Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

AGAMA

MANAJEMEN MENGHADAPI RESPON SAKIT DAN PENYAKIT

DOSEN PEMBIMBING

MUSLIM, S.Ag., M.Ag.

DISUSUN OLEH

Arizon Alfath

Asrida Darmis

Farhana Elvi

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

2019/2020
BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hampir semua krisis diawali dengan gejala yang dikenal dengan prodrome.Prodrome adalah
istilah dalam dunia kesehatan ketika seseorang menunjukkan gejala sakit,gejala itu misalnya
suhu badan meningkat,selera makan hilang,rasa nyeri dibeberapa bagian tubuh karena sifatnya
adalah gejala,maka tidak mudah mengenali penyakit.
Kesiapan dan respon adalah sebuah organisasi terhadap prodrome,inilah yang akan
menentukan bagaimana sebuah organisasi mengenali gejala dan melakukan langkah
menghadapi kemungkinan “irregularities” yang akan terjadi.
Ketika krisis terjadi,organisasi akan mengalami kepanikan.Kepanikan terjadi karena organisasi
pada umunya tidak memiliki persiapan yang baik untuk menghadapi situasi yang tidak
normal.setiap organisasi sudah mengatur seluruh sumber daya manusia sesuai dengan tugas
dan wewenang masing-masing.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian manajemen menghadapi respon sakit dan penyakit?


2. Pengertian empati dan simpati dan penguatan?
3. Bagaimana Empati dan simpati perawat muslim?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Pengertian manajemen menghadapi respon sakit dan


penyakit
2. Untuk mengetahui Pengertian empati dan simpati dan penguatan
3. Untuk mengetahui Empati dan simpati perawat muslim
BAB 2

PEMBAHASAN

A.Pengertian Manajemen terhadap Respon Sakit dan Penyakit

Manajemen penyakit didefinisikan sebagai"Suatu sistem intervensi perawatan kesehatan yang


terkoordinasi dan komunikasi untuk populasi dengan kondisi dimana upaya perawatan diri pasien sangat
penting"

Sehat dan sakit adalah dua kata yang saling berhubungan erat dan merupakan bahasa kita
sehari-hari. Dalam sejarah kehidupan manusia istilah sehat dan sakit dikenal di semua
kebudayaan. Sehat dan sakit adalah suatu kondisi yang seringkali sulit untuk kita artikan
meskipun keadaan ini adalah suatu kondisi yang dapat kita rasakan dan kita amati dalam
kehidupan sehari-hari hal ini kemudian akan mempengaruhi pemahaman dan pengertian
seseorang terhadap konsep sehat misalnya, orang tidak memiliki keluhan-keluahan fisik
dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa anak yang
gemuk adalah anak yang sehat meskipun jika mengacu pada standard gizi kondisinya berada
dalam status gizi lebih atau overweight. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga
mempengaruhi pemahaman dan pengertian mengenai konsep sehat yang berlaku dalam
masyarakat.

Kata sehat merupakan Indonesianisasi dari bahasa Arab “ash-shihhah” yang berarti
sembuh, sehat, selamat dari cela, nyata, benar, dan sesuai dengan kenyataan. Kata sehat dapat
diartikan pula: (1) dalam keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari
sakit), waras, (2) mendatangkan kebaikan pada badan, (3) sembuh dari sakit.
Dalam bahasa Arab terdapat sinonim dari kata ash-shihhah yaitu al-‘afiah yang berarti ash-
shihhah at-tammah (sehat yang sempurna ). Kedua kata ash-shihah dan al-afiah  sering
digabung digabung menjadi satu yaitu ash-shihhah wa al’afiah, yang apabila diIndonesiakan
menjadi ‘sehat wal afiat’ dan  artinya sehat secara sempurna.

Kata sehat menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan/ kondisi seluruh badan
serta bagian-bagiannya terbebas dari sakit. Mengacu pada Undang-Undang Kesehatan No 23
tahun 1992 sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
seseorang dapat hidup secara sosial dan ekonomis. konsep “sehat”, World Health
Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang
sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau
kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat.
Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam
keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi
biologis, psiologis, dan sosial sehingga seseorang dapat melakukan aktifitas secara optimal.
Definisi sehat yang dikemukakan oleh WHO mengandung 3 karakteristik yaitu :

1. Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia


2. Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan ektersnal.
3. Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, dan bukan
merupakan suatu keadaan tetapi merupakan proses dan yang dimaksud dengan proses
disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap
lingkungan sosialnya.

