Anda di halaman 1dari 13

e-ISSN : 2540-961

p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

PENGARUH KEPUASAN PASIEN MENGENAI METODE


SERAH TERIMA PASIEN DENGAN
BEDSIDE HANDOVER
THE EFFECT OF PATIENT SATISFACTION ON METHODS
THANK THE PATIENT WITH
BEDSIDE HANDOVER
Siti Aisyah Nur1 , Hafni Bachtiar2 , Leni Merdawati3
1
Mahasiswa Keperawatan Universitas Andalas
2
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
3
Program Studi Magister Keperawtan Universitas Andalas
Email : siti_aisyahnur@ymail.com

ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk melacak kepuasan pasien terkait dengan metode serah terima pasien
dengan cara membandingkan dua metode yaitu metode serah terima pasien dengan
tradisional dan bedside handover.Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional
comparative study. Dilaksanakan di ruang rawat inap RSI Ibnu Sina Padang yaitu di ruangan
Shafa dan Marwa, sedangkan untuk RSI Bukittinggi di ruang rawat inap Penyakit Dalam dan
Bedah. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel consecutive sampling. dalam
pengumpulan data menggunakan angket, kuesioner dan wawancara mendalam. hasil
penelitian menunjukan bahwa Kepuasan pasien mengenai serah terima pasien dengan
tradisional mampu memenuhi harapan pasien sebesar 70,17% lebih rendah dibandingkan
kepuasan pasien mengenai serah terima pasien dengan bedside handover yang mampu
memenuhi harapan pasien sebesar 88,24%.

Kata kunci: Kepuasan pasien; metode serah terima; tradisional, bedside


handover

ABSTRACT
This study aims to track patient satisfaction related to the method of patient handover by
comparing two methods namely the method of handover of patients with traditional and
bedside handover. The research design used is cross sectional comparative study.
Implemented in the inpatient room RSI Ibn Sina Padang is in the room Shafa and Marwa,
while for RSI Bukittinggi in inpatient wards of Disease and Surgery. Using consecutive
sampling sampling technique. In data collection using questionnaires, questionnaires and in-
depth interviews. Result of research indicate that patient satisfaction about handover of
patient with traditional able to fulfill patient expectation equal to 70,17% lower than patient
satisfaction about handover patient with bedside handover able to fulfill patient expectation
equal to 88,24%.
Keywords: Patient satisfaction, handover method, traditional, bedside handover

PENDAHULUAN
Upaya peningkatan pelayanan kesehatan, standar professional dan hukum (College of
tidak lepas dari pelayanan keperawatan registered nurses of British Columbia,
yang berkesinambungan dengan 2007). Salah satu bentuk pelayanan yang
mempromosikan perawatan yang baik sesuai diberikan kepada pasien adalah melalui
130
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

pemberian asuhan keperawatan, pengobatan yang tidak memadai serta fungsi keperawatan
dan rasa aman bagi pasien, keluarga serta yang tidak adekuat (agency for healthcare
masyarakat (Aditama,T, 2003). research and quality, 2003).
Pemberian asuhan keperawatan yang aman Pemberian asuhan keperawatan merupakan
kepada pasien dapat mencegah terjadinya kebutuhan dasar yang diperlukan oleh setiap
Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD). pasien rawat inap. Salah satunya adalah
Berdasarkan laporan dari Institute of prosedur serah terima yang merupakan
Medicine Amerika, bahwa di Utah dan kegiatan sehari-hari dan harus dilakukan
Colorado ditemukan kejadian tidak perawat. Pelaksanaan serah terima pasien
diharapkan sebesar 2,9% dan 6,6% di merupakan tindakan keperawatan yang secara
antaranya meninggal dunia, padahal 53% dari langsung akan berdampak pada perawatan
jumlah KTD tersebut dapat dicegah pasien, selain itu serah terima dibangun
(Preventable adverse events).Data kejadian sebagai sarana untuk menyampaikan
KTD tertinggi terjadi pada pasien rawat inap, tanggung jawab serta legalitas yang berkaitan
sebagaimana dilaporkan Institute of Medicine dengan pelayanan keperawatan kepada pasien
(IOM) bahwa angka kematian akibat KTD (Wallis, 2010).
pada pasien rawat inap di seluruh Amerika Serah terima pasien termasuk pada
berjumlah 33,6 juta per tahun. Salah satu sasaran yang kedua yaitu peningkatan
penyumbang KTD adalah pelaksanaan komunikasi yang efektif petugas kesehatan.
serah terima pasien di ruangan yang Kesalahan akibat penyampaian serah terima
kurang optimal (Cohen dan Hilligoss, 2009). pada saat pergantian shift akan berakibat
Kondisi ini akan mengakibatkan pemberian pada menurunnya indikator kualitas
asuhan keperawatan yang tidak memuaskan pelayanan terutama patient safety suatu
pasien. rumah sakit (Pranatha, A., & Karimah, 2017).
Data Indonesia menurut ( U t a r i n i , Serah terima pasien harus dilakukan seefektif
2 0 0 1 1 ) menyatakan bahwa dari 15 rumah mungkin dengan menjelaskan secara singkat,
sakit dengan 4.500 rekam medis jelas, dan lengkap tentang tindakan mandiri
menunjukkan angka kejadian tidak perawat, tindakan kolaboratif yang sudah
diharapkan yaitu 8,0-98,2 untuk diagnostic dilakukan atau belum dan perkembangan
error dan 4,1-91,6% untuk medication pasien saat itu. Informasi yang disampaikan
error.Laporan insiden keselamatan pasien di akurat sehingga kesinambungan asuhan
Indonesia diketahui Kejadian Tidak keperawatan dapat berjalan dengan sempurna.
Diharapkan (KTD) 46%. Kesalahan dalam Serah terima dilakukan oleh perawat primer
proses pelayanan disebabkan oleh berbagai keperawatan kepada perawat primer
hal, diantaranya proses pelayanan (penanggung jawab) dinas sore atau dinas
disebabkan oleh petugas (85%) dan peralatan malam secara tertulis atau lisan, diperlukan
(15%). Hal ini menggambarkan bahwa juga suatu komunikasi yang jelas tentang
petugas memiliki peran penting dalam kebutuhan klien terhadap apa yang sudah
pelayanan kepada pasien (Kongres PERSI, dilakukan intervensi dan yang belum, serta
2007). Tingginya angka KTD tersebut, salah respon pasien yang terjadi. Perawat
satu penyebabnya adalah kesalahan melakukan timbang terima dengan berjalan
komunikasi baik secara verbal atau tertulis bersama dengan perawat lainnya dan
antar multidisiplin dan antar shift, selain itu menyampaikan kondisi pasien secara akurat
juga diakibatkan karena masalah sumber daya didekat pasien. Cara ini lebih efektif dari pada
manusia diantaranya adalah tidak mengikuti harus menghabiskan waktu orang lain untuk
kebijakan yang telah disepakati berupa membaca dan akan membantu perawat dalam
standard operating procedure (SOP), menerima serah terima secara nyata. Clair
pengetahuan yang tidak adekuat, identifikasi dan Trussel (dalam Kerr, 2001) menyusun
pasien yang kurang tepat, pengkajian pasien pengertian dari handover adalah komunikasi
yang tidak lengkap, sumber daya manusia oral dari informasi tentang pasien yang
130
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

