Anda di halaman 1dari 89

DAFTAR ISI

Peraturan :............................................................................................................................1
Standard :............................................................................................................................1
Referensi :............................................................................................................................2
Ketentuan umum.....................................................................................................................9
Analisis dan perhitungan proporsi dari komponen struktur ...................................................9
Faktor reduksi kekuatan harus diambil sesuai dengan ketentuan menurut SNI 03-2847 Pasal
11.3........................................................................................................................................10
Beton pada komponen struktur yang menahan gaya yang timbul akibat gempa sebagai
berikut:...................................................................................................................................10
Tulangan lentur dan aksial yang digunakan dalam komponen struktur dari sistem rangka
dan komponen batas dari sistem dinding geser harus memenuhi ketentuan ASTM A 706.
Tulangan yang memenuhi ASTM A615 mutu 300 dan 400 boleh digunakan dalam
komponen struktur di atas bila:.............................................................................................10
Tulangan yang disambung dengan sambungan mekanis terdiri dari tipe 1 dan tipe 2 sebagai
berikut:...................................................................................................................................11
Pengelasan dari sengkang, kait ikat, sisipan tulangan, atau elemen lain yang serupa kepada
tulangan longitudinal yang diperlukan dalam perhitungan perencanaan tidak diperkenankan.
...............................................................................................................................................11
4.1.Model Struktur...................................................................................................................1
4.2 Perangkat Lunak Yang Digunakan Dalam Perhitungan....................................................2
4.3Sistem Struktur...................................................................................................................2
4.4Kekuatan Struktur Beton Bertulang...................................................................................3

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 1


BAB
I
PENDAHULUAN

1.1. Umum
Laporan desain struktur ini menjelaskan tentang sistem struktur dan
analisis struktur secara garis besar untuk Proyek Pembangunan Prasarana
Squash Kota Balikpapan. Dalam laporan ini juga dijelaskan tentang
idealisasi perhitungan struktur dan beban-beban yang bekerja pada
bangunan ini, baik beban gravitasi maupun beban lateral sesuai dengan
spesifikasi yang diterima dan standar-standar berikut peraturan-peraturan
yang digunakan untuk perancangan struktur bangunan.

1.2. Deskripsi Proyek


Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan ini terdiri dari 3
lantai dan roof, berikut adalah tampak dan denahnya.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 2


Gambar 1. 1 Tampak Depan

Gambar 1. 2 Tampak Samping

Gambar 1. 3Denah lantai 1

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 3


Gambar 1. 4 Denah lantai 2

1.3. Filosofi dan Ruang Lingkup Perencanaan


Dalam perencanaan struktur atas dan struktur bawah suatu gedung
terhadap pengaruh Gempa Rencana, struktur bawah tidak boleh gagal
lebih dahulu dari struktur atas. Untuk itu, terhadap pengaruh Gempa
Rencana unsur-unsur struktur bawah harus tetap berperilaku elastik
penuh, tak bergantung pada tingkat daktilitas yang dimiliki struktur
atasnya.

Metoda analisa yang digunakan adalah metode statis, dan diasumsikan


bahwa struktur tersebut berperilaku elastis linier. Walaupun beban angin
dan gempa adalah temporer secara alami, adalah praktis dan layak untuk
ditampilkan pada sebagian besar desain, dengan distribusi gaya statis.
Meskipun beton dan masonry bersifat non-linier, analisa elastis linier tetap
penting untuk mendesain bangunan tinggi.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 4


B
AB
II

KRITERIA PERENCANAAN

2.1 Acuan Peraturan, Standard dan Referensi


Peraturan :
1 SNI Gempa Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Rumah dan Gedung (SNI 1726-1989-F)
2 SNI Beban Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk
Rumah dan Gedung (SNI 1727-1989-F)
3 SNI Beton Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung (SK SNI T-15-1991-03)
4 Draft SNI Beton Draft Pedoman Beton 1989 (SKBI -
1.4.53.1988)
5 PBI 1971 Peraturan Beton Indonesia 1971 (NI-2)

Standard :
1 PUBI Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia
2 SII Standar Industri Indonesia
3 ASTM American Society for Testing and Materials
4 ACI American Concrete Institute
5 AISC American Institute of Steel Construction
6 BS British Standard
7 JIS Japanese Industrial Standard
8 UBC Uniform Building Code 1995

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 1


Referensi :
1 ACI Building Code and Commentary - ACI 318-
Commentary 83/86/89
2 Note on ACI Note on ACI 318-83/89

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 2


2.2 Filosofi Perencanaan

Pendekatan probabilitas untuk sifat-sifat struktur dan kondisi pembebanan


menuju ke suatu filosofi batasan desain, yang mana secara umum saat ini
dapat diterima. Tujuan pendekatan ini adalah untuk memastikan bahwa
seluruh struktur dan komponennya dirancang untuk menahan akibat
beban berlebihan (dengan alasan keamanan) dan deformasi yang mungkin
terjadi pada saat pembangunan dan dalam masa layanan konstruksi.

Keseluruhan struktur atau sebagian, dikatakan gagal ketika variasi limit


state tercapai, ketika tidak ada lagi batasan yang ditentukan dalam
mendesain. Dua jenis batasan yang dipertimbangkan: (1) limit state sesuai
dengan beban yang menyebabkan kegagalan, mencakup ketidakstabilan:
karena peristiwa kegagalan akan bersifat mencelakakan dan
menyebabkan kerugian keuangan yang serius, kemungkinan kegagalan
pastilah sangat rendah; dan (2) serviceability limit state, yang mana
melibatkan kriteria masa layanan bangunan. Ini mempunyai kaitan dengan
kekuatan bangunan untuk penggunaan yang normal terhadap keamanan
dan akan menjadi lebih penting.

Limit state dapat dicapai sebagai hasil suatu kombinasi acak. Sebagian
faktor keamanan dipakai untuk kondisi yang berbeda yang mencerminkan
kemungkinan keadaan atau kejadian tertentu dari pembebanan dan
struktur ada. Tujuan yang terkandung dari perhitungan desain struktur
adalah untuk memastikan bahwa kemungkinan limit state tercapai dengan
nilai dibawahnya dapat diterima

Bagian berikut mempertimbangkan kriteria yang dipakai khususnya dalam


mendesain bangunan tinggi.

2.3 Aspek Perencanaan


2.3.1. Kekuatan Dan Stabilitas

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 3


Untuk ultimate limit state, kebutuhan utama dalam mendesain struktur
bangunan adalah mampu dan mempunyai kekuatan yang cukup dan tetap
stabil dari kemungkinan terburuk akibat gaya yang bekerja selama
konstruksi dan masa layanan bangunan tersebut.

Ini memerlukan suatu analisa gaya dan kekuatan yang akan terjadi pada
elemen sebagai hasil kombinasi beban paling kritis, mencakup
pembesaran momen (P-Delta efek) untuk bangunan di atas 40 m. Suatu
cadangan kekuatan yang cukup, menggunakan faktor pembebanan yang
ditentukan, harus ditampilkan. Perhatian tertentu harus memperhatikan
elemen kritis yang gagal membuktikan bencana besar dalam
menginisiasikan keruntuhan progresif sebagian atau keseluruhan
bangunan. Tambahan tegangan disebabkan oleh terkendalinyan
perbedaan pergerakan akibat creep, penyusutan, atau temperatur harus
dimasukkan

Sebagai tambahan, suatu koreksi harus dibuat berdasarkan kondisi


kesetimbangan untuk menetapkan bahwa penerapan gaya lateral tidak
akan menyebabkan keruntuhan menyeluruh pada bangunan. Tahanan
momen akibat beban mati struktur bangunan harus lebih besar
dibandingkan momen guling untuk stabilitas oleh suatu faktor keamanan
yang bisa diterima.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 4


2.3.2. Stiffness dan Drift Limitation
Penetapan tentang kekakuan yang cukup, terutama sekali kekakuan
lateral adalah pertimbangan utama dalam mendesain bangunan untuk
berbagai alasan penting. Dalam hal menyangkut serviceabilitas limit state,
pertama; defleksi harus cukup terjaga pada tingkat bawah untuk
mengijinkan fungsi komponen non-structural seperti pintu dan elevator,
kedua; untuk menghindari kesulitan dalam struktur dan mencegah
kekakuan yang merugikan seperti retak yang berlebihan, menghindari
distribusi ulang beban ke sekat non-load-bearing, infill, clading atau
pemasangan kaca jendela, dan ketiga; struktur harus cukup kaku untuk
mencegah pembesaran gerakan dinamis yang menyebabkan kegelisahan
penghuni, sensitifitas peralatan. Kenyataannya, itu adalah tertentu
dibutuhkan untuk berhubungan dengan ketetapan kekakuan lateral bahwa
desain suatu bangunan bertingkat banyak berangkat dari bangunan
rendah.

Satu parameter sederhana yang mampu mengestimasi kekakuan lateral


pada bangunan adalah indeks simpangan antar lantai (drift index) yang
didefinisikan sebagai rasio defleksi maksimum puncak bangunan dengan
tinggi total bangunan tersebut. Sebagai tambahan, nilai yang bersesuaian
untuk bangunan satu tingkat, drift indeks memberikan suatu ukuran
tentang deformasi berlebihan yang dilokalisir. Kontrol defleksi lateral
sangat penting pada bangunan modern. Itu harus ditekankan bahwa
sekalipun drift index dijaga dalam suatu batasan tertentu, seperti 1/500,
tidaklah perlu mengikuti bahwa kriteria kenyamanan dinamis akan
memuaskan. Permasalahan dapat muncul, sebagai contoh, jika
penggabungan antara lentur dan goyangan torsional yang menuju ke arah
akselerasi atau gerakan yang kompleks tidak dapat diterima. Di samping
perhitungan defleksi statis, keraguan terhadap respon dinamis yang
menyertakan akselerasi lateral, amplitudo, dan periode goyangan juga
harus dipertimbangkan.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 5


Penetapan suatu drift indek merupakan suatu keputusan penting dalam
mendesain tetapi tidak dapat diterima secara luas. Perancang kemudian
berhadapan dengan pemilihan nilai yang tepat untuk digunakan. Figur
yang diadopsi akan mencerminkan pemakaian bangunan, jenis kriteria
desain (sebagai contoh, kondisi beban batas), bentuk konstruksi, material,
termasuk substansial infill atau cladding, beban angin dan khususnya,
pengalaman masa lalu tentang bangunan serupa yang sudah dibangun
dengan hasil memuaskan.

Pertimbangan limit-state ini memerlukan suatu perkiraan akurat terhadap


defleksi lateral yang terjadi dan melibatkan suatu nilai kekakuan retak
elemen, pengaruh penyusutan dan rangkak, distibusi ulang gaya yang
dihasilkan dan pergerakan rotasi pada pondasi. Dalam proses desain,
kekakuan joint, terutama sekali pada struktur precast dan prefabricated
harus mendapat perhatian khusus untuk mengembangkan kekakuan
lateral yang cukup pada struktur dan untuk mencegah kemungkinan
keruntuhan progresif. Kemungkinan deformasi torsional juga tidak boleh
dilewatkan.

Pertimbangan perencanaan diperlukan ketika memilih nilai drift indek dan


kekakuan yang cukup harus ditampilkan untuk memastikan bahwa defleksi
tidak melebihi nilai dibawah kondisi beban ekstrim. Jika berlebihan, drift
indeks pada struktur dapat dikurangi dengan merubah konfigurasi
geometris untuk merubah tahanan beban lateral, penambahan kekakuan
lentur elemen horisontal, menambah kekakuan dengan pengaku dinding
atau elemen core, stiffer connection dan meratakan kemiring kolom
terluar.

2.3.3. Human Comfort Criteria


Jika suatu struktur fleksibel tinggi didasarkan pada defleksi lateral atau
torsional akibat fluktuasi beban angin, gerakan osilator dapat
menyebabkan respon penghuni gedung, seperti kegelisahan dan

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 6


kemuakan akut. Pergerakan itu mempunyai pengaruh fisiologis atau
psikologis pada penghuni yang kemudian mengakibatkan suatu struktur
bisa diterima atau menjadi sebaliknya, menjadi suatu yang tidak
diinginkan bahkan menjadi bangunan yang sia-sia.

Hingga kini tidak ada standard internasional yang bersifat universal untuk
kriteria kenyamanan, walaupun mereka sudah membahasnya dan
perencana harus mendasarkan kriteria disain pada suatu data penilaian
yang diterbitkan. Umumnya disepakati bahwa percepatan adalah
parameter utama dalam menentukan respon manusia terhadap getaran
tetapi faktor lain seperti periode, amplitudo, orientasi bentuk, akustik dan
visuil, dan bahkan pengalaman masa lalu dapat berpengaruh. Kurva yang
tersedia memberi berbagai batas perilaku manusia seperti persepsi gerak
yang melewati kesukaran bekerja sampai batas orang dapat berjalan
dalam kaitannya dengan periode dan percepatan..
Suatu analisa dinamis kemudian diperlukan untuk mempredikasi respon
bangunan yang dibandingkan dengan batas awal.

