Anda di halaman 1dari 5

Implementasi Kebijakan

Dari uraian tentang proses kebijakan publik di atas, selanjutnya peneliti mencoba
menyajikan tentang konsep dan model implementasi kebijakan yang sesuai untuk dipakai pada
penelitian ini. Menurut Van Metter dan Van Horn dalam Agustino (2008) 1 menjelaskan bahwa
“Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu/
pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada
tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.” Esensi utama
dari implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah
suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. Pemahaman tersebut mencakup usaha
untuk mengadministrasikannya dan menimbulkan dampak nyata pada masyarakat atau
kejadian-kejadian. Selanjutnya menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Agustino (2008)
menjelaskan bahwa “Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar,
biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau
keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya,
keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah-masalah yang ingin diatasi, menyebutkan
secara tegas tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau
mengatur proses implementasinya.”
Menurut Lester dan Stewart dalam Agustino (2008) mengatakan bahwa: “Implementasi
kebijakan sebagai tahap penyelenggaraan kebijakan segera setelah ditetapkan menjadi undang-
undang. Dalam pandangan luas implementasi kebijakan diartikan sebagai pengadministrasian
undang-undang kedalam berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik-teknik yang bekerja
secara bersama-sama untuk mencapai tujuan dan dampak yang ingin diupayakan oleh kebijakan
tersebut.” Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam
keseluruhan strukur kebijakan karena melalui prosedur ini proses kebijakan secara keseluruhan
dapat dipengaruhi tingkat keberhasilan atau tidaknya pencapaian tujuan. Senada dengan
pendapat Lester dan Stewart, Bressman dan Wildansky dalam Agustino (2008) menyatakan
bahwa “Implementasi kebijakan adalah suatu proses interaksi antara suatu perangkat tujuan dan
tindakan yang mampu mencapai tujuan. Implementasi kebijakan merupakan proses lanjutan dari
tahap formulasi kebijakan. Pada tahap formulasi ditetapkan strategi dan tujuan-tujuan kebijakan

1
Agustino, Leo. 2008. Dasar- dasar Kebijakan Publik. Alfabeta: Bandung.
sedangkan pada tahap implementasi kebijakan, tindakan (action) diselenggarakan dalam
mencapai tujuan yang diinginkan.”
Secara umum implementasi memiliki makna pelaksanaan undang-undang dimana
berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan
kebijakan dalam upaya untuk meraih tujuan- tujuan kebijakan atau program-program. Ripley dan
Franklin dalam Winarno (2012)2 mendefinisikan implementasi merupakan apa yang terjadi
setelah undang-undang ditetapkan dengan memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan
(benefit), atau suatu jenis keluaran yang nyata (tangible output). Istilah implementasi menunjuk
pada sejumlah kegiatan yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan-tujuan program dan
hasil-hasil yang diinginkan oleh para pejabat pemerintah. Implementasi mencakup tindakan-
tindakan oleh berbagai aktor, kususnya para birokrat yang dimaksudkan untuk membuat program
berjalan. Menurutnya implementasi mencakup beberapa kegiatan:
1. Badan-badan pelaksana yang ditugasi oleh undang-undang dengan tanggung jawab
menjalankan program harus mendapatkan sumbersumber yang dibutuhkan agar
implementasi berjalan lancar,
2. Badan-badan pelaksana mengembangkan bahasa anggaran dasar menjadi arahan-
arahan konkret, regulasi, serta rencana-rencana desain program
3. Badan-badan pelaksana harus mengorganisasikan kegiatan-kegiatan mereka dengan
menciptakan unit-unit birokrasi dan rutinitas untuk mengatasi beban kerja
Selanjutnya Van Meter dan Van Horn (1975)3 mengatakan implementasi kebijakan
merupakan tindakan- tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok pemerintah maupun
swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-
keputusan kebijkan sebelumnya. Tahap implementasi tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan
dan saran –saran ditetapkan atau di identifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan.
Sebuah implementasi kebijakan yang melibatkan banyak organisasi dan tingkatan
birokrasi dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Menurut Wahab (2005)4 “implementasi
kebijakan dapat dilihat dari sudut pandang (1) pembuat kebijakan, (2) pejabat-pejabat pelaksana
di lapangan, dan (3) sasaran kebijakan (target group)”. Perhatian utama pembuat kebijakan
2
Winarno, Budi. 2012. Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus edisi & Revisi Terbaru. Yogyakarta
3
Van Meter, D. and C. Van Horn. 1975. The Policy Implementation Process: A Conceptual FrameWork.
Administration and Saeiety. 6: 445-88
4
Abdul Solihin Wahab. (2005). Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta :
Bumi Aksara
memfokuskan diri pada “sejauh mana kebijakan tersebut telah tercapai dan apa alasan yang
menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kebijakan tersebut”. Dari sudut pandang
implementor, implementasi akan terfokus pada “tidakan pejabat dan instansi di lapangan untuk
mencapai keberhasilan program”. Sementara dari sudut pandang target groups, implementasi
akan lebih dipusatkan pada “apakah implementasi kebijakan tersebut benar-benar mengubah pola
hidupnya dan berdampak positif panjang bagi peningkatan mutu hidup termasuk pendapatan
mereka”.
Berdasarkan pendapat Winarno (2007)5, implementasi kebijakan dipandang dalam
pengertian yang luas, merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-
undang, Implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang- undang
dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik bekerja bersama- sama untuk
menjalankan kebijakan dalam upaya untuk meraih tujuan-tujuan kebijakan atau program-
program. Implementasi undang- undang melibatkan birokrasi dari organisasi-organisasi
pelaksananya. Menurut Edward III, ada dua karakteristik utama dalam birokrasi yaitu
prosedur kerja baku standar atau operating procedure (SOP) dan fragmentasi. Standard
Operating Procedure berkembang sebagai tanggapan internal terhadap waktu yang terbatas
dan sumber dari para pelaksana serta keinginan untuk keseragaman dalam bekerjanya
organisasi yang komplek dan tersebar luas.
. Selanjutnya, AG. Subarsono (2005)6 menjelaskan bahwa dari hirarkinya dapat dilihat
bahwa implementasi kebijakan publik pada pelaksanaan undang-undang dapat bersifat nasional,
regional, maupun lokal, sebagaimana juga diatur dalam Undang-undang No.10/2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 7 mengatur jenis dan hierarki Peraturan
Perundang-undangan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
c. Peraturan Pemerintah.
d. Peraturan Presiden.
e. Peraturan Daerah.

5
Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik :Teori dan Proses. Yogyakarta :Med Press ( Anggota IKAPI )
6
A. G Subarsono, 2005. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta :PustakaPelajar
Menurut Nugroho (2008)7 “Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar
sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih tidak kurang. Untuk
mengimplementasikan kebijakan publik, ada dua pilihan langka yang ada, yaitu langsung
mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau
turunan dari kebijakan publik tersebut.” Secara umum model implementasi kebijakan yang
dikemukakan oleh Nugroho dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.7. Implementasi Kebijakan Publik


Sumber : Nugroho, 2008

Gambar 2.7 mengilustrasikan bahwa implementasi kebijakan publik dapat dimulai dengan
membuat sebuah program yang akan dikaji. Program kemudian akan dilaksanakan sesuai dengan
petunjuk dan ketentuan pelaksanaannya. Program pemerintah dikatakan berhasil jika
dilaksanaannya sesuai dengan petunjuk dan ketentuan pelaksanaan yang dibuat oleh pembuat
program yang mencakup antara lain tata cara atau prosedur pelaksanaan, pelaksana, kelompok
sasaran dan manfaat program. Sedangkan program dinilai berhasil manakala programnya
membawa dampak seperti yang diinginkan. Suatu program mungkin saja berhasil dilihat dari
sudut proses, tetapi boleh jadi gagal ditinjau dari dampak yang dihasilkan, atau sebaliknya.

7
Nugroho, Riant. 2008. Public Policy, PT.Elex Media Komputindo, Jakarta
Dengan kata lain, implementasi kebijakan dapat dianggap berhasil ketika telah nampak
konsistensi antara proses yang dilalui dengan hasil yang dicapai Implementasi kebijakan publik
adalah hal yang paling berat, karena dalam implementasi sering menemui masalah yang tidak
ditemui pada konsep.