Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan geografis indonesia yang berupa kepulauan berpengaruh terhadap mekanisme
pemerintahan negara Indonesia. Dengan keadaan geografis yang berupa kepulauan ini
menyebabkan pemerinyah sulit mengkoordinasi pemerintahan yang ada di daerah. Untuk
memudahkan pengaturan atau penataan pemerintahan, maka diperlukan adanya suatu sistem
pemerintahan yang dapat nerjalan secara efisien dan mandiri tetapi tetap terawasi dari pusat.
Maka dari itu pemerintah pusat membuat suatu sistem pengelolaan pemerintahan di tingkat
daerah yang disebut Otonomi Daerah.
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dari pengertian tersebut di atas maka akan tampak bahwa daerah diberi hak otonom oleh
pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus kepentingan sendiri.
Sejalan dengan diberlakukannya undang-undang otonomi tersebut memberikan
kewenangan penyelenggaraan pemerintah daerah yang lebih luas, nyata dan bertanggung jawab.
Adanya perimbangan tugas fungsi dan peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
tersebut menyebabkan masing-masing daerah harus memiliki penghasilan yang cukup, daerah
harus memiliki sumber pembiayaan yang memadai untuk memikul tanggung jawab
penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dengan demikian diharapkan masing-masing daerah
akan dapat lebih maju, mandiri, sejahtera dan kompetitif di dalam pelaksanaan pemerintahan
maupun pembangunan daerahnya masing-masing.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Bagaimana konsep otonomi daerah?
2. Bagaimana kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah?
3. Bagaimana kondisi beberapa daerah otonom di Indonesia?
4. Bagaimana kinerja pemerintah daerah di era otonomi daerah?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Otonomi Daerah

2.1.1 Konsep Otonomi Daerah


Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, definisi otonomi daerah
sebagai berikut: “Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.
Otonomi daerah adalah hak penduduk yang tinggal dalam suatu daerah untuk mengatur,
mengurus, mengendalikan dan mengembangkan urusannya sendiri dengan menghormati
peraturan perundangan yang berlaku (Hanif Nurcholis, 2007:30). Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Pemerintahan Daerah juga mendefinisikan daerah otonom sebagai berikut: “Daerah
otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-
batas wilayah 12 yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Contoh daerah otonom (local self-government) adalah
kabupaten dan kota.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
kabupaten dan kota berdasarkan asas desentralisasi. Dengan digunakannya asas desentralisasi
pada kabupaten dan kota, maka kedua daerah tersebut menjadi daerah otonom penuh (Hanif
Nurcholis, 2007:29). Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa otonomi daerah dapat
diartikan sebagai wewenang yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada daerah baik kabupaten
maupun kota untuk mengatur, mengurus, mengendalikan dan mengembangkan urusannya sendiri
sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dan mengacu kepada kepada peraturan
perundangan yang berlaku dan mengikatnya.

2
2.1.2 Makna Otonomi Daerah

Landasan konstitusional pemerintah adalah UUD 1945 pasal 18 (2) : Pemerintah daerah
provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
menurut asas otonomi dan tugas perbantuan. Pasal 18 (5): Pemerintah daerah menjalankan
otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan
sebagai urusan Pemerintah Pusat.
Otonomi adalah pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
untuk secara mandiri berdaya membuat keputusan mengenai kepentingan sendiri berkaitan
dengan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan atau hak dan kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah
tangga daerah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku (UU No. 32 tahun 2004).
Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah
tertentu, yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) (UU No. 32 tahun 2004).
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia berdasarkan kepada otonomi luas, nyata dan
bertanggung jawab. Adapun tujuan pemberian otonomi daerah adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan pelayanan masyarakat yang semakin baik.
b. Pengembangan kehidupan demokrasi.
c. Pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar daerah
dalam rangka keutuhan NKRI.
d. Mendorong untuk memberdayakan masyarakat.
e. Menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta masyarakat,
mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Otonomi luas adalah kekuasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang
mencakup kewenanganan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan pada bidang-bidang
tertentu yang masih ditangani oleh pemerintah pusat. Kewenangan yang menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat meliputi beberapa bidang antara lain seperti :
a. Politik/Hubungan luar negeri ;
b. Pengadilan/yustisi;
c. Moneter dan keuangan ;

3
d. Pertahanan
e. Keamanan
f. Agama

Otonomi yang nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan


pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada diperlukan serta tumbuh, hidup dan
berkembang di daerah.
Penyelenggaraan negara secara garis besar diselenggarakan dengan dua sistem yakni
sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi adalah jika urusan yang
bersangkutan dengan aspek kehidupan dikelola di tingkat pusat. Pada hakekatnya sifat
sentralistik itu merupakan konsekuensi dari sifat negara kesatuan.
Dalam perkembangan selanjutnya nampaknya desentralisasi merupakan pilihan yang
dianggap terbaik untuk menyelenggarakan pemerintahan, meskipun implementasinya di
beberapa negara, terutama di negara ketiga masih banyak mendapat ganjalan struktural, sehingga
penyelenggaraan desentralisasi politik masih setengah hati.
Sistem desentralisasi adalah sistem di mana sebagian urusan pemerintahan diserahkan
kepada daerah untuk menjadi urusan rumah tangganya. Dengan demikian daerah bertanggung
jawab sepenuhnya pengelolaan baik dari aspek perencanaan, peralatan dan pembiayaan maupun
personil dan lain-lainnya.

2.2 Kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah


Dalam menjalankan fungsinya, sistem pemerintahan di Indonesia tidak dilakukan secara
terpusat melainkan dilakukan melalui adanya otonomi daerah dimana pemerintah pusat dan
pemerintah daerah membagi peran untuk menetapkan dan menjalankan suatu kebijakan sesuai
dengan wewenangnya masing-masing. Dalam menjalankan tugasnya, terdapat perbedaan
wewenang diantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah jika dilihat dari UU No. 32 Tahun
2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Adapun wewenang pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Wewenang Pemerintah Pusat
Wewenang yang dimiliki oleh pemerintah pusat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan
dalam skala nasional yang mengatur harkat dan kepentingan warga negara Indonesia. Wewenang
yang dimiliki oleh pemerintah pusat sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2004 diantaranya:

4
a. Mengatur Jalannya Proses Politik Luar negeri.
Indonesia adalah negara yang turut serta dalam membangun hubungan internasional
dengan negara-negara luar negeri. Hubungan yang terjalin tidak hanya pada aspek ekonomi
maupun keamanan, tetapi juga dalam aspek politik. Seperti yang kita ketahui, Indonesia
menganut sistem politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dimana Indonesia turut serta
dalam menjaga perdamaian dunia namun tidak mencampuri urusan negara lain, sebagai berikut:
1. Melalui sistem pemerintahan yang ada di Indonesia, pelaksanaan politik luar negeri
dilakukan oleh pemerintah pusat. Segala kebijakan mengenai proses politik luar
negeri diatur oleh pemerintah pusat.
2. Jika pemerintah daerah menginginkan suatu hubungan politik dengan negara lain,
maka pemerintah daerah tidak dapat memutuskan proses hubungan politik dengan
sendirinya, namun melalui perantara pemerintah pusat.
Hal ini diperlukan agar wewenang pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak
tumpang tindih dalam hal politik luar negeri. Walaupun politik luar negeri itu berkaitan dengan
pemerintah daerah, hanya pemerintah pusatlah yang berhak menentukan proses terjadinya
hubungan politik ini.

b. Mengatur Bidang Pertahanan Nasional. 


