Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI
“LAPORAN STUDI LAPANG EKOLOGI DI TAMAN NASIONAL, BALURAN,
SITUBONDO, JAWA TIMUR”

Oleh Kelompok 1 :
Aditya Rico Armydani 170210103012
Ina Zusdiana 170210103010
Ajeng Purwaningtyas 170210103017
Nur Lailin Najah 170210103024
Alivinda Aulia Safira Musyarofah 170210103031
Afridatul Rofi’ah 170210103043

Kelas A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii


BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3
BAB III. METODE PENELITIAN......................................................................... 7
3.1 Tempat dan Waktu Pengamatan ............................................................... 7
3.2 Alat dan Bahan Pengamatan ..................................................................... 7
3.3 Prosedur Kerja .......................................................................................... 8
3.4 Desain Percobaan ..................................................................................... 9
BAB IV. HASIL PENGAMATAN....................................................................... 12
4.1 Faktor abiotik dan jumlah vegetasi yang telah diamati .......................... 12
4.2 Penentuan Luas penutupan menggunakan excel pada setiap vegetasi
yang di dapat........................................................................................... 16
BAB V. PEMBAHASAN ..................................................................................... 18
BAB VI. PENUTUP ............................................................................................. 28
6.1 Kesimpulan ............................................................................................. 28
6.2 Saran ....................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 30
LAMPIRAN .......................................................................................................... 31

ii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kawasan Taman Nasional Baluran secara astronomis terletak di
antara 7°45’-7°56’ LS dan 113°59’-114°28’ BT atau secara geografis terletak di
Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur dengan
batas-batas wilayah sebelah utara Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah
selatan Sungai Bajulmati, Desa Wonorejo dan sebelah barat Sungai Klokoran,
Desa Sumberanyar. Berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 279/ Kpts.-VI/ 1997
tanggal 23 Mei 1997 kawasan TN Baluran ditetapkan memiliki luas sebesar
25.000 Ha. Sesuai dengan peruntukkannya luas kawasan tersebut dibagi menjadi
beberapa zona berdasarkan SK. Dirjen PKA No. 187/ Kpts./ DJ-V/1999 tanggal
13 Desember 1999 yang terdiri darI zona inti seluas 12.000 Ha, zona rimba seluas
5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha), zona pemanfaatan intensif
dengan luas 800 Ha, zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan zona
rehabilitasi seluas 783 Ha.
Taman Baluran Situbondo memiliki ekosistem yang lengkap dibandingkan
daerah lain. Taman Nasional Baluran memiliki ekosistem hutan yang terdiri dari
tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan evergreen, hutan musim, hutan
pantai, dan hutan ekoton. Masing masing tipe ekoistem memiliki karakter biotik,
abiotik dan jenis vegetasi yang berbeda beda. Taman Nasional Baluran sebagai
satu-satunya kawasan konservasi (salah satu 5 taman nasional tertua di Indonesia)
yang memiliki savana terluas di Pulau Jawa (sebagai replika savana di Afrika)
dengan banteng (Bos javanicus) sebagai maskot utamanya. Taman Nasional
Baluran memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan dan di antaranya merupakan
tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat
kering.
Taman Nasional Baluran memiliki 3 fungsi utama yaitu fungsi
perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa dan pemanfaatan secara lestari Sumber Daya Alam Hayati

1
2

(SDAH) beserta ekosistemnya, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,


ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,rekreasi dan
pariwisata. Maka dari itu tujuan pengelolaan kawasan Taman Nasional Baluran
adalah melestarikan SDAH dan ekosistemnya agar dapat memenuhi fungsinya
secara optimal.
Berdasarkan poteni SDA besar di Taman Nasional Baluran kami
mengadakan studi lapang di 6 ekosistem untuk penelitian dan menganalisis
vegetasi yang ada disana. Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara
mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi.
Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa
komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies
tumbuhan yang menempati suatu habitat. Analisis dilakukan dengan keharusan
pengetahuan terkait tinggi dan luas penutupan, kemudian menentukan kepadatan,
keanekaragaman, dan dominansi nya. Hasil data yang diperoleh bisa membantu
proses konservasi serta semakin tingginya kesadaran untuk selalu menjaga
ekosistem karena di dalamnya banyak flora dan fauna yang juga berperan penting
dalam kehidupan manusia.
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana karakter pada masing masing ekosistem (Ekosistem Pantai
, Ekosistem Ecotone, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim
Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di Taman Nasional Baluran?
1.2.2 Bagaimana vegetasi yang ada pada setiap ekosistem serta jenis
vegetasi apa yang mendominasi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui karakter pada masing masing ekosistem (Ekosistem
Pantai, Ekosistem Ecotone, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan
Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di Taman Nasional Baluran.
1.3.2 Mampu menganalisis vegetasi pada setiap ekosistem dan mengetahui
jenis vegetasi yang mendominasi.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekositem adalah suatu satuan lingkungan yang melibatkan komponen


biotik dan abiotik yang slaing berinteraksi satu sama lainnya dan membentuk
suatu kesatuan yang utuh. Hutan adalah hamparan lahan yang ditumbuhi
pepohonan termasuk di dalamnya satwa dan sumber daya hayati lainnya yang
membentuk ekosistem khas. Jadi, apabila terjadi gangguan terhadap interaksi
antara komponen penyusun ekosistem hutan tersebut itulah tdana mulai terjadi
kerusakan ekosistem. Kerusakan ekosistem hutan adalah kondisi apabila
terjadinya ketidakseimbangan interaksi antara komponen penyusun ekosistem
hutan tersebut. Berkurangnya luas tutupan vegetasi adalah salah satu bentuk atau
tdana dari kerusakan ekosistem hutan (Latumahina et al., 2009: 28-32).
Vegetasi adalah tumbuhan yang terdapat pada kawasan tertentu. Biasanya,
dalam masyarakat tumbuhan tersebut terdiri dari beberapa jenis yang hidup
bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut,
terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu
sendiri maupun dengan organisme lainnya, sehingga merupakan suatu sistem yang
hidup dan tumbuh serta dinamis. Oleh sebab itu, kehadiran vegetasi pada suatu
areal akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala
yang lebih luas. Sebaliknya, ketidakhadiran vegetasi akan berdampak pada
ketidakseimbangan ekosistem sehingga dapat dijadikan sebagai gambaran dari
terjadinya kerusakan ekosistem, tak kecuali pada ekosistem hutan (Latumahina et
al., 2009: 28-32).
Hutan adalah habitat satwa liar yang menjadi tempat hidup dan tempat
untuk berkembangbiak dan melakukan aktivitas lainnya dan di dalam hutan ini
dapat ditemukan beragam jenis kehidupan. Sumber pakan yang sebagian besar
terdiri dari jenis-jenis tumbuhan adalah sumber energi bagi pertumbuhan populasi
dari jenis-jenis satwa liar, selain itu adanya interaksi (persaingan) antar individu
dalam jenis dan jenis dengan jenis maupun antara populasi turut menentukan
adanya dinamika populasi dari masing-masing jenis yanga da. Hubungan atau
interaksi antar jenis ataupun sesama jenis dan keterkaitannya dengan lingkungan

