Anda di halaman 1dari 14

EKSPLORASI BATUBARA DI WILAYAH MAMPUN PANDAN

Oleh:

Mohammad Syaiful

Abstrak

Pemetaan geologi permukaan intensif untuk eksplorasi batubara dilakukan di Daerah Mampun
Pandan (Provinsi Jambi) pada akhir 1989. Pemetaan lapangan terperinci dalam area 8,25 x 6,2
kilometer persegi ini dilakukan dengan menggunakan deskripsi singkapan batuan, penggalian
parit, lubang uji, dan dilengkapi dengan pengeboran dangkal. Pekerjaan survei terperinci untuk
pembuatan peta topografi juga dilakukan.
Dua satuan batuan sedimen teramati di daerah penelitian, yaitu Satuan Batulempung-Batubara dan
Satuan Batupasir Konglomeratan. Kedua satuan batuan ini diinterpretasikan berumur Oligosen
Atas hingga Miosen Bawah pada umur dan kemungkinan diendapkan di lingkungan danau dan
sungai. Kedua satuan sedimen ini berada di atas batuan dasar granit berumur Pra-Tersier. Lapisan-
lapisan batubara ditemukan di kedua satuan batuan sedimen tersebut. Tiga lapisan batubara utama
dan satu lapisan batubara lainnya ditemukan di Satuan Batulempung-Batubara. Ketebalan lapisan-
lapisan batubara utama berkisar dari 4,5 m hingga 11 m, sedangkan lapisan batubara minor
tebalnya hingga 3 m. Dua lapisan batubara dengan ketebalan masing-masing sekitar 4 m
ditemukan di Satuan Batupasir Konglomeratan. Kisaran kemiringan semua lapisan batubara
berkisar antara 5 dan 48 derajat.
Menggunakan klasifikasi ASTM (American Standard Testing Measurement), batubara Mampun
Pandan dikelompokkan sebagai High Volatile Bituminous A hingga High Volatile Bituminous C.
Jumlah cadangan batubara dihitung menggunakan metode USGS - Circular 891. Berdasarkan data
permukaan berupa singkapan-singkapan batubara, cadangan tertunjuk sebesar 143.403.239 ton
dan cadangan terukur sebesar 57.112.851 ton. Dengan data tambahan berupa sumur-sumur
pengeboran dangkal, cadangan tertunjuk meningkat menjadi 144.164.264 ton dan cadangan
terukur sebesar 64.827.710 ton.

Kata Kunci : eksplorasi, lapisan batubara, batuan sedimen, cekungan inter-mountain, cadangan

Provinsi Jambi (Gambar 1), memiliki potensi


1. PENDAHULUAN energi batubara ini.

Pada tahun 1980, Pemerintah Indonesia Dua penulis sebelumnya telah menyebutkan
mengumumkan kebijakan baru tentang energi tentang batubara di Mampun Pandan. Yang
untuk mengurangi ketergantungan nasional pertama adalah seorang penjelajah Belanda
terhadap energi minyak- dan gasbumi. yang mengunjungi daerah itu selama
Kebijakan baru itu diharapkan untuk penyelidikan mengenai penambangan sekitar
meningkatkan energi alternatif seperti tahun 1908. Singkapan-singkapan batubara
batubara. dan batuan beku dilaporkan (Tobler, 1922).
Kemudian Soejitno dkk. (1988) melakukan
Sebagaimana halnya hidrokarbon, batubara pemetaan geologi permukaan di daerah
bukanlah energi terbarukan. Untuk keperluan penelitian dan menghasilkan peta geologi
pembangkit listrik, batubara lebih kompetitif skala 1: 10.000. Dua lapisan batubara yang
daripada hidrokarbon. Bank Dunia tersisip di dalam Satuan Serpih telah
melaporkan pada tahun 1988, bahwa dalam ditemukan, sedangkan 2 satuan batuan lainnya
perbandingan harga listrik (per kilowatt-jam); (Satuan Konglomerat dan Satuan Batupasir)
biaya batubara kira-kira setengah dari biaya tidak mengandung lapisan batubara.
hidrokarbon (Amirrusdi, 1990).
Tujuan makalah ini adalah untuk
Sejak itu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi menunjukkan, bahwa studi terbaru dengan
batubara telah ditingkatkan untuk menambah data dan pendekatan yang lebih baik telah
jumlah cadangan batubara di negara ini. memberikan hasil yang lebih baik. Dengan
Mampun Pandan, daerah kecil yang terletak di demikian, kegiatan eksploitasi batubara dapat
Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 1
dilakukan berdasarkan pemetaan eksplorasi daripada singkapan batubara. Beberapa paritan
terbaru ini. Penelitian ini dilaksanakan oleh digali jika memungkinkan untuk mengetahui
Institut Teknologi Bandung {ITB) bekerja kontak lapisan batubara dengan batuan lain
sama dengan Perusahaan Umum Tambang yang berada di atas maupun di bawahnya.
Batubara Indonesia (Syaiful, 1991). Ketebalan lapisan batubara dapat diukur
dengan lebih baik dan lebih pasti
2. AKUISISI DATA LAPANGAN menggunakan metode paritan ini.

