Anda di halaman 1dari 61

SILABUS

PROGRAM STUDI : TEOLOGI/KEPENDETAAN


KELOMPOK/NOMOR : -
NAMA MATA KULIAH : PEMBIMBING PENGETAHUAN PL
DOSEN PENGAMPU : PDT. FATI ARO ZEGA, M.TH
BOBOT : 2 SKS
SEMESTER : I (SATU)
PRASYARAT :
BANYAKNYA PERTEMUAN/ : 14 X (2 X 50 MENIT)
WAKTU TIAP PERTEMUAN

STANDAR KOMPETENSI:
Mahasiswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang latar belakang, tema-tema dan ajaran, serta proses
kanonisasi Kitab-kitab Perjanjian Lama.

KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menjelaskan latar belakang Perjanjian Lama
2. Mampu menjelaskan tema-tema dan ajaran Perjanjian Lama
3. Mampu menjelaskan proses kanonisasi Perjanjian Lama
4. Mampu menjelaskan perbedaan susunan Alkitab Perjanjian Lama versi Yudaisme dan Alkitab versi lainnya
5. Mampu membuat peta kisah perjalanan mulai dari para patriakh Israel sampai kembalinya bangsa Israel dari
pembuangan Babel.
6. Mampu mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting yang terdapat dalam Perjanjian Lama

URUTAN DAN RINCIAN MATERI


1. Latar belakang PL
2. Tema-tema dan ajaran dalam kitab Pentateukh, kitab Sejarah, kitab Puisi dan kitab Para Nabi
3. Kanonisasi PL
4. Perbedaan susunan PL Yudaisme dan Alkitab versi lainnya.
5. Membuat peta kisah perjalanan perjalanan mulai dari para patriakh Israel sampai kembalinya bangsa Israel dari
pembuangan Babel
6. Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dalam PL

INDIKATOR HASIL BELAJAR


1. Menjelaskan latar belakang Perjanjian Lama
2. Menjelaskan tema-tema dan ajaran Perjanjian Lama
3. Menjelaskan proses kanonisasi Perjanjian Lama
4. Menjelaskan perbedaan susunan Alkitab Perjanjian Lama versi Yudaisme dan Alkitab versi lainnya
5. Membuat peta kisah perjalanan mulai dari para patriakh Israel sampai kembalinya bangsa Israel dari
pembuangan Babel.
6. Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting yang terdapat dalam Perjanjian Lama

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN

PENDEKATAN : Individual dan partisipatoris

PENGALAMAN BELAJAR : 1. Mahasiswa mendengar penjelasan dosen


2. Mahasiswa meneliti pentingnya kanon dalam Alkitab PL.

FAZ | i
3. Mahasiswa mengemukakan perbedaan susunan beberapa versi
Alkitab PL.
4. Mahasiswa mendiskusikan isu-isu yang menyerang kewibawaan
Alkitab PL.
5. Mahasiswa menganalisis tema-tema, garis besar, dan makna rohani
Alkitab PL.

METODA : Ceramah, diskusi, seminar dan tugas-tugas

TUGAS : Membuat peta perjalanan tokoh dan pelbagai peristiwa penting dalam PL.

:
STANDAR PENILAIAN 1. Partisipasi dan kehadiran : 10 %
2. Diskusi dan presentasi : 20 %
3. Laporan analisis buku : 20 %
4. UTS : 25 %
5. UAS : 25 %

TEKNIK : TERTULIS

BENTUK SOAL : Tes Tertulis, Porto Folio, unjuk kerja.

MEDIA : Komputer dan LCD Proyektor, Whiteboard dan alat tulis

PRASYARAT :

SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja
9. Literatur:
1) Archer, Gleason. L. Jr. A Survey of Old Testament Introduction. Chicago: Moody Press, 1974.
2) Baker, David L., Mari Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: BPK GM, 2009.
3) Deuren, A. van. Purbakala Alkitab dalam Kata dan Gambar. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.
4) Drane, John. Memahami Perjanjian Lama. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2002.
5) Dyrness, William. Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2001.
6) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih (OMF), 2003
7) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 2, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih (OMF), 2005.
8) Green, Dennis. Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama. Malang;: Gandum Mas.
9) Groenen, C. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama. 2 Jilid. Yogyakarta: Kanisius, 1980.
10) Hill, Andrew. Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 1995.
11) Kaiser Jr., Walter C., Teologi Perjajian Lama. Malang: Gandum Mas, 2020.
12) LaSor, W. S., Hubbard, D. A., Bush F. W., Pengatar PL 1. Jakarta: BPK-GM, 2005.
13) Mulder, D.C. Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1963
14) Rowley, h.H. Atlas Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979.
FAZ | ii
15) Wilkinson, Bruce dan Boa, Kenneth. Talk Thru The Bible. Nashville: Thomas Nelson Publishers.
16) Packer, J.I., Merrill C. Tenney, William White, Jr. Ensiklopedia Fakta Alkitab -- Bible Almanac (Nelson’s Illustrated
Encyclopedia Of Bible Facts). Malang: Gandum Mas, 2001.

Tugas-tugas
1. Resensi buku. Mengungkapkan latar belakang penulisan buku, pesan dan inti tulisan, memaparkan
manfaat, keistimewaan, dan apa yang mungkin masih perlu dikembangkan dalam buku (5 – 8 halaman).
2. Meringkas buku. Menentukan inti setiap bab atau sub-bab dan memberi kesimpulan dari segi bahasa, nilai
teologis dan manfaat buku tersebut (5-8 halaman).
3. Makalah (10 – 18 halaman)
Membuat makalah dalam tiga bab: Pertama pendahuluan (1–2 halaman), bab bahasan (8–15 halaman),
dan bab kesimpulan/penutup (1 halaman).
4. Membuat tanggapan atas buku bacaan yang diwajibkan minimal dalam 7 tanggapan evaluatif

FAZ | iii
MOTTO

Tujuan Utama Perkuliahan


Agar setiap orang “Mengenal Yesus Kristus lebih jelas, mengasihi-Nya lebih sungguh, dan mengikuti-Nya
lebih dekat” (Richard Chichester: dalam W. Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari).

Prinsip Doktrin
Di dalam Keristenan doktrin bukan segala-galanya,
tetapi tidak yang lebih penting dalam Kekristenan daripada doktrin

“Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet”


Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam
Perjanjian Baru (Agustinus, Hept. 2,73, lih. Dei verbum 16)

FAZ | iv
DAFTAR ISI

COVER............................................................................................. 0
SILABUS........................................................................................... i
MOTTO............................................................................................ v
DAFTAR ISI....................................................................................... vi
PENGANTAR...................................................................................... vii

FAZ | v
PENGANTAR

Perjanjian Lama adalah sebuah koleksi atau perpustakaan kecil dari sejumlah buku atau
kitab yang dinamakan Kitab Suci yang berotoritas. Mengadung berbagai isi yang bersifat
keimanan, sejarah dan informasi. Selain memiliki cakupan waktu yang sangat panjang, juga
berbagai ragam data terdapat di dalamnya. Karena itu, untuk mempelajari Perjanjian Lama,
sekalipun sekadar latar belakangnya, adalah suatu yang tidak mungkin dapat dikerjakan
dalam satu bahan yang dibatasi ruang lingkup, spasial dan temporalnya.
Alkitab Perjanjian Lama, atau sering pula disebut Alkitab Ibrani ini, sudah sangat kuno.
Namun luar biasa dan istimewa isinya, sekalipun tak begitu saja mudah dimengerti, tanpa
mengerti latar belakangnya.
John Drane berkta, “Di antara semua literatur yang kita dapatkan dari kebudayaan
dunia, purba tidak ada yang lebih mengagumkan atau lebih provokatif daraipada Alkitab
Ibrani… Namun, bagi banyak orang, Alkitab Ibrani membingungkan untuk dibaca dan sulit
untuk dimengerti.” 1
Pada suatu perspektif tertentu dan di masa tertentu, Alkitab Perjanjian Lama ini
sempat diabaikan, dipandang terlalu kuno dan tidak relevan lagi untuk masa kini, terlebih
bagi dunia Kristen. Menurut orang-orang yang berkeyakinan seperti ini, adalah lebih penting
untuk mempelajari dan mengutamakan bagian Alkitab sesudahnya, sebab lebih Kristen, yaitu
Alkitab Perjanjian Baru. Tentu pandangan ini terlalu sinis, bahkan cupat. Sebab kedua
Alkitab Perjanjian itu sama-sama penting dan saling berkaitan tidak terpisahkan.
LaSor, dan kawan-kawan, mengatakan bahwa Perjanjian Lama adalah Kitab Suci yang
dipergunakan oleh Kristus dan murid-Nya. Kecuali dalam 2 Petrus 3:16, istilah ‘Kitab Suci’
atau ‘Kitab-kitab Suci’ dalam Perjanjian Baru menunjuk pada Perjanjian Lama (misalnya Yoh
5:39; 10:35; Kis 8:32; Gal 3:8; 2Tim 5:15). Selama sekitar dua puluh tahun setelah Kristus,
bagian-bagian Perjanjian Baru yang ada hanya merupakan cuplikan yang berisi kisah-kisah
tentang kehidupan dan pengajaran-Nya…, dasar untuk pemberitaan dan pengajaran Kristen
adalah Perjanjian Lama, sebagaimana ditafsirkan kembali oleh Kristus sendiri. 2
Selain Tuhan Yesua yang dengan jelas mengakui otoritas penuh dan sifatnya yang
mengikat dari Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci, dan menyatakan diri sebagai penafsir
Kitab Suci yang sejati, Paulus juga merupakan salah seorang Rasul yang mengakui
pengilhaman dan otoritas penuh dari Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci, 3 seperti nya dalam
1Kor 15:1-3, 2Tim 3:16. Mengambil contoh Rasul Paulus di sini mengingat dia orang yang
paling banyak menulis di Perjanjian Baru, dan karenannya mengutip Perjanjian Lama paling
banyak. Maksud semua ini untuk menegaskan betapa pentingnya Perjnjian Lama bagi iman,
teologi dan standar etika umat beriman di sepanjang masa.

1
John Drane, Memahami Perjanjian Lama 1. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2002, v.
2
WS. LaSor, D. A. Hubbard, F. W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1. JHakarta:BPK Gunung Mulia, 2005, 5.
3
LaSor, et.al, 25, 27.
FAZ | vi
BAB I
PENDAHULUAN

Perjanjian Lama, selanjutnya disingkat “PL” saja adalah sekumpulan kitab yang
menjadi dasar dari keyakinan Kristen, yang bersama-sama dengan Perjanjian Baru
(selanjutnya disingkat PB), menjadi landasan iman, teologi, dan tentu pada giliran
selanjutnya dasar dari etika Kristen. Keduanya disebut sebagai Firman Allah. Terbentuk
menjadi Kitab Suci dari hasil pengilhaman Allah kepada para penulisnya.
Pelajaran Pengantar Perjanjian Lama ini adalah bagian dari Studi Perjanjian Lama,
suatu sub-bidang dari Teologi Biblikal. Dalam Pelajaran Pengantar ini akan dibahas latar
belakang PL, tema-tema dan ajaran dalam kitab Pentateukh, kitab Sejarah, kitab Puisi dan
kitab Para Nabi, Kanonisasi PL, perbedaan susunan PL Yudaisme dan Alkitab versi lainnya
dan peristiwa-peristiwa penting dalam PL

A. Fakta Pentingnya Perjanjian Lama

Fungsi PL dalam Alkitab setara dengan PB, sekalipun pada masa kini kaum Liberal
telah masuk merusak citra PL, sehingga lebih memberi superioritas kepada PB. Bagi Kaum
Injili sejati, PL dan PB adalah Kitab Suci yang seutuhnya dan saling melengkapi. Seperti
dikatakan oleh Agustinus, “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama sedangkan
Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru” (novum in vetere latet et in novo vetus
patet). Namun, seperti dikatakan oleh William Dyrness, sebuah buku mengenai PL sekarang
ini tidak akan menjadi buku yang laris. Sebabnya sederhana saja. Sering kali orang- orang
Kristen memberikan waktu terbanyak untuk mempelajari PB, dan hanya sekali-sekali
menyelidiki kitab Mazmur dan Amsal, atau kadang-kadang ditambah dengan kitab nabi-nabi.
Akibatnya ialah bahwa banyak orang Kristen gagal untuk memahami keseluruhan wawasan
pengungkapan Allah tentang diri-Nya sendiri, gambaran mereka tentang maksud-maksud
Allah tidak sempurna. Bahkan PL tidak diterjemahkan ke dalam semua bahasa di dunia. Jika
para misionaris dan pendeta mendasarkan seluruh pengajaran mereka pada PB saja maka
mereka tidak akan dapat mengajarkan Firman Allah seutuhnya. Padahal sering kali terdapat
jembatan alamiah di antara PL dengan kebanyakan orang, terutama yang berasal dari
kebudayaan bukan Barat. Ajaran PL berlatarkan rumah tangga dan pasar, kasih setia Allah
disampaikan dalam bentuk konkret. Jelaslah sudah bahwa Perjanjian Baru tidak dapat
berdiri sendiri. Kalau PB terutama berfokus pada seorang pribadi di hadapan Allah, maka Pl
menekankan hubungan yang bersifat umum (keluarga, masyarakat, dan negara). Di Sinai
Allah memberikan kepada umatNya suatu gaya hidup yang egalitarian (sederajat) dan
manusiawi. Pendek kata, PL mengajarkan suatu cara hidup di mana hak-hak setiap orang
dilindungi. 4

4
William Dyrness. Tema-tema- Dalam Teologi Perjanjian Lama. (Gandum Mas, 2001, 3-4.
FAZ | 1
Andil PL terhadap iman Kristen tidak akan dapat dieliminasi oleh fakta kekunoannya.
Sekalipun PL adalah kumpulan dokumen yang ditulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu,
bahkan ada yang sudah tiga milenium. PL itu tetap wajib dipelajari pada kekinian zaman,
tidak bisa diandaikan seperti membeli baju baru, yang lama dapat dibuang. Ketidakusangan
dan peran PL di segala zaman antara lain karena:
a. PL merupakan Alkitab Yesus Kristus, dasar pengajaran-Nya, serta menggenapi
nubuat-nubuta PL dalam diriNya (misalnya Luk. 4:16-21; Yoh 15:25).
b. PL sering dikutip oleh PB. Ada kurang lebih 2650 kutipan dari PL dalam PB, yaitu
kurang lebih 350 kutipan langsung, dan 2300 kutipan tidak langsung, serta
persamaan bahasa. Dengan kata lain, terdapat rata- rata satu kutipan PL dalam
setiap tiga ayat PB. Kitab Yesaya dan mazmur paling sering dikutip (masing-masing
lebih dari 400 kali); dan hanya kitab Kidung Agung yang tidak dikutip dalam PB.
c. PL merupakan dasar untuk pengertian Perjanjian baru antara lain:
1) Dari segi bahasa (PB ditulis dalam sejenis bahasa Yunani yang banyak dipengaruhi oleh
bahasa-bahasa PL)
2) Dari segi sejarah, sejarah PL dilanjutkan oleh sejarah PB.
3) Dari segi teologi (tema-tema teologi PL, seperti penciptaan, dosa, hukuman,
pertobatan, kurban, keselamatan dan sebagainya menjadi dasar teologi PB).
4) Baik dalam PL maupun PB menyatakan Allah yang Esa. Allah Israel adalah sama dengan
Bapa Yesus Kristus, sifat-Nya sama (Mahakuasa, Mahakudus, Mahapengasih, Mahatahu,
dst)
5) Rencana-Nya sama (untuk keselamatan manusia dan penyempurnaan dunia yang
diciptakan-Nya).
6) Tuntutan-Nya sama (hidup yang suci; kasih kepada Allah dan sesama manusia).
7) PL merupakan firman Allah. Allah berbicara melalui PL, sebagaimana juga melalui PB,
untuk menyatakan kasih dan kehendak-Nya kepada manusia.
8) PL mengandung sastra yang indah, termasuk cerita yang termasyur, seperti cerita Yusuf,
Rut, Daud, Elisa,Yunus, Ester dan sebagainya; dan puisi yang bagus seperti dalam Kitab
Ayub, Mazmur, Yesaya dan lain-lain.
d. PL adalah bagian dari rencana Allah. Cara Allah menyatakan Diri-Nya kepada
manusia adalah dengan memberikan Penyataan Umum dan Penyataan Khusus.
Penyataan umum melalui alam, sejarah, hati nurani manusia. Penyataan khusus
melalui Firman dan Yesus Kristus. Di dalam Penyataan-penyataan inilah Allah
menyatakan Diri dan rencana-Nya. (Rm 1:19-20; Yes. 52:10).
e. PL adalah bukti kedaulatan dan kesetiaan Allah. Di balik cerita sejarah bangsa
Israel, PL menjadi bukti penting kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta yang
diciptakan-Nya. Dialah yang mengawasi sejarah Israel dan yang akan menyelesaikan
rencana-Nya tepat pada waktu yang ditetapkan-Nya (Fil 1:6). Dia juga yang memilih
hamba-hamba-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya untuk.

FAZ | 2
B. Barier Studi Perjanjian Lama

Mempelajari PL adalah tugas yang amat besar, walau bukan sesuatu yang mustahil.
Sebab ada gap atau kesenjanga yang tidak kan mungkin dilintasi, sperti kesenjangan waktu
dan buadaya. Namun, jika dengan persiapan yang tepat dapat menolong untuk “menuai
panen” yang melimpah dari kedalaman berita PL untuk memperkaya orang Kristen
kontemporer. Para ahli juga mengakui ada banyak barrier dan kesulitan kekinian dalam
mepelajari PL. Ada banyak faktor yang menyulitkan.

1. Barier Bahasa dan Budaya


Kitab-kitab PL tidak disampaikan dalam bahasa atau kebudayaan kekinian. Kitab PL
ditulis dicatat dalam dua bahasa yaitu, bahasa Ibrani dan bahasa Aram (Kejadian 31:47;
Yeremia 10:11; Ezra 4:8). Dalam PL terdapat empat jenis sastra dasar yaitu: hukum, kisah
sejarah, syair dan nubuat. Bahasa Ibrani PL adalah suatu sistem penulisan abjad dan
tergolong sebagai bahasa Semit Barat Laut yang jauh berbeda dengan sistem penulisan
modern Sebab itu, kitab-kitab PL kadang-kadang tidak dapat secara jelas diterjemahkan
dalam bahasa-bahas kekinian. Sehingga, harus bekerja lebih keras untuk dapat memahami

berita yang disampaikan agar jelas. Contohnya, seperti kata “saris” (syris' ), dalam Kej
39:1 dengan Yes 53:3-4; Est 2:3.

2. Barier Budaya
Bangsa Israel yang diceritakan PL merupakan bangsa dengan kebudayaan yang khas hasil
pembentukan melalui waktu dan percampuran budaya dari banyak budaya lain yang berlaku
pada masa itu. Misal, “cara mereka bermata pencaharian, bagaimana mereka bersosialisasi,
berkeluarga, melakukan penyembahan atau menjalankan hukum adat istiadat. Juga hal-hal
mengenai perumahan, makanan, pakaian, alat-alat bercocok tanam, senjata perang, alat
transportasi, benda-benda seni, alat-alat penyembahan, alat-alat masak, dan lain lain.
Karena itu, semakin memahami kebudayaan Timur Dekat Kuno, selama zaman PL, semakin
menyingkirkan penghalang-penghalang yang ada”. 5

3. Barier Geografi
Konteks geografi zaman Alkitab sangat asing bagi pembaca modern sekarang. Tempat di
mana peristiwa-peristiwa dan penulisan-penulisan terjadi telah terjadi “perubahan yang
cukup drastis antara keadaan waktu lampau dan sekarang sehingga kadang-kadang kita
sudah tidak mempunyai informasi lagi tentang tempat-tempat itu.” 6

4. Barier Praduga, Minat dan Ketekunan

5
Kumpulan Silabus <@195> [Buku/Topik] (51/151), dalam Sabda/OBL versi 5.0, 2019
6
Loc.cit.
FAZ | 3
Faktor-fakto lain yang bias menjadi barrier dalam memahami PL, pertama, orang
Kristen telah memiliki praduga yang salah tentang PL sehingga cenderung hanya memilih
berita yang disukai dan mengerti, kemudian mengabaikan isi berita PL yang lain. Setiap
orang semua mempunyai berbagai praduga tentang Alkitab. Praduga-praduga ini perlu
dievaluasi, misalnya, jangan sampai praduga itu memutarbalikkan ajaran Alkitab. Juga,
harus diingat tujuan para penulis Alkitab tidak boleh ditempatkan lebih rendah terhadap
maksud tujuan kita sendiri, betapa pun berguna maksud tujuan itu. Banyak hal yang sangat
berharga dapat dipelajari dari PL, tetapi tidak semuanya itu hendak diajarkan oleh PL.
Kedua, minimnya minat dan ketekunan dalam mempelajari firman Tuhan secara
mendalam menyebabkan kurangnya pemahaman yang luas dan komprehensif. Setiap orang
yang ingin belajar kitab-kitab PL harus memiliki ketekunan untuk belajar dan menelaah
konteks dan isi kitab-kitab PL tanpa tendensi untuk memilih-milih apa yang ingin didengar.
Jalan keluar untuk ini adalah dengan mengizinkan Alkitab berbicara sendiri.

C. Otoritas Perjanjian Lama

Perjanjian Lama adalah Kitab Suci yang dipergunakan oleh Kristus dan murid-murid-Nya
(misalnya Yoh 5:39; 10:35; Kis 8:32; Gal 3:8; 2Tim 3:15). Mungkin hanya di 2 Petrus 3:16,
kata "Kitab Suci atau "Kitab-kitab Suci" dalam PB tidak menunjuk pada PL). Selama sekitar
dua puluh tahun setelah Kristus, bagian-bagian PB yang ada hanya merupakan cuplikan yang
berisi kisah-kisah tentang kehidupan dan pengajaran-Nya. Pada waktu jemaat Kristen sedang
mengembangkan pengaruhnya ke Siria, Asia Kecil dan Afrika Utara, dasar untuk pemberitaan
dan pengajaran Kristen adalah PL, sebagaimana ditafsirkan kembali oleh Kristus sendiri.