Dari segi pandangan publik, suatu struktur bangunan harus tidak


bergerak, dan demikian pergerakan yang baik dapat sungguh-sungguh
diterima termasuk bangunan tinggi yang mempunyai pengaruh yang luas.
Pergerakan yang berpengaruh secara psikologis dan fisiologis penghuni
yang dengan demikian dapat diterima dan sebaliknya sustu struktur tidak
bisa diterima menjadi sutu bangunan yang diinginkan, dengan suatu
reputasi yang menghasilkan kesulitan memasarkan ruangan. Demikian
tidak cukupnya untuk struktur yang layak menahan tegangan termasuk
beban desain, dengan kekakuan cukup untuk mencegah pergerakan
berlebihan dan kerusakan pada elemen non-structural: perancang harus
memastikan juga bahwa tidak ada gerakan yang tidak diinginkan yang
bisa mempengaruhi penghuni.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 7


Itu akan bersifat menjadi penghalang untuk membangun suatu bangunan
yang tidak akan bergerak yang dengan jelas disebabkan oleh angin topan
atau selama terjadi gempa bumi. Sebagai konsekwensi, karena beberapa
gerakan tak bisa diabaikan, tujuan untuk menentukan tingkat pergerakan
dan rata-rata kejadian yang keduanya ekonomis dan bisa diterima oleh
penghuni gedung.

2.4 Analisis Kekuatan Penampang


Struktur bangunan dirancang agar memenuhi persyaratan daktilitas,
dengan menggunakan disain kapasitas sesuai dengan prinsip balok lemah-
kolom kuat (weak beam-strong column). Dengan struktur demikian, jika
terjadi gempa, maka penyebaran energi ke elemen-elemen struktur dapat
dengan sempurna terjadi, sehingga struktur tetap dapat bertahan
terhadap serangan gempa yang lebih besar dari beban gempa rencana,
tanpa mengalami kerusakan yang berarti. Daerah-daerah kritis yang
sering disebut sendi plastis dirancang secara inelastis, dan keruntuhan
akibat geser dihindari.

Dalam analisis kekuatan elemen struktur digunakan program aplikasi yaitu


concrete design dalam program bantu ETABS dengan faktor beban dan
faktor reduksi kekuatan, yang disesuaikan dengan SNI 03-2847-2002.

Hasil keluaran program tersebut masih dikoreksi secara manual, karena


ada beberapa perbedaan antara ACI dengan SNI Beton, seperti dalam
merancang tulangan geser (sengkang), baik untuk balok maupun kolom.
Juga diperhatikan tentang batasan seperti luas tulangan minimum dan
maksimum, jarak maksimum sengkang, dan juga perbandingan antara
tulangan tarik dan tekan pada satu penampang, agar penampang tersebut
dapat berperilaku daktail.

2.4.1. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 8


Di dalam perencanaan struktur beton bertulang tahan gempa harus
memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

Ketentuan umum
Untuk perencanaan dan konstruksi komponen struktur beton bertulang
dari suatu struktur, untuk mana gaya rencana, akibat gerak gempa, telah
ditentukan berdasarkan dissipasi energi di dalam daerah nonlinier dari
respon struktur tersebut. Dalam hal ini beban rencana lateral dasar akibat
gerakan gempa untuk suatu daerah harus diambil sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan dalam SNI 1726-2002 tentang Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung.

a. Untuk daerah dengan resiko gempa yang rendah, ketentuan dari SNI
03-2847-2002 Pasal 3 hingga Pasal 20 tentang Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton untuk Bangunan Gedung tetap berlaku kecuali bila
dimodifikasi oleh ketentuan dalam ini;
b. Untuk daerah dengan resiko gempa menengah, harus digunakan sistem
rangka pemikul momen khusus (SRPMK) atau menengah (SRPMM), atau
sistem dinding struktural beton biasa atau khusus untuk memikul gaya-
gaya yang diakibatkan oleh gempa;
c. Untuk daerah dengan resiko gempa yang tinggi, harus digunakan
sistem rangka pemikul momen khusus, atau sistem dinding struktural
beton khusus, dan diafragma serta rangka batang;
d. Komponen struktur yang tidak direncanakan memikul gaya-gaya yang
diakibatkan oleh gempa harus direncanakan sesuai dengan ketentuan
dalam ini.

Analisis dan perhitungan proporsi dari komponen


struktur
a. Interaksi dari semua komponen struktur dan nonstruktural yang secara
nyata mempengaruhi respons linier dan non-linier struktur terhadap
gerakan gempa harus ditinjau dalam analisis;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 9


b. Komponen kaku yang diasumsikan tidak merupakan bagian dari sistem
penahan gaya lateral dapat digunakan asalkan pengaruhnya atas
respon dari sistem struktur ditinjau dan diperhitungkan dalam
perhitungan struktur. Konsekuensi atas keruntuhan dari komponen
struktural dan nonstruktural yang bukan merupakan bagian dari sistem
penahan gaya lateral juga harus diperhitungkan.

Faktor reduksi kekuatan harus diambil sesuai dengan ketentuan


menurut SNI 03-2847 Pasal 11.3

Beton pada komponen struktur yang menahan gaya yang timbul


akibat gempa sebagai berikut:

a. Kuat tekan f ‘c dari beton tidak boleh kurang dari 20 MPa;


b. Kuat tekan dari beton agregat ringan yang digunakan dalam
perencanaan tidak boleh melampaui 30 MPa.

Tulangan lentur dan aksial yang digunakan dalam komponen


struktur dari sistem rangka dan komponen batas dari sistem
dinding geser harus memenuhi ketentuan ASTM A 706. Tulangan
yang memenuhi ASTM A615 mutu 300 dan 400 boleh digunakan
dalam komponen struktur di atas bila:

a. Kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak


melampaui kuat leleh yang ditentukan lebih dari 120 MPa (uji
ulang tidak boleh memberikan hasil yang melampaui harga ini
lebih dari 20 MPa);
b. Rasio dari tegangan tarik batas aktual terhadap kuat leleh tarik
aktual tidak kurang dari 1,25.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 10


Tulangan yang disambung dengan sambungan mekanis terdiri
dari tipe 1 dan tipe 2 sebagai berikut:
a. Tipe 1 adalah sambungan mekanis yang seseuai dengan SNI 03-
2847-2002 Pasal 14.14(3(2));
b. Tipe 2 adalah sambungan mekanis yang sesuai dengan SNI 03-
2847-2002 Pasal 14.14(3(2)) dan harus lebih kuat daripada
tulangan yang disambungkan.

Pengelasan dari sengkang, kait ikat, sisipan tulangan, atau


elemen lain yang serupa kepada tulangan longitudinal yang
diperlukan dalam perhitungan perencanaan tidak diperkenankan.

2.4.2. Komponen Struktur pada Sistem Rangka Pemikul


Momen Khusus (SRPMK)
Komponen struktur rangka dalam menahan gaya gempa yang memiliki
daktilitas penuh (R = 8,5) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

2.4.2.1. Komponen struktur rangka yang mengalami beban lentur


Komponen struktur rangka yang mengalami beban lentur harus memenuhi
ketentuan berikut:

a. Gaya aksial terfaktor yang bekerja pada komponen struktur

tersebut tidak melebihi 0,1 ⋅ A g ⋅ f c ;


'

b. Bentang bersih dari komponen struktur tidak boleh kurang dari


empat kali tinggi efektifnya, kecuali untuk perangkai dinding
geser;
c. Rasio dari lebar terhadap tinggi balok tidak boleh kurang dari
0,3;
d. Lebar tidak boleh: (a). Kurang dari 250 mm; (b). Lebih dari
komponen penumpu (diukur dari bidang tegak lurus terhadap
sumbu longitudinal dari komponen lentur) ditambah jarak yang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 11


tidak melebihi tiga perempat dari tinggi komponen lentur pada
tiap sisi dari komponen penumpu.

2.4.2.2. Tulangan longitudinal, yaitu:


a. Pada setiap irisan penampang dari suatu komponen struktur lentur
tidak boleh kurang dari

f c'
A smin = ⋅b⋅d , (1)
4 ⋅ fy

dan tidak lebih kecil dari :


1, 4
A smin = ⋅b⋅d (2)
fy

serta rasio tulangan ρ tidak melebihi 0,025. Sekurang-kurangnya harus


ada dua batang tulangan atas dan dua batang tulangan bawah yang
dipasang secara menerus;

b. Kuat lentur positif komponen struktur pada sisi muka dari kolom tidak
boleh kurang dari ½ kuat momen negatif yang disediakan pada muka
tersebut. Baik kuat lentur negatif maupun kuat lentur positif pada
setiap penampang di sepanjang bentang tidak boleh kurang dari ¼ kuat
lentur terbesar yang disediakan pada kedua muka kolom tersebut;

c. Sambungan lewatan dari pada tulangan lentur hanya diizinkan jika ada
tulangan spiral atau sengkang tertutup yang mengikat bagian
sambungan lewatan tersebut. Spasi sengkang yang mengikat daerah
sambungan lewatan tersebut tidak melebihi d/4 atau 100 mm.
Sambungan lewatan tidak boleh digunakan:
i. Pada daerah hubungan balok-kolom;
ii. Pada daerah hingga jarak dua kali tinggi balok dari muka kolom;
iii. Pada tempat-tempat yang berdasarkan analisis, memperlihatkan
kemungkinan terjadinya leleh lentur akibat perpindahan lateral
inelastis struktur rangka.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 12


Sambungan mekanis dan las yang sesuai dengan ketentuan menurut SNI
03-2847-2002 Pasal 23.2(6) dan Pasal 23.2(7(1)) boleh digunakan untuk
penyambungan tulangan asal pelaksanaan penyambungan pada suatu
penampang pada tiap lapis tulangan tidak lebih dari dari pelaksanaan
berselang, dan jarak sumbu ke sumbu dari sambungan batang yang
berdekatan tidak kurang dari 600 mm, diukur sepanjang sumbu
longitudinal dari komponen struktur rangka

2.4.2.3. Tulangan transversal, yaitu:


a. Sengkang tertutup harus dipasang dalam daerah berikut dari komponen
lentur struktur rangka:
i. Sepanjang dua kali tinggi balok diukur dari muka komponen struktur
pendukung ke arah tengah bentang, pada kedua ujung dari
komponen struktur lentur;
ii. Sepanjang dua kali tinggi balok pada kedua sisi dari suatu
penampang dimana mungkin terjadi leleh lentur sehubungan
dengan perpindahan lateral inelatis dari rangka.
b. Sengkang tertutup pertama harus dipasang tidak lebih dari 50 m dari
muka tumpuan. Spasi maksimum dari sengkang tertutup tersebut tidak
melebihi:
i. d / 4;
ii. delapan kali diameter tulangan longitudinal terkecil;
iii. 24 kali diameter batang tulangan sengkang tertutup;
iv. 300 mm.
c. Di daerah yang memerlukan sengkang tertutup, sengkang dan
sengkang ikat harus diatur sedemikian hingga setiap sudut dan
tulangan longitudinal yang berselang harus mempunyai dukungan
lateral yang didapat dari sudut sebuah sengkang atau kait ikat yang
sudut dalamnya tidak lebih dari 135o, dan tidak boleh ada batang
tulangan yang jarak bersihnya lebih dari 150 mm pada tiap sisi
sepanjang sengkang atau sengkang ikat terhadap batang tulangan
yang didukung secara lateral. Jika tulangan longitudinal terletak pada

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 13


perimeter suatu lingkaran, maka sengkang berbentuk lingkaran penuh
dapat dipergunakan.
d. Sengkang tertutup pada komponen struktur lentur boleh dibentuk dari
dua potongan tulangan, yaitu sebuah sengkang terbuka U yang
mempunyai kait 135o dengan perpanjangan sebesar 6 kali diameter
(tetapi tidak kurang ari 75 mm) yang dijangkar di dalam inti yang
terkekang dan satu kait silang penutup hingga keduanya membentuk
suatu gabungan sengkang tertutup. Kait silang penutup yang berurutan
yang mengait pada satu tulangan longitudinal yang sama harus
dipasang sedemikian hingga kait 90 derajatnya terpasang berselang
pada sisi yang berlawanan dari komponen struktur lentur. Bila batang
tulangan longitudinal yang terikat oleh sengkang kait penutup hanya di
batasi oleh pelat pada satu sisi dari komponen struktur rangka lentur,
maka kait 90 derajat dari kait silang penutup tersebut harus dipasang di
sisi itu.
e. Pada daerah yang tidak memerlukan sengkang tertutup, sengkang
dengan kait gempa pada kedua ujungnya harus dipasang dengan spasi
tidak lebih dari d/2 pada seluruh panjang komponen struktur tersebut.

2.4.2.4. Persyaratan kuat geser


a. Gaya geser rencana
Gaya geser rencana, Vu, harus ditentukan dari peninjauan gaya statik
pada bagian komponen struktur antara dua muka tumpuan. Momen-
momen dengan tanda berlawanan sehubungan dengan kuat lentur
maksimum, Mpr, harus dianggap bekerja pada muka-muka tumpuan dan
komponen struktur tersebut dibebani dengan beban gravitasi terfaktor
di sepanjang bentangnya. (diilustrasikan pada Gambar 2.1. berikut).

