Anda di halaman 1dari 47

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

W DENGAN
DIABETES MELITUS TIPE II DI RUANG DAHLIA
RSUD KELAS B KABUPATEN SUBANG
TAHUN 2020

DI SUSUN OLEH :
NENG AISYAH

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
YPIB MAJALENGKA
2020
LAPORAN PENDAHULUAN

1
DIABETES MELLITUS

A. Proses penyakit Diabetes Mellitus


1. Pengertian
Diabetes Mellitus merupakan sekumpulan gangguan metabolic yang
ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah ( hiperglikemia) akibat
kerusakan pada sekresi insulin ( Brunner & Suddarth, 2013).
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis
atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan
volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah
penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau
penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2015.
Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang
mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan
berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis.
(Barbara C. Long, 2014)
Berdasarkan beberapa definisi para ahli tentang DM dapat diambil
kesimpulan bahwa DM adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan
hormonal (dalam hal ini adalah hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas)
dan melibatkan metabolisme karbohidrat dimana seseorang tidak dapat
memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang
diproduksi dengan baik.
Berikut Tipe Diabetes dalam Brunner & Suddarth (2013) :
a. Diabetes tipe I adalah diabetes tergantung insulin ( Insulin dependent diabetes
mellitus atau IDDM). Kurang lebih 5% hingga 10% penderita mengalami tipe
ini. Pada DM tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa
yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap
berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah
makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa
tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh
pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan
diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria)
dan rasa haus (polidipsi)

2
b. Diabetes tipe II adalah diabetes tidak tergantung insulin ( Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus atau NIDDM). Kurang lebih 90% hingga 95%
penderita mengalami tipe ini,terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap
insulin yang disebut resistensi insulin atau akibat penurunan jumah produksi
insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk
merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi
resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin.
Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada
rangsangan glukosa, namun pada rangsangan glukosa bersama bahan
perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel beta pankreas mengalami
desensitisasi terhadap glukosa. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor
khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor
tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam
sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi
intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan
insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu,
keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa
akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan
insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II
2. Etiologi
a. Diabetes tipe I
Ditandai oleh penghancuran sel sel beta pancreas. Kombinasi factor genetic,
imunologi dan mungkin pula lingkungan ( misalnya : infeksi virus). (Brunner
& Suddart,2013) :
1) Factor- factor genetic :
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri melainkan
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya
diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditemukan pada individu yang
memilki tipe antigen HLA ( Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA
merupakan sekumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen
transplantasi dan proses imun lainya. 95% pasien berkulit putih
( Cucasian) dengan diabetes tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesfik
( DR3 atau DR4)

3
2) Faktor- factor Imunologi :
Pada Diabetes tipe I terdapat bukti adanya respon autoimun. Respon ini
merupakan respons abnormal dimana antibody terarah pada jaringan
normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut dianggapnya
seolah sebagai jaringan asing. Autoantibody terhadap sel sel pulai
langerhans dan insulin endogen ( Internal) terdeteksi pada timbulnya
gejala klinis Diabetes tipe I
3) Factor factor Lingkungan
juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan factor eksternal yang dapat
memici destruksi sel beta. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang
menyatakan bahwa virus atai toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
b. Diabetes tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada dibetes tipe II masih belum diketahu.i Factor genetic
diperkirakan memegang peranan penting dalam proses terjadinya resistensi
insulin (Brunner & Suddart,2013).
Selain itu terdapat juga factor risiko yang berhubungan dengan proses
terjadinya diabetes tipe II yaitu :
1) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 thn)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
c. Perjalanan penyakit Diabetes Melituus
1. DM Tipe I
Pada Diabetes tipe I terdapat ketidak mampuan pankreas
menghasilkan insulin karena hancurnya sel-sel beta pulau langerhans.
Dalam hal ini menimbulkan hiperglikemia puasa dan hiperglikemia post
prandial. Dengan tingginya konsentrasi glukosa dalam darah, maka akan
muncul glukosuria (glukosa dalam darah) dan ekskresi ini akan disertai
pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan (diuresis osmotic)
sehingga pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliurra)
dan rasa haus (polidipsia).
Defesiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan
lemak sehingga terjadi penurunan berat badan akan muncul gejala
peningkatan selera makan (polifagia). Akibat yang lain yaitu terjadinya
proses glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan
glukogeonesis tanpa hambatan sehingga efeknya berupa pemecahan lemak

4
dan terjadi peningkatan keton yang dapat mengganggu keseimbangan
asam basa dan mangarah terjadinya ketoasidosis.
Ketoasidosis diabetk yang diakibatkan dapat menyebabkan tanda
gejala seperti mual, muntah, nyeri abdomen, hiperventilasi, dan bila tidak
ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian
(Brunner&Suddarth, 2013)
2. DM Tipe II
Terdapat dua masalah utama pada DM Tipe II yaitu resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan berkaitan
pada reseptor kurang dan meskipun kadar insulin tinggi dalam darah tetap
saja glukosa tidak dapat masuk kedalam sel sehingga sel akan kekurangan
glukosa. Mekanisme inilah yang dikatakan sebagai resistensi insulin.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa
dalam darah yang berlebihan maka harus terdapat peningkatan jumlah
insulin yang disekresikan. Namun demikian jika sel-sel beta tidak mampu
mengimbanginya maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadilah DM
tipe II
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri
khas diabetik tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang
adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton
yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada
DM tipe II, meskipun demikian diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat
menimbulkan masalah akut lainya, yaitu sindrom hiperglikemik
hiperosmoler nonketotik. Penanganan primer diabetes tipe II adalah
menurunkan berat badan, karena resistensi insulin berkaitan dengan
obesitas. Latihan merupakan unusr yang penting juga meningkatkan
efektivitas insulin. ( Brunner&Suddarth.2013)

B. Manifestasi Klinis
1. Secara umum dalam ( Brunner & Suddart, 2013) manifestasi DM adalah :
a. Poliuria
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic

5
diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien
mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsia
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak
karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum
c. Polifagia
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi
(lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi
walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada
sampai pada pembuluh darah.
d. Penurunan berat badan
Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel maka sel kekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme,
akibat dari itu maka sel akan menciut, sehingga seluruh jaringan
terutama otot mengalami atrofidan penurunan secara otomatis.
e. Keletihan dan kelemahan perubahan pandangan secara mendadak, senasi
kesemutan atau kebas ditangan dan kaki, kulit kering, lesi kult atau luka yang
lambat sembuh serta infeksi berulang
f. Awitan diabetes tipe I dapat disertai dengan penurunan berat badan mendadak,
mual, muntah, dan nyeri lambung’
g. Awitan diabetes tipe II disebabkan intoleransi glukosa yang progresif serta
berlangsung perlahan dan mengakibatkan komplikasi jangka apabila diabtes
tidak teratasi
2. Berdasarkan tipe Diabetes Mellitus dalam ( Brunner & Suddarth,2001) adalah:
a. Diabetes tipe I
1) Awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya usia muda ( <30 tahun)
2) Biasnya bertubuh kurus pada saat didiagnosis , dengan penurunan berat
badan yang baru saja terjadi
3) Etiologi mencakup factor genetic, imunologi, dan lingkungan
4) Sering memilki antibody sel pulau langerhans
5) Sedikit atau tidak mempunyai insulin endogen
6) Memerlukan insulin untyk mempertahankan kelangsungan hidup
7) Cenderung mengalami ketosis jika tidak memilki insulin
8) Komplikasi akut hiperglikemi : ketoasidosis metabolic
b. Diabetes tipe II
1) Awitan terjadi di segala usia , biasnya diats 30 tahun
2) Biasanya bertubuh gemuk atau obesitas

6
3) Etilogi mencakup factor obesitas, herediter dan lingkungan
4) Tidak ada antibody sel pulau langerhans
5) Mayoritas penderita obesitas mengendalikan kadar glukosa darahnya
melalui penurunan berat badan
6) Mungkin memerlukan insulin dalam waktu pendek mencegah
hiperglikemia
7) Ketosis jarang terjadi, kecuali keaadna stress
8) Komplikasi akut : Sindrome hipeosmoler nonketotik

