Anda di halaman 1dari 18

PENCELUPAN KAIN T/C DENGAN ZAT WARNA DISPERSI-BEJANA METODA 2 BATH 2

STAGE CONITUE VARIASI NaCl dan SUHU THERMOSOL

1. MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN


1.1 Maksud
Menelup kain kain t/c dengan zat warna dispersi-bejana metoda 2 bath 2 stage conitue variasi
nacl dan suhu thermosol
1.2 Tujuan
Mendapatkan hasil celupan yang menghasilkan efek warna kontras, ketuaan warna baik,
ketahanan gosok dan cuci baik.

2. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Serat
2.1.1 Serat Kapas
Serat kapas merupakan serat alam dengan komposisi selulosa, pektin, zat-zat yang mengandung
protein, lilin dan abu. Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-
molekul glukosa.

Derajat polimerisasinya sekitar 10.000 dengan berat molekul 1.580.000. Selulosa mengandung
gugus hidroksil yaitu 1 gugus promer dan 2 gugus sekunder. Dalam hal morfologi serat penampang
membujur serat kapas berbentuk pipih seperti pita terpilin. Penampang melintangnya berbentuk
seperti ginjal yang terdiri dari : kutikula, dinding primer, lapisan antara, dinding sekunder dan lumen.
A. Sifat fisika serat kapas
- Warna serat kapas tidak betul-betul putih. Biasanya sedikit berwarna krem.
- Kekuatan serat / bundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon / inci persegi. Dalam keadaan basah,
kekuatannya akan bertambah.
- Mulurnya sekitar 4-13% dengan rata-rata 7%.
- Keliatan (toughness) adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk menerima
kerja.
- Kekakuan (stiffness) adalah daya tahan terhadap perubahan bentuk atau perbandingan kekuatan
saat putus dengan mulur saat putus.
- Moisture Regain serat kapas pada kondisi standar adalah 7-8,5%.
- Berat jenis serat kapas berkisar 1,50-1,56.
- Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat 1,58. Sedangkan yang tegak lurus adalah 1,53
B. Sifat kimia serat kapas
- Tahan kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal.

- Rusak oleh oksidator dan penghirolisa.

- Rusak cepat oleh asam kuat pekat dan rusak perlahan oleh asam encer.

- Sedikit terpengaruh oleh alkali, kecuali larutan alkali kuat yang menyebabkan penggelembungan
serat.

- Larut dalam kuproamonium hidroksida dan kuprietilen diamin.

- Mudah terserang jamur dan bakteri dalam keadaan lembab dan hangat.

2.1.2 Serat Poliester


Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki
keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling berdekatan, sehingga gaya
antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk struktur yang teratur. Serat ini dibuat dari
asam tereftalat dan etilena glikol.
Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah dioksidasi dengan udara menjadi etilena
oksida yang kemudian dihidrasi menjadi etilena glikol