Segala sesuatu yang berkaitan dengan pertahanan nasional adalah wewenang Pemerintah
Pusat. Pertahanan dengan skala nasional berkaitan dengan kedaulatan negara Indonesia itu
sendiri. Upaya pemerintah pusat untuk mengatur bidang pertahanan nasional merupakan salah
satu upaya menjaga keutuhan NKRI.
Pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan pertahanan
nasional yang stabil dan mantap. Namun, pemerintah daerah tidak memiliki hak untuk mengatur
kebijakan berkaitan dengan pertahanan nasional. Pemerintah daerah hanya mempunyai peran
sebagai pelaksana di lapangan karena hanya pemerintah daerah yang mengerti bagaimana
menjaga pertahanan daerahnya melalui keberadaan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut,
sebagai berikut:
1. Dalam pengusulan kebijakan pertahanan nasional, pemerintah daerah berhak
mengajukan usulan terkait dengan usaha daerah untuk mewujudkan pertahanan
nasional.

5
2. Usulan yang diajukan oleh pemerintah daerah selanjutnya ditindak lanjuti oleh
pemerintah pusat untuk ditentukan bagaimana proses selanjutnya.
3. Namun, dalam mengatur kebijakan yang berkaitan dengan pertahanan nasional,
pemerintah pusat tidak dapat menerapkan kebijakan semena-mena tanpa
mempertimbangkan apa yang menjadi kebutuhan daerah.

c. Mengatur Bidang Keamanan Nasional.


Keamanan negara merupakan sesuatu yang harus dijaga dan diatur oleh pemerintah, baik
itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dalam hal ini, pemerintah pusat lebih mengatur
keamanan yang berskala nasional yang meliputi keamanan nasional di area darat, laut, maupun
udara. Kebijakan pemerintah pusat yang berkaitan dengan keamanan nasional diperlukan untuk
menjaga keamanan nasional dari gangguan pihak dalam dan luar yang dapat menyebabkan suatu
konflik seperti konflik sosial dalam masyarakat, sebagai berikut:
1. Dalam menerapkan kebijakannya, pemerintah pusat menggandeng pemerintah daerah
agar pelaksanaan kebijakan yang berkaitan dengan keamanan nasional dapat berjalan
dengan baik.
2. Pemerintah pusat tetap harus menggandeng pemerintah daerah karena keamanan
daerah merupakan cikal bakal terwujudnya keamanan nasional.
3. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah yang berkaitan dengan
bidang keamanan diawasi oleh pemerintah pusat agar pelaksanaan kebijakan tersebut
tidak melenceng dari kebijakan keamanan yang dibuat oleh pemerintah pusat.

d. Mengatur Jalannya Proses yang Berkaitan dengan Kehakiman. 


Indonesia adalah negara yang berlandaskan pada hukum dan mempunyai sistem peradilan
di Indonesia. Jalannya proses hukum yang berkaitan dengan kehakiman, diatur oleh pemerintah
pusat. Pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah pusat adalah mengatur sistem hukum baik itu
lembaga penegak hukum maupun menentukan siapa yang duduk di lembaga hukum tersebut.
Dalam pelaksanaan pengaturan proses hukum, pemerintah pusat melibatkan pemerintah daerah,
sebagai berikut:
1. Pemerintah daerah digunakan oleh pemerintah pusat sebagai tempat dimana proses
kehakiman dan hukum berlangsung.

6
2. Pemeritah pusat menunjuk lembaga peradilan di setiap daerah untuk mewakili
pemerintah pusat dalam menjalankan wewenangnya untuk mengatur proses
kehakiman.
3. Peranan lembaga peradilan yang berada di daerah-daerah menunjukkan bahwa
pemerintah pusat benar-benar melibatkan pemerintah daerah dalam menjalankan
proses hukum.
Ada kalanya proses hukum dapat diselesaikan melalui lembaga peradilan yang berada di
pemerintahan daerah dan tidak perlu sampai ke pemerintah pusat. Walaupun hal ini dapat terjadi,
pemerintah daerah tidak berhak untuk melakukan pengaturan apapun terhadap proses hukum
yang berkaitan dengan kehakiman.

e. Mengatur Kebijakan Moneter dan Fiskal Nasional.


Perlu kita ketahui, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal adalah dua hal yang berbeda.
Kebijakan moneter merupakan suatu proses pengaturan terhadap persedian uang yang dimiliki
oleh negara dalam rangka untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh negara tersebut.
Kebijakan ini pada dasarnya merupakan kebijakan yang mempunyai tujuan untuk menjaga
keseimbangan internal seperti pertumbuhan ekonomi yang mencakup stabilitas harga pasar dan
keseimbangan eksternal yang mempunyai tujuan untuk mencapai keseimbangan dalam neraca
pembayaran.
Sedangkan kebijakan fiskal sendiri merupakan suatu kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah pusat untuk mengarahkan kondisi ekonomi negara melalui proses pengeluaran dan
pendapatan khususnya pajak. Kebijakan fiskal mempunyai tujuan yang berbeda dengan
kebijakan moneter. Kebijakan fiskal lebih bertujuan untuk menstabilkan perekonomian di suatu
negara melalui pajak dan tingkat suku bunga, sebagai berikut:
1. Kedua kebijakan tersebut merupakan wewewnang yang hanya berhak dilakukan oleh
pemerintah pusat.
2. Kebijakan moneter dan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat diperlukan guna
mengantisipasi dampak globalisasi khususnya di bidang ekonomi.
3. Dalam melaksanakan kedua kebijakan tersebut, pemerintah pusat menggandeng
pemerintah daerah sebagai bentuk kerjasama.
Pemerintah daerah berperan sebagai pelaksana dari kebijakan moneter dan fiskal yang
telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Jika pada pelaksanaan kebijakan di tingkat daerah

7
menemui kendala, pemerintah daerah hanya dapat mengusulkan cara penyelesaian masalah yang
ditemui kepada pemeritnah pusat, bukan menentukan cara penyelesaiannya sendiri.

f. Mengatur Kebijakan yang Berkaitan Dengan Agama.


