Anda di halaman 1dari 38

PROSES KEPERAWATAN PADA AREA

KEPERAWATAN KRITIS

DESAK MADE ARI WAHYUNI (P07120216011)


I PUTU WAWAN NARENDRA PUTRA (P07120216012)
NI LUH ADE SERIASIH (P07120216013)
NI MADE RASITA PUSPITASWARI (P07120216014)
NI LUH PUTU ARY APRILIYANTI (P07120216015)

POLTEKKES KEMENKES DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
DENPASAR
202
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Proses
Keperawatan Pada Area Keperawatan Kritis ” tepat pada waktunya. Makalah ini
dapat diselesaikan bukanlah semata-mata usaha penulis sendiri, melainkan berkat
dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu melalui kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Ns. I Made Sukarja. S.Kep, M.Kep selaku dosen Penanggung Jawab Mata
Kuliah (PJMK) Matrikulasi Keselamatan Pasien dan Keselamatan Kesehatan
Kerja dalam Keperawatan.
2. Bapak Ketut Suardana S.Kp. M. Kes selaku dosen pembimbing pada Mata Kuliah
Matrikulasi Keperawatan Kritis.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai pihak.
Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
yang telah membantu. Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.

Denpasar, Juni 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER.........................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................3
C. Tujuan Penelitian....................................................................................................3
D. Manfaat Penelitian..................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................4
A. Efek Kondisi Kritis Terhadap Pasien Dan Keluarga..........................................4
1. Efek Kondisi Kritis terhadap Keluarga..............................................................5
2. Efek Kondisi Kritis pada Pasien.......................................................................12
B. Proses Keperawatan Pada Area Kritis..............................................................13
C. Aspek Psikososial Keperawatan Kritis.............................................................25
1. Aspek Psikososial.............................................................................................25
2. Masalah pisikososial.........................................................................................26
BAB III SIMPULAN DAN SARAN.........................................................................30
A. Simpulan...........................................................................................................30
B. Saran.................................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasien dengan fase kritis merupakan pasien dengan satu atau lebih
gangguan fungsi sistem organ vital manusia yang dapat mengancam kehidupan
serta memiliki morbiditas dan mortalitas tinggi, sehingga membutuhkan suatu
penanganan khusus dan pemantauan secara intensif (Kemenkes RI, 2011). Pasien
kritis mengalami perubahan dan penurunan fungsi secara fisiologis dan fisik
sehingga erat kaitannya dengan tindakan intensif di rumah sakit. Pasien
memerlukan monitoring dalam setiap tindakan agar perubahan fisiologis dan
penurunan fisik dapat dipantau secara maksimal (Rab, 2007).
Sakit kritis adalah kejadian tiba-tiba dan tidak diharapkan serta
membahayakan hidup bagi pasien dan keluarga yang mengancam ekuilibrium
internal, yang biasanya terpelihara dalam unit keluarga tersebut. Kejadian tersebut
dapat berupa sakit akut atau trauma dan perburukan akut penyakit kronis. Stress
dan penyakit merupakan efek dari kondisi kritis terhadap pasien (Morton et al,
2011). Penyakit kritis yang terjadi secara tiba-tiba akan mempengaruhi salah satu
atau lebih anggota keluarga lainnya menjadi traumatis (Pochard et al, 2005).
Menurut Sodomka et al. (2006), model perawatan dipusatkan pada keluarga
adalah konsep yang memperlakukan pasien dan keluarga sebagai bagian yang tidak
terpisahkan. Suatu pendekatan holistik dalam perawatan kritis mensyaratkan agar
keluarga dimasukkan dalam rencana keperawatan. Berdasarkan hal ini perawat
harus memperhatikan kebutuhan keluarga yang terdiri dari jaminan mendapatkan
pelayananan yang baik, kedekatan keluarga dengan pasien, memperoleh informasi,
kenyamanan saat menunggu, dan dukungan dari lingkungan (Hawari, 2011).
Di area keperawatan kritis keterlibatan keluarga merupakan bagian integral
dari perawatan pasien di ICU dan telah memiliki kontribusi positif terhadap
kesembuhan pasien (Wardah,2013). Keluarga pasien yang anggota keluarganya
dalam keadaan kritis, mengalami kecemasan yang tinggi. Jika keluarga cemas

1
maka keluarga sebagai sumber daya untuk perawatan pasien tidak berfungsi dengan
baik. Selain itu kecemasan keluarga dapat dikomunikasikan atau ditransfer kepada
pasien sehingga berakibat memperparah penyakit dan menghambat proses
penyembuhan (Pochard et al, 2005).
Aspek psikososial dari sakit kritis merupakan suatu tantangan yang unik
bagi perawat pada keperawatan kritis. Perawat harus secara seimbang dalam
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional dirinya maupun kliennya dalam suatu
lingkungan yang dapat menimbulkan stress dan dehumanis. Untuk mencapai
keseimbangan ini perawat harus mempunyai pengetahuan tentang bagaimana
keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi kesehatan psikososial pasien,
keluarga dan petugas kesehatan. Dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien yang dirawat di icu atau perawatan kritis selalu mempertimbangkan aspek
biologis, psikologis, sosiologis, spiritual, secara komprehensif. Hal ini berarti
pasien yang dirawat di ICU membutuhkan asuhan keperawatan tidak hanya
masalah patofisiologi tetapi juga masalah psiko sosial, lingkungan dan keluarga
yang secara erat terkait dengan penyakit fisiknya. (FK Unair, RSUD Dr. Soetomo,
2001).
Ketika merawat pasien kritis perawat dituntut untuk secara seimbang
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional dirinya maupun pasien dan
keluarganya.Untuk mencapai keseimbangan ini perawat harus mempunyai
pengetahuan tentang bagaimana keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi
kesehatan psikososial pasien, keluarga dan petugas kesehatan. Dalam keperawatan,
keadaan sehat dan sakit jiwa merupakan suatu rentang yang dinamis dari kehidupan
seseorang. Keadaaan penyakit kritis sangat besar pengaruhnya terhadap
kedinamisan dari rentang sehat sakit jiwa karena dalam keadaan mengalami
penyakit kritis, seseorang mengalami stress yang berat dimana pasien mengalami
kehilangan kesehatan, kehilangan kemandirian, kehilangan rasa nyaman dan rasa
sakit akibat penyakit yang dideritanya.
Semua keadaan tersebut bisa memperburuk status kesehatan mereka.
Sebagai seorang perawat kritis, perawat harus mampu mengatasi berbagai masalah

2
kesehatan pasien termasuk masalah psikososialnya. Perawat tidak boleh hanya
berfokus pada masalah fisik yang dialami pasien. Kegagalan dalam mengatasi
masalah psikososial pasien bisa berdampak pada semakin memburuknya keadaan
pasien karena pasien mungkin akan mengalami kecemasan yang semakin berat dan
menolak pengobatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang terdeskripsikan secara mendalam dapat
dirumuskan masalah yaitu
1. Bagaimanakah proses keperawatan kritis?
2. Bagaimanakah efek kondisi kritis pada pasien dan Keluarga ?
3. Apa Saja Aspek Psikososial dalam Keperawatan Kritis?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui proses keperawatan pada area keperawatan kritis
2. Tujuan khusus
a. Untuk Mengetahui proses keperawatan dalam keperawatan kritis
b. Untuk Mengetahui Efek Kondisi Kritis Pada Pasien dan Keluarga
c. Untuk Mengetahui Aspek Psikososial Dalam Keperawatan Kritis
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis
Bagi penulis menambah wawasan tentang proses keperawatan pada area
keperawatan kritis yang meliputi efek kondisi kritis terhadap pasien dan keluarga
dan aspek psikososial aspek dari keperawatan kritis
2. Bagi institusi
Makalah ini dapat dijadikan masukan atau pedoman dalam mata kuliah
matrikulasi keperawatan kritis untuk profesi ners dan dalam pembuatan makalah
selanjutnya sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dengan lebih baik.

3
BAB II

PEMBAHASAAN

A. Proses Keperawatan Pada Area Kritis


1 Pengkajian
Pengkajian meliputi proses pengumpulan data, validasi data,
menginterpretasikan data dan memformulasikan masalah sesuai hasil analisa data.
Pengkajian awal di dalam keperawatan intensive sama dengan pengkajian umumnya
yaitu dengan pendekatan sistem yang meliputi askep bio-psiko-sosio-kultural-
spiritual. Namun, jika klien dirawat dan telah terpasang alat-alat bantu mekanik
seperti alat bantu napas, hemodialisa, pengkajian juga diarahkan pada hal-hal yang
lebih khusus yakni terkait dengan terapi dan dampak dari penggunaan alat tersebut.
Data subjektif dan objektif harus selalu didapat dari pasien. Pada situasi kritis, data
subjektif lebih sedikit didapat dibandingkan data objektif, dikarenakan wawancara
tidak domain dipraktikkan untuk memperoleh data. Data objektif sering dan
representatif digunakan sebagai data pengkajian di unit keperawatan intensif dengan
tidak mengabaikan respon subjektif yang ada.
Adapun format pengkajian keperawatan kritis yang dapat dilakukan yaitu
A. Identitas Pasien yang perlu dikaji yaitu nama, jenis kelamin, umur, agama,
pendidikan, pekerjaaan,alamat,No RM pasien, suku/bangsa,status
perkawinan,penanggung jawab pasien yang meliputi : hubungan dengan
pasien, pekerjaan dan alamat
B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama saat MRS
b. Keluhan utama saat pengkajain
c. Riwayat penyakit saat ini

4
d. Riwayat allergi
e. Riwayat pengobatan
f. Riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat penyakit keluarga
C. Breating yang perlu di kaji dalam pengkajian breating adalah
a. Jalan Nafas yang dikaji bagaimana jalan napas pasien paten atau tidak
paten
b. Nafas yang dikaji spontsn atau tidak spontan
c. Obstuksi yang perlu dikaji lidah,cairan,benda asing, muntahan, darah
,oedema yang dapat menghambat jalan napas pasien
d. Kaji gerakan dinding dada pasien simetris atau asimetris
e. Kaji RR
f. Kaji irama nafas pasien cepat/dangkal/normal
g. Kaji pola napas pasien teratur/tidak teratur
h. Kaji jenis pernapasan pasien apakah dispnoe/kusmaul/cyene stoke
i. Kaji apakah pasien mengalami sesak nafas atau tidak
j. Kaji apakah pasien menggunakan pernapasan cuping hidung atau tidak
k. Kaji terdapat retraksi otot bantu nafas atau tidak pada pasien
l. Kaji deviasi trakea ada tau tidak
m. Kaji pernapasan pasien menggunakan pernapasan perut atau dada dan
n. Kaji apakah pasien mengalami batuk/tidak dan jika pasien batuk kaji
sputum yang dikeluarkan pasien (warna, konsistensi,volume dan bau)
o. Kaji emfisema ada atau tidak
p. Kaji suara nafa (snoring, gurgling, stridor, vesikuler, wheezing dan
ronchi)
q. Kaji alat bantu nafas pasien apakah menggunakan OTT, EET,
Trakeostomi, Ventilator dengan keterangan oksigenasi lt/mnt dan jenis
yang digunakan apakah menggunakan nasal kanul, simple mask atau non
RBT mask, RBT
r. Kaji apakah pasien menggunakan selang dada
s. Kaji terdapat Trakeostomi atau tidak

5
a. Pengkajian 6B
Di dalam teknik ini ada beberapa cara yang digunakan, antara lain sebagai berikut
:
1) B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada sistem pernapasan sangat mendukung untuk mengetahui
masalah pada klien dengan gangguan sistem kardiovaskuler. Pemeriksaan ini
meliputi :
a) Inspeksi bentuk dada
Untuk melihat seberapa berat gangguan sistem kardiovaskuler. Bentuk dada yang
biasa ditemukan adalah :
- Bentuk dada thoraks phfisis (panjang dan gepeng)
- Bentuk dada thoraks en bateau (thoraks dada burung)
- Bentuk dada thoraks emsisematous (dada berbentuk seperti tong)
- Bentuk dada thoraks pektus ekskavatus (dada cekung ke dalam)
Gerakan pernapasan : kaji kesimetrisan gerakan pernapasan klien
b) Palpasi rongga dada
Tujuannya :
- Melihat adanya kelainan pada dinding thoraks

6
- Menyatakan adanya tanda penyakit paru dengan pemeriksaan sebagai berikut :
- Gerakan dinding thoraks saat inspirasi dan ekspirasi
- Getaran suara : getaran yang terasa oleh tangan pemeriksa yang diletakkan pada
dada klien saat klien mengucapkan kata –kata.
c) Perkusi
Teknik yang dilakukan adalah pemeriksa meletakkan falang terakhir dan
sebagaian falang kedua jari tengah pada tempat yang hendak diperkusi. Ketukan
ujung jari tengah tangan kanan pada jari kiri tersebut dan lakukan gerakan
bersumbu pada pergelangan tangan. Posisi klien duduk atau berdiri.
d) Auskultasi
Suara napas normal
- Trakeobronkhial, suara normal yang terdengar pada trakhea seperti meniup pipa
besi, suara napas lebih keras dan pendek saat inspirasi.
- Bronkovesikuler, suara normal di daerah bronkhi, yaitu di sternum atas (torakal 3
– 4)
- Vesikuler, suara normal di jaringan paru, suara napas saat inspirasi dan ekspirasi
sama.
2) B2 (Blood)
a) Inspeksi
- Inspeksi adanya parut pascapembedahan jantung.  Posisi parut dapat memberikan
petunujuk mengenai lesi katup yang telah dioperasi
- Denyut apeks : posisinya yang normal adalah pada interkostal kiri ke – 5 berjarak
1 cm medial dari garis midklavikula.
b) Palpasi
Tujuannya adalah mendeteksi kelainan yang tampak saat inspeksi. Teknik yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
-  Palpasi dilakukan dengan menggunakan telapak tangan, kemudian dilanjuntukan
dengan tekanan yang sedikit keras.

7
- Pemeriksa berdiri di kanan klien, minta klien duduk kemudian berbaring
telentang. Pemeriksa meletakkan tangan di prekordium, samping sternum dan
lakukan palpasi denyut apeks.
- Berikan tekanan yang lebih keras pada telapak tangan. Kemudian tangan ditekan
lebih keras untuk menilai kekuatan denyut apeks.
- Lanjuntukan dengan melakukan palpasi denyut apeks menggunakan ujung jari
telunjuk dan tengah. Palpasi daerah prekordial di samping sternum.
- Kaji denyut nadi arteri, tarikan dan getaran denyutan.
c) Palpasi denyut apeks :
- Normal pada interkosta ke – 5 (2 – 3 cm medial garis midklavikula). Dapat tidak
teraba bila klien gemuk, dinding toraks tebal, emfisema dan lain – lain.
- Meningkat bila curah jantung besar misalnya pada insufisiensi aorta/mitral.
- Impuls Parasternal dapat teraba bila pangkal telapak tangan diletakkan tepat pada
bagian kiri dari sternum dengan jari – jari agak terangkat sedikit dari dada.
- Thrill Aliran darah yang turbulen menimbulkan murmur jantung saat auskultasi,
terkadang dapat teraba. Murmmur yang teraba ini disebut thrill. Prekordium harus
dipalpasi menggunakan telapak tangan secara sistematik untuk menentukan
adanya thrill.
d) Palpasi arteri karotis :
Arteri karotis mudah dipalpasi pada otot – otot sternomastoideus. Hasil
pemeriksaan ini dapat memberikan banyak informasi mengenai bentuk
gelombang denyut aorta yang dipengaruhi oleh berbagai kelainan jantung.
- Tekanan vena jugularis
Teknik pengukuran tekanan vena jugularis adalah sebagai berikut :
- Minta klien berbaring telentang, dengan kepala ditinggikan pada tempat tidur atau
meja pemeriksaan
- Kepala klien harus sedikit diplangkan menjauhi sisi leher yang akan diperiksa
- Carilah vena jugularis eksterna

8
- Palpasi denyutan vena jugularis interna (bedakan denyutan ini dengan denyutan
arteri karotis interna yang berada di sebelah vena jugularis interna)
- Tentukan titik tertinggi denyutan vena jugularis interna yang masih terlihat
- Dengan menggunakan penggaris cm, ukurlah jarak vertikal antara titik ini dengan
sudut sternal
- Catatlah jarak dalam cm dan tentukan sudut kemiringan klien berbaring
- engukuran yang lebih dari 3 -4  cm di atas sudut sternal dianggap suatu
peningkatan
e) Perkusi
Pemeriksaan perkusi pada jantung biasanya jarang dilakukan jika pemeriksaan
foto rontgen toraks telah dilakukan. Tetapi pemeriksaan perkusi ini tetap
bermanfaat untuk menentukan adanya kardiomegali, efusi perikardium, dan
aneurisma aorta. Foto rontgen toraks akan menunjukkan daerah redup sebagai
petunjuk bahwa jantung melebar. Daerah redup jantung akan mengecil pada
emfisema.

f) Auskultasi
-  Katup Pulmonal
Terdengar lebih jelas pada interkosta ke – 2 dan ke – 3 kiri sternum
- Katup aorta
Terdengar lebih jelas pada sternum, lebih rendah dan lebih medial daripada katup
pulmonal
- Katup mitral
Terdengar lebih jelas pada sternum, dekat batas atas sendi antara interkosta ke – 4
dan sternum
- Katup trikuspidalian
- Terdengar lebih jelas pada sternum, sesuai garis penghubung proyeksi katup
mitral dengan sendi antara sternum dengan interkosta ke – 5 kanan.
- Auskultasi jantung

9
3) B3 (Brain)
Pemeriksaan kepala dan leher
a) Pemeriksaan kepala sebagai bagian pengkajian kardiovaskuler difokuskan untuk
mengkaji bibir dan cuping telinga untuk mengetahui adanya sianosis perifer.
b) Pemeriksaan raut muka
- Bentuk muka : bulat, lonjong dan sebagainya
- Ekspresi wajah tampak sesak, gelisah, kesakitan
- Tes saraf dengan menyeringai, mengeruntukan dahi untuk memeriksa fungsi saraf
VII
c)  Pemeriksaan bibir
- Biru (sianosis) pada penyakit jantung bawaan dan lainnya
- Pucat (anemia)
d) Pemeriksaan mata
- Konjungtiva
- Pucat (anemia)
- Ptekie (perdarahan di bawah kulit atau selaput lendir) pada endokarditis bakterial
- Sklera Kuning (ikterus) pada gagal jantung kanan, penyakit hati dan lainnya
- Kornea
- Arkus senilis (garis melingkar putih atau abu – abu di tepi kornea) berhubungan
dengan peningkatan kolesterol atau penyakit jantung koroner.
- Funduskopi
- Yaitu pemeriksaan fundus mata menggunakan opthalmoskop untuk menilai
kondisi pembuluh darah retina khususnya pada klien hipertensi.
e) Pemeriksaan neurosensori
Ditujukan terhadap adanya keluhan pusing, berdenyut selama tidur, bangun,
duduk atau istirahat dan nyeri dada yang timbulnya mendadak. Pengkajian
meliputi wajah meringis, perubahan postur tubuh, menangis, merintih, meregang,
menggeliat, menarik diri dan kehilangan kontak mata.
4) B4 (Bladder)

10
Output urine merupakan indiktor fungsi jantung yang penting. Penurunan
haluaran urine merupakan temuan signifikan yang harus dikaji lebih lanjut untuk
menentukan apakah penurunan tersebut merupakan penurunan produksi urine
(yang terjadi bila perfusi ginjal menurun) atau karena ketidakmampuan klien
untuk buang air kecil. Daerah suprapubik harus diperiksa terhadap adanya massa
oval dan diperkusi terhadap adanya pekak yang menunjukkan kandungkemih
yang penuh (distensi kandung kemih).
5) B5 Bowel)
Pengkajian harus meliputi perubahan nutrisi sebelum atau pada masuk rumah
sakit dan yang terpenting adalah perubahan pola makan setelah sakit. Kaji
penurunan turgor kulit, kulit kering atau berkeringat, muntah dan perubahan berat
badan
Refluks hepatojuguler pembengkakan hepar terjadi akibat penurunan aliran balik
vena yang disebabkan karena gagal ventrikel kanan. Hepar menjadi besar, keras,
tidak nyeri tekan dan halus. Ini daapt diperiksa dengan menekan hepar secara kuat
selama 30 – 60 detik dan akan terlihat peninggian vena jugularis sebesar 1 cm.
6) B6 (Bone)
Pengkajian yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut :
- Keluhan lemah, cepat lelah, pusing, dada rasa berdenyut dan berdebar
- Keluhan sulit tidur (karena adanya ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal,
nokturia dan keringat pada malam hari)
- Istirahat tidur : kaji kebiasaan tidur siang dan malam, berapa jam klien tisur dalam
24 jam dan apakah klien mengalami sulit tidur dan bagaimana perubahannya
setelah klien mengalami gangguan pada sistem kardiovaskuler. Perlu diketahui,
klien dengan IMA sering terbangun dan susah tidur karena nyeri dada dan sesak
napas
- Aktivitas : kaji aktivitas klien di rumah atau di rumah sakit. Apakah ada
kesenjangan yang berarti misalnya pembatasan aktivitas. Aktivitas klien biasanya
berubah karena klien merasa sesak napas saat beraktivitas.
1. Diagnosa

11
Setelah melakukan pengkajian, data dikumpulkan dan diinterpretasikan
kemudian dianalisa lalu ditetapkan masalah/diagnosa keperawatan berdasarkan data
yang menyimpang dari keadaan fisiologis, mengutamakan diagnosa aktual, risiko,
problem kolaboratif, dan syndrome diagnostic. Kriteria hasil ditetapkan untuk
mencapai tujuan dari tindakan keperawatan yang diformulasikan berdasarkan pada
kebutuhan klien yang dapat diukur dan realistis.
Diagnosa keperwatan ditegakkan untuk mencari perbedaan serta mencari
tanda gejala yang sulit diketahui untuk mencegah kerusakan/gg yang lebih luas.
Diagnosa keperawatan atau masalah area keperawatan kritis difokuskan pd kondisi
fisiologis yang menjadi alasan aktual ps dirawat atau mengancam. Kondisi yang
membutuhkan perawatan kritis adalah gg (patologis) sistem pernapasan, sistem
kardiovaskular, sistem neurologis, calit, sistem perkemihan, nutrisi. Masalah yang
membutuhkan perawatan ICU adalah :
1. Gangguan difusi gas
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
3. Penurunan curah jantung
4. Defisit volume cairan
5. Kelebihan volume cairan
6. Risiko defisit volume cairan
7. Risiko ketidakseimbangan volume cairan
8. Risiko ketidakseimbangan elektrolit
9. Risiko infeksi
10. Risiko syok
11. Pola napas inefektif
12. Ggn. Perfusi jaringan perifer
13. Ggn. Perfusi jaringan serebral
14. Kecemasan
15. Defisit perawatan dirin
16. Risiko gg integritas kulit

12
17. Problem Kolaboratif: potensial komplikasi gagal napas, potensial komplikasi
hipokalemia, potensial komplikasi hipernatremia
18. Syndrome diagnostic: kumpulan diagnosa keperwatan yang dominan
menghasilkan dx baru.
2. Perencanaan
Sebelum dibuat rencana tidakan, terlebih dahulu memprioritaskan masalah.
Prioritas masalah dibuat berdasarkan pada ancaman/risiko ancaman hidup (cth:
penurunan curah jantung, defisit volume cairan, bersihan jalan napas tdk efektif, gg
prtukaran gas, pola napas tdk efektif, inefektif perfusi jaringan (cerebral, ginjal,
abdomen)).
Dx keperawatan dibuat untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan (cth:
risiko ketidakseimbangan cairan, risiko infeksi, risiko trauma) dan diagnosa
keperawatan untuk mencegah komplikasi (spt risiko gg integritas kulit). Yang
terakhir adalah mengidentifikasi diagnosa syndrome (cth: defisit perawatan diri).
Perencanaan tindakan mencakup 4 unsur kegiatan:
1. Observasi/monitoring
2. Terapi keperawatan
3. Pendidikan
4. Terapi kolaboratif.
Pertimbangan lain adalah kemampuan untuk melaksanakan rencana dilihat
dari keterampilan perawat, fasilitas, kebijakan, dan standar operasional prosedur.
Perencanaan tindakan perlu pula diprioritaskan dengan perencanaan ini untuk
membuat efisiensi sumber2, mengukur kemampuan perawat dan mengoptimalkan
penyelesaian masalah. Perawatan harus dibut berdasarkan pada parameter yang
objektif dan jelas.
3. Implementasi
Semua tindakan yang dilakukan dlm pemberian askep dilakukan sesuai
dengan rencana tindakan. Hal ini penting untuk mencapai tujuan. Tindakan
keperawatan dpt dalam bentuk observasi, tindakan prosedur tertentu, tindakan
kolaboratif, dan pendidikan kesehatan. Dalam tindakan perlu ada pengawasan terus

13
menerus terhadap kondisi klien termasuk perilaku. Terapi ditujuan pada gejala yang
muncul pertama kali untuk mencegah krisis dan secara terus menerus dalam jangka
waktu yang lama sampai dapat beradaptasi dengan tercapainya tingkat kesembuhan
yang lebih tinggi atau tjd kematian. Dokumentasi setiap tindakan yang telah
dilakukan sehingga meyakinkan bahwa setiap tindakan telah terlaksana dengan benar.
4. Evaluasi
Merupakan proses penentuan perbaikan kondisi pasien thd pencapaian hasil
yang diharapkan. Dilakukan secara tepat, terus menerus dan dalam waktu yang lama
untuk mencapai keefektifan masing-masing terapi/tindakan, secara terus menerus
menilai kriteria hasil untuk mengetahui perubahan status pasien. Dalam
melaksanakan asuhan keperawatan pasien kritis prioritas pemenuhan kebutuhan tetap
mengacu pada hirarki dasar Maslow dengan tidak meninggalkan prinsip holistik.
Proses evaluasi terdiri atas 3 jenis:
1. Evaluasi progres: dilakukan terus menerus, untuk menilai keberhasilan suatu
tindakan. Perbaikan masalah langsung dilakukan saat itu juga.
2. Evaluasi intermitten: memiliki batas waktu dan indikator, pelaporan dilakukan di
akhir shift merupakan kesimpulan dari evaluasi progres.
3. Evaluasi terminal: dilakukan pada saat pasien hendak dipindahkan ke ruang,
dirujuk, atau dipulangkan.
B. Aspek Psikososial Keperawatan Kritis
1. Aspek Psikososial
Psikososial istilah digunakan untuk menekankan hubungan yang erat antara
aspek psikologis dari pengalaman manusia dan pengalaman sosial yang lebih luas.
Efek psikologis adalah mereka yang mempengaruhi berbagai tingkat fungsi termasuk
kognitif (persepsi dan memori sebagai dasar untuk pengalaman dan pembelajaran),
afektif (Emosi) , dan perilaku. Dampak sosial keprihatinan hubungan, keluarga dan
jaringan komunitas, tradisi budaya dan status ekonomi, termasuk tugas-tugas
kehidupan seperti sebagai sekolah atau bekerja. (ARC Resourch Pack. 2009).
Penggunaan psikososial jangka didasarkan pada gagasan bahwa kombinasi
faktor yang bertanggung jawab atas kesejahteraan psikososial orang, dan bahwa

14
aspek-aspek biologis, emosional, spiritual, budaya, sosial, mental dan material dari
pengalaman tidak bisa tentu akan dipisahkan satu sama lain. Istilah mengarahkan
perhatian terhadap totalitas pengalaman orang daripada berfokus secara eksklusif
pada fisik atau aspek psikologis kesehatan dan kesejahteraan, dan menekankan
perlunya untuk melihat ini masalah dalam konteks interpersonal yang lebih luas
keluarga dan masyarakat jaringan di mana mereka berada. (ARC Resourch Pack.
2009).
Kedua unsur ini saling berhubungan dalam konteks keadaan darurat yang
kompleks dimana penyediaan dukungan psikososial merupakan bagian dari bantuan
kemanusiaan dan upaya pemulihan awal. Salah satu fondasi kesejahteraan psikososial
adalah akses ke kebutuhan dasar (makanan, tempat tinggal, mata pencaharian,
kesehatan, pelayanan pendidikan) bersama-sama dengan rasa aman yang berasal dari
hidup di lingkungan yang aman dan mendukung. Itu manfaat dari intervensi
dukungan psikososial harus menghasilkan dampak positif pada kesejahteraan anak-
anak, dan mengatasi kebutuhan psikologis dasar kompetensi dan keterkaitan (ARC
Resourch Pack. 2009).
Definisi psikososial kunci psikososial : Hubungan dinamis yang ada antara
psikologis dan sosial efek, masing-masing terus berinteraksi dengan dan
mempengaruhi yang lain. Psikososial perencanaan pemulihan : perencanaan
pemulihan psikososial difokuskan pada intervensi sosial dan psikologis yang akan
membantu memulihkan komunitas (Johal,2009).
2. Masalah pisikososial
a. Gangguan citra tubuh
Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan, dan pengetahuan individu secara
sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk struktur, fungsi
keterbatasan, serta makna dan objek yang kontak secara terus-menerus (anting,
make  up, kontak  lensa, pakaian, kursi roda) baik  masa lalu  maupun sekarang.
( Fitria , 2013)
Tanda dan Gejala:
1) Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah.

15
2) Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi.
3) Menolak penjelasan perubahan tubuh.
4) Persepsi negatif pada tubuh. 
5) Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang. 
6) Mengungkapkan keputusaaan.
7) Mengungkapkan ketakutan.
Tanda dan gejala lain yang mungkin muncul: 
1) Citra yang mengalami distorsi, melihat diri sebagai gemuk, meskipun pada
keadaan berat badan normal atau angat kurus.
2) Penolakan bahwa adanya masalah dengan berat badan yang rendah.
3) Kesulitan menerima penguatan positif.
4) Kegagalan untuk mengambil tanggung jawab menurut diri sendiri. 
5) Tidak berpartisipasi terhadap terapi. 
6) Perilaku merusak diri sendiri, muntah yang dibuat sendiri; penyalahgunaan obat-
obatan pencahar dan diuretik, penolakan untuk makan. 
7) Kontak mata hilang.
8) Alam peraaan yang tertekan dan pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri setelah
episode dari pesta dan memicu perut.
9) Perenungan yang mendalam tentang penampilan diri dan bagaimana orang-orang
lain melihat diri mereka.
b. Kecemasan (ansietas)
Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidak
nyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons suatu perasaan takuntukan
terjadi sesuatu yang diebabkan oleh antisipasi  bahaya. Hal ini merupakan sinyal
yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya yang akan datang dan 
memperkuat individu  dengan  mengambil  tindakan menghadapi  ancaman
(Fitria,2013).
Tingkat  ansietas  menurut  Stuart  dan  Sundeen  (2007) dalam Fitria,dkk (2013)
adalah  sebagai  berikut :

16
1) Ansietas Ringan. Tingkat  ringan  berhubungan  dengan  ketegangan  dalam 
kehidupan  sehari-hari  dan  menyebabkan  seseorang  waspada  dan 
meningkatkan  lahan persepsinya.  Ansietas  memotivasi  belajar  dan 
menghasilkan  pertumbuhan dan kreativitas.
2) Ansietas Sedang
Tingkat sedang memungkinkan seeorang untuk memusatkan pada hal yang
penting  dan  mengesampingkan  yang  lain  sehingga  seseorang  mengalami
perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3) Ansietas Berat
Tingkat  berat  sangat  mengurangi  lahan  persepsi  seseorang.  Seseorang
cenderung untuk  memusatkan  pada suatu  yang  terinci,  spesifik,  dan tidak
dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan.  Orang tersebut  memerlukan  banyak  pengarahan  untuk  dapat
memusatkan pada area lain.
4) Tingkat Panik
Tingkat  ini  berhubungan  degan  terperangah,  ketakutan  dan  teror.  Rincian
terpecah  dari  proporsinya,  tidak  mampu  melakukan  sesuatu  walaupun
dengan
pengarahan.  Panik  melibatkan  disorganisasi  kepribadian.  Terjadi peningkatkan
aktivitas  motorik,  menurunnya  kemampuan  berhubungan dengan  orang  lain
persepsi  menyimpang,  dan  kehilangan  pemikiran rasional.
c. Faktor Predisposisi
Menurut  Stuart  dan  Sundeen  (2007)  terdapat  beberapa  teori  yang dapat
menjelaskan    ansietas, di antaranya sebagai berikut (Fitria dkk, 2013):
1) Pandangan Psikoanalitik.
Teori ini beranggapan  bahwa  ansietas  terjadi  apabila  konflik emosional yang 
terjadi  antara  dua  elemen  kepribadian,  yaitu  id  dan  superego.  Id mewakili
dorongan  insting  dan  impuls  primitif,  sedangkan  superego mencermikan  hati 
nurani  dan  dikendalikan  oleh  norma-norma  budaya seseorang.  Ego  berfungsi 

17
menengahi  tuntutan  dari  kedua  elemen yang bertentangan,  sedangkan  fungsi
ansietas  adalah  mengingatkan  ego  bahwa ada bahaya.
2) Pandangan Interpersonal
Teori ini beranggapan bahwa ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak 
adanya  penerimaan  dan  penolakan  interpersonal.  Ansietas berhubungan 
dengan  perkembangan  trauma,  seperti  perpisahan  dan kehilangan yang
menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri rendah
mudah mengalami perkembangan ansietas yang tepat.
3) Pandangan Perilaku.
Teori  ini  beranggapan  bahwa  ansietas  merupakan  produk  frustasi yaitu
segala  sesuatu  yang  mengganggu  kemampuan  seseorang  untuk  mencapai
tujuan  yang  diinginkan.  Pakar  perilaku  menganggap  bahwa  sebagai
dorongan  belajar  berdasarkan  keinginan  dari  dalam  untuk  menghindari
kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada
ketakutan  berlebihan,  lebih  sering  menujukkan ansietas  dalam  kehidupan
selanjutnya.
4) Kajian Keluarga
Teori  ini  beranggapan  ansietas  merupakan  hal  yang  biasa  ditemui  dalam
keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dengan depresi.
5) Kajian Biologis
Menurut kajian secara biologis, otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiapine. Reseptor ini membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA
juga berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas
sebagaimana halnya dengan endofrin. Ansietas mungkin disertai dengan
gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk
mengatasi stressor.
d. Harga diri rendah situasional
Gangguan harga diri dapat dijabarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri, hilang kepercayaan diri, serta merasa gagal mencapai keinginan sebagai

18
respon terhadap hilangnya atau berubahnya perawatan diri seseorang yang
sebelumnya mempunyai evaluasi diri positif. Misalnya,seseorang yang
mengalami kecelakaan, cerai, putus sekolah perasaan malukarena sesuatu,dsb.
Harga diri rendah situasional bila tidak diatasi dapat menyebabkan harga diri
rendah kronis (Fitria dkk, 2013).

C. Efek Kondisi Kritis Terhadap Pasien Dan Keluarga


Sakit kritis merupakan kejadian yang tiba - tiba dan tidak diharapkan serta
membahayakan hidup bagi pasien dan keluarga yang mengancam keadaan stabil.
Stress dan penyakit merupakan efek dari kondisi kritis terhadap pasien. Stress
didefinisikan sebagai suatu stimulus yang mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi
fisiologis dan psikologis. Pada kenyataannya, bahwa dengan diterimanya pasien di
ICU menjadikan tanpa adanya ancaman terhadap kehidupan dan kesejahteraan pada
semua individu yang dirawat. Di sisi lain, perawat keperawatan kritis merasakan
bahwa unit keperawatan kritis merupakan tempat di mana hidup dengan
kewaspadaan. Di sisi lain juga pasien dan keluarga merasa bahwa diterimanya di ICU
sebagai tanda akan tiba kematian karena pengalaman mereka sendiri atau orang lain.
Karena perbedaan persepsi tentang perawatan kritis antara pasien, keluarga, dan
perawat, maka terputusnya komunikasi kedua pihak harus diantisipasi. Peran sakit
pada pasien yang sering ditemukan adalah peran tidak berdaya. Stres karena
penerimaan peran sakit, ketidakberdayaan dapat menyebabkan terputusnya
komunikasi antara pasien dan perawat. Ketidakberdayaan sering dihubungkan dengan
ansietas yang menjelaskan bahwa mengalami kemunduran pada pasien dewasa.
Berbagai macam perilaku koping pasien seperti mengingkari, marah, pasif, atau
agresif umumnya dapat dijumpai pada pasien. Upaya koping pasien mungkin efektif
atau tidak efektif dalam mengatasi stres dan ini mengakibatkan ansietas. Jika perilaku
koping efektif, energi dibebaskan dan diarahkan langsung kepenyembuhan. Jika
upaya koping gagal atau tidak efektif, maka keadaan tegang meningkatan dan terjadi

19
peningkatan kebutuhan energi. Hubungan antara stres, ansietas, dan mekanisme
koping adalah kompleks dan ditunjukkan secara kontinyu dalam berbagai situasi
keperawatan kritis. Tingkat stres yang ekstrem merusak jaringan tubuh dandapat
mempengaruhi respon adaptif jaringan patologis. Jika koping tidak efektif,
ketidakseimbangan dapat terjadi dan respon pikiran serta tubuh akan meningkat
berupaya untuk mengembalikan keseimbangan.
1. Efek Kondisi Kritis terhadap Keluarga
Keluarga dalam lingkup ini diartikan sebagai orang yang berbagi secara
intim dan rutin sepanjang hari kehidupan dalam proses asuhan keperawatan.
Orang- orang tersebut mengalami gangguan homeostasisnya oleh karena masuknya
pasien ke area kritis. Siapa saja yang merupakan bagian penting dari pola hidup
normal pasien dipertimbangkan sebagai anggota keluarga. Di area keperawatan
kritis keterlibatan keluarga merupakan bagian integral dari perawatan pasien di
ICU dan telah memiliki kontribusi positif terhadap kesembuhan
pasien(Wardah,2013).
Adapun stimulus atau rangsangan disini terdiri dari 4 unsur pokok yaitu:
sakit, penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan. Terkait dengan respon
keluarga pada anggota keluarga yang dirawat di ruang intensif, keluarga seringkali
merasakan stress ataupun cemas.Kecemasan yang tinggi muncul akibat beban yang
harus diambil dalam pengambilan keputusan dan pengobatan yang terbaik bagi
pasien. Respon keluarga terhadap stres bergantung pada persepsi terhadap stress,
kekuatan, dan perubahan gaya hidup yang dirasakan terkait dengan penyakit kritis
pada anggota keluarga. Pada titik kritis ini, fungsi keluarga inti secara signifikan
berisiko mengalami gangguan (Nurhadi,2014).
a. Efek Psikologis
1) Stres akibat kondisi penyakit pasien (anggota keluarga)
Respon terhadap stress:

20
a) Teori Stress Keluarga
Respon keluarga terhadap stress yang dirasakan ketika menghadapi anggota
keluarga mendapatkan perawatan kritis, dapat dijelaskan melalui Stres Keluarga
Hill. Teori tersebut dikenal dengan model ABCX. Kerangka ABCX memiliki dua
bagian. Pertama adalah pernyataan yang berhubungan dengan penentukrisis
keluarga: A (Peristiwa dan kesulitan terkait) berinteraksi dengan B (Sumber
berhadapan dengan krisis keluarga) yang berinteraksi dengan C (definisi yang
dibuat keluarga mengenai peristiwa tersebut) menghasilkan X (krisis).

Krisis atau
Sumber Koping (B) bukan krisis
Stressor
keluarga (A) (X)

Persepsi tentang
stressor (C)

Gambar Teori Stres Keluarga menurut Hill (Friedman, 2010)

Gambar Teori stres keluarga menampilkan gambar visual mengenai teori dari
adaptasi model Hill. Faktor A adalah stressor yang atau adanya peristiwa
aktual yang memaksa keluarga mempertahankan dengan cara stereotip yang

21
diikuti oleh mekanisme koping keluarga (B). Jika keluarga tidak menggunakan
sumber dan mekanisme koping, maka hasilnya sama yakni seolah-olah
keluarga tidak memiliki sumber koping. Intervensi lebih mudah pada kasus ini
karena tidak terlalu sulit untuk membantu keluarga memanfaatkan pola koping
masa lalu dibandingkan membantu keluarga belajar cara berespon yangbaru.
Faktor C merupakan persepsi dan interpretasi keluarga terhadap stressor atau
peristiwa stres. Penilaian keluarga terhadap stressor mempengaruhi apa upaya
koping yang digunakan beserta hasilnya nanti. Keluarga yang fungsional akan
mampu melihat peristiwa sebagai sesuatu yang dapat dipahami dan dapat
dikelola.
Faktor X terkait dengan krisis atau bukan krisis. Terjadinya kecenderungan
krisis menunjukkan bagaimana keluarga mengatasi faktor B dan C. Ketika
keluarga terpajan krisis, maka cenderung mengalami peristiwa stressor dan
keparahan yang lebih besar (A) serta mendefinisikannya lebih sering sebagai
krisis (C). Tipe keluarga seperti ini lebih rentan terhadap peristiwa stressor
karena kurangnya sumber dan kemampuan koping (B) yang mereka miliki.
Selain itu, keluarga yang gagal belajar dari krisis masa lalu, menyebabkan
mereka melihat stressor baru sebagai ancaman dan pencetus krisis. Faktor X
ini, tidak dilihat sebagai hasil akhir melainkan berpengaruh dalam hubungan
dan penampilan peran anggota keluarga (Friedman,2010).
b) Koping Keluarga
- Koping keluarga merupakan proses aktif saat keluarga memanfaatkan sumber
keluarga yang ada dan mengembangkan perilaku serta sumber baru yang akan
memperkuat unit keluarga dan mengurangi dampak peristiwa hidup yang penuh
stres. Strategi koping keluarga ketika menghadapi stres dapat dilakukan melalui
pencarian dukungan sosial (Nurhadi, 2014).
- Dukungan yang diberikan oleh perawat intensif kepada anggota keluarga pasien
merupakan salah satu bentuk dukungan sosial formal. Dukungan sosial yang
diberikan oleh keluarga, teman dan tetangga disebut ‘informational support’ dan
dukungan sosial yang diberikan oleh penyedia layanan formal disebut ‘formal

22
support’. Ketika kebutuhan pasien dan keluarga bersinergi dengan kompetensi
perawat, maka hasil perawatan pasien akan optimal (Wardah,2013).
- Dukungan sosial didefinisikan sebagai pertukaran informasi pada tingkat
interpersonal yang memberikan empati dukunganyakni dukungan emosional,
harga diri, jaringan, penilaian dan altruistik. Dukungan emosional merupakan
keyakinan bahwa individu dalam keluarga dicintai dan disayangi. Kebutuhan
emosional ini mencakup kebutuhan akan harapan dan jaminan dukungan spiritual.
Pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan keluarga oleh tenaga
kesehatan profesional pada perawatan kritis bermanfaat agar keluarga dapat
mengontrol pada situasi rentan dan hal tersebut juga dapat dilakukan oleh petugas
kesehatan ketika berada pada keadaan yang sama (Brysiewicz, 2006).
2) Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian pada pasien (anggota keluarga)
a) Pengertian
Cemas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan
perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Tidak ada objek yang dapat
diidentifikasi sebagai stimulus cemas. Kecemasan adalah perasaan tidak senang
dan tidak nyaman serta sebagian besar orang berusaha untuk menghindarinya
(Stuart, 2009). Gangguan kejiwaan yang sebagian besar terjadi di Amerika
Serikat adalah gangguan kecemasan dan terjadi antara 15% - 25% populasi
(Rapaport, dkk dalam Stuart, 2010). Cemas yang berhasil diobservasi merupakan
kombinasi dengan emosi lain (Stuart, 2009). Teori penyebab kecemasan
(Stuart,2009) dan Teori Perilaku (Behaviour) Menurut pandangan perilaku, ansietas
merupakan periodik frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
seseorang untuk mencapai tujuan. Pada teori ini menyatakan bahwa kecemasan akan
meningkat melalui konflik yang terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman
mengenai dua hal yang bersaing dan harus memilih salah satu di antaranya. Dengan
demikian terdapat hubungan yang muncul antara kecemasan dengan konflik. Konflik
akan menyebabkan kecemasan dan kecemasan akan meciptakan persepsi terhadap
konflik dengan memproduksi rasa tidak berdaya (Stuart, 2009). Keluarga dengan anggota
keluarga yang dirawat di ruang intensif berada dalam kondisi penuh kekhawatiran
terhadap keadaan dan prognosis pasien. Keluarga juga mengalami berbagai risiko

23
gangguan kesehatan fisik dan mental baik selama bahkan setelah keluar dari ruang
intensif. Efek hospitalisasi dapat berupa kurang tidur, gangguan nafsu makan dan
pencernaan, ketakutan, stress, kecemasan, depresi hingga post traumatic syndrome.
Dalam keadaan ini, keluarga membutuhkan berbagai macam kebutuhan spesifik yang
harus dipenuhi (Wardah, 2013).

Tabel Respon fisiologis terhadap ansietas (Stuart, 2009)

Sistem tubuh Respon


Kardiovaskuler Palpitasi, tekanan darah meningkat, rasa
mau pingsan, tekanan darah menurun,
denyut nadi menurun, jantung seperti
terbakar.
Pernafasan Nafas cepat, nafas pendek, tekanan pada
dada, nafas dangkal, pembengkakan pada
tenggorokan, sensasi tercekik, terengah-
engah.
Gastrointestinal Kehilangan nafsu makan,
menolakmakan, ketidaknyamanan
abdomen, mual,diare
Traktus urinarius Tidak dapat menahan kencing, sering
kencing
Neuromuskuler Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata
berkedip- kedip, insomnia, tremor,
rigiditas, wajah tegang, kelemahan
umum, gerakan yang janggal
Kulit Wajah kemerahan, telapak tangan
berkeringat,
24 gatal, rasa panas dan dingin
pada kulit, wajah pucat
3) Tanda dan gejala kecemasan yang ditunjukkan atau dikemukakan oleh
seseorang bervariasi, tergantung dari beratnya atau tingkatan yang dirasakan
oleh individu tersebut (Hawari,2004). Keluhan yang sering dikemukakan oleh
seseorang saat mengalami kecemasan secara umum menurut Hawari (2004),
antara lain sebagaiberikut:
b) Gejala psikologis: pernyataan cemas/khawatir, firasat buruk, takut akan
pikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah,
mudah terkejut.
c) Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yangmenegangkan.
d) Gangguan konsentrasi daya ingat.
e) Gangguan tidur : sukar untuk tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak
nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpi, mimpi buruk danmenakuntukan.
f) Gangguan kecerdasan: sukar konsentrasi, daya ingat menurun dan daya
ingatburuk.
g) Perasaan depresi (murung): hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada
hobi, sedih, terbangun pada saat dini hari dan perasaan berubah-ubah sepanjang
hari.
h) Gejala somatik/ fisik (otot): sakit dan nyeri di otot, kaku, kedutan otot, gigi
gemerutuk dan suara tidakstabil.
i) Gejala somatik/ fisik (sensorik): tinitus (telinga berdenging), penglihatan kabur,

25
muka merah dan pucat, merasa lemas dan perasaanditusuk-tusuk.
j) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah): takikardi, berdebar-debar,
nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan dan
detak jantung menghilang/ berhentisekejap.
k) Gejala respiratori (pernafasan): rasa tertekan atau sempit di dada, rasa tercekik,
sering menarik nafas pendek/sesak.
l) Gejala gastroentinal: sulit menelan, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri
sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau
kembung, mual, muntah, sukar BAB dan kehilangan beratbadan.
m) Gejala urogenital: sering buang air kecil, tidak dapat menahan BAK, tidak
datang
n) bulan (menstruasi), masa haid berkepanjangan, masa haid sangat pendek, haid
beberapa kali dalam sebulan, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang dan
impotensi.
o) Gejala autoimun: mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala
pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit dan bulu-bulu berdiri.
p) Tingkah laku/sikap: gelisah tidak tenang, jari gemetar, kening/ dahi berkerut,
wajah tegang/mengeras, nafas pendek dan cepat serta wajah merah.
4) Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Tingkat KecemasanKeluarga
a) Umur, menurut Azwar (2009), semakin tua umur seseorang semakin konstruktif
dalam menggunakan koping terhadap masalah maka akan sangat mempengaruhi
konsep dirinya. Umur dipandang sebagai suatu keadaan yang menjadi sadar
kematangan dan perkembanganseseorang.
b) Pendidikan, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin
mudah menerima informasi. Faktor pendidikan sangat berpengaruh terhadap
tingkat kecemasan seseorang tentang hal baru yang belum pernah dirasakan atau
sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang terhadap kesehatannya.
c) Pekerjaan, pekerjaan adalah kesibukan yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber
kesenangan tetapi merupakan caramencari nafkah yang memiliki banyak

26
tantangan (Nursalam, 2001).
d) Informasi, informasi adalah pemberitahuan yang dibutuhkan keluarga dari staf
ruang intensif mengenai semua hal yang berhubungan dengan pasien yang
dirawat di ruang intensif. Kebutuhan akan informasi meliputi informasi tentang
perkembangan penyakit pasien, penyebab atau alasan suatu tindakan tertentu
dilakukan pada pasien, kondisi sesungguhnya mengenai perkembangan penyakit
pasien, kondisi pasien setelah dilakukan tindakan/ pengobatan, perkembangan
kondisi pasien dapat diperoleh keluarga paling sedikit sehari sekali, rencana
pindah atau keluar ruangan, dan informasi mengenai peraturan di ruang intensif
(Nurhadi,2014).
Menurut Peni (2014) terdapat beberapa penyebab lain kecemasan yang terjadi pada
keluarga pasien yang dirawat di ruang intensif, antara lain:
a) Terpisah secara fisik dengan keluarga yangdirawat di ruangintensif.
b) Merasa terisolasi secara fisik dan emosi dari keluarganya yang lain, dukungan
lain yang tidak adekuat atau keluarga lain yang tidak dapat berkumpul karena
bertempat tinggal jauh.
c) Takut kematian atau kecacatan tubuh terjadi pada keluarga yang sedangdirawat.
d) Kurangnya informasi dan komunikasi dengan staf di ruang intensif sehingga
tidak mengetahui perkembangan kondisipasien.
e) Tarif di ruang intensif yangmahal.
f) Masalah keuangan, terutama jika pasien adalah satu- satunya pencari nafkah
dalam keluarga.
g) Lingkungan di ruang intensif yang penuh dengan peralatan canggih, bunyi
alarm, banyaknya selang yang terpasang di tubuh pasien. Jika pasien diintubasi
atau adanya gangguan kesadaran, sulit atau tidak bisa berkomunikasi diantara
pasien dengan keluarganya. Jam kunjung yang dibatasi, ruang intensif yang
sibuk dan suasananya yang serba cepat membuat keluarga tidak merasa
disambut atau dilayani dengan baik (FK. Unair, RSUD Dr. Soetomo dalam
Peni,2014)
h) Pengingkaran terhadap kondisi kritis pasien (anggota keluarga) (Hudak & Gallo,

27
1997)
2. Efek Non Psikologis
(Hudak & Gallo, 1997) dalam (Morton et al, 2011)
1) Perubahan struktur peran dalam keluarga
2) Perubahan pelaksanaan fungsi peran dalam keluarga
3) Terbatasnya komunikasi dan waktu bersama
4) Masalah financial keluarga*
5) Perubahan pola hidup keluarga *
2. Efek Kondisi Kritis pada Pasien
a. Efek Psikologis
1) Stres akibat kondisi penyakit
Sebuah penelitian di Norwegia yang mereview beberapa penelitian kualitatif pada
pasien yang dirawat diruang ICU menemukan bahwa pasien mengalami stres
yang berhubungan dengan 3 tema besar, (Jastremski, 2000 dalam Suryani, 2012)
yaitu:
a) Stres berkaitan dengan tubuh mereka
b) Stres berkaitan dengan ruangan ICU
c) Stres berkaitan dengan relationship dengan orang lain
b. Efek Non Psikologis
1) Ketidakberdayaan
2) Pukulan (perubahan) konsep diri
3) Perubahan citra diri
4) Perubahan pola hidup
5) Perubahan pada aspek sosial-ekonomi (pekerjaan, financial pasien, kesejahteraan
pasien dan keluarga)
6) Keterbatasan komunikasi (tidak mampu berkomunikasi)

28
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Sakit kritis merupakan kejadian yang tiba - tiba dan tidak diharapkan serta
membahayakan hidup bagi pasien dan keluarga yang mengancam keadaan stabil.
Keadaan kritis pasien dapat menimbulkan efek psikologis dan non psikologis
kepada pasien dan keluarga. Adapun efek psikologis pada pasien itu sendiri yaitu

29
stres akibat kondisi penyakit, rasa cemas dan takut bahwa hidup terancam
(kematian), perasaan rapuh karena ketergantungan fisik dan emosional, perasaan
isolasi, depresi,dan sedangkan efek non psikologis yang ditimbulkan diantaranya
ketidakberdayaan, pukulan (perubahan) konsep diri, perubahan citra diri,
perubahan pola hidup, dan perubahan pada aspek sosial-ekonomi dan
keterbatasan komunikasi. Efek psikologis yang ditimbulkan pada keluarga pasien
dengan kondisi kritis yaitu stres akibat kondisi penyakit pasien (anggota
keluarga), pengingkaran terhadap kondisi kritis pasien (anggota keluarga),
ansietas berhubungan dengan ancaman kematian pada pasien (anggota keluarga),
dan sedangkan efek non psikologis yang ditimbulkan diantaranya perubahan
struktur peran dalam keluarga,perubahan pelaksanaan fungsi peran dalam
keluarga, terbatasnya komunikasi dan waktu bersama, masalah financial keluarga,
perubahan pola hidup keluarga.
2. Aspek psikososial dalam keperawatan kritis berpengaruh terhadap kondisi pasien.
Untuk mencapai keseimbangan ini perawat harus mempunyai pengetahuan
tentang bagaimana keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi kesehatan
psikososial pasien, keluarga dan petugas kesehatan. Dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien yang dirawat di icu atau perawatan kritis selalu
mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosiologis, spiritual, secara
komprehensif.

B. Saran
Perawat harus secara seimbang dalam memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional dirinya maupun kliennya dalam suatu lingkungan yang dapat
menimbulkan stress. Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
kondisi kritis, perawat harus dapat menunjukkan sikap professional dan tulus dengan
pendekatan yang baik serta komunikasi yang efektif sehingga dapat mengurangi efek
psikologis dan non psikologis yang dialami pasien dan keluarga.

30
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2009. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuranya. Yogyakarta : Pustaka


Pelajar

ARC resource pack. 2009. Foundation module 7: psychosocial support. www. Arc-
online.org www.unchcr.org/4c98a5169.pdf diakses 28 junI 2020

Brysiewicz, P& Chipps, J. (2006). The Effectiveness of in Hospital Psychosocial


Intervention Programmes for Families of Critically Ill Patients- a
Systematic Review. SAJCC Durban Vol 2 (2), 68-69

Fitria, N. 2013. Laporan Pendahuluam tentang Masalah Psikososial. Jakarta:


Salemba Medika.

31
Friedman, et al. (2010). Buku ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, & Praktik.
Edisi 5. Jakarta: EGC

Hawari, Dadang. 2004. Manajemen stress, cemas dan depresi. Jakarta. FKUI

Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta: EGC

Johal,sarb.2009, Foundations of Psychosocial Support in Emergency Management


NewZealand:https://www.health.govt.nz/system/files/documents/pages/found
ations-of-psychosocial-disaster-handbook.pdf di akses tanggal 28 Juni 2020.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.(2011).Profil Kesehatan Indonesia


2010.http:www.depkes.go.id

Morton, et al. (2011). Keperawatan Kritis : Pendekatan Asuhan Holistik. Edisi 8.


Volume 1. Jakarta: EGC

Nurrochaya (2018), Definisi Pasien Kritis., Available at :


http://digilib.unimus.ac.id/files//disk1/169/jtptunimus-gdl-nurrochaya-8437-3-
babii.pdf, diakses tanggal 28 Juni 2020

Nurhadi. (2014). Gambaran dukungan perawat pada keluarga pasien kritis di rumah
sakit umum pusat Dr. Kariadi. Program studi S1 Ilmu Keperawatan,
Universitas Diponegoro.

Nursalam. (2001). Proses & Dokumentasi Keperawatan Konsep & Praktik. Jakarta.
EGC Salemba

Peni, T,. (2014). Kecemasan Keluarga Pasien Ruang ICU Rumah Sakit Daerah
Sidoarjo. Hospital Majapahit. Vol. 6 No. 1 Februari 2014.

Pochard, F., et al. (2005). Symptoms Of Anxiety And Depression In Family


Members Of Intensive Care Unit Patients Before Discharge Or Death. A
prospective multicenter study. Journal of Critical Care, 20(1), 90-96.

Rab, T.(2007).Agenda Gawat Darurat (Critical Care) Jilid I, Edisi 2. Bandung:PT


Alumni

Sodomka, P. (2006). Enganging Patients and Fam: A High Leverage Tool for
Healthcare Leaders. AHA Quality Update.

Suryani. (2012). Aspek Psikososial dalam Merawat Pasien Kritis [Converence Paper].
Universitas Padjajaran

32
Stuart, G., W. (2009). Principle and Practice of Psychiatric Nursing 9th edition.
Mosby Elsevier, page 218

Suci Febrianti (2018), Resume Keperawatan Kritis, Available at :


https://www.academia.edu/35303079/Resume_Kep.Kritis, diakses tanggal
28 Juni 2020

Wardah. (2013). Dampak hospitalisasi pada keluarga dan peran perawat dalam
memenuhi kebutuhan informasi diperawatan intensif. Jurnal Husada
Mandiri, Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran Bandung. Volume
III No. 6, November 2013, hal. 263-318.

SOAL

1. Dibawah ini yang merupakan efek psikologis kondisi kritis pada pasien adalah
a. Stres akibat kondisi penyakit.
b. Perubahan citra diri
c. Perubahan pola hidup
d. Ketidakberdayaan
2. Dibawah ini yang merupakan efek non psikologis kondisi kritis pada pasien
adalah
a. financial pasien, kesejahteraan pasien dan keluarga).
b. Perasaan isolasi

33
c. Depresi
d. Perasaan rapuh karena ketergantungan fisik dan emosional
3. Stimulus atau rangsangan efek kondisi kritis pada keluarga terdiri dari 4 unsur
pokok yaitu
a. Persepsi, stress, kekuatan, gaya hidup
b. sakit, penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan.
c. sakit, stress, lingkungan, kekuatan
d. penyakit, persepsi, gaya hidup, lingkungan
4. Berikut merupakan macam perilaku koping yang sering dijumpai pada pasien
kondisi kritis, kecuali ……
a. Marah
b. Agresif
c. Menerima kondisi.
d. Mengingkari
5. Efek kondisi kritis terhadap keluarga meliputi efek psikologis dan efek non
psikologis. Strategi keluarga ketika menghadapi stres dapat dilakukan melalui
pencarian dukungan social merupakan bagian dari……………
a. Efek non psikologis
b. Koping keluarga.
c. Stress keluarga
d. Penyebab kecemasan
6. Dibawah ini yang bukan merupakan efek psikologis dari kondisi kritis pada
pasien adalah …….
a. Stres akibat kondisi penyakit
b. Rasa cemas dan takut bahwa hidup terancam (kematian)
c. Perasaan rapuh karena ketergantungan fisik dan emosional
d. Pukulan (perubahan) konsep diri.
7. Keluarga dengan anggota keluarga yang dirawat di ruang intensif berada
dalam kondisi penuh kekhawatiran terhadap keadaan dan prognosis pasien.
Keluarga juga mengalami berbagai risiko gangguan kesehatan fisik dan

34
mental baik selama bahkan setelah keluar dari ruang intensif. Efek
hospitalisasi keluarga terhadap anggota keluarga yang memiliki kondisi kritis
tersebut antara lain…………
a. gangguan nafsu makan
b. kecemasan
c. depresi
d. semua benar.
8. Dukungan yang diberikan oleh perawat intensif kepada anggota keluarga
pasien merupakan salah satu bentuk dari dukungan social…………..
a. informational support
b. formal support.’
c. koping keluarga
d. dukungan sosian emosional

JAWABAN
1. A 7. B
2. A 8. D
3. B
4. C
5. C

35