C. Patofisiologis
Diabetes Mellitus mengalami defisiensi insulin menyebabkan glukagon
meningkat sehingga terjadi pemecahan gula baru (Glukoneogenesis) yang
menyebabkan metabolisme lemak meningkat kemudian terjadi proses
pembentukan keton (ketogenesis). Terjadinya peningkatan keton didalam plasma
akan menyebabkan ketonuria (keton didalam urine) dan kadar natrium menurun
serta PH serum menurun yang menyebabkan asidosis. Difisiensi insulin
menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel menjadi menurun sehingga kadar
glukosa darah dalam plasma tinggi (hiperglikemia).
Jika hiperglikemianya parah dan melebihi ambang ginjal maka timbul
glikosuria. Glukosuria ini akan menyebabkan deuresis osmotik yang
meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa haus (polidipsi)
sehingga terjadi dehidrasi. Glukosuria menyebabkan keseimbangan kalori negatif
sehingga menimbulkan rasa lapar (polifagfi).Penggunaan glukosa oleh sel
menurun mengakibatkan produksi metabolisme energi menjadi menurun sehingga
tubuh menjadi lemah.
Hiperglikemia dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil (arteri kecil)
sehingga suplai makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang yang akan
menyebabkan luka tidak sembuh-sembuh . Karena suplai makanan dan oksigen
tidak adekuat yang mengakibatkan terjadinya infeksi dan terjadi ganggren atau
ulkus.
Gangguan pembuluh darah menyebabkan aliran ke retina menurun
sehingga suplai makanan dan oksigen berkurang, akibatnya pandangan menjadi
kabur. Salah satu akibat utama dari perubahan mikrovaskuler adalah perubahan
pada struktur dan fungsi ginjal sehingga terjadi nefropati. Diabetes mempengaruhi
saraf – saraf perifer, sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat sehingga
mengakibatkan neuropati. (Price, 2013

7
D. Pathway

Defisiensi Insulin

glukagon↑ penurunan pemakaian


glukosa oleh sel

glukoneogenesis hiperglikemia

lemak protein glycosuria

ketogenesis BUN↑ Osmotic Diuresis

Kekurangan
ketonemia Nitrogen urine ↑ Dehidrasi volume cairan

Mual muntah ↓ pH Hemokonsentrasi

Resti Ggn Nutrisi Asidosis Trombosis

Kurang dari kebutuhan  Koma Aterosklerosis


 Kematian

Makrovaskuler Mikrovaskuler

Retina Ginjal
Jantung Serebral Ekstremitas

Retinopati Nefropati
Miokard Infark Stroke Gangren diabetik

Ggn. Penglihatan Gagal


Ggn Integritas Kulit Ginjal

Resiko Injury

E. Komplikasi
1. Komplikasi yang berkaitan dengan diabetes diklasifikasikan sebagi komplikasi
yang akut dan kronik ( Brunner& Suddart,2013). komplikasi akut yang terjadi
akibat intoleransi glukosa yang berlangsung dan dalam jangka waktu yang
pendek adalah
a. Hipoglikemia

8
Suatu keadaan dimana kadar gula darah < 80 mg/dl, dapat terjaadi karena
intake nutrisi tidak adekuat, latihan fisik yang berlebihan serta efek pemberian
insulin OHO
b. DKA ( Ketoasidosis diabetic)
Disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang
nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat,
protein, dan lemak.
c. HHNK ( Sindrom Hiperglikemia Hipeosmoler Nonketotik)
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia
dan disertai perubahan tingkat kesadaran (sense of awareness).
2. Komplikasi kronik biasanya terjadi 10-15 tahun setelah awitan diabetes
mellitus mencakup :
a. Penyakit makrovaskular ( pembuluh darah besar) : mempengaruhi sirkulasi
koroner, pembuluh darah perifer, dan pembuluh darah otak. misalnya
makroangiopati pada pembuluh darah perifer sehingga bila luka sukar sembuh,
hipertensi akibat peningkatan viskositas dan penurunan elastisitas pembuluh
darah.
1) Penyakit Arteri Koroner
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh arteri koroner menyebabkan
peningkatan insidensi infark miokard pada penderita Diabetes Mellitus.
2) Penyakit Serebrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah serebral atau
pembentukan embolus ditempat lain dalam sistem pembuluh darah yang
kemudian terbawa aliran darah sehingga terjepit dalam pembuluh darah
serebral dapat menimbulkan serangan iskemia sepintas (TIA = Transient
Ischemic Attack)
3) Penyakit Vaskuler Perifer
Menurut Brunner dan Suddarth (2002), perubahan aterosklerotik dalam
pembuluh darah besar pada ekstremitas bawah merupakan penyebab utama
meningkatnya insiden gangren dan amputasi pada pasien-pasien Diabetes
Mellitus. Hal ini disebabkan karena pada penderita Diabetes Mellitus
sirkulasi buruk, terutama pada area yang jauh dari jantung, turut
menyebabkan lamanya penyembuhan jika terjadi luka.
b. Penyakit mikrovaskular ( pembuluh darah kecil) : mempengaruhi mata,
( retinopati), dan ginjal *( nefropati, control kadar gula darah untuk menunda
atau mencegah awita komplikasi mikrovaskular maupun makrovaskular
1) Retinopati Diabetik

9
Retinopati Diabetik merupakan kelainan retina yang ditemukan
pada penderita diabetes mellitus dimana retinopati akibat diabetes melitus
yang lama yang dapat berupa melebarnya vena, perdarahan dan eksudat
lemak (Ilyas, 2006). Pada retinopati diabetik secara perlahan terjadi
kerusakan pembuluh darah retina atau lapisan saraf mata sehingga
mengalami kebocoran sehingga terjadi penumpukan cairan (eksudat) yang
mengandung lemak serta pendarahan pada retina yang lambat laun dapat
menyebabkan penglihatan buram, bahkan kebutaan. Bila kerusakan retina
sangat berat, seorang penderita diabetes dapat menjadi buta permanen
sekalipun dilakukan usaha pengobatan (Admin, 2016)
2) Nefropati
Segera sesudah terjadi diabetes, khususnya bila kadar glukosa
darah meninggi, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress
yang menyebabkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Sebagai
akibatnya, tekanan dalam pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan
tekanan tersebut diperkirakan berperan sebagai stimulus untuk terjadinya
nefropati.
3) Neuropatik
a) Pengertian
Neuropati diabetika merupakan komplikasi yang paling sering pada
diabetes mellitus (DM), sekitar 50% dari pasien dengan DM tipe 1 dan
tipe 2. Neuropati diabetika perifer meliputi gejala atau tanda- tanda
disfungsi pada saraf perifer pada penderita diabetes mellitus setelah
penyebab lainnya disingkirkan. Neuropati perifer simetrik yang
mengenai system saraf motorik serta sensorik ekstremitas bawah yang
disebabkan oleh je- jas sel Schwann, degenerasi myelin, dan kerusakan
akson saraf. Neu-ropati otonom dapat menimbulkan impotensi seksual
yang bersifat fokal (mononeuropati diabetik) paling besar
kemungkinannya disebabkan oleh makroangiopati.
Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya kerusakan pada
saraf :
1. Kontrol gula darah yang buruk
2. Usia tua
3. Lama menderita DM.
4. Risiko neuropati meningkat bergantung lama pasien menderita
DM, terutama pada pasien yang tidak pernah mengontrol gula

10
darahnya.Neuropati perifer sering terjadi pada pasien yang telah
terkena diabetes mellitus sekitar 25 tahun.
5. Merokok
6. Asupan tinggi alcohol
b) Tanda dan Gejala
Gejala yang muncul tergantung pada lokasi dan jenis saraf yang
mengalami neuropati. Bentuk yang sering terjadi adalah:
1) Neuropati sensori-motorik (saraf sensori-motorik : persarafan yang
mengatur sistem sensorik/persepsi dan pergerakan)
2) Gejala sensorik : kesemutan, baal, kebas, mati rasa, nyeri, sensasi
tertusuk/terbakar.
3) Gejala motorik : kelemahan otot
4) Neuropati otonom (saraf otonom : persarafan yang mengatur
berbagai sistem dalam tubuh dan bekerja diluar kesadaran)
5) Gejala neuropati otonom tergantung pada persarafan otonom
sistem organ mana yang mengalami neuropati.
6) Gejala kardiovaskular : lemah, pusing, sakit kepala, penurunan
toleransi latihan/aktivitas, gangguan denyut jantung, salah
satu/kedua kaki sering terasa dingin, hipotensi ortostatik (tekanan
darah menurun pada perubahan posisi berbaring – duduk – berdiri)
7) Gejala saluran pencernaan : kembung, mual, muntah, diare,
konstipasi, nyeri ulu hati, nyeri perut.
8) Gejala sistem urinasi: hilangnya kontrol berkemih.
9) Gangguan fungsi seksual : disfungsi ereksi, penurunan libido,
dispareunia (nyeri selama hubungan seksual), berkurangnya
pelumasan vagina, anorgasmi.
10) Gejala kulit : gatal, kulit kering, hilangnya rambut – rambut halus
kulit.
11) Lain – lain : depresi, ansietas (kecemasan), gangguan tidur.

c) Komplikasi
Beberapa komplikasi neuropati diabetik yang paling serius adalah :
1) Kaki diabetes (diabetic foot): akibat dari hilang/berkurangnya
kemampuan kaki merasakan nyeri bila terjadi trauma, disertai
perubahan tertentu pada kulit dan otot kaki yang juga
mempermudah terjadinya ulkus (luka yang dalam).

