Anda di halaman 1dari 28

PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN

KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG


ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN
FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER
KONTEMPORER TENTANGTENTANG
ALLAHALLAH PEMIKIRAN
KARYA PENELITIAN
FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH
Pdt. Fatiaro Zega, M.Th
PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
2015

ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN


FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN
FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN
FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN
FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN
KONTEMPORER TENTANG ALLAH PEMIKIRAN FILOSOFIS DAN KONTEMPORER TENTANG
BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian ini hendak memperlihatkan betapa setiap orang, kaum dan suku
mengenal konsep tentang Allah, sekalipun berbeda pengakuan, sikap dan tanggapan
terhadap “Allah.” Selain itu, hendak memaparkan bahwa banyak orang yang memiliki
konsepnya sendiri tentang Allah. Mereka memandang “Allah” dengan pemahaman
dunianya sendiri. Sehingga konsep tentang keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya
diterjemahkan dan direfleksikan sesuai dengan konsep yang mereka kenakan, baik
pada keyakinan atau di dalam ketidakpercayaan mereka kepada Allah. Sedangkan
dalam pemahaman filosofis, Tuhan hanyalah suatu obyek pemikiran yang dipahami
dalam pendekatan rasio semata. Allah diturunkan “tahtahNya,” bukan sebagai subyek,
tetapi obyek studi dan pemikiran. Kontradiktif dari Kekristenan yang menegaskan
bahwa pada mulanya adalah Allah, segala sesuatu dimulai dari Allah. Allah itu Allah
Alkitab. Namun penelitian tidak mengevaluasi keyakinan-keyakinan itu, melainkan
mengingatkan bahwa iman sejati datang hanya dari Alkitab.

A. Latar Belakang

Bagi setiap orang, menyebut nama Allah itu dalam beragam ekspresi, baik
dengan penuh takzim maupun hanya biasa-biasa saja atau merupakan hal yang
lumrah, bahkan teramat biasa, sebab sudah seperti intuitif saja. Namun, kata Allah ini
pasti memiliki kedalaman arti di bawah ambang kesadaran tentang kata itu. Tozer
mengatakan bahwa apabila ditanyakan kepada seseorang tentang “Apa yang timbul
dalam pikirannya apabila dia memikirkan tentang Allah”, maka dengan pasti kita dapat
meramalkan bagaiman kerohanian orang itu pada masa yang akan datang. Seandainya
kita dapat mengetahui dengan tepat bagaimana pikiran para pemimpin agama tentang
Allah, maka kita dapat meramalkan dengan cukup tepat keadaan “dunia” pada masa
yang akan datang. Sebab tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran yang paling hebat
ialah pikiran tentang Allah dan kata yang paling berarti dalam suatu bahasa ialah kata
untuk menyatakan Allah.1 Allah, menurut seseorang, terlebih seorang pemimpin, akan

1 A. W. Tozer. Mengenal yang Maha Kudus. Bandung: Kalam Hidup, 1995, 9.

1
menentukan bukan hanya sikap dan perilakunya, tetapi juga masa depan yang
dipimpinnya. Bagiamana sikap pemikiran dan keyakinan para peminpin dunia tentang
Allah akan menentukan bentuk masa depan dunia.
Sayangnya, di luar Alkitab orang tidak akan mengenal Allah yang benar.
Sekalipun banyak yang memuja Allah, tetapi mereka tidak sampai kepada Allah yang
sejati, hanya sekadar memahami seperti yang dipikirkan mereka. Tozer mengatakan
bahwa “Anak-anak, para filsuf dan para pemeluk agama, semua mempunyai satu
pertanyaan: ‘Allah itu seperti apa?’”2 Seperti yang dipikirkannya itu maka muncullah
pemahaman tentang Allah menurut pemikiran mereka. Berikut ini peneliti memerikan
beberapa sikap dan pandangan tentang Allah secara kontemporer dan filosofis.

B. Permasalahan

Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pandangan tentang


Allah di dalam banyak pengakuan tentang kata itu, baik secara kontemporer atau pun
secara filosofis?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini hendak memaparkan fakta bahwa banyak orang yang
mengetahui dan meyakini tentang Allah, sekalipun pandangan itu bersifat kontemporer
dan filosofis, yang berbeda dengan Allah Alkitab, Allah yang benar, dan secara
sederhana menegaskan betapa kelirunya mereka yang memahami dan meyakini Allah
secara kontemporer dan filosofis, karena pengertian mereka tentang Allah pasti tidak
akan membawa mereka sampai kepada Allah yang sejati, Mahakudus dan kekal.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian iini memaparkan banyaknya faham yang menanggapi dan merespon


tentang Allah yang salah, baik yang tidak memercayai Allah maupun mengakuinya
berdasarkan worldview-nya sendiri, yang ternyata hanya bersifat kontemporer dan
filosofis. Selain untuk memaparkan ciri-ciri dan arti pemahaman paham-paham itu,
sehingga menjadi peringatan bagi keimanan yang injili dan alkitabiah.

2 Ibid., 14.

2
3
BAB II
PANDANGAN YANG KONTEMPORER DAN FILOSOFIS TENTANG ALLAH

Kesadaran tentang Allah secara intuitif sudah dimiliki oleh setiap manusia.
dalam aspek pengetahuan, setiap orang beradab pasti pernah menerima pengetahuan
tentang Allah, baik yang datangnya dari lingkungan paling mendasar, seperti keluarga
dan sekolah, maupun di lingkunga sosial, di mana pun mereka berinteraksi.
Masalahnya menjadi berbeda ketika pemahaman tentang Allah itu sudah diolah dan
diproses oleh pandangan dunia yang didapatnya, atau pandangan dunia yang sengaja
ditanamkan ke dalam pemahamnnya, yang sebernarnya hanya bersifat kontemporer
dan filosofis.
Kata kontemporer yang diterapkan di sini dalam arti semasa, belum ada
sebelumnya, dan sudah tidak bertahan lagi sesudahnya. Sedangkan makna filosofis
yang dimaksud peneliti ialah sebagai pengetahuan tentang seluruh fenomena
kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis yang diuraikan dalam konsep mendasar
yang rasional. Pemahaman itu umumnya didapat melalui studi yang kristis di institusi
pendidikan dan yang sejenisnya. Berikut ini penulis memaparkan beraneka ragam
paham dan tanggapan mengenai Allah yang banyak dianut dan dikenal secara luas.

A. Ateisme

Pandangan pertama yang perlu dilihatkan berkenaan dengan sikap terhadap


Allah adalah sikap ateisme. Ateisme adalah sebuah paham yang berkembang menjadi
sebuah prinsip dari kaum humanisme yang mengagungkan otonomi manusia. Ateisme
sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan. Bagi mereka
hidup ini ada dalam dimensi kekinian saja. Tidak ada dimensi kekakalan. Demikian
juga masalah keselamatan, bagi mereka itu hanyalah masalah sekarang yang bisa
diupayakan sendiri.
Kurtz, yang dikutip Sadono, mengatakan bahwa dalam manifesto Humanisme
tidak ada sesuatu yang “ilahi” dapat menyelamatkan kita. Kita sendirilah (yang ilahi)

4
yang menyelamatkan diri sendiri.3 Ateis secara prinsip mengusung ide bahwa sesuatu
yang disebut dengan kata Allah itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Sehingga
Allah menurut pemikiran mereka adalah sesuatu yang noumenal (yang tidak dapat
diinderai, lawan dari fenomena) yang diciptakan oleh para agamawan untuk
mengungkapkan keyakinan bahwa Dia memiliki kuasa atas kehidupan mereka. Allah
sebagai Pencipta mereka turunkan menjadi setara dengan ciptaan.