dilakukan oleh perawat pada pergantian shift adalah : 1). Perawat dapat mengikuti
jaga. perkembangan klien secara paripurna. 2).
Menurut (Cohen, M.d, & Hilligoss, Meningkatkan kemampuan komunikasi antar
2009) ada dua jenis metode serah terima perawat.3). Akan terjalin suatu hubungan
yaitu serah terima dengan metode kerjasama yang bertanggung jawab antar
tradisional dan serah terima dengan anggota tim perawat.4). Terlaksananya
metode bedside handover. Operan perawat asuhan keperawatan terhadap klien yang
dulunya dilakukan dengan cara tradisonal berkesinambungan dan pasien akan merasa
yaitu: 1.dilakukan hanya di meja perawat. 2. puas apabila kinerja layanan kesehatan
Menggunakan satu arah komunikasi sehingga yang diperolehnya sama atau melebihi
tidak memungkinkan munculnyaan
harapannya dan sebaliknya, ketidakpuasan
pertanyaan atau diskusi. 3.Jika ada
pengecekan ke pasien hanya sekedar atau perasaan kecewa pasien akan muncul
memastikan kondisi secara umum.4. Tidak apabila kinerja layanan kesehatan yang
ada kontirbusi atau feedback dari pasien diperolehnya itu tidak sesuai dengan
dan keluarga, sehingga proses informasi harapannya. Berdasarkan apa yang disebut
dibutuhkan oleh pasien terkait status di atas, pengertian kepuasan pasien dapat
kesehatannya tidak up to date. dijabarkan sebagai berikut.Kepuasan pasien
Operan tradisional hanya cukup di adalah suatu tingkat perasaan pasien yang
meja perawat tanpa mengkonfir masi timbul sebagai akibat dari kinerja layanan
keadaan pasien secara langsung. Hal ini kesehatan yang diperolehnya setelah pasien
menyebabkan ketidakpuasan dari pasien dan membandingkannya dengan apa yang
perawat karena tidak ada komunikasi antara diharapkannya. Kepuasan pasien merupakan
perawat dengan pasien yang nantinya nilai subjektif terhadap kualitas pelayanan
bermanfaat bagi pelayanan yang dilakukan yang diberikan. Walaupun subjektif tetap ada
(Kassesan and Jagoo, dalam JCI, 2010). dasar objektifnya (Finley, 2001 dalam
Menurut Australian Commission on Safety Wahyudi, 2009).
and Quality in Healthcare (2007), bedside Berdasarkan penelitian yang
handover yaitu metode transfer informasi dilakukan oleh Sexton, et al (2004),
(termasuk tanggungjawab dan pelaksanaan serah terima dengan tatap muka
tanggunggugat) selama perpindahan langsung memiliki efek yang sangat
perawatan yangberkelanjutan atau penting terhadap kesinambungan perawatan
pertukaran antar shift yang dilakukan pasien. Menurut (COHEN, M.D, &
disamping tempat tidur pasien yang bertujuan HILLIGOS, 2009), serah terima
untuk berbagi informasi antara pasien dan keperawatan yang dilakukan secara
petugas untuk memastikan kesinambungan continue dapat meningkatkan kualitas
perawatan dan merupakan proses interaktif, pelayanan keperawatan yang terstruktur
memberikan kesempatan pasien untuk dan infor matif yang didukung dengan adanya
memberikan masukan dan menyampaikann acuan berupa Standard Operational
masalahnya. Melalui pendekatan bedside Prosedure (SOP). Hasil penelitian yang
handover maka perawat dapat memastikan dilakukan Arora dan Johnson (2006) bahwa
keselamatan pasien yang mencakup dengan adanya prosedur timbang terima maka
lingkungan pasien seperti posisi tempat tidur, semakin efektif dalam meningkatkan
alat-alat medis disamping pasien berfungsi kesinambungan, kualitas serta keselamatan
dengan baik dan memastikan terapi medikasi antara perawat dengan pasien dalam
yang diberikan sesuai program. memberikan pelayanan yang berkualitas
Pelaksanaan bedside handover kepada pasien. Hasil penelitian (Hemant K.K,
yang berkualitas akan mampu menggali 2005) menyatakan bahwa ada hubungan
data tentang pasien. Tujuan operan disini penerapan serah terima dengan kepuasan
131
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