Pekerjaan di lapangan untuk penelitian ini Sepuluh sumur uji digali untuk mendapatkan
dilakukan selama satu tahun sejak akhir 1989. sampel yang lebih baik guna analisis lebih
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah lanjut. Uji laboratorium yang dilakukan
pemetaan topografi detail. Selanjutnya, terhadap sampel batubara ini mencakup
pemetaan geologi permukaan secara analisis proksimat, analisis ultimate, dan
konvensional dilakukan, berupa pengamatan analisis-analisis geokimia lainnya.
singkapan-singkapan batuan, penggalian parit,
dan lubang atau sumur uji. Berikutnya, 2.4. Pengeboran Dangkal
kegiatan pengeboran dangkal dilakukan untuk
melengkapi pekerjaan di lapangan. Berdasarkan peta geologi permukaan (versi
pertama), kegiatan pengeboran dangkal
2.1. Detail Pemetaan Topografi dilakukan untuk memperoleh data bawah
permukaan. Informasi penting dari setiap
Pada awalnya, peta topografi yang tersedia sumur adalah stratigrafi dan ketebalan setiap
adalah berskala 1 : 100.000 yang diterbitkan bagian litologi.
oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi (PPPG). Dengan kata lain, data sumur memberikan
konfirmasi terhadap peta geologi dan
Oleh karena diperlukan peta yang lebih detail, menginterpretasikan penampang vertikal
maka pemetaan topografi dilakukan selama 3 secara stratigrafi. Hasilnya adalah peta geologi
bulan (Desember 1989 hingga Februari 1990), permukaan diubah menjadi lebih baik.
yang menghasilkan peta topografi skala 1 :
5.000 dengan interval kontur sebesar Sebanyak 22 sumur dibor dan dibeda-bedakan
5 meter. sebagai pengeboran coring dan pengeboran
non-coring. Metoda geofisika (log kaliper, log
2.2. Pengamatan Singkapan Batuan gamma ray, dan log densitas) juga dilakukan,
terutama di sumur-sumur non-coring.
Sebagian besar singkapan batuan ditemukan di Pekerjaan pengeboran sumur-sumur dangkal
sepanjang sungai dan sumur air di wilayah ini diselesaikan dalam waktu 8 bulan (Maret
penelitian. Setiap singkapan batuan diamati, hingga Oktober 1990).
meliputi tekstur dan strukturnya. Jurus dan
kemiringan lapisan batuan sedimen juga 3. GEOLOGI REGIONAL SUMATRA
diukur.
Cekungan Sumatera Tengah dan Cekungan
Sampel-sampel batuan diambil untuk Sumatra Selatan pada umumnya telah
keperluan analisis laboratorium, seperti dipelajari oleh perusahaan-perusahaan
ukuran butir dan analisis petrografi melalui minyak. Kedua cekungan tersebut dipisahkan
sayatan tipis batuan. oleh Tinggian Kampar, yang menerus ke arah
barat menjadi Zona Pegunungan Tigapuluh.
Berdasarkan singkapan-singkapan batuan, Bagian barat cekungan-cekungan tersebut
paritan-paritan, dan sumur-sumur uji, peta dikenal sebagai Zona Bukit Barisan dimana
geologi permukaan dengan skala 1 : 5.000 biasanya cekungan sedimen inter-mountain
telah dibuat dalam waktu 4 bulan (Desember terbentuk.
1989 hingga Maret 1990).
Daerah Mampun Pandan terletak di bagian
2.3. Paritan dan Sumur Uji utara Zona Sesar Sumatra dan dekat dengan
bagian barat Pegunungan Tigapuluh, di antara
Paritan dan sumur uji dibuat untuk Cekungan Sumatra Tengah dan Cekungan
memperoleh pengamatan yang lebih baik Sumatra Selatan (Gambar 2). Geologi regional
2 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
di wilayah tersebut (Pulau Sumatra atau tenggara dengan kemiringan 12-48 derajat ke
Lempeng Mikro Sunda) telah dikemukakan timurlaut (Gambar 3).
dengan baik oleh Davies (1984).
Lapisan Batubara Jambu berwarna hitam,
4. STRATIGRAFI MAMPUN PANDAN sedang hingga cerah, fraktur konkoidal,
sedang hingga rapuh, sedang hingga keras, dan
Batuan beku dan batuan sedimen tersingkap interval rekahan (cleat) dari 4 cm hingga 8 cm.
secara jelas di daerah penelitian (Gambar 3 dan Lapisan pengotor (batulempung karbonan,
Gambar 4). Sekitar 50% dari daerah tersebut hitam), dengan ketebalan 51 cm hingga 55 cm,
didominasi oleh granit, yang diinterpretasikan kadang-kadang teramati di dalam lapiran
sebagai batuan dasar cekungan. Berdasarkan batubara ini. Ketebalan Lapisan Batubara
penanggalan sampel-sampel granit dari Jambu berkisar dari 5,14 m sampai dengan
Pegunungan Tigapuluh dan Pegunungan 5,28 meter.
Duabelas, umur batuan dasar itu adalah Pra-
Tersier, kemungkinan Jura (Simanjutak, Lapisan Batubara Keruh berwarna hitam,
1981). Granit di Mampun Pandan tersingkap kusam hingga cerah, fraktur konkoidal, agak
dalam keadaan lapuk. Umumnya berwarna rapuh, agak keras, dan interval rekahan (cleat)
merah, holokristalin, fanerik, dan berbutir dari 8 cm hingga 12 cm. Ketebalan lapisan
kasar. Komposisinya terutama kuarsa, batubara ini dari 3 meter hingga 4 meter.
ortoklas, horblenda, dan biotit.
4.2. Satuan Batulempung-Batubara
Dua satuan batuan sedimen diendapkan di atas
batuan dasar, yaitu Satuan Batulempung- Satuan Batulempung-Batubara terdiri dari
Batubara dan Satuan Batupasir perselingan laminasi batulempung dan
Konglomeratan, yang saling menjemari batulanau dengan lapisan-lapisan batubara di
(Gambar 5 dan Gambar 6). Tidak ada fosil dalamnya. Satuan batuan ini diendapkan di
fauna yang ditemukan di kedua satuan batuan lingkungan danau.
tersebut. Litologi satuan-satuan batuan
sedimen ini diinterpretasikan, secara lebih Penyebaran Satuan Batulempung-Batubara
regional, sebanding dengan Formasi Sinamar terutama di tengah-tengah daerah penelitian.
(Rosidi, 1976). Dengan demikian, Satuan Ketebalan satuan ini berkisar dari 53 hingga
Batulempung-Batubara dan Satuan Batupasir 200 meter, menipis ke tepi cekungan inter-
Konglomeratan diinterpretasikan berumur montain di baratlaut (Gambar 4).
Oligosen Atas hingga Miosen Bawah.
Empat lapisan batubara tersisip di Satuan
4.1. Satuan Batupasir Konglomeratan Batulempung-Batubara (Gambar 5 dan
Gambar 6), yaitu Mampun Kecil Seam (MPK),
Satuan batuan ini terdiri dari batupasir, Inom Badak Seam (IBD), Napal Hitam Seam
batupasir konglomeratan, dengan sisipan (NPH), dan Keruh Seam (KRH). Mampun
batulanau, batupasir lanauan, dan lapisan- Kecil Seam adalah lapisan batubara tertua di
lapisan batubara. Batuan ini diendapkan di satuan ini, sedangkan Keruh Seam adalah yang
lingkungan sungai. termuda. Secara umum, jurus lapisan-lapisan
batubara berarah utara-selatan dan timurlaut-
Secara lateral, Satuan Batupasir baratdaya, dengan kemiringan sebesar 5-34
Konglomeratan tersebar di bagian selatan dan derajat ke arah timur dan tenggara (Gambar 3).
timur daerah penelitian. Ketebalan maksimum Jurus-jurus lapisan-lapisan batubara
satuan ini sekitar 170 meter (pusat cekungan mempunyai arah yang berbeda dan
inter-mountain) dan menipis ke selatan di tepi kemiringannya biasanya lebih curam ketika
cekungan (Gambar 4). tersesarkan.

