Anda di halaman 1dari 10

Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.

2 (2019) 273-282 | 273

PENERAPAN KOMUNIKASI SBAR UNTUK MENINGKATKAN


KEMAMPUAN PERAWAT DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN DOKTER
Sri Siska Mardiana a,*, Tri Nur Kristina a, b, Madya Sulisno b
a
Prodi Magister Keperawatan Universitas Diponegoro
Gondosari, Kudus, Indonesia
b
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang, Indonesia
Abstrak
Komunikasi antara perawat dengan dokter merupakan salah satu elemen penting dari praktik
kolaborasi dalam pelayanan kesehatan. Komunikasi yang terjalin baik antara dokter dan perawat
diharapkan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan hal - hal penting, menjalin diskusi, memutuskan
secara bersama-sama serta dapat meminimalkan hambatan-hambatan yang ada dalam pemberian
perawatan kepada pasien. Model teknik komunikasi SBAR (Situation Background Assessment
Recommendation) membantu perawat untuk mengorganisasi cara berfikir, mengorganisasi informasi,
dapat memudahkan penyampaian pesan serta berdiskusi saat berkomunikasi dengan dokter. Penelitian ini
bertujuan untuk membuktikan apakah penerapan komunikasi SBAR dapat meningkatkan kemampuan
perawat dalam berkomunikasi lisan dengan dokter. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi
experiment dengan pre-post test with control group. Jumlah sampel sebanyak 18 peserta pada kelompok
intervensi dan 18 peserta pada kelompok kontrol yang diambil dengan teknik pengambilan sampel
purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol tidak terjadi
peningkatan yang signifikan pada kemampuan pearwat dalam berkomunikasi dengan dokter ditunjukkan
dengan p value 0,430 ,sedangkan pada kelompok intervensi ada peningkatan yang signifikan setelah
diberikan intervensi dengan nilai p value 0,000. Penelitian ini menemukan bahwa penerapan komunikasi
SBAR dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam berkomunikasi dengan dokter.

Kata Kunci: komunikasi SBAR, perawat, komunikasi perawat dan dokter.

Abstract
Communication between nurses and doctors is one of the important elements of collaborative
healthcare practices. Good communication between doctors and nurses is expected to be a means of
communicating the important things, discussing, resolving something together and minimizing the
barriers which are present in the patient’s treatment. The SBAR (Situation Background Assessment
Recommendation) communication model helps nurses to organize ways of thinking, organize information,
facilitate in delivering some messages and discuss when on communicating with the doctor. This study
examined the implementation of SBAR communication to improve the nurses’ abilities in communicating
with doctors. This study used quasi experimental research with design of pre-post test with control group.
The samples were 18 participants in the intervention group and 18 participants in the control group taken
by purposive sampling technique. The results showed that in the control group shows there is no
significant in the ability of nurse in communicating with the doctor was indicated by P value 0.430, while
in the intervention group there was a significant increase after intervention with the value of P value
0.000. The study found that the application of SBAR communication could improve the ability of nurses in
communicating with physicians. This study show that implementation of SBAR communication is able to
improve the ability of nurses to communicate with doctors.

Keywords: SBAR communication, nurse, nurse communication and doctor.

