Anda di halaman 1dari 60

Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif

Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal


Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi
Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-
Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif
Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-UmatPERSPEKTIF
Beragama PerspektifBIBLIKALBiblikal Toleransi
Antar-Umat BeragamaTOLERANSI
PerspektifANTAR-UMAT
Biblikal Toleransi Antar-Umat
BERAGAMA
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
KARYA
Perspektif Biblikal Toleransi PENELITIANBeragama Perspektif
Antar-Umat
Biblikal Toleransi Antar-Umat
Pdt. Fati AroBeragama
Zega, M.Th Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-Umat Beragama2014Perspektif Biblikal Toleransi
Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif
Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi
Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif
Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi
Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif
Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi
Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat
Beragama Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama
Perspektif Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif
Biblikal Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal
Toleransi Antar-Umat Beragama Perspektif Biblikal Toleransi
BAB I
PENDAHULUAN

Gereja adalah organisme hidup yang dinamis. Di sepanjang sejarahnya,


gereja, atau orang-orang Kristen, telah menyebar ke seluruh muka bumi menjadi
entitas yang aktif dan menyatu dalam masyarakat. Dengan tiada henti berkarya,
orang-orang Kristen telah melibatkan diri dalam setiap dimensi kehidupan.
Kendatipun tidak selalu berada dalam kondisi yang nyaman, orang-orang Kristen
hadir di setiap tempo dan spasial yang mungkin untuk menorehkan perannya
sebagai kaum yang diperhitungkan.
Terlebih-lebih di tengah fenomena posmodern masa kini, orang-orang
Kristen telah tampil dengan kaum yang lain, dan bersinergi untuk kebaikan
bersama dalam merespons fakta globalisasi. Orang Kristen diharuskan terbuka
bagi orang lain, memikul tanggung jawab bersama dalam menjalani kehidupan,
demi satu bumi yang kondusif bagi keharmonisan. Untuk itu, dibutuhkan
toleransi yang aktual dan efektif.

A. Latar Belakang

Sebagai suatu fakta yang tidak mungkin disangkalkan, dunia kini sudah
menjadi semakin mengglobalisasi. Globalisasi telah semakin menyatukan segala
sesuatu, serba terhubung dan yang semakin transparan. Sudah hampir tidak ada
yang bisa hidup mandiri dan eksklusif tanpa terhubung dan membutuhkan
bidang lain, terutama dampak dari ketergantung terhadap teknologi komunikatif
dan informatif. Peradaban secara keseluruhan dan budaya secara khususnya
sudah mengalami proses homogen. Seperti dijelaskan oleh Encyclopedia
Britannica, antara lain, “Globalization ... boosted by wireless and Internet
communications and electronic business transactions, destroying local traditions
and regional distinctions, creating in their place a homogenized world culture.”1
Globalisasi yang lebih didorong oleh komunikasi nirkabel dan internet
serta transaksi bisnis secara elektrionik telah menghancurkan perbedaan-
perbedaan tradisional budaya lokal dan regional lalu menciptakan budaya dunia
yang homogen. Bahkan lebih jauh lagi, sebagaimana diperdugakan oleh para
futuris terkenal, seperti John Naisbitt, Alvin Toffler dan Kenichi Ohmae, yang
dikutip oleh Joas Adiparasetyo, dunia akan bergerak dan menuju satu dunia yang
sama sekali global, dan menjadi satu dusun global (a global village) atau suatu
dunia tanpa batas (a borderless world), di mana teknologi komunikasi dan
informatika menjadi raja.2 Manusia menghadapi fenomena yang sangat berbeda
dari abad-abad sebelumnya.
Dalam desa global itu, seperti dilihat oleh Eddy Paimoen, ruang lingkup
dan gerak manusia menjadi semakin sempit, karena terjadinya arus informasi
timbal balik yang sangat cepat dan singkat. 3 Imbasnya, akan semakin
mempersempit pula “ruang” kompetisi dari berbagai kepentingan, sehingga satu
kepentingan akan menyilang kepentingan yang lain, khususnya di bidang
penyebaran agama.
Namun, khusus di bidang keagamaan dan keyakinan, Seperti dikutip oleh
Encyclopedia Britannica dari tesis Huntington di buku “The Clash of Civilizations,”
dia mengidentifikasikan ada tiga kelompok kekristenan utama, yaitu kekristenan
Barat yang diwakili Katolik Roma, Protestan, kekristenan ortodoks, dan ditambah
Islam dan sedikit pengaruh Hinduisme serta Konfusianisme, akan menghambat
kemajuan globalisasi, sehingga dunia akan terbagi dalam multi-kutub:
Central to Huntington's thesis in The Clash of Civilizations is the assumption
that the post-Cold War world would regroup into regional alliances based
1
Encyclopedia Britannica, 2007ed. Article: Globalization
2
Joas Adiprasetyo. Mencari Dasar Bersama: Etika Global Dalam Kajian Postmodernisme dan
Pluralisme Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, 36.
3
Eddy Paimoen. Kerajaan Allah dan Gereja: Hubungan, Sifat, Jangkauan dan Penerapannya dalam
Sosial, Ekonomi dan Politik di Indonesia. Bandung: Agia Media, 1999, 174.
on religious beliefs and historical attachments to various “civilizations.”
Identifying three prominent groupings—Western Christianity (Roman
Catholicism and Protestantism), Orthodox Christianity (Russian and Greek),
and Islam, with additional influences from Hinduism and Confucianism— he
predicted that the progress of globalization would be severely constrained
by religio-political barriers. The result would be a “multipolar world.” 4

Agama-agama di dunia menyebabkan terbentuknya beragam kelompok


masyarakat yang masing-masing kelompok membangun kutub kekuatan sendiri.
Globalisasi hanya menyempitkan dunia dalam ruang gerak, waktu jangkauan,
dan budaya sekular. Sekalipun globalisasi menjadikan dunia sebagai “desa
global,” membuat orang saling berhubungan dan berinteraksi antara satu sama
lain secara cepat dan mudah, namun tidak akan dapat membuat agama-agama
menjadi homogen. Agama menjadi kekuatan diversifikasi di antara masyarakat
global. Dengan kata lain, agama membangun sifat eksklusivisme bagi para
penganutnya. Globalisasi hanya membuat setiap agama mengalami perjumpaan
yang semakin kerap dengan agama lain dalam hidup berketetanggaan. Dan
hampir tidak mungkin satu kelompok masyarakat hidup menyendiri di suatu
wilayah sendiri tanpa disertai agama lain dalam kebersamaan. Globalisasi akan
membuat pengikut agama menyatu dalam ruang dan tempat yang sama dengan
kutub yang berbeda. Menyebabkan setiap agama hidup secara berdampingan
dengan agama-agama lain di dunia yang serba terbuka.
Di Indonesia, khususnya, pertemuan antara satu agama dengan agama
yang lain adalah suatu keniscayaan. Kebinekaan agama merupakan ciri khas dari
masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Ada enam agama besar dunia yang
secara resmi diakui dan bertumbuh kembang secara sahih, yaitu agama Islam,
agama Kristen, agama Katolik, agama Budha, agama Hindu dan agama Konfusius.
Keenamnya memiliki hak hidup dan kebebasan menjalankan misi dan
peribadatan masing-masing yang dijamin oleh negara. Keenamnya memiliki sifat
misioner. Kenyataan ini memiliki dampak yang riskan. Salah satu dampak
riskannya ialah bahwa kebinekaan di tengah-tengah “desa” global abad kedua
4
Encyclopedia Britannica, 2007 ed. article: Religion and globalization.
puluh satu ini memberi peluang satu agama bersilangan dengan agama yang lain
di lapangan misi. Resikonya, akan terjadi persaingan terbuka yang sangat
mungkin menimbulkan konflik. Dinamika kodrati masing-masing agama
menimbulkan kerentanan keharmonisan hubungan antara satu agama dengan
agama yang lain, dan berujung pada sikap sentimen antarumat beragama yang
sangat mungkin meningkat pada sikap yang anarkisme.
Bukan suatu rahasia lagi, sentimen agama telah menjadi salah satu
penyebab terjadinya “benturan” yang memecah belah kesatuan masyarakat
majemuk. Karena itulah, dalam penelitian penulis, di tengah kehidupan
masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini dibutuhkan suatu sikap saling
menghargai, menjaga, dan menahan diri di antara kelompok-kelompok
masyarakat, yang dikenal dengan istilah “toleransi” antarumat beragama.
Toleransi menjadi suatu terminologi penting bagi umat manusia pada
masa kini. Tidak dapat dipungkiri, pada dasarnya setiap agama pasti memiliki
sifat dan sikap yang eksklusif, tanpa eksklusivisme keunikannya tidak bermakna.
Tetapi pada sisi lain, sikap eksklusivisme itu mudah memicu sentimen fanatisme
yang sempit. Kendati demikian, setiap agama juga pasti memiliki sifat dan sikap
yang inklusif terhadap perbedaan. Kesamaan sifat dan sikap inilah yang perlu
diupayakan untuk dikembangkan dan dipertahankan tanpa harus meninggalkan
keunikan dan dan keabsolutan masing-masing keyakinan agama.
Demikian juga di dalam kekristenan. Agama Kristen memiliki
keeksklusivan yang harus terus dipertahankan. Namun pada sisi lain, kekristenan
yanag telah hadir di seluruh belahan bumi dan di sepanjang sejarahnya, selalu
berada dan bersama-sama dengan agama-agama atau kepercayaan yang lain
membangun kerukunan. “Kerukunan tidak mengharuskan kita seragam dalam
segala sesuatu.”5 Kenyataan itu menunjukkan bahwa kekristenan memiliki dan
membutuhkan toleransi di antara serta bersama dengan agama-agama lain.
B. Rumusan Masalah

5
A. A. Yewangoe. Iman, Agama dan Masyarakat Dalam Negara Pancasila. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2002, 5.
Masalah utama yang menjadi fokus peneltian ini adalah bagaimanakah
pandangan Alkitab, khususnya di Perjanjian Baru, mengenai toleransi antar-umat
beragama, dan berkenaan dengan itu, mengenai:

1. Apakah dan bagaimanakah toleransi antar-umat beragama itu?


2. Bagaimanakah konsep toleransi antar-umat beragama yang benar
menurut Alkitab itu?.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini hendak menjelaskan masalah yang sangat perlu dipahami
gereja, baik oleh pekerja Gereja fulltimer maupun aktivis gereja lainnya
mengenai sikap toleransi antar-umat beragama. Karena itu penelitian ini
bertujuan untuk:

1. Menjelaskan apa dan bagaimana bertoleransi di antara umat


beragama, yang ada di sekitar dan lingkungan gereja berada.
2. menjelaskan kosep toleransi yang benar menurut Alkitab.

D. Manfaat Penelitian
Melalui penyelidikan biblikal penelitian ini hendak menjelaskan
bagaimana sikap seharusnya bagi Kristen dalam bertoleransi, selain juga
memberi manfaat secara teoritis dan praktis.

1. Secara teoritis penelitian ini berguna untuk menjadi bahan acuan


sikap dan prinsip dalam bertoleransi terhadap agama lain, dalam batas-batas
yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.
2. Seacara praktis, penelitian ini berguna untuk memberi landasan yang
jelas bagaimana pentingnya bertoleransi kepada agama lain, sehingga terhindar
dari praktik beragam yang eksklusif ekstrim, atau inklusif ekstrim.

3. Secara personal, penelitian ini adalah bagian dari tugas akademik


kelembagaan dalam bidang penelitian sebagai seorang dosen di Sekolah Tinggi
Alkitab Batu.
BAB II
PERSPEKTIF BIBLIKAL SIKAP TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA

Pokok permasalahan dalam penelitian ini secara umum bukan hal baru,
tentu telah ada yang lebih dulu menelitinya. Seperti diingatkan oleh Andreas B.
Subagyo, sebuah penelitian tidak berlangsung di dalam kekosongan. Sebab
secara umum ada orang yang telah meneliti pokok permasalahan yang sama,
sehingga peneliti harus memperhatikan dengan meninjau dan memadukannya
dalam sintesis kepustakaan.6 Oleh sebab itu, peneliti mengutip dan memadukan
penelitian dari karya-karya yang sudah ada sebelumnya dengan penelitian
penulis, dari berbagai literatur yang peneliti miliki.

A. Studi Kata Toleransi

Gereja atau orang Kristen adalah salah satu komponen dalam masyarakat
yang berbaur bersama kelompok agama lainnya. Orang Kristen telah hidup
bersama atau berdampingan dengan semua anggota dalam masyarakat yang
berbeda faham dan keyakinan. Sehingga menjadi suatu keniscayaanan untuk
membangun kebersamaan dengan sesama anggota masyarakat lain melalui sikap
saling menghargai dan menghormati. Kebersamaan itu, pertama-tama, di dalam
hubungan sosial-budaya di lingkungannya. Orang Kristen tidak mungkin lepas
tersendiri dari lingkungan, menyingkirkan tata-nilai dan kaidah yang berlaku di
dalam lingkungan tempat dia tinggal dan berinteraksi.
Sebagai bagian dari kelompok sosial, setiap orang Kristen telah hidup
berkesesuaian dengan pola yang telah terbentuk dalam lingkungan, yang di
dalam ilmu sosial dikenal sebagai konformitas. “Conformity berarti proses
penyesuaian diri dengan masyarakat, dengan cara mengindahkan kaidah dan
6
Andreas B. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif, Termasuk Riset Teologi dan
Keagamaan. Bandung: Kalam Hidup, 2004, 198.
nilai-nilai masyarakat.”7 Karenanya orang Kristen harus mengindahkan kaidah
dan nilai-nilai yang membudaya dan harus dihormati di dalammasyarakat. Tentu
saja, selama nilai-nilai itu tidak melanggar keyakinan dan religiositas yang dianut
setiap individu sebagai salah satu hak yang paling azasi. Konformitas ini menurut
John Berry, dan kawan-kawan, adalah taraf yang memungkinkan individu secara
khas hidup berdampingan dengan norma kelompok yang berpengaruh. 8 Suatu
penyesuaian diri agar diterima dan menjadi bagian dari suatu masyarakat. Sebab,
“Dalam setiap sistem sosial, individu menempati posisi yang memungkinkan
perilaku tertentu diharapkan.” 9 Setiap anggota masyarakat harus mengusahakan
sikap yang diterima ketika bertingkah-laku di antara sesama warga.
Kedua, kebersamaan itu dipahami dalam arti sebagai kebebasan. Setiap
anggota masyarakat tentu berbeda dalam banyak hal sebagai ciri khas
kodratinya. Dalam situasi dan kondisi seperti ini setiap orang tidak boleh
menyeragamkan pandangan dan keyakinan kelompok demi keharmonisan.
Kebersamaan dibangun dalam tataran kesejajaran untuk masing-masing menjaga
kebebasannya, sekalipun harus berbeda antara satu dengan yang lain. Untuk
itulah maka dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat yang beraneka
ragam idealismenya itu dibutuhkan semangat toleransi.

