Anda di halaman 1dari 63

PEDOMAN

PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA


(BKR)

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL


JAKARTA, 2015
PEDOMAN
PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA
(BKR)

Diterbitkan oleh:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Hak cipta @2015


Direktorat Bina Ketahanan Remaja

Cetakan Keempat

Disusun oleh:
Drs. Temazaro Zega, M.Kes
Drs. M. Edi Muin, M.Si
Andi Hendardi Ismoyo, SH
RR. Sri Kuswardani, SH
Sondang Ratna Utari, SE, MM
Alifah Nuranti, S.Psi, MPH
Didik Trihantoro, S.Si, MAPS
Farida Ekasari, S.Psi, MKM
Antonius Angkawijaya, S.Psi, MM
Hemiliana Dwi Putri, S.Psi, Psi
dr. Indah Nurwulan
Mohammad Tohirin Hasan, M.Pd
Siti Hidayah, S.Sos

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Kedeputian Bidang Keluarga Sejahtera
dan Pemberdayaan Keluarga
Direktorat Bina Ketahanan Remaja
Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma – Jakarta Timur
Tlp/Fax : (021) 8009029, 8008548
KATA SAMBUTAN

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena


telah memberikan kepada kita kemampuan, kesempatan dan
sumber daya, sehingga kita dapat menyelesaikan penyusunan/
penyempurnaan Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR).
Pedoman ini merupakan acuan bagi para Pengelola Program
Generasi Berencana (GenRe), Pelaksana dan kader dalam upaya
untuk membentuk, mengembangkan dan membina kelompok Bina
Keluarga Remaja (BKR), mulai dari tingkat Pusat, Provinsi,
Kabupaten, Kota dan Kecamatan, serta Desa dan Kelurahan.
Penyempurnaan buku Pedoman ini dilakukan karena tuntutan dan
dinamika Pengembangan Program seperti yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang pembangunan
kependudukan dan Keluarga Berencana, dan karena penyesuaian
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019,
program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) telah kita sepakati
untuk dikembangkan menjadi program Generasi Berencana dalam
rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Selanjutnya
penguatan ini lebih dipertajam dalam Peraturan Pemerintah No. 87
tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem
Informasi Keluarga. Pada pasal 22 Peraturan Pemerintah tersebut
dinyatakan bahwa pengembangan ketahanan dan kesejahteraan
keluarga dilakukan dengan cara membentuk dan mengembangkan
pembinaan ketahanan keluarga melalui pembentukan kelompok
BKR.
Untuk mewujudkan Generasi Berencana di Indonesia, Program
GenRe dihadapkan dengan lingkungan strategik, yang
perkembangannya sangat pesat dan cepat. Salah satu diantaranya
adalah globalisasi informasi yang kemudian tanpa disadari telah
meliberalisasi dan merubah norma, etika dan moralitas agama,
menjadi nilai-nilai kehidupan sekuler.
Dalam kehidupan remaja saat ini telah terjadi perubahan nilai, ini
terlihat dari Perilaku hidup remaja yang tidak sehat (unhealthy life
behaviors). Apabila perilaku remaja yang tidak sehat ini terus
berlangsung, tentu akan mengganggu tugas-tugas pertumbuhan

i
dan perkembangan kehidupan remaja itu sendiri baik secara
individual maupun sosial.
Program BKR telah dibentuk dan dikembangkan di provinsi, namun
akhir-akhir ini sangat dirasakan pengelolaannya mengalami
penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan
pendataan keluarga BKKBN tahun 2011, terdapat 5.853.561
keluarga yang memiliki remaja usia 10 – 24 tahun dan tersebar di
seluruh Indonesia. Jumlah yang banyak itulah yang menjadi sasaran
program BKR. Karena itu, saya menyambut baik diterbitkannya
Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang telah
mengalami penyempurnaan dari edisi sebelumnya. Pedoman ini
sangat penting, karena menjadi acuan dan petunjuk dalam
pembentukan, pengembangan dan pembinaan kelompok BKR di
berbagai tingkatan, dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang
terlibat langsung dalam Pengelolaan dan Pembinaan Bina Keluarga
Remaja (BKR).
Kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu
penyempurnaan dan penerbitan Pedoman ini, saya sampaikan
ucapan terima kasih. Akhirnya, semoga penyempurnaan Pedoman
ini dapat menjadi bagian dari amal bakti kita dalam mempromosikan
Generasi Berencana, guna mewujudkan “Pembangunan yang
Berwawasan Kependudukan dan Mewujudkan Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera” dalam rangka mencapai “Penduduk Tumbuh
Seimbang 2015”.

Jakarta, 2015
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera
dan Pemberdayaan Keluarga

Dr. Sudibyo Alimoeso, MA

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan karuniaNya Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga
Remaja (BKR) dapat diselesaikan dan selanjutnya dituangkan dalam
Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor : 109/PER/F2/2012 tanggal 30 April 2012.

Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR) ini


dilatarbelakangi oleh keluarnya Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga yang telah ditindaklanjuti dengan Peraturan
Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional dan Peraturan Kepala BKKBN Nomor
273/PER/B4/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Direktorat Bina
Ketahanan Remaja merupakan salah satu direktorat di bawah
Kedeputian Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, yang
memiliki tugas antara lain melaksanakan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan teknis penyusunan norma, standar, prosedur
dan kriteria (NSPK), pemantauan dan evaluasi serta pemberian
bimbingan teknis fasilitasi di bidang Bina Ketahanan Remaja.

Untuk mendukung terlaksananya program GenRe secara optimal di


semua tingkatan, perlu dibuat pedoman yang berkaitan dengan
pelaksanaan dan pengelolaan program GenRe. Pedoman ini
diharapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak sebagai acuan
dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan kelompok Bina
Keluarga Remaja (BKR) guna mewujudkan tujuan program GenRe.

iii
Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan
pedoman ini hingga diterbitkannya, kami mengucapkan terima kasih.
Semoga pedoman ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan
dalam Pembangunan Kependudukan, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga di masa yang akan datang.

Jakarta, 2015
Direktur Bina Ketahanan Remaja,

Drs. Temazaro Zega, M.Kes

iv
DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN.................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................. iii
DAFTAR ISI.............................................................................. v
PERATURAN KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN
DAN KB NASIONAL ................................................................. vii

BAB I : PENDAHULUAN ....................................................... 1


A. Latar Belakang .................................................... 1
B. Tujuan ................................................................. 8
1. Umum............................................................ 8
2. Khusus .......................................................... 8
C. Sasaran Pengguna.............................................. 9
D. Ruang Lingkup .................................................... 9
E. Batasan Pengertian ............................................. 9

BAB II : KEBIJAKAN DAN STRATEGI.................................... 13


A. Kebijakan ............................................................ 13
B. Strategi................................................................ 13

BAB III : MEKANISME PENGELOLAAN BINA


KELUARGA REMAJA ............................................... 15
A. Perencanaan....................................................... 15
B. Pelaksanaan ...................................................... 17
C. Kegiatan Penyelenggaraan Kelompok BKR......... 25
D. Pengembangan Kegiatan Kelompok BKR ........... 27
E. Pendekatan dalam pengembangan kegiatan
Kelompok BKR .................................................... 28
F. Pemantapan Kegiatan Kelompok BKR ................ 28
G. Langkah – Langkah, pelaksanaan kegiatan
kelompok BKR..................................................... 29
H. Pengelolaan Kelompok BKR................................ 33
I. Pengorganisasian Kelompok BKR....................... 37

BAB IV : PENUTUP ................................................................. 41

v
LAMPIRAN .............................................................................. 43

FORMULIR K/0/BKR/15 KARTU PENDAFTARAN


KELOMPOK KEGIATAN PEMBINAAN KETAHANAN
REMAJA DAN CARA PENGISIAN .......................................... 45

FORMULIR R/I/BKR/15 REGISTER PEMBINAAN


KETAHANAN REMAJA DAN CARA PENGISIANNYA ............ 48

vi
PERATURAN
KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL

NOMOR : 454/PER/F2/2015

TENTANG

PEDOMAN PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN


KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatan pengetahuan


dan keterampilan pengelola Bina Keluarga Remaja
dalam menumbuhkembangkan Bina Keluarga
Remaja; perlu menetapkan Peraturan Kepala
tentang Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga
Remaja;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009


tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 161,
Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5080);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 224,

vii
Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor
58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5679);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014
tentang Pengembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana
dan Sistem Informasi Keluarga (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
319, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5614);
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
TUGAS, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Kementerian, yang telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Presiden
Nomor 3 Tahun 2013;
5. Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001
tentang unit Organisasi dan Tugas Eselon I
Lembaga Pemerintah Non Kementerian, yang
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2013;
6. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Nomor:
72/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional, sebagaimana telah
dirubah dengan Peraturan Kepala Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor: 273/PER/B4/2014;

viii
7. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Nomor:
82/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Perwakilan Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Provinsi;
8. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Nomor :
92/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Badan pendidikan dan Pelatihan
Kependudukan dan Keluarga Berencana;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN KEPALA TENTANG PEDOMAN


PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA
KESATU : Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja
(BKR) sebagaimana tercantum pada lampiran,
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dari Peraturan ini.
KEDUA : Pedoman ini merupakan acuan bagi Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,
Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional Provinsi dan Satuan Kerja
Perangkat Daerah Keluarga Berencana di Provinsi,
Kabupaten dan Kota serta Kader Bina Keluarga
Remaja dalam Pengelolaan Bina Keluarga
Remaja.
KETIGA : Dengan ditetapkannya peraturan ini, maka Buku
Panduan Pengelolaan Bina Keluarga Anak dan
Remaja (BKR) yang diterbitkan oleh Direktorat
Pengembangan Keluarga Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2012
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

ix
KEEMPAT : Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal
ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian
hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta, 2015


KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN
DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

SURYA CHANDRA SURAPATY

x
BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL

LAMPIRAN
PERATURAN KEPALA
BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL

NOMOR : 454/PER/F2/2015

TENTANG

PEDOMAN PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA (BKR)

xi
xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penduduk merupakan aset terpenting suatu bangsa bila dikelola
dengan baik. Persoalan kependudukan harus dilihat dari segi
kuantitas dan kualitasnya karena akan menentukan kemajuan
suatu bangsa. Di Indonesia, secara kuantitas penduduk
Indonesia berjumlah 237,6 juta pada tahun 2010 (BPS, 2010)
dan saat ini (2015) jumlah penduduk Indonesia diperkirakan
mencapai 255,5 juta jiwa (Bappenas, BPS, UNFPA, 2013).
Jumlah yang besar ini menempatkan negara Indonesia pada
urutan ke 4 (empat) penduduk terbesar di dunia setelah China,
India dan Amerika Serikat.