Komunikasi yang efektif dapat mencegah


PENDAHULUAN terjadinya kesalahan dalam penanganan
Komunikasi antar tenaga kesehatan pasien, mencegah keterlambatan dalam
merupakan salah satu komponen penting pelayanan kepada pasien dan dapat
dalam membangun suksesnya sebuah menggambarkan kesatuan hubungan yang
pelayanan kesehatan (Diniyah, 2017).
274 | Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282
terkoordinasi dengan baik dari seluruh tim secara baik dan sistematis menjadi hambatan
kesehatan (Kesrianti, 2015). pula untuk berintereksi secara professional
Komunikasi antara perawat dan dokter dengan dokter sebagai mitra (Supingatno,
merupakan salah satu elemen penting dari 2015).
praktik kolaborasi dalam pelayanan Beberapa hal yang turut menjadi
kesehatan (Rofi’i, 2011). Komunikasi yang penyebab terjadinya kurangnya komunikasi
terjalin baik antara dokter dan perawat yang antara dokter dan perawat adalah kurangnya
sesuai dengan makna kolaborasi diharapkan pengalaman belajar bersama tentang peran
dapat menyampaikan hal-hal penting terhadap profesi masing-masing sehingga
menurut pandangan masing-masing keilmuan baik dokter maupun perawat kurang
profesinya serta menjalin diskusi dan memahami peran masing-masing untuk
memutuskan secara bersama-sama sehingga berkontribusi dalam sebuah tim interdisiplin.
dapat meminimalkan hambatan-hambatan Selain itu kurangnya pengalaman komunikasi
yang ada dalam pemberian perawatan kepada diantara keduanya pada waktu pembelajaran
pasien (Supingatno, 2015). juga menyebabkan ketidakmampuan diantara
Komunikasi antara perawat dan dokter keduanya untuk memahami pola fikir dan
dalam kenyataannya tidak selalu terjadi pandangan masing-masing dalam
secara baik, jelas dan terperinci. Berdasarkan menyampaikan pendapat atau melihat sebuah
hasil penelitian menyatakan bahwa fenomena dengan cara yang sama (Basuki,
komunikasi antar perawat dan dokter di 2008).
rumah sakit terkait perawatan secara rutin Masalah komunikasi yang terjadi antara
terjadi pada saat visite. Komunikasi yang dokter dan perawat juga terjadi dalam
terjadi juga terkadang tidak bersifat diskusi komunikasi tidak langsung atau melalui
tetapi hanya instruksi dan konfirmasi saja telepon. Aktivitas komunikasi perawat dan
tanpa adanya transfer keilmuan diantara dokter melalui telepon cenderung lebih
keduanya (Supingatno, 2015). Komunikasi mudah menyebabkan terjadinya kesalahan
yang terjadi diantara perawat dan dokter komunikasi (Stukenberg, 2010). Kegagalan
masih menunjukkan ketidakutuhan dan perlu komunikasi dengan telepon antara perawat
mendapat perhatian yang khusus. The Joint dengan dokter bisa disebabkan oleh:
Commission menyatakan bahwa hampir 60% ketidaksiapan perawat berkomunikasi,
dari kejadian medical error adalah profesionalisme yang lemah. kolaborasi yang
merupakan hasil dari ketidakutuhan tidak adekuat, sulit ketika menghubungi
komunikasi antara perawat dan dokter (Fitria, dokter, kurangnya perhatian dokter saat
2013). Ketidakakuratan informasi dapat ditelepon, dan Tingkat kemampuan dokter
menimbulkan dampak yang serius pada menerima pesan dari perawat (Muay, 2012).
pasien, lebih dari 70% kasus di rumah sakit Ketidaksiapan perawat dalam
diakibatkan oleh kegagalan dalam berkomunikasi dengan dokter merupakan
komunikasi dan 75 % nya mengakibatkan hambatan yang perlu diatasi. Masalah
kematian. 65 % informasi yang tidak akurat tersebut terjadi karena kompetensi dan
dalam setiap alih informasi dapat kemampuan perawat dalam mempersiapkan
menimbulkan kesalahan dan kejadian tidak komunikasi dengan dokter. Kualitas untuk
diharapkan (KTD) (Andreoli dkk, 2011). mempersiapkan komunikasi dengan dokter
Penelitian yang dilakukan oleh Rumanti menjadi faktor yang penting untuk
menyatakan bahwa ternyata dari ratusan mewujudkan komunikasi yang efektif. Tjia et
pertemuan antara pemberi pelayanan pasien al menemukan bahwa perawat yang
hanya ditemui 22 kejadian dimana dokter melakukan persiapan sebelum menelpon
dan perawat saling berbincang (Basuki, dengan dokter akan dapat mewujudkan
2008). Menurut Dixon, berdasarkan dari komunikasi efektif antara perawat dan dokter
pandangan dokter menyatakan bahwa mereka (Klarare, 2013).
merasa bingung dengan gaya komunikasi Salah satu strategi untuk meningkatkan
perawat. Perbedaan pandangan dan kurang kemampuan kolaborasi antar tenaga
terampilnya perawat dalam berkomunikasi kesehatan adalah dengan menerapkan
Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282 | 275

