Anda di halaman 1dari 20

PERILAKU BERISIKO

PENYALAHGUNAAN NAPZA

OLEH :
IDA AYU PUTU GAYATRI PRABHA (P07120216033)
MADE AYU SISTA UTAMI (P07120216035)
NI PUTU AYU KRISNAYANTI (P07120216036)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020

i
KATA PENGANTAR

“Om Swastyastu”

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang
Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Perilaku Berisiko:
Penyalahgunaan NAPZA” mata kuliah Keperawatan Jiwa.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai pihak.
Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
yang telah membantu.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan
kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.

“Om Santih, Santih, Santih, Om”

Denpasar, 25 Juli 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...........................................................................................................i


Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi......................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan......................................................................................................2
C. Manfaat Penulisan....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Penyalahgunaan NAPZA...........................................................................3
B. Jenis-jenis NAPZA...................................................................................................3
C. Rentang Respon Penyalahgunaan NAPZA..............................................................5
D. Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA..................................................................6
E. Zat yang Disalahgunakan.........................................................................................9
F. Tanda dan Gejala Penyalahgunaan NAPZA.............................................................9
G. Dampak Penyalahgunaan NAPZA...........................................................................11
H. Terapi dan Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA...................................................12
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .................................................................................................................16
B. Saran ........................................................................................................................16
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah penggunaan Narkotika, Psikotropika,dan Zat Adiktif (NAPZA)
atau istilah yang populer di masyarakat sebagai NARKOBA merupakan masalah
yang sangat kompleks, yang memerlukan penanganan secara komprehensif
dengan melibatkan kerja sama multidisipliner, multisektor, dan peran serta
masyarakat secara aktif yang dilaksanakan berkesinambungan, konsekuen dan
konsisten. Meskipun dalam kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya masih bermanfaat bagi pengobatan, namun
bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar
pengobatan terlebih lagi jika disertai peredaran di jalur ilegal, akan sangat
merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda.
Maraknya penggunaan tidak hanya di kota-kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota-kota kecil di seluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari
tingkat ekonomi menengah ke bawah sampai tingkat ekonomi atas. Dari data yang
ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15-24 tahun.
Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA.
Oleh karena itu,kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap
ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan memegang
peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi penyalahgunaan NAPZA?
2. Apa saja jenis-jenis NAPZA?
3. Bagaimana rentang respon penyalahgunaan NAPZA?
4. Apa faktor risiko penyalahgunaan NAPZA?
5. Apa saja zat yang disalahgunakan?
6. Apa tanda dan gejala penyalahgunaan NAPZA?
7. Apa terapi dan rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi penyalahgunaan NAPZA
2. Untuk mengetahui saja jenis-jenis NAPZA
3. Untuk mengetahui rentang respon penyalahgunaan NAPZA
4. Untuk mengetahui faktor risiko penyalahgunaan NAPZA
5. Untuk mengetahui saja zat yang disalahgunakan
6. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyalahgunaan NAPZA
7. Untuk mengetahui terapi dan rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA

D. Manfaat
1. Dapat mengetahui definisi penyalahgunaan NAPZA
2. Dapat mengetahui saja jenis-jenis NAPZA
3. Dapat mengetahui rentang respon penyalahgunaan NAPZA
4. Dapat mengetahui faktor risiko penyalahgunaan NAPZA
5. Dapat mengetahui saja zat yang disalahgunakan
6. Dapat mengetahui tanda dan gejala penyalahgunaan NAPZA
7. Dapat mengetahui terapi dan rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Penyalahgunaan NAPZA


NAPZA adalah (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) adalah
bahan/zat/obat yang apabila masuk kedalam tubuh manusia bisa mempengaruhi
tubuh terutama pada otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan
kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan
(adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. NAPZA sering
disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga
menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, pikiran. (Eko, 2014).
Penyalahgunaan NAPZA adalah suatu penyimpangan perilaku yang
disebabkan oleh pengguna yang terus-menerus sampai terjadi masalah. Pengguna
NAPZA dapat mengalami kondisi lanjut, yaitu ketergantungan napza yang
merupakan suatu kondisi yang cukup berat dan parah sehingga mengalami sakit
yang cukup berat ditandai dengan ketergantungan fisik (sindrom putus zat dan
toleransi). Sindrom putus zat adalah suatu kondisi dimana individu yang
menggunakan napza, menurunkan atau menghentikan penggunaan napza sehingga
akan menimbulkan gejala kebutuhan biologi terhadap NAPZA (Farida & Yudi,
2010).