Dua lapisan batubara ditemukan sebagai Mampun Kecil Seam berwarna hitam, sedang
sisipan di Satuan Batupasir Konglomeratan, hingga cerah, fraktur konkoidal, agak rapuh,
yaitu Jambu Seam (JBU) di bagian bawah dan agak keras, dan interval cleat berkisar dari 3
Keruh Seam (KRH) di bagian atas satuan cm hingga 10 cm. Cleat terkadang diisi oleh
batuan ini (Gambar 6). Jurus lapisan-lapisan mineral pirit. Ketebalan lapisan batubara ini
batubara itu umumnya berarah baratlaut- beragam dari 1,2 hingga 9,6 meter dan rata-
rata 4-4,5 meter. Oleh karena batas atas dan
Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 3
bawah dari Mampun Kecil Seam tidak Pada kurun waktu Oligosen Akhir hingga
teramati, ketebalannya mungkin lebih besar Miosen Awal, Pulau Sumatra telah terputar
dari yang telah terukur. sekitar 20°-25° berlawanan arah jarum jam.
Daerah Mampun Pandan berada di lingkungan
Inom Badak Seam berwarna hitam, kusam ke daratan. Satuan Batupasir Konglomeratan
cerah (kedua jenis kilau berselingan 1-5 mm di diendapkan di lingkungan sungai di bagian
beberapa bagian), fraktur konkoidal, rapuh, tenggara, sedangkan Satuan Batulempung-
keras, dan interval cleat berkisar dari 5 cm Batubara diendapkan di lingkungan danau di
hingga 30 cm. Cleat terkadang diisi oleh bagian baratlaut (Gambar 7B).
mineral pirit. Damar kadang-kadang
ditemukan di bagian bawah lapisan. Pada umur bagian atas Miosen Awal hingga
Batulempung sebagai pengotor setebal 4 meter Miosen Tengah, penurunan dan pengangkatan
ditemukan di lapisan batubara ini (Gambar 5). cekungan telah terjadi secara aktif di Pulau
Ketebalan lapisan batubara ini beragam dari Sumatra. Hal tersebut telah mempengaruhi
1,2 hingga 12,09 meter. proses pengendapan di Mampun Pandan dan
menghasilkan sedimen hingga setebal 250
Napal Hitam Seam tersebar luas di daerah meter (Gambar 7C).
penelitian (Gambar 3). Secara umum, karakter
fisik lapisan batubara ini adalah hitam, kusam Pada kurun waktu bagian atas Miosen Tengah
hingga cerah (setempat-setempat berselingan hingga Miosen Akhir, terjadilah fase kedua
1-10 mm atau 1-15 mm), fraktur konkoidal, dari perputaran Lempeng Mikro Sunda sebesar
sedang hingga keras, dan interval cleat 20°-25° berlawanan arah jarum jam. Sebagai
berkisar dari 5 cm hingga 10 cm. Damar dan bagian dari lempeng tersebut, Pulau Sumatra
mineral pirit ditemukan di dekat bagian juga telah terputar hingga posisi sekarang.
bawah. Urat-urat kalsit kadang-kadang Perputaran lempeng tersebut meningkatkan
ditemukan juga sebagai pengisi cleat. tumbukan antar lempeng dan mengakibatkan
Batulempung sebagai pengotor setebal 0,5-1 pengangkatan Bukit Barisan. Dampak
meter ditemukan di lapisan batubara ini. pengangkatan Bukit Barisan adalah reaktivasi