Jadi dapat dikatakan bahwa batasan sehat menurut WHO meliputi fisik, mental, dan
sosial

Sedangkan batasan sehat menurut Undang-undang Kesehatan meliputi fisik (badan),


mental (jiwa), sosial dan ekonomi. Sehat fisik  yang dimaksud disini adalah tidak merasa sakit
dan memang secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal dan
tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental (jiwa), mencakup:
-          Sehat Pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu berpikir secara logis
(masuk akal) atau berpikir runtut
-          Sehat Spiritual tercerimin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, atau penyembahan terhadap pencinta alam dan seisinya yang dapat dilihat dari praktek
keagamaan dan kepercayaannya serta perbuatan baik yang sesuai dengan norma-norma
masyarakat.
-          Sehat Emosional tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
emosinya atau pengendalian diri yang baik.
Sehat Sosial adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain
secara baik atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain tanpa membeda-
bedakan ras, suku, agama, atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, politik.
Sehat dari aspek ekonomi yaitu mempunyai pekerjaan atau menghasilkan secara
ekonomi. Untuk anak dan remaja ataupun bagi yang sudah tidak bekerja maka sehat dari aspek
ekonomi adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk berlaku produktif secara sosial.
Istilah penyakit (disease) dan keadaan sakit (illness) sering tertukar dalam
penggunaannya sehari-hari padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Penyakit adalah
istilah medis yang digambarkansebagai gangguan dalam fungsi tubuh yang menghasilkan
berkurangnya kapasitas. Penyakit terjadi ketika keseimbangan dalam tubuh tidak dapat
dipertahankan. Keadaan sakit terjadi pada saat  seseorang tidak lagi berada dalam kondisi sehat
yang normal. Contohnya pada penderita penyakit asma, ketika tubuhnya mampu beradaptasi
dengan penyakitnya maka orang tersebut tidak berada dalam keadaan sakit. Unsur penting
dalam konsep penyakit adalah pengukuran bahwa penyakit tidak melibatkan bentuk
perkembangan bentuk kehidupan baru secara lengkap melainkan perluasan dari proses-proses
kehidupan normal pada individu. Dapat dikatakan bahwa penyakit merupakan sejumlah proses
fisiologi yang sudah diubah.

Proses perkembangan penyakit disebut patogenesis. Bila tidak diketahui dan tidak
berhasil ditangani dengan baik, sebagian besar penyakit akan berlanjut menurut pola gejalanya
yang khas. Sebagian penyakit akan sembuh sendiri (self limiting) atau dapat sembuh cepat
dengan sedikit intervensi atau tanpa intervensi sebagian lainnya menjadi kronis dan tidak
pernah benar-benar sembuh.

Pada umumnya penyakit terdeteksi ketika sudah menimbulkan perubahan pada


metabolisme atau mengakibatkan pembelahan sel yang menyebabkan munculnya tanda dan
gejala. Manifestasi penyakit dapat meliputi hipofungsi (seperti konstipasi), hiperfungsi (seperti
peningkatan produksi lendir) atau peningkatan fungsi mekanis (seperti kejang)

Secara khas perjalanan penyakit terjadi melalui beberapa tahap :

-          Pajanan atau cedera yang terjadi pada jaringan sasaran

-          Masa latensi atau masa inkubasi (pada stadium ini tidak terlihat tanda atau gejala

-          Masa prodormal (tanda dan gejala biasanya tidak khas)


-          Fase akut (pada fase ini penyakit mencapai intensitas penuh dan kemungkinan
menimbulkan komplikasi, fase ini disebut juga sebagai fase akut subklinis)
-          Remisi (fase laten kedua ini terjadi pada sebagian penyakit dan biasanya akan diikuti oleh
fase akut lain)
-          Konvalesensi (keadaan pasien berlanjut ke arah kesembuhan sesudah perjalanan
berhenti)
-          Kesembuhan (recovery)  pada kondisi ini pasien kembali sehat dan tubuhnya sudah
berfungsi normal kembali serta tidak terlihat tanda atau gejala penyakit yang tersisa.

