Anda di halaman 1dari 43

MANAJEMEN RISIKO

MANAJEMEN RISIKO K3 DI LUAR DAN DALAM GEDUNG


MENGENALI DAN BERESPON TERHADAP ADVERSE EVENT

OLEH :

NI WAYAN MUJANI (P07120216021)


NI PUTU NUR ADIANA DEWI (P07120216022)
NI NYOMAN MURTI APSARI DEWI (P07120216023)
I GUSTI AYU INTAN ADRIANA SARI (P07120216024)
A.A ISTRI MARANSIKA NIKE PUTRI (P07120216025)
PUTU AYU MAHAPATNI MKP (P07120216026)

KELAS A / PROFESI NERS

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Manajemen Risiko, Manajemen Risiko K3 Di
Luar Dan Dalam Gedung, Mengenali Dan Berespon Terhadap Adverse Event” tepat pada
waktunya.
Makalah ini kami susun untuk melengkapi tugas Keselamatan Pasien dan Keselamatan
Kesehatan Kerja dalam Keperawatan, selain itu untuk mengetahui dan memahami konsep
manajemen risiko, manajemen risiko k3 di luar dan dalam gedung, mengenali dan berespon
terhadap adverse event.

Kami mengucapkan terima kasih pada pihak – pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini. Semoga makalah ini memberi manfaat pada semua pihak.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap pihak
diharapkan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun.

Denpasar, Juli 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG ...............................................................................................................1


1.2 RUMUSAN MASALAH ...........................................................................................................2
1.3 TUJUAN PENULISAN .............................................................................................................2
1.4 MANFAAT PENULISAN.........................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN MANAJEMEN RISIKO .................................................................................4

2.2 PROSES MANAJEMEN RISIKO ...........................................................................................5

2.3 TUJUAN MANAJEMEN RISIKO ..........................................................................................3

2.4 HIRARKI MANAJEMEN RISIKO .........................................................................................9

2.5 MANAJEMEN RISIKO K3 DI LUAR DAN DALAM GEDUNG .......................................13

2.6 MENGENALI DAN BERESPON TERHADAP ADVERSE EVENT ....................................31

BAB III PENUTUP

3.1 SIMPULAN .............................................................................................................................37

3.2 SARAN ....................................................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................39

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kesehatan kerja mutlak dilaksanakan di dunia kerja dan di dunia usaha, oleh semua
orang yang berada di tempat kerja baik pekerja maupun pemberi kerja, jajaran pelaksana,
penyelia (supervisor) maupun manajemen, serta pekerja yang bekerja untuk diri sendiri
(seld employeed). Bekerja adalah bagian dari kehidupan, sehingga setiap orang
memerlukan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan/atau untuk aktualisasi diri,
namun dalam melaksanakan pekerjaannya, berbagai potensi bahaya (hazard atau faktor
risiko) dan risiko yang ada di tempat kerja mengancam diri pekerja sehingga dapat
menimbulkan cidera atau gangguan kesehatan. Potensi bahaya dan risiko di tempat kerja
antara lain akibat sistem kerja atau proses kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan, yang
bersumber dari keterbatasan pekerjaannya sendiri, perilaku hidup yang tidak sehat dan
perilaku kerja yang tidak aman, buruknya lingkungan kerja, kondisi pekerjaan yang tidak
ergonomic, pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja yang tidak kondusif bagi
keselamatan dan kesehatan kerja (Kurniawidjaja, 2010).
Kesehatan kerja (occupational health) merupakan bagian dari keselamatan dan
kesehatan kerja (occupational safety and health) yang bertujuan agar pekerja selamat,
sehat, produktif, sejahtera, dan berdaya saing kuat, dengan demikian produksi dapat
berjalan dan berkembang lancer berkesinambungan (sustaintable development) tidak
terganggu oleh kejadian kecelakaan maupun pekerja yang sakit atau tidak sehat yang
menjadikannya tidak produktif (Kurniawidjaja, 2010). Pada Undang-undang No. 36 tahun
2009 tentang kesehatan pasal 64 disebutkan bahwa Kesehatan Kerja ditujukan untuk
melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pegaruh
buruk yang diakibatkan pekerjaan. Selanjutnya cara pencapaiannya melalui upaya
pencegahan, peningkatan, pengobatan, dan pemulihan (Kurniawidjaja, 2010).
Kesehatan kerja mutlak dilaksanakan di dunia kerja dan di dunia usaha, oleh semua
orang yang berada di tempat kerja baik pekerja maupun pemberi kerja, jajaran pelaksana,
penyelia (supervisor) maupun manajemen, serta pekerja yang bekerja untuk diri sendiri
(seld employeed). Keselamatan pasien di Rumah Sakit adalah sistem pelayanan dalam suatu
Rumah Sakit yang memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman, termasuk di dalamnya

1
mengukur risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko terhadap pasien, analisa insiden,
kemampuan untuk belajar & menindaklanjuti insiden serta menerapkan solusi untuk
mengurangi risiko. "Safety is a fundamental principle of patient care and a critical
component of hospital quality management." (World Alliance for Patient Safety, Forward
Programme WHO 2004). Oleh karena itu diperlukan komitmen tenaga medis untuk
menjaga keselamatan pasien, kompeten dan etis dalam keperawatan (CNA 2002).
Keselamatan pasien merupakan suatu sistem yang sangat dibutuhkan. Hal ini untuk
menghindari kesalahan medis, (Medical Error) itu sendiri adalah kesalahan yang terjadi
dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera
pada pasien dan kejadian yang tidak diharapkan (KTD)/ Adverse Event adalah Suatu
kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu
tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (ommision), dan bukan karena
“underlying disease” atau kondisi pasien (KKP-RS 2006).

1.2 Rumusan masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Apakah yang dimaksud dengan manajemen risiko?
2) Bagaimanakah proses manajemen risiko?
3) Apa saja tujuan manajemen risiko?
4) Bagaimanakah hirarki pengendalian risiko?
5) Bagaimanakah manajemen risiko K3 di dalam dan luar gedung?
6) Bagaimanakah cara mengenali dan berespon terhadap adverse event?

1.3 Tujuan penulisan


Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengertian manajemen risiko
2) Untuk mengetahui proses manajemen risiko
3) Untuk mengetahui tujuan pengendalian risiko
4) Untuk mengetahui hirarki pengendalian risiko
5) Untuk mengetahui manajemen risiko K3 di dalam dan luar gedung.
6) Untuk mengetahui cara mengenali dan berespon terhadap adverse event.

2
1.4 Manfaat penulisan
1) Bagi penulis
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang manajemen risiko K3 sehingga dapat
menjadi bekal dan pedoman dalam melakukan praktik keselamatan pasien dan
keselamatan kesehatan kerja dalam keperawatan.
2) Bagi institusi
Makalah ini dapat dijadikan sebagai masukan atau pedoman dalam mata kuliah
matrikulasi keselamatan pasien dan keselamatan kesehatan kerja dalam keperawatan
untuk profesi ners dan dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat mengembangkan
ilmu pengetahuan dengan lebih baik lagi.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Manajemen Risiko


Istilah manajemen berasal dari bahasa perancis kuno, menagement, yang memiliki arti
seni melaksanakan dan mengatur. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai
sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, dan pengontrolan sumber
daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien. Efektif berarti tujuan dapat
dicapai sesuai dengan perencanaan, sedangkan efisien berarti tugas yang ada dilaksanakan
secara benar, terorganisasi, dan sesuai dengan jadwal.
Risiko adalah kesempatan kerugian (risk is the chance of loss), chance of loss biasanya
dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana terdapat suatu keterbukaan
(exposure) terhadap kerugian atau suatu kemungkinan kerugian. Adapun jenis-jenis risiko
secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua:
1. Risiko spekulatif (speculative risk)
Risiko spekulatif adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan,
keungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan. Risiko ini
biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis. Contohnya: pembelian valuta asing,
saving dalam bentuk emas tingkat suku bunga perbankan.
2. Risiko murni (pure risk)
Risiko murni adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan yaitu
satu kemungkinan rugi. Contohnya: bencana alam, tsunami, kebakaran, banjir, topan
dan lain sebagainya.
Manajemen risiko adalah sebuah proses identifikasi, pengukuran risiko dan
membentuk sebuah strategi untuk mencegah dan menangani risiko. Manajemen risiko
adalah bagian integral dari proses manajemen yang berjalan dalam perusahaan atau
lembaga. Manajemen risiko menyangkut proses, budaya, dan struktur dalam mengelola
suatu risiko secara efektif dan terencana dalam suatu sistem manajemen yang baik (Ramli,
2010:16). Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah
terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan
terstruktur dalam suatu sistem yang baik. Risk assessment merupakan bagian yang paling
penting dan fundamental dalam proses pengelolaan risiko. Oleh karena itu, organisasi

4
perlu melakukan risk assessment yang benar agar memperoleh laporan profil risiko yang
tepat sehingga organisasi dapat secara cermat mengelola risikonya.
Dalam aspek K3, manajemen risiko ialah sebuah upaya mengelola risiko K3 untuk
mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara terencana, dan terstruktur
dalam suatu kesisteman yang baik. Manajemen risiko K3 berkaitan dengan bahaya dan
risiko yang ada ditempat kerja dimana bahaya dan risiko tersebut dapat menimbulkan
kerugian bagi perusahaan maupun pekerja.
Penerapan peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta perlindungan
para buruh merupakan prinsip dasar dalam manajemen ini. Salah satu sistem manajemen
K3 yang berlaku global adalah OHSAS 18001 (Occupatioanal Health and Safety
Assesment Series - 18001). Menurut OHSAS 1800I, manajemen risiko terbagi atas 3
bagian yaitu Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control, biasanya dikenal
dengan singkatan (HIRARC). Proses pembuatan HIRARC dibagi rnenjadi 4 langkah yaitu:
1. Mengklasifikasikan jenis pekerjaan
2. Mengidentifikasi jenis bahaya.
3. Melakukan penilaian risiko (menganalisa dan menghitung kemungkinan terjadinya
bahaya beserta tingkat keparahannya)
4. Menentukan apakah risiko dapat ditoleransi dan mengimplementasikan pengukuran
tingkat bahaya jika diperlukan.
Prinsip HIRARC yaitu :
1. Langkah pertama untuk mengurangi kecenderungan kecelakaan atau PAK (Penyakit
Akibat Kerja) adalah dengan Hazard Identification atau dengan mengidentifikasi
sumber bahaya yang ada di tempat kerja.
2. Langkah kedua dengan melakukan Risk Assessment atau dengan menilai tingkat risiko
timbulnya kecelakaan kerja atau PAK dari sumber bahaya tersebut.
3. Langkah terakhir adalah dengan melakukan Risk Control atau kontrol terhadap tingkat
risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).

2.2 Proses Manajemen Risiko

Jika risiko tersebut menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut bisa
mengalami kerugian yang signifikan. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut bisa
mengakibatkan kehancuran organisasi tersebut. Karena itu risiko penting untuk dikelola.
Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko tersebut sehingga kita bisa

5
memperoleh hasil yang paling optimal. Dalam konteks organisasi, organisasi juga akan
menghadapi banyak risiko. Jika organisasi tersebut tidak bisa mengelola risiko dengan
baik, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Karena itu risiko
yang dihadapi oleh organisasi tersebut juga harus dikelola, agar organisasi bisa bertahan,
atau barangkali mengoptimalkan risiko. Perusahaan sering kali secara sengaja mengambil
risiko tertentu, karena melihat potensi keuntungan dibalik risiko tersebut. Manajemen
risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses berikut ini.
1. Identifikasi risiko
Identifikasi risiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang
dihadapi oleh suatu organisasi. Banyak risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi, mulai
dari risiko penyelewengan oleh karyawan, risiko kejatuhan meteor atau komet, dan
lainnya. Ada beberapa teknik untuk mengidentifikasi risiko, misal dengan menelusuri
sumber risiko sampai terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, kompor
ditaruh dekat penyimpanan minyak tanah. Api merupakan sumber risiko, kompor yang
ditaruh dekat minyak tanah merupakan kondisi yang meningkatkan terjadinya kecelakaan,
bangunan yang bisa terbakar merupakan eksposur yang dihadapi perusahaan. Misalkan
terjadi kebakaran, kebakaran merupakan peristiwa yang merugikan (peril). Identifikasi
semacam dilakukan dengan melihat sekuen dari sumber risiko sampai ke terjadinya
peristiwa yang merugikan. Pada beberapa situasi, risiko yang dihadapi oleh perusahaan
cukup standar. Sebagai contoh, bank menghadapi risiko terutama adalah risiko kredit
(kemungkinan debitur tidak melunasi hutangnya). Untuk bank yang juga aktif melakukan
perdagangan sekuritas, maka bank tersebut akan menghadapi risiko pasar. Setiap bisnis
akan menghadapi risiko yang berbeda-beda karakteristiknya.
2. Evaluasi dan pengukuran risiko
Langkah berikutnya adalah mengukur risiko tersebut dan mengevaluasi risiko
tersebut. Tujuan evaluasi risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih
baik. Jika kita memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah
dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk ‘mengukur’ risiko tersebut.
Ada beberapa teknik untuk mengukur risiko tergantung jenis risiko tersebut.
Sebagai contoh kita bisa memperkirakan probabilitas (kemungkinan) risiko atau suatu
kejadian jelek terjadi. Dengan probabilitas tersebut kita berusaha ‘mengukur’ risiko.
Sebagai contoh, ada risiko perusahaan terkena jatuhan meteor atau komet, tetapi
probabilitas risiko semacam itu sangat kecil (0,000000001). Karena itu risiko tersebut
tidak perlu diperhatikan. Contoh lain adalah risiko kebakaran dengan probabilitas (misal)
6
0,6. Karena probabilitas yang tinggi, maka risiko kebakaran perlu diberi perhatian ekstra.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik probabilitas kita bisa
melakukan prioritisasi risiko, sehingga kita bisa lebih memfokuskan pada risiko yang
mempunyai kemungkinan yang besar untuk terjadi.
Contoh lain adalah membuat matriks dengan sumbu mendatar adalah probabilitas
terjadinya risiko, dan sumbu vertikal adalah tingkat keseriusan konsekuensi risiko tersebut
(severity, atau besarnya kerugian yang timbul akibat risiko tersebut). Setiap risiko bisa
dievaluasi kemudian dimasukkan ke dalam matriks tersebut. Sebagai contoh, risiko
kebakaran mempunyai probabilitas 0,6 (tinggi). Jika kebakaran terjadi, maka kerugian
yang diakibatkan akan besar juga (tinggi). Dengan demikian risiko kebakaran akan
ditempatkan pada kuadran probabilitas tinggi dan severity tinggi. Selanjutnya langkah
yang lebih tepat bisa dirumuskan. Sebagai contoh, untuk risiko kebakaran seperti itu,
langkah yang lebih aktif bisa ditujukan untuk menangani risiko kebakaran tersebut.
Untuk risiko lain, evaluasi dan pengukuran yang berbeda bisa dilakukan. Sebagai
contoh, risiko perubahan tingkat bunga bisa diukur dengan teknik duration (durasi). Modul
identifikasi dan pengukuran risiko spekulatif akan banyak membicarakan pengukuran
risiko perubahan tingkat bunga. Risiko pasar bisa dievaluasi dengan menggunakan teknik
VAR (Value At Risk). Pemahaman kita terhadap beberapa risiko sudah cukup baik
sehingga teknik pengukuran risiko tersebut sudah berkembang. Sementara pemahaman
kita terhadap risiko lain belum begitu baik sehingga teknik pengukuran risiko tersebut
belum begitu berkembang. Teknik lain untuk mengukur risiko adalah dengan
mengevaluasi dampak risiko tersebut terhadap kinerja perusahaan.
3. Pengelolaan risiko
Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah berikutnya adalah mengelola risiko.
Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang
diterima bisa cukup serius, misal kerugian yang besar. Risiko bisa dikelola dengan
berbagai cara, seperti penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke
pihak lainnya. Erat kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk
control), dan pendanaan risiko (risk financing).
a. Penghindaran. Cara paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah
menghindar. Tetapi cara semacam ini barangkali tidak optimal. Sebagai contoh, jika
kita ingin memperoleh keuntungan dari bisnis, maka mau tidak mau kita harus keluar
dan menghadapi risiko tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko tersebut.

7
b. Ditahan (retention). Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi
sendiri risiko tersebut (menahan risiko tersebut, atau risk retention). Sebagai contoh,
misalkan seseorang akan keluar rumah membeli sesuatu dari supermarket terdekat,
dengan menggunakan kendaraan. Kendaraan tersebut tidak diasuransikan. Orang
tersebut merasa asuransi terlalu repot, mahal, sementara dia akan mengendarai
kendaraan tersebut dengan hati-hati. Dalam contoh tersebut, orang tersebut
memutuskan untuk menanggung sendiri (menahan, retention) risiko kecelakaan.
c. Diversifikasi. Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak
terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Sebagai contoh, kita barangkali akan
memegang aset tidak hanya satu, tetapi pada beberapa aset, misal saham A, saham B,
obligasi C, properti, dan sebagainya. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian
tersebut diharapkan bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset lainnya.
d. Transfer risiko. Jika kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mentransfer
risiko tersebut ke pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Sebagai
contoh, kita bisa membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan
asuransi akan menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.
e. Pengendalian risiko. Pengendalian risiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan
probabilitas terjadinya risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Sebagai contoh,
untuk mencegah terjadinya kebakaran, kita memasang alarm asap di bangunan kita.
Alarm tersebut merupakan salah satu cara kita mengendalikan risiko kebakaran.
f. Pendanaan risiko. Pendanaan risiko mempunyai arti bagaimana ‘mendanai’ kerugian
yang terjadi jika suatu risiko muncul. Sebagai contoh, jika terjadi kebakaran,
bagaimana menanggung kerugian akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi,
ataukah menggunakan dana cadangan? Isu semacam itu masuk dalam wilayah
pendanaan risiko.
Di samping proses manajemen risiko seperti yang disebutkan di muka, manajemen
risiko suatu organisasi juga memerlukan infrastruktur baik keras maupun lunak. Sebagai
contoh, manajemen risiko barangkali akan memerlukan sistem komputer untuk analisis
risiko. Manajemen risiko juga memerlukan staf dan struktur organisasi yang tepat.
Infrastruktur manajemen risiko tidak dibahas secara khusus dalam modul ini. Modul enam
menyajikan ilustrasi bagaimana perusahaan terkemuka dunia mengembangkan
manajemen risiko dalam organisasinya.

8
2.3 Tujuan Manajemen Risiko
Adapun tujuan dari manajemen risiko yaitu untuk menjamin bahwa suatu
perusahaan dapat memahami, mengukur, dan memonitoring berbagai macam risiko yang
terjadi, serta memastikan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat mengendalikan
berbagai macam risiko-risiko yang ada. Agar pelaksanaannya berjalan dengan baik perlu
adanya dukungan dalam menyusun kebijakan dan pedoman manajemen risiko sesuai
dengan kondisi suatu usaha atau perusahaan. Untuk lebih jelasnya tujuan manajemen
risiko yang ingin dicapai oleh manajemen risiko dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
1. Tujuan sebelum terjadinya peril bahaya (Suatu kejadian yang bisa menimbulkan risiko
atau kerugian, misalnya mobil terguling) Ialah tujuan yang ingin dicapai yanng
menyangkut hal-hal sebelum terjadinya peril ada beberapa macam, antara lain:
a. Hal-hal yanng bersifat ekonomis, misalnya: upaya untuk menanggulangi
kemungkinan kerugian dengan cara yang paling ekonomis, yang dilakukan
melalui analisa keuangan terhadap biaya program keselamatan, besarnya premi
asuransi, biaya dari bermacam-macam teknik penanggulangan risiko.
b. Hal-hal yang bersifat non ekonomis, yaitu upaya untuk mengurangi kecemasan,
sebab adanya kemungkinan terjadinya peril tertentu dapat menimbulkan
kecemasan dan ketakutan, sehingga dengan adanya upaya penanggulangan maka
kondisi itu dapat diatasi.
c. Tindakan penanggulangan risiko dilakukan untuk memenuhi kewajiban yang
berasal dari pihak ketiga atau pihak luar perusahaan, seperti:
1) Memasang atau memakai alat-alat keselamatan kerja tertentu ditempat kerja
atau pada waktu bekerja untuk menghindari kecelakaan kerja, misalnya:
pemasangan rambu-rambu, pemakaian alat pengaman (misal: gas masker)
untuk memenuhi ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang
Keselamatan Kerja.
2) Mengasuransikan aktiva yang digunakan sebagai agunan, yang dilakukan
oleh debitur untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh kreditur.
2. Tujuan setelah terjadinya peril
Pada pokoknya mencakup upaya untuk penyelamatan operasi perusahaan
setelah terkena peril, yang dapat berupa:
a. Menyelamatkan operasi perusahaan, artinya manajer risiko harus mengupayakan
pencarian strategi bagaimana agar kegiatan tetap berjalan sehabis perusahaan
9
terkena peril, meskipun untuk sementara waktu yang beroperasi hanya sebagian
saja.
b. Mencari upaya-upaya agar operasi perusahaan tetap berlanjut sesudah perusahaan
terkena peril. Hal ini sangat penting terutama untuk perusahaan yang melakukan
pelayanan terhadap masyarakat secara langsung, misalnya: Bank, sebab bila tidak
akan menimbulkan kegelisahan dan nasabahnya bisa lari atau pindah ke
perusahaan pesaing.
c. Mengupayakan agar pendapatan perusahaan tetap mengalir, meskipun tidak
sepenuhnya, paling tidak cukup untuk menutup biaya variabelnya. Untuk
mencapai tujuan ini bilaman perlu perusahaan untuk sementara melakukan
kegiatan usaha di tempat lain.
d. Mengusahakan tetap berlanjutnya pengembangan usaha bagi perusahaan yang
sedang melakukan pengembangan usaha, misalnya : yang sedang memproduksi
barang baru atau sedang memasuki pasar baru. Jadi harus berupaya untuk
mengatur strategi agar pengembangan yang sedang dirintis tetap bisa
berlangsung. Sebab untuk melakukan perintisan tersebut sudah dikeluarkan biaya
yang tidak kecil.
e. Berupaya untuk dapat melakukan tanggung jawab sosial dari perusahaan. Artinya
harus dapat menyusun kebijaksanaan untuk meminimumkan pengaruh buruk dari
suatu peril yang diderita perusahaan terhadap karyawannya, para pelanggan atau
penyalur, para pemasok dan sebagainya. Artinya akibat dari peril jangan sampai
menimbulkan masalah sosial, misalnya: jangan sampai mengakibatkan terjadinya
pengangguran.

