Anda di halaman 1dari 2

Tugas 3 HUBUNGAN INDUSTRIAL

Nama : Daniel Bivadanno


NIM : 030510523

Tugas III

Jelaskan dengan detail perihal penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada


perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa
pekerja/buruh yang lebih dikenal dengan istilah outsourcing dengan analisis dan
pemikiran Anda sendiri, setujukah Anda dengan praktek ini?

Jawaban minimal 500 kata dan maksimal 2000 kata. Tugas dikumpulkan ditempat yang
tersedia. Dalam menjawab Anda dapat memulai dari definisi pengertian kemudian
analisis Anda sendiri atau menggunakan format lain sesuai standar penulisan ilmiah.

Jawaban:

Outsourcing adalah pengalihan daya (melalui kontrak) pelaksanaan suatu proses


bisnis internal– sebagai perusahaan pengguna outsourcing– ke organisasi pihak ketiga,
sebagai perusahaan penyedia jasa outsourcing. Ini sudah menjadi praktik bisnis yang
umum dalam ekonomi modern.
Dari sisi pekerja, outsourcing dipandang sebagai ancaman karena melemahkan
posisi tawar mereka. Perusahaan penyedia jasa outsourcing mempekerjakan karyawan
dengan sistem kontrak sehingga tidak memberikan jaminan kepastian kerja yang
berlanjut. Pekerja dapat diganti saat masa kontrak berakhir yang umumnya paling lama
satu tahun.
Dalam kondisi seperti ini, pekerja tidak dapat bekerja dengan tenang, terutama
menjelang berakhirnya kontrak kerja. Ini karena tidak ada kepastian apakah kontrak
kerja akan diperpanjang atau dihentikan. Ada kecenderungan perusahaan outsourcing
lebih suka mengganti pekerja saat kontrak berakhir untuk menghindari kenaikan upah
bahkan tidak jarang pekerja dipecat secara sepihak.
Pekerja outsourcing sering tidak mendapatkan hak dan kesempatan yang sama
dengan mereka yang bekerja di perusahaan pada umumnya, antara lain dalam hal:
standar gaji, kenaikan gaji, remunerasi, jaminan sosial, cuti, fasilitas kerja, pelatihan,
dan karier. Banyak yang dibayar jauh di bawah standar upah minimum, bahkan ada
yang dibayar berdasarkan upah harian. Itu pun masih harus dipotong untuk biaya
perlengkapan kerja, seperti seragam.
Sedangkan dari sisi perusahaan pemberi kerja akan memperoleh banyak nilai
tambah dari penyedia jasa outsourcing, yang memang fokus dan ahli di bidangnya
(spesialis). Perusahaan penyedia outsourcing mampu melaksanakan kegiatan dalam
bidangnya dengan lebih efektif dan efisien. Mereka juga lebih mampu merespons
perubahan teknologi dan/atau preferensi pelanggan. Hasilnya adalah kegiatan yang
dialihdayakan dapat terlaksana lebih baik (berkualitas) dan lebih murah. Layanan
semakin tepat dan cepat. Pastinya ini akan menambah nilai bagi pelanggan. Perusahaan

1
tidak perlu pusing dan tidak menanggung kewajiban biaya-biaya pekerja, yang terkait
dengan peraturan pemerintah dan perundang-undangan ketenagakerjaan.
Dengan mengalihdayakan sebagian kegiatan pendukungnya, perusahaan dapat
lebih berkonsentrasi pada bisnis inti, guna menciptakan keunggulan bersaing yang
berkelanjutan. Kelebihan inilah yang mendorong semakin bertumbuhnya praktik
outsourcing di dunia, termasuk di Indonesia.
Menurut saya sebagai mahasiswa, yang dapat mengakomodasi keinginan kedua
belah pihak baik pekerja maupun perusahaan adalah pemerintah itu sendiri. Pemerintah
sebagai regulator dituntut untuk mampu berperan sebagai fasilitator yang efektif, guna
menjembatani kepentingan antara pihak perusahaan dan pekerja outsourcing yang
seolah bertentangan. Sekali pun belum sempurna, UU No 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan dan Peraturan Menakertrans Nomor 19 Tahun 2012 tentang
Outsourcing telah mengatur secara cukup memadai terhadap praktik, perjanjian kerja,
dan hak-hak pekerja outsourcing. Outsourcing dibatasi hanya terhadap lima jenis
pekerjaan tambahan, yakni jasa kebersihan, keamanan, transportasi, catering, serta
pekerjaan penunjang penambangan dan perminyakan.
Sosialisasi peraturan pemerintah dan perundang-undangan outsourcing harus
diintensifkan dan edukasi secara sistematis perlu dilakukan ke semua pihak, baik
kepada perusahaan penyedia jasa, perusahaan pengguna, pekerja dan serikat pekerja,
maupun kepada pihak lain yang relevan. Dengan demikian semua pihak dapat berpikir
jernih untuk tidak bertikai, melainkan bersama-sama membangun daya saing nasional,
meningkatkan perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa.
Fungsi pengawasan oleh pemerintah harus ditingkatkan dan dilakukan dengan
sungguh-sungguh agar dapat mendeteksi dan menindak tegas penyimpangan yang ada.
Rasanya para pekerja akan bisa belajar untuk menerima praktik outsourcing jika
mereka yang bekerja di perusahaan outsourcing diperlakukan secara fair, dan hak-hak
mereka dipenuhi sesuai peraturan dan perundang-undangan.
Perusahaan pengguna outsourcing juga berkewajiban moral untuk ikut
mengawasi bagaimana perusahaan penyedia outsourcing memperlakukan pekerjanya,
dan berkomitmen untuk tidak melanjutkan kontrak dengan perusahaan outsourcing
yang tidak mematuhi peraturan. Semoga dengan itikad baik dan semangat kebersamaan
dari semua pihak, kisruh outsourcing ini dapat diminimalkan, sehingga mampu
mendukung terciptanya kegiatan industrial yang kondusif di Indonesia.