komunikasi interprofesi yang efektif. literature sebagai kunci pendukung dari


Komunikasi interprofesi yang efektif dalam keselamatan pasien. Proses komunikasi S-
lingkungan perawatan kesehatan BAR terbukti telah menjadi alat komunikasi
membutuhkan pengetahuan, keterampilan yang efektif dalam pengaturan perawatan
dan empati. Hal tersebut mencakup akut untuk tingkatan komunikasi yang urgen,
mengetahui kapan harus berbicara, apa yang terutama antara dokter dan perawat, namun
harus dikatakan dan bagaimana masih sedikit yang diketahui dari efektifitas
mengatakannya serta memiliki kepercayaan dalam pengaturan tentang hal yang lain.
diri dan kemampuan untuk memeriksa Penelitian ini menunjukkan bahwa
bahwa pesan telah diterima dengan benar. penggunaan alat komunikasi S-BAR yang
Pelatihan komunikasi bagi perawat dengan disesuaikan kondisinya dapat membantu
metode pendekatan kasus dan latihan praktek dalam komunikasi, baik individu dengan tim
akan dapat meningkatkan komunikasi yang yang akhirnya dapat mempengaruhi
efektif dan akan dapat meningkatkan perubahan dalam meningkatkan budaya
keselamatan pasien (Stukenberg, 2010). keselamatan pasien dari tim, sehingga ada
Kegiatan membiasakan diri untuk dapat dampak positif dan terlihat ada perbaikan
berkomunikasi yang baik dan sistematis pada pelaporan insiden keselamatan (Velji,
melalui pelaporan merupakan salah satu cara 2010)
untuk dapat meningkatkan rasa percaya diri Berdasarkan hal tersebut perlu diteliti
dan mengurangi jarak keilmuan antara lebih lanjut mengenai cara meningkatkan
perawat dan dokter. Dalam diskusi perawat komunikasi interprofesional antara perawat
dapat menjelaskan hal-hal terkait kondisi dan dokter melalui pendekatan dengan sistem
pasien dan dokter dapat memberikan komunikasi SBAR. Diharapkan dengan
masukan serta klarifikasi terkait perawatan komunikasi SBAR dapat meningkatkan
yang telah dan akan ditetapkan. Salah satu kemampuan komunikasi perawat kepada
pendekatan yang dapat digunakan untuk dokter dalam praktek kolaborasi perawat
memandu perawat agar dapat menyampaikan dokter sehingga mutu pelayanan kepada
informasi secara jelas dan terperinci terkait pasien dapat meningkat. menangani masalah
kondisi pasien adalah dengan metode dan dengan jelas menyatakan tujuan dari
komunikasi Situasion, Background, studi Anda.
Assessment, Recommendation (SBAR)
(Velji, 2010). Renz et al mengungkapkan LANDASAN TEORI
bahwa model teknik komunikasi SBAR A. Komunikasi Interpersonal Perawat
membantu perawat untuk mengorganisasi Dokter
cara berfikir, mengorganisasi informasi, dan Komunikasi antara perawat dan dokter
merasa lebih percaya diri saat berkomunikasi merupakan komunikasi antar pribadi
dengan dokter (Andreoli, 2010). (Interpersonal Communication). Komunikasi
Pelatihan komunikasi SBAR dapat antar pribadi (Interpersonal Communication)
meningkatkan pengetahuan, sikap dan adalah komunikasi antara dua orang atau
tindakan dari perawat. Penelitian yang lebih secara tatap muka, yang
dilakukan oleh Fitria Menyebutkan bahwa memungkinkan adanya reaksi orang lain
dengan pelatihan komunikasi SBAR dapat secara langsung, baik secara verbal maupun
meningkatkan motivasi dan psikomotor pada non verbal.16
perawat. Dengan pelatihan komunikasi Feiger dan Smith mengembangkan model
SBAR juga dapat meningkatkan komunikasi mengukur komunikasi perawat – dokter
perawat dalam melakukan pelaporan klinis untuk menentukan tingkat kontrol kekuasaan
melalui telepon (Fitria, 2013). dalam praktek kolaborasi perawat dan dokter.
Penelitian Velji tentang Efektifitas Alat Kontrol kekuasaan akan dapat terjadi bila
Komunikasi S-BAR dalam Pengaturan perawat mengerti bahwa mereka harus
Perawatan di Ruang Rehabilitas mengatakan berinteraksi dengan dokter yang terdistribusi
bahwa komunikasi yang efektif dan kerja dalam kategori, yaitu : membagi informasi
sama tim telah diidentifikasikan dalam tentang kondisi pasien, membagi ide untuk
tindak lanjut perawatan pasien, berani
276 | Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282
memberikan pendapat dan usulan kepada profesi kesehatan yang lain mengenai proses
dokter, memberi dukungan / persetujuan, pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional),
dapat menyatakan ketidaksetujuan / tidak negosiasi : kemampuan untuk mencapai
sependapat dengan dokter,dapat melakukan persetujuan bersama antar profesi kesehatan
humor (Basuki, 2008). mengenai masalah kesehatan pasien,
Rahaminta menyatakan juga bahwa kolaborasi : kemampuan bekerja sama
sebagai tim kolaborasi, sangat penting bagi dengan petugas kesehatan dari profesi yang
perawat dan dokter untuk dapat bertukar lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan
informasi dengan jelas dan komprehensif pasien (Basuki, 2008).
melalui pelaksanaan komunikasi. B. Komunikasi SBAR
Pelaksanaan bertukar informasi ini dijelaskan Komunikasi SBAR adalah suatu teknik
oleh ketiga partisipan diwujudkan dengan yang menyediakan kerangka kerja untuk
saling share, konsultasi, konfirmasi, memberi komunikasi antara anggota tim kesehatan
masukan, bertanya jawab serta tentang kondisi pasien. SBAR adalah
menyampaikan informasi baik secara mekanisme komunikasi yang kuat, mudah
langsung maupun melalui telepon. Hal diingat berguna untuk membingkai setiap
tersebut sesuai dengan tujuan komunikasi percakapan, terutama yang kritis, yang
antara perawat dan dokter yang tidak selalu membutuhkan perhatian segera terhadap
untuk tujuan pengambilan keputusan klinis dan tindakan.
bersama, melainkan sangat mungkin Hal ini memungkinkan cara yang mudah
bertujuan untuk konfirmasi, penegasan atau dan terfokus untuk menetapkan harapan
pemberi dukungan seperti yang telah tentang apa yang akan dikomunikasikan dan
dijelaskan oleh ketiga partisipan. bagaimana komunikasi antara anggota tim,
Pelaksanaan komunikasi secara efektif dan yang sangat penting untuk mengembangkan
efisien sangat penting karena menjamin kerja tim dan meningkatkan budaya
terlaksananya pemberian perawatan keselamatan pasien (Muay, 2012).
kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi Menggunakan SBAR, laporan pasien
(HPHA, 2011). menjadi lebih akurat dan efisien. Teknik
Berikut ini adalah karakter dalam komunikasi SBAR ini sederhana namun
komunikasi interprofesi kesehatan menurut sangat efektif dan dapat digunakan ketika
Claramita dalam buku acuan CHFC-IPE seorang perawat memanggil dokter (laporan
adalah mampu menghormati (Respect) tugas, pasien) , perawat melakukan serah terima
peran dan tanggung jawab profesi pasien serta perawat mentransfer pasien ke
kesehatanlain, yang dilandasi fasilitas kesehatan lain atau ke tingkat
kesadaran/sikap masing-masing pihak bahwa perawatan yang lain. SBAR menawarkan
setiap profesi kesehatan dibutuhkan untuk solusi kepada rumah sakit dan fasilitas
saling bekerjasama demi keselamatan pasien perawatan untuk menjembatani kesenjangan
(Patient-safety) dan keselamatan petugas dalam komunikasi, termasuk serah terima
kesehatan (Provider-safety), membina pasien, transfer pasien, percakapan kritis dan
hubungan komunikasi dengan prinsip panggilan telepon. Komunikasi yang efektif
kesetaraan antar profesi kesehatan, mampu antara penyedia layanan kesehatan sangat
untuk menjalin komunikasi dua arah yang penting untuk keselamatan pasien.
efektif antar petugas kesehatan yang berbeda Kebanyakan perawat kurang pengalaman
profesi, berinisiatif membahas kepentingan dalam berkomunikasi dengan dokter dan
pasien bersama profesi keseh`atan lain, penyedia layanan kesehatan lainnya (Diniyah,
pembahasan mengenai masalah pasien 2017)
dengan tujuan keselamatan pasien bisa Teknik komunikasi SBAR merupakan
dilakukan antar individu ataupun antar teknik komunikasi yang memberikan urutan
kelompok profesi kesehatan yang berbeda, logis, terorganisir dan meningkatkan proses
mampu menjaga etika saat menjalin komunikasi untuk memastikan keselamatan
hubungan kerja dengan profesi kesehatan pasien. SBAR adalah teknik komunikasi dan
yang lain, mampu membicarakan dengan singkatan : S : Situation , Situasi: Sebutkan
Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282 | 277

nama anda dan nama departemen, Sebutkan jumlah total sampel pada kelompok kontrol
nama pasien, umur, diagnose medis, dan dan kelompok intervensi pada penelitian 36.
tanggal masuk , Jelaskan secara singkat Penelitian dilakukan di ruang rawat inap
masalah kesehatan pasien atau keluhan utama, RS PKU Muhammadiyah Mayong sebagai
termasuk pain score, B : Background , Latar kelompok intervensi dan RS Aisyiyah Kudus
Belakang, Sebutkan riwayat alergi, obat- sebagai kelompok kontrol pada bulan Maret -
obatan dan cairan infuse yang digunakan April 2018
Jelaskan pemeriksaan yang mendukung dan Dalam pengumpulan data penelitian ini
hasil laboratorium Jelaskan informasi klinik menggunakan checklist lembar observasi
yang mendukung Tanda vital pasien, A : untuk menilai kemampuan perawat dalam
Assessment, Penilaian, Jelaskan secara berkomunikasi dengan dokter dan
lengkap hasil pengkajian pasien terkini kemampuan perawat dalam berkomunikasi
seperti status mental, status emosional, SBAR.
kondisi kulit dan saturasi oksigen, dll , Checklist untuk kemampuan perawat
Nyatakan kemungkinan masalah, seperti dalam berkomunikasi dengan dokter disusun
gangguan pernafasan, gangguan neurologi , berdasarkan komponen karakter komunikasi
gangguan perfusi dan lain-lain. R: interprofessional menurut Claramita 2012
Recommendation, Rekomendasi : dalam buku acuan umum CFCH-IPE.FK
mengusulkan dokter untuk melihat pasien, UGM dan dimodifikasi dengan kuesioner
pastikan jam kedatangan dokter, Tanyakan dari ICU Nurse-Physician Questionnaire
pada dokter langkah selanjutnya yang akan yang meliputi aspek respek, keterbukaan,
dilakukan (Schadewaldt dkk, 2016). kejelasan, inisiatif, dan diskusi.31,42
Pernyataan memiliki 2 jawaban dengan skala
METODE PENELITIAN guttman yaitu Ya nilai 1 dan Tidak nilai 0.
Penelitian ini merupakan quasi Skor terendah kemampuan perawat dalam
experimental dengan rancangan yang berkomunikasi dengan dokter adalah 0 dan
digunakan adalah pretest-posttest with skor tertinggi 13 dengan pembagian rentang
control group design untuk menganalisis hasil ukur > mean dikategorikan baik, <
peningkatan kemampuan perawat dalam mean dikategorikan tidak baik.42
berkomunikasi dengan dokter setelah Checklist untuk kemampuan komunikasi
diberikan intervensi penerapan komunikasi SBAR merupakan lembar observasi tentang
SBAR secara rutin. kemampuan perawat pada saat pelaksanaan
Populasi pada penelitian ini adalah komunikasi SBAR. Lembar observasi berupa
seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat checklist yang berisi daftar pernyataan
inap di RS PKU Muhammadiyah Mayong 60 tentang perilaku perawat pada saat
orang dan RS Aisyiyah Kudus berjumlah 66 pelaksanaan komunikasi SBAR yang disusun
orang. Tehnik sampling dalam penelitian ini berdasarkan tool komunikasi SBAR dengan
adalah purposive sampling. Pemilihan pilihan jawaban ya dan tidak dengan butir
kelompok intervensi dan kelompok kontrol pernyataan 14 pernyataan yang terdiri dari
dilakukan secara acak yaitu RS PKU situation, background, assessment, dan
Muhammadiyah Mayong sebagai kelompok recommendation. Pernyataan memiliki 2
intervensi dan RS Aisyiyah Kudus sebagai jawaban yaitu Ya nilai 1 dan Tidak nilai 0.
kelompok kontrol. Skor Terendah adalah 0 dan skor tertinggi
Kriteria inklusi : Pendidikan perawat adalah 14.
minimal D3 Keperawatan , Tenaga Uji validitas dalam penelitian ini
keperawatan yang tidak sedang cuti dan sakit, menggunakan uji validitas content dengan
Lama kerja minimal 1 tahun. Kriteria meminta pendapat ahli dan reabilitas dengan
eksklusi : Menolak menjadi subyek mengunakan uji kappa untuk menilai
penelitian. konsistensi lembar observasi dalam
Perhitungan sampel pada penelitian penelitian ini. Hasil uji kappa yaitu 0,755 dan
menggunakan uji hipotesa beda 2 mean 0,806 sedangkan p-value 0,005 dan 0,003
kelompok independen didapatkan sampel 18 dengan hasil ini berarti koefisien kappa > 0,6