Ketebalan lapisan batubara ini beragam dari 1 dari patahan-patahan dari batuan dasar berupa
hingga 18,6 meter dan rata-rata 11,5-12 meter. granit berumur Pra-Tersier yang juga
melibatkan sedimen-sedimen di atasnya
Keruh Coal Seam berwarna hitam, kusam (Gambar 7D).
hingga cerah (berselingan 1-10 mm di
beberapa bagian), fraktur konkoidal, agak 5. KUALITAS BATUBARA MAMPUN
keras, agak rapuh, dan interval cleat berkisar PANDAN
dari 10 cm hingga 15 cm. Batulempung
sebagai pengotor setebal 30-40 cm ditemukan Sampel-sampel batubara dianalisis di
setempat-setempat. Ketebalan lapisan laboratorium PPTM (Pusat Pengembangan
batubara ini rata-rata 2,1-3,5 meter. Teknologi Mineral) di Bandung. Hasilnya
sebagai berikut: Air Bebas (ar) sebesar 0,78-
4.3. Evolusi Cekungan Inter-Mountain 6,69%, Air Lembab (adb) sebesar 14,10-
22,2%, Kadar Abu (adb) sebesar 1,27-6,19%,
Berdasarkan penelitian Davies (1984), sejarah Elemen Bebas (adb) sebesar 29,37-34,73%,
sedimentasi dari Cekungan Inter-Mountain Karbon Padat (adb) sebesar 39,98-50,46%,
Mampun Pandan telah direkonstruksi (Gambar Nilai Kalori (adb) sebesar 5466-6566 kcal/kg,
7). Belerang Total (adb) sebesar 0,43-1,88%,
Nilai Ekspansi Bebas sebesar 0,5, dan HGI
Pada kurun waktu Eosen Awal hingga sebesar 35-48. Sebagai catatan, bahwa 'ar'
Oligosen Awal, Pulau Sumatra masih berarti 'sebagaimana diterima' (as received)
merupakan bagian dari Semenanjung Melayu dan 'adb' berarti 'dasar kering udara' (air dried
yang berarah utara-selatan. Sistem Sesar basis).
Sumatra utama telah berkembang pada waktu
ini dan cekungan pull-apart (termasuk Klasifikasi ASTM menentukan bahwa satuan
cekungan inter-mountain di Mampun Pandan) nilai analisis sampel batubara didasarkan pada
mulai terbentuk sebagai hasil dari interaksi 'dmmf' (dry mineral matter free). Nilai sampel
sesar-sesar mendatar (Gambar 7A). dikonversi dari 'adb' menjadi 'dmmf (Ward,
1984) dan mengubah Nilai Kalori (dmmf)
4 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
menjadi 7603-7965 cal/gram. Dengan
demikian, batubara Mampun Pandan 7. KESIMPULAN
dikelompokkan sebagai High Volatile
Bituminous A hingga High Volatile Pemetaan geologi permukaan secara intensif
Bituminous C. yang dilakukan di Mampun Pandan
membuktikan bahwa daerah penelitian
Komposisi abu (dmmf) adalah sebagai berikut: memiliki potensi yang baik untuk
62,60 SiO2, 31,20 Al2O3, 2,04 Fe2O3, 0,65 dieksploitasi. Batubara Mampun Pandan
TiO2, 0,41 CaO, 0,54 MgO, 1,42 K2O, 0,04 memiliki kualitas yang baik dan cadangan
Na2O, 0,11 P2O5, dan SO3 tidak terdeteksi. yang cukup besar. Hal ini dapat menjadi
pertimbangan untuk digunakan guna
6. PERHITUNGAN CADANGAN mendukung kebutuhan energi batubara di
BATUBARA Indonesia.