1. Defiisi

Daniel Hill dan Randal Rauser menjelaskan, “Atheism is belief that there is no
God. It is sometimes defined as lack of belief in God, …”4 (Ateisme adalah kepercayaan
bahwa tidak ada Allah. kadang kala istilah ini didefinisikan sebagai kurangnya
keyakinan terhadap Allah, …)
Istilah ateisme berasal dari kata Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif
(perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu
yang lebih negatif atau memberikan makna menghina, merendahkan) digunakan
untuk merujuk pada siapa pun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama
atau kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Orang yang pertama kali
mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18 di Eropa.5 Masa itu humanisme dan
liberalisme menguasai hampir semua aspek kehidupan, yang melahirkan skeptisisme.
International standard Bible Encyclopedia (ISBE) menyebutkan “Ordinarily this word is
interpreted to mean a denial of the existence of God, a disbelief in God, the opposite
of theism.”6 (Biasanya kata ini diterjemahkan dengan arti suatu penolakan terhadap
keberadaan Allah, ketidakpercayaan kepada Allah, lawan dari teisme)

2. Jenis-jenis Ateisme

Menurut Thiessen, istilah ‘ateisme’ menunjuk kepada kegagalan untuk


mengenali satu-satunya Allah yang benar, namun dalam arti yang lebih sempit istilah

3Sentot Sadono. Doktrin Baptis Di Antara Pandangan Teologi Kristen. Semarang: STBI,
2001, 24.
4Daniel J. Hill dan Randal D. Rauser. Christian Philosophy A–Z. Edinburgh: Edinburgh
University Press, 2006, 17.
5Kiwix, Wikipedia. Ensiklopedia Bebas Bahasa Indonesia: ketik kata ateis.
6Interntional Standard Bible (ISBE), dalam: E-Sword, Bible Softwear, 2012.

5
ini menunjuk kepada tiga pandangan, yaitu ateisme praktis, ateisme dogmatis, dan
ateisme murni.7 Berikut gambaran sederhananya.
a. Ateisme Praktis

Zdybicka, yang dikutip Kiwix, menjelaskan bahwa ateisme praktis atau


pragmatis, juga dikenal sebagai apateisme, adalah individu yang hidup tanpa Tuhan.
Menurut pandangan ini, keberadaan Tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap
sebagai tidak penting dan tidak berguna; Tuhan tidaklah memberikan kita tujuan
hidup, ataupun memengaruhi kehidupan sehari-hari.8 Mereka tidak peduli atau masa
bodoh terhadap Tuhan, sehingga rasa hormat dan pemujaan kepada Tuhan adalah
sesuatu yag dianggap sia-sia, atau tidak berguna.
Ateisme praktis ditemukan di antara banyak orang, yang sekalipun mengaku
memeluk suatu agama, mengakui Allah ada, tetapi dalam tindakan mereka seakan-
akan tidak ada Allah yang kepada-Nya mereka harus bertanggung jawab. Praktisnya,
kurang memedulikan dan menyadari kedaulatan Tuhan atas seluruh kehidupan.
Ateisme praktis dapat berupa ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada
Tuhan yang tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan
lainnya; pengesampingan masalah Tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran
intelek dan tindakan praktis; Pengabaian, yakni ketiadatertarikan apapun pada
permasalahan Tuhan dan agama; dan Ketidaktahuan akan konsep Tuhan.9

b. Ateis Dogmatis

Ateis dogmatis adalah kelompok yang secara terang-tarangan mengakui tidak


ada Allah. Komunisme secara terbuka menyatakan pandangan ini, dan dalam
keyakinan ateistik mereka menyatakan bahwa “agama adalah candu masyarakat.”
Pencetus keyakinan ini adalah Karl Marx, pemikir utama Marxisme. Marx memandang
agama sebagai "candu" yang dimanfaatkan oleh kelas penguasa untuk memberikan
harapan palsu bagi kelas buruh.10
Ateisme dogmatis ini disebut juga sebagai ateis teoretis, secara eksplisit memberikan

7Henry C. Thiessen. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1995, 50.


8Ibid.
9Ibid.
10Kiwix, mengutip: John Raines. "Introduction". Marx on Religion (Marx, Karl).

Philadelphia: Temple University Press, 2002.

6
argumen menentang keberadaan Tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen
teistik mengenai keberadaan Tuhan, seperti misalnya argumen dari rancangan dan
taruhan Pascal yang digagas oleh Blaise Pascal dalam karyanya yang berjudul
Pensées.11 Intinya dia mengatakan bahwa memercayai Tuhan itu merupakan suatu
pertaruhan, namun tidak tidak akan kehilangan apapun jika kita hidup sesuai dengan
perintah-Nya.
Terdapat berbagai alasan-alasan teoretis untuk menolak keberadaan Tuhan,
utamanya secara ontologis (pandangan filsafat yang berhubungan dengan hakikat
hidup), gnoseologis, dan epistemologis (pandangan filosofis tentang dasar-dasar dan
batas-batas pengetahuan). Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis.

c. Ateis Murni

Ateisme murni adalah kelompok yang menganut prinsip-prinsip yang tidak sesuai
dengan kepercayaan tentang Allah. Mereka mendefinisi Allah dengan menggunakan
istilah-istilah yang melanggar pemakaian bahasa pada umumnya, dalam bahasa-
bahasa yang abstrak. Misalnya, Allah itu sebagai “prinsip aktif yang bekerja dalam
alam”, atau “kesadaran sosial”, atau “yang tidak dapat dikenal”, atau “personifikasi
kenyataan”, atau “energi”,
Dari aspek argumen logika, ateisme pada dasarnya berpijak pada premis-premis
berikut ini.
Teisme berkeyakinan bahwa Allah sebagai pribadi yang berhakikat itu mandiri
(self-caused being).
Namun suatu pribadi yang berhakikat mandiri adalah tidak masuk akal
(irrational)
Jadi: konsep tentang Allah adalah tidak masuk akal.

JIka Allah mahakuasa, maka tentunya Dia dapat melenyapkan kejahatan.


Namun kenyataannya: kejahatan tidak dilenyapkan
Maka: tidak Allah yang dimaksudkan di atas.

11Kiwix, mengutip: Pascal's Pensees Part III — "The Necessity of the Wager" The wager

argument itself is found in #233 (Trotter translation)

7
Friederich Nietzche (1844-1900), seorang ateis Jerman, pernah mengatakan
bahwa penyangkalan akan Allah perlu diadakan karena keberadaan Allah adalah
bencana bagi manusia. Dan Thomas J.J. Altizer (pencetus Death of God Theolgy),
menyatakan bahwa tibalah saatnya kini agama dan Alah tidak dibutuhkan karena hal
ini membuktikan kecanggihan revolusi sains dari abad ke-17.12

3. Model-model Ateisme

Berdasarkan pola pemunculannya, ateisme dapat dikelompokkan dalam


beberapa model. Menurut Sadono, pertama, yang disebut traditional atheism, yang
mengklaim bahwa tidak pernah ada Tuhan, baik dulu, sekarang maupun pada masa
yang akan datang. Inilah pandangan dari Jean Paul Satre.
Kedua, mythological atheism, yang mengatakan bahwa pernah ada mitos
tentang Allah yang sungguh-sungguh diyakini oleh umat manusia, tetapi mitos itu
kemudian tidak ada lagi atau mati. Pandangn ini dicetuskan oleh Friederich Nietzsche.
Ketiga, dialectical atheism, suatu sikap ateisme dari Thomas Altizer. Dia
mengatakan bahwa Allah pernah sungguh ada tetapi kemudian mati dalam inkarnasi
dan penyaliban Kristus.
Keempat, semantical atau linguistical atheism. Pandangan ini buat oleh Paul
van Buren yang mengatakan bahwa percakapan tentang Allah itu sia-sia belaka, atau
dengan kata lain tidak ada bahasa keagaaan yang bermakna.
Bentuk lain dari atheisme adalah agnotisme, yang dalam bahasa Yunani tidak
berpengetahuan (a = tidak; gnosis = pengetahuan). Suatu paham yang menyatakan
bahwa ada atau tidaknya Allah itu tidak dapat dibuktikn atau diketahui. Artinya
bersikap skeptik terhadap Allah, kurang yakin terhadap keberadaan Allah. Sehingga
ada para ahli yang mengelompokkan agnotisme sebagai bagian dari ateisme, tetapi
ada juga yang memisahkannya menjadi isme tersendiri.13 Istilah agnostisme berasal
dari teolog kenamaan yang bernama TH. Huxley (1825-1895), pertama kali dia
perkenalkan dalam sebuah konggres dari masyarakat metafisika pada tahun 1869.
Huxley berkata, “Saya bukan ateis, pun bukan panteis. Saya adalah seorang agnotis.”
Agnotis berarti orang yang menyangkal adanya gnosis atau pengetahuan tentang

12Sadono, 2011, 25.