3
4

sekitarnya di dalam ekosistem hutan adalah sangat kompleks dan menentukan


kompleksitas komunitas. Saling ketergantungan antar banyak jenis, khususnya
antara kelompok hewan dan tumbuhan adalah sudah banyak diketahui orang.
Vegetasi adalah produsen primer yang dapat menyediakan makanan bagi dirinya
sendiri dan bagi banyak makhluk hidup lainnya yang tidak dapat hidup tanpa
adanya vegetasi (Sumaryono et al., 2017: 73).
Mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam
lingkungan hidup. Oleh adanya pengaruh laut dan daratan, di kawasan mangrove
terjadi interaksi kompleks antara sifat fisika dan sifat biologi. Karena sifat
fisiknya, mangrove mampu berperan sebagai penahan ombak serta penahan
instrusi dan abrasi air laut. Proses dekomposisi serasah bakau yang terjadi mampu
menunjang kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Keunikan lainnya adalah
fungsi serbaguna hutan mangrove sebagai sumber penghasilan masyarakat desa di
daerah pesisir, tempat ebrkembangnya biota laut tertentu dan flora-fauna pesisir
serta dapat dikembangkan sebagai wanawisata untuk kepentingan pendidikan dan
penelitian. Hutan mangrove dikenal dengan istilah payau karena sifat habitatnya
yang payau. Berdasarkan dominasi jenis pohonnya yaitu bakau maka kawasan
mangrove disebut sebagai hutan bakau. Kata mangrove merupakan kombinasi dari
kata mangue yang berarti tumbuhan dalam bahasa Portugis dan grove (bahasa
Inggris) artinya belukar atau hutan kecil. Hutan mangrove tumbuh hampir di
seluruh provinsi di Indonesia dengan luas kawasan yang berbeda secara spesifik
(Arief, 2003: 13).
Fungsi fisik kawasan mangrove adalah menjaga garis pantai agar tetap
stabil, melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi, serta
menahan atau menyerap tiupan angin kencang drai laut ke darat, menahan
sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru, dan sebagai kawasan
penyangga proses instrusi atau rembesan air laut ke darat atau sebagai filter air
asin menjadi tawar. Fungsi kimia kawasan mangrove adalah sebagai tempat
terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen, sebagai penyerap
karbondioksida, sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri
dan kapal-kapal di lautan. Fungsi biologis kawasan mangrove adalah sebagai
5

penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi


invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan, sebagai kawasan pemijah bagi ikan
kecil, kepiting, kerang dan lain sebagainya, sebagai kawasan untuk berlindung,
bersarang, serta berkembang biak bagi burung dan satwa lain, sebagai sumber
plasma nutfah dan sumer genetika serta sebagai habitat alami bagi berbagai jenis
biota darat dan laut lainnya (Arief, 2003: 9-12).
Savana merupakan campuran padang rumput dan pohon-pohon yang
kurang kerapatannya dan iklimnya sangat kering. Hutan savana adalah hutan yang
berupa padang rumput dalam hamparan yang sangat luas (Latumahina et al., 2009
: 26). Pada areal hutan savana didominasi vegetasi penutup lantai hutan dan tidak
dijumpai vegetasi berkayu walaupun ada sangat sedikit. Tipe jenis hutan ini
sangat rentan terhadap perubahan kondisi habitat apabila dilakukan pemanfaatan
di wilayah ini sehingga perlu mendapat perhatian secara baik dalam pengelolaan
kawasan hutan ini di masa mendatang (Sumaryono et al., 2017: 72).
Kehadiran ekosistem hutan bakau diatur oleh salinitas, substrat lumpur dan
tinggi muka air. Tipe ekosistem hutan bakau frine terletak di sepanjang pantai,
sering dihantam gelombang dan siklus hara yang terbatas, maka memerlukan
adaptasi yang baik. Bentuk adaptasi dapat morfologi dan fisiologi seperti
emmbentuk sistem akar napas dan akar lutut. Ekosistem hutan ekoton merupakan
ekosistem antara ekosistem hutan bakau dan ekosistem hutan sabana. Ekosistem
hutan sabana adalah tipe ekosistem yang ditemukan di zona tropical summer-rain.
Eksositem ini merupakan padang rumput yang dikelilingi oleh pohon berkayu.
Kehadiran ekosistem ini didukung oelh iklim yaitu temperatur dan curah hujan
yang sedikit. Iklim mempengaruhi kondisi tanah terutama di bentang alam karst
(Blengur et al., 2017). Hutan bakau adalah hutan pasang surut yang ada di pasang
surut zona pantai, pasang surut muara, laguna, dan rawa lumpur baik tropis
maupun subtropis di dunia. Ekosistem mangrove mendukung mendukung
berbagai sumber daya kehidupan, melindungi daerah pesisir. Ekosistem ini unik
karena dinamika ekologis dan secara rutin terendam air dengan salinitas rendah,
sedang, tinggi. Hutan mangrove cenderung salinitas tinggi. Ekosistem ini terletak
6

diantara lingkungan darat dan laut dan memiliki kelompok mikroorganisme yang
kaya dan beragam (Sengupta et al., 2015).
Hutan evergreen sebagai paru-paru dunia berperan dalam menjaga
kelestarian lingkungan maupun kebutuhan oksigen manusia. Sebagai fungsi
kelestarian lingkungan, hutan evergreen berperan dalam berbagai hal diantaranya
penyerap dan penyaring kadar karbondioksida, penyedia sumber air, penghasil
oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, penyeimbang lingkungan dan
mencegah terjadinya pemanasan global (Rani et al., 2019).
Biologi Konservasi merupakan area penelitian yang dikembangkan oleh
gerakan taman nasional yang didalamnya berfungsi untuk konservasi satwa liar.
Konservasi berfokus pada perlindungan tanah (taman nasional) atau spesial
individu yang memiliki nilai ikonik. Konservasi bertujuan agar ekosistem,
keanekaragaman habitat dan spesies tetap dipertahankan (Harvey et al., 2017).
Keanekaragaman hayati (keanekaragaman taksonomi, fungsional dan filogenik)
merupakan bagian dari ekosistem atau fungsi ekosistem. Ekosistem didalamnya
terdapat produksi primer, dekomposisi, siklus nutrisi, dan interaksi topik.
Ekosistem didalamya juga terdapat pengaturan iklim, pengendalian hama serta
penyerbukan (Mori et al., 2017).
BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Pengamatan


