Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Keterampilan berbahasa yang harus dikuasai di antaranya menyimak,

berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut selalu

digunakan dan terkadang digunakan dalam satu waktu yang sama. Keempat

keterampilan berbahasa tersebut, tidaklah dapat dilepaskan satu dengan

yang lainnya sebab saling berhubungan.

Sebagaimana dijelaskan bahwa berbahasa salah satunya adalah membaca .

Membaca adalah sebagai suatu proses memahami pesan atau informasi

yang terkandung dalam suatu teks. Dengan membaca, pandangan kita

menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal baru yang tidak kita ketahui

sebelumnya. Bila sebelumnya membaca identik dengan buku, maka di jaman

yang serba digital ini membaca tidak hanya terpaku pada membaca buku

karena segala informasi terkini telah tersedia di dunia maya. adapun manfaat

membaca bagi siswa adalah untuk menambah wawasan, dan menambah

pengalaman, serta menambah kosakata dan struktur kalimat.


Pada kegiatan membaca di kelas, guru telah menyusun tujuan membaca

dengan menyediakan tujuan khusus yang sesuai atau dengan membantu

mereka menyusun tujuan membaca siswa itu sendiri. Seseorang yang

membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan

dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Tujuan utama membaca adalah

untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna

bacaan.

Teks eksposisi sangat perlu dianalisis oleh siswa. Tujuan menganalisis bagi

siswa untuk menjelaskan informasi tertentu agar bisa menambah ilmu

pengetahuan siswa, sehingga dengan menganalisis teks eksposisi maka

siswa akan mendapatkan pengetahuan dan wawasan secara rinci dari suatu

hal atau kejadian. Adapun manfaatnya bagi siswa sebagai upaya

peningkatan siswa untuk terampil dalam memahami teks eksposisi,dan siswa

dapat menentukan ide dalam mengembangkan tulisannya dalam pembutan

teks eksposisi.

Analisis terdadap teks eksposisi diarahkan untuk membandingkan dua teks

baik persamaan maupun perbedaannya. Hal tersebut telah dikemukakan

dalam kompetensi dasar (KD) yang terdapat pada materi pembelajaran siswa

kelas X SMA Pembangunan Kalianda tahun pelajaran 2019/2020. Materi

pokoknya adalah siswa harus mampu membandingkan atau memproduksi

teks eksposisi. Dalam menganalisis eksposisi siswa harus memperhatikan

fakta-fakta yang ada dan arguemntasi-argumentasi yang dikemukakan

2
sebagai dasarnya. Hal ini dapat melatih siswa untuk berani mengungkapakan

apa yang biasanya sulit untuk diungkapkan secara lisan.

Berdasarkan hasil pengamatan sementara, diperoleh informasi bahwa materi

menganalisis eksposisi telah disampaikan oleh guru mata pelajaran, yakni

guru memberikan materi eksposisi pada siswa, guru memberi dua buah

contoh eksposisi, lalu guru memberikan tugas kepada siswa untuk berdiskusi

untuk memahami persamaan dan perbedaan dua buah teks eksposisi.

Hasilnya sebagian siswa mampu menentukan perbedaan dan persamaan

eksposisi dengan baik. Menurut guru mata pelajaran dalam menganalisis

eksposisi, siswa kelas X SMA Pembangunan Kalianda masih memerlukan

perhatian yang lebih agar menjadi lebih baik kompetensi siswa.

Seharusnya pengetahuan tentang menganalisis eksposisi sudah dimiliki oleh

para siswa. Namun kenyataannya masih ditemukan siswa yang mengalami

kesulitan dalam menganalisis teks eksposisi. Kelemahannya antara lain

siswa belum mengerti dan memahami dua karangan, siswa belum mengerti

jenis-jenis karangan eksposisi. Kelemahan utamanya adalah siswa kurang

mengerti dan kurang memahami dalam membandingkan persamaan dan

perbedaan dua buah teks eksposisi. Saat siswa diminta untuk

mengemukakan persamaannya struktur dan menunjukkannya, hanya

beberapa siswa yang cukup dapat mengemukakannya sedangkan siswa

lainnya memilih untuk tidak berkomentar. Kedua teks eksposisi secara umum

dibangun oleh adanya tesis, argumentasi dan penegasan yang terbagi dalam

3
tiga paragraf. Namun, siswa kurang mengetahui hal itu. Dari perbedaan,

beberapa siswa juga kurang mengatahuinya. Perbedaan yang dminta untuk

diulas oleh siswa saat prapenelitian adalah soal bahasa yang digunakan.