Segala sesuatu yang berkaitan dengan agama di atur oleh pemerintah pusat dan dilindungi
oleh undang-undang. Seperti yang kita ketahui, agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia
ada enam yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Semua warga negara
Indonesia mempunyai hak untuk memeluk agamanya sesuai dengan keyakinannya masing-
masing, sebagai berikut:
1. Masing-masing pemeluk agama berhak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan keyakinan yang dianutnya.
2. Pemerintah pusat sebagai pengatur kebijakan yang berkaitan dengan agama tentunya
mempunyai strategi yang diterapkan sebagai cara merawat kemajemukan bangsa
Indonesia.
3. Peran pemerintah daerah dalam kebijakan yang berkaitan dengan agama berkaitan
dengan hal-hal teknis seperti perizinan untuk mendirikan rumah ibadah. Selebihnya,
hanya pemerintah pusatlah yang mempunyai wewenang untuk mengatur.

2. Wewenang Pemerintah Daerah


Wewenang pemerintah daerah berkaitan dengan kebijakan-kebijakan untuk dilaksanakan
oleh suatu daerah. Wewenang pemerintah daerah yang satu dengan lainnya tentu saja berbeda
karena berkaitan dengan karakteristik daerah yang ada tetapi masih berpegang pada asas-asas
pemerintahan daerah yang ada. Secara umum, wewenang pemerintah daerah satu dengan lainnya
memiliki kesamaan yang sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2004. Wewenang tersebut
diantaranya:

a. Merencanakan dan Mengendalikan Pembangunan.


Dalam pemerintahan daerah, perencanaan dan pengendalian pembangunan yang terjadi di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang tahu kebutuhan
akan pembangunan dalam berbagai bidang sesuai dengan keinginan masyarakat daerahnya.
Adanya wewenang pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan
adalah bentuk perwujudan fungsi pemerintah daerah dalam pembangunan. Pemerintah pusat

8
hanya berperan sebagai pengawas dan pemberi masukan terhadap jalannya pembangunan yang
terjadi di lingkungan pemerintah daerah.

b. Merencanakan, Memanfaatkan, dan Mengawasi Tata Ruang.


Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan terhadap tata ruang merupakan wewenang
dari pemerintah daerah. Tata ruang yang dimaksud di sini adalah penataan tata kota yang
meliputi penataan infrastruktur yang ada di daerah tersebut. Proses perencanaan, pemanfaat, dan
pengawasa terhadap tata ruang dilakukan oleh pemerintah daerah karena hanya pemerintah
daerah yang tahu bagaimana tata ruang yang cocok dan yang sesuai dengan karakteristik
daerahnya, bukan malah pemerintah pusat yang menentukan bagaiman tata ruang untuk suatu
daerah.

c. Menyelenggarakan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat.


Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat merupakan tanggung
jawab pemerintah daerah. Perbedaan karakteristik daerah yang membuat perbedaan tingkat
ketertiban umum dan ketentraman di dalam masyarakatnya. Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman dalam dilakukan melalui adanya struktur organisasi pemeritahan desa yang
dapat mengatur kebijakan-kebijakan daerah untuk ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.
Oleh karena itu, demi wujudkan ketertiban umum dan ketetraman di masyarakat, pemerintah
daerah membuat berbagai macam peraturan daerah (perda) sesuai dengan tujuan dan
keperluannya masing-masing.

d. Menyediakan Sarana dan Prasarana Umum.


Pengadaan sarana dan prasarana umum seperti ruang terbuka hijau, sarana transportasi,
dan lainnya merupakan kewenangan pemerintah daerah. Keberadaan sarana dan prasanan umum
diperlukan untuk memehui kebutuhan masyarakat daerah dalam kemudahan akses terhadap
sarana dan prasarana umum. Perbaikan sarana dan prasarana juga merupakan wewenang dari
daerah yang seringkali menemui kendala dalam melakukan perbaikannya. Maka dari itu,
seringkali kita temukan sarana dan prasarana umum milik pemeritnah daerah yang sudah tidak
terawat bahkan terbengkalai. Sarana dan prasarana yang sudah tidak layak tersebut dapat
menjadi penyebab konflik sosial karena adanya perbedaan sarana dan prasarana umum daerah
yang satu dengan yang lain.

9
e. Menangani Bidang Kesehatan.
Penanganan terhadap bidang kesehatan juga merupakan kewenangan dari pemerintah
daerah. Penangan bidang kesehatan dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana kesehatan
seperti rumah sakit atau puskesmas. Tidak hanya itu, penanangan terhadap bidang kesehatan juga
mencakup penyediaan tenaga kesehatan di lingkungan daerah. Secara fakta, penanganan
pemerintah di dalam bidang kesehatan masih tidak merata. Ada beberapa daerah di Indonesia
yang masih kesulitan untuk mencari puskesmas atau rumah sakit terdekat karena letaknya yang
jauh. Melalui adanya kewenangan pemeritnah dalam otonomi daerah, seharusnya penanganan di
bidang kesehatan dapat menjadi lebih baik dan merata demi menjangkau masyarakat daerahnya
masing-masing.

f. Menyelenggarakan Pendidikan dan Mengalokasikan SDM.


Setiap warga negara wajib mengenyam pendidikan minimal sembilan tahun tanpa
terkecuali demi menghasilkan sumber daya manusia yang berpotensi. Oleh karena itu, demi
mewujudkan kebijakan pemerintah pusat terhadap pendidikan, pemerintah daerah mempunyai
wewenang untuk meyelenggarakan pendidikan di daerahnya. Idealnya di suatu daerah terdapat
sekolah dasar (SD/MI) dan sekolah menengah (SMP, SMA/ MTS, MA) agar anak-anak yang
terdapat di dalam komunitas masyarakat dapat bersekolah.
Melalui penyelenggaraan pendidikan, pemerintah daerah diwajibkan untuk melakukan
proses pendidikan sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing agar anak-anak yang
mengikuti proses pendidikan dapat mengembangkan potensi yang ada di daerahnya. Pemeritah
daerah melalui dinas pendidikan terkait juga mempunyai wewenang untuk merancang sistem
pembelajaran yang menarik sehingga proses pembelajaran yang terjadi di sekolah tidak menjadi
penyebab anak sekolah menjadi malas belajar.

g. Menanggulangi Masalah Sosial.


Masalah-masalah sosial yang terjadi di suatu daerah merupakan tanggung jawab dari
pemerintah daerah. Melalui wewenang yang dimiliki, pemerintah daerah dapat mengeluarkan
peraturan daerah untuk mengurangi terjadinya masalah-masalah sosial yang ada di daerahnya.
Peraturan daerah yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah tentunya didasarkan pada nilai-nilai
luhur Pancasila agar peraturan tersebut tidak bertentangan dengan Pancasila. Selain itu,

10
keberadaan peraturan daerah merupakan salah satu dasar hukum yang diperlukan untuk
penerapan Pancasila dalam kehidupan khususnya dalam menanggulangi masalah sosial yang ada.

h. Melayani Bidang Ketenagakerjaan.


Setiap masyarakat di suatu wilayah berhak mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu,
pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam menyediakan lapangan pekerjaan untuk
menyerap masyarakat dalam lapangan pekerjaan tersebut. Layanan ketegakerjaan juga dilakukan
pemerintah daerah melalui adanya Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi untuk
memudahkan masyarakat dalam mengurus berkas atau kepentingan lain yang berkaitan dengan
ketenagakerjaan.

i. Memfasilitasi Pengembangan Koperasi dan UMKM.