B. Jenis-jenis NAPZA
1. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintesis maupun semisintetis. Zat ini dapat mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika
memiliki daya adiksi (ketagihan) yang sangat berat. Narkotika juga memiliki daya
toleran (penyesuaian dan daya habitual (kebiasaan) yang sangat tinggi. Ketiga
sifat narkotika inilah yang menyebabkan pemakai narkotika tidak dapat lepas dari
“cengkraman”nya. Berdasarkan Undang-Undang No.35 Tahun 2009, jenis
narkotika dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu narkotika golongan I, golongan II,
dan golongan III.

3
a. Narkotika Golongan I
Narkotika yang berbahaya, zat adiktifnya sangat tinggi, dan tidak untuk
digunakan dengan kepentingan apapun kecuali untuk ilmu pengetahuan dan
penelitian. Contohnya ganja, heroin, kokain, morfin, opium, dan lain-lain.
b. Narkotika Golongan II
Narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, memiliki manfaat untuk
pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah petidin dan turunannya,
benzetidin, betametadol, dan lain-lain.
c. Narkotika Golongan III
Narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk
pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah kodein.
2. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun
sintetis, bukan yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku
(UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika). Psikotropika dibedakan dalam
golongan-golongan sebagai berikut :
a. Psikotropika Golongan I
Psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaat
untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya. Contohnya adalah MDMA,
ekstasi, LSD, dan STP.
b. Psikotropika Golongan II
Psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan
penelitian. Contohnya adalah amfetamin, metamfetamin, dan metakualon.
c. Psikotropika Golongan III
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh: pentobarbital,
flunitrazepam).

4
d. Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi
dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh: diazepam, bromazepam,
fenobarbital, klonozepam, klordiazepoxide, nitrazepam).
3. Zat adiktif lainnya
Zat adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat
menimbulkan kecanduan atau ketergantungan. Contohnya : rokok, kelompok alkohol
dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan. Minuman alkohol
dibagi menjadi 3 golongan sesuai dengan kadar alkoholnya yaitu:
a. Golongan A adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 1% - 5% Contoh :
bir, greend sand.
b. Golongan B adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 5% - 20% Contoh :
anggur kolesom.
c. Golongan C adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 20% - 55% Contoh :
arak, wisky, vodka.

C. Rentang Respon Penyalahgunaan NAPZA


Rentang respon ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai dengan yang
berat. Indikator dari rentang respon berdasarkan perilaku yang ditampakkan oleh
remaja dengan gangguan penggunaan zat adiktif.
Respon adaptif Respon Maladaptif

Eks- Rekreasi- Situasional Penyalah- Ketergan-

perimental onal gunaan tungan

Gambar 1. Rentang Respon Penyalahgunaan NAPZA (Prabowo, 2014)


1. Eksperimental adalah kondisi penggunaan pada taraf awal, disebabkan rasa ingin

5
tahu, ingin memiliki pengalaman yang baru, atau sering dikatakan taraf coba-coba.
2. Rekreasional adalah menggunakan zat saat berkumpul berama-sama dengan teman
sebaya, yang bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya.
3. Situasional adalah orang yang menggunakan zat mempunyai tujuan tertentu secara
individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, seringkali
penggunaan zat ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah
yang dihadapinya. Biasanya digunakan pada saat sedang konflik, stress, frustasi.
4. Penyalahgunaan adalah penggunaan zat yang sudah bersifat patologis, sudah mulai
digunakan secara rutin, paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan, dan terjadi
penyimpangan perilaku dan mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial
dan pendidikan.
5. Ketergantungan adalah penggunaan zat yang cukup berat, telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai oleh adanya
toleransi dan sindroma putus zat. Sindroma putus zat adalah suatu kondisi dimana
orang yang biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu berhenti
menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan, sehingga
menimbulkan gejala pemutusan zat. sindroma putus zat adalah suatu kondisi
dimana orang yang biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu berhenti
menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan, sehingga
menimbulkan gejala pemutusan zat.

D. Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA


Menurut Soetjiningsih (2010), faktor risiko yang menyebabkan penyalahgunaan
NAPZA antara lain faktor genetik, lingkungan keluarga, pergaulan (teman sebaya),
dan karakteristik individu.
1. Faktor Genetik
Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari
orang tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum
alkohol dibandingkan remaja dari orang tua angkat alkoholik.
2. Lingkungan Keluarga

6
Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap
penyalahgunaan NAPZA. Pola asuh orang tua yang demokratis dan terbuka
mempunyai risiko penyalahgunaan NAPZA lebih rendah dibandingkan dengan
pola asuh orang tua dengan disiplin yang ketat. Fakta berbicara bahwa tidak semua
keluarga mampu menciptakan kebahagiaan bagi semua anggotanya. Banyak
keluarga mengalami problem-problem tertentu. Salah satunya ketidakharmonisan
hubungan keluarga. Banyak keluarga berantakan yang ditandai oleh relasi
orangtua yang tidak harmonis dan matinya komunikasi antara mereka.
Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat perceraian. Kalau pun
keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada sebetulnya adalah sebuah rumah
tangga yang tidak akrab dimana anggota keluarga tidak merasa betah. Orangtua
sering minggat dari rumah atau pergi pagi dan pulang hingga larut malam.
Kebanyakan diantara penyalahguna NAPZA mempunyai hubungan yang biasa-
biasa saja dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan waktu luang dan
bercanda dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).
3. Pergaulan (Teman Sebaya)
Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman kelompok
sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau
mencetuskan penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang. Menurut Hawari
(2010) perkenalan pertama dengan NAPZA justru datangnya dari teman
kelompok. Pengaruh teman kelompok ini dapat menciptakan keterikatan dan
kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri. Pengaruh teman
kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA,
melainkan juga menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan NAPZA, dan
yang menyebabkan kekambuhan (relapse).
Bila hubungan orangtua dan anak tidak baik, maka anak akan terlepas
ikatan psikologisnya dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh dalam
pengaruh teman kelompok. Berbagai cara teman kelompok ini memengaruhi si
anak, misalnya dengan cara membujuk, ditawari bahkan sampai dijebak dan
seterusnya sehingga anak turut menyalahgunakan NAPZA dan sukar melepaskan

7
diri dari teman kelompoknya.
4. Karakteristik Individu
a. Umur
Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah mereka
yang termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara kejiwaan masih sangat
labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan sedang mencari identitas diri serta
senang memasuki kehidupan kelompok. Hasil temuan Tim Kelompok Kerja
Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba Departemen Pendidikan Nasional
menyatakan sebanyak 70% penyalahguna NAPZA di Indonesia adalah anak usia
sekolah (Jehani, dkk, 2006). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004)
proporsi penyalahguna NAPZA tertinggi pada kelompok umur 17-19 tahun (54%).
b. Pendidikan
Hasil penelitian Prasetyaningsih (2009) menunjukkan bahwa pendidikan
penyalahguna NAPZA sebagian besar termasuk kategori tingkat pendidikan dasar
(50,7%). Asumsi umum bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mempunyai
wawasan/pengalaman yang luas dan cara berpikir serta bertindak yang lebih baik.
Pendidikan yang rendah memengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi
yang sangat penting tentang NAPZA dan segala dampak negatif yang dapat
ditimbulkannya, karena pendidikan rendah berakibat sulit untuk berkembang
menerima informasi baru serta mempunyai pola pikir yang sempit.
c. Pekerjaan
Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun
2009 di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh data bahwa penyalahguna
NAPZA tertinggi pada karyawan swasta dengan prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI
dengan prevalensi 13%, dan karyawan BUMN dengan prevalensi 11% (BNN,
2010).

8
E. Zat yang Disalahgunakan
Golongan Jenis
Opioida Morfin, heroin (puthao), candu, kodein, petidin
Kanabis Ganja (Mariyuana), minyak hasish
Kokain Serbuk kokain, daun koka
Alkohol Semua minuman yang mengandung ethyl alkohol,
Sedative-hipnotik Sedatin (BK), rohipnol, mogadon, dulomid,
nipam, mandrax
MDA (Methyl Dioxy Ekstasi
Amphetamine)
Halusinogen LSD, meskalin, jamur, kecubung
Solven & Inhalasi Glue (aica aibon), aceton, thinner, N2O
Nikotin Terdapat dalam tembakau

F. Tanda dan Gejala Penyalahgunaan NAPZA


1. Tingkah laku pasien pengguna zat sedatif hipnotik
a. Menurunnya sifat menahan diri
b. Jalan tidak stabil, koordinasi motorik kurang
c. Bicara cadel, bertele-tele
d. Kurang perhatian
e. Sangat gembira, berdiam, (depresi), dan kadang bersikap bermusuhan
f. Gangguan dalam daya pertimbangan
g. Dalam keadaan yang over dosis, kesadaran menurun, koma dan
dapat menimbulkan kematian
h. Meningkatkan rasa percaya diri
2. Tingkah laku pasien pengguna ganja
a. Kontrol diri menurun bahkan hilang
b. Menurunnya motivasi perubahan diri
c. Ephoria ringan

3. Tingkah laku pasien pengguna alkohol


a. Sikap bermusuhan

9
b. Kadang bersikap murung, berdiam
c. Kontrol diri menurun
d. Suara keras, bicara cadel, dan kacau
e. Agresi
f. Minum alkohol pagi hari atau tidak kenal waktu
g. Partisipasi di lingkungan social kurang
h. Daya pertimbangan menurun
i. Koordinasi motorik terganggu
j. Dalam keadaan over dosis, kesadaran menurun bahkan sampai
koma.
4. Tingkah laku pasien pengguna opioda
a. Terkantuk-kantuk
b. Bicara cadel
c. Koordinasi motorik terganggu
d. Acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian
e. Perilaku manipulatif, untuk mendapatkan zat adiktif
f. Kontrol diri kurang
5. Tingkah laku pasien pengguna kokain
a. Hiperaktif
b. Euphoria, agitasi, dan sampai agitasi
c. Iritabilitas
d. Halusinasi dan waham
e. Kewaspadaan yang berlebih
f. Sangat tegang
g. Gelisah insomnia
h. Tampak membesar-besarkan sesuatu
i. Dalam keadan over dosis: kejang, delirium, dan paranoid

6. Tingkah laku pasien pengguna halusinogen


a. Tingkah laku tidak dapat diramalkan

10
b. Tingkah laku merusak diri sendiri
c. Halusinasi, ilusi
d. Distorsi (gangguan dalam penilaian, waktu dan jarak)
e. Sikap merasa diri benar
f. Kewaspadaan meningkat
g. Depersonalisasi
h. Pengalaman yang gaib/ajaib

G. Dampak Penyalahgunaan NAPZA


Menurut Alatas (2010), penyalahgunaan NAPZA akan berdampak sebagai
berikut:
1. Terhadap kondisi fisik
a. Akibat zat itu sendiri
Termasuk di sini gangguan mental organik akibat zat, misalnya
intoksikasi yaitu suatu perubahan mental yang terjadi karena dosis berlebih
yang memang diharapkan oleh pemakaiannya. Sebaliknya bila pemakaiannya
terputus akan terjadi kondisi putus zat.
1) Ganja: pemakaian lama menurunkan daya tahan sehingga mudah terserang
infeksi. Ganja juga memperburuk aliran darah koroner.
2) Kokain: bisa terjadi aritmia jantung, ulkus atau perforasi sekat hidung,
jangka panjang terjadi anemia dan turunnya berat badan.

3) Alkohol: menimbulkan banyak komplikasi misalnya gangguan lambung,


kanker usus, gangguan hati, gangguan pada otot jantung dan saraf,
gangguan metabolisme, cacat janin dan gangguan seksual.
b. Akibat bahan campuran/pelarut: bahaya yang mungkin timbul antara lain
infeksi, emboli
c. Akibat cara pakai atau alat yang tidak steril. Akan terjadi infeksi,
berjangkitnya AIDS atau hepatitis.
d. Akibat tidak langsung misalnya terjadi stroke pada pemakaian alkohol atau

11
malnutrisi karena gangguan absorbsi pada pemakaian alkohol.
2. Terhadap kehidupan mental emosional
Intoksikasi alkohol atau sedatif-hipnotik menimbulkan perubahan pada
kehidupan mental emosional yang bermanifestasi pada gangguan perilaku tidak
wajar. Pemakaian ganja yang berat dan lama menimbulkan sindrom amotivasional.
Putus obat golongan amfetamin dapat menimbulkan depresi sampai bunuh diri.

3. Terhadap kehidupan sosial


Gangguan mental emosional pada penyalahgunaan obat akan mengganggu
fungsinya sebagai anggota masyarakat, bekerja atau sekolah. Pada umumnya
prestasi akan menurun, lalu dipecat/dikeluarkan yang berakibat makin kuatnya
dorongan untuk menyalahgunakan obat.
Dalam posisi demikian hubungan anggota keluarga dan kawan dekat pada
umumnya terganggu. Pemakaian yang lama akan menimbulkan toleransi, kebutuhan
akan zat bertambah. Akibat selanjutnya akan memungkinkan terjadinya tindak
kriminal, keretakan rumah tangga sampai perceraian. Semua pelanggaran, baik
norma sosial maupun hukumnya terjadi karena kebutuhan akan zat yang mendesak
dan pada keadaan intoksikasi yang bersangkutan bersifat agresif dan impulsif

H. Terapi dan Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA


1. Terapi
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi.
Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat,
dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang
mengalami gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus
zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti
sendiri.

b. Detoksifikasi dengan Substitusi

12
Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat
misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-
hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas, misalnya diazepam.
Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai
berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang
menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri, rasa
mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat
tersebut (Purba, 2008).
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya memulihkan dan mengembalikan kondisi para
mantan penyalahguna NAPZA kembali sehat dalam arti sehat fisik, psikologik,
sosial, dan spiritual. Dengan kondisi sehat tersebut diharapkan mereka akan
mampu kembali berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut
Hawari (2008) jenis-jenis rehabilitasi antara lain :
a. Rehabilitasi Medik
Dengan rehabilitasi medik ini dimaksudkan agar mantan penyalahguna
NAPZA benar-benar sehat secara fisik. Termasuk dalam program rehabilitasi
medik ini ialah memulihkan kondisi fisik yang lemah, tidak cukup diberikan gizi
makanan yang bernilai tinggi, tetapi juga kegiatan olahraga yang teratur
disesuaikan dengan kemampuan masing-masing yang bersangkutan.
b. Rehabilitasi Psikiatrik
Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi yang
semula bersikap dan bertindak antisosial dapat dihilangkan, sehingga mereka
dapat bersosialisasi dengan baik dengan sesama rekannya maupun personil yang
membimbing atau mengasuhnya. Termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah
psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai “rehabilitasi”
keluarga terutama bagi keluarga-keluarga broken home. Konsultasi keluarga ini
penting dilakukan agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian
anaknya yang terlibat penyalahgunaan NAPZA, bagaimana cara menyikapinya
bila kelak ia telah kembali ke rumah dan upaya pencegahan agar tidak kambuh.