pasien. Hasil penelitian ini juga didukung juga pelayanan keperawatan saat pergantian
oleh penelitian (Maxson. PM., n.d.) shift, 62,1% menyatakan puas dan 15,5%
menyatakan bahwa ada hubungan serah menyatakan cukup puas (RSI Ibnu Sina
terima antar perawat dengan terjaminnya Bukittinggi, 2016). Hasil studi pendahuluan
keselamatan pasien dan kepuasan pasien. di RSI Ibnu Sina Padang peneliti
Data Indonesia
melakukan
penelitian
observasi
terkait
pada
operan
dua dilakukan
ruang rawatoleh Rahmi (Yudian
kategori baik. Penelitian ini juga inap sebagai studi pendahuluan pada bulan
menemukan bahwa sikap yang ditunjukkan Mei 2016 yang berkaitan dengan pelaksanaan
dalam operan pasien menunjukkan 13% serah terima adalah observasi yang dilakukan
responden dalam kategori baik, 67% kepada 10 responden diketahui 6 orang dari
responden dalam kategori cukup dan 20% 10 responden (60%) melakukan serah
responden dalam kategori kurang. Dari data terima pasien dengan metode tradisional.
tersebut diatas menunjukkan bahwa respon Selain daripada itu 5 orang pasien dari 10
perawat terhadap pelaksanaan operan masih pasien (50%) menyatakan kurang puas
sangat rendah. terhadap pelayanan yang perawat berikan.
Penelitian ( F r ie s e n , Studi pendahuluan yang dilakukan di
200 9) ditemukan 70% kesesuian antara RSI Ibnu Sina Bukittinggi pada 10 responden
laporan dengan kondisi sebenarnya terdapat di dua ruang rawat inap pada bulan Juli 2016
kelalaian 12% yang berkaitan dengan diketahui 5 orang dari 10 responden (50%)
serah terima pasien dalam pemberian melakukan serah terima dengan metode
asuhan keperawatan. Pendapat lain juga tradisional dan menyatakan kurang puas
mengatakan bahwa pelaksanaan serah terhadap pelayanan yang perawat berikan.
terima pasien hanya merupakan rutinitas Sementara itu, hasil wawancara mendalam
biasa dan berdasarkan kebiasaan sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti kepada Kepala
(Evans, et al, 2008). Bidang Keperawatan dan Kepala Ruangan
RS Islam Ibnu Sina merupakan RS Rawat Inap di RSI Ibnu Sina Padang
swasta yang berada di bawah Yayasan menyatakan bahwa penerapan serah terima
Rumah Sakit Islam (Yarsi) Sumatera Barat. pasien masih menggunakan metode
RS Islam Ibnu Sina terdapat di lima tradisional dengan dilakukannya serah
Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yaitu terima kepada perawat pengganti di nurse
RSI Ibnu Sina Bukittinggi, RSI Ibnu Sina station dengan menggunakan white board
Padang, RSI Ibnu Sina Simpang Ampek, yang berisi dokumentasi nama pasien,
RSI Ibnu Sina Payakumbuh dan RSI Ibnu nomor rekam medis, tanggal masuk,
Sina Padang Panjang. RSI Ibnu Sina dalam diagnosis medis dan terapi medis,
mewujudkan Rumah Sakit menjadi tipe B sedangkan untuk diagnosis keperawatan,
dengan pelayanan profesional dan islami intervensi dan evaluasi tidak ada.
melakukan peningkatan mutu secara terus Selain daripada itu hasil wawancara
menerus (Yarsi Sumbar, 2015). mendalam dengan Kepala Bidang
Data survey pelayanan keperawatan Keperawatan di RSI Ibnu Sina Bukittinggi
terhadap pasien rawat inap di RSI Ibnu Sina menyatakan bahwa penerapan serah terima
Padang dan Bukittinggi. RSI Ibnu Sina pasien yang dilakukan yaitu bedside
Bukittinggi diketahui 40% pelayanan serah handover dan juga telah menggunakan
terima pasien dilakukan secara tradisional komunikasi Situation, Background,
dan 60% dilakukan secara bedside handover. Assessment, Recommendation(SBAR).
Berdasarkan survey yang dilakukan Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik
didapatkan data bahwa 23% pasien untuk melakukan penelitian
sangat puas terhadap pelayanan mengenaiperbedaan kepuasan pasien
keperawatan yang diberikan dalam hal ini
132
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

mengenai metode serah terima pasien dengan kepuasan dapat disebabkan oleh banyak
tradisional dan bedside handover. faktor, salah satunya adalah tempat
penelitian. Shaikh, dkk (2008) melakukan
METODE penelitian di daerah rural (terpencil) yang
Studi ini merupakan penelitian kuantitatif memungkinkan semua dimensi kepuasan
menggunakan desain penelitian yang dalam kondisi keterbatasan atau tidak dapat
digunakan adalah cross sectional terpenuhi.
comparative study. Dilaksanakan di ruang Sementara RSI Ibnu Sina Padang
rawat inap RSI Ibnu Sina Padang yaitu di dan Bukittinggi yang menjadi lokasi
ruangan Shafa dan Marwa, sedangkan untuk penelitian berada di daerah district capital
RSI Bukittinggi di ruang rawat inap (ibukota daerah), dimana hampir semua
Penyakit Dalam dan Bedah. Dengan aspek kebutuhan rumah sakit lebih mudah
menggunakan teknik pengambilan sampel untuk dipenuhi oleh pihak manajemen. Hasil
consecutive sampling, sementara itu jumlah penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
sampel dihitung dengan menggunakan dilakukan oleh Fachruddin (2005) pada
rumus Stanley Lemeshow. Teknik pendekatan konsep lima dimensi mutu yaitu
pengumpulan data dengan cara field study reliability, responsiveness, assurance,
yaitu angket, kuesioner, wawancara dan emphaty, dan tangibles yang mengumpulkan
observasi. data kepada 100 responden, menyatakan
kepuasan pasien bergradasi dari 55% sampai
HASIL dengan 86%.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa kepuasan pasien mengenai serah PEMBAHASAN
terima pasien dengan tradisional mampu
memenuhi harapan pasien sebesar 70,17%. Kepuasan pasien rawat inap
Sedangkan kepuasan pasien mengenai serah mengenai serah terima pasien dengan
terima pasien dengan bedside handover tradisional dan bedside handover berdasarkan
mampu memenuhi harapan pasien sebesar dimensi kepuasan diketahui kepuasan pasien
88,24%. Hal ini menggambarkan bahwa rawat inap mengenai serah terima pasien
kepuasan pasien mengenai serah terima dengan tradisional didapatkan dimensi
pasien dengan bedside handover lebih kepuasan berdasarkan tangibles (bukti fisik)
tinggi jika dibandingkan tradisional. memiliki tingkat kepuasan tertinggi yaitu
Walaupun masih menunjukkan 72.16%, diikuti oleh kepuasan dari dimensi
tingkat kepuasan rata-rata yang masih
berdasarkan responsiveness (daya tanggap)
bernilai di bawah 90%, namun hasil ini lebih
baik bila dibandingkan dengan yang yaitu 71.74% dan assurance (jaminan)
ditemukan oleh Sandra (2015) yang 70,05%, emphaty (empati) 69% dan reliable
menyatakan kepuasan pasien rawat inap di (kehandalan) 67,51%. Kelima dimensi
RSUD Sawahlunto memiliki gradasi mulai tersebut belum memenuhi kepuasan pasien
dari65% sampai dengan 84%. Perbedaan rawat inap.
tingkat kepuasan ini dapat terjadi karena Kepuasan pasien rawat inap
terdapatnya perbedaan persepsi dan harapan mengenai serah terima pasien dengan bedside
serta kenyataan yang diterima oleh pasien handover didapatkan dimensi kepuasan
dalam pelayanan keperawatan. Hasil berdasarkan assurance (jaminan) memiliki
penelitian Shaikh, dkk (2008) dalam tingkat kepuasan tertinggi yaitu 89.70%,
penelitiannya using SERVSQUAL for diikuti oleh kepuasan dari dimensi
assessing and improving patient satisfaction berdasarkan responsiveness (daya tanggap)
at a rural health facility in Pakistan dimana yaitu 88.6% dan tangible (bukti fisik)
kepuasan pasien memiliki gradasi mulai dari 88,12%, reliable (kehandalan) 87.73% dan
34% sampai dengan 81%. Perbedaan tingkat emphaty (empati) 87,40%. Kelima dimensi
133
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

tersebut belum memenuhi kepuasan pasien Pada kuadran B terdapat 4 atribut


rawat inap. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yaitu perawat menguasai dan
kepuasan pasien rawat inap mengenai serah terampil dalam memberikan pelayanan,
terima pasien dengan bedside handover lebih pelayanan pemeriksaan dan pengobatan yang
tinggi dibandingkan dengan tradisional. dilakukan kepada pasien di lakukan dengan
Berdasarkan pada diagram kartesius teliti, perawat bersikap kekeluargaan untuk
kepuasan pasien rawat inap mengenai metode mengerti kebutuhan pasien, kebersihan
serah terima dengan tradisional diketahui perlengkapan di ruang rawat inap dan
pada posisi kuadran kepuasan pasien yang perawat tidak tergesa-gesa dalam
perlu diperbaiki adalah pada kuadran A memberikan pelayanan.
terdapat 10 atribut kepuasan pasien Pada atribut-atribut kepuasan tersebut
mengenai serah terima pasien dengan memiliki kepuasan yang baik dan perlu untuk
tradisional yaitu perawat melakukan dipertahankan. Kepuasan yang timbul pada
pergantian shift dengan perawat lain dengan kuadran B berdasarkan serah terima secara
baik dan melibatkan pasien di tempat tidur tradisional berhubungan dengan pelayanan
pasien secara langsung dalam serah terima keperawatan esensial yang diberikan oleh
pasien, perawat selalu ramah dalam perawat dalam pelayanan rawat inap di
melayani pasien dan keluarganya, timbang rumah sakit yang harus dan penting untuk
terima dilakukan dengan waktu yang sesuai dilakukan oleh perawat, karena seorang
dengan kebutuhan pasien, perawat pengganti perawat professional harus memiliki
dapat memenuhi kebutuhan pasien, pelayanan kompetensi dalam memberikan pelayanan
yang diberikan oleh perawat sama kepada keperawatan dan melakukan pelayanan
semua pasien karena tidak membedakan keperawatan dan pengobatan dengan teliti.
berdasarkan kelompok pembayaran, perawat Hal ini sesuai dengan atribut pada kuadran B
sebelumnya dan perawat pengganti selalu yang pasien merasa puas.
siap sedia dalam melayani pasien, perawat Berdasarkan pada diagram kartesius
sebelumnya dan perawat pengganti ramah kepuasan pasien rawat inap mengenai
dan sopan dalam memberikan pelayanan dan metode serahterima dengan bedside handover
pengobatan, perawat senantiasa memberikan diketahui pad a posisi kuadran kepuasan
perhatian terhadap masalah kesehatan yang pasien yang perlu diperbaiki adalah pada
dihadapi, perawat bersedia dengan sabar kuadran A terdapat 4 atribut kepuasan pasien
mendengarkan keluhan yang pasien alami mengenai serah terima pasien, yaitu perawat
dan adanya kotak saran, kritik dan keluhan menanyakan keluhan pasien saat timbang
pasien. Pada atribut-atribut kepuasan tersebut terima, perawat memberikan infor masi
pasien merasa tidak puas.(Idris, 2012) mengenai masalah kesehatan dan penyakit
Penyebab terjadinya ketidakpuasan yang diderita, pada saat memperkenalkan
pasien pada serah terima secara tradisional perawat lain pada saat pergantian shift
disebabkan karena proses serah terima perawat memberikan kesempatan bertanya
lebih banyak dilakukan di nurse station, kepada pasien dan perawat bersikap
perawat kurang memberikan kesempatan kekeluargaan untuk mengerti kebutuhan
kepada pasien untuk bertanya maupun pasien. Pada atribut- atribut kepuasan
menyampaikan keluhannya. Pengecekan ke tersebut pasien merasa tidak puas.
pasien hanya sekedar memastikan kondisi Penyebab rendahnya ketidakpuasan
secara umum. Hal inilah yang pasien pada serah terima secara bedside
menyebabkan tidak ada kontribusi atau handover dibandingkan tradisional handover
feedback dari pasien dan keluarga, sehingga disebabkan karena bedside handover
proses informasi dibutuhkan oleh pasien dilakukan di samping tempat tidur pasien
terkait status kesehatannya tidak up to date. dengan melibatkan pasien atau keluarga
134
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

