Anda di halaman 1dari 16

ADAB MENJADI TAMU

Bertamu adalah bagian dari cara bersilaturrahim, merupakan amalan utama yang
dicontohkan Rasululah SAW. Beliau memberikan contoh dan petunjuk bagaimana sebaiknya
kita bertamu. Diantara adab bertamu adalah sebagai berikut:

1. Bertamu Untuk Memenuhi Undangan


Salah satu kewajiban seorang muslim adalah menghadiri undangan yang ditujukan
kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم يَقُو ُل‬


َ ِ ‫ُول هَّللا‬
َ ‫ْت َرس‬ ُ ‫ض َي هَّللا ُ َع ْنهُ قَا َل َس ِمع‬ ِ ‫َع ْن أَبِي هُ َري َْرةَ َ َر‬
ُ‫ع ْال َجنَائِ ِز َوإِ َجابَة‬ ِ ‫ق ْال ُم ْسلِ ِم َعلَى ْال ُم ْسلِ ِم َخ ْمسٌ َر ُّد ال َّساَل ِم َو ِعيَا َدةُ ْال َم ِر‬
ُ ‫يض َواتِّبَا‬ ُّ ‫َح‬
ِ ‫يت ْال َعا ِط‬
‫س‬ ُ ‫ال َّد ْع َو ِة َوتَ ْش ِم‬

Abu Hurairah RA berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit,
mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.
Orang mengundang kita untuk berbagai kepentingan. Ada undangan untuk menghadiri
walimatul ‘ursy, aqiqah, lamaran, jamuan makan biasa, bermusyawarah, atau untuk
kepentingan lainnya. Para ulama sepakat bahwa undangan apapun hendaknya kita sambut
dengan baik sepanjang untuk kebaikan dan tidak terdapat kemungkaran di dalamnya, atau
diketahui jamuan tuan rumah berumupa makanan/ minuman haram atau berasal dari yang
haram.
Menghadiri undangan adalah bentuk penghormatan kepada pengundang yang berdampak
memberikan perasaan senang dan bahagia. Sebaliknya, mengabaikan undangan
menimbulkan kekecewaan bagi pengundang. Menyenangkan orang lain merupakan bagian
dari amal shaleh.

2. Bertamu atas inisiatif sendiri


Bertamu bisa dilakukan atas inisitif sendiri untuk menyambung dan memperkuat
sillaturrahim dengan para sahabat. Sillaturrahim memperluas rejeki dan memanjangkan
umur, sebagaimana sabda rasulullah SAW sbb :

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل َم ْن أَ َحبَّ أَ ْن‬


َ ِ ‫ك أَ َّن َرسُو َل هَّللا‬ٍ ِ‫ال أَ ْخبَ َرنِي أَنَسُ ب ُْن َمال‬ َ َ‫ب ق‬ ٍ ‫ع َْن اب ِْن ِشهَا‬
ِ َ‫يُ ْب َسطَ لَهُ فِي ِر ْزقِ ِه َويُ ْن َسأ َ لَهُ فِي أَثَ ِر ِه فَ ْلي‬
ُ‫صلْ َر ِح َمه‬
Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rizqi untuknya dan
dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Bukhari)
Bertamu bagus dilakukan kepada sahabat yang telah lama tidak berjumpa maupun untuk
menunaikan hajat lainnya seperti memberikan hadiah, oleh-oleh atau sedekah; menjenguk
anggota keluarga tuan rumah yang sakit; saling bertukar informasi atau pengetahuan;
mengembangkan usaha; sekedar kangen-kangenan, atau kepentingan lainnya. Apapun
kepentingannya hendaklah semuanya diniatkan karena Allah semata-mata, Insya Allah
membawa berkah bagi yang berkunjung maupun bagi tuan rumah.
Sebaiknya sebelum datang bertamu meminta ijin terlebih dahulu kepada tuan rumah, dan
meminta saran kapan sebaiknya waktu kunjungan. Hal ini penting mengingat bahwa saat ini
kesibukan seseorang semakin tinggi. Langsung datang ke rumah memang tidak ada
larangan, tetapi tanpa janjian terlebih dahulu ada kemungkinan tidak ketemu atau mungkin
mengganggu kesibukan utama tuan rumah. Dengan teknologi informasi yang telah
berkembang saat ini, kita bisa meminta ijin melalui telepon atau sms.
Hindari pula waktu-waktu nanggung seperti waktu shalat, waktu yang dibiasakan tuan
rumah untuk kegiatan penting sehari-hari seperti waktu-waktu tadarrus bakda maghrib,
waktu istirahat, tengah malam dll, kecuali atas seijin tuan rumah.