Penyakit akan dicetuskan oleh suatu stressor seperti perubahan dalam kehidupan
seseorang. (stressor dapat terjadi melalui salah satu dari dua mekanisme :

-          Adaptasi yang berhasil baik


-          Kegagalan beradaptasi)

Stressor dapat bersifat fisik natau psikologik. Stressor fisik seperti terkena racun, dapat
menimbulkan respon berbahaya yang menyebabkan terjadinya keadaan sakit atau muncul
kumpulan tanda dan gejala yang dapat dikenali. Stressor psikologik seperti kehilangan orang
yang dicintai ataupun hal lain yang dapat menyebabkan gangguan  yang bersifat psikologik
dapat menimbulkan respon maladaptif. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan
dari beberapa penyakit kronik.

B. Pengertian Empati,Simpati dan Penguatan


1. Pengertian Empati

Empati dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat penderitaan
orang lain dan terdorong dengan kemauan sendiri untuk menolongnya tanpa mempersoalkan
perbedaan  latar belakang agama, budaya, bahasa, kebangsaan, etnik, golongan dan
sebagainya. (Abuddin Nata)

Sebagi seorang manusia rasa empati sudah terkandung pada jiwanya. Lalu bagaimana
seseorang itu mengaplikasikannya. Islam mengajarkan kepada kita unutuk bersikap empati,
seperti harus memiliki rasa sifat pemurah, dermawan, saling membantu, tolong-menolong dan
lainnya. Hal ini berkaitan dengan Firman Allah SWT:

‫و ما يفعلوا من خير فلن يكفروه و هللا عليم بالمتقين‬

Artinya: “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, Maka sekali-kali mereka tidak dihalangi
(menenerima pahala) nya; dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali
Imran: 115)

‫وتعاونوا على البر و التقوى‬

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa” (QS. Al-
Maidah: 2)

2.Pengertian Simpati

Simpati adalah kecenderungan untuk merasakan perasaan, pikiran dan keinginan orang
lain. Namun karena melibatkan perasaan, seringkali penilaiannya menjadi subyektif.

Pada kasus tersebut keluarga merasakan penderitaan Tn. H dan memberikan tanggapan
namun tidak memberikan respon berupa tindakan.

Oleh karena itu jika hanya diterapkan rasa simpati saja maka Tn. H tidak akan mendapat
solusi yang terbaik untuk dirinya. Namun jika rasa simpati diserakan rasa empati kasus tersebut
terasa menjadi lebih ringan dan terasa mudah bagi Tn. H.
Inilah jika empati tercipta pada kasus tersebut; “Keluarga merasakan penderitaan Tn. H
dan memberikan ginjal salah satu dari kakak atau adik sebagai salah satu solusi untuk Tn. H”

3.Pengertian Penguatan

Penguatan adalah Segala bentuk respon yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah
laku guru terhadap tingkah laku siswa,yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan
balik bagi siswa atas perbuatan atau respon yang diberikan sebagai suatu dorongan atau
koreksi.

Melalui keterampilan penguatan (reinforcement) yang diberikan guru, maka siswa akan merasa
terdorong selamanya untuk memberikan respon setiap kali muncul stimulus dari guru; atau siswa akan
berusaha menghindari respon yang dianggap tidak bermanfaat. Dengan demikian fungsi keterampilan
penguatan (reinforcement) itu adalah untuk memberikan ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan
berbesar hati dan meningkatkan partisipasinya dalam setiap proses pembelajaran.”

C.Simpati dan Empati Perawat Muslim

Masyarakat di Indonesia sebagian besar masih menganggap bahwa perawat memiliki citra yang
kurang baik. Kenyataan tersebut disebabkan oleh tindakan perawat yang belum menerapkan nilai-nilai
profesionalisme dalam kegiatan keperawatan, salah satunya adalah empati dan caring sebagai inti
keperawatan. Rendahnya penghargaan bagi profesi keperawatan merupakan dampak dari adanya
kinerja para perawat yang tidak berkualitas (Dedi, Setyowati, & Yati, 2008).

Pada dasarnya perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik
di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan. Kemudian keperawatan merupakan kegiatan pemberian asuhan kepada individu,
keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat (Pasal 1 Ayat 1 dan 2 UU
No.38 Tahun 2014 tentang keperawatan).