13Daniel Hill dan Randal Rauser, op.cit., 6.

8
Allah). Selanjutnya dia mengatakan bahwa “kepastian hanya ada satu, yaitu orang
tidak mungkin mengenal Allah.” Pernyataannya ini menjadi popular sampai kini.

B. Politeisme

Kata politeisme berasal dari dua kata Yunani yang memiliki ide bahwa dunia
ini dipengaruhi oleh bermacam-macam Allah yang memiliki batas-batas wilayah
kekuasaan (poli = banyak; theos = Allah). Politeisme merupaka kepercayaan kepada
banyak dewa atau “Allah” (plurality of Gods), sebagai lawan dari monoteisme. Dengan
kata lain, politeisme meyakini bahwa Allah adalah suatu Allah yang terbatas sesuai
dengan bidang mereka masing-masing. Ada Allah (dewa) angin, dewa api, dewa
matahari, dan sebagainya. Dari politeisme ini muncul henoteisme, yaitu kepercayaan
kepada banyak Allah yang terbatas dan satu di antaranya memiliki kekuasaan tertinggi
(Geisler dan Feinberg, 2002: 295). Dalam dunia kuno, orang-orang Mesir, Babel dan
Yunani, menyembah banyak dewa. Bahkan pada zaman modern, menurut Walter
Martin, seorang ahli okultisme, mormonisme memandang konsep tentang Allah
Tritunggal dalam arti tiga Allah yang berbeda.
Norman L. Geisler menyebutkan bahwa politeisme adalah pandangan dunia
tentang banyak Allah yang terbatas kuasa dan keberadaannya. Ada berbagai versi
yang berbeda dalam politeisme. Dalam beberapa versi allah-allah itu ada yang lebih
lemah atau setara. Setiap allah memiliki pengaruh atau daerah kekuasaanya sendiri.
Pada versi lain, allah-allah itu memiliki bentuk hierarki. Henoteisme memiliki pemimpin
para dewa, seperti Zeus misalnya. Dalam beberapa versi, seperti dalam panteon Yunan
dan Romawi, sejumlah allah itu memiliki keterbatasan. Mormonisme meyakini ada
beberapa allah yang tidak terbatas. Beberapa versi politeisme memiliki keyakinan
sendiri, tidak berhubungan dengan pandangan dunia yang lain. Tetapi dalam
Hinduisme, politeisme dan panteisme berkaitan erat dengan satu dewa brahma yang
tidak berpribadi dan 330 juta lebih perwujudan pribadi dari satu realitas impersonal
yang tertinggi.14
Para allah politeisme sering digambarkan sebagai tokoh yang kompleks,
memiliki status yang lebih besar dan kecil, dengan keterampilan, kebutuhan, keinginan

14Norman L. Geisler. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapid: Baker Books,

1999, 1094-1095.

9
dan sejarah individual. Dalam banyak hal mirip dengan manusia (antropomorfik) dalam
kepribadian dan kuasnya masing-masing. Tetapi sekalipun banyak allah, biasanya
memiliki satu allah yang lebih berkuasa, misalnya Zeus. Politeisme merupakan
pandangan teistik yang memercayai allah yang paling dominan dalam sejarah. Contoh
yang paling terkenal dari zaman kono ialah dalam mitologi Yunani.
Menurut Geisler, “Greek polytheism declined with the rise of Plato and
Aristotle’s philosophical theism. Roman polytheism all but died with the rise of
Christianity in the West. Augustine’s City of God narrates the Christian response to
Roman polytheism. Polytheism has experienced a revival with the decline of Judeo-
Christian views in the broader culture. This has been accompanied with a rise in
witchcraft that also embraces polytheism.”15
Politeisme Yunani merosot dengan bangkitnya teisme filosofis Plato dan
Aristoteles. Semua politeisme Roma mati dengan bangkitnya kekristenan di Barat.
Tetapi politeisme memiliki pengalaman kebangunan kembali dengan merosotnya
pengaruh keyakinan Yahudi-Kristen di kebudayaan yang lebih luas. Hal ini lebih dipicu
lagi dengan berkembangngnya ilmu sihir yang juga mencakup politeisme.
Banyak ahli yang berargumen bahwa kebangkitan politeisme adalah buah hasil dari
liberalisasi di banyak bagian dunia, khususnya di Barat. Geisler, mengutip David L.
Miller, menunjukkan bahwa:

At one time polytheism reigned in Western culture. But when Greek culture
collapsed, polytheism died and was replaced by monotheism. Although
polytheism remained “in the underground or countercultural tradition of the
West” throughout the 2000-year reign of monotheistic thought, it did not have
any significant effect. With the death of monotheism, says Miller, polytheism
may be resurrected again to its proper place.16
(pada suatu masa politeisme berkuasa di dalam kebudayaan Barat. Tetapi
ketika kebudayaan Yunani runtuh, politeisme mati dan tempatnya digantikan
oleh kekristenan. Kendatipun politeisme tersisa di ambang bawah atau
bertentangan dengan tradisi Barat sepanjang 2000 tahun berkuasanya
pemikiran monoteisme, tetapi nyatanya tidak memberi efek signifikan baginya.
Dengan “matinya” monoteisme di Barat, politeisme berinkarnasi kembali pada
tempatnya yang semula.

15Geisler, Ibid, 1095.


16Geisler, Ibid., 1096.

10
C. Panteisme

Secara harfiah panteisme berarti segala-galanya adalah Allah. Geisler


mengatakan, “Pantheism means all (pan) is God (theism). It is the worldview held by
most Hindus , many Buddhists , and other New Age religions. It is also the worldview
of Christian Science, Unity, and Scientology”17 (Panteisme berarti semua (pan) adalah
Allah (theisme). Ini adalah suatu pandangan dunia yang dianut oleh banyak aliran
Hinduisme, banyak penganut Budhisme, dan agama-agama Zaman Baru lainnya. Ini
juga pandangan dunianya Christian Science, Unity dan Scientology.
Menurut panteisme, Allah adalah segala yang ada dalan alam semesta ini.
Sehingga ada yang menggunakan istilah pankosmisme, yang berarti kosmos, untuk
Allah. Mengutip Paul Enns, panteisme berarti everything is God, God is everythuing.
God is all dan all is God. (Sadono:26). Lebih jauh lagi, panteisme ini sering dikenal
sebagai konsep “Timur” tentang Allah, sebaliknya teisme dipandanga sebagai konsep
“Barat.” Sekalipun itu tidak begitu tepat.
Semua panteisme adalah bentuk lain dari monisme. Mereka berpendapat
bahwa pada akhirnya semua realitas adalah tunggal, atau dengan kata lain Allah
meliputi semua yang ada. Mereka sependapat dengan ateisme, dunia ini tidak ada
yang menciptakannya. Semua berasal dari satu substansi yang disebut Allah,
sedangkan semua yang ada (alam semesta) mengalir dari dia (ex Deo), sehingga Allah
ada dalam dunia bahkan dunia adalah Allah. Bertolak belakang dengan deisme yang
mengatakan Allah itu transenden, di luar dari segala realitas, panteisme menyatakan
Allah itu imanen, Allah adalah dunia. Satu hal lagi yang penting ialah pandangan bahwa
kejahatan bukanlah hal yang nyata, hanya ilusi. Yang nyata adalah baik. Segala
sesuatu memiliki tujuan yang baik, sedangkan yang jahat itu hanya dilihat secara
parsial dan sementara.
Menurut Geisler dan Feinberg, ada 5 jenis panteisme (2002:303-304).
1. Panteisme Mutlak, yang menyatakan bahwa hanya satu realitas tunggal
dalam dunia itu, selebihnya adalah ilusi. Filsuf Yunani Parmenisdes
merupakan satu contoh dari pandangan ini.
2. Panteisme emanasional, yang menyatakan bahwa ada keserbaragaman
dalam alam semesta yang berkembang dari yang Tunggal (Allah). Dunia

