Anda di halaman 1dari 2

TUGAS KB 4 PENGUATAN INTEGRITAS (Deklarasi Komitmen Diri)

NAMA : ADELINA BIASI GINTING

KELAS : MATEMATIKA 2

NO. UKG : 201698288685

Tuliskan jawaban anda yang menggambarkan solusi dari kasus berikut:

1. Seringkali kita sering menghukum anak karena tidak berintegritas, padahal pada saat yang
sama kita sering menunjukan bahwa kita sendiri belum berintegritas. Misalnya anak akan
dihukum karena terlambat datang ke sekolah di saat yang sama ada guru yang terlambat
tetapi tidak mendapatkan hukuman apapun. Ketidakkonsistenan ketika ada orang dewasa
yang melanggar aturan kita anggap itu hal yang biasa. Padahal itu adalah cara ampuh
mengajari mereka untuk tidak konsisten. Pertanyaan:
a. Tentukan pendekatan yang paling relevan didukung oleh fakta-fakta di lapangan
untuk menunjukkan konsistensi berperilaku pada diri anda sendiri!
b. Upaya apa yang dilakukan untuk meluaskan konsistensi perilaku berintegritas
kepada lingkup yang lebih luas. Seberapa tingkat keyakinan anda terhadap ke-
berhasilannya.
2. Selama ini kita hanya mengandalkan hukuman dan hadiah agar anak berperilaku baik
atau berintegritas padahal cara yang seperti itu justru akan mendorong anak untuk
berkamuflase dan berperilaku baik untuk menghindar dari hukuman dan mendapatkan
reward. Artinya kemurnian dan keihklasan dirinya untuk berperilaku baik berkurang,
seharusnya kesadaran bahwa berbuat baik itu akan menguntungkan dirinya maupun orang
lain. Buat narasi pendek tentang hukuman di sekolah menurut pendapat anda dan
bagaimana efeknya secara jangka panjang?

Jawaban :
1.
A. Pendekatan yang paling relevan saya lakukan untuk menunjukkan konsistensi berperilaku
pada diri saya sendiri adalah pendektan spiritual. Ketika keimanan dan ketaqwaan saya
terjaga maka saya akan selalu bersyukur dengan apa yang sudah saya dapat dan saya
jalani. Bentuk syukur itu sendiri salah satunya dengan menjalankan amanah sebagai
seorang guru yang berintegritas, yang menjalankan semua hak dan kewajiban secara ikhlas
tanpa pamrih. Keyakinan saya kepada Allah SWT juga akan membuat saya selalu berfikir
positif dimana jika kita menanam kebaikan maka kebaikan pula yang kelak akan kita tuai.
Seandainya pun nanti saya melakukan kesalahan misalnya saya datang terlambat dan tidak
mendapat hukuman, maka jauh di lubuk hati saya akan merasa bersalah, saya akan
meminta maaf dan akan menerapkan kebiasaan datang lebih awal ke sekolah. Di samping
itu juga saya akan berkomunikasi dan mendekatkan diri dengan
teman guru yang menurut saya memiliki perilaku berintegritas sehingga kita bias saling
mengingatkan dalam hal kebaikan.

B. Upaya yang dilakukan untuk meluaskan konsistensi integritas adalah dengan


mendeklarasikannya terlebih dahulu dengan membuat komitmen - komitmen kemudian
membiasakannya. Kebiasaan – kebiasaan baik tersebut terus dilakukan tidak hanya di
lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga dengan
sendirinya kebiasaan – kebiasaan baik itu akan meluas. Seperti halnya permisalan teman
yang baik ibarat seorang penjual minyak wangi. Penjual minyak wangi mungkin akan
memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan
kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Saya yakin dengan upaya
tersebut 85% konsistensi integritas akan meluas

2. Narasi tentang hukuman di sekolah


Seiring perkembangan zaman, tingkat kenakalan remaja juga turut mengikuti
perkembangan zaman. Pro dan kontra berkaitan dengan pemberian hukuman di sekolah juga
masih ramai diperbincangkan bahkan jadi perdebatan. Menurut saya, hukuman disiplin bagi siswa
yang melanggar dapat memberikan edukasi, menguatkan mental dan disiplin. Seperti yang kita
tahu di lingkungan keluarga,orang tua juga akan memberikan hukuman kepada anaknya yang
melakukan kenakalan. Bahkan di lingkungan institusi pemerintah maupun swasta pemberian
punishment masih wajar dilakukan. Akan tetapi sebagai guru kita harus dapat membedakan mana
kenakalan yg negatif dan mana kenakalan yang biasa sehingga untuk pemberian hukuman bisa
disesuaikan dengan bentuk kenakalan. Sebagai contoh seorang guru mendapati salah satu siwa
menangis karena dicubit oleh siswa lainnya, kemudian guru memberikan hukuman dengan
memukul tangan siswa sampai memerah. Hukuman semacam itu tidak relevan, bahkan akan
menumbuhkan rasa benci, ketakutan, dan dendam di hati siswa. Sebagai guru kita juga harus
menghindari hukuman yang bersifat fisik. Salah satu contoh hukuman yang tidak bersifat fisik
adalah pemberian point pada buku pelanggaran dan pemanggilan orang tua apabila point telah
melampaui batas nilai tertentu. Lain halnya dengan kenakalan yang negatif seperti narkobah,
asusila, atau tindak kekerasan, hukuman yang relevan mungkin dengan melaporkan kepada pihak
yang berwajib setelah melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru BK. Diharapkan
adanya hukuman yang bersifat tegas dan konsisten dari sekolah bisa memberikan kesadaran pada
diri siswa dan efek jera. Sehingga kedepannya melalui bimbingan orang tua dan guru, siswa dapat
menjadi pribadi yang lebih baik lagi.