Pada teks ke-1 memang sudah diatur menggunakan bahasa yang baku,

sedangkan pada teks kedua sudah diatur dan ditentukan beberapa kata yang

tidak baku bahasanya. Sayangnya, siswa tidak mengetahui hal itu. Hal-hal

lain juga dialami oleh siswa, seperti kurang detilnya fakta-fakta dalam teks

pertama sedangkan teks kedua diatur dengan detil fakta yang jelas. Hal ini

adalah suatu masalah yang harus ditindaklanjuti dengan melakukan

penelitian.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian yang

diberi judul “ Perbedaan dan Persamaan Teks Eksposisi pada Siswa Kelas X

Semester Ganjil SMA Pembangunan Kalianda Tahun Pelajaran 2019/2020.”

2. Fokus Masalah

Berdasarkan fokus masalah di atas penelitian ini difokuskan pada “

Perbedaan dan Persamaan Teks Eksposisi Siswa Kelas X Semester Ganjil

SMA Pembangunan Kalianda Tahun Pelajaran 2019/2020.”

1. Pertanyaan Masalah

1. Bagaimana kemampuan siswa dalam menganalisis

perbedaan dan persamaan teks eksposisi pada siswa

4
kelas X Semester Ganjil SMA Pembangunan Kalianda

Tahun Pelajaran 2019/2020?

2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang diharapkan di dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemampuan

siswa dalam menganalisis perbedaan dan persamaan

teks eksposisi pada siswa kelas X Semester Ganjil SMA

Pembangunan Kalianda Tahun Pelajaran 2019/2020.

3. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini sebagai berikut.

1. Untuk evaluasi pembelajaran siswa khususnya

berkenaan dengan menganalisis perbedaan dan

persamaan dalam teks eksposisi dan umumnya untuk

pembelajaran bahasa Indonesia.

2. Masukan bagi guru bahasa Indonesia supaya

pembelajaran bahasa Indonesia lebih menarik dan

bermakna.

3. Masukan bagi pihak sekolah agar selalu mengevaluasi

pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga

kendala yang dialami dalam pembelajaran dapat diberi

solusi.

5
BAB II

ACUAN TEORETIK

1. Pengertian Bahasa

Bahasa menjadi alat yang vital dalam kehidupan sosial manusia. Dikatakan

demikian sebab bahasa selalu digunakan oleh manusia untuk berinteraksi

dengan sesama dan menyampaikan pesan atau informasi menyangkut

semua hal tentang kehidupan.

Berkenaan dengan bahasa, Chaer (2009: 30) menyatakan bahwa bahasa

sebagai “satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer,”yang kemudian

lazim ditambah dengan “yang digunakan oleh sekelompok anggota

masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan diri”.

Menurut Surastina (2015: 54) menyatakan bahwa bahasa adalah susunan

komponen-komponen tertentu yang merupakan suatu kesatuan dan memiliki

6
keterikatan satu sama lainya. Bahasa merupakan sistem tanda. Setiap tanda

adalah unsur bahasa yang memiliki arti tersendiri dan secara konvensi

disepakati oleh masyarakat.

Sementara itu, menurut Kosasih (2006: 19) menyatakan bahasa merupakan

alat untuk berpikir dan belajar. Dengan adanya bahasa memungkinkan kita

untuk berfikir secara abstrak. Dengan bahasa, perasaan-perasaan itu dapat

dimengerti orang lain dengan mudah.

Selanjutnya dijelaskan oleh Muslich (2015: 1) berpendapat bahwa bahasa

adalah sistem bunyi ujar sudah disadari oleh para linguis. Oleh karena itu,

objek utama kajian linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk

bunyi ujar.

Pendapat berikutnya dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (dalam

Fahrurrozi dan Wicaksono. 2017:2), Bahasa adalah fakta sosial, yaitu bahasa

digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Bahasa merupakan fakta sosial

karena dalam setiap bahasa terdapat produk kolektif.

Berdasarkan beberapa pendapat pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa

bahasa merupakan alat komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dari

kehidupan manusia karena dengan berbahasa seseorang dapat merespon

apa yang dikomunikasikan.

2. Pengertian Membaca

7
Membaca merupakan suatu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki

setiap manusia. Pentingnya membaca perlu dibudayakan dalam diri

seseorang. Membaca juga kegiatan memperoleh ilmu, informasi dan

pengetahuan.

Berkenaan dengan membaca, perlu kiranya dikemukakan beberapa

pendapat pakar tentang pengertian membaca. Dikemukakan oleh Fanany

(2012: 9) membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan

makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan

huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian-bagian tubuh khususnya

mata yang melakukannya. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian

pikiran khususnya persepsi dan ingatan terlibat didalamnya.