17Geisler, Ibid., 1053

11
adalah emanasi dari Allah (ex Deo) yang berkembang secara kekal dan
pasti. Paham ini dianut oleh kaum Plotinus.
3. Panteisme Bertingkat-tingkat, atau panteisme manifestasional, atau multi-
level, suatu paham yang berasal dari agama Hindu. Tingat tertingi dan
mutlak dari realitas adalah Brahman, di bawahnya “Roh Penciptaan” yang
disebut Iswara (digunakan dengan kata ganti “He” (laki-laki), tingkat
ketiga disebut “Roh Dunia” (Hiranya-garbha).
4. Panteisme Modalitas, suatu paham yang dikembangkan oleh rasionalis
Benedict Spinoza, yang percaya bahwa semua yang ada hanya merupakan
mode (cara berada) dari sesuatu yang tidak terbatas.
5. Panteisme Perkembangan (Developmental Panteism), yang menurut
Hegel, segala yang ada berkemabngan secara horizontal, di mana Roh
yang Mutlak mengembangkan diri dalam sejarah (bertentangan dengan
panteisme bertingkat dan modalitas yang berkembang vertical).

D. Deisme

Secara definitif, deisme ialah sebuah istilah yang menunjuk kepada


pandangan-pandangan rasional dari sekelompok penulis Inggris, khususnya selama
masa abad ke-17 dan ke-18, tentang Allah. Istilah ini sering digunakan untuk
menyatakan pandangan tentang Allah yang diakui sebagai Pencipta, tetapi menolak
gagasan keterlibatan Allah di dalam dunia. Ibarat pembuat jam dengan jam buatan-
nya yang bekerja sendiri, demikian juga Allah yang tidak terlibat terhadap dunia
ciptaan-Nya.
Deisme merupakan salah satu bentuk teisme, tetapi menghilangkan elemen
adikodrati. Mereka percaya pada Allah yang alkitabiah, tetapi tanpa mukjizat. Salah
seorang penganut deisme terkenal asal Amerika ialah Thomas Jefferson. Dia menulis
sebuah buku yang menghilangkan semua unsur mukjizat dari kitab-kitab Injil,
sehingga buku terbitannya digelar orang “Jefferson Bible”.
Berdasarkan sejarahnya, deisme muncul dari pengaruh era aufkalung, atau
zaman pencerahan, yang menekankan kemampuan absolut rasio manusia, lalu
menolak otoritas adikodrati. Ajaran ini merupakan paham rasionalis yang percaya
bahwa Allah ada dan dapat dilihat melalui hukum-hukum alam. Sekalipun Allah diakui
sebagai pencipta alam semesta, tetapi Dia tidak turut serta dalam perkembangan alam

12
dan kehidupan manusia, sebab alam bekerja otomatis berdasarkan prinsip-prinsip
yang dibuat-Nya. Secara sederhana, Allah adalah pencipta alam pada taraf tingkat
kerumitannya, tetapi hanya menanamkan prinsip-prinsip kerja dalam alam. Kemudian
sang adikodrati melepaskan alam dan manusia untuk bekerja dengan sendirinya.
Menurut analogi yang diberikan oleh van den End, Allah itu seperti pembuat arloji.
Setelah arloji selesai dibuat, arloji akan berjalan secara otomatis.18 Sehingga menurut
deisme, dunia ini diciptakan Allah seperti model mekanis, seperti seorang pembuat
mesin. Mesin diciptakan dan berjalan dengan hukum-hukum yang berlaku, dan dunia
ini adalah “mesin.” Itu.
Justo L. Gonzalez, yang dikutip Kiwix, mengatakan bahwa deisme muncul
bersamaan dengan lahirnya filsafat empirisme yang digagas oleh John Locke. Salah
satu tokoh yang berperan dalam gerakan Pencerahan tentang toleransi. John Locke
mengatakan bahwa penyataan Allah sesuai dengan akal budi manusia. Di Inggris,
pergerakan Deisme berkembang sangat cepat, karena memiliki tokoh-tokoh ilmuwan
seperti Newton, David Hume dan John Locke yang sangat menjunjung kebebasan
berpendapat. Tokoh besar pertama dari deisme adalah Herbert dari Cherbury. Herbert
mengatakan, agama yang sejati haruslah universal, tidak hanya menuntut kesetiaan
buta atas ajaran Alkitab dan tokoh-tokoh gereja. Agama tidak berdasarkan pada
keselamatan yang khusus, ataupun gerak sejarah, tetapi cukup pada naluri alamiah
dari setiap keberadaan manusia. Deisme di Inggris mencapai puncaknya pada
pemikiran David Hume.19
Paul Enns, yang dikutip Sadono, mengatakan, asal usul deisme datang dari
penulis kafir seperti Celcul dan Porphiry, yang menyangkal, selain mukjizat juga
intervensi ilahi. Allah dilihat semata-mata transenden. Setelah Dia menciptakan dunia,
Dia lalu meninggalkannya dan tidak campur tangan lagi. Semua yang terjadi di dunia
ditentukan oleh manusia sendiri (Sadono:27).
Pada dasarnya deisme adalah suatu kepercayaan yang meyakini bahwa
dengan pengetahuan dan akal pikiran seseorang bisa memahami realitas Tuhan. Untuk
mengenal Tuhan tidak perlu dengan bantuan agama, otoritas religius, atau Kitab Suci.
Sebab, menurut mereka, apa yang diajarkan oleh agama yang terorganisir sebagai

18Th Van den End. Harta Dalam Bejana, Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2005, 233, 230, 232, 231.
19Simon Petrus L. Tjahjadi. Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari

Zaman Yunani hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius. 2004. 182.

13
wahyu ilahi dan buku-buku suci adalah interpretasi yang dibuat oleh manusia, bukan
berasal dari Tuhan. Beberapa deist menganggap bahwa Tuhan tidak mencampuri
urusan manusia dan mengubah hukum-hukum alam semesta. Karena itulah maka para
deist menolak realitas mukjizat, atau segala sesuatu yang bersifat adikodrati.

E. Panenteisme

Panenteisme secara harfiah berarti semua di dalam Allah, berasal dari kata
Yunani pan (=semua), en (dalam), dan teisme (=paham ketuhanan), yang secara
definitif berarti “segala sesuatu berada di dalam Allah”, atau “Allah dalam dunia.”
Panenteisme berbeda dari panteisme, yang percaya bahwa Tuhan sinonim dengan
materi alam semesta. Singkatnya, panteisme menyatakan "Tuhan adalah semua,"
sementara panenteisme menyatakan "semua ada dalam Tuhan.”20 Panenteisme
mengajarkan bahwa Allah itu ada dan meresapi setiap bagian dari alam, tidak terpisah
dari alam.
Dalam panenteisme, Allah tidak harus dipandang sebagai pencipta, tetapi lebih
sebagai penggerak alam semesta. Namuan, pandangan tentang Allah dalam
panenteisme ini memiliki bebarapa versi. Ada versi yang menyatakan bahwa alam
semesta tidak lebih dari bagian nyata dari Tuhan. Ada yang mangajarkan bahwa Tuhan
lebih besar dari alam semesta, dan versi lain menyatakan bahwa alam semesta ada
dalam Tuhan. Di dalam agama Hindu terwujud ciri panenteisme juga panteisme.
Dalam panenteisme hubungan Allah dengan dunia digambarkan sama seperti
keberadaan pikiran dalam tubuh atau seperti nyawa tinggal dalam tubuh. Dalam hal
tertentu, menurut Geisler dan Feinberg, panenteisme sama dengan penganut teisme
tetapi memiliki pandangan bipolar. Maksudnya, Allah dan dania merupakan dua kutub
dari satu realitas keseluruhan. Alam semesta ini merupakan “kutub aktual” dari Allah
yang sementara, sedangkan “kutub potensial” Allah adalah hal-hal yang tidak nampak
dan bersifat kekal serta tidak terbatas.21
Dalam konteks teologi kontemporer, panteisme muncul dalam Teologi Proses
yang tokoh-tokohnya antara lain Alfred Whitehead, Charles Hartshorne, Shubert
Ogden. Mereka secara umum percaya bahwa Allah yang tidak terbatas dan bipolar itu

20Kiwix, op.cit., mengetik kata panenteisme.


