Anda di halaman 1dari 16

A.

Definisi
Eliminasi merupakan suatu proses pengeluaran zat-zat sisa yang tidak
diperlukan oleh tubuh. Eliminasi: eliminasi urine
Sistem yang berperan dalam eliminasi urine adalah sistem perkemihan.
Dimana sistem ini terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemoh, dan uretra. Proses
pembentukan urine di ginjal terdiri dari 3 proses yaitu : filtrasi , reabsorpsi dan
sekresi. Proses filtrasi berlangsung di glomelurus. Proses ini terjadi karena
permukaan aferen lebih besar dari permukaan eferen. Proses reabsorpsi terjadi
penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat, dan
beberapa ion karbonat. Proses sekresi ini sisa reabsorpsi diteruskan keluar.

A. Anatomi dan Fisiologi


Anatomi Fisiologik & Hubungan Saraf pada Kandung Kemih
a. Ginjal
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis,
berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna
vertebra posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung
bagian dalam. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai
vertebra lumbalis ke-3. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 –
2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas
berukuran 12 cm x 7 cm dan memiliki berat 120-150gram. Sebuah kelenjar
adrenal terletak dikutub superior setiap ginjal, tetapi tidak berhubungan
langsung dengan proses eliminasi urine. Setiap ginjal di lapisi oleh sebuah
kapsul yang kokoh dan di kelilingi oleh lapisan lemak.
b. Ureter
Sebuah ureter bergabung dengan setiap pelvis renalis sebagai rute
keluar pertama pembuangan urine. Ureter merupakan struktur tubulan yang
memiliki panjang 25-30 cm dan berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa.
Ureter membentang pada posisi retroperitonium untuk memasuki kandung
kemih didalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan ureter
ureterovesikalis. Urin yang keluar dari ureter kekandung kemih umumnya
steril.
c. Kandung kemih
Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari
dua bagian besar : Badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih
dimana urin berkumpul dan, leher (kollum), merupakan lanjutan dari badan
yang berbentuk corong, berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah
segitiga urogenital dan berhubungan dengan uretra. Bagian yang lebih rendah
dari leher kandung kemih disebut uretra posterior karena hubungannya dengan
uretra. Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor. Serat-serat ototnya
meluas ke segala arah dan bila berkontraksi, dapat meningkatkan tekanan
dalam kandung kemih menjadi 40 sampai 60 mmHg. Dengan demikian,
kontraksi otot detrusor adalah langkah terpenting untuk mengosongkan
kandung kemih. Sel-sel otot polos dari otot detrusor terangkai satu sama lain
sehingga timbul aliran listrik berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot
lainnya. Oleh karena itu, potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot
detrusor, dari satu sel otot ke sel otot berikutnya, sehingga terjadi kontraksi
seluruh kandung kemih dengan segera. Pada dinding posterior kandung
kemih, tepat diatas bagian leher dari kandung kemih, terdapat daerah segitiga
kecil yang disebut Trigonum. Bagian terendah dari apeks trigonum adalah
bagaian kandung kemih yang membuka menuju leher masuk kedalam uretra
posterior, dan kedua ureter memasuki kandung kemih pada sudut tertinggi
trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan melihat mukosa kandung kemih
bagian lainnya, yang berlipat-lipat membentuk rugae. Masing-masing ureter,
pada saat memasuki kandung kemih, berjalan secara oblique melalui otot
detrusor dan kemudian melewati 1 sampai 2 cm lagi dibawah mukosa
kandung kemih sebelum mengosongkan diri ke dalam kandung kemih. Leher
kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2 – 3 cm, dan dindingnya terdiri
dari otot detrusor yang bersilangan dengan sejumlah besar jaringan elastik.
Otot pada daerah ini disebut sfinter internal. Sifat tonusnya secara normal
mempertahankan leher kandung kemih dan uretra posterior agar kosong dari
urin dan oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih sampai
tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat di atas ambang kritis.
Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati diafragma urogenital, yang
mengandung lapisan otot yang disebut sfingter eksterna kandung kemih. Otot
ini merupakan otot lurik yang berbeda otot pada badan dan leher kandung
kemih, yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja di
bawah kendali sistem saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar untuk
menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha untuk mengosongkan
kandung kemih.
d. Uretra
Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh
melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal, aliran urin yang mengalami
turbulansi membuat urin bebas dari bakteri. Membrane mukosa melapisi
uretra, dan kelenjar uretra mensekresi lendir kedalam saluran uretra. Lendir
dianggap bersifat bakteriostatis dan membentuk plak mukosa untuk mencegah
masuknya bakteri. Lapisan otot polos yang tebal mengelilingi uretra.
e. Persarafan Kandung Kemih
Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus, yang
berhubungan dengan medula spinalis melalui pleksus sakralis, terutama
berhubungan dengan medula spinalis segmen S-2 dan S-3. Berjalan melalui