2.4 Hirarki Manajemen Risiko


Hirarki Pengendalian (Hierarchy of Control) merupakan pengendalian risiko dengan
cara memprioritaskan dalam pemilihan dan pelaksanaan pengendalian yang berkaitan
dengan bahaya K3 (OHSAS, 2007). Adapun bentuk-bentuk pengendalian yang ada di
dalam hirarki mengendalikan risiko dapat dilihat pada Gambar 1. Hierarchy of Control
Risk sebagai berikut:

10
1. Eliminasi pengendalian ini dilakukan dengan cara menghilangkan sumber bahaya
(hazard). Upaya ini merupakan pilihan utama atau dapat dikatakan sebagai solusi
terbaik untuk menghilangkan sumber risiko secara menyeluruh. Namun cara ini sulit
untuk dilakukan karena kecenderungan sebuah perusahaan apabila mengeliminasi
substansi atau proses akan megganggu kelangsungan proses produksi secara
keseluruhan.
2. Substitusi mengurangi risiko dari bahaya dengan cara mengganti proses, atau
melakukan terhadap penggantian bahan yang berbahaya dengan bahan yang lebih
aman. Prinsip pengendalian ini adalah menggantikan sumber risiko dengan sarana atau
peralatan lain yang lebih aman atau lebih rendah tingkat risikonya. Dalam
pengaplikasiannya cara ini membutuhkan langkah trial and error untuk mengetahui
apakah teknik atau subtansi pengganti dapat berfungsi sama efektifnya dengan proses
sebelumnya.
3. Rekayasa/Engineering merupakan upaya menurunkan tingkat risiko dengan mengubah
desain tempat kerja, mesin, peralatan atau proses kerja menjadi lebih aman. Ciri khas
dalam tahap ini seperti membuat lokasi kerja yang memodifikasi peralatan, melakukan
kombinasi kegiatan, perubahan prosedur, dan mengurangi frekuansi dalam melakukan
kegiatan berbahaya. Terdapat tiga macam cara engineering menurut Ratnasari (2009)
yaitu :
a. Isolasi, prinsip dari sistem ini adalah dengan cara menghalangi pergerakan bahaya
dengan cara memberikan pembatas atau pemisah terhadap bahaya maupun pekerja.

11
b. Guarding, prinsip dari sistem ini adalah mengurangi jarak atau kesempatan kontak
antara sumber bahaya dan bekerja.
c. Ventilasi, cara ini merupakan langkah yang paling efektif untuk mengurangi
kontaminasi udara, berfungsi untuk kenyamanan, kestabilan suhu dan mengontol
kontaminan.
4. Administratif, langkah ini diibatkan merupakan salah satu pilihan terakhir karena pada
dasarnya langkah ini mengandalkan sikap dan kesadaran dari pekerja. Langkah ini
hanya cocok untuk jenis risiko tingkat rendah. Upaya dalam langkah ini difokuskan
pada pembuatan ataupun evaluasi pada prosedur seperti SOP (standart operating
procedurs) ataupun aturan-aturan lain di dalam sistem sebagai langkah mengurangi
tingkat risiko. Selain itu terdapat beberapa pengendalian administratif menurut
Ratnasari (2009) diantaranya sebagai berikut :
a. Rotasi dan penempatan pekerja, langkah ini bertujuan untuk mengurangi tingkat
paparan yang diterima pekerja dengan membagi waktu kerja dengan pekerja yang
lain. Penempatan pekerja terkait dengan masalah fitness-for-work dan kemampuan
seseorang untuk melakukan pekerjaan.
b. Pendidikan dan pelatihan, sebagai pendukung pekerja untuk mengambil keputusan
dalam melakukan pekerjaan secara aman. Dengan pengetahuan dan pengertian
terhadap bahaya pekerjaan, maka akan membantu pekerja untuk mengambil
keputusan dalam menghadapi bahaya.
c. Penataan dan kebersihan, tidak hanya meminimalkan insiden terkait dengan
kesalamatan, melainkan juga mengurangi debu dan kontaminan lain yang bias
menjadi jalur pemajan. Kebersihan probadi juga sangatlah penting karena dapat
mengarah kepada kontaminasi melalui ingesti, maupun kontaminasi silang antara
tempat kerja dan tempat tinggal.
d. Perawatan secara berkala terhadap peralatan penting untuk meminimalkan
penurunan performance dan memperbaiki kerusakan secara lebih dini.
e. Jadwal kerja, metode ini menggunakan prinsip waktu kerja, dimana pekerjaan
dengan risiko tinggi dapat dilakukan saat jumlah pekerja yang terpapat paling
sedikit.
f. Monitoring pelaksanaan standar keselamatan kerja (inspeksi dan patroli) secara rutin
serta memelihara komunikasi tentang pesan keselamatan kerja melalui media seperti
poster, buletin, stiker, bahkan memberikan contoh dengan panutan, sangatlah perlu
digalakkan agar keselamatan dan kesehatan kerja tetap dapat terjaga (Ridley, 2008).
12
g. Alat pelindung diri (APD) merupakan seperangkat alat keselamatan yang digunakan
oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan
adanya paparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit
akibat kerja (Tarwaka, 2008). Langkah ini merupakan langkah terakhir yang
dilakukan dengan cara memberikan fasilitas kepada pekerja, langkah ini berfungsi
untuk mengurangi keparahan akibat dari bahaya yang ditimbulkan. Langkah ini
membutuhkan beberapa faktor agar berhasil diantaranya adanya pelatihan atau
intruksi kerja bagi setiap pegawai dalam penggunaan dan pemeliharaannya.

2.5 Manajemen Risiko K3 Di Dalam Dan Luar Gedung

Sistem Manajemen Risiko K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara


keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan,
pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
dalam rangka pengendalian risiko, yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya
tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Salah satu peraturan perundangan yang
mengatur mengenai SMK3 adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05 Tahun 1996
Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Sistem Manajemen Risiko K3 merupakan sistem manajemen yang terintegrasi dengan
sistem manajemen perusahaan lainnya seperti sistem manajemen mutu dan lingkungan.
Peranan Sistem Manajemen Risiko K3 di perusahaan dapat menjadi pembuat keputusan
perusahaan dalam melakukan aktivitas dan pembelian barang dan jasa. Tujuan dan saran
Sistem Manajemen Risiko K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan
kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen,tenaga kerja dan
lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan
dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau
lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses
ataubahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan,
kebakaran, pencemaran, dan PAK wajib menerapkan sistem manajemen K3. Sistem
Manajemen Risiko K3 wajib dilaksanakan oleh pengurus, pengusaha, dan seluruh tenaga
kerja sebagai satu kesatuan. Karena SMK3 bukan hanya tanggung jawab pemerintah,
masyarakat, pasar atau dunia internasional saja tetapi juga tanggung jawab pengusaha

13
untuk menyediakan tempat kerja yang aman bagi pekerjanya. Berikut ini manfaat dari
penerapan Sistem Manajemen Risiko K3 seperti berikut.
1. Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja
2. Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja.
3. Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja merasa
aman dalam bekerja.
4. Meningkatkan image market terhadap perusahaan.
5. Menciptakan hubungan yang harmonis bagi pekerja dan perusahaan.
6. Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik sehingga membuat
umur semakin lama dan tahan lama.
Berikut ini merupakan diagram yang menunjukkan lima prinsip penerapan Sistem
Manajemen Risiko K3 sesuai Permenaker No. 05/MEN/1996. Tahap pertama dalam
Sistem Manajemen Risiko K3 yaitu adanya komitmen dan kebijakan mengenai Sistem
Manajemen Risiko K3 baik secara internal di dalam perusahaan maupun eksternal di luar
perusahaan seperti peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Sistem
Manajemen Risiko K3. Tahap kedua yaitu perencanaan Sistem Manajemen Risiko K3 di
mana komponen-komponen yang terdapat dalam perencanaan yaitu hasil dari analisa
risiko, persyaratan hukum, rekaman kecelakaan, hasil audit yang dilakukan sebelumnya,
persyaratan internal perusahaan, dan hasil investigasi yang dilakukan sebelumnya. Tahap
selanjutnya setelah perencanaan dilakukan yaitu penerapan Sistem Manajemen Risiko K3
di perusahaan.
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan satu ilmu perilaku yang
mencakup aspek sosial dan tidak terlepas dari tanggung jawab keselamatan dan kesehatan
kerja baik dari segi perencanaan maupun pengambilan keputusan dan organisasi, baik
kecelakaan kerja, gangguan kesehatan, maupun pencemaran lingkungan harus merupakan
bagian dari biaya produksi. Manajemen K3 pada dasarnya mencari dan mengumpulkan
kelemahan operasional yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan mengungkapkan sebab suatu kecelakaan, dan meneliti apakah
pengendalian secara cermat dapat dilakukan atau tidak. Kesalahan operasional yang
kurang lengkap, keputusan yang tidak tepat, salah perhitungan, dan manajemen yang
kurang tepat dapat menimbulkan risiko terjadinya kecelakaan (Rumondang, 1995).
Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengenali risiko dalam sebuah proyek
dan mengembangkan strategi untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya, dilain sisi
juga harus dicari cara untuk memaksimalkan peluang yang ada (Wideman, 1992). Dalam
14
mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu proses di dalam menangani risiko-risiko yang
ada, sehingga dalam penanganan risiko tidak akan terjadi kesalahan. Proses tersebut antara
lain adalah identifikasi, pengukuran risiko dan penanganan risiko.