untuk masing-masing kelompok sehingga
278 | Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282
dan p-value < 0,05. Hal ini dapat dengan dokter. Analisis bivariat
disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan dilakukan untuk membuktikan hipotesa
persepsi mengenai kemampuan perawat penelitian yaitu penerapan komunikasi
dalam berkomunikasi dengan dokter yang SBAR di lingkungan kerja Rumah RS
diamati oleh observer yang lain maupun PKU Muhammadiyah Mayong terhadap
peneliti. kemampuan berkomunikasi perawat
Penelitian ini dilakukan selama 5 minggu dengan dokter. Nilai confidence interval
yang terbagi menjadi pretest, intervensi, yang ditetapkan adalah 95% dengan
pendampingan dan posttest, dapat dijabarkan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05).
menjadi beberapa langkah sebagai berikut : Uji statistik pada normalitas data pada
a. Pengukuran awal terhadap kemampuan kemampuan perawat dalam
berkomunikasi perawat dengan dokter dan berkomunikasi dengan dokter dan
kemampuan komunikasi SBAR perawat kemampuan perawat dalam pelaksanaan
sebelum dilakukan intervensi pelatihan komunikasi SBAR dengan menggunakan
komunikasi SBAR pada kelompok kontrol saphiro wilk dikarenakan sampel pada
dan kelompok intervensi. Pengamatan penelitian ini sejumlah 36 yaitu kurang
pelaksanaan komunikasi SBAR pada dari 50 dan data terdistribusi normal.
kelompok intervensi dan kelompok Perbedaan kemampuan perawat dalam
kontrol masing-masing dilakukan 1 kali berkomunikasi dengan dokter dan
observasi. Pengukuran awal dilakukan kemampuan perawat dalam melakukan
pada tanggal 7 Maret 2018. komunikasi SBAR sebelum dan sesudah
diberikan intervensi pada penelitian ini
b. Intervensi. Kelompok intervensi diberikan
dengan menggunakan paired sample t-test.
pelatihan SBAR oleh expert dan peneliti.
Pada variabel kemampuan perawat
Pelaksanaan intervensi pemberian materi
dalam berkomunikasi dengan dokter dan
tentang komunikasi SBAR dilakukan
kemampuan perawat dalam pelaksanaan
pada tanggal 9 – 10 Maret 2018. Metode
komunikasi SBAR pada pengukuran
yang digunakan adalah ceramah tanya
sebelum dan sesudah pada kelompok
jawab (CTJ), diskusi dan role play.
intervensi dan kelompok kontrol
Pendampingan terhadap kemampuan
menggunakan independent sample t-test.
komunikasi SBAR dilakukan oleh peneliti
kepada peserta penelitian pada tanggal 12 HASIL DAN PEMBAHASAN
– 17 Maret. Peserta penelitian pada
kelompok intervensi dibiarkan tanpa Hasil penelitian didapatkan data
pendampingan 19 – 24 Maret. Kelompok karakteristik peserta penelitian yaitu usia,
Kontrol tanpa dilakukan intervensi jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa
komunikasi SBAR sejak tanggal 8 – 24 kerja. Jumlah sampel dalam penelitian
Maret 2018. sebanyak 36 perawat yang terdiri dari 18
c. Pengukuran akhir terhadap kemampuan perawat sebagai kelompok intervensi dan 18
berkomunikasi perawat dengan dokter dan perawat sebagai kelompok kontrol. Data
kemampuan komunikasi SBAR yang karakteristik peserta penelitian dapat
dilakukan pada kelompok kontrol dan dijelaskan sebagai berikut.
kelompok intervensi oleh peneliti dan Tabel. 1 Perbandingan karakteristik peserta penelitian
observer pada tanggal 23 – 6 April 2018. antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Rerata ± SD Total P value
Penelitian ini menggunakan analisa No Variabel Intervensi Kontrol (n =
data univariat dan bivariat. Analisis 36)
1 Usia
univariat bertujuan untuk menjelaskan Mean 26,50±3.5 26,6±3,4 - 0,157
atau mendiskripsikan karakteristik Min – Max 23-35 24-36 -
2 Masa
perawat (usia, jenis kelamin, pendidikan kerja 3,1±2.55 3,5±2.711,0- - 0,611
dan masa kerja), kemampuan pelaksanaan Mean 1,1-12,0 10,0 -
Min – Max
komunikasi SBAR perawat, dan 3 Jenis
kemampuan berkomunikasi perawat Kelamin 2 3 5 0,201
Laki-Laki 16 15 31
Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282 | 279

Perempuan dari 6,44 menjadi 10,27 setelah diberikan


intervensi pelatihan SBAR. Hal ini diperkuat
4 Pendidikan juga dengan selisih rerata (mean difference)
D III 11 11 22 0,8
S1 1 4 5 80 perubahan skor kemampuan perawat dalam
Ners 6 3 9 berkomunikasi dengan dokter pada kelompok
Pada tabel 1, menunjukkan bahwa intervensi (selisih rerata = 3,83) lebih besar
karakteristik usia, jenis kelamin, tingkat dibandingkan dengan kelompok kontrol
pendidikan, dan masa kerja pada kelompok (selisih rerata = 0,11). Hal ini membuktikan
intervensi dan kelompok kontrol tidak bahwa intervensi pelatihan komunikasi
terdapat perbedaan yang bermakna. Hal ini SBAR memberikan perbedaan yang
ditunjukkan dengan hasil uji statistik dengan bermakna terhadap kemampuan
nilai p value > 0,05. berkomunikasi perawat dengan dokter antara
a. Perbandingan kemampuan perawat kelompok intervensi dibandingkan dengan
dalam berkomunikasi dengan dokter kelompok kontrol.
Komunikasi merupakan hal yang sangat
Uji beda kemampuan perawat dalam penting dalam menciptakan kerjasama antar
berkomunikasi dengan dokter sebelum dan tim guna tercapainya pelayanan kesehatan
sesudah diberikan pelatihan komunikasi yang optimal, selain itu komunikasi juga
SBAR antara kelompok intervensi dan dapat membangun suasana dan hubungan
kelompok kontrol kerja yang positif.16 Penerapan komunikasi
antar petugas kesehatan dengan
Tabel.2 Kemampuan perawat dalam berkomunikasi menggunakan panduan komunikasi SBAR
dengan dokter sebelum dan sesudah diberikan merupakan salah satu strategi yang dapat
pelatihan komunikasi SBAR
digunakan untuk meningkatkan komunikasi
Kemampuan Rerata ± SD P value (*)
perawat dalam Intervensi Kontrol
perawat supaya dapat berkomunikasi dengan
berkomunikasi (n=18) (n=18) mudah dan terfokus pada kondisi pasien pada
dengan dokter
Sebelum 6,44 ± 0,51 6,39 ± 0,50 0,744
saat melaporkan kepada rekan kerja atau tim
pelatihan kesehatan yang lain.20
Sesudah 10,28 ± 0,67 6,50 ± 0,43 0,000* Hal ini sesuai dengan penelitian yang
pelatihan
P value (**) 0,000** 0,430 menyatakan bahwa komunikasi SBAR
*independent t-test, **paired t-test merupakan salah satu contoh komunikasi
Hasil penelitian pada tabel 2, kolaborasi perawat dan dokter dimana
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perawat dan dokter mempunyai peranan yang
yang bermakna kemampuan perawat dalam sama, penggunaan kerangka komunikasi
berkomunikasi dengan dokter setelah SBAR yang baku dalam komunikasi serah
diberikan pelatihan komunikasi SBAR pada terima pasien dapat meningkatkan
kelompok intervensi dibandingkan dengan kemampuan perawat dalam berkomunikasi
kelompok kontrol. Hal ini ditunjukkan oleh (Stukenberg, 2010). Sementara penelitian
hasil uji statistik dengan nilai p value 0,000. Nazri menyebutkan bahwa peranan dokter
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam menerima informasi dan kesediaan
pada pengukuran awal dan akhir kemampuan dalam menanggapi komunikasi perawat
perawat dalam berkomunikasi dengan dokter merupakan faktor yang penting dan dapat
pada kelompok kontrol. Hal ini ditunjukkan menjadi hambatan dari aplikasi komunikasi
dengan nilai p value > 0,05. SBAR apabila tidak tercapai dengan baik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (Supingatno, 2015).
terdapat perbedaan yang bermakna Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
kemampuan berkomunikasi perawat dengan oleh Iyer menyatakan bahwa SBAR adalah
dokter pada kelompok intervensi antara model yang lebih baik karena dapat
sebelum dan sesudah diberikan pelatihan diterapkan untuk setiap situasi, serta pada
komunikasi SBAR yang ditunjukkan dengan saat handover. SBAR memfasilitasi
p value < 0,05. Hasil pengukuran nilai rerata terbangunnya pola komunikasi dalam sistem,
kelompok intervensi mengalami peningkatan dan melalui rekomendasi atau melalui
280 | Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282
tindakan akhir akan membangun mempunyai nilai peningkatan paling tinggi
terbentuknya kerjasama dalam kelompok yaitu dari 1,22 menjadi 3,22 atau sebesar
(Kesrianti,2015). Kasten juga menyebutkan 2,00. Aspek diskusi dalam berkomunikasi
bahwa pelatihan SBAR dengan metode role dengan dokter menggambarkan kemampuan
play pada mahasiswa keperawatan perawat dalam memberikan masukan kepada
mempunyai manfaat dan mengubah dokter berupa saran, ide, maupun koreksi
pengetahuan dan kemampuan skill apabila ada informasi yang kurang tepat
berkomunikasi menjadi lebih baik (Davey, tentang perawatan pasien. Hal ini sesuai
2015). dengan fungsi dari komunikasi SBAR yaitu
merupakan alat atau kerangka komunikasi
b. Perbandingan hasil observasi aspek yang dapat digunakan untuk membantu
kemampuan perawat dalam perawat dalam memberikan masukan atau
berkomunikasi dengan dokter. informasi terkait kondisi pasien kepada
Melihat perbandingan aspek kemampuan dokter serta memungkinkan terjadinya tanya
perawat dalam berkomunikasi dengan dokter jawab diantara perawat dengan
setelah diberikan intervensi komunikasi dokter.2,49,50
SBAR. Aspek lain yang ikut mengalami
Tabel.3 Perbandingan distribusi hasil observasi aspek peningkatan cukup tinggi adalah kejelasan
kemampuan perawat dalam berkomunikasi dengan yaitu dengan nilai 1,56 menjadi 2,28 atau
dokter (n = 36) mempunyai selisih sebesar 0,72. Aspek
No. Aspek Rerata ± SD P kejelasan menggambarkan bahwa
kemampuan Intervensi Kontrol value
komunikasi (n=18) (n=18) (*)
komunikasi yang disampaikan oleh perawat
perawat dapat dengan mudah dimengerti dan
dengan
dokter
disampaikan secara jelas dan sistematis. Hal
1 Respek Sebelum 1.44±0.6 1.50±0,5 0.771 tersebut sejalan hasil penelitian Fitria yang
Sesudah 1.94±0.2 1.50±0,5 0.002*
P value 0.003**
menyatakan bahwa penggunaan metode
2 Keterbukaan Sebelum 1.78±0,4 1.50±0,5 0.087 komunikasi SBAR dapat meningkatkan
Sesudah 2.00±0,0 1.56±0,5 0.001* kemampuan perawat dalam berkomunikasi
P value 0.042** 0.331
3 Kejelasan Sebelum 1.56±0.5 1.50±1,0 0.753 secara jelas dan sistematis (Fitria, 2013). Di
Sesudah 2.28±0.8 1.50±1,0 0.000* dalam penelitian yang dilakukan oleh Maria,
P value 0.000**
4 Inisiatif Sebelum 1.72±0.4 1,44±0,8 0.747 et all menekankan juga bahwa aspek
Sesudah 1.94±0.0 1,50±0,7 0.002* kejelasan dalam penyampaian informasi
P value 0.000**
5 Diskusi Sebelum 1.22±1.17 1.11 0.206 kepada dokter mempunyai perubahan yang
Sesudah 3.22±0.94 ±1,1 0.016* tinggi setelah dilakukan pelatihan
P value 0.042** 1.22±1,2
0.331 komunikasi dengan kerangka komunikasi
*independent t-test, **paired sample t-test SBAR (Davey, 2015). Wayan juga
menyatakan bahwa komunikasi SBAR
Hasil penelitian pada tabel 3, mempunyai manfaat yang dapat
menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil memperbaiki penyampaian informasi dari
observasi berbagai aspek kemampuan perawat kepada dokter dan memberikan
perawat dalam berkomunikasi dengan dokter kejelasan informasi sehingga akan
sebelum dan sesudah diberikan intervensi menurunkan kejadian medical eror dalam
komunikasi SBAR pada kelompok intervensi perawatan pasien (Basuki, 2008).
mengalami peningkatan daripada kelompok Sementara itu aspek yang mempunyai
kontrol dengan nilai p value <0,05. Nilai nilai peningkatan paling kecil adalah aspek
peningkatan paling tinggi terdapat pada keterbukaan dengan nilai 1,78 menjadi 2,00
pernyataan pada aspek diskusi sementara atau mempunyai selisih sebesar 0,22. Aspek
nilai peningkatan paling rendah pada aspek keterbukaan dalam berkomunikasi dengan
keterbukaan. dokter menunjukkan bagaimana sikap
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perawat dalam berkomunikasi dengan dokter
data bahwa aspek diskusi pada kemampuan yaitu berupa sikap terbuka dan rileks serta
perawat dalam berkomunikasi dengan dokter dapat menyertakan humor dalam komunikasi.
Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282 | 281