Nurhadi dalam Rohmanto (2017: 15) dalam pengertian sempit, membaca

adalah kegiatan memahami makna yang terdapat dalam tulisan. Sementara

dalam pengertian luas, membaca adalah proses pengolahan bacaan, nilai,

fungsi, dan dampak bacaan itu.

Sementara itu, menurut Rahim (2011: 2) berpendapat bahwa membaca

adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar

melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir,

psikolinguistik, dan metakognitif.

Selanjutnya dijelaskan oleh Abidin (2012 : 14) membaca adalah proses

bahasa. Anak yang akan belajar membaca harus memahami hubungan antar

8
membaca dan bahasanya. Membaca dikatakan sebagai suatu proses karena

salah satu langkahnya yang esensial adalah dengan bahasa yang dilisankan.

Siswa memfokuskan membaca pada kata-kata tunggal dan huruf-huruf dalam

kata kemudian membunyikannya.

Pendapat berikutnya dikemukakan oleh Dibia (2018 : 143) membaca adalah

suatu proses memahami pesan atau informasi yang terkandung dalam suatu

teks. Membaca dilakukan untuk berbagai maksud dan dengan berbagai cara.

Pemilihan cara membaca mana yang akan digunakan didasarkan pada

tujuan yang hendak dicapai.

Berdasarkan pada beberapa pendapat pakar di atas, dapat disimpulkan

bahwa membaca merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh

pesan dan makna yang disusun penulis melalui kata-kata diwaktu yang

berbeda antara pembaca dan penulis. Orang yang sering membaca

pendidikannya akan maju dan wawasannya akan luas.

1. Tujuan Membaca

Tujuan membaca setiap orang berbeda-beda. Tujuan membaca yang

berbeda-beda ini berkaitan dengan kebutuhan, kondisi dan situasi membaca.

Secara umum tujuan membaca adalah untuk mencari serta memperoleh

informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan dari suatu teks tulisan.

Seperti yang dikemukakan oleh Abidin (2012: 8) tujuan membaca adalah

faktor penting yang harus dipertimbangkan untuk menentukan strategi baca.

9
Seorang pembaca yang menginginkan memahami sebuah buku secara cepat

dan cermat tentu ia dapat memilih strategi membaca buku. Sebaliknya

seorang yang hanya bertujuan memahami sebuah wacana pendek, ia dapat

memilih strategi membaca paragraf.

Pendapat lainnya juga dikemukakan oleh Rahim (2011: 11) menjelaskan

bahwa membaca hendaknya mempunyai tujuan karena seseorang yang

membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan

dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Dalam kegiatan membaca di

kelas, guru seharusnya menyusun tujuan. Dalam kegiatan membaca di kelas,

guru seharusnya menyusun tujuan membaca dengan menyediakan tujuan

khusus yang sesuai atau dengan membantu mereka menyusun tujuan

membaca siswa itu sendiri. Tujuan membaca mencangkup kesenangan;

menyempurnakan membaca nyaring; memperoleh informasi untuk laporan

lisan atau tertulis.

Lain halnya dengan pendapat Rohmanto (2017: 17) tujuan membaca menjadi

hal yang pokok dalam proses membaca, baik untuk menambah wawasan,

mendapatkan keuntungan, maupun sekadar memperoleh hiburan.

Setidaknya, ketiga hal itulah yang harus diperhitungkan sehingga proses

membaca tidak akan berakhir dengan sia-sia.

Sementara itu, menurut Dibia (2018 : 144) tujuan membaca adalah guru

seharusnya menyusun tujuan khusus yang sesuai atau dengan membantu

mereka menyusun tujuan siswa itu sendiri, cenderung lebih memahami

10
dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Mencakup

kesenangan, menyempurnakan membaca nyaring, menggunakan strategi

tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan

membaca adalah untuk memahami isinya. Untuk memahami isi, kita harus

mengerti gagasan (topik) dasar apa yang di baca, membaca sangatlah perlu

dalam kehidupan sehari-hari manusia. Membaca tidak bisa dpisahkan dalam

kehidupan. Oleh sebab itu membaca sangatlah penting bagi manusia dan

juga kehidupan.

2. Jenis Membaca

Membaca memiliki jenis yang beragam seperti yang dikemukakan oleh Dibia

(2018:155) ada empat jenis membaca, yaitu :

1. Membaca dalam Hati

Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang berusaha

memahami keseluruhan isi bacaan tanpa diikuti gerak lisan maupun

suara.

2. Membaca Cepat

Membaca cepat adalah ragam membaca yang dilaksanakan dalam

waktu yang relatif singkat dan cepat untuk memahami isi bacaan

secara garis besar saja.