3. Saat Datang Bertamu


Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut
atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri.
Firman Allah:

‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اَل تَ ْد ُخلُوا بُيُوتًا َغ ْي َر بُيُوتِ ُك ْم َحتَّ ٰىتَ ْستَأْنِسُوا َوتُ َسلِّ ُموا َعلَ ٰىأَ ْهلِهَا ۚ ٰ َذلِ ُك ْم َخ ْي ٌر‬
َ‫لَ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّكرُون‬

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian
itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat (QS An-Nur ayat 27)
Setelah dibukakan pintu, disambut tuan rumah dan dipersilahkan duduk, duduklah dengan
sikap yang sopan di tempat yang ditunjukkan buat Anda. Hindarilah terlalu banyak
mengamati isi rumah apalagi memata-matai penghuni rumah.
Setelah saling menanyakan kabar dan berbasa basi sejenak, segeralah sampaikan maksud
kunjungan Anda.
4. Menikmati Jamuan
Kewajiban tuan rumah menghidangkan jamuan bagi tetamunya, dan tetamu hendaknya
menikmati hidangan yang disajikan. Hindari mencela hidangan sebagaimana dicontohkan
Nabi Muhammad SAW:

ُ‫ط إِ ْن ا ْشتَهَاهُ أَ َكلَهُ َوإِ ْن َك ِرهَه‬


ُّ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم طَ َعا ًما ق‬
َ ‫َاب النَّبِ ُّي‬ َ َ‫ع َْن أَبِي هُ َري َْرةَ ق‬
َ ‫ال َما ع‬
ُ‫تَ َر َكه‬
Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela
makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan bila tidak suka,
maka beliau meninggalkannya (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu
Majah)
Makanlah dengan adab yang diajarkan Rasulullah SAW: membaca basmalah ketika hendak
makan atau minum, mengambil dan menyuap makanan dengan tangan kanan, mengambil
yang posisinya terdekat, dianjurkan tetap bercakap-cakap ketika makan, makan secukupnya
dan tidak berlebihan, menghabiskan makanan yang diambil, dan membaca hamdalah
setelah selesai (Insya Allah tentang adab makan akan dijelaskan dalam edisi tersendiri).

5. Berima Kasih dan Berdoa Kepada Tuan Rumah


Ucapkan terima kasih atas sambutan dan hidangan yang diberikan kepada Anda, dan
berikan apresiasi yang tinggi atas kepada tuan rumah. Pandai berterima kasih adalah adalah
salah satu ciri orang berakhlak mulia yang akan melipatgandakan nikmat Allah kepadanya.
Firman Allah:

ِ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ُكلُوا ِم ْن طَيِّبَا‬


َ‫ت َما َرزَ ْقنَا ُك ْم َوا ْش ُكرُوا هَّلِل ِ إِ ْن ُك ْنتُ ْم إِيَّاهُ تَ ْعبُ ُدون‬

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu
menyembah” (QS al-Baqarah ayat 172)
Kita memperoleh rejeki Allah tidak semata-mata atas jerih payah diri sendiri, tetapi selalu
ada keterlibatan orang lain yang menjadi perantara datangnya rejeki tersebut. Hidangan
yang berikan saat bertamu merupakan rejeki Allah melalui perantara tuan rumah.
Berterima kasih kepada tuan rumah merupakan syarat kesyukuran kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:

َ ‫اس لَ ْم يَ ْش ُكرْ هَّللا‬


َ َّ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َم ْن لَ ْم يَ ْش ُكرْ الن‬
َ ِ ‫ال َرسُو ُل هَّللا‬ َ َ‫ع َْن أَبِي َس ِعي ٍد ق‬
َ َ‫ال ق‬
“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada
Allah”. (HR Tirmidzi)
Apa yang dilakukan tuan hendaknya kita apresiasi dengan baik dengan memberikan
komentar atau pujian yang tulus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah
hadits dari Dari Anas bin Malik, ia berkata:
“Bahwasanya Nabi SAW apabila berbuka puasa di suatu rumah, beliau bersabda: “Telah
berbuka puasa di rumah kalian orang yang sedang berpuasa, dan orang-orang yang baik
telah memakan makanan kalian dan malaikat telah turun di tengah-tengah kalian.” (HR
Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)
Hendaklah berdoa untuk tuan rumah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah
SAW mendoakan Abdullah bin Busr setelah ia menghidangkan makanan utuk beliau:

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َعلَى أَبِي فَقَ َّر ْبنَا إِلَ ْي ِه طَ َعا ًما فَأ َ َك َل‬
َ ِ ‫ْر قَا َل نَ َز َل َرسُو ُل هَّللا‬ ٍ ‫ع َْن َع ْب ِد هَّللا ِ ْب ِن بُس‬
‫ِم ْنهُ ثُ َّم أُتِ َي بِتَ ْم ٍر فَ َكانَ يَأْ ُك ُل َوي ُْلقِي النَّ َوى بِإِصْ بَ َع ْي ِه َج َم َع ال َّسبَّابَةَ َو ْال ُو ْسطَى قَا َل ُش ْعبَةُ َوهُ َو ظَنِّي‬
‫ب فَ َش ِربَهُ ثُ َّم نَا َولَهُ الَّ ِذي ع َْن يَ ِمينِ ِه قَا َل‬ ٍ ‫فِي ِه إِ ْن َشا َء هَّللا ُ َوأَ ْلقَى النَّ َوى بَ ْينَ أُصْ بُ َعي ِْن ثُ َّم أُتِ َي بِ َش َرا‬
‫ار ْك لَهُ ْم فِي َما َر َز ْقتَهُ ْم َوا ْغفِرْ لَهُ ْم َوارْ َح ْمهُ ْم‬ ُ ‫فَقَا َل أَبِي َوأَخَ َذ بِلِ َج ِام دَابَّتِ ِه ا ْد‬
ِ َ‫ع لَنَا فَقَا َل اللَّهُ َّم ب‬

Dari Abdullah bin Busr ia berkata; Rasulullah SAW mengunjungi ayahku, kemudian kami
menyuguhkan makanan untuk beliau. Beliau pun makan sebagian darinya, kemudian beliau
diberi kurma, dan beliau makan serta membuang bijinya menggunakan dua jari beliau.
Abdullah bin Busr menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah. Syu’bah berkata; dan itu
yang aku yakini insya Allah. Dan beliau membuang biji kurma diantara kedua jarinya.
Kemudian beliau diberi minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan kepada
orang yang ada di samping kanannya. Abdullah bin Busr berkata; ayahku dalam keadaan
memegang kendali hewan kendaraannya berkata; doakan untuk kami! Kemudian beliau
berdoa: “Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum waghfir lahum warhamhum.” (Ya
Allah, berkahilah mereka pada rizki yang telah engkau berikan kepada mereka, dan
ampunilah dosa mereka, serta kasihilah merekah.” (HR Tirmidzi)

6. Bila harus menginap maksimal 3 hari


Bila yang dikunjungi bertempat tinggal cukup jauh dan harus menginap, maksimal boleh
menginap sampai 3 hari. Rasulullah SAW bersabda:
‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل َم ْن َكانَ ي ُْؤ ِم ُن بِاهَّلل ِ َو ْاليَوْ ِم اآْل ِخ ِر‬ َ ‫ْح ْال َك ْعبِ ِّي أَ َّن َرس‬
َ ِ ‫ُول هَّللا‬ ٍ ‫ع َْن أَبِي ُش َري‬
‫ص َدقَةٌ َواَل يَ ِحلُّ لَهُ أَ ْن‬ َ ‫ك فَه َُو‬ َ ِ‫ض ْيفَهُ َجائِ َزتُهُ يَوْ ٌم َولَ ْيلَةٌ َوالضِّ يَافَةُ ثَاَل ثَةُ أَي ٍَّام فَ َما بَ ْع َد َذل‬
َ ‫فَ ْليُ ْك ِر ْم‬
ُ‫ك ِم ْثلَه‬ٌ ِ‫ال َح َّدثَنِي َمال‬ َ َ‫اعي ُل ق‬ ِ ‫ي ِع ْن َدهُ َحتَّى يُحْ ِر َجهُ َح َّدثَنَا إِ ْس َم‬ َ ‫يَ ْث ِو‬

Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan
menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah
baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.” (HR
Bukhari dan Muslim)
Kita seharusnya memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan. Seorang muslim
berkewajiban memuliakan tamunya dengan sambutan dan jamuan selama tamunya berada
di rumahnya. Bertamu dalam waktu yang lama tentu dapat mengganggu aktifitas penting
tuan rumah. Oleh karena itu, Islam memberikan toleransi maksimal 3 hari kita boleh
menginap dalam bertamu.
Melebihi tiga hari dapat menyebabkan tuan rumah berdosa, sebagaiman disebutkan dalam
hadits dari Abu Syuraih Al Khuza’I, dia berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Bertamu itu selama tiga hari, dan pelayanannya selama siang
atau malam hari. Tidak halal bagi seorang muslim bermukim di rumah saudaranya sampai
saudaranya berdosa karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana
dia bisa berdosa?” beliau menjawab: “Dia bermukim di rumah saudaranya hingga
saudaranya tidak punya apa-apa lagi untuk menjamunya.” (HR Muslim)

7. Perhatikan Keadaan Tuan Rumah


Hendaklah seorang tamu bertenggang rasa dengan memperhatikan bagaimana keadaan
tuan rumah sehingga kehadirannya dapat menyenangkan bagi tuan rumah dan tidak
memberatkannya. Bila terlihat tuan rumah sedang sibuk, banyak pekerjaan, atau terlihat
repot, bersegaralah menyampaikan maksud kunjungan dan jangan berlama-lama.
Perhatikan pula isyarat yang diberikan tuan rumah seperti berulang-ulang melihat jam, atau
terlihat gelisah, merupakan pertanda bahwa ia ingin tamunya segera pulang. Rasulullah
berpesan:

َ ‫َواَل يَ ِحلُّ لَهُ أَ ْن يَ ْث ِو‬


‫ي ِع ْن َدهُ َحتَّى يُحْ ِرج‬

“Tidak halal bagi tamu berlama-lama di tempat kunjungannya sehingga memberatkan tuan
rumah” (HR Tirmidzi)
Apalagi mengunjung orang sakit, sebaiknya tidak berlama-lama untuk memberikan
kesempatan kepadanya beristirahat.
8. Berpamitan Ketika Selesai Urusan
Bila urusan telah selesai segeralah berpamitan kecuali ditahan oleh tuan rumah. Bedakan
menahan sekedar basa basi atau menahan sesungguhnya. Kultur masyarakat tertentu ada
yang menjawab pamitan tamu dengan “Kok tergesa-gesa?” atau “Mbok nanti-nanti”. Itu
adalah jawaban standar basa basi atas permintaan pamit. Ucapkan salam dan tinggalkan
rumah dengan senyum.

HAK-HAK TAMU
‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل َم ْن َكانَ ي ُْؤ ِم ُن بِاهَّلل ِ َو ْاليَوْ ِم اآْل ِخ ِر‬ َ ‫ْح ْال َك ْعبِ ِّي أَ َّن َرس‬
َ ِ ‫ُول هَّللا‬ ٍ ‫ع َْن أَبِي ُش َري‬
‫ص َدقَةٌ َواَل يَ ِحلُّ لَهُ أَ ْن‬ َ ‫ك فَه َُو‬ َ ِ‫ض ْيفَهُ َجائِ َزتُهُ يَوْ ٌم َولَ ْيلَةٌ َوالضِّ يَافَةُ ثَاَل ثَةُ أَي ٍَّام فَ َما بَ ْع َد َذل‬
َ ‫فَ ْليُ ْك ِر ْم‬
ُ‫ي ِع ْن َدهُ َحتَّى يُحْ ِر َجه‬َ ‫يَ ْث ِو‬

Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan
menjamunya siang dan malam. Dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah
baginya; dan tidak halal bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga memberatkannya.”[i]

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan interaksi dengan orang lain. Bertamu dan
menerima tamu adalah aktivitas yang hampir terjadi pada setiap orang. Rasulullah SAW
memerintahkan kita bersillaturrahim, dan salah satu bentuknya dengan saling mengunjungi.
Aktifitas ini mempererat hubungan dan memupuk kasih sayang antara pihak yang
berkunjung dengan yang dikunjungi. Memiliki hubungan baik dengan banyak orang memicu
kebahagiaan dan membuat hidup kita terasa indah.
Bagaimana perasaan Anda ketika semua orang menghormati, menyayangi, memperhatikan,
dan mengapresiasi Anda? Pastinya Anda merasa berbunga-bunga. Perasaan ini memicu otak
mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita merasa senang bahagia. Kebahagiaan
membuat kita bersemangat menjalani aktifitas sehari-hari dengan enerjik. Itulah modal
berharga menuju kesuksesan.
Sebaliknya hubungan buruk dengan orang lain membuat dunia ini terasa sempit dan hidup
menjadi sulit. Pernahkan Anda dibenci dan dilecehkan orang? Sangat tidak enak bukan?
Setiap kita tahu ada orang yang membenci, jantung berdegup lebih keras dan berdebar-
debar. Hormon adrenalin dan noradrenalin mengalir deras membuat pembuluh darah
menyempit menimbulkan perasaan cemas, khawatir, dan takut.
Bertamu dan menerima tamu merupakan amal untuk membina hubunan baik. Kita bisa
mengunjungi saudara, kerabat, sahabat, relasi, dan lain-lain. Rasulullah SAW telah
memberikan tuntunan tentang adab bertamu yang membawa berkah bagi orang yang
bertamu dan yang menerima tamu.