3.1.1 Waktu : Sabtu, 02 November 2019.
3.1.2 Tempat Pelaksanaan : Taman Nasional Baluran Kabupaten
Sitobondo

3.2 Alat dan Bahan Pengamatan


3.2.1 Alat
− Soil tester, termohigrometer
− Kompas, luxmeter, anemometer
− Alat tulis dan penggaris
− Milimeter block, kertas HVS
− Pasak 50 cm 6 buah, pasak 30 cm, 15 buah dan tali tambang 250
meter
− Buku kunci identifikasi
− Kamera digital
− Plastik kecil dan kertas label
3.2.2 Bahan
− Vegetasi yang berada di ekosistem Evergreen Taman Nasional
Baluran Kabupaten Situbondo
− Vegetasi yang berada di ekosistem Hutan Musim Taman Nasional
Baluran Kabupaten Situbondo
− Vegetasi yang berada di ekosistem Hutan Pantai Taman Nasional
Baluran Kabupaten Situbondo
− Vegetasi yang berada di ekosistem Hutan Mangrove Taman
Nasional Baluran Kabupaten Situbondo
− Vegetasi yang berada di ekosistem Hutan Ekoton Taman Nasional
Baluran Kabupaten Situbondo

7
8

− Vegetasi yang berada di ekosistem Hutan Savana Taman Nasional


Baluran Kabupaten Situbondo

3.3 Prosedur Kerja


Pengamatan 1 (Hutan Evergreen dan Hutan musim)

Memasuki kawasan hutan 10 meter dari jalan utama (disesuaikan


dengan kondisi hutan dan musim)

Membuat plot dengan ukuran 25 x 25 meter menggunakan tambang yang


telah dipersiapkan

Mencatat semua jenis tumbuhan dan banyaknya individu masing –


masing jenis yang terdapat dalam plot tersebut

Mengukur faktor abiotik yang meliputi suhu, kelembapan, intensitas


cahaya, Ph tanah dan mengamati tekstur tanahnya, struktur tanah dan
ketebalan serasah.

Mendeskripsikan dan mengidentifikasi tumbuhan yang terdapat dalam


petak pengamatan, mencatat karakteristik tipe ekosistem yang akan
diamati.

Memberikan sampel dari tumbuhan yang dominan dan dimasukkan ke


dalam kantong plastik, kemudian memberi pula label pada masing –
masing kantong plastik dengan tujuan membuat herbarium, serta
menggambar profil hutan yang meliputi horizontal dan vertikal di
milimeter blok.
9

Pengamatan 2 (Hutan Pantai)

Mencatat semua nama jenis tumbuhan yang diobservasikan lalu


melakukan proses identifikasi

Mengukur faktor abiotik yang meliputi suhu, kelembapan, intensitas


cahaya, Ph tanah dan mengamati tekstur tanah, struktur tanah dan
ketebalan serasah, mencatat karakteristik tipe ekosistem yang diamati.

Mengambil sampel dari tumbuhan yang dominan dan memasukkan


kedalam kantong plastik, dan memberi pula label pada masing – masing
kantong plastik dengan tujuan membuat herbarium.

3.4 Desain Percobaan

Memasuki kawasan hutan 10m dari jalan, membuat plot dengan ukuran 25m x
25m menggunakan tambang(melakukan pada semua ekosistem yang akan diamati
sesuai arahan asisten
10

Mencatat dan menghitung jumlah vegetasi yang ditemukan pada setiap ekosistem,
kemudian mempotret sebagai bukti adanya vegetasi tersebut(mengambil sampel
dari setiap vegetasi yang telah ditemukan)

Mengukur ht(tinggi tanaman) dan LA(luas penutupan kanopi) menggunakan


analisis tinggi badan teman dan memperkirakan berapa kali tinggi badan terhadap
tinggi tanaman. Mengukur luas penutupan dengan menggunakan meteran
11

Mengukur faktor abiotik meliputi suhu, kelembaban, intensitas cahaya, pH tanah,


ketebalan seresah, dan struktur tanah

Mendeskripsikan dan mengidentifikasi tumbuhan yang terdapat pada setiap


ekosistem dan mencatat karakteristik ekosistem yang diamati. Menggambar pula
pada mm blok secara horizontal dan vertikal
BAB IV. HASIL PENGAMATAN

4.1 Faktor abiotik dan jumlah vegetasi yang telah diamati


4.2.1 Hutan Evergreen

Kelompok Abiotik
No dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T

10.000 1,4 7,5


1. 350C 65% 6,8 7 m/s Kering
Cd % cm
Kelompok 1
11.050
2. dan 07.00- 350C 64% 6,9 1% 5 m/s 9 cm Kering
Cd
07.50 WIB
11.750 1,4
3. 350C 64% 6,9 7 m/s 8 cm Kering
Cd %

Tabel 1. Faktor abiotik hutan evergreen

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Raudia 2

2. Kendal 3

3. Timoho 6

4. Serut 8

5. Liana 5

6. Gebang 2

7. Pepohon 5

8. Manting 1

9. Duri 1

Tabel 2. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada hutan Evergreen

12
13

4.2.2 Hutan Musim

Kelompok Abiotik
No. dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T

65.000 45 1,5
1. 440C 32% 7 1% Kering
Cd m/s cm
Kelompok 1
21.200 50 0,5
2. dan 08.00- 420C 32% 6,9 1% Kering
Cd m/s cm
08.30 WIB
35.400 40
3. 340C 40% 6,9 1% 3 cm Kering
Cd m/s

Tabel 3. Faktor abiotik hutan musim

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Dadap 1

2. Kendal 10

3. Citrus sp. 18

Tabel 4. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada hutan musim

4.2.3 Hutan pantai

Kelompok Abiotik
No. dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T

64.000 57
1. Kelompok 1 340C 62% 7 1% 1 cm Lempung
Cd m/s
dan 13.15-
13.45 WIB 15.000 52
2. 340C 61% 7 1% 1 cm Lempung
Cd m/s
14

97.200 86
3. 340C 63% 7 1% 1 cm Lempung
Cd m/s

Tabel 5. Faktor abiotik hutan pantai

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Manting 11

Tabel 6. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada hutan pantai

4.2.4 Hutan mangrove

Kelompok Abiotik
No. dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T

22.000 17
1. 350C 58% 5,5 7% - Pasir
Cd m/s
Kelompok 1
23.400 34
2. dan 10.00- 340C 58% 4 7% - Pasir
Cd m/s
10.30 WIB
19.600 70
3. 340C 60% 5,5 8% - Pasir
Cd m/s

Tabel 7. Faktor abiotik hutan mangrove

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Mangrove 30

Tabel 8. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada hutan mangrove

4.2.5 Hutan ekoton

Kelompok Abiotik
No. dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T
15

30.900 100 55 7,5


1. 350C 60% 5,8 Pasir
Cd % m/s cm
Kelompok 1
30.400 100 60
2. dan 11.30- 350C 60% 4,8 7 cm Pasir
Cd % m/s
12.30 WIB
25.800 100 58
3. 350C 60% 4,2 7 cm Pasir
Cd % m/s

Tabel 9. Faktor abiotik hutan ekoton

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Gebang 25

Tabel 10. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada hutan ekoton

4.2.6 Savana

Kelompok Abiotik
No. dan waktu pH
pengamatan S KU IC KT KA KS TT
T

63.600 60 Kering
1. 430C 39% 7 1% 4 cm
Cd m/s pecah
Kelompok 1
62.600 83 5,5 Kering
2. dan 09.00- 440C 38% 7 1%
Cd m/s cm pecah
09.30 WIB
64.900 75 3,5 Kering
3. 440C 37% 7 1%
Cd m/s cm pecah

Tabel 11. Faktor abiotik savana

No. Nama Tumbuhan Jumlah

1. Bidara 1

2. Asem 3

3. Mimba 2
16

Tabel 12. Jumlah Vegetasi yang ditemukan pada savana

4.2 Penentuan Luas penutupan menggunakan excel pada setiap vegetasi yang
di dapat
17
BAB V. PEMBAHASAN

Acara studi lapang di Taman Nasional Baluran kali ini mengenai


pengamatan terhadap berbagai macam ekosistem yang ada di Taman Nasional
Baluran. Beberapa diantaranya ekosistem hutan evergreen, hutan musim, hutan
pantai, ekoton, hutan mangrove, dan savana. Taman Nasional Baluran ini terdapat
6 jenis ekosistem sekaligus di suatu area yang sangat berdekatan.
Keanekaragaman tipe ekosistem yang ada dalam kawasan Taman Nasional
Baluran cukup beragam mulai dari ekosistem hutan musim dataran tinggi, hutan
musim dataran rendah, savana, hutan ekoton, mangrove, hutan pantai maupun
terumbu karang. Penyebab utama mampu terbentuknya banyak ekosisem dalam
suatu daerah yang berdekatan di Taman Nasional Baluran ini adalah karena
adanya perbedaan intensitas ketersediaan air pada masing-masing ekosistem
sehingga daya serap air yang juga disebabkan perbedaan jenis konstruk tanah juga
berbeda. Kelembaban tanah juga menjadi faktor utama indikator perbedaan
intensitas ketersediaan air pada masing-masing ekosistem yang menyebabkan
perbedaan kadar air yang diserap.
Secara ekologi, perbedaan jenis tanah dapat mempengaruhi sifat
penyerapan air pada masing-masing ekosistem, hal ini berkaitan dengan adanya
gunung Baluran yang kini sudah berstatus tidak aktif. Gunung Baluran terletak di
tengah-tengah Taman Nasional Baluran. Bagian tengah pegunungan terbagi-bagi
membentuk kaldera yang dalam dengan cerukan kawah yang memadat di
dasarnya. Di sisi timur kawah terdapat daerah terbuka yang dalam dimana sungai
kacip keluar dari gunung pada ketinggian 150 mdpl. Lereng gunung ditumbuhi
hutan musim. Kebanyakan daerah yang lebih rendah adalah dataran dan sedikit
bergelombang. Sekitar gunung Baluran daerah rendah yang sedikit bergelombang
diliputi padang savana dengan diselingi pepohonan, dan sedikit daerah yang
ditumbuhi semak serta tanaman merambat. Sementara daerah pantai terdapat
daerah karang terjal. Meskipun gunung ini sudah tidak aktif, namun sejarah
meletusnya gunung ini jelas dapat menimbulkan perbedaan jenis tanah pada
daerah yang pernah menjadi dampak letusanya. Hal ini jelas sekali sangat
dipengaruhi oleh faktor ekologis juga, dimana daerah yang dekat dengan pantai

18
19

maka akan terkena dampak perbedaan jenis tanahnya juga, yang juga akan
mempengaruhi kadar air yang diserap oleh tanah. Faktor ekologi selain
kelembaban tanah yang dapat menyebabkan perbedaan kemampuan vegetasi
untuk tumbuh adalah suhu, kelembaban, intensitas cahaya, tekstur tanah, struktur
tanah, ketebalan serasah, pH tanah, dan kecepatan angin.
Secara geologi Taman Nasional Baluran memiliki dua jenis golongan
tanah, yaitu tanah pegunungan yang terdiri dari jenis tanah aluvial dan tanah
vulkanik, serta tanah dasar laut yang terbatas hanya pada dataran pasir sepanjang
pantai daerah-daerah hutan mangrove. Keadaan tanahnya terdiri dari beberapa
jenis yang kaya akan mineral tetapi miskin akan bahan-bahan organik, dan
mempunyai kesuburan kimia yang tinggi tetapi kondisi fisiknya kurang baik
karena sebagian besar berpori-pori dan tidak dapat menyimpan air dengan baik.
Tanah yang berwarna hitam yang meliputi luas kira-kira setengah dari luas
daratan rendah, ditumbuhi rumput savana.
Daerah ini merupakan daerah yang sangat subur, serta membantu
keanekaragaman kekayaan makanan bagi jenis satwa pemakan rumput. Akan
tetapi, tanah ini mempunyai ciri khas, yaitu mudah longsor dan sangat berlumpur
pada musim hujan, sebaliknya bila musim kemarau permukaan tanahnya pecah-
pecah dengan sedalam ± 80 cm dan lebar ± 15 cm. Tanah-tanah di Taman
Nasional Baluran mempunyai kedalaman efektif yang cukup bervariasi, yaitu 60-
90 cm, bahkan lebih pada tanah-tanah datar (savana, semak belukar) dan pada
tempat yang tinggi mempunyai kedalaman efektif lebih kecil dari 60 cm.
Sedangkan tekstur penyusun tanah pada seluruh areal berupa lempung (sedang).
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan Taman Nasional
Baluran beriklim kering tipe F dengan temperatur berkisar antara 27,2 oC-30,9oC,
kelembaban udara 77 %, kecepatan angin 7 nots dan arah angin sangat
dipengaruhi oleh arus angin tenggara yang kuat. Musim hujan pada bulan
November-April, sedangkan musim kemarau pada bulan April-Oktober dengan
curah hujan tertinggi pada bulan Desember-Januari. Namun secara faktual,
perkiraan tersebut sering berubah sesuai dengan kondisi global yang
mempengaruhi. Taman Nasional Baluran memang memiliki iklim kering dengan
20

