Anda di halaman 1dari 6

Konsep Pemberdayaan Masyarakat 2

Mardikanto & Soebianto (2012)1 menyatakan bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat


meliputi beragam upaya perbaikan sebagai berikut:
a. Perbaikan pendidikan (better education) dalam arti bahwa pemberdayaan harus dirancang
sebagai suatu bentuk pendidikan yang lebih baik.
b. Perbaikan aksesibilitas (better accessibility). Dengan tumbuh dan berkembangnya
semangat belajar seumur hidup, diharapkan akan memperbaiki aksesibilitasnya,
utamanya tentang aksesibilitas dengan sumber informasi/inovasi, sumber pembiayaan,
penyediaan produk dan peralatan, lembaga pemasaran;
c. Perbaikan tindakan (better action). Dengan bekal perbaikan pendidikan dan perbaikan
aksesibilitas dengan beragam sumberdaya yang lebih baik, diharapkan akan terjadi
tindakan – tindakan yang semakin lebih baik;
d. Perbaikan kelembagaan (better institution). Dengan perbaikan kegiatan/tindakan yang
dilakukan, diharapkan akan memperbaiki kelembagaan, termasuk pengembangan jejaring
kemitraan – usaha;
e. Perbaikan usaha (better business).Perbaikan pendidikan (semangat belajar), perbaikan
aksesibilitas, kegiatan, dan perbaikan kelembagaan, diharapkan akan memperbaiki bisnis
yang dilakukan;
f. Perbaikan pendapatan (better income)
g. Perbaikan lingkungan (better environment)
h. Perbaikan kehidupan (better living)
i. Perbaikan masyarakat (better community)
Lebih lanjut, Mardikanto & Soebianto (2012) mengemukakan bahwa kegiatan
pemberdayaan pada setiap individu dalam suatu organisasi, merupakan siklus kegiatan yang
seperti pada gambar 2.8:

1
Mardikanto, Totok.dan Soebianto, Poerwoko. 2012. Pemberdayaan Masyarakat dalam Perspektif Kebijakan
Publik. Bandung: CV Alfabeta.
Gambar 2.8. Siklus Pemberdayaan Masyarakat
Sumber: Mardikanto & Soebianto, 2012

a. Pertama, menumbuhkan keinginan pada diri seseorang untuk berubah dan memperbaiki,
yang merupakan titik – awal perlunya pemberdayaan. Tanpa adanya kegiatan untuk
berubah dan memperbaiki, maka semua upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan
tidak akan memperoleh perhatian, simpati, atau partisipasi masyarakat;
b. Kedua, menumbuhkan kemauan dan keberanian untuk melepaskan diri dari
kesenangan/kenikmatan dan atau hambatan – hambatan yang dirasakan, untuk
a. kemudian mengambil keputusan mengikuti pemberdayaan demi terwujudnya
b. perubahan dan perbaikan yang diharapkan;
c. Ketiga, mengembangkan kemauan untuk mengikuti atau mengambil bagian dalam
kegiatan pemberdayaan yang memberikan manfaat atau perbaikan keadaan;
d. Keempat, peningkatan peran atau partisipasi dalam kegiatan pemberdayaan yang telah
dirasakan manfaat/perbaikannya;
e. Kelima, peningkatan peran dan kesetiaan pada kegiatan pemberdayaan, yang ditunjukkan
berkembangnya motivasi – motivasi untuk melakukan perubahan;
f. Keenam, peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan pemberdayaan;
g. Ketujuh, peningkatan kompetensi untuk melakukan perubahan melalui kegiatan
pemberdayaan baru.
Menurut Kartasasmita (1997)2 pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah
bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan
subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan
masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut:
a. Pertama, upaya itu harus terarah (targetted). Ini yang secara populer disebut pemihakan.
Ia ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk
mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya.
b. Kedua, program ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh
masyarakat yang menjadi sasaran. Mengikutsertakan masyarakat yang akan dibantu
mempunyai beberapa tujuan, yakni supaya bantuan tersebut efektif karena sesuai dengan
kehendak dan kemampuan serta kebutuhan mereka. Selain itu sekaligus meningkatkan
keberdayaan (empowering) masyarakat dengan pengalaman dalam merancang,
melaksanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan
ekonominya.
c. Ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat
miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Juga lingkup
bantuan menjadi terlalu luas kalau penanganannya dilakukan secara individu. Karena itu
seperti telah disinggung di muka, pendekatan kelompok adalah yang paling efektif, dan
dilihat dari penggunaan sumber daya juga lebih efisien. Di samping itu kemitraan usaha
antara kelompok tersebut dengan kelompok yang lebih maju harus terus-menerus di bina
dan dipelihara secara sating menguntungkan dan memajukan.
Lebih lanjut, Kartasasmita (1997) berpendapat bahwa mekanisme pemberdayaan
masyarakat harus melibatkan segenap potensi yang ada dalam masyarakat. Beberapa aspek di
antaranya dapat diketengahkan sebagai berikut:
a. Pertama, peranan birokrasi sebagai perwujudan dari implementasi kebijakan
pemerintah teramat penting. Dalam rangka ini ada beberapa upaya yang harus
dilakukan:

2
Kartasasmita, G. 1997. Pemberdayaan Masyarakat: Konsep Pembangunan Yang Berakar Pada Masyarakat.
Makalah Sarasehan
 Birokrasi harus memahami aspirasi rakyat dan harus peka terhadap masalah
yang dihadapi oleh rakyat.
 Birokrasi harus membangun partisipasi rakyat. Artinya, berilah sebanyak-
banyaknya
 kepercayaan pada rakyat untuk memperbaiki dirinya sendiri. Aparat
pemerintah membantu memecahkan masalah yang tidak dapat diatasi oleh
masyarakat sendiri.
 Untuk itu maka birokrasi harus menyiapkan masyarakat dengan sebaiknya,
baik pengetahuannya maupun cara bekerjanya, agar upaya pemberdayaan
masyarakat dapat efektif. Ini merupakan bagian dari upaya pendidikan sosial
untuk memungkinkan rakyat membangun dengan kemandirian.
 Birokrasi harus membuka dialog dengan masyarakat. Keterbukaan dan
konsultasi ini amat perlu untuk meningkatkan kesadaran (awareness)
masyarakat, dan agar aparat dapat segera membantu jika ada masalah yang
tidak dapat diselesaikan sendiri oleh rakyat.
 Birokrasi harus membuka jalur informasi dan akses yang diperlukan oleh
masyarakat yang tidak dapat diperolehnya sendiri.
 Birokrasi harus menciptakan instrumen peraturan dan pengaturan mekanisme
pasar yang memihak golongan masyarakat yang lemah.
Untuk dapat menjalankan misinya, maka birokrasi harus (1) ditingkatkan
kewenangannya sampai di lapisan terendah, (2) ditingkatkan kualitasnya, agar
benar-benar mampu memberikan bimbingan dan pemberdayaan masyarakat.
b. Kedua, peran organisasi-organisasi kemasyarakatan (LSM) yang dapat berfungsi
sebagai pelaksana program pemerintah (mewakili pemerintah), dapat menjadi
pembantu (konsultan) pemerintah, tetapi dapat juga menjadi pembantu rakyat dalam
program pemerintah.
c. Ketiga, peran lembaga masyarakat yang tumbuh dari dan di dalam masyarakat itu
sendiri, atau sering disebut sebagai local community organization. Lembaga ini dapat
bersifat semi atau kuasiformal atau yang benar-benar tumbuh dari masyarakat seperti
kelompok-kelompok masyarakat (pokmas). Lembaga masyarakat ini adalah yang
paling efektif untuk upaya pemberdayaan masyarakat, oleh karena tumbuh dan
berakar dari kalangan masyarakat sendiri. Secara sendiri-sendiri penduduk miskin
sulit dapat mengatasi hambatan yang menyebabkan kemiskinannya. Secara bersama-
sama, mereka dapat saling memperkuat dan saling menutupi kelemahan. Dinamika
kelompok dan sinergi diharapkan dapat menghasilkan nilai dari upaya individual
dalam kelompok.
d. Keempat, peran koperasi. Koperasi merupakan wadah ekonomi rakyat yang secara
khusus dinyatakan dalam konstitusi sebagai bangun usaha yang paling sesuai untuk
demokrasi ekonomi Indonesia. Koperasi dapat merupakan wahana yang efektif bagi
upaya pemberdayaan masyarakat, dengan membangun manusia modern namun
dengan dasar-dasar kekeluargaan dan kegotongroyongan yang menjadi ciri
demokrasi Indonesia.
e. Kelima, peran pendamping. Penduduk miskin pada umumnya mempunyai
keterbatasan dalam mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, diperlukan
pendamping untuk membimbing penduduk miskin dalam upaya memperbaiki
kesejahteraannya.
f. Keenam, pemberdayaan masyarakat harus dicerminkan dalam proses perencanaan
pembangunan nasional,
g. Ketujuh, keikutsertaan masyarakat yang lebih mampu, khususnya dunia usaha dan
swasta.
Sumodiningrat (1999)3 mengemukakan beberapa indikator keberhasilan program
pemberdayaan masyarakat, yaitu:
a. Berkurangnya jumlah penduduk miskin.
b. Berkembangnya usaha peningkatan pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin
dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
c. Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan
keluarga miskin dilingkungannya.
d. Meningkatkan kemandirian kelompok yang ditandai dengan makin berkembangnya usaha
produktif anggota dan kelompok, makin kuatnya permodalan kelompok, makin rapinya
sistem administrasi kelompok, serta makin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok
lain di dalammasyarakat.
3
Gunawan Sumodiningrat, 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaringan Pengaman Sosial, Jakrta: PT Gramedia
Pustaka Utama
e. Meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai oleh
peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan
kebutuhan sosial dasarnya