Keberadaan koperasi dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) merupakan aset
pemerintah daerah yang harus dijaga. Perlu kita ketahui, terdapat beberapa jenis-jenis
koperasi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Jika dikaitkan dengan pemerintahan daerah,
maka koperasi yang paling umum ditemui adalah koperasi simpan pinjam dimana para pemilik
UMKM dapat melakukan peminjaman modal. Melalui pemeritahan yang dilakukan sekarang,
pengembangan koperasi dan UMKM merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Pemerintah
daerah mempunyai wewenang untuk mengembangkan koperasi daerah dan UMKM sebagai
salah satu pendukung dalam pendapatan daerah melalui pajak. Keberadan UMKM di daerah
perlu difasilitasi oleh pemerintah daerah agar UMKM tersebut dapat berkembang dan
mendatangkan kemajuan bagi daerah tersebut.

j. Mengendalikan Lingkungan Hidup.


Pengendalian lingkungan hidup merupakan wewenang dari pemerintah daerah.
Kebersihan lingkungan hidup dan pemeliharaan sumber daya alam dilakukan oleh pemerintah
daerah bersama-sama dengan masyarakat daerah tersebut. Pemerintah daerah dapat
mengeluarkan peraturan daerah untuk melakukan pengendalian lingkungan hidup agar terjadi
keselarasan dan keseimbangan diantara lingkungan hidup dan perilaku masyarakat di daerah
tersebut. Pengendalian lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah daerah tentunya sesuai
dengan karakteristik daerahnya masing-masing dan tidak dapat dipukul rata oleh pemeritah
pusat.

11
2.2.1 Hubungan Pemerintahan Pusat dan Daerah
1. Hubungan yang Bersifat Struktural
Secara struktural, pemerintah pusat merupakan penyelenggara urusan pemerintahan di
tingkat nasional.  Pemerintah daerah merupakan penyelenggara urusan pemerintahan di daerah
masing masing bersama DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, dalam sistem dan
prinsip NKRI. Secara struktural presiden merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
penyelenggara urusan pemerintahan di tingkat nasional. Kepala daerah merupakan
penyelenggara urusan pemerintahan di daerah masing masing sesuai dengan prinsip otonomi
seluas luasnya secara struktural kepala daerah kabupaten/ kota tidak memiliki garis struktural
dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat karena memiliki otonomi seluas luasnya.
Struktur pemerintahan berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah.

2. Hubungan yang Bersifat Fungsional


Rumitnya penyelenggaraan pemerintahan di era otonomi adalah minimnya instrumen
pendukung hubungan fungsional antara pusat dan daerah, kesulitan dan hambatan manajemen ini
secara tidak langsung menggerogoti pencapaian visi pemerintah pusat sehingga banyak sekali
program-program strategis yang dicanangkan pemerintah tertuang dalam rencana pembangunan
lima tahunan dan program tahun tidak berjalan sesuai harapan. Secara harfiah hubungan
fungsional adalah adanya hubungan atau bagian dari komunikasi karena faktor proses, sebab
akibat atau karena kepentingan yang sama. Hubungan fungsional menyangkut atas pembagian
tugas dan wewenang yang harus di jalankan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam rangka
menjalankan pemerintahan  yang baik. Dalam komunikasi penyelenggaraan pemerintahan antara
organisasi Pusat baik kementerian atau lembaga non kementerian atau lembaga lainnya pada
umumnya menempatkan hubungan fungsional melekat pada tentang struktur dan fungsi
organisasi, hal ini berdampak bahwa hubungan fungsional antara Pusat dan Daerah sangat
dipengaruhi oleh faktor hubungan antarmanusia, jika memiliki hubungan antar manusia
terbangun dengan baik maka akan berjalan dengan baik tetapi sebaliknya jika terjadi kebuntuan
disana-sini maka komunikasi dan proses penyelenggaraan program terbengkalai dan bahkan ada
yang keluar dari budaya organisasi. Sebenarnya disinilah antara lain terjadinya kebuntuan
komunikasi yang menyebabkan kegagalan program di daerah contoh: program penanggulangan
kemiskinan, program KB, program swasembada pangan dll.

12
3. Asas Pemerintahan Daerah
Asas penyelenggaraan pemerintah daerah Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah:
1. Tugas Pembantuan yang meliputi penyerahan urusan, penugasan dari pemerintah (pusat)
kepada daerah dan atau desa, dari pemerintah provinsi kepada daerah dan atau desa serta
dari pemerintah kabupaten atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu
2. Asas Otonomi
a. Otonomi Luas
Daerah tersebut berwenang menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup
kewenangan yang luas hampir di semua bidang pemerintahan kecuali yang oleh Undang-
Undang ditentukan sebagai kewenangan pemerintah pusat.
b. Otonomi Nyata
Berarti bahwa pemberian otonomi daerah harus didasarkan pada factor – factor keadaan
setempat yang memang benar-benar dapat menjamin daerah bersangkutan mampu secara
nyata mengatur rumah tangganya sendiri.
c. Otonomi yang Dapat Dipertanggungjawakan
Dalam arti bahwa pemberian otonomi benar-benar sejalan dengan tujuannya untuk
melancarkan pembangunan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, yang pada
akhirnya dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata.

2.3 Kondisi Beberapa Daerah Otonom di Indonesia

Implementasi Otonomi daerah bukan tanpa masalah. Ia melahirkan banyak persoalan


ketika diterjemahkan di lapangan. Banyaknya permasalahan yang muncul menunjukan
implementasi kebijakan ini menemui kendala-kendala yang harus selalu dievaluasi dan
selanjutnya disempurnakan agar tujuannya tercapai. Beberapa persoalan itu adalah:

1. Kewenangan yang tumpang tindih


Pelaksanaan otonomi daerah masih kental diwarnai oleh kewenangan yang tumpang
tindih antar institusi pemerintahan dan aturan yang berlaku, baik antara aturan yang lebih tinggi
atau aturan yang lebih rendah. Peletakan kewenangan juga masih menjadi pekerjaan rumah
dalam kebijakan ini. Apakah kewenangan itu ada di kabupaten kota atau provinsi. Dengan
pemberlakuan otonomi daerah yang mendadak mengejutkan pihak-pihak daerah yang tidak

13
memiliki sumber daya manusia kualitatif.Terjadilah artikulasi otonomi daerah kepada aspek-
aspek finansial tanpa pemahaman substatife yang cukup terhadap hakekat otonomi itu sendiri

2. Anggaran
Banyak terjadi keuangan daerah tidak mencukupi sehingga menghambat pembangunan.
Sementara pemerintah daerah lemah dalam kebijakan menarik investasi di daerah. Di sisi yang
lain juga banyak terjadi persoalan kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan
APBD yang merugikan rakyat. Dalam otonomi daerah, paradigma anggaran telah bergeser ke
arah apa yang disebut dengan anggaran partisipatif. Tapi dalam prakteknya, keinginan
masyarakat akan selalu bertabrakan dengan kepentingan elit sehingga dalam penetapan anggaran
belanja daerah, lebih cenderung mencerminkan kepentingan elit daripada kepentingan
masyarakat.