11
2) Silent Miocardial Infark : pada penderita neuropati diabetik,
serangan jantung sering tidak disertai nyeri dada seperti yang
lazimnya dialami pasien serangan jantung. Gejala seringkali tidak
khas, dapat hanya berupa sesak, lelah, atau nyeri ulu hati.
Absennya nyeri dada ini sering membuat serangan jantung
terlambat diketahui, sehingga tidak dapat segera ditangani dan
berakibat fatal !
3) Batu empedu : akibat menurunnya gerak kontraksi kandung
empedu, sehingga terjadi perlambatan aliran cairan empedu yang
memudahkan terbentuknya batu empedu.
4) Gastritis : akibat menurunnya gerak kontraksi lambung karena
gangguan saraf otonom saluran cerna, asam lambung
menggenang lebih lama dalam lambung dan mengiritasi lambung.

F. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan secara medis
a. Obat Hipoglikemik Oral
1) Golongaan Sulfonilurea / sulfonyl ureas
Obat ini paling banyak digunakan dan dapat dikombinasikan dengan obat
golongan lain, yaitu biguanid inhibitor alfa glukosidase atau insulin. Obat
golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan produksi insulin oleh
sel- sel beta pankreas, karena itu menjadi pilihan utama para penderita
DM tipe 2 dengan berat badan berlebihan
2) Golongan Biguanad /metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi glukosa hati, memperbaiki
pengambilan glukosa dari jaringan (glukosa perifer) dianjurkan sebagai
obat tinggal pada pasien kelebihan berat badan.
3) Golongan Inhibitor Alfa Glikosidase
Mempunyai efek utama menghambat penyerapan gula di saluran
pencernaan sehingga dapat menurunkan kadar gula sesudah makan.
Bermanfaat untuk pasien dengan kadar gula puasa yang masih normal.
b. Insulin
1) Indikasi insulin
Pada DM tipe 1 yang tHuman Monocommponent Insulin (40 UI dan 100
UI/ml injeksi) yang beredar adalah actrapid Injeksi insulin dapat
diberikan kepada penderita DM tipe11 yang kehilangan berat badan
secara drastis. Yang tidak berhasil dengan penggunaan obat-obatan anti

12
DM dengan dosis maksimal atau mengalami kontra indikasi dengan obat-
obatan tersebut. Bila mengalami ketoasidosis, hiperosmolar asidosis
laktat, stress berat karena infeksi sistemik, pasien operasi berat , wanita
hamil dengan gejala DM yang tidak dapat dikontrol dengan pengendalian
diet.
2) Jenis insulin
a) Insulin kerja cepat jenisnya adalah reguler insulin, cristalin zink, dan
semilente
b) Insulin kerja sedang Jenisnya adalah NPH (Netral Protamine
Hagerdon)
c) Insulin kerja lambat Jenisnya adalah PZI (Protamine Zinc Insulin)
2. Penatalaksanaan Secara Keperawatan
a. Diet
Salah satu pilar utama pengelolaan DM adalah perencanaan makanan
walaupun telah mendapat penyuluhan perencanaan makanan, lebih dari 50%
pasien tidak melaksanakannya. Penderita DM sebaiknya mempertahankan
menu yang seimbang dengan komposisi Idealnya sekigtar 68% karbohidrat,
20% lemak dan 12% protein. Karena itu diet yang tepat untuk mengendalikan
dan mencugah agar berat badan ideal dengan cara:
1) Kurangi Kalori
2) Kurangi Lemak
3) Kurangi Karbohidrat komplek
4) Hindari makanan manis
5) Perbanyak konsumsi serat
b. Olahraga
Olahraga selain dapat mengontrol kadar gula darah karena membuat insulin
bekerja lebih efektif. Olahraga juga membantu menurunkan berat badan,
memperkuat jantung dan mengurangi stress .Bagi pasien DM melakukan
olahraga dengan teratur akan lebih baik tetapi janganmmelakukan olahraga
terlalu berat.

G. Pemeriksaan Penunjang
Mansjoer, 1999 mengatakan bahwa pemeriksaan penunjang sangat penting
dilakukan pada penderita DM untuk menegakkan diagnose kelompok resiko DM yaitu
kelompok usia dewasa tua (lebih dari 40 tahun), obesitas, hipertensi, riwayat keluarga
DM riwayat kehamilan dengan bayi lebih dari 4000 gram, riwayat DM selama
kehamilan. Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan gula darah sewaktu kemudian

13
dapat diikuti dengan Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO) Untuk kelompok resiko
yang hasil pemeriksaan nya negatif, perlu pemeriksaan ulang setiap tahunnya.
Pada pemeriksaan dengan DM dipemeriksaan akan didapatkan hasil gula darah
puasa >140 mg/dl pada dua kali pemeriksaan. Dan gula darah post prandial
>200mg/dl. Selain itu juga dapat juga dilakukan pemeriksaan antara lain:
1. Aseton plasma (keton) > positif secara mencolok
2. Asam lemak bebas:kadar lipid dan kolesterol meningkat
3. Elektrolit :natrium naik ,turun kalium naik, turun, fosfor turun
4. Gas Darah Arteri :menunjukkan PH menurun dan HCO3 menurun (Asidosis
Metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
5. Urine: Gula dan aseton positif (berat jenis dan osmolaritas meningkat.
6. Kultur dan Sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih infeksi
saluran pernafasan, dan infeksi pada luka

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

14
DIABETES MELLITUS

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang
mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam
menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita ,mengidentifikasikan,
kekuatan dan kebutuhan penderita yang daptdiperoleh melalui anamnese,
pemeriksaan fisik, pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang
lainnya.
a. Anamnesea.
1) Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk
rumah sakit dan diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
Kaji Kemungkinan ditemukan gejala banyak minum,banyak kencing,dan
banyak makan, klien mengeluh pandangan kabur, baal atau kesemutan
pada kaki atau tangan
3) Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji pengobatan apa yang dilakukan oleh klien., apa yang dirasakan atau
keluhan klien saat pengkajian, tanda hipoglikemia, kulit dingin, pucat,
takikardi . serta adanya penurunan berat badan
4) Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji Kemungkinan klien mengalami riwayat obesitas ,aktifitas fisik yang
kurang,pola makanyang salah,pernah operasi atau infeksi pankreas,
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada
kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya
riwayat penyakit jantung, obesitas,maupun arterosklerosis, tindakan medis
yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh
penderita
5) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau
penyakit keturunanyang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin
misal hipertensi, jantung
6) Riwayat psikososial

15
Kaji meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi
yangdialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan
keluarga terhadap penyakit penderita

b. Pemeriksaan fisik
1) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita , tingkat kesadaran, suara bicara, tinggi badan,
berat badan dan tanda – tanda vital.
2) Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher,
telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah
sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi
mudah bengkak dan berdarah,apakah penglihatan kabur / ganda, , lensa
mata keruh.
3) Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka,
kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkusdan gangren, kemerahan
pada kulit sekitar luka, tekstur rambutdan kuku.
4) Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah
terjadi infeksi.
5) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau
berkurang,takikardi/bradikardi,hipertensi/hipotensi,
6) Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi,dehidrase,
perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
7) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atausakit saat
berkemih.
8) Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat
lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren diekstrimitas.
9) Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi,mengantuk,
reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
c. Pemeriksaan Penunjang