ADAB MENERIMA TAMU


Kedatangan tamu adalah berkah bagi setiap muslim. Hendaknya tetamu-tetamu kita sambut
dengan sebaik-baiknya agar pahala yang kita terima adalah pahala yang sebaik-baiknya. Di
antara adab menerima tamu adalah sebagai berikut:

1. Menerima Tamu dengan Baik


Tamu yang datang berkunjung ke rumah kita ada kalanya datang sendiri dan ada kalanya
memang kita undang. Kedua-duanya hendaknya diterima dengan baik. Rasulullah SAW
adalah contoh teladan penerima tamu yang baik.

ُ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ُم ْن ُذ أَ ْسلَ ْم‬


‫ت َواَل َرآنِي إِاَّل‬ َ ِ ‫ال َج ِري ُر ب ُْن َع ْب ِد هَّللا ِ َما َح َجبَنِي َرسُو ُل هَّللا‬َ َ‫ق‬
َ‫ض ِحك‬َ

Dari Jarir bin ‘Abdullah berkata; “Sejak saya masuk Islam, Rasulullah SAW tidak pernah
menolak saya untuk bertamu dan berkunjung ke rumah beliau. Dan beliau selalu tersenyum
setiap kali melihat saya.”[ii]
Menerima dan memuliakan tamu merupakan bagian dari tanda keimanan, sebagaimana
disebutkan dalam hadits dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan
menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah
baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.”[iii]
Seorang mukmin hendaknya siap menerima tamu di rumahnya atau tempat lain yang layak.
Terlebih-lebih bila tamu-tamunya datang atas undangannya, persiapannya haruslah lebih
baik. Siapkan di mana mereka akan ditempatkan, bagaimana penyambutannya, dan apa
jamuan atau hidangannya. Bila harus menginap, disiapkan pula kamar tempat mereka tidur.
Mendapatkan jamuan adalah salah satu hak tamu yang harus kita tunaikan.
Kitapun juga harus menyiapkan diri untuk kedatangan tamu kapan saja. Salah satu bentuk
kesiapannya diwujudkan dengan menyediakan ruang tamu di rumah kita. Alhamdulillah,
hampir setiap rumah kaum muslimin telah disediakan ruang tamu, dan bahkan banyak pula
yang menyediakan kamar khusus untuk tamu yang menginap.

2. Menyambut Tamu dengan Baik


Ketika ada orang yang mengetuk pintu rumah atau memencet bel dan memberi salam
adalah pertanda ada orang yang mau bertamu ke rumah kita. Hendaklah menjawab salam
dan bersegera memberikan sambutan dengan membukakan pintu, senyum ceria, dan
menyapa dengan ramah. Senyum ceria merupakan ekspresi bahwa kita senang menyambut
kedatangannya. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah”, demikian sabda Nabi
SAW[iv].
Beliau juga bersabda:

ِ ‫ك ِم ْن ْال َم ْعر‬
‫ُوف‬ َ ُ‫ُوف َوأَ ْن تُ َكلِّ َم أَخَ اكَ َوأَ ْنتَ ُم ْنبَ ِسطٌ إِلَ ْي ِه َوجْ ه‬
َ ِ‫ك إِ َّن َذل‬ ِ ‫اَل تَحْ قِ َر َّن َش ْيئًا ِم ْن ْال َم ْعر‬

“Janganlah engkau remehkan perkara ma’ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan


wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma’ruf” [v]
Beliau memberikan teladan dengan selalu tersenyum ketika berbicara.[vi] Beliau dikenal
sebagai orang yang paling banyak senyumnya, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Al
Harits bin Jaz`i dia berkata; “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak
senyumannya selain Rasulullah SAW.”[vii] Senyum kita melapangkan hati tamu dan
membuat mereka merasa terhormat dan dihargai.
Sapaan yang hangat akan lebih mencairkan suasana sehingga pertemuan menjadi lebih
hangat dan akrab. Rasulullah memberikan teladan dalam menyapa tetamu-tetamu beliau.
Ketika menerima utusan Abdul Qais beliau menyambut: “Selamat datang wahai para
utusan, yang datang tanpa rasa kecewa dan penyesalan”[viii]. Bahkan ketika Fathimah
puteri beliau datang berkunjung, beliau menyambut: “Selamat datang, wahai puteriku”[ix].
Tanyakan pula bagaimana keadaan mereka dengan menanyakan: “Apa kabar?”. Sapaan
yang ramah merupakan ungkapan bahwa kita senang menerima tamu kita.
Selanjutnya persilahkan duduk di tempat yang selayaknya di ruang tamu. Kebanyakan
rumah dilengkapi dengan ruang tamu. Hendaknya ruang tamu selalu dijaga agar tetap
dalam keadaan bersih, rapi, dan wangi. Keadaan yang kotor, berantakan, dan bau tak sedap
menjadikan suasana menjadi kurang nyaman.

3. Menjamu
Setelah tamu duduk dan berbasa basi sebentar, segeralah persiapkan dan hidangkan
suguhan berupa air minum dan makanan ringan. Mendapat suguhan merupakan hak tamu.
Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan
malam.”[x]
Nabiyullah Ibrahim AS juga memberikan contoh dalam memberikan penghormatan kepada
tetamunya sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an:
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-
malaikat) yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan
“salam”, Ibrahim menjawab: “Salam, orang-orang yang tidak dikenal”. Maka ia pergi diam-
diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar),
lalu dihidangkan kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silakan kamu makan”. [xi]

Nabi Muhammadi sendiri suka memberikan hidangan kepada tamu-tamu beliau. Dari Al-
Mughirah bin Syu’bah dia berkata: “Pada suatu malam saya pernah bertamu kepada Nabi
SAW. Lalu beliau memerintahkan untuk diambilkan sepotong daging kambing besar. Setelah
dipanggang, beliau mengambil sebilah pisau, lalu beliau memotong-motongnya untukku
dengan pisau tersebut”[xii].
Terhadap tamu non muslim pun beliau menjamu. Dari Abu Hurairah berkata, “Seorang kafir
datang bertamu kepada Rasulullah SAW. Maka beliau memerintahkan untuk mendatangkan
seekor kambing untuk diperah, orang kafir itu lalu memimun perahan susunya. Lalu
diperahkan dari kambing yang lain, dan ia meminumnya. Lalu diperahkan dari kambing lain
lain, dan ia meminumnya lagi, hingga menghabiskan susu dari tujuh kambing. Keesoakan
harinya orangitu masuk Islam. Rasulullah SAW menyuruh agar kambing beliau diperah.
Diapun minum air susunya, kemudian beliau memerahkannya lagi namun dia tidak sanggup
menghabisinya. Sehingga Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin minum dengan satu
usus sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.”[xiii]
Terhadap pentingnya menjamu, Rasulullah menyatakan:

‫ضافَ قَوْ ًما‬ َ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم أَيُّ َما ُم ْسلِ ٍم أ‬
َ ‫ع َْن النَّبِ ِّي‬ َ‫ب أَبِي َك ِري َمة‬ َ ‫ع َِن ْال ِم ْقد َِام ب ِْن َم ْع ِدي َك ِر‬
‫ُك ِّل ُم ْسلِ ٍم نَصْ َرهُ َحتَّى يَأْ ُخ َذ بِقِ َرى لَ ْيلَتِ ِه ِم ْن زَرْ ِع ِه َو َمالِ ِه‬ ‫ق َعلَى‬ ٌّ ‫ْف َمحْ رُو ًما فَإ ِ َّن َح‬
ُ ‫ضي‬ َّ ‫فَأَصْ بَ َح ال‬

Dari Al Miqdam bin Ma’di Karib, Abu Karimah dari Nabi SAW, “Seorang muslim yang
bertamu kepada suatu kaum, dan pagi harinya tamu itu dalam keadaan tidak mendapatkan
jamuan, seorang muslim wajib menolongnya hingga ia mengambilkan jamuan malamnya
dari tanamannya dan hartanya.”[xiv]
Para sahabat sangat mementingkan jamuan untuk tamu. Berikut ini riwayat terkait yang
disampaikan oleh Nabi kepada Abu Hurairah:
“Seorang laki-laki Anshar kedatangan tamu dan bermalam di rumahnya. Padahal dia tidak
mempunyai makanan selain makanan anak-anaknya. Maka dia berkata kepada isterinya;
‘Tidurkan anak-anak dan padamkan lampu. Sesudah itu suguhkan kepada tamu kita apa
adanya.’ Kata Abu Hurairah: ‘Karena peristiwa itu maka turunlah ayat Al Hasyr 9 itu[xv]:
“Dan mereka mengutamakan orang lain (muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan…”
Bagian ke-4 dari Surah Al Hasyr 9 itu menunjukkan penghargaan Al Qur’an kepada orang
yang memiliki empati kepada orang lain, padahal dirinya sendiri dalam kesusahan.
Bayangkan betapa tinggi nilai perbuatan seperti itu.
Anda yang memiliki kecukupan rezeki ada baiknya senantiasa memiliki persediaan minuman
dan makanan di rumah, sehingga sewaktu-waktu ada tamu tinggal menghidangkannya.
Ketika hidangan telah siap tuan rumah mempersilahkan tetamunya menikmati terlebih
dahulu, baru ia mengikuti setelah tetamunya. Hal ini berdasar hadits Qatadah RA yang
cukup panjang, dia berkata: “….. Lalu Rasulullah SAW menuangkan air dan aku
membagikannya, hingga tidak ada yang tersisa selain aku dan Rasulullah SAW. Kemudian
Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Minumlah”. Aku jawab, “Aku tidak akan minum
hingga engkau minum, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, orang yang
memberi minum itulah yang terakhir minum”. Qatadah melanjutkan: “Maka akupun
minum, dan Rasulullah SAW pun kemudian minum….”[xvi]