Asam tereftalat dibuat dari para-xilena yang harus bebas dari isomer meta dan orto. P-xilena
merupakan bagian dari detilasi minyak tanah yang tidak dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto
dengan cara destilasi. Pemisahan dilakukan dengan cara kristalisasi, dimana P xilena membeku pada
suhu 13oC, M-xilena pada suhu 48OC dan O-xilena memebeku pada suhu 25OC. Oksidasi dengan
asam nitrat pada suhu 220OC dan tekanan 30 atmosfir merubah
P-xilena menjadi asam tereftalat.
Asam tereftalat atau esternya dan etilene glikol dipolimerisasikan dalam tempat hampa udara dan
suhu tinggi. Polimer disemprotkan dalam bentuk pita, kemudian dipotong-potong menjadi serpihan
dan dikeringkan.
Pemintalan dilakukan dengan cara pemintalan leleh, filament yang terjadi ditarik dalam keadaan
panas sampai lima kali panjang semula, kecuali filament kasar yang ditarik dalam keadaan dingin.
Untuk serat staple filamennya dibuat keriting kemudian dipotong-potong dalam panjang tertentu.
A. Sifat fisika serat polyester
 Berat jenis polyester adalah 1,38 g/cm3.
 Kekuatan tarik serat polyester sekitar 4.5 – 7.5 g/denier, sedangkan mulurnya berkisar antara 25
% sampai 75 %.
 Serat poliester berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.
 Pada kondisi standar, yaitu RH 65  2 % dan suhu 20 oC  1 % moisture regain serat
polyester hanya 0.4 % sedangkan RH 100 % moisture regainnya mencapai 0.6 % - 0.8 %
 Derajat kristalinitas adalah faktor penting untuk serat poliester, karena derajat kristalinitas serat
sangat berpengaruh pada serap zat warna ,mulur, kekuatan tarik, stabilitas dimensi serta sifat-
sifat lainya.
 Serat poliester tahan terhadap panas sampai pada suhu 220 oC, diatas suhu ini akan
mempengaruhi kekuatan, mulur, dan warnanya menjadi kekuningan. Suhu 230-240 oC
menyebabkan poliester melunak, suhu 260 oC menyebabkan poliester meleleh.
 Poliester memiliki sifat elastisitas yang baik dan ketahanan kusut yang baik.
B. Sifat kimia serat polyester
Poliesater tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan tahan asam kuat dingin.
Polieater tahan basa lemah tapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan zat oksidator, alkohol,
keton, sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering. Polieater larut dalam meta-kresol panas, asam
trifouroasetat-orto-clorofenol.
2.1.3 Serat campuran poliester-kapas
1. Tujuan dan sifat campuran poliester-kapas
Tujuan pencampuran serat poliester dan serat kapas adalah untuk mendapatkan kain yang
mempunyai sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan dengan kain yang hanya terbuat dari masing-
masing seratnya. Setiap serat memiliki kelebihan dan kekurangan rersendiri. Dengan pencampuran
kedua jenis serat tersebut maka sifat-sifat yang kurang baik dari salah satu jenis serat dapat
diimbangi dengan sifat-sifat yang baik dari serat lain.
Dengan adanya pencampuran tersebut diharapkan dapat mengurangi keburukan dari masing-
masing serat, walaupun disamping itu dapat juga mengurangi kebaikankebaikannya. Oleh karena itu
biasanya pencampuran tersebut dipilih cara pencampuran dengan komposisi dengan proporsional
sehingga dapat diperoleh hasil pencampuran sesuai dengan sifat-sifat yang di inginkan.
Komposisi serat campuran poliester kapas yang sering dijumpai adalah sebagai berikut :
1. 85% Poliester dan 15% Kapas
2. 65% Poliester dan 35% Kapas
3. 50% Poliester dan 50% Kapas
Ditinjau dari segi kepentingan konsumen tujuan pencampuran adalah untuk mendapatkan sifat-sifat
antara lain :
a. Estetika
Keindahan dalam bahan tekstil cakupan estetika meliputi warna, kilau, daya menutup yang
memberikan efek didalam kenampakan, kelembutan, kekakuan, elastisitas,dan tahan kusut.
b. Fungsi Pemakaian
Awet dan nyaman saat dikenakan
c. Ekonomi
Dengan adanya pencampuran kedua serat diharapkan ketiga kriteria tersebut terpenuhi sehingga
biaya yang dikeluarkan lebih sedikit.
Sifat-sifat Kain Campuran Poliester Kapas
Serat poliester mempunyai kebaikan-kebaikan yang tidak dipunyai serat kapas, begitu juga
sebaliknya. Serat poliester maupun kapas mempunyai kebaikan dan kekurangan sehingga dengan
pencampuran ini diharapkan kekeurangan-kekurangannya diminimalkan. Serat poliester 100%
mempunyai beberapa kebaikan seperti kekuatan yang tinggi, ketahanan gosok, sifat-sifat cuci dan
pakai, kemampuan menyimpan lipatan dan sifat-sifat positif ini masih bias ditingkatkan dengan
mencampurnya dengan selulosa.
Sifat-sifat kain campuran poliester kapas yang penting antara lain :
a. Kekuatan Sobek
Untuk mendapatkan kekuatan sobek secara nyata dapat diperoleh paling sedikit jika komposisi
campuran benang mengandung 60% serat poliester, dan sebaliknya jika komposisi serat pooliester
lebih sedikit akan menurunkan kekuatan sobek.
b. Ketahanan Gesek
Ketahanan gesek adalah salah satu factor yang penting dari keawetan kain, ketahanan gesesk
sesungguhnya berbanding lurus dengan komposisi campurannya, campuran poliester kapas
menunjukkan ketahanan geseknya, akan tetapi masih jauh lebih baik dari pada serat kapas murni.
c. Tahan Kusut
Hubungan antara ketahanan kusut dengan komposisi campurannya sangat komplek, dimana hasil
yang baik diperoleh dengan pencampuran 30% serat kapas didalamnya.
d. Elektrostatik
Kain poliester dikenal menimbulkan elekrostatik bila dipakai, salah satu bantuan yang nyata dari
serat kapas didalam pencampuran dengan poliester adalah kemampuanny mereduksi muatan listrik
tersebut. Sepertiga kapas didalam komposisi campuran sudah cukup memadai untuk mengurangi
adanaya muatan listrik dan memperbaiki sifat-sifat dalam pemakaiannya.

2.2 Zat Warna


2.2.1 Zat warna Dispersi
Zat warna ydrogen pertama dibuat pada tahun 1923 oleh Baddly dan Shepherdson dari
British Dyestuff sebagai zat warna dispersal. Dan Ellis dari British Cebanase menemukan zat
warna S.R.A (Sulpho Recinolei Acid). Zat warna ini mula-mula ditemukan untuk mencelup
serat selulosa yang bersifat hidrofob dan mampu menyerap zat organic yang tidak larut dalam air,
dengan membuatnya dalam bentuk suspense.

Penemuan zat warna disperse menjadi sangat penting dengan ditemukannya serat sintetik
yang sifatnya lebih hidrofob dari pada serat selulosa asetat, seperti serat poliamida,
ydrogen ,dan poliakrilat. Terutama untuk serat ydrogen yang kebanyakan hanya dapat
dicelup dengan zat warna disperse.

Zat warna disperse adalah zat warna yang kelarutannya dalam air sedikit sekali dan
merupakan larutan disperse. Zat warna disperse kebanyakan untuk mewarnai serat tekstil yang
bersifat hidrofob. Menurut struktur kimianya zat warna disperse merupakan zat warna non ion yang
terdiri dari inti kromofor azo dan antrakuinon dengan berat molekul yang kecil dan tidak
mengandung gugus pelarut.
Contoh struktur kimia zat warna disperse ber inti kromofor azo, antrakuinon,dan
definilamina dapat dilihat pada gambar dibawah :

Gambar 2.3 Struktur Kimia Zat Warna Dispersi Berinti Azo (Red Azo)

Gambar 2.4 Struktur Kimia Zat Warna Dispersi Berinti difenilamina (Yellow
Diphenilamina)

Gambar 2.5 Struktur Kimia Zat Warna Dispersi Berinti Antrakuinon (Blue Antrakuinon)
Meskipun Azobenzen,

Meskipun Azobenzen, Antrakuinon,dan Difenilamina dalam bentuk disperse dapa mencelup


kedalam serat hidrofob, dalam perdagangan kebanyakan zat warna disperse mengandung gugus
ydrogen dan alifatik yang mengikat gugus fungsionil ( -OH, -NH2, -NHR, dsb ), dan bertindak
sebagai gugus pemberi (donor) hydrogen. Gugusan fungsional tersebut merupakan pengikat dipol
dwi kutub dan juga membentuk ikatan hydrogen dengan gugus karbonil.

Gambar 2.6 Ikatan Hidrogen


Gambar 2.7 Ikatan Dwi Kutub
Gugus aromatic –OH dan Alifatik –NH2 dan gugusan fungsional yang sejenis menyebabkan
zat warna disperse sedikit larut dalam air, zat warna disperse sebaiknya molekulnya kecil supaya
mudah terdispersi. Dengan molekul yang kecil tersebut, maka zat warna disperse mudah
menyublim pada suhu tinggi sehingga untuk mencelup serat ydrogen harus dipilih zat warna
disperse yang tahan suhu tinggi hingga 220oC.

