Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puja
dan puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah
landasan Pendidikan dengan judul “Mendiskripsikan Definisi Landasan Sosiologi
Pendidikan tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini telah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung
bantan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancarkan dalam penyusunanya. Untuk
itu tidak lupa kam mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah.
Namun tidak lepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainya. Oleh karena
itu dengan lapang dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang ingin memberi
saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini
dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca
untuk mengangkat permasalah lain yang berkaitan pada makalah-makalah selanjutnya.

                                                                               Tulungagung, September 2017

                                                                                         Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia membutuhkan pendidikan untuk menjalani kehidupannya. Pendidikan


memberi bekal manusia untuk menjalani kehidupan menjadikan dewasa dengan
dapat menentukan hal yang baik dan benar, dan menjalani tugas untuk belajar
sepanjang hayat. Tujuan pendidikan tersebut untuk mengarah pada menjadikan
manusia lebih baik.

Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu.


Secara sosiologi, pendidikan adalah sebuah warisan budaya dari generasi ke
generasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu
tetap terpelihara. Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat
dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas
dari unsur sosial budaya.

Kajian sosiologi tentang pendidikan mencakup semua jalur pendidikan, baik


sekolah maupun pendidikan luar sekolah, terutama apabila ditinjau dari sosiologi
maka pendidikan keluarga sangat penting, karena keluarga merupakan lembaga
sosial pertama bagi setiap manusia. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di
lembaga sekolah yang dengan sengaja di bentuk oleh masyarakat.

Memasuki abad ke-21 dan menyongsong milenium ketiga tentu akan terjadi
banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi.
Tak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan
akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup,
berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan
mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan
dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak yang berlandaskan sosiologi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi landasan sosiologi pendidikan ?
2. Bagaimana sejarah sosialisasi pendidikan ?
3. Siapa tokoh-tokoh pencetus dasar sosiologis ?
4. Apa teori-teori sosiologis ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi landasan sosiologi pendidikan
2. Untuk mengetahui sejarah sosialisasi pendidikan
3. Untuk mengetahui tokoh-tokoh pencetus dasar sosiologis
4. Untuk mengetaui teori-teori sosiologis
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI LANDASAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN


1. Pengertian sosiologi pendidikan

Secara etimologi (asal-usul kata) “sosiologi pendidikan” Sosiologi


berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, sedangkan Logos
berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan
pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive"
karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang
sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan
tentang masyarakat.
Dari berbagai definisi yang di kemukakan para ahli dapatla disimpulakn
bahwa sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat atau cabang ilmu sosial
yang mempelajari secara sistematik kehidupan bersama manusia yang
ditinjau dan diamati dengan menggunakan metode empiris yang didalamnya
terkandung studi tentang kelompok-kelompok manusia, tatanan sosial,
perubahan sosial, sebab-sebab sosial, dan segala fenomena sosial yang
memengaruhi perilaku manusia.1
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan,
memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak
mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia
dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah
ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari
hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain
atau umum.2
Sementara istilah pendidikan, mempunyai padanan kata education dalam
bahasa inggris dan at-tarbiyyah dalam bahasa arab. Pengertian pendidikan
secara sederhana adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang

1
Ali.maksum. Sosiologi Pendidikan. (Malang:Madani.2016) hlm. 03
2
https://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi.12/09/2017.12:40
atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan
pelatihan.3
Dari kesekian banyak definisi yang saya baca, dapat diambil kesimpuan
bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang membahas dan
diterapkan dalam memecahkan segala problematika yang ada dalam
pendidikan, terutama dalam interaksi sosial antara peserta didik dengan
lingkungan, guru, dan sesamanya.4
Pada awalnya, sosiologi dan ilmu pendidikan memiliki wilayah kajian
yang berbeda. Namun karena perkembangan sosial yang berlangsung
menyebabkan kedua disiplin ilmu ini bersinergi.5
Dalam masyarakat terdapat struktur sosial dan dalam struktur sosial
tersebut setiap individu menduduki status dan peranan tertentu. Dalam
rangka memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuannya, setiap indivdu
maupun kelompok melakukan interaksi sosial, adapun dalam interaksi
sosialnya mereka melakukan tindakan sosial.
Tindakan sosial yang dilakukan individu hendaknya sesuai dengan status
dan perananya yang mengacu pada sistem nilai dan norma yang berlaku di
dalam masyarakat, atau secara umum harus sesuai dengan kebudayaan
masyarakatnya. Masyarakat menuntut demikian agar terjadi conformity. Jika
tidak demikian halnya, idividu akan dipandang melakukan penyimpangan
tingkah laku terhadap nilai dan norma masyarakat (deviant behavior).
Terhadap individu demikian masyarakat akan melakukan social controll.
Manusia hakikatnya adalah makhluk bermasyarakat dan berbudaya, dan
masyarakat menuntut setiap individu mampu hidup demikian. Namun
karena manusia tidak secara otomatis mampu hidup bermasyarakat dan
berbudaya, maka masyarakat melakukan pendidikan atau sosialisi
(socialization) dan atau enkulturasi (enculturation). Dengan demikian
diharapkan setiap individu mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya
sehingga tidak terjadi penyimpangan tingkah laku terhadap sistem nilai dan
norma masyarakat.

3
Ibid. Hlm.03
4
Ibid. Hlm.05
5
Ibid.hlm.01
Individu maupun masyarakat sebagai suatu kesatuan individu-indi vidu
mempunyai berbagai kebutuhan. untuk memenuhi berbagai kebutuhan
tersebut masyarakat membangun atau mempunyai pranata sosial. Salah satu
diantaranya adalah pranata pendidikan. Pendidikan merupakan pranata sosial
yang berfungsi melaksanakan sosialisasi atau enkulturasi. Terdapat
hubungan antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya.
Kebudayaan menentukan arah, isi dan proses pendidikan (sosialisasi atau
enkulturasi). Sedangkan pendidikan memilki fungsi konservasi dan atau
fungsi kreasi (perubahan, inovasi) bagi masyarakat dan kebudayaannya.
Landasan sosiologis pendidikan adalah acuan atau asumsi dalam
penerapan pendidikan yang bertolak pada interaksi antar individu sebagai
mahluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pendidikan
merupakan suatu proses interaksi antara dua individu (pendidik dan peserta
didik) bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda
mengembangkan diri. Pengembangan diri tersebut dilakukan dalam kegiatan
pendidikan. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan dapat berlangsung baik di
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
B. SEJARAH SOSIALISASI PENDIDIKAN
C. TOKOH-TOKOH PENCETUS DASAR SOSIOLOGIS
D. TEORI-TEORI SOSIOLOGIS
1. Teori fungsional – stuctural
Teori fungsional structural adalah sesuatu yang urgen dan sangat
bermanfaat dalam suatu kajian tentang analisa masalah sosial. Hal ini
disebabkan karena masyarakat merupakan sebuah masalah sosiologis yang
telah menembus karya-karya para pelopor ilmu sosiologi dan para ahli teori
kontemporer. Menurut teori fungsional structural, struktur sosial dan pranata
sosial tersebut berada dalam suatu system sosial yang berdiri atas bagian-
bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan menyatu dalam
keseimbangan. Dimana fungsi ini menekankan pada fungsiperan dari
struktur sosial yang menekankan pada consensus dalam suatu masyarakat.
Struktur ini berarti suatu system yang terlembagakan dan saling berkaitan.
Kaitannya dengan pendidikan. Dalam hal ini teori ini memiliki fungsi
diantaranya:
a) Sekolah sebagai sarana sosialisasi. Dimana sekolah mengubah orientasi
kekhususan ke universalita salah satunya yaitu manset selain mewarisi
budaya yang ada juga membuka wawasan baru terhadap dunia luar.
Selain itu juga mengubha alokasi seleksi diperoleh bukan dengan usaha
seperti hubungan darah, kerabat dekat dll ke peran yang diberikan
penghargaan berdasarkan prestasinya yang disesungguhnya.
b) Sekolah memberika kesamaan kesemptan. Suatu sekolah yang baik
pastinya memberikan kesamaan hak dan kewajiban tanpa memandang
siapa dan bagaimana asal-usul peserta didiknya.

2. Teori konflik

Dalam teori ini, tidak mengakui kesamaan dalm suatu masyarakat.


Menurut Weber stratitifikasi merupakan kekuatan sosial yang berpengaruh
besar. Seeperti halnya dalam sekolah , pendidikan merupakan variable kelas/
status. Pendidikan akan mengantar seseorang untuk mendapatkn status yang
tinggi yang menuju meraha yang konsumeris yang membedakan kaum
buruh. Namun tekanan disini bukan pada pendidikannya melainkan pada
unsur kehidupan yang memisahkan pada golongan lain. Menurut Weber,
dalam dunuia kerja belum tentu merekna yang berpendidikn tinggi lebih
terampil dengan mereka yang diberi latihan-latihan, namun pada
kenyataanya mereka yang berpendidikan tinggi yang menduduki kelas
penting. Jadi pendidikan seperti dikuasai oleh kaum elit dan melanggengkan
posisinya untuk mendapatkan status dan kekuasaanya.