3. Membaca Teknik

11
Membaca teknik pada dasarnya sama dengan membaca nyaring.

Pada membaca nyaring yang perlu mendapat perhatian guru ialah:

lafal kata, intonasi frase, intonasi kalimat, serta isi bacaan itu sendiri.

4. Membaca Kreatif

Membaca kreatif merupakan proses membaca untuk mendapatkan

nilai tambah dari pengetahuan yang baru melalui mengidentifikasi ide-

ide yang menonjol atau mengombinasikan pengetahuan yang

sebelumnya pernah didapatkan.

Sementara itu, menurut Fanany (2012: 19-22 ) jenis-jenis membaca , ditinjau

dari segi bersuara atau tidaknya orang waktu membaca itu terbagi atas

beberapa hal yang akan diuraikan berikut ini :

1. Membaca yang Bersuara

Membaca bersuara yaitu suatu aktivitas atau kegiatan yang

merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama

orang lain. Jenis membaca itu mencakup beberapa hal sebagai berikut

: Membaca Nyaring dan Keras, Membaca Teknik, Membaca Indah.

2. Membaca yang Tidak Bersuara

Membaca tidak bersuara yaitu aktivitas membaca dengan

mengandalkan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan

ingatan. Jenis mambaca ini biasa disebut membaca dalam hati, yang

mencakup : Membaca Teliti, Membaca Pemahaman, Membaca Ide,

12
Membaca Kritis, Membaca Telaah Bahasa, Membaca Skimming,

Membaca Cepat.

Pendapat berikutnya dikemukakan oleh Rohmanto (2017:19-44) membaca

terbagi ke dalam beberapa jenis yakni :

1. Membaca Nyaring

Membaca nyaring merupakan aktivitas membaca yang penitikberatkan

pada suara dari lisan manusia. Tulisan yang dibaca dengan suara

yang jelas, tepat pelafalan fonemnya, dan intonasi yang tepat akan

memberikan kemudahan bagi pembaca sendiri maupun pendengar

untuk menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis.

2. Membaca dalam Hati

Membaca dalam hati adalah cara yang dilakukan oleh seseorang

tanpa mengeluarkan suara namun tetap fokus kepada bahan bacaan.

Membaca dalam hati menekankan kepada pemahaman isi bacaan.

3. Membaca Dangkal

Membaca dangkal atau disebut juga dengan superficial reading adalah

jenis membaca ekstensif yang hanya bertujuan untuk mengetahui

informasi secara dangkal ( bersifat umum ) dari teks atau wacana yang

hendak dibaca. Dalam membaca ekstensif, pembaca hanya dapat

mengetahui hal-hal yang bersifat umum.

4. Membaca Intensif

13
Membaca intensif adalah teknik membaca yang dapat diterapkan

dalam upaya mencari informasi yang bersifat detail. Membaca intensif

juga dapat diterapkan untuk mencari informasi sebagai bahan diskusi.

Membaca intensif, disebut juga membaca secara cermat. Membaca

dengan cermat akan memperoleh sebuah pokok persoalan atau

perihal menarik dari suatu teks bacaan untuk dijadikan bahan diskusi.

Selanjutnya dijelaskan oleh Abidin (2012: 8) jenis membaca adalah jika kita

ingin membaca indah, jangan pernah memilih strategi membaca

pemahaman. Membaca pemahaman tidak bisa dilakukan dengan

menggunakan strategi membaca teknik. Strategi membaca EVOKER dapat

digunakan untuk berlatih membaca nyaring untuk pemahaman isi puisi,

drama,prosa, tetapi tidak bisa digunakan untuk membaca pemahaman

sebuah wacana nonfiksi.

Dapat disimpulkan bahwa jenis membaca membaca yang bersuara dan

membaca yang tidak bersuara. Kategorinya dapat dibedakan ke dalam

membaca nyaring, membaca dalam hati, membaca dangkal, dan membaca

intensif.

1. Pengertian Teks Eksposisi

Mengarang merupakan salah satu kegiatan yang harus dikuasai siswa.

Mengarang juga sudah diperkenalkan sejak SD kelas IV. Oleh sebab itu,

siapa pun orang yang akan menjadi guru mata pelajaran bahasa Indonesia

14
harus menguasai materi tentang karangan, salah satunya karangan

eksposisi.

Menurut Dalman (2016: 120) eksposisi adalah tulisan yang menjelaskan atau

memaparkan pendapat, gagasan, keyakinan yang memerlukan fakta yang

diperkuat dengan angka, statistik, peta dan grafik, tetapi tidak bersifat

memengaruhi pembaca.