2.2.2 Sifat-sifat Zat Warna Dispersi


a. Ketahanan warnanya baik
b. Pencelupannya dilakukan pada suhu tinggi atau memerlukan zat pengemban
c. Merupakan senyawa azo atau antrakuinon dengan Berat Molekul yang kecil dan tidak
mengandung gugus pelarut
d. Kelarutannya dalam air kecil sekali dan merupakan larutan disperse
e. Banyak digunakan untuk mewarnai serat tekstil yang bersifat hidrofob
Berdasarkan ketahanan sublimasinya zat warna disperse secara umum dibagi menjadi empat
golongan :
 Golongan Satu
Zat warna golongan ini mempunyai ketahanan sublimasi rendah dan sifat pencelupannya sangat
baik dan pada umumnya untuk mencelup rayon asetat dan ydrogen dengan metode zat pengemban
pada suhu 100OC
 Golongan Kedua
Zat warna golongan ini mempunyai berat molekul yang relative dengan ketahanan sublimasi cukup
dan mempunyai sifat kerataan yang baik. Biasanya digunakan untuk mencelup metode ydrogen e
tinggi, juga dapat digunakan pencelupan metode zat pengemban. Pada proses thermosol hanya
digunakan untuk mewarnai warna-warna muda, dengan suhu thermosol yang lebih rendah.
 Golongan Ketiga
Zat warna disperse golongan ini mempunyai berat molekul sedang dengan ketahanan sublimasi
yang baik dan mempunyai sifat kerataan yang cukup. Zat warna ini biasanya digunakan untuk
pencelupan ydrogen metode suhu tinggi dan thermosol.
 Golongan Keempat
Zat warna disperse golongan ini mempunyai berat molekul yang besar dan ketahanan sublimasi
tinggi akan tetapi sifat kerataannya kurang dan sangat baik untuk pencelupan metode temperature
tinggi dan thermosol.
Pada penelitian ini digunakan zat warna ydrogen jenis Foron Navy RB-RLS dengan struktur :

Gambar 2.8 Struktur Zat Warna Foron Navy RB-RLS


Antara serat ydrogen (Terylene) dengan zat warna ydrogen terjadi ikatan ydrogen sebagai
berikut:

Gambar 2.9 Reaksi Ikatan Hidrogen

2.2.3. Zat Warna Bejana


Zat warna Bejana merupakan salah satu zat warna yang telah lama dipergunakan orang untuk
mewarnai serat-serat tekstil.
Semua zat warna bejana tidak larut dalam air dan tak mungkin digunakan untuk mencelup apabila
tidak dirubah dahulu struktur molekulnya. Dengan pertolongan suatu reduktor senyawa tersebut
dibejanakan menjadi bentuk leuko yakni bentuk zat warna bejana yang tereduksi yang akan larut dalam
larutan alkali. Senyawa leuko tersebut mempunyai substantivitas erhadap selulosa sehingga akan
mencelupnya.
Dengan perantaraan suatu oksidator atau dengan oksigen dari udara, bentuk leuko yang tercelup
dalam serat tersebut akan teroksidasi kembali kebentuk semula yakni pigmen zat warna bejana.
Senyawa-senyawa leuko mempunyai warna-warna yang lebih muda dan berbeda dengan warna pigmen
aslinya.
Senyawa leuko zat warna bejana golomgam indigoida berwarna kuning muda dan larut dalam alkali
lemah, sedangkan dari golongan antrakwinon berwarna lain yang lebih tua dan hanya larut dalam larutan
alkali kuat.
Zat warna bejana mempunyai affinitas terhadap serat tekstil oleh karena kemungkinan terjadinya
ikatan hidrogen dan ikatan sekunder yakni gaya-gaya Van Der Walls dengan serat. Oleh karena itu
molekul-molekul zat warna bejana harus merupakan molekul yang planar dan kompleks meskipun tidak
harus linier.
Adapun cara-cara pencelupan zat warna bejana seperti terlihat pada bagan berikut ini :

2.3 Teknologi pencelupan yang digunakan

2.4 Zat-zat / kondisi celup yang berpengaruh pada pencelupan


2.5 Peranan zat elektrolit (NaCL) dengan metoda 2 Bath-2 stage pada variasi NaCL dan suhu
Thermosol
Pencelupan ini adalah mencelup kain campura polyester kapas (T/C) dengan zat warna disperse
bejana. Tentunya zat warna yang yang diharapkan adalah disperse untuk mencelup polister dan
bejana untuk kapas. Lalu proses pencelupan dibantu dengan zat elektrolit (NaCL) dimana peran
NaCL untuk membantu penyerapan zat warna bejana pada serat kapas yang diharapkan warna
akan lebih tua jika penambahan elektrolit semakin besar karena elektrolit membantu penyerapan
zat warna masuk ke dalam serat dan peranan suhu thermosol diharapkan warna juga akan semakin
tua jika suhu optimum pada pencelupan kain T/C zat warna disepersi bejana semakin tinggi.
2.6 Mekanisme Pencelupan Zat Warna Dispersi dan Zat Warna Reaktif pada Kain Campuran
Poliester Kapas dengan Proses Thermofiksasi
Pencelupan secara umum terdiri dari proses melarutkan atau mendispersikan zat warna kedalam
air atau medium lain. Kemudian memasukkan bahan tekstil kedalam larutan tersebut sehingga
terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Dimana proses pencelupannya melalui 3 tahap antara
lain :
1. Migrasi yaitu melarutkan zat warna dan mengusahakan agar larutan zat warna bergerak
menempel pada bahan
2. Absorpsi yaitu mendorong zat warna agar dapat terserap menempel pada bahan
3. Difusi yaitu proses penyerapan zat warna dari permukaan bahan kedalam bahan
Adapun mekanisme pencelupan kain polyester - kapas dengan zat warna disperse – reaktif
sistem pad alkali dengan proses thermofiksasi ini adalah berikut :
Pada pencelupan kain polyester - kapas dengan zat warna disperse - bejana ini dilakukan dalam
satu bak yaitu pencelupan dilakukan dalam satu tingkat proses. Kain poliester kapas dipadding
dengan larutan zat warna dispersi dan zat warna bejana, pada saat ini zat warna hanya menempel
pada permukaan serat, kemudian pengeringan kain yang telah dipadding agar zat warna tidak
menyublim secara mendadak. Kemudian kain masuk ruang thermofiksasi dengan temperature tinggi
yaitu 210OC, disini zat warna dispersi akan terfiksasi dengan menyublim sementara dan serat
poliester akan melunak sehingga molekul zat warna masuk kedalam serat. Sedangkan untuk serat
kapas pada suhu tinggi kecepatan difusi dan absorpsi akan bertambah, dan energi molekul serat
bertambah, maka dapat masuk kedalam serat dan terjadi proses fiksasi. Kemudian dilakukan
pencucian untuk menghilangkan sisa zat warna yang tidak terfiksasi, dan setelahnya dikeringkan.
3. PERCOBAAN
3.1 Bahan dan zat yang digunakan
 Kain T/C
 Zat warna Dispersi
 Zat warna Bejana
 Zat anti migrasi
 Na2S2O4
 NaOH
 NaCl
 H2O2
 CH3COOH
 Teepol
3.2 Alat yang digunakan
 Mesin padder
 Mesin stenter
 Mesin thermosol
 Perlengkapan gelas
3.3 Resep pencelupan yang digunakan, dengan variasi zat/ metoda yang diamati
Resep pencelupan :
I II III IV V
Zat warna dispersi 10 g / l
Zat warna bejana 10 g / l
Zat anti migrasi 5g/l
Na2S2O4 5g/l
NaOH 2g/l
NaCl 0.5 g/ l 10 g / l 20 g / l 30 g / l -
H2O2 -
CH3COOH pH 5.6
WPU 70%
Suhu Thermosol 180°C 210°C 210°C 210°C -

3.4 Fungsi bahan dan zat-zat yang digunakan


 Zat warna Dispersi : Mencelup bahan poliester
 Zat warna Bejana : Mencelup bahan kapas
 Zat anti migrasi : mencegah migrasi zat warna saat fiksasi
 Na2S2O4 : untuk mereduksi zat warna bejana menjadi leuko
 NaOH : pemberi suasana alkali saat proses reduktor
 NaCl : membantu penyerapan zat warna
 H2O2 : merubah leuko bejana menjadi zat warna bejana
 CH3COOH : pemberi suasana asam padalarutan zat warna dispersi
 Teepol : larutan sabun

3.5 Diagram Alir pencelupan


Persiapan Pencelupan Kain TC (65%/35%)

Pencelupan Kain Dengan Zat Warna Dispersi Dan Zat Warna bejana
(Padding Zat Warna disperse)

Pengeringan

Thermofiksasi
(210oC; 30, 60, 90, 120, 150 detik)

Padding zat warna bejana

Pengeringan

Padding R/C

Steaming

Washing off
(bilas panas, oksidasi dan cuci sabun)

Kesimpulan

3.6 Skema proses pencelupan


3.7 Data hasil pengamatan
3.1 Data Pengamatan
a. Data uji ketahanan luntur warna terhadap gososkan
No Uji Penggosokan
Gosok Kering Gosok Basah
Penodaan Warna Penodaan Warna
1 1 (biru) 1 (Biru)
2 3 (Biru) 1 (Biru)
3 1 (Biru) 1 (Biru)
4 1 (Biru) 1 (Biru)
5 1 (biru) 1 (Biru)

b. Data uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian


No Uji Pencucian
penodaan warna
Poliester Kapas
1 4 4/5
2 4 4/5
3 4 4/5
4 4 4/5
5 4 4/5

c. Data uji ketuaan warna


No Ketuaan Warna
kontras
1 5
2 4
3 4
4 4
5 5

4. ANALISIS HASIL PERCOBAAN

Pencelupan ini adalah mencelup kaian campuran polyester kapas (T/C) dengan
zat warna disperse bejana. Tetnunya zat warna yang diharapkana adalah disperse untuk
mencelup polyester dan bejana untuk kapas. Namun zat warna bejana juga mempunyai
kemampuan untuk mencelup bagian polyester, sehingga jika itu terjadi akan terjadi
staining pada bagian polyester. Untuk meminimalisasinya ditambahkan dengan zat wanti
migrasi, supaya bisa menghambat migrasi dari bejana.
Pencelupan inipun dilakukan dengan metode 2 bath-2 stage secara simultan atau
continue. Zat warna yang pertama diabsorbikan adalah zat warna dispersi (merah)
kedalam polyester dengan proses padding. Kemudian dilanjutkan dengan drying dan
difikasasi. Pemfiksasian zat warna disperse ini dilakukan dengan cara thermosol suhu
yang divariasikan yaitu 180°C dan 210°C. dari hasi akhir pencelupan kain yang
dilakukan pemfiksasian suhu lebih tinggi terlihat tidak terlalu kontras. Denga kata lain
warna dari zat warna disperse (merah) lebih dominan. Berikut adalah grafik nilai ketuaan
warna kontras yang diuji secara visual oleh mata manusia.

Grafik Ketuaan Warna


Nilai ketuan warna kontras

6 Kontras
5

3
Series 1

0
Resep 1Resep 2Resep 3Resep 4Resep 5

Pengujian ini dilakukan dengan member rangking dari nilai 1 sampai 5. Semakin
besar nilai maka semakin baik ketuaan warna kontras yang diuji, begitupun sebaliknya.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, resep yang dilakukan fiksasi teromosol suhu
210°C kekontrasan warnanya kurang daripada yang lain. Warna merah dari disperse lebih
dominan. Ini disebabkan oleh suhu optimum dari fiksasi termosol ini tidak berbanding
dengan fiksasi dari zat warna bejana yang difiksasi oleh proses steaming pada suhu
120°C. sehingga warnanya yang terserap tidak sebanding. Inipun didukung dengan resep
1 dan 5 yang menggunakan suhu termosol 180°C (lebih kecil) nilai ketuaaan warna
kontrasnya lebih besar karena tidak begitu terlihat warna dominan. Sehingga
kemungkinan suhu termosol optimum untuk disperse bejana yang menggunakan fiksasi
termosol untuk disperse dan steaming untuk bejana adalah 180°C.
Asumsi berikutnya adalah komposisi polyester dari serat campuran ini lebih
banyak daripada kapasnya. Namun asumsi ini bisa dipatahkan dengan data yang
ditunjukan diatas. Dimana dari untuk membantu penyerapan zat warna bejana sudah bisa
ditam/bahkan elekrolit. Dan dalam variasi nya, resep yang ditambahkan elekrolit adalah
no 1 hingga 4. Namun tetap saja pemberiaan elekrtolit tidak terlalu terlihat dari h asil
yang didapatkan. Dan yang menarik adalah pada variasi resep no 5. Resep no 5 tidak
ditambahkan dengan elektolit, namun dapat mendistribusikan penyerapan zat warna
bejana cukup optimum kekapas. Kemungkinan ini terjadi bukan karena pengaruh dari
elektorlit, tetapi karena zat warna disperse yang teradsobsi ke dalam serat oleh proses
fiksasi termosol sebanding dengan zat warna bejana yang teradsorbsi juga kedalam serat.
sehingga menghasilkan warna yang sebanding dan didapatkan warna kontras (tidak ada
warna dari salah satu jenis zat warna yang dominan).
Kemudian dilakukan padding kedua yaitu padding zat warna bejana. Zat warna
yang digunakan adalah indigo. Zat warna bejana yang berwarna biru. Dilanjutkan dengan
proses pengeringan dan padding III yaitu proses perubahan zat warna bejana menjadi
leuko bejana sekaligus pencucian reduksi untuk zat warna disperse. Kemudian
pengoksidasiaan zat warna bejana hingga pencucian.
Dari hasil yang didapat, ada bintik-bintik biru pada permukaan kain. Ini
disebabkan oleh penggunaan zat warna bejana jenis indigo yang tidak larut. Sehingga
untuk melarutkannya agak sulit. Kemungkinan pada saat pelarutan zat warna indigo ini
tidak larut sempurna, masih ada serbuk-serbuknya. Sehingga serbuk-serbuk zat warna
bejana menempel pada permukaan kain yang kemudian terlihat seperti bintik-bintik.
Pada pengujian selanjutnya dilakukan pengujian ujiketahanan lntur terhadap gosokan dan
terhadap cucian. Berikut adalah grafiknya
Grafik TLW terhadap

nilaia TLW gosokan


3.
5
gosokan
3
2.
5 Gosok
2 Basah
1 Gosok
1.
Kering
5
0.
5
0 Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4 Resep
5
nilai tlw terhadap pencucian

Grafik TLW terhadap


4.
6
pencucian
4.
5
4.
4
Kapas
4.
3 Polieste
4 r
4.
3.
2
9
4.
3.
1
8
Resep 1Resep 2Resep 3Resep 4Resep 5
3.
Pada grafik TLW
7 gosok terliaht nilainya kecil. Ini menungjukan bahwa kain yang
dihasilakan ketahanan gosoknya kurang. Namun yang terlihat pada kain kapas putih
penodaan warna adalah dari warna biru. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa
warna biru adalah warna dari zat warna bejana sedangkan warna merah dari disperse
sehinggu diharapkan menghasilkan efek warna kontras ungu. Dari pernyataan diatas
menunjukan bahwa zat warna bejana ini tidak tahan gosok. Ini bisa dikarenakan
penggunaan zat warna bejana adalah zat warna bejana biasa bukan zat warna bejana larut.
Dimana zat warna biasa ketahanan gosokannya lebih kecil daripada zat warna bejana
larut. Sedangkan zat warna disperse yang berwarna merah tidak terlihat penodaannya
pada kapas putih. Ini menunjukan bahwa ketahanan gosokannya lebih tinggi
daripada bejana.
Sedangkan untuk hasil uji TLW terhadap pencucian, cenderung baik.
Karena nilai yang ditunjukan pada staining scale (skala penodaan warna) untuk
kapas putih 4 dan polyester putih 4/5. Ini disebabkan oleh kedua zat warna ini
bersifat hidrofil atau tidak larut dalam air.

5. KESIMPULAN

6. DAFTAR PUSTAKA