3. Teori interaksionisme simbolik

Dimana didalam teori ini berasumsi bahwa kehidupan sosial hanya


bermakna pada tingkat individual yang realitas sosial itu tidak ada. Sebagai
contoh buku bagi seseorang berependidikan merupakan suatu hal yan
penting, namun bagi orang yang tidak mengenyamnya tidak bermanfaat.

4. Teori aksi

Bahwa tindakan manusia muncul dari kesadarsnnya sendiri, sebgai


subyek dan dari situasi eksternal salsm posisinya sebagai obyek; sebagai
subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan tertentu.
Jadi usahs seorang guru sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan
pendidikan yang diingnkan dalam bentuk motivasi dan penguatan agar
mereka lebih terpacu demi tercapainya suatu tujuan.

5. Teori evolusi

Ciri khas manusia yaitu akal budinya sebagsi prinsip akal budi. Akal
budi manusia dikekang oleh suatu hokum atau daya gerak evolusioner dari
dalam diri yang secara bertahap menyebabkan umat manusia mula-mula
berfikir kongkret dan particular, lantas berpikir abstrak dan umum dan
akhirnya positif dan empiris. Dalam teori ini terjadinya pola pikir manusia
akibat dari perubahan yang terjadi baik dari dalam / luar manusia tersebut.
Disini pendidikan juga berperan penting dalam mengubah pola pikir
seseorang dari ia tidak tau memjadi tahu sehingga akan berubah dan
menjsadi manusia yang lebih baik. Berguna untuk dirinya sendiri atau orang
lain

6. Teori Fenomenologi

Tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia


memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakan tertentu dan manusia
lain memahami pula tindakannya pula itu sebagai suatu yang berarti.
Pemahaman secara subyektif terhadap suatu tindakan sangat menentukan
kelangsungan proses interaksi sosial. Maka dari itu pentingnya penanaman
nilai toong – menolong dan saling memberi kepada anak semenjak dini.
Seperti pepatah “ siapa yang menuai benihnya aan menuai padi, jika ia
menuai angina maka ia akan menuai badai.”

7. Teori etnometodologi

Etnometodologi adalah cabang dari fenomenologi yang memepelajari


dan berusaha menagkap arti dan makna kehidupan sosial masyarakat
berdasarkan ungkapan-ungkapan atau perkataan – perkataan yang mereka
ucapakan atau ungkpkan secara eksplisif / implisif. Pendidikan tidak hanya
akan mengubah kehidupan seseoramg melalui ilmu yang diberikan tetapi jug
cara pemikiran seseorang melalui ilmu yang diberikan tetapi juga cara
pemikiran seseorang melalui semua hal yang Ia dapat baik dari manusia itu
sendiri ( guru).

8. Teori perilaku

Teori ini memusatakn perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari


tingkah laku yang terjadi dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor
konsep dasar teori ini adalah mengenai “ reinforcement “ ( penguatan) yang
dapat diartikan sebagai ganjaran ( reward). Metode ini dapat dilakukan
dalam pembelajaran di PAUD karena anak usi dini memiliki rasa ingin tau
yang sangat tinggi, biarkan ia melaukan apa yang hendak lakukan tugas kita
hanya mengawasi, maka ia akan tahu pembelajaran yang dia dapat dari
aktifitas yang ia lakukan akan mendpatkan penguatan atau ( reward).

9. Teori pertukaran

Bahwa tinggi ganjaran ( reward) yang diperoleh atau yang akan


diperoleh makin besar, kemungkinan suatu tingkah laku yang akan diulang,
dengan demikian pula sebaliknya. Makin tinggi biaya atau ancapan
hukuman ( punishment) yang akan diperoleh , maka kecil kemungkinan
tingkah laku akan diulang . adanya hubungan berantai antara berbagai
stimulus dan antara berbagi tanggapan hampir sama tingkah laku, teori
pertukaran ini merupakan yang dampak dari apa yang telah kita lakukan ,
sama halnya pemabgian nilai disekolah , jika anak mendapatkan nilai yang
tinggi dan ia mendapatakan penguatan maka ia akan belajar lebih giat dan
akan mempertahankannya begitupun sebaliknya.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Maksum.Ali. Sosiologi Pendidikan. 2016.Malang.Madina

https://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi