Anda di halaman 1dari 3

Konsep Kelembagaan 2

Koentjaraningrat (1997)1 mendefinisikan “kelembagaan merupakan suatu sistem aktivitas


dari kelakuan berpola dari manusia dalam kebudayaannya beserta komponen- komponen yang
terdiri dari sistem norma dan tata kelakuan untuk wujud ideal kebudayaan, kelakuan berpola
untuk wujud kelakuan kebudayaan dan peralatan untuk wujud fisik kebudayaan yang ditambah
dengan manusia atau personil yang melaksanakan kelakuan berpola.” Sedangkan Pejovich
(1999)2 menyatakan bahwa kelembagaan memiliki tiga komponen, yakni:
a. Aturan formal, meliputi konstitusi, statuta, hukum dan seluruh regulasi pemerintah
lainnya. Aturan formal membentuk sistem politik (struktur pemerintahan, hak-hak
individu), sistem ekonomi (hak kepemilikan dalam kondisi kelangkaan
sumberdaya, kontrak), dan sistem keamanan (peradilan, polisi)
b. Aturan informasi, meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama dan seluruh
faktor yang mempengaruhi bentuk persepsi subjektif individu tentang dunia tempat
hidup masyarakat; dan
c. Mekanisme penegakan, semua kelembagaan tersebut tidak akan efektif apabila
tidak diiringi dengan mekanisme penegakan
Purwaka (2008)3, Hal penting tentang lembaga meliputi : (1) landasan hukum
kelembagaan, (2) Tujuan yang hendak dicapai (3) Keberadaan atau eksistensi dari
kewenangan, (4) Sarana dan prasarana untuk melaksanakan kewenangan, (5) Sumber daya
manusia yang dibutuhkan sebagai pelaksana kewenangan, (6) Sumberdaya manusia yang
memiliki kemampuan untuk menentukan tingkat keberhasilan dari pelaksanaan
kewenangan, tugas pokok dan fungsi lembaga, (7) Mekanisme atau kerangka kerja dari
pelaksanaan kewenangan, (8) Jejaring kerja antar lembaga, (9) Hasil kerja dari pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi lembaga. Hal penting tentang lembaga pertama sampai dengan keenam
merupakan aspek statik (static aspects) dari kelembagaan yang disebut tata kelembagaan,
sedangkan hal penting tentang lembaga ketujuh, kedelapan dan kesembilan merupakan

1
Koentjaraningrat, 1997, Metode-Metode Penelitian Masyarakat: edisi ketiga, Jakarta: Grafindo Pustaka Utama
2
Pejovich, Svetozar. 1999. The Effects of the Interaction of Formal and Informal Institutions on Stability and
Economic Development, Journal of Markets & Morality, Vol. 2, No. 2, pp.164-181
3
Purwaka. 2008. Pengembangan Kelembagaan P3A. LP3ES. Jakarta.
aspek dinamik (dynamic aspects) dari kelembagaan yang disebut sebagai kerangka kerja
atau mekanisme kelembagaan.
Djogo dkk (2003)4 mengemukakan bahwa kelembagaan berisikan dua aspek penting
yaitu; “aspek kelembagaan” dan “aspek keorganisasian”. Aspek kelembagaan meliputi perilaku
atau perilaku sosial dimana inti kajiannya adalah tentang nilai (value), norma (norm), custom,
mores, folkways, usage, kepercayaan, gagasan, doktrin, keinginan, kebutuhan, orientasi dan lain-
lain. Bentuk perubahan sosial dalam aspek kelembagaan bersifat kultural dan proses
perubahannya membutuhkan waktu yang lama. Sementara dalam aspek keorganisasian meliputi
struktur atau struktur sosial dengan inti kajiannya terletak pada aspek peran (role). Lebih jauh
aspek struktural mencakup: peran, aktivitas, hubungan antar peran, integrasi sosial, struktur
umum, perbandingan struktur tekstual dengan struktur faktual, struktur kewenangan atau
kekuasaan, hubungan antar kegiatan dengan tujuan yang hendak dicapai, aspek solidaritas, dan
pola kekuasaan. Bentuk perubahan sosial dalam aspek keorganisasian bersifat struktural dan
berlangsung relatif cepat.
Max Weber dalam Rasyid Thaha (2016)5 berpendapat bahwa kelembagaan adalah suatu
bentuk organisasi yang paling efisien dan rasional. Hal itu digambarkan dengan menunjukkan
apa yang menjadi karakteristik kelembagaan yaitu:
a. Kewenangan yang berjenjang sesuai dengan tingkatan organisasi
b. Spesialisasi tugas, kewajiban, dan tanggung jawab
c. Posisi didesain sebagai jabatan
d. Penggantian dalam jabatan secara terencana
e. Jabatan bersifat impersonal
f. Suatu sistem aturan dan prosedur yang standar untuk menegakkan disiplin dan
pengendaliannya
g. Kualifikasi yang rinci mengenai individu yang akan memangku jabatan
h. Perlindungan terhadap individu dari pemecatan.
Adanya aspek kelembagaan dan aspek keorganisasian ini juga di ungkapkan oleh Uphoff
(1986)6 yang menyatakan bahwa: “Some kinds of institutions have an organizational form with
roles and structures, whereas others exist as pervasive influenced on behaviour”. Dua hal yang