4. Mengiringi Tamu Ketika Pulang


Bila tetamu telah menikmati jamuan yang disajikan, menyelesaikan hajatnya, dan
berpamitan hendak pulang hendaknya diucapkan kata-kata perpisahan yang
menyenangkan, berterima kasih atas kunjungannya, dan menunjukkan raut wajah yang
berseri-seri. Untuk menunjukkan keakraban, antarkan tamu hingga halaman rumah, dan
pandanglah hingga ia telah keluar dari halaman rumah.
Abu Ubaid Qasim bin Salam pernah mengunjungi Ahmad bin Hambal. Abu Ubaid berkata:
“Tatkala aku hendak pergi, dia bangun bersamaku. Aku pun berkata (karena malu atas
penghormatannya itu): “Jangan kau lakukan ini, wahai Abu Abdillah!”.
Sementara itu Abu Amar al-Hamadzani As-Sya’bi, seorang pemuka tabi’in yang cerdas dan
tawadu’ yang diketahui belajar kepada 500 sahabat Nabi, mengatakan: “Di antara
kesempurnaan sambutan orang yang dikunjungi adalah engkau berjalan bersamanya hingga
ke pintu rumah dan mengambilkan kendaraannya.”[xvii]
***
Ajaran memuliakan tamu adalah ajaran luar biasa dalam membangun sillaturrahim dan
hubungan baik sesama muslim. Di sinilah Islam mengenalkan konsep “hak-hak tamu”
kepada umat. Mudah-mudahan kita dapat mengamalkan dengan baik dengan menunaikan
hak-hak tamu yang menjadi kewajiban kita. Insya Allah iman kita semakin meningkat.
Wallahu a’lam.
[i] HR Bukhari (Kitab Bukhari HN 5670)
[ii] HR Muslim (Kitab Muslim HN 4522)
[iii] HR Bukhari (Kitab Bukhari HN 5670)
[iv] HR Tirmidzi
[v] HR Abu Daud (Kitab Abu Daud HN 2562)
[vi] HR Ahmad (Kitab Ahmad HN 20742)
[vii] HR Tirmudzi (Kitab Turmudzi HN 3574)
[viii] HR Bukhari dan Muslim dari Ibu Abbas
[ix] HR Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah
[x] Kitab Bukhari HN 5670
[xi] QS Ad-Dzariyat ayat 24 – 27
[xii] Kitab Abu Daud HN 160
[xiii] Kitab Malik HN 1443
[xiv] Kitab Ahmad HN 16549
[xv] Kitab Muslim HN 5380
[xvi] HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi
[xvii] Al Adab As-Syar’iyah dalam Ringkasan Kitab Adab oleh Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub

ADAB BERKUNJUNG

Saling berkunjung dan bertamu di antara kita adalah hal yang biasa terjadi. Baik bertamu di
antara sanak famili, dengan tetangga, atau teman sebaya yang tinggal di kos. Namun,
banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu,
dimana syari’at Islam yang lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam hal ini. Nah,
alangkah indahnya jika setiap yang kita lakukan kita niatkan ibadah kepada Allah ta’ala dan
ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam hal adab bertamu ini.

1. Minta Izin Maksimal Tiga Kali


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk
meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,

ُ
‫االستئذان‬ :‫ قال رسول هللا صلّى هللا عليه و سلم‬:‫ي رضي هللا عمه قال‬ّ ‫عن أبى موسى االشعر‬
ٌ
‫ فان أذن لك و االّ فارجع‬،‫ثالث‬

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu
(masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!'” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk


Terkadang seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau
dengan kata-kata sekedarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,
hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اَل تَ ْد ُخلُوا بُيُوتًا َغ ْي َر بُيُوتِ ُك ْم َحتَّى تَ ْستَأْنِسُوا َوتُ َسلِّ ُموا َعلَى أَ ْهلِهَا َذلِ ُك ْم َخ ْي ٌر لَ ُك ْم‬
َ‫لَ َعلَّ ُك ْم تَ َّذ َّكرُون‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih
baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia
berkata,
“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya
tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar
dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?'” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka
batasannya adalah tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali
namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda
kunjungan kita kali itu. Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat
membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti
kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik
rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang
langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat
ditutupi oleh sang pemilik rumah. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad
radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫اِنّما جُعل االستئذان من أجل البصر‬

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu


Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga mengganggu pemilik
rumah. Baik karena kerasnya atau cara mengetuknya. Maka, hendaknya ketukan itu adalah
ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang
mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah.
Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu,

‫إن أبواب النبي صلى هللا عليه وسلم كانت تقرع باألظافير‬

“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR.
Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk


Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin
ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya
dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak
langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr ia berkata,

‫كان رسول هللا إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء و جهه و لكن ركنها األيمن أو‬
‫األيسر و يقول السالم عليكم السالم عليكم‬
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum,
beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau
kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud, shohih
– lihat majalah Al-Furqon)

5. Tidak Mengintip
Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di
dalam rumah atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela
perbuatan ini dan memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

ّ ‫لو‬
‫أن امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح‬

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu
kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul
Isti’dzan)

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم فَقَا َم إِلَ ْي ِه النَّبِ ُّي‬


َ ‫ُج ِر النَّبِ ِّي‬
َ ‫ْض ح‬ ِ ‫َس ْب ِن َمالِك أَ َّن َر ُجاًل اطَّلَ َع ِم ْن بَع‬ ِ ‫ع َْن أَن‬
ْ َ‫ص فَ َكأَنِّي أَ ْنظُ ُر إِلَ ْي ِه يَ ْختِ ُل ال َّرج َُل لِي‬
ُ‫ط ُعنَه‬ َ ِ‫ص أَوْ بِ َم َشاق‬
ٍ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم بِ ِم ْشق‬
َ

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip
sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya
dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan
seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang itu.” (HR. Bukhari
Kitabul Isti’dzan)
6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang
Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali
salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika
seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan
karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya
adalah hal ini demi menjaga hak-hak pemilik rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‫يل لَ ُك ُم ارْ ِجعُوا فَارْ ِجعُوا هُ َو أَ ْز َكى لَ ُك ْم‬


َ ِ‫فَإ ِ ْن لَ ْم ت َِج ُدوا فِيهَا أَ َحدًا فَاَل تَ ْد ُخلُوهَا َحتَّى ي ُْؤ َذنَ لَ ُك ْم َوإِ ْن ق‬
‫َوهَّللا ُ بِ َما تَ ْع َملُونَ َعلِي ٌم‬
“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum
kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah
kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Nuur [24]: 28)

Makna ayat tersebut disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, “Mengapa demikian?
Karena meminta izin sebelum masuk rumah itu berkenaan dengan penggunaan hak orang
lain. Oleh karena itu, tuan rumah berhak menerima atau menolak tamu.” Syaikh Abdur
Rahman bin Nasir As Sa’di dalam Tafsir Al Karimur Rahman menambahkan, “Jika kamu di
suruh kembali, maka kembalilah. Jangan memaksa ingin masuk, dan jangan marah. Karena
tuan rumah bukan menolak hak yang wajib bagimu wahai tamu, tetapi dia ingin berbuat
kebaikan. Terserah dia, karena itu haknya mengizinkan masuk atau tidak. Jangan ada
perasaan dan tuduhan bahwa tuan rumah ini angkuh dan sombong sekali.” Oleh karena itu,
kelanjutan makna ayat “Kembali itu lebih bersih bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” Artinya supaya hendaknya seorang tamu tidak berburuk sangka atau
sakit hati kepada tuan rumah jika tidak diizinkan masuk, karena Allah-lah yang Maha Tahu
kemaslahatan hamba-Nya. (Majalah Al Furqon).

7. Menjawab Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”


Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang
sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan “saya”
atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas. Sebagaimana
terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,

‫ت أَنَا فَقَا َل‬


ُ ‫اب فَقَا َل َم ْن َذا فَقُ ْل‬
َ َ‫ت ْالب‬
ُ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم فِي َد ْي ٍن َكانَ َعلَى أَبِي فَ َدقَ ْق‬ َ ‫ي‬ ُ ‫أَتَي‬
َّ ِ‫ْت النَّب‬
‫أَنَا أَنَا َكأَنَّهُ َك ِرهَهَا‬

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu
beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’
Sepertinya beliau tidak suka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa poin yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika
bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia
menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah. Wallahu a’lam.
Sumber :
www.muslimah.or.id