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 14


Beban gravitasi

Vu Vu

Mpr1 Mpr2

Gambar 2. 1 Gaya geser rencana balok SRPMK

M pr1 + M pr2 W
Vu = ±
L 2
Catatan:
i. Arah gaya geser Vu tergantung pada besar relatif beban gravitasi
dan geser yang dihasilkan oleh momen ujung;
ii. Momen ujung Mpr didasarkan pada tegangan tarik 1, 25 ⋅ f y , dimana f y
adalah kuat leleh disyaratkan. (Kedua momen ujung harus
diperhitungkan untuk kedua arah yaitu searah jarum jam dan
berlawanan arah jarum jam);
iii. Vu tidak boleh lebih kecil daripada nilai yang dibutuhkan
berdasarkan hasil analisis struktur.
b. Tulangan transversal
Tulangan transversal sepanjang daerah menurut ketentuan 2.4.2.3.a di
atas harus dirancang untuk memikul geser dengan menganggap Vc = 0
bila:
i. Gaya geser akibat gempa yang dihitung menurut 2.4.2.4.a di atas
mewakili setengah atau lebih daripada kuat geser perlu maksimum
di sepanjang daerah tersebut;
ii. Gaya aksial tekan terfaktor, termasuk akibat gempa, lebih kecil dari

A g ⋅ fc'
.
20

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 15


2.4.2.5. Komponen struktur rangka yang mengalami beban lentur dan
aksial
Komponen struktur rangka yang mengalami beban lentur dan aksial harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. Menerima beban aksial terfaktor lebih besar daripada 0,1 ⋅ A g ⋅ f c , dan


'

memenuhi ketentuan sebagai berikut:


i. Dimensi penampang terkecil, diukur pada satu garis lurus yang
melalui titik berat penampang, tidak boleh kurang dari 300 mm;
ii. Rasio dimensi penampang terkecil terhadap dimensi yang tegak
lurus padanya tidak boleh kurang dari 0,4;
iii. Rasio tinggi antar kolom terhadap dimensi penampang kolom yang
terkecil tidak boleh lebih besar dari 25. Untuk kolom yang
mengalami momen yang dapat berbalik tanda, rasionya tidak boleh
lebih besar dari 16. Untuk kolom kantilever rasionya tidak boleh
lebih besar dari 10;

b. Kuat lentur minimum dari kolom harus memenuhi persamaan berikut:

6
∑M c ≥
5
∑ Mg (3)

dimana: ΣMc adalah jumlah momen pada pusat hubungan balok kolom,
sehubungan dengan kuat lentur nominal kolom yang merangka pada
hubungan balok-kolom tersebut. Kuat lentur kolom harus dihitung untuk
gaya aksial terfaktor, yang sesuai dengan arah gaya-gaya lateral yang
ditinjau, yang menghasilkan nilai kuat lentur yang terkecil. ΣMg adalah
jumlah momen pada pusat hubungan balok-kolom, sehubungan dengan
kuat lentur nominal balok-balok yang merangka pada hubungan balok-
kolom tersebut. Pada konstruksi balok-T, dimana pelat dalam keadaan
tertarik pada muka kolom, tulangan pelat yang berada dalam lebar
efektif pelat harus diperhitungkan dalam menentukan kuat lentur

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 16


nominal balok bila tulangan tersebut terangkur dengan baik pada
penampang kritis lentur. Kuat lentur harus dijumlahkan sedemikian
hingga momen kolom berlawanan dengan momen balok. Persamaan ( 3
) harus dipenuhi untuk kedua arah momen balok yang bekerja pada
bidang rangka yang ditinjau.

c. Tulangan longitudinal, yaitu:


c.1. Rasio tulangan ρ tidak boleh kurang dari 0,01 dan tidak boleh
lebih dari 0,06, dan pada daerah sambungan tidak boleh lebih dari
0,08;

c.2. Sambungan lewatan hanya digunakan di luar daerah sendi


plastis potensial dan harus proporsikan sebagai sambungan tarik.
Sambungan mekanis dan las yang sesuai dengan ketentuan SNI 03-
2847-2002 Pasal 23.2(6) dan Pasal 23.2(7) boleh digunakan untuk
menyambung tulangan pada sebarang tempat asal pengaturan
penyambungan batang tulangan longitudinal pada satu penampang
tidak lebih dari pengaturan berselang dan jarak antara sambungan
adalah 600 mm atau lebih sepanjang sumbu longitudinal dari
tulangan.
d. Tulangan transversal, yaitu:
d.1. Ketentuan mengenai jumlah tulangan transversal di bawah ini
harus dipenuhi kecuali bila ditentukan jumlah tulangan yang lebih
besar berdasarkan 2.4.2.5.c.1. dan 2.4.2.5.e.
i. Rasio volumetrik tulangan spiral atau sengkang cincin, ρs, tidak
boleh kurang daripada yang ditentukan persamaan berikut:

0,12 ⋅ f c'
ρs = (4)
f yh

dan tidak boleh kurang daripada persamaan berikut:

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 17


A  f'
ρs = 0, 45  g − 1 c (5)
 Ac  f yh

dengan fyh adalah kuat leleh tulangan spiral, tapi tidak boleh
diambil lebih besar dari 400 MPa.

ii. Luas total penampang sengkang tertutup persegi tidak boleh


kurang daripada yang ditentukan persamaan berikut:

 s ⋅ h c ⋅ f c'   Ag 
A sh = 0,3 ⋅   ⋅  − 1 (6)
 f
 yh   Ach 

 s ⋅ h c ⋅ f c' 
A sh = 0, 09 ⋅   (7)
 f
 yh 
iii. Tulangan transversal harus berupa sengkang tunggal atau
tumpuk. Tulangan pengikat silang dengan diameter dan spasi
yang sama dengan diameter dan spasi sengkang tertutup boleh
digunakan. Tiap ujung tulangan pengikat silang harus terkait
pada tulangan longitudinal terluar. Pengikat silang yang
berurutan harus ditempatkan secara berselang-seling
berdasarkan bentuk kait ujungnya.

iv. Bila tebal selimut beton di luar tulangan tranversal pengekang


lebih dari 100 mm, tulangan transversal tambahan perlu
dipasang dengan spasi tidak melebihi 300 mm. Tebal selimut di
luar tulangan transversal tambahan tidak boleh melebihi 100
mm.

d.2. Tulangan transversal harus diletakkan dengan spasi tidak lebih


daripada:
i. Satu per empat dari dimensi terkecil komponen struktur;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 18


ii. Enam kali diameter tulangan longitudinal;
iii. Sx sesuai dengan persamaan berikut ini:

350 − h x
Sx = 100 + (8)
3

Dengan hx adalah jarak terkecil antar tulangan longitundinal. Nilai Sx tidak perlu lebih besar daripada
150 mm dan tidak perlu lebih kecil dari 100 mm.

d.3. Tulangan pengikat silang tidak boleh dipasang dengan spasi


lebih daripada 350 mm dari sumbu ke sumbu dalam arah tegak
lurus sumbu komponen struktur.
d.4. Tulangan transversal sesuai dengan 2.4.2.5.d.1. sampai
dengan 2.4.2.5.d.3. di atas harus dipasang sepanjang Lo dari setiap
muka hubungan balok-kolom dan juga sepanjang Lo pada kedua sisi
dari setiap penampang yang berpotensi membentuk leleh lentur
akibat deformasi lateral inelastis struktur rangka. Panjang Lo tidak
kurang daripada:
i. Tinggi penampang komponen struktur pada muka hubungan
balok-kolom atau segmen yang berpotensi membentuk leleh

lentur untuk N uk ≤ 0,3 ⋅ Ag ⋅ fc ;


'

ii. Satu setengah kali tinggi penampang komponen struktur untuk

N uk > 0,3 ⋅ Ag ⋅ fc'

iii. Seperenam bentang bersih komponen struktur;


iv. 500 mm.

d.5. Bila gaya aksial terfaktor akibat beban gempa yang bekerja
pada komponen
0,1 ⋅ A g ⋅ f c'
struktur melampaui dan gaya aksial tersebut berasal dari
komponen struktur lainnya yang sangat kaku yang didukungya,
misalnya dinding, maka kolom tersebut harus diberi tulangan

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 19


transversal yang ditentukan pada 2.4.2.5.d.1. sampai dengan
2.4.2.5.d.5. di atas pada seluruh tinggi kolom.

d.6. Bila tulangan transversal yang ditentukan pada 2.4.2.5.d.1.


sampai dengan
2.4.2.5.d.3. di atas tidak dipasang di seluruh panjang kolom maka
pada daerah sisanya harus dipasang tulangan spiral atau sengkang
tertutup dengan spasi sumbu ke sumbu tidak lebih daripada:
i. Nilai terkecil dari enam kali diameter tulangan longitudinal kolom;
ii. Atau 150 mm.
e. Persyaratan kuat geser
e.1. Gaya-gaya rencana
Gaya geser rencana, Vu, harus ditentukan dengan memperhitungkan
gaya-gaya maksimum yang dapat terjadi pada muka hubungan
balok-kolom pada setiap ujung komponen struktur. Gaya-gaya pada
muka hubungan balok-kolom tersebut harus ditentukan
menggunakan kuat momen maksimum, Mpr, dari komponen struktur
tersebut yang terkait dengan rentang beban-beban aksial terfaktor
yang bekerja. (Seperti yang diilustrasikan menurut Gambar 2.2.
berikut).

P
Mpr1
Vu

Vu
Mpr2
P

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 20


Gambar 2. 2 Gaya geser rencana pada kolom SRPMK

M pr1 + M pr2
Vu =
H

Catatan:
i. Arah gaya geser rencana, Vu, tergantung pada besar relatif
beban gravitasi dan geser yang dihasilkan oleh momen-momen
ujung;
1, 25 ⋅ f y
Momen-momen ujung Mpr didasarkan pada tegangan . (Kedua
momen ujung harus diperhitungkan untuk kedua arah, yaitu searah
jarum jam dan berlawanan arah jarum jam);
e.2. Momen-momen ujung Mpr untuk kolom tidak perlu lebih besar
daripada momen yang dihasilkan oleh Mpr balok yang merangka
pada hubungan balok kolom. Vu tidak boleh lebih kecil daripada nilai
yang dibutuhkan berdasarkan hasil analisis struktur.
e.3. Tulangan transversal pada komponen struktur sepanjang Lo
yang ditentukan pada B.2.d.4. di atas, harus direncanakan untuk
memikul geser dengan menganggap Vc = 0, bila:
i. Gaya geser akibat gempa yang dihitung sesuai dengan
2.4.2.5.e.1. di atas mewakili 50% atau lebih kuat geser perlu
maksimum pada bagian sepanjang Lo tersebut;
ii. Gaya tekan aksial terfaktor termasuk akibat pengaruh gempa

A g ⋅ f c'
tidak melampaui .
20

2.4.2.6. Hubungan Balok-Kolom.


Hubungan balok-kolom dalam perencanaan gempa harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut:

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 21


a. Gaya-gaya pada tulangan longitudinal balok di muka hubungan balok-
kolom harus ditentukan dengan menganggap bahwa tegangan pada

tulangan tarik lentur adalah 1, 25 ⋅ f y ;


b. Kuat hubungan balok-kolom harus direncanakan menggunakan faktor
reduksi kekuatan sesuai dengan SNI 03-2847-2002 Pasal 11.3;
c. Tulangan longitudinal balok yang berhenti pada suatu kolom harus
diteruskan hingga mencapai sisi jauh dari inti kolom terkekang dan
diangkur sesuai dengan 2.4.3.g. di bawah untuk tulangan tarik dan SNI
03-2847-2002 Pasal 14 untuk tulangan tekan;
d. Bila tulangan longitudinal balok diteruskan hingga melewati hubungan
balok-kolom, dimensi kolom dalam arah paralel terhadap tulangan
longitudinal balok tidak boleh kurang daripada 20 kali diameter
tulangan longitudinal terbesar balok untuk beton berat normal. Bila
digunakan beton ringan maka dimensi tersebut tidak boleh kurang dari
26 kali diameter tulangan longitudinal terbesar balok;
e. Tulangan transversal
e.1. Tulangan transversal berbentuk sengkang tertutup sesuai
dengan 2.4.2.5.d. Harus dipasang di dalam daerah hubungan balok
kolo, kecuali bila hubungan balok kolom tersebut dikekang oleh
komponen-komponen struktur berikut;
e.2. Pada hubungan balok-kolom dimana balok-balok, dengan lebar
setidak-tidaknya sebesar tiga perempat lebar kolom, merangka pada
keempat sisinya, didalam daerah harus dipasang tulangan
transversal setidak-tidaknya sejumlah setengah dari yang
ditentukan pada 2.4.2.5d.1. di atas balok terendah yang merangka
ke hubungan tersebut. Pada daerah tersebut, spasi tulangan
transversal yang ditentukan 2.4.2.5.d.2.ii. di atas dapat diperbesar
menjadi 150mm.
e.3. Pada hubungan balok kolom, dengan lebar balok lebih besar
daripada lebar kilom, tulangan transversal yang ditentukan pada
2.4.2.5.B.2.d. di atas harus dipasang pada hubungan tersebut untuk

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 22


memberikan kekangan terhadap tulangan longitudinal balok yang
berada di luar daerah inti kolom, terutama bila kekangan tersebut
tidak disediakan oleh balok yang merangka pada hubungan
tersebut.
f. Persyaratan kuat geser
f.1. Momen lentur dan gaya geser kolom serta geser horisontal Vjh
dan geser vertikal Vjv yang melewati inti balok kolom harus
dievaluasi dengan analisis rasional yang memperhitungkan seluruh
pengaruh dari gaya-gaya yang membentuk keseimbangan pada
balok-kolom yang ditinjau, seperti Gambar 2.3. berikut.