Jumlah penduduk besar merupakan aset yang istimewa


seandainya diimbangi dengan kualitas yang baik. Namun pada
kenyataannya, kualitas SDM yang dinilai melalui “Human
Development Index (HDI)” atau Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) oleh UNDP menempatkan Indonesia pada urutan 108 dari
187 negara (2013).

Tantangan terbesar dalam upaya peningkatan kualitas manusia


Indonesia dilihat dari IPM tersebut adalah masalah kesehatan,
pendidikan dan kesejahteraan penduduk. Kesemuanya ini
berkaitan dengan kuantitas serta struktur penduduk (komposisi
penduduk) Indonesia. Saat ini komposisi penduduk Indonesia
masih menunjukkan kondisi yang kurang menguntungkan yang
ditandai dengan munculnya gejala Triple Burden yaitu situasi
dimana jumlah balita, anak, remaja dan lansia yang semakin
besar.

Berdasarkan proyeksi penduduk untuk tahun 2015, balita (usia


<5 tahun) berjumlah 24,1 juta; balita dan anak (usia 0-9 tahun)

1
berjumlah 47,4 juta; remaja (usia 10-24 tahun) berjumlah 66,0
juta; serta lansia (usia 60 tahun ke atas) berjumlah 21,8 juta jiwa.
Jumlah ini akan terus berkembang sesuai dengan proyeksi
penduduk tahun 2014-2019 yang dapat digambarkan pada
piramida penduduk dan tabel di bawah ini:

Gambar 1. Piramida Penduduk Indonesia 2015


Tabel 1.
Proyeksi Penduduk dan Remaja Indonesia
Tahun Jumlah Jumlah
Penduduk (juta) Remaja (juta)

2014 252,2 65,7

2015 255,5 66,0

2016 258,7 66,3

2017 261,9 66,6

2018 265,0 66,9

2019 268,1 67,3


Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035
(Bappenas, BPS, UNFPA, 2013)

Berdasarkan proyeksi penduduk di atas, jumlah penduduk


Indonesia sampai dengan tahun 2019 sebesar 268,1 juta,
apabila laju pertumbuhan penduduk tetap di angka 1,49 persen

2
(SP 2010). Terkait remaja, proyeksi penduduk pada tahun 2015
menunjukkan bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) Indonesia
mencapai 66,0 juta. Artinya, 1 dari setiap 4 orang penduduk
Indonesia adalah remaja.

Jumlah yang sangat besar tersebut adalah potensi yang


memerlukan pengelolaan yang terencana, sistematis dan
terstruktur agar dapat dimanfaatkan menjadi modal
pembangunan ke depan.

Permasalahan Remaja Indonesia

1. Perilaku Seks pada Remaja


Hasil penelitian menunjukkan masih banyak remaja yang
aktif secara seksual di luar nikah. Berdasarkan data SKRRI
2003 dan 2007, terdapat kecenderungan kenaikan proporsi
remaja usia 15-24 tahun yang aktif secara seksual terutama
pada kalangan laki-laki, yaitu 1% pada perempuan dan 5%
pada laki-laki tahun 2003, menjadi 1% pada perempuan dan
6% pada laki-laki tahun 2007 (Utomo 2013). Menurut data
SDKI 2012, angka tersebut mengalami kenaikan menjadi
8,3% untuk laki-laki sedangkan untuk wanita menunjukkan
kecenderungan yang stabil.

2. Kehamilan dan Kelahiran pada Remaja


Kelahiran pada remaja di Indonesia dapat dilihat
berdasarkan angka Age Specific Fertility Rate (ASFR) yaitu
angka yang menunjukkan jumlah kelahiran per 1000 wanita
pada umur tertentu. Berdasarkan SDKI 2012, di Indonesia
Age Specific Fertility Rate (ASFR untuk kelompok umur 15-
19) secara umum turun tidak signifikan dari 51 ke 48 per 1000
kelahiran (SDKI 2007 dan SDKI 2012), masih jauh dari angka
yang diharapkan pada Rencana Strategis BKKBN yakni 38
per 1000 kelahiran (pada tahun 2019). Hal ini berarti,
menunjukkan masih tingginya kejadian kelahiran pada
remaja di Indonesia.

3
3. Perkawinan pada Remaja
Perkawinan di kalangan remaja masih terjadi, yaitu proporsi
remaja usia 15-19 tahun yang sudah melahirkan dan hamil
anak pertama naik dari 8,5% (SDKI 2007) menjadi 9,5%
(SDKI 2012). Hal tersebut sejalan dengan data terbaru dari
Annual Review-Unicef Tahun 2014, menunjukkan bahwa
satu dari empat perempuan di Indonesia menikah sebelum
berumur 18 tahun. Kondisi ini diperkirakan sebagai akibat
pernikahan dini yang diatur orangtua dan akibat pergaulan
seks bebas. Akibatnya kemungkinan tingginya kematian ibu
dan anak, peluang terjadinya Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT), tingginya drop out sekolah dan peluang
mendapatkan pekerjaan layak semakin rendah.
Secara global, Indonesia termasuk negara dengan
persentase pernikahan usia muda masih tinggi, di dunia yaitu
ranking 37, tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Pada
tahun 2010, terdapat 158 negara dengan usia legal minimum
menikah adalah 18 tahun ke atas, dan Indonesia usia legal
untuk menikah masih dibawah dari itu yakni 16 tahun.
4. HIV dan AIDS
Permasalahan lain yang cukup memprihatinkan pada remaja
adalah banyaknya remaja yang terpapar HIV/AIDS dan
Narkoba. Data Kemenkes menunjukkan kasus AIDS secara
kumulatif dari tahun 1987 s/d September 2014 sebesar
55.799 kasus. 2,9% diantaranya kelompok usia 20-29 tahun,
dan 3,1% diantaranya kelompok usia 15-19 tahun
(Kemenkes RI, Oktober 2014).
5. Napza
Data dari BNN tahun 2013 menunjukan bahwa angka
pengguna narkoba di indonesia sekitar 4 juta orang, dan 22 %
diantaranya adalah pelajar, remaja dan mahasiswa.

Untuk merespon permasalahan tersebut di atas dan sebagai


wujud tanggung jawab dalam melaksanakan amanat UU No. 52
Tahun 2009 tentang Pembinaan Kepada Remaja, BKKBN
mengembangkan program untuk remaja sebagai upaya

4
membantu mereka mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
Program untuk remaja ini telah dikembangkan sejak tahun 2002.
Pada awalnya program ini fokus pada Kesehatan Reproduksi
Remaja dan hak-hak reproduksi. Kemudian pada tahun 2009
berkembang menjadi Program Penyiapan Kehidupan
Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR). Dalam perkembangan
selanjutnya sesuai dengan amanat UU No. 52 Tahun 2009, maka
pada tahun 2012 dengan tujuan untuk lebih mendekatkan
program tersebut kepada remaja agar generasinya lebih ramah
remaja dan mudah diterima oleh mereka, maka lahirlah Program
untuk remaja ini yang dikemas dengan nama Program Generasi
Berencana yang disingkat menjadi GenRe hingga saat ini.

Program Generasi Berencana (GenRe)

Program GenRe adalah program yang dikembangkan dalam


rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga
mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara
terencana; berkarir dalam pekerjaan secara terencana; serta
menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan
reproduksi.
Adapun tujuan dari program GenRe adalah untuk meningkatkan
pemahaman, pengetahuan, serta sikap dan perilaku positif
remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna
meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan menyiapkan
kehidupan berkeluarga dalam upaya peningkatan kualitas
generasi mendatang. Adapun yang menjadi sasaran program ini
adalah : remaja (10-24 tahun) dan belum menikah; mahasiswa
belum menikah; keluarga; serta masyarakat peduli remaja.
Pendekatan yang dilakukan untuk mengembangkan Program
GenRe dilakukan melalui 2 arah, yaitu langsung kepada remaja
itu sendiri dan kepada keluarga yang memiliki remaja.
Pendekatan yang langsung kepada remaja, melalui wadah Pusat
Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M).
Sedangkan pendekatan kepada keluarga atau orang tua dengan
cara mewadahi mereka dalam wadah kelompok Bina Keluarga
Remaja (BKR).

5
Pendekatan kepada remaja dan keluarga didasari oleh hasil
Survey Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI, 2003), yang
menunjukkan bahwa remaja lebih menyukai untuk menceritakan
permasalahannya kepada teman sebaya (71%), dan kepada
orangtua (31%). Meskipun remaja lebih memilih menceritakan
permasalahan kepada teman sebayanya, namun peran keluarga
tetap penting karena remaja masih dalam pembinaan dan
pengasuhan orangtua, dimana pembentukan karakter remaja
dimulai dari keluarga.

Dari berbagai data menunjukkan bahwa keluarga melalui pola


asuh orangtua, telah diidentifikasi sebagai pengaruh yang
sangat penting dalam pembentukan karakter remaja, termasuk
yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Proses pola asuh
orangtua meliputi kedekatan orangtua dengan remaja,
pengawasan orangtua, dan komunikasi orangtua dengan
remaja. Melalui komunikasi, orangtua hendaknya menjadi
sumber informasi dan pendidik utama tentang kesehatan
reproduksi remaja, juga tentang perencanaan kehidupan remaja
di masa yang akan datang. Namun demikian, orangtua sering
menghadapi kendala dalam berkomunikasi kepada remajanya,
begitupun sebaliknya.