pasien secara langsung untuk mendapatkan Pada atribut-atribut kepuasan tersebut


feedback. Hal ini sesungguhnya memiliki kepuasan yang baik dan perlu untuk
meningkatkan keterlibatan pasien dalam dipertahankan. Kepuasan yang timbul pada
mengambil keputusan terkait kondisi kuadran B berdasarkan serah terima secara
penyakitnya dan meningkatkan hubungan bedside handover berhubungan dengan
keperawatan dan komunikasi antara pasien pelayanan serah terima pasien dan pelayanan
dengan perawat. Jika dilihat pada tradisional keperawatan esensial, berbeda jika dilihat
handover serah terima hanya dilakukan antar pada tradisional handover pada kuadran B
perawat sehingga pasien tidak mengetahui dimana pasien hanya puas pada pelayanan
bagaimana kondisi perkembangan keperawatan esensial namun dari segi serah
penyakitnya berbanding terbalik dengan terima pasien dan komunikasi antara perawat
bedside handover dimana pasien dilibatkan pada pasien dirasa kurang memuaskan, hal
dan mengetahui perkembangan terkini ini dapat dimaklumi karena serah terima yang
mengenai penyakitnya, sehingga pasien dilakukan secara tradisional tidak melibatkan
merasa terlayani dan dilibatkan dalam setiap pasien dalam prosesnya, sehingga tidak
proses keperawatan. berlangsungnya komunikasi yang efektif dan
Pada kuadran B terdapat 12 atribut dua arah antara perawat dan pasien.
kepuasan yaitu penampilan perawat di ruang Jika dilihat berdasarkan
rawat inap bersih dan rapi, perawat perbandingan dua diagram kartesius pada
melakukan pergantian shift dengan perawat penerapan tradisional dan bedside handover
lain dengan baik dan melibatkan pasien di terjadi pegeseran beberapa atribut pelayanan
tempat tidur pasien secara langsung dalam yang pada penerapan tradisional handover
serah terima pasien, perawat selalu ramah berada pada kuadran B yang artinya telah
dalam melayani pasien dan keluarganya, memenuhi kenyataan dan harapan pasien
perawat memberi salam pada pasien atau yaitu atribut 17 (perawat menguasai dan
keluarga dan memberi tahu perawat yang terampil dalam memberikan pelayanan),
akan melaksanakan pelayanan pada tugas atribut 19 (pelayanan kepada pasien
berikutnya, timbang terima di kamar dilakukan dengan teliti) dan atribut 24 (tidak
pasien menggunakan suara yang cukup tergesa-gesa dalam memberikan pelayanan).
dan tidak didengar pasien disebelahnya dan Namun pada bedside handover
menjaga privasi pasien, perawat memiliki atribut 17 dan 19 berada pada kuadran C hal
kemauan untuk melakukan serah terima ini terjadi karena kenyataan yang diterima
secara langsung dengan melibatkan pasien pasien telah melebihi dari harapan pasien,
pada saaat pergantian shift dengan perawat sehingga menurut pasien hanya perlu
lainnya, perawat menjelaskan mengenai dilakukan biasa-biasa saja, hal ini terjadi
pergantian shift kepada pasien, perawat karena perawat di RSI Ibnu Sina
pengganti dapat memenuhi kebutuhan Bukittinggi yang melakukan serah terima
pasien, perawat yang melayani dalam setiap bedside handover dalam melakukan
shiftnya cepat tanggap dalam memberikan pelayanan keperawatan selalu menyampaikan
pelayanan dan pengobatan kepada pasien, setiap tindakan kepada pasien, berbeda
perawat yang melayani dalam setiap dengan RSI Ibnu Sina Padang yang
shiftnya memotivasi agar pasien cepat melakukan tradisional handover yang tidak
dalam proses penyembuhan, perawat selalu menyampaikan setiap tindakan
sebelumnya dan perawat pengganti kepada pasien.
ramah dan sopan dalam memberikan Selain daripada itu pada atribut 24
pelayanan dan pengobatan dan perawat juga terjadi pergeseran pada penerapan
senantiasa memberikan perhatian terhadap tradisional handover yang berada pada
masalah kesehatan yang dihadapi. kuadran B namun pada bedside handover
135
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

bergeser pada kuadran D. Hal ini dapat Analisis pada diagram kartesius ini
terjadi karena kenyataan yang diterima pasien menunjukkan atribut kepuasan yang
telah jauh melebihi harapan pasien, dapat memiliki kepuasan pasien yang rendah dalam
dimaklumi karena serah terima pasien di RSI hal dimensi reliable (kehandalan) dan
Ibnu Sina Bukittinggi dilakukan secara emphaty (emphaty). Hal ini dapat terjadi
bedside handover yang melibatkan pasien karena perawat dalam menangani pasien
dan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. dihadapkan pada jumlah pasien yang banyak
Berdasarkan analisis kuesioner sehingga perawat yang melayani dalam setiap
diketahui bahwa kepuasan responden yang shiftnya kurang tanggap dalam memberikan
terendah mengenai penerapan serah terima pelayanan dan pengobatan kepada pasien,
pasien di RSI Ibnu Sina Padang adalah perawat sulit dihubungi apabila pasien
perawat melakukan pergantian shift dengan mengalami keluhan dan perawat yang
perawat lain dengan baik dan melibatkan melayani dalam setiap shiftnya memotivasi
pasien di tempat tidur pasien secara langsung agar pasien cepat dalam proses
dalam serah terima pasien (24,5%), penyembuhan. Oleh karena itu perlu
menjelaskan mengenai pergantian shift diterapkan timbang terima dengan bedside
kepada pasien (28,3%), perawat senantiasa handover secara menyeluruh dan
memberikan perhatian terhadap masalah menjalankannya berdasarkan Standar
kesehatan yang dihadapi (32,1%), perawat Operasional Prosedur (SOP) timbang
memberi salam pada pasien atau keluarga terima, sehingga antara perawat shift
dan memberi tahu perawat yang akan sebelumnya dan pengganti mengetahui dan
melaksanakan pelayanan pada tugas memahami keluhan pasien secara langsung
berikutnya (35,8%) dan perawat selalu ramah dan mampu memberikan pelayanan dan
dalam melayani pasien dan keluarganya pengobatan kepada pasien berdasarkan
(37,7%). Sedangkan berdasarkan analisis kebutuhan pasien.
kuesioner diketahui bahwa kepuasan Hasil penelitian perbedaan
responden yang terendah mengenai kepuasan pasien terhadap serah terima
penerapan serah terima pasien di RSI Ibnu pasien dengan tradisional dan bedside
Sina Bukittinggi adalah terdapatnya kotak handover diketahui rata-rata kepuasan pasien
saran, kritik dan keluhan pasien (45,3%). mengenai serah terima pasien pada responden
Hasil observasi peneliti di RSI Ibnu dengan penerapan serah terima secara
Sina Padang diketahui bahwa penerapan tradisional adalah 70.1 dengan standar
serah terima pasien masih menggunakan deviasi 4.12, sedangkan untuk responden
metode tradisional dengan dilakukannya dengan penerapan serah terima secara
serah terima kepada perawat pengganti di bedside handover 88.24 dengan standar
nurse station dengan menggunakan white deviasi 2.49. Hasil uji statistik didapatkan
board yang berisi dokumentasi nama pasien, nilai p=0,000 (p value< 0,05) maka dapat
nomor rekam medis, tanggal masuk, disimpulkan terdapat perbedaan yang
diagnosis medis dan terapi medis, bermakna antara kepuasan pasien terhadap
sedangkan untuk diagnosis keperawatan, serah terima pasien dengan tradisional dan
intervensi dan evaluasi tidak ada. Selain bedside handover.
daripada itu observasi di RSI Ibnu Sina Hasil penelitian ini sejalan dengan
Bukittinggi diketahui bahwa penerapan serah penelitian yang dilakukan oleh (Idris, 2012)
terima pasien yang dilakukan yaitu bedside menyatakan bahwa terdapat hubungan
handover dan juga telah menggunakan penerapan serah terima pasien dengan
komunikasi Situation, Background, kepuasan pasien di ruang rawat inap dengan
Assessment, Recommendation (SBAR) nilai p < 0,05. Penelitian (Hasibuan, 2003)
juga menyatakan bahwa terdapat hubungan
136
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