4
Djogo, dkk. 2003. Kelembagaan dan Kebijakan dalam Pengembangan Agroforestri. Bogor: KRAF
5
Rasyid Thaha. 2012. Penataan Kelembagaan Pemerintahan Daerah. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, Vol. 1 No.3
6
Uphoff, Norman. 1986. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook With Cases. Kumarian Press
dimaksudnya disini adalah organization dalam bentuk roles (peran) dan structure (struktur), serta
sesuatu yang mempengaruhi perilaku. Sesuatu yang terakhir ini adalah ‘norma’ yang diturunkan
dari ‘nilai’ yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat. Lebih jauh Uphoff menyatakan,
bahwa intitution memiliki dua orientasi, yaitu role-oriented dan rule-oriented; namun institution
lebih fokus kepada rules, “In general, institutions, whether organization or not, are complexes
of norm and behaviour that persist over time by serving collectively valued purposes..... One
approach to the study of institutions has focused on rules, that shape behaviour rhater than on
roles.” Sehingga secara jelas dapat disimpulkan bahwa dalam kelembagaan terdapat aspek
7
organisasi dalam kelembagaan. Hal ini selaras dengan pendapat Syahyuti (2007) yang
menyatakan bahwa kelembagaan lokal adalah sekumpulan jaringan dari relasi sosial yang
melibatkan orang-orang tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta
memiliki struktur. Kelembagaan lokal dapat berbentuk sebuah relasi sosial yang melembaga
(non formal institution), atau dapat berupa organisasi dengan struktur dan badan hukum (formal
institution).
Pada penelitian ini, implementasi program PNPM-MPd dilaksanakan oleh kelembagaan
dana bergulir UPK PNPM-MPd. Berdasarkan uraian tentang konsep kelembagaan di atas,
peneliti melakukan analisis implementasi pada aspek-aspek kelembagaan dana bergulir UPK
PNPM-MPd menggunakan konsep kelembagaan yang dikemukakan oleh Djogo dkk (2003),
Uphoff (1986) serta Purwaka (2008). Selain itu referensi dari hasil penelitian terdahulu pada sub
bab di atas juga menguatkan penelitian disertasi ini pada aspek kelembagaan UPK eks PNPM-
MPd yang diteliti yaitu: aspek pemberdayaan masyarakat (aspek filosofi) yang berkaitan dengan
keberpihakan pelayanan pada Rumah Tangga Miskin (RTM), aspek legalitas yang berakitan
dengan badan hukum kelembagaan, aspek manajemen yang berkaitan dengan AD/ART dan
aturan-aturan kelembagaan, aspek Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkaitan dengan
kapasitas pengurus dan stakeholder, aspek keuangan yang berkaitan dengan permasalah seputar
kemacetan angsuran, dan pengembangan kerjasama yang merupakan salah satu aspek
perkembangan usaha.

7
Syahyuti. 2007. Gabungan Kelompok Tani(Gapoktan) Sebagai Kelembagaan Ekonomi Kebijakan Pengembangan
Di Perdesaan