Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan
penyusunan makalah Fiqh dengan judul “Shalat jama’ dan qashr”.
Penulisan makalah ini telah semaksimal mungkin kami upayakan dan
didukung bantan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancarkan dalam
penyusunanya. Untuk itu tidak lupa kam mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah.
Namun tidak lepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa
masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainya.
Oleh karena itu dengan lapang dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang
ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana
ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalah lain yang berkaitan pada makalah-
makalah selanjutnya.

                                                                               Tulungagung, 16 Oktober 2017

                                                                                         Penyusun

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG...........................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................1
C. TUJUAN...............................................................................................................2
BAB II...............................................................................................................................3
PEMBAHASAN...............................................................................................................3
A. DEFINISI SHALAT JAMA’ DAN QASHR........................................................3
B. DALIL DISYARI’ATKANNYA JAMA’ DAN QASHR.....................................3
C. SYARAT-SYARAT SAHNYA JAMA’.................................................................4
D. SYARAT-SYARAT SAHNYA QASHR...............................................................5
E. TATA CARA SHALAT JAMA’ DAN QASHR...................................................8
F. NIAT SHALAT JAMA’ DAN QASHR..............................................................10
BAB III...........................................................................................................................13
PENUTUP.......................................................................................................................13
A. KESIMPULAN...................................................................................................13
B. SARAN................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................17

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam fiqh islam terdapat berbagai macam hukum - hukum yang
berlaku dalam suatu perbuatan, misalnya dalam beribadah. Hal ini
tentunya ada dalam ajaran agama islam yaitu dengan tujuan atas dasar
kemaslahatan manusia. Allah SWT senantiasa selalu memberikan apa yang
kita semua butuhkan, walaupun terkadang kita lalai akan semua itu.
Ibadah adalah kewajiban kita kepada Allah SWT, karena hak Allah
terhadap manusia tak lain ialah ibadah. Ibadah terdapat bermacam -
macam, sebagai contoh yang paling akrab dengan kita adalah ibadah shalat
lima waktu.
Kita dalam menjalankan ibadah shalat yang tentunya takkan lepas
dari masalah yang membuat kita tidak melaksanakan shalat. Misalnya
karena sibuk, sakit, bahkan lupa, sehingga Allah memberi keringanan
kepada kita dengan adanya shalat jamak dan qasar. Namun, walaupun
demikian kita harus mempunyai alasan yang kuat untuk kita melakukan
shalat jamak atau qasar. Maka dari itu kami ingin mengkaji secara luas
mengenai shalat jamak dan qasar.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi shalat jama’ dan qashr ?
2. Bagaimana dalil yang mensyari’atkannya jama’ dan qashr ?
3. Apa syarat-syarat sahnya jama’ ?
4. Apa syarat-syarat sahnya qashr ?
5. Bagaimana tata cara shalat jama’ dan qashr ?
6. Bagaimana niat shalat jama’ dan qashr ?

1
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi shalat jama’ dan qashr
2. Unutk mengetahui dalil yang mensyariatkannya jama’ dan qashr
3. Untuk mengetahui syarat sahnya jama’
4. Untuk mengetahui syarat sahnya qashr
5. Untuk mengetahui tata cara shalat jama’ dan qashr
6. Untuk mengetahui niat sholat jama’ dan qashr

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. DEFINISI SHALAT JAMA’ DAN QASHR
1. Shalat Jama’
Definisi jama’secara etimologi berasal dari bahasa arab yang berarti
kumpul, gabung, mengumpulkan, menggabungkan. Sedangkan definisi
shalat jama’ menurut istilah syara’ adalah menggabungkan dua shalat
fardlu dalam satu waktu dengan taqdim (pada waktu yang awal) atau
ta’khir (pada waktu akhir). Sehingga shalat jama’ ada dua macam.
Pertama, jama’ taqdim, yaitu menggabungkan shalat dhuhur dan ashar
yang dilakukan di waktu dzuhur atau menggabungkan shalat maghrib
dan isya’ yang dilakukan di waktu maghrib. Kedua, jama’ ta’khir, yaitu
menggabungkan shalat dzuhur dan ashar yang dilakukan di waktu
ashar atau menggabungkan shalat maghrib dan isya’ yang dilakukan di
waktu isya’.

