Anda di halaman 1dari 55

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 2

“Askep Trauma Medula Spinalis”

Oleh :
Kelas 3.5
Kelompok 7

Ni Kadek Dwi Purnami ( P07120018 167 )


Ni Komang Ayu Cahyaningsih ( P07120018 178 )
Ni Putu Dela Asiyanti ( P07120017 121 )

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur mari kita panjatkan atas kehadirat Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Karena rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Askep Trauma Medula Spinalis”. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas
Keperawatan Medikal Bedah II .
Kami menyadari betul bahwa baik isi maupun penyajian makalah ini
masih jauh dari sempurna, untuk itu kami meminta kritik dan saran sebagai
penyempurnaan makalah ini, sehingga dikemudian hari makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua mahasiswa.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi dalam penyusunan pembuatan makalah ini.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Denpasar, 11 Agustus 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................... 2

Daftar Isi................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...................................................................................... 4


1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 6
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian trauma medula spinalis....................................................... 7


2.2 Etiologi trauma medula spinalis............................................................ 8
2.3 Klasifikasi trauma medula spinalis........................................................9
2.4 Manifestasi klinis medula spinalis ........................................................13
2.5 Patofisiologis taruma medula spinalis...................................................14
2.6 Penatalaksanaan medis taruma medula spinalis....................................15
2.7 Pemeriksaan penunjang trauma medula spinalis...................................16
2.8 Komplikasi trauma medula spinalis......................................................17
2.9 Konsep asuhan keperawatan dari trauma medula spinalis....................17
DAFTAR PUSTAKA

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan...............................................................................................53
3.2 Saran.....................................................................................................53

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi


neurologis yang disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila
Trauma itu mengenai daerah L1-L2 dan/atau di bawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan
fungsi defekasi dan berkemih.
Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis
vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang
belakang. Cedera medula spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang
mempengaruhi 150.000 sampai 500.000 orang hampir di setiap negara,
dengan perkiraan 10.000 cedera baru yang terjadi setiap tahunnya. Kejadian
ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar 75% dari seluruh cedera.
Setengah dari kasus ini akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, selain
itu banyak akibat jatuh, olahraga dan kejadian industri dan luka tembak.
Vertebra yang paling sering mengalami cedera adalah medula spinalis
pada daerah servikal ke-5, 6, dan 7, torakal ke-12 dan lumbal pertama.
Vertebra ini adalah paling rentan karena ada rentang mobilitas yang lebih
besar dalam kolumna vertebral pada area ini. Pada usia 45-an fraktur banyak
terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan
kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak
dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan
perubahan hormonal (menopause). Klien yang mengalami trauma medulla
spinalis khususnya bone loss pada L2-L3 membutuhkan perhatian lebih
diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan dalam pemenuhan
kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami
komplikasi trauma spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda,

4
gagal napas, pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai
perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan trauma medulla spinalis dengan cara
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat
teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk.
Kecelakaan medula spinalis terbesar disebabkan oleh kecelakaan lalu
lintas, tempat yang paling sering terkena cidera adalah regio servikalis dan
persambungan thorak dan regio lumbal. Lesi trauma yang berat dari medula
spinalis dapat menimbulkan transaksi dari medula spinalis atau merobek
medula spinalis dari satu tepi ke tepi yang lain pada tingkat tertentu disertai
hilangnya fungsi. Pada tingkat awal semua cidera akibat medula spinalis /
tulang belakang terjadi periode fleksi paralise dan hilang semua reflek.
Fungsi sensori dan autonom juga hilang, medula spinalis juga bisa
menyebabkan gangguan sistem perkemihan, disrefleksi otonom atau
hiperefleksi serta fungsi seksual juga dapat terganggu.
Perawatan awal setelah terjadi cidera kepala medula spinalis ditujukan
pada pengembalian kedudukan tulang dari tempat yang patah atau dislokasi.
Langkah-langkahnya terdiri dari immobilisasi sederhana, traksi skeletal,
tindakan bedah untuk membebaskan kompresi spina. Sangat penting untuk
mempertahankan tubuh dengan tubuh dipertahankan lurus dan kepala rata.
Kantong pasir mungkin diperlukan untuk mempertahankan kedudukan
tubuh.
Kematian mungkin terjadi dalam hitungan detik pada saat kejadian,
biasanya akibat cedera kepala hebat, cedera jantung atau cedera aortik.
Kematian akibat hal ini tidak dapat dicegah. Kematian berikutnya mungkin
muncul sekitar sejam atau dua jam sesudah trauma. Kematian pada fase ini
biasanya diakibatkan oleh hematoma subdural atau epidural, hemo atau
pneumothorak, robeknya organ-organ tubuh atau kehilangan darah.
Kematian akibat cedera-cedera tersebut dapat dicegah. Periode ini disebut
sebagai “golden hour” dimana tindakan yang segera dan tepat dapat
menyelamatkan nyawa korban.

5
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari trauma medula spinalis ?
2. Apa etiologi dari trauma trauma medula spinalis ?
3. Bagaimana klasifikasi dari trauma medula spinalis ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari trauma medula spinalis ?
5. Bagaimana patofisiologis trauma medula spinalis ?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis trauma medula spinalis ?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari trauma medula spinalis ?
8. Bagaimana komplikasi dari trauma medula spinalis ?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari trauma medula
spinalis ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pengertian dari trauma medula spinalis
2. Mengetahui etiologi dari trauma trauma medula spinalis
3. Mengetahui klasifikasi dari trauma medula spinalis
4. Mengetahui manifestasi klinis dari trauma medula spinalis
5. Mengetahui patofisiologis trauma medula spinalis
6. Mengetahui penatalaksanaan medis trauma medula spinalis
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari trauma medula spinalis
8. Mengetahui komplikasi dari trauma medula spinalis
9. Mengetahui konsep asuhan keperawatan dari trauma medula
spinalis

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Trauma Medula Spinalis


Trauma medula spinalis adalah cedera pada tulang belakang baik
langsung maupun tidak langsung yang menyebabkn lesi di medula spinalis
sehingga menimbulkan gangguan neurologis dapat menyebabkan kecacatan
menetap atau kematian (Perdossi,2006 di dalam Jurnal Genoveva dan
Kharunnisa,2017).
Trauma medula spinalis adalah keadaan patologi akut pada medula
spinalis yang diakibatkan terputusnya komunikasi sensori dan motorik
dengan susunan saraf pusat dan saraf perifer. Tingkat kerusakan pada
medula spinalis tergantung dari keadaan atau inkomplet (Tarwato, 2007).
Trauma medula spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medula spinalis (Brunner & Suddart,
2008). Trauma medula spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi
ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang
menyebabkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan quardriplegia
(Fransiska B. Batticaca,2008).
Pada trauma medula spinalis timbul perlukaan pada sumsum tulang
belakang yang mengakibatkan perubahan, baik sementara atau permanen,
perubahan fungsi motorik, sensorik atau otonom. Pasien dengan cedera
tulang belakang biasanya memiliki defisit neurologis permanen dan sering
mengalami kecacatan (Lawrence, 2014).
Trauma medula spinalis bisa meliputi fraktur, kontusio dan kompresi
kolumna vertebra yang biasa terjadi karena trauma pada kepala atau leher.
Kerusakan dapat mengenai seluruh medula spinalis atau terbata pada salah
satu belahan dan bisa terjadi pada setiap level (Kowalak, 2011).

7
Jadi, trauma medula spinalis adalah kerusakan ungsi neurologis akibat
trauma langsung atau tidak langsung pada medula spinalis sehingga
mengakibatkan gangguan fungsi sensorik, motorik, autonomi dan reflek.

2.2 Etiologi Trauma Medula Spinalis


Trauma medula spinalis bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya
adalah akibat trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan
melampui batas kemampuan tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf
yang ada di dalamnya. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu lintas,
kecelakaan industri, jatuh dari bangunan, pohon, luka tusuk, luka tembak
dan terbentur benda keras (Muttaqin, 2008).
Trauma medula spinalis dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
1. Cedera medula spinalis traumatik
Terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang diakibatkan oleh
kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak
medula spinalis. Cedera medula spinalis traumatic ditandai sebagai
lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam defisit motorik
dan sensorik atau paralisis.
2. Cedera medula spinalis non traumatik
Terjadi ketika kondisi kesehatan seperti penyakit, infeksi atau tumor
mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis yang terjadi pada
medula spinalis yang bukan disebkan oleh gaya fisik eksternal.
Faktor penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit
motor neuron, myeopati spondilotik, penyakit infeksius dan
inflamatori, penyakit neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik
dan metabolik dan gangguan konginetal dan perkembangan.
Sedangkan menurut Baticaca, 2008 penyebab terjadinya trauma medula
spinalis adalah sebagai berikut :
1. Kecelakaan di jalan raya ( penyebab paling sering )
2. Olahraga
3. Menyelam pada air dangkal
4. Luka tembak atau luka tikam

8
Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medula spinalis
seperti spondiliosis servika dengan myeolopati yang menghasilkan saluran
sempit yang mengakibatkan cedera progresif terhadap medula spinalis dan
akar mielitis akibat inflamasi infeksi maupun non infeksi, osteoporosis yang
disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra, siringmielia, tumor
infiltrasi maupun kompresi dan penyakit vaskuler.