Sehubungan dengan hal tersebut, pengembangan kelompok


Bina Keluarga Remaja (BKR) dapat membantu orangtua dalam
memahami remaja, permasalahan remaja, dan cara
berkomunikasi dengan remaja. Melalui kelompok BKR setiap
keluarga yang memiliki remaja dapat menjalin komunikasi dan
saling bertukar informasi serta berdiskusi bersama tentang hal-
hal yang berkaitan dengan remaja, antara lain : Perencanaan
Keluarga (Penanaman Nilai-Nilai Moral Melalui 8 Fungsi
Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan, NKKBS), TRIAD
KRR (Seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS), Keterampilan Hidup,
Kesetaraan Gender, Komunikasi Efektif Orangtua dengan
Remaja, Peran Orangtua dalam Pembinaan Tumbuh Kembang
Remaja, Kebersihan dan Kesehatan Diri Remaja, dan
Pemenuhan Gizi Remaja.

6
Kelompok Bina Keluarga Remaja ini telah dikembangkan di
seluruh Provinsi Indonesia, dan sampai dengan Desember 2014
telah terbentuk dan berkembang sebanyak 33.779 kelompok.
Jumlah yang banyak tersebut perlu dikelola dan dibina secara
berkesinambungan, sehubungan dengan hal ini maka diperlukan
suatu pedoman yang menjadi acuan atau pegangan bagi
pengelola Program GenRe di semua tingkatan baik termasuk
Pengelola BKR dan kader BKR.

Untuk merespon permasalahan remaja tersebut, pemerintah


melakukan berbagai program dan kegiatan yang disebar ke
instansi berkaitan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang


perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga. Dalam pasal 48 ayat (1) pada huruf b menyebutkan
bahwa peningkatan kualitas remaja dengan pemberian
akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan
tentang kehidupan berkeluarga. Peningkatan kualitas remaja
melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga
oleh BKKBN.
2. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional Nomor 72/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional, sebagaimana telah dirubah
dengan Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Nomor : 273/PER/B4/2014.
3. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional Nomor 82/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Provinsi.
4. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional Nomor 92/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelatihan Kependudukan
dan Keluarga Berencana.

7
Dalam rangka mengemban amanat undang-undang dan
merespon permasalahan remaja, BKKBN mengembangkan
Program Generasi Berencana (GenRe) bagi Remaja dan
Keluarga yang memiliki remaja yang sesuai dengan tugas Pokok
dan Fungsi yang dilaksanakan oleh Direktorat Bina Ketahanan
Remaja (Dithanrem). Program ini didasarkan pada Peraturan
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional nomor : 212/PER/B1/2015 tentang Rencana Strategis
BKKBN tahun 2015-2019 sebagai dokumen perencanaan dan
acuan penganggaran Program Kependudukan, Keluarga
Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) periode 2015-
2019.

B. Tujuan
1. Umum
Buku Pedoman ini disusun bertujuan untuk dijadikan
pegangan/acuan bagi Pembina dan Pengelola Program
GenRe serta Pengelola Kelompok dan Kader BKR dalam
rangka menumbuhkembangkan kelompok BKR.

2. Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para
Pembina dan Pengelola Program GenRe, dalam
menumbuhkembangkan kelompok BKR (Dasar,
berkembang, Paripurna).
b. Meningkatkan kualitas pelayanan Kelompok BKR

8
c. Mewujudkan Kelompok BKR Paripurna
d. Meningkatkan Jumlah Kesertaan KB bagi PUS anggota
BKR.
e. Memperluas jejaring kerja sebagai penguat didalam
pengelolaan kelompok BKR.

C. Sasaran Pengguna
Sasaran yang terkait dengan penggunaan buku pedoman ini
adalah :
1. Pembina dan Pengelola Program GenRe (Gubernur,
Bupati/walikota, camat, Kepala Desa/Lurah, Rektor/Direktur,
Dekan, Kepala sekolah, Pimpinan Ponpes) dan Mitra Kerja
(LSM, LSOM, Organisasi Masyarakat, Organisasi
Keagamaan, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama).
2. Pengelola Program GenRe (Deputi KSPK, Direktur, Kaper
BKKBN Provinsi, Kepala SKPDKB, UPT dan PLKB).
3. Pengelola Kelompok BKR (Pengurus BKR : Ketua,
Sekretaris, Bendahara dan Bidang).
4. Kader BKR.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman pengelolaan BKR meliputi : Kebijakan
dan Strategi; Mekanisme Pengelolaan Bina Keluarga Remaja
yang terdiri dari kegiatan BKR, pengembangan kegiatan BKR,
pendekatan dalam pengembangan kegiatan BKR, pemantapan
kegiatan BKR, langkah-langkah pelaksanaan, pengelolaan.
kelompok, serta pengorganisasian BKR.

E. Batasan Pengertian
Untuk memberikan pemahaman dan persepsi yang sama dalam
pelaksanaan dan pengelolaan program Bina Keluarga Remaja
(BKR), maka perlu diberikan batasan pengertian tentang
beberapa hal sebagai berikut :

9
1. Program Generasi Berencana (GenRe) adalah suatu
program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan
kehidupan berkeluarga bagi remaja/mahasiswa yang
diarahkan untuk mencapai Tegar Remaja/Mahasiswa agar
menjadi Tegar Keluarga demi terwujudnya keluarga kecil,
bahagia dan sejahtera.

2. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri


dari suami dan istri, atau suami istri dan anaknya atau ayah
dan anaknya atau ibu dan anaknya.

3. Remaja dalam Program GenRe adalah mereka yang berusia


10-24 tahun dan belum menikah (BKKBN).

4. Keluarga Remaja adalah keluarga yang memiliki anak


remaja usia 10-24 tahun dan belum menikah.

5. Bina Keluarga Remaja (BKR) adalah wadah kegiatan yang


beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja.

6. Pembina Program GenRe adalah Gubernur, Bupati/Walikota,


Camat, Kepala Desa/Lurah, Rektor/Direktur, Dekan, Kepala
Sekolah, Pimpinan Ponpes dan Mitra Kerja (LSM, LSOM,
Organisasi Masyarakat, Organisasi Kepemudaan,
Organisasi Keagamaan), TOGA, TOMA.

7. Pengelola Program GenRe adalah pejabat struktural dan


fungsional mulai dari Tingkat Pusat yaitu Deputi KSPK,
Direktur Bina Ketahanan Remaja; Tingkat Provinsi yaitu
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi, Kabid KSPK, Kasubbid
Bina Ketahanan Remaja; Tingkat Kabupaten dan Kota yaitu
Kepala SKPD KB, Eselon III dan Eselon IV yang menangani
program Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera; Tingkat
Kecamatan yaitu KUPTD/PPLKB/Koordinator Lapangan
PLKB/PKB; serta pada tingkat desa dan kelurahan yaitu
PLKB/PKB yang secara fungsional bertanggungjawab
terhadap pengelolaan program GenRe yaitu pengelolaan
Bina Keluarga Remaja (BKR) dan pengelolaan PIK R/M.

10
8. Mitra kerja Program GenRe adalah stakeholders baik
pemerintah atau organisasi kemasyarakatan yang dapat
mendukung Program GenRe seperti Dinas Kesehatan,
Puskesmas dan lain-lain.

9. Pengelola adalah orang atau lembaga yang menaruh minat


dan melaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai
dengan pemantauan dan penilaian suatu program atau
kegiatan.

10. Kader BKR adalah anggota masyarakat yang melaksanakan


kegiatan Bina Keluarga Remaja secara sukarela, dalam
membina dan memberikan penyuluhan kepada
keluarga/orangtua remaja tentang cara mengasuh dan
membina anak remajanya dengan baik dan benar.

11. Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat


yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang
dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-
mata berarti bebas dari penyakit atau bebas dari kecacatan,
namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

12. Pendewasaan usia perkawinan adalah upaya untuk


meningkatkan usia kawin pertama saat mencapai usia
minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-
laki.

13. TRIAD KRR adalah tiga risiko yang dihadapi oleh


remaja/mahasiswa, yaitu risiko-risiko yang berkaitan dengan
Seksualitas, Napza, HIV dan AIDS.

14. Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut hidup


manusia sebagai mahluk seksual, yaitu emosi, perasaan,
kepribadian, sikap yang berkaitan dengan perilaku seksual,
hubungan seksual dan orientasi seksual.

11
15. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus,
yaitu virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
manusia.

16. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency


Syndrome, yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibat
melemahnya sistem kekebalan tubuh, karena terinfeksi virus
HIV.

17. Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika


dan Zat Adiktif lainnya, yaitu zat-zat kimiawi yang
dimasukkan kedalam tubuh manusia baik secara oral
(melalui mulut), dihirup (melalui hidung) atau disuntik yang
menimbulkan efek tertentu terhadap fisik, mental dan
ketergantungan.

18. Keterampilan Hidup (life Skills) adalah pendidikan non formal


yang berkaitan dengan keterampilan fisik, keterampilan
mental, keterampilan emosional, keterampilan spiritual,
keterampilan kejuruan dan keterampilan menghadapi
kesulitan.

19. KIE adalah kegiatan penyampaian informasi untuk


meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku individu,
keluarga dan masyarakat dalam program Kependudukan
dan Keluarga Berencana.

20. Pimpinan Setempat adalah Pimpinan warga yang ada


dilingkungan tempat kelompok BKR berada, mulai dari
tingkatan Bupati, Camat, Lurah/Kades, RW, RT serta TOMA,
TOGA yang menjadi pimpinan kelompok
masyarakat/keagamaan (Ustad, Ustajah, Pendeta, Kepala
Suku, dll).

12
BAB II
KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. Kebijakan
a. Peningkatkan akses dan kualitas informasi tentang Program
GenRe melalui kelompok BKR.
b. Peningkatan jejaring kemitraan dan lintas sektor, institusi
pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi
keagamaan dalam penyebarluasan informasi program
GenRe.
c. Peningkatan pelayanan kelompok BKR yang berintegrasi
dengan kegiatan PIK R/M.
d. Peningkatan kualitas kelompok BKR melalui pengembangan
kapasitas pengelola kelompok BKR (Kader) dalam
memberikan pelayanan dan informasi bagi anggota BKR
serta Orang tua secara umum.

B. Strategi
a. Melakukan advokasi dan KIE tentang penumbuhan dan
pengembangan kelompok BKR
b. Melakukan promosi dan sosialisasi tentang kelompok BKR
c. Menyediakan dukungan anggaran bagi kegiatan BKR, baik
dari dana APBN, APBD, maupun dari sumber dana lainnya
d. Melaksanakan pelatihan/orientasi bagi SDM Pengelola
kelompok BKR
e. Mengembangkan materi substansi kelompok BKR sesuai
dengan kebutuhan keluarga remaja
f. Memfasilitasi tersedianya sarana dan prasarana pendukung
kelompok BKR
g. Melaksanakan pembinaan, monitoring dan evaluasi secara
berjenjang.

13
14
BAB III
MEKANISME PENGELOLAAN
BINA KELUARGA REMAJA

A. Perencanaan

Langkah-langkah pembentukan BKR :


1. Melakukan sosialisasi Program GenRe kepada stakeholder,
mitra, pembina Program GenRe, pembina BKR, calon
pengelola BKR dan orangtua secara umum
2. Mengidentifikasi potensi permasalahan remaja dan
orangtua, serta kebutuhan akan informasi tentang program
GenRe. Identifikasi dapat dilakukan oleh pengelola program
GenRe bersama stakeholder dilingkungan setempat.
3. Mengidentifikasi potensi orangtua yang memiliki remaja dan
mempersiapkan tenaga yang memiliki SDM potensial
sebagai pengelola BKR dan Kader BKR. SDM tersebut
diambil dari anggota masyarakat setempat yang bersedia
secara sukarela membina dan memberikan penyuluhan
kepada orang tua dan masyarakat.
4. Mengidentifikasi potensi wilayah meliputi : Jumlah Remaja,
Jumlah PUS yang memiliki remaja dan karakteristik
demografi masyarakat setempat (Pekerjaan, pendidikan, dll).

15
5. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait (Camat, UPTKB,
Kepala Desa/Lurah, Ketua RW, Ketua RT, Tokoh
Agama/Tokoh Masyarakat) dalam rangka menggalang
kesepakatan sehingga mendapatkan dukungan dalam
pembentukan kelompok BKR.
6. Mengadakan pertemuan dalam rangka pembentukan
kelompok, penetapan nama kelompok dan struktur
organisasi, dengan melibatkan calon pengelola BKR.
7. Mengadakan atau mengikutsertakan peningkatan kapasitas
bagi pengelola dan pelaksana, melalui kegiatan sebagai
berikut :
a Workshop
Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan dalam membina dan
mengelola kelompok BKR. Sasaran workshop ini adalah
tim penggerak PKK dan lintas sektor. Workshop biasanya
menghasilkan suatu produk/output, misalnya media
penyuluhan.
b Training Of Trainer (TOT)
TOT bertujuan untuk meningkatkan wawasan pengelola
dalam meningkatkan kualitas kelompok BKR sehingga
setelah mengikuti TOT, peserta dapat menjadi tenaga
pelatih. Sasaran TOT ini adalah mitra kerja, fungsional,
dan pengelola program GenRe, pelatih, dll.
c Pelatihan
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam membina dan
mengelola kelompok BKR.
d Orientasi
Orientasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
dan wawasan operasional pengelolaan kelompok BKR
bagi pembina dan pengelola Kelompok BKR.
8. Menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Pembentukan
BKR dari Pimpinan setempat.

16
9. Peresmian atau lounching pembentukan BKR, untuk
diketahui khalayak umum dan orangtua di wilayah setempat
dan sekitarnya. Dengan membagi selebaran, memasang
spaduk, umbul-umbul dan mengundang media massa
setempat.
10. Menyusun rencana kerja tahunan, bulanan, dua minggu
sekali BKR, Jadwal Konsultasi dan agenda kegiatan lain.

B. Pelaksanaan
Kegiatan-kegiatan dalam Pengelolaan Bina Keluarga
Remaja
Pengembangan kegiatan, materi dan media dapat dilakukan
sesuai dengan kebutuhan dan muatan lokal di setiap wilayah.
Pokok-pokok kegiatan dalam Pengelolaan Kegiatan kelompok
Bina Keluarga Remaja meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Penyelenggaraan Kegiatan Bina Keluarga Remaja


Kegiatan BKR bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
orangtua dalam melakukan pembinaan terhadap remaja. Di
samping itu, kegiatan ini diarahkan pula untuk dapat
meningkatkan kesertaan, pembinaan dan kemandirian ber-
KB bagi pasangan usia subur (PUS) anggota BKR. Adapun
pokok-pokok kegiatan dalam penyelenggaraan kegiatan
kelompok BKR meliputi:

a. Pembentukan kelompok BKR


Untuk pembentukan kelompok BKR diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi potensi dan masalah
2) Menggalang kesepakatan
3) Melaksanakan promosi, komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE)
4) Menyiapkan sumber daya

17
b. Peningkatan kapasitas pengelola dan pelaksana
kelompok BKR
Peningkatan kapasitas pengelola dan pelaksana
kegiatan kelompok BKR dilakukan melalui kegiatan;
1) Training of trainer (TOT)
2) Workshop / Orientasi

c. Pelayanan kegiatan kelompok BKR


Untuk memenuhi rangkaian pelayanan kegiatan pada
kelompok BKR, maka ada beberapa kegiatan yang perlu
dilakukan seperti berikut ini :
1) Pertemuan penyuluhan
2) Tata Cara Penyuluhan
3) Kunjungan rumah
4) Rujukan

2. Pengembangan Kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja


Pengembangan kegiatan kelompok BKR dilakukan
berdasarkan stratifikasi kelompok sebagai berikut :
a. Stratifikasi Dasar
b. Startifikasi Berkembang
c. Stratifikasi Paripurna

3. Pendekatan dalam Pengembangan Kegiatan kelompok Bina


Keluarga Remaja.
Pengembangan kegiatan kelompok BKR dapat dilakukan
melalui pendekatan sebagai berikut :
a. Promosi kegiatan kelompok BKR
Pemahaman tentang pentingnya kegiatan BKR perlu
dimiliki oleh setiap pengelola dan pelaksana program KB,
lintas sektor terkait, kader serta seluruh keluarga yang
memiliki anak remaja. Mengingat pentingnya
penyebarluasan pemahaman tentang kegiatan BKR,
maka perlu dilakukan kegiatan promosi.

18
b. Pengembangan Model Keterpaduan Kegiatan Bina
Keluarga Remaja
Penyelenggaraan kegiatan kelompok BKR yang telah
berjalan selama ini dapat dikembangkan dengan
berbagai model penyelenggaraan. Bentuk
pengembangan yang dilakukan antara lain dapat berupa
penambahan/pengembangan materi, pelayanan terpadu
dengan institusi yang menangani remaja, baik program
maupun kegiatan serta integrasi dengan kegiatan yang
ada pada organisasi wanita, keagamaan dan LSOM
lainnya.

4. Pemantapan Kegiatan Kelompok Bina Keluarga Remaja


Kegiatan kelompok BKR yang belum dilaksanakan secara
merata di berbagai tingkatan dapat memberikan kontribusi
terhadap upaya pencapaian kualitas pembinaan anak remaja
yang belum optimal. Untuk itu, diperlukan upaya pemantapan
kegiatan BKR yang dapat dilaksanakan dalam bentuk
kegiatan sebagai berikut :
a. Pemantapan jejaring kerja
b. Pembinaan kelompok BKR
c. Peningkatan kualitas kegiatan kelompok BKR

5. Langkah-langkah Pelaksanaan kegiatan kelompok BKR


pada setiap tingkatan :
a. Tingkat Pusat
1) Penggalangan Kesepakatan
2) Pembentukan Forum
3) Penyusun Perencanaan
4) Penyusunan Pedoman BKR
5) Penyusunan Materi dan Media BKR
6) Pelatihan dan Orientasi
7) Pengembangan dan Pelaksanaan Sosialisasi
8) Pemantauan dan Evaluasi

19
b. Tingkat Propinsi
1) Penggalangan kesepakatan dan operasional di
tingkat propinsi.
2) Tingkat propinsi dan kabupaten/kota dapat
menindaklanjuti sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan daerah.
3) Penyusunan Perencanaan
4) Orientasi/pelatihan
5) Menyusun petunjuk teknis pengembangan dan
pembinaan kelompok BKR baik bagi
petugas/pengelola, Fasilitator, kader maupun untuk
orangtua.
6) Penyusunan Materi dan Media BKR
7) Pengembangan dan Pelaksanaan KIE BKR
8) Pemantauan dan Evaluasi
c. Tingkat Kabupaten dan Kota
1) Penggalangan kesepakatan dan operasional di
tingkat kabupaten/kota
2) Pembentukan forum tingkat kabupaten
3) Penyusunan Perencanaan
4) Orientasi/pelatihan
5) Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan BKR.
6) Menyusun dan memproduksi materi dan media BKR.
7) Pengembangan dan pelaksanaan KIE BKR
8) Pemantauan dan Evaluasi
d. Tingkat kecamatan
1) Penggalangan kesepakatan
2) Pembentukan tim operasional
3) Orientasi petugas dan kader
4) Pendataan calon anggota Kelompok BKR
5) Penyusunan rencana kegiatan
6) Pencatatan, pelaporan dan evaluasi
7) Pembinaan dan pengembangan

20
e. Tingkat Desa/Kelurahan
1) Penggalangan kesepakatan
2) Pembentukan tim pelaksana tingkat desa/kelurahan
3) Orientasi tim pelaksana dan kader
4) Pendataan calon anggota BKR
5) Pembuatan jadwal kegiatan
6) Pembentukan kelompok BKR
7) Pelaksanaan kegiatan
8) Pencatatan dan Pelaporan
9) Pembinaan

6. Pengorganisasian Kelompok Bina Keluarga Remaja


a. Tingkat Pusat
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan BKR, perlu
dibentuk Forum BKR tingkat Pusat.
1) Susunan kepengurusan diserahkan kepada
kesepakatan anggota yang terdiri dari unsur sebagai
berikut:
a) Ketua : Deputi KSPK
b) Wakil ketua : Ketua Umum Tim Penggerak PKK
c) Sekretaris : Direktur Bina Ketahanan Remaja
d) Anggota : Kemenkokesra, Kemendikbud,
Kemenag, Kemenkes,
Kemensos, Kemenpora, Kemen
PP dan PA, Kemen Perencanaan
Nasional/ Bappenas, dan lain-lain

2) Tugas dan fungsi Forum BKR Tingkat Pusat


disarankan sebagai berikut:
a) Menyusun dan merumuskan kebijakan dan
strategi yang ditetapkan kedalam langkah-
langkah kegiatan operasional.
b) Mengembangkan materi dan media BKR
c) Mengembangkan KIE BKR.

21
d) Mengembangkan kegiatan-kegiatan pendukung
dalam rangka pemantapan kelembagaan BKR.
e) Melakukan monitoring dan supervisi kegiatan
BKR.
f) Melakukan evaluasi pelaksanaan BKR secara
berkala

b. Tingkat Provinsi
1) Keanggotaan forum BKR Provinsi disarankan terdiri
dari anggota sebagai berikut:
a) Pembina : Kepala Perwakilan BKKBN
Provinsi
b) Ketua : SKPD KB Provinsi
c) Wakil ketua : Ketua Tim Penggerak PKK
Provinsi
d) Sekretaris : Kabid Keluarga Sejahtera dan
Pemberdayaan Provinsi
e) Anggota : Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Kesehatan,
Dinas Sosial, Badan PP & PA,
Kanwil Kemenag, Bappeda

2) Tugas dan fungsi forum BKR tingkat Provinsi


disarankan sebagai berikut:
a) Menjabarkan kebijakan operasional pelaksanaan
kegiatan BKR tingkat Provinsi.
b) Menyusun pelaksanaan kegiatan BKR tingkat
Provinsi.
c) Melakukan monitoring dan supervisi kegiatan
BKR.
d) Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan BKR
secara berkala.
e) Melaporkan perkembangan kegiatan BKR secara
berkala.
f) Melaporkan perkembangan kegiatan BKR tiap 3
bulan sekali kepada forum BKR tingkat pusat.

22
c. Tingkat Kabupaten dan Kota
1) Keanggotaan forum BKR tingkat Kabupaten dan Kota
disarankan sebagai berikut:
a) Pembina : Kepala SKPD KB Kabupaten dan
Kota
b) Ketua : Kabid Keluarga Sejahtera dan
Pemberdayaan Keluarga
Kabupaten dan Kota
c) Wakil Ketua : Ketua Tim Penggerak PKK
Kabupaten dan Kota
d) Sekretaris : Eselon IV yang menangani
kegiatan BKR.
e) Anggota : Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Kesehatan,
Dinas Sosial, Badan PP & PA,
Kantor Kemenag Kabupaten dan
Kota, Bappeda

2) Tugas dan fungsi forum BKR tingkat Kabupaten/Kota


disarankan sebagai berikut:
a) Menyusun rencana operasional kegiatan BKR
Kabupaten/Kota.
b) Melakukan monitoring dan supervisi kegiatan
BKR.
c) Melakukan evaluasi pelaksanaan BKR secara
berkala.
d) Melaporkan perkembangan kegiatan tiap 4 bulan
sekali kepada Pokja BKR tingkat Provinsi.

d. Tingkat Kecamatan
1) Ti m O p e r a s i o n a l B K R d e n g a n s u s u n a n
kepengurusan diserahkan kepada kesepakatan
anggota, disarankan sebagai berikut :
a) Ketua : Pengawas/Koordinator/KUPTD
KB
b) Sekretaris : Ketua Tim Penggerak PKK
Kecamatan

23
c) Anggota : Pendidikan dan Kebudayaan,
Puskesmas, Kantor Urusan
Agama, Tokoh Masyarakat/Tokoh
Agama

2) Tugas dan fungsi Tim Operasional BKR disarankan


sebagai berikut:
a) Menyusun rencana kerja pelaksanaan kegiatan
BKR tingkat Kecamatan.
b) Memberikan petunjuk teknis kepada pelaksana di
tingkat Desa.
c) Membimbing dan memonitor pelaksanaan
kegiatan BKR.
d) Melaporkan perkembangan pelaksanaan BKR
kepada forum BKR tingkat Kabupaten/Kota setiap
2 bulan sekali.

e. Tingkat Desa
1) Susunan kepengurusan Tim pelaksana BKR tingkat
desa/kelurahan disarankan sebagai berikut:
a) Ketua : PLKB
b) Sekretaris : Ketua Tim Penggerak PKK
Kelurahan dan Desa
c) Anggota : Tokoh agama, Tokoh Masyarakat,
Ketua RW, Ketua RW, Kader,
Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama,
Tokoh Adat

2) Tugas dan fungsi Tim pelaksana BKR di


desa/kelurahan disarankan sebagai berikut:
a) Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan BKR.
b) Pelaksanaan kegiatan BKR
c) Melaporkan perkembangan pelaksanaan BKR
kepada TOP BKR Kecamatan dan
Kabupaten/Kota.

24
C. Kegiatan Penyelenggaraan Kelompok BKR
1. Pelayanan kegiatan kelompok BKR
Rangkaian pelayanan kegiatan kelompok BKR adalah
seperti berikut ini :
a. Pertemuan penyuluhan
1) Jumlah pertemuan penyuluhan disesuaikan dengan
tahapan kelompok BKR (lihat matrix)
2) Waktu dan tempat penyuluhan disepakati bersama
sesuai dengan kesepakatan anggota kelompok.

b. Tata Cara Penyuluhan


1) Pembukaan
a) Mengisi waktu menunggu sampai dengan 60%
peserta dating
b) Memperkaya pengalaman peserta dengan
kegiatan yang menarik. Misalnya membahas
topik aktual berkaitan dengan remaja, seperti
geng motor, kenakalan remaja, dll.
c) Membahas kembali materi dan Pekerjaan Rumah
(PR) pertemuan sebelumnya.
d) Menanyakan kesertaan ber KB
e) Beri kesempatan dulu kepada orangtua yang
kurang berani atau lancar berpartisipasi
2) Inti
a) Penjelasan tentang materi baru
b) Sesuaikan dengan topik/materi untuk kelompok
orangtua
c) Diskusikan tentang materi yang dibahas
d) Berbagi pengalaman antar orangtua tentang
permasalahan dan cara menghadapi anak
remajanya
e) Gunakan gambar atau alat bantu dalam
membahas materi tertentu

25
3) Penutup
a) Kesimpulan hasil pertemuan
• Penegasan untuk pemantapan pengetahuan
• Mempraktikkan dan mendiskusikan dengan
remajanya tentang materi yang telah
diperoleh dari pertemuan.
b) Penentuan PR untuk pertemuan yang akan
datang
• Tujuannya untuk memantapkan materi yang
baru dibahas dan didiskusikan dengan
remajanya, berdasarkan pengalaman pribadi
dalam keluarga masing-masing.
• PR sebaiknya ditentukan atas usul peserta
c) Pengisian laporan
Pengisian laporan dilakukan oleh kader dibawah
pengawasan kader pembantu.
d) Pertemuan khusus dengan kader
• Jika terdapat permasalahan orangtua yang
membutuhkan pertemuan yang bersifat
pribadi, maka diberi kesempatan bagi
orangtua untuk bertemu kader.
• Membantu orangtua menyelesaikan masalah
dengan merujuk ke tempat rujukan sesuai
dengan permasalahan. Misalnya ke psikolog,
Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera,
Puskesmas, dll.
e) Kunjungan rumah
Kunjungan rumah dilakukan apabila anggota
kelompok BKR dua kali berturut-turut tidak hadir
dalam pertemuan kelompok BKR.
f) Rujukan
Rujukan dilakukan apabila kader tidak mampu
menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh
orangtua anggota kelompok BKR. Adapun tempat
rujukan ke psikolog, Pusat Pelayanan Keluarga
Sejahtera (PPKS), Puskesmas, Rumah Sakit, dll.

26
D. Pengembangan Kegiatan Kelompok Bina Keluarga Remaja
Pengembangan kegiatan kelompok BKR dilakukan berdasarkan
stratifikasi kelompok sebagai berikut (formulir stratifikasi
terlampir) :
No. Aspek Stratifikasi Kelompok

1. Legalitas Pembentukan Ada


kelompok
2. Pengurus Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Bidang
3. Materi Perencanaan Keluarga (Pendewasaan Usia Perkawinan,
8 fungsi keluarga, Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
sejahtera);Triad KRR (seksualitas, Napza, serta HIV dan
AIDS);
Gender
Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja, Peran
Orangtua Dalam Pembinaan Tumbuh Kembang Remaja,
Kesehatan dan Pemenuhan Gizi Remaja
4. Kader
? Jumlah Kader per 1-2 orang
Kelompok

? Jumlah Kader
Terlatih (Orientasi, 1 orang
ToT, pelatihan dll)
5. Pertemuan penyuluhan Minimal 1 bulan sekali
6. Sarana Ada, sudah lengkap, ada pengembangan materi
- GenRe Kit
- Lembar Balik
- Celemek
7. - Identitas kelompok - Ada
- Struktur organisasi - Ada
8. - Rencana/jadwal Jadwal kegiatan per 1 bulan
kegiatan penyuluhan
9. - Pencatatan Ada, pengembangan pencatatan, aktif dan rutin melaporkan
- Pelaporan kepada pengelola program KB
10. Keterpaduan dengan Terpadu dengan kegiatan lain dan dengan PIK R/M
kegiatan lain
11. Sumber Dana APBD, APBN, Mitra, Swadaya

27
E. Pendekatan dalam pengembangan kegiatan kelompok Bina
Keluarga Remaja
Pengembangan kegiatan kelompok BKR dapat dilakukan melalui
pendekatan sebagai berikut :

1. Promosi kegiatan kelompok BKR


Pemahaman tentang pentingnya kegiatan kelompok BKR
Perlu dimiliki oleh setiap pengelola dan pelaksana program
KB, lintas sektor terkait, kader serta seluruh keluarga yang
memiliki anak remaja. Hal ini menjadi penting, sehingga
penyebarluasan tentang beberapa kegiatan yang dilakukan
dalam kelompok BKR, sebagai bagian dari kegiatan promosi
perlu terus dilakukan.

2. Pengembangan Model Keterpaduan Kegiatan Bina Keluarga


Remaja
Penyelenggaraan kegiatan dalam kelompok BKR yang telah
berjalan selama ini, dapat dikembangkan dengan berbagai
inovasi dan model penyelenggaraan sebagai bentuk
pengembangan, baik berupa penambahan/pengembangan
materi, pelayanan terpadu bersama institusi yang menangani
remaja, maupun kegiatan yang terintegrasi dengan
kelompok kegiatan yang ada misalnya PIK R/M, UPPKS,
PPKS ataupun dengan kegiatan yang ada pada institusi dan
organisasi lain, seperti Organisasi wanita, keagamaan dan
LSOM lainnya.

F. Pemantapan Kegiatan Bina Keluarga Remaja


Kegiatan kelompok BKR yang belum dilaksanakan secara
merata di berbagai tingkatan dapat memberikan kontribusi
terhadap upaya pencapaian kualitas pembinaan anak remaja
yang belum optimal. Untuk itu, diperlukan upaya pemantapan
kegiatan pada kelompok BKR dengan berbagai bentuk kegiatan
sebagai berikut:

28
1. Pemantapan jejaring kerja
2. Pembinaan kelompok BKR
3. Peningkatan kualitas kegiatan kelompok BKR

G. Langkah-Langkah Pelaksanaan
Untuk melaksanakan kegiatan pokok tersebut diperlukan
langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tingkat Pusat
a. Penggalangan Kesepakatan
Penggalangan kesepakatan dan operasional dalam
pengembangan BKR merupakan kegiatan terpadu
secara lintas sektoral maupun lintas program yang
terkait. Untuk itu diperlukan adanya kesamaan wawasan
dan dukungan dari seluruh sektor terkait disemua
tingkatan wilayah. Pembentukan kesepakatan kebijakan
program dapat dilakukan melalui pertemuan forum,
pertemuan koordinasi, pertemuan kerja dan forum-forum
lainnya yang bermanfaat bagi semua pihak.

b. Pembentukan Forum
Untuk mendorong terselenggaranya kegiatan dengan
baik perlu diupayakan adanya forum sebagai wadah
koordinasi untuk merencanakan, melaksanakan dan
evaluasi program yang akan maupun yang sudah
dilaksanakan. Forum ini anggotanya terdiri dari unsur
instansi pemerintah, LSM, pemerhati, para pakar bidang
kesehatan, pendidikan, psikologi, sosial, dan agama
serta ahli lainnya.

c. Penyusun Perencanaan
Perencanaan program dan anggaran dalam rangka
mendukung pengembangan kegiatan BKR dilaksanakan
secara terpadu berdasarkan sistem perencanaan yang
berlaku.

29
d. Penyusunan Pedoman BKR
Penyusunan pedoman BKR, pengembangan dan
pembinaan kelompok BKR baik bagi petugas/pengelola,
fasilitator, kader maupun untuk orangtua.

e. Penyusunan Materi dan Media BKR.


Penyusunan materi dan media BKR bagi
petugas/pengelola, kader dan fasilitator orangtua yang
mempunyai anak remaja.

f. Pelatihan dan Orientasi


Dalam rangka penyebarluasan informasi dan peningkat
Pengetahuan/keterampilan petugas/pengelola,
pelaksana BKR mengadakan pelatihan tingkat nasional.

g. Pengembangan dan Pelaksanaan Sosialisasi


Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk terus
menerus meningkatkan kesadaran, kepedulian dan
peran serta masyarakat dalam BKR. Untuk itu perlu
dikembangkan kegiatan dan pesan-pesan KIE yang
sesuai dengan situasi dan kondisi kebutuhan wilayah.

h. Pemantauan dan Evaluasi


Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan melalui sistem
pencatatan dan pelaporan yang dikembangkan,
kunjungan lapangan, pertemuan, rapat-rapat, review
yang dilaksanakan secara berkala.

2. Tingkat Provinsi
a. Penggalangan kesepakatan dan operasional di tingkat
provinsi dilaksanakan dengan melibatkan instansi dan
institusi terkait melalui forum pertemuan yang ada pada
tingkat provinsi.
b. Ti n g k a t P r o v i n s i d a n k a b u p a t e n / k o t a d a p a t
menindaklanjuti sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
daerah.

30
c. Penyusunan Perencanaan
Perencanaan pengelola program dan anggaran kegiatan
BKR dilakukan secara terpadu bersama sektor terkait
melalui forum BKR tingkat provinsi.
d. Orientasi/pelatihan
Dalam rangka desimilasi informasi dan peningkatan
pengetahuan keterampilan petugas/pengelola,
pelaksanaan BKR maka ditingkat provinsi perlu dilakukan
orientasi dan pelatihan BKR.
e. Menyusun petunjuk teknis pengembangan dan
pembinaan kelompok BKR baik bagi petugas/pengelola,
Fasilitator, kader maupun untuk orangtua.
f. Penyusunan Materi dan Media BKR
Penyusunan materi dan media BKR bagi
petugas/pengelola, kader sebagai fasilitator bagi
orangtua yang mempunyai anak usia 10-24 tahun
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan wilayah.
g. Pengembangan dan Pelaksanaan KIE Kelompok BKR
Kegiatan pelaksanaan KIE dilaksanakan sebagai upaya
untuk terus menerus meningkatkan kesadaran,
kepedulian dan peran serta masyarakat dalam kegiatan
BKR. Untuk itu perlu dikembangkan kegiatan dan pesan-
pesan KIE yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
wilayah.
h. Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan melalui sistem
pencatatan dan pelaporan yang dikembangkan, melalui
kunjungan lapangan, pertemuan, rapat-rapat yang
dilaksanakan secara periodik.

3. Tingkat Kabupaten dan Kota


a. Penggalangan kesepakatan dan operasional di tingkat
kabupaten/kota dilaksanakan dengan melibatkan
instansi dan institusi terkait dan pakar bidang kesehatan,
pendidikan, psikologi, dan agama.

31
b. Pembentukan forum tingkat kabupaten yang terdiri dari
unsur instansi dan institusi terkait dan para pakar bidang
kesehatan, pendidikan, psikologi dan agama.
c. Penyusunan Perencanaan.
Perencanaan pengelola program kegiatan BKR
dilakukan secara terpadu bersama sektor terkait melalui
forum pokja BKR tingkat kabupaten dan kota.
d. Orientasi/pelatihan
Dalam rangka desimilasi informasi dan peningkatan
pengetahuan/keterampilan petugas atau pengelola,
pelaksana BKR di tingkat kabupaten/kota perlu dilakukan
orientasi dan pelatihan BKR.
e. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan BKR.
Menyusun dan memproduksi materi dan media BKR.
Materi dan media BKR ini mencakup materi dan media
standar maupun yang dikembangkan sesuai kondisi dan
budaya lokal.
f. Pengembangan dan pelaksanaan KIE BKR
Kegiatan KIE dilaksanakan melalui kegiatan pertemuan,
sosialisasi, seni budaya lokal dan melalui berbagai
aktifitas yang ada sebagai upaya untuk meningkatkan
kesadaran, kepedulian dan peran serta masyarakat
dalam kegiatan BKR.
g. Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan melalui
pencatatan dan pelaporan, kunjungan lapangan,
pertemuan, rapat-rapat yang dilaksanakan secara
periodik.

4. Tingkat kecamatan
Pengelolaan Kelompok BKR di tingkat kecamatan
dilaksanakan secara terpadu bersama sektor terkait melalui
tim operasional BKR dengan langkah-langkah sebagai
berikut :

32
a. Penggalangan kesepakatan
b. Pembentukan tim operasional
c. Orientasi petugas dan kader
d. Pendataan calon kelompok BKR
e. Penyusunan rencana kegiatan
f. Pencatatan, pelaporan dan evaluasi
g. Pembinaan pengembangan

5. Tingkat Desa/Kelurahan
Kegiatan pengelolaan dan Kelompok BKR di tingkat desa
dilaksanaan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Penggalangan kesepakatan
b. Pembentukan tim pelaksana tingkat desa
c. Orientasi tim pelaksana dan kader
d. Pendataan calon anggota Kelompok BKR
e. Pembuatan jadwal kegiatan
f. Pembentukan kelompok BKR
g. Pelaksanaan kegiatan
h. Pencatatan dan Pelaporan
i. Pembinaan

H. Pengelolaan Kelompok
Setelah selesai melakukan pendataan tentang keluarga yang
memiliki Remaja, maka Tim Pelaksana dan pengelola bersama
kader terlatih membentuk kelompok BKR dibantu oleh anggota
masyarakat di bawah bimbingan Tim Pelaksana.
1. Kader BKR
Kader BKR adalah anggota masyarakat yang bekerja secara
sukarela dalam membina dan memberikan penyuluhan
kepada orangtua tentang cara mengasuh dan membina
remajanya dengan baik, diharapkan memenuhi persyaratan
sebagai berikut:

33
a. Pendidikan minimum SMP atau yang sederajat
b. Tinggal di desa/kelurahan tempat BKR berada
c. Bersedia mengikuti pelatihan/orientasi
d. Bersedia dan mampu melaksanakan kegiatan BKR
e. Aktif dalam kegiatan kemasyarakatan
f. Mau dan peduli terhadap pembinaan remaja
g. Selain persyaratan tersebut, diharapkan seseorang
menjadi kader adalah yang berprofesi sebagai guru,
tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain.

2. Tugas Kader
Seorang kader dalam mengelola kelompok BKR, memiliki
tugas-tugas sebagai berikut :
a. Melakukan pendataan keluarga yang memiliki remaja.
b. Memberikan penyuluhan kepada keluarga remaja yang
ada di desa untuk ikut aktif menjadi anggota BKR.
c. Menyusun jadwal kegiatan.
d. Menyelenggarakan pertemuan berkala dengan anggota
BKR.
e. Menjadi fasilitator dalam pertemuan.
f. Melakukan Kunjungan rumah apabila diperlukan.
g. Merujuk orangtua remaja yang permasalahannya tidak
dapat ditangani oleh kader BKR ke tempat pelayanan
yang lebih sesuai dengan permasalahannya, seperti
Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera atau lembaga
konsultasi yang lain.
h. Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk
mendokumentasikan dan melaporkan seluruh rangkaian
kegiatan atau aktifitas dari kelompok BKR setiap bulan,
menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan.
Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara berjenjang
dari tingkat kelompok, kecamatan, kabupaten dan kota,
provinsi sampai ke tingkat pusat. Laporan BKR aktif

34
sudah masuk ke dalam sistem pencatatan dan pelaporan
BKKBN. Adapun alur pencatatan dan pelaporan sebagai
berikut:
1) Pencatatan dan pelaporan BKR di tingkat kelompok
harus dilaporkan kepada pengelola tingkat
kecamatan pada tanggal 3 setiap bulannya.
2) Pengelola tingkat kecamatan mengelola dan
melaporkan ke tingkat kabupaten dan kota pada
tanggal 5 setiap bulannya.
3) Pengelola tingkat kabupaten dan kota mengolah dan
melaporkan ke provinsi pada tanggal 10 setiap
bulannya.
4) Pengelola tingkat provinsi melaporkan kepada
pengelola tingkat pusat pada tanggal 15 setiap
bulannya.

i. Formulir pencatatan dan pelaporan terdiri dari (formulir


terlampir) :
1) Formulir K/0/BKR/13
2) Formulir R/I/ BKR /13
3) Formulir C/I/ BKR /13
4) Formulir C/I/Des/Dal/13
5) Formulir F/I/Dal/13

3. Anggota kelompok BKR


Adalah keluarga yang memiliki anak usia 10-24 tahun yang
ikut dalam kegiatan kelompok BKR.
4. Pengelola kelompok BKR
Kelompok BKR di kelola oleh pengurus kelompok minimal 3
orang kader yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota
pengurus lainnya.
5. Pembentukan kelompok
Setiap kelompok dapat berjumlah antara 20-30 keluarga.
Kelompok terdiri dari orangtua yang mempunyai remaja
berumur 10-24 tahun. Pembentukan kelompok dilakukan
melalui pendekatan :

35
a. Kewilayahan
Pembentukan kelompok BKR berdasarkan domisili atau
tempat tinggal, dimana keluarga remaja berada.
b. Kelembagaan
Pembentukan kelompok BKR berdasarkan kelompok
kemasyarakatan atau keagamaan yang memiliki anggota
keluarga remaja.

6. Kegiatan kelompok BKR


Kegiatan kelompok BKR pada dasarnya dilakukan melalui
kegiatan penyuluhan dan diskusi atau kegiatan lain yang
dianggap perlu.
a. Materi pokok Penyuluhan BKR terdiri dari:
1) Materi Dasar
a) Konsep dasar BKR
2) Materi Inti
a) Penanaman Nilai-Nilai Moral Melalui 8 Fungsi
Keluarga
b) Pendewasaan Usia Perkawinan
c) Seksualitas
d) NAPZA
e) HIV dan AIDS
f) Keterampilan Hidup
g) Ketahanan Keluarga Berwawasan Gender
h) Komunikasi Efektif Orangtua terhadap Remaja
i) Peran Orangtua Dalam Pembinaan Tumbuh
Kembang Remaja
j) Kebersihan dan kesehatan diri remaja
k) Pemenuhan Gizi Remaja
b. Pertemuan Penyuluhan Kelompok
Mekanisme pertemuan penyuluhan kelompok berupa
sarasehan dan ceramah yang dihadiri oleh orangtua
remaja dan kader.

36
c. Waktu dan frekuensi penyuluhan
Waktu dan frekuensi kegiatan penyuluhan disesuaikan
dengan stratifikasi kelompok BKR (Dasar, Berkembang,
Paripurna), sedangkan waktu pelaksanaan disesuaikan
dengan kesepakatan anggota kelompok.
d. Tempat penyuluhan
Pertemuan tempat penyuluhan ditentukan berdasarkan
kesepakatan anggota kelompok.

I. Pengorganisasian Bina Keluarga Remaja


Pelaksanaan untuk tiap tingkatan adalah sebagai berikut:
1. Tingkat Pusat
a. Forum BKR tingkat Pusat membuat kesepakatan
operasional dan rencana kegiatan pengembangan BKR,
termasuk juknis, jadwal pelaksanaan, anggaran,
pembentukan juklak dan bahan materi dan media BKR.
b. Pengawasan, pengendalian serta pemantauan
perkembangan kegiatan dilakukan dengan
menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan yang
telah disepakati.
c. Forum BKR tingkat Pusat membuat umpan balik laporan
dari forum tingkat Provinsi secara berkala.
d. Forum tingkat Pusat melakukan bimbingan dan
pembinaan terpadu ketingkat administrasi yang lebih
rendah.

2. Tingkat Provinsi
Tugas dan wewenang forum disarankan seperti dibawah ini :
a. Forum BKR tingkat provinsi membuat kesepakatan
operasional bagi pengembangan BKR termasuk jenis
kegiatan, jadwal pelaksanaan, anggaran dan pembuatan
petunjuk teknis bagi tingkat Kabupaten/Kota.
b. Pengawasan, pengendalian serta pemantauan,
perkembangan kegiatan dilakukan dengan

37
menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan yang
telah disepakati.
c. Forum BKR tingkat provinsi membuat umpan balik
laporan dari forum BKR tingkat Kabupaten/Kota secara
berkala.
d. Forum BKR tingkat Provinsi melakukan bimbingan dan
pembinaan terpadu ke tinggkat administrasi yang lebih
rendah.

3. Tingkat Kabupaten/Kota
Disarankan mempunyai kewenangan sebagai berikut :
a. Forum BKR tingkat Kabupaten/Kota menjabarkan
kesepakatan pelaksanaan BKR termasuk jadwal
pelaksanaan dan alokasi anggarannya, pembuatan
petunjuk teknis bagi tingkat kecamatan.
b. Pemantauan perkembangan kegiatan dilakukan dengan
menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan yang
telah disepakati.
c. Forum BKR tingkat Kabupaten/Kota operasional tingkat
Kecamatan secara berkala.
d. Forum BKR tingkat Kabupaten/Kota melakukan
bimbingan dan pembinaan kepada pengelola pelaksana
ditingkat administrasi yang lebih rendah.

4. Tingkat Kecamatan
Disarankan mempunyai kewenangan sebagai berikut :
a. Tim operasional tingkat kecamatan menyusun rencana
pelaksanaan kegiatan BKR, termasuk jadwal dan alokasi
anggarannya, sesuai dengan petunjuk teknis.
b. Pemantauan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
dengan menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan
yang telah disepakati.
c. Tim operasional tingkat Kecamatan melakukan
bimbingan dan pembinaan kepada pelaksana ditingkat
desa.

38
5. Tingkat Desa/Kelurahan
Disarankan mempunyai kewenangan sebagai berikut :
a. Tim pelaksana tingkat desa/kelurahan menyusun
rencana pelaksanaan kegiatan BKR, termasuk jadwal
dan alokasi anggarannya.
b. Tim pelaksana tingkat desa/kelurahan membuat laporan
mengenai pelaksanaan kegiatan tingkat desa kepada tim
operasional tingkat kecamatan.

39
40
BAB IV
PENUTUP

Dalam Perkembangan dan pertumbuhan remaja, peran orangtua


sangat menentukan dalam proses pencarian jati diri remaja.
Keluarga selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengawal dan
mengantar remaja agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi
sosok yang bertanggungjawab, mandiri dan berakhlak mulia.

Begitu pentingnya peran keluarga, maka dari berbagai hasil


penelitian menunjukkan bahwa karakter remaja disamping ia
dibentuk oleh lingkungannya juga yang tak kalah besar andilnya
adalah keluarga. Itulah sebabnya keluarga selalu disebut sebagai
wahana pertama dan utama dalam membentuk karakter bangsa.
Peran orangtua menjadi sangat penting dalam upaya mewujudkan
pembangunan keluarga yang berkualitas.

Tanggung jawab keluarga atau orangtua terhadap pembinaan


remaja tak lepas dari kemampuan dan pemahaman keluarga dalam
menanamkan nila-nilai luhur tentang 8 fungsi keluarga,
mempraktikkan cara berkomunikasi yang efektif terhadap remaja,
dan masih banyak informasi serta pengetahuan lainnya yang dapat
diperoleh melalui kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR).

41
Dari Ekspetasi diatas, maka diharapkan dengan diterbitkannya buku
Pedoman Pengelolaan Bina Keluarg Remaja (BKR) ini, akan dapat
dijadikan acuan dalam mengembangkan aktifitas pada kelompok
BKR yang disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing
daerah.

Ditetapkan di Jakarta, 2015


KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN
DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL

Surya Chandra Surapati

42
LAMPIRAN

43
44
K/0/BKR/15
KARTU PENDAFTARAN KELOMPOK KEGIATAN PEMBINAAN KETAHANAN KELUARGA

BINA KELUARGA REMAJA (BKR)


2
Kode Provinsi Kode Kabupaten/ Kode Kecamatan Kode Nomor Register
Kota Poktan Kelompok

A. IDENTITAS KELOMPOK

1. NAMA KELOMPOK :

2. ALAMAT
a. Jalan : RT RW

b. Desa/Kelurahan :

c. Kecamatan :

d. Kabupaten/Kota :

e. Provinsi :

3. PEMBINA
a. Nama :

b. Jabatan : 1. PPLKB 2. PKB/PLKB 3. PPKBD 4. Sub PPKBD 5. Lainnya ____________________

B. INFORMASI KELOMPOK
1. SK PENGUKUHAN : 1. Ada 2. Tidak

a. SK : Nomor ___________________________ Tanggal ______________

b. Dikeluarkan Oleh : 1. Kepala Desa 2. Camat 3. SKPD-KB 4. Bupati /Walikota

2. SUMBER DANA KEGIATAN KELOMPOK : 1. APBN 2. APBD 3. ADD 4. SWADAYA 5. MITRA

3. KETERPADUAN KELOMPOK : 1. Ekonomi 2. Lainnya


Produktif

C. PENGURUS KELOMPOK
PELATIHAN BKR
JABATAN KODE KELUARGA INDONESIA (KKI) NAMA
Sudah Belum

Ketua

Sekretaris

Bendahara
Kader 1.

2.

3.

D. KETERSEDIAAN SARANA BKR


KETERSEDIAAN KETERSEDIAAN
SARANA BKR SARANA BKR
Ada Tdk Ada Ada Tdk Ada
BUKU MATERI MATERI KESEHATAN REPRODUKSI
1. Perencanaan Keluarga 1 Pedoman Promosi Konseling Kesehatan
Reproduksi di POKTAN
a. Pendewasaan Usia Perkawinan
b. Penanaman Nilai-Nilai Moral Melalui 8 Fungsi 2 Buku Materi Kesehatan Reproduksi
Keluarga
c. NKKBS 3 Lembar Balik Kesehatan Reproduksi Untuk BKR
d. Nilai Gender dalam keluarga 4 Poster dan Leaflet Kesehatan Reproduksi
2. TRIAD KRR

a Seksualitas
b NAPZA
c HIV/AIDS SARANA LAINNYA
3 Komunikasi Efektif Orang Tua terhadap remaja 1 GenRe KIT
4 Peran Orang Tua dalam Pembinaan Tumbuh 2 Alat Permainan Edukatif GenRe
Kembang remaja
5 Kebersihan dan Kesehatan Diri Remaja 3 Lembar Balik GenRe
6 Pemenuhan Gizi Remaja 4 Sarana Penyuluhan Lainnya . . . . .

45
E. INFORMASI ANGGOTA KELOMPOK

No KODE KELUARGA INDONESIA (KKI) NAMA

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

____________ , ___________________
Mengetahui
Pembina Kelompok Ketua Kelompok

( ___________________________ ) ( ___________________________ )

46
TATA CARA PENGISIAN K/0/BKR/15

KODE Register , diisi dengan angka-angka yang menunjukkan nomor kode registrasi Kelompok Kegiatan oleh SKPD-KB
Kab/Kota. Kode Register terdiri dari SEMBILAN ANGKA
- Kotak 1 dan 2, adalah nomor urut kode provinsi (Kode Kemendagri).
- Kotak 3 dan 4, adalah nomor urut kode kabupaten/kota (Kode Kemendagri).
- Kotak 5 dan 6 , adalah nomor urut kode kecamatan (Kode Kemendagri).
- Kotak 7 sudah terisi kode Poktan BKR yaitu angka 2
- Kotak 8 dan 9, adalah nomor urut kode register Kelompok Kegiatan BKR di kecamatan yang bersangkutan
I. IDENTITAS KELOMPOK
1. NAMA KELOMPOK, diisi dengan nama Kelompok Kegiatan BKR yang bersangkutan
ALAMAT, diisi dengan huruf-huruf dan angka-angka yang menunjukkan alamat lengkap di mana kelompok
2.
kegiatan BKR tersebut berdomisili, terdiri dari :
a. JALAN, diisi dengan nama jalan, TIGA ANGKA kode RT, dan TIGA ANGKA kode RW.
b. DESA/KELURAHAN, diisi dengan nama desa/keluarahan dan EMPAT ANGKA kode desa/kelurahan (kode
Kemendagri).
c. KECAMATAN, diisi dengan nama kecamatan dan DUA ANGKA kode kecamatan (kode Kemendagri).
d. KABUPATEN/KOTA, diisi dengan nama kabupaten/kota dan DUA ANGKA kode kabupaten/kota (kode
Kemendagri).
e. PROVINSI,diisi dengan nama provinsi dan DUA ANGKA kode provinsi (kode Kemendagri).
3. PEMBINA
a. - NAMA, diisi dengan nama pembina kelompok BKR bersangkutan
- KODE REGISTER PEMBINA, diisi angka-angka yang menunjukkan kode register pembina kelompok yang
bersangkutan pada kotak yang tersedia
b. JABATAN, diisi dengan tanda centang (ü) sesuai dengan jabatan pembina kelompok
II. INFORMASI KELOMPOK
1. SK PENGUKUHAN,diisi tanda centang (ü ) pada kolom Ada jika kelompok BKR tersebut memiliki SK Pengukuhan
Jika kelompok BKR yang bersangkutan memiliki SK Pengukuhan maka diisi :
- nomor dan tanggal SK tersebut dikeluarkan
- dikeluarkan oleh, diisi tanda centang (ü ) pada kotak yang tersedia sesuai dengan jabatan Pejabat yang
mengeluarkan SK Pengukuhan Kelompok BKR tersebut pada baris yang tersedia sesuai dengan nomor SK,
tanggal dikeluarkan dan pejabat yang mengeluarkan SK Pengukuhan Kelompok BKR yang bersangkutan
2. SUMBER DANA KEGIATAN KELOMPOK, diisi tanda centang (ü )pada kolom yang tersedia sesuai dengan sumber
dana kegiatan kelompok BKR yang bersangkutan yang terdiri dari: 1. APBN, 2.APBD, 3. Alokasi Dana desa (ADD),
4. Swadaya dan 5. Mitra
3. KETERPADUAN KELOMPOK, diisi dengan tanda centang (ü ) pada kolom yang tersedia sesuai keterpaduan
kelompok kegiatan BKR dengan kelompok kegiatan lain Yaitu: Ekonomi Produktif dan lainnya
III. PENGURUS KELOMPOK
1. JABATAN, sudah terisi dengan nama jabatan pengurus dan kader kelomppok umur yang ada pada kelompok
kegiatan BKR
2. KODE KELUARGAINDONESIA(KKI), 2. Kode Keluarga Indonesia (KKI), diisi dengan 15 digit angka pada kotak yang
tersedia sesuai dengan kode keluarga Indonesa sesuai dengan jabatan pada kelompok BKR yang bersangkutan
3. NAMA, diisi dengan nama pada kotak yang tersedia sesuai dengan jabatan pada kelompok BKR yang
bersangkutan
4. Pelatihan BKR, diisi dengan tanda centang (ü)pada kolom SUDAH jika yang bersangkutan pernah mendapat
pelatihan BKB, dan diisi dengan tanda centang (ü)pada kolom BELUM jika yang bersangkutan belum pernah
mendapat pelatihan BKB
IV. KETERSEDIAAN SARANA BKR
SARANA BKR, sudah terisi dengan sarana-sarana kelompok kegiatan BKR
KETERSEDIAAN, diisi dengan tanda centang (ü) pada kolom Ada jika sarana BKR sesuai pada kolom sarana BKR

V. INFORMASI ANGGOTA KELOMPOK


1. NIK, diisi dengan 15 digit angka pada kotak yang tersedia sesuai dengan kode keluarga Indonesa anggota
2. NAMA, diisi dengan nama lengkap anggota kelompok BKR yang bersangkutan beserta gelarnya.

47
R/I/BKR/15
REGISTER PEMBINAAN KETAHANAN KELUARGA

NAMA KELOMPOK KEGIATAN BINA KELUARGA REMAJA (BKR) BULAN LAPOR


1 2 3 4 5 6
2 2016
7 8 9 10 11 12
Kode Provinsi Kode Kabupaten/ Kode Kecamatan Kode Nomor Register
Kota Poktan Kelompok

KEGIATAN PERTEMUAN PENYULUHAN


1. PENYAJI/NARASUMBER
Jumlah

Jabatan
1. PPLKB 2. PKB/PLKB 3. PPKBD 4. Sub PPKBD 5. Pengurus Kelompok BKR 5. Lainnya ___________________

2. MATERI PENYULUHAN
Perencanaan Keluarga TRIAD KRR
1. Pendewasaan Usia Perkawinan 5. Seksualitas 8. Komunikasi Efektif Orangtua terhadap Remaja 11. Pemenuhan Gizi Remaja

2. 8 Fungsi keluarga 6. NAPZA 9. Peran Orangtua Dalam Pembinaan Tumbuh 12. Kesehatan reproduksi
Kembang Remaja
3. NKKBS 7. HIV dan AIDS 13. Lainnya _____________

4. Nilai Gender Dalam Keluarga 10. Kebersihan dan kesehatan diri remaja

3. DISKUSI
Ada Tidak Ada/ Tanya Jawab
4. JUMLAH KEGIATAN PERTEMUAN

5. KELUARGA ANGGOTA KELOMPOK YANG HADIR DALAM PETEMUAN

NO KODE KELUARGA INDONESIA (KKI) NAMA TANDA TANGAN

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Mengetahui
Pembina Kelompok Ketua Kelompok

( ___________________________ ) ( ___________________________ )

48
TATA CARA PENGISIAN R/I/BKR/15

I. IDENTITAS
1. NAMA Kelompok BKR, diisi dengan nama Kelompok BKR
2. KODE Register Kelompok BKR,diisi dengan angka-angka yang menunjukkan nomor kode registrasi
kelompok BKR yang terdiri dari kode provinsi, kode kabupaten/kota, kode kecamatan, Kode Poktan dan
nomor registrasi kelompok
3. BULAN LAPOR, diisi dengan nama bulan dan tahun R/1/BKR tersebut dibuat.

II. KEGIATAN PERTEMUAN PENYULUHAN


1. PENYAJI/NARASUMBER, diisi dengan Jumlah dan Jabatan Narasumber/penyaji yang
menyampaikan materi dalam pertemuan penyuluhan kelompok BKR yang bersangkutan
2. MATERI PENYULUHAN, diisi dengan tanda centang (ü ) pada materi yang disampaikan dalam
kegiatan pertemuan/penyuluhan kelompok BKR pada bulan bersangkutan
3. DISKUSI, diisi dengan tanda centang (ü ) pada kolom Ada jika dalam pertemuan/penyuluhan
kelompok BKR yang bersangkutan ada diskusi atau tanya jawab dan diisi dengan tanda centang
(ü ) pada kolom Tidak Ada jika dalam pertemuan/penyuluhan kelompok BKR yang bersangkutan
tidak ada diskusi atau tanya jawab
4. JUMLAH KEGIATAN PERTEMUAN , diisi dengan angka yang menunjukkan jumlah kegiatan
pertemuan yang dilaksanakan dalam bulan yang bersangkutan
5. KELUARGA ANGGOTA KELOMPOK YANG HADIR DALAM PETEMUAN
- NO, diisi dengan angka yang menunjukkan nomor urut.
- Nama, diisi nama-nama Anggota Kelompok BKR yang hadir dalam pertemuan/penyuluhan kelompok
BKR yang bersangkutan
- Kode Keluarga Indonesia (KKI), diisi 15 digit angka yang menunjukkan Kode keluarga Indonesia
Anggota Kelompok BKR yang hadir dalam pertemuan/penyuluhan kelompok BKR yang bersangkutan
- Tanda Tangan, diisi dengan Tanda tangan Anggota Kelompok BKR yang hadir dalam
pertemuan/penyuluhan kelompok BKR yang bersangkutan

49