Anda di halaman 1dari 8

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................................................1
BAB I....................................................................................................................................................2
PENDAHULUAN................................................................................................................................2
A. LATAR BELAKANG..............................................................................................................2
B. RUMUSAN MASALAH..........................................................................................................2
C. TUJUAN...................................................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...................................................................................................................................3
A. PENGERTIAN POSITIVISME.............................................................................................3
B. RIWAYAT HIDUP AUGUSTE COMTE..............................................................................4
C. TEORI POSITIVISME AUGUSTE COMTE.......................................................................4
BAB III.................................................................................................................................................7
PENUTUP............................................................................................................................................7
A. KESIMPULAN........................................................................................................................7
B. SARAN.....................................................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................8

1
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bagi kalangan awam kata ’positif’ lebih mudah dimaknai sebagai ’baik’ dan
’berguna’ sebagai antonim dari kata negatif. Pemahaman awam ini bukannya tanpa
dasar, karena jika kita membaca, misalnya, kamus saku Oxford kita akan menemukan
’baik’ dan ’berguna’ dalam daftar makna untuk kata positive.
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-
satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-
fisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori
melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak
Yunani Kuno dan juga digunakan oleh Ibn al-Haytham dalam karyanya Kitab al-
Manazhir. Sekalipun demikian, konseptualisasi positivisme sebagai sebuah filsafat
pertama kali dilakukan Comte di abad kesembilan belas. Adapun yang menjadi tititk
tolak dari pemikiran positivis ini adalah, apa yang telah diketahui adalah yang faktual
dan positif, sehingga metafisika ditolaknya. Di sini, yang dimaksud dengan “positif”
adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-
pengalaman obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur
sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Positivisme?
2. Bagaimana riwayat hidup August Comte?
3. Bagaimana teori positivisme menurut August Comte?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian Positivisme
2. Untuk mengetahui riwayat hidup August Comte
3. Untuk mengetahui teori positivisme menurut August comte

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN POSITIVISME

Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya,
istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat
dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte
berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan
berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit
perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan
kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa
filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat
dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif
bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau
terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk
berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara
terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-
nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal
di luar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme.
Postivisme pada hakikatnya juga adalah ajaran sosial atau pandangan dunia,
yang menganggap mungkin bahwa masyarakat yang lebih baik itu dapat dibentuk.
Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Comte, patut menjadi pemimpin dalam
usaha ini. para pengikut positivisme logis menganut kayakinan ini. hal ini
tercermin dalam pemakaian kata 'positivisme' dalam nama aliran filsafat ilmu
pengetahuan.1
Dari beberapa kurun waktu yang lama telah dikenal bahwasanya di Inggris
dan di Benua Eropa menganut "Positivisme" dan "FilsafatPositif". Pemikir
terkemuka telah memperkenalkan kepada masyarakat mengenai hasil temuannya.
Yang ia sebut dengan filsafat positif adalah apa yang jelas, lengkap, dan
penjelasan secara menyeluruh.2
1
https://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme.05/09/2017.12:46
2
Johan Stuart Mill.Auguste Comte and positivism. Review buku.

3
B. RIWAYAT HIDUP AUGUSTE COMTE

Auguste Comete dilahirkan di Montpellier, Perancis, tahun 1798,


keluarganya beragama khatholik yang berdarah bangsawan. Meskipun demikian,
Auguste Comte tidak terlalu peduli dengan kebangsawanannya. Dia mendapat
pendidikan di Ecole polytechnique di perancis, Namun tidak sempat
menyelesaikan sekolahnya karena banyak ketidakpuasan didalam dirinya, dan
sekaligus ia adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak.
Auguste Comete memulai karir profesionalnya dengan memberi les prifat
bidang matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan dalam
matematika, perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah-masalah
kemanusiaan dan sosial, minat ini tumbuh dan berkembang dibawah penggaruh
Saint Simon, yang memperkerjakan Auguste sebagai sekertarisnya dan dengan
Auguste menjalin kejarasama erat dalam mengembangkan karya awalnya sendiri.
Comte hidup pada masa akhir revolusi perancis termasuk didalamnya
serangkaian pergolakan yang terus berkesinambungan sehingga comte sangat
menekankan arti pentingnya keteraturan sosial. Comte memiliki pengaruh besar di
Prancis dan juga di negara sekitarnya.
Perubahan – perubahan yang terjadi dalam masyarakat barat saat itu
membuat Comte tertarik mencari jawaban secara ilmiah; apa yang membuat
tatanan berubah, apa yang mempersatukan masyarakat kembali. Jawaban atas
pertanyaan nya tersebut akhirnya Comte menemukan perlunya sebuah metode
ilmiah pada kehidupan sosial, sebagaimana ilmu alam.3

C. TEORI POSITIVISME AUGUSTE COMTE


Auguste Comte merupakan filsuf besar pertama yang cukup berpengaruh bagi
perkembangan technoscience, dimana dia merupakan penggagas dari
aliranPositivisme. Aliran positivisme merupakan aliran asli dari pemikiran Auguste
Comte  yang cukup berpengaruh bagi peradaban manusia.