2. Shalat Qashr
Definisi Qashr secara etimologi berasal dari bahasa arab yang berarti
ringkas, meringkas, pangkas, memangkas. Sedangkan definisi Qashr
menurut istilah syara’ adalah meringkas shalat fardlu yang empat
raka’at menjadi dua raka’at. Shalat fardlu yang bisa diqashr hanya
shalat dzuhur, ashar dan isya’ saja.1

B. DALIL DISYARI’ATKANNYA JAMA’ DAN QASHR


1. Dalil shalat jama’

‫ب َوالعِشاَِء‬
ِ ‫ني املغ ِر‬
َ ‫ مَجَ َع ب‬,ُ‫السري‬
َ َ ‫ول اهلل ِ إِ َذ َع ِج َل بِِه‬
ُ ‫ كاَ َن َر ُس‬: ‫ قَ َال‬, ‫َع ْن ابْ ِن عُ َمَر‬
َ
“Dari shahabat Ibn Umar RA, berkata: bahwasannya nabi SAW
jika tergesa dalam sebuah perjalanan, maka beliau menjama’ antara
shalat maghrib dan isya”

1
Abbas Arfan.Fiqh Ibadah Prakti. (Malang:UIN-MALIKI PRESS, 2011).hlm 95-96

3
2. Dalil shalat qashr

‫اَل ِة إِ ْن ِخ ْفتُ ْم أَ ْن‬1 1 1 1 1‫ص‬


َّ ‫ ُروا ِم َن ال‬1 1 1 1 1‫ص‬
ُ ‫اح أَ ْن َت ْق‬1
ٌ 1 1 1 1َ‫س َعلَْي ُك ْم ُجن‬ ِ ‫يِف‬ َ ‫َوإِذَا‬
َ ‫َرْبتُ ْم اأْل َْرض َفلَْي‬1 1 1 1 1‫ض‬
‫ين َكانُوا لَ ُك ْم َع ُد ًّوا ُمبِينًا‬ ِ ِ ِ َّ ِ
َ ‫ين َك َف ُروا ۚ إ َّن الْ َكاف ِر‬
َ ‫َي ْفتنَ ُك ُم الذ‬
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa
kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-
orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang
nyata bagimu.(QS.an-Nisa:101).2

C. SYARAT-SYARAT SAHNYA JAMA’


Syarat-syarat sahnya jama’ taqdim dalam mazhab syafi’i adalah:
1. Dikerjakan dengan tertib, yakni dengan shalat yang pertama misalnya
dhuhur dahulu kemudian ashar, dan maghrib dahulu kemudian isya’.
2. Niat jama’ dilakukan pada shalat pertama
3. Berurutan antara keduanya, yakni tidak boleh disela dengan shalat
sunat atau perbuatan lainnya.3
4. Harus mendahulukan shalat yang punya waktu asli, yaitu dhuhur dan
maghrib.
5. Harus masih dalam keadaan udzur/sebab (seperti masih musafir) yang
membolehkan jama’ sampai takbiratul ihram pada shalat yang kedua.
6. Harus mengetahui dan mengerti tentang hukum bolehnya salat jama’

Sedangkan syarat-syarat jama’ ta’khir dalam mazhab Syafi’i ada dua,


yaitu:pertama, harus niat mengakhirkan shalat pertama di waktu shalat
kedua dengan niat yang dilakukan sebelum waktu shalat pertama habis.
Oleh karena itu, jika seorang musafir akan ama’ ta’khir shuhur dan ashar,
maka ia harus niat mengakhirkan shalat dhuhur sebelum waktu dhuhur itu
habis dengan niat akan melaksanakan dhuhur di waktu ashar yang di
jama’.

2
Ibid.hlm 96
3
M.Khalilurrahman Al Mahfani. Buku Pintar Shalat.(Jakarta Selatan:Kawah media.2008.cet
8).hlm 143

4
Kedua, harus masih tetap ada udzur(ada penyebab) yang
membolehkannya jama’ sampai melakukan shalat jama’ ta’khir tersebut.
Artinya mulai niat jama’ ta’khir di waktu pertama(dhuhur misalnya)
sampai melaksanakan shalatnya di waktu kedua (ashar) itu harus masih
bertstatus udzur.4

D. SYARAT-SYARAT SAHNYA QASHR


1. Menempuh jarak yang tertentu

Dalam kitab Fathul Qadir fi 'Ajaibil Maqadir disebutkan bahwa jarak


perjalanan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Menurut ketetapan pada masa Al-Makmun berjarak 90 km.


b. Menurut ketetapan Ahmad Al-Hasan Al-Mishri adalah 94,5 km.
c. Menurut kebanyakan ulama' fiqih adalah 120 km.

Jarak tersebut ditempuh secara pasti. Meskipun seseorang


menempuhnya dalam waktu yang sebentar (karena ahli melakukan
perjalanan). Baik melalui darat atau laut, ditempuh dengan naik
binatang yang membawa beban berat selama perjalanan dua hari atau
dua malam yang wajar, atau sehari semalam-meskipun tidak wajar-
dengan memperhitungkan waktu istirahat dan berjalan, waktu makan,
minum dan lainnya menurut adat kebiasaan yang umum. Ukuran
tersebut menurut As-Syibromulisi adalah 22 ½ jam.

2. Perjalanan itu haruslah perjalanan yang mubah


Kalau perjalanan itu adalah perjalanan haram, misalnya untuk
mencuri atau lainnya yang serupa, aka seluruh ulama sepakat tidak
boleh qashr, kecuali ulama hanafi. Mereka mengatakan qashr boleh
dilakukan dalam segala keadaan, walaupun dalam perjalanan yang
haram. Perbuatan itu saja yang tetap dianggap benar.5

4
Abbas Arfan.op.cit. hlm.98-99
5
Ibid.hlm.104-105

5
3. Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) tidak boleh
bermakmum kepada orang tidak dalam perjalanan.
Andaikata dia bermakmum pada orang yang menyempurnakan
shalat, meskipun dalam waktu yang sebentar. Atau ma'mum kepada
orang yang shalat jum'at atau shalat shubuh, maka dia harus
menyempurnakan shalatnya.
Apabila seseorang berma'mum kepada orang musafir dan dia ragu
dalam niat qashar, kemudian dia berniat meng-qashar, maka dia boleh
melakukan qashar jika telah jelas imam adalah orang yang meng-
qashar. Karena yang nampak dari keadaan orang musafir tersebut
adalah meng-qashar shalat.
Apabila ternyata bahwa imamnya adalah menyempur-nakan shalat
atau tidak jelas keadaannya, maka orang yang bermakmum tersebut
harus menyempurnakan shalat.
Andaikata seseorang menggantungkan niat meng-qashar shalat
pada niat imam, seperti apabila dia berniat, "Jika dia (imam) meng-
qashar shalat maka aku meng-qashar shalat dan jika tidak, maka aku
akan menyempurnakannya", maka dia boleh meng-qashar shalat jika
imam meng-qashar-nya. Karena hal ini adalah menjelaskan keadaan
sebenarnya. Jika imam menyempurnakan shalat, atau tidak jelas apa
yang diniatkan imam, maka orang tersebut harus menyempurnakan
shalat karena kehati-hatian

4. Hendaklah berniat qashr pada shalat yang dilaksanakannya


Di antara niat qashar adalah jika seseorang berniat shalat dhuhur
dua rakaat misalnya, baik dia berniat untuk melakukan keringanan atau
berniat secara mutlak.Sedangkan jika dia berniat shalat dua rakaat
dengan tidak berniat melakukan keringanan, maka shalatnya batal.
Karena sikap mempermainkan shalat. Juga termasuk di antara niat
qashar jika seseorang berkata, "Aku berniat melakukan shalat safar ".

6
Andaikata dia berniat menyempurnakan shalat atau berniat shalat
secara mutlak, maka dia harus menyempurnakan shalat. Karena
menyempurnakan shalat itu adalah yang diniatkan pada shalat yang
pertama dan yang asal pada shalat yang kedua. Juga dianggap sebagai
niat qashar apabila seseorang berkata, "Aku berniat melakukan shalat
dhuhur dalam keadaan di-qashar".
Az-Zayyadi berpendapat, "Apabila seseorang berniat qashar di
belakang orang musafir yang menyempurnakan shalatnya, maka
shalatnya sah. Karena secara umum imamnya termasuk orang yang
melakukan shalat qashar. Jika keadaan imam tidak diketahui, maka niat
qashar-nya di-ilgho'-kan (tidak dianggap). Apabila ia mengetahui
bahwa musafir yang dijadikan imam adalah orang yang
menyempurnakan shalat, maka shalatnya tidak sah. Karena hal tersebut
termasuk sikap mempermainkan shalat, sebagaimana yang difatwakan
oleh Imam Ar-Romli.
Hanyasaja disyaratkan niat qashar karena shalat qashar itu adalah
menyalahi hukum asal. Berbeda dengan menyempurnakan shalat yang
tidak perlu niat menyempurnakan. Karena shalat sempurna adalah
shalat yang asal. Niat qashar harus dilakukan pada waktu takbiratul
ihram. Artinya beserta takbiratul ihram seperti niat yang asal.
Andaikata seseorang berniat qashar sesudah takbiratul ihram, maka
niat itu tidak bermanfaat baginya.

5. Mengetahui sebab kebolehan melakukan qashar.

Tidak diperbolehkan untuk melakukan qashar bagi orang yang


tidak mengetahui sebab kebolehan melakukan shalat qashar sejak
semula. Atau dalam shalat yang dia niatkan karena suatu perkara yang
datang padanya. Demikian pula orang yang menyangka shalat empat
rakaat sebagai shalat dua rakaat, kemudian dia meniatkan dua rakaat
dalam perjalanan. Maka shalatnya tidak sah dalam kedua bentuk di
atas.

7
Dalam bentuk yang pertama semua sepakat mengenai ketidakabsahan
shalatnya. Meskipun dia baru masuk Islam, karena dia dianggap
mempermainkan shalat. Demikian pula bentuk shalat yang kedua, yang
disebabkan teledor. Karena seseorang tidak diberi udzur dengan
kebodohan seperti tersebut. Jika dia tahu sebab ketiadakabsahan
shalatnya, bahwa dia harus mengulangi shalat tersebut dengan
diqashar. Demikianlah pendapat yang dapat dijadikan pegangan.

6. Shalat yang diqashar adalah shalat yang empat rakaat.

Yaitu Dhuhur, Ashar dan Isya'. Ketiganya adalah shalat fardhu


menurut hukumnya yang asli. Meskipun shalat tersebut menjadi shalat
sunnah, seperti shalat dari anak yang belum baligh dan shalat 'iadah
(shalat yang diulang). Orang yang melakukan shalat mu'adah itu boleh
meng-qashar-nya jika dia meng-qashar shalat yang asal-yaitu shalat
yang pertama. Apabila dia menyempurnakan shalat yang pertama,
maka dia wajib menyempurnakan shalat mu'adah tersebut.6

E. TATA CARA SHALAT JAMA’ DAN QASHR


Adapun tata cara menjama’ sholat ialah bahwa musafir hendaklah
menunaikan sholat dzuhur dan sholat ashar dengan di jama’. Jika jama’
taqdim, maka ia menunaikan pada awal waktu sholat dzuhur, sedangkan
jika di jama’ takhir, maka ia menunaikanya pada awal waktu sholat ashar.
Atau menjama’ sholat magrib dengan sholat isya, baik jama’ taqdim
maupun jama’ takhir dengan melaksanakanya pada awal waktu , masing-
masing dari keduanya, berdasarkan keterangan dalam suatau hadist
( muttafaq’alaih;[muslim:706]

6
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-
bin/content.cgi/artikel/menuju_kesempurnaan_shalat/06.single.26/10/2017.21.39

8
َ‫راء‬1َ 1 ‫ت الَْب‬
ُ ‫ال مَس ْع‬1 ٍّ ‫د‬1ِ 1 ‫ ْعبَةُ َع ْن َع‬1 1‫دثَنَا ُش‬1َّ 1‫د َثنَا أَيِب َح‬1َّ 1‫ي َح‬
ِ َ 1 َ‫ي ق‬ ٍ 1 ‫د اللَّ ِه بن مع‬1ُ 1 ‫دثَنَا عبي‬1َّ 1‫ح‬
ُّ ِ‫اذ الْ َعْنرَب‬1 َُ ُ ْ ْ َُ َ
‫رأَ يِف‬11 ‫ رةَ َف َق‬1‫خ‬1ِ ‫اء اآْل‬1 1‫لَّى الْعِ َش‬1 1‫ص‬ ِ
َ َ‫ َف ٍر ف‬1 1‫ا َن يِف َس‬11‫لَّ َم أَنَّهُ َك‬1 1‫ه َو َس‬11 ‫لَّى اللَّهُ َعلَْي‬1 1‫ص‬
َ ِّ ‫ِّث َع ْن النَّيِب‬
ُ ‫د‬11 َ‫حُي‬
َ َ َ
ِ ُ‫الزيت‬
‫ون‬ َّ ‫إِ ْح َدى‬
ِ ِّ‫الرْك َعَتنْي ِ والت‬
َّْ ‫ني َو‬ َ
: bahwa suatu hari pada saat berada didaerah tabuk, rosullullah saw
mengakhirkaan sholatnya , lalu beliau pergi menunaikan sholat dzuhur dan
sholat ashar dengan di jama’, lalu beliau pergi lagi menunaikan
sholatmagrib dan sholat isya dengan di jama’, dimana ketika itu beliau
datang ke daerah tabukuntuk berperang.

Di samping itu diperbolehkan bagi penduduk sebuah daerah untuk


menjama’ antara sholat magrib dengan sholat isya di masjid pada malam
dimana hujan turun deras, atau udara terasa dingin sekali, atau angin
berhembus kencang, jika hal itu akan menyulitkan mereka kembali lagi ke
masjid saat waktu sholat isya tiba’. Karena rosullullah saw juga pernah
menjama’ antara sholat magrib dengan sholat isya pada malam dimana
ketika itu hujan turun. ( HR. Al-Bukhari [543].

‫ ْع ٍد‬1 ‫ ْه َل بْ َن َس‬1 ‫ا ِزٍم أَنَّهُ مَسِ َع َس‬1‫ح‬1َ ‫لَْي َما َن َع ْن أَيِب‬1 ‫ه َع ْن ُس‬1ِ 1‫س َع ْن أ َِخي‬ ِ ِ
ٍ ْ‫اعيل بْ ُن أَيِب أ َُوي‬
ُ َ‫دثَنَا إمْس‬1َّ ‫ح‬1َ
ِ ِ ِ
‫لَّى‬1‫ص‬
َ ‫ول اللَّه‬1‫ع َر ُس‬1َ ‫ج ِر َم‬ َ ‫ ْر َعةٌ يِب أَ ْن أ ُْد ِرَك‬1‫و ُن ُس‬1‫ت أَتَ َس َّحُر يِف أ َْهلي مُثَّ يَ ُك‬
1ْ ‫اَل ةَ الْ َف‬1‫ص‬ ُ ‫ول ُكْن‬
ُ ‫َي ُق‬

‫اللَّهُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم‬

Juga diperbolehkan bagi orang sakit untuk menjama’ antara dua


sholat dzuhur (sholat dzuhur dan sholat ashar) dan dua sholat isya (sholat
magrib dan sholat isya), jika merasa kesulita melaksanakan tiap-tiap sholat
pada waktunya. Karena alasan disyariatkanya sholat jama’ itu adalah
dikarenakan adanya kesulitan . jadi kapan saja kesulitan itu ada, maka
pada saat itu sholat jama’ diperbolehkan. Terkadang juga seseorang
menghadapi kesulitan yang luar biasa disaat ia berada di tempat, misalnya
mengkawatirkan keselamatan dirinya , kehormatan, ataupun hartanya,
maka pada saat itu diperbolehkan baginya menjama’ sholatnya,

9
berdasarkan keterangan pada sebuah hadisst shahih, bahwa rosullullah saw
pernah satu kali menjama’ sholat saat berada di tempat , bukan karena alas
an hujan . ibnu abbas RA menuturkan bahwa pada saat nabi berada di
madinah , maka beliau mengerjakan sholat sebanyak tujuh dan delapan
rakaat, yaitu menjama’sholat dzuhur dengan sholat ashar, serta menjama
sholat magrib dengan sholat isya . muttafaq alaih; [ AL- Bukhori: muslim:
705]. Dimana prakteknya bahwa rosullullah saw menagguhkan sholat
dzuhur dan menyegerakan sholat ashar diawal waktunya dan
menagguhkan sholat magrib dan menyegerakan sholat isya di awal
waktunya . hal itu dikarenakan melaksanakan dua sholat secara berurutan
pada satu waktu.

Adapun tata cara sholat qashr itu tidak ada bedanya dengan sholat
dua rokaat lainya., karena qashar hanya meringkas sholat yamg empat
rakaat menjadi dua rakaat.

Begitupun tata cara sholat jama dan qashar sekaligus, tinggal


menggabungkan tata cara sholat jama’ di atas yang dikurangi dua rokaat
bagi sholat yang semula empat rokaat , maka sholat magrib tetap tiga
rokaat walaupun sholat isya-nya diqashar menjadi dua.7

F. NIAT SHALAT JAMA’ DAN QASHR


1. Niat sholat jama’ dhuhur ashar jama’ taqdim
a) Niat dhuhur jama’ taqdim

‫اىل‬ ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع الْعص ِر مَجْع َت ْق ِدمْيِ َفر‬


ٍ ‫أُصلى َفرض الضح ِر أَربع رَكعا‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ َ ْ َ َ َ ً ُْ َ َ َ َ ْ ْ ُ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu dhuhur empat rakaat jama’
taqdim dengan ashar, karena Allah Ta’ala”
b) Niat ashar jama’ taqdim

‫اىل‬ ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع الضُّح ِر مَجْع َت ْق ِدمْيِ َفر‬


ٍ ‫أُصلى َفرض الْعص ِر أَربع رَكعا‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ َ ْ َ َ ً ُْ َ َ َ َ ْ ْ َ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu ashar empat rakaat jama’ taqdim
dengan dhuhur, karena Allah Ta’ala”
2. Niat sholat jama’ maghrib isya’ jama’ ta’khir

7
Abbas Arfan.op.cit,.hlm.108-109

10
a) Niat maghrib jama’ takhir
ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع العِ َش ِاء مَجْع تَأْ ِخ ِ َفر‬
ٍ ‫ث رَكعا‬ ِ
‫اىل‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ ‫َ رْي‬ َ َ ً ُْ َ َ َ َ‫ض املَْغ ِرب ثَال‬
َ ‫لى َفْر‬
ِّ ‫ُص‬
َ‫أ‬
Artinya : “saya berniat sholat fardhu maghrib tiga rakaat jama’ ta’khir
dengan isya’, karena Allah Ta’ala”
b) Niat isya’ jama’ ta’khir
ِ َِّ ‫ب مَجْع تَأْ ِخ ِ َفر‬ ٍ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫اىل‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ ‫ض الع َشاء أ َْربَ َع َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا َم َع املَْغ ِر ِ َ رْي‬
َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu isya’ empat rakaat jama’ ta’khir
dengan maghrib, karena Allah Ta’ala”
3. Niat sholat qashr

‫اىل‬ ِ َِّ َ‫العِشاَِء) رْكعَت ِ ق‬/‫العص ِر‬/‫أُصلى َفرض(الضٌّح ِر‬


َ ‫صًرا لله َت َع‬
ْ ‫َ َ نْي‬ َْ ْ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu (dhuhur/ashar/isya’) dua raka’at
qashar karena Allah Ta’ala”
4. Niat sholat jama’ qashr
a) Niat sholat dhuhur jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض الضح ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِلَي ِه الْع‬
َ ‫صرأ ََداءً لله َت َع‬
ْ َ ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ ُ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu dhuhur dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan ashar fardhu karena Allah. Allahu Akbar”
b) Niat sholat ashar jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض العص ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِىَل الض‬
َ ‫ُّحر أ ََداءً لله َت َع‬
ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ َ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu ashar dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan dhuhur fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

c) Niat sholat dhuhur jama’ ta’khir

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض الضح ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا ِىَل الْع‬
َ ‫صرأ ََداءً لله َت َع‬
َْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ ُ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu dhuhur dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan ashar fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

d) Niat sholat ashar jama’ ta’khir

11
‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض العص ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِلَي ِه الض‬
َ ‫ُّحر أ ََداءً لله َت َع‬
ْ ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ َ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu ashar dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan dhuhur fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

e) Niat sholat maghrib jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ِ ِ ِ ٍ ِ ‫ض امل ْغ ِر‬


َ ‫ث َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا إلَْيه الع َشاء أ ََداءً لله َت َع‬
َ َ‫ب ثَال‬ ‫أُصلى َفر‬
َ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu maghrib tiga raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

f) Niat sholat isya’ jama’ taqdim


ِ َِّ ِِ ِ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ْ َ‫ض الع َشاء َرْك َعَتنْي ِ ق‬
َ ‫صًرا جَمْ ُم ْو ًعا إىَل املَْغرب أ ََداءً لله َت َع‬ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu isya’ dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

g) Niat sholat maghrib jama’ ta’khir

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ِ ِ ٍ ِ ‫ض امل ْغ ِر‬


َ ‫ث َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا إىَل الع َشاء أ ََداءً لله َت َع‬
َ َ‫ب ثَال‬ ‫أُصلى َفر‬
َ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu maghrib tiga raka’at qoshor dan
jama’ dengan isya’ fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

h) Niat sholat isya’ jama’ ta’khir


ِ َِّ ِِ ِ ِ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ْ َ‫ض الع َشاء َرْك َعَتنْي ِ ق‬
َ ‫صًرا جَمْ ُم ْو ًعا إلَْيه املَْغرب أ ََداءً لله َت َع‬ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu isya’ dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

12
13
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Definisi shalat jama’ menurut istilah syara’ adalah menggabungkan
dua shalat fardlu dalam satu waktu dengan taqdim (pada waktu yang
awal) atau ta’khir (pada waktu akhir). Sedangkan definisi Qashr
menurut istilah syara’ adalah meringkas shalat fardlu yang empat
raka’at menjadi dua raka’at.
2. a) dalil sahalat jama’

‫ب َوالعِشاَِء‬
ِ ‫ني املغ ِر‬
َ ‫ مَجَ َع ب‬,ُ‫السري‬
َ َ ‫ول اهلل ِ إِذَ َع ِج َل بِِه‬
ُ ‫ كاَ َن َر ُس‬: ‫ قَ َال‬, ‫َع ْن ابْ ِن عُ َمَر‬
َ
b)dalil qashr

‫اَل ِة إِ ْن ِخ ْفتُ ْم أَ ْن‬1 1 1 1 1‫ص‬


َّ ‫ ُروا ِم َن ال‬1 1 1 1 1‫ص‬
ُ ‫اح أَ ْن َت ْق‬1
ٌ 1 1 1 1َ‫س َعلَْي ُك ْم ُجن‬ ِ ‫يِف‬ َ ‫َوإِذَا‬
َ ‫َرْبتُ ْم اأْل َْرض َفلَْي‬1 1 1 1 1‫ض‬
)101:‫ين َكانُوا لَ ُك ْم َع ُد ًّوا ُمبِينًا(النساء‬ ِ ِ ِ َّ ِ
َ ‫ين َك َف ُروا ۚ إ َّن الْ َكاف ِر‬
َ ‫َي ْفتنَ ُك ُم الذ‬
3. syarat shalat jama’
a) Dikerjakan dengan tertib, yakni dengan shalat yang pertama
misalnya dhuhur dahulu kemudian ashar, dan maghrib dahulu
kemudian isya’.
b) Niat jama’ dilakukan pada shalat pertama
c) Berurutan antara keduanya, yakni tidak boleh disela dengan shalat
sunat atau perbuatan lainnya.
d) Harus mendahulukan shalat yang punya waktu asli, yaitu dhuhur dan
maghrib.
4. Syarat shalat qashr
a) Menempuh jarak yang tertentu
b) yang mubah
c) Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) tidak boleh
bermakmum kepada orang tidak dalam perjalanan
d) Hendaklah berniat qashr pada shalat yang dilaksanakannya

14
e) Mengetahui sebab kebolehan melakukan qashar.
f) Shalat yang diqashar adalah shalat yang empat rakaat

5. Adapun tata cara sholat qashr itu tidak ada bedanya dengan sholat dua
rokaat lainya., karena qashar hanya meringkas sholat yamg empat
rakaat menjadi dua rakaat.
Begitupun tata cara sholat jama dan qashar sekaligus, tinggal
menggabungkan tata cara sholat jama’ di atas yang dikurangi dua
rokaat bagi sholat yang semula empat rokaat , maka sholat magrib
tetap tiga rokaat walaupun sholat isya-nya diqashar menjadi dua
6. Niat shalat jama’ dan qahsr
a) Niat sholat jama’ dhuhur ashar jama’ taqdim
1) Niat dhuhur jama’ taqdim

‫اىل‬ ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع الْعص ِر مَجْع َت ْق ِدمْيِ َفر‬


ٍ ‫أُصلى َفرض الضح ِر أَربع رَكعا‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ َ ْ َ َ َ ً ُْ َ َ َ َ ْ ْ ُ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu dhuhur empat rakaat jama’
taqdim dengan ashar, karena Allah Ta’ala”
2) Niat ashar jama’ taqdim

‫اىل‬ ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع الضُّح ِر مَجْع َت ْق ِدمْيِ َفر‬


ٍ ‫أُصلى َفرض الْعص ِر أَربع رَكعا‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ َ ْ َ َ ً ُْ َ َ َ َ ْ ْ َ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu ashar empat rakaat jama’ taqdim
dengan dhuhur, karena Allah Ta’ala”
b) Niat sholat jama’ maghrib isya’ jama’ ta’khir
1) Niat maghrib jama’ takhir
ِ َِّ ‫ت جَمْموعا مع العِ َش ِاء مَجْع تَأْ ِخ ِ َفر‬
ٍ ‫ث رَكعا‬ ِ
‫اىل‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ ‫َ رْي‬ َ َ ً ُْ َ َ َ َ‫ض املَْغ ِرب ثَال‬
َ ‫لى َفْر‬
ِّ ‫ُص‬
َ‫أ‬
Artinya : “saya berniat sholat fardhu maghrib tiga rakaat jama’ ta’khir
dengan isya’, karena Allah Ta’ala”
2) Niat isya’ jama’ ta’khir
ِ َِّ ‫ب مَجْع تَأْ ِخ ِ َفر‬ ٍ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫اىل‬
َ ‫ض لله َت َع‬َ ْ ‫ض الع َشاء أ َْربَ َع َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا َم َع املَْغ ِر ِ َ رْي‬
َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu isya’ empat rakaat jama’ ta’khir
dengan maghrib, karena Allah Ta’ala”

15
16
c) Niat sholat qashr

‫اىل‬ ِ َِّ َ‫العِشاَِء) رْكعَت ِ ق‬/‫العص ِر‬/‫أُصلى َفرض(الضٌّح ِر‬


َ ‫صًرا لله َت َع‬
ْ ‫َ َ نْي‬ َْ ْ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya berniat sholat fardhu (dhuhur/ashar/isya’) dua raka’at
qashar karena Allah Ta’ala”
d) Niat sholat jama’ qashr
1) Niat sholat dhuhur jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض الضح ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِلَي ِه الْع‬
َ ‫صرأ ََداءً لله َت َع‬
ْ َ ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ ُ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu dhuhur dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan ashar fardhu karena Allah. Allahu Akbar”
2) Niat sholat ashar jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض العص ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِىَل الض‬
َ ‫ُّحر أ ََداءً لله َت َع‬
ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ َ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu ashar dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan dhuhur fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

3) Niat sholat dhuhur jama’ ta’khir

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض الضح ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا ِىَل الْع‬
َ ‫صرأ ََداءً لله َت َع‬
َْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ ُ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu dhuhur dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan ashar fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

4) Niat sholat ashar jama’ ta’khir

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ‫أُصلى َفرض العص ِر رْكعَت ِ قَصرا جَمْموعا إِلَي ِه الض‬
َ ‫ُّحر أ ََداءً لله َت َع‬
ْ ْ ً ْ ُ ً ْ ‫َ ِّ ْ َ َ ْ َ َ نْي‬
Artinya : “saya niat sholat fardhu ashar dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan dhuhur fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

5) Niat sholat maghrib jama’ taqdim

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ِ ِ ِ ٍ ِ ‫ض امل ْغ ِر‬


َ ‫ث َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا إلَْيه الع َشاء أ ََداءً لله َت َع‬
َ َ‫ب ثَال‬ ‫أُصلى َفر‬
َ َ ْ ِّ َ

17
Artinya : “saya niat sholat fardhu maghrib tiga raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

6) Niat sholat isya’ jama’ taqdim


ِ َِّ ِِ ِ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ْ َ‫ض الع َشاء َرْك َعَتنْي ِ ق‬
َ ‫صًرا جَمْ ُم ْو ًعا إىَل املَْغرب أ ََداءً لله َت َع‬ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu isya’ dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

7) Niat sholat maghrib jama’ ta’khir

‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ِ َِّ ِ ِ ِ ٍ ِ ‫ض امل ْغ ِر‬


َ ‫ث َرَك َعا ت جَمْ ُم ْو ًعا إىَل الع َشاء أ ََداءً لله َت َع‬
َ َ‫ب ثَال‬ ‫أُصلى َفر‬
َ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu maghrib tiga raka’at qoshor dan
jama’ dengan isya’ fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

8) Niat sholat isya’ jama’ ta’khir


ِ َِّ ِِ ِ ِ ِ ِ ‫أُصلى َفر‬
‫ اهلل أكرب‬.‫اىل‬ ْ َ‫ض الع َشاء َرْك َعَتنْي ِ ق‬
َ ‫صًرا جَمْ ُم ْو ًعا إلَْيه املَْغرب أ ََداءً لله َت َع‬ َ ْ ِّ َ
Artinya : “saya niat sholat fardhu isya’ dua raka’at qoshor dan
jama’ dengan maghrib fardhu karena Allah. Allahu Akbar”

B. SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan kita
tentang bagaimana shalat jama’ dan qashr.

18
DAFTAR PUSTAKA.
Arfan,Abbas.2011Fiqh Ibadah Prakti.Malang:UIN-MALIKI PRESS.

Al Mahfani, Khalilurrahman,M.2.008Buku Pintar Shalat.Jakarta Selatan:Kawah


media.
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-
bin/content.cgi/artikel/menuju_kesempurnaan_shalat/06.single.

19