Anda di halaman 1dari 17

PRACTICE 15

“DENTAL ASSISTANT’S ROLE IN CLINICAL ETHICS”

DOSEN PEMBIMBING :

drg. Endah Aryati Eko Ningtyas, MDSc

Disusun Oleh :

Elvira Priska Damyanti

P1337425218022

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


SEMARANG

DIV KEPERAWATAN GIGI

2019/2020

KATA PENGANTAR

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dental Assistant adalah seseorang yang bekerja di klinik gigi di bawah
pengawasan dokter gigi dan bertanggung jawab pada ruang lingkup yang luas di
dalam klinik gigi, administrasi dan fungsi laboratoris. Fungsi dental asisten fleksibel
dan variasi pada klinik gigi dan membutuhkan kemampuan klinikal, administrasi,
interpersonal, teknologikal.
Dental Assistant bertugas sebagai asisten yang mengisi Rekam Medis,
melakukan tindakan Preventive Dentistry seperti membersihkan karang gigi secara
mandiri, serta membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan, mengontrol
saliva, membersihkan mulut, serta mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur
perawatan sedang dilakukan.
Dental Assistant harus mempunyai etika dalam dirinya yang di cerminkan
dalam kehidupan sehari-hari. Seorang dental assistant saat bekerja pun harus
mempunyai etika, agar dapat mencerminkan sikap sebagai orang yang berpendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan etika?
2. Apa perbedaan etika, norma, dan etiket?
3. Mengapa harus beretika yang benar di tempat kerja?
4. Bagaimana etika yang benar dalam berkomunikasi dengan atasan, teman
kerja, dan pasien baik dewasa maupun anak-anak?
5. Bagaimana etika yang benar dalam berpakaian di tempat kerja?
6. Bagaimana etika yang benar sebagai resepsionis?
7. Bagaimana etika yang benar sebagai dental asisten dan operator?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian etika
2. Untuk mengetahui perbedaan etika, norma, dan etiket
3. Untuk mengetahui etika yang benar di tempat kerja

2
4. Untuk mengetahui etika yang benar dalam berkomunikasi dengan atasan,
teman kerja, dan pasien baik dewasa maupun anak-anak
5. Untuk mengetahui etika yang benar dalam berpakaian di tempat kerja
6. Untuk mengetahui etika yang benar sebagai resepsionis
7. Untuk mengetahui etika yang benar sebagai dental asisten dan operator

D. Manfaat
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan terhadap peran asisten gigi dalam
etika klinis.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika
Definisi Etika Secara Umum
Pengertian etika secara umum adalah suatu peraturan atau norma yang
bisa digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan
sifat yang baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang serta merupakan suatu
kewajiban dan tanggungan jawab moral.
Lebih singkatnya, etika diartikan sebagai sebuah ilmu tentang kesusilaan
yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup didalam masyarakat
yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah
laku yang benar.
Pengertian Etika Menurut Para Ahli
Selain definisi secara umum, ada banyak lagi definisi etika yang berbeda beda
dari para ahli. Para ahli dan pakar berbeda pendapat dalam mendefinisikan apa
itu etika.
1. Menurut Aristoteles
Pengertian etika menurut Aristoteles dibagi menjadi dua, yaitu
Terminius Technicus dan Manner and Cutom. Terminius Technicus adalah
sebuah etika yang dipelajari sebagai suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari suatu problema tindakan manusia.
Sedangkan Manner and Cutom adalah sebuah pembahasan etika
yang berhubungan dengan tata cara dan adat kebiasaan yang melekat dalam
diri manusia, sangat terkait dengan baik dan buruknya suatu perilaku,
tingkah, atau perbuatan manusia.
2. Menurut Prof. Robert Salemon
Etika bisa diartikan sebagai sebuah karakter individu atau sebagai
hukum yang social yang mengatur, mengendalikan dan membahas perilaku
manusia.
3. Menurut Fagothey

4
Pengertian etika menurut Fagothey adalah studi tentang kehendak
menusia yang berhubungan dengan benar dan salah dalam bertindak.
4. Menurut K. Bertens
Menurut K. Bertens, definisi etika adalah sebagai berikut:
 Etika dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi
pegangan bagi seorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya. Arti ini dapat juga disebut sistem nilai dalam hidup manusia
perseorngan atau hidup bermasyrakat
 Etika dipakai dalam arti kumpulan asas dan nilai moral,yang dimaksud
disini adalah kode etik