2.3 Klasifikasi Trauma Medula Spinalis


Menurut Batticaca (2008) trauma medula spinalis dapat diklasifikasi menjadi
2 macam, yaitu:
1. Cedera tulang
a) Stabil, bila kemapuan fragmen tulang tidak mempengaruhi
kemapuan tulang untuk bergeser lebih jauh selain yang
terjadi saat cedera. Komponen arkus neural intak serta
ligamen yang menghubungkan ruas tulang belakang,
terutama ligamen longitudinal posterior tidak robek.
b) Tidak Stabil, kondisi trauma menyebabkan adanya
pergeseran tulang yang terlalu jauh sehingga cukup mapu
untuk merobek ligamen longitudinal posterior serta
merusak keutuhan arkus neural.
2. Cedera neurologis
a) Tanpa defisit neurologi
b) Disertai defisit neurologis

American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan


Internasional Medical Society Of Paraplegia (IMSOP) telah
mengembangkan dan mempublikasikan standart Internasional untuk
klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. Klasifikasi
berdasarkan pada Frankel pada tahun 1969. Klasifikasi ASIA/IMSOP dipakai
dibanyak negara karena sistem tersebut dipandang akurat dan komperhensif.
Skala kerusakan menurut ASIA/IMSOP adalah sebagai berikut:
1. FRANKEL SCORE A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik lengkap
(complete loss).

9
2. FRANKEL SCORE B: fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
3. FRANKEL SCORE C: fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak
berguna (dapat menggerakkan tungkai tetapi tidak dapat berjalan).
4. FRANKEL SCORE D: fungsi motorik terganggu (dapat berjalan tetapi
tidak dengan nomal "gait").
5. FRANKEL SCORE E: tidak terdapat gangguan neurologik.
Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplit dan Inkomplit
berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan dibawah lesi. Terdapat 5
sindrom utama cedera medula spinalis inkomplit menurut American Spinal
Cord Injury Association yaitu:
Nama Pola dari Lesi saraf Kerusakan
Sindroma

Central Cord Cedera pada posisi central dan Menyebar ke daerah sacral.
syndrome sebagian daerah lateral.
Kelemahan otot ekstremitas
Sering terjadi pada trauma atas lebih berat dari
daerah servikal ekstermitas bawah.

Anterior Cord Cedera pada sisi anterior dan Kehilangan perioperatif dan
Syndrome posterior dari medula spinalis. kehilangan fungsi motorik
secara ipsilateral
Cedera akan menghasilkan
gangguan medula spinalis
unilateral

Brown Sequard Kerusakan pada anterior dari Kehilangan fungsi motorik dan
Syndrome daerah putih dan abu-abu sensorik secara komplit.
medula spinalis.

Cauda Equina Kerusakan pada posterior dari Kerusakan proprioseptif


Syndrome daerah putih dan abu-abu diskriminasi dan getaran.
medula spinalis
Fungsi motorik juga terganggu

Posterior Cord Kerusakan pada saraf lumbal Kerusakan sensori dan lumpuh
Syndrome atau sacral sampai ujung flaccid pada ekstremitas bawah
medulla spinalis dan kontrol berkemih dan

10
defekasi

Cedera medulla spinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Complete injury
Complete injury atau cedera penuh mengakibatkan hilangnya fungsi
sensorik dan motorik secara total dibawah level cedera. Terlepas dari
mekanisme cedera, jenis cedera secara penuh ini bisa berupa diseksi atau
robekan lengkap pada sumsum tulang belakang yang menghasilkan dua
kondisi:
a. Tetraplegia
Cedera terjadi pada level C1 sampai dengan T1. Fungsi otot residual
tergantung pada segmen servikal yang terpengaruh.
b. Paraplegia
Dikatakan paraplegia apabila terdapat kerusakan ataupun hilangnya
fungsi sensorik dan motoric pada segmen thorakal, lumbar ataupun
sacral (Kirshblum dkk, 2011).
2. Incomplete injury
Apabila masih terdapat fungsi sensorik dan motorik yang masih dalam
keadaan baik dibawah tingkat neurologis, termasuk pada segmen sacral
S4-S5 (Kirshblum dkk, 2011).

Pola karakteristik cedera neurologis tertentu sering ditemukan pada


pasien dengan cedera medulla spinalis. Pola-pola ini harus dikenali
sehingga tidak membingungkan pemeriksa. Berdasarkan sindrom medulla
spinalis, trauma medulla spinalis dikelompokkan sebagai berikut:

a. Complete transaction
Kondisi ini menyebabkan semua traktus di medulla spinalis terputus
menyebabkan semua fungsi yang melibatkan medulla spinalis di
bawah level terjadinya transection semua terganggu dan terjadi
kerusakan permanen.

11
Secara klinis menyebabkan kehilangan kemampuan motorik berupa
tetraplegia pada transeksi cervical dan paraplegia jika terjadi pada
level thorakal. Terjadi flaksid otot, hilangnya refleks dan fungsi
sensoris dibawah level trabsseksi. Kandung kemih dan susu atoni
sehingga menyebabkan ileus paralitik. Kehilangan tonus vasomotor
area tubuh dibawah lesi menyebabkan tekanan darah rendah dan tidak
stabil. Kehilangan kemampuan perspirasi menyebabkan kulit kering
dan pucat, juga terjadi gangguan pernapasan.

b. Incomplete transaction : Central cord syndrome


Sindrom ini ditandai dengan hilangnya kekuatan motorik lebih banyak
pada ekstremitas atas dibandingkan dengan ekstremitas bawah, dengan
kehilangan sensorik yang bervariasi. Biasanya sindrom ini terjadi setelah
adanya trauma hiperekstensi pada pasien yang telah mengalami kanalis
stenosis servikal sebelumnya. Dari anamnesis didapatkanadanya riwayat
jatuh kedepan dengan dampak pada daerah wajah. Dapat terjadi dengan
atau tanpa fraktur tulang servikal atau dislokasi.

c. Incomplete transection : Anterior Cord Syndrome


Sindrom ini ditandai dengan paraplegi dan kehilangan sensorik
disosiasi dengan hilangnya sensasi nyeri dan suhu. Fungsi kolumna
posterior (posisi, vibrasi, dan tekanan dalam) tetap bertahan. Biasanya
anterior cord syndrome disebabkan infark pada daerah medulla spinalis
yang diperdarahi oleh arteri spinalis anterior. Prognosis sindrom ini
paling buruk dibandingkan cedera inklomplit lainnya. Kehilangan
sensasi nyeri dan suhu pada level dibawah lesi tetapi sensoris terhadap
raba, tekanan, posisi, dan getaran tetap baik
d. Brown Sequard Syndrome
Sindrome ini terjadi akibat hemiseksi medulla spinalis, biasanya akibat
luka tembus. Namun variasi gambaran klasik tidak jarang terjadi. Pada
kasus murni, sindrom ini terdiri dari kehilangan sistem motorik
ipsilateral (traktus kortikospinalis) dan hilangnya sensasi posisi
(kolumna posterior), disertai dengan hilangnya sensasi suhu serta nyeri

12
kontralateral mulai satu atau dua level di bawah level trauma (traktus
spinothalamikus). Walaupun sindrom ini disebabkan trauma tembus
langsung ke medulla spinalis, biasanya masih mungkin untuk terjadi
perbaikan.Kondisi ini terjadi parese ipsilateral di bawah level lesi
disertai kehilangan fungsi sensoris sentuhan, tekanan, getaran dan
posisi. Terjadi gangguan kehilangan sensoris nyeri dan suhu
kontralatetal.

2.4 Manifestasi Klinis Trauma Medula Spinalis


Menurut Towarto (2007) tanda dan gejala dari cedera medulla spinalis,
yaitu:
1) Tergantung tingkat dan lokasi kerusakan
Hilangnya gerakan volunter, hilangnya sensasi nyeri, temperature,
tekanan dan prospriosepsi, hilangnya fungsi bowel dan bladder dan
hilangnya fungsi spinal dan reflex autonom.
2) Perubahan reflek
Setelah cedera medulla spinalis terjadi edema medulla spinalis
sehingga stimulus reflex juga terganggu misalnya reflex pada
bladder, aktivitas visceral, reflex ejakulasi.
3) Spasme otot
Gangguan spasme otot terutama terjadi pada trauma komplit
transversal, dimana pasien terjadi ketidakmampuan melakukan
pergerakan.
4) Spinal shock
Tanda dan gejala spinal shock meliputi flaccid paralisis dibawah
garis kerusakan, hilangnya sensasi, hilangnya refleks-refleks
spinal, hilangnya tonus vasomotor yang mengakibatkan tidak
stabilnya tekanan darah, tidak adanya keringat dibawah garis
kerusakan dan inkontinensia urin dan retensi feses.
5) Autonomic dysreflexia

13
Autonomic dysreflexia terjadi pada cidera thorakal enam ke atas,
dimana pasien mengalami gangguan refleks autonom seperti
terjadinya bradikardi, hipertensi paroksimal, distensi bladder.
6) Gangguan fungsi seksual
Banyak kasus memperlihatkan pada laki-laki adanya impotensi,
menurunnya sensasi dan kesulitan ejakulasi. Pasien dapat ereksi
tetapi tidak dapat ejakulasi.

Manifestasi Klinis Trauma Medula Spinalis (Brunner dan Suddarth, 2001)


a. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena
b. Paraplegia
c. Tingkat neurologik
d. Paralisis sensorik motorik total
e. Kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine, distensi kandung
kemih)
f. Penurunan keringat dan tonus vasomoto
g. Penurunan fungsi pernafasan
h. Gagal nafas
i. Pasien biasanya mengatakan takut leher atau tulang punggungnya
patah
j. Kehilangan kontrol kandung kemih dan usus besar
k. Biasanay terjadi retensi urine, dan distensi kandung kemih,
penurunan keringat dan tonus vasomotor, penurunan tekana darah
diawalai dengan vaskuler perifer.
l. Penurunan fungsi pernafasan sampai pada kegagalan pernafasan
m. Kehilangan kesadaran
n. Kelemahan motorik ekstermitas atas lebih besar dari ekstermitas
bawah
o. Penurunan keringat dan tonus vasomotor

2.5 Patofisiologis Trauma Medula Spinalis

14
Kerusakan yang dialami medula spinalis dapat bersifat sementara atau
menetap akibat trauma terhadap tulang belakang. Medula spinalis dapat tidak
berfungsi untuk sementara (komosio medula spinalis), tetapi dapat sembuh
kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa edema,
perdarahan perivaskuler dan infark di sekitar pembuluh darah. Pada
kerusakan medula spinalis yang menetap, secara makroskopis, kelainannya
dapat terlihat dan terjadi lesi, kontusio, laserasi dan pembengkakan daerah
tertentu di medula spinalis.
Segera setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cedera, serabut-serabut
saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansi grisea
medulla spinalis menjadi terganggu. Tidak hanya hal ini saja yang terjadi
pada cedera pembuluh darah medula spinalis, tetapi proses patogenik
dianggap menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera medula spinalis
akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia,
hipoksia, edema, dan lesi-lesi hemoragi, yang pada gilirannya mengakibatkan
kerusakan mielin dan akson. Reaksi sekunder ini, diyakini menjadi penyebab
prinsip degenerasi medula spinalis pada tingkat cedera, sekarang dianggap
reversibel 4 sampai 6 jam setelah cedera. Untuk itu jika kerusakan medula
tidak dapat diperbaiki, maka beberapa metode mengawali pengobatan dengan
menggunakan kortikosteroid dan obat-obat anti-inflamasi lainnya yang
dibutuhkan untuk mencegah kerusakan sebagian dari
perkembangannya,masuk kedalam kerusakan total dan menetap.

2.6 Penatalaksanaan Medis Trauma Medula Spinalis


Prinsip penatalaksanaan medik trauma medula spinalis adalah sebagai
berikut:
1) Segera dilakukan imobilisasi.
2) Stabilisasi daerah tulang yang mengalami cedera seperti dilakukan
pemasangan collar servical, atau dengan menggunakan bantalan pasir.
3) Mencegah progresivitas gangguan medula spinalis misalnya dengan
pemberian oksigen, cairan intravena, pemasangan NGT.
4) Terapi pengobatan:

15
a. Kortikosteroid seperti dexametason untuk mengontrol edema.
b. Antihipertensi seperti diazolxide untuk mengontrol tekanan
darah akibat autonomic hiperrefleksia akut.
c. Kolinergik seperti bethanechol chloride untuk menurunkan
aktifitas bladder.
d. Anti depresan seperti imipramine hyidro chklorida untuk
meningkatkan tonus leher bradder.
e. Antihistamin untuk menstimulus beta – reseptor dari bladder
dan uretra.
f. Agen antiulcer seperti ranitidine
g. Pelunak fases seperti docusate sodium.
5) Tindakan operasi, di lakukan dengan indikasi tertentu seperti
adanya fraktur dengan fragmen yang menekan lengkung saraf.
6) Rehabilisasi di lakukan untuk mencegah komplikasi, mengurangi
cacat dan mempersiapkan pasien untuk hidup di masyarakat.

2.7 Pemeriksaan Penunjang Trauma Medula Spinalis


1. Pemeriksaan neurologis lengkap secara teliti segera setelah pasien tiba di
rumah sakit

2. Pemeriksaan tulang belakang: deformasi, pembengkakan, nyeri tekan,


gangguan gerakan(terutama leher)
3. Pemerikaan radiologis: foto polos vertebra AP dan lateral. Pada servikal
diperlukan proyeksi khusus mulut terbuka (odontoid).
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis Trauma tulan (fraktur, dislokasi), untuk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
b. Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadan paru (contoh: perubahan
pada diafragma, atelektasis)
4. Bila hasil meragukan lakukan CT-Scan,bila terdapat defisit neurologi
harus dilakukan MRI atau mielografi.
a. CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural

16
c. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
d. Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub
anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah
mengalami luka penetrasi).
5. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vital, volume tidal): mengukur
volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma
servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada
saraf frenikus /otot interkostal).
6. GDA: Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
7. Serum kimia, adanya hiperglikemia atau hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, kemungkinan menurunnya Hb dan Hmt.
8. Urodinamik, proses pengosongan bladder.

2.8 Komplikasi Trauma Medula Spinalis

Komplikasi yang dapat terjadi pasca cedera medula spinalis antara lain
yaitu instabilitas dan deformitas tulang vertebra, fraktur patologis,
syringomyelia pasca trauma, nyeri dan gangguan fungsi seksual. Komplikasi
lain yang bisa terjadi yaitu:
1. Neurogenik shock
2. Hipoksia
3. Instabilitas spinal
4. Ileus paralitik
5. Infeksi saluran kemih
6. Kontraktur
7. Dekubitus
8. Konstipasi

2.9 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Trauma Medula Spinalis


2.9.1 Pengkajian

17
Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dan dasar utama dari
proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data.
1. Identitas pasien mencakup (nama, No.RM, umur, Jenis kelamin,
Pekerjaan, Agama, status, tanggal MRS, tanggal pengkajian).
2. Keluhan utama
Keluhan utama pada klien gangguan kebutuhan cairan akibat patologi
system perkemihan dan metabolic endokrin
3. Riwayat penyakit
Pengkajian dengan melakukan anamnesis atau wawancara untuk menggali
masalah keperawatan lainnya yang dilaksanakan perawat adalah mengkaji
riwayat kesehatan klien. Riwayat yang mendukung keluhan utama perlu
dikaji agar pengkajian lebih kompherensif juga mendukung terhaap
keluhan yang paling actual dirasakan klien
a. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang merupakan serangkaian wawancara
yang dilakukan perawat untuk menggali permasalahan klien dari
timbulnya keluhan utama .
b. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu dalam menggali permasalah
yang
mendukungmasalahsaatinipadaklien,sepertiklienpernahadariwayat
trauma kepala, pembedahan kepala, pemakaian obat lithium
karbonat, infeksi kranial, riwayat keluarga menderita kerusakan
tubulus ginjal atau penyakit yang sama.
c. Riwayat penyakit keluarga
Anamnesis akan adanya riwayat keluarga yang menderita
gangguan kebutuhan cairan akibat patologi system perkemihan dan
metabolic endokrin.