Sementara itu, menurut Mulyati (2017: 110) Eksposisi adalah suatu bentuk

wacana yang berusaha menguraikan suatu objek sehingga memperluas

pandangan atau pengetahuan pembaca.

Lain halnya dengan Kosasih (2006: 48) paragraf eksposisi adalah paragraf

yang memaparkan atau menerangkan suatu hal atau objek. Dari paragraf

jenis ini diharapkan para pembaca dapat memahami hal atau objek itu

dengan sejelas-jelasnya. Paragraf eksposisi menggunakan contoh, grafik,

serta berbagai bentuk fakta dan data lainnya.

Menurut Dibia (2018: 147) eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni

karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan atau menganalisis

suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan

seseorang. Penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah secara

analisis dan terperinci disertai fakta yang mendukung. Eksposisi merupakan

15
tulisan yang sering digunakan untuk menyampaikan uraian ilmiah, seperti

makalah, skripsi, tesis, disertai, atau artikel pada surat kabar atau majalah.

Selanjutnya dijelaskan oleh Finoza (2008 : 224 ) karangan eksposisi

merupakan wacana yang bertujuan untuk memberi tahu, mengupas,

menguraikan, atau menerangkan sesuatu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa eksposisi

adalah suatu tulisan yang dimaksudkan untuk memaparkan pengetahuan dan

pengalaman si penulis yang diperolehnya dari kajian pustaka atau lapangan

dengan tujuan menambah wawasan untuk pembaca.

1. Jenis-jenis Eksposisi

Eksposisi merupakan tulisan yang berisi tentang informasi, baik yang

berbentuk berita maupun artikel, dari pengertian eksposisi tersebut eksposisi

dibedakan menjadi beberapa jenis.

Menurut Finoza (2008: 246) berpendapat ada dua jenis eksposisi, yaitu

eksposisi yang berupa opini dan eksposisi yang berupa tips.

Selanjutnya dijelaskan oleh Mariskan dalam Dalman (2016: 121) menyatakan

bahwa ada tiga macam eksposisi, yaitu:

1. Lukisan dalam eksposisi. Yang dimaksud lukisan dalam eksposisi

adalah paparan yang mempergunakan lukisan, supaya karangan

paparan itu tidak kering, contohnya: otobiografi, kisah perampokan,

peristiwa pembunuhan.

16
2. Eksposisi proses. Eksposisi yang memaparkan atau menjelaskan

proses terjadinya sesuatu, misalnya: proses pembuatan tempe.

Proses pembuatan jamur merang, proses berdirinya organisasi.

3. Eksposisi perbandingan. Dalam memperjelas paparan sering

digunakan perbandingan di antara dua atau lebih hal. Kedua hal atau

lebih itu dicari perbedaannya dan persamaannya.

Lain halnya dengan yang dikemukakan oleh Khasan (2012: 1) bahwa

eksposisi dibagi menjadi beberapa, yaitu:

1. Eksposisi berita, berisi pemberitaan mengenai suatu kejadian. Jenis ini


banyak ditemukan pada surat kabar.
2. Eksposisi ilustrasi, pengembangannya menggunakan gambaran
sederhana atau bentuk konkret dari suatu ide. Mengilustrasikan
sesuatu dengan sesuatu yang lain yang memiliki kesamaan atau
kemiripan sifat. Biasanya menggunakan frase penghubung “seperti
ilustrasi berikut ini, dapat diilustrasikan seperti, bagaikan.”
3. Eksposisi proses. Sering ditemukan dalam buku-buku petunjuk
pembuatan, penggunaan, atau cara-cara tertentu.
4. Eksposisi perbandingan, dalam hal ini penulis mencoba menerangkan
ide dalam kalimat utama dengan cara membandingkannya dengan hal
lain.
5. Eksposisi pertentangan, berisi pertentangan antara sesuatu dengan
sesuatu yang lain. Frase penghubung yang biasa digunakan adalah
akan tetapi, meskipun begitu, sebaliknya.
6. Eksposisi definisi, batasan pengertian sesuatu dengan memfokuskan
pada karakteristik sesuatu itu.
7. Eksposisi analisis, proses memisah-misahkan suatu masalah dari
suatu gagasan utama menjadi beberapa subbagian, kemudian
masing-masing dikembangkan secara berurutan.
8. Eksposisi klasifikasi, membagi sesuatu dan mengelompokkan ke
dalam kategori-kategori.

