankan emosi.
4. Dukungan kelurga. Peran keluarga sangat banyak membantu keluarga
mudah baik dukungan berupa material maupun non material untuk
kelanggengan keluarga,sehingga lebih tahan terhadap hambatan –
hambatan yang ada.

b. Perkawinan usia tua Perkawinan usia tua adalah perkawinan yang


dilakukan bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun. Kelebihan
perkawinan usia tua yaitu kematangan fisik, psikologis, sosial, financial
sehingga harapan membentuk keluarga sejahtera berkualitas terbentang.
Sedangkan kekurangan pernikahan usia tua antara lain:
1. Meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu dan
bayi.Kemungkinan /risiko terjadi ca mammae meningkat.
2. Meningkatkan risiko kehamilan dengan anak kelainan bawaan, misalnya
terjadi kromosom non disjunction yaitu kelainan proses meiosis hasil
konsepsi (fetus) sehingga menghasilkan kromosom sejumlah 47.
Aneuploid, yaitu ketika kromosom hasil konsepsi tidak tepat 23 pasang.
Contoh : trisomi 21 (down syndrome ), trisomi 13 (patau syndrome) dan
trisomi 18 (edwards syndrome).
Penanganan perkawinan usia tua :
1. Pengawasan kesehatan : ANC secara rutin pada tenaga kesehatan.
2. Peningkatan kesehatan dengan peningkatan pengetahuan
kesehatan,perbaiki gizi bagi istri yang mengalami kurang gizi.
Pencegahan perkawinan usia tua :
1. Penyuluhan kesehatan untuk menikah pada usia reproduksi sehat
2. Merubah cara pandang budaya atau cara pandang diri yang tidak
mendukung.
3. Meningkatkan kegiatan sosialisasi.