penerapan serah terima dengan kepuasan digunakan sebagai dasar pemberian tindakan
pasien dengan nilai p< 0,05. Hasil keperawatan. Hal ini akan menurunkan
penelitian lainnya yaitu (Effendi, 2013) kualitas pelayanan keperawatan dan
menyatakan bahwa terdapat hubungan menurunkan tingkat kepuasan pasien.
penerapan serah terima pasien dengan Kegiatan timbang terima yang telah
kepuasan yang pasien rasakan.Hubungan dilakukan perlu dipertahankan dan
penerapan serah terima pasien dengan ditingkatkan kualitasnya. Timbang terima
kepuasan pasien yaitu menurut adalah transfer tentang informasi (termasuk
(Margono, H., & Wardani, 2018), timbang tanggungjawab dan tanggunggugat) selama
terima keperawatan yang dilakukan secara perpindahan perawatan yang berkelanjutan
continue dapat meningkatkan kualitas yang mencakup peluang tentang pertanyaan,
pelayanan keperawatan yang terstruktur dan klarifikasi dan konfirmasi tentang pasien
informatif yang didukung dengan adanya (Friesen, 2009).
acuan berupa Standard Operational Prosedure Timbang terima pasien harus
(SOP). dilakukan seefektif mungkin dengan
Hasil penelitian bahwa dengan menjelaskan secara singkat, jelas, dan
adanya prosedur timbang terima maka lengkap tentang tindakan mandiri perawat,
semakin efektif dalam meningkatkan tindakan kolaboratif yang sudah
kesinambungan, kualitas serta keselamatan dilakukan/belum dan perkembangan pasien
antara perawat dengan pasien dalam saat itu. Informasi yang disampaikan harus
memberikan pelayanan yang berkualitas akurat sehingga kesinambungan asuhan
kepada pasien. Banyak manfaat yang dapat keperawatan dapat berjalan dengan
diperoleh perawat dari kegiatanoperanini. sempurna. Timbang terima dilakukan oleh
Salah satu manfaat operan yaitu perawat perawat primer keperawatan kepada
dapat mengikuti perkembanganpasien secara perawat primer (penanggung jawab) dinas
berkesinambungan dan mengurangi tingkat sore atau dinas malam secara tertulis dan
kesalahan pada saatpemberian tindakan lisan.
keperawatan sehingga asuhan keperawatan Prosedur timbang terima, selama ini
dapatdiberikan semaksimal mungkin. Sesuai sudah dilakukan pada setiap pergantian shift
dengan hal tersebut Thurgood dikutip dalam jaga, namun cara penyampaian isi timbang
menyatakan bahwa dalam pelaksanaan terima belum terungkap secara komprehensif,
operan sangat ditekankan pentingnya meliputi: isi timbang terima (masalah
memberikan informasi yang akurat, keperawatan pasien lebih focus pada
relevan,dan spesifik untuk menjamin diagnosis medis), dilakukan secara lisan
kesinambungan perawatan bagi pasien. tanpa ada pendokumentasian, sehingga
Pendapat lain juga mengatakan rencana tindakan yang belum dan
bahwa pelaksanaan serah terima pasien hanya sudahdilaksanakan, dan hal-hal penting masih
merupakan rutinitas biasa dan berdasarkan ada yang terlewati untuk disampaikan pada
kebiasaan sebelumny. Keakuratan data yang shiftberikutnya. Selain itu mekanisme
diberikan saat timbang terima sangat penting, timbang terima belum sesuai dengan standar
karena dengan timbang terima ini maka baku (Nurssalam, 2009).
pelayanan asuhan keperawatan yang Kepuasan pasien akan tercapai bila
diberikan akan bisa dilaksanakan secara diperoleh hasil yang optimal bagi setiap
berkelanjutan, dan mewujudkan pasien atau keluarganya. Harus ada
tanggungjawab dan tanggunggugat dari perhatian terhadap mutu pelayanan
seorang perawat. berupa keluhan, kondisi lingkungan fisik
Bila timbang terima tidak dilakukan dan tanggap atas kebutuhan pasien. Tetapi
dengan baik, maka akan muncul kerancuan masih banyak ditemukan keluhan pasien
dari tindakan keperawatan yang diberikan tentang mutu pelayanan rumah sakit yang
karena tidak adanya informasi yang bisa tidak memuaskan, keluhan tersebut tidak
137
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

hanya berkaitan dengan fasilitas peralatan (Recommendation) adalah rencana ataupun


yang dan gedung rumah sakit serta usulan yang akan dilakukan untuk menangani
tersedianya dokter ahli tetapi juga permasalahan yang ada.
menyangkut komunikasi antara staf rumah Metode komunikasi SBAR
sakit dengan pasien sehingga merasakan diharapkan dapat mengatasi kendala yang
kenyamanan dan kualitas pelayanan yang ditimbulkan oleh kedua pihak, pasien dan
diberikan. perawat. menyatakan bahwa timbang terima
Menurut (Zeithaml, V and Bitnert, dengan metode komunikasi SBAR terbukti
n.d.)identifikasi mutu pelayanan yang memerlukan lebih sedikit waktu karena
diterima berkaitan dengan kualitas pelayanan perawat terampil mengenali kebutuhan pasien
berdasarkan dimensi mutu yaitu reliability (tidak hanya ingin sembuh). Komunikasi
(kehandalan), responsiveness (daya tanggap), yang tidak tepat berdampak fatal baik
assurance (jaminan), empathy (empati) dan terhadap pasien maupun petugas itu sendiri.
tangibles (bukti fisik)(Zeithaml, V and Banyak hal dan kejadian yang tidak
Bitnert, n.d.). Penerapan timbang terima tidak diharapkan terjadi dalam memberikan asuhan
perlu dilakukan dan harus menghindari keperawatan berakar dari komunikasi saat
kesalahan akibat penyampaian timbang timbang terima. Penerimaan pesan yang
terima pada saat pergantian shift karena salah dapat terjadi disebabkan oleh beberapa
akan berakibat pada menurunnya indikator faktor diantaranya kerangka atau model yang
kualitas pelayanan di rumah sakit (Fabre, tidak jelas, sumber daya yang tidak
2010 dalam Manopo, 2012). Dalam memenuhi syarat atau Standar Prosedur
penerapan pelayanan ada beberapa standar Operasional (SPO) sebagai pedoman baku
yang perlu diimplementasikan, salah satu yang harus diikuti oleh perawat dalam
standar tersebut adalah penerapan timbang prosedur pelayanan tidak jelas.
terima menggunakan komunikasi dengan RSI Ibnu Sina menetapkan kebijakan
metode Situation, Background, Assesement menggunakan komunikasi berbasis SBAR
and Recommendation (SBAR). Kerangka dalam meningkatkan komunikasi antar
komunikasi dengan metode SBAR digunakan petugas kesehatan yang ada. Kebijakan ini
pada saat perawat melakukan timbang terima sejalan dengan salah satu standar yang
(handover), pindah ruang perawatan maupun dipersyaratkan dari JCI tentang Patient
dalam melaporkan kondisi pasien kepada Safety Goals (Tim KP-RS RSI Ibnu Sina,
dokter (Tim KP-RS Ibnu Sina Bukittinggi, 2014). Lama waktu timbang terima
2014). (handover) bervariasi tergantung kondisi
Komunikasi dengan metode SBAR pasien, biasanya berkisar dua menit setiap
adalah kerangka teknik komunikasi yang pasien. Pasien yang mempunyai masalah
disediakan untuk berkomunikasi antar khusus atau spesifik akan membutuhkan
petugas kesehatan dalam menyampaikan waktu yang lebih lama tetapi tidak lebih
kondisi pasien (Permanente, 2011). SBAR dari lima menit. Kenyataan yang ada di
merupakan kerangka yang mudah diingat, lapangan masih banyak perawat yang
mekanisme nyata yang digunakan untuk melakukan timbang terima (handover)
menyampaikan kondisi pasien yang kritis belum menggunakan kerangka komunikasi
atau perlu perhatian dan tindakan segera. S berbasis SBAR sehingga timbang terima
(Situation) mengandung komponen tentang berlangsung lama dan kesalahan penerimaan
identitas pasien, masalah saat ini, dan hasil pesan masih terjadi, RSI Ibnu Sina
diagnosa medis. B (Background) menetapkan kebijakan menggunakan
menggambarkan riwayat penyakit atau situasi komunikasi berbasis SBAR dalam
yang mendukung masalah/situasi saat ini. A meningkatkan komunikasi antar petugas
(Assessment) merupakan kesimpulan masalah kesehatan yang ada. Kebijakan ini sejalan
yang sedang terjadi pada pasien sebagai hasil dengan salah satu standar yang
analisa terhadap situationdan background. R dipersyaratkan dari JCI tentang Patient
138
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

Safety Goals (Tim KP-RS RSI Ibnu Sina, yang dirawat di rumah sakit pernah
2014). mengalami medical mismanagement dalam
Kenyataan yang ada di lapangan pemberian obat, dan sekitar 17 %
masih banyak perawat yang melakukan memerlukan hari rawat inap yang lebih
timbang terima (handover) belum panjang atau mengalami efek samping yang
menggunakan kerangka komunikasi serius. Salah satu penyebab terjadinya
berbasis SBAR sehingga timbang terima medication error adalah adalah timbang
berlangsung lama dan kesalahan terima antar shift yang tidak jelas dan tidak
penerimaan pesan masih terjadi. Bedside adanya validasi data ke pasien, oleh karena
handover juga memberikan kesempatan itu metode bedside handover dengan
pasien untuk menyampaikan keluhannnya komunikasi SBAR merupakan salah satu
dan keikutsertaan pasien dalam program solusinya. Berdasarkan data JCHO (2006),
perawatan. di 36 rumah sakit dan nursing home di
Pelaksanaan bedside handover Colorado dan Georgia USA dari 3216 jenis
yang berkualitas akan mampu menggali pemberian obat 4% diberikan obat yang
data tentang pasien. Kualitas pelaksanaan salah (JointCommission on Accreditiation
bedside handover dapat dilihat dari lima of Health Organization/JCAHO,2006).
komponen kualitas pelayanan yaitu, Metode timbang terima yang saat
keandalan (reliability), daya tanggap ini dilakukan di ruang rawat inap RSI
(responssiveness), jaminan (assurance), Ibnu SinaBukittinggi sudah menggunakan
empati (empathy), bukti fisik (tangibles). kom unikasi SBAR dan bedside handover.
Kelima komponen kualitas pelaksanaan Namun untuk RSI Ibnu Sina Padang
bedsisde handover tersebut akan membuat penerapannya masih menerapkan timbang
pasien merasa dihargai dan dilibatkan dalam terima secara tradisional dalam penerapannya
proses keperawatan sehingga secara tidak masih melakukan timbang terima di nurse
langsung akan membantu kesembuhan station, sehingga menimbulkan berbagai
pasien. kendala seperti, informasi yang kurang fokus,
Dalam timbang terima pasien, ada waktu yang panjang, kesalahan penerimaan
dua hal penting yang harus diperhatikan pesan yang berefek pada salah persepsi,
oleh perawat yaitu komunikasi yang akurat sehingga kurang efektif dan efisien.
dan pastikan pemberian obat pada saat Metode timbang terima (handover) yang
serah terima pasien. Fenomena yang dijumpai dilakukan saat pergantian shift belum sesuai
dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit dengan SPO untuk melakukan timbang terima
terkait dengan komunikasi antar petugas secara bedside handover.
terutama dalam kegiatan timbang terima Jika dilihat berdasarkan hasil
pasien (handover) adalah komunikasi yang observasi peneliti menemukan bahwa
salah sehingga berdampak salah persepsi, penilaian mutu pelayanan dan efisiensi
waktu yang lama, isi (content) komunikasi pelayanan serta tingkat keberhasilan atau
yang tidak fokus tentang masalah pasien memberikan gambaran tentang status
bahkan tidak jarang saat timbang terima pelayanan dapat dilihat dari indikator
(handover) topik pembicaraan sering tingkat pemanfaatan sarana pelayanan, salah
ngelantur, informasi tidak lengkap sehingga satu indikator tersebut adalah Bed
perawat harus menanyakan ulang Occupation Rate (BOR). Data RSI Ibnu Sina
kepada perawat yang bertugas Padang diketahui BOR tahun 2015 yaitu
sebelumnya. Situasi ini mengakibatkan 70,5%, sedangkan BOR RSI Ibnu Sina
tidak efektifnya pelaksanaan asuhan Bukittinggi lebih tinggi yaitu 80,48%.
keperawatan bahkan berdampak terhadap Tingginya BOR pada RSI Ibnu Sina
keselamatan pasien (patient safety) Bukittinggi dibandingkan RSI Ibnu Sina
(Aditaman.T, 2010). Daerah Amerika Padang dapat diasumsikan bahwa
Serikat, menunjukkan bahwa 45% pasien masyarakat memiliki kepuasan yang tinggi
139
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

dalam pelayanan pasien rawat inap di RSI dan membentuk citra tersendiri bagi pasien
Ibnu Sina Bukittinggi sehingga masyarakat dan keluarganya, sehingga terpenuhinya
memiliki kepercayaan yang cukup tinggi aspek dimensi tersebut dapat berhubungan
untuk memanfaatkan pelayanan rawat inap dengan kepuasan pasien dan keluarga
dibandingkan RS lain. Hal ini sinergi dengan rasakan.
penerapan serah terima pasien dengan
bedside handover yang cenderung KESIMPULAN
memberikan kepuasan pasien yang cukup
tinggi dibandingkan dengan tradisional. Kepuasan pasien terhadap pelayanan
Sehingga RSI Ibnu Sina Bukittinggi yang rumah sakit merupakan hal yang sangat
menerapkan serah terima pasien dengan kursial dan perlu ditingkatkan, karena rumah
bedside handover berkontribusi terhadap sakit sebagai penjual jasa maka kepuasan
kepuasan pasien dan menjadi salah satu pasien adalah feedback dari jasa yang
faktor yang meningkatkan kepuasan pasien di diberikan. Termasuk juga dengan
ruang rawat inap. Namun jika dilihat secara penggunaan metode serah terima pasien.
keseluruhan kedua RS ini telah mencapai Studi ini menunjukan bahwa pasien lebih
standar yang ditetapkan oleh Kementerian puas dengan metode serah terima bedside
Kesehatan RI yaitu 70-80%. handover dibandingkan dengan metode
Berdasarkan analisis peneliti serah terima secara tradisional karena
terdapatnya perbedaan kepuasan pasien dapat meni gkatakan keterlibatan pasien
terhadap serah terima pasien dengan dalam mengambil keputusan terkait kondisi
tradisional dan bedside handover disebabkan penyakitnya secara up to date dan
karena dimensi kepuasan yang meliputi meningkatkan hubungan caring dan
reliability (kehandalan), responsiveness komunikasi antara pasien dengan perawat.
(daya tanggap), assurance (jaminan),
empathy (empati) dan tangibles (bukti
fisik) tidak dapat terlepas satu sama lain
DAFTAR PUSTAKA
Change in The Nursing Handover From
Traditional to Bedside Handover. ,
Aditaman.T, Y. (2010). manajemen (2005).
admkinistrasi rumah sakit. Jakarta: Idris, A. (2012). Psikologi kepribadian.
Universitas Indonesia. Bandung.
COHEN, M.D, & HILLIGOS, P. bRIA. Margono, H., & Wardani, M. K. (2018).
(2009). HANDOFFS IN HOSPITAL : KEPUASAN PASIEN TERHADAP
REVIEW OF THE LITERATURE PELAYANAN RUMAH SAKIT. 15(1),
INFORMATION EXCHANGE 09–22.
WHILETRANSFERING PATIENT Nursalam. (2002). Manajemen
RESPONSIBILITY. Keperawatan:Aplikasi dalam praktik
Effendi, M. Hubungan Mutu Pelayanan keperawatan profesional. Jakarta:
denagn Kepuasan pasien di Ruang Salemba Medika.
Rawat Inap Penyakit Dalam RS Adam Pranatha, A., & Karimah, T. (2017).
Malik. , (2013). PENGARUH BERDO’A PADA SAAT
Friesen, M. . (2009). Hand off : Implication BEDSIDE HANDOVER TERHADAP
for Nurses. Hand off : Implication for TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI
Nurses. RUANG FALMBOYAN RSUD’45
Hasibuan. (2003). Manajemen Sumber Daya KUNINGAN.
Manusia. Jakarta: FKUI. Utarini, A. Pengembangan Sistem Regulasi
Hemant K.K, and zaheda B. . Managing Mutu Pelayanan dan Keselamatan
140
e-ISSN : 2540-961
p-ISSN : 2087-8508

T
IN
GG
I ILM
U
K
E

Jurnal Kesehatan Medika Saintika


H

S
EH
A
S EKO L

AT A N
SY E
D Z A SA I
NT I K A
Vo lu me 10 No mor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

Pasien Kunci Pelayanan Kesehatan


yang Optimal dan Responsif. , (20011).
Wallis, S. Nursing Handover Research
Project : How is Nursing Handover
Talkes About in The Literature. , (2010).
Zeithaml, V and Bitnert, M. . (n.d.). Service
Marketing.

141