nervus pelvikus ini adalah serat saraf sensorik dan serat saraf motorik. Serat
sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. Tanda-
tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama
bertanggung jawab untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan
pengosongan kandung kemih. Saraf motorik yang menjalar dalam nervus
pelvikus adalah serat parasimpatis. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang
terletak pada dinding kandung kemih. Saraf psot ganglion pendek kemudian
mempersarafi otot detrusor. Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe
persarafan lain yang penting untuk fungsi kandung kemih. Yang terpenting
adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter
eksternus kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersarafi
dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Juga, kandung kemih menerima saraf
simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus, terutama
berhubungan dengan segmen L-2 medula spinalis. Serat simpatis ini mungkin
terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi
kandung kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf
simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensasi rasa penuh dan
pada beberapa keadaan, rasa nyeri. Transpor urin dari ginjal melalui ureter
dan masuk ke dalam kandung kemih. Urin yang keluar dari kandung kemih
mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari
duktus koligentes, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin
tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung
kemih. Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis,
meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan pacemakernya, yang kemudian
mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan
kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urin dari
pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos
dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperi juga neuron-neuron
pada pleksus intramural dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter.
Seperti halnya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi peristaltik
pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh
perangsangan simpatis. Ureter memasuki kandung kemih menembus otot
detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya, ureter berjalan
secara oblique sepanjang beberapa cm menembus dinding kandung kemih.
Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung
menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung
kemih waktu tekanan di kandung kemih meningkat selama berkemih atau
sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik yang
terjadi di sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga
bagian yang menembus dinding kandung kemih membuka dan memberi
kesempatan urin mengalir ke dalam kandung kemih. Pada beberapa orang,
panjang ureter yang menembus dinding kandung kemih kurang dari normal,
sehingga kontraksi kandung kemih selama berkemih tidak selalu
menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin
dalam kandung kemih terdorong kembali kedalam ureter, keadaan ini disebut
refluks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran
ureter dan, jika parah, dapat meningkatkan tekanan di kaliks renalis dan
struktur-struktur di medula renalis, mengakibatkan kerusakan daerah ini.
f. Sensasi rasa nyeri pada Ureter dan Refleks Ureterorenal
Ureter dipersarafi secara sempurna oleh serat saraf nyeri. Bila ureter
tersumbat (contoh : oleh batu ureter), timbul refleks konstriksi yang kuat
sehubungan dengan rasa nyeri yang hebat. Impuls rasa nyeri juga
menyebabkan refleks simpatis kembali ke ginjal untuk mengkontriksikan
arteriol-arteriol ginjal, dengan demikian menurunkan pengeluaran urin dari
ginjal. Efek ini disebut refleks ureterorenal dan bersifat penting untuk
mencegah aliran cairan yang berlebihan kedalam pelvis ginjal yang ureternya
tersumbat. Anatomi Fisiologi Saluran Pencernaan Secara normal, makanan &
cairan masuk kedalam mulut, dikunyah (jika padat) didorong ke faring oleh
lidah dan ditelan dengan adanya refleks otomatis, dari esofagus kedalam
lambung. Pencernaan berawal dimulut dan berakhir diusus kecil walaupun
cairan akan melanjutkannya sampai direabsorpsi di kolon.
B. Proses Kebutuhan Dasar Manusia Eliminasi Sesuai Kasus

Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum di


ketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat yang tergantung pada hormon
androgen . faktor lain yang erat kaitanya dengan BPH adalah proses penuaan.
Mulai ditemukan pada umur kira- kira 45 tahun dan frokuensi makin
bertambah sesuai dengan pertambahan nya umur , sehingga diatas umur 80
tahun kira-kira 80% menderita kelainan ini. Dengan bertambahnya usia akan
terjadi perubahan keseimbangan testoteron estrogen, karena produksi testoteron
menurun dan terjadi konversi testoteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa
diperifer. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang akan terjadi
perubahan patologi anatomik. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran
prostat, resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat, dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor kedalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut tuberkulasi, fase penebalan
detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding.

Apabila kedaan ini berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya
mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi berkontraksi sehingga terjadi
retensi urine. Biasanya ditemukan gejala obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi
terjadi karena detrusor gagal berkontraksi sehingga kontraksi menjadi terputus.
Gejala iritasi terjadi karena pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna
saat miksi atau pembesaran prostat yang menyebabkan rangsangan pada kandung
kemih, vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Apabila vesika
menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sihingga pada akhir miksi
masih ditemukan sisa urine dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas
pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi
kemacetan total, sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi
urine terus terjadi maka vesika tidak mampu lagi menampung urine sehingga
tekanan intra vesika terus meningkat melebihi tekanan tekanan sfingter dan
obstruksi sehingga menimbulkan inkontinensia paradoks. Retensi kronik
menyebabkan refluk vesiko-ureter, hidroueter, hidronefrosis dan gagal ginjal.
Prose kerusakan ginjal dipercepat apabila terjadi infeksi. Sisa urine yang terjasi
selama miksi akan menyebabkan terbentuknya batu endapan yang dapat
menyebabkan hematuria, sistisis dan pielonefritis.

C. Pathway
Hormon esterogen dan faktor usia
sel prostat umur panjang
testosteron tidak seimbang
sel stroma sel yang mati
pertumbuhan berpacu berkurang

menghambat aliran urina Retensi urine prostat membesar

Gangguan eliminasi
urine

penyempitan lumer ureter TURP


Penekanan serabut-
prostatika serabut saraf, Nyeri

kerusakan mukosa urogenital kurangnya informasi


terhadap pembedahan

Resiko infeksi
Ansietas
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi
1. Eliminasi Urine
a. Diet dan intake
Jumlah dan tipe makanana mempengaruhi output urine, seperti protein
dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar.
b. Respon keinginan awal untuk berkemih
Beberapa masyarakat mempunyai kebiasaan yang mengabaikan respon
awal untuk berkemih dan hanya pada akhir keinginan berkemih menjadi
lebih kuat. Akibatnya urine banyak tertahan dalam kandung kemih.
Masyarakat ini mempunyai kapasitas kamdung kemih yang lebih dari
normal.
c. Gaya hidup
Banyak segi gaya hidup mempengaruhi seseorang dalam hal eliminasi
urine. Tersedianya fasilitas toilet atau kamar mandi dapat mempengaruhi
frekuensi eliminasi. Praktek eliminasi keluarga dapat mempengaruhi
tingkah laku.
d. Stress psikologi
Meningkatnya stres seseorang dapat meningkatkan frekuensi
keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitif untuk keinginan
berkemih dan atau meningkatnya jumlah urine yang diproduksi.
e. Tingkat aktivitas
Aktifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tonus otot.
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot kandung kemih yang baik untuk
tonus spingter internal dan eksternal.
f. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga akan mempengaruhi
pola berkemih. Pada wanita hamil kapasitas kandung kemihnya menurun
karena adanya tekanan dari fetus atau adanya
g. Kondisi patologis
Saat seseorang dalam keadaan sakit,produksi urinnya sedikit hal ini
disebabkan oleh keinginan untuk minum sedikit.

A. MANIFASTASI KLINIS/BATASAN KARAKTERISTIK


1. Frekuensi berkemih bertambah
2. Nocturia
3. Kesulitan dalam memulai (hesitency) dan mengakhiri berkemih
4. Miksi terputus (hermittency)
5. Urine masih tetap menetes setelah selesai berkemih (terminal dribbling)
6. Pancaran miksi menjadi lemah (poor stream)
7. Rasa nyeri pada waktu berkemih (dysuria)
8. Rasa belum puas setelah miksi
9. Gangguan Pencernaan
10. Tidak Nafsu Makan
11. Mual-mual dan Muntah
12. Berat badan turun dan lesu
13. Gatal-gatal
14. Gangguan tidur
15. Hipertensi dan Vena di leher melebar
16. Cairan di selaput jantung dan paru-paru
17. Otot-otot mengecil
18. Gerakan-gerakan tak terkendali, kram
19. Kulit kasar
20. Sesak napas dan confusion
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera (biologis, zat kimia, fisik,
psikologis) ( Nanda, 2012).
2. Hambatan mobilitas ditempat tidur berhubungan dengan keterbatasan
lingkungan, peralatan terapi. (Nanda, 2012).
3. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan efek pembedahan pada sfingter
kandung kemih sekunder akibat: pascaprostatektomi (Carpenito, 2006).
4. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya masukan mikroorganisme,
prosedur invasive, trauma (Nanda, 2012).
5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif (Nanda, 2012).
6. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran. (Carpenito, 2006)

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
Fokus intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah klien dengan Benigna
Prostat Hiperplasia adalah :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens stress cedera (biologis, zat kimia, fisik,
psikologis) (Nanda, 2012).
Tujuan : dapat mengontrol nyeri, nyeri dapat berkurang/hilang.
Kriteria Hasil : ekspresi wajah tampak tenang/rileks, skala nyeri   0-3.
Intervensi :
a. Lakukan pengkajian nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas atau keparahan nyeri
Rasional: meberikan informasi untuk membantu dalam menentukan
pilihan /  keefektifan intervensi.
b. Berikan informasi tentang nyeri, penyebab nyeri, seberapa lama akan
berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
Rasional: memberikan infomasi pengetahuan tentang penyakit yang
dialam.
c. Observasi tanda-tanda vital
Rasional: untuk mengetahui keadaan umum pasien.
d. Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologik misal teknik nafas dalam
bila nyeri timbul
Rasional: meingkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan
dapat meningkatkan kemampuan koping..
e. Pemberian Analgesik memberikan penurunan spasme dan nyeri
Rasional: diberikan untuk menghilangka nyeri berat, memberikan
relaksasi: mental dan fisik.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya masuknya mikroorganisme,
prosedur invasive, trauma (Nanda, 2012).
Tujuan : Terbebasnya dari tanda atau gejala infeksi
Kriteria Hasil : Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi,
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
Intervensi :
a. Observasi dan laporkan tanda gejala infeksi (kemerahan, panas, nyeri,
bengkak, pus)
Rasional: mengetahui peningkatan terjadinya resiko terjadinya infeksi
pada luka
b. Kaji warna kulit kelembaban, tekstur, dan turgor kulit
Rasional: mengetahui perubahan keadaan sekitar luka
c. Lakukan teknik steril dalam perawatan kebersihan luka
Rasional: pencegahan pemasukan bakteri, kuman dan infeksi
d. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Rasional : memberi informasi terhadap keluarga mengenai tanda infeksi
e. Kolaborasi pemberian antibiotik dalam pencegahan infeksi
Rasional: diberikan untuk pencegahan resiko infeksi
3. Hambatan mobilitas ditempat tidur berhubungan dengan ketrbatasan
lingkungan (ukuran tempat tidur, tipe tempat tidur, peralatan terapi, restrain)
(Nanda, 2012).
Tujuan : Mampu mengubah posisi sendiri ditempat tidur
Kriteria Hasil : dapat melakukan aktivitas secara mandiri (terlentang-duduk,
miring kanan-kiri)
Intervensi :
a. Kaji tingkat ketergantungan klien
Rasional: mengetahui seberapa tingkat kemampuan gerak klien
b. Observasi hambatan mengatur posisi ditempat tidur
Rasional: mengetahui terjadinya permasalahan dalam berubah posisi
ditempat tidur
c. Mengajarkan latihan ROM seperti miring kanan-kiri secara bertahap
Rasional: memberikan latihan bergerak dalam mengatur posisi
d. Anjurkan untuk tirah baring pada klien
Rasional: memberikan kenyamanan dan keamanan klien
e. Berikan latihan gerak aktif dan pasif supaya tidak kaku pada persendi.
Rasional: mencegah pengkakuan poda otot, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif (Nanda, 2012).
Tujuan : keseimbangan cairan, dehidrasi yang adekuat dapat terpenuhi
Kriteria Hasil: memperhatikan urin output, vital saign dalam batas normal,
tidak ada tanda dehidrasi (membran mukosa lembab, turgor kulit baik)
Intervensi :
a. Monitor tanda dehidrasi
Rasional: mengetahui seberapa banyak pemasukan cairan
b. Pertahankan catatan intek dan output yang adekuat
Rasional: membantu dalam pemasukan dan pengeluaran cairan
c. Monitor vital sign
Rasional: mengetahui keadaan umum klien
d. Dorong masukan peroral
Rasional: menentukan/ memilih tindakan terjadinya dehidrasi
e. Kolaborasi pemberian cairan/makanan
Rasional: berguna dalam pencegahan dehidrasi berat pada klien
5. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan efek pembedahan pada sfingter
kandung kemih sekunder akibat: pascaprostatektomi (Carpenito, 2006).
Tujuan : induvidu menjadi kontinen
Kriteria Hasil: Menunjukkan kontinensia urin, eliminasi urin tidak terganggu
> 150 cc

Intervensi :
a. Pertahankan pola eliminasi urin yang optimal
Rasional: meminimalkan retensi urine yang belebih pada kandung kemih
b. Kaji faktor yang meningkatkan insiden
Rasional: menentukan faktor terjadinya peningkatan retensi urine
c. Instruksikan klien untuk berespon segera mungkin terhadap kebutuhan
berkemih
Rasional: membantu dalam berkemih sesuai aturan 
d. Pantau eliminasi urin, meliputi frekuensi, konsistensi, volume, warna, bau
Rasional: berguna untuk menevaluasi obstruksi dan pilihan intervensi
e. Intruksikan keluarga memperhatikan haluaran urin dan mencatat bila
perlu
Rasional: membantu untuk mengetahui peningkatan haluaran urin
6. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran
Tujuan : individu menyatakan cedera lebih sedikit dan rasa takut cedera
berkurang, cedera tidak terjadi.
Kriteria hasil : mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi resiko
cedera, mengungkapkan maksud untuk melakukan tindakan pencegahan
tertentu, meningkatkan aktivitas harian bila memungkinkan.
Intervensi :
a. Awasi individu secara ketat selama beberapa malam untuk menjaga
keamanan
Rasional : memantau aktivitas klien
b. Ajarkan penggunaan kruk, tongkat dan wolker
Rasional : membantu dalam aktivitas
c. Gunakan tempat tidur yang rendah dengan pagar terpasang
Rasional : mencegah jatuh saat mobilisasi yang tidak disadari
d. Ciptakan lingkungan yang aman : lantai kering
Rasional : mencegah agar tidak terpeleset
e. Letakkan pispot dekat tempat tidur atau pispot kursi di depan klien
Rasional : mengurangi kelelahan dengan menghemat tenaga klien untuk
kekamar mandi.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito-Moyet, Lynda Juall.2013.Buku Saku Diagnosa


Keperawatan.Jakarta:EGC
Nanda.2012-2014.Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.Jakarta:
EGC
Potter &Perry.2010.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2.Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
Wilkinson,Judith M.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan,Diagnosis NANDA,
Intervensi
NIC, Kriteria Hasil NOC Edisi 9.Jakarta: EGC
Anonim.2011. Pedoman Penatalaksanaan BPH Di Indonesia. (PDF)
Prosiding Seminar Nasional Animus. 2010. Faktor-faktor resiko terjadinya prostat
jinak (PDF). Semarang
Sunardi. 2008. Benign Prostate Hyperplasia (PDF)
USU. 2009. Tinjauan kepustakaan BPH (PDF)
Wilkinson M. Judith & Nancy R. Ahern. 2012. Buku saku Diagnosis Keperawatan.
Jakarta. EGC
YPSS. 2009. Laporan pendahuluan tentang benigna prostat hypertropi (PDF)
LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR PROFESI
KEBUTUHAN ELIMINASI : GANGGUAN ELIMINASI URINE
DI RUANG CEMPAKA ATAS RSUP. PERSAHABATAN

DISUSUN OLEH :

NURAINI

NPM : 18170000105

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INDONESIA MAJU (STIKIM)
JAKARTA, 2018