3. Pelayanan Publik
Masih rendahnya pelayanan publik kepada masyarakat. Ini disebabkan rendahnya
kompetensi PNS daerah dan tidak jelasnya standar pelayanan yang diberikan. Belum lagi
rendahnya akuntabilitas pelayanan yang membuat pelayanan tidak prima. Banyak terjadi juga
Pemerintah daerah mengalami kelebihan PNS dengan kompetensi tidak memadai dan
kekurangan PNS dengan kualifikasi terbaik. Di sisi yang lain tidak sedikit juga gejala
mengedepankan ”Putra Asli Daerah” untuk menduduki jabatan strategis dan mengabaikan
profesionalitas jabatan.

4. Politik Identitas Diri


Menguatnya politik identitas diri selama pelaksanaan otonomi daerah yang mendorong
satu daerah berusaha melepaskan diri dari induknya yang sebelumnya menyatu. Otonomi daerah
dibayang-bayangi oleh potensi konflik horizontal yang bernuansa etnis. Atau dapat dikatakan
Bangkitnya egiosemtrisme ditiap daerah.

5. Orientasi Kekuasaan
Otonomi daerah masih menjadi isu pergeseran kekuasaan di kalangan elit daripada isu
untuk melayani masyarakat secara lebih efektif. Otonomi daerah diwarnai oleh kepentingan elit
lokal yang mencoba memanfaatkan otonomi daerah sebagai momentum untuk mencapai

14
kepentingan politiknya dengan cara memobilisasi massa dan mengembangkan sentimen
kedaerahan seperti ”putra daerah” dalam pemilihan kepala daerah.

6. Lembaga Perwakilan
Meningkatnya kewenangan DPRD ternyata tidak diikuti dengan terserapnya aspirasi
masyarakat oleh lembaga perwakilan rakyat. Ini disebabkan oleh kurangnya kompetensi anggota
DPRD, termasuk kurangnya pemahaman terhadap peraturan perundangan. Akibatnya meski
kewenangan itu ada, tidak berefek terhadap kebijakan yang hadir untuk menguntungkan publik.
Persoalan lain juga adalah banyak terjadi campur tangan DPRD dalam penentuan karir pegawai
di daerah.

7. Pemekaran Wilayah
Pemekaran wilayah menjadi masalah sebab ternyata ini tidak dilakukan dengan grand
desain dari pemerintah pusat. Semestinya desain itu dengan pertimbangan utama guna menjamin
kepentingan nasional secara keseluruhan. Jadi prakarsa pemekaran itu harus muncul dari pusat.
Tapi yang terjadi adalah prakarsa dan inisiatif pemekaran itu berasal dari masyarakat di daerah.
Ini menimbulkan problem sebab pemekaran lebih didominasi oleh kepentingan elit daerah dan
tidak mempertimbangkan kepentingan nasional secara keseluruhan.

8. Pilkada Langsung
Pemilihan kepala daerah secara langsung di daerah ternyata menimbulkan banyak
persoalan. Pilkada langsung sebenarnya tidak diatur di UUD, sebab yang diatur untuk pemilihan
langsung hanyalah presiden. Pilkada langsung menimbulkan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk pelaksanaan suksesi kepemimpinan ini. Padahal kondisi sosial masyarakat
masih terjebak kemiskinan. Disamping itu, pilkada langsung juga telah menimbulkan moral
hazard yang luas di masyarakat akibat politik uang yang beredar. Tidak hanya itu pilkada
langsung juga tidak menjamin hadirnya kepala daerah yang lebih bagus dari sebelumnya.

2.3.1 Contoh Kasus


Beberapa contoh kasus adalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Papua.
Beberapa kasus muncul di Papua sebagai akibat kesalahan dalam pelaksanaan Otonomi
Daerah, antara lain kasus Freeport dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kasus Freeport adalah

15
kasus mengenai suatu perusahaan tambang yang sudah sekian lama mengeruk kekayaan alam
Papua, namun tidak berimbas baik bagi penduduk pribumi Papau, justru kehadiran PT. Freeport
merugikan penduduk pribumi. Sedangkan kasus Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah kasus
yang menginginkan penduduk pribumi Papua untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan membentuk negara sendiri.
Pada kasus freeport, pemerintah memberikan ijin kepada PT Freeport untuk melakukan
kegiatan pertambangan di daerah Papua. Pemberian ijin dalam melakukan kegiatan
pertambangan ini merupakan suatu bentuk kewenangan pemerintah daerah dalam pelaksanaan
Otonomi Daerah, guna membangun daerahnya. Dalam pemberian ijin ini pemerintah pusat pun
terlibat. Adanya suatu industri di suatu daerah harusnya memberikan kemajuan bagi masyarakat
sekitar, entah itu industri yang dijalankan bangsa Indonesia itu sendiri maupun bangsa luar.
Sebagai akibat dari rasa ketidakpuasan atau kekecewaan mendapatkan perilaku yang
tidak adil, beberapa penduduk Papua menghendaki adanya negara baru, Organisasi Papua
Merdeka (OPM). Beberapa aksi gencar diluncurkan demi mewujudkan keinginan memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aksi yang sering mereka lakukan dalam
menyampaikan aspirasinya adalah melalui mengibarkan bendera bintang kejora di berbagai
wilayah Papua. Namun pemerintah Indonesia tidak tinggal diam menanggapi permasalahan ini.
Aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga kesatuan negara Indonesia ini dan menindak tegas
segala oknum yang ikut campur dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Sebab terjadinya berbagai konflik di Papua menurut Wakil Ketua Komisi I DPR TB
Hasanuddin ada 4 faktor, yakni Pertama, masih adanya perbedaan persepsi masalah integrasi
Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut dia, pemerintah
menganggap masalah Papua telah final sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Kedua,
adanya marjinalisasi terhadap penduduk asli Papua.Ketiga, masih adanya pelanggaran HAM
yang terus terjadi kendati memasuki era reformasi. Keempat, masalah otonomi khusus (Otsus)
yang dianggap masyarakat Papua tak jalan.

Kasus Otonomi Khusus di Papua


Pada tataran ideal, adanya kewenangan yang besar dengan berlakunya UU Otsus Papua,
diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini termarginalkan oleh
pembangunan. namun pada tataran kenyataannya berbagai persoalan pembangunan mengemuka
seakan menjadi problem yang tak terselesaikan melalui pelaksanaan UU Otsus. Pemberlakuan

16
kebijakan ini oleh sebagian kalangan dianggap belum memberikan perubahan yang signifikan
terhadap pelaksanaan fungsi pemerintahan dalam hal melayani (service), membangun
(development), dan memberdayakan (empowerment) masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Otsus Papua mengandung beberapa masalah krusial, yang muara
dari masalah-masalah tersebuat adalah kesejahteraan. Setidaknya ada tiga (3) masalah, yaitu:
1. Ketidaksamaan pemahaman dan kesatuan persepsi; ada respon positif dan negative,
respon negative seperti permintaan referendum.
2. Saling ketidakpercayaan antara masyarakat Papua dan Pemerintah Pusat. Ini
disebabkan masih adanya pelanggaran HAM dan intimidasi pada rakyat Papua, dan
telah menimbulkan kekecewaan yang sangat mendalam sehingga mereka memilih
alernatif memisahkan diri dari NKRI.
3. Masalah ketidaksiapan pemerintah daerah, hal ini terlihat dari kualitas sumber daya
manusia yang ada.
Sementara itu pada sisi yang lain, Pemerintah menilai pelaksanaan otonomi khusus Papua
masih jauh panggang dari asap, dari sisi pengaturan misalnya, peraturan turunan UU Otsus
Nomor 35 Tahun 2008 yang harusnya dibuat ternyata tidak direalisasikan. Sehingga
implikasinya menyebabkan ada ketidakjelasan urusan pengelolaan dan tumpang tindih
pengelolaan kewenangan. Di tingkat daerah ternyata Pemprov Papua, Pemprov Papua Barat,
DPRP, DPRPB, MRP, MRPB belum menyelesaikan beberapa Perdasus dan Perdasi sebagai
implementasi UU Otsus. Akibatnya, pelaksanaan wewenang, tugas, dan tanggung jawab serta
pola dan mekanisme kerja sama belum dibangun, sehingga kinerja yang dihasilkan belum
optimal.
Dalam pengelolaan keuangan pun, masih terdapat masalah mendasar. Hingga kini
pembagian dan pengelolaan penerimaan dana Otsus hanya diatur Peraturan Gubernur. Sementara
kabupaten dan kota tidak memiliki acuan dan petunjuk teknis dalam pengelolaan dana otsus. Dan
ini membuka peluang dana otsus diselewengkan. Sejalan dengan perihal ini, Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional merekomendasikan agar pemda Papua dan Papua Barat
segera menyusun perda yang mengatur tentang koridor pengalokasian dana otonomi khusus
(Otsus) yang nilainya mencapai Rp.40 triliun per tahun.

17
2. Kasus Pemekaran Wilayah di Kalimantan
Diantara wilayah bermasalah adalah Kalimantan Selatan yang mengalami degradasi
lingkungan akibat gencarnya eksploitasi sumber daya alam sebagai dampak gencarnya
pelaksanaan otonomi daerah di daerah tersebut. Banyaknya wilayah yang merasa menjadi
penyumbang besar pendapatan Negara, sementara fasilitas yang diterima dirasakan tidak
sebanding menjadi pemicu banyaknya tuntutan pemekaran wilayah yang mencuat. Alasan itu
pulalah yang mendasari daerah-daerah di Kalimantan Selatan untuk memekarkan diri. Otonomi
daerah memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten untuk mengeksploitasi kekayaan
alam dengan tujuan meningkatkan PAD dan prekonomian daerahnya. Yang menjadi masalah
adalah banyaknya izin pengelolaan tambang dan perkebunan yang diterbitkan pemerintah
kabupaten yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan.Izin pertambangan paling banyak
diterbitkan oleh Kabupaten pemekaran Tanahbumbu yang jumlahnya mencapai 400 buah.
Peningkatan kontribusi PAD dari ratusan perusahaan tambang tersebut tidak sebanding dengan
kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

3. Korupsi para Pejabat daerah


Otonomi daerah dibuat dengan tujuan agar daerah-daerah dapat mengelola secara mandiri
segala sumberdaya, keuangan, maupun sumber-sumber lain sebagai pendapatan bagi daerah.
Antusias yang tinggi “untuk meningkatkan kemajuan daerah” terlihat dari banyaknya daerah-
daerah yang meminta dimekarkan sehingga terjadi pemekaran daerah besar-besaran di seluruh
wilayah Indonesia. Yang menarik dari “proses mekarnya suatu daerah” ini adalah menjamurnya
praktik korupsi yang dilakukan oleh oknum yang bernama pemimpin/petinggi di daerah. Banyak
contoh kasus yang dapat memperlihatkan hal ini. Beberapa contoh kasus korupsi yang dilakukan
pemimpin daerah dari Provinsi Sumatra Barat yang saya ambil dari beberapa sumber.
Pertama, Yumler Lahar. Yang menjabat Walikota Solok. Kasus yang menjeratnya adalah
“pembatalan kerjasama antara Pemerintah Kota Solok, Sumatra Barat dan Investor Hariadi, yang
menyebabkan kerugian negara”. Dalam hal ini negara dirugikan sebesar 1,3 miliar (Kompas, 11
Agustus 2004).
Kedua, kasus korupsi yang menimpa Wakil Bupati Agam. Umar diduga terlibat dalam
kasus korupsi proyek swakelola perbaikan jalan lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
Agam tahun 2008 dengan kerugian negara RP 2.9 miliar (Kompas, selasa, 9 November 2010).

18
Ketiga, kasus pengalihan tanah negara di Kabupaten Solok yang dilakukan oleh Wakil
Walikota Pariaman Helmi Darlis. Dalam kasus ini Kejati Sumbar telah menetapkan tujuh
tersangka termasuk mantan Bupati Solok, Gusmal. Dalam kasus ini negara dirugikan sekitar Rp
288 juta (Padangekspress, Sabtu, 9 Juli 2011).
Keempat, Masriadi Martunus dan Edityawarman (Mantan Bupati dan Asisten III, Pemkab
Tanah Datar, Sumbar) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan bagi-bagi bunga
deposito APBD Tanah Datar tahun 2001-2004 senilai Rp 1,7 miliar (Suara Karya, 16 Januari
2007).
Kelima, kasus korupsi yang menimpa Wakil Walikota Bukittinggi pada tahun 2009
(Kompas, 14 Maret 2009).
Keenam, kasus korupsi yang menimpa ketua DPRD Kota Payakumbuh Chin Star. Chin
Star mengakui telah menyalahgunakan keuangan APBD di luar ketentuan Peraturan Pemerintah
No 110 Tahun 2000, sekitar Rp 167 juta. Masih banyak contoh kasus lain yang dapat
membuktikan betapa maraknya praktik korupsi yang dilakukan oknum yang berada di daerah.