arus angin sangat kuat dari arah tenggara. Bila kemarau tiba, padang rumput
seluas 10 ribu hektare terlihat gersang. Sumber air pun sulit dicari. Kalaupun ada
bakal menjadi pusat persinggahan kawanan satwa untuk melepas dahaga. Namun
kondisi itu akan berubah ketika musim penghujan datang. Kehidupan flora dan
fauna di sana pun kembali bergairah. Seiring dengan itu, rumput yang selama ini
menjadi sumber makanan utama binatang herbivora mulai tumbuh subur di setiap
sudut sabana tersebut.
Musim hujan, tanah yang hitam sedikit sekali dapat ditembus air dan air
mengalir di permukaan tanah, membentuk banyak kubangan (terutama di sebelah
selatan daerah yang menghubungkan Talpat dengan Bama). Pada musim kemarau
air tanah di permukaan tanah menjadi sangat terbatas dan persediaan air pada
beberapa mata air tersebut menjadi berkurang. Lereng-lereng gunung dibelah oleh
lembah yang dalam dibagian gunung yang tinggi dan diikuti jurang-jurang berbatu
di bagian yang rendah. Jurang-jurang ini di musim penghujan akan menampung
air, dan menjadi kering di musim kemarau.
Taman Nasional Baluran mempunyai tata air radial, terdapat sungai-sungai
besar termasuk sungai Kacip yang mengalir dari kawah menuju Pantai Labuhan
Merak, Sungai Klokoran dan Sungai Bajulmati yang menjadi batas Taman
Nasional Baluran di bagian Barat dan Selatan. Banyak dasar sungai yang berisi air
selama musim penghujan yang pendek, akan tetapi banyak air yang meresap
melalui abu vulkanik yang berpori-pori sampai mencapai lapisan lava yang keras
di bawah tanah dan keluar lagi pada permukaan tanah sebagai mata air -mata air
pada sumber air di daerah pantai (Popongan, Kelor, Bama, Mesigit, Bilik, Gatal,
Semiang dan Kepuh), daerah kaki bukit (sumber air Talpat), pada daerah ujung
pantai (teluk Air Tawar) dan air laut (dekat Tanjung Sedano).
Tipe ekosistem yang ada di daerah Taman Nasional Baluran yaitu ada
ekosistem hutan evergreen, hutan musim, savana, hutan pantai, hutan mangrove
dan hutan ekoton. Tipe-tipe hutan tersebut memiliki ciri khas tertentu baik ditinjau
dari komponen biotik, abiotik dan keanekaragaman jenis tumbuhan penyusun
masing-masing tipe ekosistem. Hutan evergreen adalah hutan yang memiliki
karakteristik selalu hijau di sepanjang tahun. Hutan ini banyak dijumpai tumbuhan
21

berhabitus pohon dan perdu serta tingkat keanekaragaman yang tinggi


(heterogen). Tumbuhan yang tumbuh sangat rapat sehingga kawasan ini tampak
rimbun dan teduh.
Hutan musim merupakan jenis hutan yang rimbun pada waktu tertentu
saja. Hutan ini didominasi oleh satu atau beberapa jenis tumbuhan saja atau
homogen. Vegetasi pohon tidak terlalu rapat sehingga saat waktu tertentu tampak
gersang. Hal itu dikarenakan vegetasi tumbuhan tidak terlalu lebat dan serasah
yang menutupi permukaan tanah tidak terlalu tebal. Hutan pantai merupakan
hutan yang menyediakan air ketika musim kemarau. Ada tanaman mangrove
transisi dengan akar nafas untuk mensupply oksigen. Airnya dari ketinggian
mengalir sebelum masuk ke laut. Terdapat tumbuhan manting dan pepohonan,
trenggulung, gebang, dan kesambi. Ada instrusi mengalirnya air laut ke daratan.
Hutan bakau menjadi bioindikator terjadinya instrusi. Instrusi terjadi jika
cadangan air di daratan kadarnya sedikit sehingga kurang mendesak. Oleh karena
itu, betapa pentingnya vegetasi di daratan. Apabila terjadi instrusi menuju daratan
akan menyebabkan air laut yang bersalinitas tinggi bersifat korosif kebangunan.
Hutan mangrove adalah daerah transisi pantai dan daratan. Dominan
vegetasi mangrove utamanya bersimbiosis dengan rhizopora. Mangrove yang
bersimbiosis dengan rhizopora memiliki akar tunjang membentuk jalinan akar
yang mampu menahan nutrisi dan abrasi sehingga menjadi tempat berpijah ikan-
ikan dan dapat meningkatkan produktivitas pantai. Mangrove ini memiliki akar
yang kokoh strukturnya mangrove juga menyesuaikan kondisi lingkungan
berlumpur begitu pula bijinya yang mempunyai tangkai. Adaptif terhadap salinitas
sebagian tubuhnya tidak hidup di salinitas tinggi. Hal ini terjadi karena mangrove
memiliki mekanisme tersendiri dalam tubuhnya. Mangrove ada banyak jenis
selain yang bersimbiosis dengan rhizophora contohnya akar lutut mangrove.
Ekosistem hutan ekoton adalah ekosistem yang membatasi ekosistem
hutan pantai dan hutan musim. Tumbuhan dominannya gebang. Vegetasi tertentu
di tempat tertentu karena kondisi yang optimum vegetasi tersebut tumbuh.
Gebang satu masa hidup. Ekoton tersendiri yang membatasi hutan pantai dengan
hutan musim. Adanya keberagaman, wilayah dengan spesies berbeda mendanakan
22