B. Perbedaan Etika, Norma, Dan Etiket


Etika
Etika, kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethikos” yang berarti
timbul dari kebiasaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesisa
(KBBI), etika adalah bidang ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk
serta hak dan kewajiban moral (akhlak). Selain itu, Etika juga diartikan sebagai
suatu sikap seseorang dalam kesedian atau kesanggupannya untuk taat dan
mengikuti ketentuan serta norma – norma kehidupan yang berlaku di masyarakat
ataupun organisasi. Etika juga disebut sebagai cabang ilmu yang isinya tentang
kesusilaan dan terdapat ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan bagaimana
sikap yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan di suatu lingkungan
masyarakat serta dapat memahami antara hal yang baik dan buruk.

1. Etika berlaku dimanapun dan kapanpun, baik dalam kehidupan dengan


orang lain maupun dalam kehidupan pribadi. Jadi, etika berlaku bagi siapa
saja saat dia sendiri ataupun dengan orang lain.

Contoh :

 Mengambil barang milik orang lain tanpa izin pemilik (Mencuri)


dilakukan ketika tidak ada siapapun yang melihatnya. Namun hal
itu tetap perbuatan yang dilarang.

5
 Meminjam suatu barang, dimana kita mengambil barang orang lain
atas izin orang itu. Maka barang tersebut harus dikembalikan
walaupun orang yang meminjamkan lupa.

 Etika bersifat absolut, yakni ketentuan – ketentuan serta prinsip yang ada
pada etika didak dapat dirubah atupun digugat. Yaitu, perbuatan baik akan
mendapatkan pujian dan perbuatan buruk harus mendapatkan hukuman.

Contoh:

 Adanya larangan untuk membunuh, maka orang yang membunuh


harus dihukum.

 Ketika seorang anak mendapat peringkat 1 dikelasnya, maka ia


akan mendapat pujian

 Etika memandang manusia dari hatinya

Contoh:
 Orang yang memiliki hati yang baik maka dia akan selalu berbuat
baik. Dengan perbuatan – perbuatan baiknya, tidak mungkin orang
itu memiliki sifat munafik (buruk).
 Orang yang membunuh manusia tetap dianggap sebagai pembunuh
walaupun tutur katanya baik.
Norma
Norma atau kaidah adalah ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia
di dalam bermasyarakat. Di dalam masyarakat terdapat bermacam-macam
norma. Jenis-jenis norma antara lain:
 Norma susila, yaitu peraturan hidup yang berasal dari hati nurani
manusia. Norma susila menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Norma susila yang mendorong manusia untuk kebaikan akhlak pribadinya.
Norma susila melarang manusia untuk berbuat tidak baik, karena
bertentangan dengan hati nurani setiap manusia yang normal. Contoh-contoh
norma susila  antara lain:
a. Jangan mencuri barang milik orang lain
b. Jangan membunuh sesama manusia.

6
c. Hormatilah sesamamu.
d. Bersikaplah jujur.
 Norma kesopanan, yaitu ketentuan hidup yang berasal dari pergaulan
dalam masyarakat. Dasar dari norma kesopanan adalah kepantasan,
kebiasaan dan kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan
sering dinamakan norma sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma
sopan santun yang aktual dan khas berbeda antara masyarakat yang satu
dengan masyarakat yang lain. Contoh-contoh norma kesopanan, antara lain:
a. Yang muda harus menghormati yang lebih tua usianya.
b. Berangkat ke sekolah harus berpamitan dengan orang tua
terlebih dahulu.
c. Memakai pakaian yang pantas dan rapi dalam mengikuti
pelajaran di sekolah.
d. Janganlah meludah di dalam kelas.
 Norma agama, yaitu ketentuan hidup yang berasal dari Tuhan Yang
Maha Esa, yang isinya berupa larangan, perintah-perintah, dan ajaran.
Norma agama berasal dari wahyu Tuhan dan mempunyai nilai yang
fundamental yang mewarnai berbagai norma yang lain, seperti norma susila,
norma kesopanan, dan norma hukum. 
Contoh-contoh norma agama, antara lain:
a. Tidak boleh membunuh sesama manusia.
b. Tidak boleh merampok harta orang lain.
c. Tidak boleh berbuat cabul.
d. Hormatilah bapak ibumu.
Terhadap pelanggar norma agama akan dikenakan sanksi oleh Tuhan kelak
di akhirat nanti, yang dapat berupa dimasukkan dalam neraka. 
Norma hukum, yaitu ketentuan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang
yang mempunyai sifat memaksa untuk melindungi kepentingan manusia
dalam pergaulan hidup di masyarakat dan mengatur tata tertib kehidupan
bermasyarakat. 
Etiket
Kata Etiket berasal dari Bahasa Perancis yaitu “etiquette” yang berarti
sopan santun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etiket adalah tata

7
cara (sopan santun/adat) dalam menjaga hubungan yang baik dengan orang lain
dalam sebuah lingkungan masyarakat. Selain itu, etiket juga berarti aturan sikap
seseoran seperti sopan santun yang berfungsi untuk mengatur bagaimana
hubungan manusia dengan manusia lain dalam suatu kelompok masyarakat.
Etiket juga merupakan perilaku seseorang yang dianggap sesuai dengan
kepribadian dan gaya hidupnya. Etiket berhubungan dengan hubungan seseorang
dengan orang lain, jadi etiket bisa disebut sebuah peraturan sopan santun dan
pergaulan serta hidup bermasyarakat.

1. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, artinya etiket hanya berlaku ketika ada
orang lain disekitar kita. Jika kita sendiri maka etiket tidak berlaku.

Contoh:

 Makan sambil bicara, sendawa, makan sambil berdiri, dan lain


sebagainya adalah hal yang tidak sopan dan tentu melanggar etiket.
Namun jika kamu melakukannya saat sendiri dan tidak ada yang
melihatnya maka hal yang kamu lakukan itu tidak melanggar etiket.

 Buang angin saat sedang berkumpul dengan keluarga atau teman adalah
hal yang melanggar etiket, namun jika kamu melakukannya di kamar
mandi saat sendiri maka itu tidak melanggar etiket.

2. Etiket bersifat relative, yaitu: sesuatu yang menurut sekelompok masyarakat


itu tidak sopan maka belum tentu tidak sopan menurut sekelompok
masyarakat lain. Jadi etiket itu bergantung pada adat, budaya, dan kebiasaan
dari daerah itu sendiri.

3. Etiket berhubungan dengan tata cara perbuata yang harus dilakukan oleh
manusia.

Contoh: Ketika kamu hendak menyerahkan suatu barang kepada orang lain,
kamu harus memberikannya dengan tangan kanan. Jika kamu menggunakan
tangan kiri, maka itu dianggap tidak sopan dan melanggar etiket.

8
4. Etiket memandang seseorang segi luar, artinya seseorang bisa saja selalu
berpegang teguh pada etiker (berlaku sopan dan santun) namun tidak
menutup kemungkinan orang itu memiliki sifat yang jahat.

Contoh :

 Seseorang yang terlihat baik namun ternyata dia adalah seorang


pencopet.
 Seseorang seperti pejabat yang selalu terlihat baik dalam bertutur kata
atau hal lainnya, namun ternyata dia seorang koruptor.

C. Etika Yang Benar Di Tempat Kerja

Datang on time setiap hari

Tepat waktu merupakan prinsip baik di manapun berada, termasuk di tempat kerja.
Ketepatan waktu mencerminkan seberapa disiplin kamu. Selain itu, kebiasaan
datang on time setiap hari akan memberikan efek positif. Di satu sisi, kamu akan
menjadi panutan bagi rekan kerja lainnya.

Pakailah busana yang pantas

Hal penting yang harus diterapkan oleh seorang perawat gigi adalah berpakaian
yang pantas, sopan, dan rapi. Kamu juga harus cerdas memilih busana kerja. Karena
kamu harus ingat, busana yang kamu kenakan merupakan cerminan dirimu sendiri.

Hindari bergosip pada sesama rekan kerja

Bedakan urusan pribadi dan pekerjaan

Terkadang, memisahkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan memang cukup


sulit. Tapi, ini merupakan upaya jika ingin karier meningkat. Satu hal lagi, jangan
pula kamu menceritakan masalah pribadi saat bekerja. Apalagi, dengan teman-
teman kerjamu. Itu bukan etika yang baik.