13
c. Rehabilitasi Psikososial
Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi
dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam lingkungan sosialnya, yaitu di rumah, di
sekolah/kampus dan di tempat kerja. Program ini merupakan persiapan untuk
kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali dengan pendidikan
dan keterampilan misalnya berbagai kursus ataupun balai latihan kerja yang dapat
diadakan di pusat rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila mereka telah
selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali ke
sekolah/kuliah atau bekerja.
d. Rehabilitasi Psikoreligius
Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan penting. Unsur agama dalam
rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna NAPZA mempunyai arti penting dalam
mencapai penyembuhan. Unsur agama yang mereka terima akan memulihkan dam
memperkuat rasa percaya diri, harapan dan keimanan. Pendalaman, penghayatan
dan pengamalan keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan kekuatan
kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal
mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA.
e. Forum Silaturahmi
Forum silaturahmi merupakan program lanjutan (pasca rehabilitasi) yaitu
program atau kegiatan yang dapat diikuti oleh mantan penyalahguna NAPZA
(yang telah selesai menjalani tahapan rehabilitasi) dan keluarganya. Tujuan yang
hendak dicapai dalam forum silaturahmi ini adalah untuk memantapkan
terwujudnya rumah tangga/keluarga yang harmonis dan religius, sehingga dapat
memperkecil kekambuhan penyalahgunaan NAPZA.
f. Program Terminal
Pengalaman menunjukkan bahwa banyak dari mereka sesudah menjalani
program rehabilitasi dan kemudian mengikuti forum silaturahmi, mengalami
kebingungan untuk program selanjutnya. Khususnya bagi pelajar dan mahasiswa
yang karena keterlibatannya pada penyalahgunaan NAPZA di masa lalu terpaksa
putus sekolah menjadi pengangguran; perlu menjalani program khusus yang

14
dinamakan program terminal (re-entry program), yaitu program persiapan untuk
kembali melanjutkan sekolah/kuliah atau bekerja.

15
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Penyalahgunaan NAPZA adalah suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan
oleh pengguna yang terus-menerus sampai terjadi masalah. Pengguna NAPZA dapat
mengalami kondisi lanjut, yaitu ketergantungan napza yang merupakan suatu kondisi
yang cukup berat dan parah sehingga mengalami sakit yang cukup berat ditandai
dengan ketergantungan fisik (sindrom putus zat dan toleransi). Jenis-jenis NAPZA
dibedakan menjadi tiga, yaitu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, ketiga
jenis tersebut memiliki golongan-golongan tersendiri. Faktor risiko yang dapat
menyebabkan penyalahgunaan NAPZA antara lain factor genetik, lingkungan
keluarga, pergaulan, dan karakteristik individu. Penyalahgunaan NAPZA akan
berdampak terhadap kondisi fisik, mental emosional, dan kehidupan sosial. Terapi
yang dapat dilakukan yaitu detoksifikasi tanpa substitusi dan detoksifikasi dengan
substitusi. Rehabilitasi yang dapat diberikan antara lain rehabilitasi medik, terapi
psikiatri, terapi psikososial, terapi psikoreligius, forum silaturahmi, dan program
terminal.

B. SARAN
Sebagai penyusun makalah ini, kami menyarankan kepada para pembaca
khususnya perawat agar lebih memahami materi yang telah dipaparkan dalam
makalah ini sehingga dapat menerapkan perawatan bagi klien dengan
penyalahgunaan NAPZA.

16
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan RI Tentang Pedoman


Penyalahgunaan Sarana Pelayanan Rehabilitasi Penyalahgunaan dan
Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (Napza).
Jakarta
Hawari, D. 2000. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Naza (Narkotika, alkohol
dan zat adiktif). FKUI: Jakarta
Keliat, dkk. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. EGC: Jakarta
Kemenkes RI. 2014. Buletin Jendela Data dan informasi Kesehatan. Jakarta
Prabowo, Eko. 2014. Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika:
Yogyakarta
Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Salemba Medika: Jakarta
Simangsong Jimmy. 2015. Penyalahgunaan Nrkoba di Kalangan Remaja. Daiakses
pada tanggal 1 November 2016
Darman, Flavianus. Mengenal Jenis dan Efek Buruk Narkoba. Visimedia, Jakarta.
2006
Budiarto. 1989. Narkoba dan Pengaruhnya. Ganeca Exact. Bandung.
Kartini Kartono. 1992. Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja. Rajawali Press, Jakarta.
Libertus Jehani & Antoro dkk. 2006. Mencegah Terjerumus Narkoba. Visimedia.
Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, 2009. Asa
Mandiri. Jakarta.

17