Dari hasil wawancara dengan beberapa Basuki E. Komunikasi antar Petugas Kesehatan
peserta penelitian didapatkan pernyataan Communication between Health
bahwa mereka masih merasa agak kurang Professionals. Tinj Pustaka Maj Kedokt
percaya diri dan canggung apabila harus Indon. 2008;58(9).
menyertakan humor pada saat berkomunikasi Davey N, Cole A. Safe Communication Design ,
implement and measure : A guide to
dengan dokter dikarenakan faktor kedekatan
improving transfers of care and handover
hubungan interpersonal maupun pengalaman Contents : 2015;(August).
bertatap muka. Hal tersebut sesuai dengan Diniyah K. Pengaruh Pelatihan SBAR Role-Play
hasil penelitian Fajar yang menyatakan terhadap Skill Komunikasi Handover
bahwa dalam melakukan komunikasi SBAR Mahasiswa Kebidanan. 2017;6(1):35–44.
dengan dokter terdapat faktor yang menjadi Fitria, C. N. Efektifitas Pelatihan Komunikasi
hambatan diantaranya pengalaman perawat SBAR dalam Meningkatkan Motivasi dan
dan perasaan keengganan untuk mengganggu Psikomotor Perawat di Ruang Medikal
maupun membuat dokter tersinggung Bedah RS PKU Muhammadiyah
(Klarare, 2013). Renz juga menyatakan Surakarta. PSIK Fak Kedokt Univ
bahwa diperlukan kedekatan hubungan Diponegoro. 2013;135
Huron Perth Healthcare Alliance. HPHA
interpersonal dalam berkomunikasi sehingga
Interprofessional Practice Model.
dapat terjalin komunikasi yang lancar dan 2011;(January 2011).
efektif (Thislethwaite, 2012). Kesrianti AM, Bahry N, Maidin A. Faktor-Faktor
KESIMPULAN yang Mempengaruhi Komunikasi pada
Saat Handover di Ruang Rawat Inap
Berdasarkan hasil penelitian, konsep serta Rumah Sakit Universitas Hasanuddin.
penelitian terkait dapat disimpulkan bahwa 2015;13.
terdapat perbedaan yang signifikan antara Klarare A. INFLUENCE OF
kemampuan pelaksanaan SBAR perawat dan COMMUNICATION BETWEEN
kemampuan berkomunikasi perawat dengan NURSES AND PHYSICIANS ON
dokter setelah diberikan pelatihan PATIENT OUTCOME IN HOSPITAL
komunikasi SBAR. Terdapat peningkatan SETTINGS : A LITERATURE REVIEW
kemampuan perawat dalam berkomunikasi Ali Hakami and Othman Hamdi Advisor :
dengan dokter sesudah diberikan pelatihan 2013;
SBAR pada kelompok intervensi dengan p
Muay LG, Annellee C, Pong HW, Rico CL, Kit
value 0,000. Kemampuan perawat dalam
CP, Lielane RA, et al. Improving Clinical
berkomunikasi dengan dokter pada kelompok Handover Through Effective
intervensi lebih baik daripada kelompok Communication for Patient ’ s Safety.
kontrol setelah diberikan pelatihan SBAR 2012;85.
dengan p value 0,000
Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi Rofi’i M, Ui FIK. Universitas Indonesia Analisis
penelitian selanjutnya dalam Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
mengembangkan pelatihan komunikasi Perawat Di Rumah Sakit Islam Sultan
SBAR yang dapat meningkatkan kemampuan Agung Semarang Oleh : Muhamad Rofi ’
komunikasi perawat sehingga dapat I Kepemimpinan & Manajemen
berkolaborasi dengan dokter. Hasil penelitian Keperawatan Depok. 2011;
Supinganto, Agus, Misroh M, Suharmanto.
ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk
Identifikasi Komunikasi Efektif SBAR
penelitian selanjutnya. Diharapkan peneliti (Situation, Background, Assesment,
dapat melibatkan dokter secara langsung di Recommendation). Stikes Yars mataram.
dalam penelitian selanjutnya. 2015;

Schadewaldt V, McInnes E, Hiller JE, Gardner A.


DAFTAR PUSTAKA Experiences of nurse practitioners and
Andreoli A. Using SBAR for effective medical practitioners working in
communication in interprofessional collaborative practice models in primary
rehabilitation teams Link between healthcare in Australia – a multiple case
communication and patient safety. study using mixed methods. BMC Fam
Practice. 2010;
282 | Sri Siska M., Tri Nur K., Madya Sulisno/ Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.10 No.2 (2019) 273-282
Pract [Internet]. 2016;17(1):99. Available Interprofessional Collaborative Practice:
from: Working Together in Health Care. 2012.
http://bmcfampract.biomedcentral.com/art 1-176 p. Available from:
icles/10.1186/s12875-016-0503-2 https://www.scopus.com/inward/record.ur
i?eid=2-s2.0-
Stukenberg C, Hospital FHNM. A Guide for 84924499683&doi=10.1017%2FCBO978
Physicians, Nurses and Clinical 1139108904&partnerID=40&md5=550ea
Documentation Specialists-Productivity 8bb8d1b6eb35f363d4808c7305
Press, CRC Press. 2010; Velji K, Ross G. An Implementation Toolkit 2 nd
Edition SBAR: A Shared Structure for
Thistlethwaite JE. Values-based interprofessional Effective Team Communication
collaborative practice: Working together Acknowledgements, 2010
in health care [Internet]. Values-Based