1. Sikap Tuhan Yesus atas Perjanjian Lama


"Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci... dan Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian
tentang Aku" (Yoh 5:39).
Kristus mengakui otoritas penuh dan sifat yang mengikat dari Kitab Suci. Namun, Dia
menyatakan diri sebagai penafsir Kitab Suci yang sejati. Meskipun Dia berselisih paham
dengan para pemimpin Yahudi dalam banyak hal, namun PB tidak memberikan bukti bahwa
ada konflik mengenai masalah pengilhaman atau otoritas PL.
Sebaliknya, Kristus sering mengutip PL ("Kitab-kitab Suci") sebagai dasar pengajaran-
Nya. Hal ini tampak dalam pemakaian ungkapan "ada tertulis" sebanyak tiga kali ketika la
dicobai (Mat 4:1-11). Ungkapan itu merupakan kesaksian yang jelas ketergantungan-Nya
pada otoritas PL. Dalam argumentasi-Nya dengan orang-orang Yahudi mengenai hak untuk
menyebut diri-Nya Anak Allah (Yoh 10:31-36), la juga bertumpu pada Kitab-kitab Suci yang
mutlak dapat dipercaya. (LaSor, 2005:25)
Jadi, Yesus menerima sepenuhnya PL sebagai firman Allah yang tertulis. Meskipun la
mempunyai sikap yang sama dengan orang Yahudi terhadap otoritas PL, penafsiran Kristus
mengenai Kitab Suci itu sangat berbeda, paling tidak dalam dua hal berikut. Pertama,

FAZ | 4
selaku nabi sejati, Musa yang baru, Kristus berhak menafsirkan hukum Taurat dengan cara
baru, seperti dalam Khotbah di Bukit (Mat 5 7). Ia meninggalkan tafsiran Yahudi yang lazim
mengenai hukum Taurat dan menekankan kasih, pengampunan serta kesalehan batin.
Dengan demikian, Kristus menekankan beberapa tema pokok ajaran para nabi yang telah
diabaikan oleh banyak orang Yahudi yang mengagung-agungkan hukum itu secara harfiah.
Kedua, perbedaan yang lebih tajam lagi ialah pernyataan Kristus bahwa selaku
penggenap PL, Dia adalah tema pokoknya. Dalam rumah ibadat di kota kelahiran-Nya, Dia
menyatakan dengan jelas, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya" (Luk
4:21), dan ini mungkin dapat dilihat sebagai ikhtisar pernyataan-Nya itu. Hal penggenapan
ini mengakibatkan konflik dengan para pemimpin Yahudi (Yoh 5:46)6) dan membentuk sikap
para pengikut-Nya terhadap Kitab-kitab Suci (Luk 24:44-45). (LaSor, 2005:26)
Kristus juag memiliki otoritas dalam menafsirkan PL. Bukan hanya merombak penafsiran
PL yang umum pada masa itu, juga memadukan berbagai ajaran-Nya dan menjalinnya
menjadi satu dalam diri-Nya sendiri. Dialah nabi besar yang dijanjikan Musa, yang
mengajarkan hukum baru dari atas gunung. Dialah imam yang tak ada taranya, yang
menjadikan sistem persembahan kurban tidak berlaku lagi (bd. Mat 12:6; Yoh 2:13-15).
Dialah Raja yang bijaksana yang “lebih agung dari Salomo" (Mat 12:42), Anak Daud dan
Tuhannya, ahli waris takhta Israel yang sah (Mrk 12:35-37; 15:2). Dialah Anak Manusia yang
jaya (Dan 7:13 dst.; Mrk 13:26) dan hamba Tuhan yang menderita Yes 53; Mrk 10:45). Tema-
tema agung dari pengharapan para nabi digenapi di dalam Dia. (LaSor, 2005:26-27)

2. Sikap Paulus Atas Perjanjian Lama


Mewakili Penulis PB, perlu melihat sikap Paulus terhadap PL. Dikenal juga sebagai
Saulus, dari Tarsus. Dia sangat mengenal PL. “Setelah ia menjadi seorang Kristen dan rasul,
ia menemukan bahwa teks yang dikenalnya dengan baik itu sarat dengan makna yang segar.
Sama seperti Yesus, ia mengakui pengilhaman dan otoritas penuh dari Kitab Suci (2 Tim
3:16) dan menemukan makna PL yang terdalam dalam rangka penantian dan persiapan untuk
PB. Bukanlah kebetulan jika ada persamaan antara pendekatan Kristus dan Paulus. Tentu
Kristus memilih bacaan-bacaan PL yang relevan dan mengajarkan kepada murid-murid-Nya
prinsip-prinsip untuk menafsirkannya." (LaSor, 2005:26)
Dalam empat suratnya yang utama Surat Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia tampak jelas
bahwa Paulus berpegang pada PL. la mengutip PL lebih dari sembilan puluh kali dan
sebagian besar kutipan terdapat di dalam surat-surat itu. Tema-tema utama teologinya dan
kebanyakan argumentasinya didasarkan pada PL. Paulus tunduk kepada otoritas Kitab Suci.
Ia menghargai ajarannya dan menghormati kesuciannya. Sikap Paulus itu menjadi pola untuk
semua yang mengikutinya dalam memanfaatkan firman Allah. (LaSor, 2005:28)
Seberapa jauh Paulus mendasarkan pengajarannya pada PL, ditandai oleh sejumlah
topik yang mencerminkan pengaruh PL secara nyata atau pun tersirat. Topik-topik ini
mencakup kejatuhan manusia ke dalam dosa dan akibat-akibatnya (Rm 5:12-21),

FAZ | 5
universalitas dosa (3:10-20), ketaatan dan penderitaan Kristus (15:3), pembenaran oleh
iman (1:17; 4:1 dst.; 10:5 dst.) dan keselamatan akhir Israel (11:26).(LaSor, 2005:28)
Tipologi tidak sedikit peranannya dalam surat-surat Paulus. Penelitian-penelitian
terhadap tipologi Perjanjian Baru menegaskan adanya kesinambungan antara pemakaian
contoh-contoh dan lambang-lambang Perjanjian Lama oleh Paulus dan Kristus. (LaSor: 28)

3. Sikap Para Penulis Perjanjian Baru Lain Atas Perjanjian Lama


Pola otoritas dan prinsip-prinsip penafsiran PL juga dapat dilahat dari sikap para penulis
PB dalam tulisan-tulisan mereka, seperti di Surat Ibrani, Yakobus dan Kitab Wahyu. Kitab-
kitab itu banyak memakai kiasan dan kutipan PL dan masing-masing menggunakannya
dengan caranya sendiri. Yakobus, misalnya, amat bergantung pada tulisan-tulisan hikmat
Israel, khususnya pada teknik-teknik pengajaran dan pemikiran Kristus. Surat lbrani
mempergunakan ayat-ayat dan bermacam-macam bukti dari PL untuk memperlihatkan
keunggulan Kristus yang nyata di PB. Yohanes, dalam Kitab Wahyu, yakin bahwa Kristus
adalah Alfa dan Omega. Ia melukiskan puncak sejarah alam semesta dengan kata-kata yang
diambil dari gambaran PL tentang karya Allah dalam anugerah dan penghakiman. Dengan
demikian, kitab itu menyatakan bahwa puncak sejarah itu adalah apa yang diberitakan dan
dirindukan para nabi, yakni kemenangan Kerajaan Allah.
Dengan mengikuti teladan Yesus dalam mematuhi otoritas Kitab Suci, para penulis
Perjanjian Baru menemukan bahwa di dalam Kitab Suci tidak terdapat huruf yang
mematikan tetapi kesaksian yang diilhami Allah mengenai karya keselamatan-Nya yang
hanya membawa kehidupan. Mereka membaca Kitab Suci bukan sebagai kumpulan buku dari
hukum-hukum yang memperbudak hidup mereka, tetapi sebagai adegan-adegan awal dalam
drama penyelamatan yang pemeran utamanya adalah Yesus Kristus. (diedit dari LaSor,
2005:30)

Pertanyaan

1. Dalam kisah-kisah Perjanjian Lama, bangsa mana yang Tuhan pakai untuk menyatakan
diri-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada manusia?
2. Sebutkan bukti-bukti bahwa Tuhan Yesus mengakui Perjanjian Lama sebagai Firman
Allah yang berotoritas!
3. Ayat manakah dalam Perjanjian Baru yang membuktikan bahwa Rasul Paulus mengakui
otoritas Perjanjian Lama?
4. Seluruh kisah dalam PL menunjukkan rangkaian cerita yang memiliki satu benang merah
atau satu inti berita. Berita apakah itu?
5. Apakah faktor-faktor penghambat dalam kita mempelajari PL?
6. Berikan contoh-contoh praktis pentingnya kita mempelajari PL?
7. PL banyak menyebutkan hukum-hukum Tuhan untuk bangsa Israel (misalnya Hukum
Taurat), apakah hukum-hukum itu juga masih berlaku untuk kita sekarang?

FAZ | 6
FAZ | 7
BAB II
LATAR BELAKANG PERJANJIAN LAMA

Dunia Perjanjian Lama adalah dunia tempat terjadinya peristiwa-peristi di dalam PL.
Dilihat dari aspek sejarah dan teologi, dunia PL berbicara tentang sejarah Tuhan yang
menyatakan diri dan kehendak-Nya kepada satu bangsa pilihan-Nya, Israel. Sehingga ketika
berbicara tentang latar belakang PL, maka yang sedang dibahas adalah segala sesuatu yang
menjadi latar belakang keberadaan konprehensif bangsa Israel kuno di PL dan geografinya.
Salah satu keistimewan dan sekaligus keunikan Alkitab dibandingkan kitab suci agama
lain, di antaranya, Alkitab banyak sekali menyebutkan nama orang, tempat, kerajaan,
bangsa dan lain sebagainya. Karena itu, setidaknya, ada dua alasan penting untuk
mempelajari latar belakang PL, yaitu, pertama, untuk melihat sejarah umat Allah dalam PL
sebagai sejarah yang sungguh terjadi di suatu tempat, di suatu waktu di dunia ini. Kedua,
supaya dari ribuan nama tempat, gunung, sungai, bukit, laut dan lainnya di Alkitab PL orang
beriman dapat memiliki pengetahuan yang cukup baik dari data-data tersebut, yang pada
akhirnya dapat menginterpretasikan dan mengerti teks Alkitab dengan lebih baik.
Pembahasa mengenai latar belakang PL ini dibatasi, terutama, dalam tiga ruang lingkup
saja, yaitu latar belakang secara fisik, secara politik, sosial-budaya, ekonomi, dan geografi
PL, selain juga melihat makna teologis dari latar belakang georafis PL, dan peta
geografisnya.

A. Latar Belakang Fisik

Dunia PL secara fisik berhubungan dengan bumi secara fisik, berupa gunung, sungai,
lembah dan struktur tanah, angin dan cuaca dan sebagainya. Semua ini mempengaruhi
bagaimana masyarakat hidup di daerah itu, tipe bangunan rumahnya, tipe pekerjaannya,
gaya hidupnya dan lain lain. Namun pada bagian ini lebih baik melihat kepada bumi
(geologi) PL.
Dunia yang dikenal pada zaman PL hampir sama dengan daerah yang disebut Timur
Tengah (Asia Barat) sekarang. Luasnya dapat dibandingkan luas Indonesia bagian barat.
Tanah yang subur (tidak terhitung padang pasir) sering disebut “Sabit yang Subur” karena
berbentuk sabit. Luasnya kira-kira 2000 KM kali 200 KM (hampir sama dengan Pulau Jawa
ditambah Pulau Sumatera). Sehingga jarak Mesopotamia-Kanaan-Mesir (perjalanan Abraham)
sekitar 2000 KM (hampir sama dengan Banda Aceh-Surabaya). 7

1. Garis Besar Daerah Kejadian-kejadian Perjanjian Lama


Daerah Timur Dekat Kuno, yaitu daerah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa di PL,
pada garis besarnya termasuk lembah utara dan delta, beting sungai Nil, semenanjung Sinai,

7
https://iskaksugiyarto.blogspot.com/2013/03/latar-belakang-sosial-budaya-perjanjian.html
FAZ | 8
negara-negara Palestina, Fenesia, Aram (Siria), lembah sungai Efrat, Tigris, dan negara
Persia (Iran). Sekarang seluruh daerah yang luas itu disebut "Sabit Subur" ( Fertile Crescent).

a. Penduduk
Penduduknya mendiami daerah yang berbentuk seperti dua garis memanjang yang
merupakan lengan daripada suatu sudut, dengan ujung sudut itu terletak di dekat mata air
sungai Efrat. Garis timur dari sudut tersebut menuju ke arah Selatan melalui lembah Efrat
sampai ke Teluk Persia. Pada garis itu terdapat bangsa Asyur, Babel dan Persia. Pada garis
Barat-daya, terdapat bangsa Aram (Siria), Fenesia, Israel dan Mesir.

b. Sungai
Ada dua sistem sungai yang besar, yaitu sungai Nil (bagian Barat daya) dan Efrat-Tigris
(bagian Timur laut) memungkinkan tanah datar yang luas dan berpengairan. Kedua daerah
daratan tersebut menjadi pusat dari dua kekuasaan besar pada masa PL, yaitu Mesir dan
Mesopotamia (Babel).

2. Letak Negeri Israel


Letak negeri Israel di antara banyak Negara berkekuasaan besar. Mula-mula Mesir,
kemudian Asyur, setelah itu Babel, Persia dan kerajaan-kerajaan Ptolemy dan Seleucus
(raja-raja Yunani), sangat mempengaruhi jalannya sejarah Israel. Dibandingkan dengan
FAZ | 9
kerajaan-kerajaan yang kuat itu, Israel kelihatan kecil dan tidak berdaya, bahkan tidak
berarti bagi pandangan duniawi. Akan tetapi Israel telah menandai dan mempengaruhi
sejarah dunia dari segi agama dengan cara yang tidak tercapai oleh kerajaan-kerajaan yang
lain itu.
3. Tanah Palestina
Tanah Palestina atau Kanaan adalah daerah yang terletak di antara Laut Tengah sebagai
batas Barat dan Padang Gurun Arab sebagai batas Timur. Batas Utara dan Selatan tidak
ditetapkan dengan pasti, tetapi kira-kira sesuai dengan ucapan yang sering kali terdapat
dalam Perjanjian Lama, yaitu "dari Dan sampai Bersyeba" (Hak 20:1; 2Sam 3:10; 17:11; 1Taw
21:2; 2Taw 30:5). Namun "Palestina" berasal dari nama "Filistin" sebab orang-orang itu
menduduki dataran pantai.
Panjang Tanah Palestina dari Dan sampai Barsyeba kurang lebih 240 km, sedangkan
lebarnya kalau dihitung dari sungai Yordan ke pantai kurang lebih 95 km di bagian Selatan,
dan kurang lebih 50 km di bagian Utara. Di sebelah Timur sungai Yordan, garis perbatasan
agak kurang jelas.

a. Ciri-ciri Umum
Pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung
itu, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Sebagai orang yang biasa hidup di daerah
pegunungan, bani Israel kurang pandai berperang di tanah datar (Hak 1:9), walaupun
kemudian mereka mulai memakai pasukan kuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh sebab
itu umat Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama,
sedangkan Dataran Esdralon sering menjadi perjuangan, yang tidak selalu berhasil baik bagi
tentara Israel.
Dataran Esdraelon adalah tanah yang rata dan subur yang membentang dari tenggara
pantai utara Gunung Karmel ke sungai Yordan di Bet-Sean. Kawasan ini adalah perbatasan di
antara Samaria di Selatan dan Galilea di Utara. Sering disebut di Alkitab sebagai Lembah
Yizreel yang sebenarnya merupakan ujung timur dataran Esdraelon, lembah antara antara
Gunung Gilboa dan bukit Moreh dan Gunung Tabor. Bahkan saat ini, seperti pada zaman
kuno, daerah ini adalah lahan pertanian paling subur di Palestina, yang tercermin dari nama
Yizreel, yang berarti "Allah menabur” (God Sows) 8

b. Bagian-bagian Umum
Tanah Palestina dengan sendirinya terbagi menjadi empat bidang dengan arah Utara-
Selatan.
1) Dataran Pantai, yang menyusur Lautan Tengah dari Gunung Karmel ke Selatan.
2) Pegunungan Tengah, yang mulai dari Libanon dan mengarah terus ke padang gurun
Selatan, dengan Datar Esdralon (Yizreel) di pertengahannya.
3) Lembah Yordan, termasuk Laut Galilea dan Laut Mati.

8
http://www.crivoice.org/phototour/pjezreel.html
FAZ | 10
4) Pegunungan Timur, mulai dari Gunung Hermon sampai ke tanah Moab.
5) Dataran Pantai. Lebarnya berubah-ubah dari 8 sampai 24 km. Di sebelah Utara G.
Karmel terletak Fenesia dengan pelabuhan-pelabuhannya yang terkenal yaitu Tirus dan
Sidon. Tetapi dari Karmel ke Selatan, garis pantai lurus saja dengan hanya satu tempat
sebagai kemungkinan pelabuhan, yaitu Yope (Jaffa), yang sejak semula menjadi
pelabuhan Kota Yerusalem.

6) Pegunungan Tengah
a) Bagian Utara, Di sini sebenarnya terdapat dua pegunungan, yaitu Libanon dan Anti-
Libanon. Di antara dua pegunungan tersebut terdapat rute yang biasa dipakai oleh
penyerbu- penyerbu dari Utara/Timur. Para pemazmur dan nabi sering
menyebutkan tentang salju, pohon-pohon cedar, sungai- sungai, keindahan dan
kesuburan daerah Libanon itu (Yer. 18:14; Kidung Agung 4:15; Yes. 60:13). Gunung
yang paling tinggi di bagian ini adalah Hermon (2800 m) yang ditutupi oleh salju,
juga disebut "Siryon" di Perjanjian Lama (Ul. 3:9; Maz. 42:7; 89:13; 133:3). Menuju
ke Selatan pegunungan Libanon (Barat) menjadi pegunungan Galilea, yang tidak
setinggi pegunungan Libanon. Bagian ini jarang masuk sejarah Perjanjian Lama
karena jauh dari pusat kejadian-kejadian besar. Namun, pada zaman Perjanjian
Baru, daerah Galilea itu menjadi tempat yang sangat penting.
b) Pegunungan Samaria, Sebelah Selatan Dataran Esdralon, Pegunungan Tengah
memasuki daerah "pegunungan Samaria", tanah yang berbukit-bukit dengan lembah-
lembah yang subur, misalnya Dataran Dotan di mana kakak-kakak Yusuf
menggembalakan kambing domba ayah mereka (Kej. 37:17). Di Samaria juga
terdapat beberapa kota yang terkenal pada zaman PL, misalnya kota Sikhem
(terletak di antara G. Ebal dan Gerizim) yang ada hubungannya dengan Abraham
(Kej. 12:6) dan Yakub (Kej. 33:18), dan juga menjadi tempat perkumpulan sidang-
sidang besar orang Israel (Yos. 24).
c) Pegunungan Yudea. Menuju ke Selatan lagi, terdapat "pegunungan Yudea". Pada
batas Utaranya terdapat banyak benteng-benteng, yang menceritakan peperangan-
peperangan antara Yehuda dan Israel. Di bagian Selatan terletak kota Betlehem,
tempat lahirnya Daud (1Sam. 16:1) dan tempat kejadian kisah Rut (Rut 1:1, 19).
Agak ke Selatan lagi terletak Hebron, kota yang paling tua di Palestina, di mana
para kepala bangsa (patriarkh) dikuburkan di dalam Gua Makhpela (Kej. 23:19;
25:9; 50:13), dan yang dijadikan ibu kota Yehuda oleh Daud sebelum Yerusalem
ditaklukkan (1Taw. 11:1, 2).
7) Lembah Yordan
a) Sungai Yordan, mata airnya terletak di sebelah Barat G. Hermon, ± 525m di atas
permukaan laut. Mengalir ke Selatan melalui dua danau, yaitu mata air Meron
(Danau Huleh) (Yos. 11:1-9) dan Laut Galilea, akhirnya masuk Laut Mati ± 400m di
bawah permukaan laut. Sebab daerahnya menurun, sungai itu mengalir cukup deras

FAZ | 11
dan tidak dapat dilayari secara praktis. Tetapi sungai Yordan dapat diseberangi
dengan memakai arungan yang terletak misalnya di Yerikho, dan di beberapa
tempat di sebelah Utara Yabok. Di tempat penyeberangan Yabok itu Yakub bergulat
pada waktu malam (Kej. 32:33 dst.).
b) Laut Galilea, panjangnya 20 km sedangkan pada bagian yang paling lebar 12 km.
Letaknya berupa tempat dalam (210m di bawah permukaan laut), dikelilingi bukit-
bukit tinggi. Laut ini jarang disebutkan dalam PL, kecuali dengan memakai nama
"Kinerot" (Yos. 11:2) atau "Kineret" (Ul. 3:17).
c) Laut Mati. Disebut juga "Laut Asin" di Kej. 14:3; Bil. 34:3, atau "Laut Araba" (Ul.
3:17). Panjanga 69 km, lebarnya 5 km sampai 14 km, merupakan genangan air yang
paling rendah di dunia (397m. di bawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya
panas sekali. Tidak ada saluran keluar, dan kalau air meluap, akhirnya menguap.
Oleh karena itu airnya penuh dengan garam dan mineral- mineral lain. Di sebelah
barat terletak jurang-jurang En- Gedi, tempat di mana Daud menyembunyikan
dirinya (1Sam 24:1).
8) Pegunungan Timur
Di bagian ini terdapat tanah berbukit-bukit yang cukup subur, dengan hutan dan kebun
buah-buahan. Di sini juga terdapat dataran tinggi Basan, yang terkenal karena lembu-
lembunya (Amos 4:1; Ul. 32:14) dan kota-kotanya yang besar. Ke Selatan lagi terletak
Gilead, yang terkenal karena rempah-rempahnya (Kej. 37:25), dan tanah Amori yang rajanya
Sihon dikalahkan oleh Israel (Bil. 21:21 dst.). Di daerah ini juga terletak Yabesy-Gilead,
tempat Saul pertama kali muncul sebagai seorang yang berkuasa di Israel (I Sam. 11); juga
Ramot-Gilead, dimana raja Ahab dikalahkan oleh Aram dan mati (I Raja-raja fas. 22). Lebih
ke Selatan lagi, yaitu dekat Laut Mati dan sebelah Timurnya, terdapat bani Amon dan Moab,
tetangga yang sering menyerang Israel. Daerah paling Selatan didiami bani Edom. Oleh
karena daerah ini sukar sekali dipertahankan, maka Israel tidak dapat menegakkan diri
secara tetap di sebelah Timur sungai Yordan.
9) Dataran Esdraelon
Daerah ini berbentuk seperti bersegi-tiga, sangat penting di dalam sejarah PL. Letaknya
di antara Galilea dan Samaria, pegunungan Galilea sebagai batas Utara, pegunungan
Karmel sebagai batas Barat daya, dan pegunungan Gilboa sebagai batas Timur. Sungai
Kison mengalir dari sana ke Lautan Tengah. Jalan keluar dari sebelah Timur ke lembah
Yordan ialah melalui lembah Yizreel (dalam bahasa Yunani Esdraelon). Dataran ini
sangat penting karena letaknya sangat strategis. Pedagang-pedagang dari Damsyik,
Arabia dan Mesopotamia yang menuju ke pantai Siria atau Mesir, biasanya melewati
dataran Esdraelon. Tanahnya juga subur sekali, maka dari itu dipandang sebagai harta
yang berharga dan baik dimiliki. Oleh karena daerah ini mudah dimasuki baik dari
sebelah Timur maupun dari sebelah Barat, maka menjadi medan peperangan Israel.
Pernah terjadi empat perang besar di sini:
a) Sisera, panglima Kanaan, dikalahkan oleh Debora dan barak (Hak 5:19-21)

FAZ | 12
b) Orang Midian dihancurkan oleh Gideon dengan 300 prajuritnya di kaki Gunung
Gilboa (Hak Pasal 7).
c) Raja Saul dan anaknya Yonathan dibunuh di G. Gilboa oleh orang filistin (1Sam. 31)
d) Raja Yosia mati waktu dia berusaha menghalangi Firaun Nekho memasuki Dataran
Esdraelon melalui jalan Megido (2Raja 23:29, 30). Di G. Karmel, Elia mengadakan
pengujian terhadap nabi-nabi Baal (1Raj 18:20 dst.) Kota Yizreel kadang-kadang
menjadi tempat tinggal Raja Ahab, dan di lereng gunung tersebut terletak kebun
anggur Nabot yang dirampas Ahab dengan tipu muslihat (1Raj 21:1 dst).
10) Kota Yerusalem. Terletak 700m di atas permukaan laut, di daerah pegunungan Yudea.
Sebenarnya tempat itu kurang baik sebagai lokasi ibu kota Negara, karena jauh dari laut
(54km), tidak terletak di tepi sungai besar, tidak dekat dengan jalan raya, jalur
perdagangan, persediaan airnya kurang bagus dan termasuk daerah kurang subur. Namun
demikian, tidak ada sebuah kota lain yang telah sedemikian rupa mempengaruhi sejarah
dunia.
Melalui kitab-kitab PL, Allah telah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada
manusia. Untuk itu Allah telah melibatkan Diri dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya yang
dibatasi dalam ruang dan waktu. Kisah sejarah bangsa Israel dalam Kitab-kitab PL bukanlah
mitos atau karya sastra yang direka-reka apalagi direncanakan oleh manusia.

B. Latar Belakang Politik, Budaya, Sosial, Ekonomi 9

Latar belakang geografi secara politis yang dimaksudkan di sini ialah berkaitan dengan
pengaturan kelompok masyarakat. Bangsa Israel berasal dari kelompok masyarakat
sederhana yang tinggal berpindah-pindah (seminomaden) sampai akhirnya membentuk suatu
daerah pemukiman yang memiliki teritorial yang jelas dan bahkan menjadi kerajaan yang
berkuasa atas daerah yang lebih luas di Palestina.
Istilah ‘Palestina’ mula-mula dipakai untuk daerah musuh-musuh Israel, yaitu orang
Filistin. Nama ini pertama kali dipakai oleh Herodotus untuk menamai daerah di sebelah
selatan Siria. Dengan ejaan Palaestina, istilah itu dipakai juga oleh bangsa Roma. ‘Kanaan’,
istilah yg lebih tua, mempunyai sejarah yang serupa. Dalam Surat-surat Tell el-Amarna
(abad 14 sM) istilah Kanaan terbatas hanya meliputi dataran tepi pantai, lalu dengan
ditaklukkannya daerah pedalaman oleh bangsa Kanaan, istilah itu dipakai untuk seluruh
tanah sebelah barat lembah Yordan. Istilah ‘negeri Israel’ (1Sam 13:19) dan ‘tanah yang
dijanjikan’ (Ibr 11:9) yang terkait dengan bangsa Israel adalah meliputi daerah yang sama,
mulai dari Dan sampai Bersyeba, di sebelah utara padang gurun Negeb. Sesudah kerajaan
Israel terbagi dua, nama Israel biasanya dikenakan kepada kerajaan utara. Dalam abad
Pertengahan Eropa (± 500-1500 M) istilah ‘Tanah Suci’ menjadi lazim dipakai (Zak 2:12).

1. Budaya Perjanjian Lama

9
Sumber utama di mabil dari https://pesta.org/ppl- pelajaran 01 - 05
FAZ | 13
Masalah sosio-budaya PL sangat luas dan kompleks, sebagaimana dengan kebudayaan-
kebudayaan dari semua bangsa. Oleh karena itu, rung lingkup pelajaran ini pembahasannya
dibatasi hanya pada struktur masyarakat, kehidupan ibadah, dan sistem pendidikan masa PL.
materi ini banyak dimbil dari https://pesta.org/ppl_pel04

a. Struktur Masyarakat Perjanjian Lama


Kenyataan yang harus disadari adalah bahwa bangsa Israel purba memandang kelompok
sosial atau komunitas sebagai pokok yang penting. Apabila membicarakan masalah
moralitas, hukum dan agama, objek yang terpenting bukanlah indvidu melainkan kelompok
atau masyarakat di mana seseorang terikat di dalamnya. Dalam hal ini Keluaraga. Karena
pentingnya keluaraga, maka, sisi negatifnya, ketika seseorang melakukan dosa atau
kejhatan, seluruh keluarga akan dihukum, meskipun mereka tidak punya urusan sama sekali.
Hal ini terlihat, misalnya, dalam Kitab 2 Samuel 21, tujuh keturunan Saul dihukum mati
untuk menyngkirkan kesalahan yang dilakukan orang tua mereka, demikian juga dalam 1Sam
22:9 dst., atau dalam Yosua 7, khususnya ayat 24. (lihat Rogerson, 1997:78)
Keluarga adalah unit utama dalam struktur masyarakat PL, karena memang sejak dari
semula Allah memulai rencana penebusan-Nya melalui satu keluarga, yaitu keluarga
Abraham. Lalu melalui keluarga Abraham inilah Allah memanggil keluar umat-Nya untuk
membina suatu hubungan yang istimewa dengan Dia di Sinai, yang dikokohkan dengan
membuat suatu Perjanjian (Covenant). Anggota yang termasuk dalam Perjanjian ini adalah
mereka yang disebut sebagai "keturunan" Abraham, selanjutnya keturunan Ishak dan Yakub
(Im. 26:42, 45). Kata "keturunan" ini (Ibr. 'ab' artinya bapak) muncul seribu dua ratus kali
dalam PL. Dari situlah ikatan keanggotaan dalam perjanjian didasarkan. Oleh sebab itu
banyak sekali ditemui catatan silsilah dalam Alkitab, termasuk dalam kitab-kitab PB (Mat. 1
dan Luk. 3). Jika mereka termasuk dalam silsilah itu maka mereka memiliki hak sebagai
anggota masyarakat Yahudi yang terikat dalam hubungan Perjanjian dengan Allah.

b. Keluarga
Dasar pelembagaan keluarga diletakkan oleh Allah sendiri dalam Kej. 2, sebagai
kesatuan ikatan yang permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Istilah

Ibrani yang dipakai untuk keluarga adalah 'misphahah' (hx'P'vi ) dan 'bayit' (tyIB' ) yang
arti harafiahnya adalah "rumah" (Inggris: household dalam bahasa Indonesia lebih tepat
"rumah tangga"), yang diartikan sebagai mereka yang tinggal dalam satu atap rumah.
Namun, dalam PL sering kali keluarga bukan hanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak
(tergantung dari konteksnya), tetapi lebih cenderung diperluas sebagai suami, istri, anak-
anak (sampai dua, tiga generasi), budak-budaknya dan termasuk juga keluarga dekat lain
yang tinggal bersama, bahkan kadang seluruh suku (1Taw.13:14). Sumber utama bahan:
https://pesta.org/ppl_pel04

2. Lembaga Perkawinan
FAZ | 14
Ikatan permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam perkawinan
yang diresmikan oleh Allah sendiri sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 1:26-27).
Perkawinan di PL diterima sebagai suatu norma umum (tidak ada kata bujangan dalam
bahasa Ibrani). Ketika Allah memberikan Hawa kepada Adam, dikatakan, "Inilah dia, tulang
dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kej. 2:23) sebagai pengakuan Adam akan
keserupaan dan kesepadanannya dengan Hawa. Hubungan permanen perkawinan harmonis
yang diciptakan oleh Allah ini rusak setelah manusia jatuh dalam dosa. Sejak itu, institusi
pernikahan menjadi kabur dan manusia lebih cenderung untuk merusak daripada
mempertahankannya. Dalam seluruh PL banyak ditunjukkan bentuk-bentuk penyelewengan
pernikahan yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Israel dalam praktik-praktik poligami
dan perceraian.

a. Suami
Dalam masyarakat PL, suami mempunyai kedudukan sebagai "tuan" yang memerintah
atas istri dan anak-anak dan keluarga anak-anaknya, juga seluruh anggota keluarga yang lain
dan budak-budaknya. Tetapi pada sisi yang lain, suami juga menjadi penangungjawab atas
semua tindakan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya. Oleh karena itu tidak
jarang kepala keluarga akan menanggung hinaan, bahkan hukuman, untuk tindakan yang
dilakukan oleh keluarganya. Suami juga mempunyai tanggungjawab untuk mencarikan istri,
suami bagi anak-anaknya. Untuk itu ia harus paham betul hal-hal apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan sehubungan dengan pernikahan menurut hukum bangsa Israel (Im. 18; Ul. 7;
20). Silsilah keluarga PL diurutkan dengan mengikuti keturunan dari suami yang memberi
identitas dan nama bagi keluarganya. Itu sebabnya dalam hukum Israel disebutkan berbagai
peraturan untuk melindungi kelangsungan keluarga (Im. 25:47-49; Yer. 32:68; Ruth 2, 3, 4).
Suami di PL juga mempunyai fungsi sebagai imam bagi keluarganya. Ia diharapkan
memimpin seluruh keluarganya dalam mengikuti perayaan-perayaan keagamaan Yahudi.
Seluruh tanggungjawab pendidikan anak-anak, khususnya anak laki-laki ada di tangannya.
Sebuah tugas yang tidak ringan bagi umat yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa kafir.

b. Istri
Sekalipun kelihatannya tanggungjawab suami lebih besar, namun tidak berarti seorang
istri PL pasif. Amsal 31 menceritakan secara panjang lebar tentang tugas-tugas seorang istri
yang berbudi dan ideal. Dari tugas yang begitu banyak itu, tugas utama istri adalah untuk
menghasilkan keturunan. Tetapi itu bukan tugas satu-satunya. Seorang istri PL tidak hanya
melakukan tugas yang sehubungan dengan anak-anak dan rumah saja, Alkitab pada dasarnya
memberikan tanggung-jawab yang besar bagi istri untuk menguasai bidang-bidang lain di
luar rumahnya.Semacam emansipasi, seorang istri di PL bahkan dapat menjalankan tugas-
tugas yang tidak lazim, misalnya, memimpin perang (Debora), menjadi nabi (Miryam),
bertindak atas nama suami (Abigail), dll.

FAZ | 15
Dalam perkawinan Yahudi, istri dengan kerelaan menundukkan diri di bawah suaminya
dan mengambil kedudukan sebagai "penolong" (Kej, 2:18). Setelah melahirkan anak dan
menyusui sampai usia dua atau tiga tahun, istri memikul tanggung jawab terhadap
pendidikan anak-anaknya sampai usia lima tahun. Namun setelah itu anak laki-laki akan
dididik oleh ayahnya, sedangkan anak perempuan akan diajar oleh ibunya bagaimana
menjadi seorang istri dan ibu yang sukses. Kesuksesan istri menjalankan keluarga seringkali
menjadi ukuran bagaimana suami Yahudi akan dihormati di antara para pemimpin Israel.

c. Anak-anak
Anak-anak adalah berkat dari Tuhan, buah yang diharapkan dari perkawinan. Itu
sebabnya keluarga PL selalu mengharapkan sebuah keluarga yang besar. Merupakan suatu
dukacita dan aib bagi keluarga PL yang tidak dikaruniai anak, seperti peristiwa yang
menimpa Sara dan Hana. Sebaliknya banyak puji-pujian yang ditujukan bagi wanita yang
melahirkan banyak anak (Mz. 128).
Anak di PL diterima sebagai anggota masyarakat Israel secara penuh. Oleh karena itu
tanggungjawab memelihara dan mendidik mereka adalah juga tanggungjawab masyarakat,
selain keluarganya. Ul. 6:4-9 merupakan perintah langsung dari Tuhan akan pentingnya
pendidikan anak, untuk itu yang harus diperhatikan adalah:
1) Orang tua yang mengasihi Tuhan dan menyimpan Firman Tuhan dalam hatinya menjadi
teladan bagi anak-anaknya (ay. 4-6).
2) Firman Tuhan harus menjadi percakapan utama dalam keluarga supaya tertanam dalam
diri anak-anak (ay. 7).
3) Firman Tuhan harus dilahirkan dalam tingkah laku sehari-hari (ay. 7-9).
Anak laki-laki dalam keluarga Yahudi adalah tumpuan harapan bagi pemeliharaan masa
tua orang tuanya, yaitu supaya mereka mendapat penguburan yang layak. Anak sulung
dalam keluarga Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat tempat yang istimewa.
Sepanjang hidupnya ia akan dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar atas
tindakannya dan tindakan saudara-saudaranya yang lain. Apabila orang tuanya mati, anak
sulung akan mendapat bagian warisan dua kali lipat. Jika ayahnya tidak memiliki anak laki-
laki maka anak perempuan akan mewarisi seluruh harta ayahnya, jika ia menikah dengan
kaum keluarganya sendiri. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa tetangga Israel, anak
perempuan Yahudi mendapatkan perlakukan yang jauh lebih baik.
Anak perempuan Yahudi diizinkan menikah sesudah usia 12 tahun. Pada usia itu
diharapkan ia telah mempelajari semua kecakapan mengurus rumah tangga dan bagaimana
menjadi istri dan ibu yang baik. Sebelum menikah maka ayahnya memiliki hak penuh atas
putrinya. Ayah jugalah yang bertanggungjawab mencarikan suami bagi putrinya. Sesudah
menikah maka ibu mertuanya akan mengambil alih pendidikan selanjutnya. Apabila karena
sesuatu hal suaminya mati, maka ia akan dinikahkan dengan saudara laki-laki dari suaminya
untuk menyelamatkan garis keturunan keluarganya (perkawinan levirat - yabam 10). Namun

10
Perkawainan levirate, bahasa Ibraninya yibum (yabam), missal di Kej 38:7-8, Ul 25:5, 7.
FAZ | 16
jika suaminya tidak memiliki saudara laki-laki lain yang dapat menikahinya, maka seringkali
ia akan kembali ke rumah ayahnya lagi (contoh, Tamar atau Ruth dalam keluarga Naomi).

3. Strata Dalam Masyarakat


Sekalipun tidak ditonjolkan, ada perbedaan klas-klas dalam masyarakat PL, khususnya
setelah zaman kerajaan terbentuk. Perbedaan antara mereka yang kaya dan miskin menjadi
sangat nyata. Beberapa orang mendapat penghasilan dari tanah yang berlebihan dan
akhirnya menjadi kaya. Tetapi ada yang karena melakukan praktik-praktik yang tidak adil
sehingga menekan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan, sehingga mereka yang tidak
diuntungkan menjadi miskin. Berikut ini adalah perbedaan strata dalam masyarakat PL
secara umum:
a. Kelompok Masyarakat yang Berpengaruh. Mereka adalah para tua-tua agama dan
kepala rumah tangga. Setelah zaman kerajaan, muncul kelompok yang disebut
sebagai para pemuka, yaitu pembantu-pembantu raja dan juga para pahlawan.
b. Penduduk Asli Setempat. Mereka yang memiliki tanah dan tinggal sebagai penduduk
asli di Palestina.
c. Penduduk Asing. Mereka adalah pendatang dan orang bebas (bukan budak) tetapi
tidak memiliki hak penuh sebagai warganegara Palestina.
d. Pekerja upahan. Mereka tidak memiliki tanah, hidup sebagai tenaga upahan.
e. Pedagang. Mereka adalah orang-orang asing yang datang untuk berdagang
f. Budak-budak. Mereka bukan hanya orang Israel saja (yang miskin), tetapi juga
pendatang asing yang hidup sebagai tawanan perang. Perbudakan adalah salah satu
kebiasaan cara hidup pada masa PL.

4. Sistem Ibadah
Israel dikelilingi oleh bangsa-bangsa tetangga yang tidak mengenal Allah (kafir). Itu
sebabnya Allah berkali-kali harus mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengikuti
kebiasaan peribadahan bangsa-bangsa tsb. Namun sejarah mereka mencatat, berulang kali
bangsa Israel jatuh ke dalam penyembhan berhala, dosa yang sangat dibenci Allah itu.
Mereka menyembah kepada ilah-ilah bangsa lain. Tidak jarang Tuhan menegur dengan keras
sampai menghukum dengan menyerahkan mereka untuk dikalahkan dan dijajah oleh bangsa-
bangsa lain.

a. Penyembahan Berhala
ibadah bangsa kafir yang diikuti bangsa Israel sehingga Allah murka dan menghukum
mereka itu, adalah sebuah system penyembahan berhala, dengan ciri-ciri, antara lain:
1) Memiliki banyak tuhan (dewa), karena kebanyakan agama kafir adalah politeistik.
2) Menyembah kepada patung-patung, atau gambaran-gambaran yang menyerupai
binatang, manusia atau benda-benda lain sebagai simbol allah mereka.

FAZ | 17
3) Keselamatan sebagai usaha manusia untuk melepaskan diri dari kecenderungan berbuat
dosa. Pemujaan disertai pelacuran bakti dengan para imam kuil.
4) Percaya bahwa persembahan-persembahan yang dibawa kepada ilah-ilah mereka dapat
memberikan kekuatan gaib yang menghindarkan mereka dari kecelakaan atau bahaya. 11

b. Baalisme
Jenis agama yang dipeluk kebanyakan rakyat jelata Israel, dan yang dikutuki oleh para
nabi, biasanya mencakup juga baalisme. Baalisme erat berkaitan dengan siklus tahunan
alam, dan dirancang untuk mendatangkan kemakmuran pertanian. Penyembahan kepada
Baal mempengaruhi dan sekaligus mempertentangkan penyembahan kepada Yahweh
sepanjang sejarah Israel. Apa yg dikatakan PL mengenai Baal, bisa kita lengkapi dengan
informasi dari Ras Syamra. Istri Baal, Astarte (asyera), disebut anak Dagon, yaitu ilah-ilah
alam, yang dalam dongeng dikatakan melawan maut, ketidaksuburan dan air bah, sampai
menang dan menjadi raja para dewa. 12
Bagi Israel, Tuhan (Yahweh) adalah ‘Tuan’ dan ‘Suami’. Di luar Israel Baal diartikan juga
tuan, pemiliki atau suami. Dalam makna itu orang Israel kadang-kadang menyebut Allah
sebagai ‘Baal’, tetapi sama sekali tidak mengandung maksud yang jelek. Namun demikian,
penyebutan itu jelas mengacaukan pemujaan kepada Yahweh dengan upacara-upacara Baal.
Dengan demikian menjadi penting sekali untuk menyebut Allah dengan sebutan yang lain,
dan dipakailah kata ‘isy, suatu kata yg berarti suami, seperti di Hos 2:16-17. Setelah
sebutan ‘Baal’ tidak lagi dipakai bagi Yahweh, maka nama-nama khusus yg memuat kata itu
agaknya disalahartikan. Lalu dipakai kata bosyet (aslinya berarti ‘malu’) menggantikan ba’al
dalam nama-nama khusus, seperti nama Esybaal dan Meribaal (1Taw 8:33-34), lebih dikenal
sebagai Isyboset (2Sam 2:8) dan Mefibosyet (2Sam 9:6). (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 2003,
115)
Dalam sistem agama BA'AL, dikenal apa yang disebut dengan "pelacur bakti "dan
"semburit bakti". Istilah qedesyah ( ְ‫)השָׁ דֵ ק‬, "pelacur kuil (perempuan)" dan qadesy ( ָ‫)ׁשדֵ ק‬
"pelacur kuil (laki-laki)", mereka adalah seorang yang mempersembahkan seluruh hidupnya
bagi pelayanan keagamaan. "Pelacur bakti" (pelacur di dalam kuil) adalah perempuan yang
secara khusus melayani kaum laki-laki secara biologis. "Semburit bakti" adalah laki-laki yang
ditempatkan dalam kuil yang secara khusus melayani kaum perempuan/ laki-laki secara
biologis. Pelacur bakti dan semburit bakti melakukan tugasnya sebagai bagian dari ibadah
agama Baal. Dengan sistem ibadah seperti itu, tentu umat BA'AL berduyun-duyun datang ke
kuil untuk beribadah. Dengan mengatas-namakan ibadah, mereka secara bebas dapat
melakukan perbuatan maksiat di kuil atau di mana saja. 13
Sebagai Dewa Matahari, Baal disembah di bawah dua aspek, baik dan destruktif. Di satu
sisi ia memberi cahaya dan kehangatan kepada para penyembahnya, di sisi lain, panas terik
musim panas menghancurkan vegetasi yang telah ia hasilkan sendiri. Oleh karena itu, korban

11
https://pesta.org/ppl_pel04
12
Ensiklopedi Alkitab Masa kini, Jilid 1 (A – L). Jakarta: Yayasan Komuniikasi Bina Kasih, 2003, 115
13
http://www.sarapanpagi.org/baal-baal-berit-baal-gad-baal-peor-vt6067.html#p26187
FAZ | 18
manusia dikorbankan untuk menenangkan kemarahannya pada saat wabah atau masalah
lainnya, korban biasanya adalah anak pertama dari korban dan dibakar hidup-hidup. Dalam
Perjanjian Lama ini secara halus disebut "melewati" korban "melalui api" (2Raj 16: 3; 21: 6).
Bentuk-bentuk di mana Baal disembah tentu sebanyak komunitas yang menyembahnya.
Setiap daerah memiliki Baal atau "Tuhan" ilahi sendiri yang sering mengambil namanya dari
kota atau tempat dia berasal. Dari situ muncul kata Baal-Zur, "Baal of Tyre"; Baal-hermon,
14
"Baal of Hermon" (Yud 3: 3); Baal-Lebanon, "Baal Lebanon"; Baal-Tarz, "Baal dari Tarsus."
Di lain masa gelar itu dilampirkan pada nama dewa individu, terlihat dalam nama Bel-
Merodach, "Tuan Merodach" (atau "Bel adalah Merodach") di Babel, Baal-Melkarth di Tirus,
Baal-gad (Jos 11:17) di utara Palestina. Kadang-kadang unsur kedua adalah kata benda
seperti dalam Baal-Syemaim, "penguasa surga," Baalzebub (2Raj 1: 2), "Tuhan lalat," Baal-
Hamman, biasanya menafsirkan "Tuhan panas," tetapi lebih mungkin "Tuhan dari sinar
suarya, "dewa pembimbing Kartage. Semua sebutan untuk Dewa Matahari ini secara kolektif
dikenal sebagai Baalim atau "Baal" yang mengambil tempat mereka di sisi Ashtaroth dan
Ashtrim betina. Di Kartago, permaisuri perempuan Baal disebut Pene-Baal, "wajah" atau
"pantulan Baal."
Pada masa-masa awal sejarah Ibrani, gelar Baal, atau "Tuhan," diterapkan pada Dewa
Nasional Israel, suatu penggunaan yang dihidupkan kembali di kemudian hari, dan akrab
dalam Versi King James. Karenanya baik Yonatan maupun Daud memiliki putra yang disebut
Merib-baal (Taw 8:31; 9:40) dan Beeliada (1Taw 14: 7). Akan tetapi, setelah masa Ahab,
nama itu dikaitkan dengan penyembahan dan upacara-upacara dewa Fenisia yang
diperkenalkan ke Samaria oleh Izebel, dan dikaitkan dengan penyembahan berhala yang
merusak kemurnian agama Israel. Hosea 2:16 menyatakan bahwa sejak saat itu Allah Israel
tidak boleh lagi disebut Baali, "Baal saya," dan nama-nama pribadi seperti Esh-baal (1Taw
8:33; 9:39), dan Beelinda, Baal diubah menjadi bosheth yang dalam bahasa Ibrani
bagaimanapun juga menyampaikan rasa "malu". 15
Kuil Baal di Samaria dan Yerusalem disebutkan dalam 1Raj 1:18; didirikan pada dinasti
Ahab yang berusaha untuk menyatukan orang Israel–Yahudi dan Fenisia menjadi satu di
bawah dewa nasional Fenisia. Altar-altar tempat pembakaran dupa untuk Baal didirikan di
semua jalan-jalan Yerusalem menurut Yeremia (11:13), tampaknya di atap-atap datar
rumah-rumah (Yer 32:29); dan kuil Baal berisi gambar dewa dalam bentuk pilar atau Betel
(2Raj 10: 26, 27). Pada masa pemerintahan Ahab, Baal dilayani oleh 450 imam (1Raj 18:19),
juga oleh para nabinya (2Raj 10:19). Para penyembahnya mengenakan jubah khusus ketika
ritualnya dilaksanakan (2Raj 10 : 22). Persembahan biasa untuk dewa terdiri dari dupa (Yer
7: 9) dan korban bakaran. Pada kesempatan yang luar biasa, korbannya adalah manusia (Yer
19: 5). Kadang-kadang para imam bekerja dalam keadaan ekstasi, dan menari di sekeliling
altar menusuk diri mereka dengan pisau (1Raj 18: 26,28).
Bentuk baal:
1) Baal-berith
14
Diterjemahkan secara bebas dari International Standar Bible Encyclopedia, dalam Program Sabda OBL V.5.0.
15
Terjemahan bebas dari: Internatioanl Standar Bible Ebcyclopedia, dalam: SABDA Biblesoftware Versi 5.0 2019
FAZ | 19
Baal-berith artinya Perjanjian Baal," disembah di Sikhem setelah kematian Gideon (Yud
8:33; 9: 4). Dalam Yud 9:46 namanya diganti jadi El-berith, "Perjanjian-dewa."
Perjanjian itu dibuat oleh dewa dengan para penyembahnya, mungkin di antara orang
Israel dan orang Kanaan asli.
2) Baal-gad
Baal-gad, Balagada, "Baal [penguasa] keberuntungan" (atau "Baal adalah Gad") adalah
dewa dari sebuah kota yang disebut namanya di utara Palestina, yang sering
diidentifikasi sebagai Baalbek. Dewa itu hanya disebut Gad dalam Isa 65:11.
3) Baal-hamon, Beelamon ditemukan hanya dari kenyataan bahwa Salomo memiliki taman
di tempat nama itu (Jadi 8:11). Nama ini biasanya diartikan sebagai "Baal orang
banyak,"

c. Ibadah Formal
Penyembahan yang dilakukan oleh bangsa Israel kepada TUHAN Israel sebenarnya
mempunyai cara-cara ritual yang telah dipelihara sejak masa Adam dan Hawa, juga Kain dan
Habel. Dari contoh-contoh itu jelas bahwa Allah menerima penyembahan manusia (Kej. 4:6).
Alkitab tidak mengatakan dengan jelas mengapa mereka harus memberikan korban
persembahan, tetapi dari konteks Kejadian 4, terlihat bahwa persembahan itu diberikan
sebagai ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan yang disertai dengan harapan Allah akan
senantiasa memelihara mereka. Juga, Alkitab tidak menjelaskan mengapa Allah menerima
persembahan Habel tetapi Kain tidak. Kendati inilah pertama kali disebutkan Alkitab korban
persembahan memakai binatang. Sejak itu pula persembahan binatang dipakai sebagai
korban bakaran untuk menjadi salah satu tata upacara yang dilakukan dalam ibadah.
Pada masa Musa, penyembahan kepada Allah tak lagi dilakukan di tanah terbuka, tetapi
di kemah pertemuan, di kompleks Bait Suci, penjelasan secara lengkap diberikan dalam Kel.
27:1-3, sesuai perintah yang diterima Musa dari Allah. Musa sendiri bertindak sebagai imam,
menjadi perantara antara Allah dan umat Israel.
Pada masa iman-iman, bangsa Israel telah memiliki kelompok imam yang dipilih dari
keluarga Harun, suku Lewi, yang bertugas untuk mengatur tata ibadah kepada Allah. Kitab
Imamat mencatat berbagai macam peraturan tata ibadah bagi bangsa Israel. Tetapi mereka
selalu terjebak pada ritual dan upacara formal, bukan melakukan ibadah yang benar dan
sejati yang bukanlah tergantung dari tempat dan tata caranya tetapi dari sikap hati yang
benar.
Ketika akhirnya bangsa Israel dihukum karena telah meninggalkan Tuhan, dan Tuhan
menyerahkan mereka sebagai tawanan kepada bangsa-bangsa lain, bangsa ini muali
menyadari betapa pentingnya kembali beribadah yang benar kepada Tuhan dan memelihara
Taurat-Nya. Dalam rangka menyelamatkan kehancuran bangsa ini, karena tidak lagi hidup
sebagai umat Tuhan, maka Ezra, Bapak Yudaisme, mulai mengembalikan dan
membangkitkan cara ibadah dengan malaksankan Hukum Taurat.