1. Kajian Terminologis

Sepanjang sejarah umat manusia, perjumpaan antara kelompok


masyarakat yang berbeda terus menerus terjadi. Perjumpaan itu suatu natur
manusiawi yang menjadikan manusia sebagai mahluk sosial dengan segala
imbas dan pengalaman yang hadir di dalamnya. Seperti dikatakan oleh Stanley
Heat, manusia adalah mahluk sosial yang harus bermasyarakat untuk
berkembang secara wajar. Setiap orang memerlukan dua konteks sosial,
7
Soerjono Soekanto. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 236-237.
8
John W. Berry, et al. Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1999, 93.
9
Ibid., 87.
kelompok kecil (keluarga) serta pengalaman sebagai anggota suatu kaum besar. 10
Kendatipun, di dalam perjumpaan itu tidak dapat dihindari pula kemungkinan
selalu munculnya perbedaan yang bisa berujung konflik yang berdampak
destruktif.
Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam konteks Indonesia,
perjumpaan antarkelompok dan budaya juga tidak mungkin terhindarkan.
Kemajemukan Indonesia itu, seperti yang disampaikan oleh T.B. Simatupang
tentang Indonesia, dalam karangan yang diberinya judul Review of Mission,
dalam buku “Iman Kristen dan Pancasila, seperti berikut ini:

Dari sudut bahasa, budaya, dan agama, ia termasuk negeri paling majemuk
di dunia: 250 bahasa dan kira-kira 30 kelompok etnis. Masing-masing
kelompok itu cukup kuat secara jumlah ... Dan masing-masing kelompok itu
mempunyai kepribadian, bahasa dan agamanya sendiri-sendiri. Kami
mempunyai agama-agama Hindu, Budha, Islam, Kristen Protestan dan
Katolik, dan agama-agama Cina, tentu saja. Sebagian penduduk kami masih
animis. Ya, kecuali agama Yahudi, kami mempunyai semua agama besar di
bumi ini.11

Dari pemerian ini terlihat betapa majemuknya masyarakat Indonesia dan


dengan demikian pula betapa rentan untuk terjadinya konflik yang akan
membuat semakin besarnya potensi kekerasan antarkelompok sebagai
konsekuensi perjumpaan dari keberagaman itu. Oleh karena itu, betapa
pentingnya memahami makna toleransi di dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara serta bermasyarakat. Dan betapa urgensinya setiap orang Kristen
secara proaktif untuk mengusahakan toleransi demi kerukunan. Sementara itu,
nasihat rasul Paulus dalam Roma 12:17-18 akan menjadi penting untuk upaya
toleransi Kristen ini, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu
bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

10
W. Stanley Heat. Psikologi yang Sebenarnya. Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997, 83.
11
T.B. Simatupang. Iman Kristen dan Pancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, 3.
a. Etimologi Istilah Toleransi

Kata “toleransi” sudah sangat dikenal, bukan hanya digunakan dalam


bahasa Indonesia, tetapi juga di dalam bahasa-bahasa lain. Dalam bahasa Inggris
muncul dengan beberapa bentuk kata. Dalam sebuah Kamus yang sudah cukup
tua terbitannya, muncul kata tolerance, yang diartikan sebagai: “Liberality
toward the opinions of others, patience with others.” Sedangkan dalam kata sifat
tolerant, berarti “Forbearing; patient with the ideas or acts of others.” 12
Toleransi berarti memberi kebebasan, dan kesabaran terhadap pandangan,
idealisme dan kelakuan orang lain. Demi kehidupan yang lebih baik dalam
ketenteraman bersama, dengan toleransi mampu menghayati kehidupan
bersama di dalam perbedaan, atau kata lainnya, “capacity to endure pain or
hardship”13
Berdasarkan asal usul kata, istilah toleransi ternyata telah menjadi istilah
serapan dari berbagai bahasa. Menurut Aloys Budi Purnomo, “toleransi” adalah
kata serapan dari bahasa Latin, yakni dari kata kerja tolerare, yang memuncul
kata sifat tolerans dan kata benda tolerantia, seperti terlihat dalam table
berikut.14

Tabel 1: Arti Kata Toleransi


Idiom kata Arti
Kata kerja tolerare 1. Membawa, memegang;
2. Menanggung, menyabarkan, menahan,
membetahkan, membiarkan dan
3. Memelihara (dengan susah payah),
mempertahankan supaya hdup, menghidupi.
Kata sifat toleran Yang dapat menyabarkan (menanggung, menahan);

12
Lewis M. Adams, E. N. Teall, C. Ralph Taylor, ed. Webster’s Illustrated Dictionary. New York: Books,
Inc., 1955, 697.
13
Encyclopedia Britannica 2007 ed., Article
14
Aloys Budi Purnomo, Pr. Jalan-jalan Toleransi Demi Kasih dan Keadilan. Yogyakarta: Kanisius,2002,
13.
sabar; tahan; betah; dsb. membiarkan.
Kata benda tolerantia Hal yang menyabarkan; hal yang menggung; hal
yang membetahkan; kekuatan untuk menanggung,
ketetapan, kegigihan, ketabahan dan sikap
membiarkan.

Berdasarkan etimologi kata ini, maka terlihat bermacam-macam arti


toleransi yang sangat positif dan mulia untuk membangun kerukunan hidup.
Menurut Budi Purnomo:
... Suatu keterbukaan yang mencakup sikap, sifat, dan semangat hidup
dalam kebersamaan dan perjumpaan dengan yang lain. Kita bisa
menghubungkan kata ‘toleransi’ dengan situasi atau keadaan yang negatif,
misalnya suatu beban, perbedaan pendapat, perselisihan atau hal-hal lain
yang senada. Dalam situasi semacam itu, orang ditantang untuk bersikap
positif, yaitu mau menanggung, mau sabar, gigih, tabah, dan bersikap
membiarkan.15

Makna kata toleransi berarti menciptakan rasa aman, damai, sabar,


menghindari pertikaian dan kekerasan.

b. Definisi Istilah

Dari asal usul kata yang digali dari bahasa Latin terlihat betapa istilah
toleransi memiliki banyak makna dan dapat diterapkan di berbagai bidang.
Namun agar penelitian ini tidak terlalu melebar pembahasannya, penulis
membatasi hanya pada aspek hubungan antara sesama manusia dan antara
umat beragama di dalam kemajemukan masyarakat. Berikut ini penulis mengutip
beberapa definisi menurut beberapa kamus dan ensiklopedi yang dipilih.
Menurut Lorens Bagus, dalam “Kamus Filsafat”, dia mendefinisikan
toleransi sebagai berikut:
Sikap seorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang
lain yang dianggap berbeda, dapat disanggah, atau bahkan keliru. Dengan
sikap itu ia juga tidak mencoba memberangus ungkapan-ungkapan yang
sah dari keyakinan-keyakinan orang lain tersebut. Juga tidak berarti acuh
15
Ibid., 13.
tak acuh terhadap kebenaran dan kebaikan, dan tidak harus didasarkan
atas agnostisisme, atau skeptisisme, melainkan lebih pada sikap hormat
terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang bebas.16

Definisi ini menjelaskan bahwa toleransi itu suatu sikap penerimaan


terhadap perbedaan dengan pandangan atau keyakinan orang lain dalam
kerangka kerukunan dan kebersamaan yang saling menghormati dan menghargai
martabat manusia.
Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, toleransi mengacu kepada
kebebasan beragama dalam rangka berbangsa dan bernegara:
Toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan
kebebasan agama yang dianut dan kepercayaan yang dihayati oleh pihak
atau golongan lain. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan atau eksistensi
suatu golongan, agama, atau kepercayaan, diakui dan dihormati oleh pihak
lain. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat, baik
dalam tatanan kenegaraan, tatanan kemasyarakatan maupun di hadapan
Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga perbedaan-perbedaan dalam cara
penghayatan dan peribadatan yang sesuai dengan dasar kemanusiaan yang
adil dan beradab.17

Berdasarkan pandangan ini, toleransi antarumat beragama itu


bertitiktolak terutama di atas pengakuan dan penjaminan negara, yaitu
didasarkan atas kesetaraan agama-agama yang resmi dan diakui di Indonesia.
Tetapi perlu dipahami bahwa tidak selamanya negara dapat campur tangan
dalam sikap bertoleransi. Sikap ini seharusnya muncul dari kesadaran masing-
masing pihak yang berbeda. Karena itu perlu juga menyimak definis yang
dirumuskan oleh Adolf Hueken berikut ini.
Seorang yang toleran menerima atau menanggung (tolelare: Lat.) beban; ia
menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat berbeda,
dan berhati lapang terhadap orang-orang yang berlainan aliran. Sikap
toleran tidak berarti membenarkan pandangan/aliran yang dibiarkan itu,

16
Lorens Bagus. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, 11.

17
Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 16. Jakarta: Delta Pamungkas, pt., 2004, 384.
akan tetapi mengakui kebebasan hak-hak asasi para penganutnya untuk
berpandangan dan hidup secara lain.18

Definisi ini penting signifikansinya. Sebab mencakup arti sebagai sikap


menahan diri dan membiarkan perbedaan dalam kehidupan bersama dalam
rangka menghormati hak azasi. Secara praktis, tetap menjaga perbedaan di
dalam kebersamaan sebagai keunikan masing-masing. Hal itulah yang menjadi
inti toleransi. Sehingga secara kumulatif dan sederhana toleransi dapat
didefinisikan sebagai “sikap dan semangat bersehati-seperasaan seorang dengan
yang lain, justru dan seharusnya, dalam perbedaan keyakinan masing-masing.” 19
Toleransi adalah semangat untuk hidup bersama dengan orang atau umat yang
beragama lain dalam damai dan saling menghormati.

c. Padanan Kata Toleransi

Toleransi adalah suatu sikap yang sudah dikenal secara umum, mungkin
di seantero dunia beradab, khususnya dalam praktik kehidupan bersama, baik di
lingkungan sosial maupun di lingkungan keagamaan, sekalipun dengan
penggunaan kata yang tidak sama. Sebab berdasarkan maknanyanya, toleransi
sudah menjadi suatu keharusan dalam menjaga kerukunan hidup yang tenteram
di suatu lingkungan atau kelompok masyarakat.
Sebelaum lebih jauh membahas tentang dasar-dasar orang Kristen
bertoleransi, penulis perlu juga untuk memaparkan penelitian tentang toleransi
dari sumber lain demi mendapatkan pemahaman yang lebih luas dari arti dan
penerapan kata ini.

18
Adolf Hueken. Ensiklopedi Gereja, jilid 8. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005, 255.
19
Aloys Budi Purnomo, 14.
Dalam bahasa Indonesia, kata toleransi dikenal dengan sebutan “menenggang”
atau istilah “tenggang rasa.” Poerwadaminta di dalam “Kamus Umum Bahasa
Indonesia” menjelaskan arti kata ini sebagai berikut:
Toleransi bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan,
membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan,
kelakuan, dan sebagainya) yang lain atau bertentangan dengan
pendiriannya sendiri; agama (ideologi, ras, dan sebagainya). 20

Sekalipun tidak memiliki makna yang persis sama, sinonim kata toleransi
yang dipahami orang Indonesia sebagai sifat dan sikap mengindahkan
kepentingan orang lain atau menimbang perasaan orang lain, dapat atau ikut
menghargai perasaan orang lain.21 Toleransi menyebabkan seseorang tidak
memaksakan kehendak. Dalam pemahaman yang lebih luas, “Encyclopedia
Britannica” menjelaskan:
Tolerance n. 1 the capacity to bear something unpleasant, painful, or
difficult ‹had always had a high tolerance to pain› syn endurance, stamina,
toleration rel fortitude, grit, guts; strength, vigor; long-suffering, patience,
sufferance; steadfastness, steadiness; opposition, resistance ant
intolerance 2 syn forbearance 2, clemency, indulgence, lenience, leniency,
mercifulness, toleration rel liberality, liberalness, open-mindedness,
permissiveness con narrow-mindedness; prejudice; dogmatism; bigotry ant
intolerance22

Pada dasarnya secara umum toleransi berarti berkemampuan untuk


menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan, menyakitkan, atau menyulitkan.
Memiliki sinonim dengan ketahanan, stamina, penoleransian, sepadan dengan
kata ketabahan, kesabaran, kemurahan hati, belas kasihan, kemanjaan,
kemurahan hati, penyayang, kebebasan, keterbukaan hati, permisif, lawan dari
kecupatan pikiran, prasangka; kekakuan dogmatik; sikap fanatik, dan sebagainya.
Satu pemahaman lain lagi yang berbeda, datang dari sikap Islam.
Pemahaman toleransi menurut Islam datang dari bahasa Arab ikhtimal,
20
W. J. S. Poerwadarminta, diolah kembali oleh Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional,.
Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2006, 1288.
21
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1173.
22
Encyclopedia Britannica, 2007 ed., Thesaurus
tasaamukh, yang artinya sikap membiarkan, lapang dada. Sinonim dengan kata
samakha, tasaamakha yang artinya sama dengan lunak, berhati ringan. Ada juga
yang memberi arti lain, sebagai kesabaran atau membiarkan, dalam arti
menyabarkan diri walaupun diperlakukan kurang senonoh, umpamanya.23 Lebih
jauh, menurut Umar Hasyim, dalam perspektif pemahaman Islam, toleransi itu
dapat terwujud selama salah satu pihak tidak melanggar hak-hak orang lain. 24
Berdasarkan pengertian toleransi menurut Islam tersebut, maka,
menurut Umar Hasyim, sikap dan suasana toleransi di antara sesama manusia,
atau antaragama itu memiliki segi-segi, yang penulis ringkas seperti berikut ini:
mengakui hak setiap orang, menghormati keyakinan orang lain, agree in
disagreement (sepakat untuk tidak sepakat/setuju di dalam perbedaan), saling
mengerti, kesadaran dan kejujuran.25 Jelaslah bahwa toleransi adalah sikap mulia
yang dimiliki semua orang dan golongan dalam rangka pewujudan kehidupan
yang normal, aman dan damai.