21Geisler dan Feinberg, 310.

14
ada dalam proses perubahan. Seperti panentisme, teologi proses juga menyatakan
bahwa Allah dan manusia saling membutuhkan. Menurut Whitehead, di luar Allah
sesungguhnya tidak ada dunia yang nyata, dan di luar dunia yang nyata dengan segala
kekreatifannya tidaklah ada penjelasan rasional yang menunjukkan adanya Allah.22

F. Finite Godism (Paham Allah yang Terbatas)

Salah satu sikap terhadap Allah dari sejarah filsafat ketuhanan adalah Finite
Godism. Pandangan ini mengajarkan kepercayaan bahwa hanya ada satu Allah, tetapi
Allah itu terbatas yang berada di luar alam semesta, dan bukan pengendali tertinggi.
Kalau politeisme mengaku ada banyak dewa yang terbatas, maka Fenite Godism
mengakui hanya satu dewa (allah) yang berpribadi. Tokoh-tokoh yang menggagas
Allah yang terbatas ini antara lain David Hume, dan mirip dengannya ialah John Stuart
Mill dan William James. Tetapi tokoh yang paling kuat dalam Finite Godism ini adalah
Edgar Brightman (1884-1953). Dia menganggap Allah sebagai “pahlawan yang
sedang berjuang,” yang menginginkan kebaikan bagi dunia ini, tetapi tidak dapat
menjaminnya (Geisler & Feinberg: 295, 311). Dia bukan pencipta dunia ini. Ada tujuh
pandangan utama paham ini, menurut Norman L. Geisler.

1. Pandangan Tentang Allah

Di antara banyak karakter yang paling mendasar dari Finite Godism adalah
ajarannya yang menyatakan bahwa Allah itu terbatas dalam naturnya. Namun mereka
terpecah mengartikan keterbatasan Allah. menurut Geisler, mereka terpecah dalam
beberapa pandangan mengenai keterbatasan Allah. Beberapa di antaranya
menyatakan tentang keterbatasan Allah dalam kuasanya, bukan kebaikannya.
Beberapa yang lain menyatakan terbatas dalam kebaikan-Nya. beberapa yang lain lagi
menyatakan keterbatasan Allah baik dalam hal kuasa dan kebaikannya. Tetapi hampir
semua setuju bahwa Allah itu tidak infinitas dalam hal kuasa.23

22Norman
L. Geisler dan Paul D. Feinberg. Filsafat Dari Perspektif Kristiani. Malang:
Gandum Mas, 2002, 307-310.
23Norman L. Geisler, op.cit, 453.

15
2. Pandangan Tentang Kejahatan

Pandangan tentang kejahatan Fenite Godism berbeda dengan pandangan


panteisme. Fenite Godism menegaskan bahwa kejahatan itu nyata. Karena itu,
kehadiran dan kuasa jahat itu melimitasi Allah. kejahatan itu baik secara fisikal maupun
secara moral. Kejahatan jasmani tidak selalu bisa dihindari, tetapi kita dapat
melakukan sesuatu untuk menghindari kejahatan moral. Bersama-sama dengan upaya
Allah untuk berbuat kebaikan, bahkan melebihinya jika perlu, ini adalah bagian dari
tugas moral kita di dunia. Menurut finite Godisme dan dualisme, tidak ada jaminan
kejahatan itu dapat dihancurkan total. Jika Allah mahakuasa, maka pasti akan
menghancurkan kejahatan. Tetapi karena kejahatan selalu ada maka tidak ada
kemahakuasaan Allah. mereka memegang argumentasi seperti ini:
a. Jika Allah mahakuasa, Dia dapat menghancurkan kejahatan
b. Jika Allah mahabaik, Dia akan menghancurkan kejahatan
c. Tetapi kejahatan tidak dapat dibinasakan
d. Karena itu, tidak mungkin Allah mahakuasa dan mahakasih.

Namun, mengutip pandangan Geisler24, argumentasi ini dapat ditanggapi


seperti ini:
a Jika Allah mahakuasa, Dia dapat menghancuran kejahatan
b Jika Allah mahabaik, Dia akan menghancurkan dunia
c. Tetapi kejahatan belum dibinasakan
d. Karena Allah itu memang mahakuasa dan mahakasih

3. Pandangan Tentang Dunia

Beberapa pernyataan mengenai dunia hampir semua sama, bahwa


keberadaan dan perjalanan dunia ini berdasarkan hukum-hukum alam. Bahwa dunia
alami ini tidak abadi atau tidak memiliki energi yang tidak terbatas. Alam semesta
adalah subyek hukum entropi dan berjalan semakin mundur.
Situs intellignetfaith 315.com menyebutkan pula bahwa pandangan finite
godism tentang dunia pada dasarnya menyatakan tidak ada jaminan kemenangan

24Lihat Geisler, 456.

16
Allah atas kejahtan. Sebab Allah bukan pengontrol tertinggi atas semua kejahatan,
penderitaan, dan rasa sakit di dalam dunia. Menurut Rabbi Kushner, orang harus
berdoa untuk Tuhan dan membantunya agar kejahatan di dunia bisa ditaklukan dan
dikalahkan. Sekali lagi mereka menyatakan bahwa Allah terbatas dan perlu dibantu
dalam memerangi kejahatan dunia. Ini akan menjadikan kejahatan lebih utama
daripada kebaikan, bahkan lebih utama daripada Allah.25

4. Pandangan Tentang Mukjizat

Pada dasarnya paham Finite Godism (Allah yang Terbatas) menolak adanya
mukjizat. Beberapa kelompok di antaranya memang mengakui bahwa intervensi
supranatural mungkin saja terjadi secara prinsip, tetapi menolak secara praktis terjadi.
Sikap ini memiliki kesamaan dengan pandangan deisme yang manyatakan bahwa ada
Pencipta yamg supranatural, tetapi menolak semua aspek supranatural. Mereka
melihat mukjizat sebagai pelanggaran terhadap hukum alam.26
Tiga paham lainnya ialah mengenai umat manusia, etika, dan sejarah.

5. Tanggapan

Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa Finite Godism adalah suatu gagasan
tentang Allah, bukan suatu isme, aliran atau orgnisasi kekristenan tertentu. Tokoh-
tokohnya tidak dapat dipastikan datang dari aliran tertentu, bisa datang dari golongan
mana dan latar belakang mana pun yang tidak puas dengan kekrstenan yang mapan.
Kelahiran gagasan Allah yang terbatas ini terjadi karena pengaruh sekularisasi
yang secara rasional berupaya memisahkan diri dengan agama mana pun. Mereka
adalah kaum yang ingin hidup secara independen, tidak diikat oleh otoritas apa pun,
terutama oleh otoritas agama. Karena prinsip sekularisme adalah di sini dan kini, tanpa
ada campur tangan dari luar yang lebih besara dari dirinya. Paham ini muncul akibat
dari keputusasaan atas kehidupan yang dialami manusia, dari penderitaan yang sangat
dalam, ketidakadaan pengharapan pada masa depan, sedangkan teknologi ternyata
tidak dapat memberi solusi yang memuaskan.

25Intelligentfaith315.com: 7 Concepts of God: #5- FINITE GODISM, 13-8,2013.


26
Geisler, 454.

17
G. Idealisme

Paham tentang Allah yang terbatas lain datang dari kaum idealisme. Kelompok
ini menyatakan bahwa Allah adalah intisari dari suatu yang bersifat absolut. Namun,
seklipun Allah itu sempurna, Dia terbatas dan impersonal (tidak berpribadi). Dalam
pandangan kaum idealis, Allah adalah Perancang alam semesta, tetapi bukan yang
mahakuasa. Pada umumnya kaum idealis ini adalah pengikut aliran filsafat Plato.
Pertama kali diperkenalkan oleh Leibniz, sekitar abad ke-18, penganut lainnya di
antaranya ialah John Stuart Mill. Paham ini memiliki nama lain, yaitu serba cita
Berdasarkan filsafat Plato, ideas atau esensi pikiran adalah sesuatu yang
mutlak, dan segala sesuatu berasal dari esensi ini. Idea merupakan archetype atau
esensi awal dan utama yang tidak terikat waktu, sempurna, tidak berubah, bukan
materi dan abadi.27 Dengan demikian kaum idealis memandang Allah adalah suatu
penampilan dari esensi pikiran yang tertingi.
Idealisme datang dari sebuah aliran filsafat yang memandang mental dan idea
sebagai kunci kepada hakikat realitas. Realitas itulah bagi mereka yang dipandangan
sebagai “tuhan,” kalau Tuhan itu ada. Jadi Tuhan juga dipandang sebagai suatu
gagasan belaka.

H. Teisme

Teisme adalah sekumpulan pemahaman atau kepercayaan tentang Allah yang


memiliki Pribadi yang tidak terbatas, yang adikodrati, keberadaannya di luar dan di
dalam dunia, atau Satu Allah yang bersifat transenden dan imanen. Dalam
penggunaan yang paling luas, teisme adalah kepercayaan terhadap satu Allah atau
satu dewa. Beberapa penggunaan lebih kecil menjelaskan bahwa Allah berada dalam
entitas (wujud) yang dapat dikenali tetapi berbeda, sama dengan panteisme.
Penggunaan kecil lainnya mengatakan bahwa dewa adalah kekuatan eksistensi di alam
semesta, dan tidak termasuk sejenis deisme. Teisme dapat dikelompokkan menjadi
banyak jenis, seperti monoteisme (di sini kata Tuhan dikapitalkan) dan politeisme.
Secara umum, teisme menyatakan Allah bukan hanya Satu pribadi yang tidak
terbatas saja, tetapi juga berbeda dari alam semesta ciptaan-Nya, yang diakui terus

27Ali Mudhofir. Kamus Istilah Filsafat. Yogyakarta: Libarty, 1992, 81.

18
berkarya sampai masa kini, sebagaimana keyakinan yang dianut oleh Yudaisme,
Kristen dan Islam. Namun pengertian tentang teisme memiliki beberapa perbedaan
tentang sifat Allah sendiri, sifat penciptaan dan sifat aktivitas Allah, seperti dipaparkan
berikut ini.28 (Geisler, Feinberg: 295-297).
Pertama, teisme berarti kepercayaan tentang satu atau lebih kekuatan
adikodrati, satu atau lebih perancang rohani, satu atau lebih dewa, dan seberapa pun
jenis dan jumlahnya (seperti politeisme), paham ini bersifat menentang ateisme saja.
Kedua, teisme berarti kepercayaan tentang adanya satu Allah saja, entah
berkepribadian atau tidak, entah saat ini giat bekerja dalam dunia atau diam saja.
Pandangan ini mencakup monoteisme, panteisme, panenisme dan deisme, tetapi
menolak ateisme dan politeisme.
Ketiga, teisme berarti kepercayaan akan adanya satu Allah yang
berkepribadian, yang transenden dan imanen, serta berkeberadaan dalam satu wujud
oknum saja. Pandangan ini disebut monoteisme Unitarian. Pandangan inilah yang
dianut oleh baik agama Yahudi, Kristen mapun Islam, yang menolak ateisme,
politeisme, panteisme/panenisme, dan deisme.
Keempat, teisme berarti kepercayaan tentang adanya satu Allah yang
berkepribadian, transenden dan imanen, yang Trinitarian, yang dikenal sebagai Bapa,
Anak dan Roh Kudus. Pandangan ini disebut sebagai Teisme Kristen, yang bertolak
belakang dengan semua agama dan pandangan teisme lain. Pandangan ini disebut
monoteisme Trinitarian. Bukan bersifat unitarian.
Bagi orang Kristen, semua pengertian teisme, selain dari monotesime Tri-
nitarian adalah pemahaman yang salah tentang Allah, dan hanya teisme inilah satu-
satunya yang benar dan sesuai dengan ajaran Alkitab.

I. OPEN THEISM (TEISME TERBUKA)

Open Theism atau Teisme Terbuka adalah sebuah model teologi masa kini
yang memiliki pandangan yang berbeda bila dilihat dari keyakinan Kristen ortodoksi
dan injili pada umumnya. Perbedaan itu berkaitan dengan beberapa sifat Allah yang
dipahami oleh kekristenan klasik, namun, menurut mereka tidak ada dalam Alkitab.
Sehingga paham ini disebut para ahli sebagai kaum injili Amerika yang konservatif.

28Geisler, Feinberg, op.cit, 295-297

19
Sifat Allah yang dipahami secara kontroversial, dari versi ortodoksi yang bereaksi
terhadapnya, adalah tentang kekekalan, kemahatahuan dan kedaulatan Allah.
Internet Encyclopedia of Philosophy menyebutkan, Open Theisme mengusung
tesis bahwa karena Allah mengasihi kita dan menginginkan agar kita bebas memilih
untuk membalas kasih-Nya, Dia telah membuat pengetahuan dan rencana untuk masa
depan bersyarat pada tindakan kita. Meskipun mahatahu, Tuhan tidak tahu apa yang
kita bebas lakukan di masa depan. Meskipun maha mahakuasa, Dia telah memilih
mengundang kita untuk bebas berkolaborasi dengannya dalam mengatur dan
mengembangkan ciptaan-Nya, sehingga juga memungkinkan kita bebas untuk
menggagalkan harapan-Nya bagi kita. Allah menginginkan agar kita masing-masing
secara bebas masuk ke dalam hubungan pribadi yang penuh kasih dan dinamis
dengan-Nya, dan karena itu Dia telah meninggalkan itu terbuka bagi kita untuk
memilih atau menentang kehendak-Nya.29
Ada ada beberapa pandangan Teisme Terbuka tentang sifat-sifat Allah.
Pertama, Alkitab tidak menyatakan tentang impassibilitas (ketidakpenderitaan) Allah,
sebab Allah sangat terlibat dalam waktu dan sejarah.
Kedua, kalau menurut kekristenan klasik Allah itu tidak mungkin mengalami
penderitaan, maka dalam pandangan Teisme Terbuka, Allah bisa mengalami
penderitaan, sebab Allah di dalam Alkitab menunjukkan hasrat, emosi dan mengalami
derita, seperti sedih, bahkan mati.
Pandangan ketiga, mengenai immutabilitas (keabadian, ketidakberubahan)
Allah. Menurut mereka, Alkitab tidak menyatakan tentang keabadian Allah. Dia terbuka
dalam perubahan dan sangat terlibat dalam waktu. Allah memang setia, tetapi bukan
berarti tidak berubah. Allah berubah dalam arti bereaksi terhadap respon manusia
terhadap Dia.
Keempat, mengenai kedaulatan Allah. Mereka menegaskan bahwa Allah
berdaulat dalam menetapkan alam semesta, tetapi menolak pandangan klasik yang
menyatakan bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu yang terjadi dalam prinsip
determinisme (menakdirkan), seperti pandangan dari Augustinus (Katolik), dan Calvin
(Protestan). Sebab Allah menghargai kebebasan manusia dan masuk dalam hubungan

29Internet Encyclopedia of Philisophy: www.iep.utm.edu/o-theism, diakses Rabu, 25-3-

2015, pk.8:15.

20
dengan manusia yang menggunakan kehendak bebasnya. Sehingga, menurut mereka,
sejarah tidak diskenariokan, dan kebebasan bukanlah hanya idealisme atau khayalan.
Sifat Allah kelima yang dipahami berbeda adalah mengenai kemahatahuan
Allah. Pengikut Teisme Terbuka menyatakan bahwa segala sesuatu yang belum ada
tidak dapat ketahui, sekalipun oleh Allah. Jika keputusan bebas masa depan manusia
masih belum ada, Allah juga tidak mengetahuinya. Allah mengetahuinya ketika itu
dibuat, dan akan mengertinya lebih baik.
Berikut ini pandangan Open Theisme lebih lanjut yang dikutip dari artikel yang
ditulis oleh Budi Setiawan berdasarakan tulisan Fisher Humphrey, dalam situs
http://www.gsja.org, diakses pada Sabtu, 3-3-2012.
Fisher Humphrey, dalam sebua artikel tentang ciri trend teologi masa kini,
menulis tentang Open Theism yang perlu direnungkan oleh para hamba Tuhan yang
melayani pada tingkat gereja lokal.
Teisme Terbuka adalah suatu sikap yang memiliki pengertian tentang Allah
yang berbeda dari teisme Kristen klasik, khususnya tentang sifat-sifat Allah. Seorang
yang menganut Teisme Terbuka akan menolak beberapa sifat Allah yang dipegang
oleh teisme klasik, dan membaharui pengertian beberapa sifat ilahi yang dikenal
selama ini.

1. Penganut dan Kontroversi Pandangan

Kebanyakan tokoh Teisme Terbuka adalah orang-orang Injili Amerika yang


konservatif, contohnya dalam pandangan tentang ketidakbersalahan Alkitab. Beberapa
teolog bukan Injili Amerika yang memegang pandangan serupa, misalnya Jurgen
Moltmann dan John Polkunghorne.
Teisme Terbuka mulai dibicarakan secara luas tahun 1994 melalui sebuah
publikasi buku berjudul The Openness of God, yang ditulis oleh 5 orang, yaitu Richard
Rice, John Sanders, Clark Pinnock, William Hasker dan David Basinger.
Sekalipun jumlah teolog yang menyatakan diri sebagai bagian dari Open
Theism masih sedikit, tetapi topik tersebut telah luas didiskusikan di kalangan Injili.
Dalam majalah Christianity Today, sebagai contoh, disebutkan bahwa ada 3 diskusi
luas dari pengertian tentang Allah.
Teisme Terbuka ini telah menciptakan suatu kontroversi di Baptist General
Conference, suatu denominasi yang dimulai di Swedia dan kira-kira ada 850 gereja di

21
Amerika. Salah satu tokohnya adalah George A. Boyd, selama 16 tahun ia sebagai
profesor di Bethel College; sedangkan seorang yang berlawanan dengan Open Theism
adalah John Piper.
Teisme Terbuka telah diperedebatkan di kalangan Masyarakat Teologis
Injili/Evangelical Theological Society (ETS). Tahun 2001, ETS mengadakan voting
untuk mengkonfirmasikan pandangan teisme klasik melawan Teisme Terbuka.
Tahun 2003, Pinnock dan Sanders diperiksa oleh sembilan anggota komite ETS
dan pada rapat tahunan ETS secara bulat mempertahankan Pinnock tetapi tidak bisa
mempertahankan Sanders. Tahun 2004, Sanders diberhentikan dari posisi
mengajarnya di Huttington College.
Tahun 1999 Southern Baptist Convention mengadopsi suatu resolusi melawan
Open Theism. Tahun 2000 pada artikel iman Baptis Faith and Message ditambahkan
kalimat tentang Allah yang melawan Teisme Terbuka.
Jika di dalam teisme klasik, salah satu sifat Allah adalah kekal. Karena bagi
Allah masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang adalah sama saja, yaitu
kekinian. Tentu saja, Allah menyadari bahwa manusia mengalami waktu secara
berurutan, tetapi Allah tidak. Sebagaimana seorang novelis berada di atas waktu
ketika ia menuliskan novelnya, demikian juga dengan Allah, mengatasi waktu bumi ini.
Bagi beberapa penganut teisme klasik, kekekalan Allah-lah yang membuat mungkin
bagi Allah untuk mengetahui masa depan tanpa perlu menentukan masa depan.

2. Kontroversi Ajaran Open Theisme Tentang Allah

a. Kontroversi Kekekalan Allah

Pengikut pandangan Teisme Terbuka beralasan bahwa Alkitab tidak


mengajarkan Allah adalah kekal. Mereka juga berpandangan bahwa Allah sangat
terlibat dalam waktu dan sejarah. Paling tidak seorang yang dulunya percaya tentang
kekekalan Allah telah mengakuinya dalam buku “Mere Christianity”, yaitu CS Lewis,
yang berkata, “Ide tentang kekekalan Allah telah cukup menolong saya. Jika hal ini
tidak menolong anda, tinggalkan saja … Ini tidak ada dalam Alkitab dan dalam
pengakuan iman manapun.” Jadi kelihatannya bagi saya ia benar, dan ini adalah
implikasi dari pengetahuan ilahi.

22
b. Kontroversi Impassibilitas (Ketidakmenderitaan) Allah

Sifat Allah kedua yang dipegang secara klasik adalah bahwa Allah tidak
mungkin mengalami penderitaan (Impassibility). Sebagaimana 39 Artikel dari Gereja
England menyatakannya, bahwa Allah adalah “Tanpa tubuh, bagian dan hasrat”.
Penganut Teisme Terbuka berpendapat bahwa Alkitab tidak menyatakan bahwa Allah
tidak memiliki hasrat dan bahkan Alkitab sering menggambarkan Allah mengalami
emosi termasuk penderitaan. Paling tidak 3 teolog Baptis kontemporer setuju secara
persuasif bahwa Allah mengalami penderitaan; tokoh seperti Paul Fiddes dari Regent
Park Colleges di OXford, Warren Mc.Williams dari Oklahoma Baptist University, dan
Frank Tupper dari Divinity School di Wake Forest University. Juga ilmuwan Perjanjian
Lama Baptis bernama Samuel Balentine di Union Theological Seminary. Nancey
Murhpy, seorang filsuf ilmu pengetahuan di Fuller Theological Seminary juga
memegang pandangan serupa. Tidak ada satu pun dari antara mereka yang menjadi
bagian dari gerakan Open Theism.

3. Kontroversi Ketidakberubahan Allah

Sifat ilahi ketiga yang dipegang oleh teisme klasik adalah immutability, yang
berarti bahwa Allah tidak dapat berubah. Penganut Open Theism berargumentasi
bahwa Alkitab mengajarkan Allah adalah setia, bukannya tidak berubah. Bahkan,
menurut mereka, Alkitab mengajarkan bahwa Allah berubah dalam pengertian bahwa
Allah bereaksi terhadap respon manusia yang menanggapi inisiatif Allah.
Penganut Open Theism berkata bahwa ketiga sifat Allah nampak dalam tradisi
Kristen bukan karena Alkitab memang mengajarkan demikian tetapi karena para teolog
pada zaman patristik mengambil filosofi Yunani masuk ke dalam kekristenan. Teisme
klasik, menurut mereka, adalah ciptaan hibrid yang merupakan gabungan elemen-
elemen Alkitab dan elemen dari filsafat. Pinnock menuliskan, “Doktrin klasik tentang
Allah memiliki asal mula ganda, yaitu dari dalam Alkitab dan dari dalam pemikiran
Yunani … ini perlu dikristenkan (Most Moved Mover). Pengikut Open Theism tidak
mengklaim bahwa mengadopsi ide filosofis selalu salah, tetapi mereka berkata bahwa
ketiga sifat Allah tersebut adalah tidak berdasar kepada Alkitab.
Pengikut Teisme Terbuka berkata benar bahwa Plato dan Aristoteles
mengajarkan tentang Allah itu immutable. Plato berargumentasi bahwa Allah tidak

23
dapat berubah karena perubahan dapat mengarah ke “lebih baik” atau “lebih buruk”.
Jika Allah berubah menjadi lebih baik, maka berarti Allah tidak sempurna, dan jika
Allah menjadi lebih buruk, Allah juga tidak sempurna. Dan salah satu gelar yang
diberikan Aristoteles kepada Allah adalah “The Unmoved Mover” (Penggerak yang
tidak berubah- pen), Dia yang sementara tidak tergerakkan, menggerakkan semesta
dengan menjadi obyek dari hasratnya sendiri. Clark Pinnock memberikan signal
tentang penolakkannya atas pengertian tentang Allah seperti ini dengan memberikan
judul buku terbarunya “Most Moved Mover” (Penggerak yang sangat berubah-pen).

4. Kontroversi Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas

Teisme Terbuka juga menuntut suatu revisi, meskipun bukan penolakkan, atas
dua sifat Allah lainnya. Pertama tentang kedaulatan Allah. Pengikut Teisme Terbuka
menegaskan bahwa Allah berdaulat, tetapi mereka menolak bahwa kedaulatan berarti
Allah mengendalikan segala sesuatu yang terjadi. Mereka menolak determinisme
teologis yang selama ini dikaitkan dengan Agustinus dalam gereja Katolik, dan
Calvinisme dalam gereja Protestan. Mereka menegaskan bahwa Allah yang berdaulat
telah menetapkan untuk menciptakan semesta dari manusia yang merdeka yang
dengan mana Allah menginginkan untuk masuk dalam hubungan kasih yang hanya
bisa dilakukan jika manusianya merdeka, atau bebas.
Alternatif ajaran Calvinisme biasanya adalah Arminianisme. Seperti
Arminianisme, mereka yang percaya Teisme Terbuka menegaskan teisme kehendak
bebas. Dengan kebebasan, baik Arminianisme dan Teisme Terbuka mengartikannya
kemerdekaan libertian, yaitu kebebasan yang tidak dikendalikan oleh Allah, dibanding
dengan kebebasan compatibilis, yaitu kebebasan yang secara misterius cocok dengan
apa yang telah Allah putuskan tentang pilihan yang diambil manusia. Sebagaimana
Pinnock menuliskan, “Sejarah tidak diskenariokan dan kebebasan bukan khayalan.”

5. Kontroversi Tentang Kemahatahuan Allah

Teisme Terbuka percaya bahwa Arminianisme klasik tidak sepenuhnya


konsisten, lalu mereka berjalan lebih jauh membangun ajaran kontroversial mereka
dalam sifat ilahi kelima, yang disebut ‘mahatahu.’ Pengikut Teisme Terbuka
menegaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang harus diketahui, itu adalah

24
pandangan klasik. Tetapi kemudian mereka menambahkan suatu ide lain, yaitu bahwa,
segala sesuatu yang belum ada tidak dapat diketahui, sekalipun oleh Allah. Lebih
tepatnya, keputusan bebas masa depan manusia masih belum ada, jadi Allah juga
tidak mengetahuinya. Allah mengetahuinya ketika itu dibuat, dan akan mengertinya
lebih baik daripada pembuatnya, dan sampai itu dibuat atau dijadikan, Allah hanya
mengetahui kemungkinan, bukan mengetahui yang sebenarnya bakal terjadi.
Gregory Boyd mendaftarkan contoh dalam Kel. 32:14, Yoel 2:13-14, Kej. 6:5-
6, 1 Sam. 15:11,35, Yes. 5:3-7, Bil 14:11, dsb., sebagai dukungan kepada posisi
Teisme Terbuka dalam hal pengertian baru terhadap ‘kemahatahuan Allah’.
Rabbi Harold Kushner dalam bukunya “When Bad Things Happen to Good
People” lebih mendalilkan teologi proses. Ia menuliskan bahwa Allah yang terbatas
tidaklah mahakuasa dan mahatahu tetapi kekurangan kekuatan dan pengetahuan
yang diperlukan untuk menghindarkan kejahatan yang terjadi di dunia kita. Sang Allah
ini tidak menciptakan dunia dari ‘ketiadaan’ tetapi paling tidak telah turut membentuk
seperti yang kita lihat sekarang.
Pengikut Open Theism menolak pandangan teologi proses tersebut. Bagi
mereka Allah tetaplah Allah yang tidak terbatas, maha tahu dan maha kuasa sekalipun
mereka percaya bahwa ciptaan Allah mencakup pembatasan diri Allah dan tindakan
pengorbanan diri. Allah berubah ketika Dia menjadi Pencipta bumi. (Sumber:
http://www.gsja.org, diakses pada Sabtu, 3-3-2012)

25
BAB III
PENUTUP

Melaui pemaparan tentang tanggapan banyak kelompok, baik di dalam atau di


sekitar kekristenan menunjukkan bahwa pandangan kontemporer dan filosofi tentang
Allah itu sangat beraneka ragam. Pandangan itu dapat muncul kapan saja dan dianut
oleh siapa saja, namun yang jelas semua bukan kekristenan yang alkitabiah.
Penelitian ini tidak memberika penilaian secara khusus, namun mengingatkan
bahwa kekristenan yang tidak alkitabiah akan melahirkan juga pemahamn yang tidak
alkitabiah yang campur dan mencampurkan pemahaman mereka sendiri.
Akhirnya, sekadar untuk mengingatkan kembali, seperti dikatakan oleh Aiden
Wilson Towzer, “Tidaklah mungkin bagi kita untuk menjaga agar tindakan moral kita
tetap baik dan sikap batin kita tetap benar, apabila pandangan kita tentang Allah salah
dan tidak memadai.” Tuhan Yesus menolong kita!

26
DAFTAR PUSTAKA

End, Th Van den. Harta Dalam Bejana, Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2005, 233, 230, 232, 231.

Geisler, Norman L. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapid: Baker


Books, 1999.

Geisler, Norman L. dan Paul D. Feinberg. Filsafat Dari Perspektif Kristisni. Malang:
Gandum Mas, 2002.

Hill, Daniel J. dan Randal D. Rauser. Christian Philosophy A–Z. Edinburgh: Edinburgh
University Press, 2006, 17. Kamus Istilah Filsafat. Yogyakarta: Liberty, 1992.
Mudhpfir, Ali.
Pascal's Pensees Part III — "The Necessity of the Wager" The wager argument itself
is found in #233 (Trotter translation), dalam Kiwix
Raines, John. "Introduction". Marx on Religion (Marx, Karl). Philadelphia: Temple
University Press, 2002, dalam Kiwix.
Sadono, Sentot. Doktrin Baptis Di Antara Pandangan Teologi Kristen. Semarang: STBI,
2001.

Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1995.

Tjahjadi, Simon Petrus L. Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari
Zaman Yunani hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius. 2004.
Tozer, A.W. Mengenal Yang Mahakudus. Bandung: Kalam Hidup, 1995.

Sumber dari situs internet dan versi Offline

http://WWW.gsja.org.

Kiwix, Ensiklopedia Bebas Bahasa Indonesia Wikipedia versi Offline.

Meyer, Rick. E-Sword, Bible Softwear, 2012.


Interntional Standard Bible (ISBE), dalam: E-Sword, Bible Softwear, 2012.
Internet Encyclopedia of Philisophy: www.iep.utm.edu/o-theism, diakses Rabu, 25-3-
2015, pk.8:15.

27