9
Tidak menyela pembicaraan

Melakukan kebiasaan ini hanya akan menunjukkan keegoisanmu bahwa waktu


dan pendapatmu lebih penting daripada orang lain. Catat, tidak ada rekan kerja
yang bisa menerima sikap egois.

Jagalah kerapian

Hormatilah semua orang yang ada di sekitarmu

Jadilah pribadi yang bertanggung jawab

Bertanggung jawab merupakan sikap positif sekaligus etika di tempat kerja yang
baik. Bila ingin kariermu meningkat, maka etika di tempat kerja ini juga patut
kamu terapkan.

Jadilah pribadi yang lebih peduli

Selalu mintalah ijin ketika meminjam

Sedekat atau seakrab apapun relasi dengan rekan kerja, tetaplah meminta ijin
ketika ingin meminjam sesuatu. Perilaku ini menunjukkan kita adalah orang
yang menghargai orang lain dengan segala kepemilikannya.

Bertutur sopan

Tutur yang santun dan kata-kata baik pasti akan suasana kerja jadi lebih nyaman
dan menjaga semangat kerja. Tumbuhkan kebiasaan baik ini dan mulailah dari
diri sendiri.

Hargai privasi orang lain

D. Etika Yang Benar Dalam Berkomunikasi Dengan Atasan, Teman Kerja, Dan Pasien
Baik Dewasa Maupun Anak-Anak

10
Mendengarkan
Komunikasi yang efektif dimulai dari kemampuan dalam mendengar.
Perlihatkan keseriusan dan antusiasme dalam mendengarkan informasi atau
instruksi dari atasan, teman kerja atauupun pasien. Keseriusan dan antusiasme
dari seseorang dalam mendengar, bisa dilihat dari sikapnya pada saat mendengar.
Orang yang sibuk mempermainkan sesuatu, atau melirik kesana-kemari, atau
pandangannya terlihat kosong, pastilah bukan orang yang serius dalam
mendengarkan.
Bertanya dan memberi tanggapan
Seorang perawat gigi yang baik bukanlah orang yang melakukan semua instruksi
dari atasannya maupun teman kerjanya tanpa pertimbangan apapun. Oleh sebab
itu, apabila belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh atasan atau teman kerja,
haruslah bertanya. Demikian juga apabila merasa perlu memberikan ide, untuk
memperkuat ataupun merubah instruksi dari atasan atau teman kerja, lakukanlah
dengan cara yang sopan dengan alasan-alasan yang kuat, supaya tidak dianggap
sebagai perawat gigi yang sulit diatur. Untuk itu, harus mempelajari karakter dari
atasan atau teman kerja, agar bisa mencari waktu dan sikap yang tepat untuk
berkomunikasi dengan dia.
Gunakan kalimat bersifat positif dan bahasa yang efektif 
Hindari menggunakan kata-kata konfrontatif, intonasi tinggi dan argumentative.
Dan hindari menggunakan bahasa atau istilah-istilah yang terlalu tinggi sehingga
tidak dimengerti oleh atasan atau teman kerja yang lainnya. Komunikasi yang
efektif bukan dinilai dari canggihnya kata-kata atau bahasa yang digunakan
tetapi dari mudah atau tidaknya bahasa tersebut dipahami oleh lawan bicara.
Bahasa tubuh dan raut wajah
Jangan membungkuk atau melakukan gerakan- gerakan tubuh yang
menimbulkan perasaan tidak nyaman pada lawan bicara.  Dan hindari
menampilkan raut wajah negatif.
Jangan menggurui
Sikap menggurui adalah sikap yang paling tidak disukai oleh siapa saja. Apalagi
jika sudah berada di dunia kerja. Masing-masing individu merasa memiliki
pengalaman yang berbeda dengan orang lain. Manakala dalam berkomunikasi
ada kesan menggurui, maka bisa dipastikan asumsi-asumsi tertentu akan muncul

11
dalam hubungan kerja. Oleh karena itu, bijaklah dalam berkomunikasi sehingga
tidak terjadi sikap menggurui.
Melaporkan
Teknik serta etika dalam melapor adalah sesuatu yang bisa dipelajari dengan
mudah. Buatlah konsep atau poin-poin yang akan di laporkan kepada atasan.
Cara ini secara otomatis akan membuat menguasai  maksud dan tujuan dari
laporan tersebut. Dari konsep tersebut, juga bisa mengantisipasi respon dari
atasan.
Bahasa formal adalah bahasa paling aman
Etika dari berkomunikasi antara atasan, teman kerja, ataupun pasien dengan
perawat gigi yang pertama adalah dengan menggunakan bahasa formal.
Pastikan intonasi suara jelas
Intonasi yang jelas akan membuat kelangsungan komunikasi berjalan dengan
baik. Apabila seseorang berkomunikasi tanpa intonasi yang jelas, bisa jadi pesan
yang akan disampaikan tidak diterima dengan baik. Akibatnya, bisa terjadi
kesalahpahaman yang tentu saja ujung-ujungnya nanti bisa menjadi
permasalahan baru.
Fokus saat melakukan pembicaraan
Saat melakukan pembicaraan, pastikan kita fokus dan “hadir” baik secara fisik
mau pun pikiran dalam pembicaraan tersebut. Ini adalah salah satu etika
komunikasi yang kadang kala sering diabaikan. Bagaimana tidak, seseorang
seringkali merasa diabaikan hanya karena lawan bicaranya tidak fokus saat
diajak bicara. Hal ini tentu saja bisa memicu terjadinya perselisihan.
Hindari ekspresi-ekspresi tertentu
Belajar fungsi komunikasi ekspresif akan sangat membantu mengenai hal
ini. Komunikasi nonverbal merupakan salah satu bentuk dari hasil interaksi antar
individu. Ekspresi-ekspresi tertentu bisa dianggap sebagai suatu tanda bagi lawan
bicara. Pastikan masing-masing nyaman dengan tidak memunculkan suatu sikap
atau ekspresi-ekspresi yang memang kurang bagus ini
Sadar posisi
Menyadari posisi masing-masing dalam berkomunikasi adalah hal yang penting.
Ini bisa membangun pola komunikasi organisasi yang baik. Seseorang harus
memahami sebagai apa dia saat ini dalam berkomunikasi dengan orang lain.

12
Manakala hal ini diabaikan, maka tidak menutup kemungkinan seseorang akan
menjadi lebih merasa superior dibandingkan yang lain.
Menjaga sikap professional
Sikap-sikap profesional akan terlihat dari bagaimana cara kita bertutur kata. Oleh
karena itu, mempelajari cara berkomunikasi dengan baik dan profesional adalah
salah satu cara yang paling tepat untuk menjadikan kita lebih dihargai.
Jangan pernah lupa “maaf” dan “terima kasih”
Selama berbicara, jangan lupakan ungkapan “maaf” dan “terima kasih”. Kedua
kata tersebut memang terlihat sepele namun sangat berpengaruh besar dan
menunjukan etika baik saat berkomunikasi.

E. Etika Yang Benar Dalam Berpakaian Di Tempat Kerja


Sesuai dengan budaya dan peraturan 
Cari tahu budaya dan aturan berpakaian yang diterapkan di tempat kerja. Ini
bisa membantu dalam memilih pakaian kerja yang akan dikenakan. Bila tempat
kerja mewajibkan karyawan mengenakan pakaian formal atau pakaian bergaya
kasual, sudah semestinya mengikuti peraturan tersebut. Namun, sebaiknya juga
perhatikan gaya berpakaian rekan kerja dan atasan.
Jaga penampilan
Tak cuma baju yang harus di perhatikan, tapi juga penampilan diri. Sebisa
mungkin, sebelum berangkat kerja, mandi, gosok gigi, dan bersolek. Tak perlu
pakai riasan tebal. Yang penting Anda terlihat bersih, rapi, wangi, cerah, dan
berseri. 
Hindari memakai pakaian yang tidak pas. Pakaian yang kebesaran hanya akan
membuat tampilan terlihat buruk, kacau dan berantakan. Sebaliknya pakaian
terlalu sempit juga akan membatasi ruang gerak tubuh dan terlihat tidak sopan.
Sedangkan untuk celana, hindari model celana yang berpotongan skinny. Karena
dampaknya akan membuat tidak leluasa dan tidak nyaman dalam bergerak.
Kenakan pakaian yang santai, tapi sopan
Kuku juga harus terlihat bersih dan dipotong dengan rapi.