Dasar-dasar filsafat ini dibangun bersama Saint Simon oleh Auguste Comte.
Adapun yang menjadi  kesepakatan dalam pemikiran positivis ini adalah apa yang
3
Dr. Akhyar Yusuf Lubis. Filsafat Ilmu klasik hingga kontemporer. (PT GRAFINDO
PERSADA:Jakarta,2016),hlm 140

4
telah diketahui adalah yang faktual dan positif, sehingga metafisika ditolaknya. Di
sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah sesuatu yang dapat di uji atau di
verifikasi oleh setiap orang (yang mau membuktikannya), Jadi, setelah fakta
diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan
semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.

Menurut Comte dan juga seluruh penganut aliran positivisme, ilmu


pengetahuan tidak boleh melebihi sebuah fakta-fakta yang ada karena positivisme
menolak metafisisme. Bagi Comte, mempertanyakan hakekat benda-benda atau
penyebab yang sebenarnya tidaklah mempunyai arti apapun. Oleh karenanya, ilmu
pengetahuan dan juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang
terdapat antara fakta-fakta(fakta real). Dengan demikian, kaum positivis di batasi di
dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan
kebenarannya.

Dengan model pemikiran seperti ini, kemudian Auguste Comte mencoba


mengembangkan positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini
terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja
kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan.omte Perkembangan selanjutnya dari aliran
ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi,
yang dikenal dengan Materialisme.

Selanjutnya, karena agama (Tuhan) tidak bisa dilihat, diukur dan dianalisa
serta dibuktikan, maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Comte berpendapat
bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta.
Sebaliknya, sebuah pernyataan akan dianggap salah apabila tidak sesuai dengan data
empiris. Contoh misalnya pernyataan bahwa api tidak membakar. Bentuk pemikiran
ini dalam epistemologi disebut dengan teori Korespondensi.

Keberadaan (existence) sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan,


mendapat bentuk khusus bagi Positivisme Comte yakni sebagai suatu yang jelas dan
pasti sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata "positif". Kata
nyata(real) dalam kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk
kepada hal yang dapat dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang
dapat dijangkau oleh akal dapat dijadikan sebagai objek ilmiah sedangkan sebaliknya
yang tidak dapat dijangkau oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek

5
ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme Comte selalu bersifat riil dan pragmatik artinya
nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan dan nantinya berujung kepada penataan atau
penertiban. Oleh karenanya, selanjutnya Comte beranggapan bahwa pengetahuan
yang demikian itu tidak bersumber dari otoritas misalnya bersumber dari kitab suci,
atau penalaran metafisik (sumber tidak langsung), melainkan bersumber dari
pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi.

Dari model pemikiran tersebut, akhirnya Comte menganggap bahwa


garisdemarkasi antara sesuatu yang ilmiah dan tidak ilmiah (pseudo
science) adalahveriviable, dimana Comte untuk mengklarifikasi suatu pernyataan itu
bermakna atau tidak (meaningful dan meaningless), ia melakukan verifikasi terhadap
suatu gejala dengan gejala-gejala yang lain untuk sampai kepada kebenaran yang
dimaksud. Dan sebagai konsekwensinya, Comte menggunakan metode
ilmiahInduktif-Verivikatif, yakni sebuah metode menarik kesimpulan dari sesuatu
yang bersifat khusus ke umum, kemudian melakukan verifikasi. Selanjutnya Comte
juga menggunakan pola operasional metodologis dalam bentuk observasi,
eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif. Singkatnya, filsafat Comte
merupakan filsafat yang anti-metafisis, dimana dia hanya menerima fakta-fakta yang
ditemukan secara positif-ilmiah dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang
mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir
pour prevoir (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus
menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala, agar dia dapat
meramalkan apa yang akan terjadi.

Filsafat positivisme Comte juga disebut sebagai faham empirisme-kritis,


bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak
mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan
pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara “terisolasi”, dalam arti harus
dikaitkan dengan suatu teori.

6
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa August Comte merupakan
seorang yang menggunakan positivisme pertama kali sebagai sebuah filsafat pada
abad ke Sembilan belas. Menurutnya, positivisme adalah sebuah filsafat yang
meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada
pengalaman aktual-fisikal, yang faktual dan positif, sehingga metafisika ditolaknya.
Menurut August Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung tiga tahap,
yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap ilmiah atau positif. Dalam hukum 3
zaman atau 3 tahap ini bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat
manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri.

B. SARAN
 Menjadikan Makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa
dan mahasiswi berfikir aktif dan kreatif
 Untuk teman-temanku jika ingin menambah wawasan tentang judul makalah
kami, kami sarankan untuk membaca buku yang berkaitan dengan “FILSAFAT
POSITIVISME AUGUSTE COMTE”

7
DAFTAR PUSTAKA
Johan Stuart Mill.Auguste Comte and positivism. Review buku.
Yusuf Lubis,Akhyar.2016. Filsafat Ilmu Klasik hingga Kontemporer. Jakarta. PT
RAJAGRAFINDO PERSADA
https://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme.05/09/2017.12:46