Inkontinensia Urin berlanjut


Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor

18
Keluarnya urin konstan tanpa distensi Berkemih tanpa sadar

Nokturia lebih dari 2 kali sepanjang Tidak sadar inkontinensia urine


tidur

Gangguan Mobilitas Fisik


Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor
Mengeluh kesulitan menggerakkan Nyeri saat bergerak
ekstremitas Enggan melakukan pergerakan
Kekuatan otot menurun Merasa cemas saat bergerak
Sendi kaku
Rentang gerak (ROM) menurun Gerakan tidak terkoordinasi
Gerakan terbatas
Fisik lemah

Risiko Infeksi

Penyakit kronis (mis. Diabetes militis )

Efek prosedur invasif

Malnutrisi

Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan

Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer

Gangguan peristaltik

Kerusakan integritas kulit

Perubahan sekresi pH

Penurunan kerja siliaris

Ketuban pecah lama

Ketuban pecah sebelum waktunya

Merokok

Status cairan tubuh

19
Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

Penurunan hemoglobin

Imununosupresi

Leukopemia

Supresi respon inflamasi

Vaksinasi tidak adekuat

2.9.2 Diagnosa Keperawatan


1. Inkontenensia urin berlanjut berhubungan dengan neuropati arkus
refleks, disfungsi neurologis, kerusakan reflek kontraksi detrusor,
trauma, kerusakan medula spinalis, kelainan anatomis (mis.Fistula)
dibuktikan dengan keluarnya urin konstan tanpa distensi, nokturia
lebih dari 2 kali sepanjang tidur, berkemih tanpa sadar, tidak sadar
inkontenensia urin.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang, perubahan metabolisme, ketidakbugaran fisik,
penurunan kendali otot, penurunan massa otot, penurunan kekuatan
otot, keterlambatan perkembangan,kekakuan sendi, kontraktur,
malnutrisi,gangguan muskuloskeletal, gangguan neuromuscular,
indeks massa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia, efek agen
farmakologis, program pembatasan gerak, nyeri, kurang terpapar
informasi tentang aktivitas fisik,kecemasan, gangguan kognitif,
keengganan melakukan pergerakan, gangguan sensoripersepsi
dibuktikan dengan mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas,
kekuatan otot menurun, rentang gerak menurun, nyeri saat bergerak,
enggan melakukan pergerakan, merasa cemas saat bergerak, sendi
kaku, gerakan tidak terkoordinasi, gerakan terbatas, fisik lemah.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan Penyakit kronis (mis. Diabetes
militis ),Efek prosedur invasif, Malnutrisi, Peningkatan paparan
organisme patogen lingkungan, Ketidakadekuatan pertahanan tubuh
primer, Gangguan peristaltik, Kerusakan integritas kulit, Perubahan

20
sekresi pH, Penurunan kerja siliaris, Ketuban pecah lama, Ketuban
pecah sebelum waktunya, Merokok, Status cairan tubuh,
Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder, Penurunan hemoglobin,
Imununosupresi, Leukopemia, Supresi respon inflamasi. Vaksinasi
tidak adekuat.

2.9.3 Perencanaan Keperawatan


No Diagnosa Tujuan & kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan hasil
1 Inkonteninsia urin setelah dilakukan SIKI LABEL :
berlanjut asuhan keperawatan Perawatan
selama .....x..... jam Inkontinensia Urine
diharapkan Observasi :
Kontinensia Urin 1. Untuk
1. Identifikasi
membaik dengan mengetahui
penyebab
kriteria hasil : penyebab
inkontinensia
inkontinensia
1. Kemampuan urine (mis.
urine
mengonrol Disfungsi
urin neurologis,
meningkat gangguan
2. Nokturia medula
menurun spinalis,
3. Residu gangguan
volume urin refleks
setelah destrusor,
berkemih obat-obatan,
menurun usia, riwayat
4. Distensi operasi,
kandung gangguan
kemih fungsi kognitif
2. Untuk
menurun 2. Identifikasi

21
5. Dribbling perasaan dan mengetahahui
menurun persepsi perasaan dan
6. Hesistensi pasien presepsi pasien
menurun terhadap terhadap
7. Enuresis inkontinensia inkomntenensia
menurun urine yang urine yang di
8. Verbalisasi dialaminya alaminnya
pengeluaran 3. Monitor 3. Untuk
urin tidak keefektifan memantau
tuntas obat, keefektifan
9. Kemampuan pembedahan obat,
menunda dan terapi pembedshsn
pengeluaran modalitas dan terapi
urin membaik berkemih modalitas
10. Frekuensi 4. Monitor berkemih
berkemih kebiasaan 4. Untuk
membaik BAK memantau
11. Sensasi BAK
berkemih
membaik
Terapeutik :
1. Bersihkan
1. Untuk menjaga
genital dan
agar alat
kulit sekitar
genetalia ttap
secara rutin
dalam keadaan
2. Berikan pujian
bersih
atas
2. Untuk
keberhasilan
meberikan
mencegah
semangat atas
inkontinensia
keberhailan
3. Buat jadwal
pasien
konsumsi
3. Agar dalam

22
obat-obat pemberian
diuretik obat-obatan
4. Ambil sampel pasien tepat
urine untuk waktru
pemeriksaan 4. Untuk
urine lengkap melakukan
atau kultur pemeriksaan
urine lengkap

Edukasi : 1. Agar pasien


1. Jelaskan mengetahui
definisi, jenis definidi jenis
inkonteninsia, dan penyebab
penyebab dari
inkonteninsia inkontenisia
urine urine
2. Jelaskan 2. Agar pasien
program mengetahui
penanganan penanganan
inkonteninsia inkoteninsia
urine urine
3. Jelaskan jenis 3. Agar pasien
pakaian dan mengetahui hal
lingkungan yang dapat
yang mendukung
mendukung proses
proses perkemihan
berkemih 4. Untuk
4. Anjurkan mengurangi
membatasi eliminasi urine
konsumsi berlebihan

23
cairan 2-3 jam 5. Agar eliminasi
menjelamg urine terpantau
tidur 6. Agar cairan
5. Anjurkan masuk dan
memantau keluar sama
cairan keluar dan pola
dan masuk eliminasi baik
serta pola 7. Agar tidak
eliminasi urine terjadi
6. Anjurkan kontraindikasi
minum karena
minimal mengkonsumsi
1500cc/hari , obat – obatan
jika tidak 8. Agar pasien
kontraindikasi tidak
7. Anjurkan mengalami
menghindari konstipasi
kopi, minuman
bersoda , teh
dan coklat
8. Anjurkan
mengonsumsi
buah dan sayur
untuk
menghindari
1. Untuk
konstipasi
mempercepat
Kolaborasi :
proses
1. Rujuk ke ahli
penyembuhan
inkontinensia,
jika perlu
2 Gangguan mobilitas Setelah dilakukan SIKI LABEL :
fisik asuhan keperawatan Dukungan
selama ....x....jam

24
diharapka Mobilitas Mobilisasi
Fisik pasien Observasi : 1. Untuk
meningkat dengan mengetahui
1. Identifikasi
kriteria hasil : adanya nyeri
adanya nyeri
atau keluhan
1. Pergerakan atau keluhan
fisik lainnya
ektresmitas fisik lainnya
2. Untuk
meningkat 2. Identifikasi
mengetahui
2. Kekuatan otot toleransi fisik
kemampuan
meningkat melakukan
menlakukan
3. Rentang gerak pergerakan
pergerakan
meningkat 3. Monitor
3. Untuk
(ROM) frekuensi
mengetahui
4. Nyeri jantung dan
frekuensi
menurun tekanan darah
jantung dan
5. Kecemasan sebelum
tekanan darah
menurun memulai
sebelum
6. Kaku sendi mobilisasi
4. Untuk
menurun 4. Monitor
mengetahui
7. Gerakan tidak kondisi umum
kondisi umum
terkoordinasi selama
pasien
8. Gerakan melakukan
terbatas mobilisasi
menurun
9. Kelemahan Terapeutik :
1. Agar pasien
fisik menurun 1. Fasilitasi
dapat
aktivitas
beraktivitas
mobilisasi
dengan
dengan alat
menggunakan
bantu (mis.
alat bantu
Pagar tempat
tidur )
2. Fasilitasi 2. Agar pasien

25
melalukan dapat
pergerakan meningkatkan
3. Libatkan aktivitas
keluarga untuk pergerakan
membantu
pasien dalam
3. Untuk
meningkatkan
membantu
pergerakan
pasien
meningkatkan
melakukan
pergerakan

Edukasi :
1. Jelaskan 1. Untuk

tujuan dan mengetahui

prosedur tujuan dan

mobilisasi prosedur

2. Anjurkan mobilisasi

melakukan 2. Untuk melatih

mobilisasi diri pergerakan

3. Ajarkan pasien lebih

mobilisasi efektif

sederhanan 3. Agar pasien

yang harus dapat

dilakukan melakukan

( mis.. duduk pergerakan di

di tempat mulai dari

tidur,duduk di yang lebih

sisi tempat sederhana

tidur, pindah
dari tempat
tidur ke kursi
3 Risiko infeksi Setelah dilakukan SIKI LABEL:

26
asuhan keperawatan Pencegahan Infeksi
selama ....x.... jam Observasi :
diharapkan Tingkat
1. Monitor tanda 1. Untuk
Infeksi menurun
dan gejala mengetahui
dengan kriteria hasil:
infeksi lokal tanda dan
1. Kebersihan dan sistemik gejala infeksi
tangan
meningakat
2. Kebersihan Terapeutik :
badan 1. Batasi jumlah
1. Untuk
meningkat pengunjung
Meminimalkan
3. Demam 2. Berikan
patogen yang
menurun perawatan
ada di
4. Kemerahan kulit pada area
sekeliling
menurun edema
pasien
5. Nyeri 3. Cuci tangan
2. Untuk menjaga
menurun sebelum dan
kulit pada area
6. Bengkak sesudah
edema tetap
menurun kontak
bersih
7. Vesikel langsung
3. Agar
menurun dengan pasien
kebersihan
8. Cairan berbau dan
tetap terjaga
busuk lingkungan
4. Untuk
menurun pasien
mengurangi
9. Sputum 4. Pertahankan
mikroba
berwarna hijau teknik aseptik
bakteri yang
menurun pada pasien
dapat
10. Drainase berisiko tinggi
menyebabkan
purulen
infeksi
menurun
11. Pyuria Edukasi :
menurun 1. Jelaskan tanda

27
12. Periode dan gejala 1. Agar pasien
malaise infeksi mengetahui
menurun 2. Ajarkan cara tanda dan
13. Periode mencuci gejala infeksi
mengigil tangan yang 2. Agar pasien
menurun baik dan benar mengetahui
14. Letargi 3. Ajarkan etika cara mencuci
menurun batuk tangan yang
15. Gangguan 4. Ajarkan cara benar
kognitif memeriksa 3. Agar pasien
menurun kondisi luka mengetahui
16. Kadar sel atau luka cara etika batuk
darah putih operasi yang benar
membaik 5. Anjurkan 4. Untuk
17. Kultur darah meningkatkan Memandirikan
membaik asupan nutrisi pasien dan
18. Kultur urin 6. Anjurkan keluarga dalam
membaik meningkatkan memerikdakan
19. Kultur sputum asupan cairam kondisi
membaik lukanya
20. Kultur area 5. Agar asupan
luka membaik nutrisi pasien
21. Kultur feses teteap terjaga
membaik 6. Agar intek
22. Nafsu makan cairan pasien
membaik tetap normal

Kolaborasi :
1. Kolaborasi 1. Untuk

pemberian mencegah

imunisasi jika timbulnya

perlu infeksi dan

28
mempercepat
proses
penyembuhan

DAFTAR PUSTAKA

29
Genoveva, Kharunnisa. 2017. Diagnosis dan Tatalaksana Trauma Medula
Spinalis. Jurnal Medula Unila Vol. 7 No. 2

Tarwoto, dkk. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan.


Jakarta : Sagung Seto.
Batticaca, B Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan
Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Lawrence S Chin, Robert B and Molly G King Endowed. 2014. Spinal Cord
Injuries. Medscape Medical News.(Online),
http://emedicine.medscape.com/article/793582, diakses tanggal 3 Agustus
2020

Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.


Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Kirshblum, steven dkk. 2011. International standards for neurological
classification of spinal cord injury. Diakses dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3232636/pdf/scm-34-
535.pdf

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.Brunner &


Suddath. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.

Tim Pokja PPNI.2017.Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP


PPNI

Tim Pokja PPNI.2017.Standar Luaran Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP PPNI

Tim Pokja PPNI.2017.Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP


PPNI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ny.M


DENGAN TRAUMA MEDULA SPINALIS

30
DI RUANG BELIBIS RSUD WANGAYA
TANGGAL 30 JULI s/d 1 AGUSTUS 2020

Klien datang ke UGD RS Wangaya tanggal 09 Juli 2020 dengan keluhan

pada kedua kaki / extremitas bawah tidak dapat digerakkan sejak 1 minggu yang

lalu, BAB dan BAK tidak terkontrol, terdapat luka dekubitus berdiameter 5x10

cm. Ini disebabkan karena sejak 2 minggu yang lalu klien terjatuh dari kursi dan

ketika ingin mengambil air wudhu di kamar mandi. Oleh dokter jaga UGD

diberikan terapi Inj. Cefriaxone 1x1 gram ( IV ), Inj. Dexamethason 4x5 mg

( IV ), Cimetidine 3x1 tab dan neurobion 500 1x1 tab. Setelah itu dipasang infus

Dextrose 5 % : 20 tts/menit di tangan kanan dan dipasang kateter. Kemudian

dirawat di ruang Belibis pada tanggal 09 Juli 2020, pada tanggal 25 Juli 2020

dikonsulkan ke dokter bedah orthopedik dan bedah syaraf dan hasilnya harus

dioperasi laminectomy.

Pada tanggal 30 Juli 2020 dilakukan pengkajian terhadap Nn. M ditemukan

data Keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos mentis, GCS 15 ( E4 M6 V5

), Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi 84 x/menit, Suhu 36’ C, Frekuensi

Pernafasan 18 x/menit, jalan nafas bersih, suara nafas normal, jenis pernafasan

thoracal-abdominal, irama nafas teratur, kedalaman nafas dalam, nafsu makan

baik, makan habis 1 porsi, tidak terlalu suka sayur, temperatur kulit hangat, warna

kulit sekitar luka kemerahan, turgor kulit sedang, pengisian kapiler 3 dtk, mukosa

bibir lembab, intake cairan 2000 cc/hari, out put cairan 1500-1800 cc/hari, urine

tidak terkontrol, terpasang kateter sejak tanggal 09 Juli 2003, kondisi kateter

kotor, warna urine kuning kental/coklat, tampak BAB tidak terkontrol, BAB

dipempers, konsistensi padat, warna feses coklat kehitaman, bising usus

31
16x/menit, tampak luka pada pergelangan kaki kanan berdiameter 2x2 cm, tampak

luka dekubitus berdiameter 3x8 cm pada daerah bokong, kondisi luka

basah, balutan luka bersih, mobilisasi miring kanan-kiri di

tempat tidur, kekuatan tonus otot ( motorik ) 5555 5555,

tampak sedih, wajah tampak tegang, tampak klien dan

1111 1111

keluarga bertanya kepada perawat tentang penyakitnya, tampak selama dirawat

klien terdapat luka dekubitus di bokong dan luka dipergelangan kaki, klien

mengatakan ada luka di daerah bokong, klien mengatakan kedua kakinya tidak

dapat digerakkan sejak 1 minggu yang lalu, klien mengatakan tidak terasa saat

BAK dan BAB, klien mengatakan khawatir dengan kondisi dirinya, klien

mengatakan tidak mual dan muntah, klien mengatakan tubuhnya sedikit demam,

klien mengatakan belum mengerti tentang penyakitnya. Klien didiagnosa oleh

dokter mengalami trauma medula spinalis.

I. PENGKAJIAN
A. Identitas Pasien
Nama : Ny.M
No RM : 123456
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Status : Menikah
Tanggal MRS : 9 Juli 2020
Tanggal Pengkajian : 30 Juli 2020
B. Keluhan Utama
Klien mengatakan tidak dapat menggerakkan kedua kakinya.
C. Riwayat Kesehatan

32
1. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan belum pernah menderita penyakit yang sama
sebelumnya.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Ny.M datang ke rumah sakit Wangaya karena mengeluh tidak

dapat menggerakkan kedua kakinya sejak 1 minggu yang lalu, Ini

disebabkan karena sejak 2 minggu yang lalu klien terjatuh dari kursi dan

ketika ingin mengambil air wudhu di kamar mandi, pasien mengatakan

tidak terasa bila ingin BAB dan BAK. Oleh keluarganya , klien dibawa ke

klinik 24 jam untuk di periksa oleh dokter dan diberikan pengobatan. Di

Rumah Sakit Wangaya. diberikan terapi Inj. Cefriaxone 1x1 gram ( IV ),

Inj. Dexamethason 4x5 mg ( IV ), Cimetidine 3x1 tab dan neurobion 500

1x1 tab. Setelah itu dipasang infus Dextrose 5 % : 20 tts/menit di tangan

kanan dan dipasang kateter. Kemudian dirawat di ruang Belibis pada

tanggal 09 Juli 2020, pada tanggal 25 Juli 2020 dikonsulkan ke dokter

bedah orthopedik dan bedah syaraf dan hasilnya harus dioperasi

laminectomy.

Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 30 Juli 2020 ditemukan

data Keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos mentis, GCS 15 ( E4

M6 V5 ), Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi 84 x/menit, Suhu 36’ C,

Frekuensi Pernafasan 18 x/menit, jalan nafas bersih, suara nafas normal,

jenis pernafasan thoracal-abdominal, irama nafas teratur, kedalaman nafas

dalam, nafsu makan baik, makan habis 1 porsi, tidak terlalu suka sayur,

temperatur kulit hangat, warna kulit sekitar luka kemerahan, turgor kulit

sedang, pengisian kapiler 3 dtk, mukosa bibir lembab, intake cairan 2000

33
cc/hari, out put cairan 1500-1800 cc/hari, urine tidak terkontrol, terpasang

kateter sejak tanggal 09 Juli 2003, kondisi kateter kotor, warna urine

kuning kental/coklat, tampak BAB tidak terkontrol, BAB dipempers,

konsistensi padat, warna feses coklat kehitaman, bising usus 16x/menit,

tampak luka pada pergelangan kaki kanan berdiameter 2x2 cm, tampak

luka dekubitus berdiameter 3x8 cm pada daerah bokong, kondisi luka

basah, balutan luka bersih, mobilisasi miring kanan-kiri di tempat tidur,

kekuatan tonus otot ( motorik ) 5555 5555, tampak sedih, wajah

tampak

1111 1111

tegang, tampak klien dan keluarga bertanya kepada perawat tentang

penyakitnya, tampak selama dirawat klien terdapat luka dekubitus di

bokong dan luka dipergelangan kaki, klien mengatakan ada luka di daerah

bokong,

B. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Dalam Kehidupan Sehari-Hari


1. Bernafas
a.Kesulitan bernafas : tidak ada kesulitan bernafas
b. Keluhan yang dirasa : tidak ada keluhan
pernafasan
c.Suara nafas : tidak ada suara nafas tambahan
2. Makan dan Minum
a. Makan
Pola nutrisi makan 3 x sehari, nafsu makan baik, jenis

makanan di rumah nasi, lauk-pauk, tidak terlalu suka sayur,

kadang-kadang buah-buahan. Tidak mempunyai makanan

34
pantangan, kebiasaan sebelum makan mencuci tangan, BB :

52 kg TB : 160 cm.

b. Minum
Minum kira kira 4-5 gelas perhari
3. Eliminasi (BAB/BAK)
Pola eliminasi klien BAK tidak terkontrol, warna urine kuning

keruh, jumlah 1500 cc/hari, tidak terasa saat BAK, sedangkan BAB

klien juga tidak terkontrol, warna feses kecoklatan, bau khas feses,

konsistensi lunak, BAK dan BAB di tempat tidur dibantu oleh ibu

klien.

4. Aktifitas
Pola aktivitas, klien mengeluh dalam beraktivitas pergerakan tubuh,
belum bisa mengenakan pakaian sendiri dan mandi dibantu /
dimandikan oleh ibunya.
5. Rekreasi
Pasien mengatakan jarang berekreasi
6. Istirahat dan Tidur
Pasien mengatakan tidur lamanya tidur 4 – 5 jam/hari, tidak tidur
siang.
7. Kebersihan Diri
Pola personal hygiene pasien mandi 2 x sehari menggunakan sabun
Lifeboy, menggosok gigi 2 x/hari diwaktu pagi dan setelah makan,
klien mencuci rambut 3 x seminggu menggunakan shampo Sunsilk,
semuanya dilakukan di atas tempat tidur dan ibunya yang
melakukannya.
8. Rasa Nyaman
Pasien mengatakan merasa nyaman mendapatkan perawatan di rumah
sakit
9. Rasa Aman
Pasien mengatakan merasa aman jika di jaga oleh keluarganya

35
10. Hubungan Sosial
Pasien aktif berkomunikasi dengan keluarganya
11. Melakukan Ibadah
Pasien beragama Islam dan pasien mengatakan rajin beribadah

C. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Penglihatan
Hasil pemeriksaan sistem penglihatan adalah posisi mata simetris,
kelopak mata normal, gerakan bola mata normal, konjungtiva
normal/merah muda, sklera anikterik, pupil isokor diameter kanan 3
mm dan kiri 3 mm, otot-otot mata tidak ada kelainan, fungsi
penglihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, tidak memakai kaca
mata, tidak memakai lensa kontak, reaksi terhadap cahaya positif, baik.
b. Sistem Pendengaran
Hasil pemeriksaan sistem pendengaran adalah daun telinga normal,
karakteristik serumen tidak ada, kondisi telinga normal, cairan di
telinga tidak ada, tidak ada perasaan penuh di telinga. Tinitus tidak
ditemukan, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu.

c. Sistem Wicara

Hasil pemeriksaan sistem wicara, klien tidak mengalami gangguan


wicara.

d. Sistem Pernafasan

Hasil pemeriksaan sistem pernafasan adalah jalan nafas bersih,


tidak sesak nafas, jenis pernafasan thoracal-abdominal, tidak
menggunakan otot bantu pernafasan, frekuensi pernafasan 18 x/menit,
irama teratur, kedalaman nafas dalam, batuk tidak ada, suara nafas
normal.

e. Sistem Kardiovaskuler

Hasil pemeriksaan pada sistem kardiovaskuler adalah nadi 84


x/menit, irama teratur, denyut kuat, Tekanan Darah 110/70 mmHg.
Tidak terjadi distensi vena jugularis baik kanan maupun kiri,

36
temperatur kulit hangat, warna kulit kemerahan, pengisian kapiler 3
detik, mukosa bibir lembab; sirkulasi jantung, kecepatan denyut apical
88x/menit, irama teratur, tidak terjadi kelainan bunyi jantung dan tidak
sakit dada.

f. Sistem Hematologi

Hasil pemeriksaan pada sistem hematologi tanggal 30 Juli 2020


adalah hemoglobin 10,5 gr/dl, leukosit : 18.900/mm³, hematokrit 31
vol% dan trombosit 194.000 ribu/ul. Mengeluh kesakitan pada daerah
luka di bokong, kondisi klien lemah.

g. Sistem Saraf Pusat

Hasil pemeriksaan pada sistem saraf pusat adalah tingkat kesadaran


compos mentis, tidak terjadi peningkatan TIK, GCS 15 ( E4 M6 V5 ),
terjadi kelumpuhan extremitas bawah.

h. Sistem Pencernaan

Hasil pemeriksaan pada sistem pencernaan adalah keadaan mulut;


gigi tidak caries, tidak menggunakan gigi palsu, tidak stomatitis, lidah
tidak kotor, saliva normal, tidak muntah, tidak mual, nafsu makan
baik, tidak nyeri di daerah perut dan tidak ada rasa penuh di perut,
BAB tidak terkontrol, BAB dipempers, konsistensi padat, warna coklat
kehitaman, tidak terjadi distensi abdomen.

i. Sistem Endokrin

Hasil pemeriksaan pada sistem endokrin tanggal 30 Juli 2020


adalah gula darah nucter 104 mg/dl, post prondial 141 mg/dl, tidak
terjadi poliuria, tidak terjadi polidipsi dan tidak terjadi poliphagia.

j. Sistem Urogenital

Hasil pemeriksaan pada sistem urogenital adalah urine tidak


terkontrol, terpasang kateter sejak tanggal 09 Juli 2003, kondisi kateter

37
kotor, jumlah urine 1500-1800 cc/hari, warna urine kuning
kental/coklat,

k. Sistem Integumen

Hasil pemeriksaan pada sistem integumen adalah turgor kulit


sedang, warna kulit kemerahan, keadaan kulit terdapat luka pada
pergelangan kaki kanan berdiameter 2x2 cm, luka dekubitus
berdiameter 3x8 cm pada daerah bokong, kondisi luka basah, balutan
luka bersih, keadaan rambut textur baik, kebersihan rambut bersih.

l. Sistem Muskuloskeletal

Hasil pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah klien


mengeluh extremitas bawah tidak dapat digerakkan, kekuatan tonus
otot 5555 5555
1111 1111
keadaan tonus otot hipotoni, mobilisasi miring kanan-kiri di tempat
tidur, frekuensi jarang.

m. Sistem Kekebalan Tubuh

Hasil pemeriksaan pada sistem kekebalan tubuh suhu 37.2 C,


BB sebelum sakit 52 kg, BB setelah sakit 50 kg dan tidak terjadi
pembesaran kelenjar getah bening.

Inkontinensia Urin berlanjut


Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor
Keluarnya urin konstan tanpa distensi  Berkemih tanpa sadar 

Nokturia lebih dari 2 kali sepanjang Tidak sadar inkontinensia urine 


tidur

Gangguan Mobilitas Fisik


Gejala dan Tanda Mayor Gejala dan Tanda Minor

38
Mengeluh kesulitan menggerakkan  Nyeri saat bergerak
ekstremitas Enggan melakukan pergerakan
Kekuatan otot menurun  Merasa cemas saat bergerak
Sendi kaku
Rentang gerak (ROM) menurun  Gerakan tidak terkoordinasi
Gerakan terbatas 

Fisik lemah

Risiko Infeksi

Penyakit kronis (mis. Diabetes militis )

Efek prosedur invasif

Malnutrisi

Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan

Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer

Gangguan peristaltik

Kerusakan integritas kulit 

Perubahan sekresi pH

Penurunan kerja siliaris

Ketuban pecah lama

Ketuban pecah sebelum waktunya

Merokok

Status cairan tubuh

Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

Penurunan hemoglobin

Imununosupresi

Leukopemia

Supresi respon inflamasi

Vaksinasi tidak adekuat

39
ANALISA DATA
Ruang : Belibis
Nama Pasien : Ny. M
No Register : 123456

No Data fokus Kemungkinan penyebab Masalah


keperawatan
1 DS : Pasien mengeluh sulit Trauma medula spinalis Gangguan mobilitas
menggerakkan kedua kakinya fisik
DO : Kekuatan otot pasien
Gangguan neuromuskular
menurun, dan gerakan pasien
terbatas, pasien nampak
bermobilisasi miring kanan dan
Fungsi pergerakan sendi
mring kiri di tempt tidur. Hasil menurun
TTV : TD: 110/70 mmHg, Temp :
36℃, Nadi : 84 kali/menit, RR : Gangguan mobilitas fisik
18 kali/menit.

Sulit kekuatan
menggerakkan otot
ektremitas menurun
2 DS : Pasien mengatakan Jatuh dari kursi Inkontinensia urine
berkemih tanpa sadar, keluarnya berlanjut
urin konstan tanpa distensi dan Kerusakan medula spinalis
tidak sadar inkontinensia urin
DO : urine tidak terkontrol, Gangguan fungsi kandung
kemih

40
terpasang kateter sejak tanggal 09
Juli 2020, kondisi kateter kotor,
Inkontinensia urin berlanjut
warna urine kuning
kental/coklat,klien nampak masih
Berkemih urine tidak
terpasang kateter tanpa terkontrol
sadar
3 DS : Pasien mengatakan ada Trauma medula spinalis Risiko Infeksi
luka di daerah bokong dan
pergelangan kaki kanan, serta Fungsi pergerakan sendi
menurun
tubuhnya sedikit demam
DO : Terpasang kateter sejak 9
Penekanan setempat
Juli 2020, kondisi kateter kotor,
terdapat luka pada pergelangan
Kerusakan integritas kulit
kaki kanan berdiameter 2x2 cm,
terdapat luka dekubitus
Risiko infeksi
berdiameter 3x8 cm , kondisi luka
basah , balutan bersih

II. DIAGNOSIS KEPERAWATAN


NO Diagnosis Keperawatan
1 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuscular dibuktikan dengan
pasien mengeluh sulit menggerakkan kedua kakinya, Kekuatan otot pasien menurun, dan
gerakan pasien terbatas, pasien nampak bermobilisasi miring kanan dan mring kiri di tempt
tidur. Hasil TTV : TD: 110/70 mmHg, Temp : 36℃, Nadi : 84 kali/menit, RR : 18 kali/menit.

2 Inkontinensia urin berlanjut berhungan dengan kerusakan medula spinalis dibuktikan dengan
pasien mengatakan berkemih tanpa sadar, keluarnya urin konstan tanpa distensi dan tidak sadar
inkontinensia urin, urine tidak terkontrol, terpasang kateter sejak tanggal 09 Juli 2020, kondisi
kateter kotor, warna urine kuning kental/coklat

3 Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit

41
III. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Ruang : Belibis
Nama pasien : Ny.M
No register : 123456
N Tanggal/ja Diagnosis Tujuan & kriteria Intervensi Rasional
O m Keperawatan hasil
1 30 Juli 2020 Gangguan Setelah dilakukan SIKI LABEL :
mobilitas fisik asuhan Dukungan
berhubungan keperawatan Mobilisasi
dengan selama 2x24.jam Observasi :
gangguan diharapka 1. Untuk
1. Monitor
neuromuscula Mobilitas Fisik mengetahui
kondisi
r dibuktikan pasien meningkat kondisi umum
umum
dengan pasien dengan kriteria pasien
selama
mengeluh hasil :
melakukan
sulit
1. Pergerakan mobilisasi
menggerakka
ektresmitas
n kedua 1. Agar pasien
meningkat Terapeutik :
kakinya, dapat
2. Kekuatan 1. Fasilitasi
Kekuatan otot meningkatkan
otot melalukan
pasien aktivitas
meningkat pergerakan
menurun, dan pergerakan
3. Gerakan 2. Libatkan
gerakan
terbatas keluarga
pasien
menurun untuk 2. Untuk
terbatas,
membantu membantu
pasien
pasien dalam pasien
nampak
meningkatka meningkatkan
bermobilisasi

42
miring kanan n pergerakan melakukan
dan mring kiri pergerakan
di tempt tidur.
Hasil TTV :
TD: 110/70
mmHg, Temp
1. Untuk
: 36℃, Nadi : Edukasi :
mengetahui
84 kali/menit, 1. Jelaskan
tujuan dan
RR : 18 tujuan dan
prosedur
kali/menit prosedur
mobilisasi
mobilisasi
2. Ajarkan
2. Agar pasien
mobilisasi
dapat
sederhanan
melakukan
yang harus
pergerakan di
dilakukan
mulai dari
( mis.. duduk
yang lebih
di tempat
sederhana
tidur,duduk
di sisi
tempat tidur,
pindah dari
tempat tidur
ke kursi
2 30 Juli 2020 Inkontinensia Setelah dilakukan SIKI LABEL :
urin berlanjut asuhan Perawatan
berhungan keperawatan Inkontinensia
dengan selama 2x24 jam Urine
kerusakan diharapkan Observasi : 1. Untuk
medula Kontinensia Urin mengetahui
1. Identifikasi
spinalis membaik dengan penyebab
penyebab
dibuktikan kriteria hasil : inkontinensia
inkontinensia
dengan pasien urine

43
mengatakan 1. Kemampua urine (mis.
berkemih n Disfungsi
tanpa sadar, mengonrol neurologis,
keluarnya urin urin gangguan
konstan tanpa meningkat medula
distensi dan 2. Residu spinalis,
tidak sadar volume urin gangguan
inkontinensia setelah refleks
urin, urine berkemih destrusor,
tidak menurun obat-obatan,
terkontrol, 3. Distensi usia, riwayat
terpasang kandung operasi,
kateter sejak kemih gangguan
tanggal 09 menurun fungsi
Juli 2020, 4. Frekuensi kognitif
kondisi berkemih
kateter kotor, membaik 2. Untuk
warna urine Terapeutik : menjaga agar
kuning 1. Bersihkan alat genetalia
kental/coklat genital dan ttap dalam
kulit sekitar keadaan
secara rutin bersih

1. Agar pasien
Edukasi : mengetahui
1. Jelaskan definidi jenis
definisi, jenis dan penyebab
inkonteninsia dari
, penyebab inkontenisia
inkonteninsia 2. Agar pasien
urine tidak
2. Anjurkan mengalami

44
mengonsums konstipasi
i buah dan
sayur untuk
menghindari
konstipasi

3 30 Juli 2020 Risiko infeksi Setelah dilakukan SIKI LABEL:


berhubungan asuhan Pencegahan Infeksi
dengan keperawatan Observasi :
kerusakan selama 2x24 jam 1. Untuk
1. Monitor
integritas kulit diharapkan mengetahui
tanda dan
Tingkat Infeksi tanda dan
gejala infeksi
menurun dengan gejala infeksi
lokal dan
kriteria hasil:
sistemik
1. Demam
menurun
2. Untuk
2. Kultur area Terapeutik :
mengurangi
luka 1. Pertahankan
mikroba
membaik teknik
bakteri yang
aseptik pada
dapat
pasien
menyebabkan
berisiko
infeksi
tinggi

1. Agar pasien
mengetahui
Edukasi :
tanda dan
1. Jelaskan
gejala infeksi
tanda dan
2. Agar pasien
gejala infeksi
mengetahui
2. Ajarkan cara
cara mencuci
mencuci
tangan yang
tangan yang
benar

45
baik dan 3. Untuk
benar Memandirika
3. Ajarkan cara n pasien dan
memeriksa keluarga
kondisi luka dalam
atau luka memerikdaka
operasi n kondisi
lukanya

IV. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Ruang : Belibis
Nama pasien : Ny.M
No register : 123456

NO Tgl/jam N Tindakan Keperawatan Evaluasi TTD


o
Dx

1 30/7/2020 1 Memonitor kondisi umum DS : Pasien


09.00 selama melakukan mobilisasi mengatakan masih
tidak bisa
menggerakkan
kakinya
DO : Pasien nampak
mau melakukan
mobilisasi

46
2 09.30 1 Memfasilitasi melakukan DS: Pasien
pergerakan mengatakan mau
difasilitasi
DO: Pasien nampak
antusias dalam
melakukan mobilisasi

3 09.45 1 Melibatkan keluarga untuk DS : Keluarga pasien


membantu pasien dalam mengatakan mau
meningkatkan pergerakan membantu pasien
dalam meningkatkan
pergerakan
DO : Keluarga pasien
namapak kooperatif

4 10.00 1 Menjelaskan tujuan dan prosedur DS: Pasien


mobilisasi mengatakan sudah
mengerti tujuan
mobilisasi
DO : Pasien nampak
sudah paham

5 10.10 1 Mengajarkan mobilisasi DS : Pasien nampak


sederhanan yang harus dilakukan mau diajarkan
( mis.. duduk di tempat mobilisasi
tidur,duduk di sisi tempat tidur, DO : Pasien nampak
pindah dari tempat tidur ke kursi Kooperatif

6 10.30 2 Mengidentifikasi penyebab DS : -


inkontinensia urine (mis. Disfungsi DO : Penyebab
neurologis, gangguan medula inkonteninsia urine
spinalis, gangguan refleks destrusor, disebabkan oleh
obat-obatan, usia, riwayat operasi, gangguan medula
gangguan fungsi kognitif spinalis

47
7 11.00 2 Membersihkan genital dan kulit DS : Pasien
sekitar secara rutin mengatakan ingin
keluarganya yang
membersihkan genital
dan kulitnya
DO : Pasien nampak
tenang

8 11.15 2 Menjelaskan definisi, jenis DS : Pasien


inkonteninsia, penyebab mengatakan sudah
inkonteninsia urine mengerti
DO : Pasien nampak
sudah paham

9 11.30 2 Menganjurkan mengonsumsi DS : Pasien


buah dan sayur untuk mengatakan mau
menghindari konstipasi mengonsumsi buah
dan sayur
DO : Pasien nampak
kooperatif

10 12.00 3 Memonitor tanda dan gejala infeksi DS :-


lokal dan sistemik
DO : Adanya luka di
pergelangan kaki
kanan dan di bokong
pasien

11 12.30 3 Mempertahankan teknik aseptik DS : -


pada pasien berisiko tinggi DO : Pasien nampak
kooperatif

12 13.00 3 Menjelaskan tanda dan gejala DS : Pasien


infeksi mengatakan sudah
mengerti
DO : Pasien nampak
paham

48
13 13.30 3 Mengajarkan cara cuci tangan DS : Pasien
yang baik dan benar mengatakan mau
diajarkan cuci tangan
yang baik dan benar
Do : pasien nampak
kooperatif

14 14.00 3 Mengajarkan cara memeriksa DS : Pasien


kondisi luka atau luka operasi mengatakan sudah
mengerti
DO : Pasien nampak
paham

15 31/7/2020 1 Memonitor kondisi umum DS : Pasien


09.00 selama melakukan mobilisasi mengatakan masih
tidak bisa
menggerakkan
kakinya
DO : Pasien nampak
mau melakukan
mobilisasi

16 09.30 1 Memfasilitasi melakukan DS: Pasien


pergerakan mengatakan mau
difasilitasi
DO: Pasien nampak
antusias dalam
melakukan mobilisasi

17 09.45 1 Melibatkan keluarga untuk DS : Keluarga pasien


membantu pasien dalam mengatakan mau
meningkatkan pergerakan membantu pasien
dalam meningkatkan
pergerakan
DO : Keluarga pasien

49
namapak kooperatif

18 10.00 1 Menjelaskan tujuan dan prosedur DS: Pasien mengerti


mobilisasi tujuan mobilisasi
DO : Pasien nampak
sudah paham
mengatakan sudah

19 10.10 1 Mengajarkan mobilisasi DS : Pasien nampak


sederhanan yang harus dilakukan mau diajarkan
( mis.. duduk di tempat mobilisasi
tidur,duduk di sisi tempat tidur, DO : Pasien nampak
pindah dari tempat tidur ke kursi Kooperatif

20 10.30 2 Mengidentifikasi penyebab DS : -


inkontinensia urine (mis. Disfungsi DO : Penyebab
neurologis, gangguan medula inkonteninsia urine
spinalis, gangguan refleks destrusor, disebabkan oleh
obat-obatan, usia, riwayat operasi, gangguan medula
gangguan fungsi kognitif spinalis

21 11.00 2 Membersihkan genital dan kulit DS : Pasien


sekitar secara rutin mengatakan ingin
keluarganya yang
membersihkan genital
dan kulitnya
DO : Pasien nampak
tenang

22 11.15 2 Menjelaskan definisi, jenis DS : Pasien


inkonteninsia, penyebab mengatakan sudah
inkonteninsia urine mengerti
DO : Pasien nampak
sudah paham

23 11.30 2 Menganjurkan mengonsumsi DS : Pasien

50
buah dan sayur untuk mengatakan mau
menghindari konstipasi mengonsumsi buah
dan sayur
DO : Pasien nampak
kooperatif

24 12.00 3 Memonitor tanda dan gejala infeksi DS :-


lokal dan sistemik
DO : Adanya luka di
pergelangan kaki
kanan dan di bokong
pasien

25 12.30 3 Mempertahankan teknik aseptik DS : -


pada pasien berisiko tinggi DO : Pasien nampak
kooperatif

26 13.00 3 Menjelaskan tanda dan gejala DS : Pasien


infeksi mengatakan sudah
mengerti
DO : Pasien nampak
paham

27 13.30 3 Mengajarkan cara cuci tangan DS : Pasien


yang baik dan benar mengatakan mau
diajarkan cuci tangan
yang baik dan benar
Do : pasien nampak
kooperatif

28 14.00 3 Mengajarkan cara memeriksa DS : Pasien


kondisi luka atau luka operasi mengatakan sudah
mengerti
DO : Pasien nampak
paham

51
V. EVALUASI KEPERAWATAN
Ruang : Belibis
Nama pasien : Ny.M
No register : 123456

NO Tgl/jam No Evaluasi TTD


Dx
1 1/8/2020 1 S : Pasien mengatakan masih belum bisa menggerakkan
09.00 kedua kakinya
O : Kekuatan otot pasien belum meningkat, dan gerakan
pasien masih terbatas, pasien nampak bermobilisasi miring
kanan dan mring kiri di tempt tidur. Hasil TTV : TD: 120/70
mmHg, Temp : 36,5℃, Nadi : 80 kali/menit, RR : 20
kali/menit.
A : Gangguan Mobilitas Fisik
P : Lanjutkan Intervensi
- Monitor kondisi umum pasien selama melakukan
mobilisasi
- Fasilitasi melakukan pergerakan
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan
- Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
- Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan
2 10.00 2 S : Pasien mengatakan masih berkemih tanpa sadar,
keluarnya urin konstan tanpa distensi dan tidak sadar
inkontinensia urin
O : urine sudah mulai terkontrol, klien nampak masih
terpasang kateter sejak tanggal, kondisi kateter bersih, warna
urine kuning,klien nampak masih terpasang kateter
A : Inkontinensia urin berlanjut
P : Lanjutkan Intervensi
- Identifikasi penyebab inkontinensia urine (mis.

52
Disfungsi neurologis, gangguan medula spinalis,
gangguan refleks destrusor, obat-obatan, usia, riwayat
operasi, gangguan fungsi kognitif
- Bersihkan genital dan kulit sekitar secara rutin
- Jelaskan definisi, jenis inkonteninsia, penyebab
inkonteninsia urine
- Anjurkan mengonsumsi buah dan sayur untuk
menghindari konstipasi

3 11.00 3 S : Pasien mengatakan masih ada luka di daerah bokong


dan pergelangan kaki kanan, tubuhnya sudah tidak demam
lagi
O : Masih terpasang kateter sejak, kondisi kateter bersih,
masih terdapat luka pada pergelangan kaki kanan
berdiameter 2x2 cm, dan masih terdapat luka dekubitus
berdiameter 3x8 cm , kondisi luka basah , balutan bersih
A : Risiko Infeksi
P : Lanjutkan Intervensi
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
- Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara mencuci tangan yang baik dan benar
- Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
operasi

53
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Trauma Medulla Spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis akibat trauma


langsung atau tidak langsung pada medulla spinalis sehingga mengakibatkan
gangguan fungsi sensorik, motorik, autonomi dan reflek. Trauma medula
spinalis bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah akibat
trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan melampui batas
kemampuan tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf yang ada di
dalamnya. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu lintas, kecelakaan
industri, jatuh dari bangunan, pohon, luka tusuk, luka tembak dan terbentur
benda kerasTrauma medulla spinal membutuhkan penanganan yang tepat.
Perawat mempunyai peran penting dalam tindakan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif dalam kasus trauma medulla spinalis.

3.2 Saran
Dengan membaca dan mempelajari isi makalah ini, diharapkan pengetahuan
pembaca tentang penyakit trauma medula spinalis dapat tersampaikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna dan masih

54
banyak terdapat kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat diharapkan demi perbaikan penulisan makalah
selanjutnya

55