KOMITMEN DAN
KEBIJAKAN

PERENCANAAN

PENERAPAN

PENGUKURAN DAN
EVALUASI

PENINJAUAN DAN
PENINGKATAN
BERKESINAMBUNGAN

A. Teori Penyebab Kecelakaan dan Manajemen K3 di dalam dan di luar gedung


Kecelakaan adalah kejadian merugikan yang tidak direncanakan, tidak terduga, tidak
diharapkan serta tidak ada unsur kesengajaan (Hinze, 1977). Ada beberapa teori yang
menjelaskan penyebab suatu kecelakaan. Dahulu teori penyebab kecelakaan memandang
bahwa kecelakaan disebabkan oleh tindakan pekerja yang salah (misalnya pada The
Accident-Proneness Theory). Semenjak dikenalkannya The Chain-of-Events Theory, The
Domino Theory, dan The Distraction Theory, maka pihak organisasi dan manajemen yang
dianggap berperan sebagai penyebab suatu kecelakaan. Anggapan tentang kecelakaan
kerja yang bersumber kepada tindakan yang tidak aman yang dilakukan pekerja telah
bergeser dengan anggapan bahwa kecelakaan kerja bersumber kepada faktor-faktor
organisasi dan manajemen (Andi, 2005). Pihak manajemen harus bertanggungjawab
terhadap keselamatan. Para pekerja dan pegawai mestinya dapat diarahkan dan dikontrol
oleh pihak manajemen sehingga tercipta suatu kegiatan kerja yang aman. Pada teori yang
terbaru makin terlihat bahwa penyebab kecelakaan kerja semakin komplek.

15
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MK3) adalah bagian dari sistem
manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung
jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi
pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan K3 dalam rangka
pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja, guna terciptanya tempat kerja
yang aman, efisien dan produktif. Konsep rasional Total Safety Control adalah suatu
pengintegrasian tindakan manajemen dan tindakan pelaksanaan yang sinergis untuk
mempromosikan suatu proses konstruksi yang aman (Suraji, 2004). Ada banyak
pendekatan dalam manajemen K3, diantaranya menurut OHSAS 18001, dan menurut
TQM di mana keselamatan merupakan suatu pusat dan fokus integral dalam program
pengendalian mutu terpadu yang harus ditingkatkan secara terus - menerus untuk
memenuhi kepuasan pelanggan (intern-ekstern).
B. Perencanaan Respon Terhadap Risiko K3 di dalam dan di luar gedung
1. Risiko Positif
Risiko positif adalah risiko yang mungkin terjadi dan merupakan peluang untuk
memberikan manfaat terhadap suatu proyek. Strategi untuk risiko positif antara lain:
a) Exploit: strategi untuk memastikan bahwa kesempatan (risiko positif) dapat
terealisasi.
b) Share: alokasi kepemilikan kepada pihak ke tiga yang memiliki kemampuan
terbaik menangkap peluang manfaat proyek.
c) Enchance : memodifikasi ukuran kesempatan dengan meningkatkan peluang dan
dampak positif dengan mengidentifikasi dan memaksimalkan pengendali kunci
dari risiko berdampak positif.
2. Risiko Negatif
Risiko Negatif adalah risiko yang mungkin terjadi dan jika terjadi dapat memberikan
dampak buruk dan merugikan untuk suatu proyek. Strategi untuk risiko negatif antara
lain:
a) Avoid : upaya untuk mencegah risiko dengan cara menghentikan aktivitas atau
kondisi yang dapat memberikan risiko. Upaya ini dilakukan jika tidak ada
respon risiko yang sesuai untuk menangani risiko yang diperkirakan.
b) Transfer : respon risiko yang dilakukan dengan upaya mengurangi frekuensi
ataupun dampak risiko dengan cara mentransfer atau membagi porsi risiko dengan
pihak lain dengan cara membuat asuransi atau melakukan outsource pada aktivitas
yang diperkirakan dapat memberikan risiko.
16
c) Mitigate : melakukan tindakan pengurangan peluang atau dampak dari aktivitas
risiko yang dapat merugikan.

C. Penerapan Sistem Manajemen Risiko K3 di dalam dan di luar gedung


1. Langkah-langkah penerapan Sistem Manajemen Risiko K3
Dalam menerapkan Sistem Manajemen Risiko K3 ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan agar Sistem Manajemen Risiko K3 tersebut menjadi efektif, karena Sistem
Manajemen Risiko K3 mempunyai elemen-elemen atau persyaratan tertentu yang harus
dibangun di dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem Manajemen K3 juga harus
ditinjau ulang dan ditingkatkan secara terus menerus di dalam pelaksanaannya untuk
menjamin bahwa sistem tersebut dapat berperan dan berfungsi dengan baik serta
berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan. Untuk lebih memudahkan penerapan
Sistem Manajemen Risiko K3 berikut ini merupakan langkah dan tahapannya. Tahapan
dan langkah tersebut di bagi menjadi 2 bagian besar yaitu sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Merupakan tahapan atau langkah awal yang harus dilakukan suatu
organisasi/perusahaan. Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah
personel, mulai dari menyatakan komitmen sampai dengan kebutuhan sumber daya
yang diperlukan, adapun tahap persiapan ini antara lain:
1) Komitmen manajemen puncak,
2) Menentukan ruang lingkup,
3) Menetapkan cara penerapan,
4) Membentuk kelompok penerapan,
5) Menetapkan sumber daya yang diperlukan.
b. Tahap pengembangan dan penerapan
Dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personel, mulai dari
menyelenggarakan penyuluhan dan melaksanakan sendiri kegiatan audit internal serta
tindakan perbaikannya sampai melakukan sertifikasi.
a. Menyatakan Komitmen
Pernyataan komitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem
Manajemen Risiko K3 dalam organisasi/perusahaan harus dilakukan oleh manajemen
puncak. Persiapan Sistem Manajemen Risiko K3tidak akan berjalan tanpa adanya
komitmen terhadap sistem manajemen tersebut.Manajemen harus benar-benar
17
menyadari bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan
atau kegagalan penerapan sistem K3. Komitmen manajemen puncak harus dinyatakan
bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga harus dengan tindakan nyata agar dapat
diketahui, dipelajari, dihayati dan dilaksanakan oleh seluruh staf dan pekerja
perusahaan. Seluruh pekerja dan staf harus mengetahui bahwa tanggung jawab dalam
penerapan Sistem Manajemen Risiko K3 bukan urusan bagian K3 saja. Tetapi mulai
dari manajemen puncak sampai pekerja terendah. Karena itu ada baiknya manajemen
membuat cara untuk mengomunikasikan komitmennya ke seluruh jajaran dalam
perusahaannya. Untuk itu perlu dicari waktu yang tepat guna menyampaikan komitmen
manajemen terhadap penerapan system.
b. Menetapkan cara penetapan
Dalam menerapkan Sistem Manajemen Risiko K3, perusahaan dapat menggunakan jasa
konsultan dengan pertimbangan sebagai berikut:
a) Konsultan yang baik tentu memiliki pengalaman yang banyak dan bervariasi
sehinggadapat menjadi agen pengalihan pengetahuan secara efektif, sehingga
dapatmemberikan rekomendasi yang tepat dalam proses penerapan Sistem
Manajemen Risiko K3.
b) Konsultan yang independen kemungkinan konsultan tersebut secara bebas
dapatmemberikan umpan balik kepada manajemen secara objektif tanpa
terpengaruh olehpersaingan antar kelompok di dalam organisasi/perusahaan.
c) Konsultan jelas memiliki waktu yang cukup. Berbeda dengan tenaga perusahaan
yangmeskipun mempunyai keahlian dalam Sistem Manajemen Risiko K3 namun
karena desakan tugas-tugas lain diperusahaan, akibatnya tidak punya cukup waktu.
Sebenarnya perusahaan dapat menerapkan Sistem Manajemen Risiko K3 tanpa
menggunakan jasa konsultan, jika organisasi yang bersangkutan memiliki personel
yang cukup mampu untuk mengorganisasikan dan mengarahkan orang. Selain itu,
organisasi tentunya sudah memahami dan berpengalaman dalam menerapkan
Sistem Manajemen Risiko K3 ini dan mempunyai waktu yangcukup.
c. Membentuk Kelompok Kerja Penerapan
Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok
tersebut terdiri dari atas seorang wakil dari setiap unit kerja. Biasanya manajer unit
kerja, hal ini penting karena merekalah yang tentunya paling bertanggung jawab
terhadap unit kerja yang bersangkutan. Dalam proses penerapan ini maka peranan
anggota kelompok kerja adalah menjadi agen perubahan sekaligus fasilitator dalam unit
18
kerjanya. Merekalah yang pertama-tama menerapkan Sistem Manajemen Risiko K3 ini
di unit-unit kerjanya termasuk mengubah cara dan kebiasaan lama yang tidak
menunjang penerapan sistem ini. Selain itu, mereka juga akan melatih dan menjelaskan
tentang standar ini termasuk manfaat dan konsekuensinya. Menjaga konsistensi dari
penerapan Sistem Manajemen Risiko K3 baik melalui tinjauan sehari-hari maupun
berkala.
d. Menetapkan sumber daya yang diperlukan
Sumber daya di sini mencakup orang/personel, perlengkapan, waktu dan dana. Orang
yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi di luar tugas-
tugaspokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan. Perlengkapan adalah
perlunya mempersiapkan kemungkinan ruangan tambahan untuk menyimpan dokumen
atau komputer tambahan untuk mengolah dan menyimpan data. Waktu yang diperlukan
tidaklah sedikit terutama bagi orang yang terlibat dalam penerapan, mulai mengikuti
rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan pustaka, menulis dokumen mutu sampai
menghadapi kegiatan audit assesment. Penerapan sistem manajemen risiko K3 bukan
sekedar kegiatan yang dapat berlangsung dalam satu atau dua bulan saja. Untuk itu
selama kurang lebih satu tahun perusahaan harus siap menghadapi gangguan arus kas
karena waktu yang seharusnya dikonsentrasikan untuk beroperasi banyak terserap ke
proses penerapan sistem manajemen risiko K3. Keadaan ini sebetulnya dapat dihindari
dengan perencanaan dengan pengelolaan yang baik. Sementara dana yang diperlukan
adalah untuk membayar konsultan (jika menggunakan jasa konsultan), lembaga
sertifikasi, dan biaya untuk pelatihan karyawan di luar perusahaan. Di samping itu juga
perlu dilihat apakah dalam penerapan sistem manajemen risiko K3 ini perusahaan harus
menyediakan peralatan khusus yang selama ini belum dimiliki. Sebagai contoh yaitu
apabila perusahaan memiliki kompresor dengan kebisingan di atas rata-rata, karena
sesuai dengan persyaratan sistem manajemen risiko K3 yang mengharuskan adanya
pengendalian risiko dan bahaya yang ditimbulkan, perusahaan tentu harus menyediakan
peralatan yang dapat menghilangkantingkat kebisingan tersebut. Alat pengukur tingkat
kebisingan juga harus disediakan, dan alat ini harus dikalibrasi. Oleh karena itu,
besarnya dana yang dikeluarkan untuk peralatan ini tergantung pada masing-masing
perusahaan.
1) Kegiatan penyuluhan
Penerapan Sistem Manajemen Risiko K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan
personel perusahaan. Oleh karena itu harus dibangun rasa adanya keikutsertaan dari
19
seluruh pekerja dalamperusahaan melalui program penyuluhan. Kegiatan ini bertujuan
untuk:
a. Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan Sistem
Manajemen Risiko K3 bagi kinerja perusahaan.
b. Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi, manajer, staf dan seluruh
jajaran dalam perusahaan untuk bekerja sama dalam menerapkan standar sistem
ini.
c. Kegiatan penyuluhan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya dengan
pernyataan komitmen manajemen, melalui ceramah, surat edaran atau pembagian
buku-buku yang terkait dengan sistem manajemen risiko K3. Dalam kegiatan ini,
manajemen mengumpulkan seluruh pekerja dalam acara khusus. Kemudian
manajemen menyampaikan sambutan yang isinya berikut ini.
1. Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi kelangsungan dan kemajuan
perusahaan.
2. Bahwa Sistem Manajemen Risiko K3 sudah banyak diterapkan di berbagai
Negara dan sudah menjadi kewajiban perusahaan-perusahaan di Indonesia.
3. Bahwa manajemen telah memutuskan serta mengharapkan keikutsertaan
dankomitmen setiap orang dalam perusahaan sesuai tugas dan jabatan masing-
masing.
4. Bahwa manajemen akan segera membentuk tim kerja yang dipilih dari setiap
bidang didalam perusahaan.
5. Perlu juga dijelaskan oleh manajemen puncak tentang batas waktu kapan
sertifikasi Sistem Manajemen K3 harus diraih, misalnya pada waktu ulang tahun
perusahaan yang akan datang. Tentu saja pernyataan seperti ini harus
memperhitungkan konsekuensi bahwa sertifikasi diharapkan dapat diperoleh
dalam batas waktu tersebut. Hal ini penting karena menyangkut kredibilitas
manajemen dan waktu kelompok kerja.
2) Peninjauan sistem
Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja
untukmeninjau sistem yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan
persyaratanyang ada dalam Sistem Manajemen K3. Peninjauan ini dapat dilakukan
melalui dua cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau
pelaksanaan. Apakah perusahaan sudah mengikuti dan melaksanakan secara
konsisten prosedur atau instruksi kerja dari OHSAS 18001 atau Permenaker
20
05/MEN/1996. Perusahaan belum memiliki dokumen, tetapi sudah menerapkan
sebagian atau seluruh persyaratan dalam standar Sistem Manajemen K3. Perusahaan
belum memiliki dokumen dan belum menerapkan persyaratan standar Sistem
Manajemen K3 yang dipilih.
3) Penyusunan jadwal kegiatan
Setelah melakukan peninjauan sistem maka kelompok kerja dapat menyusun suatu
jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan dapat disusun dengan mempertimbangkan hal-hal
berikut:
a. Ruang lingkup pekerjaan
Dari hasil tinjauan sistem akan menunjukkan berapa banyak yang harus
disiapkan dan berapa lama setiap prosedur itu akan diperiksa, disempurnakan,
disetujui dan diaudit. Semakin panjang daftar prosedur yang harus disiapkan,
semakin lama waktu penerapan yang diperlukan.
b. Kemampuan wakil manajemen dan kelompok kerja penerapan
Kemampuan di sini dalam hal membagi dan menyediakan waktu. Seperti
diketahui bahwa tugas penerapan bukanlah satu-satunya pekerjaan para anggota
kelompok kerja dan manajemen representatif. Mereka masih mempunyai tugas
dan tanggung jawab lain di luar penerapan standar Sistem Manajemen K3yang
kadang-kadang juga sama pentingnya dengan penerapan standar ini. Hal ini
menyangkut kelangsungan usaha perusahaan seperti pencapaian sasaran
penjualan, memenuhi jadwal dan target produksi.
c. Keberadaan proyek
Khusus bagi perusahaan yang kegiatannya berdasarkan proyek (misalnya
kontraktor dan pengembangan), maka ketika menyusun jadwal kedatangan
asesor badan sertifikasi, pastikan bahwa pada saat asesor datang proyek sedang
dikerjakan.
4) Pengembangan Sistem Manajemen K3
Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan Sistem
Manajemen K3 antara lain mencakup dokumentasi, pembagian kelompok,
penyusunan bagan air, penulisan manual Sistem Manajemen K3, prosedur dan
instruksi kerja.

21
5) Penerapan Sistem
Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja
kembali ke masing-masing bagian untuk menerapkan sistem yang ditulis. Adapun
cara penerapannya sebagai berikut.
a. Anggota kelompok kerja mengumpulkan seluruh stafnya dan menjelaskan
mengenai isi dokumen tersebut. Kesempatan ini dapat juga digunakan untuk
mendapatkan masukan-masukan dari lapangan yang bersifat teknis operasional.
b. Anggota kelompok kerja bersama dengan staf unit kerjanya mulai mencoba
menerapkan hal-hal yang telah ditulis. Setiap kekurangan yang dijumpai harus
dicatat sebagai masukan untuk menyempurnakan sistem.
c. Mengumpulkan semua catatan K3 dan rekaman tercatat yang merupakan bukti
pelaksanaan hal-hal yang telah ditulis. Rentang waktu untuk menerapkan sistem
ini sebaiknya tidak kurang dari tiga bulan sehingga cukup memadai untuk
menilai efektif tidaknya sistem yang telah dikembangkan. Tiga bulan ini sudah
termasuk waktu yang digunakan untuk menyempurnakan sistem dan
memodifikasi dokumen.
d. Dalam praktik pelaksanaannya, maka kelompok kerja tidak harus menunggu
seluruh dokumen selesai. Begitu satu dokumen selesai sudah mencakup salah
satu elemen standar maka penerapan sudah dapat dimulai. Sementara proses
penerapan system berlangsung, kelompok kerja dapat tetap melakukan
pertemuan berkala untuk memantau kelancaran proses penerapan sistem ini.
Apabila langkah-langkah terdahulu dapat dijalankan dengan baik maka proses
sistem ini relatif lebih mudah dilaksanakan. Penerapan sistem ini harus
dilaksanakan sedikitnya tiga bulan sebelum pelaksanaan audit internal. Waktu
tiga bulan ini diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti secara memadai dan
untuk melaksanakan penyempurnaan sistem serta modifikasi dokumen.
6) Proses Sertifikasi
Ada sejumlah lembaga sertifikasi sistem Manajemen K3. Misalnya Sucofindo
melakukan sertifikasi terhadap Permenaker No. 05/MEN/1996. Namun untuk
OHSAS18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun
yang diinginkan.Untuk organisasi disarankan untuk memilih lembaga sertifikasi
OHSAS 18001 yang paling tepat.
1) Kebijakan Sistem Manajemen K3

22
Langkah awal untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Risiko K3 adalah
dengan menunjukkan komitmen serta kebijakan K3 yaitu suatu pernyataan
tertulis yang ditandatangani oleh pengusaha dan atau pengurus yang memuat
keseluruhan visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan K3,
kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara
menyeluruh yang bersifat umum dan/atau operasional. Kebijakan K3 dibuat
melalui proses konsultasi antara pengurus dan wakil tenaga kerja yang kemudian
harus dijelaskan dan disebarluaskan kepada semua tenaga kerja, pemasok dan
pelanggan. Kebijakan K3 bersifat dinamik dan selalu ditinjau ulang dalam rangka
peningkatan kinerja K3. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen
terhadap penerapan Sistem Manajemen K3 pengusaha/pengurus tempat kerja
harus menetapkan kebijakan K3 serta menunjukkan komitmennya terhadap K3
dengan cara berikut ini.
a) Mewujudkan organisasi K3.
b) Menyediakan anggaran.
c) Menyediakan tenaga kerja di bidang K3.
d) Melakukan koordinasi terhadap perencanaan K3.
e) Melakukan penilaian kerja.
f) Melakukan tindak lanjut pelaksanaan K3.
Menerapkan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan
mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan
sasaran K3 berikut ini.
a) Penerapan Kebijakan K3 harus dapat mengintegrasikan Sistem Manajemen
Risiko K3 dalam system manajemen perusahaan yang sudah ada.
b) Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjelaskan kepada pekerja, pemasok,
pelanggan bahwa K3 adalah bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh
operasi.
c) Komitmen tertulis, ditandatangani oleh pengurus tertinggi dari tempat kerja,
memuatvisi dan tujuan yang bersifat dinamis, kerangka kerja dan program
kerja, dibuat melalui proses konsultasi dengan pekerja/wakil pekerja,
disebarluaskan kepada seluruh pekerja.
Berikut ini contoh Kebijakan K3 secara sederhana yaitu:

23
a) Menjamin Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja dan orang lain
(kontraktor, pemasok, pengunjung, dan tamu) di tempat kerja.
b) Menjamin Pengendalian Dampak Lingkungan dari operasional Perusahaan.
c) Memenuhi peraturan perundangan dan persyaratan lain yang berlaku
berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta lingkungan.
d) Melakukan perbaikan berkelanjutan demi terciptanya K3 yang baik di tempat
kerja dan Lingkungan yang Sehat di wilayah perusahaan.
Untuk mewujudkan komitmen kami, maka kami akan:

a) Mengidentifikasi dan mengendalikan semua potensi bahaya serta aspek-


aspek dampaklingkungan yang terkandung pada seluruh aktivitas
operasional perusahaan.
b) Membentuk struktur/susunan/organisasi/unit khusus untuk melaksanakan
penerapanK3 perusahaan secara sistematis, efektif dan berkelanjutan.
c) Menyediakan sarana dan prasarana K3 yang memadai.
d) Memberikan pelatihan dan pembinaan K3 kepada Tenaga Kerja untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tenaga kerja terhadap K3.
e) Berperan aktif untuk memenuhi semua peraturan perundangan dan
persyaratan lainyang berkaitan dengan K3.
2) Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Pengelolaan sumber daya manusia merupakan aspek yang sangat penting dalam
proses pendidikan secara umum. Oleh karena itu, fungsi-fungsi dalam
pengelolaan sumberdaya manusia harus dilaksanakan secara optimal sehingga
kebutuhan yang menyangkut tujuan individu, perusahaan, organisasi, ataupun
kelembagaan dapat tercapai. Edwin B.Flippo menyatakan bahwa pengelolaan
sumber daya manusia merupakan proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengendalian dari pengadaan tenaga kerja, pengembangan,
kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan
maksud untuk mencapai tujuan atau sasaran perorangan, organisasi, dan
masyarakat. Bagi suatu organisasi, pengelolaan sumber daya manusia
menyangkut keseluruhan urusan organisasi dan tujuan yang telah ditetapkan.
Untuk itu, seluruh komponen atau unsur yang ada di dalamnya, yaitu para
pengelola dengan berbagai aktivitasnya harus memfokuskan pada perencanaan
yang menyangkut penyusunan staf, penetapan program latihan jabatan dan

24
sebagainya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan jangka
pendek dan jangka panjang dari organisasi tersebut, khususnya yang menyangkut
kesiapan sumber daya manusianya. Di samping itu, pengelolaan sumber daya
manusia dalam suatu organisasi tidak dapat terlepas dari lingkungan internal
maupun eksternal, yang pada suatu saat akan dapat memengaruhi keberadaan
organisasi tersebut.