17
Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Keraf (dalam Akhadiah, 2001: 8)

karangan eksposisi memiliki beberapa macam yaitu: eksposisi identifikasi,

perbandingan, ilustrasi, atau eksemplikasi, klasifikasi, definisi,analisis.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ada

beberapa macam eksposisi, diantaranya (1) eksposisi berita, yaitu tulisan

yang berisi tentang informasi yang sesuai denan fakta, (2) eksposisi proses,

yaitu tulisan yang berisikan tentang proses pembuatan sesuatu atau langkah-

langkah membuat sesuatu, (3) eksposisi informasi, yaitu tulisan yang

berisikan tentang informasi yang belum diketahui oleh orang banyak,

biasanya berbentuk artikel yang bertujuan menginformasikan sesuatu kepada

khalayak ramai tanpa ada unsur memaksa.

2. Struktur Teks Eksposisi

Di dalam teks eksposisi mungkin pula dijumpai sejumlah rekomendasi, saran,

atau ajakan. Dari pengertian eksposisi tersebut eksposisi dibedakan menjadi

beberapa struktur.

Menurut Kosasih (2019: 244-245) struktur eksposisi dibagi 3 struktur yaitu:

1. Pernyataan Umum

Pernyataan umum (thesis statement) merupakan kalimat-kalimat yang

memberikan gambaran umum tentang permasalahan yang akan

diangkat di dalam teks itu.

18
2. Rangkaian Argumen

Pada bagian ini penulis atau pembicara mengemukakan sejumlah

pendapat yang sering kali diperkuat dengan fakta-fakta. Argumen yang

di maksud berupa pandangan-pandangan penulis terkait masalah

yang dikemukan sebelumnya.

3. Penegasan Ulang

Bagian ini mengandung kesimpulan; mungkin pula rekomendasi atas

argumen-argumen penulis sebelumnya. Mungkin pula pada bagian ini

terkandung rekomendasi atau saran.

Hampir sejalan dengan pendapat diatas Mulyadi (2016 : 55-56)

mengemukakan bahwa struktur teks eksposisi memiliki tiga bagian yaitu:

1. Pernyataan pendapat atau tesis

Pernyataan pendapat atau tesis merupakan bagian yang berisi

persoalan, isu, atau pendapat umum mengenai suatu hal atau

permasalahan yang dikemukakan.

2. Argumentasi

Argumentasi menjelaskan secara lebih mendalam pernyataan

pendapat tesis yang diyakini kebenarannya oleh penulis melalui

pengungkapan fakta-fakta sebagai penjelasan argumen penulis.

3. Penegasan ulang

Bagian akhir teks eksposisi ini bertujuan untuk menguatkan,

menegaskan, ulang pendapat yang telah ditunjang dengan fakta.

19
Hal serupa juga dikemukakan oleh Ibeng (2019: 2) bahwa strukturnya terdiri

atas 3 (tiga) bagian yakni pernyataan pendapat (tesis), argumentasi, dan

penegasan ulang pendapat. Berikut penjelasan struktur teks eksposisi yang

tepat adalah:

1. Pernyataan pendapat (Tesis)

Bagian ini merupakan suatu gagasan utama mengenai suatu

permasalahan berdasarkan fakta yang ada.

2. Argumentasi

Bagian ini berisi mengenai penjelasan secara detail mengenai

pernyataan pendapat serta juga pengungkapan fakta ialah sebagai

penjelasan argumen dari sang penulis.

3. Penegasan ulang pendapat

Bagian ini merupakan salah satu penguat dari pendapat dan juga

argumen yang didukung oleh fakta.

Berikut ini dikemukakan contoh teks eksposisi yang menunjukkan

strukturnya.

Hindari Cagub Pelaku Korupsi

Tesis:

Setiap wilayah yang sedang melakukan pemilihan umun dalam


memilih calon gubernur, maka harus dilaksanakan secara tegas, ketat
serta jujur. Calon gubernur yang baik harus memiliki kriteria agar tidak
melakukan penyimpangan kekuasaan serta menjauhkan wilayah
tersebut terhadap masalah yang cukup besar. Contohnya cagub tidak

20
pernah terlibat dalam masalah pelanggaran HAM maupun korupsi.
Apabila salah satu cagub terlibat masalah tersebut maka cagub
dianggap gugur. Hal tersebut dilakukan agar dapat menjadi calon
gubernur yang memiliki jiwa integritas serta tidak dapat menimbulkan
masalah yang terkait. Setiap partai yang mecalonkan pilihannya
sebagai cagub selalu mempunyai prosedur tes kelayakan atau
kecocokan. Namun setiap partai tidak memiliki kriteria yang sama.
Walaupun demikian terdapat prinsip umum dalam menyeleksi setiap
cagub.

Argumentasi:

Terdapat bukti bahwa banyak parlemen pusat maupun daerah yang


melakukan tindakan korupsi. Setiap parpol berlomba lomba mencari
kriteria cagub yang baik dalam pemilihan umum karena bertujuan
untuk mencari jumlah suara yang paling banyak. Hal tersebut
dikemukakan oleh Wakil Sekretarian Jenderal Komite Independen
Pemantau Pemilu atau KIPP yang bernama Jojo Rohi.

Penegasan Ulang:

Setiap partai menetapkan kriteria standar yang jelas serta tegas


mengenai siapa saja yang layak menjadi calon gubernur untuk
memimpin wilayahnya masing masing. Dalam menetapkan cagub
terdapat kriteria utama yang harus dilakukan yaitu anti korupsi. Apabila
salah satu cagub pernah terlibat masalah korupsi maka calon
gubernur tersebut dianggap gugur dan tidak boleh diikutkan kembali.
Cagub tersebut juga harus memperhatikan kriteria bakal caleg yang
baik serta moralitas yang baik pula. Untuk bakal cagub yang baik
maka cagub tersebut tidak pernah melakukan poligami. Namun
masalah mengenai pelanggaran HAM masih belum bisa diatasi. Maka

21
dari itu bakal calon cagub yang baik tidak boleh terlibat dengan
pelanggaran HAM.

3. Pola Pengembangan Teks Eksposisi

Teks eksposisi merupakan teks yang bersifat argumentatif. Oleh karena itu,

dasar utama dalam mengembangkan teks tersebut adalah sejumlah argumen

didalam menyelesaikan suatu permasalahan. dari pengertian eksposisi

tersebut eksposisi terdapat beberapa pola pengembangan.

Dikemukakan oleh Kosasih (2006: 48-49) terdapat tiga pola pengembangan

yaitu :

1. Pola Proses

Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan atau

perbuatan-perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu

atau perurutan dari suatu kejadian atau peristiwa.

2. Pola Sebab Akibat

Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dengan

mempergunakan sebab akibat dalam hal ini sebab bisa bertindak

sebagai gagasan umum, sedangkan akibat sebagai perincian

pengembangannya.

3. Pola Ilustrasi

Sebuah gagasan yang terlalu umum, memerlukan ilustrasi-ilustrasi

konkret. Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrasi tersebut tidak

berfungsi untuk membyktikan suatu pendapat

22
Pendapat lainnya juga dikemukakan oleh Dalman (2016: 134) ada beberapa

pola pengembangan eksposisi yaitu:

1. Eksposisi Grafik

Eksposisi grafik adalah karangan eksposisi dengan menjelaskan grafik

/ bagan sehingga pembaca dapat mengetahui/ memahami isi sebuah

grafik/ bagan.

2. Eksposisi Perbandingan

Eksposisi perbandingan adalah karangan eksposisi yang menujukan

persamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih dengan

mempergunakan dasar-dasar tertentu.

3. Eksposisi Proses

Eksposisi proses adalah karangan ekposisi yang menjelaskan teknik

pembuatan tertentu. Misalnya resep makanan/ pembuatan suatu

barang.

4. Eksposisi Identifikasi

Eksposisi identifikasi adalah karangan eksposisi yang menentukan

identitas suatu hal.

Berdasarkan pada beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

jenis teks eksposisi antara lain pola proses, pola sebab akibat, pola ilustrasi,

eksposisi grafik, eksposisi perbandingan, dan eksposisi identifikasi.

23
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1. Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Menurut Emzir (2011: 3) penelitian kualitatif dilakukan dengan cara

mengumpulkan bentuk kata-kata atau gambar daripada angka-angka. Hasil

penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data untuk mengilustrasikan dan

menyediakan bukti presentasi. Data tersebut mencakup transkip wawancara,

catatan lapangan, fotografi, dokumen pribadi, memo, dan rekaman-rekaman

resmi lainnya.

2. Setting Penelitian

1. Latar Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Pembangunan Kalianda Tahun Pelajaran

2019/2020.

2. Latar waktu

Penelitian dilakukan pada masa belajar Semester Ganjil Tahun Pelajaran

2019/2020.

24
3. Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas X semester ganjil SMA

Pembangunan Kalianda Tahun Pelajaran 2019/2020 berjumlah 10 siswa atau

hanya satu kelas.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pokok dan penunjang.

Teknik-teknik tersebut dipaparkan berikut ini.

1. Teknik Pokok

Teknik pokok yang digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan

penugasan yakni menugaskan siswa untuk membaca dan mencermati sertai

menganalisis dua teks eksposisi yang disediakan. Siswa diminta perbedaan

dan persamaannya baik perbedaan isi teks dan bahasa, serta persamaan

struktur dan jenis teks.

2. Teknik pelengkap

Teknik pelengkap menggunakan teknik observasi, wawancara, dan

dokumentasi serta kepustakaan.

1. Teknik Observasi

Teknik observasi akan dilakukan secara langsung terhadap objek yang

diamati yakni proses kegiatan belajar siswa di kelas dan saat proses

penelitian dilakukan.

25
2. Teknik Wawancara

Teknik wawancara ini dilakukan untuk mengumpulkan data dengan cara

berkomunikasi atau wawancara lisan kepada siswa. data. Wawancara ini

bertujuan untuk mengetahui perkembangan pembelajaran oleh siswa

bersama guru sehingga dapat dijadikan tambahan informasi dalam hasil

penelitian.

3. Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data-data tentang

keadaan sekolah, seperti sejarah sekolah, jumlah siswa, jumlah guru, dan

karyawan, serta dokumen siswa.

4. Teknik Kepustakaan

Teknik kepustakaan akan dimanfaatkan untuk memperoleh teori-teori yang

diperlukan untuk mendukung masalah penelitian.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik deskriptif

kualititatif. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis tingkat kesalahan

yang dilakukan siswa pada persamaan dan perbedaan dalam karangan

eksposisi. Langkah analisis menggunakan teori yang dikemukakan Tarigan

(2011: 63-64) bahwa langkah analisis di antaranya mengumpulkan data

kesalahan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan, memperingkat

kesalahan, dan mengoreksi kesalahan.

26
Berdasarkan teori tersebut, maka dapat dimodifikasi langkah analisis yang

dilakukan terhadap perbedaan dan persamaan dalam teks eksposisi siswa

sebagai berikut :

1. Membaca dan Mengoreksi setiap hasil lembar kerja siswa atau data

yakni teks eksposisi.

2. Mengidentifikasi membandingkan perbedaan dan persamaan, baik

perbedaan isi teks dan bahasa baku, serta persamaan struktur dan

jenis teks dalam karangan eksposisi dari hasil kerja siswa.

3. Membaca ulang karangan eksposisi dari hasil kegiatan yang ditulis

oleh siswa dengan mencermati penggunaan isi dan bahasa dan

struktur dan jenis teks dalam karangan eksposisi satu persatu.

4. Mengutip tanda atau mengidentifikasi setiap perbedaan dan

persamaan teks eksposisi yang salah penggunaannya yang tidak

sesuai dengan penulisannya.

5. Menjelaskan dan mendeskripsikan perbedaan dan persamaan dalam

teks eksposisi siswa sesuai teori kriteria persamaan dan perbedaan.

6. Membuat kebenaran dari setiap kesalahan yang ada dalam hasil kerja

siswa.

27
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Yunus. (2012). Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan


Karakter. Bandung: Refika Aditama.

Akhadiah Sabarti, Dkk. 2001. Menulis. Jawa Barat. Universitas Terbuka.

Chaer, Abdul. (2009). Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta: Renika Cipta

Dalman. (2016). Keterampilan Menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dibia, l Ketut. (2018). Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Depok: Raja
Grafindo Persada.

Fahrurrozi. Dan Wicaksono. 2017. Sekilas Tentang Bahasa Indonesia.


Yogyakarta : Garudhawaca.

Fanany, El, Burhan. (2012). Teknik Baca Cepat Trik Efektif Membaca 2 detik
1 Halaman. Yogyakarta: Yogyakarta Araska.

Finoza, Lamuddin. (2008). Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan


Mulia.

Ibeng, Parta. (2019) Teks Eksposisi. [online] Tersedia:


https://pendidikan.co.id/teks-eksposisi/ [Diunduh pada Desember 2019]

Khasan, Auriaga Maulana. (2012). Jenis-jenis Paragraf Eksposisi. [Online]


Tersedia:http://akses-ilmu.blogspot.co.id/2012/03/jenis-jenis-paragraf-
eksposisi.html [November 2016].

Kosasih dan Kurniawan, Endang. (2019). Jenis Teks dan Strategi


Pembelajarannya di SMA-MA/SMK. Bandung: Yrama Widya.

Kosasih, E. (2006). Ketatabahasaan dan Kesustraan. Bandung: CV Yrama


Widya.

28
Mulyati. (2017). Terampil Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta: Kharisma Putra Utama.
Muslich, Masnur. (2015). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurgiyantoro, Burhan. (2014) Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis


Kompetensi. Yogyakarta: BPFE.
Rahim, Farida. (2011). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta:
Bumi Aksara.

Rohmanto, Dwi. (2017). Membaca: Teori, Metode dan Penerapannya.


Bandar Lampung: Anugerah Utama Raharja.

Surastina. (2015). Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: Elmatera.

29