Tugas dari para perawat diantaranya adalah memberikan pelayanan keperawatan dengan
sentuhan kasih sayang, bertanggung jawab dalam melaksanakan program medis, selalu memberikan
perhatian terhadap keseimbangan mental, fisik, spiritual dan sosial pasien, mempersiapkan pasien
secara fisik dan mental dalam menghadapi tindakan keperawatan, serta menyampaikan segala sesuatu
terkait kondisi pasien baik secara lisan maupun tulisan (Nursalam, 2014)

Salah satu sumber daya yang paling banyak mendukung kepuasan pasien adalah perawat.
Pelayanan perawatan di rumah sakit merupakan satu faktor penentu bagi mutu pelayanan dan citra
rumah sakit di mata masyarakat. Perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit
karena selain jumlahnya yang dominan (55 – 65%) dalam setiap rumah sakit tersebut, juga merupakan
profesi yang memberikan pelayanan yang konstan dan terus menerus 24 jam kepada pasien setiap
harinya (Angraini & Hijriyati, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Khamida & Mastiah (2015)
mengungkapkan bahwa 8 dari 10 orang pasien mengeluhkan sikap para perawat yang kurang
professional dalam memberikan pelayanan kesehatan diantaranya seperti perawat yang tidak ramah
dan acuh terhadap keluhan pasiennya, perawat juga tidak memperkenalkan dirinya kepada pasien
maupun keluarga pasien, kurangnya penjelasan ataupun informasi pada saat memberikan tindakan
asuhan keperawatan dan kurang melakukan pengawasan terhadap pasien.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Ismar (dalam Mailani, 2017) di RSUD Anwar
Malang tentang perilaku caring dan empati serta hubungannya dengan kepuasan klien,
menunjukkan bahwa 48,3% pasien menilai perawat tidak caring dan berempati selain itu
terdapat 79,2% pasien mengatakan tidak puas. Bentuk caring seorang perawat kepada pasien
yaitu memberikan asuhan keperawatan dengan penuh kasih sayang dan tanggap. Kemudian
bentuk empatinya adalah melakukan komunikasi sehingga dapat memahami perasaan pasien
berdasarkan sudut pandang pasien tersebut.

Mahasiswa keperawatan merupakan seseorang yang menempuh pendidikan di


perguruan tinggi baik universitas, institut atau akademi dengan jurusan keperawatan (Dewi &
Elva, 2016). Oleh karena itu belajar memberikan pelayanan terbaik untuk pasien harus
dipersiapkan mahasiswa keperawatan sejak awal masuk perguruan tinggi agar tidak terjadi hal-
hal buruk yang menimpa pasien.

Mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi seorang perawat dituntut untuk 3


mampu mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan yang sedang dialami oleh pasien.
Kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal dibutuhkan dalam membangun
kepercayaan antara perawat dan pasien. Sehingga, penerapan empati bagi perawat sangat
penting dalam melaksanakan tindakan keperawatan kepada para pasien.

Perawat yang empatinya tergolong tinggi dapat memberikan kepuasan kepada pasien
saat menerima tindakan keperawatan. Pasien mendapatkan perilaku yang berbeda dari setiap
perawat, hal tersebut dipengaruhi oleh tipe empati yang dimiliki setiap perawat. Pembentukan
diri perawat terkait empati merupakan salah satu hal yang mempengaruhi tindakan perawat
kepada orang lain.

Pembentukan kemampuan empati tersebut dipengaruhi oleh pengalaman klinik, jenis


kelamin, pola asuh dari keluarga, lamanya pendidikan, status ekonomi dan kondisi emosional
seseorang (Hidayah, Martina & Mariyono, 2013). Dampak bagi mahasiswa keperawatan yang
memiliki empati rendah, nantinya di dunia kerja khususnya rumah sakit tidak menutup
kemungkinan dapat menurunkan mutu pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan pasien.
Kualitas pelayanan keperawatan tidak hanya ditentukan oleh ketepatan perawat dalam
memberikan pelayanan, tetapi yang utama yaitu perawat dapat membina hubungan komunikasi
dengan pasien dalam memberikan pelayanan keperawatan demi kesembuhan pasien
(Akhmawardani, Sukesi & Kusuma, 2013).

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Garcia et. al (2013) menyatakan bahwa
pelatihan ketrampilan empati dapat meningkatkan kepuasan pasien yang lebih tinggi karena
pasien mendapatkan informasi yang lebih dari tenaga medis karena tenaga medis tersebut telah
mengikuti pelatihan empati sehingga meningkatkan kemampuan komunikasinya. Empati
menurut Davis (dalam Taufik, 2012) adalah kemampuan atau kondisi mental seseorang untuk
dapat menyadari kemudian memahami hal yang dirasakan orang lain melalui bahasa verbal
maupun nonverbal yang meliputi kapasitas afektif untuk merasakan perasaan orang lain serta
kapasitas kognitif unuk memahami sudut pandang orang lain.

Pendekatan-pendekatan menurut Davis, empati terdiri atas beberapa dimensi.


Pertama, terdapat kemampuan kognitif untuk mengambil perspektif orang lain. Kedua, terdapat
kecenderungan untuk memperhatikan orang lain yang menunjukkan empati emosional.
Pemahaman kognitif berbeda dengan reaksi emosional, kemudian keduanya akan menghasilkan
personal distress atau empathic concern (sympathy).

Personal distress memiliki arti negatif yaitu reaksi terhadap kondisi penderitaan orang
lain yang berorientasi pada diri sendiri, sehingga memberikan motivasi individu yang
bersangkutan untuk menghindari emosi negatif. Sedangkan empathic concern atau simpati
merupakan orientasi emosi yang berbeda, dimana seseorang merasa perhatian dan
berkeinginan untuk meringankan penderitaan orang lain.

Adapun manfaat empati itu sendiri yaitu menumbuhkan rasa rasa kepedulian dan rasa
iba yang kemudian memunculkan perilaku menolong. Brigham (dalam Dayakisni & Hudaniah,
2003) berpendapat bahwa perilaku menolong mempunyai tujuan untuk mendukung
kepentingan dan kesejahteraan orang lain. Oleh karena itu sangat penting untuk seorang
mahasiswa keperawatan memiliki empati yang 4 tinggi agar nantinya dapat menjalankan
pekerjaannya selain dengan penuh tanggung jawab namun juga dapat melakukan interaksi yang
positif dengan pasien, keluarga pasien maupun anggota kesehatan lainnya.

Empati yang dimiliki oleh perawat erat kaitannya dengan perkembangan kesehatan
pasien. Sakit fisik menimbulkan gangguan emosional pada pasien sehingga perawat diharuskan
memiliki kemampuan komunikasi yang baik, ikut merasakan suasana hati serta mampu melihat
permasalahan dari sudut pandang pasien tersebut. Oleh karena itu tenaga kesehatan khususnya
perawat harus peka dengan kondisi pasien , tidak hanya menangani kondisi fisik akan tetapi
kondisi psikisnya juga.

Faktor yang menjadi penyebab seorang perawat kehilangan rasa empati dalam merawat
pasien antara lain seperti yang diungkapkan oleh Umniyah & Tina (2009) menyatakan bahwa
kondisi pekerjaan yang penuh tekanan akan menyebabkan perhatian seorang perawat kepada
pasiennya menjadi berkurang atau mengalami penurunan, selanjutnya perawat tidak menyadari
tentang kebutuhan para pasien dan terjerat pada interaksi perawat-pasien yang bersifat rutin.
Penelitian yang dilakukan oleh Kahriman et. al (2016) didapatkan hasil bahwa kemampuan
empati dapat ditingkatkan melalui empathy training dan terbukti perawat dapat memahami
perasaan pasien, mampu menjalin hubungan interpersonal yang lebih positif dan meningkatkan
kepuasan pasien. Training sesuai untuk meningkatkan empati pada mahasiswa keperawatan
karena pelatihan merupakan rangkaian kegiatan dimana mahasiswa keperawatan tersebut
memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang berkaitan
tentang proses keperawatan dengan menerapkan empati kepada pasiennya.

BAB 3

PENUTUP

Kesimpulan
1. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

2.Kesakitan adalah keadaan dimana seseorang menderita penyakit menahun(krisis) atau


ngangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu.

3.Prilaku(manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar