Anda di halaman 1dari 6

Krisis energi kini telah menjadi suatu masalah yang paling hangat diperbincangkan oleh

masyarakat dunia, termasuk Indonesia Bagaimana tidak, jika menurut sebuah penelitian,
Indonesia, bangsa yang termasuk dalam anggota OPEC, organisasi pengekspor minyak
dunia,dalam 10 tahun lagi akan kehabisan stok bahan bakar minyak. Dan dalam 30 tahun, bahan
bakar gas yang kini menjadi pilihan pemerintah untuk menanggulangi masalah krisis energi
lewat program konversi minyak tanah ke gas, juga akan habis. Tentunya jika tidak ada
“persiapan” untuk menghadapi krisis ini, bukan tidak mungkin masyarakat dunia, terutama
Indonesia yang negaranya sampai saat ini belum melakukan tindak nyata dalam mempersiapka
krisis energi, akan menjadi masyarakat yang terisolasi. Mempunyai uang untuk membeli energi,
tetapi tidak ada energi yang “dapat” di beli .

Sebenarnya para Ilmuwan di Indonesia telah menemukan berbagai macam solusi yang dapat
diaplikasikan di Indonesia. Namun, sampai saat ini,belum ada atau masih sangat sedikit yang
telah benar-benar di aplikasikan. Salah satu solusi yang sering dibicarakan adalah dengan
menggunakan batu-bara. Di China, batu-bara telah memenuh hingga 70% dari total konsumsi
energi nasional. Dan Afrika telah mengkonsumsi 90% kebutuhan energi lewat penggunaan batu-
bara. Hal serupa juga dilakukan oleh India, yang telah memakai energi lewat peggunaan batu-
bara sebesar 60% sampai 70% (www.bppt.go.id). Di Indonesia cadangan batu-bara melimpah
ruah. Sumber daya energi batubara diperkirakan sebesar 36.5 milyar ton, dengan sekitar 5.1
milyar ton dikategorikan sebagai cadangan terukur. Sumber daya ini sebagian besar berada di
Kalimantan yaitu sebesar 61 %, di Sumatera sebesar 38 % dan sisanya tersebar di wilayah lain.
Menurut jenisnya dapat dibagi menjadi lignite sebesar 58.6 %, sub-bituminous sebesar 26.6 %,
bituminous sebesar 14.4 % dansisanya sebesar 0.4 % adalah anthracite. Namun, sayangnya,
penggunaan batu-bara sebagai sumber energi alternatif dapat menghasilkan gas pollutan, yang
merupakan penyebab utama pemanasan global.

Solusi lain yang ditawarkan adalah dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN) di Indonesia. PLTN adalah sebuah system pembangkit listrik yang memanfaatkan energi
inti atom yang luar biasa besarnya. Untuk mendapatkan energi inti atom tersebut, diperlukan
proses pembakaran bahan nuklir yang berbeda dengan pembakaran kimia pada umumnya. Reaksi
nuklir yang terjadi ini menghasilkan panas yang luar biasa besar dan memiliki daya rusak yang
maksimal. Pada PLTN diperlukan sebuah reaktor nuklir yang berfungsi sebagai tempat reaksi
nuklir berantai terkendali dilangsungkan. Energi yang dihasilkan dari sebuah reaktor nuklir
sangatlah besar. Sebagai gambaran, 1 gr bahan nuklir 235 U dapat menghasilkan energi listrik
bersih sebesar 24,58 x 109 J. Apabila sebuah TV mempunyai daya sebesar 100 watt, maka
dengan 1 gr 235 U hasil reaktor nuklir, dapat menyalakan TV tersebut selama 24,58 x 107 s atau
sama dengan 7,78 tahun terus-menerus tanpa dimatikan. Sebagai perbandingan dengan batubara,
satu kg bahan nuklir dapat menghasilkan energi panas setara dengan 2400 ton batu-bara. Inilah
yang menyebabkan PLTN begitu prospektif untuk menghidupi kebutuhan energi masyarakat
dunia.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebenarnya telah banyak di aplikasikan oleh negara-
negara maju di dunia, seperti di Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Perancis, Rusia, Korea Utara
dan Iran. Namun, untuk diaplikasikan di Indonesia, masih banyak pihak yang menyatakan
ketidaksetujuannya. Penyebabnya adalah kekhawatiran jika terjadi kebocoran reaktor nuklir.
Dalam sejarah PLTN, pernah terjadi kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl dan Three Mile
Island. Pada saat peristiwa Chernobyl (1986) , reaktor nomor empat pembangkit listrik tersebut
meledak. Tigapuluh orang langsung tewas dalam ledakan dan kebakaran tersebut. Reaktor ini
terbakar selama sepuluh hari dan mengkontaminasi sekitar 142 ribu kilometer persegi di utara
Ukraina, selatan Belarusia dan wilayah Bryansk di Rusia. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya
kanker tiroid (gondok) pda anak-anak. Selain itu, kerusakan genetic akibat bencana itu telah
menimbulkan efek negative Diperkirakan bahwa terjadi kanker yang dipicu Chernobyl
menewaskan 4000 jiwa.(Walhi). Selain masalah trauma kebocoran reaktor nuklir, dikhawatirkan
juga masalah kurangnya penguasaan teknologi dan kultur budaya bangsa Indonesia yang korup
dan kurang berdisiplin. Dalam pembangunan reaktor nuklir, dikhawatirkan terjadinya korupsi
dan ketidakdisiplian yang makin membuat rentan terjadinya kebocoran reaktor.

Solusi yang paling memungkinkan untuk diterapkan saat ini di Indonesia adalah Pembangkit
Listrik Tenaga Angin. (PLT Angin). PLT Angin ini pada prinsipnya memanfaatkan angin yang
tersedia di alam. PLT Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan
menggunakan turbin angin atau kincir angin. Energi angin yang memutar turbin angin,
diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan
menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat
dimanfaatkan. Ini dilakukan untuk menstabilkan keadaan listrik yang terpengaruh saat kecepatan
angin berubah-ubah. Angin yang dapat dimanfaatkan untuk PLT Angin ini adalah angin yang
termasuk pada kelas angin nomor 3(berkecepatan 12-19,5 km/jam) sampai dengan kelas angin
nomor 8 (berkecepatan 61,6-74,5 km/jam). Kelas angin nomor 3 dapat ditandai dengan adanya
asap bergerak mengikuti arah angin dan kelas angin nomor 8 ditandai dengan ujung pohon
melengkung, dan hembusan angin terasa di telinga.

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai
garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km merupakan wilayah potensial untuk
pengembangan pembanglit listrik tenaga angin. PLT Angin dapat dimaksimalkan
pemberdayaannya disekitar pantai di Indonesia. Namun, tidak semua pantai dan daerah dapat
dijadikan PLT Angin, karena perlu dipilih daerah yang memiliki topografi dan keadaan angin
yang stabil. Sampai saat ini, kapasitas total yang terpasang diseluruh Indonesia kurang dari 800
kilowatt. Terdapat lima unit kincir angin pembangkit listrik berkapasitas 80 kilowatt yang sudah
dibangun. Pada tahun 2007 yang lalu, telah ditambah tujuh unit kincir pembangkit berkapasitas
sama di empat lokasi, yaitu Pulau Selayar, Sulawesi Uutara, Nusa Penida,Bali, serta Bangka
Belitung.

Selain digunakan di daerah pesisir pantai, PLT Angin juga dapat digunakan di daerah
pegunungan dan daratan. Saat ini kapasitas total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga
angin untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s / 12 Km/jam, 6.7
knot/jam turbin skala kecil lebih cocok digunakan, di daerah pesisir, pegunungan, dataran.. Salah
satu daerah yang cocok untuk dijadikan PLT Angin adalah daerah Sidrap.Daerah ini memiliki
topografi yang menunjang, datarannya luas dan memiliki kecepatan dan stabilitas angin yang
ideal. Selain untuk pembangkitan listrik, turbin angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan
pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dan sebagainya.

Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaatan energi yang paling berkembang saat ini.
Berdasarkan data dari WWEA (World Wind Energy Association), sampai dengan tahun 2007
perkiraan energi listrik yang dihasilkan oleh turbin angin mencapai 93.85 GigaWatts,
menghasilkan lebih dari 1% dari total kelistrikan secara global. Saat ini Amerika, Spanyol dan
China merupakan negara terdepan dalam pemanfaatan energi angin. Diharapkan pada tahun 2010
total kapasitas pembangkit listrik tenaga angin secara global mencapai 170 GigaWatt. Meskipun
energi yang dihasilkan tidak sebesar energi yang berasal dari batu-bara ataupun nuklir, tetapi
PLT Angin merupakan solusi yang paling murah dan rendah risiko untuk di terapkan di
Indonesia. Diharapkan dengan diberdayakannya PLT Angin di Indonesia, akan menjadi salah
satu sumber energi alternafif dalam “menyambut” datangnya masa krisis energi yang
sebenarnya.

Cadangan Minyak Bumi Indonesia Tersisa 23 Tahun

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyatakan, cadangan minyak bumi
Indonesia saat ini semakin menipis dan terisa bagi pemanfaatan selama 23 tahun.

"Cadang batu bara di Indonesia tersisa untuk 146 tahun, cadangan gas untuk 62 tahun dan
cadangan minyak bumi untuk 23 tahun," kata Rachmat pada Seminar dan Sarasehan Nasional
bertema "Mencari Solusi untuk Bangsa" di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu.

Menurut dia, terkait rencana peningkatan penyediaan listrik 10.000 MW pertama yang
direncanakan menggunakan bahan bakar batu bara akan mengurangi cadangan batu bara. Untuk
itu, perlu dilakukan penghematan sumber daya energi fosil karena cepat atau lambat sumber ini
akan habis.

"Pemanfaatan sumber energi fosil secara hemat dan bijak dan pengembangan sumber energi
terbarukan merupakan langkah terbaik bagi penyediaan energi secara berkelanjutan," kata Meneg
LH Rachmat Witoelar.

Perlu penyediaan sumber energi alternatif, praktis, dan efektif yang memerlukan pemerataan
hingga ke pelosok-pelosok. Kalau tidak, masyarakat akan mencari sendiri sumber energinya,
contohnya memotong kayu di hutan. Ini akan menambah emisi CO2 ke udara dan meningkatkan
efek rumah kaca.

Indonesia perlu mengembangkan elemen-elemen ketahanan energi untuk pembangunan nasional.


Elemen-elemen itu antara lain ramah lingkungan hidup, berjalan secara berkelanjutan, akses
yang merata hingga ke rakyat tingkat bawah dan terjangkau oleh masyarakat kelas bawah.

Namun Meneg LH Rachmat Witoelar mengatakan, Indonesia mengalami dilema dalam


menyediakan sumber energi yang tidak bertentangan dengan ketahanan energi tersebut.

Ketahanan energi itu tidak selalu berjalan beriringan dan jika ingin menyediakan sumber energi
yang terjangkau rakyat kelas bawah, maka seringkali sumber energi ini tidak ramah lingkungan.
Apabila ingin menyediakan sumber energi yang ramah lingkungan, maka diperlukan investasi
yang sangat besar.

Dari kenyataan tersebut maka dunia cepat atau lambat akan menggantungkan diri pada energi
terbarukan antara lain panas bumi, tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, bahkan tenaga arus
laut.

Menurut Rachmat, tantangan terbesar penyediaan energi di Indonesia adalah menghasilkan


penelitian dan pengembangan energi terbarukan yang dapat mencapai nilai perekonomiannya.
Hal ini dapat direncanakan antara lima hingga 10 tahun ke depan, sebelum Indonesia mampu
memanfaatkan potensi sumber energi terbarukan secara massal.

Pada seminar di kampus ITB, Meneg LH menawarkan solusi yang dilihat dari berbagai sektor
pembangunan. Sektor-sektor ini antara lain sektor transportasi, sektor bangunan, sektor tata
ruang, dan sektor industri.

Untuk mengurangi konsumsi energi perkapita, angkutan massal atau Mass Rapid Transportation
(MRT) harus diperbanyak agar pengguna jalan beralih ke sana. Dari sektor bangunan, harus
dikembangkan arsitektur hijau berkarbon rendah. Untuk sektor tata ruang, Indonesia harus
mengikuti Tata Ruang Nasional dan harus terus mengembangkan wilayah ruang terbuka hijau.

Penghematan energi yang bisa dilakukan oleh sektor industri adalah dengan menerapkan 3R
yaitu "reduce", "reuse", dan "recycle"," kata Meneg LH Rachmat Witoelar

Sumber Daya Batu Bara

Sumber daya batu bara adalah bagian dari endapan batu bara yang diharapkan dapat dimanfaatkan.
Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi
yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh
jarak titik informasi. Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian
kelayakan dinyatakan layak.

Cadangan Batu Bara

Cadangan batu bara adalah bagian dari sumber daya batu bara yang telah diketahui dimensi, sebaran
kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan di nyatakan layak untuk ditambang.

Batu bara Energi Rendah

Batu bara energi rendah adalah jenis batu bara yang paling rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah
di remas, mengandung kadar air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batu bara energi rendah lunak (soft
brown coal) dan batu bara lignitik atau batu bara energi tinggi (lignitic atau hard brown coal) yang
memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya = 7000 kalori/gram

Batu bara Energi Tinggi

Batu bara energi tinggi adalah semua jenis batu bara yang peringkatnya lebih tinggi dari brown coal,
bersifat lebih keras, tidak mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah,
umumnya struktur kayu tidak tampak lagi, dan relatif tahan terhadap kerusakan fisik pada saat
penanganan (coal handling )

. Nilai kalorinya > 7000kalori/gram

Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan
bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan
dalam suatu sistem Panas Bumi. Panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat diperbarui,
berpotensi besar serta sebagai salah satu sumber energi pilihan dalam keanekaragaman energi.

Panas Bumi merupakan sumber energi panas yang terbentuk secara alami di bawah permukaan
bumi. Sumber energi tersebut berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain
yang dikandung Panas Bumi yang tersimpan di dalam kerak bumi. Untuk pemanfaatannya, perlu
dilakukan kegiatan penambangan berupa eksplorasi dan eksploitasi guna mentransfer energi
panas tersebut ke permukaan dalam wujud uap panas, air panas, atau campuran uap dan air serta
unsur-unsur lain yang dikandung Panas Bumi. Pada prinsipnya dalam kegiatan Panas Bumi yang
ditambang adalah air panas dan uap air.

Pemanfaatan energi panas bumi relative ramah lingkungan karena unsur-unsur yang berasosiasi
dengan energi panas tidak membawa dampak lingkungan atau berada dalam batas ketentuan
yang berlaku. Panas Bumi merupakan sumber energi panas dengan ciri terbarukan karena proses
pembentukannya terus-menerus sepanjang masa selama kondisi lingkungannya dapat terjaga
keseimbangannya.

Emisi CO2, SO2, dan NO2 yang dihasilkan PLTP terhitung sangat rendah. PLTP juga tak
mengakibatkan degradasi mutu lingkungan karena tidak ada penambangan di permukaan,
tumpahan minyak, dan penggenangan habitat.

Potensi Panas Bumi.

Energi panas bumi adalah termasuk energi primer yaitu energi yang diberikan oleh alam seperti
minyak bumi, gas bumi, batubara dan tenaga air. Energi primer ini di Indonesia tersedia dalam
jumlah sedikit (terbatas) dibandingkan dengan cadangan energi primer dunia. Sebagai gambaran
sedikitnya atau terbatasnya energi tersebut adalah berdasarkan data pada Tabel I.

Tabel 1 Cadangan energi primer dunia.


cadangan Minyak Bumi

Indonesia 1,1 %

Timur Tengah 70 %

Cadangan Gas Bumi

Indonesia 1-2 %

Rusia 25 %

Cadangan Batubara

Indonesia 3,1 %

Amaerika Utara 25 %

Sedangkan cadangan energi panas bumi di Indonesia relatif lebih besar bila dibandingkan dengan
cadangan energi primer lainnya, diperkirakan mencapai 27 GWe atau setara dengan 40 persen
sumberdaya panasbumi dunia, hanya saja belum dimanfaatkan secara optimal.