Wood (1983) memberikan metode Studi Pra-Kelayakan disarnkan untuk


demonstrated coal resources untuk dilakukan guna mengenali aspek-aspek lain
menghitung cadangan batubara berdasarkan yang belum dipelajari selama kegiatan
hanya singkapan batubara atau singkapan eksplorasi.
batubara dan sumur bor yang mengandung
batubara. Metode ini memungkinkan untuk DAFTAR PUSTAKA
menggambar lingkaran dengan singkapan
batubara atau ‘sumur-batubara’ sebagai [1] Amirrusdi, 1990, Batubara
pusatnya. Cadangan terukur dihasilkan dengan Indonesia. Majalah
menghitung area di dalam lingkaran dalam Pertambangan dan Energi
radius 400 meter. Cadangan tertunjuk Vol.2/1990, Departemen
dihasilkan dengan menghitung area di antara Pertambangan dan Energi Indonesia,
radius 400 meter dan 1200 meter. Jakarta, p.63-67
[2] Davies, Phillip R., 1984, Tertiary
Ketika menghitung area di dalam lingkaran, Structural Evolution and Related
aspek geologi harus dipertimbangkan untuk Hydrocarbon Occurences, North
memperoleh hasil yang benar. Aspek-aspek Sumatra Basin, Proceedings of IPA
tersebut adalah lipatan, singkapan batuan 13th Annual· Convention, Jakarta,
dasar, dan singkapan-singkapan batubara p.19-49
(Gambar 8). [3] Rosidi, H.M.D., dkk, 1976, Lembar
Peta Geologi Daerah Painan dan
Massa jenis batubara Mampun Pandan adalah Bagian Timurlaut Muara Siberut,
1,27 ton/m3 (Soejitno dkk., 1988). Dengan Sumatra, Pusat Penelitian dan
mengalikan massa jenis (ton/m3), luas daerah Pengembangan Geologi (PPPG),
yang dihitung (m3), dan ketebalan lapisan Bandung
batubara (m), jumlah cadangan dalam ton [4] Simanjutak, T.O., dkk., 1981, Lembar
diperoleh. Peta Geologi Daerah Muara
Bungo. Sumatra, Pusat Penelitian
Daerah penelitian dibagi-bagi menjadi 4 blok dan Pengembangan Geologi (PPPG),
untuk mempermudah perhitungan (Syaiful, Bandung
1991). Berdasarkan singkapan-singkapan [5] Soejitno, H. Turus, dkk., 1988,
batubara, cadangan tertunjuk sebesar Laporan Pemboran Singkapan
143.403.239 ton dan cadangan terukur sebesar Batubara di Daerah Mampun
57.112.851 ton. Pandan, Bungo Tebo, Jambi,
Direktorat Batubara (tidak
Ketika kegiatan pengeboran selesai dan dipublikasikan)
batubara ditemukan di sebagian besar sumur, [6] Syaiful, Mohammad, 1991, Geologi
data ini ditambahkan untuk memperbarui dan Endapan Batubara Daerah
perhitungan cadangan. Data tambahan tersebut Mampun Pandan, Kecamatan
telah mengubah hasilnya, sehingga diperoleh Rantau Pandan, Kabupaten Bungo
cadangan tertunjuk meningkat menjadi Tebo, Propinsi Jambi, Institut
144.164.264 ton dan cadangan terukur Teknologi Bandung (tidak
meningkat menjadi 64.827.710 ton.
Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 5
dipublikasikan secara luas – tugas the U.S. Geological Survey,
akhir mahasiswa) Geological Survey - Circular 891
[7] Tobler, Aug., 1922, Djambi Report,
Result of the Geological Mining PENULIS:
Investigation in the Residency of
Djambi 1906-1912, Part Three, The Dr. Ir. Mohamad Syaiful, M.Si. Staf Dosen
Hague, Netherland Indies (Batavia), Program Studi Teknik Geologi, Fakultas
p.104-119 Teknik – Universitas Pakuan, Bogor
[8] Ward, Colin R. (ed), 1984, Coal
Geology and Coal Technology,
Blackwell Scientific Publication,
London
[9] Wood, Gordon H., 1983, Coal
Resource Classification System of

6 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
LAMPIRAN :

Gambar 1. Peta Lokasi

Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 7


8 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
Gambar 2. Kerangka Tektonik Sumatera (Davies, 1984)

Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 9


Gambar 3. Peta Geologi Mampun Pandan

Gambar 4. Penampang Geologi

Gambar 5. Penampang Geologi Berdasarkan Pengukuran Stratigrafi

10 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
Gambar 6. Stratigrafi Mampun Pandan

Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 11


Gambar 7. Evolusi Cekungan dan Sedimentasi Mampun Pandan

12 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)
Gambar 8. Aspek-aspek Geologi yang Harus Dipertimbangkan dalam Perhitungan Cadangan
Batubara

Eksplorasi Batubara di Wilayah Mampun Pandan (Mohammad Syaiful) 13


14 Jurnal Teknologi Volume II, Edisi 34, Periode Juli-Desember 2019 (1-13)