D. Pengelolaan Komunikasi
1) Tujuan Komunikasi
a) Mengantisipasi ketidaktahuan, kesalahpahaman, dan permasalahan di dalam
organisasi/perusahaan.
b) Bentuk partisipasi perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3.
c) Semua personel yang ada dalam perusahaan mendukung implementasi K3.
2) Tujuan Pengelolaan Komunikasi
Agar semua personel perusahaan memahami dan mendukung Sistem Manajemen K3.
3) Pertimbangan Pengelolaan Komunikasi
a) Kebijakan dan sasaran K3,
b) Dokumentasi Sistem Manajemen K3 yang relevan.
c) Prosedur identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko.
d) Uraian jabatan.
e) Hasil tinjauan pekerja terkait K3.
f) Program Pelatihan.
Komunikasi dua arah yang efektif dan pelaporan rutin merupakan sumber pentingdalam
penerapan Sistem Manajemen K3. Penyediaan informasi yang sesuai bagi tenaga kerja dan
semua pihak yang terkait dapat dipergunakan untuk memotivasi dan mendorong penerimaan
serta pemahaman umum dalam upaya perusahaan untuk meningkatkan kinerja keselamatan
dan kesehatan kerja. Perusahaan harus mempunyai prosedur yang menjamin bahwa
informasi keselamatan dan kesehatan kerja terbaru dikomunikasikan ke semua pihak dalam
perusahaan.

E. Pengelolaan Operasi Dan Evaluasisistem Manajemen K3


Dalam pengelolaan operasi manajemen K3 terdapat beberapa persyaratan yang
dapatdijadikan suatu rujukan yaitu OHSAS 18001. Dalam persyaratan OHSAS 18001,

25
disebutkan bahwa untuk pengelolaan operasi/pengendalian operasi manajemen K3,
beberapa hal yang harus dipenuhi seperti berikut.
1. OHSAS 18001
a) Identifikasi keseluruhan operasi dan aktivitas yang terkait dengan penilaian risiko.
b) Aktivitas tersebut harus dilakukan dalam kondisi yang ditetapkan, dengan
menetapkan dan memelihara prosedur terdokumentasi untuk mengakomodasi
perbedaan/deviasi sasaran K3, ketentuan kriteria operasi dalam prosedur,
menetapkan dan memelihara prosedur terkait untuk risiko-risiko K3 yang telah
teridentifikasi. Menetapkan dan memelihara prosedur untuk desain tempat kerja,
proses instalasi, mesin-mesin, prosedur operasi dan organisasi kerja.
2. Permenaker 05/MEN/1996
Beberapa yang harus diperhatikan untuk pengelolaan operasi yang disyaratkan
dalamPermenaker 05/MEN/1996 seperti berikut.
a) Perancangan dan rekayasa
Pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) dalam proses
rekayasa harus dimulai sejak tahap perancangan dan perencanaan.
b) Tinjauan ulang kontrak
Pengadaan barang dan jasa yang melalui kontrak harus ditinjau ulang untuk
menjamin kemampuan perusahaan dalam memenuhi persyaratan K3 yang telah
ditentukan.

c) Pembelian
Sistem pembelian barang dan jasa beserta prosedur pemeliharaannya harus
terintegrasi dalam strategi penanganan pencegahan risiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.

F. Cara Pengendalian dan Monitoring Risiko K3 di dalam dan di luar gedung


1. Menekan Probability
Pengendalian risiko yang pertama adalah dengan menekan kemungkinan terjadinya
risiko. Pengurangan kemungkinan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan,
dengan cara teknis, administratif dan pendekatan manusia. Menekan probability
dengan cara:
a) Melakukan Safety induction seminggu sekali

26
Contoh aktifitas : sebelum dimulai semua aktifitas pada proyek, para pekerja
dikumpulkan terlebih dahulu untuk diingatkan pentingnya penggunaan APD dalam
bekerja.
b) Lakukan patroli K3 pada tiap pekerja secara rutin untuk mengawasi para pekerja
dan memberitahu para pekerja jika ada bahaya yang mengancam saat dia bekerja.
Contoh aktifitas: pada saat lifting material jika melewati pekerja di bawahnya,
maka pekerja di suruh menyingkir terlebih dahulu.
c) Pasang rambu – rambu peringatan agar pekerja selalu bekerja dengan hati-hati.

G. Menekan Concequences
Pendekatan berikutnya untuk mengendalikan risiko adalah dengan menekan dampak
yang ditimbulkan oleh risiko, salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah bagaimana
mengendalikan risiko sehingga dampak yang ditimbulkan dapat ditekan seminimal
mungkin. Menekan concequences dengan cara:
1. Selalu gunakan alat pelindung diri (APD) dalam bekerja (contoh: pada pekerjaan di
ketinggian diwajibkan menggunakan full body harness).
2. Buat inovasi alat dan metode kerja yang membuat pekerja merasa aman dan nyaman.
3. Memberi pelatihan kepada pekerja mengenai metode-metode penggunaan alat kerja
dan metode-metode pelaksanaan pekerjaan.

H. Hindari Risiko
Mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan atau penggunaan proses, bahan
dan alat yang berbahaya. Hindari risiko dengan cara mengganti alat yang sudah tidak
layak pakai untuk keselamatan pekerja.

I. Pengalihan Risiko
Pengendalian risiko yang terakhir yaitu pengalihan risiko kepihak lain, sehingga beban
risiko yang ditanggung bisa menurun, hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
dengan kontraktual dan asuransi. Pengalihan risiko (risk transfer) dengan cara setiap
pekerja telah dilindungi dengan BPJS Ketenagakerjaan.

J. Proses Manajemen Risiko Kecelakaan Kerja di dalam dan di luar gedung


Proses yang dilalui dalam manajemen risiko adalah:
1. Perencanaan Manajemen Risiko
27
Perencanaan meliputi langkah memutuskan bagaimana mendekati dan merencanakan
aktivitas manajemen risiko untuk proyek.
2. Identifikasi Risiko
Tahapan selanjutnya dari proses identifikasi risiko adalah mengenali jenis-jenis risiko
yang mungkin dan umumnya dihadapi oleh setiap pekerja.
3. Analisis Risiko Kualitatif
Analisis kualitatif dalam manajemen risiko adalah proses menilai (assessment)
kemungkinan dari risiko yang sudah diidentifikasi. Proses ini dilakukan dengan
menyusun risiko berdasarkan efeknya terhadap tujuan proyek. Skala pengukuran yang
digunakan dalam analisa kualitatif adalah Australian Standard/New Zealand Standard
(AS/NZS)4360:2004.
a) Skala pengukurannya sebagai berikut:
A: Hampir pasti terjadi dan akan terjadi di semua situasi (almost certain)
B : Kemungkinan akan terjadi di semua situasi (likely)
C : Moderat, seharusnya terjadi di suatu waktu (moderate)
D : Cenderung dapat terjadi di suatu waktu (unlikely)
E : Jarang terjadi (rare)
b) Skala pengukuran analisa konsekuensi menurut NA/NZS 4360:2004 :
1) Tidak Signifikan: tanpa kecelakaan manusia dan kerugian materi.
2) Minor: bantuan kecelakaan awal, kerugian materi yang medium.
3) Moderat: diharuskan penanganan secara medis, kerugian materi yang cukup
tinggi.
4) Major: kecelakaan yang berat, kehilangan kemampuan operasi/ produksi,
kerugian materi yang tinggi.
5) Bencana kematian: bahaya radiasi dengan efek penyebaran yang luas, kerugian
yang sangat besar.
c) Analisis Risiko Kuantitatif
Proses identifikasi secara numerik probabilitas dari setiap risiko dan
konsekuensinya terhadap tujuan proyek.
d) Perencanaan Respon Risiko
Risk response planning adalah proses yang dilakukan untuk meminimalisasi
tingkat risiko yang dihadapi sampai batas yang dapat diterima.

28
e) Pengendalian dan Monitoring Risiko
Langkah ini adalah proses mengawasi risiko yang sudah diidentifikasi, memonitor
risiko yang tersisa, dan mengidentifikasikan risiko baru, memastikan pelaksanaan
risk management plan dan mengevaluasi keefektifannya dalam mengurangi risiko.
1) Faktor Risiko K3 di Luar Gedung
a) Ruang bangunan dan halaman : semua ruang/unit dan halaman yang ada
dalam batas pagar RS (bangunan fisik dan kelengkapannya ) yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan RS.
b) Lingkungan bangunan RS harus mempunyai batas yang jelas, dilengkapi
dengan pagar yang kuat dan tidak memungkinkan orang atau binatang
peliharaan keluar masuk dengan bebas
c) Lingkungan bangunan RS harus bebas dari banjir, jika berlokasi di daerah
rawan banjir harus menyediakan fasilitas/teknologi untuk mengatasinya.
d) Lingkungan RS harus bebas dari asap rokok, tidak berdebu, tidak becek,
atau tidak terdapat genangan air, dan dibuat landai menuju ke saluran
terbuka atau tertutup, tersedia lubang penerima air masuk dan disesuiakan
dengan luas halaman.
e) Ruang bangunan dan halaman : semua ruang/unit dan halaman yang ada
dalam batas pagar RS (bangunan fisik dan kelengkapannya ) yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan RS.
f) Pencahayaan : jalur pejalan kaki harus cukup terang, lingkungan bangunan
RS harus dilengkapi penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup
terutama pada area dengan bayangan kuat dan yang menghadap cahaya yang
menyilaukan
g) Kebisingan : terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu
atau membahayakan kesehatan. Dengan menanam pohon (green belt),
meninggikan tembok dan meninggikan tanah (bukit buatan) yang berfungsi
untuk penyekatan/ penyerapan bising.
h) Kebersihan : halaman bebas dari bahaya dan risiko minimum untuk
terjadinya infeksi silang, masalah kesehatan dan keselamatan kerja
i) Saluran air limbah domestic dan limbah medis harus tertutup dan terpisah,
masing-masing dihubungkan langsung dengan instalasi pengolahan air
limbah.