F. Etika Yang Benar Sebagai Resepsionis


 Sambut pasien dengan tulus

13
Pemberian sambutan yang tulus terhadap pasien adalah etika yang cukup utama.
pasien akan bisa merasakan jika sambutan yang di berikan tidak tulus. Untuk itu,
perhatikan beberapa hal berikut agar sambutan terasa lebih tulus :

Sambut pasien dengan ramah, sopan dan penuh semangat serta secara tulus.

Apabila berada di ruangan tertutup, maka segeralah beranjak untuk


membukakan pintu bagi pasien.

Menerima pasien pada kondisi duduk memang tidak salah. Tapi etika yang
lebih sopan adalah lebih baik bila menerima pasien sambil berdiri,
memberikan salam dan berjabat tangan di awal perjumpaan.

 Beri pelakukan yang baik


 Berpenampila rapi, bersih dan segar.
 Berperilaku sopan dan ramah.
 Ekspresi wajah yang hangat namun meyakinkan.
 Senang bergaul dan luwes.
 Menjadi pendengar yang baik.
 Menjaga sikap tubuh agar tidak melakukan kebiasaan jelek seperti menggugit
kuku, ngupil, memegang dagu, dan sebagainya.
 Berlaku sopan dan hormat kepada pasien.
 Penuh semangat kerja.
 Menggunakan nada suara yang enak dan jelas.
 Senantiasa bersikap tenang.
 Menangani pasien yang complaint secara professional.
 Duduk pada posisi yang memungkinkan dapat melihat orang yang masuk
ruangan.
 Jangan menginterupsi pembicaraan pasien.
 Tulus dalam melayani pasien.
 Jangan terlalu lama membuat pasien menunggu
 Memberi salam dan menyapa pasien dengan ramah, sopan dan menanyakan
keperluan pasien.
 Perhatikan kepentingan-kepentingan pasien.

14
 Hindari bergerombol dengan teman kerja di meja resepsionis, apabila untuk
keperluan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan
 Menyingkirkan barang-barang yang tidak berhubungan dengan pekerjaan di
meja kerja.
 Hindari mondar-mandir di ruang tamu dengan sandal atau penampilan yang
tidak rapi.
 Hindari mengobrol atau bergosip dengan teman kerja

G. Etika Yang Benar Sebagai Dental Asisten Dan Operator


 Memberi salam ketika datang
 Berpenampilan rapi dan sopan
 Menjaga komunikasi
 Tanggap atas apa yang diperlukan oleh pasien
 Tampilkan ekspresi yang menyenangkan jangan menampilkan
ekspresi yang murung
 Munculkan sikap yang ramah
 Bila berbicara pilihlah bahasa yang tepat, jangan sampai memilih
bahasa yang kurang tepat
 Menjaga kenyaman dalam bekerja, jangan menimbulkan perilaku
yang membuat orang lain tidak nyaman
 Tidak memakai riasan wajah yang berlebihan
 Tidak memakai perhiasan yang mencolok
 Tidak memakai alas kaki yang kurang sopan untuk bekerja, seperti
high heels
 Tidak membeda-bedakan pasien
 Menghormati pasien

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai perawat gigi kita harus selalu memperhatikan etika kita dalam bekerja,
baik dengan atasan, sesama rekan kerja ataupun pasien. Perhatikan pula penampilan
saat bekerja, jangan sampai berpenampilan yang terlalu berlebihan atau mencolok.
Ketika melakukan tindakan perawatan perawat gigi harus menghormati pasien dan
tidak membeda-bedakan pasien, dengarkan seluruh keluhan yang dirasakan oleh
pasien, perawat gigi harus bisa menjadi pendengar yang baik. Harus senantiasa
menerapkan etika yang baik dan benar pada saat bekerja.

B. Saran
Berdasarkan pembahasan di atas maka sebagai seorang perawat gigi kita
harus benar- benar menerapkan etika pada saat bekerja. Agar orang-orang yang ada
pada lingkungan kerja kita menilai kita sebagai pribadi yang baik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Nuansa Bayu Segara. 2014. Penggunaan Rubrik Sebagai Alternative Assessment


Pada Mata
Kuliah Seminar Studi Sosial Diakses Dari Https://www.Academia.Edu/9951320/
diakses
pada tanggal 30 Nopember 2015.
Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional.
Salemba Medika. Jakarta.
Ta’adi. 2010. Hukum Kesehatan Pengantar Menuju Perawat Profesional.EGC.
Jakarta.
UU No 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

17