2. Sikap-sikap Umum Toleransi

Berdasarkan kajian istilah dan palacakan definisional istilah, nilai-nilai


yang terkandung dari dalam terminlogi toleransi ternyata mengandung multi-
makna dan dapat berkembangn menjadi multi-tafsir. Makna kata toleransi
dipahami secara sangat fleksibel baik secara umum maupun secara iman Kristen.
Khususnya lagi dari sisi aplikatif, ketika hidup berdampingan dengan kelompok
lain yang berbeda agama secara praktis, toleransi dapat diinterpretasikan dalam
beberapa sikap yang sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap agama.
Dari semua segi, nilai dan sifat toleransi itu, maka, dalam implementasi
praktisnya, sikap bertoleransi antarumat beragama yang berkembang di tengah

23
Umar Hasyim. Toleransi dan Kemerdekaan Beragama Dalam Islam Sebagai Dasar Menuju Dialog
dan Kerukunan Antar-Agama. Surabaya, Bina Ilmu, pt., 199), 22.
24
Ibid.
25
Ibid., 23-25.
fenomena kehidupan sehari-hari memunculkan tiga macam sikap sebagai hasil
penghayatan dan penginterpretasian makna.

a. Toleransi Mediokritas

Ada sifat toleransi yang dapat dimaknai sebagai sikap kurang peduli yang
bahkan bisa cenderung membiarkan pihak lain begitu saja. Sikap ini dapat
disebut sebagai sikap yang mediokritas. Mediokritas artinya sedang-sedang saja
atau “abu-abu”. John Mason mengatakan bahwa mediokritas adalah suatu
wilayah yang diikat oleh kompromi, keraguan dan sebagainya. 26 Sikap ini
bersifat negatif, hampir sama dengan tidak menghargai keyakinan atau agama,
acuh tak acuh terhadap agama atau tidak punya sikap yang jelas terhadap prinsip
ajaran agama. Menurt Yosef Lalu, toleransi negatif itu adalah “isi ajaran dan
penganut agama lain tidak dihargai, tetapi mereka dibiarkan saja karena
menguntungkan (misalnya, dari segi ketenangan dalam politik, ekonomi) atau
karena sikap acuh tak acuh terhadap agama.” 27 Orang yang mengartikan
toleransi seperti ini hanya mencari aman, tidak memiliki keyakinan agama yang
absolut, dan kurang peduli terhadap agama. Toleransi cukup diartikan tidak
menjelek-jelekkan agama lain. Seperti dikatakan oleh Harold Netland, “More
recently the meaning of tolerance has changed: being tolerant of another
religion is often regarded as a matter of not saying anything negative about
religion.”28 Pada kahir-akhir ini arti toleransi sudah berubah, bersikap toleran
dengan agama lain diartikan sebagai tidak berkata negatif terhadap agama lain.

b. Toleransi Tanpa Batas

26
John L. Mason, diterj. Dabiel SEP Simamora. Musuh yang Disebut Mediokritas. Bandung: Cipta
Olah Pustaka,1990, 19.
27
Yosef Lalu. Makna Hidup Dalam Terang Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius,2010,227.
28
Harold Netland, The Enigma of Plurlism, Dalam: Veli-Matti Karkkainen, “An Introduction to the
Theology of Relogions, Biblical, Historical and Contemporary Perspectives” (Illinois: InterVarsity Press, 2003),
325-326.
Sikap toleransi kedua, suatu sikap yang berkembang menjadi sangat
peduli, baik kepada penganut maupun terhadap ajaran agama lain. Membangun
semangat kebersamaan agama dengan menyetarakan semua agama sedemikian
rupa. Toleransi model seperti ini menghargai setiap agama dengan meniadakan
nilai-nilai keeksklusivannya. Sikap dan pandangan ini dalam penghayatannya
disebut juga sebagai toleransi yang bersifat ekumenis. Toleransi yang
bertendensi merelatifkan semua ajaran agama. “Isi ajaran serta penganutnya
dihargai, karena dalam ajaran mereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang
bernilai untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri.”29 Sikap
ekumenis seperti ini sangat berbahaya, sama dengan semangat pluralisme
agama. Seperti dikatakan oleh Paul Knitter, ketika membahas pluralisme agama
dalam buku “Satu Bumi Banyak Agama”, pluralisme agama dilukiskan sebagai
sikap yang berdamai dan hangat di mana semua agama memang berbeda tetapi
memiliki kesaksian tentang pengalaman mistis yang sama-sama valid. 30 Pada
akhirnya sikap ini berkesimpulan bahwa semua agama membawa kepada
keselamatan. Pluralisme agama berusaha menyetarakan setiap agama, sehingga
tidak mengakui klaim keabsolutan suatu agama mana pun. Setiap agama
dianggap sama benarnya. Setiap agama memiliki hubungan dengan Yang Mutlak.
Yang satu mungkin lebih baik dari yang lain, tetapi semua sama saja. Demikian
sikap pandangan pluralisme agama.
Menurut pandangan Norman Geisler, dalam Baker Encyclopedia of
Christian Apologetics, sikap tanpa batas atau merelatifkan semua agama itu
berarti menolak keabsolutan suatu agama, yang disebut sebagai sikap relativism.
“Relativism claim that there are no criteria by which one can tell which religion is
true or best. There is no objective truth in religion, and each religion is true to the
one holding it.”31 Orang yang bersikap relativisme menganggap semua agama

29
Adolpf Heuken, 255.
30
Paul F. Knitter, diterj. Nico A. Likumahua, Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan
Tanggung Jawab Global (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2008), 33.
31
Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapid, Michigan: Baker Book, 2000),
598.
sama, tidak perlu ditolak, yang berarti pula tidak ada keabsolutan agama. Sikap
ini menjadikan toleransi yang tanpa batas.
c. Toleransi Kristiani

Jenis toleransi lainnya dapat disebut sebagai toleransi yang kristiani.


Toleransi ini bersikap positip. Memiliki sikap yang arif dan bijaksana, namun tidak
kompromi dan tidak acuh tak acuh. Inilah sikap toleransi yang sejati yang perlu
terus dikembangkan secara proaktif dan konsekuen sesuai dengan iman Kristen.
Makna toleransi diresapi sebagai sikap menghargai sesama manusia secara jujur,
tulus dan dengan berperikemanusiaan. Menurut Heuken, sikap positip toleransi
itu dalam arti “isi ajaran ditolak; tetapi penganutnya diterima serta dihargai.” 32
Yang diberi toleransi bukan isi ajaran atau agamanya, tetapi pribadi
penganutnya. Seperti juga disampaikan oleh Armada Riyanto:
...Kata toleransi selalu mengungkapkan sikap-sikap terhadap manusianya
dan tidak pernah mengenai ajaran agama. Dengan kata lain toleransi itu ada
dalam kerangka perikemanusiaan, bukan kebenaran ajaran agama. Maka
toleransi tidak memecahkan masalah benar-salahnya suatu ajaran agama,
melainkan berusaha menghargai hak orang lain dan membantunya juga. Hal ini
bukan relativisme, pun tidak bertentangan dengan sifat absolut ajaran agama
yang diyakininya.33

Toleransi yang positif tidak mencampuradukkan klaim kebenaran setiap


agama, tetapi memberi penghargaan dan kebebasan orang lain menghayati
keyakinannya secara berbeda sebagai hak yang harus dihormati oleh pihak lain.
Toleransi dapat dimaknai secara berbeda, namun makna yang sejati
adalah toleransi yang menghargai penganut agama lain bukan dalam arti
menerima ajaran agama lain. Lebih jauh ada beberapa aspek penting dalam
memahami toleransi yang sejati ini.

32
Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja, 255.
33
Armada Riyanto CM. Dialog Interreligius: Historitas, Tesis, Pegumulan, Wajah. Yogyakata: Kanisius,
2010, 401.
Pertama, toleransi yang sejati memiliki ciri tidak menutup mata terhadap
keberadaan agama lain, kendati tidak pula menyamaratakan kebenaran ajaran
agama lain, dan bukan pula sebagai sikap kompromi.
Heuken mengatakan:
Toleransi sejati bukan sikap acuh tak acuh, yang menyamakan semua aliran
yang berbeda tanpa menghormati atau mencari kebenaran; bukan laksana
kopi susu, yang mencampurkan bagian-bagian yang dianggap cocok dari
macam-macam kepercayaan (-sinkretisme); bukan pula sikap mengorban-
kan prisnsip sendiri dengan berkompromi dalam hal-hal pokok. 34

Toleransi menghargai orang yang beragama dan keyakinan lain tanpa


mempermasalahkan keyakinannya dan menghargai martabat setiap orang
disertai kesabaran, sekalipun menyadari perbedaan yang jelas.
Kedua, makna kesejatian toleransi mengharuskan seorang menerima
orang atau kelompok lain berbeda, sekalipun memiliki kepercayaan yang
berbeda, dan dibebaskan berkembang tanpa harus mempermasalahkannya.
Seperti lebih jauh disampaikan oleh Armada Riyanto:
Bersikap toleran berarti bersedia memikul beban gangguan yang timbul
dari cara hidup yang berbeda dengan cara hidup atau weltanschauung atau
sikapku. Makna positif toleransi menunjuk pada sikap-sikap memelihara,
menanggung. Hidup dan lingkungan hidup orang lain dipandang sebagai bernilai
dan karenanya harus dilindungi. Jadi toleransi tidak hanya berarti membiarkan
dengan netral atau sabar, melainkan dengan aktif ikut serta menghargai hidup
orang lain. Atau toleransi menunjuk pada sikap mengakui keunikan orang lain
yang justru mengandaikan kemantapan pendirian dan pandangan sendiri.35
Seorang dengan keyakinan yang mantap tidak akan terganggu dengan
keyakinan orang lain. Sehingga orang tersebut akan selalu menghargai dan
melindungi keunikan yang dimiliki orang lain yang berbeda keyakinan.

34
Adolf Heuken, 25.
35
Armada Riyanto CM., 400-401.
Ketiga, toleransi harus didasarkan atas kasih. Sebab tanpa kasih toleransi
yang dibangun tidak kokoh, sikap toleransinya bersifat negatif, rentan terhadap
motif yang salah.
William Barclay, dalam ulasannya tentang Injil Lukas pasal 9:49 – 56,
secara khusus memasukkan satu bagian yang dinilainya membahas mengenai
masalah toleransi yang bercermin dari pengajaran Tuhan Yesus. Dalam salah satu
bagian ulasannya mengenai toleransi orang Kristen dia mengatakan:
Akan tetapi – dan ini sangat penting – toleransi kita tidak boleh didasarkan
atas ketidak pedulian melainkan atas kasih. Kita bersikap toleran terhadap
orang lain bukan karena kita tidak tahu-menahu dengan orang itu, tetapi
justru karena kasih. Kita melihat orang itu dengan mata cinta 36

Dampak positif dari toleransi yang dibangun di atas kasih dan kemurahan
hati akan melahirkan sikap adil terhadap hak hidup orang lain. Toleransi yang
sejati akan berujung pada keadilan. Keadilan merupakan suatu keadaan yang
wajib diberlakukan di antara sesama warga sekalipun berlainan pandangan.
Seperti dikatakan oleh Malcolm Brownlee, “Dalam keadaan adil hak semua orang
ditentukan secara konsisten. Tidak ada pilih kasih atau diskriminasi. Orang
berhak diperlakukan secara sama dengan orang lain karena ia adalah seorang
manusia, dan setiap manusia sangat tinggi harganya. 37 Toleransi yang sejati
melibatkan unsur kasih yang akan selalu memperhatikan hak orang lain.

B. Tinjaua Biblikal Tentang Toleransi

Alkitab adalah landasan utama dalam pandangan dan sikap orang Kristen,
yang bersifat mutlak. Seluruh pemahaman iman dan tingkah-laku orang Kristen
dilandaskan pada Alkitab. Termasuk juga, tentunya, ketika orang Kristen
menentukan sikap dalam bertoleransi di tengah realitas kemajemukan

36
William Barclay. Pemahaman Alkitab Setipa Hari: Injil Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009,
187.
37
Malcolm Brownlee. Tugas Manusia Dalam Dunia Miliki Tuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987,
65.
masyarakat. Karena alasan itu, maka penelitian ini terutamanya menyelidiki
makna dan landasan toleransi orang Kristen itu secara biblikal.
Agar pembahasan tidak terlalu luas dari tujuan yang hendak dicapai, dan
mengingat pula akar serta asal kata dari istilah itu hanya dipakai di dalam
Perjanjian Baru, maka tinjauan biblikal yang berkenaan dengan toleransi
antarumat beragama ini difokuskan pada Perjanjian Baru saja. Peneliti pertama-
tama mengamati aspek-aspek toleransi itu pada landasan alkitabiah sikap
toleransi, baru secara khusus meninjau sikap toleransi itu dari pengajaran Tuhan
Yesus yang terdapat di dalam kitab-kitab Injil. Selanjutnya, penelitian diarahkan
kepada kitab Kisah Para Rasul, dan beberapa surat rasul Paulus. Namun, karena
surat-surat Paulus berjumlah belasan, dan demi efisiensi, maka penelitian
dibatasi hanya berdasarkan surat Galatia dan surat 1Korintus saja. Hal ini
didasarkan atas pertimbangan dan kenyataan bahwa di dalam kedua surat
tersebut telah tercakup makna sikap toleransi secara biblikal seperti yang
diharapkan.

1. Pelacakan istilah Toleransi Dalam Alkitab

Pemakaian kata “pelacakan” pada sub-subjudul ini dimaksudkan sebagai


upaya untuk mencari, menuruti jejak, memeriksa dan menyelidiki 38 pemakaian
kosa kata dan makna “toleransi”, serta sinonimnya di dalam Perjanjian Baru.

a. Pemakaian Kata Toleransi dan Sinonimnya Dalam Alkitab

Istilah “toleransi” ternyata tidak digunakan di dalam Alkitab salinan


bahasa Indonesia atau salinan bahasa Inggris. Seperti juga pernah dicoba cari
oleh Aloys Budi Purnomo, akhirnya dia mengatakan: “sejauh saya membuka,
membaca, dan mencari dalam seluruh Kitab Suci kita (edisi bahasa Indonesia),

38
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 622.
dari Kitab Kejadian hingga Wahyu, saya tidak menemukan satu pun kata
‘toleransi’.”39 Bahkan penggunaan kata itu tidak terdapat di dalam bahasa Inggris
maupun dalam bahasa Latin. Sehingga dapat dikatakan makna alkitabiah kata
toleransi itu diambil dan diterapkan secara implikatif-relevansional,
membandingkan arti orisinal dan harafiah dari kata itu dengan ungkapan-
ungkapan yang dinarasikan oleh Alkitab.
Kata yang dekat dan sinonim dengan ‘toleransi’ hanya ditemukan dalam
Alkitab salinan bahasa Inggris, yaitu kata tolerable. Dari kata itu penulis meneliti
dan melacaknya melalui beberapa perangkat, seperti melalui program Alkitab
elektroni E-Sword, dan khususnya BibleWorks7. Di dalam beberapa versi Alkitab,
kata itu disalin menjadi bearable dan di dalam salinan bahasa Yunani dipakai kata
anektoteron (ανεκτοτερον). Kata ini di dalam salinan versi Latin “Vulgate”
dipakai kata tolerabilius, kendati hanya sekali, yakni di dalam Matius 10:15.
Berikut ini tabel hasil pelacakan dari beberapa versi salinan Alkitab melalui
BibleWork7.40

Bagan 3: Pemakaian kata Tolerable Dalam Alkitab


Versi Alkitab Kata yang Tempat dalam Alkitab Jumlah
digunakan ayat
American Standard Tolerable Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
Version 10:12,14.
New American Tolerable Mat 10:15; 11:22; Luk 5
Standar Version 10:12,14.
New Revised Tolerable Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
Standard Version. 10:12,14.
Revised Standard Tolerable Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
Version 10:12,14.
New King James Tolerable Mat 10:15; 11:22, 24; Mrk 6
Version 6:11; Luk 10:12,14
King James Version Tolerable Mat 10:15; 11:22, 24; Mrk 6
(KJV) 6:11; Luk 10:12,14.
New International Bearable Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
Version 10:12,14
(NIV)
39
Aloys Budi Purnomo, Pr., 15.
40
BibleWorks7.
English Standard Bearable Mat 10:15; 11:22, Luk 4
Version (ESV) 10:12,14.
Greek Orthodox Text anektoteron Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
(GOC) 10:12,14.
RobinsonPierpont anektoteron Mat 10:15; 11:22, 24; Mrk 6
Majority Text (BYZ) 6:11; Luk 10:12,14.
Bible Work Greek/ anaktoteron Mat 10:15; 11:22, 24; Luk 5
LXX/BNT 10:12,14.
Latin Vulgate tolerabilius Mat 10:15. 1