29
j) Luas lahan bangunan dan halaman harus disesuaikan dengan luas lahan
keseluruhan, sehingga tesedia tempat parkir yang memadai dan dilengkapi
dengan rambu parkir
k) Di tempat parkir, halaman, ruang tunggu dan tempat-tempat tertentu yang
menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah
l) Lingkungan, ruang, dan bangunan RS harus selalu dalam keadaan bersih dan
tersedia fasilitas sanitasi secara kualitas dan kuantitas yang memenuhi
persyaratan kesehatan sehingga tidak memungkinkan sebagai tempat
berenang dan berkembang biaknya serangga, binatang pengerat, dan
binatang pengganggu lainnya.
m) Jalur lalulintas pejalan kaki dan jalur kendaraan harus dipisahkan.
n) Jalur pejalan kaki :lebar, tidak licin, mengakomodasi penyandang cacat,
memiliki rambu atau marka yang jelas, bebas penghalang dan memiliki rel
pemandu
o) Jalur kendaraan : cukup lebar, konstruksi kuat, tidak berlubang, drainase
baik, memiliki pembatas kecepatan (polisi tidur),marka jalan jelas, memiliki
tanda petunjuk tinggi atau lebar maksimum, memungkinkan titik perlintasan
dan parkir, menyediakan penyebrangan bagi pejalan kaki
p) Ketetapan yang diatur oleh the environment protection act 1990
mendefenisikan :
q) Polutan : limbah padat dibuang ke tanah,limbah cair dibuang ke tanah atau
saluran air, dibuang ke atmosfir, bising dalam komunitas masyarakat
r) Limbah terkendali : limbah rumah tangga, limbah industri, limbah usaha
komersial
s) Limbah khusus : limbah terkendali yang berbahaya sehingga membutuhkan
prosedur pembuangan khusus
Kriteria limbah berbahaya seperti : dapat menyala/mudah menyala, Iritan,
berbahaya, beracun, karsinogenik, korosif, produk obat-obatan yang hanya
diresepkan.

30
Diagram Proses Manajemen Resiko K3 di dalam dan di luar gedung.

2.6 Mengenali Dan Berespon Terhadap Adverse Event

Fakta menunjukkan bahwa banyak pasien rumah sakit (RS) yang menjadi korban
adverse events (AEs) atau dalam bahasa Indonesia disebut kejadian yang tidak diharapkan
(KTD). AEs yang disebabkan lebih oleh kesalahan pengobatan (treatment) dan bukan
karena kondisi pasien. Korban AEs bervariasi dari yang ringan seperti mual, gatal-gatal
dan diare sehingga harus dirawat lebih lama sampai pada akibat yang fatal seperti misalnya
cacat seumur hidup dan bahkan meninggal. AEs jelas merugikan pasien, selain mereka
harus membayar lebih untuk pengobatan karena suatu kesalahan namun juga kesehatan
fisik dan juga jiwa mereka turut terancam.
AEs bisa terjadi di RS di mana saja termasuk juga di RS Indonesia kendati banyak
kejadian yang tidak dilaporkan. Menurut penelitian IOM dalam buku “To Err is Human”,
jika hasil-hasil penelitian di sejumlah rumah sakit diesktrapolasi dengan mendasarkan pada
persentase AEs yang menjadi penyebab kematian dari 33.6 juta rawat inap di Amerika
(tahun 1997) maka dapat diprediksi bahwa sekitar 98.000 pasien meninggal karena
kesalahan medis (medical errors). Angka kematian akibat AEs di Amerika tersebut jauh
melebihi angka kematian karena kecelakaan motor (43.458 orang); kanker payudara
(42.297 orang) dan AIDS (16.516 orang). Dari angka kematian akibat AEs tersebut, lebih
dari 50 % disebabkan oleh errors (kesalahan) yang sebenarnya dapat dicegah (preventable
adverse events).

31
Masih dari sumber yang sama, hasil penelitian di Colorado dan Utah pada tahun 1992,
menunjukkan bahwa AEs terjadi 2.9 % dari jumlah pasien yang dirawat; 6.6 % dari korban
AEs tersebut meninggal; padahal 53% dari jumlah AEs tersebut adalah preventable. Hasil
penelitian di sejumlah RS di New York lebih parah; AEs terjadi 3,7 % dari pasien yang
dirawat; 58% dari jumlah tersebut adalah preventable dan 13,6 % dari korban AEs tersebut
meninggal. Data statistik nasional mengenai AEs di Indonesia belum ada namun
berdasarkan penelitian-penelitian yang ada dan kasus-kasus yang terjadi, jumlah AEs dapat
diperkirakan relatif tinggi.
Ada berbagai macam AEs, antara lain salah memberi obat, salah membaca hasil
pemeriksaan laboratorium dan salah mendiagnosis pasien. AEs tersebut disebabkan oleh
berbagai faktor seperti misalnya dokter kelelahan, alat yang tidak berfungsi dengan
semestinya ataupun perawat yang salah mencatatnya. Pada umumnya RS menerapkan
sistem keselamatan kerja tetapi AEs masih saja terjadi.
Berbuat salah adalah manusiawi (To err is human) tetapi kalau akibat dari kesalahan
tersebut fatal dan merugikan orang lain, padahal kesalahan tersebut dapat dicegah maka
sudah sepantasnya manajemen rumah sakit (health care) mengupayakan seoptimal
mungkin melakukan tindakan preventif. Pendekatan sistem banyak diadopsi oleh rumah
sakit untuk meningkatkan keselamatan kerja (safety) namun tidak jarang sistem tersebut
tidak berjalan karena faktor manusia serta nilai-nilai organisasi yang tidak mendukung.
Artikel ini memfokuskan pada pembahasan peran safety-culture dalam menimimalkan
AEs, bahkan jika mungkin meniadakannya (zero-AE). Meniadakan terjadinya AEs yang
disebabkan oleh errors medis juga berarti menjauhkan RS dari kemungkinan tuntutan
hukum.
Adverse events (AEs) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kejadian yang
tidak diharapkan (KTD) yang disebabkan oleh kesalahan pengobatan/treatment serta dapat
berdampak negatif bahkan fatal pada pasien. IOM mendefinisikan AE sebagai an injury
caused by medical management rather than the underlying condition of the patient.
Pada dasarnya, AEs bersifat ketidaksengajaan. Jadi tidak direncanakan untuk
merugikan orang lain. Namun apa pun alasannya hal tersebut tidak boleh terjadi karena
bisa berdampak negatif dan bahkan fatal pada pasien. Bayangkan seorang pasien yang
berpenyakit rematik tulang tetapi ia diagnosis menderita kanker tulang stadium empat
sehingga harus segera dioperasi, dan tindakan medis (operasi) dilakukan padahal penyakit
tersebut tidak perlu dilakukan maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada pasien
tersebut. Selain secara ekonomis dan psikologis pasien dirugikan, mungkin juga ia
32
menderita seumur hidup atau bahkan mungkin meninggal. Kasus AEs banyak terjadi di
mana-mana oleh karena itu WHO mengangkat isu tersebut agar dicegah dan ditangani
secara efektif. Di Indonesia, misalnya AE tampaknya sudah mulai diperhatikan. Penelitian-
penelitian dan seminar–seminar berkaitan dengan AEs juga sudah mulai banyak dilakukan.
1) Mengatasi Adverse event
Kesalahan adakah bagian dari manusia; apa pun pekerjaannya manusia tak luput dari
berbuat salah. Namun, kesalahan dapat dicegah dengan sistem rancangan yang mempersulit
orang berbuat salah, sebaliknya mengarahkan orang untuk berbuat benar. Dengan
perkataan lain, para penganut pendekatan sistem berpendapat bahwa kesalahan dapat
dicegah atau dikendalikan dengan sistem, misalnya supaya orang tidak salah menekan
tombol maka tombol tersebut diberi warna yang sangat mencolok, supaya perawat tidak
kelelahan sehingga berbuat kelasahan maka penjadwalan dilakukan berdasarkan sistem
yang mengacuh pada jumlah jam kerja maksimum.
Banyak RS mengaplikasi sistem keselamatan yang baik namun fakta menunjukkan
bahwa AEs tetap terjadi hal. Memang jika sistem dapat dijalankan dengan semestinya maka
AEs dapat ditekan sekecil-kecilnya namun fakta menunjukkan bahwa sistem tidak dapat
berjalan dengan secara optimal jika kompetensi dan nilai-nilai/budaya yang ada tidak
mendukungnya.
Memang pendekatan sistem banyak dipergunakan di RS maupun pada pesawat
terbang; sistem dibuat sedemikian rupa sehingga membuat orang tidak membuat kesalahan.
Pertanyaannya, sejauh mana sistem dapat mengatasi semua persoalan. Dalam hal tertentu
pendekatan sistem sangat efektif namun tentunya tidak untuk semua persoalan sebab
bagaimanapun juga faktor manusia sering kali sangat menentukan pada to err is human.
Berdasarkan pertimbangan tersebut perpadua pendekatan (holistic approach) dan budaya
untuk mengatasi AEs perlu dipergunakan. Pendekatan sistem lazim dikenal sebab hard
approach sedang pendekatan budaya/manusia lazim dikenal sebagai soft approach.
Sebagai hard approach, pendekatan sistem dapat dipergunakan untuk membudayakan
nilai-nilai.
Pengelolaan AEs bertujuan untuk meminimalkan atau meniadakan AEs melalui
pendekatan terpadu antara sistem safety dan budaya safety yang dikaitkan dengan visi dan
misi RS. Pendekatan integratif tersebut cocok disebabkan oleh berbagai penyebab AEs:
a. Nilai-nilai, serta tindakan para medis dan non-medis yang belum berorientasi pada
keselamatan pasien.