daerah itu optimal bagi tumbuhan gebang misalnya daya dukung terhadap
herbivora yang aktif dengan struktur gebang termasuk rangkong yang tipikal
makanan besar yaitu biji keras misalnya gebang. Karakteristik batang semakin ke
dalam struktur kayunya semakin keropos, berbeda dengan kelapa yang struktur
bagian dalam tidak keropos. Siklus hidupnya satu kali, setelah berbunga dan
tubuh buah maka akan mati.
Savana merupakan eksoistem yang karakteristiknya didominasi oleh
rerumputan. Tumbuhan berhabitus pohon sangat jarang dan apabila ada jaraknya
renggang sehingga intensitas cahaya yang masuk tinggi. Keadaannya saat musim
kemarau menjadi gersang dan terik. Savana merupakan campuran padang rumput
dan pohon-pohon yang kurang kerapatannya dan iklimnya sangat kering. Hutan
savana adalah hutan yang berupa padang rumput dalam hamparan yang sangat
luas. Pada areal hutan savana didominasi vegetasi penutup lantai hutan dan tidak
dijumpai vegetasi berkayu walaupun ada sangat sedikit. Tipe jenis hutan ini
sangat rentan terhadap perubahan kondisi habitat apabila dilakukan pemanfaatan
di wilayah ini sehingga perlu mendapat perhatian secara baik dalam pengelolaan
kawasan hutan ini di masa mendatang.
Spesies-spesies tumbuhan yang ditemukan di ekosistem hutan evergreen
Taman Nasional Baluran yaitu Raudia sp., Kendal, Timoho, Serut, Liana,
Gebang, Pohpohan, dan Manting. Kendal merupakan tanaman semak dengan daun
berseling berbentuk lonjong hingga bulat telur dan berwarna hijau. Ujung daun
dan batang daun meruncing atau lancip hingga membulat dengan tepi agak
berombak. Bunga kendal berupa bunga majemuk yang terdapat di ketiak daun.
Warna bunga mulai putih kekuningan hingga hijau. Buahnya berbentuk bulat telur
berwarna putih kekuningan hingga orange dan menjadi berwarna merah muda
ketika matang. Buah kendal berukuran kecil dengan panjang sekitar 0,5-1,5 cm.
Kendal (Cordia dichotoma) tumbuh di bukit-bukit pantai, di pinggir hutan bakau,
juga di hutan terbuka, belukar dan savana.
Timoho berhabitus pohon dengan tinggi mencapai 20 meter. Batang
berwarna pucat kekuningan, daun bertangkai panjang berbentuk jantung lebar.
Daun tunggal berseling berbentuk bulat telur sampai berbentuk jantung. Daun-
23

daun bertangkai panjang, pada pangkalnya bertulang daun menjari. Perbungaan


malai terminal dengan lebar bunga ±5 mm berwarna merah jambu. Daun kelopak
memita melanset dan daun mahkota berwarna kuning. Buah berbentuk kapsul
berselaput membulat dan merekah pada rongganya. Masing-masing rongga berisi
biji 1-2 buah berwarna keputihan dan berkutil. Timoho berakar tunggang dan
berbanir. Batang berwarna pucat kekuningan dengan ranting berwarna abu – abu
kehijauan.
Pohon serut berukuran sedang dengan tinggai antara 4-15 meter. Kulit
batang putih keabu-abuan. Daun serut berbentuk bulat telur, lonjong, dengan
panjang antara 4 – 12 cm. Berwarna hijau dengan permukaan daun kasar, tepi
daun bergerigi, ujung daun runcing, pangkal daun meruncing, dan tulang daun
menyirip. Liana merupakan tumbuhan yang merambat, memanjat, atau
menggantung. Namun, akar dari tumbuhan Liana ini tetap berada di dalam tanah
sebagai sumber haranya. Liana biasanya bukan parasit namun ia dapat
melemahkan tumbuhan lain yang menjadi penyangganya dan berkompetisi
terhadap cahaya. Gebang berbatang tunggal dengan tinggi sekitar 15-20 m. Daun-
daun besar berbentuk kipas, bulat menjari dengan diameter 2-3,5 m, terkumpul di
ujung batang; bertangkai panjang hingga 7 m, lebar, beralur dalam serta berduri di
tepinya. Bekas-bekas pelepah daun pada batang membentuk pola spiral.
Popohan merupakan tanaman terna, tumbuh tegak dan tingginya dapat
mencapai 2 m. Daun Pohpohan berwarna hijau, daunnya lebar dan pinggirnya
bergerigi. Daunnya lunak dan baunya harum dan biasanya tumbuh di daerah
lembab. Manting merupakan pohon berukuran sedang, mencapai tinggi 30 m.
Kulit batang berwarna coklat abu-abu, memecah atau bersisik. Daun tunggal
terletak berhadapan, dengan tangkai hingga 12 mm. Helai daun berbentuk jorong-
lonjong, jorong sempit atau lanset, 5-16 x 2,5–7 cm, gundul, dengan 6-11 urat
daun sekunder, dan sejalur urat daun intramarginal tampak jelas dekat tepi
helaian, berbintik kelenjar minyak yang sangat halus.
Ciri-ciri tumbuhan yang biasanya tumbuh pada hutan musim yaitu pohon-
pohon yang tahan akan kekeringan dan tumbuhan yang mampu beradaptasi
terhadap keadaan kering pada musim kemarau dan keadaan basah pada musim
24

hujan yang biasa disebut dengan tumbuhan tropofit. Spesies-spesies tumbuhan


yang ditemukan di ekosistem hutan musim Taman Nasional Baluran yaitu Kendal,
Citrus sp. (Jeruk), dan Dadap. Kendal merupakan tanaman semak dengan daun
berseling berbentuk lonjong hingga bulat telur dan berwarna hijau. Ujung daun
dan batang daun meruncing atau lancip hingga membulat dengan tepi agak
berombak. Bunga kendal berupa bunga majemuk yang terdapat di ketiak daun.
Warna bunga mulai putih kekuningan hingga hijau. Buahnya berbentuk bulat telur
berwarna putih kekuningan hingga orange dan menjadi berwarna merah muda
ketika matang. Buah kendal berukuran kecil dengan panjang sekitar 0,5-1,5 cm.
Kendal (Cordia dichotoma) tumbuh di bukit-bukit pantai, di pinggir hutan bakau,
juga di hutan terbuka, belukar dan savana.
Daun tanaman Jeruk memiliki panjang antara 5cm hingga 15 cm. Dengan
bentuk oval dan pada ujung daun sedikit meruncing serta pada bagian pangkal
agak melingkar dan tumpul. Daun jeruk memiliki warna hijau tua dan terlihat
tebal. Pada permukaan daun jika dilihat sekilas tampak mengkilap seperti terlapisi
plastik. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan daun jeruk dilapisi oleh lilin
yang begitu padat dan mengdanung sedikit pektin. Ole karena itulah tumbuhan
Jeruk ini merupakan tumbuhan yang tetap hijau dibdaningkan dengan tumbuhan
lain karena mengdanung lapisan lilin dan pektin sehingga dapat mengurangi
penguapan. Tumbuhan jeruk memiliki batang berbentuk bulat dan terdapat mata
tunas. Teksturnya kasar, dan berduri.
Dadap merupakan pohon yang tigginya dapat mencapai 15–20 m. Bagian
kulit batang yang masih muda dan halus bergaris-garis vertikal hijau, abu-abu,
coklat muda atau keputihan, batang biasanya dengan duri-duri kecil (1–2 mm)
yang berwarna hitam. Tajuknya serupa payung atau membulat renggang, dan
menggugurkan daunnya di musim kemarau. Daunnya majemuk beranak daun tiga,
hijau hingga hijau muda, poros daun dengan tangkai panjang 10–40 cm. Anak
daun bundar telur terbalik, segitiga, hingga bentuk belah ketupat dengan ujung
tumpul; anak daun ujung yang terbesar ukurannya, 9-25 × 10–30 cm.
Spesies-spesies tumbuhan yang ditemukan di ekosistem hutan pantai
Taman Nasional Baluran yaitu Manting. Manting merupakan pohon berukuran
25

sedang, mencapai tinggi 30 m. Kulit batang berwarna coklat abu-abu, memecah


atau bersisik. Daun tunggal terletak berhadapan, dengan tangkai hingga 12 mm.
Helai daun berbentuk jorong-lonjong, jorong sempit atau lanset, 5-16 x 2,5–7 cm,
gundul, dengan 6-11 urat daun sekunder, dan sejalur urat daun intramarginal
tampak jelas dekat tepi helaian, berbintik kelenjar minyak yang sangat halus.
Spesies-spesies tumbuhan yang ditemukan di ekosistem hutan mangrove
Taman Nasional Baluran yaitu Mangrove. Akar tumbuhan mangrove tergolong
akar tunjang yang sangat efektif untuk menahan hempasan ombak untuk
meminimalisir terjadinya abrasi. Batangnya keras berkayu. Daun tunggal terletak
berhadapan terkumpul di ujung ranting dengan kuncup tertutup, dan daun
penumpu yang menggulung runcing. Hutan mangrove sebagai tempat fase
pemeliharaan berbagai jenis larva ikan hingga besar karena terdapat banyak
akumulasi bahan organik sebagai nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan
ikan tersebut.
Spesies-spesies tumbuhan yang ditemukan di ekosistem hutan ekoton
Taman Nasional Baluran didomnasi oleh tumbuhan gebang. Gebang berbatang
tunggal dengan tinggi sekitar 15-20 m. Daun-daun besar berbentuk kipas, bulat
menjari dengan diameter 2-3,5 m, terkumpul di ujung batang; bertangkai panjang
hingga 7 m, lebar, beralur dalam serta berduri di tepinya. Bekas-bekas pelepah
daun pada batang membentuk pola spiral. Tumbuhan gebang mengalami
perbungaan, di mana bunga tersebut akan berubah menjadi buah yang di
dalamnya terdapat biji. Biji tersebut akan jatuh ke permukaan tanah hingga
tumbuh individu baru. Tumbuhan gebang yang telah menjatuhkan bijinya tersebut
akan layu, pohonnya akan tumbang dan mengalami kematian.
Spesies-spesies tumbuhan yang ditemukan di ekosistem savana Taman
Nasional Baluran yaitu Bidara, Asam, dan Mimba. Bidara merupakan jenis
tanaman perdu yang tingginya bisa mencapai 15m. Pohon ini memiliki daun yang
lebat dan berwarna hijau. Daunnya berbentuk pasangan dimorfis, yang mana yang
kedua melengkung dan lebih pendek, terkadang tanpa duri. Daunnya juga tidak
berseling. Helai daunnya berbentuk bundar telur menjorong atau jorong lonjong.
Pohon Asam merupakan pohon besar dengan tinggi mencapai 30 m dan diameter
26

2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur


vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat. Daun
majemuk menyirip genap, panjang 5-13 cm, terletak berseling. Buah polong yang
menggelembung, hampir silindris, bengkok atau lurus, berbiji sampai 10 butir.
Mimba tergolong tumbuhan perdu atau terna yang tingi batangnya dapat mencapai
20 m. Kulit tebal, batang agak kasar, daun menyirip genap, dan berbentuk lonjong
dengan tepi bergerigi dan runcing, sedangkan buahnya merupakan buah batu
dengan panjang 1 cm. Buah mimba dihasilkan dalam satu sampai dua kali
setahun, berbentuk oval, bila masak daging buahnya berwarna kuning, biji
ditutupi kulit keras berwarna coklat dan didalamnya melekat kulit buah berwarna
putih. Batangnya agak bengkok dan pendek, oleh karena itu kayunya tidak
terdapat dalam ukuran besar.
Berdasarkan data, masing masing ekosistem memiliki jenis vegetasi tertentu
dan bersifat dominan. Pada hutan evergreen memiliki keanekaragaman yang
tinggi sehimngga dominansi vegetasi tidak terlalu signifikan tetapi tumbuhan
yang paling banyak ditemukan dalam plot adalah serut dengan frekuensi 8. Serut
paling suka habitat yang dekat perairan namun tidak basah. Serut bisa tumbuh ndi
hutan evergreen karena hutan ini terdapat genangan didasar hutan, kelembapan
udara tinggi, curah hujan tinggi dan cahaya matahari yang sedikit terhalang.
Sehingga untuk menangkapnya memiliki luas penutupan cukup lebar.
Hutan musim hanya memiliki 3 jenis vegetasi yaitu Kendal dengan
frekuensi 10, Citrus sp. dengan frekuensi 18 dan dadap dengan frekuensi 1. Paling
mendominasi adalah Citrus sp. karena pohonnya banyak yang menggugurkan
daun daunnya ketika musim kemarau datang yang berfungsi untuk mengurangi
proses transpirasi atau penguapan air melalui daun yang berlebih. Hutan musim
memiliki curah hujan rendah sehingga tumbuhan yang hidup di dalamnya akan
mengalami adaptasi morfologi. Tetapi pada tumbuhan Citrus sp. daunnya tetap
berwarna hijau karena akar tumbuhan jeruk menyebar dan panjang sehingga bisa
menyerap air lebih banyak, walaupoun begitu daunnya kecil sehingga stomata dan
kutikula juga sedikit sehingga bisa mengurangi transpirasi.
27

Hutan mangrove memiliki tumbuhan dominan yaitu mangrove dengan


frekuensi 30. Didominasi oleh tumbuhan mangrove atau tumbuhan bakau, yakni
tumbuhan yang mempunyai akar mencuat ke permukaan untuk bisa bertahan
hidup dari ganasnya gelombang laut yang menerpa dan mengambil oksigen di
udara.. Tumbuh di kawasan perairan payau, yakni perairan yang terdiri atas
campuran air tawar dan air asin. Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Keberadaannya terutama di daerah yang mengalami pelumpuran dan juga terjadi
akumulasi bahan organic. Karena hidup di daerah dengan salinitas tinggi maka
adaptasi dengan system perakaran tidak mampu ditembus oleh air garam,
sementara untuk garam yang sudah terserap di tubuh pohon akan diakumulasikan
di daun tua dan akan terbuang saat daun tersebut gugur.
Hutan pantai memiliki 1 jenis vegetasi dominan yaitu manting dengan
frekueni 11. Manting cocok hidup di habitat hutan pantai yang tidak terpengaruh
sama sekali oleh pergantian iklim, terletak di tanah kering yang berpasir dan
berbatu serta tepat di atas garis pasang yang tertinggi.
Hutan ekoton memiliki 1 jenis tanaman vegetasi yang paling dominan
adalah gebang dengan frekuensi 20. Palma ini tumbuh menyebar di dataran
rendah hingga ketinggian sekitar 300 m dpl. Gebang menyukai padang rumput
terbuka, aliran sungai, tepi rawa, dan kadang-kadang tumbuh pula di wilayah
berbukit. Di beberapa tempat yang cocok, biasanya tak jauh dari pantai, gebang
dapat tumbuh menggerombol membentuk sabuk hutan yang cukup luas. Hutan
ekoton merupakan zona eralihan antara hutan pantai dan hutan musim jadi sifat
keduanya tidak terlalu mendominasi dan optimum untuk gebang.
Savana memiliki 3 jenis vegetasi yaitu bidara dengan frekuensi 1, asam
dengan frekuensi 3 dan mimba dengan frekuensi 2. Tidak ada vegetasi yang
mendominasi secara signifikan namun tumbuhan yang tumbuh di savanna adalah
tumbuhan yang bisa hidup di daerah kering dan intensitas cahaya tinggi. Asam
menghasilkan benih lebih banyak jika hidup di tempat dengan periode kering
yang panjang. Tumbuhan bidara sangat menyukai cahaya matahari dan sangat
mudah beradaptasi. Mimba merupakan pohon yang tinggi sehingga bisa menahan
angina dan kemampuan adapatasi yang tinggi.
BAB VI. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
6.1.1 Taman Nasional Baluran ini terdapat 6 jenis ekosistem sekaligus di
suatu area yang sangat berdekatan. Ekosistem hutan evergreen, hutan
musim, hutan pantai, ekoton, hutan mangrove, dan savanna, dan
terumbu karang. Pengamatan yang kami amati hanya 5 ekosistem tanpa
ekosistem terumbu karang. Ekosistem hutan evergreen adalah
ekosistem yang memiliki ciri khas selalu hijau sepanjang tahun.
Ekosistem hutan musim adalah ekosistem hutan yang rimbun hanya
pada waktu tertentu saja. ekosistem hutan pantai merupakan ekosistem
yang menjadi pertemuan antara daratan dan perairan (laut). Hutan
mangrove merupakan daerah transisi antara pantai dan daratan.
Ekosistem ekoton adalah ekosistem yang membatasi ekosistem hutan
pantai dan hutan musim. Ekosistem savana merupakan ekosistem yang
dominan tumbuhannya adalah rumput.
6.1.2 Setiap ekosistem yang ada pada Taman Nasional Baluran memiliki
dominan vegetasi tertentu yang dapat membedakan antara ekosistem
satu dengan ekosistem lainnya. Ekosistem evergreen memiliki
keanekaragaman yang tinggi sehingga dominansi vegetasi tidak terlalu
signifikan tetapi tumbuhan yang paling banyak ditemui adalah serut
dengan frekuensi sebanyak 8 pohon. Ekosistem hutan musim ditemukan
3 jenis vegetasi yaitu; kendal, Citrus sp., dan dadap dengan vegetasi
dominan yang ditemukan adalah Citrus sp. sebanyak 18. Hutan
mangrove vegetasi dominan yang ditemui adalah mangrove dengan
frekuensi 20. Hutan pantai memiliki 1 jenis vegetasi dominan yaitu
manting dengan frekueni 11. Hutan ekoton memiliki 1 jenis tanaman
vegetasi yang paling dominan adalah gebang dengan frekuensi 20.
Savana memiliki 3 jenis vegetasi yaitu bidara dengan frekuensi 1, asam
dengan frekuensi 3 dan mimba dengan frekuensi 2. Tidak ada vegetasi
yang mendominasi secara signifikan namun tumbuhan yang tumbuh di

28
29

savanna adalah tumbuhan yang bisa hidup di daerah kering dan


intensitas cahaya tinggi. Frekuensi yang kami dapat berdasarkan
sampling yang kami lakukan dengan menggunakan metode plot sebesar
25m x 25m.
6.2 Saran
Studi lapang ekologi di Taman Nasional Baluran sudah terorganisir
dengan baik, baik dari segi persiapan maupun pelaksanaan. Sarannya untuk yang
ekosistem mangrove sebaiknya penjelasan tidak dilaksanakan sambil jalan. Hal
ini mengakibatkan penjelasan tidak berlangsung rata karena yang bisa
mendengarkan bagian yang paling depan, dan tengah sementara bagian belakang
kurang begitu jelas suaranya, walaupun penjelasan sudah dilakukan
menggunakan pengeras suara. Sebaikknya penjelasan lebih lanjut dapat
dilakukan secara melingkar setelah menyusuri hutan mangrove. Sehingga
penjelasan dapat tersampaikan ke keseluruhan praktikan.
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Arifin. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Yogyakarta:


Kanisius.
Blengur, W. A., T. S. Djohan, S. Ritohardoyo. 2017. Vegetasi habitat komodo
dalam bentang alam riung dan Pulau Ontoloe di Nusa Tenggara Timur.
Jurnal Majalah Geografi Indonesia. 31(1) : 95-111.
Harvey, E., I. Goundan, C. L. Ward, dan F. Altermatt. 2017. Bridging ecology dan
conservation from ecological networks to ecosystem function. Journal of
Applied Ecology. 54(1): 371-379.

Latumahina, F., G. Mardiatmoko, J. Sahusilawane. 2009. Respon Semut Terhadap


Kerusakan Ekosistem Hutan di Pulau Kecil. Bdanung: CV. Media
Akselerasi.
Mori, A. S., K. P. Lertzman, dan L. Gustafsson. 2017. Biodiversity dan ecosystem
services in forest ecosystems a research agenda for applied forest ecology.
Journal of Applied Ecology. 54(1): 12-27.

Rani, S., Murtafiah, N. Zakiyah, A. I. Benardi. 2019. Motif awan (model


partisipatif wisatawan) sebagai solusi konservasi hutan evergreen di
Taman Nasional Bali Barat. Jurnal Edu Geography. 7 (2): 188-198.
Segupta, S., A. Pramanik, A. Ghosh, dan M. Bhattacharyya. 2015. Antimicrobial
activities of actinomycetes isolated from unexplored regions of
Sundarbans mangrove ecosystem. Bio Med Central Microbiology.
15(170): 1-16.

Sumaryono, R., Angrianto, H. F. Z. Peday, Y. Y. Rahawarin. 2017. Potensi dan


Pengembangan Hutan Lindung Ayamaru. Yogyakarta: Deepublish.

30
LAMPIRAN

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

Hutan Musim
50
51

Hutan Evergreen
52
53

Hutan Pantai