Semua kata itu, baik kata toleransi, tolerable, bearable, dan tolerabilius,
berasal dari kata yang sama dalam bahasa Yunani, yaitu kata anektoteron
(ανεκτοτερον). Menurut “Webster 1828 Dictionary”:
[L. tolerabilis. See Tolerate.] 1. That may be borne or endured;
supportable, either physically or mentally. The cold in Canada is severe, but
tolerable. The insults and indignities of our enemies are not tolerable. It shall be
more tolerable for the land of Sodom and Gomorrah in the day of judgment, than
for that city, Mat 10. 2. Moderately good or agreeable; not contemptible; not
very excellent or pleasing, but such as can be borne or received without disgust,
resentment or opposition; as a tolerable translation; a tolerable entertainment; a
tolerable administration.41

Diterjemahkan secara bebas artinya: Tolerable, (Latin: tolerabilis,


tolarate) 1 Kata itu artinya menanggung atau memikul beban; menopang, baik
itu secara fisik atau mental. (contohnya:) Dinginnya Kanada sangat
menjengkelkan, tetapi dapat ditoleransi. Cercaan dan penghinaan dari musuh
kami tidak dapat ditoleransi. Akan lebih dapat ditoleransi bagi negeri Sodom dan
Gomorah pada hari penghakiman daripada kota-kota itu (Matius 10:15). 2
Kebaikan yang sedang-sedang saja, dapat diterima, tidak terlalu jahat, tidak
terlalu sempurna atau menyenangkan, tetapi masih dapat ditanggung atau
diterima tanpa menjijikkan, kemarahan atau perlawanan; sebagai suatu
terjemahan yang dapat ditolelir; hiburan yang dapat diterima, suatu pelayanan
yang dapat diterima. Sehingga secara umum, menurut “Websters Dictionary”,

41
E-Sword, Webster’s 1828 Dictionary.
tolerable atau toleransi itu suatu kondisi yang masih dapat ditanggung, diterima
dan dihadapi.
Menurut Vine’s Expository Dictionary, kata ini diartikan: “Anektos (G414)
(akin to anecho, in the middle voice, "to endure," see ENDURE, No. 5) is used in
its comparative form, anektoteros, in Mat 10:15; Mat 11:22, Mat 11:24; Lu
10:12, Lu 10:14; some texts have it in Mar 6:11.”42
Kata “anektoteron” serupa dengan kata “anekho”, bentuk gramatikalnya
middle voice, yang bermakna subyek akan menanggung dampak dari
perbuatannya sendiri. Sehingga makna kata tolerable atau “toleransi” itu si
pelaku menanggung beban atas perbuatannya. Dengan demikian seorang yang
bertoleransi itu bersedia “berkorban” untuk sikapnya itu.
Menurut “The Complete Word Study Dictionary: “G414. ανεκτότερος,
anektóteros; gen. anektotérou, masc. adj., the comparative of anektós, tolerable,
from anécho (G430), to bear. More tolerable, easier to be borne (Mat_10:15;
Mat_11:22, Mat_11:24; Mar_6:11; Luk_10:12, Luk_10:14). Syn.: epieikes
(G1933), gentle, tolerant; makrothumía (G3115), longsuffering toward people;
anexíkakos (G420), forbearing evil. Ant.: austerós (G840), austere; sklerós
(G4642), stern, hard.43
Berdasarkan penjelasan Word Study di atas, kata tolerable yang dalam
bahasa aslinya anektoteron atau anektoteros ini selain berarti dapat mentolelir,
lebih mudah menanggung, dan sebagainya, ternyata memiliki tiga sinonim kata 44
yang menulis paparkan berikut ini.

1) Sinonim dengan kata epieikes (επιεικες) yang berarti lemah lembut,


toleran, dipakai di dalam 1Timotius 3:3; Titus 3:2; Yakobus 3:17;
1Petrus 2:18; atau dalam Septuaginta: Mazmur 86:5.

42
W. E. Vine, Vine’s Expository Dictionary of New Testamen Words, Vol IV (New Jersey: Fleming H.
Revell Compaby, 1981), 142.

43
E-Sword, 2006 ed. The Word Study Dictionary.
44
E-Sword, 2006ed.,
2) Sinonim dengan kata makrothumia (μακροθυμια) yang berarti
panjang sabar, digunakan di Rm 2:4; 9:22; Gal 5:22; Ef 4:2; Kol 1:11;
3:12; 1Tim 1:16; 2Tim 4:2; Ibr 6:12; Yak 5:10; 2Pet 3:15; LXX: Ams
25:15; Yes 57:15; Yer 15:15.
3) Sinonim dengan kata aneksikakos Digunakan hanya di 2Timotius
2:24, yang disalin menjadi “sabar” menanggung kejahatan.

b. Inti Sari Istilah Toleransi

Dari hasil pelacakan kata tolerable ditemukan banyak kata yang dapat
diterapkan untuk pengertian istilah “toleransi” dan sinonimnya di dalam Alkitab,
yang dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, kata toleransi memiliki kesejajaran dengan kata tolerable,
bearable dan tolerabilius yang berasal dari kata bahasa Yunani anektoteron atau
anektoteros yang artinya menanggung beban, menahan, menopang beban,
dapat memikul, dapat diterima, baik dalam arti fisik maupun psikis.
Kedua, kata tolerable di dalam Alkitab, yang berasal dari kata anektoteros
memiliki sinonim kata yang banyak dipakai di dalam Alkitab. Pertama, sinonim
dengan kata epieikes yang berarti pendamai, peramah, lemah lembut. Kedua,
sinonim dengan kata makrothumia, yang artinya sabar atau panjang sabar.
Ketiga, sinonim dengan kata aneksikakos, yang artinya sabar (terutama dalam
menanggung penderitan dan kejahatan).

2. Landasan Toleransi Menurut Alkitab

Manusia sebagai mahluk sosial pada dasarnya adalah anggota dari


masyarakat, atau keanggotaan dari kelompok tertentu. Sekalipun dilahirkan
secara kodrati sebagai mahluk individual, manusia juga mahluk komunal,
ditentukan terikat secara kolektif. Oleh karena itu manusia selalu berinteraksi di
antara satu sama lain atau di antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.
Seperti juga dikatakan oleh Millard Erickson, ketika membahas doktrin
kemanusiaan, yang dalam pengantarnya mengatakan: “Manusia juga mahluk
sosial, yang ditempatkan di dalam masyarakat untuk berfungsi dalam
perhubungan.”45 Dalam pernyataan ini, secara doktrinal manusia itu pada
dasarnya, bukan atas pilihannya sendiri saja, harus menjalankan fungsi
interaksional di tempat di mana dia berada. Supaya proses interaksional yang
dijalani efektif dan diterima oleh lingkungan, maka toleransi terhadap lingkungan
harus terus menerus diimplementasikan oleh setiap indivudu.
Namun, toleransi yang dikerjakan oleh orang Kristen itu haruslah
dilakukan dengan sikap yang sadar dan bijaksana. Toleransi bukan hanya
membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganm tetapi
toleransi itu juga membutuhkan kesediaan untuk menghadapi pengaruh dan
tekanan dari lingkungan. Sebab pengaruh-mempengaruhi di dalam interaksi
sosial itu bukan tanpa resiko. Seperti dikatakan oleh Jerry White, ketika
membahas masalah tekanan kelompok, “Pengaruh orang atas orang lain adalah
suatu kuasa yang sangat kuat, yang mempengaruhi semua orang.”46 Itu sebabnya
setiap orang Kristen perlu menyadari landasan bertoleransi yang benar dan
alkitabiah, yaitu harus berdasarkan iman Kristen dan pengajaran yang diteladani
oleh Kristus.

a. Berdasarkan Iman

Orang Kristen percaya bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar


Allah atau imago Dei. Menurut Erickson, inilah yang membuat manusia berbeda
dengan ciptaan lainnya, dan karena gambar Allah ini, hanya manusia yang
mampu memiliki hubungan pribadi secara sadar dengan Penciptanya serta dapat
menanggapi-Nya. Manusia dapat mengenal Allah serta mengerti apa yang
dikehendaki Sang Pencipta darinya. Manusia dapat mengasihi, memuja, serta

45
Millard J. Erickson. Teologi Kristen, Volume Dua. Malang: Gandum Mas, 2003, 35.

46
Jerry White. Kejujuran, Moral dan hati Nurani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, 45.
menaati Penciptanya.47 Dan salah satu yang diminta Allah bagi manusia dalam
setiap tindakannya adalah iman. Seperti dikatakan penulis surat Ibrani dalam
pasal 11:6a, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”
Bahkan rasul Paulus dalam Roma 14:23b, menandaskan: “Dan segala sesuatu
yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Orang Kristen harus hidup dalam
iman dan melaksanakan toleransi karena iman, tidak boleh mengorbankan iman
demi menyesuaikan diri dengan lingkungan atau demi toleransi. Seperti
dikatakan oleh Jerry White, “Peringatan alkitabiah melawan penyesuaian pada
hal-hal dunia, menyangkut peniruan lahiriah atau praktik-praktik yang tidak
konsekuen dengan kehidupan rohani seorang Kristen.48
Memang, toleransi dalam pengertian tertentu dapat dikatakan sebagai
suatu kemampuan menyesuaikan diri pada lingkungan. Namun penyesuaian itu
bukan berarti harus mengakui keabsolutan iman orang lain, bukan seperti
dikatakan oleh Paul Knitter berikut ini:
Umat Kristen bisa terus menegaskan dan memberitakan kepada dunia
tentang Yesus sebagai benar-benar (truly) ilahi dan juruselamat, namun mereka
tidak perlu bersikeras bahwa dia satu-satunya (solely) ilahi dan juruselamat.
‘benar-benar, namun bukan satu-satunya’ – saya kira ini merupakan upaya baru
untuk menegaskan pentingnya Yesus dalam dunia kepelbagaian agama. Secara
teologis ini berarti bahwa walaupun umat Kristen dapat dan harus terus
memberitakan Yesus dari Nasaret sebagai pribadi yang melalui-Nya realitas dan
kuasa penyelamatan Allah menjelma dan tersedia, mereka juga bisa terbuka
terhadap kemungkinan/ probabilitas bahwa ada juga pribadi lain yang bisa diakui
umat Kristen sebagai Allah.49
Toleransi bukan penyesuaian diri dengan lingkungan. Bukanlah toleransi
seperti ini yang dimaksudkan dalam penulisan ini. Toleransi seperti ini bisa
berbahaya bagi iman Kristen. Iman Kristen itu bersifat absolut, dan berkaitan
dengan keselamatan. Keabsolutan iman Kristen itu di dasarkan pada Kitab Suci
47
Millard J. Ericson, 25.
48
Jerry White, 49.
49
Paul F. Knitter, 51.
dan Pribadi Allah. Seperti dikatakan oleh John R. W. Stott, “Alkitab mengajarkan
kepada kita bahwa keselamatan didapat ‘melalui iman dalam Kristus Yesus’.” 50
Karena itu, menurut nasihat Stott pada buku yang lain: “Kita tidak boleh secara
total mengatakan ‘ya’ kepada dunia, (seakan-akan dalamnya tidak ada yang
jahat), tapi juga tidak boleh secara total mengatakan ‘tidak’ kepada dunia
(seakan-akan di dalamnya tidak ada yang baik). sikap kita harus mengandung
unsur-unsur dari keduanya,...51

Toleransi Kristen tidak mengompromikan iman Kristen dengan keyakinan


lain apa pun, sekalipun tidak menolak orang lain yang berbeda iman dan praktik
kehidupannya. Orang Kristen perlu mengikuti nasihat John Stott lebih jauh, yaitu
“memiliki kemampuan mengombinasikan ‘kekudusan’ dan ‘keduaniawian yang
saleh’.”52 Dibutuhkan kearifan sekaligus pemahaman yang benar, sehingaa dapat
membedakan batas-batas bertoleransi di tengah-tengah kepelbagaian keyakinan
di dalam masyarakat.

b. Berdasarkan Teladan Kristus

Tindakan toleransi bukan hanya dilakukan oleh manusia saja. Ternyata,


Allah sudah lebih dulu melakukan toleransi kepada manusia. Seperti dikatakan
oleh Verkuyl dalam seri Etika II, Ras, Bangsa, Gereja dan Negara, “Tuhan sendiri
berlaku sabar terhadap kita dan mempunyai toleransi terhadap kita. Kita
semuanya hidup dari toleransi Tuhan ...” 53
Toleransi Allah pada dasarnya merupakan sikap kesabaran dan
solidaritas. Tuhan masuk ke dalam alam manusia. Dengan demikian, pola
toleransi orang Kristen mengikuti pola toleransi Allah, melalui Yesus Kristus.

50
John R. W. Stott, diterj. Paul Hidayat. Memahami Isi Alkitab. Jakarta: Persekutuan Pembaca
Alkitab, 2000, 15.
51
John Stott. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani: Penilaian atas Masalah Sosial dan
Moral Kontemporer. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.OMF,1996, 22.
52
John Stott, Isu-isu Global, 22.
53
J. Verkuyl. Etika Kristen: Ras, Bangsa, Gereja dan Negara. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992, 106.
Pertama, mengambil bagian bersama dan menjadi satu dengan manusia. Ibrani
pasal 2:14-18 menyatakan:
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia
juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan
mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang
berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka
yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada
maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi
keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia
harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar
yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan
dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena
pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.
Menurut Dave Hagelberg, surat Ibrani 2:14-18 ini menjelaskan secara
ringkas cara Yesus menjadi satu dengan kita, cara Ia “membawa banyak orang
kepada kemuliaan”, dan cara Ia “menguduskan”.54 Kristus telah menunjukkan
toleransinya kepada manusia dengan cara menjadi sama dengan manusia (ayat
14), mengasihani manusia (ayat 16 dan 17), dan menanggung derita bagi
manusia (ayat 18). Ada satu kata yang penting dalam ayat 14, yang
diterjemahkan dalam salinana bahasa Indonesia “menjadi sama”, dalam salinan
Inggris menjadi partakers, dari bahasa Yunani koinoneo, yang artinya: 1) to come
into communion or fellowship with, to become a sharer, be made a partner 2) to
enter into fellowship, join one's self to an associate, make one's self a sharer or
partner.55
Toleransi harus dilandaskan pada kesediaan untuk masuk sebagai bagian,
berbagi rasa dalam kebersamaan, bisa bekerja sama untuk kebaikan semua
orang. Hanya saja, sebagaimana telah dilakukan Kristus selama berinkarnasi, Dia

54
Dave Hagelberg. Tafsiran Ibrani dari Bahasa Yunani. Bandung: Kalam Hidup, 1996, 21.
55
BibleWork7, Analysis.
menjadi sama dengan manusia, namun tanpa harus berdosa. Demikian juga
orang Kristen, ketika menjalani kehidupan dengan semangat toleransi, tidak
melibatkan diri dengan sikap dan cara hidup dunia yang berdosa.
Orang Kristen atau gereja diutus ke dalam dunia dengan misi yang sama.
Menjadi sesama dengan orang lain untuk menjadi “garam dan terang”, tanpa
harus kompromi dengan cara hidup dan keyakinan mereka. Seperti dikatakan
John Stott, jika misi Kristiani harus mengikuti model misi Kristus, maka tak dapat
tidak kita harus memasuki dunia-dunia orang lain, mencemplungkan diri dalam
tragedi dan keputusasaan mereka, dengan tujuan menyatakan kepada mereka
siapa Kristus adanya.56 Toleransi Kristen tidak bersikap acuh tak acuh terhadap
lingkungan, tetapi membangun semangat saling harga-menghargai, dan dengan
tetap konsisten memberitakan Yesus Kristus Sang Juruselamat.
Kedua, pola toleransi yang bercampur tetapi tidak tercampur. Kristus, di
dalam inkarnasinya adalah manusia sejati, tetapi Dia juga adalah Allah sejati.
Kristus telah mengajarkan orang Kristen segi-segi dari suatu model toleransi
Kristen yang mulia. Di dalam surat Filipi pasal 2:4-8 rasul Paulus mengatakan:
2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya
sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu
bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah
mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib.
Pada ayat 4, toleransi itu suatu sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Sikap
ini bertentangan dengan keinginan secara umum. Setiap orang secara alami pasti
mencari kepentingan diri sendiri, termasuk orang Kristen. Penting disadari,

56 J
ohn Stott, Isu-isu Global, 15-16.
seperti dikatakan oleh Dave Hagelberg, yang dimaksudkan Paulus di sini bahwa
orang Kristen itu tidak perlu diajar sudah terampil untuk memperhatikan diri
sendiri. karena itu didorong untuk memperhatikan orang lain juga. 57 Selama
hanya melihat pada sudut kepentingan diri sendiri, toleransi tidak mungkin
terwujud dengan baik dan benar.
Pada ayat 5, suatu imbauan agar dalam kebersamaan dengan orang lain
selalu menampilkan Kristus sebagai model, yang pada intinya berbicara tentang
“salib.”58 Model toleransi Kristus adalah model yang berani berkorban.
Dalam ayat 6, yang merupakan kunci toleransi utama perikop ini, muncul
dua prinsip ajaran Kristen yang harus direlevansikan secara bijaksana. Menurut
Barclay, pada ayat ini ada dua kata yang menunjukkan keberadaan ke-Allah-an
Kristus yang tidak dapat berubah. Kata itu di dalam salinan bahasa Indonesia
tidak nampak, yaitu kata Yunanni “huparkein”, yang menjelaskan tentang
hakikat seseorang yang tidak berubah, dan kata bahasa Yunani “morfe” yang
artinya “rupa” hakiki yang tidak dapat berubah. 59 Dua substansi Yesus yang tidak
berubah namun dapat berjalan seimbang, antara hakikat keilahian dan hakikat
kemanusiaanya. Dua hakikat Kristus yang tidak berubah ini juga menjadi inspirasi
dan teladan toleransi, bahwa orang Kristen di mana pun dan kapan pun, ketika
berinteraksi kepada siapa saja harus tetap sebagai orang Kristen. Namun, pada
sisi lain, orang Kristen tetap sebagai anggota atau sesama bagi orang lain, tanpa
perlu mempermasalahkan perbedaan masing-masing sifat yang hakiki.
Pada ayat 7, inti gagasan yang dapat diambil, seperti mengutip pandangan
Barclay, “Maksud Paulus adalah bahwa ketika Yesus menjadi manusia itu
bukanlah sandiwara, melainkan sungguh-sungguh.” 60 Toleransi Kristen bukanlah
hanya sebuah sandiwara, tetapi sungguh-sungguh tulus dalam menghargai orang
lain, dan dalam ko-eksistensi di kalangan masyarakat.

57
Dave Hagelberg. Tafsiran Surat Filipi dari Bahasa Yunani. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2008, 46.
58
Dave Hagelberg, Tafsiran Surat Filipi, 46.
59
William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose. 1 dan 2 Tesalonika. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2004, 59-60.
60
Ibid.,61.
Pada ayat 8, ada satu kata yang di dalam salinan bahasa Indonesia diterjemahkan
“keadaan sebagai” yang diambil dari kata Yunani skhema, yaitu bentuk atau
penampilan yang dapat berubah.61 Sesuatu yang kasad mata, dapat dilihat,
namun bisa berubah. Secara relevansional, orang Kristen dapat menjadi apa saja,
atau berada di kelompok mana saja, namun tidak mengubah hakikat
kekristenannya.
Dasar toleransi Kristen yang meneladani Yesus Kristus menurut surat Filipi ini,
mengajar orang Kristen untuk tidak mementingkan diri sendiri, sanggup
menanggung salib, berkorban apa saja demi sesama, menjaga prinsip-prinsip
iman Kristen yang tidak boleh dikompromikan, tidak menjadikan toleransi
sebagai “sandiwara”, mampu berpenampilan yang adaptif, dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungan. Inilah salah satu rangkain dasar dari toleransi Kristen
yang alkitabiah.

3. Toleransi Dalam Pengajaran Tuhan Yesus

Berdasarkan beberapa ayat dari Injil-injil Sinoptik, yaitu Matius 10:15;


11:22,24; Lukas 10:12,14, atau Markus 6:11, di beberapa versi salinan Alkitab,
penggunaan kata tolerabel atau secara eksplisit “toleransi”, maknanya berarti
“dapat ditanggung” atau “menanggung”. Demikian juga, seperti yang terdapat
di dalam Matius 10:15; 11:24, pararel dengan Lukas 10:12; dan Markus 6:11, di
dalam beberapa versi salinan Alkitab62, kata tolerable yang digunakan oleh
Tuhan Yesus itu untuk menunjuk kemampuan menanggung beban, bahwa pada
akhir zaman kota Sodom dan Gomorah akan lebih ringan “tanggungannya”, bila

61
Dave Hagelberg (2008:138) memberi ilustrasi istilah skhema ini seperti seorang Raja yang menukar
jubah kebesarannya dengan pakaian karung dan kengenaka skhema yang hina. Raja itu tidak menjadi miskin
secara fakta, tetapi hanya penampilan sementara saja.
62
Di beberapa salinan, termasuk dalam salinan bahasa Indonesia, Markus 6:11 ini diakhiri dengan
kalimat “keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Tetapi
di dalam versi KJV, NKJ, Young’s Literal Translation (YLT), BYZ, GOC , ditambah dengan kalimat: “Verily I say
unto you, It shall be more tolerable for Sodom and Gomorrha in the day of judgment, than for that city.”
dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang menolak pemberitaan Injil oleh
Kristus.
Begitu pula dengan pernyataan Kristus di dalam Matius 11:22; Lukas
10:14, gagasan yang sama tetapi obyeknya berbeda, yaitu menunjuk kepada kota
Tirus dan Sidon. Hal sama yang menunjukkan gagasan tentang toleransi yang
berarti mampu menanggung beban.
Aloys Budi Purnomo mengatakan, “Kota Sodom dan Gomorah serta Tirus
dan Sidon mendapatkan toleransi dari Allah sendiri, yaitu bahwa tanggungan
mereka akan lebih ringan dibandingkan dengan kota-kota lain yang kurang
percaya kepada perwartaan yang diberitakan Yesus.”63
Gagasan yang diperlihatkan di sini bukan masalah yang berhubungan
dengan pengampunan dosa atau berkaitan dengan iman, tetapi berkaitan
dengan salah satu makna dari istilah toleransi, yaitu kemampuan untuk
bertahan. Toleransi menyiratkan sikap dan kemampuan untuk bertahan ketika
mengalami situasi atau kondisi yang berbeda dari yang diharapkan dan
diinginkan.

a. Toleransi Menurut Injil Matius

Gagasan toleransi dalam Injil Matius muncul dalam kerangka kerukunan


hidup di tengah-tengah masyarakat. Hal itu terlihat dalam hukum emas Kristus,
dalam Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat
kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi.” Matthew Henry mengomentari pernyataan Kristus
ini sebagai berikut:
The rule of justice laid down; whatsoever ye would that men should do to
you, do you even so to them. Christ came to teach us, not only what we are to
know and believe, but what we are to do; what we are to do, not only toward
God, but toward men; not only towards our fellow-disciples, those of our party

63
Aloys Budi Purnomo Pr., 5.
and persuasion, but towards men in general, all with whom we have to do. The
golden rule of equity is, to do to others as we would they should do to us.64

Kristus mengajarkan kepada orang beriman bukan hanya apa yang


diketahui dan percayai, tetapi apa yang harus lakukan, bukan hanya kepada
Allah, tetapi kepada manusia. Bukan hanya kepada sesama, mereka yang
bersikap baik, tetapi kepada semua orang. Hukum kencana ini mengajarkan
kesetaraan yang harus dipraktikan. Ini adalah toleransi Kristus yang disampaikan
Injil Matius. Intinya, seperti ditegaskan Tafsiran Alkitab Wycliffe, “hubungan
manusia dengan Allah selalu melandasi hubungannya dengan sesama.” 65 Orang
Kristen menjalin hubungan dengan sesama, bukan hanya demi kesetaraan, tetapi
juga karena iman.
Gagasan toleransi lain yang muncul di dalam Injil Matius terdapat juga di
pasal 22:37-39, yang berbunyi sebagai berikut: “Jawab Yesus kepadanya:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang
pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Sebagaimana sebelumnya sudah dibahas, bahwa salah satu kesejatian
toleransi Kristen adalah didasarkan atas kasih. Kunci toleransi Kristen ditegaskan
dalam kasih. Dari gagasan ini akan muncul model toleransi yang tulus dan kokoh.
Menurut Malcolm Brownlee66, ada empat unsur kasih yang memengaruhi
pekerjaan orang Kristen dalam masyarakat, seperti berikut:
1) Kasih berarti penghargaan pada kehidupan setiap orang. Penghargan
Kristen berdasarkan kasih yang diberikan kepada orang karena ia
adalah sesama.

64
E-Sword, 2006ed. Mathew Henry’s Commentary on the Whole Bible.
65
Cherles F. Pfeiffer, Everett F. Harrison, ed. The Wycliffe Boble Commentary: Tafsiran Alkitab
Wycliffe. Malang: Gandum Mas, 2008, 43.
66
Malcolm Brownlee, 62-64.
2) Kasih bukan hanya sikap batin. Kasih diwujudkan dalam perbuatan
konkret, yang muncul dari kemauan sendiri.
3) Kasih berarti kepekaan kepada kebutuhan dan penderitaan sesama.
Kasih berarti solider dengan orang lain, turut merasakan
ketidakadilan yang dialami orang lain, dapat bersatu dengan orang-
orang yang menderita.
4) Kasih sejati tidak terbatas kepada kaum kerabat atau kawan-kawan,
kalangan sendiri.
Keempat unsur ini menjadi inti dari toleransi yang diajarkan Kristus. Budi
Purnomo mengatakan, kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia hanya
bisa dibangun dalam jalan-jalan toleransi demi kasih dan keadilan, yakni kerelaan
saling mengasihi dan memahami satu sama lain untuk saling menanggung beban
kehidupan ini demi terwujudnya damai sejahtera. 67 Hasil akhir dari toleransi itu
adalah untuk mencapai kedamaian di antara semua orang atau kerukunan hidup
di antara umat beragam.

b. Toleransi Menurut Injil Markus

Injil Markus adalah Injil yang tersingkat di antara ketiga Injil-injil sinoptik,
yang menurut seorang peneliti Alkitab, secara lebih khusus menceritakan
perbuatan dan pekerjaan Tuhan Yesus. Markus seperti “juru potret” yang secara
berturut-turut memasang gambar dari peristiwa-peristiwa yang tidak boleh
dilupakan.68 Salah satu tindakan Tuhan Yesus yang digambarkannya dengan jelas
di dalam Injil ini, sebagai pernyataan inspirasional mengenai sikap toleransi,
terdapat di dalam pasal 9:38–40, yang berbunyi sebagai berikut:
Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan
pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia

67
Aloys Budi Purnomo, Pr., 6.
68
J. Sidlow Baxter. Menggali Isi Alkitab, jilid 3. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1999,
151-152.
bukan pengikut kita." Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak
seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu
juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Tuhan Yesus tidak memberi reaksi menentang ketika mendengar ada
orang lain menggunakan nama-Nya untuk melakukan perbuatan ajaib, yang bagi
para murid-Nya terlihat sangat menggangu. Alkitab Wycliffe melihat sikap Tuhan
Yesus ini sebagai “Suatu semangat terbuka yang seharusnya merupakan ciri khas
umat Allah.”69 Toleransi Kristen memiliki unsur keterbukaan. Hal itu jelas terlihat
dalam pernyataan kunci dari narasi ini, dalam ayat keempat puluh, “Barang siapa
tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Menurut komentari Henry Matthew:
He that will not own Christ, owns Satan. But as to those that own Christ,
though not in the same circumstances, that follow him, though not with
us, we must reckon that though these differ from us, they are not against
us, and therefore are on our part, and we must not be any hindrance to
their usefulness.70

Intinya, siapa yang bukan miliki Kristus adalah milik Iblis, tetapi sekalipun
orang itu berbeda dari para pengikut yang lain, tetapi dia bukan lawan atau
musuh, karena itu tidak usah diganggu. Selain itu Tuhan Yesus mengajar para
murid untuk mampu mengidentifikasi “musuh” dengan benar, yaitu Iblis atau
Setan. Inilah Suatu ide toleransi yang dicontohkan Kristus dengan baik sekali.
Karena itu William Barclay berkata: “Ini adalah suatu pelajaran tentang toleransi
dan pelajaran ini harus dipelajari oleh setiap orang.” 71 Orang Kristen melakukan
toleransi dengan kesadaran bahwa semua orang adalah sesama.

c. Toleransi Menurut Injil Lukas

Injil Lukas, sebagai satu-satunya Injil yang ditulis oleh orang yang bukan
keturunan Israel, secara khas menampilkan sisi kemanusiaan Kristus. Baxter
69
Tafsiran Alkitab Wycliffe, 175.
70
E-Sword, 2006ed. Mathew Henry’s Commentary
71
William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Markus. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009,
373.
mengatakan, kunci utama Lukas ialah penekanan kemanusiaan, dan inilah yang
menjadi latar belakang segala cerita dalam kitab ini. 72 Karena itu pula di dalam
Injil ini Tuhan Yesus memberi pengajaran tentang “sesama manusia” yang sangat
spesifik, yaitu di dalam pasal 10:31-37. Yang dimaksud dengan sesama adalah
orang lain yang berbeda latar belakang dan keyakinan. Inilah toleransi. Gerrit
Singgih, dalam topik “pemahaman terhadap ‘the other’ mengimbau agar orang
Kristen membangun “teologi pertetanggaan (neighbourly theology) yang secara
kongkret dapat mendorong orang Kristen untuk bersahabat dan bergaul dengan
orang beragama lain, terutama orang beragama Islam. 73 Toleransi Kristus
menurut Lukas begitu kaya dan dapat diaplikasikan sehari-hari, karena Injil ini
memang sangat bersifat manusiawi. Kristus meninggalkan teladan untuk orang
Kristen agar dapat hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda.
Aspek toleransi lain dari Injil Lukas muncul di dalam pasal 9:49-56. Ada
dua kisah yang menunjukkan toleransi Kristus, pertama sikap Yesus yang toleran
terhadap orang lain yang menggunakan nama-Nya untuk mengusir setan, paralel
dengan Markus 9:38-40. Kedua, toleransi Tuhan Yesus terhadap orang orang
Samaria, sekalipun mereka tidak bersedia menyambut persahabatan yang
ditawarkan Kristus. Kedua kisah ini, menurut William Barclay, merupakan dua
pelajaran mengenai toleransi yang luar biasa.
Tidak ada ayat lain di dalam Alkitab di mana Yesus secara sangat langsung
mengajarkan hal toleransi. Dalam banyak hal toleransi merupakan suatu
kebajikan yang hilang, dan sering, di mana toleransi itu ada, maka ia ada dari
sebab yang keliru. Dari sekian banyak agama besar yang dikenal selama ini kita
tidak menemukan pola toleransi yang seperti itu.74
Toleransi alkitabiah dalam Injil-injil Sinoptik menekankan kesediaan
menanggung beban demi kerukunan, kesetaraan, dilandasi kasih. Toleransi
berarti juga tidak mengganggu orang lain yang berbeda, hidup berketetanggaan
72
J. Sidlow Baxter, 196.
73
Emanuel Gerrit Singgih. Iman dan Politik Dalam Era Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung
Mulia,2000, 25.
74
William Barclay, Injil Lukas, 186.
dengan orang lain, dan menawarkan persahabatan sekalipun akan ditolak.
“Toleransi selalu mengarah pada tujuan kerukunan, persaudaraan, pertobatan
dan perbaikan hidup bersama.”75 Berdasarkan Injil-injil Sinoptik, toleransi itu
berarti kesabaran, kesediaan menanggung dan berbagi dengan orang lain.

d. Toleransi Menurut Injil Yohanes

Injil Yohanes sangat beda dibanding ketiga Injil yang lain. Injil Yohanes
memberi tempat utama kepada khotbah-khotbah dan percakapan-percakapan
tertentu.76 Injil ini mengisahkan banyak peristiwa perjumpaan yang
menampilkan sifat dan sikap Tuhan Yesus yan sangat inspiratif, khususnya yang
ada hubungan mengenai tema-tema toleransi.
Sebuah gagasan agung tentang toleransi, menurut Injil ini, dinyatakan
dalam perjumpaan dan percakapan Tuhan Yesus dengan seorang kaum marginal
di kolam Betesda, berdasar pasal 5:1-9. Unsur toleransi yang sangat kuat muncul
dalam kisah tentang kemanusiaan yang agung. Verkuyl menjelaskan:
Pertama-tama kami sebutkan kasih di dalam bentuk peri kemanusiaan
yang sejati. Dalam Alkitab bentuk kasih itu digambarkan dengan cara yang
mengharukan di waktu kunjungan Yesus kepada orang yang sakit selama 38
tahun di Betesda (Yoh 5:1-18). Hal yang mengharukan dalam dalam cerita itu
ialah, bahwa Yesus mengunjungi dan mengadakan kontak dengan orang yang
berkata: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ...” (Yoh 5:7). Tidak ada
orang, yang menolong aku, yang mau menengok aku, yang mau memelihara aku.
Itulah keluh kesah berjuta-juta manusia... ada beribu-ribu manusia yang tidak lagi
menaruh peri kemanusiaan. Maka Yesus Kristus telah menjadi saudara kita,
supaya kita menjadi sesama manusia bagi orang-orang “yang tidak mempunyai

75
Aloys Budi Purnama, , 14.
76
J. Sidlow Baxter, Op.Cit., 225.
sesama manusia” Dialah “Homo Humanus.” Manusia yang menaruh peri
kemanusiaan.77
Kisah ini memberi teladan bagi orang Kristen untuk bersedia menjadi
manusia yang berkemanusiaan, atau sebagai homo humanus. Sikap yang
memiliki rasa kemanusiaan kepada sesama manusia itu harus terus menerus
dilakukan, sekalipun di tengah-tengah sikap banyak manusia duniawi yang homo
homini lupus, yakni naluri hewani yang cenderung memangsa satu terhadap yang
lain78, sikap yang digambarkan sebagai manusia yang menjadi seperti serigala
terhadap sesamanya, yang memangsa sesamanya.

4. Toleransi Menurut Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul yang secara tepat berada di posisi setelah kitab-
kitab Injil, memiliki pokok berita utama yang timbul secara jelas, yaitu agama
Kristen mempunyai kekuatan merombak dunia. 79 Termasuk juga di antaranya
kekuatan merombak sikap dan pandangan gereja mula-mula yang sangat
didominasi oleh Yudaisme.
Di dalam pasal 15, kitab ini menyajikan suatu peristiwa penting yang
merombak perspektif gereja perdana yang masih muda itu, dari sikap
eksklusivisme Yudaisme menuju kekristenan yang terbuka dan universal.
Toleransi yang tercipta melalui Sidang Umum orang Kristen pertama di
Yerusalem ini membangun semangat persatuan dan kebebasan. “Tafsiran Alkitab
Wycliffe” menegaskan, “Keputusan itu disampaikan kepada semua gereja non-
Yahudi bukan sebagai cara untuk memperoleh keselamaan, tetapi sebagai
landasan bagi persekutuan.”80 Persekutuan dalam arti tidak membedaka dan

77
J. Verkuyl. Etika Kristen: Bagian Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986, 245-246.
78
A. A. Yewangoe. Agama dan Kerukunan,143.
79
John Drane. Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis-Teologi. Jakarta: BPK Gunung
Mulia,2001, 284.
80
Tafsiran Alkitab Wycliffe, 455.
melecehkan, khususnya terhadap jemaat-jemaat yang berasal dari latar belakang
orang-orang yang dulunya disebut sebagai “orang kafir”.
Melalui Sidang umum di Yerusalem (pasal 15:1-29), orang-orang bukan
Yahudi dinyatakan setara dengan jemaat Yahudi, tanpa harus terikat dengan
legalisme hukum Taurat, sehingga dapat menghayati kebebasan di dalam Kristus
untuk menjadi umat penyembah Allah. Orang Kristen bisa hidup dalam
kebersamaan tanpa dipisahkan latar belakang yang memecah-belah.
John Darby’s Synopsis mengomentari:
The apostles and elders assemble for deliberation; but the whole flock acts
in concert with them. Thus Jerusalem has decided that the law was not
binding on the Gentiles. These, sincere in their desire of walking with
Christ, rejoice greatly at their freedom from this yoke. 81

Kisah Para Rasul pasal 15 dengan jelas sekali memperlihat pentingnya


sikap toleransi, yaitu memberi kebebasan kepada siapa saja demi kerukunan
semua golongan dari berbagai latar belakang. Toleransi dalam Kisah Para Rasul
ini dalam arti melepaskan beban yang dapat menimbulkan perpecahan di antara
sesama umat Kristen. Toleransi yang sejati dan alkitabiah bukan memaksakan
kerukunan dengan memberi tuntutan tertentu kepada golongan atau kelompok
lain.

5. Toleransi Dalam Surat-surat Rasul Paulus

Berdasarkan arti-arti yang terkandung dari akar kata toleransi dalam


bahasa Latin, dan definisi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka ketika
melacak aspek-aspek toleransi dalam surat-surat rasul Paulus, penulis
menemukan dua perikop yang sangat signifikan dalam menyatakan gagasan
toleransi antarumat beragama. Bahkan merupakan prinsip-prinsip penting dalam

81
E-Sword, 2006ed., John Darby’s Synopsis.
seluruh hubungan orang Kristen di mana saja dengan orang-orang di luar iman.
Pertama, muncul di dalam Galatia 5:22-23; dan kedua, di dalam 1Korintus 13:4-8.

a. Toleransi Menurut Galatia Pasal 5:22-23

Surat Galatia adalah sebuah surat karya rasul Paulus yang sangat
istimewa. John Drane mengatakan bahwa surat ini merupakan surat pertama
karya rasul Paulus, sekaligus surat pertama yang mengisi dokumen Perjanjian
Baru.82 Karena itulah pembahasan mengenai gagasan toleransi dalam surat-surat
Perjanjian Baru ini penulis pilih surat Galatia lebih dulu.
Berdasarkan isinya, surat Galatia secara khusus menekankan pada
kebebasan Kristen, seperti dikatakan oleh Warren wiersbe. “’Kemerdekaan di
dalam Kristus’ adalah tema utama Surat Galatia.”83 Kebebasan Kristen itulah yang
memberi ruang gerak untuk berkembang dan manunggal dengan sesama Kristen,
bahkan dengan semua golongan di setiap tempat dan waktu.
Makna toleransi secara harafiah berarti sifat dan sikap menahan diri,
sabar, tabah, gigih dan sifat-sifat positif lainnya. Bukan suatu kebetulan semua
unsur toleransi itu telah lebih dulu muncul di dalam Kitab Suci orang Kristen,
bahkan terdahulu dibandingkan tema-tema teologis lain di dalam Alkitab. Rasul
Paulus, melalui pengilhaman Roh Kudus berkata kepada orang-orang di Galatia,
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang
menentang hal-hal itu“ (pasal 5:22-23). Secara bebas penulis artikan bahwa tiada
hukum atau “stigma” apa pun bagi orang Kristen untuk dapat eksis dan hidup
dalam kebersamaan secara rukun dengan siapa saja, bilamana mau menuruti
dan menerapkan aspek-aspek buah Roh Kudus itu. Inilah dasar toleransi
alkitabiah yang paling kuat dalam Alkitab. Anthony Hoekema, dalam studi kata,
mengatakan:
82
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 321.
83
Warren W. Wiesbe. Kemerdekaan di Dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 2001, 12.
Buah Roh adalah buah yang tunggal dengan banyak segi. Jumlah seginya
ada sembilan, sembilan keutamaan Kristen yang dapat dibagi ke dalam tiga
kelompok: keutamaan yang mencakup sikap (disposisi) dasar, keutaman yang
berkaitan dengan sesama, dan keutamaan yang berkaitan dengan diri kita
sendiri.84
Buah Roh mengarahkan orang Kristen menjadi kaum unggulan dalam
berhubungan ke segala arah, baik secara vertikal maupun horizontal secara
harmonis dan dinamis. Dalam hubungan secara vertikal, Hoekema menyebutkan:
Tiga keutamaan yang pertama disebutkan mencakup sikap (disposisi) dasar
terhadap Allah dan manusia: kasih, sukacita, dan damai sejahtera... Karena
tidak ada obyek yang ditentukan, maka kita dapat beranggapan bahwa
kasih itu untuk Allah dan manusia ... kasih yang memberi diri secara tidak
egois ... Ketika Paulus menyebut mengenai sukacita, yang dimaksudkan di
sini pertama-tama adalah sukacita karena berada di dalam Kristus... juga
tercurah di dalam persekutuan kita dengan sesama ... Keutamaan ketiga
adalah damai sejahtera. Jelas yang dimaksud adalah damai sejahtera
dengan Allah...85

Pertama-tama Paulus menyemangati orang percaya di Galatia, bahwa


melalui tiga segi pertama dari buah Roh, orang beriman menikmati toleransi
yang diberikan Allah, yang menghasilkan kehidupan yang penuh makna, optimis
dan bersemangat. Begitu juga menurut Warren Wiersbe, “Tiga sifat yang
pertama ini menyatakan segi kehidupan Kristen yang berkenaan dengan
hubungan kita dengan Allah.”86 Tetapi bukan hanya dalam hubungan kepada
Allah, melainkan juga kepada sesama. Diuraikan oleh Hoekema selanjutnya:
Tiga keutamaan berikutnya mencakup hubungan kita dengan sesama.
Kesabaran berarti tidak cepat marah, bersabar terhadap sesama, dan siap untuk
mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, siap untuk menanggung
kesusahaan bersama mereka yang telah menjengkelkan kita... Kemurahan
mencakup keramah-tamahan, sikap bersahabat, dan kepedulian terhadap
perasaan orang lain ... Keutamaan berikut, yang umumnya diterjemahkan
84
Anthony A. Hoekema. Diselamatkan oleh Anugerah. Surabaya: Momentum, 2001, 69.
85
Ibid., 69-70.
86
Warren W. Wiersbe, 130.
sebagai kebaikan, ... yaitu kesiapan untuk selalu berbuat baik kepada orang
lain...87
Akar-akar sikap toleransi berdasarkan ajaran rasul Paulus dalam surat
Galatia ini lengkap bahkan istimewa. Sehingga tidak ada satu segi pun yang dapat
diragukan efektivitasnya. Lebih jauh dan semakin lengkap lagi, ada tiga segi
berikutnya, berkaitan dengan sikap kebijaksanaan pribadi yang perlu dimiliki
dalam hidup di kalangan masyarakat majemuk:
Tiga keutamaan terakhir mencakup hubungan kita dengan diri sendiri.
Kesetiaan berarti kesadaran untuk melakukan tugas yang telah diberikan Allah
kepada kita. Ini juga mencakup reliabilitas. Orang yang setia selalu memegang
ucapannya; tidak mengingkari janjinya. Kelemahlembutan,... merupakan lawan
dari kesombongan, pemberontakan, dan tindak kekerasan. Kelemahlembutan
berasal dari kerendahan hati, dan mencakup kesediaan untuk tunduk kepada
orang lain ketika itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah... Keutamaan
yang terakhir adalah penguasaan diri, yang secara harafiah berarti kekuatan di
dalam ... kita tidak menyerah kepada keinginan, dorongan atau mood kita, tetapi
sebaliknya mampu mengendalikan diri sendiri.88
Orang Kristen memiliki dasar toleransi yang kuat secara alkitabiah dan
semua itu diberikan Allah kepada setiap orang melalui pertolongan Roh Kudus
dan bila mau menerapkannya dalam setiap bentuk kehidupan di setiap tempat.
Karena tidak ada hukum yang menentangnya.

b. Toleransi Menurut Surat 1Korintus 13:4-8

87
Anthony A. Hoekema, 70.
88
Ibid., 71.
Surat Korintus yang pertama adalah surat yang keras dan isinya penuh
dengan masalah. Wesley Brill, ketika menganalisis isi surat ini, mengatakan
antara lain sebagai berikut:
Tidak ada surat lain yang membicarakan begitu banyak masalah seperti
surat ini. Rasul Paulus menulis surat ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan
yang terjadi di dalam jemaat Korintus, dan untuk menjawab semua perlawanan
guru-guru palsu yang mengacau jemaat itu dan yang menentang hak kerasulan
Paulus.89
Dalam kehidupan nyata, masalah dapat terjadi kapan saja, bahkan tidak
terkecuali dihadapi oleh rasul besar. Surat 1Korintus ini juga mencatat beraneka
masalah yang menimbulkan perpecahan yang sangat parah. “Di dalam jemaat
Korintus paling sedikit terdapat delapan kesalahan atau dosa yang hendak
diperbaiki atau dilawan oleh Paulus dalam suratnya.” 90 Tetapi di atas segala
masalah yang begitu kuat meliputi surat ini, muncul suatu gagasan yang paling
istimewa, yang berhasil menjawab semua masalah dan perpecahan yang terjadi
di sana. Sejarah mencatat bahwa Paulus berhasil mengatasi semua masalah yang
terjadi di Korintus dengan tuntas. Wesley Brill menanggapi keberhasilan rasul
Paulus ini dengan menyatakan:
Hasil yang baik dari penulisan surat ini sudah nyata, yaitu bahwa
perpecahan di antara anggota jemaat dapat dihindarkan, demikian pula
kesalahan-kesalahan yang dapat menjadi batu sandungan bagi orang banyak.
Orang yang telah berzinah dikeluarkan dari jemaat dan semua jemaat telah
terpengaruh oleh teguran yang terdapat dalam surat Paulus ini.91
Sehingga dapat dikatakan surat 1Korintus ini juga menjadi tanda dari
kemenangan rasul Paulus. “boleh dikatakan, tidak ada surat lain yang demikian

89
J. Wesley Brill. Tafsiran Surat Korintus Pertama. Bandung: Kalam Hidup, 2003, 15.
90
Ibid., 15.

91
Ibid., 18.
besar hasilnya seperti surat ini...” 92 Salah satu faktor yang sangat menentukan
kemenangan itu adalah dari sikap agung yang tercakup di dalam kasih.
Wesley Brill berkata: “Pasal 13 memuat suatu nyanyian tentang kasih
yang terindah dan termulia. Surat Korintus ini juga menunjukkan jalan yang
benar kepada anggota-anggota jemaat yang beriman, yang sungguh-sungguh
ingin taat kepada Tuhan dalam segala hal.”93 Melalui masalah-masalah yang
dihadapi, Paulus telah menorehkan teladan dan jalan-jalan toleransi yang
merupakan solusi paling efektif mengatasi perpecahan.
Kasih yang dipaparkan Paulus Dalam 1 Korintus 13:4-8 a ini merupakan
kunci ajaran Kristen yang utama dan tetap berlaku abadi di sepanjang abad.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak
memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan
tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena
kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan
segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; ...
Deskripsi tentang kasih yang disingkapkan rasul Paulus di surat 1 Korintus
ini dapat dikatakan kunci utama menggapai kemenangan tanpa kekerasan.
Karena itu, tidak mungkin kasih tidak dilibatkan dalam toleransi Kristen. Justru
karena kasihlah orang Kristen menjalankan toleransi yang tulus, dan tidak ada
gagasan alkitabiah yang lebih kuat daripada kasih sebagai dasar toleransi orang
Kristen.

6. Sikap-sikap Toleransi Berdasarkan Alkitab

Sesuai dengan kajian biblikal yang telah dilakukan menurut ajaran


Perjanjian Baru, ditemukan beberapa segi dari sikap toleransi. Namun, pertama-
tama, toleransi harus dilandaskan pada iman Kristen. Di luar atau menyimpang
92
J. Wesley Brill, 18.
93
Ibid., 19.
dari iman Kristen harus dihindari bahkan harus ditolak. Kedua, toleransi Kristen
harus meneladani toleransi Kristus, yaitu menjadi satu dengan masyarkat,
sebagai bagian dari masyarakat, agar dapat menjadi saksi Kristus di lingkungan,
dengan tetap mempertahankan karakter Kristen di dalam semangat
penyesuaian diri secara bijaksana.
Menurut Injil Matius, toleransi itu bermakna bersedia menanggung beban
sebagai orang Kristen, melakukan kebaikan kepada semua orang, hidup
bermasyarat secara arif, dan hidup dalam kasih. Menurut Injil Markus, toleransi
memiliki unsur keterbukaan dan kesabaran terhadap sesama. Orang Kristen tidak
bermusuhan dengan siapa pun. Hanya iblis dan setan, serta sifat-sifatnya yang
menjadi musuh Kristen. Menurut Injil Lukas, selain mengandung nilai kasih, juga
bermakna kesediaan menanggung beban, dan kesabaran, bersedia memberi
kebebasan. Menurut Injil Yohanes, toleransi memiliki nilai-nilai kemanusiaan
yang tinggi terhadap sesama manusia. Toleransi dalam Kisah Para Rasul berarti
melepaskan beban yang menimbulkan perpecahan.
Berdasarkan surat-surat rasul Paulus, sikap toleransi memiliki makna yang
lebih bervariasi dan praktis. Menurut surat Galatia, toleransi bersifat menahan
diri, sabar, tabah, gigih dan sifat-sifat mulia lainnya berdasarkan kasih yang
membangun kebersamaan. Sedangkan berdasarkan surat 1 Korintus, pengertian
biblikalnya sangat agung, sesuai dengan kedalaman dan keluasan kasih Kristen.
Pengertian toleransi yang diajarakan Alkitab bersifat fleksibel, dapat
diterapkan secara langsung dalam kehidupan praktis. Sebab implikasinya tidak
akan ditentang oleh siapa pun, di mana pun, selain juga konsekuen, karena tidak
mengkhianati nilai-nilai kebenaran iman Kristen. Sehingga, dari pelacakan dan
peninjauan alkitabiah tentang prinsip-prinsip bertoleransi, secara keseluruhan
toleraansi menurut ajar Alkitab dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi utama.
Pertama, toleransi Kristen mengandung sifat bijaksana dalam bertingkah
laku. Kedua, bersikap terbuka terhadap perbedaan dan keunikan setiap orang
atau pun kelompok. Ketiga, berdasarkan kasih.
a. Bersikap Bijaksana

Sikap bijaksana merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam
menjalin hubungan dengan semua orang, baik kepada sesama orang Kristen,
maupun kepada orang-orang yang berbeda iman. Seorang yang bijaksana tidak
akan memaksakan kehendak dan selalu berusaha menghindari konflik. Sikap ini
memberi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang lain secara
damai.
Pengertian bijaksana, secara biblikal berasal dari kata φρόνιμος
(phronimos), menurut analisis “The Complete Word Study Dictionary”:
phrónimos; fem. phrónime, neut. phrónimon, adj. from phronéo (G5426),
to think, have a mindset. Prudent, sensible, practically wise in relationships with
others (Mat 7:24; Mat 10:16; Mat 24:45; Mat 25:2, Mat 25:4, Mat 25:8-9; Luk
12:42; Luk 16:8; 1Co 10:15; Sept.: 1Ki 3:12; Pro 3:7; Pro 14:6; Pro 18:15; Isa
44:25).94
Seorang yang bijaksana tidak semberono dalam bertindak karena dia
seorang pemikir, memiliki pola pikir yang luas. Memiliki hikmat dan pikiran yang
dilandaskan pada akal sehat dan kepekaan, yang secara praktis memiliki sikap
yang bajik dan bijak dalam setiap hubungan dengan orang lain. Istilah ini banyak
ditemukan baik di Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru.
Berdasarkan hasil kajian biblikal, sifat bijaksana ini dapat dideskripsikan sebagai
seorang yang berhikmat, yang akan selalu menampilkan sikap yang sabar, suka
damai, peramah, lemah lembut, bisa menyesuaikan diri, adil, namun tidak
kompromi dengan hal-hal yang bersifat prinsip.

b. Terbuka terhadap Perbedaan

94
E-Sword. The Complete Word Study Dictionary
Toleransi yang diajarkan Alkitab, yang menjadi pegangan bagi orang
Kristen dalam hidup berdampingan dengan orang lain secara damai, harus pula
mengadung unsur keterbukaan terhadap perbedaan. Keterbukaan sejati
menghargai kebinekaaan. Perbedaan di tengah masyarakat itu itu sangat
kompleks, bisa dalam berbagai bentuk dan segi, tetapi terutama dalam
perbedaan agama. Sehingga keterbukaan yang dimaksudkan adalah sikap
keterbukaan terhadap warga yang berbeda iman dan kepercayaan. Keterbukaan
bukan berarti kompromi terhadap ajaran agama, tetapi menerima orang yang
beda agama sebagai sesama warga di masyarakat.
Salah satu ciri keterbukaan, mengandung unsur kuat menghindari sikap
tidak memaksakan kehendak dan sifat penyeragaman. Verkuyl mengatakan
bahwa toleransi Kristen didasarkan pada kebebasan keinsafan batin dan
kebebasan beragama yang tidak memaksa.95 Setiap orang bebas menjadi dirinya
sendiri dengan keyakinannya. Sama seperti sikap Tuhan Yesus yang dicatat Injil
Lukas, dalam pasal 9:53-55, Dia tidak memaksakan orang Samaria untuk
menerima Dia, Hal ini selaras dengan tinjauan biblikal yang telah penulis
sampaikan. Lebih spesifik lagi, segi-segi keterbukaan itu meliputi pula sikap
menghargai orang berpandangan lain, menjaga kebebasan, bersikap tulus dalam
menjalin relasi dengan orang yang beragama lain, bersikap jujur, menghindari
perpecahan, dan tidak melakukan kekerasan.

c. Berdasarkan Kasih

Kunci terpenting lainnya dalam toleransi, dan dalam setiap bentuk


tindakan adalah kasih. Menurut Verkuyl, kasih itu berawal dari pemberian Allah
dan bersifat reflektif. Beliau mengatakan bahwa apabila kasih Allah dicurahkan
ke dalam hati kita, maka tak dapat tidak kasih itu akan terpantul dalam kasih
kepada Allah dan sesama manusia, seperti sinar matahari yang terpantul oleh

95
J. Verkuyl. Etika Kristen: Ras, Bangsa, Gereja dan Negara, 106.
barang mengkilat.96 Dengan kata lain, kasih itu akan menghasilkan dampak yang
efektif apabila setiap orang mau memberi respons positif, yang mampu
merefleksikan kasih itu dalam tindakannya, khususnya dalam berhubungan
dengan orang-orang lain.
Kasih yang bermakna adalah kasih yang terejawantahkan dalam setiap
aksi. Dalam konteks hidup bertoleransi, kasih itu harus mengisi setiap aspek
dimensional hidup bersama, selaras dengan sikap biblikal yang telah ditinjau dari
Perjanjian Baru. Aspek-aspek kasih yang telah dideskripsikan sebelumnya
tersimpul dalam sikap kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, suka menolong
orang yang membutuhkan, murah hati, suka memberi dan suka mengampuni.
Dari seluruh rangkain penelitian biblikal, kosa kata “toleransi” memang
tidak muncul dalam seluruh bagian Alkitab, tetapi refleksi sikap dan nilai-nilai
toleransi itu memenuhi seluruh ajaran Alkitab, yang diawali dari sikap toleransi
Allah terhadap manusia, dan sikap manusia yang seharusnya terhadap
sesamanya. Toleransi itu tidak dalam bentuk literal, tetapi fungsional.

C. Implementasi Toleransi Agama secara Praktis

Setiap orang hidup dalam kelompok atau lingkungan masyarakat


tertentu. Setiap orang adalah anggota dari suatu komunitas yang tidak sendirian
atau seragam. Karena itu, ketika hidup dalam kebersamaan, dibutuhkan sikap
yang dapat memberi perekat kebersamaan yang disebut sebagai toleransi.
Toleransi adalah suatu sikap yang sangat dibutuhkan dan harus terus
diupayakan. Sebab, sekalipun setiap orang bebas mengungkapkan keunikannya,
tetapi setiap orang dibatasi oleh hak-hak orang lain yang harus tetap dihargai
dan dilindungi. Sehingga tatkala terjadi perjumpaan antarwarga yang berbeda
latar belakangnya, perbedaan itu tidak menyebabkan permasalahan, melainkan
justru menciptakan keberagaman yang saling menyemangati dan melindungi.

96
J. Verkuyl. Etika Kristen, Bagian Umum, 243.
Perbedaan latar belakang itu bisa saja dalam hal perbedaan agama.
Toleransi yang dibutuhkan dan perlu dibangun dalam aspek ini ialah toleransi
antarumat bergama. Selain itu perbedaan latar belakang juga tercipta karena
perbedaan budaya dan gaya hidup dari masing-masing anggota di lingkungan
masyarakat. Bahkan perbedaan juga bisa terjadi di antara sesama anggota
keluarga, sehingga setiap anggota perlu bersikap toleran dengan anggota yang
lain. Berbagai cara dan peluang perlu diciptakan untuk membangun sikap
toleransi di antara setiap warga yang sangat beragam itu. Oleh yang demikian,
dibutuhkan “jalan-jalan” toleransi yang sama-sama harus dijalani oleh setiap
pribadi, setiap kaum dan setiap kelompok. Terlebih-lebih bagi warga gereja, yang
kerap kali berada dalam posisi sebagai kaum minoritas.
Namun, karena penelitian ini mengenai toleransi antarumat beragama,
dan tidak membahas upaya-upaya membangun toleransi terhadap masyarakat
umum dan keluarga. Tetapi hanya membahas upaya-upaya membangun
toleransi, atau menciptakan peluang bertoleransi di antara umat beragama yang
implementatif, konsekuen dan alkitabiah. Kemungkinan pertama, melalui kaidah
kencana masing-masing setiap agama, dan kedua, dengan jalan dialog.

1. Melalui Kaidah Kencana Setiap Agama

Toleransi antarumat beragama adalah salah satu faktor yang sangat perlu
untuk menjaga ketenteraman dan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat
majemuk. Sekalipun dalam pemahaman yang bersifat ideologis, seperti
dianalisis oleh Yewangoe, “toleransi lebih mengisyaratkan persetujuan satu pihak
untuk memberikan hak hidup kepada pihak lain.” 97 Tolerasi seperti ini sangat
situasional dan kondisional. Dalam kemajemukan agama toleransi ini terkesan
memunculkan pihak yang lebih berkuasa dibandingkan pihak lainnya. Karena itu,
menurut Yewangoe, lebih baik bila menggunakan kata “kerukunan”. Selain lebih
bersifat positif dan dinamis, juga mengandung pengertian sekalipun berbeda

97
A. A. Yewangoe Iman. Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila , 4.
tetapi memiliki hak dan kewajiban bersama. Hak hidup seseorang tidak
tergantung pada izin pihak lain.98
Pandangan ini kurang bersifat harafiah dan alkitabiah. Penulis lebih
cenderung memahami toleransi dalam makna yang lebih bersifat harafiah dan
religius. Secara praktis sikap toleransi antarumat beragama dapat dilakukan
melalui pengembangan sikap-sikap bijak yang dimiliki oleh setiap agama. Salah
satunya, dengan membangun keyakinan bahwa setiap agama pasti memiliki
kaidah-kaidah yang bersifat positif untuk menjadi acuan toleransi antarumat
beragama yang tulus dan jujur.
Hali Daniel, dalam buku Kitab Suci Agama-agama Sedunia, mengatakan
bahwa antara satu agama dengan agama lainnya memiliki sejumlah kesamaan
dan perbedaan. Jangan hanya mengakui kesamaannya saja tetapi juga
perbedaannya. Demikian pula sebaliknya, janganlah hanya mengakui perbedaan
saja melainkan kesamaannya99 Salah satu peluangnya dengan mengembangkan
semangat toleransi berdasakan “kaidah kencana” setiap agama atau aliran
keyakinan. Sebab, ternyata di dalam setiap agama, masing-masing terkandung
nilai-nilai mulia yang dapat dipakai menjadi “jalan” dalam kehidupan
bertoleransi, seperti penulis deskripsikan dalam tabel 2, yang dikutip dari Hali
Daniel Lie.100 Sekalipun hanya beberapa agama atau kepercayaan saja yang
tertera.

Tabel 2: Kaidah Kencana Agama-agama


Keagamaan Kaidah Kencana sumber
Konfusianisme Do not unto others what you Analect, 15:23.
would not have them do unto you.
Sikh Don’t create enmity with any one Guru Arjan Devji 259,
as God is within every one. Guru Granth Sahib.
Budhisme Hurt not others in ways that you Udana-Varga. 5:18.
yourself would find hurtfull.
98
Ibid, 4.

99
Hali Daniel Lie. Kitab Suci Agama-agama Sedunia. Bandung, Mitra Pustaka, 2006, xii.
100
Ibid., xii-xiii
Islam No one of you is a believer until he Sunnah.
desire for his brother that which
he desire for him self.
Hinduism This is the sum of duty: do Mahabharata: 5:1517.
naught unto others which
would cause you pain if done to
you.
Janisme In happiness and suffering, in Lord Mahavira, 24th
joy and grief, we should regard Tirthankara
all creatures as we regard our
ownself.
Zoroaster That nature only is good when it Dadistan-i-Dink, 94:5
shall not do unto another
whatever is not good for it own
self
Yudaisme What is hatefull to you, do not to Talmud, Shabbat 31a
your fellow man. That is the law:
all the rest is commentary.
Kristen So whatever you wish that men Matthew 7:12
would do to you, do so to them

Berdasarkan pemerian ini, semua agama yang resmi dan berkembang


hidup di Indonesia memiliki Kaidah Kencana sendiri, seperti yang tertera di dalam
tabel di atas. Hal ini menyiratkan bahwa setiap agama memiliki sifat yang bisa
saling menghormati satu sama lain, dan terbuka untuk membangun semangat
bertoleransi antarumat beragama secara tulus.
Joas Adiprasetya mengatakan bahwa Sekalipun Kaidah Kencana agama-
agama muncul dalam berbagai jenjang dan model, memakai kalimat positif
(“Lakukan apa yang engkau ingin orang lain lakukan padamu”) dan negatif
(“Jangan lakukan apa yang engkau tidak ingin orang lain lakukan padamu”),
namun itu untuk menegaskan dua arah yang berbeda namun saling melengkapi.
Kaidah Kencana positif dapat diartikan secara sederhana sebagai prinsip
melakukan kebaikan; sedangkan Kaidah Kencana yang negatif secara sederhana
berarti menolak kejahatan dalam masyarakat. 101 Kaidah Kencana ini dapat
menjadi salah satu peluang masuk untuk menghargai setiap agama yang ada,
dan yang “bersentuhan” dalam kehidupan nyata di lingkungan sehari-hari.
101
Joas Adiprasetyo, 167.
2. Melalui Dialog Antarumat Beragama

Metode lain yang dapat diterapkan dalam toleransi antarumat beragama


secara praktis adalah dengan jalan melakukan dialog. Tujuan dari dialog ialah
untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama, menciptakan kesepahaman
di dalam kepelbagaian paham. Menurut Yewangoe, ada dua macam dialog yang
dapat dilakukan, yaitu dialog verbal dan dialog karya. 102 Kalau dialog verbal
mengutamakan percakapan untuk saling mendengar dan berbuka hati, maka
dialog karya, misalnya, sama-sama bekerja, sama-sama bermain, sama-sama
berbagi dalam mengalami penderitaan dan kesulitan. 103 Suatu sikap toleransi
yang sudah menjiwai kehidupan masyarakat dalam pergaulan sehari-hari di
tengah-tengah perbedaan agama masing-masing.
Profoser Dr. D. C. Mulder, dalam tulisannya untuk menghormati profesor
Dr. P. D. Latuihamallo pada ulang tahunnya yang ke tujuh puluh, menyatakan
bahwa dialog itu suatu percakapan atau pertemuan di mana orang-orang yang
berbeda agamanya, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk paham-
memahami pandangan-pandangan yang dianut. Para peserta berusaha untuk
medengarkan dan berbicara mencari pengertian yang tepat dan jujur. Dialog
mengandaikan suatu sikap yang terbuka, yang bersifat hormat menghormati,
sikap yang melepaskan segala prasangka mengenai agama lain, dan mencari yang
baik dalam agama lain.104 Dialog bukan berarti menyamakan pandangan atau
ajaran antara satu agama terhadap agama yang lain. Dialog merupakan suatu
upaya untuk menemukan kesamaan perspektif dalam hidup berdampingan
secara damai antarumat beragama. Aspek inilah yang dibutuhkan masyarakat,
khususnya orang Kristen, di dalam menjalani kehidupan yang mungkin sangat

102
A. A. Yewangoe. Iman, Agama, dan Masyarakat, 5.
103
Ibid, 6.
104
D.C. Mulder. Hubungan Antara Dialog dan Misi. Dalam: Eka Darmaputera, editor, Konteks
Berteologi di Indonesia: Buku Penghormatan Untuk HUT ke-70 Prof. Dr. P. D. Latuihamallo. Jakarta: BPK
Gunung Mulia 1997, 158.
berat akibat tekanan sosial sebagai kelompok minoritas. Karena itu, orang
Kristen harus lebih proaktif menjaga kerukunan. Toleransi dibutuhkan demi
kedamaian di tengah-tengah masyarakat multi-dimensional sehingga dapat
hidup berdampingan secara bebas dan bermartabat. Melalui kedamaian setiap
agama dapat menjalankan hidup keagamaan dan peribadatannya dengan tenang
dan terjamin. Sehingga patut juga untuk disimak pernyataan Eka Darmaputera
yang dikutip Yewangoe, bahwa kemampuan manusia untuk “bebas” dan
“beragama” adalah anugerah Allah. Apabila kita “ngotot” (insist)
memperjuangkan kebebasan dan mempertahankan-nya, maka itu berarti kita
bukan sekadar menuntut hak azasi, tetapi juga anugerah Allah, dalam kerangka
itu kita juga memperjuangkan kebebasan beragama orang lain. 105 Inilah ide
penting dalam membangun kerukunan antarumat beragama yang praktis, yaitu
berjuang untuk mendapatkan yang diinginkan secara dialogis.

105
A. A. Yewangoe. Agama dan Kerukunan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, 35.
BAB III
KESIMPULAN

Perbedaan adalah kodrat yang tidak bisa dihindari dari keunikan setiap
individu, kaum dan masyarakat. Sekalipun di tengah melajunya kekuatan
globalisasi, keberagaman tidak bisa dipaksakan menjadi keseragaman. Karena
itu, toleransi merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan bersama di dunia
yang semakin transparan dan interaksionalistik masa kini. Perjumpaan
antarumat beragama di dalam kehidupan bersama perlu membangun semangat
kesepahaman dan menciptakan suasana saling menghargai antara satu
kelompok dengan kelompok yang lain, khususnya antarumat beragama, demi
kerukunan dan rasa aman.
Pada satu sisi, toleransi perlu dibangun di dalam sikap hidup secara
konsekuen. Namun pada sisi yang lain, toleransi tidak boleh menciptakan bias
dalam nilai-nilai religiositas dan keeksklusifan prinsip-prinsip iman. Sikap itulah
yang diteliti dalam seluruh rangkaian tesis ini. Suatu sikap toleransi yang tetap
mempertahankan nilai-nilai biblikal namun di dalam kearifan, khususnya dalam
sikap menerima terhadap perbedaan, dilandaskan atas kasih dan sikap bijaksana.
Melalui seluruh rangkaian penelitian dalam tulisan ini ditemukan bahwa
toleransi antarumat beragama adalah suatu sikap yang sangat didukung oleh
ajaran Alkitab, khususnya di dalam ajaran Perjanjian Baru. Toleransi perlu
diterapkan mengingat di dalam kehidupan ini selalu saja terjadi perjumpaan
dengan kelompok lain yang berbeda, sedangkan perbedaan dapat menimbulkan
friksi dan konflik. Kendati demikian, toleransi bagi orang Kristen harus didasarkan
atas iman Kristen yang alkitabiah.
Dari pembahasan sebelumnya, maka seluruh penelitian ini hasilnya dapat
disimpulkan bahwa melalui penelitian biblikal ditemukan fakta toleransi yang
diajarkan Alkitab itu harus memiliki tiga dimensi sikap, yaitu bersikap yang
bijaksana, bersikap terbuka terhadap perbedaan dan bersikap atas kasih. Dalam
pemahaman yang paling praktis, sikap toleransi antarumat beragama dalam
implementasinya, sikap yang paling dominan adalah menerima perbedaan. Fakta
ini memiliki beberapa implikasi.
Pertama, penerimaan terhadap perbedaan tidak boleh diartikan secara
luas sehingga dapat memunculkan sikap pluralistik agama atau sinkretistik ajaran
agama.
Kedua, menerima perbedaan tidak boleh dipahami sebagai sikap
memberi kebebasan tanpa batas kepada ajaran atau gaya hidup lain untuk
diikuti, yang memberi peluang terhadap masuknya gaya hidup dan nilai-nilai lain
yang mempengaruhi nilai-nilai iman Kristen yang otentik dan abadi.
Ketiga, menerima perbedaan tidak boleh diartikan sebagai sikap
demokrasi yang memberi kesempatan terhadap perbedaan sikap di dalam
kehidupan berjemaat yang sudah memiliki kebijakan penggembalaan di dalam
suatu jemaat.
Keempat, menerima perbedaan itu hanya diimplementasikan dalam
pergaulan, terhadap kelompok dari agaman yang berbeda, bukan dalam
peribadatan dan pengajaran.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Adams, Lewis M., E. N. Teall, C. Ralph Taylor, ed., Webster’s Illustrated Dictionary. New
York: Books, Inc., 1955.

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setipa Hari: Injil Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2009.

--------, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose. 1 dan 2 Tesalonika. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2004.

Baxter, J. Sidlow. Menggali Isi Alkitab, jilid 3. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 1999.

Berry, John W., et al. Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1999.

Brill, J. Wesley Tafsiran Surat Korintus Pertama. Bandung: Kalam Hidup, 2003.

Brownlee, Malcolm. Tugas Manusia Dalam Dunia Miliki Tuhan. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1987.

Drane, John. Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis-Teologis. Jakarta: BPK


Gunung Mulia, 2001.

Encyclopedia Britannica, versi offline, 2007ed.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 16. Jakarta: Delta Pamungkas, pt., 2004.

Erickson, Millard J. Teologi Kristen, Volume Dua. Malang: Gandum Mas, 2003), 35.

E-Sword, Bible Soft Wera. Webster’s 1828 Dictionary.

Geisler, Norman L. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapid, Michigan:


Baker Book, 2000.

Hagelberg, Dave. Tafsiran Ibrani dari Bahasa Yunani. Bandung: Kalam Hidup, 1996.

--------, Tafsiran Surat Filipi dari Bahasa Yunani. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2008.

Hasyim, Umar. Toleransi dan Kemerdekaan Beragama Dalam Islam Sebagai Dasar
Menuju Dialog dan Kerukunan Antar-Agama. Surabaya, Bina Ilmu, pt., 1991.
Heat, W. Stanley. Psikologi yang Sebenarnya. Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997.

Hoekema, Anthony A. Diselamatkan oleh Anugerah. Surabaya: Momentum, 2001.

Hueken, Adolf. Ensiklopedi Gereja, jilid 8. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005.

Joas Adiprasetyo. Mencari Dasar Bersama: Etika Global Dalam Kajian Postmodernisme
dan Pluralisme Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Knitter, Paul F., diterj. Nico A. Likumahua. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama
dan Tanggung Jawab Global. Jakarta: BPK Gunung Mulia,2008.

Lalu, Yosef. Makna Hidup Dalam Terang Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius,2010.

Lie, Hali Daniel. Kitab Suci Agama-agama Sedunia. Bandung, Mitra Pustaka, 2006.

Mason, John L., diterj. Dabiel SEP Simamora. Musuh yang Disebut Mediokrita. Bandung:
Cipta Olah Pustaka,1990.

Mulder, D.C. Hubungan Antara Dialog dan Misi, Dalam: Eka Darmaputera, editor,
Konteks Berteologi di Indonesia: Buku Penghormatan Untuk HUT ke-70 Prof. Dr.
P. D. Latuihamallo. Jakarta: BPK Gunung Mulia 1997.

Netland, Harold. The Enigma of Plurlism, Dalam: Veli-Matti Karkkainen, “An Introduction
to the Theology of Relogions, Biblical, Historical and Contemporary
Perspectives.” Illinois: InterVarsity Press, 2003.

Paimoen, Eddy. Kerajaan Allah dan Gereja: Hubungan, Sifat, Jangkauan dan
Penerapannya dalam Sosial, Ekonomi dan Politik di Indonesia. Bandung: Agia
Media, 1999.

Poerwadarminta, W. J. S., diolah kembali oleh Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan


Nasional, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2006.

Purnomo, Aloys Budi, Pr. Jalan-jalan Toleransi Demi Kasih dan Keadilan. Yogyakarta:
Kanisius,2002.

Riyanto CM, Armada. Dialog Interreligius: Historitas, Tesis, Pegumulan, Wajah.


Yogyakata: Kanisius, 2010.

Simatupang, T.B. Iman Kristen dan Pancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Soerjono Soekanto. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Stott, John R. W., diterj. Paul Hidayat. Memahami Isi Alkitab. Jakarta: Persekutuan
Pembaca Alkitab, 2000.
--------, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani: Penilaian atas Masalah Sosial
dan Moral Kontemporer. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.OMF,1996.

Subagyo, Andreas B. Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif, Termasuk Riset Teologi
dan Keagamaan. Bandung: Kalam Hidup, 2004.

The Complete Word Study Dictionary (dalam E-Sword Bible Softwear)

Verkuyl, J. Etika Kristen: Ras, Bangsa, Gereja dan Negara. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1992.

--------, Etika Kristen: Bagian Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.

W. E. Vine, Vine’s Expository Dictionary of New Testamen Words, Vol IV. New Jersey:
Fleming H. Revell Compaby, 1981.

White, Jerry. Kejujuran, Moral dan hati Nurani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Wiesbe, Warren W. Kemerdekaan di Dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 2001.

Yewangoe, A. A. Iman, Agama dan Masyarakat Dalam Negara Pancasila. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2002.

--------, Agama dan Kerukunan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.