Cc1 Tc1

Cb2 Tb1 As 1

Balok
Vjh

Tb2 Cb1 As 2

Gambar 2. 3 Gaya geser horisontal pada balok-kolom

Vjh = Tb1 ± C b2 −Vc1 ( 11 )

dengan:

C b1 = Tb1 = As1 ⋅ α f y ( 12 )

Tb2 = Cb2 = As2 ⋅ α f y ( 13 )

M kap, b1 + M kap, b2
Vc1 = ( 14 )
0,5 ( h k,a + h k,b )

f.2. Kuat geser nominal

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 23


i. Kuat geser nominal hubungan balok-kolom tidak boleh diambil
lebih besar daripada ketentuan berikut ini untuk beton normal.

Vn = 0, 083 ⋅ γ ⋅ fc' ⋅ b j ⋅ hc ( 15 )

dengan:
γ = klasifikasi dari hubungan balok-kolom
= 20 untuk hubungan balok-kolom interior;
= 15 untuk hubungan balok-kolom eksterior;
= 12 untuk hubungan balok-kolom sudut (corner);
Sedangkan bj dan hc dapat diilustrasikan menurut Gambar 2.4
berikut ini.
bc
bc

h Kolom Kolom h

b j ≤ ( bb + bc ) 2 b j ≤ ( bb + bc ) 2
b j ≤ bb + h b j ≤ bb + h 2
bb bb
Gambar 2. 4. Lebar efektif bj balok-kolom

g. Panjang penyaluran tulangan tarik


g.1. Panjang penyaluran Ldh untuk tulangan tarik dengan kait
standar 90o dalam beton berat normal tidak boleh diambil lebih kecil
daripada:
i. 8db;
ii. 150 mm;
fy ⋅ db
iii. L dh = ( 16 )
5,4 ⋅ f c'

untuk diameter tulangan sebesar 10 mm hingga 36 mm.


Untuk beton ringan, panjang penyaluran tulangan tarik dengan kait
standar 90o tidak boleh diambil lebih kecil daripada:
i. 10db;
ii. 190 mm;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 24


iii. 1,25 kali persamaan (16) di atas.
g.2. Untuk diameter 10 mm hingga 36 mm, panjang penyaluran
tulangan tarik Ld tanpa kait tidak boleh diambil lebih kecil daripada:
i. Dua setengah kali panjang penyaluran yang ditentukan 2.4.3.g.1.
di atas bila ketebalan pengecoran beton di bawah tulangan
tersebut kurang daripada 300 mm;
ii. Tiga setengah kali panjang penyaluran yang ditentukan pada
2.4.3.g.1. di atas bila ketebalan pengecoran beton di bawah
tulangan tersebut melebihi 300 mm.
g.3. Tulangan tanpa kait yang berhenti pada hubungan balok-
kolom harus diteruskan melewati inti terkekang dari kolom atau
elemen batas. Setiap bagian dari tulangan tanpa kait yang tertanam
bukan di dalam daerah inti terkekang kolom harus diperpanjang
sebesar 1,6 kali;
g.4. Bila digunakan tulangan yang dilapisi epoksi, panjang
penyaluran pada 2.4.3.g.1. hingga 2.4.3.g.3. di atas harus dikalikan
dengan faktor-faktor yang berlaku menurut ketentuan SNI 03-2847-
2002 Pasal 12.2.(4) atau Pasal 14.5(3(6)).

2.4.3. Komponen Struktur Pada Sistem Rangka Pemikul


Momen Menengah (SRPMM)
Komponen struktur rangka dalam menahan gaya gempa yang memiliki
daktilitas menengah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

2.4.3.1. Perencanaan untuk Komponen Struktur Lentur

a. Beban aksial terfaktor pada komponen struktur tidak melebihi 0,1 ⋅ A g ⋅ f c ,


'

dan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:


i. Bentang bersih dari komponen struktur tidak boleh kurang dari
empat kali tinggi efektifnya, kecuali untuk balok perangkai dinding
geser;
ii. Rasio dari lebar balok terhadap tinggi balok tidak boleh kurang dari
0,25;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 25


iii. Lebar balok tidak boleh: (a). Kurang dari 200mm; (b). Lebih lebar
dari komponen penumpu (diukur dari bdang tegak lurus terhadap
sumbu longitudinal dari komponen lentur) ditambah jarak yang tidak
melebihi tiga perempat dari tinggi komponen lentur pada tiap sisi
dari komponen penumpu.
b. Tulangan Longitudinal
b.1. Pada setiap irisan penampang dari suatu komponen struktur
lentur tidak boleh kurang dari persamaan (1) dan (2) di atas serta
rasio penulangan ρ tidak lebih dari 0,025.
b.2. Kuat lentur positif komponen struktur pada muka kolom tidak
boleh lebih kecil dari sepertiga kuat lentur negatifnya pada muka
tersebut. Baik kuat lentur positif maupun kuat lentur negatif pada
setiap irisan penampang di sepanjang bentang tidak boleh kurang
dari seperlima kuat lentur yang terbesar yang disediakan pada
muka-muka kolom di kedua ujung komponen struktur tersebut.
b.3. Sambungan lewatan dari tulangan lentur hanya diperbolehkan
bila sepanjang daerah sambungan lewatan tadi dipasang tulangan
sengkang penutup atau tulangan spiral. Jarak maksimum dari
tulangan transversal yang meliliti batang tulangan yang
disambungan lewatan tidak boleh melebihi:
i. d/2;
ii. 200 mm.
c. Tulangan Transversal
c.1. Pada kedua ujung komponen struktur lentur tersebut harus
dipasang sengkang tertutup sepanjang jarak dua kali kali tinggi
komponen struktur diukur dari muka perletakan ke arah tengah
bentang;
c.2. Sengkang tertutup pertama harus dipasang pada jarak tidak
lebih daripada 50 mm dari muka perletakan. Spasi maksimum
sengkang tidak melebihi :
i. d/4;
ii. Sepuluh kali diameter tulangan longitudinal terkecil;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 26


iii. 24 kali diameter sengkang;
iv. 300 mm;
v. 3 ⋅ f y ⋅ As, t b , dimana As,l adalah luas satu kaki dari tulangan
transversal, b adalah lebar badan balok dan fy adalah kuat leleh
tulangan longitudinal (MPa).
c.3. Di daerah yang memerlukan sengkang tertutup, sengkang dan
sengkang ikat harus diatur sedemikian hingga setiap sudut dan
tulangan longitudinal yang berselang harus mempunyai dukungan
lateral yang didapat dari sudut sebuah sengkang atau kait ikat yang
sudut dalamnya tidak lebih dari 135o, dan tidak boleh ada bataing
tulangan yang jarak bersihnya lebih dari 150 mm pada tiap sisi
sepanjang sengkang atau sengkang ikat terhadap batang tulangan
yang didukung secara lateral. Jika tulangan longitudinal terletak
pada perimeter suatu lingkaran, maka sengkang berbentuk
lingkaran penuh dapat dipergunakan;
c.4. Di daerah yang tidak memerlukan sengkang tertutup,
sengkang harus dipasang dengan spasi tidak lebih dari d/2 pada
seluruh panjang komponen struktur tersebut;
c.5. Sengkang tertutup pada komponen struktur lentur boleh dari
dua potongan tulangan, yaitu sebuah sengkang terbuka U yang
mempunyai kait 135-derajat dengan perpanjangan sebesar enam
kali diameter (tetapi tidak kurang 75 mm) yang dijangkar di dalam
inti yang terkekang dan satu kait silang penutup hingga keduanya
membentuk satu gabungan sengkang tertutup. Kait silang penutup
yang berurutan yang mengait pada satu tulangan longitudinal yang
sama harus dipasang sedemikian hingga kait 90 derajat terpasang
berselang pada sisi yang berlawanan dari komponen struktur lentur.
Bila batang tulangan longitudinal yang terikat oleh sengkang kait
penutup hanya dibatasi oleh pelat pada satu sisi dari komponen
struktur rangka lentur, maka kait 90 derajat dari kait silang penutup
silang tersebut harus dipasang di sisi itu.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 27


2.4.3.2. Perencanaan untuk Komponen Struktur Lentur dan Aksial

a. Beban aksial terfaktor pada komponen struktur melebihi 0,1 ⋅ A g ⋅ f c , dan


'

memenuhi kondisi sebagai berikut:


i. Dimensi penampang terpendek, diukur pada satu garis lurus yang
melalui titik berat penampang, tidak boleh kurang dari 250 mm;
ii. Rasio dimensi penampang terpendek dihitung terhadap dimensi
tegak lurus padanya tidak boleh kurang dari 0,4;
iii. Rasio antara tinggi kolom terhadap dimensi penampang kolom yang
terpendek tidak boleh lebih besar dari 25.
b. Tulangan longitudinal
i. Rasio tulangan ρ tidak boleh kurang dari 0,01 dan tidak boleh lebih
dari 0,06 dan 0,08 pada daerah sambungan;
ii. Sambungan lewatan hanya digunakan di luar daerah sendi plastis
potensial dan harus proporsikan sebagai sambungan tarik.
Sambungan mekanis dan las yang sesuai dengan ketentuan SNI 03-
2847-2002 Pasal 23.2(6) dan Pasal 23.2(7) boleh digunakan untuk
menyambung tulangan pada sebarang tempat asal pengaturan
penyambungan batang tulangan longitudinal pada satu penampang
tidak lebih dari pengaturan berselang dan jarak antara sambungan
adalah 600 mm atau lebih sepanjang sumbu longitudinal dari
tulangan.
c. Tulangan Transversal
c.1. Pada seluruh tinggi kolom harus dipasang tulangan transversal
menurut ketentuan SNI-2847-2002 Pasal 13.1 hingga Pasal 13.5
kecuali bila diperlukan suatu jumlah yang lebih besar menurut
ketentuan 2.4.4.2.c.2. berikut;

c.2. Tulangan transversal boleh terdiri dari sengkang tertutup


tunggal atau majemuk atau menggunakan kait silang penutup
dengan diameter dan spasi yang sama dengan diameter dan spasi
yang ditetapkan untuk sengkang tertutup. Setiap ujung dari kait
silang penutup yang berurutan harus diatur sehingga kait ujungnya

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 28


terpasang berselang sepanjang tulangan longitudinal yang ada.
Tulangan transversal harus dipasang dengan spasi tidak melebihi:
i. Setengah dari dimensi komponen struktur yang terkecil;
ii. Lebih kecil atau sama dengan 10 kali diameter tulangan
memanjang;
iii. Lebih kecil atau sama dengan 200 mm.
c.3. Pada setiap muka joint dan pada kedua sisi dari setiap
penampang dari rangka harus dipasang tulangan transversal dengan
jumlah sesuai dengan jumlah seperti yang ditentukan dalam
2.4.4.2.c.1 dan 2.4.4.2.c.2 di atas, sepajang Lo dari muka yang
ditinjau. Panjang Lo tidak boleh kurang dari:
i. Tinggi komponen dimensi struktur untuk N uk ≤ 0,3 ⋅ Ag ⋅ fc ;
'

ii. Satu setengah kali tinggi komponen dimensi struktur untuk

N uk > 0,3 ⋅ Ag ⋅ fc' ;

iii. Seperenam tinggi bersih kolom;


iv. 450 mm.
c.4. Bila gaya tekan aksial terfaktor yang berhubungan dengan
pengaruh gempa yang bekerja pada komponen struktur nilainya

melampaui 0,1 ⋅ A g ⋅ f c , maka pada seluruh tinggi kolom yang berada


'

dibawah ketinggian dimana terjadi pengakhiran komponen struktur


kaku dan yang memikul reaksi dari komponen struktur kaki yang
terputus tadi, misalnya dinding, harus diberi tulangan transversal
seperti yang ditentukan oleh 2.4.4.2.c.1. dan 2.4.4.2.c.2. di atas,
harus menerus ke dalam dinding paling tidak sejarak panjang
penyaluran dari tulangan longitudinal kolom yang terbesar pada titik
pemutusan. Bila kolomnya berakhir pada suatu pondasi telapak atau
pondasi rakit, maka tulangan transversal yang memenuhi
2.4.4.2.c.1. dan 2.4.4.2.c.2. di atas harus menerus paling kurang 300
mm ke dalam pondasi tersebut.
d. Dinding diafragma dan rangka batang struktural
d.1. Tulangan:

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 29


i. Rasio tulangan untuk dinding struktural tidak boleh kurang dari
ketentuan SNI 03-2847 Pasal 16.3. di bawah. Spasi tulangan pada
tiap arah tidak boleh
melebihi 450 mm. Tulangan yang dipasang untuk mendapatkan
kuat geser harus menerus dan harus didistribusikan pada seluruh
bidang geser;
ii. Bila tebal dinding lebih besar atau sama dengan 200 mm, dan
atau bila nilai
gaya geser terfaktor yang bekerja pada suatu bidang dinding
melampui
A cp ⋅ f c' 6 , maka pada dinding tersebut paling sedikit harus

dipasang dua lapis tulangan;


iii. Komponen struktur rangka batang, strat, struktur pengikat, dan
komponen struktur pengumpul yang mengalami tegangan tekan

lebih dari 0, 2 ⋅ f c' harus diberi tulangan transversal khusus, seperti


yang ditentukan pada 2.4.4.2.c.1. di atas, untuk seluruh panjang
komponennya; Tulangan transversal khusus tersebut boleh
dihentikan pada suatu penampang di mana tegangan tekan yang

didapat dari perhitungan lebih keci dari 0,15 ⋅ f c' . Tegangan harus
dihitung untuk gaya terfaktor menggunakan suatu model elastis
linear dan sifat penampang bruto dari komponen struktur ditinjau;
iv. Semua tulangan yang menerus dalam komponen struktural
dinding, diafragma, rangka batang, strut, struktur pengikat,
chord, dan komponen struktur pengumpul struktural harus
dijangkar atau disambung sesuai dengan ketentuan SNI 03-2847-
2002 Pasal 14.
d.2. Komponen struktur pembatas untuk dinding dan diafragma
struktural
i. Pada batas dan sekeliling sisi-sisi bukaan dari dinding diafragma
struktural dimana tegangan serta terluar maksimum, akibat gaya
terfaktor dimana sudah termasuk pengaruh gaya gempa,

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 30


melampaui 0, 2 ⋅ f c' harus dipasang komponen struktur pembatas,
kecuali bila seluruh komponen struktur dinding atau diafragma
telah diperkuat hingga memenuhi ketentuan tulangan transversal
c.1. dan c.2. di atas, komponen struktur pembatas boleh
dihentikan pada daerah dimana tegangan tekan yang didapat dari

perhitungan lebih kecil dari 0,15 ⋅ f c' . Tegangan harus dihitung


untuk gaya terfaktor menggunakan suatu model elatis linier dan
sifat penampang bruto;
ii. Komponen struktur pembatas, bila diperlukan, harus mempunyai
tulangan transversal seperti yang ditentukan dalam tulangan
transversal 2.4.4.2.c.1. dan 2.4.4.2.c.2. di atas;
iii. Komponen struktur pembatas dari dinding struktural harus
diproporsikan untuk memikul seluruh beban gravitasi terfaktor
yang bekerja pada dinding, termasuk beban tributari dan berat
sendiri, dan juga gaya vertikal yang diperlukan untuk menahan
momen guling yang dihitung dari gaya terfaktor yang
berhubungan dengan pengaruh gaya gempa;
iv. Komponen struktur pembatas dari diafragma struktural harus
diproporsikan untuk menahan jumlah dari gaya tekan yang
bekerja di dalam bidang diafragma dan gaya yang didapat
dengan membagi momen terfaktor pada penampang dengan
jarak antara sisi sisi diafragma pada penampang tersebut;
v. Tulangan transversal di dalam dinding yang mempunyai
komponen struktur pembatas harus dijangkarkan ke dalam inti
terkekang dari komponen struktur pembatas untuk
memungkinkan terjadinya pengembangan tegangan leleh tarik
dari tulangan transversal tersebut;
vi. Jarak antara tulangan vertikal tidak boleh diambil lebih dari 200
mm di dalam daerah ujung sepanjang Lo dan 300 mm di luar
daerah ujung sepanjang Lo;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 31


vii.Jarak antar tulangan di luar daerah ujung Lo tidak boleh diambil
lebih dari tiga kali tebal dinding, seperlima lebar dinding dan 450
mm;
viii. Jarak antar tulangan horisontal di dalam daerah ujung Lo tidak
boleh diambil lebih dari 200 mm;
ix. Panjang daerah ujung Lo tidak boleh diambil kurang dari lebar
dinding, seperenam dari tinggi dinding dan tidak perlu lebih besar
dari dua kali lebar dinding.
e. Semua siar pelaksanan di dalam dinding dan diafragma harus
memenuhi ketentuan yang berlaku dan permukaan temu harus
dikasarkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan menurut SNI 03-
2847-2002 Pasal 13.7(9).

2.4.3.3. Persyaratan Kuat Geser


a. Kuat geser rencana, Vu, akibat beban lentur, beban lentur dan aksial
dapat dihitung akibat termobilisasinya kuat lentur nominal komponen
struktur pada setiap ujung bentang bersihnya dan gaya lintang akibat
beban gravitasi terfaktor, (Seperti yang dilukiskan dalam Gambar 2.5),
atau
b. Gaya geser rencana maksimum yang diperoleh dari kombinasi beban
rencana termasuk pengaruh beban gempa, E, dimana nilai E diambil
sebesar dua kali nilai yang ditentukan dalam peraturan perencanaan
gempa.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 32


3
(1, 2WD +1, 6WL )
4

Mnl Mnr

Ln

Gaya lintang balok

M +M 3
Vu = nl + nr +(1, 2W
⋅ D 1, 6WL ) Ln
Ln 8

Pu
Mnt
Gaya lintang kolom

hn

Mnl
M +M nb
Pu Vu = nt
hn

Gambar 2. 5 Gaya geser rencana untuk SRPMM

c. Tulangan transversal dalam komponen struktur rangka sebagai berikut:


i. Untuk menentukan tulangan transversal perlu di dalam komponen

struktur rangka akibat gempa dihitung berdasarkan 0,5 ⋅ Vc yang


ditentukan menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 13 untuk lokasi
sepanjang d dari muka kolom dan juga sepanjang daerah ujung dari
kolom. Untuk daerah di luar daerah tersebut kontribusi Vc tetap
diperhitungkan sesuai dengan ketentuan SNI 03-2847-2002 Pasal
13.
ii. Sengkang atau sengkang pengikat yang diperlukan untuk menahan
geser harus merupakan sengkang tertutup yang dipasang pada
seluruh panjang komponen struktur seperti yang ditentukan
menurut ketentuan 2.4.4.2.b. dan 2.4.4.2.c.1. di atas.
d. Kuat geser dari dinding dan diafragma struktur
i. Kuat geser nominal dari dinding dan diafragma struktural harus
ditentukan menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 13;

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 33


ii. Dinding (diafragma) harus memiliki tulangan geser yeng tersebar
yang memberikan perlawanan dalam dua arah yang saling tegak

lurus dalam bidang dinding (diafragma). Bila rasio h w l w tidak


melebihi 2,0 rasio tulangan, ρ, tidak boleh kurang dari rasio tulangan
ρn .

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 34


B
AB
III

DATA PERENCANAAN

3.1. Material Konstruksi


Secara garis besar ada empat material pokok yang digunakan pada Proyek
Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan, yaitu :
1. beton
2. baja tulangan dan
3. baja profile

3.1.1. Beton
Beton pada komponen struktur yang menahan gaya yang timbul akibat
gempa sebagai berikut:
a. Kuat tekan fc’ dari beton tidak boleh kurang dari 20 MPa;
b. Kuat tekan dari beton agregat ringan yang digunakan dalam
perencanaan tidak boleh melampaui 30 MPa.

Mutu beton yang digunakan pada berbagai elemen struktur pada


bangunan Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan ini
adalah beton kelas K-250 dengan karakteristik sebagai berikut:
fk = 25 MPa
fc’ = 20.75 Mpa
Ec = 21443 MPa

3.1.2. Baja Tulangan

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 1


Tulangan lentur dan aksial yang digunakan dalam komponen struktur dari
sistem rangka dan komponen batas dari sistem dinding geser harus
memenuhi ketentuan ASTM A 706. Tulangan yang memenuhi ASTM A615
mutu 300 dan 400 boleh digunakan dalam komponen struktur di atas bila:
a. Kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak melampaui
kuat leleh yang ditentukan lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh
memberikan hasil yang melampaui harga ini lebih dari 20 MPa);
b. Rasio dari tegangan tarik batas aktual terhadap kuat leleh tarik
aktual tidak kurang dari 1,25.

Baja tulangan yang digunakan pada semua elemen struktur adalah baja
dengan spesifikasi sebagai berikut :
Tegangan leleh : diameter ≤ 12 mm : BJTP-24, fy = 240 MPa
diameter ≥ 13 mm : BJTD-40, fy = 400 MPa
Modulus Young (E) : 200000 Mpa

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 2


3.1.3. Baja Profile dan Pelat
Baja profile dan pelat yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
Grade : SS400
Tegangan Leleh Minimum : 240 MPa
Tegangan ultimate Minimum : 370 MPa
Modulus elastisitas : 200000 MPa

3.2. Beban Perencanaan


Balikpapan merupakan kota dengan wilayah zona gempa 2, sehingga
beban gempa yang bekerja terhadap struktur tidaklah terlalu signifikan.
Beban yang besar berasal dari beban hidup mengingat fungsi dari
bangunan ini adalah stadion yang harus mampu memikul beban hidup
yang cukup besar.
3.2.1. Beban Gravitasi
Besarnya beban-beban tersebut dapat dilihat pada tabel rencana
pembebanan sebagai berikut :

Beban Mati :
Beton : 25.0 kN/m3
Finishing 1.5 kN/m2
Dinding bata 15 cm penuh : 2.5 kN/m2
Dinding bata 15 cm tidak 1.5 kN/m2
penuh

Beban Hidup :
Manusia 3 kN/m2

3.2.2. Beban Gempa

Untuk perencanaan dan konstruksi komponen struktur beton bertulang


dari suatu struktur, untuk mana gaya rencana, akibat gerak gempa, telah
ditentukan berdasarkan dissipasi energi di dalam daerah nonlinier dari
respon struktur tersebut. Dalam hal ini beban rencana lateral dasar akibat
gerakan gempa untuk suatu daerah harus diambil sesuai dengan

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 3


ketentuan yang ditetapkan dalam SNI 1726-2002 tentang Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung.

Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan ini direncanakan


terhadap beban gempa dengan return period 500 tahun sesuai dengan
peraturan kegempaan yang berlaku pada saat sekarang ini. Berdasarkan
peta tersebut, spectra percepatan di batuan dasar untuk wilayah
Balikpapan adalah 0.1 g seperti tampak pada gambar berikut ini.

Gambar 3. 1 Peta Gempa Indonesia

Langkah selanjutnya adalah penentuan faktor amplifikasi yang akan


mengikuti prosedur seperti yang diatur pada UBC’97. Untuk keperluan
design maka percepatan spektra rencana / percepatan puncak muka tanah
(Ao) adalah 0.2g.

Dengan demikian respon spektra rencana di permukaan tanah adalah


sebagai berikut :

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 4


0.600

0.500

0.400

C (g)
0.300

0.200

0.100

0.000
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Periode (s)

Gambar 3. 2 . Respon Spektra Balikpapan Kondisi Tanah Lunak

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 5


Beban gempa terdiri dari gaya inersia massa bangunan yang diakibatkan
oleh goyangan seismik pada pondasi bangunan tersebut. Tahanan gempa
didesain untuk menahan translasi gaya-gaya inersia, yang pengaruhnya
pada bangunan sangat signifikan dibandingkan komponen goyangan
vertikal lainnya.

Kerusakan lain akibat gempa yang mungkin muncul, seperti longsor,


penurunan sub sidence, patahan aktif dibawah pondasi ataupun liquifaksi
akibat getaran. Gangguan ini bersifat lokal dan dapat menjadi besar
sehingga kemungkinannya disarankan untuk pemilihan lokasi bangunan.

Ketika gempa terjadi, intensitasnya dihubungkan dengan frekuensi


kejadiannya. Gempa yang merusak jarang terjadi, tetapi yang
sedang/moderat lebih sering terjadi, dan yang paling kecil sangat sering
terjadi. Walaupun dapat didesain suatu bangunan yang menahan gempa
yang paling merusak tanpa kerusakan yang berarti, mau tidak mau
kebutuhan akan kekuatan bangunan selama masa layanan tidak
membenarkan biaya tambahan yang besar. Konsekuensinya, filosofi umum
untuk mendesain bangunan tahan gempa didasarkan pada prinsip, yaitu:

1. menahan gempa kecil tanpa kerusakan;


2. menahan gempa sedang/moderat tanpa kerusakan struktural tetapi
menerima kemungkinan kerusakan non-struktural
3. tahanan rata-rata gempa dengan probabilitas struktur seperti halnya
kerusakan non-struktural, tetapi tidak roboh

Beberapa penyesuaian dibuat berdasatkan prinsip-prinsip diatas sebagai


pengenalan bahwa bangunan dengan suatu fungsi penting tertentu harus
dapat menahan kejadian gempa yang lebih kuat lagi.

Besarnya beban gempa adalah hasil respon dinamis bangunan terhadap


goyangan pada pondasi. Untuk memprediksi beban seismik, ada dua

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 6


pendekatan umum yang digunakan, dimana dengan memperhatikan
catatan kejadian gempa masa lalu didaerah tersebut dan sifat-sifat
struktur.