FAZ | 20
Ketika bangsa itu di tanah pembuangan, mereka tidak dapat lagi pergi beribadah ke
Yerusalem, apalagi Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan, maka didirikanlah tempat
ibadah yang dinamakan sinagoge di tanah pembuangan Babel. Di sinilah akhirnya agama
Yudaisme lahir dan berkembang. Sekalipun di sinagoge mereka tidak lagi memberikan
korban bakaran seperti di Bait Suci, namun di sinagoge bangsa Israel belajar Taurat Tuhan
dan Tradisi nenek moyang dengan teliti, bahkan sampai masuk ke masa Perjanjian Baru.

5. Sistem Pendidikan PL 16
Di dunia PL keluarga menjadi pusat pendidikan. Pendidikan di rumah berpangkal dari
peranan ibu dan seluruh keluarga yang sudah dewasa. Dimulai dari peranan seorang ibu yang
mengemban kewajiban untuk menjaga kelangsungan hidup rumah tangga, terkait erat di
dalamnya tugas rohani untuk mendidik anak-anaknya. Jauh sebelum anak berhubungan
dengan dunia luar, anak terlebih dulu mendapat pendidikan dari ibunya sehingga sesudah
menginjak usia remaja ia sudah mempunyai dasar yang benar.
Sumber bijaksana dan pengetahuan, dipercaya oleh bangsa Israel, didapatkan dari
pertambahan umur seseorang. Orang-orang muda akan belajar segala sesuatu dari orang-
orang tua yang ada di sekitar mereka. Tidak ada pilihan untuk menyerahkan pendidikan ini
kepada orang lain karena alasan kesibukan.
Pada usia balita anak-anak Israel dididik oleh ibu mereka. Ketika sudah beranjak cukup
besar, khususnya anak laki-laki, ayah akan memperkenalkan mereka pada pekerjaannya
sehari-hari, dan sejak itu anak akan terus mendengar didikan ayahnya sambil bekerja.
Sedangkan ibu akan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak perempuannya, untuk
menjadikannya istri dan ibu yang baik. Setiap makan malam orang tua akan menggunakan
waktu berkumpul dengan keluarganya dan mengajarkan nilai-nilai luhur ajaran nenek
moyang mereka, dengan meminta anak-anak yang terkecil dalam keluarga untuk
menanyakan apa saja yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.
Jika seorang anak Yahudi mendapat didikan dari orang lain selain ayahnya sendiri, maka
ia juga akan memanggilnya "ayah". Hal pertama yang diajarkan kepada mereka adalah
pelajaran tentang sejarah bangsa Israel, dalam bentuk kredo-kredo, berupa inti sari sejarah
Israel yang telah diformulakan. Untuk semua itu anak harus menghafal di luar kepala selama
satu tahun. Namun demikian pada dasarnya tidak ada sekolah formal pada masa PL. Anak
belajar bersama dengan orang tuanya dengan terlibat dalam urusan kehidupan sehari-hari.
Mereka bertanya dan belajar sepanjang kehidupan mereka melalui setiap kesempatan yang
datang, dan orang tua akan selalu siap memberikan penjelasan.
Bagi orang Israel, pendidikan, khususnya pendidikan rohani, merupakan bagian integral
dari perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Ulangan 6:4 merupakan kredo pertama dan
utama yang harus diterapkan, yang memuat "Shema", yaitu doa yang diucapkan dua kali
sehari, setiap pagi dan petang. Ayat ini amat penting karena merupakan pengakuan iman
yang sangat tegas terhadap Tuhan. Pernyataan ini kemudian langsung dilanjutkan dengan

16
Bahan ini diedit sebagai sumber utama, dari https://www.pesta.org/ppl_pel04
FAZ | 21
perintah rangkap untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan mereka
(ayat 5), menaruh perintah itu dalam hati (ayat 6), mengajarkannya kepada anak-anak
mereka secara berulang-ulang (ayat 7), mengikatkannya sebagai tanda pada tangan dan dahi
(ayat 8), dan menuliskannya di pintu rumah dan gerbang (ayat 9).
Orang Israel menafsirkan perintah-perintah tersebut secara harafiah dengan membuat
"tali sembahyang" yang diikatkan di dahi atau lengan dan berisi empat naskah, salah satunya
adalah Ulangan 6:4-9 di atas. Ketiga naskah lainnya diambil dari Keluaran 13:1-10, Keluaran
13:11-16, dan Ulangan 11:18-21. Di dalam keempat naskah tersebut, kewajiban untuk
mengajarkan hukum dan pengetahuan tentang Allah kepada anak-anak mendapat penekanan
yang besar. Hal ini menunjukkan besarnya hubungan antara pendidikan rohani dalam rumah
tangga dengan ketaatan kepada Allah. (Sumber: www.pesta.org/penerapan_pendidikan_
kristen_perjanjian_lama_dalam_era_modern)

6. Poligami dan Perceraian


Poligami dan perceraian adalah suatu tindakan atau tingkah laku yang tidak mendapat
tanggapan terlalu khusus di PL, sekalipun kasus-kasus itu memang ada. Kasus poligami
sangat tergantung pada status dan perang seseorang, sedangkan perceraian selalu bersifat
insidental

a. Poligami
Kasus memiliki lebih dari satu istri di dalam PL bukan sesuatu yang dilarang, tetapi
tidak diharapkan. Maksudnya, walaupun poligami memang ada dalam Perjanjian Lama,
namun nampaknya dapat dimaafkan. Bahkan ada perintah untuk hidup setia dengan satu
pasangan saja, seperti di Mal 2:15. Jangkauan poligami tidak dilebih-lebihkan, karena
hampir terbatas pada raja-raja atau para pemimpin atau pejabat tinggi. Kecuali Salomo,
umumnya yang sering terdapat dslam adat kebiasaan adalah bigami.
Monogami tampaknya biasa terdapat dikalangan rakyat. Bapak-bapak leluhur kadang-
kadang dianggap sebagai contoh untuk poligami. Tetapi poligami harus dibedakan dari
perseliran. Pembedaan itu kelihatannya tidak penting bagi kita, tetapi sangat penting di
dunia kuno. Seorang selir adalah budak, sangat berbeda dan jauh lebih rendah dalam
hubungannya dengan tuannya, bila dibandingkan dengan istrinya. Baik Abraham maupun
Ishak membunyai hanya satu istri, sedang Yakub, yang sebenarnya menginginkan hanya satu
istri, mengenal empat perempuan dalam kehidupannya (dua istri dan dua selir) akibat tipu
daya dan iri hati.
Melompat sedikit ke depan, ke PB, Tuhan Yesus menandaskan, "Tetapi sejak semula
tidaklah demikian" (Mat. 19:18). Kata-kata yang diucapkan Yesus tentang perceraian itu
berlaku juga untuk poligami. Riwayat penciptaan secara jelas berbicara tentang satu suami
satu istri, "satu daging" antara satu laki-laki dan satu perempuan (Kej. 2:24). Di samping itu,
ada bagian-bagian dalam tulisan-tulisan hikmat yang mendorong, atau setidak-tidaknya
menganjurkan, monogami yang kokoh (Ams. 5:15-20; 18:22; 31:10-31, Kidung Agung) dan

FAZ | 22
ada penggunaan gambaran pernikahan untuk melukiskan hubungan yang eksklusif antara
Allah dan Israel. Meskipun orang sadar bahwa dari segi teologis poligami adalah kurang
ideal, namun poligami ditoleransi di Israel sebagai suatu kebiasaan sosial. Tetapi ada
hukum-hukum yang membatasi dampak-dampaknya yang mungkin menghina pihak
perempuan.
Masalah perseliran, kedudukan seorang selir jauh di bawah kedudukan seorang istri,
tetapi para selir mempunyai hak legal, sebagaimana dinyatakan dalam Keluaran 21:7:11. Ia
tidak dapat dijual kembali oleh tuannya, ia harus diperlakukan sebagai selir dari satu orang
saja, bukan mainan keluarga. Kalau tuannya mengambil selir lain, ia tidak boleh
mengabaikan kewajibanya kepada selir yang pertama dalam hal materi maupun seksual.
Kalau demikian hak-hak selir, maka hak-hak istri dalam keadaan poligami tentu saja tidak
kurang dari itu. Ulangan 21:10-14 juga melindungi hak seorang perempuan tawanan perang
yang diambil menjadi istri. Ia harus diperlakukan secara layak dan manusiawi dan tidak
dapat diperlakukan sebagai budak. Hukum warisan dalam Ulangan 21:15-17 secara tidak
langsung mengecam bigami bahwa seorang laki-laki tidak dapat mencintai dua orang
perempuan secara sama, atau pada akhirnya salah seorang sama sekali tidak dicintainya
lagi. Istri yang tidak dicintai itu dilingdungi dari perlakukan yang tidak adil; jika anak laki-
lakinya adalah anak sulung maka anak itu tidak bileh kehilangan warisannya karena ibunya
tidak dicintai. Cerita tentang Elkana dan istri-istrinya yang saling bersaing (1 Sam. 1)
memang tidak untuk mengkritik bigami secara langsung, tetapi bisa menjadi ilustrasi yang
hidup tentang kesengsaraan yang dapat ditimbulkan oleh praktik tersebut.
 Reff: http://www.sarapanpagi.org/poligami-dan ... .html#p6651
 MITSVOT: Tentang Pernikahan, Perceraian, dan Keluarga, Mitsvot 59 - 81,
 Reff : http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=451#451

b. Perceraian
Poligami diterima tanpa persetujuan yang jelas, namun ada hukum yang mengecamnya
secara tidak langsung. Perceraian juga diizinkan, tetapi akhirnya dikecam pula secara
langsung. Perceraian hampir tidak disinggung dalam hukum Perjanjian Lama, sebab
pernikahan dan perceraian bukanlah kasus perdata seperti dalam kebudayaan masa kini.
Kedua-duanya termasuk yuridiksi rumah tangga. Karena itu, orang tidak harus pergi ke
pengadilan untuk bercerai.
Hukum mengenai perceraian bukanlah sesuatu yang mudah diaplikasikan, sekalipun ada
hukum yang mengizinkan. Suatu perceraian harus memanuhi aturan mengenai hubungan
kedua belah pihak setelah perceraian terjadi. Hukum perceraian nampaknya lebih untuk
memberi perlindungan terhadap perempuan yang diceraikan.
Dalam Ulangan 22:28-29 ada larangan untuk menceraikan perempuan yang harus
dinikahi oleh laki-laki yang telah memeperkosanya. Peraturan dalam Ulangan 24:1-4 menjadi
pokok pertentangan antara Yesus dan orang Farisi. Peraturan itu tidak "memerintahkan"
perceraian tetapi mengandaikan bahwa perceraian sudah terjadi. Dalam kasus ini, sang

FAZ | 23
suami diminta menulis surat cerai untuk melindungi istrinya. Jika tidak, ia atau suami
barunya yang kemudian dapat dituduh berzinah. Suami pertama dilarang mengambil kembali
perempuan apabila suaminya yang berikut menceraikannya atau meninggal dunia. Dapat
disebutkan lagi kasus perempuan tawanan yang hendak diceraikan dan tidak boleh dijual
sebagai budak, kalau suaminya tidak merasa puas. Dalam hal itu perceraian tampaknya lebih
baik daripada perbudakan. Setidak-tidaknya martabat dan kemerdekaan masih
dipertahankan, bila dibandingkan dengan perbudakan (Ul 21:4).
Dengan demikian perceraian ditoleransi dalam batas-batas hukum. Dibandingkan dengan
poligami, perceraian jauah lebih tidak dikehendaki Allah. Dalam Maleakhi 2:13-16 ada
serangan yang tidak mengenal kompromi terhadap perceraian, yang memuncak dengan
kecaman yang terang-terangan: "Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel".
Tidak ada kecaman atas poligami yang setajam atau dilengkapi dengan argumen teologis
yang kuat seperti itu, barangkali karena poligami hanya merupakan "perluasan" pernikahan
yang melampaui batasan monogami yang dimaksudkan Allah, tetapi perceraian sama sekali
menghancurkan pernikahan. Dalam kitab Maleakhi, perceraian berarti "menutup [diri]
dengan kekerasan". Poligami menggandakan hubungan tunggal yang Allah kehendaki,
sedangkan perceraian menghancurkan hubungan itu atau mengandaikan hubungan itu sudah
hancur.
Sumber:
Christopher Wright. Hidup Sebagai Umat Allah; Etika Perjanjian Lama: Poligami dan
Perceraian, BPK Gunung Mulia, 1995, Halaman: 180-183

5. Perbudakan
Alkitab tampaknya tidak begitu mengecam perbudakan, sekalipun mengatur sikap yang
perlu untuk memberi hak-hak budak. Karena itu, baik di PL masupun PB, misalnya, Rasul
Paulus, sering dikecam karena membiarkan perbudakan. Dalam dunia kuno pada zaman PL
perbudakan adalah bagian integral dari kehidupan sosial, ekonomi dan kelembagaan,
sehingga sulit membayangkan masyarakat tanpa perbudakan itu atau bagaimana Israel dapat
menghapuskannya secara efektif. Namun demikian, ada tiga hal yang dapat dicatat.

a. Nilai Manusiawi
Perbudakan dalam masyarakat yang relatif kecil seperti Israel sangat berbeda dengan
perbudakan dalam peradaban yang besar, seperti kekaisaran-kekaisaran Timur Tengah kuno
sezamannya sampai pada kekaisaran-kekaisaran Yunani dan Romawi kemudian. Di sana
pasar-pasar budak penuh dengan tawanan perang dan orang-orang buangan. Para budak
diperlakukan sebagai mesin kerja tanpa perikemanusiaan. Tetapi dalam masyarakat Israel
yang bertani dan beternak, budak biasanya melayani dan tinggal dalam suatu rumah tangga.
Tenaganya melengkapi tetapi tidak menggantikan tenaga anggota-anggota rumah tangga
yang bebas. Dengan kata lain, tenaga kerja budak tidak melepaskan orang Israel yang bebas
dari kerja fisik, seperti dalam masyarakat Yunani kuno. Sepanjang mereka diperlakukan

FAZ | 24
secara manusiawi (seperti yang dituntut oleh hukum), perbudakan itu dapat dikatakan tidak
begitu berbeda dengan berbagai jenis pekerjaan upahan. Budak-budak mempunyai lebih
banyak hak dan perlindungan hukum di Israel daripada di masyarakat lain sezamannya.
Tampaknya, di PL, budak-budak menikmati lebih banyak jaminan hukum dan ekonomi
daripada orang- orang yang bebas tetapi tidak mempunyai tanah, para pekerja sewaan dan
tukang sewaan.

b. Hak Para Budak


Kedua, perbudakan dalam PL tidak dibiarkan tanpa kritik. Beberapa segi pemikiran dan
praktik PL dalam bidang ini sebenarnya "menetralkan" perbudakan sebagai suatu lembaga
dan menjadi benih penolakan yang radikal terhadap perbudakan dalam pandangan Kristen
kemudian. Tentu saja segi-segi itu membuat Israel menjadi unik di dunia kuno dalam
sikapnya terhadap perbudakan, suatu hal yang diakui secara bulat oleh para ahli Timur
Tengah kuno. Ada tiga pokok yang perlu diperhatikan.

1) Faktor Sejarah
Faktor pertama dan yang paling berpengaruh dalam pandangan teologis dan perlakukan
hukum Israel terhadap perbudakan adalah sejarah Israel sendiri. Israel tidak melupakan
bahwa asal usulnya ialah sekelompok rakyat miskin dari budak-budak yang dibebaskan. Hal
ini memang luar biasa, kalau tidak unik, di antara cerita- cerita tentang asal usul suatu
bangsa. Karena kebanyakan mitos etnis mengagungkan masa lalu nenek moyang bangsanya.
Tetapi Israel melihat kembali perbudakan para leluhurnya selama empat abad di negeri
asing, yang semakin lama menjadi semakin menindas, tidak manusiawi dan tidak
tertahankan. Pengalaman itu benar-benar mewarnai sikap mereka selanjutnya terhadap
perbudakan.
Pada satu pihak, orang Israel tidak diperbolehkan memperbudak atau memaksakan
syarat-syarat kerja atas teman sebangsanya. Perbuatan itu tidak sesuai dengan kedudukan
mereka sebagai saudara-saudara yang sama-sama ditebus Allah, budak-budak Allah sendiri
(bdn. Im. 25:42-43, 46, 53, 55). Pada pihak lain, perlakukan Israel terhadap orang asing
dalam masyarakatnya, baik sebagai orang merdeka yang menjadi pekerja sewaan tanpa
memiliki tanah ataupun budak belian, harus ditandai dengan belas kasihan, mengingat
perbudakan di Mesir yang tidak mengenal belas kasihan. Prinsip ini sangat jelas dalam
hukum PL yang tertua, yaitu dalam Keluaran 21-23: "Orang asing janganlah kamu tekan,
karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu
adalah orang asing di tanah Mesir" (Kel. 23:9; bnd. 22:21; Ul. 15:15).

2) Faktor Keagamaan (Hukum Taurat)


Perbudakan di PL bukan tanpa “hak azazi”. Sikap terhadapa perbudakan di PL lahir dari
sejarah mereka, lalu diterjemahkan ke dalam perundang-undangan khusus yang memberikan
budak-budak di Israel kedudukan, hak, perlindungan yang tidak terdapat pada bangsa-

FAZ | 25
bangsa lain. Budak-budak bias diikutsertakan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Mereka dapat disunat dan ikut ambil bagian dalam perjamuan Paskah (Kel. 12:44). Mereka
boleh mengikuti perayaan- perayaan besar (UL. 16:11-14; khususnya ay. 12). Mengingat
tugas mereka mungkin yang paling bermanfaat adalah perintah yang memberi kesempatan
bagi budak-budak, laki-laki dan perempuan, untuk ikut beristirahat pada hari sabat (Kel.
20:10). Bahkan dalam Keluaran 23:12 dikatakan bahwa perintah itu memang diperuntukkan
bagi para budak dan binatang yang bekerja.
Berdasarkan Hukum Taurat, hak para budak tidak hanya dalam bidang sosio-kultis,
budak-budak juga mendapat perlindungan dalam hukum perdata. Ada dua buah hukum dari
Kitab Perjanjian (Kel. 21:20-21, 26-27) yang berkenaan dengan perlakukan seorang majikan
atas budak-budak sendiri. Itulah sebabnya hukum- hukum itu bersifat unik di antara hukum-
hukum Timur Tengah kuno. Dalam perundang-undangan yang lain ada banyak hukum
mengenai pemukulan atau pembunuhan atas budak-budak orang lain, tetapi tidak ada
hukum mengenai budak sendiri. Dalam hukum Israel, kalau seorang majikan memukul
seorang budak sehingga mati, maka budak itu harus "dibalaskan"". Demikianlah makna
harafiah kata kerja yang dipakai di sini. Dalam konteks lain kata itu berarti pihak yang
bersalah akan dibunuh oleh keluarga korban. Arti yang wajar dari hukum itu adalah bahwa
majikan yang membunuh budaknya harus dihukum mati oleh masyarakat atas nama budak
itu, sekalipun tidak mempunyai keluarga untuk membalasnya.

3) Faktor Kemanusiaan
Hukum yang berikutnya melindungi seorang budak dari kecelakaan tubuh. Jika ia dilukai
oleh tuannya ia harus dibebaskan. Kata "gigi" memperlihatkan bahwa luka yang dimaksud
bukan hanya luka yang mengurangi kemampuan budak untuk bekerja. Di situ ada
keprihatinan yang mendalam atas kemanusiaan budak itu. Perlu dicamkan bahwa peraturan
ini adalah hukum perdata, bukan seruan untuk berbuat baik. Oleh sebab itu dalam keadaan
demikian, seorang budak dapat naik banding kepada peradilan para tua-tua melawan
majikannya sendiri. Hal ini juga menjadi hak yang unik. Kelihatannya Ayub menunjuk pada
peraturan ini ketika ia menyatakan tidak pernah berbuat tidak adil terhadap budak-
budaknya ketika mereka beperkara dengannya (Ayb. 31:13).
Setelah melayani selama enam tahun, seorang budak diberi kesempatan untuk bebas
pada tahun ketujuh. Karena ia tetap tidak memiliki tanah, sangat mungkin "kemerdekaan"
itu hanya berarti dapat berganti majikan. Dalam Ulangan 15: 13-14 hukum asli itu diperluas
dengan pemberian yang melimpah, yakni suatu bentuk tunjangan pengangguran pada zaman
itu. Perbudakan tidak harus bersifat menindas. Hal ini tampak dari hukum Taurat yang
mengandaikan seorang budak sering lebih suka tinggal dalam rumah tangga tuannya
daripada kebebasan (Ul. 15:16-17).
Namun yang paling unik dan mengagumkan ialah hukumt tentang suaka yang terdapat
dalam Ulangan 23:15-16. Budak yang melarikan diri tidak dihukum atau dikembalikan pada
tuannya, tetapi diijinkan hidup bebas di tempat pilihannya. Dalam masyarakat lain pada

FAZ | 26
waktu itu budak yang melarikan diri dihukum keras dan siapa saja yang membantunya juga
dihukum. Tetapi hukum Israel tidak hanya memberi kebebasan bahkan memerintahkan agar
ia dilindungi.
"Luar biasa sekali, satu-satunya masyarakat Timur Tengah kuno yang hukumnya
melindungi budak yang melarikan diri adalah masyarakat yang berasal dari kelompok
budak-budak yang melarikan diri dari Mesir! Israel telah mengalami Allah sebagai Allah
yang bersimpati kepada budak-budak yang melarikan diri. Jadi peraturan ini bukanlah
hanya suatu prinsip etis atau hukum yang mempertahankan hak-hak asasi manusia saja,
tetapi mencerminkan pengalaman keagamaan Israel sendiri dan itulah ciri khusus etika
Alkitab." (Clines: hal. 8)

Sedemikian tajam perbedaan sehingga sebagian ahli berpikir, hukum ini hanya dapat
berlaku pada budak-budak asing yang mencari suaka di Israel. Tetapi hukum tersebut tidak
menyatakan demikian. Seandainya pandangan mereka benar, hal ini tetaplah unik dan
memperlihatkan bahwa masyarakat Israel menarik budak-bduak untuk mencari perlindungan
di dalamnya. Kalau benar berlaku di Israel, hukum itu mulai memperlemah perbudakan itu
sendiri. Perbudakan tidak dilindungi atau dianggap pranata hakiki yang tidak boleh diganggu
gugat di bawah hukum Israel. Setidak-tidaknya dapat dikatakan bahwa hukum itu
menganggap budak-budak yang melarikan diri adalah kekecualian, yang tidak terus menerus
terjadi. Ini mendukung pandangan bahwa pada umumnya perbudakan di Israel bukanlah
penindasan yang kejam. Tentu saja kalau semangat dari hukum-hukum tentang perbudakan
dalam Kitab Keluaran dan Ulangan diwujudkan dalam praktik.

c. Perbudakan Tidak Dipandang Sebagai Hal yang Wajar


Perbudakan dalam PL tidak dilindungi sebagai pranata Israel yang hakiki. Itu berarti
perbudakan tidak pernah dipandang sebagai hal yang wajar, suatu bagian ciptaan yang
diatur secara ilahi seolah-olah budak dan orang bebas adalah jenis manusia yang berbeda.
Bagian pertama yang menyebut tentang budak dan perbudakan berada dalam konteks
kutukan. Dalam Kejadian 9:25-27 status perbudakan Kanaan di kemudian hari dikaitkan
dengan kutukan Nuh. Perbudakan dilihat sebagi hal yang tidak wajar dan terkutuk akibat
kejatuhan manusia ke dalam dosa. Perbudakan sama sekali bukanlah keadaan manusia yang
hakiki dan tidak dapat diubah. Tetapi titik puncak kritik etis Pl atas perbudakan ditemukan
dalam ucapan Ayub yang menegaskan kesetaraan majikan dan budak sebagai ciptaan Allah.
Berbicara tentang budak-budaknya sendiri, ia berkata:
"Bukankah Ia yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah
satu juga yang membentuk kami dalam rahim?" (Ayub 31:15).

Ayat nas dari etika penciptaan dalam Perjanjian lama sangat dekat dengan penegasan
Paulus bahwa budak dan orang merdeka adalah satu di dalam Kristus (Gal. 3:28). Walaupun
penegasan Paulus itu cukup jelas, namun penghapusan perbudakan tidak terselesaikan
dalam negeri-negeri Kristen selama berabad-abad, apalagi oleh jemaat PB. Mengingat itu,
kita tidak dapat mengecam Israel pada zaman PL yang memang membiarkan perbudakan
tetapi dengan derajat kemanusiaan dan belas kasihan yang tinggi.
Sumber :
FAZ | 27
Dr. Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Allah; Etika Perjanjian Lama: Perbudakan, BPK
Gunung Mulia, 1995, Halaman: 183-187

C. Latar Belakang Geografi

Sejarah bangsa Israel berkembang dalam konteks geografi yang khusus dan unik. Alkitab
mencatat peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi dalam ruang dan waktu, bukan sejarah
sastra yang direka-reka dan direncanakan. Bagaimanapun juga, Alkitab bukanlah sekadar
catatan tawarikh purba, juga tidak dimaksudkan sebagai kamus ilmu bumi ataupun sebuah
buku pedoman topografi. Sebagaimana halnya dengan ilmu arkeologi, maka geografi
memperluas pengetahuan kita mengenai lingkungan atau latar belakang cerita-cerita di
Alkitab dan dengan
demikian memperkaya pemahaman kita tentang sebuah teks tertentu di PL. 17
Dunia fisik dari PL adalah Timur Dekat kuno, yang sekarang ini biasa dikenal sebagai
Timur Tengah. Kisah-kisah PL meliputi kawasan Mesopotamia di timur, Asia Kecil atau
Anatolia di utara, Siro-Palestina dan Mesir di barat, dan semenanjung Arabia di Selatan.
Negara Irak dan Iran yang sekarang menempati sebagian terbesar dari Mesopotamia kuno,
sementara Asia Kecil sekarang ini dikenal Sebagai Turki, dan Saudi Arabia menguasai hampir
seluruh semenanjung
Arab. Hampir empat perlima bagian dari sejarah PL terjadi di daerah Siro-Palestina di
pantai timur Laut Tengah. Wilayah ini sekarang meliputi negara Siria, Libanon, Yordania,
dan Israel.
Dunia PL biasanya dikenal dengan kawasan “Sabit yang Subur” ( fertile cresent). Daerah
ini meliputi lembah dan delta Sungai Nil, dataran yang sempit sepanjang pantai Laut Tengah
dari Siro-Palestina, dan lembah-lembah sungai Tigris dan Efrat. Curah hujan yang memadai
dan irigasi sepanjang dataran pesisir dan lembah sungai mengizinkan pertanian dan
penduduk dapat menetap, sehingga muncullah peradaban-peradaban yang paling awal dari
Timur Dekat kuno. Bagian pertama ini mendeskripsikan daerah-daerah geografis utama yang
berbatasan dengan kawasan Sabit yang Subur ini dan bangsa-bangsa serta kebudayaan
masing-masing yang mempengaruhi sejarah lbrani.

1. Mesopotamia
Nama "Mesopotamia" berarti "'negeri di antara sungal-sungai," yaitu Sungai Tigris dan
Sungai Efrat. Bidang tanah subur sepanjang sungai-Sungai itu terbentang sekitar 900 km
panjangnya dari daerah pegunungan sampai pinggiran sebelah utara dari kawasan Sabit yang
Subur yang meluas ke dataran-dataran tanah endapan yang luas di Teluk Persia. Seperti di
Mesir, jaringan-jaringan saluran atau terusan mengairi dataran dataran penampung banjir,
yang menjadikan dataran Mesopotamia hilir sangat produktif untuk pertanian. Berbeda

17
Bahan ini hampir seluruhnya dikutip atau diedit dari: A. E. Hill dan J. H. Walton, 2004: 67-86)
FAZ | 28
dengan Mesir, Mesopotamia tidak mempunyai rintangan-rintangan alami yang melindungi
daerah itu dari pengaruh dan serbuan yang datang dari luar.
Mesopotamia Utara merupakan negeri asal orang-orang Israel karena para leluhur Ibrani
tinggal di daerah Haran di Padan-Aram antara Tigris dan Efrat. Abraham diperkenalkan
sebagai seorang Amori (Yeh 16:3), dan beberapa waktu kemudian Yakub juga tinggal
beberapa waktu di antara sanak keluarga Amori di Padan-Aram (Kej 28:1-9). Tentu saja,
Abraham juga berpindah tempat dari Ur di Mesopotamia (atau negeri "Ur sebelah utara") ke
arah utara menuju Haran dan akhirmya ke Kanaan ketika mengikuti wahyu dan janji
Yahweh.
Sejarah Israel kemudian sangat dipengaruhi oleh imperium bangsa-bangsa Mesopotamia,
dengan Asyur, Babilonia, dan Persia yang semuanya menguasai negeri Palestina pada masa-
masa tertentu dalam pemerintahan mereka atas dunia Timur Dekat kuno. Asyur Babilonia
juga bertanggung jawab atas kehancuran kerajaan Ibrani yang pecah terbagi dua dan
pemindahan ribuan orang Ibrani ke dalam pembuangan di Mesopotamia. Kemudian, di bawah
pemerintahan Koresy dan orang Persia, orang-orang Ibrani yang dibuang ini dizinkan untuk
kembali ke tanah air merecka dan membangun kembali Bait Yahweh. (Hill dan Walton: 69-
70)

2. Asia Kecil (Anatolia)


Daerah Asia Kecil yang terletak di barat laut kawasan Sabit Yang Subur merupakan
daerah pegunungan dan berbukit-bukit. Keadaannegeri ini berbeda-beda, dengan tanah yang
subur dan iklim Laut Tengah di bagian barat dan selatan. Di bagian tengah terdapat dataran
tinggi yang tandus dan kering dan gunung-gunung berlereng curam di bagian timur ke arah
Armenia. Karena tanahnya memiliki andungan berbagai mineral dan bijih logam di jajaran
gunung-gunung bagian tengah, memberikan kepada penduduk Anatolia sumber daya yang
tersedia untuk mengadakan perdagangan komersial dengan negeri-negeri lainnya di Timur
Dekat kuno,
baik bahan-bahan pokok maupun barang-barang rumah tangga. Daerah semenanjung juga
merupakan jembatan yang menghubungkan Asia tengah dengan Eropa tenggara. Ini berarti
daerah tersebut sering menjadi sasaran serangan dan pelanggaran batas serta pengaruh
asing.
Selama milenium kedua SM bagian tengah daerah tersebut merupakan tempat tinggal
Imnperium Het, saingan yang kuat bagi Mesir untuk memperoleh kekuasaan atas Siro-
Palestina. Orang-orang Het adalah bangsa militer, yang menyewakan diri sebagai tentara
upahan dan bantuan militer ke seluruh kawasan Timur Dekat kuno. Bentuk pakta Het yang
dipakai raja-raja untuk menundukkan musuh-musuh yang telah dikalahkan menjadi suatu
sumbangan sastra yang penting bagi dunia kuno. Bentuk tersebut serupa dengan bentuk yang
dipakai untuk menyusun penulisan perjanjian antara Yahweh dan umat-Nya Israel, baik
dalam kitab Keluaran (19-24) maupun dalam kitab Ulangan. Ada juga kesamaan-kesamaan
antara undang-undang Het tertentu dan Perjanjian Lama. Beberapa sarjana AIkitab bahkan

FAZ | 29
menemukan pengaruh Het dalam bentuk dan praktik menulis Sejarah di Israel. Sekitar tahun
685-546 SM. (Hill dan Walton, 2004: 70-71)

3. Siro-Palestina
Daerah Siro-Palestina merupakan daratan yang menjadi jembatan antara benua Afrika
dan Asia. Daratan subur sejauh 600 km sepanjang Pesisir Laut Tengah ini di sebelah barat
berbatas kepada laut besar (Laut Tengah) dan di umur kepada padang pasir Arab dan jurang
yang dalam dari celah Yordan. Siro-Fenisia atau bagian utara dari daratan yang merupakan
Jembatan ini, pada dasarnya meliputi negara Siria dan Libanon yang sekarang. Palestina,
atau bagian sclatan dari daratan yang merupakan jembatan, pada dasarnya terdiri atas
kawasan yang dihuni oleh bangsa-bangsa modern seperti Israel dan sebagian Yordania. Pada
umumnya Gunung Hermon menandai tapal batas antara bagian utara dan selatan dari
daratan yang merupakan jembatan.
Pantai Siro-Fenisia memiliki keuntungan berupa pelabuhan-pelabuhan alami. Hal ini
membangkitkan perdagangan maritim yang dipusatkan di daerah tersebut, teristimewa di
antara orang-orang Fenisia dan pelabuhan-pelabuhan perdagangan utama mereka yang ada
di
Tirus, Sidon, dan Biblos. Orang menduduki pantai utara Palestina darí Ako sampai Ugarit dan
merupakan pedagang-pedagang sepanjang daerah pesisir Laut Tengah selama hampir dua
ribu tahun (bd. Yeh 27). Baik Daud maupun Salomo bersekutu dengan orang-orang Fenisia,
yang mengakibatkan Bait Suci di Yerusalem dirancang dan dibangun oleh orang Fenisia dan
sebuah pelabuhan Laut Merah di Elat disediakan untuk para pedagang Fenisia (1Raj 7:13-22;
9:26-28). Selama masa kerajaan yang terpecah, Raja Ahab dari Israel mengambil Izebel
seorang puteri Fenisia, sebagai istri, dan dengan demikian mendatangkan agama Baal
Melkart ke dalam kehidupan politik dan keagamaan dari Kerajaan Utara (1Raj 16:29-34).
Orang Aram menduduki daerah-daerah pedalaman Siro-Fenisia selama masa PL. Mereka
adalah keturunan dari orang Amori dan Hur serta menetap di daerah oasis Damsyik yang luas
di Aram, atau Siria. Orang Aram tinggal berbatasan dengan Israel dan berganti-ganti
menjadi musuh atau sekutu Israel, bergantung pada ancaman kekuatan dan kehadiran Asyur.
Daerah Palestina, atau Kanaan, adalah negeri Perjanjian untuk umat Ibrani. Namun,
kehadiran orang Filistin di daerah pantai dan beberapa kelompok suku Kanaan yang tinggal
di pedalaman menunjukkan bahwa bahwa Israel tidak dapat menduduki negeri yang
dijanjikan itu tanpa pertentangan. Penaklukan Kanaan yang belum selesai di bawah
pimpinan Yosua menyebabkan orang-orang Ibrani menjadi sasaran pengaruh yang
menyesatkan dari Baalisme Kanaan dan penyembahan berhalanya serta percabulannya (bd.
Ul 7:1-5; Yos 13:1-7; Hak 2:11 15). Orang Filistin menguasai dataran pantai dan tetap
merupakan musuh yang kuat bagi Israel selama periode kerajaan bersatu dan terpecah,
sampai pemerintahan Raja Uzia (767-140 SM) menaklukkan mereka (1Taw 26:6-15). Nabi-
nabi Ibrani terus-menerus memberitakan hukuman atas kota-kota Filistin sampai dengan

FAZ | 30
abad ketujuh dan keenam SM (lih. Yer 25:20; Zef 2:4-; Zak 9:5-7), -Hill dan Walton, 2004:
71-72)

4. Mesir
Negeri Mesir terletak di sebelah barat daya Palestina dan sudah dikenal sejak dulu kala
sebagai "karunia dari Sungai Nil". Sungai Nil dianggap sebagai dewa oleh orang Mesir karena
semua kehidupan bergantung pada aliran sungai besar ini. Sekitar 1207 km yang terakhir
dari Sungai Nil membagi dua daerah yang dikenal sebagai Mesir pada zaman purba. Lembah
sungainya dikurung oleh tebing-tebing curam, batu kapur di sebelah timur dan gurun pasir di
sebelah barat. Hamparan tanah yang dapat ditanami di lembah sungai berukuran dari sekitar
40 km sampai sekitar 242 km lebarnya di muara sungai. Negeri Mesir menerima curah hujan
sampai 20 cm saja setiap tahunnya, dan sebagian besar mendapat curah hujan kurang dari
25 cm. Kegiatan pertanian bergantung seluruhnya pada irigasi tanah endapan yang subur di
sepanjang lembah sungai sebagai akibat luapan atau banjir yang terjadi setiap tahunnya.
Mesir kuno dibagi atas Kerajaan Hulu (sepanjang bidang tanah sempit dari lembah
sungai di selatan) dan Kerajaan Hilir (yang pada dasarnya adalah daerah delta di utara).
Pola banjir Sungai Nil yang dapat diramalkan dan penghalang-penghalang alami yang besar
berupa gunung-gunung dan padang gurun di perbatasan timur dan barat menyebabkan
peradaban Mesir tidak mengalami perubahan. Para sejarawan sering kali mengacu kepada
"pengasingan yang baik" dan Mesir yang memungkinkan peradaban Mesir mengembangkan
perekonomian berdasarkan pertanian yang dapat diandalkan, suatu struktur pemerintahan
yang stabil, dan masyarakat yang tertib.
Masa Wangsa Pertama dan Kerajaan Lama dari sejarah Mesir (sekitar tahun 100-2100 SM)
menyaksikan penyatuan Mesir Hulu dan Mesir Hilir di bawah kepemimpinan Fiarun. Periode
awal ini juga masa pembangunan piramid-piram besar yang merupakan makam untuk
keluarga raja. Kerajaan Pertengah (2133-1786 SM) dan Masa Perlihan Kedua (1876-1570 SM)
meliputi persinggahan Abraham ke Mesir (Kej 12:10-20), perpindahan Yakub dan keluarganya
ke Mesir (Kej 45:16 - 47:12), dan barangkali penindasan umat Ibrani sebagai budak (Kel 1:1-
14).
Kerajaan Baru (1570-1085 SM) menyaksikan panggilan Musa sebagai pelepas Orang lbrani
dan peristiwa keluaran dari penawanan di Mesir (Keluaran 3-13). Menjelang akhir Abad
Perunggu Akhir (sekitar tahun 1200 SM) Mesir berhasil menguasai Palestina di bawah
pimpinan Rameses II. Keberhasilan ini sebagian tercapai karena perjnjian yang diadakan
dengan Orang-orang Het. Campur tangan Mesir di Palestina dilanjutkan oleh Sheshonk I (ITB:
Sisak), yang melindungi Yerobeam sebagai pelarian politik dari Israel (1Raj 11:40) dan yang
menyerbu Yehuda selama pemerintahan Rehabeam (1Raj 14:2-26). Setclah itu Mesir tetap
merupakan sekutu yang penting dan sangat diperlukan oleh kerajaan Ibrani yang terpecah
untuk menghadapi menghadapi kekuasaan kerajaan Mesopotamia, yaitu Asyur dan Babilonia.
Kemudian sejarah Ibrani menyaksikan banyak hubungan langsung dengan orang Mesir
juga. Misalnya, Raja Salomo menikahi seorang putri firaun sebagai bagian dari suatu

FAZ | 31
persekutuan politik (1Raj 3:1-2), Dan Raja Yosia dari Yehuda dibunuh oleh firaun Nekho
dalam pertempuran di Megido (2Raj 23:28-30).
Pengaruh Mesir dapat dilihat di bidang lainnya, yaitu dalam bahasa dan kesusastraan
Perjanjian Lama. Misalnya, Perjanjian Lama berisi hampir lima puluh "kata-kata pinjaman"
dari Mesir, atau sejumlah kosakata yang secara langsung dipinjam dari bahasa Mesir (seperti
'abrek "bertelutlah," Kej 41:43 versi TL, “hormat” versi ITB). Selain itu ada juga persamaan-
persamaan yang sudah lama diakui antara sastra hikmat dan syair kasih Mesir dan Ibrani.
Agama Ibrani sudahr dicemarkan setidak-tidaknya pada dua peristiwa oleh pengaruh
yang menyebar dari pemujaan anak lembu Apis dari Mesir, yaitu peristiwa Harun dan anak
lembu emas yang dikisahkan dalam Keluaran 32 dan penyembahan patung anak lembu
Yerobeam di Dan serta Betel sebagaimana dikemukakan dalam 1Raj 12.
Keahlian negarawan lbrani juga dipengaruhi oleh orang Mesir, ketika nabi-nabi para
pembuangan menegur Israel karena meninggalkan Allah dan mengadakan persekutuan
dengan Mesir (Hosea 7:11). Anehnya, Yesaya bernubuat bahwa Mesir pada suatu hari akan
berpaling kepada Tuhan dan Yahweh akan menyebut mereka sebagal umat-Nya, Yes 19:16-
25. (Hill dan Walton, 2004: 72-74)

5. Semenanjung Arabia
Semenanjung Arabia adalah sebuah dataran tinggi yang sangat besar dan yang tinggi
letaknya. Dataran tinggi ini terdiri atas padang gurun yang luas, bukit-bukit pasir, dan
hamparan lava yang dikelilingi oleh daerah pinggiran pantai yang agak subur, Semenanjung
ini biasanya terbagi atas tiga daerah geografis, (1) daeran barat laut yang disebut Arabia
yang mencakup Petra, Edom, Moab dan Trans-Yordan, (2) Padang Gurun Arabia di daerah
utara dan tengah, dan (3) daerah pesisir selatan yang disebut sebagai Arabia yang
Beruntung. Gurun yang luas di semenanjung Arabia merupakan tapal batas fisik yang utama
antara peradaban lembah sungai Mesopotamia dan Mesir. Karena alasan ini, maka
perjalanan dari timur ke barat di daerah Timur Dekat kuno terjadi dalam arah utara selatan
sepanjang Sungai Tigris dan Efrat ke Haran dan Damsyik.
Daerah Transyordan dari Arabia Petra adalah tempat tinggal dari beberapa negara dan
suku setengah pengembara yang sangat menonjol dalam sejarah Israel. Orang Moab dan
orang Amon adalah suku-suku bangsa yang homogen yang garis keturunannya dapat dirunut
kepada
Lot, keponakan Abraham, dan hubungannya yang tak wajar dengan kedua putrinya (Kej
19:30-38). Kedua suku berupa kerajaan, diatur dan diperintah oleh suatu bentuk jabatan
raja suku.
Bangsa Moab dan Amon-lah yang tidak mengizinkan orang Ibrani melalui daerah selatan
Transyordan dalam perjalanan mereka dari Mesir menuju ke Kanaan (Ulangan 2:9-37).
Karena alasan inilah maka orang Moab ataupun orang Amon tidak diizinkan untuk masuk
Jemaah mereka dari Tuhan (Ul 23:3). Kedua bangsa tersebut merupakan musuh Israel
selama masa Hakim-Hakim sampai pada kerajaan Israel bersatu dan kerajaan yang terpecah.

FAZ | 32
Menurut 2Raj 24 dan Yer 37, Moab dan Amon membantu orang Babel merusak Yerusalem.
Lebih menyusahkan orang Ibrani lagi adalah dewa-dewa orang Amon (Milkom atau Molokh,
Raj 11:7; 2Raj 23:10) dan Moab (Kamos, 1Raj 11:7, 33). Orang Moab yang sangat kita kenal
adalah janda Rut, yang menyatakan kesetiaan pada Yahweh (Rut 1:16) dan pada akhirnya
tercantum dalam daftar silsilan Raja Daud (Rut 4:13-22).
Orang Edom tinggal di sebelah selatan Moab dari Sungai Zered sampai ke Teluk Arabia.
Garis keturunan mereka bisa dirunut kepada kakak kembar Yakub, Esau (Kej 25:19-26).
Mereka merupakan bangsa saingan bagi umat lbrani dari masa Keluaran sampal pada
kejatuhan Yerusalem. Nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Yoel, Amos, dan Obaja semuanya
mengumumkan berita kehancuran bagi Edom, bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai
selama-lamanya
(Mal 1:2-4).
Dua kelompok bangsa yang mengembara di semenanjung Arabia utara perlu disebutlkan.
Kelompok yang pertama, Amalek, seperti orang Edom (Kej 36:12, 16), berperang melawan
Israel dalam perjalanan dari Mesir menuju Kanaan (Kel 17:8-16) dan merupakan bagian dari
suatu koalisi bangsa-bangsa asing yang menindas Israel selama masa para Hakim (lih. Hak
6:3; 7:12). Bilangan 24:20 dan Ulangan 25:17-19 menubuatkan pemusnahan seluruh bangsa
Amalek karena serangan mereka yang tidak beralasan terhadap Israel selama peristiwa
Keluaran. Kelompok yang kedua, orang Midian, setengah pengembara, keturunan Abraham
dan tingggal di Arabia utara (Kej 25:1-2, 18). Di Habakuk 3:7, Kusyan dan Midian tampaknya
disamakan, jadi kedua suku ini dalam beberapa hal tumpang tindih identitasnya. Yusuf
dijual kepada orang Mesir oleh pedagang Midian (Kej 37:25-36), dan Musa menikah dengan
seorang perempuan Midian dari marga Yitro, sementara berada dalam pelarian di Sinai (Kel
2:15-22). Selama periode Hakim-hakim termasuk bangsa yang menindas suku-suku Ibrani
(Hak 6:2; 7:2). (Hill dan Walton, 2004: 74-75)

6. Negeri Palestina
Negeri Palestina dinamai menurut bangsa Filistin ( Pelishtim dalam bahasa Ibrani) yang
menetap di daerah pantai Laut Tengah dari Yope sampai Gaza ± tahun 1300-1200 SM.
Menurut Alkitab, orang-orang Filistin dikaitkan dengan orang Kaftor, yang biasanya dikaitkan
dengan pulau Kreta (Yer 47:4; Amos 9:7). Sebelum orang Filistin bermigrasi, daerah itu
dikenal sebagai Kanaan. Nama ini mengandung arti "negeri ungu" dan barangkali nama itu
diambil dari bahan pewarna ungu yang dihasilkan oleh orang pribumi dari sejenis, kerang-
karangan vang banyak terdapat sepanjang pantai Laut Tengah.
Palestina sering kali disebut sebagai pusat geografis dan teologis dari dunia purbakala.
Negeri ini tidak hanya terletak di persimpangan jalur-jalur perdagangan yang penting pada
zaman purbakala, tapi juga di zaman Yudaisme, Kekristenan, dan Islam mengawali
keberadaan mereka. Luas negeri itu sekitar 242 km dari Dan ke Bersyeba (utara-selatan) dan
160 km dari Laut Tengah ke Sungai Yordan (timur-barat). Iklimnya normal bagi daerah Timur
Dekat, musim dinginnya sejuk sampai dingin, bergantung pada ketinggiannya, dengan sedikit

FAZ | 33
salju di tempat-tempat yang lebih tinggi. Musim hujan berlangsung dari Oktober sampai
April, dengan musim panas yang kering tidak berawan dari bulan Mei sampai Agustus.
Negeri Palestina terbagi dengan mudah dalam 4 daerah geografis utama yang membujur
dari utara ke selatan: dataran pantai, daerah perbukitan tengah, celah Yordan, dan dataran
tinggi Transyordania. Pembagian geografis utama Palestina yang melintang dari timur ke
barat berkaitan dengan segi-segi geografis negeri itu dan tapal batas politis dari dua
kerajaan Israel yang pecah. Pembagian ini meliputi daerah Galilea di utara, Samaria dan di
daerah utara-tengah Palestina. Yehuda di bagian selatan-tengah Palestina, dataran Negev
(padang 'kering") di selatan, dan semenanjung Sinai yang membentuk perintang besar antara
Palestina dan Mesir. (Hill dan Walton, 2004:75-77)

a. Dataran Pantai
Dataran pantai secara berangsur-angsur meluas sejauh 24 – 29 km di Palestina selatan.
Hamparan tanah subur ini menerima lebih dari 75 cm curah hujan setiap tahun dekat Laut
Tengah. Tiga dataran berbeda dikenali sepanjang pantai: Akre (Akko), membentang ke utara
dari Gunung Karmel (± 40 km panjangnya dan 8–13 km lebarnya), Saron, antara Gunung
Karmel dan Yope, kota pelabuhan (± 80 km panjangnya dan 16 km lebarnya), dan dataran
Filistin di bagian paling selatan dari Yope ke Gaza. Dari segi geografis dataran pantai tidak
pernah memegang peranan yang sangat penting selama sejarah PL. Orang Fenisia menguasai
dataran sebelah utara, orang Filistin menguasai dataran selatan, dan dataran Saron
merupakan gurun, rawa, dan hutan yang lebat pada zaman dulu kala. (Hill dan Walton,
2004:77)

b. Daerah Perbukitan Tengah


Daerah perbukitan tengah secara geografis paling beraneka ragam dan secara historis
paling penting pada masa PL. Kebanyakan kota-kota Israel terletak di daerah ini, dan
wilayah tersebut merupakan bagian terbesar yang dikuasai oleh kerajaan Ibrani ketika masih
bersatu dan ketika terpecah. Daerah yang berbukit-bukit membentuk punggung atau tulang
belakang dari Palestina barat dan umum terbagi atas tiga bagian utama: Galilea, Samaria,
dan Yehuda.
Daerah-daerah yang landai mencapai ketinggian 900 m-990 m; daerah tesebut menerima
curah hujan yang memadai dan cocok sekali untuk mengembangkan pertanian, termasuk
gandum, kebun anggur, buah-buahan dan rumpun-rumpun pohon zaitun.
Bagian-bagian utama Galilea meliputi Gunung Tabor (Hak 4:6, 12) dan lembah Yizreel.
Kota Sikhem, diapit oleh Gunung Ebal dan Gunung Gerizim, yang dikuasai olen Samaria (Yos
8:30-35). Yerusalem terletak secara menonjol di persimpangan jalur-jalur lalu lintas
perdagangan di Yehuda (2Sam 5:6-12). Bidang tanah di antara dataran pantai di selatan dan
daerah pegunungan di bagian tengah dikenal sebagai shephelah. Daerah luas subur (atau
dataran tinggi antara pantai dan pegunungan) adalah daerah hutan pada zaman PL dan
diduduki oleh orang Filistin (bd. Hak 14-15; 1Sam 17). Selama masa kerajaan Yehuda, Bet-

FAZ | 34
Semes dan Lakhis merupakan kubu-kubu pertahanan penting di SIsi barat daya Yehuda (2Taw
25:17-28). Hill dan Wallton, 2004:77-78)

c. Lembah Yordan
Lembah Sungai Yordan atau celah Yordan, adalah lembah geologis besar yang dimulai di
Siria, di pegunungan Libanon dan membujur ke selatan sampai ke Teluk Akaba dan Laut
Merah. Lembah Sungai Yordan yang membentuk perbatasan timur Palestina adalah bagian
dari parit geologis yang berigi-rigi ini.
Sungai Yordan bermula pada lereng-lereng bagian bawah dari Gunung Hermon dan
timbul dari tiga anak sungai yang mendapat airnya dari sumber-sumber. Sungai Yordan
mengalir ke selatan dari Gunung Hermon ke Danau Hula dan rawa-rawa dan selanjutnya
dengan deras mengalir turun sekitar 270 m dan bermuara di Danau Galilea. Danau air tawar
di daerah pedalaman ini berada 195 m di bawah permukaan laut dan dikelilingi oleh bukit-
bukit kecil. Danau itu sendiri sekitar 21 km lebarnya dan 11 km panjangnya. Dari Danau
Galilea itu Sungai Yordan mengalir ke selatan, berkelok-kelok menuju ke Laut Garam atau
Laut Mati yang besar, sekitar 390 m di bawan permukaan laut, bagian yang paling rendah di
muka bumi.
Dulunya daerah sekitar Danau Galilea berpenduduk padat dan secara intensif diolah dan
ditanami dengan memakai irigasi. Lebih jauh ke selatan, lembah itu menyempit dan
dipadati tumbuh-tumbuhan hingga berupa hutan, tempat tinggal binatang-binatang liar pada
masa PL (bd. Yer 49;19; 50:44; Zakharia 11:3). Sebagian besar wilayah ujung selatan dari
lembah sungai ini tidak ada penduduknya, kecuali di tempat Sungai Yabok memasuki Yordan
dan di Oasis yang diairi sumber-sumber di Yerikho. Bukit-bukit tanah liat yang licin dan
berlumpur dan tumbuh-tumbuhan lebat yang berjajar sepanjang lembah Yordan
membuatnya tetap merupakan perintang alam antara Palestina dan dataran tinggi
Transyordan.
Laut Mati tidak mempunyai saluran keluar yang alami, dan airnya yang melimpah
dengan mineral mengandung kadar garam sampai 30 persen. Tebing-tebing batu kapur yang
berjajar sepanjang pantai barat Laut mati dipenuhi gua-gua yang dipergunakan sebagai
tempat persembunyian untuk penyamun, pelarian politik, dan komunitas-komunitas berbagai
sekte keagamaan. Di tempat inilah di antara gua-gua dengan pemandangan "yang kurang
menyedapkan" ini ditemukan gulungan-gulungan naskah Laut Mati atau gulungan-gulungan
naskah komunitas Qumran. Di sebelah selatan Laut Mati, lembah Araba membentang sejauh
beratus-ratus km ke arah Teluk Kaba. Penduduk di pinggiran daerah padang gurun yang
kering dan terpencil ini menambang endapan-endapan biji besi dan tembaga yang dijumpai
di daerah bukit-bukit di perbatasan Araba, atau giat dalam perdagangan dengan kafilah-
kafilah yang melintasi daerah itu. (Hill dan Walton, 2004: 78-80)

d. Dataran Tinggi Transyordania


Pada umumnya, dataran tinggi Transyordania merupakan dataran luas yang menjulang
dengan ketinggian sekitar 600-1800 m di atas permukaan laut antara Sungai Yordan dan
FAZ | 35
daerah paling utara dari gurun Arabia. Daerah ini menghasilkan beberapa jenis mineral dan
cocok untuk pertanian dan penggembalaan. Empat wadi utama atau anak sungai mengalir ke
Sungai Yordan dari dataran tinggi ini, termasuk Yarmuk, Yabok, Arnon, dan Zered.
Dataran tinggi Transyordania ini dapat dibagi menjadi tiga dataran tinggi utama, yaitu
dataran tinggi Gunung Seir di selatan (dari, Teluk Elat sampai Sungai Zered), daerah Moab
dan Gilead di Transyordania tengah membentang dari Zered ke Sungai Yarmuk), dan dataran
tinggi Basan di utara (memanjang dari Yarmuk sampai Dan). "Jalan raya raja" menyusur
sepanjang dataran tinggi Transyordan dari Bozra Ke Damsyik.
Dataran tinggi Seir merupakan daerah yang paling tidak datar dari ketiga daeran
terseDut, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi sampai hampir 1800 m. Di
sini orang Edom dan kemudian orang Nabatea membangun kota-kota mereka di antara
tebing-tebing karang curam Moab dan Gilead mempunyai tanah subur untuk bercocok dan
bidang tanah berumput yang luas untuk kawanan ternak. Dataran tinggi yang paling luas dan
subur adalah daerah Basan. Di sini dataran tinggi itu terletak sekitar 900-1500 m di atas
permukaan laut, yang menghasilkan curah hujan yang cukup untuk pertanian. Tanah
bergunung berapi yang subur dari dataran Basan menjadikannya padang-padang rumput yang
terbaik di seluruh daerah Levantin 18 di sebelah timur Laut Tengah (bd. Mzm 22:13; bd. Amos
4:1).
Daerah Transyordania adalah daerah yang pertama-tama didiami oleh orang-orang Ibrani
sebagai bagian dari penaklukkan Palestina sesudah keluar dari Mesir (Yos 13:24-31).
Sepanjang
sejarah PL, daerah dataran tinggi ini sering kali merupakan ajang pertempuran militer
sewaktu orang Ibrani, orang Aram, orang Asyur, orang Moab dan Orang Amon berlomba-
lomba untuk menguasai pusat-pusat perdagangan sepanjang “jalan raya raja” dan daerah
subur di Gilead dan Basan, suatu komoditi yang sangat bernilai di lingkungan gurun pasir dan
kering dari bagian terbesar wilayah Timur Dekat. (Hill dan Walton, 2004:80-81)

7. Jalur-jalur Perdagangan
a. Jalur-jalur Darat
Gambaran yang dikemukakan oleh nabi Yehezkiel mengenai perdagangan Fenisia dalam
milenium pertama SM membuktikan lokasi geografis yang strategis dari Siro-Palestina (Yeh
27:12-36). Sebagai daratan yang menghubungkan Afrika dan Eurasia (Eropa + Asia), Palestina
memainkan peranan yang sangat menonjol dalam perdagangan internasional sejak milenium
ketiga SM. Ada dua jalan raya internasional utama yang menghubungkan Mesopotamia dan
Mesir melalui Palestina. Kedua-duanya merupakan rute yang sudah amat sangat lama, dan
sejarahnya dapat dirunut sampai ke Abad Perunggu Awal (3000-1200 SM). Satu di antaranya
dikenal sebagai "jalan laut" (atau Via Maris pada masa kejayaan Romawi). Jalur tersebut
bermula di Kantir (Kantara) di daerah delta timur Mesir Hilir, melintasi semenanjung Sinai
sebelah utara, berbelok ke utara sepanjang pantai Negev dan Yudea, dan kenmudian

18
Levant atau Syam merupakan wilayah Mediterania Timur, meliputi wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.
Kadang-kadang, Siprus, Sinai, dan Irak juga dianggap sebagai bagian dari Levant.
FAZ | 36
membelok ke daerah pedalaman melalui Megido ke dataran Beth-Sean. Di sini jalannya
terbagi, yang satu cabang jalannya menyusur garis pantai barat Danau Galilea ke Dan dan
Damsyik, yang lain terus ke timur melalui Basan ke Damsyik. Di situ jalan raya itu berbelok
ke tenggara, menghubungkan Babilonia dan Ur.
Rute perdagangan kedua yang penting, dikenal sebagai "Jalan Raya Raja'". Jalur itu juga
menghubungkan Babilonia dengan Mesir, memotong Gurun Sinai melalui Kadesy-Barnea dan
terus melintasi Negev melalui Edom. Dari situ jalan raya tersebut menuju ke utara melalui
daerah Transyordan yang meliputi Moab, Amon, dan Gilead ke Damsyik, dan dari sana masuk
ke Mesopotamia. Raja Yoram menamai bagian selatan jalur ini sebagai jalan yang "melalui
padang gurun Edom" (2Raj 3:8). Jalan-jalan lain yang kurang penting yang bercabang dari
"Jalan raya raja' meliput sebuah rute dari Kadesy-Barnea ke Elat (barangkali "jalan Laut
Teberau" dalam Bil 14:25) dan sebuah rute lain ke Elat darl Bozra, disebut dalam
pertempuran
raja-raja Sodom dan Gomoramelawan Kedorlaomer (Kej 14:5-6).
Rute perdagangan yang kurang terkenal mulai di Elat, menuju ke Babilona melalui gurun
Arabia dengan tempat-tempat perhentian di Duma dan Tema. Juga ada rute ke utara
menuju Damsyik dari Duma. Di samping itu, sekitar dua puluh tiga jalur daerah atau lokal
menjelajahi Palestina selama masa Alkitab (antara lain, "jalan di padang gurun menuju ke
Laut Teberau,'" Kel 13:18; "jalan raya yang menuju dari Betel ke Sikhem," Hak 21:19; dan
"jalan dari lembah," 2Sam 18:23. (Hill dan Walton, 2004:81-83)

b. Pentingnya Jalur-jalur Perdagangan


Lokasi Palestina sebagai koridor untuk perdagangan di antara tiga benua mempunyai
arti yang penting sekali bagi Israel. Dari segi politik lokasi tersebut menjadikan umat Ibrani
mudah sekali dijadikan sasaran serangan kekuatan-kekuatan asing yang berusaha untuk
menguasai daerah yang merupakan jembatan karena alasan-alasan politik dan ekonomi. Hal
ini memaksa Israel untuk berkiprah dalam diplomasi internasional, termasuk mengadakan
persekutuan dengan berbagai kekuatan kafir di sekeliling mereka. Karena hal ini nabi Hosea
menegur kerajaan utara Israel (Hos 7:10-11). Dalam kesombongan dan rasa mampu berdiri
sendiri orang-orang Ibrani ini mengusahakan perjanjian-perjanjian politik dengan Mesir dan
Asyur, dan menolak untuk mencari pertolongan dari Tuhan. Tentu saja, siasat-siasat politik
seperti itu adalah sia-sia, karena Mesir, Asyur, Babel, Persia dan kemudian hari Yunani dan
Roma semuanya secara bergantian menyerbu Palestina sebagai bagian dari ekspansi militer
kerajaan mereka.
Lokasi Palestina yang sangat penting ini juga mengandung berbagai implikasi bagi orang
Israel di bidang sosial, ekonomi dan agama. Perdagangan dan usaha-usaha komersial
membantu berkembangnya golongan pedagang. Segera orang kaya berhasil menguasai
berbagai lembaga kemasyarakatan dan menindas orang miskin, meruntuhkan masyarakat
perjanjian (dan persamaan hak di hadapan Allah). Secara ekonomis kemakmuran dan
kekayaan yang berkaitan dengan orang-orang yang bergerak di bidang perdagangan

FAZ | 37
memuaskan sebagian masyarakat Ibrani dengan materialisme. Ini menyebabkan timbulnya
kesombongan, kecongkakan, rasa mampu berdiri sendiri, dan rasa keamanan yang keliru.
Yahweh dianggap sudah tidak penting lagi.
Sifat kosmopolitan Siro-Palestina menyebabkan terjadinya kawin campur antara orang-
orang lbrani dengan orang-orang asing tetangga mereka. Ini memungkinkan sinkretisme
agama dengan pemujaan Baal, Kamis, Milkom, dan lain sebagainya, bukan pemisahan,
keunikan, kekudusan yang dituntut Allah dari umat pilihan-Nya. Pada akhirnya, "pluralisme
agama" inilah yang menyebabkan kejatuhan Kerajaan Ibrani dan pembuangan di Asyur dan
Babilonia (lih. Hos 4 dan Amos 3). Hill dan Walton, 2004:83-84.

D. Makna Teologi Tanah Perjanjian 19

Palestina, atau negeri Kanaan, juga merupakan suatu simbol teologis penting dalam PL.
Tanah ini juga merupakan suatu komponen utama dalam kovenan Allah yang mula-mula
kepada Abraham (Kej 12:1-3) dan merupakan sasaran atau fokus dari kisah-kisah di
Pentateukh. Peristiwa Keluaran dari Mesir adalah pelepasan ilahi dengan tujuan membawa
umat Israel ke "suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu
dan madunya." (Kel 3:8). Negeri Kanaan merupakan sasaran dari ketaatan kepada perjanjian
di hadapan Yahweh dan pahala untuk mempertahankan ketentuan-ketentuan perjanjian-
Nya.
Pemilikan negeri yang dijamjikan oleh orang Ibrani menandakan penyingkiran penduduk
asli Kanaan. Penaklukan di bawah pimpinan Yosua adalah suatu "perang kudus" (kherem)
melawan orang Kanaan, hukuman adil yang dijatuhkan oleh Allah melalui Israel yang
teokratis karena dosa keji yang dikaitkan dengan penyembahan dewa-dewa kesuburan, yaitu
Baal dan Asyera. Orang Kanaan sudah menajiskan negeri itu, dan dengan membersihkannya
dari kehadiran dosa, maka umat Ibrani itu sendiri juga disucikan (Im 18:24-30).
Karena merupakan bagian dari kovenan Allah, maka secara integral negeri itu terlibat
dengan hubungan perjanjian antara umat Ibrani dengan Yahweh. Upacara di Ebal yang
diuraikan di Ulangan 27 dan dilaksanakan di Yosua 8 membentuk ikatan antara umat Ibranı,
Taurat Yahweh, dan negeri perjanjian. Ketiganya terikat bersama sehingga tidak dapat
dilepaskan di bawah kekuasaan Yahweh yang mahatinggi. Ini berarti bahwa kehadiran dan
berkat Allah menaungi Israel waktu mereka menaati ketentuan-ketentuan perjanjian (Ul
28:1-14). Ini juga berarti bahwa setiap pelanggaran apa pun yang dilakukan oleh Israel
terhadap perjanjian tersebut menajiskan negeri itu dan membahayakan tuntutan mereka
untuk memilikinya (Ul 28:15-68). Melakukan segala "kekejian" yang dilakukan orang Kanaan
pada akhirnya akan mengakibatkan mereka kehilangan negeri itu. Negeri itu akan
"memuntahkan" mereka sebagaimana yang terjadi dengan orang Kanaan (Im 18:24-25). Ironis
sekali, semua ini terjadi sebagai akibat kebijakan dan perbuatan yang dijalankan oleh Raja
Manasye (2Raj 21:10-15; 24:3). Sebenarnya, lamanya pembuangan dari negeri perjanjian

19
Dikutip dan edit dari Hill dan Walton, 2004, 84-85
FAZ | 38
secara langsung berkaitan dengan konsep perhentian sabat bagi tanan perjanjian (2Taw
36:21; lih Im 9).
Para nabi dan pujangga PL mengingatkan Israel bahwa pemilikan negeri itu tidak
menjamin kehadiran Allah ataupun berkat-Nya (Yer 7:l-/). Seluruh bumi adalah milik Tuhan
(Mzm 24:1),dan Ia melebihi "tanah itu" karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya (Yes 66:1).
Lagi pula, pembuangan dari negeri perjanjian belum tentu berarti bahwa Allah
meninggalkan mereka, seperti yang disaksikan oleh penglihatan kereta yang dilihat
Yehezkiel (Yeh 1). Takhta Yahweh dapat bergerak, dan la mampu melihat dan menanggappi
kebutuhan Israel di tempat manapun.
Nehemia meratapi kehampaan pemilik negeri perjanjian sebagai budak kepada
kekuasaan asing karena dosa dan ketidaksetiaan kepada perjanjian (Neh 9:32-37). la
memahami bahwa hubungan yang benar dengan negeri perjanjian ditetapkan dalam
hubungan yang benar dengan Allah dalam kesetiaan pada perjanjian.
Akhirnya, bahkan bahasa dan gambaran-gambaran sastra dari PL dipengaruhi oleh
geografi negeri perjanjian. Mazmur 23 penuh dengan uraian-uraian singkat tentang negeri
perjanjian itu, dan di bagian lain Pemazmur menyamakan orang benar dengan pohon yang
ditanam di tepi aliran air (Mazmur 1:3). Nilai tinggi air dalam iklim gersang di Timur Dekat
ikut menentukan bahasa yang dipakai para nabi dan Pemazmur. Hujan dan embun sering
merupakan simbol dari berkat dan pembenaran dari Allah (lih. Yoel 2:23; 3:18). Demikian
juga sebutan-sebutan untuk Allah seperti "Batu Karang", "Kubu Pertahanan", dan "Tempat
Perlindungan" mungkin telah dilhami oleh daerah yang tidak rata dan bertebaran batu-batu
yang amat besar di gurun Sinai dan padang belantara Yehuda (Ulangan 32:15). Bahkan acuan
kepada Kanaan sebagai suatu negeri "'yang belimpah-limpah air susu dan madu'"
menggambarkan kekayaan negeri itu yang mendukung gaya hidup baik peternakan,
penggembalaan termak (seperti, "susu" dari kambing domba dan lembu) dan pertanian
(seperti, "madu" dari panen dan hasil bumi).
Sumber: Andrew W. Hill dan John H. Walton, 2004:67-86.

Pertanyaan

1. Mengapa pengetahuan mengenai geogtafi pnting untuk mempelajaari PL?


2. Dalam cara-cara apa saja geografi dari Timur Dekat kuno mempengaruhi sejarah Israel?
3. Apakah arti teologi dari negeri Kanaan bagi umat Ibrani?
4. Bagaimana kehidupan di Palestina berbeda sekali bagi orang-orang Ibrani dari kehidupan
mereka sebagai tawanan di Mesir?

BAB III
KANON PERJANJIAN LAMA

FAZ | 39
Alkitab disebut dalam berbagai nama, seperti Kitab Suci (Kristen), yang dalam bahasa Inggris
disebut Holy Scripture, Bible dan sebagainya. Alkitab terdiri dari dua bagian yang dikenal sebagai
Dua Perjanjian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sering juga disebut Covenant dalam
bahasa Inggris. Khusus untuk bagian yang pertama, Yahudi (Yudaisme), menamakannya Tanakh,
orang Kristen lebih memilih menamakannya Perjanjian Lama, tetapi ada juga yang menyebutnya
sebagai Alkitab Ibrani. Alkitab ini merupakan sekumpulan dokumen yang terdiri dari tiga puluh
Sembilan kitab, di dalam Kitab Suci Kristen, tetapi di dalam Tanakh hanya terdiri dari dua puluh
empat gulungan.
Melalui proses dan pergumulan yang panjang, kitab-kitab itu dikumpulkan oleh para orang
suci Yahudi dari berbagai penulis dan zaman penulisan, kemudian, setelah melalui seleksi yang
ketat kitab-kitab itu diakui dan diterima sebagai Kitab Suci yang berotoritas dalam Sidang Agung
atau konsili yang diakaui keabsahannya, lalu menjadi pegangan dan dasar keimanan orang Yahudi.
Pada masa kemudian, Kitab Suci Yahudi itu diterima dan diakui juga sebagai Kitab Suci Kristen
Perjanjian Lama. Pengakuan terhadap otoritas kitab-kitab itu dinamakan pengkanonan. Jadi
kanon adalah daftar kitab-kitab yang diterima sebagai Kitab Suci yang berotoritas. Kanon
Perjanjian Lama itu ada yang menamakannya juga sebagai Protokanonika.

A. Pengertian dan Definisi

Kanon Alkitab merupakan daftar tulisan-tulisan atau kitab-kitab yang diakui adalah Firman
Allah, yang menjadi pegangan dan landasan iman orang percaya. Kata lainnya untuk kitab-kitab
yang masuk dalam kanon itu sebagai Kitab Suci. Perlu diketahui, “Sewaktu jemaat Kristen lahir,
sudah ada kanon Alkitab. Dari mulanya jemaat selalu memiliki tulisan-tulisan yang berwibawa.
Hal itu disebabkan karena jemaat Kristen berakar dalam agama Yahudi. Tulisan-tulisan yang
diilhami telah menjadi bagian dari warisan orang Ibrani sejak zaman Musa. Lagi pula, mulai dari
pencobaan hingga penyaliban-Nya, Yesus sering mengajar dengan mengutip dari PL (lihat Mat 4:4,
7, 10; 5:18; Yoh 10:35). Ini merupakan suatu kesaksian yang meyakinkan tentang bagaimana Yesus
menghargai tulisan suci yang diwarisinya dari bangsa Yahudi. Bahkan lawan-lawan-Nya tidak
pernah meragukan kesetiaan-Nya terhadap Perjanjian Lama. Selanjutnya, Yesus tidak hanya
mengakui otoritas Perjanjian Lama, namun la juga menyatakan diri-Nya sendiri sebagai
penggenapannya: "harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa
dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Luk 24:44). Sebagaimana jelas dalam khotbah Petrus pada
hari Pantakosta berdasarkan teks dari Kitab Yoël (Kis 2:16-21, 32 dst.), suatu gabungan antara
tulisan-tulisan PL dengan ajaran-ajaran Kristus merupakan kanon jemaat Kristen sejak hari
kelahirannya.20
1. Pengertian Kanon
Kata “kanon” tidak dijumpai di Alkitab, kendatipun akar kata yang darinya berasal terdapat

dalam 1Raj 14:15 dan Ayb 40:21, Yeh 40:3, 5, 42:16, yaitu qaneh (hn,q'). Semula qaneh berarti
"gelagah atau "batang" papirus, sejenis tanaman serai atau tebu manis. Karena gelagah dipakai
20
W. S. LaSor, D. A. Hubbard, F. W. Bush. Pengatar Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK-GM, 2005, 45-46.
FAZ | 40
sebagai tongkat nengukur atau kayu penggaris untuk membuat garis yang lurus, maka 'kanon mulai
berarti "ukuran" atau "buluh pengukur," tongkat pengukur.
Istilah "kanon" pertama kali disebutkan sebagai suatu ungkapan teologis untuk mengacu
kepada Kitab Suci oleh Athanasius, uskup dari Aleksandria, dalam Surat Paskahnya kepada gereja-
gereja. Dalam suratnya itu ia menguraikan garis besar isi kanon Perjanjian Baru (sekitar tahun 367
TM).21
Secara figurtif, kanon berarti peraturan atau standar norma dalam etika, sastra hukum dan
sebagainya. Sedangkan secara teologis berarti standar atau pengukuan iman. Dalam kekristenan
kata ini lebih dipakai untuk menunjuk pada Alkitab yang memiliki dua arti, yaitu daftar naskah
kitab-kitab yang dikanonkan dan diakui sebagai Kitab Suci, yaitu ke-66 kitab yang terdapat di
dalam PL dan PB, dan Alkitab itu sendiri sebagai firman tertulis hasil inspirasi oleh Allah yang
berotoritas penuh atau menjadi patokan dalam kehidupan orang beriman (Gal. 6:16).

2. Definisi
Sebagaimana diterapkan pada Alkitab Ibrani, gagasan kanon ini memiliki arti intrinsik dan
ekstrinsik, yang juga merupakan definisinya.
a. Kanon mengandung arti bahwa tiap-tiap kitab dari PL tidak terpisahkan dari pengilhaman
ilahi. Kesaksian diri ini dalam hubungannya dengan penerangan dari Roh Kudus
mengizinkan kitab-kitab ini diakui sebagai "firman Allah."
b. Kedua, kanon menunjuk pada daftar atau kumpulan kitab-kitab yang terdapat dalam
Kitab Suci Ibrani. Alkitab yang kanonik ini diakui memiliki otoritas tertinggi untuk iman
dan praktik keagamaan bagi masyarakat Ibrani, dan selanjutnya menjadi ukuran atau
standar yang dipakai untuk menilai kitab-kitab sejarah, tradisi, dan ajaran agama Ibrani
yang ditulis belakangan.22

B. Pembentukan Kanon

Proses pembentukan sebuah kitab sampai masuk menjadi kanon Ibrani, sampai sekarang
tetap masih saja tidak jelas. Tidak ada dokumen otentik dari para ahli kitab yang merinci
berbagai langkah dari prosedur yang menghasilkan Alkitab Ibrani. Dua hal yang tampaknya pasti,
prosesnya panjang dan rumit, dan mungkin terjadi dalam berbagai tahap selama beberapa abad
dari sejarah Ibrani. Garis besar umum dari pembentukan kanon yang berikut ini disesuaikan
dengan data yang tersedia mengenai pokok ini.23

a. Tahap 1: Ada "Ucapan yang Berotoritas"


Pada mulanya penyataan Allah kepada umat Ibrani (dan yang lain) dalam kebanyakan kasus
disampaikan secara lisan. (Perhatikan formulanya "beginilah fiman Tuhan" dan "dengarkanlah

21
A. E. Hill dan J. H. Walton, 27.
22
Ibid., 27-28.
23
Ibid., 28
FAZ | 41
Firman Tuhan" di dalam PL, misalnya Ulangan 5:1; Yehezkiel 5:5). Ucapan-ucapan yang
berwenang ini diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya sebagai "Firman Tuhan" dalam
bentuk tradisi lisan yang diterima (bd. Yes 48:17).

b. Tahap 2: Ada dokumen-dokumen tertulis yang resmi.


Pada suatu saat perkataan, ucapan dan pidato yang dilhami oleh Allah itu dicatat dan
dipelihara untuk masyarakat Ibrani dalam bentuk tertulis. Kadang-kadang ucapan yang berwenang
dan penulisan ucapan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan (sebagai contoh, Kitab Taurat
dalam
Keluaran 24:3 bd. Yosua 1:8 - dan firman Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia kepada Raja
Yoyakim, pasal 36). Dalam hal lain pendokumentasian penyataan ilahi terjadi beberapa waktu
sesudah peristiwa sejarah atau keadaan yang mendorong penyampaian firman Tuhanitu. Sering
kali peristiwa atau kejadian itu langsung diceritakan sebagai bagian dari konteks untuk
komunikasi Allah kepada Israel (misalnya, Kel 15:1; Yos 8:32; Hak 5:1).

c. Tahap 3: Mengumpulkan Dokumen-dokumen Tertulis


Proses pengumpulan ini barangkali lama dan luas. Lama, mengingat jangka waktu mungkin
sampai ribuan tahun dari sejarah Ibrani baru tercatat di dalam PL. misalnya, jelas sekali dalam
pengumpulan mazmur-mazmur, seperti Mzm 90, bd. Mzm 137. Luas, mengingat sejumlah sumber
kuno yang dikutip dalam PL masih tidak diketahui keberadaannya oleh para ahli modern,
misalnya, Kitab Peperangan Tuhan (Bil 21:14) atau Kitab Orang Jujur (Yos 10:13). Mengumpulkan
catatan-catatan tertulis dari pengalaman umat lbrani dengan Yahweh menjadi antologi (kumpulan
karya sastra – Bunga rampai) merupakan soal kemudahan bagi masyarakat Israel karena dengan
demikian dokumen-dokumen tersebut mudah didapati dan menjamin pemeliharaannya yang terus
menerus. Lebih penting lagi, hal itu menunjukkan nilai penting dan otoritas dari tulisan-tulisan
yang dikumpulkan untuk kehidupan keagamaan masyarakat. Kitab-kitab ini menuntut perhatian
khusus dari pihak umat Ibrani (misalnya, Ulangan 31:24).24
Ada bermacam-macam alasan mengapa kitab-kitab tercakup dalam kanon. Secara tradisional,
kitab-kitab suci Yahudi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Taurat, Nabi-nabi dan Kitab-kitab kudus.
Mungkin sekali pembagian itu tidak hanya menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam isi, tetapi
juga
memperlihatkan tahap-tahap dalam pembentukan kanon.
Kelima kitab Taurat (Ibr. tora), yang disebut juga "kitab-kitab Musa" atau "Pentateukh”,
mungkin sekali mencapai bentuknya yang dikenal sekarang kira-kira pada zaman Raja Daud
(sekitar 1000 SM). Diperkirakan sejumlah kecil revisi berlangsung selama abad-abad berikutnya
hingga zaman Ezra (kira-kira 400 sM). Kitab Nabi-nabi (Ibr. nevi'im) biasanya dibagi dalam dua
kelompok. Kelompok pertama disebut "Nabi-nabi Terdahulu" dan merupakan kitab-kitab sejarah,
yaitu kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja. Kelompok kedua disebut Nabi-nabi
Kemudian yang merupakan Kitab para pemberita firman Allah, yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel

24
Hill dan Walton,
FAZ | 42
dan Kedua belas nabi kecil. Istilah nabi kecil dipakai karena tulisannya singkat dan kedua belas
kitab itu acapkali ditempatkan dalam satu gulungan. (LaSor, 2005:47-48)
Kitab-kitab "Nabi-nabi Terdahulu" menceritakan sejarah Israel, mulai dari pendudukan
Kanaan sampai pembuangan di Babel (1250-550 sM). Penyuntingan akhir dari kitab-kitab ini
dilakukan pada
zaman pembuangan atau sesudahnya. Namun, penulisan kisah-kisah di dalamnya hampir sezaman
dengan kejadian yang diceritakan.
Sebagai sambungan kisah karya Allah dalam sejarah Israel, yang terdapat dalam Taurat,
kitab-kitab "Nabi-nabi Terdahulu" sudah diakui otoritasnya bahkan dijunjung tinggi oleh umat
perjanjian. Terlebih, nama kitab-kitab tersebut terhubung dengan pemimpin-pemimpin besar
Israel, khususnya Yosua dan Samuel. Lagi pula, tulisan-tulisan ini menceritakan tentang nabi-nabi
besar seperti Elia dan Elisa serta mencerminkan sejarah lsrael, sehingga ikut memberi andil
dimaksukannya kitab-kitab itu ke dalam kanon.
Adalah tidak dapat dipastikan, berapa lama sesudah zaman Maleakhi (450 sM) kitab-kitab
"Nabi-nabi Kemudian” dikumpulkan menjadi satu. Mungkin banyak tulisan para nabi sebelum masa
pembuangan, seperti Kitab Amos, Hosea, Mikha, Yesaya, Zelanya, Yeremia, Nahum dan Habakuk,
telah dimasukkan ke dalam kumpulan berotoritas selama masa pembuangan.
Persoalan dengan "Kitab-kitab" (Ibr. ketuvim) agak lebih rumit, karena sifat kitab-kitabnya
yang beraneka ragam. Kitab Mazmur, Amsal dan Ayub berisi syair dan doa. Ada lima Kitab yang
tertulis dalam gulungan-gulungan tersendiri, dibacakan secara terpisah pada hari-hari raya
tertentu. Kitab Kidung Agung pada pesta Paskah, Kitab Rut pada pesta Pantakosta, Kitab Ratapan
pada tanggal sembilan bulan Ab (hari ketika Yerusalem dihancurkan tahun 586 sM), Kitab
Pengkhotbah pada pesta Pondok Daun, dan Kitab Ester pada hari raya Purim. Kitab Daniel adalah
satu-satunya tulisan nabi dalam kelompok "Kitab-kitab'" dan bagian ini dalam Alkitab Ibrani
diakhiri dengan beberapa kitab sejarah, yaitu Ezra, Nehemia dan Tawarikh.
Kitab Mazmur dan secara tidak langsung Kitab Rut, dihubungkan dengan Raja Daud. Kitab
Amsal, Kidung Agung dan Pengkhotbah dihubungkan dengan Raja Salomo. Kitab Ratapan
dihubungkan dengan Nabi Yeremia. Kitab Ayub dan penglihatan-penglihatan Daniel dinilai sebagai
pemberian langsung dari Allah. Kitab Ezra, Nehemia dan Tawarikh dihubungkan dengan pemimpin-
pemimpin terkenal (tempat terhormat yang diberikan kepada Raja Daud dan keluarganya dalam
Kitab Tawarikh) serta mencatat tahap-tahap selanjutnya dari sejarah keselamatan.
Sebagian besar kitab-kitab dalam bagian ketiga kanon ini ditulis atau dikumpulkan selama
dan sesudah masa pembuangan (setelah 550 SM), meskipun beberapa bahan, khususnya Kitab
Mazmur dan Amsal, berasal dari zaman kerajaan (1000-587 sM). Bangsa Yehuda sangat menyadari
masa lampau mereka yang pada masa sesudah pembuangan. Karena itu mereka berupaya
membangun bangsa mereka kembali berdasarkan warisan leluhur untuk menghindari
penghukuman lainnya yang mendatangkan bencana. Ezra dan Nehemia, tokoh-tokoh utama dalam
proses pembangunan kembali, menekankan pentingnya tulisan-tulisan suci dan otoritas tulisan-
tulisan itu (Ezr 7; Neh 8 10). Mungkin mereka juga turut memainkan peranan penting dalam
pembentukan kanon.

FAZ | 43
d. Tahap 4: Menyortir Dokumen-dokumen Tertulis Untuk Dikanonkan
Rincian prosedur dari menyortir semua dokumen itu tidak jelas, tetapi dapat melihat kriteria
dasar yang diterapkan pada dokumen-dokumen tersebut untuk maksud "'menyortir" dan
menegaskan kanon. Cukup dikatakan bahwa pilihan-pilihan yang disepakati di antara para pemuka
agama Ibrani yang dipimpin Roh Kudus Allah selama jalannya sejarah Israel pada akhirnya
menghasilkan sebuah kanon Alkitab Ibrani. (Hill dan Walton, 2005: 29)
Tampaknya orang-orang Ibrani sudah mempunyai sebuah kanon Alkitab yang "tetap" jauh
sebelum masa Yesus Kristus. Bagian prolog dari kitab apokrif Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh, atau
Eklesiastikus, mengacu kepada tiga kumpulan "pengajaran unggul" yang meliputi Taurat, Nabi-
nabi, dan “Kitab-kitab Lain dari Bapa-Bapa Kita” (sekitar tahun 200 SM). Yesus sendiri mengacu
kepada kanon Ibrani yang meliputi tiga kesatuan (Lukas 24:44).
Agaknya paling tidak ada empat periode penting dalam sejarah PL ketika penyortiran
dokumen-dokumen dan penetapan sebuah kanon adalah penting sekali bagi masyarakat
keagamaan Ibrani:
1) Selama pengalaman di Sinai sesudah peristiwa Keluaran,
2) selama peralihan dari teokrasi ke monarki di Israel,
3) pada masa keruntuhan Yerusalem dan sesudah itu pembuangan ke Babel, dan
4) sebagai bagian dari pembaruan di bawah pimpinan Ezra, ahli kitab, dan Nehemia, sang
gubernur, pada masa pasca pembuangan di Yerusalem.

3. Kriteria Penyaringan Kanon


Berbeda dengan Perjanjian Baru, yang terutama menekankan kepenulisan oleh rasul sebagai
dasar untuk kanonitas, tampaknya ada beberpa faktor atau kriteria yang penting untuk proses
penyaringan guna menetapkan kanon PL.
a. Pertama terutama adalah sifat ilham yang hakiki dan otoritas yang dapat dikenal oleh
para pemimpin masyarakat keagamaan Ibrani melalui iluminasi (penerangan) oleh Roh
Kudus (misalnya, penyataan langsung dari Roh Allah dalam kasus Musa dan ketujuh puluh
nabi dalam Bil 11:16-30, dan penggenapan perkataan ilahi, seperti dalam Yeremia 28:9;
44:28).
b. Kriteria kedua, siapa penulisnya merupakan satu faktor penting dalam menilai kitab-
kitab untuk kanonitas. Pada umumnya, orang-orang yang menulis kitab-kitab yang
terhimpun dalam kanon Ibrani menduduki jabatan kepemimpinan yang ditunjuk oleh
Allah, seperti pemberi hukum, hakim, nabi, imam, dan raja.
c. Ketiga, Isi tiap-tiap kitab diteliti sehubungan dengan konsistensi internal dari
pengajarannya dan kesatuan menyeluruh dari tema dan berita dengan pengalaman
perjanjian yang tersurat dalam kitab-kitab lain yang diakui sebagai "firman Tuhan."
d. Terakhir, penggunaan kitab-kitab tertentu oleh masyarakat keagamaan Ibrani tidak
dapat diragukan lagi telah mempengaruhi penyaringan kanon. Kitab-kitab yang dibaca,
dipelajari, disalin, dan ditaati oleh umat Israel selanjutnya diakui sebagai kanon.

FAZ | 44
Pada hakikatnya, kita harus menerima bahwa Roh Kudus yang sama yang mengilhami penulis-
penulis manusia untuk menulis kitab-kitab itu, juga telah membimbing para pemimpin lbrani
selama proses penyaringan kanon.
C. Sejarah Urutan Kanon

Kanon Alkitab PL tersusun dalam tiga bagian utama yang disingkat dalam bahasa Ibrani

menjadi TaNaK ($((nt) yang kemudian menjadi nama Alkitab itu. “T” akronim dari Torah, “N”
akronim dari Nebi’im. “K” akronim dari Ketubim. Tidak diketahui sejak kapan Alkitab itu terbentuk
sebagai kesatuan, yang jelas pembentukan terakhirnya pasti setelah bangsa Israel kembali dari pembunagan
ke Babel. Karena itu, berbagai pengandaian muncul tentang sejarah dan urutan kanon Alkitab PL seperti
sekarang dikenal.

1. Sejarah Kanon
Alkitab Ibrani, dulu sering disebut "Wasiat Lama" atau 'Perjanjian Lama" adalah jelas sebuah
konsep Kristen, yang berasal dari acuan Yeremia kepada "'perjanjian baru" (31:31-36; lihat Matius
26:17-35) dan perbandingan yang diandaikan antara perjanjian yang “pertama" dan perjanjian
yang "lebih baik" sebagaimana diterangkan dalam Surat Ibrani di PB (Ibr 9:15-28).
Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima karena pada waktu kita-kitab PL
itu selesai ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang memiliki otoritas yang
diinspirasikan oleh Allah. Kitab-kitab (yang berupa gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama
dengan Tabut Perjanjian di Kemah Tabernakel dan kemudian dibawa ke Bait Allah. Para imam
memelihara kitab-kitab itu dan mereka juga yang membuat salinan- salinannya apabila
diperlukan. (Ul. 17:18; 31:9; 24:26; 1Sam. 10:25; 2Raj. 22:8; 2Taw. 34:1) Pada waktu bangsa
Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan pada tahun 587 SM, kitab-kitab itu
dibawa bersama-sama ke tanah pembuangan (Dan. 9:2). Setelah itu Pusat ibadah mereka bukan
lagi Bait Allah di Yerusalem, tetapi beralih kepada kitab-kitab yang berotoritas itu. Setelah
pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itu pun tetap dipelihara dan dipindahkan ke tempat
yang baru. (Ezr. 7:6; Neh. 8:1; Yer. 27:21-22).
Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430 SM. Menurut tradisi diakui bahwa
imam Ezra-lah yang memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan
kitab-kitab PL ini. Selain kitab-kitab Pentateuk yang sangat dihargai, kitab-kitab para nabi juga
biasa dibaca dalam ibadah Yahudi (di sinagoge), juga pada waktu zaman PB (Luk. 4:16-19). Pada
tahun 90 M para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan persidangan di Yamnia.
Salah satu keputusan yang diambil dalam persidangan itu adalah penerimaan Kanon PL, yaitu 39
kitab sebagai Kanon Alkitab PL (seperti yang dipakai sekarang). Jadi penetapan itu sebenarnya
hanya memberikan pengakuan atas kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah
orang Yahudi.
Dalam Yudaisme kini, Alkitab Ibrani dikenal sebagai "Tanak", yang mencerminkan tiga bagian
dari Alkitab Perjanjian Lama, yaitu Taurat, Nabi-nabi dan Kitab-kitab.

FAZ | 45
Bukti tentang kumpulan kitab-kitab suci Ibrani yang terdiri atas tiga bagian ditemukan
sebelum tahun 150 SM. Dalam Kitab Yesus bin Sirakh, sebuah kitab hikmat dalam Apikrifa,
dilengkapi dengan prakata oleh cucu sang penulis yang menerjemahkan karya itu ke dalam bahasa
Yunani, kira-kira tahun 132 sM. Dalam prakata itu, penulis menyebut "kitab Taurat", "para nabi”
dan “kitab-kitab nenek moyang kita yang lain". Dengan demikian, tampaknya bin Sirakh sendiri
(kira-kira 190 sM) mengakui pembagian kanon Perjanjian Lama atas tiga bagian. Isi yang tepat
dari "kitab-kitab nenek moyang kita yang lain, yang sekarang disebut "Kitab-kitab'", atau Ketubim
(Ibrani). Bandingkan pernyataan Kristus dalam Luk 24:44, Tetapi fakta ini juga ditegaskan dalam
Talmud Babilonia (Baba Bathra 14b-15a) dan oleh tulisan dari tokoh-tokoh Yahudi dan Kristen
selama empat abad pertama sesudah Kristus (mis. Philo, Yosefus, Melito, Tertulianus, Origenes,
Eusebius, Hieronimus, dan Augustinus).

2. Urutan Kanon
Umat Ibrani membagi Tanak menjadi dua puluh empat kelompok kitab dalam Kitab Suci
mereka. Samuel, Raja-Raja, Tawarikh, dan Ezra-Nehemiah dianggap sebagai satu kitab,
sedangkan dua belas kitab Nabi-nabi Kecil dipandang sebagai Kitab Kedua Belas Nabi yang
menyatu. Karena itu Kanon Ibrani terdiri atas dua puluh empat kitab. Berbeda bila dibandingkan
dengan PL kita yang berjumlah tiga puluh sembilan kitab, kendatipun kedua-duanya berisi bahan
yang sama persis. Nama atau judul untuk kitab-kitab dari Alkitab Ibrani biasanya diambil dari
baris atau ayat yang pertama dari teks, sedangkan judul dalam bahasa Inggris (dan juga dalam
bahasa Indonesia) diambil dari judul kitab dalam versi Yunani dan Latin yang terbit kemudian.
Tampaknya para juru tulis Masoret tidak menetapkan pedoman apa pun untuk membakukan
urutan kanon Ibrani, karena naskah yang terdahulu dari PL menunjukkan tidak adanya
keseragaman
dalam pengaturan kitab-kitab dari Nabi-nabi Akhir dan Tulisan-tulisan. Hal yang sama juga
terdapat dalam Septuaginta dan naskah-naskah Yunani terdahulu dari PL. Versi-versi Alkitab
sekarang ini memakai urutan kanon PL dari Vulgata Latin Hieronimus, tanpa mencantumkan kitab-
kitab Apokrif).

3. Pengesahan Kanon
Akhirnya, adalah penting sekali untuk mengerti bahwa kanon Ibrani sudah ditetapkan atau
diselesaikan oleh para pemimpin agama dari masyarakat Ibrani. Konsili-konsili para rabi dan
gereja yang diadakan kemudian tidak menetapkan kanon, melainkan sekadar menegaskan atau
menetapkan persetujuan mereka atas kumpulan kitab-kitab yang dilhami Allah dan yang
berotoritas yang telah diakui sebagai "firman Tuhan" dalam masyarakat perjanjian Ibrani. 25

Daftar dan Urutan Kanon 3 Versi


Tenakh/Tanakh Katolik Roma/Ortodoks Kristen

Thorah Pentateuch Pentateukh


25
Hill dan Walton, 33.
FAZ | 46
1. Beresyith 1. Kejadian 1. Kejadian
2. Shemoth 2. Keluaran 2. Keluaran
3. Wayiqra 3. Imamat 3. Imamat
4. Bemidbar 4. Bilangan 4. Bilangan
5. Debarim 5. Ulangan 5. Ulangan

Nebi’im (Nabi-nabi) Sejarah sejarah


6. Yosua 6. Yosua 6. Yosua
7. Shofetim 7. 7. Shofetim 7. Hakim-hakim
8. Samuel 8. 8. Rut 8. Rut
9. Melakim 9-10. 1, 2 Samuel 9.10. I, II Samuel
10. Yesaya 11-12. 1, 2 Raja2 11.12. I, II Raja-raja
11. Yeremia 13.14 13-14 1, 2 Tawarikh 13.14. I. II Tawarikh
12. Yehzkeil 15.16. Ezra dan Nehemia 15.16. Ezra dan Hehemia
13. Tere Asar (Dua Belas): 17. Tobit* 17. Ester
Hosea 18. 18. Yudit*
Yoel 19. Ester & tambahan2
Amos pada kitab Ester*
Obaja
Yunus Syair dan Kebijaksanaan Syair dan Hikmat
Mikha
Nahum 20. Ayub 18. Ayub
Habakuk 21. 21. Mazmur 19. Mazmur
Zefanya 22. 22. Amsal 20. Amsal
Hagai 23. 23. Pengkhotbah 21. Pengkhotbah
Zakharia 24. 24. Kidung Agung 22. Kidung Agung
Maleakhi 25. 25. Kebijaksanaan Salomo*
26. Eklesiastikus
(Kebijaksanaan Yesus bin
Sirakh)*

Ketubim Nabi-nabi Nabi-nabi


14. Tehilim 27. 27. Yesaya 23. Yesaya
15. Ayub 28. 28. Yeremia 24. Yeremia
16. Mishle 29. 29. Ratapan 25. Ratapan
17. Rut 30. 30. Barukh, termasuk surat 26. Yehezkiel
18. Shir Hashirim (Kid. Agung) Yeremia+ Yehezkiel 27. Danile
19. Kohelet 31. 31. Daniel, termasuk 28. Hosea
20. Ekah tambahan pada kitab 29. Yoel
21. Ester Daniel*, Susana*, Lagu 30. Amos
22. Daniel 32. Pujian Ketiga Pemuda*, 31. Obaja
23. Ezra – Nehemia Dewa Bel dan Naga* 32. Yunus
24. Dibre Hayamin (Tawarikh)32. 33. Hosea 33. Mikha
33. 34. Yoel 34. Nahum
34. 35. Amos 35. Habakuk
35. 36. Obaja 36. Zefanya
36. 37. Yunus 37. Hagai
37. 38. Mikha 38. Zakharia
38. 39. Nahum 39. Maleakhi
39. 40. Habakuk
40. 41. Zefanya
41. 42. Hagai
42. 43. Zakharia

FAZ | 47
43. 44. Maleakhi
44. 45. I Makabe*
45. 46. II Makabe+ Catatan :
* Apokrifa dalam Kanon
Protestan
+ Hanya pada Roma Katolik

Daftar Persamaan Nama Kitab


Bahasa Ibrani Bahasa Indonesia Bahasa Latin Bahasa Inggris
I. Thora I. Taurat Pentateukh Pentateukh
Beresyit–Pada mulanya Kejadian Genesis Gensis
Eleh Syemot–Inilah nama2 Keluaran Exodus Exodus
Wayyiqra–Lalu Ia memanggil Imamat Leviticus Leviticus
Bemidbar – pdg gurun Bilangan Numeri Numbers
Eleh Haddebarim (Debarim) Ulangan Deuteronomium Deuteronomy
Inilah perkataan2/perkara2
II. Nebiim II. Nabi-nabi
A. Nebiim Risyonim A.Nabi2 Terdahulu
Yehosyua Yosua Josua Joshua
Syofetim Hakim-hakim Judicum Judges
1, 2 Syemuel 1, 2 Samuel 1, 2 Samuel 1, 2 Samuel
1, 2 Melakim 1, 2 Raja-raja 1, 2 Regum 1, 2 Kings
B. Nebiim Akharonim B.Nabi2 Kemudian
Yesyayahu Yesaya Jesaia Isaiah
Yirmeyahu Yeremia Jeremia Jeremiah
Yekhezqel Yehezkiel Ezechiel Ezekiel
Hosyea Hosea Hosea Hosea
Yoel Yoel Joel Joel
Amos Amos Amos Amos
Obadyah Obaja Obadia Obadiah
Yonah Yunus Jona Jonah
Mikah Mikha Micha Micah
Nahum Nahum Nahum Nahum
Khabaqquq Habakuk Habakuk Habakkuk
Sefanyah Zefanya Zephania Zephaniah
Khaggai Hagai Haggai Haggai
Zekharyah Zakharia Sacharia Zechariah
Malaki Maleakhi Maleachi Malachi
III. Ketubim III. Kitab-Kitab
Tehillim Mazmur Psalmi Psalm
Iyob Ayub Job Job
Misyelē Amsal Proverbia Proverbs
Rut Rut Ruth Ruth
Syir Hasysyirim Kidung Agung Canticum-Canticorum The Song of songs
Qohelet Pengkhotbah Ecclesiastes Eccleesiastes
Ekah Ratapan Threni Lamentation
Ester Ester Esther Esther
Daniel Daniel Daniel Daniel
Ezra Ezra Ezra Ezra
Nehemiyah Nehemia Nehemia Nehemia
1, 2 Dibre Hayyamim 1, 2 Tawarikh 1, 2 Chronica 1, 2 Chronicles

4. Masalah Dalam Perkanonan

FAZ | 48
a. “Alkitab-kitab yang Diperdebatkan"
Kemudian, timbulah pembahasan sehubungan dengan dimasukkannya kitab-kitab tertentu
yang dianggap "kanon" oleh masyarakat keagamaan Ibrani. Kitab-kitab yang diperdebatkan ini,
atau antilegomena (artinya, "yang tidak disetujui"), termasuk kitab Ester, karena dalam kitab
tersebut tidak dijumpai nama Allah. Mempermasalahkan kitab Amsal, karena sifat praktis
kebijaksanaan itu menjadikan kitab tersebut lebih banyak kelihatan seperti hikmat "duniawi"
daripada hikmat ilahi dan orang tidak perlu "takut akan Tuhan" untuk mendapatkan manfaat dari
pengajaran hikmat. Juga mempermasalahkan kitab Pengkhotbah, karena nadanya yang pesimis
dan mengutamakan kenikmatan, kitab Kidung Agung, yang mengetengahkan syair cinta yang
memberahikan; dan Yehezkiel, baik karena berbagai perbuatan dan penglihatannya yang aneh
maupun karena ajaran-ajarannya mengenai korban persembahan yang tampak bertentangan
dengan Taurat Musa.
Perlu diperhatikan bahwa status kanonik kitab-kitab ini tidak pernah diragukan. Sebaliknya,
pertanyaan-pertanyaan yang timbul lebih banyak berkaitan dengan penafsiran terhadap kitab-
kitab tersebut secara tersendiri dan ruang lingkup penggunaannya di kalangan masyarakat
beraganma. Misalnya, dahulu disangka bahwa konsili para rabi yang diadakan di Yamnia atau
Yabne pada atau sekitar tahun 90 TM sudah menetapkan jumlah yang pasti dan urutan dari kanon
Ibrani. Akan tetapi, sejak saat itu telah diakui bahwa konsili Yabne tidak mendiskusikan atau
menyelesaikan persoalan kanon; tetapi sebaliknya mendiskusikan penafsiran dua kitab tertentu di
Perjanjian Lama, yaitu Kidung Agung dan Pengkhotbah." Penyelesaian penyusunan Talmud Yahudi
dalam abad kelima atau keenam TM pada dasarnya telah mengakhiri diskusi mengenai status
"kitab-kitab yang diperdebatkan'" ini dalam kanon Perjanjian Lama.

b. Masalah Apokrifa
Alkitab PL memiliki banyak versi salinan, sehingga tidak keseragaman dalam masalah jumlah
kitab yang dikanonkan dan pengakuan atas otoritasnya. Khususnya tentang kitab-kitab Apokrifa.
Namun ini bukan masalah yang terlalu rumit, dan dapat dijelaskan.
Kata apocrypha berarti "tersembunyi”. Ketika digunakan untuk kumpulan tulisan-tulisan
Yahudi dari masa intertestamental kata tersebut mempunyai dua konotasi:
1) kitab-kitab yang "disembunyikan" karena sifatnya yang esoterik (hanya dipahami dan
diketahui oleh beberapa orang atau kelompok tertentu saja),
2) kitab-kitab yang "disembunyikan karena memang harus demikian, karena kitab-kitab itu tidak
pernah diakui sebagai kanon oleh orang-orang Ibrani.
Apokrifa adalah kumpulan empat belas (atau lima belas) kitab yang ditulis oleh penulis-
penulis saleh Ibrani antara tahun 200 SM dan tahun 100 TM. Kitab-kitab ini semula ditulis dalam
bahasa Yunani dan Aram dan telah dipelihara dalam bahasa Yunani, Latin, Etiopia, Kupti, Arab,
Syria dan Amenia. Apokrifa berisi enam gaya sastar atau genre yang berbeda, termasuk sastra
yang bersifat didaktik (mendidik) agama, romantis, sejarah, nubuat (menyangkut surat dan
wahyu), dan legenda.

FAZ | 49
Pada mulanya kitab-kitab Apokrifa itu ditambahkan satu demi satu pada edisi Septuaginta di
bagian belakangan. Septuaginat (LXX) adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari PL Ibrani yang
diselesaikan sekitar tahun 250 SM karena dianggap perlu sebab dampak Helenisme terhadap
Yudaisme. Kitab-kitab ini jelas terpisah dari Alkitab Ibrani dan tidak dianggap oleh orang Ibrani
sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lama. Namun, para ahli kitab Ibrani tidak membuat catatan
apa pun mengenai hal ini, sehingga menimbulkan sedikit kebingungan di antara orang-orang
Kristen yang berbahasa Yunani yang menerima Septuaginta sebagai Alkitab mereka. Hal ini
terutama terjadi sesudah tahun 100 TM, semenjak beberapa salinan Septuaginta diterjemahkan
oleh para juru tulis Kristen.
Selama abad-abad awal dari kekristenan terjadi silang pendapat sehubungan dengan
kanonitas kitab-kitab Apokrifa. Misalnya, bapa-bapa gereja Yunani dan Latin, seperti Ireneus,
Tertulianus, dan Klemens dari Aleksandria mengutip Apokrifa dalam tulisan mereka sebagai "Kitab
Suci"', dan Sinode di Hippo (tahun 393 TM) mengesahkan penggunaan Apokrifa sebagai kanon.
Akan tetapi, orang lain seperti Eusebius dan Athanasius membedakan Apokrifa dari PL.
Pertentangan mengenai Apokrifa sebagai kanon Perjanjian Lama memuncak dengan
penerbitan Vulgata, Perjanjian Lama dalam bahas Latin oleh Hieronimus (tahun 405 TM), yang
ditugaskan oleh Paus Damasus. Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Latin ini dimaksudkan
sebagai edisi “popular” Alkitab untuk Gereja Roma Katolik. Hieronimus sendiri menetang
pengakuan Apokrifa sebagai bagian dari kanon PL. Tetapi Gereja Roma Katolik menerimanya dan
menyebutnya sebagai Deuterokanonika (Kanon yang tersembunyi). Para bapak reformator juga
memandang apokrifa lebih rendah dari kanon PL.

Pertanyaan

1. Apakah artinya bahwa Alkitab Ibrani atau PL telah lama diilhami oleh Allah?
2. Bagaimana masyarakat beragama Ibrani mengetahui pengilhaman ilahi di dalam kitab-kitab
PL?
3. Atas dasar apakah Alkitab PL dianggap sebagai kanon yang sudah tetap dan tidak dapat
ditambah lagi?

FAZ | 50
BAB IV
SEJARAH PERJANJIAN LAMA
Perjanjian Lama seringkali dilihat sebagai kumpulan dokumen-dokumen yang bersifat sejah.
Hal itu tidak salah, kendatipun tidak semua membahas sejarah, sebab Alkitab, baik PL maupun PB
adalah Kitab Rohani, Firman Tuhan yang menyaksikan penyataan diri Allah dan perbuatannya,
khususnya di dalam sejarah Israel. Karena itu penting untuk mempalajari Sejarah PL ini. Bahan ini
terutama bersumber dari Ensiklopedi Fakta Alkitab atau Bile Almanac.

I. Sejarah Perjanjian Lama

Rangkaian pembahasan sejarah PL ini difokuskan dalam enam bagian bertalian. Pertama, dari
Penciptaan sampai zaman Abraham, disambung dari Abraham sampai ke zaman Musa,
selanjutanya dari zaman Musa sampai zaman Saul, kemudian zaman Kerajaan bersatu sama ke
zaman Kerajaan yang cecah, akhirnya dari Pembuangan sampai ke pulang kemblai, jadi berbicara
dari Saul samapi Mesias. Namun, seperti dikatan oleh William Hendriksen, yang dikutip dalam
buku Ensiklopdi Fakta Alkitab, “Ada satu tema pokok yang… terulang dalam semua cerita
Perjanjian Lama. Tema itu adalah Kristus yang akan datang.” 26 Inilah hal yang perlu diingat
sewaktu meneliti tiap bagianPL. Dan kunci mata rantai semua peristiwa sejarah ini harus
diberikan kepada tokoh Musa.

1. Tokoh Musa
Mengutip kekaguman Sidlow Baxter, terhadap tokoh ini, ia mengatakan antara lain, “Sebagai
bahan penyelidikan watak, Mus adalah tokoh Alkitab terbesar dalam seluruh sejarah manusia.
Hidupnya terbagi secara khas dan nyata atas masa-masa empat puluh tahun. Selama masa empat
puluh tahun pertama ia hidup sebagai putra raja Mesir, selama empat puluh tahun kedua ia hidup
sebagai gembla di Midian, dan selama empat puluh tahun terakhir ia menjadi pemimpin orang
Israel.”27
Musa adalah terpenting dalam sejarah PL, bukan saja seorang yang paling dekat dengan Allah
(34:10), tetapi juga pembawa hukum dan pengajran yang tiada duanya di PL, dan kelebihan
lainnya. Dia seorang pemipin dan ooragnisatoris yang membawa Irael keluar dari Mesir, dari
tempat perbudakan. “Beberapa penafsir berpendapat bahwa namanya adalah gabungan dari kata-
kata Mesir kuno untuk ‘air’ (ma) dan "ambil" (shi). Jadi nama itu mungkin mengingatkan
bagaimana putri Firaun mengambil bayi Musa dari sebuah keranjang di Sungai Nil (Kel 2).” 28
Musa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Harun dan seorang kakak perempuan
bernama Miriam. Ia dilahirkan tidak lama setelah firaun di Mesir memerintahkan para prajuritnya
untuk membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir untuk mengembalikan populasi budak-

26
William Hendriksen, Survey of the Bible (Grand Rapids: Baker Book House, 1977), p. 79., dikutip dalam Ensiklopedi Fakta
Alkitab, dalam Program Biblesoftware Sabda/OBL versi 5.0.
27
J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004, 223.
28
Ensiklopedi Fakta Alkitab (Bible Almanac) <@52> [Buku/Topik] (14/83)
FAZ | 51
budak itu. Ibu Musa membuat sebuah keranjang dari pandan, membaringkan Musa di dalamnya,
dan menaruhnya di Sungai Nil di bawah penjagaan kakak perempuannya. Ketika putri firaun
menemukan bayi itu, ia mengangkatnya menjadi anak dalam keluarga raja. Ketika Musa menjadi
pemuda, ia membunuh seorang mandor budak belian dalam ledakan kemarahan yang tiba-tiba
(Kel 2:11 dst.). Ia melarikan diri ke tanah Midian yang tidak datar, di sana ia menikahi Zipora,
anak perempuan seorang imam dan mempunyai dua orang anak laki-laki, Gersom dan Eliezer (Kel
2:22; 18:4).29
Setelah Musa tinggal di Mirian sekitar 40 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam
semak duri yang menyala di lereng Gunung Sinai atau Horeb (Kel 3). Ia menyuruh Musa memimpin
bangsanya keluar dari Mesir ke Kanaan, Negeri Perjanjian itu. Musa memprotes bahwa ia tidak
akan mampu meyakinkan firaun untuk membiarkan bani Israel pergi, sebab itu Tuhan
memperbolehkan dia membawa Harun sebagai juru bicaranya.
Musa kembali ke Mesir dan menyampaikan pesan Tuhan, "Biarkanlah umat-Ku pergi." Ketika
firaun menuntut tanda dari kuasa ilahi untuk mengukuhkan pesan Musa, Musa diadu dengan ahli-
ahli sihir di istana firaun (Menurut tradisi Yahudi ahli-ahli sihir itu bernama Yannes dan Yambres).
Walaupun firaun melihat Musa dan Harun mengadakan mukjizat-mukjizat yang lebih menakjubkan
daripada yang diadakan oleh ahli-ahli sihirnya, ia menolak untuk membiarkan bani Israel
meninggalkan negerinya.
Karena itu Allah mengirim sepuluh tulah, yang memuncak dalam kematian semua anak sulung
di Mesir, termasuk putra firaun sendiri, untuk meyakinkan penguasa itu yang akhirnya
memutuskan untuk mengabulkan permintaan Musa. Meskipun demikian, firaun mengubah
pikirannya sementara bani Israel meninggalkan Mesir. Ia berusaha menghentikan mereka di pantai
Laut Merah, tetapi Tuhan membelah air itu sehingga bani Israel dapat lolos.
Musa memimpin bangsanya ke Gunung Sinai, di mana ia menerima suatu sistem hukum untuk
memerintah mereka di Negeri Perjanjian. Tuhan meringkaskan Undang-Undang ini dalam sepuluh
Hukum yang diukirnya pada loh batu yang dibawa kembali Musa ke perkemahan Israel. Musa
mendapati bangsanya sudah berpaling pada penyembahan berhala dan dengan marah ia
membanting loh-loh itu ke tanah, yang melambangkan pelanggaran perjanjian oleh umat itu.
Setelah mereka bertobat dari dosa mereka, Musa kembali ke gunung dan sekali lagi menerima
Sepuluh Hukum itu.
Selama 40 tahun bani Israel mengembara di padang belantara di antara Sinai dan Kanaan.
Selama waktu ini, Musa dan Harun menjadi baik penguasa maupun pemimpin agama mereka.
Tuhan melarang Musa masih Negeri Perjanjian sebab ia tidak mematuhi Tuhan di Meriba, di mana
ia memukul batu karang dengan tongkatnya untuk mendapatkan air. Akan tetapi, Tuhan
memperbolehkan Musa melihat Negeri Perjanjian itu dari puncak Gunung Nebo. Setelah itu Musa
meninggal.
Dalam 120 tahun kehidupannya, Musa telah memimpin bangsanya dalam perjalanan mereka
dari perbudakan ke kemerdekaan. Ia telah mencatat sejarah masa lalu mereka dengan menulis

29
Loc.cit
FAZ | 52
apa yang kini menjadi lima kitab pertama dari Perjanjian Lama, dan ia telah menerima hukum
Taurat yang akan memerintah mereka selama abad-abad yang akan datang. 30
B. Sejarah dari Penciptaan sampai Abraham

Tanakh Protestan Katolik Ortodoks Terjemahan Bahasa


(Alkitab Ibrani) Timur Baru + asli
(24 kitab)[c] (39 kitab) (46 kitab) (51 kitab) Deuterokanonika
(Indonesia)
Torah Taurat, Pentateukh, atau Lima Kitab Musa
Bereishit Genesis Genesis Genesis Kejadian Ibrani
Shemot Exodus Exodus Exodus Keluaran Ibrani
Vayikra Leviticus Leviticus Leviticus Imamat Ibrani
Bamidbar Numbers Numbers Numbers Bilangan Ibrani
Devarim Deuteronomy Deuteronomy Deuteronomy Ulangan Ibrani
Nevi'im (Nabi- Kitab-kitab sejarah
nabi)
Yehoshua Joshua Joshua (Josue) Joshua (Iesous) Yosua Ibrani
Shofetim Judges Judges Judges Hakim-hakim Ibrani
Rut[d] Ruth Ruth Ruth Rut Ibrani
Shemuel 1 Samuel 1 Samuel (1 1 Samuel (1 1 Samuel[e] Ibrani
Kings)[e] Kingdoms)[f]
2 Samuel 2 Samuel (2 2 Samuel (2 2 Samuel[e] Ibrani
Kings)[e] Kingdoms)[f]
Melakhim 1 Kings 1 Kings (3 1 Kings (3 1 Raja-raja[e] Ibrani
Kings)[e] Kingdoms)[f]
2 Kings 2 Kings (4 2 Kings (4 2 Raja-raja[e] Ibrani
Kings)[e] Kingdoms)[f]
Divrei 1 Chronicles 1 Chronicles (1 1 Chronicles (1 1 Tawarikh Ibrani
Hayamim[d] Paralipomenon) Paralipomenon)
2 Chronicles 2 Chronicles (2 2 Chronicles (2 2 Tawarikh Ibrani
Paralipomenon) Paralipomenon)
1 Esdras Ibrani

30
Loc.cit
FAZ | 53
Ezra–Nehemiah[d] Ezra Ezra (1 Esdras) Ezra (2 Esdras) Ezra Ibrani
[f][g]
dan
Aramaik
Nehemiah Nehemiah (2 Nehemiah (2 Nehemia Ibrani
Esdras) Esdras)[f][g]
Tobit (Tobias) Tobit (Tobias) Tobit[h] Aramaik
(dan
Ibrani?)
Judith Judith Yudit[h] Ibrani
Esther[d] Esther Esther[i] Esther[i] Ester[i] Ibrani
1 Maccabees (1 1 Maccabees 1 Makabe[h] Ibrani
Machabees)[j]
2 Maccabees (2 2 Maccabees 2 Makabe[h] Yunani
Machabees)[j]
3 Maccabees Yunani
4 Maccabees[k] Yunani
Ketuvim (Tulisan Kitab-kitab Hikmat
-tulisan)
Iyov[d] Job Job Job Ayub Ibrani
Tehillim[d] Psalms Psalms Psalms[l] Mazmur Ibrani
Prayer of Yunani
Manasseh
Mishlei[d] Proverbs Proverbs Proverbs Amsal Ibrani
Qoheleth[d] Ecclesiastes Ecclesiastes Ecclesiastes Pengkhotbah Ibrani
Shir Hashirim[d] Song of Song of Songs Song of Songs Kidung Agung Ibrani
Solomon (Canticle of (Aisma
Canticles) Aismaton)
Wisdom Wisdom Kebijaksanaan[h] Yunani
Sirach Sirach Sirakh[h] Ibrani
(Ecclesiasticus)
Nevi'im (Nabi- Nabi-nabi Besar
nabi Akhir)
Yeshayahu Isaiah Isaiah (Isaias) Isaiah Yesaya Ibrani
Yirmeyahu Jeremiah Jeremiah Jeremiah Yeremia Ibrani
(Jeremias) dan
Aramaik
Eikhah[d] Lamentations Lamentations Lamentations Ratapan Ibrani
Baruch[m] Baruch[m] Barukh[m][h] Ibrani[9]
Letter of Yunani[o]
Jeremiah[n]
Yekhezqel Ezekiel Ezekiel Ezekiel Yehezkiel Ibrani
(Ezechiel)
Daniel[d] Daniel Daniel[p] Daniel[p] Daniel[p] Ibrani
dan
Aramaik
Dua Belas Nabi Kecil
Trei Asar Hosea Hosea (Osee) Hosea Hosea Ibrani
Joel Joel Joel Yoel Ibrani
Amos Amos Amos Amos Ibrani
Obadiah Obadiah Obadiah Obaja Ibrani
(Abdias)
Jonah Jonah (Jonas) Jonah Yunus Ibrani
Micah Micah Micah Mikha Ibrani
(Micheas)
Nahum Nahum Nahum Nahum Ibrani
Habakkuk Habakkuk Habakkuk Habakuk Ibrani
(Habacuc)
Zephaniah Zephaniah Zephaniah Zefanya Ibrani
(Sophonias)
Haggai Haggai Haggai Hagai Ibrani
(Aggeus)

FAZ | 54
Zechariah Zechariah Zechariah Zakharia Ibrani
(Zacharias)
Malachi Malachi Malachi Maleakhi Ibrani
(Malachias)
Beberapa kitab dalam kanon Ortodoks Timur juga ditemukan dalam lampiran Vulgata Latin, yang
mana dahulu merupakan Kitab Suci resmi dalam Gereja Katolik Roma (sekarang
menggunakan Nova Vulgata).

FAZ | 55