33
b. Kompetensi para medis/non-medis yang kurang/tidak memadai, misalnya seorang
dokter yang tidak kompeten dalam dalam mengoperasi pasien karena sudah lama tidak
melakukan pekerjaan tersebut tetapi melakukannya.
c. Keterbatasan pengetahuan; secara keilmuan misalnya belum ditemukan caracara yang
efektif untuk mengobati penyakit tertentu, misalnya terapi cell, stem cell, dan DNA
tidak dimungkinkan lima puluh tahun lalu.
d. Keterbatasan kompetensi dan fasilitas RS; secara keilmuan sudah dimungkinkan tetapi
rumah sakit tidak memiliki dokter yang kompeten dan peralatan yang canggih yang
mendukung.
e. Nilai-nilai pasien yang tidak berorientasi pada safety values, misalnya pasien yang tidak
mematuhi dokter dan aturan keselamatan.
f. Kurang efektifnya sistem safety termasuk IT untuk membantu para medis dan non-
medis di rumah sakit.
2) Meminimalkan Risiko AEs
Hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya AEs adalah dengan
menanamkan budaya safety dan mengubah budaya rumah sakit.
1. Menanamkan budaya safety
a. Sosialisasi dapat dilakukan baik secara informal maupun formal, misalnya pada waktu
morning tea session selalu dilakukan penanaman nilai-nilai tersebut melalui cerita.
Sosialisasi dapat pula dilakukan melalui walk the talk, atau MBWA (Management By
Walking Around); para pemimpin secara berkala mendatangi para stafnya selain
mengontrol juga selalu meningatkan pentingnya safety. Di samping itu, dilakukan
sosialisasi pada ritual tertentu seperti misalnya pemilihan karyawan teladan dan acara-
acara formal family day. Slogan-slogan, poster, dan simbol-simbol yang
mempromosikan safety seyogianya dipasang tempat-tempat strategis di RS agar semua
karyawan dan pasien ikut berpartisipasi dalam menanamkan budaya safety.
b. Pelatihan yang bersasaran dari kognitif, afektif sampai pada ranah psikomotorik.
Pelatihan Root Cause Analysis (RCA) untuk mencari penyebab AEs dapat dilakukans
secara berkala. RCA adalah metode pemecahan persoalan yang berorientasi pada
pengidentifikasian akar persoalan atau kejadian. RCA memiliki banyak metode atau
tools yaitu: safety-based, production-based, processed-based, failure-based dan system
based. RCA pada patient-safety culture RS mengacu pada safety-based. Tim inti perlu
memiliki kompetensi RCA yang tinggi agar mampu menganalisis penyebab persoalan
yang menyarankan penangannya.
34
c. Organizational learning yang dilakukan tim inti untuk menentukan strategi
pembudayaan nilai-nilai safety. Tim tersebut secara berkala bertemu untuk
manganalisis RCA dari adverse events, menentukan pola sosialisasi serta mengevaluasi
program yang telah dilaksanakan melalui riset-riset aplikatif. Melalui organizational
learning akan diperoleh explicit knowledge yang berguna untuk menangani persoalan
AEs.
d. Keteladanan para pemimpin yang menginspirasi dan mengarahkan para anak buahnya
untuk menganut nilai-nilai safety serta mewujudkannya dalam bentuk perilaku meraka
sehari-hari.
e. Sistem MSDM yang mengkaitkan aktivitas SDM: rekruitment dan seleksi,
pemeliharaan serta pengembangan dengan patient-safety culture. Sistem seleksi
karyawan mengacu pada nilai-nilai tersebut. Pembentukan nilai-nilai juga dikaitkan
dengan sistem reward and punishment.
f. Sistem safety yang mendorong orang untuk sulit berbuat salah, misalnya bor gigi yang
secara otomatis berhenti jika bersentuhan dengan benda lunak seperti gusi atau lidah.
Foto X-ray akan berhenti berfungsi jika posisi pasien belum tepat benar. Pada mobil
ambulan terdapat lampu pengingat pengemudi apabila pintu belakang belum tertutup
sempurna dan posisi korban belum tepat.
2. Mengubah budaya rumah sakit
Budaya RS tidak jarang harus diubah agar mampu bertahan dan berkembang. Banyak
RS melakukan perubahan budaya ke arah profesional dan kepuasan pelanggan namun cara-
cara yang ditempuh kurang tepat sehingga berdampak kurang positif. Para karyawan yang
meliputi dokter, perawat, dan tenaga non-medis merasa kecewa dan demotivasi karena
mereka belum siap terhadap perubahan tersebut. Pada prinsipnya sebelum melakukan
perubahan budaya organisasi, perlu ditentukan dengan tepat budaya yang dikehendaki.
Kemudian, diidentifikasi budaya yang ada sekarang sehingga ditemukan kesenjangannya.
Kendala antara kedua budaya tersebut perlu diperkecil melalui change management.
Mengubah budaya organisasi yang dominan tidak mudah karena budaya tersebut telah
dianut oleh para anggotanya dalam waktu relatif cukup lama dan bahkan sudah menjadi
suatu dasar perilaku mereka. Lewin (1952) mengemukakan tiga tahapan penting cara
mengelolah perubahan budaya organisasi secara efektif yaitu:
a. Unfreezing: pada tahap ini biasanya muncul karena para pemimpin terdorong untuk
berubah karena peristiwa yang tidak menyenangkan, misalnya kejadian AEs yang
cenderung meningkat dan keluhan pasien terus meningkat bahkan beberapa diajukan
35
ke pengadilan. RS yang semula kurang mengutamakan budaya keselamatan dan lebih
mengandalkan pada sistem; mau tidak mau harus mengaplikasi budaya tersebut.
Perubahan budaya RS ke budaya safety harus diteruskan sampai ke tingkat yang paling
bawah. Memang pada tahap ini tidak jarang karyawan yang diliputi rasa cemas, sebab
itu penjelasan what, why and how dilakukan dengan seksama.
b. Change: pada tahap ini perubahan sebenarnya terjadi; budaya baru mulai kelihatan dan
para karyawan tampaknya mulai memahami perlunya perubahan. Pada tahap ini pula,
peraturan-peraturan baru, kebiasaan-kebiasaan baru serta sistem baru mulai berlaku.
Pelatihan-pelatihan tampaknya dilakukan serta program sosialisasi dan ritual-ritual
tertentu juga dilakukan mendukung pembudayan nilainilai baru. Tak jarang, simbol dan
slogan organisasi pun dipasang di mana-mana.
c. Refreezing: pada tahap ini karyawan tampak mulai bermotivasi lagi. Mereka mulai
dapat menerima nilai-nilai dan kebiasaankebiasaan baru sebagai implikasi dari
perubahan budaya. Karyawan RS X dengan budaya baru safety culture mulai
berperilaku ke arah budaya tersebut. Kendati demikian, sistem manajemen yang efektif
perlu dipertimbangkan untuk membudayakan nilai-nilai yang dikehendaki.
Agar pengelolaan budaya organisasi efektif, pendekatan yang tepat perlu dilakukan.
Manajemen perlu membentuk tim inti untuk mensosialisasikan patient-safety culture. Di
samping itu, perubahan budaya perlu didukung oleh aktivitas-aktivitas berikut:
a. Keterlibatan pemimpin yang berkarisma.
b. Penciptaan simbol, slogan, ritual, dan ceritacerita baru yang relevan.
c. Penyelarasan sistem seleksi, pemeliharaan, dan sistem kompensasi.
d. Pengorganisasian sistem manajemen.
e. Pemberian pelatihan mengenai nilai-nilai baru.

36
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah
terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan
terstruktur dalam suatu sistem yang baik. Risk assessment merupakan bagian yang
paling penting dan fundamental dalam proses pengelolaan risiko. Manajemen risiko
pada dasarnya dilakukan melalui tiga proses yaitu identifikasi risiko, evaluasi dan
pengukuran risiko, serta pengelolaan risiko. Identifikasi risiko dilakukan untuk
mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi oleh suatu organisasi. Tujuan
evaluasi risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Evaluasi
yang lebih sistematis dilakukan untuk ‘mengukur’ risiko tersebut. Risiko harus
dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang diterima bisa
cukup serius, misal kerugian yang besar.
Tujuan dari manajemen risiko yaitu untuk menjamin bahwa suatu perusahaan
dapat memahami, mengukur, dan memonitoring berbagai macam risiko yang terjadi,
serta memastikan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat mengendalikan berbagai
macam risiko-risiko yang ada. Hirarki Pengendalian (Hierarchy of Control) merupakan
pengendalian risiko dengan cara memprioritaskan dalam pemilihan dan pelaksanaan
pengendalian yang berkaitan dengan bahaya K3.
Sistem Manajemen Risiko K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan
yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur,
proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian,
pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka
pengendalian risiko, yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja
yang aman, efisien dan produktif. Salah satu peraturan perundangan yang mengatur
mengenai SMK3 adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05 Tahun 1996 Tentang
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Adverse events (AEs) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kejadian yang
tidak diharapkan (KTD) yang disebabkan oleh kesalahan pengobatan/treatment serta dapat
berdampak negatif bahkan fatal pada pasien. IOM mendefinisikan AE sebagai an injury

37
caused by medical management rather than the underlying condition of the patient. Pada
dasarnya, AEs bersifat ketidaksengajaan. Jadi tidak direncanakan untuk merugikan orang
lain. Namun apa pun alasannya hal tersebut tidak boleh terjadi karena bisa berdampak
negatif dan bahkan fatal pada pasien.

3.2 Saran
Dengan berhasil disusunnya makalah ini, semoga bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya bagi mahasiswa keperawatan. Penyusun berharap agar para
pembaca dapat lebih memahami manajemen risiko K3 sehingga ilmu yang didapatkan
dapat bermanfaat di masa yang akan datang.

38
DAFTAR PUSTAKA

Adityanto, Beryl. 2013. Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada
Pekerjaan Struktur Bawah dan Struktur Atas Gedung Bertingkat. Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.
Anderson, Sweeny, and Williams. (1999). Statistics for Business and Economics, South-
Western Publishing, Cincinnati.
Anwar, Fahmi Nurul. 2014. Analisis Manajemen Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3) Pada Pekerjaan Upper Structure Gedung Bertingkat (Studi Kasus Proyek Skyland
City – Jatinangor). Jurnal Konstruksi ISSN : 2302-7312 Vol. 13 No. 1 2014.
Barton, Thomas, William G. Shenkir, Paul L. Walker. (2002). Making Enterprise Risk
Management Pay Off. New Jersey: Prentice Hall.
Budihardjo, A. (2008). Pentingnya Safety Culture Di Rumah Sakit: Upaya Meminimalkan
Adverse Events. Integritas - Jurnal Manajemen Bisnis, 1(Mei), 53.
Boodie, Zvi and Robert C. Merton. (2000). Finance. New Jersey: Prentice Hall.
Departemen Kesehatan RI., (2006). Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit
(K3RS), Jakarta Indonesia.
Doherty, Neil. (2000). Integrated Risk Management. New York: McGraw Hill.
Drs. Buntarto, M.Pd. 2015. Panduan Praktis Keselamatan & Kesehatan Kerja untuk
Industri.Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Endroyo, Bambang. 2006. Peranan Manajemen K3 Dalam Pencegahan Kecelakaan Kerja
Konstruksi. Jurnal Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Volume III, No. 1. Januari
2006: 8 – 15
Hanafi, Mamduh. (2005). Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
Hanafi, Mamduh. (2004). Manajemen Keuangan Internasional. Yogyakarta: BPFE.
Harrington, Scott E., dan Gregory R. Niehaus. (2003). Risk Management and Insurance.
Boston: McGraw Hill.
Kurniawidjaja, L. M., (2010). Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta : UI Press.
Lam, James. (2004). Enterprise Risk Management. Wiley.
Marshall, John F., dan Vipul K. Bansal. (1992). Financial Engineering, A Complete Guide to
Financial Innovation. New York: Institute of Finance.
Pande, Pete and Larry Holpp. (2002). What is Six Sigma. New York.=
Risk Group (ed.). (2001). Advances in Operational Risk. London: Risk Water Group Ltd.
Saunders and Cornett. (2003). Financial Institutions Management, A Risk Management
Approach, McGraw Hill.

39
Soputan, Gabby E. M. 2014. Manajemen Risiko Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Study
Kasus Pada Pembangunan Gedung SMA Eben Haezar. Universitas Sam Ratulangi.
Jurnal Ilmiah Media Engineering Vol.4 No.4, Desember 2014 (229-238) ISSN: 2087-
9334.
Sucipto, Cecep Dani. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.

40