Pendekatan pertama, prosedur gaya lateral ekuivalen, menggunakan


suatu estimasi sederhana terhadap periode alami bangunan dan antisipasi
percepatan maksimum permukaan, bersamaan dengan faktor-faktor
relevan lainnya dalam menentukan geser dasar maksimum. Pembebanan
horisontal ekuivalen untuk gaya geser ini kemudian didistribusikan dengan
bebarapa cara yang ditentukan melalui ketinggian bangunan sebagai
suatu analisa statis struktur. Gaya-gaya desain yang digunakan dalam
analisa statis ini harus lebih kecil dari gaya aktual yang ada pada
bangunan. Pertimbangan untuk menggunakan gaya desain yang lebih
kecil termasuk potensi kekuatan bangunan ditetapkan oleh tingkatan
working stress, redaman ditetapkan oleh komponen bangunan dan reduksi
gaya akibat daktilitas efektif elemen struktur yang melebihi batas elastis.
Metode yang cepat dan sederhana dan direkomendasikan untuk bangunan
tinggi tanpa pengecualian dari aturan-aturan struktur. Ini juga bermanfaat
untuk desain awal bangunan tinggi.

Pendekatan kedua, prosedur berdasarkan analisa modal dimana frekuensi


modal struktur dianalisa dan kemudian digunakan untuk estimasi respons
modal maksimum. Kombinasi ini untuk mendapatkan nilai respon
maksimum. Prosedur ini lebih kompleks dan lama daripada prosedur gaya
lateral ekivalen tetapi lebih akurat seperti halnya pendekatan prilaku non-
linier dari struktur.

3.2.3. Kombinasi Pembebanan


Ada dua group kombinasi pembebanan yang ditinjau, yang pertama
adalah kombinasi pembeban yang berkaitan dengan kekuatan dan
kemampuan layan pada struktur yang dihitung menurut ketentuan SNI
03-2847-2002 Pasal 11 (kondisi ultimate limit state), sedangkan kombinasi

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 7


pembebanan group yang kedua adalah berdasarkan kondisi service limit
state. Kombinasi pembebanan group kedua ini digunakan untuk
perencanaan struktur bawah (fondasi).

Kondisi Ultimate Limit State (ULS) :


1. 1.4DL
2. 1.2DL + 1.6LL
3. 1.2DL + 0.5LL + 1.1EQX + 0.33EQY
4. 1.2DL + 0.5LL + 1.1EQX - 0.33EQY
5. 1.2DL + 0.5LL - 1.1EQX + 0.33EQY
6. 1.2DL + 0.5LL - 1.1EQX - 0.33EQY
7. 1.2DL + 0.5LL + 0.33EQX + 1.1EQY
8. 1.2DL + 0.5LL + 0.33EQX - 1.1EQY
9. 1.2DL + 0.5LL - 0.33EQX + 1.1EQY
10. 1.2DL + 0.5LL - 0.3EQX - 1.1EQY
11. 0.9DL + 1.1EQX + 0.33EQY
12. 0.9DL + 1.1EQX - 0.33EQY
13. 0.9DL - 1.1EQX + 0.33EQY
14. 0.9DL - 1.1EQX - 0.33EQY
15. 0.9DL + 0.33EQX + 1.1EQY
16. 0.9DL + 0.33EQX - 1.1EQY
17. 0.9DL - 0.33EQX + 1.1EQY
18. 0.9DL - 0.3EQX - 1.1EQY
Kondisi Service Limit State :
1. DL < R
2. DL + LL < R
3. DL + 0.5LL + 1.1EQX + 0.33EQY < 1.5 R
4. DL + 0.5LL + 1.1EQX - 0.33EQY < 1.5 R
5. DL + 0.5LL - 1.1EQX + 0.33EQY < 1.5 R
6. DL + 0.5LL - 1.1EQX - 0.33EQY < 1.5 R
7. DL + 0.5LL + 0.33EQX + 1.1EQY < 1.5 R
8. DL + 0.5LL + 0.33EQX - 1.1EQY < 1.5 R

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 8


9. DL + 0.5LL - 0.33EQX + 1.1EQY < 1.5 R
10. DL + 0.5LL - 0.33EQX - 1.1EQY < 1.5 R
11. 0.9DL + 1.1EQX + 0.33EQY < 1.5 R
12. 0.9DL + 1.1EQX - 0.33EQY < 1.5 R
13. 0.9DL - 1.1EQX + 0.33EQY < 1.5 R
14. 0.9DL - 1.1EQX - 0.33EQY < 1.5 R
15. 0.9DL + 0.33EQX + 1.1EQY < 1.5 R
16. 0.9DL + 0.33EQX - 1.1EQY < 1.5 R
17. 0.9DL - 0.33EQX + 1.1EQY < 1.5 R
18. 0.9DL - 0.3EQX2 - 1.1EQY < 1.5 R
Dimana:
DL : beban mati
LL : beban hidup
EQX : beban statik gempa arah X
EQY : beban statik gempa arah Y
R : Daya dukung ijin pondasi

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 9


B
AB
IV

ANALISIS STRUKTUR

4.1. Model Struktur


Struktur Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan
dimodelkan sebagai portal terbuka 3D (open-frame structure) yang
berfungsi untuk menahan baik beban gravitasi maupun beban gempa,
sesuai dengan kekakuan dari masing-masing sistem. Struktur gedung ini
memiliki 2 lantai, 2 lantai dasar dan atap. Portal terbuka digunakan
dengan pertimbangan bahwa bangunan tidak terlalu tinggi (kurang dari 40
m). Portal yang terdiri dari balok dan kolom, disatukan oleh pelat lantai
yang juga berfungsi sebagai diafragma yang kaku, sehingga pergerakan
baik translasi maupun rotasi pada lantai akan seragam. Di dalam Gambar
4.1 ditunjukkan sistem struktur Proyek Pembangunan Prasarana Squash
Kota Balikpapan yang diplot oleh komputer.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 1


Gambar 4. 1 Sistem Struktur yang Terjepit Pada Taraf Lantai Dasar

4.2 Perangkat Lunak Yang Digunakan Dalam Perhitungan


Analisis Struktur untuk proyek Pembangunan Prasarana Squash di Kota
Balikpapan ini dilakukan dengan menggunakan Program ETABS sedangkan
untuk analisis kapasitas kolom digunakan software PCACOL

4.3 Sistem Struktur


Pada dasarnya sistem struktur atas terbuat dari beton bertulang dan
merupakan portal-portal terbuka. Dalam hal ini, seluruh struktur
menggunakan sistem pelat dengan balok. Secara keseluruhan sistem
struktur ini adalah tidak simetris simetris dan termasuk tidak beraturan,
sehingga tidak perlu dilakukan analisis respon dinamis secara 3D sesuai
dengan ketentuan SNI 03-1726-2002 Pasal 7.1.1.
Kekakuan unsur-unsur struktur beton bertulang dihitung berdasarkan
pengaruh pereletakan beton sesuai dengan ketentuan SNI 03-1726-2002
Pasal 5.5.1. Untuk itu, momen inersia penampang unsur struktur dapat
ditentukan dengan sebesar momen inersia penampang utuh dikalikan

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 2


dengan suatu persentase efektifitas penampang, dimana untuk kolom dan
balok persentase efektifnya adalah 75%.

0.600

0.500

0.400
C (g)

0.300

0.200

0.100

0.000
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Periode (s)

Gambar 4. 2 Respons Spectrum Gempa Rencana Wilayah 2 (tanah lunak)

4.4 Kekuatan Struktur Beton Bertulang


Unsur-unsur struktur pada struktur gedung ini direncanakan kekuatannya
berdasarkan prinsip-prinsip perencanaan beban dan kuat faktor (load and
resistance factor design), yang mana faktor beban diberikan oleh
kombinasi pembebanan pada bab III, sedangkan faktor kekuatan menurut
ketentuan SNI 03-2847-2002 Pasal 11.3. Dengan tulangan yang terpasang,
kekuatan balok dan kolom pada setiap pertemuannya harus juga
memenuhi persyaratan “kolom kuat balok lemah” menurut ketentuan SNI
03-1726-2002 Pasal 4.5. Hal ini berarti, bahwa kapasitas (momen leleh)
penampang kolom selalu harus lebih besar dari pada kapasitas (momen
leleh) penampang baloknya di setiap pertemuan. Dengan demikian, pada
saat Gempa Rencana bekerja, sendi-sendi plastis diharapkan akan
terbentuk pada ujung-ujung balok dan kaki kolom pada lantai dasar.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 3


Adapun hasil analisis penulangan pada kolom dan balok dapat diberikan
sebagai berikut.

4.4.1. Kolom
Analisis dan desain kolom pada struktur gedung ini dilakukan
menggunakan program PCACOL V.2.3. Adapun denah dan tipe kolom pada
struktur gedung ini dapat diberikan menurut gambar berikut ini.

Gambar 4. 3. Denah dan Tipe Kolom elevasi +8.95 m

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 4


Gambar 4. 4. Denah dan Tipe Kolom elevasi +5.15 m

Gambar 4. 5. Denah dan Tipe Kolom elevasi +2.75 m

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 5


Gambar 4. 6. Denah dan Tipe Kolom elevasi +2.05 m

Gambar 4. 7. Denah dan Tipe Kolom elevasi +0.7 m

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 6


1.1. Kolom K-1 kolom bundar diameter 550 mm
a). Elevasi +0.7 m sd. +8.95 m

Dari hasil analisis struktur diperoleh gaya-gaya dalam yang bekerja pada
kolom lantai Elevasi +0.7 sd. +8.95 m sebagai berikut.

Tabel 4. 1 . Gaya-gaya Dalam Pada Kolom K1 Lantai elevasi +0.7 m sd. +8.95 m

Story Colu
ELEV+0.7
Dari hasil gaya-gaya dalam di atas, maka dengan menggunakan sebanyak
13D19 (1.55%) diperoleh diagram interaksi Pn – Mn sebagai berikut.
C21
ELEV+5.15 C24
ELEV+0.7 C22
ELEV+0.7 C24
ELEV+2.75 C24
Gambar 4. 8. Diagram Interaksi Pn – Mn Pada Kolom K1 Lantai elevasi +0.7 sd.
+8.95 m

ELEV+0.7
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan C23 7
1.2. Kolom K-2 600mm x 600mm
a) Elevasi +0.7 m sd. +2.75 m
Dari hasil analisis struktur diperoleh gaya-gaya dalam yang bekerja pada
kolom K1A sebagai berikut.

Tabel 4. 2. Gaya-gaya Dalam Pada Kolom K-2 elevasi +0.7 m sd. +2.75 m

Story Colu
ELEV+0.7 C2
Dari hasil gaya-gaya dalam di atas, maka dengan menggunakan sebanyak
18D19 (1.42%) diperoleh diagram interaksi Pn – Mn sebagai berikut.

ELEV+2.75 C2
ELEV+2.05 C2
ELEV+2.05 C2
ELEV+2.05 C2
Gambar 4. 9. Diagram Interaksi Pn – Mn Pada Kolom K-2

ELEV+2.05 C2
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 8
1.3. Kolom K-3 500 mm x 500 mm
a) Elevasi + 0.7 m sd. 5.15 m
Dari hasil analisis struktur diperoleh gaya-gaya dalam yang bekerja pada
kolom K-3 sebagai berikut.

Tabel 4. 3. Gaya-gaya Dalam Pada Kolom K-3

Story Co
ELEV+0.7
Dari hasil gaya-gaya dalam di atas, maka dengan menggunakan sebanyak
18D19 (2.04%) diperoleh diagram interaksi Pn – Mn sebagai berikut.
C
ELEV+2.75 C
ELEV+2.75 C
ELEV+2.75 C
ELEV+2.75
Gambar 4. 10. Diagram Interaksi Pn – Mn Pada Kolom K-4
C
ELEV+2.75
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan C
9
1.4. Kolom K4 200 mm x 500 mm
a) Elevasi +5.15 m sd. 8.95 m
Dari hasil analisis struktur diperoleh gaya-gaya dalam yang bekerja pada
kolom K-4 sebagai berikut.

Tabel 4. 4. Gaya-gaya Dalam Pada Kolom K-4

Story Col
ELEV+5.15
Dari hasil gaya-gaya dalam di atas, maka dengan menggunakan sebanyak
20D13 (2.65%) diperoleh diagram interaksi Pn – Mn sebagai berikut.
C2
ELEV+8.95 C2
ELEV+8.95 C2
ELEV+8.95 C2
ELEV+8.95
Gambar 4. 11. Diagram Interaksi Pn – Mn Pada Kolom K-4
C2
ELEV+8.95
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan
C2
10
4.4.2. Balok

2.1. Balok 250 x 500 mm (B1)


Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

2
2.2.
(mm )
Balok 300 x 600 mm (B2A)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

Tul. 2
atas
2.3.
mm
Balok 300 x 600 mm (B2B)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

Tul. bawah
2
2.4.
Tul.Atas 2
mm
Balok 300x600 mm (B2C)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

2
Tul.Atas 28
2.5. Tul.Bawah
mm
Balok 300x600 mm (B3)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

Tul.Bawah
2
Tul.Atas
mm 22
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 11

Tul.Bawah
2.6. Balok 200 x 400 mm (B4)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

2
2.7.
mm
Balok 300 x 600 mm (CB2)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan :

2
2.8. T ul.A
mmtas 676
Balok 200 x 1100 mm (BL1)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan

2.9.
TTul.Atas
ul.B
mmaw 2 ah 220
Balok 200 x 900 mm (BL2)
Dari hasil perhitungan ETABS versi 9.0.0 didapatkan

Tul.Bawah
2
Tul.Atas
mm 6
Tul.Bawah
Tul.Atas 5
Tul.Bawah 2
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 12
4.4.3. Sloof
Peraturan yang digunakan mengacu pada SNI-2847-2002 pasal 28.3
mengenai fundasi dan juga menggunakan referensi ACI 318-89 untuk
membantu menyelesaikan perhitungan disain dari fundasi ini.

Balok di atas tanah yang direncanakan sebagai pengikat horizontal antar


poer harus direncanakan demikian sehingga ukuran penampang
minimumnya harus direncanakan demikian sehingga ukuran penampang
minimum sama dengan atau lebih besar dari 1/20 bentang bersihnya, tapi
tidak perlu lebih besar daripada 450 mm. Sengkang tertutup harus
dipasang dengan spasi tidak lebih besar daripada setengah dimensi
terkecil penampang, tapi tidak boleh lebih besar daripada 300 mm (pasal
23.8.3)

Tie beam/sloof didisain untuk memikul beban tarik/tekan sebesar 10% dari
gaya aksial terfaktor yang dipikul oleh kolom yang bersangkutan.

4.4.3.1. Perencanaan Sloof S1


Untuk perencanaan tie beam S1, dengan gaya aksial terfaktor di dasar
kolom adalah Pu=171.787
Ton. Maka gaya tarik dan tekan diambil 10% dari gaya aksial tersebut,
yaitu Ptarik= 17.18
Ton dan Ptekan= - 17.18 Ton.

Tie beam terbuat dari material komposit beton yang memikul gaya tekan
dan baja yang memikul gaya tarik.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 13


Dimensi balok Tie Beam/sloof digunakan 200/450. Tulangan yang
digunakan pada balok sloof adalah tulangan ganda. dengan diameter
tulangan bawah digunakan 16 mm (As), diameter tulangan atas 16 mm
(As’=0.5As) dan selimut beton diasumsikan 40 mm (SNI-2847-2003 pasal
9.7 : Pelindung beton untuk tulangan ).

Mengecek kapasitas tarik dari sloof :


Untuk merencanakan tulangan tarik digunakan gaya dalam PTarik = 17.18
ton
π
T = Asxfy = (5 x x16 2 ) mm 2 x 240 MPa
4
= 24 .12 Ton
φtT = 0.8x 24 .12 =19 .29 ton< Ptarik(=17 .18 ton) (OK!!)

Jadi untuk tulangan tarik digunakan 5 D16.


Mengecek kapasitas tekan sloof :
Gaya tekan dipikul oleh beton, Ptekan = -17.18 ton
Digunakan 6 buah tulangan D16
∑Fx = 0
T =C
A sxf y 1205 .76 x 240
a= = = 82 .04 mm
0.85 fc ' xb 0.85 x 20 .75 x 200
a
c= = 96 .51 mm
β

C= 0.85 x f ' c x b x a = 0.85 x 20.75 x 200x 96.51 = 34.04 Ton


φc C = 0.7 xC = 23 .83 Ton ≤ Ttekan (=17 .18 ton ) (OK!!)

Jadi untuk tulangan tekan digunakan 6 D16

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 14


Perencanaan tulangan geser:
1 1
Vc= f 'cxbxd = 20 .75 x 200 x354 = 5.38 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 17.18 Ton, adalah 1,35 ton masih
dapat dipikul oleh beton.
sehingga hanya digunakan sengkang minimum.
Vs= Av x fyx d/s
75 20 .75 bxs 75 20 .75 200 xs Av
Av min = = x  = 0.237
1200 fy 1200 240 s
digunakan tulangan sengkang berdiameter 10 mm
Av
maka s= = 662 .447 mm≈ digunakan
tulangan
sengkang
dengan
diameter
10 mm
0.237
≤ 600 mm
≤ 0.5d =117 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 565 .2 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 10 mm dengan spasi 117 mm


diambil spasi 100 mm

Kesimpulan :
Digunakan tulangan tekan 6 D16
tulangan tarik 5 D16
tulangan geser D10 spasi 100 mm

4.4.4. Pile Cap


Disain fundasi terdiri dari disain kebutuhan jumlah tiang pancang
berdasarkan daya dukung tiang pancang dan disain dari pile cap yang
merupakan media untuk mengikat grup tiang pancang tersebut.
Pada awal perencanaan bangunan, ditetapkan bahwa fundasi tiang
pancang direncanakan sebagai perletakan jepit, sehingga dalam
mendisain tiang pancang ini harus mengakomodasi fungsi jepit tersebut.

4.4.4.1. Tiga Tiang pancang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 15


Penulangan pile cap untuk 3 tiang pancang dilakukan dengan asumsi
bahwa reaksi pada kolom harus dapat didistribusikan dengan baik ke tiang
pancang. Sehingga pile cap harus didesain lebih kuat dari kolom yang
dipikulnya.
Dari hasil analisis struktur diperoleh reaksi maksimum yang terjadi pada
pile cap 3 tiang adalah
Pu = 67.884 Ton.

Tebal pile cap di ambil 750 mm, mengacu pada buku Tomlinson
Foundation desing and construction p.386. Ketebalan pile cap harus dibuat
cukup untuk menghindari terjadinya punching shear antara tiang pancang
dengan pelat pile cap.

Maka digunakan tulangan longitudinal berdiameter 16 (untuk tulangan


tarik) dan 16 mm (untuk tulangan tekan), tulangan sengkang berdiameter
13 mm.
Tebal selimut beton digunakan 100 mm ( SNI-2847-2002, pasal 9.7
Pelindung beton untuk tulangan, untuk beton yang dicor di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah tebal selimut beton min = 75 mm).

Cek Punching shear:


1  2 
a. Vc= x
1+  f 'c xboxd
6  βc 

1924
di mana βc = = 1.15
1666
( βc= Perbandingan antara sisi panjang dengan sisi pendek dari
kolom yang sedang ditinjau)
bo= (d/2+400+320/2)2 = (750/2 + 400+160) = 935x2 = 1870 mm
d1=750-100-(16/2)mm = 642 mm
sehingga,
1 2 
 f 'c xboxd = 
1 2 
Vc= 1 + 1 +  20 .75 x1870 x 4x642 = 998.64 Ton
6 βc 
 6  1 .15 

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 16


 α xd 1
b. Vc=  s +  f 'c xbo xd , di mana αs= 20 untuk kolom pojok
 12 xbo 6 

 20 x642 1
= = +  20 .75 x1870 x 4x642 = 677.497 Ton
 12 x 4 x1870 6

c. Vc= 4 x f ' c xb o xd =8749.95 Ton


Maka nilai Vc yang digunakan adalah nilai terkecil dari poin a,b, dan c,
yaitu Vc= 677.497 ton ФVc=0.6x 677.497 ton = 406.498 ton.

Gaya geser akibat beban aksial Pu=67.884 Ton < ФVc (OK!!)
Tidak terjadi punching shear.

Penulangan longitudinal pada pelat pile cap:

Gaya dalam yang digunakan dalam mendisain tulangan pile cap ini berasal
dari gaya aksial tidak terfaktor (akibat kombinasi 1DL+1SDL+1LL saja),

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 17


yaitu Pu = 67.884 Ton. Dengan eksentrisitas dari tepi kolom ke tengah-
tengah tiang pancang pada arah sumbu y adalah ey= 500 mm dan pada
arah sumbu x adalah ex= 500 mm. Sehingga momen yang bekerja pada
daerah tengah-tengah tiang pancang pada arah sumbu y, adalah My=
33.94 Ton.m dan momen yang bekerja pada tengah-tengah tiang pancang
pada arah sumbu x adalah Mx= 33.94 Ton.m.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 18


Perencanaan tulang
d= 634
asumsi awal a = 0.85

ФMn >
Mn > M
Mn > 3
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 19

T x (d-
Penulangan sengkang pada pelat pile cap:
1 1
Vc= f 'cxbxd = 20 .75 x1924 x634 = 92 .61 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 67.884 Ton, masih dapat dipikul oleh
beton.
sehingga hanya digunakan sengkang minimum.
Vs= Av x fyx d/s
75 45 bxs 75 20 .75 1924 xs Av
Av min = 1200 = x  = 2.28
fy 1200 240 s
digunakan tulangan sengkang berdiameter 10 mm
Av
maka s= = 68 .79 mm≈ digunakan
tulangan
sengkang
dengan
diameter
10 mm
2.28
≤ 300 mm
≤ 0.5d = 317 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 58 .75 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 10 mm dengan spasi 50 mm

Kesimpulan:
- Untuk arah sumbu x : Digunakan tulangan tarik longitudinal 21
D16-100
Digunakan tulangan tekan longitudinal 11 D16-
150
- Untuk arah sumbu y : Digunakan tulangan tarik longitudinal 21
D16-100
Digunakan tulangan tekan longitudinal 11 D16-
150
- Untuk tulangan sengkang digunakan tulangan dengan diameter 10
mm spasi 50 mm,
D10-50 mm

4.4.4.2. Empat Tiang pancang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 20


Penulangan pile cap untuk 4 tiang pancang dilakukan dengan asumsi
bahwa reaksi pada kolom harus dapat didistribusikan dengan baik ke tiang
pancang. Sehingga pile cap harus didesain lebih kuat dari kolom yang
dipikulnya.
Dari hasil analisis struktur diperoleh reaksi maksimum yang terjadi pada
pile cap 4 tiang adalah
Pu = -102.82 Ton.

Tebal pile cap di ambil 750 mm, mengacu pada buku Tomlinson
Foundation desing and construction p.386. Ketebalan pile cap harus dibuat
cukup untuk menghindari terjadinya punching shear antara tiang pancang
dengan pelat pile cap.

Maka digunakan tulangan longitudinal berdiameter 16 (untuk tulangan


tarik) dan 16 mm (untuk tulangan tekan), tulangan sengkang berdiameter
13 mm.
Tebal selimut beton digunakan 100 mm ( SNI-2847-2002, pasal 9.7
Pelindung beton untuk tulangan, untuk beton yang dicor di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah tebal selimut beton min = 75 mm).

Cek Punching shear:


1  2 
c. Vc= x
1+  f 'c xb o xd
6  βc 

1800
di mana βc = =1
1800
( βc= Perbandingan antara sisi panjang dengan sisi pendek dari
kolom yang sedang ditinjau)
bo= (d/2+400+320/2)2 = (750/2 + 400+160) = 935x2 = 1870 mm
d1=750-100-(16/2)mm = 642 mm
sehingga,
1 2 
 f 'c xboxd = 
1 2
Vc= 1 + 1 +  20 .75 x1870 x 4x642 = 1093.74 Ton
6 βc 
 6  1 

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 21


 α xd 1
d. Vc=  s +  f 'c xbo xd , di mana αs= 20 untuk kolom pojok
 12 xbo 6 

 20 x642 1
= = +  20 .75 x1870 x 4x642 = 677.497 Ton
 12 x 4 x1870 6

d. Vc= 4x f 'c xboxd =8749.95 Ton

Maka nilai Vc yang digunakan adalah nilai terkecil dari poin a,b, dan c,
yaitu Vc= 677.497 ton ФVc=0.6x 677.497 ton = 406.498 ton.

Gaya geser akibat beban aksial Pu=102.82 Ton < ФVc (OK!!)
Tidak terjadi punching shear.

Penulangan longitudinal pada pelat pile cap:

Gaya dalam yang digunakan dalam mendisain tulangan pile cap ini berasal
dari gaya aksial tidak terfaktor (akibat kombinasi 1DL+1SDL+1LL saja),
yaitu Pu = 102.82 Ton. Dengan eksentrisitas dari tepi kolom ke tengah-
tengah tiang pancang pada arah sumbu y adalah ey= 490 mm dan pada
arah sumbu x adalah ex= 490 mm. Sehingga momen yang bekerja pada

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 22


daerah tengah-tengah tiang pancang pada arah sumbu y, adalah My=
50.38 Ton.m dan momen yang bekerja pada tengah-tengah tiang pancang
pada arah sumbu x adalah Mx= 50.38 Ton.m.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 23


Perencanaan tulang
d= 634
asumsi awal a = 0.85

ФMn >
Mn > M
Mn > 5
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 24
Penulangan sengkang pada pelat pile cap:
1 1
Vc= f 'cxbxd = 20 .75 x1800 x634 = 86 .64 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 102.82 Ton, tidak mampu dipikul
oleh beton.
sehingga perlu didisain penulangan geser.

Vu 102 .82
Vs perlu = φ −Vc = 0.6 −86 .64 = 84 .73 ton

A vxf yxd 265 .33x 240 x634


s= = = 47 .1 mm
Vs 84 .73x10 4
digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm
maka
≤ 300 mm
≤ 0.5d = 317 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 62 .8 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm dengan spasi 50 mm

Kesimpulan:
- Untuk arah sumbu x : Digunakan tulangan tarik longitudinal 32
D16-50
Digunakan tulangan tekan longitudinal 16 D16-
100
- Untuk arah sumbu y : Digunakan tulangan tarik longitudinal 32
D16-50
Digunakan tulangan tekan longitudinal 16 D16-
100
- Untuk tulangan sengkang digunakan tulangan dengan diameter 13
mm spasi 50 mm,
D10-50 mm

4.4.4.3. Lima tiang Pancang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 25


Penulangan pile cap untuk 5 tiang pancang dilakukan dengan asumsi
bahwa reaksi pada kolom harus dapat didistribusikan dengan baik ke tiang
pancang. Sehingga pile cap harus didesain lebih kuat dari kolom yang
dipikulnya.
Dari hasil analisis struktur diperoleh reaksi maksimum yang terjadi pada
pile cap 5 tiang adalah
Pu = -103.715 Ton.

Tebal pile cap di ambil 750 mm, mengacu pada buku Tomlinson
Foundation desing and construction p.386. Ketebalan pile cap harus dibuat
cukup untuk menghindari terjadinya punching shear antara tiang pancang
dengan pelat pile cap.

Maka digunakan tulangan longitudinal berdiameter 16 (untuk tulangan


tarik) dan 16 mm (untuk tulangan tekan), tulangan sengkang berdiameter
13 mm.
Tebal selimut beton digunakan 100 mm ( SNI-2847-2002, pasal 9.7
Pelindung beton untuk tulangan, untuk beton yang dicor di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah tebal selimut beton min = 75 mm).

Cek Punching shear:


1  2 
a. Vc= x
1+  f 'c xb o xd
6  βc 

1800
di mana β c = =1
1800
( βc= Perbandingan antara sisi panjang dengan sisi pendek dari
kolom yang sedang ditinjau)
bo= (d/2+400+320/2)2 = (750/2 + 400+160) = 935x2 = 1870 mm
d1=750-100-(16/2)mm = 642 mm
sehingga,
1 2 
 f 'c xboxd = 
1 2
Vc= 1 + 1 +  20 .75 x1870 x 4x642 = 1093.74 Ton
6 βc 
 6  1 

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 26


 α xd 1
b. Vc=  s +  f 'c xbo xd , di mana αs= 20 untuk kolom pojok
 12 xbo 6 

 20 x642 1
= = +  20 .75 x1870 x 4x642 = 677.497 Ton
 12 x 4 x1870 6

e. Vc= 4x f 'c xboxd =8749.95 Ton

Maka nilai Vc yang digunakan adalah nilai terkecil dari poin a,b, dan c,
yaitu Vc= 677.497 ton ФVc=0.6x 677.497 ton = 406.498 ton.

Gaya geser akibat beban aksial Pu=103.715 Ton < ФVc (OK!!)
Tidak terjadi punching shear.

Penulangan longitudinal pada pelat pile cap:

Gaya dalam yang digunakan dalam mendisain tulangan pile cap ini berasal
dari gaya aksial tidak terfaktor (akibat kombinasi 1DL+1SDL+1LL saja),
yaitu Pu = 103.715 Ton. Dengan eksentrisitas dari tepi kolom ke tengah-
tengah tiang pancang pada arah sumbu y adalah ey= 490 mm dan pada
arah sumbu x adalah ex= 490 mm. Sehingga momen yang bekerja pada

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 27


daerah tengah-tengah tiang pancang pada arah sumbu y, adalah My=
50.82 Ton.m dan momen yang bekerja pada tengah-tengah tiang pancang
pada arah sumbu x adalah Mx= 50.82 Ton.m.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 28


Perencanaan tulang
d= 634
asumsi awal a = 0.85

ФMn >
Mn > M
Mn > 5
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 29
Penulangan sengkang pada pelat pile cap:
1 1
Vc= f 'cxbxd = 20 .75 x1800 x634 = 86 .64 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 103.715 Ton, tidak mampu dipikul
oleh beton.
sehingga perlu didisain penulangan geser.

Vu 103 .715
Vs perlu = φ −Vc = −86 .64 = 86 .22 ton
0.6

A vxf yxd 265 .33 x 240 x634


s= = = 46 .83 mm
Vs 86 .22 x10 4
digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm
maka
≤ 300 mm
≤ 0.5d = 317 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 62 .8 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm dengan spasi 50 mm

Kesimpulan:
- Untuk arah sumbu x : Digunakan tulangan tarik longitudinal 32
D16-50
Digunakan tulangan tekan longitudinal 16 D16-
100
- Untuk arah sumbu y : Digunakan tulangan tarik longitudinal 32
D16-50
Digunakan tulangan tekan longitudinal 16 D16-
100
- Untuk tulangan sengkang digunakan tulangan dengan diameter 13
mm spasi 50 mm,
D10-50 mm

4.4.4.4. Enam tiang Pancang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 30


Penulangan pile cap untuk 6 tiang pancang dilakukan dengan asumsi
bahwa reaksi pada kolom harus dapat didistribusikan dengan baik ke tiang
pancang. Sehingga pile cap harus didesain lebih kuat dari kolom yang
dipikulnya.
Dari hasil analisis struktur diperoleh reaksi maksimum yang terjadi pada
pile cap 6 tiang adalah
Pu = - 125.426 Ton.

Tebal pile cap di ambil 750 mm, mengacu pada buku Tomlinson
Foundation desing and construction p.386. Ketebalan pile cap harus dibuat
cukup untuk menghindari terjadinya punching shear antara tiang pancang
dengan pelat pile cap.

Maka digunakan tulangan longitudinal berdiameter 16 (untuk tulangan


tarik) dan 16 mm (untuk tulangan tekan), tulangan sengkang berdiameter
13 mm.
Tebal selimut beton digunakan 100 mm ( SNI-2847-2002, pasal 9.7
Pelindung beton untuk tulangan, untuk beton yang dicor di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah tebal selimut beton min = 75 mm).

Cek Punching shear:


1  2 
a. Vc= x
1+  f 'c xb o xd
6  βc 

2800
di mana β c = = 1.56
1800
( βc= Perbandingan antara sisi panjang dengan sisi pendek dari
kolom yang sedang ditinjau)
bo= (d/2+400+320/2)2 = (750/2 + 400+160) = 935x2 = 1870 mm
d1=750-100-(16/2)mm = 642 mm
sehingga,
1 2 
 f 'c xboxd = 
1 2
Vc= 1 + 1 +  20 .75 x1870 x 4x642 = 1093.74 Ton
6 βc 
 6  1 

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 31


 α xd 1
b. Vc=  s +  f 'c xbo xd , di mana αs= 20 untuk kolom pojok
 12 xbo 6 

 20 x642 1
= = +  20 .75 x1870 x 4x642 = 677.497 Ton
 12 x 4 x1870 6

f. Vc= 4 x f ' c xb o xd =8749.95 Ton

Maka nilai Vc yang digunakan adalah nilai terkecil dari poin a,b, dan c,
yaitu Vc= 677.497 ton ФVc=0.6x 677.497 ton = 406.498 ton.

Gaya geser akibat beban aksial Pu=125.426 Ton < ФVc (OK!!)
Tidak terjadi punching shear.

Penulangan longitudinal pada pelat pile cap:

Gaya dalam yang digunakan dalam mendisain tulangan pile cap ini berasal
dari gaya aksial tidak terfaktor (akibat kombinasi 1DL+1SDL+1LL saja),
yaitu Pu = 125.426 Ton. Dengan eksentrisitas dari tepi kolom ke tengah-
tengah tiang pancang pada arah sumbu y adalah ey= 444 mm dan pada
arah sumbu x adalah ex= 990 mm. Sehingga momen yang bekerja pada
daerah tengah-tengah tiang pancang pada arah sumbu y, adalah My=

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 32


55.69 Ton.m dan momen yang bekerja pada tengah-tengah tiang pancang
pada arah sumbu x adalah Mx= 124.17 Ton.m.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 33


Perencanaan tulang
d= 634
asumsi awal a = 0.85

ФMn >
Mn > M
Mn > 1
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 34
Penulangan sengkang pada pelat pile cap:
1 1
Vc= f 'cxbxd= 20 .75 x 2800 x634 =133 .77 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 125.426 Ton, mampu dipikul oleh
beton.
sehingga tidak perlu didisain penulangan geser.
Digunakan penulangan geser minimum.

Vs= Av x fyx d/s


75 20 .75 bxs 75 45 2800 xs Av
Av min = = x  = 3.32
1200 fy 1200 240 s
digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm
Av
maka s= = 79 .9 mm≈ digunakan
tulangan
sengkang
dengan
diameter
13 mm
3.32
≤ 300 mm
≤ 0.5d = 317 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 68 .22 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm dengan spasi 60 mm

Kesimpulan:
- Untuk arah sumbu x : Digunakan tulangan tarik longitudinal 78
D16-30
Digunakan tulangan tekan longitudinal 39 D16-50
- Untuk arah sumbu y : Digunakan tulangan tarik longitudinal 35
D16-50
Digunakan tulangan tekan longitudinal 18 D16-
100
- Untuk tulangan sengkang digunakan tulangan dengan diameter 13
mm spasi 60 mm,
D10-60 mm

4.4.4.5. Tujuh Tiang Pancang

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 35


Penulangan pile cap untuk 7 tiang pancang dilakukan dengan asumsi
bahwa reaksi pada kolom harus dapat didistribusikan dengan baik ke tiang
pancang. Sehingga pile cap harus didesain lebih kuat dari kolom yang
dipikulnya.
Dari hasil analisis struktur diperoleh reaksi maksimum yang terjadi pada
pile cap 7 tiang adalah
Pu = -1345.28 KN = 134.53 Ton.
Tebal pile cap di ambil 750 mm, mengacu pada buku Tomlinson
Foundation desing and construction p.386. Ketebalan pile cap harus dibuat
cukup untuk menghindari terjadinya punching shear antara tiang pancang
dengan pelat pile cap.
Maka digunakan tulangan longitudinal berdiameter 16 (untuk tulangan
tarik) dan 16 mm (untuk tulangan tekan), tulangan sengkang berdiameter
13 mm.
Tebal selimut beton digunakan 100 mm ( SNI-2847-2002, pasal 9.7
Pelindung beton untuk tulangan, untuk beton yang dicor di atas tanah dan
selalu berhubungan dengan tanah tebal selimut beton min = 75 mm).

Cek Punching shear:


1  2 
a. Vc= x 1 +  f 'c xb o xd
6  β 
c 

2923
di mana βc = = 1.15
2533
( βc= Perbandingan antara sisi panjang dengan sisi pendek dari
kolom yang sedang ditinjau)
bo= (d/2+400+320/2)2 = (750/2 + 400+160) = 935x2 = 1870 mm
d1=750-100-(16/2)mm = 642 mm
sehingga,
1 2  1 2 
Vc= 1 + 
 f 'c xboxd = 1 +  20 .75 x1870 x 4x642 = 998.64 Ton
6 βc  6 1.15 

 α xd 1
b. Vc=  s +  f 'c xbo xd , di mana αs= 20 untuk kolom pojok
 12 xbo 6 

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 36


 20 x642 1
= = +  20 .75 x1870 x 4x642 = 677.497 Ton
 12 x 4 x1870 6

c. Vc= 4x f 'c xboxd =8749.95 Ton

Maka nilai Vc yang digunakan adalah nilai terkecil dari poin a,b, dan c,
yaitu Vc= 677.497 ton ФVc=0.6x 677.497 ton = 406.498 ton.

Gaya geser akibat beban aksial Pu=134.53 Ton < ФVc (OK!!)
Tidak terjadi punching shear.

Gambar 9. 1 Penulangan pada pile cap

Penulangan longitudinal pada pelat pile cap:

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 37


Gaya dalam yang digunakan dalam mendisain tulangan pile cap ini berasal
dari gaya aksial tidak terfaktor (akibat kombinasi 1DL+1SDL+1LL saja),
yaitu Pu = -134.528 Ton. Dengan eksentrisitas dari tepi kolom ke tengah-
tengah tiang pancang pada arah sumbu y adalah ey= 760 mm dan pada
arah sumbu x adalah ex= 332 mm. Sehingga momen yang bekerja pada
daerah tengah-tengah tiang pancang pada arah sumbu y, adalah My=
102.24 Ton.m dan momen yang bekerja pada tengah-tengah tiang
pancang pada arah sumbu x adalah Mx= 44.66 Ton.m.

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 38


Perencanaan tulang
d= 634 mm
asumsi awal a = 0.85

ФMn > Mu
Mn > Mu/Ф
Mn > 44.6
T x (d-a/2
Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 39
Penulangan sengkang pada pelat pile cap:
1 1
Vc= f 'cxbxd = 20 .75 x 2533 x635 = 122 .11 ton
6 6
Gaya geser akibat beban aksial, Pu= 134.528 Ton, tidak dapat dipikul
oleh beton.
sehingga harus didisain penulangan sengkangnya
.
Vu 134 .528
Vs perlu = φ −Vc = −122 .11 =102 .10 ton
0.6

A vxf yxd 265 .33x 240 x634


s= = = 39 .54 mm
Vs 102 .1x10 4
digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm
maka
≤ 300 mm
≤ 0.5d = 317 mm
spasi tulangan sengkang harus memenuhi :
3 Avxfy
≤ = 62 .8 mm
bw

digunakan tulangan sengkang berdiameter 13 mm dengan spasi 40 mm

Kesimpulan:
- Untuk arah sumbu x : Digunakan tulangan tarik longitudinal 28
D16-100
Digunakan tulangan tekan longitudinal 14 D16-
200
- Untuk arah sumbu y : Digunakan tulangan tarik longitudinal 92
D16-25
Digunakan tulangan tekan longitudinal 46D16-50
- Untuk tulangan sengkang digunakan tulangan dengan diameter 13
mm spasi 40 mm,
D10-40 mm

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 40


Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 1
DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

Proyek Pembangunan Prasarana Squash Kota Balikpapan 2