16
1. Adanya glukosa dalam urine. Dapat diperiksa dengan cara benedict
(reduksi) yang tidak khas untuk glukosa, karena dapat positif pada diabetes.
2. Diagnostik lebih pasti adalah dengan memeriksa kadar glukosa dalam darah
dengan cara Hegedroton Jensen (reduksi).
1) Gula darah puasa tinggi >140 mg/dl.
2) Test toleransi glukosa (TTG) 2 jam pertama >200 mg/dl.
3) Osmolitas serum 300 m osm/kg.
4) Urine = glukosa positif, keton positif, aseton positif atau negative (Bare
& suzanne, 2002

d. Data subjektif dan data objektif


Adapun data yang perlu dikaji pada pasien Diabetes Mellitus adalah :
a. Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan
pasien pada pasien Diabetes Mellitus. Data subyektif yang ditemukan
antara lain :
1) Pasien mengeluh lemah.
2) Pasien mengeluh kesemutan pada ekstremitasnya.
3) Pasien mengatakan nafsu makannya menurun.
4) Pasien mengeluh banyak kencing.
5) Pasien mengeluh nyeri pada bagian tubuh yang sakit.
6) Pasien meraskan oksigen.
7) Pasien mengeluh banyak makan.
8) Pasien mengeluh banyak minum.
9) Pasien mengeluh pusing.
10) Pasien mengeluh gangguan pengelihatan.
b. Data obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan atas
kondisi pasien. Data yang dijumpai pada pasien Diabetes Mellitus
adalah :
1) Penurunan kekuatan otot
2) Takikardi
3) Kulit kering
4) Hipertensi
5) Penurunan berat badan
6) Polidipsi (sering kencing)
7) Polipagi (sering makan)

17
8) Polidipsi (sering minum)
9) Disorientasi
10) Batuk
11) GDS > 200 mg/dl

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan
keseimbangan insulin
2. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebih, tidak
adekuatnya intake cairan
3. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan primer
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat penurunan produksi
energy
5. Gangguan integritas kulit b/d penurunan sensasi sensori, gangguan sirkulasi,
penurunan aktifitas/mobilisasi, kurangnya pengetahuan tentang perawatan kulit.
6. Gangguan citra tubuh b/d ekstremitas gangrene
7. Resiko cedera b/d penurunan fungsi penglihatan, pelisutan otot

C. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan (NOC) & Intervensi (NIC)
Keperawatan Kriteria Hasil
1. Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari - Nutritional Status : food Nutrition Management
kebutuhan tubuh and Fluid Intake - Kaji adanya alergi
b.d gangguan - Nutritional Status : makanan
keseimbangan nutrient Intake - Kolaborasi dengan ahli
insulin Kriteria Hasil : gizi untuk menentukan
- Adanya peningkatan jumlah kalori dan
berat badan sesuai nutrisi yang dibutuhkan
dengan tujuan pasien.
- Beratbadan ideal sesuai - Anjurkan pasien untuk
dengan tinggi badan meningkatkan intake Fe
- Mampumengidentifikasi - Anjurkan pasien untuk
kebutuhan nutrisi meningkatkan protein
- Tidak ada tanda tanda dan vitamin C
malnutrisi - Yakinkan diet yang
- Menunjukkan dimakan mengandung
peningkatan fungsi tinggi serat untuk

18
pengecapan dari mencegah konstipasi
menelan - Berikan makanan yang
- Tidak terjadi penurunan terpilih (sudah
berat badan yang berarti dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
- Ajarkan pasien
bagaimana membuat
catatan makanan harian.
- Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
- Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
- Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
- BB pasien dalam batas
normal
- Monitor adanya
penurunan berat badan
- Monitor tipe dan
jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
- Monitor interaksi anak
atau orangtua selama
makan
- Monitor lingkungan
selama makan
- Jadwalkan pengobatan 
dan tindakan tidak
selama jam makan
- Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor mual dan

19
muntah
- Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan
kadar Ht
- Monitor makanan
kesukaan
- sMonitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
- Monitor kalori dan
intake nuntrisi
- Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral.
- Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

2. Resiko kekurangan NOC : NIC:


volume cairan b.d - Fluid balance Fluid management
kehilangan cairan - Hydration - Catat intake dan output
berlebih, tidak - Nutritional status: food - Monitor status hidrasi
adekuatnya intake and fluid intake - Monitor vital sign
cairan Kriteria Hasil: - Monitor status nutrisi
- Mempertahankan urine - Kolaborasi pemberian
output sesuai dengan terapi cairan IV
usia, BB - Dorong masukan oral
- Vital sign dalam batas Hipovolemi management:
normal - Monitor intake dan
- Tidak ada tanda-tanda output cairan
dehidrasi - Pelihara IV line
- Monitor Hb dan Ht
- Monitor berat badan
- Monitor respon klien
terhadap penambahan
cairan

20
- Monitor adanya tanda
dan gejala kelebihan
cairan
3. Resiko infeksi b.d NOC : NIC :
tidak adekuatnya - Immune Status Infection Control
pertahanan primer - Knowledge : Infection (Kontrol infeksi)
control - Bersihkan lingkungan
- Risk control setelah dipakai pasien
Kriteria Hasil : lain
- Klien bebas dari tanda - Pertahankan teknik
dan gejala infeksi isolasi
- Menunjukkan - Instruksikan pada
kemampuan untuk pengunjung untuk
mencegah timbulnya mencuci tangan saat
infeksi berkunjung dan setelah
- Jumlah leukosit dalam berkunjung
batas normal meninggalkan pasien
- Menunjukkan perilaku - Gunakan sabun
hidup sehat antimikrobia untuk cuci
tangan
- Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah
tindakan kperawtan
- Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat
pelindung
- Pertahankan lingkungan
aseptik selama
pemasangan alat
- Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
- Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
- Tingkatkan intake nutrisi

21
- Berikan terapi antibiotik
bila perlu
Infection Protection
(proteksi terhadap
infeksi)
- Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan lokal
- Monitor hitung
granulosit, WBC
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
- Berikan perawatan kulit
pada area epidema
- Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
- Ajarkan cara
menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan
infeksi
- Laporkan kultur positif

22
D. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana
setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual
dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan
psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada
tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi
yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul
pada pasien

E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap evaluasi
proses dan evaluasi hasil. Evaluasi berfokus pada ketepatan perawatan yang
diberikan dan kemajuan pasien atau kemunduran pasien terhadap hasil yang
diharapkan. Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinu karena setiap
tindakan keperawatan dilakukan, respon klien dicatat dan dievaluasi dalam
hubungannya dengan hasil yang yang diharapkan. Kemudian berdasarkan respon
klien, direvisi intervensi keperawatan atau hasil yang diperlukan. Ada 2
komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan computer keperawatan, yaitu :

1. Proses (sumatif)
Fokus tiopeini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas
pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus dilaksanakan sesudah
perencanaan keperawatan, dilaksanakan untuk membantu keefektifan
terhadap tindakan.
2. Hasil (formatif)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien
pada akhir tindakan keperawatan klien.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : Penerbit Buku
Kedoketran EGC

23
Brunner & Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : Penerbit
Buku Kedoketran EGC
Bulecheck, Gloria M. dkk. 2013. Nursing Interventions Classification ( NIC) six edition.
America: Elsevier
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta. Penebit Buku
Kedokteran.EGC.
Long, B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Alih Bahasa : Yayasan Ikatan Alumni pendidikan Keperawatan Padjadjaran.
Bandung: YPKAI.
Mansjoer, Arif, dkk, (2015), Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius
Moorhead, Sue. 2014. Nursing Outcomes Classification ( NOC) fifth edition. America :
Elsevier
Moorhead, Sue., Johnson, Marion., Maas, Meridean L., Swanson, Elizabeth. 2013.
Nursing Outcomes Classification (NOC) Measurement of Health Outcomes Fifth
Edition. St Louis Missouri : Elsevier Mosby
Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan NANDA NIC NOC (Indonesian Version) Jilid 3. Yogyakarta : Mediaction
Price, SA. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa Peter.
Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn. W DENGAN DIABETES MELITUS TIPE II

A. PENGKAJIAN

24
I. Identitas
Nama : Tn. W
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 31 tahun
Alamat : Jl. Sompi-Subang
Tanggal Masuk : 28 Juni 2020
Tanggal Pengkajian : 29 Juni 2020
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Tukang Parkir
No. RM : 78175

II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama : kaki kesemutan dan mati rasa sejak 1 bulan yang lalu disertai
dengan badan terasa lemas.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke RSUD Subang pada tanggal 28 Juni 2020 dengan keluhan kaki
kesemutan dan mati rasa sejak 1 bulan yang lalu disertai dengan badan terasa
lemas. Kaki sering kesemutan terutama saat setelah duduk bersila atau jongkok
dalam waktu lama. Pasien juga mengaku terkadang tidak terasa sakit jika
kakinya tersandung benda. Pasien juga mengaku adanya keluhan sering haus,
sering terasa lapar dan sering BAK malam hari lebih dari 3 kali (tidak
memperhatikan seberapa banyak kencing yang keluar).
c. Alergi (obat, makanan, plester, dll)
Pasien mengatakan bahwa pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat,
makanan, serta plester.

d. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku baru menyelesaikan pengobatan TB parunya sejak 1,5 bulan
yang lalu dan dinyatakan sembuh oleh dokter.

e. Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu kandung Tn. W memiliki riwayat penyakit yang sama berupa diabetes,
sedangkan riwayat darah tinggi pada orang tua tidak ada.
f. Kebiasaan/polahidup/life style

25
Keluarga mengatakan bahwa pasien mempunyai kebiasaan merokok, serta
pasien mempunyai kebiasaan minum kopi dengan banyak gula, pasien juga tidak
menjaga pola / menu makanan dan minuman yang di konsumsi, makanan
camilan yang paling di gemari pasien adalah camilan yang manis-manis.
g. Obat-obat yang digunakan
Keluarga mengatakan bahwa pasien pernah mengkonsumsi obat TB, dan sudah
tidak mengkonsumsi obat sejak 1.5 bulan lalu. Dan semenjak itu pasien tidak
pernah mengkonsumsi obat lain.

Genogram:

Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: tinggal satu rumah
: meninggal
: Pasien

III.Pengkajian Keperawatan
1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Jika ada anggota keluarga yang sakit, jarang berobat ke dokter.
Interpretasi :
Keluarga mengatakan bahwa ke dokter itu hanya jika sakitnya sudah parah.
2. Pola nutrisi/ metabolik
a. Antropometeri
BB sebelum sakit = 62 kg
BB saat ini = 58 kg
TB: 168 cm
IMT= BB/(Tb(m)2) =58/2,82=20,5

26
Kategori IMT
Underweight < 18,5
Normal 18,5-24,9
Overweight >25
Interpretasi: berdasarkan rumus IMT, pasien termasuk kategori normal
b. Biomedical sign :
Albumin : 3,54 g/dl; 2,64 g/dl ; 2,27 g/dl
Globulin : 2,55 g/dl; 2,85 g/dl ; 3,46 g/dl
Hemoglobin : 13,6 gr%
Gula darah sewaktu : 333 mg/dl
Gula drah puasa : 256 mg/dl
Kategori Glukosa darah normal:
Gula darah puasa : 80-99 mg/dl
Gula darah sewaktu : 80-145 mg/dl
Interpretasi :
Pada hasil lab didapatkan nilai normal pada nilai Albumin, Globulin, dan
Hemoglobin tetapi gula darah sewaktu dan gula darah puasa tinggi dalam
batasan tidak normal.
3. Pola eliminasi:
a. BAK
1) Frekuensi : 1800cc/jam
2) Jumlah : >1200-1500 cc/jam
3) Warna : berwarna kuning jernih
4) Bau : berbau khas
5) Kemandirian : mandiri/dibantu
b. BAB
1) Frekuensi : 1x/hari
2) Jumlah : normal
3) Warna : kuning
4) Bau : bau khas
5) Karakter : berbentuk
6) Kemandirian : mandiri/dibantu
Interpretasi :
Pola eliminasi yang dialami oleh klien terganggu, karena feses dan urine yang
dikeluarkan tidak sesuai atau tidak normal.
4. Pola aktivitas dan latihan
Pasien dalam melakukan ADL perlu dibantu.

27
Aktivitas harian (Activity Daily Living)
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan / minum √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah √
Ambulasi / ROM √
Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu keluarga, 3: dibantu
alat, 4: mandiri
5. Pola tidur dan istirahat
Durasi : Klien mengatakan tidur pada pukul 23.30 WIB-04.00 WIB (4,5 jam) dan
siang hari tidur selama 1 jam.
Interpretasi : klien mengalami gangguan tidur karena cemas.
6. Pola kognitif dan perseptual
Fungsi Kognitif dan Memori :
Mampu berkomunikasi dan berorientasi dengan baik saat dilakukan pengkajian.
Penglihatan klien kurang berfungsi dengan baik karena mengalami gangguan.
Gangguan penglihatan yang dirasakan adalah pandangan berputar dan merasa benda-
benda sekitar bergoyang. Pendengaran , pengecapan dan penciuman, klien berfungsi
dengan baik. Sensori, klien masih mampu membedakan sensori tajam dan tumpul
sekalipun harus dengan tekanan yang kuat.
Interpretasi :
Pasien mengalami gangguan pada penglihatannya.

7. Pola persepsi diri


a. Gambaran diri : Klien mengatakan tidak bisa bekerja mencari uang.
b. Identitas diri : Pasien merupakan seorang suami dan ayah yang sudah
memiliki dua anak.
c. Harga diri : Pasien percaya dirinya dapat sembuh dan segera
melakukan aktivitas sehari hari yaitu menjalani hidup dengan keluarga kecilnya.
d. Ideal Diri : Pasien ingin segera sembuh dan ingin segera bekerja
kembali agar bisa menghidupi keluarganya.
e. Peran Diri : Pasien mengatakan dirinya tidak bisa melakukan kegiatan
yang terlalu berat
Interpretasi :
Pola persepsi diri pasien tidak mengalami gangguan, gambaran diri pasien tidak
mengalami gangguan
8. Pola seksualitas & reproduksi

28
Pasien mengatakan sudah mempunyai 2 anak. Klien mengatakan tidak pernah
memiliki riwayat gangguan reproduksi.
Interpretasi:
Tidak ada masalah
9. Pola peran dan hubungan
Klien mengatakan perannya klien ada seorang suami sekaligus kepala rumah tangga
yang harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan bekerja sebagai tukang parkir
di pasar. Hubungan klien dengan orang terdekat tidak mengalami masalah. Setelah
dirawat di rumah sakit klien akan menjaga kondisinya saat ini dan akan selalu periksa
ke dokter. Saat di rumah sakit klien juga berinteraksi baik dengan keluarga pasien
lain, perawat dan juga tenaga medis lainnya.
Interpretasi :
Pasien mengalami gangguan peran saat sakit.
10. Sistem nilai dan keyakinan
Klien mengatakan klien beragama Islam dan selalu taat dalam menjalankan
kewajiban sholatnya walaupun di tempat tidur
11. Pola koping dan stres
Klien mengatakan apabila ada masalah pasti didiskusikan dengan keluarganya dan
saudara terdekatnya. Klien menyelesaikan masalahnya dengan musyawarah. Klien
terlihat cemas dan stres akan penyakitnya.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
N : 100x/menit,
RR : 20x/menit,
TD : 120/80 mmHg,
S : 36,5 C
GCS : E4V5M6
b. Pemeriksaan Kepala
Bentuk Kepala: Mesochepal, tidak terdapat deformitas
Rambut : Dominan hitam dan tidak mudah rontok

c. Pemeriksaan Mata
Konjungtiva : Pada mata kanan dan kiri tidak terlihat anemis.
Sklera : Pada mata kanan dan kiri terlihat ikterik
Pupil : Isokor kanan-kiri, diameter 3 mm, reflek cahaya( + / + )
Palpebra : Tidak edema
Visus : Baik

29
d. Pemeriksaan Hidung
Bentuk : normal, tidak terdapat deformitas
Nafas cuping hidung : tidak ada
Sekret : tidak terdapat sekret hidung
e. Pemeriksaan Mulut
Bibir : Tidak sianosis, tidak kering
Lidah : Tidak kotor, tepi tidak hiperemi
Tonsil : Tidak membesar
Faring : Tidak hiperemis
Gigi : Lengkap
f. Pemeriksaan Telinga
Bentuk : normal, tidak terdapat deformitas
Sekret : tidak ada
Fungsional : pendengaran baik
g. Pemeriksaan Leher
JVP : tidak meningkat
Kelenjar tiroid : tidak membesar
Kelenjar limfonodi : tidak membesar
Trakhea : tidak terdapat deviasi trakhea
h. Pemeriksaan Thorak
1. Paru-paru
Inspeksi : simetris kanan kiri, tidak ada retraksi, tidak ada sikatrik.
Palpasi : vocal fremitus kanan sama kiri
Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru, Auskultasi : suara dasar vesikuler, tidak
ada suara tambahan di semua lapang paru
2. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung
Auskultasi : S1- S2, reguler, tidak ada mur-mur, tidak ada gallop

i. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : tampak asites, sikatrik akibat bekas luka operasi apendiksitis,
Auskultasi : peristaltik normal
Perkusi : pekak pada region abdomen kanan atas sampai 3 jari dibawah arcus
costae dan tympani di abdomen kanan bawahdan abdomen kiri

30
Palpasi :supel, terdapat nyeri tekan pada regio bagian atas, teraba adanya
pembesaran hepar dan lien tidak teraba. Tes undulasidan pekak beralih positif.
j. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : tidak ada deformitas, tidak ada edema, perfusi kapiler baik, tidak
anemis, akral hangat.
Inferior : tidak ada deformitas, tidak ada edema, CRT bagian ujung lebih
dari 3 detik, perfusi kapiler buruk, tidak anemis, akral dingin.

ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah keperawatan
Ds : Pola hidup tidak sehat Risiko ketidakstabilan kadar
-Riwayat penyakit diabetes glukosa darah
sejak 8 bulan lalu Sel beta di pankreas
-klien mengeluh kaki terganggu
kesemutan dan badan lemas
-sering BAK Defisiensi insulin
-klie suka mengonsumsi
kopi, makan manis,
merokok 10 batang per hari Retensi insulin
-pasien mengatakan tidak
pernah berolahraga
Do: Hiperglikemia
-pasien tampak lemas
-Gula darah sewaktu : 333
mg/dl Kadar glukosa darah tidak
-gula darah puasa : 256 terkontrol
mg/dl
-urine output : >1500
cc/jam Ketidakstabilan kadar
glukosa darah
Ds : Penurunan pemakaian Gangguan pemenuhan
- Klien mengatakan glukosa oleh sel nutrisi kurang dari
selama di rumah sakit kebutuhan tubuh
klien makan 2x sehari Proteolisis
dan hanya makan
separuh porsi kurang

31
lebih sekitar 2 sendok Asam amino meningkat
makan.
- Pasien mengatakan Glukoneugenesis
merasa mual dan ingin
muntah Ketogenesis
Ketonemia
Do :
- BB sebelum sakit : 62 kg
- BB setelah sakit : 58 kg Penurunan BB
- TB : 168
- Indeks Masa Tubuh
(IMT) : 20,5

Ds : Defisiensi insulin absolute Risiko infeksi


- Pasien mengatakan
kakinya kesemutan
terutama saat setelah Penurunan pemakaian
duduk bersila atau glukosa oleh sel
jongkok dalam waktu
lama.
- Pasien mengaku Hiperglikemia
terkadang tidak terasa
sakit jika kakinya
tersandung benda Hiperosmolalitas
Do :
- Gula darah sewaktu 333
mg/dl
- Gula darah puasa pasien
256 mg/dl.
Ds : Defisiensi insulin absolute Ansietas
- klien mengatakan cemas
tentang penyakit yang di
deritanya Perubahan status kesehatan
- Klien mengaku sering
BAK malam hari lebih
dari 3x. Kurangnya pengetahuan ttg
Do : penyakit
- Klien terlihat cemas dan

32
gelisah
- TD : 120/80
- RR : 20x/menit
- Suhu : 36,5 C

Ds : Defisiensi insulin absolute Kurangnya pengetahuan


- Klien mengaku klien tentang proses penyakit,
tidak mengetahui diet, dan pengobatan
penyakitnya Perubahan status kesehatan
- Klien mengatakan tidak
mengetahui kadar gula
darahnya tinggi Hospitalisasi
- Klien tetap mengonsumsi
makanan yang manis.
- Klien mengatakan sudah Informasi in adekuat
1 bulan ini pasien
mengaku berhenti
minum obat tersebut.
Do :
Saat pasien ditanya tentang
diabetes pasien hanya tau
diabees itu penyakit kencing
manis

Ds : Defisiensi insulin absolute Keletihan


- Pasien mengatakan kaki
kesemutan saat setelah
duduk dan jongkok Lipolisis
- Badan terasa letih dan
lemas
Do : Keletihan otot
- tampak berbaring di
tempat tidur
- Albumin : 3,54 g/dl; 2,64
g/dl ; 2,27 g/dl
- Globulin : 2,55 g/dl; 2,85
g/dl ; 3,46 g/dl
- Hemoglobin : 13,6 gr%

33
- Gula darah sewaktu : 333
mg/dl
- Gula drah puasa : 256
mg/dl

Ds : Kadar glukosa darah Ketidakefektifan Perfusi


Pasien mengatakan kaki meningkat Jaringan Perifer
terasa kesemutan dan saat
tersandung tidak merasa
sakit Defisiensi insulin
Do :
- CRT bagian ujung lebih
dari 3 detik, perfusi Aliran darah ke perifer
kapiler buruk, akral terganggu
dingin,
- TD : 120/80
- Nadi : 100x/menit Ketidakefektifan Perfusi
- RR : 20x/menit Jaringan Perifer
- - Suhu : 36,5 C
Ds: Diabetes Mellitus Tipe II Risiko jatuh
- Pasien mengatakan
badan lemas dan kaki
kesemutan Perubahan kadar gula darah
- Saat tersandung pasien
tidak merasakan apa-apa
- pasien mengatakan Gangguan penglihatan
gangguan penglihatan
pasien terganggu
bayangan kabur dan Risiko jatuh
seperti berputar-putar
- klien sering ke kamar
mandi BAK pada malam
hari
Do:
Pupil : Isokor kanan-kiri,
diameter 3 mm, reflek
cahaya( + / + )

34
Ds: Diabetas Mellitus tipe II Gangguan pola tidur
- Klien merasa tidak bisa
tidur karena memikirkan
penyakitnya Sering terjaga ketika malam
- klien sering bolak-balik
ke kamar mandi untuk
BAK Pola tidur tidak
Do: menyehatkan
-klien tidur pada pukul
23.30 WIB-04.00 WIB (4,5
jam) dan siang hari tidur Gangguan pola tidur
selama 1 jam.

III.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan kadar glukosa
darah tidak terkontrol.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan penurunan
sirkulasi darah ke perifer, proses penyakit (DM).
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan yang kurang.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah.
5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
6. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
7. Keletihan berhubungan dengan keletihan otot.
8. Gangguan pola tidur
9. Risiko jatuh

3.4 INTERVENSI
NO DIAGNOSA NOC NIC
1 Domain 2. (00002) Resiko Manajemen Hiperglikemi (2120)
Nutrisi ketidakstabilan kadar 1. Monitor kadar gula daraah,
Kelas 4. glukosa darah sesuai indikasi
Metabolisme 2. Monitor tanda dan gejala
Resiko Setelah dilakukan asuhan hiperglikemi: poliuria,
ketidakstabilan keperawatan, diharapkan polidipsi, polifagi, kelemahan,
kadar glukosa ketidakstabilan kadar latergi, malaise, pandangan

35
darah (00179) glukosa darah normal. kabur atau sakit kepala.
(2300) Kadar glukosa 3. Monitor ketourin, sesuai
darah indikasi.
1. Glukosa darah dari 4. Brikan insulin sesuai resep
skala 2 (deviasi yang 5. Dorong asupan cairan oral
cukup besar dari kisaran 6. Batasi aktivitas ketika kadar
normal) ditingkatkan glukosa darah lebih dari
menjadi skala 4 (deviasi 250mg/dl, khusus jika ketourin
ringan sedang dari terjadi
kisaran normal) 7. Dorong pemantauan sendiri
(2111) Keparahan kadar glukosa darah
Hiperglikemia 8. Intruksikan pada pasien dan
1. Peningkatan glukosa keluarga mengenai manajemen
darah dari skala 2 (berat) diabetes
ditingkatkan menjadi 9. Fasilitasi kepatuhan terhadap
skala 4 (ringan) diet dan regimen latihan
(1619) Manajemen Pengajaran: Peresepan Diet
diri : diabetes (5614)
1. Memantau glukosa 1. Kaji tingkat pengetahuan
darah dari skala 2 (jarang pasien mengenai diet yang
menunjukkan) disarankan
ditingkatkan menjadi 2. Kaji pola makan pasien saat ini
skala 4 (sering dan sebelumnya, termasuk
menunjukkan) makanan yang di sukai
3. Ajarkan pasien membuat diary
makanan yang dikonsumsi
4. Sediakan contoh menu
makanan yang sesuai
5. Libatkan pasien dan keluarga
2 Domain 2. (00179) Manajemen Nutrisi (1100)
Nutrisi Ketidakseimbangan 1. Instruksikan kepada pasien
Kelas 1. nutrisi, kurang dari mengenai kebutuhan nutrisi
Makan kebutuhan tubuh 2. Tentukan jumlah kalori dan
Ketidakseimba Setelah dilakukan asuhan jenis nutrisi yang dibutuhkan
ngan nutrisi, keperawatan, diharapkan oleh pasien untuk memenuhi
kurang dari nutrisi pasien terpenuhi. kebutuhan gizi
kebutuhan (1004) Status Nutrisi 3. Ciptakan lingkungan yang
tubuh (00002) 1. Asupan makanan dan optimal pada saat

36
cairan dari skala 2 mengkonsumsi makanan
(banyak menyimpang 4. Monitor kalori dan asupan
dari rentang normal) makanan pasien
ditingkatkan menjadi 5. Monitor kecenderungan
skala 4 (sedikit terjadinya kenaikan atau
menyimpang dari penurunan berat badan pada
rentang normal) pasien
(1622) Perilaku patuh :
diet yang disarankan
1. Memilih makanan
yang sesuai dengan
diet yang ditentukan
dari skala 2 (jarang
menunjukkan)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (sering
menunjukkan)
2. Memilih minuman
yang sesuai dengan
diet yang ditentukan
dari skala 2 (jarang
menunjukkan)
ditingkatka menjadi
skala 4 (sering
menunjukkan)
(1854) Pengetahuan :
diet yang sehat
1. Intake nutrisi yang
sesuai dengan
kebutuhan individu dari
skala 2 (pengetahuan
terbatas) ditingkatkan
menjadi skala 4
(pengetahuan banyak)
3 Domain 11. (00004) Resiko infeksi Kontrol Infeksi (6540)
Keamanan/ 1. Ganti peralatan perawatan per
Perlindungan Setelah dilakukan asuhan pasien sesuai protokol institusi
Kelas 1. Infeksi keperawatan, diharapkan 2. Anjurkan pasien mengenai

37
Resiko infeksi tidak terjadi infeksi pada teknik mencuci tangan dengan
(00004) pasien. tepat
(1908) Deteksi risiko 3. Pastikan penanganan aseptik
1. Mengenali tanda dan dari semua saluran IV
gejala yang Perlindungan Infeksi (6550)
mengindikasikan risiki 1. Monitor kerentanan terhadap
dari skala 2 (jarang infeksi
mnunjukkan) 2. Berikan perawatan klit yang
ditingkatkan menjadi tepat Periksa kulit dan selaput
skala 4 (sering lendir untuk adanya
menunjukkan) kemerahan, kehangatan ektrim,
2. Memonitor perubahan atau drainase
status kesehatan skala 2 3. Ajarkan pasien dan keluarga
(jarang mnunjukkan) bagaimana cara menghindari
ditingkatkan menjadi infeksi
skala 4 (sering
menunjukkan)
(1902) Kontrol risiko
1. Mengidentifikasi
faktor risiko dari skala 2
(jarang mnunjukkan)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (sering
menunjukkan)
1. Mengenali faktor
risiki skala 2 (jarang
mnunjukkan)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (sering
menunjukkan)
4 Domain 9. (00146) Ansietas Pengurangan kecemasan (5820)
Koping/ 1. Gunakan pendekatan yang
Toleransi Setelah dilakukan asuhan tenang dan menyakinkan
Stress keperawatan, diharapkan 2. Nyatakan dengan jelas harapan
Kelas 2. ansietas pasien terhadap perilaku klien
Respon berkurang. 3. Pahami situasi krisis yang
Koping (1211) Tingkat terjadi dari perspektif klien
Ansietas kecemasan 4. Berikan informasi faktual

38
(00146) 1. Tidak dapat tekait diagnosa, perawatan dan
beristirahat dari skala 2 prognosis
(cukup berat) 5. Berada disisi klien untuk
ditingkatkan menjadi meningkatkan rasa aman dan
skala 4 (ringan) mengurangi ketakutan
2. Perasaan gelisah dari 6. Dorong keluarga untuk
skala 2 (cukup berat) mendampingi klien dengan
ditingkatkan menjadi cara yang tepat
skala 4 (ringan) 7. Berikan objek yang
3. Gangguan tidur dari menunjukkan perasaan aman
skala 2 (cukup berat) 8. Puji/kuatkan perilaku yang
ditingkatkan menjadi baik secara tepat
skala 4 (ringan) 9. Identifikasi saat terjadinya
(0907) Memproses perubahan tingkat kecemasan
informasi 10. Bantu klien mengidentifikasi
1. Menunjukkan proses situasi yang memicu
pikir yang terorganisir kecemasan
dari skala 2 (banyak 11. Dukung penggunaan
terganggu) ditingkatkan mekanisme koping yang sesuai
menjadi skala 4 (sedikit 12. Pertimbangkan kemampuan
terganggu) klien dalam mengambil
(3009) Kepuasan klien : keputusan
perawatan psikologis 13. Intruksikan klien untuk
1. Informasi di berikan menggunakan teknik relaksasi
tentang perjalanan 14. Kaji untuk tanda verbal dan
penyakit dari skala 2 non verbal kecemasan
(agak puas) ditingkatkan Peningkatan koping (5230)
menjadi skala 4 (sangat 1. Bantu pasien dalam memecah
puas) tujuan kompleks menjadi lebih
2. Informasi di berikan kecil, dan langkah yang dapat
mengenai respon dikelola
emosional yang biasa 2. Dukung sikap pasien terkait
terhadap penyakit dari dengan harapan yang realistis
skala 2 (agak puas) sebagai upaya untuk mengatasi
ditingkatkan menjadi perasaan ketidakberdayaan
skala 4 (sangat puas) 3. Cari jalan untuk memahami
prespektif pasien terhadap

39
situasi
4. Kenali latar belakang
budaya/spiritual pasien
5. Dukung pasien untuk
mengklarifikasi
kesalahpahaman
5 Domain 5. Setelah dilakukan asuhan Fasilitasi Pembelajaran (5520)
Persepsi/ keperawatan, diharapkan 1. Tekankan pentingnya
Kognisi pengetahuan pasien mengikuti evaluasi medik, dan
Kelas 4. mengenai diabetes kaji ulang gejala yang
Defisiensi mellitus tipe 2 memerlukan pelaporan segera
pengetahuan bertambah. ke dokter
(00124) 1. Pengetahuan: 2. Diskusikam tanda/gejala DM,
manajemen diabetes contoh polidipsia, poliuria,
dari skala 2 kelemahan, penurunan berat
ditingkatkan menjadi badan
skala 4 3. Gunakan bahasa yang umum
2. Perilaku patuh: diet digunakan
yang sehat dari skala 4. Berikan informasi yang sesuai
2 ditingkatkan dengan lokus kontrol pasien
menjadi skala 4 5. Berikan informasi sesuai
3. Perilaku patuh: tingkat perkembangan pasien
Aktivitas yang Modifikasi Perilaku (4360)
disarankan dari skala 1. Tentukan motivasi pasien
2 ditingkatkan untuk perubahan perilaku
menjadi skala 4 2. Bantu pasien untuk
4. Perilaku patuh: Diet mengidentifikasi kekuatan
yang disarankan dari 3. Dukung untuk mengganti
skala 2 ditingkatkan kebiasaan yang tidak
menjadi skala 4 diinginkan dengan kebiasaan
yang diinginkan
4. Tawarkan penguatan yang
positif dalam pembuatan
keputusan mandiri pasien
6 Domain 4. (00093) Keletihan Manajemen Energi (0180)
Aktifitas/ 1. Kaji status fisiologis pasien
Istirahat Kelas Setelah dilakukan asuhan yang menyebabkan kelelahan
3. keperawatan, diharapkan 2. Anjurkan pasien

40
Keseimbangan keletihan pada pasien mengungkapkan perasaan
Energi. dapat dikurangi. secaraverbal mengenai
Keletihan (0002) Konservasi keterbatasan yang dialami
(00093) energi 3. Tentukan persepsi pasien/orang
1. Mempertahankan terdekat dengan pasien
intake nutrisi yang cukup mengenai penyebab kelelahan
dari skala 2 (jarang 4. Pilih intervensi untuk
menunjukkan) mengurangi kelelahan baik
ditingkatkan menjadi secara farmakologis maupun
skala 4 (sering nonfarmakologis
menunjukkan) Manajemen Nutrisi (1100)
(0005) Toleransi 1. Tentukan status gizi pasien dan
terhadap aktivitas kemampuan pasien untuk
1. Kekuatan tubuh bagian memenuhi kebutuhan gizi
atas dari skala 2 (banyak 2. Intruksikan pasien mengenai
terganggu) ditingkatkan kebutuhan nutrisi
menjadi skala 4 (sedikit 3. Atur diet yang diperlukan
terganggu) 4. Anjurkan pasien mengenai
2. Kekuatan tubuh bagian modifikasi diet yang
bawah dari skala 2 diperlukan
(banyak terganggu) 5. Anjurkan pasien terkait dengan
ditingkatkan menjadi kebutuhan diet untuk kondisi
skala 4 (sedikit sakit.
terganggu)
(0007) Tingkat
kelelahan
1. Kelelahan dari skala 2
(cukup besar)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (ringan)
2. Kehilangan selera
makan dari skala 2
(cukup besar)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (ringan)
(0008) Keletihan : efek
yang menganggu

41
1. Penurunan energi dari
skala 2 (cukup besar)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (ringan)
2. Perubahan status
nutrisi dari skala 2
(cukup besar)
ditingkatkan menjadi
skala 4 (ringan)
7. Domain 4. (00204) Ketidakefektifan Pengecekan Kulit (3590)
Aktivitas dan perfusi jaringan perifer 1. Gunakan alat pengkajian untuk
istirahat. Kelas mengidentifikasi pasien yang
4. Respon Setelah dilakukan asuhan berisiko mengalami kerusakan
Kardiovaskule keperawatan, diharapkan kulit.
r/ pulmonal ketidakefektifan perfusi 2. Monitor warna dan suhu kulit
Ketidakefektifa jaringan perifer pasien 3. Periksa pakaian yang terlalu
n perfusi dapat berkurang. ketat
jaringan perifer (0401) Status sirkulasi 4. Monitor kulit dan selaput
(00204) 1. Parestesia dari skala 2 lendir terhadap area perubahan
(cukup berat) warna, memar, dan pecah.
ditingkatkan menjadi 5. Ajarkan anggota
skala 4 (ringan) kelurga/pemberi asuhan
2. Asites dari skala 2 mengenai tanda-tanda
(cukup berat) kerusakan kulit, dengan tepat.
ditingkatkan menjadi Manajemen Sensasi Perifer
skala 4 (ringan) (2660)
(0407) Perfusi 1. Monitor sensasi tumpul atau
jaringan : perifer tajam dan panas dan dingin
1. Parestsia dari skala 2 (yang dirasakan pasien)
(cukup berat) 2. Monitor adanya Parasthesia
ditingkatkan menjadi dengan tepat
skala 4 (ringan) 3. Intruksikan pasien dan
(0409) Koagulasi darah keluarga untuk memeriksa
1. Pembentukan bekuan kulit setiap harinya
dari skala 2 (deviasi 4. Letakkan bantalan pada bagian
cukup besar dari kisaran tubuh yang terganggu untuk
normal) ditingkatkan melindungi area tersebut
menjadi skala 4 (deviasi Perawatan Kaki (1660)

42
ringan dari kisaran 1. Diskusikan dengan pasien dan
normal) keluarga mengenai perawatan
(0802) Tanda-tanda kaki rutin
vital 1. Anjurkan pasien dan keluarga
1. Suhu tubuh dari skala mengenai pentingnya
2 (deviasi cukup besar perawatan kaki
dari kisaran normal) 2. Periksa kulit untuk mengetahui
ditingkatkan menjadi adanya iritasi, retak, lesi, dll
skala 4 (deviasi ringan 3. Keringkan pada sela-sela jari
dari kisaran normal) dengan seksama

3.5 IMPLEMENTASI
No. Hari/ Waktu Implementasi Ttd
Tanggal
1. Senin, 08.00- 1. Memonitor kadar gula darah, sesuai
29/06/202 09.00 indikasi
0 WIB 2. Memonitor tanda dan gejala hiperglikemi:
poliuria, polidipsi, polifagi, kelemahan,
latergi, malaise, pandangan kabur atau sakit
kepala.
3. Memberikan insulin sesuai resep
4. Mengintruksikan pada pasien dan keluarga
mengenai manajemen diabetes
5. Mengajarkan pasien membuat diary
makanan yang dikonsumsi
2. Senin 10.30- 1. Memonitor kalori dan asupan makanan
29/06/202 11.30 pasien
0 WIB 2. Memonitor kecenderungan terjadinya
kenaikan atau penurunan berat badan pada
pasien
3. Menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi
yang dibutuhkan oleh pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi

43
3. Senin, 14.00- 1. Menimbang berat badan setiap hari dan
29/06/202 14.30 monitor satus pasien
0 WIB 2. Memonitor tanda-tanda vital pasien
3. Memberikan cairan dengan tepat
4. Mendistribusikan asupan cairan selama 24
jam
5. Memonitor berat badan

4. Senin, 16.00- 1. Mengganti peralatan perawatan per pasien


29/06/202 16.30 sesuai protokol institusi
0 2. Menganjurkan pasien mengenai teknik
mencuci tangan dengan tepat
3. Memastikan penanganan aseptik dari
semua saluran IV
4. Mengajarkan pasien dan keluarga
bagaimana cara menghindari infeksi

5. Senin, 18.30- 1. Menggunakan pendekatan yang tenang dan


29/06/202 19.00 menyakinkan
0 2. Memahami situasi krisis yang terjadi dari
perspektif klien
3. Memberikan informasi faktual tekait
diagnosa, perawatan dan prognosis
4. Mendampingi klien untuk meningkatkan
rasa aman dan mengurangi ketakutan

6. Senin, 20.00- 1. Mengkaji status fisiologis pasien yang


29/06/202 20.15 menyebabkan kelelahan
0 2. Memilih intervensi untuk mengurangi
kelelahan baik secara farmakologis maupun
non farmakologis

7. Senin, 1. Memonitor warna dan suhu kulit


29/06/202 2. Memeriksa pakaian yang terlalu ketat
0 3. Memonitor sensasi tumpul atau tajam dan
panas dan dingin (yang dirasakan pasien)

44
1. Memonitor adanya Parasthesia dengan
tepat
2. Mengintruksikan pasien dan keluarga
untuk memeriksa kulit setiap harinya
3. Menganjurkan pasien dan keluarga
mengenai pentingnya perawatan kaki

3.6 EVALUASI
Hari, Tanggal, Diagnosa Par
No Evaluasi
Jam keperawatan af
1 30 Juni 2020 Risiko ketidakstabilan S : Pasien mengatakan sudah
kadar glukosa darah tidak merasa lemas dan
kesemutan di kakinya
O:
-Gula darah puasa : 99 mg/dl
-Gula darah sewaktu : 144
mg/dl
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan diet makan,
dan pantau pemenuhan
nutrisi pasien
2 30 Juni 2020 Gangguan pemenuhan S : pasien mengatakan nafsu
nutrisi kurang dari makan meningkat dan badan
kebutuhan tubuh tidak terasa lemas
O:
-klien makan 3x sehari
-klien menghabiskan satu
porsi makanan dari rumah
sakit
-BB naik 0,5 kg dari 58
menjadi 58,5
A : masalah kebutuhan
nutrisi kurang dapat teratasi
sebagian
P : lanjutkan diet makanan
sehat dan pantau asupan
nutrisi untuk pasien
3 30 Juni 2020 Risiko defisit volume S : klien mengatakan masih

45
cairan sering BAK pada malam
hari, klien masih merasa
sering haus
O:
-urine output klien 1300
cc/hari
-BAK 7-8 x/hari
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi untuk
mengurangi diuresi
4 30 Juni 2020 Risiko infeksi S : klien mengatakan tidak
terasa kesemutan di kakinya
O : tidak ada luka di tubuh
klien terutama di kaki
A : masalah risiko infeksi
klien teratasi
P : pantau agen penyebab
infeksi klien untuk
mengurangi terjadinya
infeksi
5 30 Juni 2020 Ansietas S : klien mengatakan sudah
tidak cemas memikirkan
penyakitnya
O : klien tampak tenang dan
bisa tidur pada malam hari
A : masalah kecemasan klien
dapat teratasi
P : hentikan intervensi
6 30 Juni 2020 Kurang pengetahuan S : klien mengatakan sudah
tentang proses penyakit, mengerti penjelasan dari
diet, perawatan, dan perawat tentang penyakitnya
pengobatan O : klien dapat menjawab
pertanyaan dari perawat dan
dapat menjelaskan ulang
penjelasan dari perawat
A : masalah sudah teratasi
P : hentikan intervensi
7 30 Juni 2020 Keletihan S : klien mengatakan sudah
tidak lemas lagi

46
O : klien terlihat dapat
beraktivitas.
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi untuk
mengurangi keletihan
8 30 Juni 2020 Ketidakefektifan S:
Perfusi Jaringan Perifer -Klien mengatakan kaki
klien tidak terasa kesemutan
lagi
-Klien mengatakan kaki
klien masih tidak terasa
ketika disentuh
O:
-CRT klien <3 detik
-Akral dingin
-warna sudah tidak pucat
A:
-masalah belum teratasi
sepenuhnya
P:
-Lanjutkan intervensi
perawatan kaki dan senam
kaki

47