2.4 Kinerja Pemerintah Daerah di Era Otonomi Daerah

Pada hakekatnya pelaksanaan otonomi daerah merupakan pengurangan peran pemerintah


pusat terhadap strategi pengembangan daerah dimana kita ketahui bahwa setiap daerah,
khususnya kabupaten/kota mempunyai karakteristik tersendiri untuk membangun daerahnya
masing-masing. Tinjauan pemikiran pelaksanaan otonomi daerah yang terakit dengan
akuntabilitas dimulai dengan pengertian akuntabilitas itu sendiri dilingkungan pemda, kemudian
perlunya public disclosure atau keterbukaan terhadap manajemen. Pembahasan selanjutnya, ialah
pada aspek manajerial melalui konsep New Public Management (manajemen pemerintahan
baru), bagaimana pemda harus mempunyai anatomi strukur organisasi yang pas, yang diinginkan
oleh keterbukaan, dan pengukuran kinerja apa yang terkait dengan struktur organisasi tersebut.
Selain itu, agenda apa saja yang telah disusun oleh pemerintah pusat, khususnya yang terkait
dengan daerah dalam rangka terapan good governance.
1. Tanggungjawab (Accountability and Responsibility)
Undang-undang No.28 tahun 1999 pada prinsipnya mendefinisikan pertanggungjawaban
yang berangkat dari definisi manajerial dan keharusan untuk mempertanggungjawabkan segala
tindakan-tindakan yang pada umumnya untuk semua kegiatannya beserta hasil kegiatan tersebut

19
kepada masyarakat. Selain itu, undang-undang tersebut menitikberatkan pada perlunnya
transparansi dan, keharusan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi
mengenai pemerintahan. Dengan demikian, bentuk pertanggungjawaban yang dimaksud adalah
suatu mode pertanggungjawaban secara hirarkis dan birokrasi (Uhr 1993). Mereka yang
memegang kekuasaan hukum pemerintah perlu didorong untuk ikut bertanggngjawab terhadap
publik atas tindakannya. Rakyat, melalui lembaga lesgilatif telah menempatkan kepercayaan
pada pejabat tersebut untuk melakukan tanggung jawabnya sesuai kepentingan rakyat.
Sebaliknya, para pejabat ini diwajibkan untuk melaporkan dan memberikan alasan terhadap
setiap kebijakan dan operasionalisasi kegiatan. Dalam pengertian pertanggung jawaban
demikian, akuntabilitasi mempunyai suatu kewajiban pejabat pemerintah kepada raktay dimana
publik mempunyai hak untuk melakukan suatu ”correction” atas tindakan-tindakan yang diambil
oleh penguasa (Broke 1997). Ini merupakan bahwa selain memberikan pertanggung jawaban,
para pejabat juga harus dimintai tanggung jawabnya.

2. Keterbukaan pada Rakyat (Public Disclosure)


Keterbukaan pada rakyat secara jelas terakomodasi dalam asas pertanggung jawaban
dalam Undang-undang No. 22 dan No. 28 Tahun 1999. Pada Undang-undang No. 22 lebih
spesifik dan menyebutkan dua ukuran keterbukaan untuk Pemda yaitu Pasal 45 ayat 1, “Kepala
Pemerintah Daerah harus menyajikan laporan pertanggung jawaban kepada DPRD untuk
masalah-masalah tertentu atas permintaan DPRD”. Selanjutnya Pasal 46 ayat 1 lebih lanjut
menunjukkan bahwa dua bentuk laporan tersebut diperlikan, pertama untuk kebijakan-kebijakan
pemerintah atau kinerja pemerintah, dan yang kedua, untuk pertanggung jawaban keuangan.
Sedangkan Undang-undang No. 28 menegaskan hak masyarakat untuk memperoleh informasi
mengenai pemerintahan, suatu hak yang tidak ada dibawah rezim politik lama. Dengan dukungan
yuridis tersebut pada hakekatnya terdapat tiga bentuk pertanggung jawaban Kepala Pemerintah
Daerah kepada lembaga legislatif yaitu masing-masing; pertanggung jawaban tahunan yang
dapat lebih bersifat progress report atas kebijakan dan pelaksanaan anggaran pembangunan
daerah; laporan akhir masa jabatan dan laporan atas permasalahan khusus.

3. Manajemen Pemerintahan Baru (New Public Management)


Istilah manajemen pemerintahan (MPB) atau new public management berkembang di
negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Australia, namun menyebar ke wilayah

20
Malaysia, Singapura, Hongkong dan Filipina. Ciri dari MPB adalah focus atas efisiensi kegiatan
dan selalu mencoba mengadopsi business methods, hal pemikiran ini timbul di Inggris, sewaktu
pemerintahan Margareth Teacher (Tahun 1980-an) yang mempunyai pemikiran bahwa
pemerintahan atau sector public selalu terkait dengan inefficient dan bureaucratic (Blundell dan
Murdock, 1997). Di AS perkembangan MPB (Perestroika gaya Amerika) dikenal dengan
istilahreinventing government, yaitu perlunya pemerintah mentransformasikan semangat
wiraswasta dan usaha (entrepreneurial spirit) dalam menjalankan roda pemerintahannya. Ada
beberapa ciri-ciri pokok yang dapat disimpulkan dari terapan dan pengalaman MPB di Inggris,
AS, dan Australia yaitu bahwa manajer pada birokrasi pemerintahan harus memperhatikan hal-
hal berikut dalam menjalankan pemerintahan khususnya Pemda yang akuntabel, adalah :

a. Bentuk dan Struktur Organisasi


Penetapan suatu visi dan misi organisasi sebagai dampak akuntabilitas kinerja organisasi,
seperti yang diharapkan oleh Inpres No.7 tahun 1999 membawa dampak perlunya pemikiran
tentang restrukturisasi dan refungsionalisasi terhadap lingkungan strategis organisasi.
Keberadaan organisasi sebenarnya telah diatur secara jelas melalui Kepmen PAN No. 21 tahun
1990 di dalam dua belas prinsip dan pernyataan Meneg PAN yang juga memperkenalkan
gagasan dan prinsip-prinsip baru. Kita dapat menemukan prinsip-prinsip penting seperti (Podger,
2000) :
1. Ramping struktur, akan kaya fungsi
2. Deregulasi dan debirokrasi
3. Swastanisasi Partisipasi Masyarakat
4. Suatu proses pemberian penghargaan dan insentif untuk berprestasi.
Jadi, sebenarnya landasan kebijakan dalam penyusunan visi dan misi organisasi telah
sesuai dan mengikuti pola perubahan “needs” masyarakat. Permasalahannya, bagaimana
landasan kebijakan yang baik dapat dioperasionalkan secara jujur dan benar tanpa adanya konflik
kepentingan para pelaku dan pelaksana kebijakan. Berapapun resiko yang dipertimbangkan
untuk melaksanakan visi dan misi organisasi, sekalipun perlu merubah bentuk dan struktur
organisasi tetap harus memperhitungkan tentang asas biaya dan manfaat bagi kegunaan Pemda
dan masyarakatnya.

21
b. Pengukuran Kinerja dan Pengukuran Indikator
Pengukuran kinerja dan pengukuran indikator adalah bagian dari proses pemberdayaan
organisasi Pemda. Dalam MPB segala sesuatunya harus terukur dan dalam proses akuntabilitas
yang jelas dan melibatkan semua pihak sejak dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Persoalan pada masa lain, organisasi Pemda khususnya dan organisasi publik lainnya tidak
mempunyai sasaran yang terukur. Walaupun secara procedural yang ditentukan antara lain
adanya GBHN, Rencana Kerja Departemen, Rencana Strategis Daerah, Rencana Tahunan dan
sebagainya; namun pada kenyataannya pencapaian sasaran kurang terorganisasi, terintegrasi
daan tidak adanya sinkronisasi satu dan lainnya. Antara lain, penyusunan proyek-proyek
pemerintah didaerah, termasuk Inpres dan Banpres. Ukuran perencanaan pada waktu lain, lebih
berorientasi pada pemberdayaan input bukan pada pencapaian output. Sebagai suatu alat
manajemen untuk mencapai keberhasilan, maka suatu pengukuran kinerja harus memperhatikan
aspek-aspek:
a. Perencanaaan dan penetapan tujuan organisasi dibuat secara jelas dan transparan;
b. Adanya pengembangan ukuran yang relevan;
c. Adanya pelaporan yang formal atas hasil;
d. Adanya penggunaan informasi yang sesuai.

4. Program Kemitraan yang Dikembangkan dalam Mendukung Good Governance


Berbagai dukungan bantuan teknis yang mengalir bagi perkembangan program good
governance di Indonesia, paralel dengan pengembangan desentralisasi dan otonomi daerah. Di
antara program-program tersebut yang sudah dilaksanakan dengan dukungan UNDP meliputi
program-program :
1. Komisi Hukum Nasional, dengan tujuan penguatan sistem peradilan; pengembangan sistem
good governance dan reformasi pemerintahan, peningkatan peran DPR, pengembangan
pengetahuan hukum dan dorongan profesionalisme dibidang hukum, dorongan reformasi
hukum untuk mendukung pemulihan ekonomi dan penguatan sistem peradilan terminal
terpadu.
2. Program Anti Korupsi, dengan tujuan mendukung pemerintah untuk mengembangkan dan
menerapkan berbagai program nyata dengan aksi terpadu dalam memerangi korupsi, kolusi,
dan nepotisme.

22
3. Program Corporate Governance, untuk mendukung prinsip-prinsip good corporate
governance dengan pola operasi, profesionalisme, industrial, dan komersial.
4. Program Otonomi Daerah dan Desentralisasi, untuk mendukung program desentralisasi
yang transparan, akuntabel, dan partisipasif.
5. Program Reformasi Pelayanan Umum, untuk mendukung pelayanan yang bersih,efficient,
dan terjangkau.
6. Program Legal dan Judisial, untuk mendukung dan mengembangkan strategi di seluruh
system legal dan judisial.
7. Program Reformasi Elektoral (Pemilu), untuk mendukung proses yang sedang
berlangsung sesuai dengan mandat UU No. 3 tahun 1999, GBHN termasuk sistem Pemilu
dan juga peningkatan efisiensi dan integritas manajemen pemilihan umum.
8. Program Pemberdayaan Legislatif, untuk mendukung pengembangan legislatif nasional
yang mampu mengembangkan perwakilan yang efektif bagi masyarakat, pengembangan dan
penyampaian legislatif dan pengawasan terhadap operasi pemerintah.
9. Penguatan Media Massa dan Masyarakat, untuk mendukung masyarakat mardani yang
berkompeten, well managed dan berkemampuan finansial yang meningkat dengan
keterkaitan yang baik pada sektor publik dan usaha.

2.5 Kebijakan Peningkatan Kualitas Hubungan Pusat dan Daerah dalam Mengakselerasi
Pembangunan Daerah

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen
dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, definisi
otonomi daerah sebagai berikut: “Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan”.
2. Dalam menjalankan fungsinya, sistem pemerintahan di Indonesia tidak dilakukan secara
terpusat melainkan dilakukan melalui adanya otonomi daerah dimana pemerintah pusat dan
pemerintah daerah membagi peran untuk menetapkan dan menjalankan suatu kebijakan
sesuai dengan wewenangnya masing-masing. Wewenang yang dimiliki oleh pemerintah
pusat sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2004 diantaranya: mengatur jalannya proses politik
luar negeri; mengatur bidang pertahanan nasional; mengatur bidang keamanan nasional;
mengatur kebijakan moneter dan fiskal nasional; mengatur jalannya proses yang berkaitan
dengan kehakiman; mengatur kebijakan yang berkaitan dengan agama. Sedangkan
wewenang pemerintah daerah satu dengan lainnya memiliki kesamaan yang sesuai dengan
UU No. 32 Tahun 2004. Wewenang tersebut diantaranya: merencanakan dan mengendalikan
pembangunan; merencanakan, memanfaatkan, dan mengawasi tata ruang;
menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; menyediakan sarana dan
prasarana umum; menangani bidang kesehatan; menyelenggarakan pendidikan dan
mengalokasikan sdm; menanggulangi masalah sosial; melayani bidang ketenagakerjaan;
memfasilitasi pengembangan koperasi dan umkm; mengendalikan lingkungan hidup.
3. Kondisi beberapa daerah otonom di Indonesia terlihat dari implementasi otonomi daerah
yang melahirkan banyak persoalan ketika diterjemahkan di lapangan. Banyaknya
permasalahan yang muncul menunjukan implementasi kebijakan ini menemui kendala-
kendala yang harus selalu dievaluasi dan selanjutnya disempurnakan agar tujuannya
tercapai. Beberapa persoalan itu adalah kewenangan yang tumpang tindih, anggaran,
pelayanan publik, politik identitas diri, orientasi kekuasaan, lembaga perwakilan, pemekaran
wilayah, pilkada langsung. beberapa contoh kasus adalah sebagai berikut: pelaksanaan

24
otonomi daerah di papua yang masih belum dapat terlaksana dengan baik, kasus pemekaran
wilayah di kalimantan, serta maraknya korupsi para pejabat daerah.
4. Kinerja pemerintah daerah di era otonomi daerah dalam rangka terapan good governance
dapat dilihat dari berbagai aspek, diantaranya tanggungjawab (accountability and
responsibility), keterbukaan pada rakyat (public disclosure), manajemen pemerintahan baru
(new public management), program kemitraan yang dikembangkan dalam mendukung good
governance.

25
DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompasiana.com/taufik.firmanto/otonomi-khusus-papua-dinamika-dan-solusi-
pemecahannya_551017d48133117436bc61ae

http://naitioferdinand.blogspot.co.uk/2015/11/otonomi-daerah-dan-permasalahan-yang-di.html

http://news.liputan6.com/read/754519/ “Otonomi Daerah dan Pemekaran Wilayah yang


Kebablasan”.

https://pekikdaerah.wordpress.com/artikel-makalah/akuntabilitas-daerah-tinjauan-pemikiran-
pelaksanaannya-dalam-rangka-otonomi-daerah/

http://ueu5483.weblog.esaunggul.ac.id/2016/05/25/hubungan-pemerintah-pusat-dan-daerah/

26

Anda mungkin juga menyukai